Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH BERBAGAI MACAM PUPUK KANDANG DAN TAKARAN

HARA N, P DAN K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI


TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus. L)
BAB I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis sayuran dari
keluarga
labu
labuan (Cucurbitaceae) yang sudah pupuler di dunia. Menurut sejarah tanaman
mentimun berasal dari Benua Asia. Beberapa sumber literatur menyebutkan
daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian lagi menduga
berasal dari Asia Selatan (Rukmana, 1994). Tanaman mentimun berasal dari
bagian Utara India yakni tepatnya di lereng Gunung Himalaya, yang kemudian
menyebar ke wilayah meditran. Di wilayah tersebut, telah di temukan jenis
mentimun liar, yakni Cucumie hordwichi (Tyndall, 1987).
Penyebaran dan produksi mentimun di Indonesia dari tahun ke tahun
terus meningkat. Luas areal pada lokasi - lokasi baru di Propinsi Sumatra Selatan
sendiri luas areal lahan penanaman sebesar 2.463 Ha dan hasil 43,99 kg per Ha
dari produksi 0,832 ton per tahun (Biro Pusat Stastistik (BPS), 2009).
Di Indonesia, tanaman mentimun ditanam didataran rendah. Daerah
penyebaran yang menjadi pusat pertanaman mentimun adalah Propinsi Jawa
Barat, daerah Istimewa Aceh, Bengkulu, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
pengembangan budidaya mentimun menjadi urutan ke empat setelah cabai,
kacang panjang dan bawang merah dari jenis sayuran komersial yang di hasilkan
di Indonesia (Rukmana, 1994).
Mentimun adalah salah satu sayuran buah yang banyak di konsumsi
segar oleh masyarakat Indonesia. Meskipun bukan tanaman Indonesia, tetapi
mentimun sudah sangat di kenal oleh masyarakat Indonesia. Jenis sayuran ini
dengan mudah ditemukan hampir seluruh pelosok Indonesia. mentimun juga
dikenal dalam dunia kesehatan sebagai obat batuk, penurunan panas dalam,
bahkan mentimun yang dikukus dan di simpan sehari semalam lalu di diamkan
langsung akan berkhasiat mengurangi sakit tenggorokan dan batuk - batuk.
Dalam proses pengembangan tanaman mentimun sering mengalami kendala,
terutama dalam hal sifat fisik dan kimia tanah. Tanah yang kurang subur
menyebabkan produksi menurun. Untuk itu dalam penanaman mutlak diperlukan
pengolahan tanah dan penambahan usur hara. Dalam hal ini dapat dilakukan
pemanfaatan pupuk kandang dan pemupupukan anorganik sebagai solusi yang
dapat dilakukan.
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak, baik
berupa kotoran padat (feses) yang bercampur sisa makanan maupun air kencing
(urine). Itulah sebabnya pupuk kandang terdiri dari dua jenis, yaitu padat dan cair.

Walau pun demikian, sepertinya orang enggan berbicara kotoran cair yang berupa
urine
ternak
(Anonim,
2002).
Pupuk kandang juga berperan untuk pertumbuhan dan hasil produksi tanaman
mentimun. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan yang mengalami
penguraian oleh mikroorganisme. Komposisi unsur hara pupuk kandang sangat
dipengaruhi beberapa faktor antara lain, yaitu jenis hewan, umur hewan, keadaan
hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan dan
penyimpanan sebelum diaplikasikan. Fungsi pupuk kandang yaitu untuk
mengemburkan lapisan tanah permukan (top soil), meningkatan populasi jasad
renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang keseluruhan dapat
meningkatkan daya kesuburan tanah (Musnamar, 2006).
Manfaat pupuk kandang bagi tanaman semusim selain untuk
menyuburkan tanaman juga dapat meningkatkan efisensi pengunaan pupuk kimia,
sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan
pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk kandang untuk
menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya
pemupupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman
pangan (padi, jagung dan kentang) maupun tanaman sayur sayuran (kacang
panjang, timun, terong (Rusmaili, 2011). Kebutuhan pupuk kandang untuk
tanaman mentimun menurut (Nurtika dan Sumarna, 2001) 30 ton/ha, sedangkan
menurut (Intan, 2010) kebutuhan pupuk kandang 25 ton/ha. Pupuk sapi
merupakan pupuk padat yang banyak mengandung air dan lendir, dalam keadaan
demikian peranan jasad renik untuk mengubah bahan-bahan yang terkandung
dalam pupuk menjadi zat-zat hara yang tersedia dalam tanah, juga mencukupi
keperluan pertumbuhan dan meningkatkan hasil produksi tanaman seperti jenis
sayura-sayuran buah (timun, labu-labuan, belewah). Pupuk sapi, karena pupuk ini
merupakan pupuk dingin sebaiknya pemakaian dilakukan 2 minggu sebelum
tanam (Intan, 2010).
Pupuk anorganik merupakan hasil industri atau hasil dari pabrik. Pupuk
ini mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, pada umumnya pupuk
anorganik mengandung unsur hara yang tinggi. Dalam pertumbuhan tanaman,
unsur nitrogen berperan memperkuat kayu tanaman, meningkatkan kualitas buah,
meningkatkan ketahanan terhadap hama, penyakit dan kekeringan (Sinaga, 1999).
Pupuk anorganik diberikan dua minggu setelah pemberian pupuk
kandang, ada pun takaran pemberian pupuk Urea 4,25 gr/tanaman, SP36 3,2
gr/tanaman dan KCL 3 gr/tanaman (Lingga, 1991). Sedangkan menurut (Intan,
2010) takaran dosis pupuk kimia untuk tanaman mentimun Urea 3 gr/tanaman,
SP36
2
gr/tanaman
dan
KCL
2
gr/tanaman.
Tanaman menyerap N sebagian besar dalam bentuk ion NO3 dan NH4.
Nitrogen merupakan unsur mobil didalam tanaman, oleh karena itu unsur N
sangat di butuhkan bagi tanaman selain menambah kesuburan tanah juga

meningkatkan
hasil
produksi
(Subagyo,
2009).
Manfaat pupuk N bagi tanaman mentimun adalah untuk merangsang pertumbuhan
akar, batang dan daun. Selain itu nitrogen berperan penting dalam pembentukan
hijau daun yang sangat berguna dalam pembentukan potosentesis (Jumin, 2007).
Selain itu tanaman mentimun juga membutuhkan unsur (P) karena fungsi
fosfor dalam tanaman adalah untuk mempercepat pertumbuhan akar semai,
mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dewasa pada umumnya,
meningkatkan produk biji-bijian dan memperkuat tumbuh tanaman sehingga tidak
muda rebah (Mulyani, 2002).
Kalium (K) juga berperan penting bagi tanaman mentimun, karena
pungsi utamanya K adalah membantu pembentukan protein dan karbohidrat.
Kalium pun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan
buah tidak mudah gugur. Yang tidak bisa dilupakan ialah kalium pun merupakan
sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit
(Marsono, 2007).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian yang berjudul,
pengaruh berbagai macam pupuk kandang dan hara N, P dan K terhadap
pertumbuhan
dan
hasil
produksi
mentimun.
B. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai macam
pupuk kandang dan takaran hara N, P dan K terhadap pertumbuhan dan hasil
produksi tanaman mentimun (Cucumis sativus L.).
C. Hipotesis
1. Di duga pemberian pupuk Urea 3 gr/tanaman, SP36 2 gr/tanaman dan KCL 2
gr/tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman
mentimun.
2. Di duga dengan pemberian pupuk kandang (kotoran sapi) selain dapat menambah
kesuburan bagi tanaman mentimun juga dapat meningkatkan hasil produksi.
3. Di duga intraksi antara pupuk kandang (kotoran sapi) dan takaran hara N, P dan K
dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman mentimun.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika dan marpologi Tanaman mentimun
Klasifikasi tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) (Nawangsih, 2001) dalam
tatanama tumbuhan, diklasisfikasikan kedalam :
Kingdom : Plantarum
Divisio : Spermatophyta
Sub dipisio : Angiospermae
Clas : Dikotyledonae
Sub klas : Symperalae

Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativa L.
Tanaman mentimun termasuk jenis tanaman sayur-sayuran buah
(Cucurbitaceae). Beberapa jenis tanaman lain yang masih satu famili dengan
mentimun diantaranya semangka, wuluh belewah, dan melon. Berdasarkan cara
pemeliharaan mentimun terbagi dua jenis yaitu varietas hibrida diantaranya
Hercules
dan
OP/open
polingated
(Nawangsih,
2001).
Varietas Hercules diproduksi oleh Chia Tai Seed, Thailand. Tanamn ini
pertumbuhanya kuat dan bercabang banyak, tahan terhadap penyakit embun pagi.
Buah beragam, tidak berongga, cukup tebal, dan rasanya tidak pahit. Buah
berbentuk
panjang silindris
dan kulitnya
berwarna
hijau
tua.
Buah memiliki ukuran panjang 18 cm dan diameter 4 cm, berat buah 350 400gr.
Setiap tanaman dapat menghasilkan 5 5,5 kg dengan jumlah buah 10 16. Umur
panen tanaman 35 hts (Cahyono, 2003).
Untuk produksi mentimun hijau yang diramalkan akan mampu
menduduki posisi brand image diareal Sumbagsel ini, PT. Tanindo Subur Prima
memiliki produk handal, yakni Hercules 56. Hercules 56 adalah mentimunhibrida
yang merupakan hasil persilangan yang kini dikembangkan oleh PT. BISI (Benih
Inti
Subur
Intani),
Kediri
Jawa
Timur
(Harist,
2001).
Bila dilihat dari segi hasilnya dapat mencapai 5 kg per tanaman, dengan jumlah
buah antara 10 16 buah pertanaman. Panen pertama biasanya dimulai pada umur
35 hts, sedangkan masa panen mampu bertahan hingga 60 hari setelah tanam. Bila
tanaman dalam kondisi yang baik dapat dipanen hingga 17 kali. Ada pun
kelebihan lainya adalah penggunaan benih / kebutuhan benih yang cukup hemat
yakni antara 750 hingga 800 gr/ha dengan jarak tanam 40 cm x 50 cm (Harist
2001).
Keungulan komperatif dibandingkan timun sejenis diantaranya : daya
tahan terhadap serangan hama penyakit Downy Mildew relatif kuat, penampilan
tanaman maupun vigornya kuat dan bercabang banyak, bahkan ada kecendrungan
pertumbuhanya kesamping. Pertubuhan menyamping ini tentu sangat positif
karena berarti banyak cabang cabang yang lebih produktif. Di samping, itu buah
seragam tidak berongga dengan warna yang hijau tua dan tidak berasa pahit
sedikit pun. Potensi tumbuhnya pun cukup luas, yakni dari dataran renda hingga
pada dataran yang cukup tinggi (Harist, 2001).
Selama ini timun Hercules lebih menguasai pasar, hal ini dikarnakan
pertama sejarah perkembangan dalam pengenalan produk yang memang lebih
didahulu daerah, kemudian yang kedua oleh karena orang orang di daerah ini
mengenal lebih dahulu tentang karakteristik timun ini, yakni yang lebih tahan
lama, tidak muda keriput sehingga pedagang lebih menyukainya karena memiliki

waktu yang lebih panjang untuk memasarkanya (Harist, 2001).


Mentimun hibrida terdiri dari Asian Star 22 dan Pretty swallau. Asian star
memiliki ciri - ciri sebagai berikut : 1) banyak percabangan, 2) warna buah putih,
3) panjang buah 15 - 19 cm, 4) diameter 3 - 4 cm, 5) dipanen umur 35 hts.
Hercules 56 memiliki ciri - ciri sebagai berikut : 1) percabangan yang banyak, 2)
warna buah hijau, 3) panjang buah 15 - 20 cm, 4) diameter 4 cm, 5) umur panen
35-60 hts (Rukmana, 1994).
Pretty Swallow mempunyai ciri - ciri sebagai berikut : 1) buah berbentuk
lurus, 2) berwarna hijau, 3) berduri putih, 4) panjang 20 - 21 cm, 5) jenis ini cocok
untuk asinan. Shout Swallow mempunuyai ciri - ciri sebagai berikut : 1) warna
buah hijau, 2) panjang 45 cm, 3) diameter 3,5 cm. Yang kedua jenis mentimun OP
(Open polingated) terdiri dari mars, Pluto dan local. Varitas mars memiliki ciri ciri sebagai berikut : Umur panen 34 hts, buah muda berwarna hijau dan buah tua
berwarna coklat bersisik, panjang 15 - 18 cm. Pluto memiliki ciri - ciri sebagai
berikut : umur panen 33 hts, buah muda berwarna hijau muda, buah tua berwarna
kuning sampai coklat bersisik, panjang 11 - 1 3 cm. Venus : umur panen 32 hts,
buah muda berwarna hijau keputihan dan buah tua berwarna putih sampai kuning,
panjang 14 - 18 cm. Lokal : umur panen 30 - 35 hts, warna buah beragam arna
putih, hijau keputihan, kuning, coklat panjang antara 12 - 19 cm (Sumpena,
2001).
Tanaman mentimun terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
Tanaman mentimun memiliki akar tunggang dengan bulu akar, tetapi daya
tembusnya relatif dangkal dangan kedalaman sekitar 30 - 60 cm. Untuk membantu
pertumbuhanya penggemburan tanah perlu dilakuan minimal kedalaman tersebut
tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air (Imdad,
2001).
Biji mentimun berbentuk pipih, kulitnya berwarna putih atau putih
kekuning - kuningan sampai coklat. Biji ini dapat digunakan sebagai alat
perbanyakan tanaman. Tanaman mentimun memiliki batang yang berwarna hijau,
lunak, menjalar, dan berbulu berair, berbentuk pipih, berambut halus, berbuku
buku, berwarna hijau segar, batang utama dapat menumbuhkan cabang anakan.
Luas batang atau buku - buku berukuran 7 - 10 cm dan diameter 10 - 15 mm
tergantung varietasnya (Nawangsih, 2001).
Daun mentimun berbentuk bulat lebar, persegi mirip jantung, dan bagian
ujung daunya meruncing. Daun ini tumbuh berselang - seling keluar dari buku buku (ruas) batang. Bunga mentimun berbentuk terompet berwarna kuning bila
suda mekar mentimun termasuk tanaman berumah satu artinya bunga jantan dan
bunga betina letaknya terpisah, tetapi masih dalam satu tanaman (Rukmana,
2001).
Bunga betina mempunyai bakal buah yang bengkok terletak dibawah
mahkota bunga, sedangkan pada mahkota bunga jantan tidak mempunyai bakal

buah yang membengkok. Bunga jantan keluar beberapa hari lebih dulu baru bunga
betina muncul pada ruas ke enam setelah bunga jantan. Buah mentimun
menggantung dari ketiak antara daun dan batang bentuk ukuranya bermacam macam antara 12 - 25 cm dan diameter 2 - 5 cm. Kulit buah mentimun ada yang
berbintik - bintik, ada pula yang halus. Warna kulit buah antara hijau keputih putihan, hijau muda dan hijau gelap sesuai dengan varietas (Cahyono, 2003).
B. Syarat Tumbuh
Tanaman mentimun mempunyai daya adaptasi yang cukup luas terhadap
lingkungan tumbuhan dan tidak membutuhkan perawatan dengan khusus,
tanaman mentimun dapat ditanam mulai dataran rendah sampai dataran tinggi
1000
M
di
atas
permukaan
laut
(dpl).
selama masa pertumbuhanya, tanaman mentimun membutuhkan iklim, sinar
matahari cukup (tempat terbuka), temperatur berkisar 21,1 - 26,7 C (Prajnata,
2001).
Tanaman mentimun kurang tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Hal
ini akan mengakibatkan bunga - bunga yang terbentuk berguguran, sehingga gagal
membentuk buah. Demikian juga daerah temperatur siang dan malam harinya
berbeeda sangat mencolok, sering memudahkan penyakit tepung atau powdery
mldew maupun busuk daun (Kalie, 2001).Tanaman mentimun mempunyai daya
adaptasi cukup terhadap lingkungan tumbuhanya. Indonesia memiliki iklim tropis,
sehingga mentimun dapat di tanam dari dataran rendah sampai dataran tinggi
(1000 dpl) (Smadi, 2002).
Pada masa pertumbuhan, tanaman sangat cocok ditanam di lahan terbuka
dengan suhu berkisar antara 21 C - 27 C. Panjang atau lama penyinaran,
intensitas penyinaran, dan suhu udara, merupakan faktor yang penting karena
berpengaruh terhadap munculnya bunga betina. Panjang penyinaran lebih dari 12
jam perhari dengan intensitas dan suhu udara yang tinggi, tanaman mentimun
lebih banyak membentuk bunga jantan (Gynoecious ). Sebaliknya, pada panjang
penyinaran kurang dari 12 jam perhari, dengan intensitas sinar dan suhu udara
yang rendah ternyata tanaman mentimun lebih banyak membentuk bunga betina
(monoecious) (Sumpena, 1990).
Tanah merupakan media dasar bagi tanaman, maka harus mampu
memberikan lingkungan yang cocok bagi tanaman agar akar tanaman dapat
menyerap unsur hara dan air dengan baik. Tanaman mentimun tidak dianjurkan
ditanaman pada tanah becek karena akan menyebabkan kematian (Sarief, 1986).
Semua tanah yang digunakan untuk lahan pertanian cocok untuk di
tanami mentimun. Supaya produksi yang tinggi dan kualitas yang baik, tanaman
mentimun membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus,
tidak menggenang dan memiliki pH 6 - 7 (Sarief, 1986). Tanah yang memiliki
sifat kimia dan biologinya kurang baik sering kali menghambat partumbuhan
mentimun sehingga produksinya menurun dan kualitasnya merendah. Pada tanah

masam (di bawah 5) dapat menyebabkan tanaman mentimun unsur hara dan
kekurangan garam - garam mineral. Tanah yang becek dapat memudahkan
berjangkitnya penyakit layu bakteri. Oleh karena itu pengolahan lahan untuk
tanaman mentimun perlu perbaikan drainase, pengolahan tanah, pemberian bahan
organik dan pengapuran (Hardjowigeno, 1997).
Apabila tanah bersifat asam perlu diberi kapur dolamit dosisnya
ditentukan oleh tingkat keasaman tanah. Semakin rendah pH tanah, semakain
banyak kapur dolamit atau kalsiat yang harus diberikan pada tanah. Namun
demikian, pada tanah yang terlalu asam tidak dianjurkan untuk di tanami
mentimun.
C. Pranan pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi mentimun
Pupuk kandang juga berperan untuk pertumbuhan dan hasil produksi
tanaman mentimun. Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran
hewan yang mengalami penguraian oleh mikroorganisme. Komposisi unsur hara
pupuk kandang sangat dipengaruhi beberapa faktor antara lain jenis hewan, umur
hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan
dan penyimpanan sebelum diaplikasikan.
Fungsi pupuk kandang yaitu untuk mengemburkan lapisan tanah
permukan (top soil), meningkatan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap
dan daya simpan air, yang keseluruhan dapat meningkatkan daya kesuburan tanah
(Musnamar,
2006).
Pupuk kandang dipilih yang benar - benar matang, pupuk kandang yang masih
mentah (basah) akan terurai dulu didalam tanah dengan mengeluarkan panas yang
dapat mematikan tanaman. Bila pupuk kandang yang diberikan belum atau tidak
disterilisasi maka dapat merusak tanaman sehingga menyebabkan tanaman mati.
Terdapat 2 jenis pupuk kandang yaitu : padat dan cair yang biasanya
dipergunakan adalah pupuk padat karena lebih mudah mengumpulkanya daripada
jenis yang cair. (Lingga, 1991).
Manfaat dari pada menggunakan pupuk kandang adalah Memperbaiki
struktur tanah, ini terjadi akibat penguraian yang dilakukan organisme tanah
terhadap bahan organik yang terdapat pada pupuk kandang mempunyai sifat
pereka yang mengikat butir - butir tanah menjadi butiran yang lebih besar
(Hardjowigono, 1997).
Bahan organik yang terkandung dalam pupuk kandang mempunyai daya
serap yang tinggi terhadap air tanah. Karena itu pupuk kandang (kotoran sapi)
sering kali mempunyai pengaruh tanaman pada musim kering karena dapat
menyerap
air
(Musnawar,
2006).
Menaikan kondisi kehidupan dalam tanah. Hal ini terutama disebabkan oleh
organisme didalam tanah yanga dapat memanfaatkan bahan organik, misalnya
pupuk kandang kotoran sapi yang kita berikan pada tanah sebelumnya diserap
oleh akar tanaman. peguraian yang dilakukan oleh jasad renik dengan jalan

peembusukan peragian dari proses pembusukan ini, semakin banyak juga banyak
juga jasad renik memperoleh makanan dan sumber tenaga. Semakin banyak
pupuk kandang (kotoran sapi) yang diberikan, semakin banyak pula jasad renik
yang dapat hidup didalam tanah. Tetapi pemberian pupuk kandang harus tetap
disesuaikan dengan tanaman yang kita budidayakan (Marsono, 1999).
Sebagai sumber zat hara bagi tanaman. Kelebihan pupuk kandang dari
pupuk buatan ialah bahwa pupuk kandang kotoran sapi dan kambing.
Pemupupukan dengan menggunakan pupuk kandang ini memberikan hasil terbaik
dari jenis kotoran hewan yang ada, hal ini di karenakan, sapi dan kambing
memakan bermacam - macam jenis daun. Sehingga kotoran yang dihasilkan
banyak mengandung nitrat dan amonia, yang baik untuk memperbaiki struktur
tanah (Marsono, 1999 : Jumin, 2002).
Untuk meningkatkan produksi tanaman mentimun diperlukan media
tanam yang cocok, terutama bahan organik yang berasal dari pupuk kandang
(kotoran sapi), pemberian pupuk kandang untuk tanaman mentimun dilakukan
pada saat pengolahan media tanam, penggunaan pupuk kandang (sapi) sebagai
media tanam yang dapat memperbaiki struktur tanah dan mendorong
perkembangan populasi mikro organisme tanah (Rukmana, 1994).
D. Peranan Hara N, P dan K Terhadap Pertumbuhan dan produksi Mentimun
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman ialah untuk merangsang
pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Selain itu
nitrogen pun berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang sangat
berguna dalam pembentukan Fotosintesis. Fungsi lain ialah membentuk protein,
lemak dan berbagai persenyawaan organik lainya. Pupuk nitrogen atau pupuk
buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai
bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Menurut
jenis unsur hara yang dikandungnya, pupuk anorganik dapat dibagi menjadi dua
yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara
yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer,
misalnya
urea
hanya
mengandung
unsur
nitrogen.
Pupuk nitrogen dalam bentuk urea sudah menjadi kebutuhan bagi tanaman. Untuk
mengetahui kebutuhan hara pada tanaman mentimun perlu dilakukan
pemupupukan. Karena pupuk merupakan salah satu unsur hara yang di butuhkan
tanaman
terutama
unsur
N.
Untuk meningkatkan hasil produksi tanaman mentimun di perlukan pemupupukan
yang tepat sesuai anjuran. Strategi pemberian unsur hara N yang optimal
bertujuan agar pemupupukan dilakukan sesuai kebutuhan tanaman sehingga dapat
mengurangi kehilangan N dan meningkatkan serapan N oleh tanaman. Untuk
mencukupi hara tanaman, maka peningkatan kesuburan tanah secara alami
melalui daur ulang nutrisi tanaman, harus di optimalkan mengandalkan perbaikan
aktivitas
biologis,
serta
fisik
dan
kimia
tanah.

Nitrogen berasal dari organik (sisa-sisa tanaman / sampah tanaman) yang


melapuk, yang ternyata dapat menyuburkan tanah sehingga tanah tersebut mampu
untuk pertumbuhan tanaman dan memberikan hasil bagi pertumbuhan mentimun.
Pelapukan-pelapukan yang telah melangsung membentuk pupuk organik,
sedangkan N yang berasal dari pupuk buatan, misalnya Urea dan ZA.
Tanaman yang kekurangan unsur N (Nitrogen) menyebabkan tanaman
tumbuh kerempeng dan tersendat-sendat. Daun menjadi hijau muda, terutama
daun yang suda tua, lalu berubah menjadi kuning. Selanjutnya daun mengering
mulai dari bawah kebagian atas. Jaringan-jaringanya mati, mengering, lalu
meranggas. Bila tanaman sempat berubah, buahnya akan tumbuh kerdil
kekuningan dan lekas matang. Kalau pada tanah tersebut tidak diberi pupuk yang
mengandung unsur nitrogen maka selamanya tanaman akan tumbuh kerdil
(Lingga,
2007).
Gejalahnya berupa menguningnya daun. Kadang-kadang disertai dengan
berubahnya warna daun menjadi kemerahan sebagai akibat terbentuknya
anthocyanin. Warna daun hijau agak kekuning-kuningan dan pada tanaman melon
warna ini mulai dari ujung daun menjalar ketulang daun selanjutnya berubah
warna kuning lengkap, sehingga seluruh tanaman berwarna pucat kekuningkuningan. Jaringan daun mati dan ini lah yang menyebabkan daun selanjutnya
menjadi kering dan brwarna merah kecoklatan.Pertumbuhan tanaman lambat dan
kerdil. Perkembangan buah tidak sempurna atau tidak baik, sering kali masak
sebelum waktunya.Dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini
disebabkan menebalnya membran sel daun, sedangkan selnya sendiri berukuran
kecil-kecil. Dalam keadaan kekurangan yang parah, daun menjadi kering, dimulai
dari bagian bawah terus kebagian atas.
Fosfor (P) juga berperan penting bagi pertumbuhan mentimun, fosfor
terdapat dalam bentuk phitin, nuklein dan fatide.Merupakan bagian dari
protoplasma dan inti sel, sebagai bagian dari inti sel sangat penting bagi
pembelahan sel, demikian pula bagi perkembangan jaringan meristem. Fosfor
diambil
tanaman
dalam
bentuk
H2PO4,
dan
HPO4.
Kekurangan unsur hara (P) ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan
sistem perakaran, daun, batang seperti pada tanaman jagung, melon dan
semangka. Daun-daunnya berwarna hijau tua atau keabu-abuan mengkilap sering
pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, tangkai-tangkai daun
kelihatan lancip-lancip, pembentukan buah jelek merugikan hasil selanjutnya
mati. Hal ini di karenakan pertumbuhan sistem perakaran yang buruk dan kurang
berfungsi.
Tanah yang kekurangan fosfor pun akan jelek akibatnya bagi tanaman.
Gejalah yang tampak adalah warna daun seluruhnya berubah kelewat tua dan
sering tanpak mengkilap kemerahan. Tepi daun cabang dan batang terdapat warna
merah ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning. Kalau tanaman berubah

buahnya kecil, tampak jelek dan lekas matang. Pada tanah seperti itu perlu diberi
pupuk yang mengandung unsur fosfor. Kalau tidak, tanaman akan tetap bernasib
jelek dan ahirnya mati (Nurhayati, 1986).
Fosfor terdapat dalam bentuk phitim, nuklein dan fosfatide, merupakan
bagian dari protoplasma dan inti sel. Sebagai dari bagian inti sel sangat penting
dalam pembelahan sel, fosfor diambil tanaman dalam bentuk H2PO4, dan
HPO4. Bahwa fosfor di dalam tanah dapat di golongkan dalam dua bentuk,
yaitu bentuk organis dan bentuk anorganis. Di dalam tanah fungsi P terhadap
tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa
organis (Soepardi, 1985).
Pungsi dari P (fosfor) dalam tanaman mempercepat pertumbuhan akar
semai, dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda
menjadi tanaman dewasa pada umumnya, dapat mempercepat pembungaan,
pemasakan buah, biji atau gabah dan juga dapat meningkatkan produksi bijibijian. Bahwa fosfor didalam tanah dapat digolongkan dalam 2 bentuk yaitu
bentuk organis, dan bentuk anorganis. Di dalam tanah pungsi P terhadap tanaman
adalah sebagai zat penbangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis.
Dengan demikian statis, hanya sebagian kecil saja sesungguhnya yang terdapat
dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion fosfat, sebagai bahan pembentuk fosfor
terpencar-pencar dalam tubuh tanaman semua inti mengandung fosfor dan
selanjutnya sebagai senyawa-senyawa fosfat di dalam sitoplasma dan memberan
sel. Bagian-bagian tubuh tanaman yang bersangkutan dengan pembiakan
generatif, seperti dau-daun bunga, tangkai-tangkai sari, kepala-kepala sari, butirbutir tepung sari, daun buah serta bakal biji ternyata mengandung P jadi bagian
maksud mendorong pembentukan bunga dan buah sangat banyak di perlukan
unsur
P
(Prajnata,
2002).
Pupuk (K) kalium juga penting bagi tanaman mentimun khususnya pada
pembentukan daun, tanaman yang tumbuh pada tanah yang kekurangan unsur
kalium akan memperlihatkan gejala-gejala seperti daun mengkrut atau keriting
terutama pada daun tua walaupun tidak merata. Kemudian pada daun akan timbul
bercak-bercak merah coklat. Selanjutnya daun akan mengeriting, lalu mati.
Buah tumbuh tidak sempurna kecil, jelek, hasilnya rendah, dan tidak
tahan simpan. Kalau menemukan tanda-tanda seperti itu maka segeralah
melakukan pemupukan kalium (Rahardi, 1999).
Elemen ini dapat dikatakan elemen yang langsung pembentuk bahan
organic, dalam hal ini dapat di tegaskan, bahwa kalium berperan membantu
pembentukan protein dan karbohidrat, mengeraskan jerami dan bagian kayu dari
tanaman, meningkatkan risistensi tanaman terhadap penyakit, meningkatkan
kualitas biji/buah. Kalium diserap dalam bentuk K+ (terutama pada tanaman
muda), menurut penelitian kalium banyak terdapat pada sel-sel muda atau bagian
tanaman yang banyak mengandung protein, inti-inti sel tidak mengandung kalium.

Pada se-sel zat ini terdapat sebagai ion didalam cairan sel dan keadaan demikian
akan merupakan bagian penting dalam melaksanakan turgor, yang disebabkan
oleh tekanan osmotis. Selain itu kalium mempunai pungsi fisiologis yang khusus
pada asimilasi zat arang, ang berarti apabila tanaman sama sekali tidak diberi
kalium,
maka
asimilasi
akan
terhenti
(Mulyani,
2002).
Kebutuhan (K) ini sesungguhnya cukup tinggi dan dalam hal ini apabila akan K
tidak tercukupi akan terjadi translokasi K dari bagian-bagian tanaman yang tua
kabagian muda. Berbeda kebagian unsur-unsur N, S dan P ( terdapat dalam
protein) tetapi kalium tidak terdapat dalam protein. Protoplasma, selulosa,
sehingga diduga bahwa K hanya bersipat sebagai katalisator. Terlepas dari
kenyataan ini K mempunyai peranan penting dalam tanaman yaitu dalam
peristiwa-peristiwa fisiologis (Marsono, 2003).
Tanaman yang kekurangan unsur kalium akan memperlihatkan gejalah-gejalah
seperti daun mengerut atau keriting terutama pada daun tua walau pun tidak
merata. Kemudian pada daun akan menimbul bercak-bercak merah coklat,
selanjutnya daun akan mengering, lalu mati. Buah tumbuh tidak sempurna, kecil,
mutunya jelek, hasilnya renda, dan tidak tahan simpan. Kalau menemukan
tanaman tanda-tanda seperti ini maka segera lah melakukan pemupukan kalium.
BAB III.
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Tempat dan waktu
Penelitian akan dilaksanakan di Desa Raksa Jiwa Kecamatan Semidang
Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu. Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada
bulan Juli sampai bulan September 2011.
B. Bahan dan alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini benih mentimun
varietas Hercules, pupuk kandang (kotoran sapi), pupuk Urea, SP36, KCL dan
Herbisida. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Traktor, parang,
cangkul, meteran, tali rapiah, spayer, dan alat - alat tulis lainya.
C. Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Berpola
3 x 3. Dengan faktor pertama berbagai macam pupuk kandang (K) dan faktor
kedua pemberian dosis N, P dan K (D) dengan rincian sebagai berikut :
1. Faktor pertama yang terdiri dari. (K)
K1 : pupuk kandang ayam
K2 : pupuk kandang sapi
K3 : pupuk kandang kambing
2. Faktor kedua dosis hara N, P dan K. (D)
D1 : Urea 3 gr/tan, SP36 2 gr/tan, KCL 2 gr/tan
D2 : Urea 3 gr/tan, SP36 2 gr/tan, KCL 2 gr/tan
D3 : Urea 3 gr/tan, SP36 2 gr/tan, KCL 2 gr/tan

1.

2.

3.

4.

Perlakuan di ulang sebanyak 3 kali berdasarkan kelompok, sehingga


Semua terdapat 27 satuan kelompok. Pada setiap satuan percobaan terdapat 3
tanaman contoh. Model matematika rancang yang digunakan dalam penelitian
ini :
Yijk
=

Kj
+
(
+

+
)
+

Dimana
Yij : Nilai pengamatan pada perlaku ke i
: Nilai rata - rata (mean) harapan
Kj : Pengaruh kelompok ke j
: Alpa pengamatan perlakuan A
: Beta pengamatan perlakuan B
: Pengamatan perlakuan A dan B
: Pengaruh galat
i : Tingkat / perlakuan
j : Banyaknya kelompok
Data yang diperoleh dianalisis secara stastistik dengan menggunakan
sidik ragam (uji F). Apabila sidik ragam berpengaruh nyata maka dengan
pengujian analisis nilai nilai tengah perlakuan dengan uji BNT.D. Cara Kerja
Pengolahan lahan
Luas lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 22 m x 10 m.
Pengolahan, tanah diolah dengan membersihkan lahan dari tanaman pengganggu
atau gulma. Selanjutnya dilakukan pembajakan tahap pertama yang bertujuan
untuk
membalikan
tanah.
Pembajakan kedua dilakukan satu minggu setelah dari pembajakan pertama, yang
bertujuan untuk menggemburkan dan meratakan tanah. Sesudah pembajakan
kedua lalu dilakukan pembuatan petakan yang berukuran 2m x 2m dan jarak
antara petakan 50 cm sedangkan jarak antar ulangan 1 meter.
Pemberian pupuk kandang
Pemberian pupuk kandang dilakukan dengan cara disebar merata
dipermukaan petakan, dengan dosis pupuk kandang 10 kg perpetakan. Pemberian
pupuk kandang dilakukan setelah selesai pembuatan petakan (Intan, 2010).
Penanaman
Penanaman dilakukan 2 minggu setelah pemberian pupuk kandang.
Dengan cara ditugal sedalam 5 cm, setelah lubang tanam dibuat kemudian benih
dimasukan kedalalam lubang tanam sebanyak 2 butir yang di campur puradan
sebanyak 2 butir perlubang. Varietas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
varietas Hercules dengan jarak tanam 40 cm x 50 cm (Harist, 2001).
Pemberian pupuk anorganik (N, P dan K).
Pemberian dosis pupuk N, P dan K yang dilakukan pada saat tanam
mentimun berumur 10 hts, dengan dosis pupuk sesuai perlakuan. Pemberian dosis
pupuk kedua dilakukan pada saat tanaman memasuki fase generatif (masa
pembungaan) (Intan, 2010).

5. Pemasangan ajir
Pemasangan ajir dilakukan sebelum tanam, agar tidak mengganggu atau
merusak perakaran tanaman mentimun. Ajir yang digunakan adalah bambu yang
berukuran 2 m, yang dipasang secara berpasangan kemudian diatas ajir dibentangi
dengan tali rapiah.
6. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan selama masa penelitian meliputi : penyiraman
dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pagi dan sore hari (itu kalau dimusim kemarau),
pengendalian hama dan penyakit menggunakan intektisida dan festestisida
dilakukan dengan cara penyemprotan satu minggu sekali. Sedangkan
pengendalian gulma dilakukan pada umur 2 minggu setelah tanam, menggunakan
tangan atau koret sampai ahir penelitian.
7. Panen
Panen mentimun dilakukan setelah tanaman ditanadai dengan ciri buah
yang dapat dipanen adalah buah yang berukuran besar, atau tergantung pada jenis
varietasnya. Cara panen dilakukan dengan cara memotong tangkai buah dengan
pisau atau gunting (Harist, 2001).
E. Peubah yang diamati
1. Tinggi tanaman (m)
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan setelah akhir pemanenan yang
diambil satu tanaman sample/contoh dari masing-masing petakan, yang diukur
dari pangkal tanaman sampai ke titik ujung tanaman.
2.Umur berbunga (hari)
Umur berbunga di hitung pada saat tanaman berbunga mekar pada
masing-masing petakan atau 60 % tanaman mentimun berbunga, yang diambil
satu
tanaman
contoh.
3. Umur panen (hari)
Umur panen dihitung sejak pemanenan buah pertama dari masing masing petakan sampai ke akhir pemanenan yang dapat di hitung.
4.Berat kering tanaman (gr)
Pengamatan dilakukan dengan cara menimbang seluruh bagian tanaman
(tanpa buah) setelah terlebih dahulu dikeringkan dalam pengoven pada suhu 70 C
selama 48 jam. Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian pada masing-masing
satu tanaman contoh/sampel.
5. Jumlah buah
Dihitung pada saat setiap panen pada masing-masing tanaman
sampel/tanaman contoh sampai pada saat akhir pemanenan.
6. Berat buah (kg)
Berat buah tanaman dihitung dengan menimbang buah yang di panen
pada setiap tanaman contoh/sampel, pada setiap kali pemanenan

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002. Program Penyuluhan Pertanian. Dinas Pertanian dan Perternakan
Kabupaten Tanggerang.
Biro Pusat Stastistik, 2009. Diktorat Bina Program Tanaman Pangan. Yogyakarta
Cahyono, 2003. Budidaya Tanaman Mentimun. Insitut Pertanian Bogor. Bogor.
Soepardi, 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jurusan Tanah. Erlangga. Jakarta.
Hardjowigeno, 1997. Dasar-Dasar ilmu tanah. Erlangga. Jakarta.
Intan, 2010. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaanya. Penebar Swadaya Jakarta.
Imdad, 2001. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya. Jakarta.
Jumin, 2007. Pengaruh Komposisis Media Tanam dan Pemberian Pupuk Kascing
Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Melon. Kaninsius. Yogyakarta.
Kalie, 2001. Teknik Budidaya Mentimun Hibrida. Kanisisu. Yogyakarta.
Lingga, 1991. Aneka Jenis Tanam dan Pengunaanya. Penebar Swadaya. Jakarta.
Musnamar, 2006. Pranan Pupuk Kandang. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mulyani, 2002. Pranan Pupuk fosfor Terhadap Tanaman Sayuran. Sinar Baru
Algesindo. Bandung.
Marsono, 2007. Serapan Unsur Kaliun di Dalam Tanah. Depok Estate.
Nurtika dan Sumarna, 2001. Dosis Pupuk Kandang Untuk Tanaman Semusim. CV.
Simelex Argo Media Pustaka. Depok Estate.
Nurhayati, 1986. Pranan Pupuk fosfor Untuk Tanaman Semusim. PT. Argo Media
Pustaka. Depok Estate.
Nawangsih, 2001. Budidaya Mentimun Intensif. Penebar Swadaya Jakarta.
Tyndall, HD. 1987. Sumber Sejarah Tanaman Mentimun. The Macmillan Press Ltd.
London.
Rahardi, 1999. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Unipersitas Gajah Mada Press.
Yogyakarta.
Rukmana, R 1994. Budidaya Mentimun. Kanisius. Yogyakarta.
Rusmaili, 2011. Manpaat Dari Penggunaan Pupuk Organik. Erlangga. Jakarta.
Sinaga, 1999. Berbagai Macam Jenis Pupuk kandang. Abdi Tani. Edisi IX. Vol. 2.no.6.
Subagyo, 2009. Pemupukan Yang Efektif. PT. Agro Media Pustaka. Depok.
Sumpena, 2001. Kiat Bercocok Tanam Sayuran Organik. Lembaga Sehat Dompet
Dhuafa Republika.
Smadi, 2002. Teknik budidaya mentimun. Deptan. Jakarta.
Sarif, 1986. Kunci Bercocok Tanaman Sayur-Sayuran Penting di Indonesia. Sinar
Baru Algessindo. Bandung.