Anda di halaman 1dari 31

EVALUASI BK

MODEL-MODEL EVALUASI YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM EVALUASI


PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Model Evaluasi Goal Attainment
Menurut Tyler pada tahun (1950), ia mengemukakan bahwa pengertian
evaluasi perlu ditekankan pada pemerolehan presepsi mengenai efektifitas system pendidikan
yang mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan pembelajaran.

Evaluasi harus dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara berkelanjutan.

Langkah-langkah evaluasi
Tyler mengembangkan langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan sebuah evaluasi :
1. Menentukan tujuan seluas-luasnya atau sasaran-sasaran
2. Mengklasifikasikan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran
3. Menegaskan sasaran dalam bentuk prilaku
4. Menemukan situasi-situasi dalam pencapaian tujuan yang dapat dicapai
5. Mengembangkan atau memilih teknik pengukuran
6. Mengumpulkan hasil data
7. Membandingkan hasil data dengan prilaku berdasarkan tujuan
Goodlad dalam sanders pada tahun (2004), presepsi bahwa tyler mempermudah evaluasi
karena adanya tujuan umum untuk menemukan tujuan lebih baik daripada penentuan khusus
(prilaku) yang tidak tepat.

Goodlad (1979), mencatat bahwa Tyler menggambarkan enam kategori dari tujuan di amerika
:
1. Tambahan informasi
2. Perkembangan dari kebiasaan kerja dan kemampuan belajar
3. Perkembangan cara berfikir yang efektif
4. Internalisasi, sikap, minat, apresiasi, dan sensitivitas social
5. Pemeliharaan kesalahan fisik
6. Perkembangan filosofi hidup
Satu publikasi yang menyatakan pemikiran mengenai tujuan pendidikan
yaituHandbook Education variables. Pedoman tersebut membagi perkembangan siswa tingkat
dasar dan siswa tingkat dua dalam tujuh kategori:
1. Kecerdasan
2. Emosi
3. Fisik dan reaksi
4. Estesis dan kebudayaan
5. Moral
6. Kejujuran
7. Social

Kelebihan Dan Keterbatasan Model Evaluasi Goal Attainment
Model evaluasi goal attainment merupakan model evaluasi yang sederhana.
Perkenaan evaluasi hanya pada aspek hasil saja membuat evaluasi lebih mudah dipahami, diikuti
dan diimplementasikan. Model evaluasi ini sudah disimulasikan selama bertahun-tahun sehingga
menghasilkan tindakan dan instrument yang sudah diperhalus. Literature evaluasi berorientasi
tujuan banyak, serta diisi dengan ide yang kreatif untuk mengaplikasikan pendekatan ini.

Kekurangan Model Evaluasi Goal Attainment
1. Mengabiakan aspek perencana dan proses pada proses pembelajaran
2. Banyak kekurangan standar penilaian yang penting untuk diobservasi
3. Ketidaksesuaian antara tingkat tujuan dan pelaksanaannya
4. Pembagian nilai tujuan pendekatan evaluasi itu sendiri
5. Membagikan alternative-alternatif penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan
program
6. Melakukan konteks yang memiliki wewenag evaluasi
7. Membagikan hasil penting lainnya yang ditutupi oleh tujuan (hasil yang sengaja didapatkan dari
kegiatan)
8. Membagikan fakta-fakta dari nilai program yang tidak dapat digambarkan dengan tujuan itu
sendiri

B. Model Evaluasi Formative Dan Summative
Scriven mendefenisikan evaluasi sebagai proses pengumpulan dan
mengkobinasikan data ferformance dengan seperangkat alat tujuan yang telah ditetapkan.

Evaluasi Formative
Scriven (1991), mendefenisikan evaluasi formative sebagai suatu evaluasi yang
biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu sedang dikembangkan biasanya
dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan.
Evaluasi Summative
Evaluasi summative merupakan evaluasi yang menilai hasil program atau
akibatnya, untuk menentukan efektifitas program, maka evaluasi perlu dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana pencapaian hasil.
Evaluasi summative adalah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah
berakhirnya kegiatan belajar mengajar.

C. Model evaluasi responsif
Evaluasi responsive adalah sebuah pendekatan untuk evaluasi pendidikan dan
program lainnya. evaluasi responsive lebih berorientasi pada aktivitas, keunikan dan keragaman
social dari program.

Model Judgment Dari Stake
Evaluasi menurut stake adalah usaha mendeskripsi dan memberikan judgment
pada program-program. Stake mengistilahkan pembuatan keputusan sebagai proses judgment.
Judgment (Suharsimi arikunto , 1988) di artikan sebagai pertimbangan. Model ini berpandangan
bahwa kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan, peristiwa,
kejadian atau objek, melainkan harus sampai kepada judgment mengenai baik-buruknya, efektif
tidaknya proses dan akhirnya pada program.
Stake menawarkan 3 fase dalam evaluasi, yakni antecedent(pendahuluan atau
persiapan), transaction-process(transaksi, proses implementasi) dan outcomes(keluaran atau
hasil).
1. Antecedent dimaksudkan untuk menilai sumber/modal/input, seperti tenaga keuangan,
karakteristik siswa dan tujuan yang ingin dicapai.
2. Transaction dimaksudkan untuk menilai rencana kegiatan dan proses pelaksanaanya, termasuk
kedalamnya urutan kegiatan, penjadwalan waktu, bentuk interaksi yang terjadi seterusnya.
3. Outcomes dimaksudkan untuk menilai efek dari program setelah selesai dilaksanakan.
Kriteria dalam sebuah responsive berasal dari pokok persoalan dari semua stake holders yang
terkait. stake holders adalah sekelompok orang yang tertarik pada kekuasaan. Evaluasi
responsive stake holders seharusnya berpartisifasi aktif dalam proses evaluasi tersebut. Fase-
fase evaluasi responsive yang telah oleh stake :
1. Pendahuluan, tansaksi, dan hasil
2. Penemaan tema : memepersiapkan evaluasi dan studi kasus
3. Pengesahan/konfirmasi
4. Memisahkan format yang digunakan untuk audience
5. Memasang laporan formal, jika ada
6. Berbicara dengan klien, stap program dan audience
7. Identifikasi bidang program
8. Meninjau aktivitas program
9. Menemukan tujuan dan focus pada tujuan
10. Mengonsep persoalan dan masalah
11. Identifikasi kebutuhan dan mengulang persoalan pokok
12. Memilih observasi, memutuskan dan pemberian instrument (jika ada)
Pendekatan kepada peserta evaluasi dengan mengelaborasi informasi penting dan teknik
pengumpulan data secara rasional. Stake menyerukan untuk mengikuti pendekatan ini dengan
beberapa alasan.
1. Membantu audience untuk mengerti evaluasi program ini dapat dilakukan melalui interaksi yang
alamia antara efaluator dan audience.
2. Mendapatkan pengetahuan dari pengalaman manusia.
3. Pengamatan yang alami.
4. Mempelajari suatu objek secara mendalam.

Kelebihan dan kekurangan
kelebihan responsif adalah kepekaan terhadap berbagai titik pandangan,
kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigu dan tidak focus. Demikian juga evaluasi
responsive dapat mendorong proses perumusan masalah dengan cara menyediakan informasi
yang dapat membantu kita memahami isu secara lebih baik.
Keterbatasan pendekatan responsive adalah keengganannya membuat prioritas
atau penyederhanaan informasi untuk pemegang keputusan dan kenyataan yang praktis tidak
mungkin menampung semua sudut pandang dari berbagai kelompok.

D. Model Evaluasi Cipp
Stufflebeam merupakan ahli evaluasi yang mengusulkan evaluasi melalui
pendekatan yang berorientasi kepada pengambilan keputusan. Committee mendefinisikan
evaluasi program dalam pendidikan yang memberikan tekananya pada 3 hal.
1. Menyatakan pertanyaan yang menuntut jawaban dan informasi yang digali
2. Membangun data yang relevan
3. Menyediakan informasi akhir (kesimpulan) yang menjadi bahan pertimbangan mengambil
keputusan
Ketiga evaluasi memberikan dukungan pada proses mengambil keputusan dengan
memilih salah sattu alternative pilihan dan melakukan tindak lanjut atas keputusan tersebut.
Stufflebeam berpendapat bahwa evaluasi seharusnya memiliki tujuan untuk
memperbaiki (to inprove) bukan untuk membuktikan (to prove).
1. Evaluasi konteks (context evaluasi)
Orientasi utama dari evaluasi konteks adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan suatu objek, seperti intitusi, program, populasi target, atau orang dan juga untuk
menyediakan arahan untuk perbaikan.
2. Evaluasi input (input evaluation)
Orientasi utama dari evaluasi input adalah untuk membantu menentukan program
yang membawa pada perubahan yang dibutuhkan.
3. Evaluasi proses (proses evaluation)
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan untuk melihat apakah
pelaksanaan program sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Evaluasi proses ini dapat
dilakukan dengan memonitor kegiatan, berinteraksi terus-menerus, serta dengan mengobservasi
kegiatan dan staf.
4. Evaluasi produk (produk evaluation)
Evaluasi produk adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur,
menginterprestasikan, dan menilai pencapaian program.Evaluasi produk juga bertujuan
mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap luaran(outcome) dan menghubungkan itu semua
dengan objektif, konteks, serta untuk menginterprestasikan kelayakan dan keberhargaan
program.

EVALUASI PERENCANAAN PROGRAM BIMBINGAN
A. Evaluasi tujuan program bimbingan

1. konsep Evaluasi tujuan program bimbingan
untuk mengidentifikasikan berbagai kebutuhan peserta didik, dan juga untuk menyediakan
arahan untuk perbaikan.

2. Prosedur pelaksanaa evaluasi tujuan

a. Menentukan tujuan evaluasi
Tahap pertama melakukan evalluasi adalah menentukan tujuan evaluasi.
Penentuan tujuan ini merupakan hal yang sangat penting karena berdasarkan tujuan inilah guru
BK/konselor sekolah akan evaluasi.

b. Menentukan kriteria evaluasi
Sebuah program akan dikatan berhasil dan sukses (proses penilaian) apabila memenuhi kriteria
keberhasilan yang ditetapkan.

c. Memilih desain evaluasi
Desain evaluasi program merupakan suatu rencana yang menunjukkan bila evaluasi akan
dilakukan, dan dari siapa evaluasi atau informasi akan dikumpulkan.

d. Menyusun tabel perencanaan evaluasi
Berdasarkan tujuan evaluasi yang sudah kita tetapkan, maka kita menyusun tabel perencanaan
evaluasi.


Komponen Indikator Sumber Data Teknik pengumpulan Data

Perencanaan
(tujuan)
Tugas
perkembagan
siswa

siswa

Memberikan inventori
mengenai tugas
perkembangan siswa
Permasalahan
siswa

Siswa

Melakukan survei terhadap
permasalahan siswa

e. Menentukan instrument evaluasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi pada aspek tujuan ini adalah dengan
menyabarkan angket dan memberikan inventori.

f. Menentukan teknik analisis data
Evaluasi program bimbingan pada aspek tujuan ini menggunakan teknik analisis kuantitatif dan
kualitatif.
Analisis data pertama melakukan penelaahan terhadap tugas perkembangan siswa dan tingkat
permasalahan siswa. Data pencapaian tugas perkembangan siswa dan tingkat permasalahan
siswa dianalisis menggunakan rumus presentase mennurut Ana Sudiyono (1989).





Keterangan :
E = deskriftif presentase
X = frekuensi yang dicari
N = jumlah total responden

3. Penyusunan laporan evaluasi tujuan program bimbingan

Kegiatan akhr dalam kegiatan evaluasi yang dilakukan adalah membuat hasil laporan evaluasi
sejau mana penulis ketahui.

B. Evaluasi input program bimbingan

1. Konsep
Untuk membantu menentukan program yang membawa pada perubahan yang dibutuhkan.

Trotter etal (1998) ia mengatakan bahwa evaluasi input, bertujuan untuk
mengidentifikasi dan menelaah kapabilitas system, alternative strategi program, desain prosedur
dimana strategi akan diimplementasikan.

Dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang di miliki, strategi akan realistis,
dan didukung dengan kemampuan yang ada. Sehingga evaluasi program bimbingan pada aspek
input perlu di arahkan untuk melihat sejauh mana strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan
program bimbingan, termasuk di dalamnya menelaah sumber-sumber yang mendukungnya.

1) Strategi dalam program bimbingan
program bimbingan merupakan program yang bertujuan untuk membantu siswa dapat mencapai
tugas perkembangannya.

a. Materi yang ditetapkan dalam program bimbingan
program bimbingan merupakan salah satu program dalam program bimbingan dan konseling
yang bertujuan untuk membangun kompetensi tertentu sesuai dengan tugas perkembangannya.


b. Metode yang digunakan dalam program bimbingan
Pencapaian terhadap kompetensi yang diharapkan dalam program bimbingan tidak hanya
ditentukan oleh materi dan media yang tepat dan baik.

c. Media yang digunakan dalam program bimbingan
Penyelenggaraan program bimbingan bertujuan untuk membantu siswa mencapai tugas
perkembangannya secara optimal.

2) Sumber-sumber dalam program bimbingan
Pemilihan strategi yang tidak mempertimbangkan sumber-sumber yang dimiliki tentunya dapat
membuat strategi sulit diterapkan karena mungkin tidak atau kurang realistis.

2. Prosedur pelaksanaan evaluasi

a. Menentukan tujuan evaluasi
Tahap pertama dalam melakukan evaluasi adalah menentukan tujuan evaluasi. Penentuan tujuan
ini merupakan hal yang sangat penting karena berdasarkan tujuan inilah guru BK/konselor
sekolah akan melakukan evaluasi.

b. Menentukan kriteria evaluasi
Sebuah program akan dikatakan berhasil dan sukses apabila memenuhi kriteria keberhasilan
yang ditetapkan. Membahas mengenai kriteria keberhasilan sebagai patokan evaluasi tidak
terlepas membahas standard an indicator.

c. Memilih desain evaluasi
Desai evaluasi program merupakan suatu rencana yang menunjukan waktu evaluasi akan
dilakukan dan dari siapa evaluasi atau diinformasi akan dikumpulkan.



d. Menyusun tabel perencanaan evaluasi
Berdasarkan kriteria evaluasi yang sudah kita tetapkan, maka kita menyusun tabel perencanaan
evaluasi. Tabel perencanaan evaluasi terdiri atas empat kolom yang terdiri atas, kolom
komponen, kolom indicator, kolom sumberdata dan kolom teknik pengumpulan data.

e. Menentukan instrument yang digunakan
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi ini adalah dengan menggunakan
wawancara, angket, revew ahli studi dokumentasi, memberikan tes, serta obsevasi.

f. Menentukan teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam evaluasi program bimbingan pada aspek input adalah
teknik analisis kualitatif.

3. Penyusunan laporan evaluasi inout program bimbingan
Evaluasi input merupakan evaluasi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan apakah strategi
yang ditetapkan sudah tepat dalam mencapai tujuan dalam evaluasi ini.

KONSEP EVALUASI
A. Konsep
Banyak ahli yang berpendapat bahwa evaluasi proses penting di lakukan:
Gysbers menggunakan istilah program evaluation untuk evaluasi terhadap aspek proses dalam
program.
Stufflebeam mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang
berkelanjutan atas implementasi perencanaan dan dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan
program sesuai dengan strategi yang telah di rencanakan.dalam ungkapan yang lain,evaluasi
proses bertujuan mengidentifikasikan atau memprediksi dalam proses pelaksanaan, seperti cacat
dalam desain prosedur atau implementasinya.
Secara umum scriven mengatakan bahwa evaluasi proses(formative) dilakukan
untuk membantu staf memperbaiki apapun yang mereka laksanakan bangun /kembangkan.
Dengan demikian dapat di ambil kesimpulan bahwa evaluasi proses bertujuan untuk
menyediakan informasi sebagai dasar memperbaiki orogram,serta untuk mencatat,dan menilai
prosedur kegiatan dan peristiwa. Bagian terpenting yang harus di pahami dalam evaluasi proses
program bimbingan adalah penekananya pada usaha perbaikanya yang dapat di lakukuan
berkenan dengan aspek proses program bimbingan.sebagaimana kita ketahui bahwa dalam
melaksanakan program bimbingan,guru bimbingan dan konseling memiliki perencanaan
bimbingan yang di sebut satuan layanan(satlan).
Keberadaan evaluasi proses yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling sesungguhnya
memberrikan jaminan bahwa pelaksanaan program bimbingan secara berkelanjutan mengalami
perbaikan terus menerus.selain itu,dengan adanya evaluasi proses memperbaikan terhadap
pelkasanaan terhadap bimbingan dapat dilakukan segera, tidak usah menunggu satu semester
atau satu tahun baru melakukan perbaikan. Misalkan saja, guru bimbingan dan konseling di satu
kelas.
Dalam evaluasi proses ini,guru bimbingan dan konseling perlu memonitor kegiatan, berinteraksi
terus menerus, serta dengan mengobservasi kegiatan.kegiatan monitoring tentunya memerlukan
berbagai macam intrumen. Pada evaluasi prose,instrument yang dapat digunakan banya sekali
yang misalnya angket,pedoman observasi,tes,dan lain sebagainya.

B. Prosedur Pelaksanaan Evaluasi Pada Aspek Proses
1. Menentukan tujuan evaluasi
Penentuan tujuan ini merupakan hal yang sangat penting karena berdasarkan tujuan inilah guru
BK/konselor sekolah akan melakukan evaluasi .tujuan evaluasi secara umumberkaitan dengan
dua hal,pertama berkaitan dengan aspek yang akan dievaluasi dan dengan objek evaluasi.
Objek evaluasi yaitu program bimbingan mengarahkan bahwa proses yang dimaksud terbatas
pada lingkup bimbingan .berdasarkan dua halite,maka pada aspek proses evaluasi bertujuan
untuk menggambarkan analisis masalahyang berkaitan dengan komponen prroses,meliputi
:kesesuaian antara perencanaan program dengan pelaksanaan.
2. Menentukan kriteria evaluasi
Sebuah program akan dikatakan berhasil dan sukses apabila memenuhi kriteria keberhasilan
yang ditetapkan.
Mutrofin dan Hadimenjelaskan kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap basis
penting untuk melakukan riset evaluasi pada program tersebut.
Pendapat ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Winkel dan Hatuti bahwa kriteria
adalah patokan dalam evaluasi program.
Kriteria merupakan karakteristik program yng dianggap sebagai basis relevan dan penting untuk
melakukan riset evaluasi.
3. Memilih desain evaluasi
Desain evaluasi program merupakan suatub rencana yang menunjukan bila evaluasi akan
dilakukan.
4. Menyusun tabel perencanaan evaluasi
Tabel perencanaan evaluasi terdiri atas 4 kolom yang terdiri atas ,kolom komponen ,kolom
indicator, koom sumber data ,dan teknik pegumpulan data.

5. Menentukan instrumen evaluasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi ini adalah dengan menggunakan
wawancara, angket, review ahli,studi dokumentasi, memberikan tes, serta observasi. untuk lebihb
jelas dibawah ini dapat dilihat mengenai teknik pengumpulan data dan instrument yang
digunakan.

EVALUASI HASIL PROGRAM BIMBINGAN

A. KONSEP
Evaluasi hasil adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur,
menginterprestasikan, dan menilai pencapaian program (Hadi & Murtrofin, 2006).
Evaluasi hasil juga, bertujuan untuk mengumpulkan deskripsi dan penilaian
terhadap luaran (outcome) dan menghubungkan itu semua dengan objek, tujuan ,input, dan
informasi proses, serta untuk menginterprestasikan kelayakan dan keberhargaan program.
Selain itu beberapa ahli mengajukan berbagai konsep mengenai hal ini:
Pusat kurikulum (2004) mengajukan adanya :
Penilaian segera (laiseg)
Penilaian jangka pendek (laijapen) dan
Penilaian jangka panjang (laijapan).

B. POSEDUR PELAKSANAAN EVALUASI HASIL PROGRAM BIMBINGAN
1. Menentukan Tujuan Evaluasi
Tahap pertama dalam melakukan evaluasi adalah menentukan tujuan evaluasi.
Tujuan evaluasi secara umum berkaitan dengan dua hal yaitu:
Aspek yang akan dievaluasi dan
Objek evaluasi
2. Menentukan Kriteria Evaluasi
Kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap sebagai basis relevan
dan penting untuk melakukan riset evaluasi.
Menetapkan kriteria sebagai patokan dalam evaluasi program memang tidak
mudah. Maka kriteria yang digunakan untuk menentukan evektivitas program bimbingan pada
aspek hasil adalah sebagai berikut:

Kriteria Keberhasilan
Program Bimbingan Pada Aspek
Hasil







3. Memilih Desain Evaluasi
Sebelum program dilaksanakan

Desain evaluasi program merupakan suatu rencana yang menunjukan waktu evaluasi akan
dilakukan, dan dari siapa evaluasi atau informasi akan dikumpulkan. Adapuan dalam bentuk
diaggram desain tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Sesudah program dilaksanakan

Evaluasi program bimbingan pada aspek hasil
Komponen Indikator Kriteria
Hasil

Tujuan Layanan
Tercapai

Terdapat perbedaan
kompotensi/tujuan
layanan sebelum dan
sesudah diberikan
program bimbingan.


Pencapaian kompotensi/tujuan layanan

PERBEDAAN



4. Menyusun Tabel Perencanaan Evaluasi
Tabel perencanaan evaluasi terdiri atas empat kolom yang terdiri atas, kolom
komponen, kolom indikator, kolom sumber data, dan kolom teknik pengumpulan data. lebih
jelasnya kita lihat tabel perencanaan evaluasi berikut ini:
Perencanaan Evaluasi Pada Aspek Hasil
Komponen
Indikator Sumber Data Teknik Pengumpulan Data
Produce

Pencapaian
Kompotensi/tujuan
layanan

Siswa

Memberikan Instrumen
Tingkat Pecapaian Hasil


5. Menentukan Instrumen Evaluasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi ini adalah dengan
memberikan instrumen berupa angket. Untuk lebih jelas dapat dilihat dibawah ini mengenai
teknik pengumpulan data dan instrumen yang digunakan.

Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Pengumpulan Data Pada Aspek Hasil
Komponen

Teknik Pengumpulan
Data
Instrumen Yang Digunakan

Hasil

Memberikan angket
mengenai pencapaian
kompotensi/tujuan layanan
di awal semester dan akhir
semester.

Angket pencapaian kompetensi/
tujuan layanan program
bimbingan


6. Menentukan Teknik Analisis Data
Analisis data pada aspek hasil menggunakan teknik analisis kuantitatif untuk
mengetahui pengharuh program bimbingan pada pencapaian kompotensi/tujuan layanan siswa.
Hal tersebut dilakukan melalui membandingkan pencapaian siswa terhadap
kompotensi /tujuan layanan pada awal semester dan akhir semester.


C. PENYUSUNAN LAPORAN EVALUASI HASIL PROGRAM BIMBINGAN

Evaluasi hasil program bimbingan merupakan evaluasi yang memiliki dua (2) manfaat.
1. Evaluasi memberikan informasi capaian tujuan program secara umum.
2. Hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk membuat laporan perkembangan siswa.

Selain itu laporan hasil evaluasi terdiri dari tiga komponen yaitu:
1. Deskripsi data hasil evaluasi,
2. Analisis data hasil evaluasi, serta
3. Keputusan.

Laporan perkembangan siswa (individu) adalah laporan yang berisi perkembangan siswa setelah
diberikan program bimbingan.

MODEL EVALUASI FORMATIVE DAN SUMMATIVE
Model evaluasi formative dan summative dikemukakan oleh scriven yang memberikan
definisi berbeda mnegenai evaluasi. Scriven mendefinisikan evaluasi sebagai proses
mengumpulkan dan mengkombinasikan data performance dengan seperangkat tujuan yang telah
ditetapkan ( Isaac & William, 1984:8). Definisi Scrinven ini, tidak hanya memberikan tekanan
pada pencapaian hasil, akan tetapi juga memberikan perhatian pada aspek proses.
1. Evaluasi formatif
Scrinven (1991) mendefinisikan evaluasi formatif sebagai suatu evaluasi yang biasanya
dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih
dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan.Sementara Weston, Mc Alpine dan
Bordonaro (1995) menjelaskan bahwa tujuan evaluasi formatif adalah untuk memastikan tujuan
yang diharapkan dapat tercapai dan untuk melakukan perbaikan suatu produk atau program. Hal
ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Worthen dan Sanders (1997) bahwa evaluasi
formatif dilakukan untuk memberikan inforasi evaluatif yang bermanfaat untuk memperbaiki
program.
Dalam konteks bimbingan dan konseling, evaluasi formatif dapat didefinisikan sebagi
suatu proses pengumpulan data untuk menentukan keberhasilan atau menilai tentang kelebihan
dan kelemahan suatu program ketika program tersebut masih dalam tahap pengembangan (proses
kegiatan sedang berjalan). Kekuatan dan kelemahan yang teridentifikasi melalui evaluais foratif
kemudian digunakan sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan (revisi). Tujuan evaluasi
formatif adalah untuk merefisi program layanan yang sedang dikembangkan dengan cara
mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai metode dan alat
pengumpulan data tertentu.
Evaluasi formatif dapat menanggapi program dalam konteks yang dinamis, dan berusaha
memperbaiki keadaan kerumitan yang merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan dari
berbagai bentuk dalam lingkungan kebijakan yang berubah-ubah.Kesesuaian antara perncanaan
dan pelaksanaan program baik peda konteks organisasi, personel struktur dan prosedur menjadi
fokus evaluasi ini. Beberapa ketidak cocokan antara petunjuk dan kelemahan, menemukan
halangan, rintangan, serta peluang yang ada untuk menimbulkan pemahaman tentang bagaimana
program dapat dapat diimplementasikan secara lebih baik.
Evaluasi dilakukan denagn mengumpulkan dan menganalisis dapat dari seluruh
pelaksanaan program dan timbal baik yang tepat dari evaluasi . hal ini dimaksudkan agar
terdapat informasi yang akurat bagi pelaku program dalam rangka pengambilan keputusan dan
tindak lanjut. Barker (1978) mengatakan ada dua faktor yang mempengaruhi keguanaan evaluasi
formatif, diperlukan sebagai kontrol. Informasi yang diberikan menjadi jaminan apakah
kelemahan dapat diperbaiki. Apabila informasi mengenai kelemahan tersebut terlambat sampai
kepada pengambilan keputusan, maka evaluasi akan bersifat sia-sia.
2. Teknik evaluasi formatif
Evaluasi formatif terdiri dari beragam bentuk. Menurut Martin Tessmer (1996) evaluasi
formatif dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Review ahli (Expert Review); yakni evaluasi dimana ahli mengkaji ulangprogram layanan
dengan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli ini bisa ahli materi, ahli teknis, pernacang, atau
instruktur.
2) Evaluasi orang per orang (one-to-one Evaluation); yaitu wawancara yang dilakukan secara
perorangan oleh evaluator terhadap beberapa siswa dimana secara satu persatu sisa diminta untuk
memebrikan komentarnya.
3) Evaluais kelompok kecil (small group); yaitu evaluasi diaman evalatpr mengujicobakan suatu
program layanan pada suatu kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-
komentarnya.
4) Uji lapangan (field test); yaitu evaluasi di mana evaluator mengobservasi program layanan ynag
diujicobakan kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata.




3. Review ahli
Review ahli adalah proses dimana seorang atau beberapa ahli melakukan riview terhadap
muatan program layanan yang masih kasar atau masih dalam rancangan (draft) untuk
menentukan kelebihan dan kelemahannya. Hal ini biasa dilakukan dalam tahap pertama pada
proses evaluasi formatif. Evaluasi bersama ahli ikut bersamaan dan mencatat komentar-
kom91entar ahli serta menanyakan informasi yang lain.
Review ahli memiliki kelebihan, antara lain: (1) review menghasilkan tipe informasi yang
berbeda jika dibandingkan dengan iformasi yang diperoleh dari evaluasi orang per orang,
kelompok kecil, atau uji lapangan, (2) kadang-kadnag ahli yang dibutuhkan telah ada dan
dibayanr denga murah. Sedangkan kelemahannya antara lain: (1) riview ahli tidak memberikan
pandangan atau pendapat dari sudut pandang siswa, (2) review ahli memerlukan biaya yang
tinggi jika orang lain harus didatngkan dari wilayah yang jauh.
Informasi yang dapat digali dari pelaksanaan review ahli anatar lain: (1) informasi yang
berkaitan dengan materi (content), seperti kelengkapan, akurasi, kepentingan, serta kedalaman,
(2) informasi yang berkaitan dengan desain intruksional, seperti kesesuaian karakteristik dan,
tugas perkembangan siswa, kesesuaian antara tujuan-materi-evaluasi, ketepatan pemilihan
media, ketertariakn bagi siswa (3) informasi yang berkaitan dengan implementasi, sperti
kemudahan penggunaan, kesesuaian dengan lingkungan belajar sebenarnya, kesesuaian denga
lingkungan (4) informasi kualitas teknis seperti kualitas layout, grafis, audio, visual, dll.
4. Evaluasi satu-satu
Adalah evaluasi yang melibatkanseorangsiswauntukmereview draft kasar program
layanan yang sedangdikembangkandengandidampingiolehseorang evaluator. Evaluator
dudukbersamasiswaketikasiswaakanmereview program programlayanan,
mengamatibagaimanasiswatersebut merasakan program layanan ,mencatatkomentarsiswa,
bertanyakepadasiswaselamadansetelahpenggunaanlayanan.
Salah satu keuntungandarievaluasi sati-
satuadalahbahwaevaluasiinimemberikaninformasidarisudutpandangsiswa.Informasiinidapatdiper
olehdarievaluasisatu-satumeliputibeberapaaspek, antaralain ;
1. Materi( content) ; sepertitingkatkesulitan , kejelasan, dayatarik, sertakekinianmateri.
2. Desaininstruksional ;sepertikejelasantujuan ,kelogisansistematikapenyampaianmateri.
3. Implementasi ;sepertitingkatkesulitanpenggunaaan , tingkatkemudahandana,
kemungkinankesulitan yang dihadapi.
4. Kualitasteknis ;sepertikualitasanimasi ,video, serta layout.
MenuturTessmer (1996), untukmemilihsubyekdalamevaluasisatu-satu
,adabeberapakarakteristik yang bias dijadikanpatokan,yakni :
1. Pengetahuansiswa ;meliputiseberapajauhmerekamengetahuikemampuanawalataupenilaian guru
BK
2. Kemampuansiswa ; apakahsiswamempunyaikemampuanintelektualdanstrategi yang
menunjukanbahwadirinyasebagaisiswa yang dapatbelajarcepat/lambat
3. Minatsiswa; meliputiapakahmerekaakanmenunjukkanmotivasi yang
kuatuntukmempelajaridanmereview program layanan yang sedangdikembangkan
4. Keterwakilansiswa ; seberapabanyakjumlahsiswadaripopulasi yang
memilikikemampuanketrampilandanmotivasi
5. Kepribadiansiswa;
apakahcukuppercayadiridanterbukauntukmengekspresikankritiknyaselamaevaluasi.
5. Uji Lapangan
Adalah evaluasi yang dilakukan terhadap suatu program layanan yang sudah selesai
dikembangkan, tapi masih membutuhkan atau memungkinkan untuk direvisiakhir, dengan
tujuan untuk mengkonfirmasi akhir, memperoleh pendapat akhir dan menguji keefektifan serta
kemampuan untuk diimplementasikan terhadap program layanan yang sudah dalam tahap akhir
pengembangan.
Salah satu kelebihan umum dari uji lapangan adalah bahwa dengan evaluasi ini akan
diperolehin formasi apakah program layanan dengan menggunakan metode ditentuakan benar-
benar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Menurut Tessmer (1996) ,ada beberapa focus penggalian informasi yang perludi jdikan
patokan dalam uji lapangan ,diantaranya adaalah :
1. Kemampuanuntukdilaksanakan
2. Kesinambungan
3. Efektifitas
4. Kecocokandenganlingkungan
5. Hal-halapasaja yang menyebabkan program layananitumembosankan?

6. Evaluasi Sumatif
Merupakan evaluasi yang menilai hasil program atau akibatnya. Evaluasi sumatif adalah
model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirny asetelah berakhirnya kegiatan
belajar-mengajar. Polaevaluasi ini dilakukan jika guru bermaksud untuk mengetahui tahap
perkembangan terakhir dari tingkat pengetahuan atau penguasaan materi yang telah dicapai
oleh siswa.
Beberapa keuntungan dari evaluasi sumatif adalah :
1. Mereka bisa, jika dirancang dengan tepat, ,menyediakan bukti untuk sebuah hubungan sebab-
akibat.
2. Menilai efek jangka panjang
3. Menyedikan data mengenai dampak program
C EVALUASI RESPONSIF
Evaluasi menurut stake adalah usaha untuk mendeskripsi program-program dan
memberikan judgment kepadanya . Evaluasi responsive adalah sebuah ependekatan untuk
evaluas penddikan dan program lainya . Di bandingkan dengan pendekata lainya , evaluasi
responsive lebih berorientasi kepada aktivitas , keunikan dan keragaman social dari suatu
program . Keistimewaan dari pendekatan ini adalah kemampuan reaksi terhadap isu kunci atau
masalah yang di kenal masyarakat di lapangan . Tujuan evaluasi di rancang secara perlahan da
terus berkembang selama proses pengumpulan data berlangsung .
Evaluasi responsive di tandai leh ciri- ciri penelitian kualitatif naturalistik . Evaluasi
responsive percaya bahwa evaluasi yang berarti yaitu mencari pengertian isu terhadap sudut
pandang orang yang terlibat, yang berminat, dan yang berkepentingan dalam program . Data
lebih banyak di kumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi daripada tes
dan angket . kKeberadaan data yang kualitatif ini membuat analisis dan interpretasi data bersifat
impresionistik. Bentuk laporan evaluasi adalah studi kasus atau gambaran yang diskriptif . Fokus
utama evaluasi responsive adalah menunjukan perhatian dan isu peserta .
Tujuan kerangka dan focus evauasi responsive muncul dai interaksi dengan unsur, dan
pengamatan terhadap interaksi . Kondisi ini mengakibatjkan evaluais berkembang secara
progresif. Artinya isu dalam evaluasi responsif berkembang sepanang evaluasi di lakukan ,
sepanjang data-data di kumpulkan .
Kunci dalam evaluasi responsive adalah evaluator harus mau mendengarkan audienya .
Penilai responsive tentu saja mengerjakan banyak berbagai hal. Ia membuat suatu rencana
pengamatan dan negoisasi.
1. Model judgment dari stake
Evaluasi menurut stake adalah usaha mendiskripsi dan memberikan judgment pada program-
program . Model ini berpandangan bahwa kegiatan penilaian tidak hanya berakhir dengan suatu
diskribsi tentang keadaan , peristiwa, kejadian atau objek , meainkan harus sampai mengenai
judgment mengenai baik-buruknya , efektif atau tidaknya dan akhirnya pada program. Stake
mengatakan bahwa evaluasi tidak sempurna jika tidak memberikan judgment .Strake
menawarkan tiga fase daam evaluasi yaitu :
1 . Anecedents(pendahuluan ) di maksudkan untuk menilai sumber ,modal, input,seperti tenaga
keuangan, karakteristik siswa dan tuujuan yang ingin di capai
2 . Tahap transaksi di maksudkan dalam meniai rencana kegiatan dan proses pelaksanaanya ,
termasuk dalam urutan kegiatan penjadwaan waktu, bentuk interaksi yang terjadi dan seterusnya
.
3 . Outcomes di maksudkan untuk menilai efek dari program setelah selesai di laksanakan .
Kriteria dalam sebuah evaluasi responsive berasal dari pokok persoalan dari semua
stakeholders yang terkait. Pokok persoaan tersebut secara berangsur-angsur muncul dalam
pembicaraan dengan stakeholders dan seharusnya di hubungkan dengan system nilai yang
mendasari supaya memudahkan proses negoisasi dan salig pengertian. Stakeholders adalah
sekelompok orang yang tertarik pada kekuasaan. Seorang evauator dalam mode responsive ini
harus melakukan evaluasi berdasarkan fase-fase evaluasi responsive yang tlah di kembangkan
oleh Stake yaitu :
1. Pendahuluan, transaksi, hasil
2. Penamaan (tema) , mempersiapkan evaluasi dan studi kasus
3. Pengesahan (konfirmasi)
4. Memisahkan format yang di gunakan untuk audien
5. Memasamg laporan formal (jika ada)
6. Bicara dengan klien , staft program dan audien
7. Identifikasi bidang program
8. Meninjau aktiftas program
9. Menemukan tuuan dan focus pada tujuan
10. Mengonsep persoalan dan masalah
11. Identifikasi kebutuan dan mengulang persoalan pokok
12. Memilih observasi, memutuskan dan pemberian instrument (jika ada)
Stake selalu meningkatkan ketepatan hasil evaluasi respondif melalui pendektan kepada peserta
evaluasi drengan mengolaborasi informasi penting dan teknik pengumpulan data secara rasional .
stake menyerukan untuk mengikuti pendektan dng alsan sebagai berikut :
1. Membantu audien untuk mengerti evaluasi program ini dapat dilakukan melalui interaksi yang
alamiah antara evaluator dan audien
2. Mendpatkan pengetahuan dari pengalaman manusia
3. Pengamat yang alami. Interaksi yang alami membuat evaluator mengenal kemiripan dari objek
dan pokok persoalan di dalam dan di luar konteks evaluasi
4. Mempelajari satu objek secara mendalam evaluasi responsive memberikan jalan kepada
evaluator untuk mempelajari audiens secara mendalam.

2. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan pendektan responsive adalah kepekaan terhadap berbagai titik pandang , dan
kemampuanya mengakomodasi pendapat yang ambigu dan tidak focus .
Keterbatasan pendekatan ini adalah keenggannya terhadap membuat prioritas atau
penyederhanaan informasi untuk memegang keputusan dan kenyataan yang praktis tidak
mungkin menampung semua sudut pandang dari berbagai kelmpok
D. MODEL EVALUASI CIPPS
Stufflebeam merupakan ahli evaluasi yang mengusulkan evaluasi melaliu pendekatan yang
beriorentasi kepada pengambilan keputusan ( a decision oriented evaluation approach
structured ) . Stufflebeam merumuskan evaluasi as a process of providing useful information for
decision making ( Stufflebeam & Shienfieled, 1985 : 155 ). Definisi tersebut kemudian sedikit
revisi pada tahun 1973 oleh Stufflebeam yang mendefinisikan evaluasi sebagai the process of
dilineting,obtaining, dan providing useful information for judging decision alternative (fitz
petrick, et,al, 2004:89) Definisi ini memberikan twkananya pada tiga hal , pertama bahwa
evaluasi merupakan proses sistematis yang terus menerus. Kedua proses ini terdiri atas 3
langkah, yaitu (1) menyatakan pernyataan yang menentukan jawaban dan informasi yang
spesifik untuk di gali, (2) membangun data yang relevan, dan (3) menyediakan informasi akhir
(kesimpulan) yang menjadi bahan pertimbangan mengmbil keputusan. Ketiga evaluasi
memberikan dukungn pada proses mengmbil keputusan dengan memilih salah satu alternatif
pilihan dan melakukan tindak lanjut atas keputusan tersebut.
1. Evaluasi Konteks (context Evaluasi)
Orientasi utama dari evaluasi konteks adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan suatu objek, seperti institusi, program, populasi target, atau orang, dan juga untuk
menyediakan arahan untuk perbaikan . stufflebeam mengemukakan bahwa objektifitas utama
dari tipe ini adalah untuk menelaah status objek secara keseluruhan, untuk mengidentifikasi
kekurangan , untuk mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki yang dapat di gunakan untuk
memperbaiki kekurangan untuk mendiagnosis masalah sehingga dapat di temukan solusi yang
dapat di perbaikinya, dan secara umum dapat untuk memberikan gambaran karakteristik
lingkungan / setting program ( Stufflebeam & shienfild ). Evaluasi konteks juga bertujuan untuk
melihat apakah tujuan yang lama dari perioritas terhadapnya telah sesuai dengan kebutuhan yang
seharusnya dilayani. Apapun yang menjadi fokos objeknya, hasil dari evaluasi konteks harus
menyediakan dasar untuk penyesuaian ( pemantapan ) tujuan dan perioritas, serta target
perubahan yang dibutuhkan.
Tujuan evaluai konteks dilakukan untuk menyediakan alasan yang rasional bagi konselor
dan administrator dalam menentukan tujuan dan kompetensi siswa, yang mana semua itu akan
membantu membentuk program dan haighlight berbagai elemen struktur dalam kebutuhan akan
perhatian.
2. Evaluasi Input (Input Evaluation)
apakah strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan program adalah tepat. Evaluasi ini
dilakukan deengan menelah dan menilai program sudah tepat. Evaluasi ini dilakukan dengan
menelan dan menilai secara kritis pendekatanya yang relevan yang dapat di gunakan (
stufflebeam & shinfield, 1985 : 173 ). Evaluasi ini merupakan pendahuluan atau tanda
kesuksesan, kegagalan, dan efisiensi atas usaha untuk melakukan perubahan. Evaluasi input
bertujuan untuk mengidentifikasi dan menelaah kapabilitas system, alternative strategi program,
desain prosedur dimana strategi akan di implementasikan. Input dalam program bimbingan dan
konseling dapat berupa jumlah sumber daya manusia dalam devisi bimbingan dan konseling.
Dukungan keungan, ruangan, peralatan seperti computer, softwere, serta media bimbinmgan.
3. Evaluasi Proses (Proses Evaluasi)
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan
program sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Dalam ungkapan yang lain,
Stufflebeam mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas
implementasi perencanaan (Stufflebeam& Shinfield, 1985:175). Evaluasi proses bertujuan untuk
mengidentifikasikan atau memprediksi dalam proses pelaksanaan, seperti cacat dalam desain
prosedur kegiatan dan peristiwa.Evaluasi proses ini dapat dilakukan dengan memonitor kegiatan,
berinteraksi terus menerus, serta dengan mengobservasi kegiatan, dan staf. Hal ini dapat
melibatkan pengukuran pre-test dan post-test terhadap pengetahuan dan keterampilan,
mengobservasi perilaku tertentu pada siswa,self-report mengenai perbaikan tingkah laku,
penilaian perforormance rutin ( tingkat, tester standard, portofolio ), self-study yang terus
menerus, stady kasus individual, kehadiran dan data kedisiplinan, kesesuaian antara program
dengan pelaksanaan, keterlakasanaan program, pengukuran sosiometri, serta hambatan
hambatan yang di temui.
4. Evaluasi produk (Product Evaluation)
Evaluasi produk adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur, menginterpretasikan, dan
menilai pencapaian program (Stufflebeam& Shinfield, 1985:175).. Feedback atas pencapaian
atau prestasi ini penting selama pelaksanaan program dan sebagai sebuah kesiimpulan. Evaluasi
produk juga bertujuan mengumpulkan deskripsi dan penilaian terhadap luaran ( outcome ) dan
menghubungkan itu semua dengan obyektif, konteks, input, informasi proses, serta untuk
menginterpretasikan kelayakan dan keberhargaan program.
Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dan mengukur
kriteria objektif, melalui mengumpulkan penilaian dari stakeholder,dengan unjuk kerja
(perfoming) baik dengan menggunakan analisis secara kuantitatif, maupun kualitatif (Trotter et
al., 1998:136).


Berdasarkan diagram di atas, maka keempat komponen dalam model evaluasi CIPP dapat
kita kelompokkan berdasarkan pelaksanaan program, dan penekanan masing masing komponen
tersebut. Pada diagram di atas dapat terlihat garis putus-putus vertikal yang membagi diagram
menjadi dua bagian.Bagian sebelah kiri merupakan kelompok komponen CIPP yang termasuk
dalam kelompok tujuan, artinya evaluasi konteks dan evaluasi input merupakan evaluasi yang
dilakukan dalam rangka mengevaluasi bagian dari program yang masih bersifat perencanaan dan
pelaksanaan. Sedangkan bagian sebelah kanan, yaitu komponen evaluasi proses dan produk
merupakan evaluasi yang dilakukan dalam rangka mengevaluasi bagian yang sedang atau sudah
dilaksanakan.Garis putus-putus horizontal yang menjadi dua bagian menunjukkan bahwa
keempat komponen model evaluasi CIPP dapat dikelompokkan pada dua bagian.Bagian pertama
adalah bagian atas, dimana evaluasi konteks dan evaluasi produk merupakan evaluasi yang
memilki penekanannya pada hasil, sedangkan bagian bawah, dimana terdapat evaluasi input dan
evaluasi proses menunjukkan bahwa kedua evaluasi tersebut memberikan fokusnya pada proses.
Berdasarkan alur yang ada pada diagram diatas, dapat dipahami bahwa evaluasi konteks
merupakan evaluasi yang dilakukan untuk merencanakan keputusan melalui penelahan
kebutuhan untuk menetapkan tujuan.Setelah tujuan ditetapkan, maka untuk menstrukturisasikan
keputusan dalam arti agar tujuan dapat tercapai maka diperlukan stragi.Menentukan strategi yang
tepat dilakukan melalui evaluasi.Strategi yang telah diterapkan dalam pelaksanaan untuk
mencapai tujuan.Hal inilah yang membuat dalam diagram terdapat keterangan bahwa evaluasi
konteks dan evaluasi produk dilakukan secara simultan.Evaluasi proses untuk melihat
implementasi dari strategi yang dipilih, Sedangkan evaluasi produk untuk melihat apakah tujuan
telah tercapai.Evaluasi produk ini kemudian menjadi dasar untuk menentukan keputusan
mengenai program.

E. KRITERIA YANG DITERAPKAN
Penetapan criteria relevan sebagai patokan dalam evaluasi program sudah lama
merupakan persoalan yang belum terpecahkan secara tuntas.banyak ciri yang melekat pada
progam bimbingan yang baik tetapi semua cirri itu belum merupakan criteria relevan yang
memenuhi persyaratan sebagai patokan dalam studi evaluative.ciri-ciri itu masih bersifat
subyektif dalam arti bersumber pada pandangan pendapat dan penafsiran oleh ahli bimbingan
sendiri meskipun banyak ahli bimbingan mungkin sepakat tentang ciri-ciri itu.ciri itu dibedakan
atas cirri yang bersifat eksternal dan yang bersifat internal.
Ciri eksternal mudah diamati beberapa contoh ciri eksternal:
1. terdapat seorangtenaga ahli bimbingan untuk setiap 250-300 siswa,
2. semua tenaga bimbingan mempunyai klasifikasi yang memadai dalam hal pendidikan
prajabatan di bidang bimbingan dan konseling,
3. terdapat system kartu pribadi yang memuat data relevan setiap siswa
Ciri internal :
1. Program bimbingan bersumber pada kebutuhan -kebutuhan siswa nyata dan realistis
2. sifat-sifat bimbingan yang menonjol ialah sifat prefentif dan development sehingga lebih banyak
dicurahkan perhatian pada usaha bimbingan pencegahan
3. seluruh kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan.
Seperti dikatakan diatas adanya cirri eksternal dan internal belumlah dapat membuktikan
bahwa progam bimbingan memang efisien dan efektif.
Pembahasan tentang tujuan khusus efek atau hasil dan rumpun criteria tertentu terutama
menyangkut pelayanan bimbingan langsung kepada populasi siswa,tujuan dalam program
bimbingan yang ditentukan dan evek yang diharapkan serta criteria relevan yang ditetapkan
harus bersifat realistis.
Evaluasi terhadap program bimbingan harus memperhitungkan keadaan kongkret di
institusi pendidikan tertentu.
Perubahan yang dihasilkan oleh program kegiatan bimbingan dapat pula mencakup
bebrapa efekyang tidak langsung dituju,tetapi merupakan suatu efek samping misalnya hubungan
yang lebih baik antara staf guru dan para siswa beserta hubungan yang lebih baik antara orang
tua dan anak,dalam hal ini dihadapi kesukaran yang sama dengan penetapan criteria untuk
evaluasi produk terhadap pelayanan langsung kepada para siswa.

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN (Prof. Dr. Suharsimi Arikunto)

----> R E S U M E <-----
BAB I
KONSEP EVALUASI PROGRAM

A. Pengertian Program dan Evaluasi Program
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan
rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang
selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil
keputusan.
Evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan
informasi tentang realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang
berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang guna
pengambilan keputusan.
B. Kaitan antara Penelitian dengan Evaluasi program
Dalam kegiatan penelitian peneliti ingin mengetahui gambaran tentang sesuatu kemudian
dideskripsikan, sedangkan dalam evaluasi program, pelaksana (evaluator) ingin mengetahui seberapa
tinggi mutu atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data terkumpul
dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu.
Dalam kegiatan penelitian, peneliti dituntun oleh rumusan masalah, sedangkan dalam evaluasi
program, pelaksana (evaluator) ingin mengatahui tingkat ketercapaian program, dan apabila tujuan
belum tercapai pelaksana (evaluator) ingin mengetahui letak kekurangan dan sebabnya. Hasilnya
digunakan untuk menentukan tindak lanjut atau keputusan yang akan diambil.

C. Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program
Ciri dan persyaratan evaluasi program mengacu pada kaidah yang berlaku, dilakukan secara
sistematis, teridentrifikasi penentu keberhasilan dan kebelumberhasilan program, menggunakan tolok
ukur baku, dan hasil evaluasi dapat digunkan sebagai tindak lanjut atau pengambilan keputusan.
D. Komponen, Subkomponen, dan Indikator Program
Program merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian atau komponen yang saling berkait
untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh sistem tersebut. Komponen tersebut merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing komponen terdiri atas beberapa subkomponen dan
masing-masng subkomponen terdapat beberapa indikator.
Dalam kegiatan evaluasi program, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui
keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu kegiatan. Perlu diketahui bahwa ketidakberhasilan suatu
kegiatan dapat juga dipengaruhi oleh komponen atau subkomponen yang lain.
E. Tujuan Evaluasi Program
Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah
dilaksanakan. Selanjutnya, hasil evaluasi program digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan
kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.
F. Manfaat Evaluasi Program
Evaluasi sama artinya dengan kegiatan supervisi. Kegiatan evaluasi/supervisi dimaksudkan
untuk mengambil keputusan atau melakukan tindak lanjut dari program yang telah dilaksanakan.
Manfaat dari evaluasi program dapat berupa penghentian program, merevisi program, melanjutkan
program, dan menyebarluaskan program.
G. Evaluator Program
Evaluator program harus orang-orang yang memiliki kompetensi yang mumpuni, di antaranya
mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan tekun, serta hati-hati dan bertanggung jawab.
Evaluator dapat berasal dari kalangan internal (evaluator dan pelaksana program) dan kalangana
eksternal (orang di luar pelaksana program tetapi orang yang terkait dengan kebijakan dan
implementasi program).
H. Hakikat antara Tujuan Program dengan Tujuan Evaluasi Program
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan
rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk diimplementasikan di
lapangan. Sedangkan evaluasi program bertujuan untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan
implementasi program yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan tindak lanjut atau pengambilan
keputusan.


BAB II
PENGEMBANGAN KRITERIA DALAM EVALUASI PROGRAM
A. Pengertian Kriteria
Kriteria diartikan sebagai patokan yang digunakan sebagai ukuran atau tolok ukur. Dalam
evaluasi program, kriteria digunakan untuk mengukur ketercapaian suatu program berdasarkan
indikator-indikator yang telah ditentukan.
B. Perlunya Disusun Kriteria
Kriteria disusun sebagai pedoman evaluator dalam melaksakan evaluasi program. Disusunnya
kriteria, evaluator menjadi lebih mantap karena ada patokan, dapat digunakan sebagai bukti
pertanggungjawaban dari hasil evaluasi, untuk menghindari subjektivitas evaluator, dan hasil evaluasi
sama walaupun evaluator berbeda.
C. Dasar Penyusunan Kriteria
Penyusun kriteria adalah calon-calon evaluator. Hal ini mengingat merekalah orang-orang yang
memahami tentang program yang akan dievaluasi. Dasar penyusunan kriteria adalah, peraturan atau
ketetentuan yang melatarbelakangi dikeluarkannya program, pedoman pelaksanaan program, dokumen
dan sumber-sumber ilmiah yang umum digunakan, hasil penelitian yang relevan, petunjuk atau
pertimbangan ahli evaluasi, tim evaluator, evaluator sendiri dengan menggunakan daya nalar dan
kemampuan yang dimilikinya.
D. Cara Menyusun Kriteria
Wujud kriteria berupa tingkatan atau gradasi kondisi sesuatu yang dapat ditransfer menjadi
nilai.
Wujud kriteria berupa kriteria kuantitatif (angka-angka) dan kriteria kualitatif (menghitung
jumlah indikator yang telah tercapai).
Kriteria kuantitatif dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tanpa pertimbangan, yaitu membagi
rentangan (mis. 10-100) dalam kategaori secara sama, dan (2) banyaknya rentangan dalam tiap
kategori tidak sama karena petimbangan tertentu.
Kriteria kualitatif dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kriteria kualitatif tanpa pertimbangan,
yaitu menghitung jumlah indikator yang telah memenuhi persyaratan, dan (2) kriteria kualitatif
dengan pertimbangan, yaitu dengan cara menghitung indikator yang telah memenuhi persyaratan
dengan mempertimbangkan skala prioritas atau pembobotan.
BAB III
MODEL DAN RANCANGAN EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN
A. Berbagai Model Evaluasi Program
Pada buku inidisajikan model evaluasi menurut Kaufan dan Thomas yang membedakan model
evluasi program menjadi delapan, yaitu:
1. Goal Oriented Eavaluation Model
Objek pengamatan model ini adalah tujuan dari program. Evaluasi dilaksanakan berkesinambungan,
terus-menerus untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan program.
2. Goal Free Eavaluation Model
Dalam melaksanakan evaluasi tidak memperhatikan tujuan khusus program, melainkan bagaimana
terlaksananya program dan mencatat hal-hal yang positif maupun negatif.
3. Formatif Summatif Evaluation Model
Model evaluasi ini dilaksanakan ketika program masih berjalan (evaluasi formatif) dan ketika program
sudah selesai (evaluasi sumatif).
4. Countenance Evaluation Model
Model ini juga disebut model evaluasi pertimbangan. Maksudnya evaluator mempertimbangkan program
dengan memperbandingkan kondisi hasil evaluasi program dengan yang terjadi di program lain, dengan
objek ssaran yang sama dan membandingkan kondisi hasil pelaksanaan program dengan standar yang
ditentukan oleh program tersebut.
5. Responsif Evaluation Model
Model ini tidak dijelaskan dalam buku ini karena model ini kurang populer.
6. SSE-UCLA Evaluation Model
Model ini meliputi empat tahap, yaitu
a. Needs assessment, memusatkan pada penentuan masalah hal-hal yang perlu dipetimbangkan dalam
program, kebutuhan uang dibutuhkan oleh program, dan tujuan yang dapat dicapai.
b. Program planning, perencanaan program dievaluasi untuk mengetahui program disusun sesuai analisis
kebutuhan atau tidak.
c. Formative evaluation, evaluasi dilakukan pada saat program berjalan.
d. Summative program, evaluasi untuk mengetahui hasil dan dampak dari program serta untuk
mengetahui ketercapaian program.
7. CIPP Evaluation Model (Context Input Process Product)
a. Evaluasi Konteks
Evaluasi konteks adalah evaluasi terhadap kebutuhan, tujuan pernenuhan dan karakteristik individu
yang menangani. Seorang evaluator harus sanggup menentukan prioritas kebutuhan dan memilih tujuan
yang paling menunjang kesuksesan program.
b. Evaluasi Masukan
Evaluasi masukan mempertimbangkan kemampuan awal atau kondisi awal yang dimiliki oleh institusi
untuk melaksanakan sebuah program.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi proses diarahkan pada sejauh mana program dilakukan dan sudah terlaksana sesuai dengan
rencana.
d. Evaluasi Hasil
Ini merupakan tahap akhir evaluasi dan akan diketahui ketercapaian tujuan, kesesuaian proses dengan
pencapaian tujuan, dan ketepatan tindakan yang diberikan, dan dampak dari program.
8. Discrepancy Model
Model ini ditekankan untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi pada setiap komponen
program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang
sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program tersebut.
B. Ketepatan Penentuan Model Evaluasi Program
Program dibedakan dibedakan menjadi berdasarkan jenis kegiatannya, yaitu program
pemrosesan (mengubah sesuatu yang dianggap bahan mentah menjadi sesuatu yang dianggap barang
jadi), program layanan (program yang bertujuan memberikan kepuasan pada pihak lain), dan program
umum (program yang yang bersifat umum, tidak memiliki spesifikasi sebagaimana program
pemprosesan dan program layanan).
Ketepatan penentuan model evaluasi program bergantung pada jenis kegiatannya. Oleh karena
itu tidak semua model evaluasi program dapat diterapkan.
C. Rancangan Evaluasi Program
Hal-hal yang dicantumkan dalam rancangan program adalah (1) judul kegiatan, (2) alas an
dilaksanakannya evaluasi, (3) tujuan evaluasi, (4) pertanyaan evaluasi, (5) metodologi yang digunakan,
dan (6) prosedur kerja dan langkah-langkah kegiatan.

BAB IV
PERENCANAAN EVALUSI PROGRAM
Membicarakan tentang analisis kebutuhan adalah merupakan sarana atau alat yang konstruktif
dan positif untuk melakukan sebuah perubahan, yakni perubahan yang didasarkan atas logika yang
bersifat rasional sehingga kemudian perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis
menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara seperti apa yang ada dengan bagaimana
seharusnya dengan sasarannya adalah siswa, kelas dan sekolah.
Dalam sistem pendidikan, karena pendidikan itu sendiri hanya merupakan alat belaka,
sedangkan prestasi belajar siswa adalah hal yang menjadi tujuan, maka membuat rencana
mengajar merupakan proses penting untuk menentukan alat yang tepat dalam mencapai tujuan akhir.
Setelah guru berhasil menentukan materi yang akan diajarkan, perlu secara hati-hati meninjau kembali
apakah dalam pemilihan materinya sudah tepat, dalam arti sudah sesuai benar dengan kebuituhan
siswa.
Ada dua cara yang lazim dilakukan dalam melakukan analisis kebutuhan, yaitu secara obyektif
dan subyektif. Kedua cara tersebut dimulai dari identifikasi lingkup tujuan penting dalam program,
menentukan indikator dan cara pengukuran tujuan-tujuan, menyusun kriteria (standar) untuk tiap-tiap
indikator dan membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria. Ciri khas dalam cara melakukan
analisis kebutuhan secara subjektif adalah mengumpulkan semua evaluator untuk bersama-sama
menentukan skala prioritas kebutuhan.
Selain dua cara tersebut evaluator dapat juga menggunakan gabungan dari keduanya, yaitu
sebagian menggunakan cara obyektif, sebagian yang lain mernggunakan cara subyektif. Di samping itu,
seorang evaluator dapat juga menambahkan bahan lain yang diambil dari pihak laur dirinya. Yang
dimaksud dengan pihak luar diantaranya adalah kawan-kawan dekat atau anggota keluarga lain dari
responden yang diperkirakan pihak tersebut memang diperlukan dan data yang diberikan dapat
dipercaya.
Evaluasi program tidak lain adalah penelitian, dengan cirri-ciri khusus. Oleh karena evaluasi
program sama dengan penelitian maka sebelum memulai kegiatan,seperti juga penelitian, harus
membuat proposal. Isi dan langkah-langkah dalam penyusunan proposal sama dengan proposal dalam
penelitian.
Dalam pembahasan kali ini hanya tiga hal yang akan dijelaskan secara khusus. Ketiga hal
dimaksud, sekaligus butir yang rawan adalah sebagai berikut :
1. Bagian pendahuluan, menentukan garis besar isi bagian ini.
2. Bagian metodologi berisi tiga hal pokok, yaitu penentuan sumber data, metode pengumpulan data, dan
penentuan instrumen pengumpulan data. Ada tiga sumber data yang didahului dengan huruf P (kata
bahasa Inggris), yaitu :Person ( manusia), Place (tempat) dan paper (kertas dan lain-lain). Penentuan
metode pengumpulan data harus disesuaikan dengan sumber data.
3. Bagian cara menentukan evaluasi. Instrumen pengumpul data evaluasi adalah alat yang diperlukan
untuk mempermudah pengumpulan data.
Jenis instrument sebanyak jenis metode yang digunakan dan selanjutnya pemilihan jenis instrument
pengumpulan data harus disesuaikan dengan metode yang sudah ditentukan oleh evaluator. Instrumen
merupakan alat untuk mempermudah penggunaan metode dalam pengumpulan data.
Ada lima langkah yang harus dilalui dalam menyusun instumen yaitu :
(a) Identifikasi indikator sebagai obyek sasaran evaluasi.
(b) Membuat tabel hubungan antara komponen-indikator-sumber data-metode-instrumen,
(c) Menyusun butir-butir instrumen
(d) Menyusun kriteria-kriteria penilaian,dan
(e) Menyusun pedoman pegerjaan
Di dalam kisi-kisi yang merupakan alat bantu penyusunan instrumen tertentu secara khusus
tidak lagi mencantumkan sumber data dan metode, tetapi langsung hubungan antara indikator dengan
nomor-nomor instrumen. Di antara langkah-langkah penyusunan instrumen, yang merupakan alat bantu
yang paling bermanfaat bagi penyusunan instrumen adalah kisi-kisi. Itulah sebabnya, kisi-kisi harus
disusun secara cermat dan hati-hati. Petunjuk pengerjaan jangan terlupakan, agar responden tidak
salah dalam membantu mengisi instrumen bagi evaluator.

BAB V
LANGKAH-LANGKAH EVALUASI PROGRAM
Dalam bab ini dibicarakan mengenai beberapa langkah atau tahapan dalam melaksanakan
evaluasi program. Secara garis besar tahapan tersebut meliputi : tahapan persiapan evaluasi program,
tahap pelaksanaan, dan tahap monitoring. Penjelasan tentang langkah-langkah tersebut dapat dilihat
dalam bagan dibawah ini :
A. Persiapan Evaluasi Program
- Penyusunan evaluasi
- Penyusunan instrumen evaluasi
- Validasi instrumen evaluasi
- Menentukan jumlah sampel yang diperlukan
- Penyamaan persepsi antar evaluator sebelum data di ambil
Penyusunan terkait dengan model diantaranya; model CIFF, model Metfessel and Michael,
model Stake, model Kesenjangan, model Glaser, model Michael Scriven, model Evaluasi Kelawanan,
dan model Need Assessment.
Langkah langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrument evaluasi :
- Merumuskan tujuan yang akan dicapai
- Membuat kisi-kisi
- Membuat butir-butir instrument
- Menyunting instrument
- Instrumen yang telah tersusun perlu di validasi
- Dapat dilakukan dengan metode Sampling
- Beberapa hal yang perlu disamakan : tujuan program, tujuan evaluasi, kriteria keberhasilan program,
wilayah generalisasi, teknik sampling, jadwal kegiatan
B. Pelaksanaan Evaluasi Program
Evaluasi program dapat dikategorikan evaluasi reflektif, evaluasi rencana, evaluasi proses dan
evaluasi hasil. Keempat jenis evaluasi tersebut mempengaruhi evaluator dalam mentukan metode dan
alat pengumpul data yang digunakan.
Dalam pengumpulan data dapat menggunakan berbagai alat pengumpul data antara lain :
pengambilan data dengan tes, pengambilan data dengan observasi ( bias berupa check list, alat
perekam suara atau gambar ), pengambilan data dengan angket, pengambilan data dengan wawancara,
pengambilan data dengan metode analisis dokumen dan artifak atau dengan teknik lainya.
C. Tahap Monitoring (Pelaksanaan)
Monitoring pelaksanaan evaluasi berfungsi untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan dengan
rencana program. Sasaran monitoring adalah seberapa pelaksaan program dapat diharapkan/ telah
sesuai dengan rencana program, apakah berdampak positif atau negatif.
Teknik dan alat monitoring dapat berupa :
- Teknik pengamatan partisipatif
- Teknik wawancara
- Teknik pemanfaatan dan analisis data dokumentasi
- Evaluator atau praktisi atau pelaksana program
- Perumusan tujuan pemantauan
- Penetapan sasaran pemantauan
- Penjabaran data yang dibutuhkan
- Penyiapan metode/alat pemantauan sesuai dengan sifat dan sumber/jenis data
- Perencanaan analisis data pemantauan dan pemaknaannya dengan berorientasi pada tujuan monitoring
Melanjutkan mengenai sampel ada 7 jenis sampel yang dapat dijadikan sebagai metode dalam
evaluasi program diantaranya adalah : (1). Proportional sampel, (2). Startified sampel, (3). Purposive
sampel, (4). Quota sampel, (5). Double sampel, (6). Area probability sampel, (7). Cluster sampel.

BAB VI
ANALISIS DATA DALAM EVALUASI PROGRAM
Dalam penelitian data di bagi dua yaitu data kuantitatif dan kualitatif, dengan kedua jenis ini
kemudian data diolah. Jenis pertama terkait dengan statistika sedangkan yang kedua sebaliknya atau
nonstatistika. Dalam menganalisis dan mengolah data kuantitatif hendaknya dilakukan dengan tabulasi
data. Tabulasi merupakan coding sheet untuk memudahkan peneliti dalam mengolah dan menganalisis
data. Karena memahami secara tabulasi lebih mudah dibandingkan dengan bentuk uraian narasi yang
panjang. Analisis data kuantitatif dapat dilakukan dengan dua cara, Pertama. Statistik Deskriptif
adalah suatu teknik pengolahan data yang tujuannya melukiskan dan menganalisis kelompok data tanpa
membuat atau menarik kesimpulan atas populasi yang diamati. Kedua, Statistik Inferensial yaitu
mencakup metode-metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data yang dilakukan untuk
meramalkan dan menarik kesimpulan atas data dan akan berlaku bagi keseluruhan gugus atau induk
dari data tersebut. Statistik ini juga disebut dengan statistik parametrik berlaku untuk data interval
atau rasional jika datanya normal. Dan apabila datanya tidak normal serta berbentuk ordinal atau
nominal, maka jenis statistik yang digunakan adalah statistik nonparametrik.
Tidak semua data dilapangan berbentuk simbol-simbol yang bisa dikuantifikasi dan dihitung
secara matematis. Ada kalanya datanya abstrak yang tidak dapat dimanipulasi menjadi numerik
sehingga data jenis ini hanya dapat dilakukan dengan analisis kualitatif.
Kegiatan dalam menganalisis data kualitaitif dapat melalui tahapan-tahapan berikut :
1. Dengan mereduksi/menyiangi data
2. Display data
3. Menafsirkan data
4. Menyimpulkan dan verifikasi
5. Meningkatkan keabsahan hasil
6. Narasi hasil analisis.
Pengolahan data kan lebih mudah dengan menggunakan bantuan computer sehingga hasilnya
akan dapat. diperoleh lebih cepat

BAB VII
MENYUSUN KESIMPULAN DAN RUMUSAN REKOMENDASI
Kesimpulan adalah sesuatu yang merupakan inti dari sederetan informasi atau sajian yang
menyatakan tentang status program yang sedang dievaluasi.
Kesimpulan berbentuk kalimat pernyataan kualitatif yang menunjukkan keadaan atau sifat
sesuatu sehingga di dalam gerak kegiatan programdengan cepat dapat diketahui dimana
posisinya.Kesimpulan sangat penting kedudukan dan isi rumusannya untuk dilanjutkan menjadi
rekomendasi.
Rekomendasi disusun setelah kesimpulan dibuat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menyusun rekomendasi, yaitu mengenai perlunya melihat dengan cermat alas an yang diusulkan
responden tentang upaya peningkatan kualitas program yang dievaluasi dimasa yang akan datang

BAB VIII
MENYUSUN LAPORAN EVALUASI
Menyusun laporan evaluasi adalah kegiatan akhir dari evaluasi program. Laporan hasil evaluasi
disusun dalam bentuk tulisan dan dapat dipublikasikan.
Secara garis besar laporan evaluasi program terdiri dari empat pokok hal yaitu : permasalahan,
metodologi evaluasi, hasil evaluasi dan kesimpulan hasil evaluasi.
Laporan evaluasi tidak ubahnya seperti laporan penelitian, ada yang menggunakan pendekatan
kuantitatif, dan ada yang menggunakan pendekatan kualitatif.
Laporan evaluasi menggunakan pendekatan kuantitatif umumnya tersusun dari lima atau enam
bab, yaitu : pendahuluan, pembahasan kepustakaan, metodologi evaluasi, hasil evaluasi dan
pembahasan (hasil evaluasi, pembahasan ), serta kesimpulan dan rekomendasi.
Laporan evaluasi menggunakan pendekatan kualitatif umumnya tersusun dari beberapa bab dan
sub bab yang dapat diidentifikasi menjadi tiga bagian pokok, yaitu : pendahuluan, inti pembahasan dan
kesimpulan.
Secara garis besar laporan hasil evaluasi diharapkan diususun secara ringkas, padat, jelas dan
paling tidak memuat hal-hal berikut : ringkasan eksekutif, pendahuluan, kajian pustaka, komponen
dalam metodologi evaluasi, hasil evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi yang terakhir adalah daftar
pustaka.

BAB IX
TATA TULIS LAPORAN EVALUASI
Tata tulis laporan mencakup ketentuan tentang kertas, naskah, sampul, pengetikan, penomoran,
ilustrasi, pengutipan, penulisan lampiran, penulisan daftar pustaka dan bahasa.
1. Kertas naskah dan sampul
Naskah laporan sebaiknya menggunakan jertas kwarto (21x28,5 cm) HVS 80 gram, sampul laporan
sebaiknya dibuat dari kertas buffalo dengan warna disesuaiakan.
2. Pengetikan
Pengetikan mencakup penggunaan huruf, penulisan bilangan, spasi, batas tepi naskah, pengetikan
alenia baru, pengisian halaman naskah, pengetikan bab sub bab.
3. Penomoran
Penomoran halaman diletakkan di sebelah kanan atas dua spasi di atas baris pertama teks. Nomor
halaman menggunakan angka arab.
4. Ilustrasi
Ilustrasi dapat terdiri dari foto, grafik, diagram, bagan, peta dan denah serta tabel.
5. Pengutipan
Kutipan harus sama dengan sumber aslinya, baik bahasa maupuin ejaannya. Penulisan kutipan diawali
dan diakhiri dengan tanda kutip ( )
6. Penulisan lampiran
Lampiran seperti tabel, carta, dokumen, transkip wawancara dan sejenisnya ditempatkan setelah
daftar pustaka
7. Penulisan daftar pustaka
Penulisan daftar pustaka meliputi buku, artikel, laporan atau karangan dalam jurnal atau majalah
ilmiah dan penerbitan lain.
8. Bahasa
Bahasa yang digunakan untuk penulisan laporan evaluasi adalah bahasa Indonesia ragam ilmiah.



------>>> Gambaran umum kandungan buku Evaluasi Program Pendidikan Pengarang Prof.Dr.
Suharsimi Arikunto dan cepi Safruddin Abdul Jabar, M.Pd, edisi kedua, penerbit Bumi Aksara, jakarata,
bahwa Dalam setiap kegiatan manajemen akan dikatakan sempurna jika dalam prosesnya dilaksanakan
suatu evaluasi, tidak terkecuali dalam manajemen pendidikan. Program pendidikan sebagai penjabaran
dari perencanan pendidikan harus dievaluasi dengan saksama, menggunakan strategi yang tepat
sehingga hasilnya dapat di pertanggungjawabkan.
Evaluasi terhadap program pendidikan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
atau kegagalan suatu program pendidikan dan hasil evaluasi dapat dijadikan informasi sebagai masukan
untuk menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
Dalam buku ini disusun untuk membantu siapa saja yang sedang belajar mengevaluasi program
atau yang saat ini sedang menyiapkan langkah melakukan program evaluasi.
Pada bab I diuraikan tentang konsep dasar evaluasi program, ciri-ciri evaluasi program,
komponen evaluasi program, tujuan evaluasi program, syarat evaluator, dan keterkaitan antara tujuan
program dan tujuan evaluasi program. Bagian ini memberikan gambaran umum secara teoretis tentang
evaluasi program. Uraian ini mampu memberikan penjelasan dan konsep dasar yang harus dipahami
oleh penyusun program dan calon evaluator; khususnya bagi praktisi pendidikan. Namun, yang tampak
ditonjolkan dalam uraian ini adalah program dan evaluasi program yang berkenaan dengan program
pembelajaran. Padahal buku ini berjudul Evaluasi Program Pendidikan. Memang, implementasi dari
program pendidikan akan sangat tampak pada pelaksanaan pembelajaran.
Yang perlu ditambahkan dalam bab ini, menurut saya, perlu diuraikan tentang ruang lingkup
program-program pendidikan. Hal ini mengingat program pendidikan bukan hanya tentang pelaksanaan
pembelajaran saja. Konsep program manajemen pengelolaan pendidikan (misalnya di tingkat satuan
pendidikan) belum tampak pada bab ini. Konsep manajemen program pendidikan perlu disajikan agar
pembaca mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang program-program pendidikan. Jika
pembaca telah memiliki pemahaman yang relatif lengkap tentang program manajeman pendidikan
barulah disajikan uraian tentang evaluasi program pendidikan.
Bab II menguraiakan tentang pengembangan kriteria dalam evaluasi program. Sebagaimana
lingkup pembahasan pada bab I, pada bab ini juga belum tampak implementasi teknik penyusunan
kriteria pada program pendidikan.
Bab III menguraikan tentang berbagai model evaluasi program dan cara menentukan model
evaluasi yang tepat, dan cara menyusun rancangan evaluasi program. Pada bab ini masih berupa
gambaran umum tentang model dan rancangan evalusi program. Uraian secara detail tentang model
dan implementasi dalam evaluasi program pendidikan masih belum tampak. Bagi pembaca yang belum
memiliki bekal pengetahuan yang cukup tentu masih membutuhkan penjelasan yang lebih rinci.
Demikian juga pada cara penyusunan rancangan evaluasi program.
Bab IV menguraikan tentang perencanaan evaluasi program. Sebagaimana uraian pada bab-bab
sebelumnya, bab ini juga belum memberikan gambaran secara lebih lengkap tentang perencanaan
evaluasi program pendidikan sebagaimana judul buku ini. Yang tampak masih terbatas pada
perencanaan evaluasi program secara umum saja.
Bab V membahas tentang Langkah langkah Evaluasi Program, yang terdiri dari tiga tahapan
yaitu : Persiapan Evaluasi Program, yang harus dilakukan dengan cermat oleh Evaluator. Pelaksanaan
Evaluasi Program dan Monitoring (pemantauan) pelaksanaan Evaluasi.
Bab VI Membahas tentang Analisis data dalam evaluasi program, membahas tentang analisis
data yang diperoleh dari lapangan bisa berbentuk kualitatif dan kuantitatif. Untuk data kuantitatif
biasanya menggunakan teknik statistic sedangkan untuk data kualitatif menggunakan teknik
nonstatistik. Dalam pengolaan data kuantitatif langkah pertamanya adalah melakukan tabulasi data,
setelah itu barulah pengolahan data.teknik pengolahan dengan statistic terbagi dua jenis yaitu
deskriptif dan inferensial.
Bab VII membahas tentang menyusun kesimpulan dan rumusan rekomendasi, dan pada bab VIII
membahas tentang Susunan loporan evaluasi biasanya memuat empat hal pokok, yaitu: (1)
permasalahan, (2) metodologi evaluasi, (3) hasil evaluasi, (4) kesimpulan atas hasil evaluasinya.
Bab IX membahas tentang tata tulis laporan evaluasi. Penulisan laporan evaluasi memiliki
beberapa tujuan yaitu untuk memberikan keterangan, memulai suati tindakan, mengoordinasi proyek,
menyarankan suatu langkah atau tindakan, dan merekam kegiatan. Perlu kita ketahui tata tulis laporan
mencakup ketentuan tentang kertas, naskah, sampul, pengetikan, penomoran, ilustrasi, pengutipan,
penulisan lampiran, penulisan daftar pustaka, dan bahasa.