Anda di halaman 1dari 33

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG

NOMOR : 8 TAHUN 1999


T E N T A N G
RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA (RDTRK)
KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG
BAGIAN WILAYAH KOTA VII
( KECAMATAN BANYUMANIK )
TAHUN 1995 - 2005
Menimbang

: a. bahwa dalam rangka menunjang pelaksanaan pembangunan


di segala bidang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II
Semarang, perlu disususn perencanaan yang lebih terinci,
terarah, terkendali dan berkesinabungan guna menciptakan
kepastian hukum dalam pelaksanaan pembangunan dan
peningkatan kesejahteraan rakyat ;
b. bahwa sebagai pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya
Daerah Tingkat II Semarang No. 1 Tahun 1999 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat
II Semarang, Tahun 1995 - 2005,maka perlu dituangkan
didalam rencana kota yang lebih operasional ;
c. bahwa untuk melaksanakan maksud tersebut huruf a dan b,
maka perlu diterbitkan Peraturan Daerah Kotamadya
Daerah Tingkat II Semarang tentang Rencana Detail Tata
Ruang Kota (RDTRK) Kotamadya Daerah Tingkat II
Semarang, bagian Wilayah VII ( Kecamatan Banyumanik)
Tahun 1995- 2005.

Mengingat

: 1. Undang undang
Nomor 16 Tahun 1950 Tentang
Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar dalam Lingkungan
Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah
Istimewa Yogyakarta ( Himpunan Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1950 ) ;
2. Undang undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2043 ) ;
3. Undang undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Pemerintah di Daerah ( Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3073 ) ;
4. Undang undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan
( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980

Nomor 83, Tambahan


Indonesia Nomor 3186 ) ;

Lembaran

Negara

Republik

5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumber Daya Alam Hayati dan Ekositemnya ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1990
Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3419 ) ;
6. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan
dan Permukiman ( Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3469 ) ;
7. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3501 ) ;
8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor
100, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3495 ) ;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang
Perluasan Kotamadya Daerah Tingkat II Kotamadya
Semarang ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1976 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3097 ) ;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan
( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985
Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3097 ) ;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang
Penyerahan sebagian Urusan Pemerintah di bidang
Pekerjaan Umum Kepada Daerah
( Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1987 Nomor 25, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3353 ) ;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 tentang
Pembentukan Kecamatan di wilayah Kabupaten-kabupaten
Daerah Tingkat II Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara
dan Kendal serta Penataan Kecamatan di Wilayah
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam wilayah
propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah ( Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 89 ) ;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993, tentang


Analisa Mengenai Dampak Lingkungan ( Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 84 ) ;
14. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung ;
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 1987
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota ;
16. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
01.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas Saluran Udara
Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan
Ekstra Tinggi (SUTET) untuk penyakuran Tenaga Listrik ;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 tahun 1996
tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan;
18. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 650 - 658
Tahun 1985 Tentang Keterbukaan Rencana Kota Untuk
Umum ;
19. Keputusan
Menteri
Pekerjaan Umum Nomor
20/KPTS/1986 Tentang Pedoman Teknik Pembangunan
Perumahan Tidak Bersusun ;
20. Keputusan
Menteri
Pekerjaan Umum Nomor
640/KPTS/1986 Tentang Perencanaan Tata Ruang Kota ;
21. Keputusan
Menteri
Pekerjaan Umum Nomor
378/KPTS/1987 Tentang Pengesahan 33 standar Konstruksi
Bangunan Indonesia ;
22. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun
1988 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 tantang Pedoman
Penyusunan Rencana Kota ;
23. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun
1992 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Peraturan
Daerah tentang Rencana Kota ;
24. Keputusan
Menteri
Pekerjaan Umum Nomor
63/PRT/1993 Tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah
Manfaat Sungai daerah Penguasaan Sungai dan Bekas
Sungai ;

25. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988


tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah
Perkotaan ;
26. Peraturan Daerah propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah
Nomor 8 Tahun 1992 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Daerah Tingkat I Jawa Tengah ;
27. Peraturan Daerah Kotamadya Tingkat II Semarang Nomor
3 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di
Lingkungan Daerah Tingkat II Semarang ;
28. Peraturan Daerah Kotamadya Tingkat II Semarang Nomor
4 Tahun 1994 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang ;
29. Peraturan Daerah Kotamadya Tingkat II Semarang Nomor
1 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Tahun 1995
2005.
Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II
Semarang.
MEMUTUSKAN
Menetapkan

: PERATURAN
DAERAH
KOTAMADYA
DAERAH
TINGKAT II SEMARANG TENTANG RENCANA DETAIL
TATA RUANG KOTA (RDTRK) BAGIAN WILAYAH
KOTA VII ( KECAMATAN BANYUMANIK ) TAHUN 1995
- 2005

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :


a. Daerah, adalah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang. ;
b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang ;
c. Walikotamadya Kepala Daerah adalah Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II
Semarang ;

d. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang dataran dan ruang udara sebagai salah
satu kesatuaan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya melakukan kegiatan
serta memelihara kelangsungan hidupnya ;
e. Tata Ruang adalah wujud struktual dan pola pemenfaatan ruang baik direncanakan
atau tidak ;
f. Rencana tata ruang adalah hasil perencanan tata ruang ;
g. Wilayah perencanaan adalah wilayah yang diarahkan pemanfaatan ruangnya sesuai
denagn masing-masing jenis rencana kota ;
h. Rencana Detail Tata Ruang Kota Kotamadya Daerah Tingkat II semarang yang
selanjutnya sisebut RDTRK adalah rencana pemanfaatan ruang kota secara terinci,
yang disusun untuk menyiapkan perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan
program-program pembangunan kota ;
i. Bagian Wilayah Kota selanjutnya disebut BWK adalah satu kesatuan wilayah dari
kota yang bersangkutan , terbentuk secara fungsional dan atau administrasi dalam
rangka pencapaian daya guna pelayanan fasilitas umum kota ;
j. Blok Perencanaan yang selanjutnya disebut Blok adalah penjabaran wilayah
perencanaan yang lebih kecil dari BWK dan terbentuk secara fungsional dengan
tujuan optimalisasi pemanfaatan ruang ;
k. Koefisien Dasar bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka yang
menunjukkan perbandingan antara luas dasar bangunan terhadap luas persil ;
l. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah angka yang
menunjukkan perbandingan antara luas total lantai bangunan terhadap luas persil ;
m. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah batas persil yang
tidak boleh didirikan bangunan, dan diukur dari dinding terluar bangunan terhadap
as jalan.
B A B II
AZAS, MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal

Peraturan Daerah ini didasarkan atas 2 (dua) azas yaitu :


a.

Pemanfatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna, serasi,
selaras, seimbang, dan berkelanjutan ;
b.
Keterbukan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum.
Pasal

Maksud Peraturan Daerah adalah ;


a.

Sebagai penjabaran kebijaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah yang lebih


rinci dalam pemanfaatan ruang kota yang lebih terarah ;
b.
Untuk mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan kehidupan dan
penghidupan masyarakat di wilayah perencanaan.
Pasal

Peraturan Daerah bertujuan untuk :


a. Meningkatkan peranan kota dalam pelayanan yang lebih luas agar mampu berfungsi
sebagai Pusat Pembangunan dalam suatu system pengembangan wilayah;
b. Memberikan kejelasan pemanfaatan ruang yang lebih akurat dan berkualitas ;
c. Mempercepat pembangunan secara lebih tertib dan terkendali ;
d. Terselenggaranya pengaturan pemenfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan
budidaya ;
e. Tercapainya pemanfaatan ruang yang akurat dan berkualitas untuk :
1.
2.
3.
4.
5.

Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber


daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia ;
Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan
secara berdaya guan dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia;
Mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur dan sejahtera ;
Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi
dampak negative terhadap lingkungan ;
Mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan.
BAB III
WILAYAH PERENCANAAN
Pasal

(1) Wilayah Perencanaan BWK VII meliputi :


a.

Kecamatan Banyumanik seluas 2.509,068 ha.

(2) Batas-batas wilayah perencanaan yang sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini
adalah :

Sebelah Utara
Sebelah Selatan

Sebelah Timur
Sebelah Barat

: Kecamatan Gajahmungkur;
: Kecamatan Unggaran Kabupaten Daerah
Tingkat II Semarang ;
: Kecamatan Tembalang;
: Kecamatan Gunungpati;

Pasal

Peta wilayah perencanaan sebagaimana dimaksud Pasal 5 Peraturan Daerah ini,


tercantum dalam Lampiran I dan merupakan bagian yang tifak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
BAB IV
RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA
RDTRK BWK VII
( KECAMATAN BANYUMANIK )
Bagian Pertama
Fungsi dan Perwilayahan BWK VII
Pasal

(1) Wilayah Perencanaan BWK VII adalah Kecamatan Mijen mencakup 11 (sebelas)
kelurahan dengan luas wilayah keseluruhan 2.509,068 ha, yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Kelurahan Tinjomoyo dengan luas 202,479 ha ;


Kelurahan Ngresep dengan luas 235,877 ha ;
Kelurahan Srondol Kulon dengan luas 232,746 ha ;
Kelurahan Sumurboto dengan luas 84,540 ha ;
Kelurahan Srondol Wetan dengan luas 226,484 ha ;
Kelurahan Pedalangan dengan luas 235,877 ha ;
Kelurahan Padangsari dengan luas 78,278 ha ;
Kelurahan Banyumanik dengan luas 364,253 ha ;
Kelurahan Pudak Payung dengan luas 389,302 ha ;
Kelurahan Gedawang dengan luas 232,764 ha ;
Kelurahan Jatisari dengan luas 226,484 ha ;

(2) Fungsi BWK VII adalah :


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Permukiman ;
Pertanian dan Konservasi
Perdagangan dan Jasa ;
Kawasan Khusus (Militer);
Campuran Perdagangan dan jasa dan permukiman ;
Jaringan Jalan dan Utilitas.
Pasal

Wilayah perencanaan BWK VII sebagaimana dimaksud Pasal 5 Peraturan Daerah ini
dibagi dalam blok-blok sebagai berikut :
a. Blok 1.1 :
Kelurahan Tinjomulyo dengan luas 202,479 ha.

b. Blok 1.2 :
Kelurahan Ngresep dengan luas 235,877 ha ;
c. Blok 1.3 :
1. Kelurahan Srondol Kulon dengan luas 232,746 ha ;
2. Kelurahan Sumurboto dengan luas 84,540 ha.
d. Blok 2.1 :
Kelurahan Pedalangan dengan luas 235,877 ha ;
e. Blok 2.2 :
Kelurahan Srondol Wetan dengan luas 226,484 ha ;
f. Blok 2.3 :
Kelurahan Padangsari dengan Luas 78,278 ha ;
g. Blok 3.1 :
1. Kelurahan Banyumanik dengan luas 364,253 ha ;
2. Kelurahan Pudak Payung dengan luas 389,302 ha ;
h. Blok 3.2 :
1. Kelurahan Gedawang dengan luas 232,764 ha ;
2. Kelurahan Jabungan dengan luas 226,484 ha.
Pasal

Peta pembagian wilayah perencanaan sebagaimana dimaksud pasal 8 Peraturan Daerah


ini, tercantum dalam Lampiran II merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Penentuan Kepadatan Penduduk
Untuk Tiap-tiap Blok
Pasal

10

Jumlah penduduk BWK VII diproyeksikan pada akhir tahun 2005 adalah 99,867 jiwa.
Pasal

11

Jumlah penduduk sebagaimana dimaksud pasal 10 Peraturan Daerah ini, persebarannya


dimasing-masing Blok diproyeksikan sebagai berikut :
a. Blok 1.1 :
Kelurahan Tinjomulyo sebesar 10.325 jiwa dengan kepadatan 51 jiwa/ha.
b. Blok 1.2 :
Kelurahan Ngresep, sebesar 11.786 jiwa dengan kepadatan 50 jiwa/ha.
c. Blok 1.3 :

Kelurahan Srondol Kulon, sebesar 8.506 jiwa dengan kepadatan 37 jiwa/ha.


d. Blok 2.1 :
Kelurahan Pedalangan, sebesar 8.445 jiwa dengan kepadatan 36 jiwa/ha.
e. Blok 2.2 :
Kelurahan Srondol Wetan, sebesar 21.163 jiwa dengan kepadatan 93 jiwa/ha.
f. Blok 2.3 :
Kelurahan Padangsari sebesar 14.149 jiwa dengan kepadatan 181 jiwa/ha.
g. Blok 3.1 :
1. Kelurahan Banyumanik, sebesar 6.870 jiwa dengan kepadatan 19 jiwa/ha.
2. Kelurahan Banyumanik, sebesar 8.094 jiwa dengan kepadatan 21 jiwa/ha.
h. Blok 3.2 :
1. Kelurahan Gedawang, sebesar 2.826 jiwa dengan kepadatan 12 jiwa/ha.
2. Kelurahan Banyumanik, sebesar 2.243 jiwa dengan kepadatan 10 jiwa/ha.
Pasal

12

Peta persebaran penduduk sebagaimana dimaksud pasal 11 Peraturan Daerah ini,


tercantum dalam Lampiran III merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Bagian Ketiga
Penentuan Besaran Luas Ruang BWK VII
Pasal

13

Penentuan ruang wilayah perencanaan BWK VII adalah sebagai berikut :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pemukiman
Pedagangan dan Jasa
Fasilitas Umum
Campuran Perdagangan dan Jasa/ Permukiman
Pertanian, Konservasi dan ruang terbuka hijau
Jaringan Jalan dan Utilitas
Kawasan Khusus
Pasal

:
:
:
:
:
:
:

900,905 ha ;
12,720 ha ;
238,401 ha ;
172,030 ha ;
826,434 ha ;
250,345 ha ;
108,200 ha ;

14

Penentuan ruang sebagaimana dimaksud pasal 13 Peraturan Daerah ini, setiap bloknya
ditetapkan sebagai berikut :
a. Blok 1.1 :
1.
2.
3.
4.

Permukiman .43,469 ha ;
Campuran Perdagangan dan Jasa/Permukiman ........16,080 ha ;
Perdagangan dan Jasa .0,890 ha ;
Fasilitas Umum .25,410 ha ;

b. Blok 1.2 :

1. Permukiman . 79,581 ha ;
2. Fasilitas Umum ... 14,866 ha ;
3. Campuran Perdagangan dan Jasa dan Permukiman .....17,760 ha ;
4. Perdagangan dan Jasa......... 1,070 ha ;
c. Blok 1.3 :
1.
2.
3.
4.

Permukiman ..55,969 ha ;
Fasilitas Umum .....21,133 ha ;
Campuran Perdagangan dan Jasa dan Permukiman .....48,960 ha ;
Perdagangan dan Jasa ..2,510 ha.

d. Blok 2.1 :
1. Permukiman .... 90,245 ha ;
2. Fasilitas Umum .....81,910 ha ;
3.. Perdagangan dan Jasa ..0,700 ha.
e. Blok 2.2 :
1.
2.
3.
4.
5.

Permukiman . . 115,139 ha ;
Fasilitas Umum .....26,320 ha ;
Campuran Perdagangan dan Jasa dan Permukiman .....36,480 ha ;
Perdagangan dan Jasa ..2,352 ha;
Kawasan Khusus Militer . 16,320 ha.

f. Blok 2.3 :
1. Permukiman ..17,228 ha ;
2. Fasilitas Umum .....22,760 ha ;
3. Perdagangan dan Jasa .....1,290 ha .
g. Blok 3.1 :
1.
2.
3.
4.
5.

Permukiman 342,543 ha ;
Kawasan Khusus Militer ...53,760 ha ;
Fasilitas Umum .........33,552 ha ;
Campuran Perdagangan dan Jasa dan Permukiman .....52,800 ha ;
Perdagangan dan Jasa ..2,660 ha.

h. Blok 3.2 :
1. Permukiman ....156,339 ha ;
2. Fasilitas Umum .........11,785 ha ;
3. Perdagangan dan Jasa .0,440 ha ;

Bagian Keempat
Penentuan Lahan Cadangan dan Ruang Terbuka Hijau

Pasal 15
Penentuan lahan selain tersebut pada pasal 14 Peraturan Daerah ini ditetapkan sebagai
lahan cadangan dan ruang terbuka hijau.
Pasal

16

Lahan cadangan dan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud pasal 15 Peraturan
Daerah ini, diperinci untuk setiap Bloknya sebagai berikut :
a. Blok 1.1 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas 14,430 ha ;
2. Pertanian,Konservas.dan Ruang Terbuka Hijau lainnya.102,200 ha..
b. Blok 1.2 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas 24,560 ha ;
2. Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya ...98,040 ha.
c. Blok 1.3 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas 41,775 ha ;
2. Pertanian,Konservasi danRuang terbuka Hijau lainnya ......108,820 ha.
d. Blok 2.1 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas .19,860 ha ;
2. Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya ......42,770 ha.
e. Blok 2.2 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas 18,400 ha ;
2. Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya.................................10,000ha.
f. Blok 2.3 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas 18,500 ha ;
2. Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya ....18,500 ha.
g. Blok 3.1 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas ..55,120 ha ;
2. Pertanian,Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya ...213,120 ha.
h. Blok 3.2 :
1. Jaringan Jalan dan Utilitas ....57,700 ha ;
2. Pertanian,Konservasi dan Ruang terbuka Hijau lainnya .232,984 ha.
Pasal

17

Peta rencana pemanfaatan ruang / lahan sebagaimana dimaksud Pasal 13, 14, 15 dan 16
Peraturan Daerah ini, tercantum dalam Lampiran IV dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kelima
Penentuan Besaran Fungsi Jaringan Pergerakan / Transportasi
Pasal

18

Penentuan besaran Fungsi Jaringan Pergerakan / Transportasi yang berada di BWK VII
terdiri dari :
a. Jalan Arteri Primer (AP) meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Sebagian Jl. Perintis Kemerdekaan (AP1);


Rencana Jalan Lingkar Luar Semarang ( AP2, AP3 dan AP4) ;
Rencana Jl. Tol Semarang -Solo (AP5) ;
Jalan Tol Seksi A Jatingaleh Srondol (AP6, AP7 dan AP8) ;
Jalan Tol Seksi Blok Jatingaleh Krapyak (AP9).

b. Jalan Arteri Sekunder (AS) meliputi :


J1. Perintis Kemerdekaan Jl. Setiabudi (AS1, AS2, AS3, dan AS4 ) ;
c. Jalan Kolektor Primer (KP) meliputi :
1. Jalan Pramuka (KP1);
2. Penggal Jalan KP2.
d. Jalan Kolektor Sekunder (KS) meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jalan di Kelurahan Kramas Jalan di Kelurahan Jabungan (KS1 dan KS2);


Jl. Durian Selatan Pedalangan (KS3 dan KS4);
Jalan di. Kelurahan Tembalang Jalan di Kelurahan Kramas (KS5);
Jl. prof. Sudarto, SH (KS6);
Jl. Gombel Lama - Ngresep Barat V (KS7);
Jl. Tinjomulyo (KS8);
Jalan di Kelurahan Srondol Jalan di Kelurahan Sekaran Gunungpati (KS9);

e. Jalan Lokal Sekunder (LS) meliputi :


1. Jl. di Kelurahan Pudak Payung (LS1);
2. Jl. di Kelurahan Pudak Payung Jalan di Kelurahan Gedawang (LS1 LS2) ;
3. Jalan di Kelurahan Gedawang Jalan di Kelurahan Jabungan (LS4);
4. Jl. Karanganyar Raya Kelurahan Gedawang (LS5);
5. Jalan di Kelurahan Padangsari Jalan di Kelurahan Jabungan (LS6 LS12);
6. Jl. Cemara Raya Jl. Padang Dukuh (LS7);
7. Jl. Suren Perumahan Puri Perdana Kelurahan Gedawang (LS8);
8. Jl. Karangrejo Raya (LS9);
9. Jl. Sukun Jl. Jati Raya (LS10);
10. Jl. Potrosari (LS11-LS13) ;
11. Jl. Kafer Raya (LS12) ;

12. Jl. Tusam (LS14) ;


13. Jalan ke Kawasan Bukit Sari (LS15) ;
14. Jalan Samping (Frontage Road) Jalan TOl Srondol Jatingaleh Krapyak
(LS16 LS17 dan LS18) ;
15. Jl. Ngesrep Barat III (LS19) ;
16. Jalan ke Kawasan Gombel Permai (LS20);
17. Jalan samping (frontage road) jalan Tol Semarang Solo (LS22 dan LS23).
Pasal

19

(1)

Fasilitas pergerakan/transportasi yang berada di BWK VII adalah Sub Terminal


untuk angkutan bus regional (mini bus dan angkota).
(2)
Fasilitas pergerakan/transportasi sebagaimana dimaksud ayat (1) untuk sub
terminal berada di blok 3.1.
(3)
Fasilitas pergerakan/transportasi jembatan layang (fly over) berada di blok
1.1,1.2,1.3,2.3 dan 3.2 dan simpang susun (under pass) berada di blok 2.3.
Pasal

20

Peta besaran fungsi jaringan pergerakan/ transportasi sebagaimana dimaksud pasala 18


Peraturan Daerah ini, tercantum dalam lampiran V, VI dan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Keenam
Penentuan Jaringan Utilitas
Pasal

21

Penentuan Jaringan Utilitas dalam Peraturan Daerah ini meliputi air bersih, telepon,
listrik, drainase dan persampahan.
Pasal

22

Jaringan air bersih di BWK VII adalah ditetapkan sebagai berikut :


a. Blok 1.1 :
1. Jaringan Primer diletakkan di Jl. Teuku Umar-Jl. Setia Budi (Penggal Jalan
AS4,AS3,AS2);
2. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Teuku Umar-Jl. Setia Budi (Penggal Jalan
AS4,AS3,AS2) dan Jl. Ngesrep Barat III (LS19) ;
3. Jaringan Tersier diletakkan di Jl. Gombel Lama Jl. Ngesrep Barat V (KS7), Jl.
Tinjomoyo (KS8) dan Jl. Kyai Mojo.
b. Blok 1.2 :
1. Jaringan Primer diletakkan di Jl. Teuku Umar-Jl. Setia Budi (Penggal Jalan
AS4,AS3,AS2);

2. Jaringan Sekunder di letakkan di Jl. Teuku Umar-Jl. Setia Budi (Penggal Jalan
AS4,AS3,AS2), Jl. Prof. Sudarto, SH (KS6), Jalan ke Kawasan Bukit Sari
(LS15), Jl. Saptamarga dan Jalan ke Kawasan Perumahan Gombel Permai
Jalan ke Kawasan Bukit Sari ;
3. Jaringan Tersier diletakkan di Jalan menuju kawasan Gombel Permai (LS20).
c. Blok 1.3 :
1. Jaringan Primer diletakkan di Jl. Raya Semarang Boja;
2. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Perhutani;
3. Jaringan Tersier diletakkan di Penggal Jl. KS22, LS5, LS6, LS7, LS11 dan
LS12);
d. Blok 2.1 :
1. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Durian Semarang Jl. Pedalangan (KS3
KS4), Jalan dikelurahan Tembalang Jalan dikelurahan Kramas (KS5) dan
sebagian Jl. Kanfer Raya (LS12) ;
2. Jaringan tersier diletakkan di sebagian Jl. Kanfer Raya (LS12).
e. Blok 2.2 :
1. Jaringan Primer diletakkan di Jl. Perintis Kemerdekaan (AS1) ;
2. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Perintis Kemerdekaan (AS1), Jl. Pedalangan
(KS4), Jalan di Kelurahan Padangsari (LS6), Jl. Cemara Raya Jl. Padang
Dukuh (LS7), Jl. Karangrejo Raya (LS9) dan Jl. Sukun Jl. Jati Raya (LS10) ;
3. Jaringan tersier diletakan di Jl. Suren Perumahan Puri Perdana Kelurahan
Gedawang (LS8) dan Jl. Sukun- Jl. Jati Raya (LS10).
4. Reservoir di letakkan di Kelurahan Srondol Wetan.
f. Blok 2.3 :
1. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Durian Selatan (KS3) dan Jalan di Kelurahan
Padang Sari (LS6);
2. Jaringan tersier diletakkan di Jl. Suren Perumahan Puri Perdana Kelurahan
Gedawang (LS8) dan Jalan Kanver Raya (LS12).
g. Blok 3.1 :
1. Jaringan Primer diletakkan di Jl. Perintis Kemerdekaan (AP1 dan AS2) dan
menghubungkan Instalasi Pengolahan (WTP) dengan reservoir di Kelurahan
Pudak Payung ;
2. Jaringan Sekunder diletakkan di Jl. Perintis Kemerdekaan (AP1 dan AS2), Jalan
di Kelurahan Kramason (KP1) dan Jalan di Kelurahan Gedawang (LS3) ;
3. Jaringan Tersier diletakkan di Jalan Kelurahan Jabungan (KS2) dan rencana
Jalan Tol Semarang Solo (AP5) ;
4. Reservoir diletakkan di Kelurahan Banymanik dan di Kelurahan Pudak Payung ;
5. Terdapat satu buah instalasi pengolahan (WTP).

h. Blok 3.2 :
1. Jaringan Sekunder diletakkan di rencana Jalan Lingkar Luar (Outing Road)
(KS9) dan Penggal Jalan LS20 ;
2. Jaringan Tersier diletakkan di rencana Jalan Tol Semarang Solo.
Pasal

23

Jaringan Telepon di BWK VII adalah ditetapkan sebagai berikut :


a. Blok 1.1 :
1. Jaringan Primer terdapat di Jl. Setiabudi Jl. Teuku Umar (AS2, AS3, AS4) ;
2. Jaringan Sekunder terdapat di Jl. Setiabudi Jl. Teuku Umar (AS2, AS3, AS4).
3. Rumah Kabel terdapat dipertemuan Jl. Kyai Mojo Jl. Setiabudi, pertemuan Jl.
Teuku Umur Jalan Tol Seksi A, Pertemuan Jl. Setiabudi Jalan menuju
Kawasan Bukit Sari dan pertemuan Jl. Setiabudi Jl. Prof. Sudarto, SH.
b. Blok 1.2 :
1. Jaringan Primer terdapat di Jl. Setiabudi Jl. Teuku Umar (AS4- AS3, AS2) ;
2. Jaringan Sekunder terdapat di Setiabudi Jl. Teuku Umar (AS4- AS3, AS2),
dan Jl. Prof. Sudarto, SH (KS6);
3. Rumah Kabel terdapat dipertemuan Jl. Teuku Umar Jalan Tol Seksi A,
Pertemuan Jl. Setiabudi Jalan menuju Kawasan Bukit Sari, Pertemuan Jl.
Setiabudi Jl. Prof. Sudarto , SH dan pertemuan Jl. Prof. Sudarto, SH Jalan Tol
Seksi A Jatingaleh Srondol.
c. Blok 1.3 :
1. Jaringan Primer terdapat di Jl. Perintis Kemerdekaan Jl. Setiabudi (AS1-AS2) ;
2. Jaringan Sekunder terdapat di Jl. Perintis Kemerdekaan Jl. Setiabudi (AS1AS2) dan Jl. Prof. Sudarto, SH (KS6);
3. Rumah Kabel terdapat di pertemuan Jl. Setiabudi Jalan menuju kawasan Bukit
Sari, pertemuan Jl. Prof. Sudarto, SH Jalan Tol Seksi A Jatingaleh Srondol,
pertemuan Jl. Kyai Mojo Jl. Setiabudi dan pertemuan Jl. Setiabudi
Karangrejo Raya ;
4. Sentral Telepon Otomat terdapat di Jl. Setiabudi (AS1)
d. Blok 2.1 :
1. Jaringan Sekunder terdapat di Jl. Durian Selatan Jl. Pedalangan (KS3 - KS4);
2. Rumah Kabel terdapat di pertemuan Jl. Prof. Sudarto, SH Jalan Tol Seksi A
dan pertemuan Jalan Pedalangan Jalan di Kelurahan Jabungan.
e. Blok 2.2 :
1. Jaringan Primer terdapat di Jl. Setiabudi (AS1);

2. Jaringan Sekunder terdapat di Jl. Jl. Setiabudi (AS1), Jl. Karangrejo Raya
(LS9),Jl. Durian (KS4) dan Jalan menuju Perumahan Banyumanik.
3. Jaringan Tersier terdapat di Jl. Cemara Raya dan Jl. Tusam (LS14).
4. Rumah Kabel terdapat di perumahan Banyumanik, pertemuan Jl. Setiabudi Jl.
Karangrejo Raya dan pertemuan Jl. Karangrejo Raya Jl. Cemara Raya.
5. Sentral Telepon Otomat terdapat di Jl. Setiabusi (AS1).
f.

Blok 2.3 :
1. Jaringan Sekunder terdapat di Jalan di Kelurahan Kramas Jalan Kelurahan
Jabungan(KS1 KS2) dan Jl. Pedalangan (KS3);
2. Jaringan Tersier terdapat di Jl. Jalan jalur samping (frontage road) jalan Tol
Semarang Solo (LS23);
3. Rumah Kabel terdapat di pertemuan Jl. Pedalangan Jalan di Kelurahan
Jabungan.

g. Blok 3.1 :
1. Jaringan Primer terdapat di Jl. Setiabudi Jl. Perintis Kemerdekaan (AS1
AP1);
2. Jaringan Sekunder terdapat di Jl. Setiabudi Jl. Perintis Kemerdekaan (AS1
AP1),Jl. Karangrejo Raya (LS9) dan Jl. Karanganyar Raya Kelurahan
Gedawang (LS5);
3. Jaringan Tersier terdapat di Jl. Pramuka (KP1) dan sebagian Jl. Potrosari
(LS11);
4. Rumah Kabel terdapat di pertemuan Jl. Karangrejo Raya Jl. Setiabudi, Jl.
Karangrejo Raya Jl. Cemara Raya, pertemuan Jl. Perintis Kemerdekaan
Karanganyar Raya Jalan di Kelurahan Gedawang (LS3),pertemuan Jl. Perintis
Kemerdekaan Jalan di Kelurahan Pudak Payung dan ditepi Jl. Lingkar Luar
(outer ring road) (AP2).
h. Blok 3.2 :
Jaringan Tersier terdapat di Jalur samping (frontage road) Jalan Tol Semarang Solo
(LS23).
Pasal

24

Jaringan Listrik BWK VII adalah ditetapkan sebagai berikut :


a. Blok 1.1 :
1. Saluran Udara Tegangan Tinggi melalui di Jl. Teuku Umar Setiabudi (AS4
AS3 AS2);
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di Jl. Tinjomulyo (KS8) dan Jl.
Kyai Mojo.
b. Blok 1.2 :

1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi melalui blok ini;


2 Saluran Udara Tegangan Tinggi melalui di Jl. Teuku Umar Jl. Setiabudi (AS4
AS3 AS2) dan Jl. Ngresep Timur V ( KS6);
3 Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di Jalan menuju Kawasan Bukitsari
(LS15), Jalur samping (frontage road) Jalan Tol Seksi A (LS17), Jalan menuju
kawasan Gombel Permai dan Jl. Prof. Sudarto, SH. (KS6).
c. Blok 1.3 :
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi melalui blok ini.
2. Saluran Udara Tegangan Tinggi melalui Jl. Perintis Kemerdekaan.
3. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di sebagian Jl. Potrosari (LS11 LS
13) dan Jl. Kyai Mojo.
d. Blok 2.1 :
1. Saluran Udara Tegangan Tinggi melalui Blok ini.
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui Jl. Durian Selatan Jl. Pedalangan
(KS3 KS4), Jalan di Kelurahan Tembalang Kramas (KS5), Jl. Kanfer Raya
(LS12) dan Jl. Tusam Raya (LS14).
e. Blok 2.2 :
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi melalui di Jl. Setiabudi (AS1);
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di sebagian Jalan di Kelurahan
Padangsari (LS6), Jl. Cemara Raya (LS7), Jl. Karangrejo Raya (LS9), Jl. Sukun
Jl. Jati Raya (LS 10) dan Jl. Kanfer Raya (LS12).
f. Blok 2.3 :
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi melalui blok ini;
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di Jalan Kelurahan Padangsari
(LS6) dan Jl. Kanfer Raya (LS12).
g. Blok 3.1 :
1. Saluran Udara Tegangan Tinggi melalui di Jl. Perintis Kemerdekaan Jl.
Setiabudi (AP1 AS1);
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di Jalan Lingkar luar (Outer Ring
Road) (AP3), Jl. Pramuka (KP1), Jalan di Kelurahan Pudak Payung (LS2), Jl.
Karanganyar Raya (LS5) dan sebagian Jl. Potrosari (LS11).
h. Blok 3.2 :
1. Saluran Udara Tegangan Eksta Tinggi melalui Blok 3.2;
2. Saluran Udara Tegangan Menengah melalui di Jalan di Kelurahan Jabungan
(KS1).
Pasal

25

Penentuan Jaringan drainase ditetapkan tiap Bloknya sebagai berikut :


a. Blok 1.1 :
1. Saluran primer melalui Penggal Jalan AP9, Jl. Setiabudi Teuku Umar (AS2
AS3 AS4) dan melalui tepi Banjir Kanal Timur ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan KS3, Jalan Gombel
Lama (KS4) dan Jl. Gotong ROyong (KS5);
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.
b. Blok 1.2 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Penggal Jalan AP7 dan AP8, Jl. Setiabudi
Teuku Umar (AS3 AS4), Jl. Ngresep Barat III dan melalui tepi Banjir
Kanal Timur;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan LS15 dan Jl. Bukit Raya
(KS6);
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
Pemukiman.
c. Blok 1.3 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Jl. Ngresep Barat III, Jl. Setiabudi (AS1
AP2), Jalan Tol Jatingaleh Srondol (AP6) dan melalui tepi Banjir Kanal
Timur dan Sungai kaligarang ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan LS11 dan Jl. Bukit Raya
(KS6);
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.
d. Blok 2.1 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Jalan Tol jatingaleh Srondol (AP6), Jl.
Pedalangan (LS14) dan melalui tepi kali Jetak ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan KS3 dan Jl. Durian
(KS4) ;
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.
e. Blok 2.2 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Jl. Setiabudi (AS2), Jl. Kafer Raya (LS12)
dan melalui tepi kali Jetak ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Jl. Karangrejo (LS8), Jl. Sukun Jl. Jati
(LS10) dan Jl. Durian (KS4) ;
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.

f. Blok 2.3 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Penggal Jalan AP5, LS2 dan melalui tepi
sungai Pengkol ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Jl. Mulawarman Raya (KS3), Jl.
karangrejo (LS12), Penggal Jalan LS6 dan LS21 ;
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.
g. Blok 3.1 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Jl. Perintis Kemerdekaan (AP1 AS1), Jl.
Karanganyar (LS8) dan melalui tepi kali Jetak ;
2. Saluran sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan LS2, Jl. Karangrejo
(LS8), Penggal Jalan KP1 ;
3. Saluran tersier ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap lingkungan
pemukiman.
h. Blok 3.2 :
1. Saluran primer ditetapkan melalui Jalan Lingkar Luar (outer Ring Road)
(AP4), Jl. Cemara Raya (KP2) dan melalui tepi Sungai Pengkol ;
2. Saluran Sekunder ditetapkan melalui Penggal Jalan LS8 dan LS21 ;
3. Saluran tersier
ditetapkan melalui saluran-saluran drainase ditiap
lingkungan industri.
Pasal

26

Penentuan Tempat Pembuangan sampah Sementara (Transfer Depo/Container)


diletakkan :
a. Blok 1.1 di pertemuan Jl. Teuku Umar (AS4) dan Penggal Jalan AP9 ;
b. Blok 1.2 ada dua buah di :
Penggal Jalan LS23
Penggal Jalan LS10 ;
c. Blok 1.3 ada dua buah di :
- Penggal Jalan KS8
- Jl. Setia Budi (AP1) ;
d. Blok 2.1 di Jl. Pedalangan (KS1) ;
e. Blok 2.2 di Jl. Karangrejo (LS1) ;
f. Blok 3.1 ada dua buah di :
- Penggal Jalan AP1
- Jl. Karanganyar (LS2).

Pasal

27

Peta Sistem Utilitas sebagaimana dimaksud pasal 21, 22, 23, 24, 25 dan 26 Peraturan
Daerah ini, tercantum dalam Lampiran VII, VIII, IX, X, XI dan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketujuh
Kepadatan Bangunan
Pasal

28

(1) Kepadatan Bangunan ditetapkan dengan pembatasan KDB pada tiap ruas jalan yang
direncanakan;
(2) Setiap ruas jalan yang direncanakan dapat ditetapkan lebih dari satu peruntukkan.
Pasal

29

Kepadatan Bangunan pada setiap ruas jalan ditetapkan sebagai berikut :


a. Ruas Jalan Artier Primer, KDB nya ditetapkan sebagai berikut :
1. Perkantoran 60 % (enam puluh perseratus);
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 60 % (enam puluh perseratus);
- Minimarket 50 % (lima puluh perseratus);
- Rumah Makan 50 % (lima puluh perseratus);
- Hotel 50 % (lima puluh perseratus);
- Bioskop/Hiburan 50 % (lima puluh perseratus).
3. Fasilitas Umum
- Bangunan Umum 50 % (lima puluh perseratus).
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 60 % (enam puluh perseratus);
- Rumah Susun/Flat 60 % (enam puluh perseratus).
b. Ruas Jalan Arteri Sekunder KDB-nya ditetapkan sebagai berikut :
1. Perkantoran 50 % (lima puluh perseratus)
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 60 % (enam puluh perseratus);
- Minimarket 60 % (enam puluh perseratus);
- Pertokoan 60 % (enam puluh perseratus);
- Ruko 60 % (enam puluh perseratus);
- Rumah Makan 50 % (lima puluh perseratus);
- Hotel 50 % (lima puluh perseratus);
- Bioskop/Hiburan 50 % (lima puluh perseratus).
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 50 % (lima puluh perseratus);
- Kesehatan 50 % (lima puluh perseratus);

- Peribadatan 50 % (lima puluh perseratus);


- Bangunan Umum 50 % (lima puluh perseratus).
5. Perumahan
- Rumah Tinggal 60 % (enam puluh perseratus);
- Rumah Susun/Flat 50 % (lima puluh perseratus).
c. Ruas Jalan Kolektor Primer, KDB-nya ditetapkan sebagai berikut :
1. Jasa Komersial
- Hotel 40 % (empat puluh perseratus);
- Rumah Makan 40 % (empat puluh perseratus).
2. Fasilitas Umum
- Bangunan Umum 40 % (empat puluh perseratus).
3. Perumahan
- Rumah Tinggal 40 % (empat puluh perseratus);
- Rumah Susun/Flat 40 % (empat puluh perseratus).
d. Ruas jalan Kolektor Sekunder, KDB-nya ditetapkan sebagai berikut :
1. Perkantoran 40 % (empat puluh perseratus);
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 60 % (enam puluh perseratus);
- Minimarket 60 % (enam puluh perseratus);
- Pasar Tradisional 50 % (lima puluh perseratus);
- Pertokoan 60 % (enam puluh perseratus);
- Ruko 60 % (enam puluh perseratus);
- Rumah Makan 40 % (empat puluh perseratus);
- Hotel 40 % (empat puluh perseratus);
- Bioskop/Hiburan 40 % (empat puluh perseratus).
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 40 % (empat puluh perseratus);
- Kesehatan 40 % (empat puluh perseratus);
- Peribadatan 40 % (empat puluh perseratus);
- Bangunan Umum 40 % (empat puluh perseratus).
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 40 % (empat puluh perseratus);
- Rumah Susun/Flat 50 % (lima puluh perseratus).
e. Ruas jalan Lokal Kolektor Sekunder, KDB-nya ditetapkan sebagai berikut :
1. Perkantoran 50 % (lima puluh perseratus);
2. Perdagangan dan Jasa
- Minimarket 50 % (lima puluh perseratus);
- Pasar Tradisional 50 % (lima puluh perseratus);
- Pertokoan 50 % (lima puluh perseratus);
- Ruko 50 % (lima puluh perseratus);
- Rumah Makan 40 % (empat puluh perseratus);
- Bioskop/Hiburan 40 % (empat puluh perseratus).
3. Fasilitas Umum

- Pendidikan 40 % (empat puluh perseratus);


- Kesehatan 40 % (empat puluh perseratus);
- Peribadatan 40 % (empat puluh perseratus);
- Bangunan Umum 40 % (empat puluh perseratus).
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 40 % (empat puluh perseratus);
- Rumah Susun/Flat 40 % (empat puluh perseratus).
Pasal

30

Peta Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud pasal 28 dan 29 Peraturan Daerah ini,
tercantum dalam lampiran XII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedelapan
Penentuan Ketinggian Bangunan dan KLB
Pasal

31

Penentuan Ketinggian Bangunan dan KLB ditetapkan dengan jumlah luas lantai
bangunan dan luas persil pada setiap peruntukkan yang disesuaikan dengan fungsi jalan.
Pasal

32

Ketinggian bangunan dan KLB pada setiap peruntukan ditetapkan sebagai berikut :
a. Ruas Jalan Artier Primer, ketinggian bangunan dan KLB nya ditetapkan :
1. Perkantoran 3 4 dan KLB 2,4 ;
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 3 - 4 lantai dan KLB 2,4 ;
- Minimarket 4 lantai dan KLB 2,4;
- Rumah Makan 2 3 lantai dan KLB 1,5 ;
- Hotel 3 4 lantai dan KLB 2,0 ;
- Bioskop / Hiburan 2-3 lantai dan KLB 1,5 ;
3. Fasilitas Umum
- Bangunan Umum 2 - 4 lantai dan KLB 2,0 ;
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 2 - 3 lantai dan KLB 1,8 ;
- Rumah susun / Flat 3 4 lantai dan KLB 2,4.
b. Ruas Jalan Artier Sekunder, ketinggian bangunan dan KLB nya ditetapkan :
1. Perkantoran 3 4 dan KLB 2,0 ;
2. Perdagangan dan Jasa

Supermarket 3 - 4 lantai dan KLB 2,4 ;


Minimarket 2 - 4 lantai dan KLB 2,4;
Pertokoan 1 3 lantai dan KLB 1,8 ;
Ruko 2 3 lantai dan KLB 1,8 ;
Rumah Makan 2 3 lantai dan KLB 1,8 ;
Hotel 3 4 lantai dan KLB 3,0 ;
Bioskop / Hiburan 2-3 lantai dan KLB 1,5 ;

3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 3 4 lantai dan KLB 2,0 ;
- Kesehatan 3 4 lantai dan KLB 2,0 ;
- Peribadatan 2 3 lantai dan KLB 1,5 ;
- Bangunan Umum 2 4 lantai dan KLB 2,0 ;
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 2 - 3 lantai dan KLB 1,8 ;
- Rumah susun / Flat 3 4 lantai dan KLB 2,0.
c. Ruas Jalan Kolektor Primer, ketinggian bangunan dan KLB nya ditetapkan :
1. Jasa Komersial
- Hotel 3 4 lantai dan KLB 1,6 ;
- Rumah Makan 2 3 lantai dan KLB 1,2 ;
2. Fasilitas Umum
- Bangunan Umum 1 3 lantai dan KLB 1,2 ;
3. Perumahan
- Rumah Tinggal 1 - 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Rumah susun / Flat 2 4 lantai dan KLB 1,6.
d. Ruas Jalan Kolektor Sekunder, ketinggian bangunan dan KLB nya ditetapkan :
1. Perkantoran 3 4 dan KLB 1,6 ;
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 3 - 4 lantai dan KLB 2,4 ;
- Minimarket 2 - 4 lantai dan KLB 2,4;
- Pasar Tradisional 1 2, KLB 1,0 ;
- Pertokoan 1 3 lantai dan KLB 1,8 ;
- Ruko 2 3 lantai dan KLB 1,8 ;
- Rumah Makan 1 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Hotel 2 4 lantai dan KLB 1,6 ;
- Bioskop / Hiburan 2-3 lantai dan KLB 1,2 ;
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 2 4 lantai dan KLB 1,6 ;
- Kesehatan 2 4 lantai dan KLB 1,6 ;
- Peribadatan 1 2 lantai dan KLB 0,8 ;
- Bangunan Umum 1 3 lantai dan KLB 1,2 ;

4. Perumahan
- Rumah Tinggal 1 - 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Rumah Susun / Flat 2 4 lantai dan KLB 1,6.
e. Ruas Jalan Lokal Sekunder, ketinggian bangunan dan KLB nya ditetapkan :
1. Perkantoran 2 3 lantai dan KLB 1,2;
2. Perdagangan dan Jasa
- Minimarket 2 - 3 lantai dan KLB 1,5;
- Pasar Tradisional 1 2, KLB 1,0 ;
- Pertokoan 1 2 lantai dan KLB 1,0 ;
- Ruko 1 3 lantai dan KLB 1,5 ;
- Rumah Makan 1 2 lantai dan KLB 0,8 ;
- Bioskop / Hiburan 1 - 2 lantai dan KLB 0,8 ;
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 1 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Kesehatan 1 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Peribadatan 1 2 lantai dan KLB 0,8 ;
- Bangunan Umum 1 2 lantai dan KLB 0,8 ;
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 1 - 3 lantai dan KLB 1,2 ;
- Rumah Susun / Flat 2 4 lantai dan KLB 1,6.
Pasal

33

Peta Ketinggian Bangunan dan KLB sebagaimana dimaksud pasal 31 dan 32 Peraturan
Daerah ini, tercantum dalam Lampiran XII dan merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kesembilan
Penentuan Garis Sempadan
Pasal

34

Penentuan GSB dalam Peraturan Daerah ini ditinjau dari :


a. Sempadan Jalan ;
b. Sempadan Sungai ;
c. Sempadan dan ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Saluran Udara
Tegangan Ekstra Tinggi .
Pasal

35

(1) Garis Sempadan muka bangunan yang berbatasan dengan jalan berdasarkan fungsi
kawasan dan karakteristik ruas jalannya ditetapkan sebagai berikut :

a. Ruas Jalan Artier Primer, GSB-nya ditetapkan :


1. Perkantoran 32 meter ;
2.
-

Perdagangan dan Jasa


Supermarket 32 meter ;
Minimarket 32 meter ;
Rumah Makan 32 meter ;
Hotel 32 meter ;
Bioskop / Hiburan 32 meter.

Fasilitas Umum
Bangunan Umum 32 meter ;

Perumahan
Rumah Tinggal 32 meter ;
Rumah susun / Flat 32 meter.

3.
4.

b. Ruas Jalan Artier Sekunder, GSB-nya ditetapkan :


1. Perkantoran 29 meter ;
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 29 meter ;
- Minimarket 29 meter ;
- Pertokoan 29 meter ;
- Ruko 29 meter ;
- Rumah Makan 29 meter ;
- Hotel 29 meter ;
- Bioskop / Hiburan 29 meter.
3.
-

Fasilitas Umum
Pendidikan 29 meter ;
Kesehatan 29 meter ;
Peribadatan 29 meter ;
Bangunan Umum 29 meter ;

Perumahan
Rumah Tinggal 29 meter ;
Rumah susun / Flat 29 meter.

4.

c. Ruas Jalan Kolektor Primer, GSB-nya ditetapkan :


1. Jasa Komersial
- Hotel 26 meter ;
- Rumah Makan 26 meter ;
2. Fasilitas Umum
- Bangunan Umum 26 meter ;

3. Perumahan
- Rumah Tinggal 26 meter ;
- Rumah susun / Flat 26 meter.
d. Ruas Jalan Kolektor Sekunder, GSB-nya ditetapkan :
1. Perkantoran 23 meter ;
2. Perdagangan dan Jasa
- Supermarket 23 meter ;
- Minimarket 23 meter ;
- Pasar Tradisional 23 meter ;
- Pertokoan 23 meter ;
- Ruko 23 meter ;
- Rumah Makan 23 meter ;
- Hotel 23 meter ;
- Bioskop / Hiburan 23 meter ;
- Pendidikan 23 meter ;
- Kesehatan 23 meter.
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 23 meter ;
- Kesehatan 23 meter ;
- Peribadatan 23 meter ;
- Bangunan Umum 23 meter.
4. Perumahan
- Rumah Tinggal 23 meter ;
- Rumah susun / Flat 23 meter.
e. Ruas Jalan Lokal Sekunder, GSB-nya ditetapkan :
1. Perkantoran 17 meter ;
2. Perdagangan dan Jasa
- Minimarket 17 meter ;
- Pasar Tradisional 17 meter ;
- Pertokoan 17 meter ;
- Ruko 17 meter ;
- Rumah Makan 17 meter ;
- Bioskop / Hiburan 17 meter ;
3. Fasilitas Umum
- Pendidikan 17 meter ;
- Kesehatan 17 meter ;
- Peribadatan 17 meter ;
- Bangunan Umum 17 meter.

4. Perumahan
- Rumah Tinggal 17 meter ;
- Rumah susun / Flat 17 meter.
(2) Garis Sempadan samping dan belakang bangunan yang berbatasan dengan persil
tetangga, ditetapkan sebagai berikut :
a. Untuk bangunan tidak bertingkat dapat berimpit atau apabila berjarak minimal
1,5 m.
b. Untuk bangunan deret sampai dengan ketinggian 3 lantai dapat berimpit.
Pasal

36

Garis Sempadan Sungai Garang, dan Sungai Pengkol ditetapkan berjarak 200 meter
diukur dari permukaan air tertinggi.
Sedangkan sungai-sungai lain yang telah dinormalisir (bertanggul) ditetapkan 3 meter
diukur dari batas luar tanggul.
Pasal

37

Pada kawasan kepadatan tinggi, GSB perdagangn dan jasa ditetapkan dapat berimpit
dengan garis Sempadan pagar setelah mempertimbangkan factor parkir kendaraan.
Pasal

38

Garis Sempadan dan Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dan Saluran
Udara Tegangan Tinggi terbagi menjadi :
a.

Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) ditetapkan sebesar 8,5 m 15


m untuk menara yang ditinggikan dan 5 m 5,5 m untuk menara yang tidak
ditinggikan (dengan ketentuan ruang bebas yang ditetapkan membentuk sudut 45
dari sumbu penghantar) ;
b.
Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) ditetapkan sebesar 9 m 13,5 m untuk
menara yang ditinggikan dan 2,5 m 4 m untuk menara yang tidak ditinggikan
(dengan ketentuan ruang bebas yang ditetapkan membentuk sudut 45 dari sumbu
penghantar).
Bagian Kesepuluh
Penentuan Luas Persil Bangunan
Pasal

39

Penentuan luas persil bangunan pada BWK VII ditetapkan sebagai berikut :
a. Perumahan luas persil bangunannya ditetapkan :
1. Tipe Rumah Besar ukuran persil 600 2.000 m2.

2. Tipe Rumah Sedang ukuran persil 200 600 m2.


3. Tipe Rumah Kecil ukuran persil 54 200 m2.
b. Fasilitas Pendidikan luas persil bangunannya ditetapkan :
1.
2.
3.
4.

TA/ RA/ BA/ TA 1.200 m2.


SD/ MI 3.600 m2.
SMTP/ MTS 6.000 m2.
SMTA/ MA 6.000 m2.

c. Fasilitas Kesehatan luas persil bangunannya ditetapkan :


1.
2.
3.
4.
5.

Balai Pengobatan 300 m2 ;


BKIA atau RS. Bersalin 1.200 m2 ;
Puskesmas 2.400 m2 ;
Puskesmas Pembantu 1.200 m2;
Apotik 400 m2

d. Fasilitas Perkantoran luas persil bangunannya ditetapkan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kantor Kecamatan 3.750 m2;


Kantor Pelayanan Umum Kecamatan 4.200 m2;
Kantor Kelurahan 1.000 m2;
Kantor Pelayanan Umum Kelurahan 250 m2;
Polsek / Koramil 2.300 m2;
KUA 670 m2.

e. Fasilitas Perdagangan luas persil bangunannya ditetapkan :


1. Pasar Lingkungan 13.000 m2;
2. Pertokoan 1.200 m2;
3. Warung/kios 250 m2;
f. Fasilitas Keamanan luas Persil bangunannya ditetapkan :
Pos Kamtib 300 m2
g. Fasilitas Komunikasi luas persil bangunannya ditetapkan :
1. Kantor Pos / Telkom 2.500 m2;
2. Kantor Pos Pembantu 100 m2.
h. Fasilitas Pemadam Kebakaran luas persil bangunannya ditetapkan :
1. Kantor pemadan Kebakaran 1.250 m2;
2. Kantor pemadam Kebakaran pembantu 300 m2.
i. Fasilitas Pertemuan dan Hiburan luas persil bangunannya ditetapkan :
1. Balai Pertemuan 300 m2;

2. Gedung Serbaguna 1.000 m2;


3. Gedung Bioskop 2.000 m2;
j. Fasilitas parkir Umum luas Persil bangunannya ditetapkan :
1. Parkir Kecil 100 m2;
2. Parkir Lingkungan 1.000 m2;
k. Fasilitas Peribadatan luas peril bangunannya ditetapkan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Masjid besar 4.000 m2;


Masjid Kecil 1.750 m2;
Mushola 300 m2;
Gereja 1.650 m2;
Pura 1.650 m2;
Vihara 1.650 m2.

j. Ruang Terbuka luas persil bangunannya ditetapkan :


1.
2.
3.
4.

Tempat bermain 250 m2;


Tempat main / Taman 1.250 m2;
Lapangan Olah raga 9.000 m2;
Makam 30.000 m2.
Bagian Kesebelas
Tahapan Pelaksanaan Pembangunan
BWK VII
Pasal

40

Tahapan pelaksanaan pembangunan BWK VII ditetapkan 10 (sepuluh) tahun, yaitu


tahun 1995 2005 yang dirinci dalam lima tahunan.
Pasal

41

Peta Tahapan Pelaksanaan Pembangunan sebagaimana dimaksud pasal 40 Peraturan


Daerah ini, tercantum dalam Lampiran XIII, XIV dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal

42

Buku Rencana dan Album Peta merupakan penjelasan yang lebih rinci dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Keduabelas
Penanganan Lingkungan Dalam BWK VII

Pasal

43

Penanganan lingkungan dalam BWK VII meliputi pananganan bangunan dan jaringan
utilitas yang akan dilaksanakan.
Pasal

44

Penanganan lingkungan sebagaimana dimaksud pasal 43 Peraturan Daerah ini


ditetapkan setiap Bloknya sebagai berikut :
a. Bangunan
1. Bangunan baru yang akan ditingkatkan berada di sebagian :
a). Blok 1.3
b). Blok 2.2
c). Blok 2.3

: Kelurahan Srondol Kulon dan Sumurboto ;


: Kelurahan Srondol Wetan ;
: Kelurahan Padangsari.

2. Bangunan yang akan dibangun berada di :


a).
b).
c).
d).

Blok
Blok
Blok
Blok

1.1
2.1
3.1
3.2

: Kelurahan Tinjomoyo ;
: Kelurahan Pedalangan ;
: Kelurahan Banyumanik dan Pudak Payung ;
: Kelurahan Gedawang dan Jabungan.

b. Jaringan Jalan
1. Jaringan jalan baru yang dibangun berada di :
a). Blok 1.1, 1.2, 1.3, dan blok 2.1 yaitu jalur samping (frontage road) Jalan
Srondol Manyaran;
b). Blok 1.3, 2.1, dan 2.2 yaitu Jalan Kolektor Sekunder;
c). Blok 1.1, 1.3 dan 3.1 yaitu Jalan Inspeksi Sungai Garang;
d). Blok 3.1 dan 3.2 Jalan Lokal Sekunder berupa alternative Jabungan Pudak
Payung.
e). Blok 2.3 dan 3.2 yaitu Jalan Padangsari Jabungan;
f). Blok 2.3 dan 3.2 yaitu Jalan Suren Puri Raya Gedawang.
2. Jaringan Jalan yang akan ditingkatkan berada di :
a). Blok 1.3 yaitu Jl. Potrosari;
b). Blok 1.3 yaitu Jl. Ngresep Barat III;
c). Blok 1.1 yaitu Jl. Gombel Lama dan Jl. Tinjomulyo dan Jl. Pawiyatan
Luhur;
d). Blok 1.1 dan 1.2 yaitu Jl. Kolektor Sekunder;
e). Blok 2.1, 2.3 dan 3.2 yaitu Jl. Kramas;
f). Blok 3.1 yaitu Jl. Pramuka.
3. Jaringan Jalan yang akan diperbaiki berada di :

a).
b).
c).
d).

Blok 1.2 yaitu Jl. Gombel Permai;


Blok 1.2 yaitu Jl. Bukit Sari Raya;
Blok 1.3 yaitu Jl. Potrosari;
Blok 2.1, 2.2,dan 2.3 Jl. Sukun Raya, Jl. Jati Raya, Jl. Kanfer Raya, Jl.
Damar Raya dan Jl. Merbau Raya;
e). Blok 3.1 dan 3.2 yaitu Jl. Karanganyar Gedawang.
Jaringan Utilitas yang akan dibangun meliputi :
1. Jaringan Utilitas baru yang akan dibangun meliputi :
a). Jaringan Air bersih berada di blok 3.2 dan 2.3 berupa Saluran Air Bersih
PDAM; 3.1 dan 2.2 berupa tangki reservoir air bersih PDAM;
b). Jaringan Telepon berada di blok 3.2, 2.3 dan 1.1;
c). Jaringan Drainase berada di blok 3.1, 3.2 dan 2.3 berupa perbaikan secara
teknis dan normalisasi saluran alami yang ada;
d). Jaringan air limbah berada di blok 1.3, 2.1, dan blok 2.2.
2. Jaringan Utilitas baru yang akan di tingkatkan meliputi :
a).
b).
c).
d).

Jaringan air bersih berada di blok 1.3, 2.1, 2.2 dan 3.1;
Jaringan Listrik berada di blok 1.1, 3.1;
Jaringan Telepon berada di blok 3.1, 1.3, 3.1, 2.1, dan 2.3;
Jaringan Drainase berada di blok 2.1, 2.2 dan 2.3.

3. Jaringan utilitas baru yang akan diperbaiki, meliputi :


a).
b).
c).
d).

Jaringan air bersih berada di blok 1.2 dan 1.3;


Jaringan Listrik berada di blok 1.2, 1.3;
Jaringan Telepon berada di blok 2.2, 2.3, 1.2;
Jaringan Drainase berada di blok 1.1, 1.2, 1.3 da, blok 3.1.
BAB V
PELAKSANAAN RDTRK BWK VII
( KECAMATAN BANYUMANIK )
Pasal

45

Semua program maupun proyek yang diselenggarakan oleh Instansi Pemerintah. Swasta
dan Masyarakat luas harus berdasarkan pada pokok-pokok kebijaksanaan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 11, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 29, 31, 32, 35,
36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, dan Pasal 43 Peraturan Daerah ini.
Pasal
(1)

46

RDTRK bersifat untuk umum dan ditempatkan dikantor Pemerintah Daerah dan
tempat-tempat yang mudah dilihat oleh masyarakat.

(2)

Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi mengenai RDTRK secara


tepat dan mudah.
BAB VI
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN
RDTRK BWK VII
(KECAMATAN BANYUMANIK)
Pasal

47

Pengawasan dan Pengendalian Pemanfaatan RDTRK, guna menjamin tercapainya


maksud dan tujuan rencana sebagaimana dimaksud pasal 3 dan 4 Peraturan Daerah ini
dilakukan oleh Walikotamadya Kepada Daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pasal

48

(1) Pengawasan
terhadap
pemanfaatan
ruang
dilakukan
dalam
bentuk
pemantauan,pelaporan dan evaluasi.
(2)
Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan dalam bentuk perijinan sesuai
dengan kewenangan yang ada pada Pemerintah Daerah.
(3)
Pengawasan dan pencegahan segala kegiatan pembangunan / pemanfaatan yang
tidak sesuai dengan Peraturan Daerah ini menjadi wewenang dan tanggung jawab
Camat atau Instansi yang berwenang setempat dan dalam waktu selambat-lambatnya
3 x 24 jam wajib melapor kepada Walikotamadya Kepada Daerah atau Dinas Teknis
yang ditunjuk.
BAB VII
KETENTUAN PIDANA DAN PENYIDIKAN
Pasal

49

(1)

Barang siapa melanggar pemanfaatan lokasi yang ditetapkan dalam pasal 7, 8, 13,
14, 15, 16, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 29, 30, 32, 35, 36, 37, 38, 39, 43, 44,
dan 45 Peraturan Daerah ini diancam kurungan pidana selama-lamanya 6 (enam)
bulan atau denda sebesarnya Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
(2) Selain tindak pidana sebagaimana tersebut ayat (1) pasal ini, diancam pidana
sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Pasal

50

Selain oleh pejabat penyidik umum, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana
dimaksud pasal 49 Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh pejabat penyidik
Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah, yang pengangkatan,
kewenangan dan dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan Peraturan Perundangundangan yang berlaku.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal

51

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka :


1.

Kegiatan yang telah ditetapkan dan keberadaannnya tidak sesuai dengan


RDTRK, dapat diteruskan sepanjang tidak mengganggu fungsi peruntukan ruang.
2.
Dalam hal kegiatan yang telah ada dan dinilai mengganggu fungsi lingkungan
dan peruntukan ruang harus segera dicegah dan atau dipindahkan ketempat yang
sesuai dengan peruntukan ruangnya selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun sejak
pengundangan Peraturan Daerah ini.
3.
Untuk pertamakali Peraturan Daerah ini ditinjau kembali pada tahun 2000.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal

52

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Walikotamadya Kepala Daerah.
Pasal

53

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan
Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kotamadya
Daerah Tingkat II Semarang.
Ditetapkan di Semarang .
pada tanggal 23 Maret 1999.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH


KOTAMADYA DATI II SEMARANG
Ketua,

H. SAMSURI MASTUR, SH

WALIKOTAMADYA
KEPALA DAERAH TINGKAT II
SEMARANG
ttd

SOETRISNO. S