Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era globalisasi ini, pertambangan batu bara merupakan salah satu
sektor yang terbesar di indonesia dan berperan meningkatkan sistem perekonomian di
indonesia. Kekayaan alam yang begitu banyak harus bisa dikelola oleh pemerintah
dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat indonesia. Job site yang merupakan
lokasi pertambangaan batu bara. Salah satu unit yang menunjang produksi
penambangan yaitu Motor Grader (GD), dimana Motor Grader berfungsi sebagai
alat untuk membuat jalan, seperti membentuk jalan, meratakan jalan dan finishing,
karena Motor Grader GD 825A-2 di lengkapi beberapa alat-alat perlengkapan kerja
yang terpasang pada Motor Grader GD 825A-2 yang digunakan untuk memenuhi
pekerjaan-pekerjaan tersebut. Salah satu alat perlengkapan kerja tersebut yang utama
adalah blade yang berfungsi meratakan tanah pada saat melakukan grading. dalam
penerapan di lapangan tidak mungkin keadaan unit selalu dalam keadaan baik, pasti
ada seusatu hal yang menyebabkan unit tersebut mengalami kerusakan. dan salah satu
komponen yang sering mengalami keusakan adalah final drive. Apabila hal tersebut
terjadi, maka harus segera dilakukan overhaul pada final drive tersebut. dan final
drive tersebut harus segera di kirim ke perusahaan manufacturing agar bias dilakukan
proses disassembly untuk mengetahui kerusakan apa yang terjadi dalam final drive
tersebut.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang remanufacturing ini adalah
tempat saat penulis melakukan OJT (On The Job Training) di PT.KOMATSU
REMANFUACTURING ASIA Balikpapan, perusahaan ini bergerak di bidang
remanufacturing khusus untuk komponen dari jenis-jenis komatsu baik unit heavy
duty dump truck, dozer, grader, serta wheel loader. Salah satu upaya yag dilakukan
oleh PT.KOMATSU REMANUFACTURING ASIA agar menjaga target
produksinya tetap tercapai adalah dengan cara meminimalisirkan kerusakan pada
2



komponen suatu unitnya apabila komponen tersebut sering break down agar
komponen tersebut menjadi lebih siap dan layak pakai dalam jangka waktu yang
lama. Saat penulis melakukan OJT (On The Job Training) di PT.KOMATSU
REMANUFACTURING ASIA, penulis mengamati beberapa kerusakan yang terjadi
pada komponen-komponen yang datang dari site. Salah satu komponen yang
mengalami kerusakan tersebut dan dikirim ke perusahaan ini adalah kerusakan
terjadi permasalahan di bagian Final drive pada Motor Grader. Salah satu
permasalahan yang membuat penulis tertarik adalah Input Shaft Broken pada Unit
Grader GD825A-2.
Penulis mengumpulkan data-data waktu unit melaksanakan schedule overhoul
yaitu pada unit Motor Grader GD 825A-2 selama tahun 2013, agar pembaca dapat
mengerti apakah unit tersebut sedang dalam kondisi trouble atau normal. Unit Motor
Grader dalam tahun 2013 yang melaksanakan schedule overhaul di PT.Komatsu
Remanufacturing Asia.

Gambar 1.1 :Diagram component in 2013
Keterangan Grafik :
A. Keterangan Sumbu :
1. Sumbu X Menunjukan kondisi unit.
2. Sumbu Y Menunjukan volume atau jumlah unit.

Dari grafik di atas dapat disimpulkan pada tahun 20113 schedule uverhoul
untuk unit Motor Grader GD 825A-2 yaitu grafik menunjukan unit mengalami shaft
0
1
2
3
4
5
6
Shaft broken Shaft worn normal condition
2013
3



broken terdapat 2 unit, sementara mengalami shaft worn terdapat 2 unit dan unit
dengan kondisi normal terdapat 5 unit. Selain itu mahalnya komponen shaft yang
baru dan produksi jumlah komponen yang terbatas serta lamanya waktu pemesanan
shaft yang baru, maka penulisan pada tugas Akhir ini penulis menetapkan judul
sebagai berikut ANALISA KERUSAKAN INPUT SHAFT PADA UNI T GD
825A-2 PT.KOMATSU REMANUFACTURING ASI A.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa penyebab Input Shaft pada unit GD825A-2 patah ?
1.2.1 Bagaimanakah cara meminimalisasi penyebab Input Shaft patah pada unit GD
825A-2?

1.3 Batasan masalah
Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis membatasi permasalahan, hanya
membahas pada final drive GD 825A-2 dengan penyajian data sampel tanpa
melakukan pengujian bahan di laboratorium atau menggunakan alat uji.

1.4 Tujuan dan Manfaat
14.1 Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penyebab rusaknya input shaft
pada PT.Komatsu Remanufacturing Asia.
1.4.2 Manfaat dari penelitian tersebut adalah, agar dapat membanntu
perusahaan-perusahaan untuk memberikan solusi yang tepat dan terbaik.
Untuk mencegah terjadinya kerusakan pada final drive.

1.5 Sistematika Penulisan
Metode penulisan terdiri dari lima bab, yang masing-masing terdiri dari
beberapa sub bab, yaitu :


4



BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan
penulisan, teknik pengumpulan data, waktu dan tempat pengumpulan data, serta
sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Berisi tentang dasar-dasar teori yang dipakai penulis dalam menyelesaikan
tugas akhir.
BAB III DATA LAPANGAN
Berisi tentang data lapangan pengangkut objek yang di teliti, data trouble
report unit, dalam foto-foto kerusakan pada input shaft.
BAB IV PEMBAHASAN
Memuat tentang pembahasan masalah dan permasalah yang di angkat.
BAB V PENUTUP
Penutup dengan sub bab yang berisi tentang kesimpulan dari masalah yang
diangkat dan saran.
LAMPIRAN.
DAFTAR PUSTAKA.











5



BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengenalan Unit Grader

Gambar 2.1 Motor Grader GD 825A-2
Motor grader berfungsi sebagai alat untuk membuat jalan,seperti membentuk jalan,
meratakan jalan dan finishing, karena Motor Grader GD 825A-2 di lengkapi
beberapa alat-alat perlengkapan kerja yang terpasang pada Motor Grader GD 825A-2
yang di gunakan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan tersebut.

6




2.2 Final drivegrader secara umum
Ketika Motor Grader beroperasi dengan blade membentuk sudut kea
arah depan atau dengan articulate chassis, maka akan terbentuk reaksi dalam
hal ini. Gaya yang timbul dari arah depan akan di paksa di teruskan ke sisi
samping dan mesin akan cenderung berputar ( berbelok ) ke kanan atau ke kiri
tergantung pada sudut yang terjadi saat mesin beroperasi. Dengan hal ini
mesin membutuhkan kemampuan untuk menahan (gaya dari depan) dan
mesin mampu berjalan dengan lurus ke depan, sehingga secara umum, motor
grader di desain tidak memakai differential.

Gambar 2.2 Final drive secara umum

Namun Motor Grader GD 825A-2 adalah tipe artikulit, sehingga
ketika mesin beroperasi dengan beban hanya menumpu di bagian salah satu
sisi (di artikulasikan), roda-roda belakang cenderung slip ke samping. Dengan
alasan ini ,mesin di lengkapi dengan differential untuk meningkatkan
kemampuan menahan keausan pada ban. Pengontrolan pengoperasian
differential sangat sederhana, dengan menekan switch yang ada di operators
compartment.




7



2.3 Pengertian differential
Differential adalah suatu komponen untuk meneruskan tenaga putar
dari transmisi melalui propeller shaft yang selanjutnya akan membuat
penyaluran tenaga lebih halus dari final gear ke roda kiri dan kanan pada
kondisi apapun. Saat kendaraan berjalan belok atau saat pada berjalan buruk
akan terjadi jarak tempuh yang berbeda antara roda kiri dan kanan. Jika ke
dua roda berputar pada kecepatan yang sama yang terjadi adalah slipnya roda
yang mempunyai jarak tempuh yang lebih pendek. Dengan adanya diferential
maka secara otomatis akan membuat kecepatan antara roda kiri dan roda
kanan berbeda sehingga perputaran menjadi lebih halus.

Gambar 2.3 Sturktur differential

2.4 Fungsidifferential
Diferential adalah komponen yang berfungsi :
2.4.1 Menaikkan torque
Komponen pada Differential yang berfungsi menaikkan torque pinion
dan bevel gear (crown wheel). Pinion yang menerima putaran dari propeller
shaft dan meneruskannya ke crown wheel, karena jumlah gigi dan diameter
dari pinion yang lebih kecil daripada crown wheel maka torque yang
sebelumnya kecil (pinion)akan bertambah pada saat crown wheel berputar
meneruskan putaran pinion.

8



2.4.2 Merubah arah putarandari propeller shaft 90 derajat ke axle
Pinion dan crown wheel juga berfungsi merubah arah putaran dari
propeller shaft 90 derajat ke axle. Ini terjadi karena kontak dari gigi-gigi pada
pinion dan pada crown wheel bersudut 90 derajat.

2.4.3 Membedakan putaran
Pada saat unit berbelok, putaran roda bagian dalam cenderung lebih
lambat daripada putaran roda bagian luar, hal ini di maksudkan agar unit
dapat berbelok dengan baik dan tidak slip. Jika roda antara yang kiri dan
kanan selalu sama, maka tidak akan membelok. Disinilah fungsi differential
yang membuat putaran roda kiri dan kanan berbeda, sehingga unit dapat
berbelok dengan baik.

2.5 Jenis- jenis differential
2.5.1 Standard differential
Standard differential jenis ini paling banyak di gunakan pada
kendaraan ringan karena kontruksinya sederhana , yang hanya terdiri dari
bevel gear, bevel pinion,diferential case, pinion gear ,spider shaft,dan slide
gear.

Gambar 2.4 Standard Differential


9



2.5.2 No-spin differential
Pada No-SPIN differential, spider shaft langsung terhubung dengan
jaw clutch yang di-spline dengan side gear. Saat bergerak lurus, jaw clutch
akan engage dan spider shaft tengah memutar axle dengan kecepatan yang
sama.
Bila putaran salah satu roda melebihi putaran penggerak atau overrun, No-
SPIN differential akan memutuskan hubungan dengan roda yang berputar
lebih cepat tadi dengan cara memisahkan spider shaft dari jaw clutch. Roda
yang berputar lebih cepat tadi akan bebas. Semua torsi dan kecepatan akan
dikirimkan ke roda yang putarannya lebih lambat.

Gambar 2.5 No-spin differential

2.5.3 Limited slip differential
Limited slip differential dirancang untuk memungkinkan tenaga
disalurkan dengan sama pada kedua roda sampai kondisi pijakan
menyebabkan variasi cengkraman antara roda kiri dan kanan. Pada differential
jenis ini terdapat dua multidisc clutch. Setiap clutch menghubungkan side
gear dengan rotating housing. Kedua roda akan digerakkan dengan torsi dan
kecepatan yang sama saat bergerak lurus bila kondisi pijakan kedua roda
cukup bagus. Pada standard differential, bila machine di angkat dan salah satu
roda di rem, roda lainnya akan berputar lebih cepat. Pada limited slip
10



differential, clutch membuatnya lebih sulit terjadi karena faktor yang
meningkat secara proporsional terhadap torsi input. Efek penguncian terjadi
karena adanya gesekan internal pada gaya pemisahan dalam differential akan
menekan clutch pack. Ini mengakibatkan torsi pada roda yang berputar cepat
akan disalurkan ke roda dengan kondisi pijakan yang bagus.

Gambar 2.6 Limited Slip Differential

2.5.4 Diferential lock
Differential lock umumnya digunakan pada motor grader. Differential
jenis ini dapat diaktifkan dan dikunci menggunakan differential switch pada
kabin operator. Bila operator mengingin kan machine bergerak lurus maka
differential harus di kunci. Hal ini mengakibatkan semua torsi dipindahkan ke
empat roda tandem pada semua kondisi pijakan. Untuk mengurangi radius
belok machine dan untuk mengurangi keausan pada ban maka differential
lock harus dimatikan.
Differential untuk motor grader memiliki clutch antara side gear kiri
dan differential housing. Saat differential terkunci, solenoid akan mengalirkan
oli ke belakang piston untuk meng-engage -kan clutch sehingga side gear kiri
akan berputar dengan kecepatan yang sama dengan rotating housing. Pinion
gear tidak akan berputar pada porosnya sebab spider shaft dan side gear
berputar dengan kecepatan yang sama. Pinion gear akan menahan side gear
satunya. Kedua axle shaft (kiri dan kanan) kemudian akan berputar dengan
kecepatan yang sama dengan rotating housing. Bila differential switch di-off-
11



kan, solenoid akan menutup aliran oli menuju clutch pack sehingga kedua side
gear akan berputar bebas. Differential lock mendorong salah satu dari side
gear agar ber putar bersama rotating housing. Ini mengakibatkan differential
bekerja seperti solid axle dan memindahkan semua torsi ke kedua roda (kiri
dan kanan). Hal ini menyebabkan kedua roda berputar dengan kecepatan yang
sama, tanpa terpengaruh kondisi pijakan.

Gambar 2.7 Differential lock

2.6 Cara kerja differential
2.6.1 Pada saat jalan lurus.
Pada saat kendaraan jalan lurus pada jalan datar tahanan gelinding
(rolling resistance) pada kedua roda penggerak (drive gear) relatif sama.
Bila tahanan kedua poros axle belakang sama (A dan B) , pinion tidak
berputar sendiri tetapi ring gear, differential case dan poros pinion berputar
bersama dalam satu unit. Dengan demikian pinion hanya berfungsi untuk
menghubung-kan side gear bagian kiri dan kanan, sehingga menyebabkan
kedua drive wheel berputar pada rpm yang sama.
12




Gambar 2.8 Pada saat jalan lurus

2.6.2 Pada saat membelok.
Pada saat kendaraan membelok ke kiri tahanan roda kiri lebih besar
dari pada roda kanan. Apabila differential case berputar bersama ring gear
maka pinion akan berputar pada porosnya dan juga pergerak mengelilingi side
gear sebelah kiri, sehingga putaran side gear sebelah kanan bertambah, yang
mana jumlah putaran side gear satunya adalah 2 kali putaran ring gear.
Hal ini dapat dikatakan bahwa putaran rata-rata kedua roda gigi adalah
sebanding dengan putaran ring gear.

Gambar 2.9 Pada saat membelok


2.7 Karakteristik dan klasivikasi bevel gear
2.7.1 Spiral bevel gear
Karakteristiknya terus menerus, smooth,kapasitas torque dan efesiensi
transmisi tinggi, karena itu tipe ini sekarang banyak di gunakan untuk
13



efesiensi bahan bakar kendaraan. Konstruksi antara poros dan ring gear pada
tipe ini satu garis lurus.

Gambar 2.10 spiral bevel gear

2.7.2 Hypoid gear
Hypoid gear mempunyai tipe spiral bevel gear,keduanya mempunyai
bentuk gear yang hampir sama, tetapi anatara poros drive gear dan driven
gear pada tipe hypoid tidak lurus (garis tengah pinion lebih rendah dari garis
tengah ring gear. Selain itu tipe ini lebih tahan lama dan tidak menimbulkan
kebisingan.

Gambar 2.11 hypoid gear

2.8 Gear ratio
Gear ratio adalah perbandingan antara jumlah gigi gear pemutar dan
jumlah gigi gear di putar, sehingga akan terjadi reduksi putaran. Reduksi
putaran akan meningkatkan torsi.diferential mempunyai berbagai jenis gear
ratio yang di sesuaikan dengan spesifikasi penggunaan mesin, Gear ratio
14



tergantung dari jumlah gigi yang ada pada pinion dan bevel gear. Semakin
besar gear ratio suatu diferential maka semakin besar pula momen yang di
hasilkan diferential tersebut. Untuk menghitung gear ratio ini dapat
menggunakan rumus.
Gear ratio= jumlah gigi ring gear
jumlah gigi drive pinion

2.9 Tooth contact
Jarak antara garis tengah bevel gear dan pinion sangat penting untuk
memungkinkan differential bias berumur panjang. pertautan gigi dan bevel
gear harus di bagian tengah tooth. lokasi pertautan, di sebut contact, harus di
periksa dengan menggunakan tinta warna, kejelekan tooth contact akan
mengurangi umur pakai dan abnormal noise pada differential atau bevel gear.

2.10 Planetary gear set
Planetary gear set digunakan pada berbaga sistem, contohnya torque
divider, planetary transmission, final drive dan lainlain. Dinamakan
planetary gear set karena operasinya menyerupai sistetatasurya. Berikut
adalah gambar komponen-komponen planetary gear set.

Gambar 2.12 planetary gear



15



a)Komponen pada planetary gear set adalah:
1. Planet gear disebut juga planetary gear, pinion atau idler gear.
Selain berputar pada porosnya, planet gear juga berputar
mengelilingi sun gear.
2. Carrier
3. Ring gear
4. Sun gear disebut juga centered gear.

Agar planetary gear dapat bekerja syaratnya yaitu:
Diberi input putaran
Salah satu komponen harus ditahan (ring gear, carrier atau
sun gear).

2.11 Bearing
Bearing adalah suatu komponen yang berfungsi untuk mengurangi
gesekan pada machine atau komponen-komponen yang bergerak dan saling
menekan antara satu dengan yang lainnya, atau mengurangi gesekan data
keausan serta hilangnya tenaga akibat bagian yang saling berputar.







Gambar 2.13. Bearing.

Bila gerakan dua permukaan yang saling berhubungan terhambat,
maka akan menimbulkan panas. Hambatan ini dikenal sebagai gesekan
16



(friction). Gesekan yang terus menerus akan menyebabkan panas yang makin
lama semakin meningkat dan menyebabkan keausan pada komponen tersebut.
Gesekan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pada komponen
dan alat tidak bisa bekerja.
Bearing digunakan untuk menahan / menyangga komponen-komponen yang
bergerak. Bearing biasanya dipakai untuk menyangga perputaran pada shaft,
dimana terjadi sangat banyak gesekan.

gambar 2.14 bearing pada input shaft

Tabel 2.1 Disassembly final drivegrader GD825A-2
No Langkah kerja Gambar
1 Lepaskan baut (11), kemudian lepaskan drive
shaft (12) dari coupling

2 Tarik keluar coupling (13) dari pinion shaft

17



3 Lepaskan tube (14) bersama dengan o-ring

4 1) lepaskan pipe (17) bersama dengan o-ring

5 Lepaskan tube (19) dan (20) kemudian lepaskan
flanges (21) dan (22)

6 Lepaskan side case mounting bolts (23) dan 24
washer (24), kemudian gantung dan lepaskan
side case assembly (25) dari center case

7 Lepaskan bolt (26) kemudian lepaskan plate
(27)

8 Gantung dan lepas carrier assembly

18



9 Lepaskan holder (34) dan shim (35)

10 Lepaskan sprocket (36) dari shaft

11 Lepas bearing (37) dari shaft

12 1) tarik keluar rear axle shaft assembly
(38)
2) lepaskan bolts (39), washer (40) dan
plate (41)

15 Lepaskan washer (42), o-ring(43) dan shim (44)

19



16 Gantung dan lepaskan flange (45)

17 1)Tarik keluar bushing (47)
2)lepaskan washer (49) dari side case (48)

18 Tarik keluar bearing (51) dari shaft (50)

19 Lepaskan ring gear (52) dari center case

20 Lepaskan snap ring (53) from axle shaft,
kemudian lepaskan collar (54) dan sun gear
(55)

20



21 Lepaskan axle shaft (56) dari center case

22 Remove cover (57)


23 Lepaskan bevel pinion assembly (58) bersama
dengan shim

24 Gantung bevel gear assembly (60)

21



25
1) lepaskan bolts (65), kemudian lepaskan
cage (62) dan (63)
2) lepaskan shim (64)
cek nomor dan ketebalan dari shim di
kiri dan kanan,dan simpan pada tempat
yang aman.
3) naikkan bevel gear assembly dan
lepaskan dari center case (61)
4) lepaskan bolts (67), kemudian lepaskan
gear (66)



Tabel 2.11 Proses assembly final drive GD 825A-2
1 Pasang bevel pada cover ceter case.

2 Pasang washer pada bagian belakang cover center
case.

22



3 Pasang set gear, kemudian pasang sross shaft pada
bagian atas set gear.

4 Assembly pinio gear untuk di pasang pada center
case.

5 Pasang pinion gear di ke 4 sisi shaft.

6 Pasang set gear di bagian atas.

23



7 Pasang bagian case untuk melengkapi center case
tersebut.


8 Tumpuk plate dan disc dengan di selingi oleh oli.

9 Pasang piston dan coover case bagian atas.

10 Pasang bearing inner ke pinion, tetapi bearing
panasi terlebih dahulu agar memuai.

11 -Kemudian pasang case yang telah terpasang outer
bearing ,setelah itu pasang bearing inner di cage.
-Setelah itu just dengan cara di tekan sampai
mendapatkan starting torque 1,3kg/m3.



24




12 Case shaft flange di olesi lnp.
lnp berfungsi sebagai pelumas flange agar tidak
terjadi keausan,karena grader tidak di lengkapi
dengan suspensi.



13 Gabungkan case shaft flange dengan pasangannya
bagian atas.

14 -Setelah itu pasang bushing warna hitam.
-Kemudian pasang plate,kemudian kencangkan 4
bolt torque 30-40 kg,agar bushing rapat untuk
menentukan ketebalan shim.

15 Selanjutnya lepas 4 bolt dan bushing di ukur dengan
depth .kemudian hasil ukuran dept di tambah 0.1.


25



16 Setelah itu pasang shim sesuai dengan hasil
pengukuran 0.5,0.2,0.1. Pasang plate dengan
keseluruhan baut dengan bolt torque 36 kg
(96kg/m3).


17 -Selanjutnya shaft di beri bearing yang telah di
panasi dan di beri spacer.
-Kemudian gabungkan shaft dengan carrier , pasang
holder dan bolt 36.dengan torque 96 kg/m3.


18 Gabungkan carrier dan flange.



19 Pasang sprocket.


20 Pasang holder di sprocket tetapi jangan terlalu
kencang , untuk di pasang shim dan menentukan
rotating torque.kencangkan dengan bolt 24.


26



21 Lakukan pengejustan dengan cara rotating torque
1.3 kg/m3.
(rotating torque > 1,5kg/m3 di tambah shim )
(rotating torque < 1.3 kg/m3 di kurangi shim)


22 Center case assy pasang di housing.

23 Cage di pasang di samping kanan kiri housing.
-Setelah itu pasang shim di ke 2 cage , semisal
pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di dapat 1,3
kg/m3 dengan catatan bearing inne rdi center case
tidak ada yang bunyi pada saat di putar . Setelah itu
angkat case assy.

24 Cage di pasang di samping kanan kiri housing
- Selanjutnya pasang shim di ke 2 cage ,semisal
pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di dapat 1,3
kg/m3 dengan catatan bearing inne rdi center case
tidak ada yang bunyi pada saat di putar .setelah itu
angkat case assy.


27



25 Pasang gear pada sisi kanan dan kiri housing.


26 Pasang shaft , sun gear dan ring gear.


27 Pasang final drive assy.



28 Pasang coupling ke pinion shaft.

28



39 Pasang drive shaft ke coupling.



2.12 Teori keausan
Keausan adalah hilangnya material dari permukaan benda padat sebagai
akibat dari gerakan mekanik. Keausan umumnya sebagai kehilangan material yang
timbul sebagai akibat interaksi mekanik dua permukaan yang bergerak sliding dan di
bebani. Ini merupakan fenomena normal yang terjadi jika dua permukaan saling
bergesekan, maka aka nada keausan. Atau perpindahan material. Apabila dua material
di tekan bersama maka akan terjadi kontak pada bagian permukaan. Keausan tidak
diinginkan karena material yang hilang akibat dari keausan akan menyebabkan
penurunan kerja suatu mekanisme. Pembentukan partikel keausan pada pasangan
permukaan sliding yang sangat rapat dapat menyebabkan mekanisme terhambat atau
bahkan macet meskipun umur peralatan masih baru (Mazzuco 2003)
Keausan akan terjadi lebih besar pada kondisi tanpa pelumasan di bandingkan
kondisi permukaan yang di beri pelumas dengan baik. Apabila permukaan yang keras
bergesekan dengan yang lebih lunak maka permukaan yang akan tergoreskan dengan
permukaan yang kasar, keausan juga bisa di sebabkan oleh patahan partikel keras
yang bergesekan di antara dua permukaan lebih lunak. Keausan terjadi karena adanya
partikel lebih keras dari permukaan yang bergeseka. Semakin kasar permukaan maka
tingkat keausan semakin besar (Bale 2009)

2.12.1 Mekanisme keausan terdiri dari :
Sebagaimana telah di sebutkan pada bagian, material jenis apapun akan mengalami
keausan dengan mekanisme yang beragam, yaitu keausan adhesive,keausan
abrasive,keausan oksidasi,keausan erosi.

29



2.12.1.1 Keausan adhesive ( Adhesive wear )
Terjadi bila kontak permukaan dari dua material atau lebih mengakibatkan adanya
perlekatansatu sama lainnya ( adhesive ) serta deformasi plastis dan pada akhirnya
terjadi pelepasan , pengoyakan salah satu material seperti di perlihatkan pada gambar
2 di bawah ini :

Gambar 2.15 keausan adhesive


Faktor yang menyebabkan adhesive wear :
1. Kecenderungan dari material yang berbeda untukmembentuk larutan padat
atau senyawa intermetalik.
2. Kebersihan permukaan.

Jumlah wear debris akibat terjadinya aus melalui mekanismeadhesif ini dapat
dikurangidengan cara ,antara lain :
1. Menggunakan material keras.
2. Material dengan jenis yang berbeda, misal berbedastruktur kristalnya.

2.12.1.2Keausan Abrasif ( Abrasive wear )
Terjadi bila suatu partikel keras (asperity) dari material tertentu meluncur pada
permukaan material lain yang lebih lunak sehingga terjadi penetrasi atau pemotongan
30



material yang lebih lunak, seperti gambar di bawah ini. tingkat keausan pada
mekanisme ini di tentukan oleh derajat kebebasan ( degree of freedom) partikel keras
atau asperity tersebut.

Gambar 2.16 keausan abrasive

Sebagai contoh partikel pasir silica akan menghasilkan keausan yang lebih tinggi
ketika diikatpada suatu permukaan seperti pada kertas amplas, dibandingkan bila
pertikel tersebut berada didalam sistem slury. Pada kasus pertama, partikel tersebut
kemungkinan akan tertarik sepanjangpermukaan dan akhirnya mengakibatkan
pengoyakan. Sementara pada kasus terakhir, partikeltersebut mungkin hanya berputar
( rolling ) tanpa efek abrasi.
Faktor yang berperan dalam kaitannya dengan ketahanan material terhadap
abrasivewear antara lain:

1. Material hardness
2. Kondisi struktur mikro
3. Ukuran abrasif
4. Bentuk

Abrasif Bentuk kerusakan permukaan akibat abrasive wear, antara lain :
1. Scratching
2. Scoring
3. Gouging

31



2.12.1.3 Keausan Oksidasi/Korosif ( Corrosive wear )
Proses kerusakan dimulai dengan adanya perubahan kimiawi material di permukaan
oleh faktor lingkungan. Kontak dengan lingkungan ini menghasilkan pembentukan
lapisan pada permukaandengan sifat yang berbeda dengan material induk. Sebagai
konsekuensinya, material akan mengarah kepada perpatahan interface antara lapisan
permukaan dan material induk danakhirnya seluruh lapisan permukaan itu akan
tercabut.


Gambar 2.17 keausan oksidasi

2.12.1.4 Keausan Erosi ( Erosion wear )
Proses erosi disebabkan oleh gas dan cairan yang membawa partikel padatan yang
membentur permukaan material. Jika sudut benturannya kecil, keausan yang
dihasilkan analog dengan abrasive. Namun, jika sudut benturannya membentuk sudut
gaya normal ( 90 derajat ), maka keausan yang terjadi akan mengakibatkan brittle
failure pada permukaannya, skematis pengujiannya seperti terlihat pada gambar di
bawah ini :

Gambar 2.18 keausan erosi


32



2.13 Sifat-sifat mekanik bahan
Deformasi terjadi bila bahan mengalami gaya. Regangan (strain) e,
adalah besar deformasi persatuan panjang, dan tegangan (stress) s , adalah gaya
persatuan luas. Selama deformasi, bahan menyerap energi sebagai akibat adanya
gaya yang bekerja sepanjang jarak deformasi. Kekuatan (strength) adalah ukuran
besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan.
Keuletan (ductility) dikaitkan dengan besar regangan permanen sebelum
perpatahan, sedangkan ketangguhan (toughness) dikaitkan dengan jumlah energy
yang diserap bahan sampai terjadi perpatahan. Seorang insinyur perancang
menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh sifat-sifat mekanik tersebut.
Untuk pipa baja, misalnya umumnya dipersyaratkan kekuatan yang tinggi. Dapat
juga dipersyaratkaan keuletan yang tinggi untuk meningkatkan ketangguhan.
Karena kekuatan dan keuletan umumnya tidak sejalan, ahli mekanik tersebut
kadang kala harus memadu keduanya untuk mencapai optimasi persyaratan.
(Candra Irawan).
Regangan elastic yang merupakan satu-satunya gejala deformasi dibawah
kekuatan luluh, akan terus naik dengan naiknya tegangan sampai terjadi
deformasi plastic. Regangan elastic ini mampu balik, sedangkan regangan
plastic tidak. Deformasi plastic pada umumnya terlokalisasi pada daerah susut.
a) Keuletan atau besar regangan plastic sampai perpatahan, dapat
dinyatakan dalam presentasi perpanjangan. Sebagaimana
halnya regangan besaran ini tidak berdimensi.
b) Kekuatan dan kekerasan ialah ketahanan suatu bahan terhadap
deformasi plastic atau tegangan pada waktu patah.
c) Kekerasan di definisikan sebagai ketahanan bahan terhadap
penetrasi pada permukaannya.
d) Ketangguhan adalah suatu energi yang diperlukan untuk
mematahkan bahan.


33



2.14 Gaya Gesekan
Gaya gesekan adalah gaya yang timbul akibat persentuhan langsung
antara dua permukaan benda, arah gaya gesekan berlawanan dengan
kecenderungan arah gerak benda. Besarnya gaya gesekan ditentukan oleh
kehalusan atau kekasaran permukaan benda yang bersentuhan.
1. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda tidak bergerak disebut gaya
gesekan statis.
2. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda bergerak disebut gaya
gesekan kinetis.
Besar gaya gesekan statis lebih besar dari gaya gesekan kinetis.

2.15 Analisa Patahan
Patah atau yang lebih dikenal dengan kata rupture pada dunia
teknik, dapat disebabkan oleh gaya luar secara spontan. Dalam banyak
kasus patah disebabkan oleh kelelahan pada area dimana stress lebih
besar dari batas kelelahan dan terjadi dalam waktu yang lama.
Untuk mata yang terlatih bentuk rupture akan menceritakan
sejarah terjadinya patah tersebut. Pengamatan yang hati-hati terhadap
bentuk patahan akan menjelaskan banyak faktor berguna, seperti patah ini
karena fatigue rupture atau forced rupture, titik mula patah, arah main
stress, besar stress, dan lain-lain. Dalam teknik mesin ada ilmu yang
menginvestigasi dan menganalisa kerusakan dari suatu komponen
berdasarkan data-data yang ada. Jenis-jenis failure :
a) Rupture (putus, patah) :
Forced rupture adalah jenis kerusakan yang disebabkan oleh
aplikasi beban satu arah secaratiba-tiba.
Fatigue rupture (70% penyebab kerusakan pada metal part),
adalah kerusakan dimana patahan berasal dari crack membesar
secara perlahan akibat aplikasi beban berulang-ulang dalam
waktu yang lama.
34



b) Surface deterioration (kerusakan permukaan)
Wear adalah berkurangnya lapisan material akibat kontak antara
dua permukaan atau lebih.
Surface fatigue adalah terkelupasnya permukaan disebabkan
oleh stress yang melebihi batas lelah.
Plastic yielding adalah deformasi akibat beban yang besar.

2.15.1 Pengamatan Rupture
Penyebab sejarah terjadinya rupture dapat ditunjukkan pada
permukaan yang patah. Tampilan permukaan yang patah
ditentukan oleh:
a) Bidang geser dan deformasi plastic, menceritakan apakah
rupture tersebut disebabkan oleh gaya yang tiba-tiba atau
kelelahan bahan.
b) Bentuk garis ombak (beach mark), menunjukkan bentuk dan
besarnya tegangan (stress), juga kekersan material.
c) Posisi, jumlah dan bentuk stress nuclei beach mark dan lokasi
dari final zone, menentukan tipe stress, arah stress, rupture
starting point dan besarnya stress raiser. Stress raiser adalah
nama umum untuk menyebut faktor penyebab konsentrasi
stress.

2.15.2 Fatigue Rupture
Fatigue rupture dapat diketahui dengan cara melihat ciri-
ciri yang dimiliki yaitu, retakan yang terjadi perlahan lahan
selama beberapa jam, hari dan bulan atau tahun. Kerusakan
yang halus, tanda retakan dan warna yang cerah atau
mengkilat. Perbedaan antara fatigue rupture dengan forced
rupture dapat diketahui dengan cara menganalisa posisi
35



nucleus atau awal crack dan arah main stress atau arah
bergeraknya crack.
Nucleus atau awal mula crack dapat diketahui dengan cara
melihat titik dimana beach mark mengembang (convergen),
dan posisinya bersebrangan dengan final rupture zone, juga
nucleus biasanya berada pada titik dimana rachet mark
mengembang.




Gambar 2.19 fatigue crack growth

2.16 MAI NTENANCE (PERAWATAN)
Maintenance adalah suatu kegiatan service untuk mencegah timbulnya
keausan tidak normal (kerusakan) sehingga umur alat dapat mencapai atau
sesuai umur yang direkomendasikan oleh pabrik.

2.16.1. Tujuan
Agar suatu alat selalu dalam keadaan siaga siap pakai (High
Avaibility : berdaya guna Physic yang tinggi).
Agar suatu alat selalu dalam kondisi yang prima, berdaya guna
mekanis yang paling baik (Best Performance).
Mencegah gangguan produksi.
Mengurangi biaya perbaikan yang lebih besar.

2.16.2. Klasifikasi Maintenance
1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan
dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan timbulnya gangguan
36



atau kerusakan pada alat / machine. Perawatan ini dilakukan tanpa
perlu menunggu tanda-tanda terjadinya kerusakan.

2. Periodic Maintenance
Periodic Maintenance pelaksanaan service yang harus
dilakukan setelah peralatan bekerja untuk jumlah jam operasi
tertentu. Jumlah kerja jam ini adalah sesuai dengan jumlah yang
ditunjukkan oleh pencatat jam operasi (service meter) yang ada
pada alat tersebut.

















37




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dirancang sebagai field researh yaitu penelitian lapangan yang
melibatkan pengumpulan data primer atau informasi baru dan terkait dengan kondisi
nyata yang ada di lapangan dengan metode observasi deskriptif melalui observasi.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian dan pengumpulan data pada saat On The Job
Training di PT. Komatsu Remanufacturing Asia Balikpapan. Waktu penelitian
dilaksanakan selama 5 bulan yang dimulai pada tanggal 8 Juni sampai dengan 29
Desember 2013.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini, penulis mengumpulkan data
berdasarkan pada teori-teori yang di peroleh selama di bangku kuliah dan pada saat
On The Job Training di PT. Komatsu Remanufacturing Asia Balikpapan.
Pengumpulan data-data dari hasil job dan intreview dengan mekanik. Sedangkan
pengumpulan data secara manual adalah dengan mengambil dari Failure Analisis
Report (FAR) dari mekanik, Part Book, Emergency Trouble Rreport (ETR), serta
buku-buku Referensi lainnya.
Dalam pengumpulan data, ada beberapa teknik yang di terapkan oleh penulis,
yaitu sebagai berikut :
1. Observasi yaitu pengamatan, pengambilan foto-foto dan pencatatan
secara sistematis langsung pada objek yang dituju, untuk memperoleh
data atau informasi yang di perlukan dalam menganalisa permasalahan.
38



2. Dokumentasi yaitu dengan pengumpulan data-data dari mempelajari,
Emergency Trouble Rreport (ETR), Internet dan lain-lain yang
berhubungan dengan masalah yang diangkat, sebagai pedoman dan
refrensi.
3. Melakukan wawancara dengan mekanik.

Tabel 3.1 Pengumpulan data dan metode Pengumpulan data
kelompok
Data
Data Jenis Data Metode/Sumber
Kualitatif Data kerusakan Primer Wawancara mekanik
Landasan Teori sekunder Buku
referensi,internet,shop
manual
Kuantitatif Input shaft broken primer Observasi Lapangan
Emergency Trouble
Rreport (ETR)
Sekunder Laporan Mekanik

3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan,
memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa
dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan
suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis.
Alat alat untuk penelitian :
1. Alat tulis
2. Failure Analysis Report dan Service Manual
3. Kamera
4. Tools
39



5. Komputer
6. Majun
7. Chemical
8. Sarung Tangan
3.5 Diagram alir metode penelitian




TAHAP PERSIAPAN





TAHAP PENGUMPULAN DATA







TAHAP PENGELOMPOKAN DATA

Mulai
Identifikasi dan
Rumusan Masalah
Observasi Dokumentasi
Studi Lapangan
llLapangaLapangan
Studi Literatur

Service manual Internet
Identifikasi
Variabel
Data primer
1. Input shaft broken
2. Photo Trouble
Data sekunder
1. Emergency Trouble
Report (ETR)
2. Finding Analysis Report
Pengolahan data

40




TAHAP ANALISA DAN
KESIMPULAN

Gambar 3.1 Diagram Alir Masalah


3.5.1 Tahap Persiapan
Memulai identifikasi dan rumusan masalah objek yang akan diteliti guna
mempersiapkan perlengkapan yang digunakan pada saat melakukan penelitian objek
tersebut.

3.5.2 Tahap Pengumpulan Data
Studi Lapangan
1. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengumpulan data-data dari mempelajari shop manual,
dan lain-lain, yang berhubungan dengan permasalahan yang terjadi pada
inpu shaft broken.
2. Observasi
Observasi yaitu pengamatan. Pengambilan foto-foto dan pencatatan secara
sistematis secara tidak langsung pada kerusakan yang terjadi pada input
shaft. Agar dapat memperoleh data-data atau informasi, yang diperlukan
untuk menganalisis permasalahan yang terjadi pada input shaft.
Studi Literatur
1. Service Manual
Service Manual adalah sebagai sumber pedoman untuk menganalisis suatu
masalah.Untuk mengetahui komponen final drive, komponen final drive
serta cara assembly dan dissasembly yang benar. Maka shop manual
Analisa Permasalahan

Selesai
Kesimpulan dan Saran

41



sangat diperlukan sekali untuk membantu dalam penyelesaiaan suatu
analisa.
2. Internet
Internet juga sangat diperlukan untuk menambahkan referensi dan hal-hal
lain yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menganalisis suatu
kerusakan.


3.5.3 Tahap Pengelompokan Data
Data Primer
1. Input shaft broken
Mengumpulkan data - data komponen input shaft yang mengalami
kerusakan pada saat pembongkaran dan inspection component.
2. Photo Trouble
Pengambilan gambar pada komponen input shaft yang rusak sebagai bukti
penelitian.
Data Sekunder
1. ETR (Emergency Trouble Report)
Bukti laporan pekerjaan bahwa komponen tersebut mengalami kerusakan.
2. Data wawancara
Sebagai bukti wawancara dari technician tentang penyebab terjadinya
kerusakan pada input shaft broken.

3.5.4 Tahap Analisa dan Kesimpulan
Pengolahan Data
Berdasarkan data-data yang telah di dapat, kemudian data-data tersebut
diolah, untuk menentukan langkah awal dalam menganalisis suatu
permasalahan.Kemudian data-data tersebut di olah untuk bisa menemukan
suatu permasalahan yang terjadi.
Analisa Permasalahan
42



Setelah melakukan pengolahan data-data tersebut di analisis untuk
menentukan kerusakan yang terjadi sesuai dengan fakta yang terjadi di
lapangan.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, penulis dapat
menyimpulkan suatu penyabab kerusakan yang terjadi pada input shaft
tersebut. Kemudian setelah selesai menyimpulkan sesuatu si penulis
selanjutnya penulis membuat saran agar kerusakan dapat di minimalisir untuk
menghemat biaya service.