Anda di halaman 1dari 25

Menganyam Kiat Memperjuangkan Hak-Hak Menganyam Kiat Memperjuangkan Hak-Hak

Masyarakat Adat di Indonesia Masyarakat Adat di Indonesia


Sebuah Pendekatan Berperspektif Hukum Internasional
Hak Asasi Manusia
Oleh
Eddie Riyadi Terre
ipresentasikan Pertama Kali
pada !raining Monitoring Hak "konomi# Sosial dan Budaya
$% & '( Agustus '))' di Hotel Bumi *iyata# epok
+akarta
iselenggarakan oleh
,P-"S & ,embaga Penelitian# Pendidikan dan Penerangan
"konomi dan Sosial# +akarta
Menganyam Kiat Memperjuangkan Hak-Hak Menganyam Kiat Memperjuangkan Hak-Hak
Masyarakat Adat di Indonesia Masyarakat Adat di Indonesia
Sebuah Pendekatan Berperspektif Hukum Internasional Hak Asasi Manusia
.
Oleh Eddie Riyadi Terre
P"/AH0,0A/
Kurang lebih 350 juta penduduk dunia ini adalah indigenous peoples.
1
Sebagian besarnya
hidup di daerah-daerah terpencil. Mereka terdiri dari kurang lebih 5000 masyarakat yang
menyebar mulai dari masyarakat hutan (forest peoples) di ma!"n hingga masyarakat adat
(tribal peoples) di #ndia dan merentang dari suku #nuit di rktika hingga masyarakat b"rigin
di ustralia. $ada umumnya mereka menduduki dan mendiami %ilayah yang sangat kaya
mineral dan sumber daya alam lainnya.
&
'e%asa ini( seiring gencarnya gerakan hak asasi manusia( gerakan memperjuangkan
hak-hak masyarakat adat pun semakin menemukan bentuk dan %adahnya.
3
)amun( perhatian
internasi"nal ini bukanlah sebuah *en"mena baru. $erhatian ini sudah muncul sejak
pertengahan pertama abad sembilan belas berupa perhatian terhadap masyarakat asli
(aborigine) dan pribumi (tribal) di %ilayah-%ilayah k"l"ni.
+
#su masyarakat adat ini akhirnya
memasuki %ilayah perbincangan $,, secara khusus berkat inisiati* Mr. -he" .an ,".en.
$ada tahun 1/0&( dibentuklah 1) 2"rking 3r"up "n #ndigen"us $"pulati"ns meskipun baru
sebagai pre-sessional kel"mp"k kerja dari Subc"mmissi"n "n $re.enti"n "* 'iscriminati"n
and $r"tecti"n "* Min"rities (sekarang bernama Sub-4"mmissi"n "n the $r"m"ti"n and
$r"tecti"n "n 5uman 6ights). Kel"mp"k kerja tersebut mulai bekerja pada tahun 1/0& dengan
dua tugas p"k"k yaitu7 pertama, membuat kriteria untuk menentukan k"nsep tentang
indigenous peoples, dan kedua, mengembangkan standar sebagai ped"man bagi negara-negara
angg"ta $,, dalam kaitan dengan hak-hak masyarakat asli( pribumi( adat dan min"ritas di
%ilayah kedaulatannya masing-masing.
5
8
-ulisan ini merupakan .ersi update dari .ersi sebelumnya yang dipresentasikan dalam -raining
M"nit"ring 5ak 9k"n"mi( S"sial dan ,udaya( yang diselenggarakan "leh :$39S ; :embaga $enelitian(
$endidikan dan $enerangan 9k"n"mi dan S"sial( 1/ ; &0 (&&) gustus &00& di 5"tel ,umi 2iyata( 'ep"k(
<akarta.
1
'alam tulisan ini( indigenous peoples dan tribal peoples diterjemahkan sebagai =masyarakat adat>.
$ada bagian kedua tulisan ini akan dijernihkan penggunaan istilah-istilah yang terkait dengan indigenous
peoples ini( yang hingga sekarang sering dipakai secara simpang siur.
&
:ihat #23#( =#ndigen"us #ssues> hlm. 1( a.ailable "nline at7 http7??%%%.i%gia."rg?p"p@up.htmlAidB3.
3
Sekadar me%akili saja( di tingkat $,, kita kenal adanya 2"rking 3r"up "n #ndigen"us $"pulati"ns(
2"rking 3r"up "n the 'ra*t 'eclarati"n "n the 6ights "* #ndigen"us $e"ples( $ermanent C"rum "n
#ndigen"us #ssues( dsb.
+
#stilah aborigine dan tribal ini sangat bias k"l"nial. Mereka menggunakan istilah itu untuk mengatakan
bah%a masyarakat tersebut sangat terkebelakang dan primiti*.
5
:ihat -apan ,"se( ='e*initi"n and 'elimitati"n "* the #ndigen"us $e"ples "* sia>( #23#( a.ailable
"nline at7 http7??%%%.i%gia."rg?p"p@up.phtmlAidB30/.
&
Keprihatinan internasi"nal itu tidak terlepas dari masalah yang dihadapi indigenous
peoples ; atau apa pun istilah dan namanya ; di seluruh dunia. $ada dasarnya( masalah yang
mereka hadapi sangat beragam.
D
1ntuk memudahkan kajian( di sini saya kel"mp"kkan
masalah-masalah itu dalam tiga masalah utama. Saya katakan sebagai masalah utama karena
memang ketiga masalah itulah yang sering menjadi inti perjuangan dan gerakan masyarakat
adat di seluruh dunia. Masalah itu adalah pertama, masalah hubungan masyarakat adat dengan
tanah( %ilayah dan sumber daya alam di mana mereka hidup dan dari mana mereka
mendapatkan penghidupannyaE kedua, masalah self-determination yang sering berbias p"litik
dan hingga sekarang masih menjadi perdebatan sengitE ketiga, masalah identification( yaitu
s"al siapakah yang dimaksudkan masyarakat adat itu( apa saja kriterianya( apa bedanya
dengan masyarakat yang bukan adat?asli?pribumi (non-indigenous peoples).
F
'alam karya ini( saya menc"ba mengangkat ketiga masalah utama itu dengan
penekanan pada masalah pertama yaitu hubungan masyarakat adat dengan tanah( %ilayah( dan
sumber daya alamnya.
0
#tulah tujuan pertama dari tulisan ini. -ujuan kedua adalah memetakan
p"sisi dan hak-hak masyarakat adat dalam hukum internasi"nal hak asasi manusia. Ketiga(
tulisan ini menguraikan mekanisme perlindungan internasi"nal hak-hak asasi manusia yang
bisa digunakan untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Kedua hal yang disebutkan
terakhir ini saya pandang penting diketengahkan terutama dalam kerangka ad."kasi mulai dari
m"nit"ring dan in.estigasi hingga ke mekanisme yudisial dan n"n-yudisial yang berdampak
pada penyelesaian masalah-masalah masyarakat adat. Saya juga menc"ba mena%arkan strategi
dan kiat tingkat l"kal #nd"nesia berdasarkan pendekatan internasi"nal tersebut.
P"1MASA,AHA/ 2,OBA, MAS3A1AKA! AA!
$4 Hubungan dengan !anah# *ilayah dan Sumber aya 5Alam6
Masalah yang paling krusial dan urgen untuk dipecahkan adalah s"al tanah. Masalah ini
sebenarnya bera%al dari adanya d"ktrin kepemilikan (doctrine of dispossesion) terhadap
daerah-daerah yang disebut sebagai terra nullius( tanah tak bertuan. Kaum k"l"nialis dan
penyebar agama (Kristen) dari 9r"pa beranggapan bah%a tanah-tanah yang mereka datangi itu
adalah tanah yang tidak berpemilik. Kalaupun mereka menjumpai manusia lain di tanah atau
negeri yang mereka datangi itu( mereka menganggapnya sebagai =makhluk yang perlu
dit"batkan dan diadabkan>. '"ktrin ini berimplikasi lebih lanjut pada teralienasinya
masyarakat adat dari tanah di mana mereka hidup dan tinggal. $adahal( bagi masyarakat adat(
tanah bukanlah sekadar sebagai sumber penghidupan secara ek"n"mi. #a lebih dari itu.
D
:ihat 9rica-#rene . 'aes( Indigenous Peoples and Their Relations to Land( *inal %"rking paper(
4"mmissi"n "n 5uman 6ights( 9?4).+?Sub.&?&001?&1( 11 <uni &001( hlm. 10.
F
'i sini saya mengacu pada buku yang ditulis <ens 'ahl dan lejandr" $arellada yang dilengkapi
beberapa tulisan lain untuk .ersi #nd"nesianya( asyarakat !dat di "unia, Eksistensi dan Per#uangannya,
#23# dan #nstitut 'ayak"l"gi( $"ntianak( &001. :ihat juga tulisan <"hn ,amba( =Masyarakat dat di
'unia( $erjuangan 3l"bal dan -antangan :"kal>( makalah pada $elatihan )asi"nal Masyarakat dat untuk
5M dan $"licy $r"cess( $"ntianak( F pril &00&.
0
$entingnya masalah ini dapat dilihat dari ditunjuknya secara khusus 9rica-#rene . 'aes sebagai special
rapporteur untuk mengkaji masalah hubungan masyarakat adat dengan tanah( terit"ri?%ilayah dan sumber
dayanya. :ihat supra note $ %.
3
1ntuk menggambarkan hubungan masayarakat adat dengan tanahnya( berikut ini saya
mengutip pendapat dan pandangan beberapa pakar masyarakat adat. $r"*es"r 6"bert .
2illiams mengatakan bah%a
masyarakat adat telah menekankan bah%a dasar spiritual dan material dari identitas kultural mereka
dipertahankan "leh hubungan mereka yang unik dengan %ilayah tradisi"nal mereka yang turun
temurun.
&
$r"*es"r <ames Sakej 5enders"n berupaya mengilustrasikan hubungan dan kerangka
kerja k"nseptual yang khas ini dengan mengatakan bah%a
pandangan b"riginal terhadap kemiskinan berdasarkan pada pemahaman ruang ek"l"gis yang
memberikan kita kesadaran( dan bukan berdasarkan suatu k"nstruksi ide"l"gis G $andangan mereka
berasal dari suatu realitas berbeda yang diselusupkan ke dalam ruang suci G 5al itu bersi*at
*undamental bagi identitas( kepribadian dan kemanusiaan mereka G pengertian tentang diri (self) tidak
terletak melulu pada kedunia%ian tubuh mereka( tetapi berlanjut dan mendapatkan sebagian
kepenuhannya pada hubungan batin mereka dengan tanah di mana dan dari mana mereka hidup dan
ber"leh hidup.
'(
$endapat terakhir saya kutip dari <"sH 6. MartIne! 4"b"( se"rang $elap"r Khusus $,,
untuk masalah diskriminasi terhadap masyarakat adat. #a mere*leksikan secara umum
artikulasi masyarakat adat terhadap hubungan yang khas itu. MartIne! 4"b" menyatakan
dalah sangat esensial untuk mengetahui dan memahami hubungan spiritual khusus yang mendalam
antara masyarakat adat dengan tanahnya. Sebab hal itu sangat sangat mendasar sama seperti kehidupan
mereka sendiri( keyakinan( adat-istiadat( tradisi dan kultur mereka. G
,agi mereka( tanah tidak melulu dipandang sebagai harta milik dan alat pr"duksi. 5ubungan utuh antara
kehidupan spiritual masyarakat adat dan #bunda ,umi( dan dengan tanah mereka( memiliki sejumlah
implikasi yang sangat penting. -anah bagi mereka bukanlah suatu k"m"ditas yang dapat diper"leh(
tetapi suatu elemen material yang dapat dinikmati secara bebas.
''
5akikat khas hubungan masyarakat adat dengan tanahnya juga termaktub dalam dra*
deklarasi $,, tentang hak-hak masyarakat adat ()nited *ations "raft "eclaration on the
Rights of Indigenous Peoples)( baik di dalam pembukaannya maupun di dalam pasal-pasal
"perati*nya. Secara khusus hal itu termaktub dalam pasal &57
Masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan dan mengembangkan hubungan khas mereka baik
secara spiritual maupun material dengan tanah( terit"ri( air dan %ilayah-%ilayah lepas pantai( dan
sumber-sumber lainnya yang secara tradisi"nal atau turun temurun telah mereka miliki( atau bisa juga
yang telah mereka duduki atau gunakan selama jangka %aktu yang sudah lama sekali( dan meningkatkan
tanggung ja%ab mereka akan nasib generasi masa depan.
/
6"bert . 2illiams( =9nc"unters "n the *r"ntiers "* internati"nal human rights la%7 rede*ining the terms
"* indigen"us pe"plesJ sur.i.al in the %"rl>( "uke La+ ,ournal, 1//0( hlm. /01.
10
<ames Sakej 5anders"n( =MikmaK -enure in tlantic 4anada>( "elhousie La+ ,ournal, ."l. 10( )". &(
1//5( hlm. 1/D. $endapat 5anders"n ini saya kutip dari 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, <uni &001.
11
<"sH 6. MartIne! 4"b"( .tudy of the Problem of "iscrimination against Indigenous Populations, 1nited
)ati"ns $ublicati"ns( sales )". 9. 0D. L#M. 3( paragra* 1/D dan 1/F( 1/0F.
+
'ari berbagai paparan di atas( 'aes kemudian menggarisba%ahi sejumlah elemen yang
bersi*at unik bagi masyarakat adat. Keunikan itu dapat digambarkan sebagai berikut7 (i) suatu
hubungan erat muncul antara masyarakat adat dengan tanahnya( terit"ri dan sumber daya yang
terdapat di dalam dan di atas tanah atau terit"ri merekaE (ii) hubungan ini memiliki berbagai
dimensi s"sial( kultural( spiritual( ek"n"mis dan p"litik( dan juga mengimplikasikan adanya
tanggung ja%abE (iii) dimensi k"lekti* dari hubungan ini merupakan sesuatu yang sangat
signi*ikanE dan (i.) aspek lintas-generasi dari hubungan semacam itu juga bersi*at krusial bagi
identitas masyarakat adat( dan bagi kelangsungan hidup serta .iabilitas (kelanggengan)
budayanya.
1&
Selanjutnya( 9rica 'aes menata berbagai pr"blem utama tersebut dalam sebuah
kerangka analitis yang akan sangat membantu mengklari*ikasi permasalahan itu sendiri dan
sekaligus mengidenti*ikasi berbagai s"lusi yang mungkin. Kerangka analitisnya akan
diuraikan seperti berikut.
13
Pertama, negara gagal menyatakan pengakuannya terhadap hak masyarakat adat atas
tanah( terit"ri( dan kepemilikan. da dua hal yang termasuk dalam kateg"ri ini( yaitu7
kegagalan negara mengakui eksistensi masyarakat adat dalam hal peman*aatan( penguasaan
dan pemilikan lahanE dan kegagalan negara menentukan status hukum yang tepat( kapasitas
yuridis yang memadai( dan hak-hak hukum lainnya yang penting.
Kedua, negara masih mengeluarkan dan memberlakukan undang-undang dan kebijakan-
kebijakan diskriminati* yang mempengaruhi masyarakat adat dalam kaitan dengan
kepemilikan mereka atas tanah. 1ndang-undang dan kebijakan itu bisa berupa tiga hal( yaitu7
undang-undang yang berkaitan dengan pengingkaran hak-hak masyarakat adat atas tanah dan
sumber dayanyaE d"ktrin ke%enangan mengikuti pertemuanE dan penghapusan perjanjian dan
hak atas tanah.
Ketiga, negara tidak mampu mengusahakan dan menetapkan garis batas tanah yang
menjadi %ilayah =kedaulatan> masyarakat adat. ,erdasarkan *rekuensi dan cakupan berbagai
gugatan (complaint) yang muncul( masalah yang paling parah sekarang ini adalah kegagalan
negara menetapkan atau menentukan garis batas %ilayah.
1+
$enentuan garis batas tanah adalah
sebuah pr"ses *"rmal dalam mengidenti*ikasi l"kasi yang sebenarnya dan batas luar tanah atau
%ilayah kekuasaan masyarakat adat. 5al ini biasanya dilakukan dengan memberikan tanda
batas di tanah. $engakuan secara hukum atau secara abstrak terhadap tanah masyarakat adat(
terit"ri atau sumber daya dapat menjadi tidak berarti sama sekali jika identitas *isik harta milik
masyarakat adat tersebut tidak ditentukan atau diberi tanda.
Keempat, negara gagal dalam memberlakukan hukum yang melindungi tanah-tanah
masyarakat adat. Kegagalan negara ini membuat masyarakat adat kemudian menyadari bah%a
mereka tidak dapat melindungi hak mereka atas tanah-tanah adat beserta kekayaan alamnya
karena mereka tidak memiliki sarana yang e*ekti* di hadapan pengadilan atau tidak memiliki
kemungkinan mendapatkan perlindungan dan penanganan secara hukum. ,ahkan lebih buruk
lagi( praktik-praktik kekerasan( intimidasi( dan kese%enangan justru menghalangi setiap upaya
hukum yang mereka lakukan.
1&
9rica-#rene . 'aes( op- cit-( <uni &001( paragra* &0.
13
:ihat 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, <uni &001( paragra* 33 ; 0+( hlm. 10 ; &0.
1+
$ernyataan ini diungkapkan "leh 6"Kue 6"ldNn Ortega dalam lap"ran hasil 9Ppert Seminar "n $ractical
9Pperiences 6egarding #ndigen"us :and 6ights and 4laims( 4anada( &+ ; &0 Maret 1//D yang dikutip
kembali "leh 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, <uni &001( paragra* 50.
5
-erkadang( di beberapa negara tidak terdapat sistem hukum yang e*ekti* untuk
mendapatkan penanganan hukum. ,isa juga( masyarakat adat tidak dapat membayar para
pengacara atau kuasa hukum( atau mereka tidak bisa berbicara dalam bahasa yang biasa
dipergunakan resmi di pengadilan atau badan-badan hukum lainnya. ,ahkan mereka mungkin
juga tidak mampu menempuh perjalanan ke tempat di mana pengadilan itu berada( atau
lembaga-lembaga hukum yang rele.an. tau( mereka memang sungguh tidak tahu bah%a
memang ada pemulihan berdasarkan hukum itu. Sebagaimana halnya dengan hak-hak asasi
manusia pada umumnya( kemiskinan( keterpencilan ge"gra*is( perbedaan budaya dan bahasa
antara masyarakat adat dengan masyarakat lain yang mend"minasi negara( memang turut serta
menciptakan temb"k yang tinggi parit yang dalam bagi dimungkinkannya perjuangan
melindungi hak-hak mereka atas tanah( %ilayah?terit"ri dan berbagai sumber daya atau
kekayaan alamnya.
Kelima adalah masalah berkaitan dengan klaim atas tanah dan pengembalian hak atas
tanah. Kisah yang panjang dan sarat derita berupa penyingkiran dan pendepakan masyarakat
adat dari kepemilikan mereka atas tanah dan %ilayahnya telah mendatangkan serangkaian
akibat nestapa bagi masyarakat adat. Mereka praktis tidak memiliki tanah lagi( atau memiliki
tetapi sangat terbatas dan tidak memadai( untuk mempertahankan kelangsungan hidup beserta
kebudayaan mereka. ,arangkali kenyataan seperti itu tidak mencerminkan keseluruhan
permasalahan masyarakat adat( tetapi bagi kebanyakan masyarakat adat( tetaplah masa depan
mereka tergantung pada sejauh mana mereka bisa memper"leh tanah dan sumber daya yang
diperlukan untuk menjamin kelangsungan pembangunan ek"n"mi dan kecukupan dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Masalah yang paling serius biasanya muncul di negara-negara di
mana tidak ada upaya penanganan hukum dan tidak tersedia mekanisme hukum dan p"litik
yang diperlukan untuk mempr"ses atau menyelesaikan klaim-klaim atas tanah masyarakat
adat. da lap"ran bah%a di )epal(
15
sebagai misal( sama sekali tidak ada kemungkinan bagi
penanganan hukum atau mekanisme p"litik dan hukum yang bisa digunakan masyarakat adat.
$adahal mereka praktis sama sekali kehilangan semua tanah dan sumber daya alamnya.
Keenam adalah masalah pengambilalihan tanah-tanah adat demi kepentingan nasi"nal(
termasuk demi pembangunan. Kebijakan hukum k"l"nialisme barangkali merupakan yang
paling akut di daerah-daerah di mana tanah( %ilayah( dan sumber daya yang dimiliki
masyarakat adat dicapl"k begitu saja "leh pemerintah demi kepentingan ek"n"mi nasi"nal dan
pembangunan. 'i berbagai belahan dunia( masyarakat adat sedang dihalangi dalam upaya
mereka mengajukan tuntutan pelaksanaan pembangunan yang mengindahkan nilai( perspekti*(
dan kepentingan khusus mereka. -erpusatnya kekuasaan hukum( ek"n"mi( dan p"litik yang
sangat besar di tangan negara telah memperparah masalah pembangunan dan hak-hak
masyarakat adat atas tanah( terit"ri dan sumber dayanya. Sebagai c"nt"h( di #nd"nesia(
dilap"rkan bah%a pemerintah memang berniat untuk mengh"rmati adat( atau hak-hak
adiluhung masyarakat adat( sejauh kepentingan negara tidak terancamE akan tetapi
pembangunan ek"n"mi adalah bagian tak terpisahkan dari kepentingan nasi"nal( dan hak
masyarakat adat (yang merupakan =kepentingan khusus> sebagai la%an =kepentingan umum>
atau =kepentingan nasi"nal>) dengan demikian diabaikan.
1D
15
:ap"ran dari Manju Qalthumba et al. kepada Mr. <"hn $ace( 5 <anuari 1//0E dikutip "leh 9rica-#rene .
'aes( op- cit-( <uni &001( paragra* 5D.
1D
-entang realitas ketercerabutan masyarakat adat demi dalih pembangunan nasi"nal di #nd"nesia tercatat
dalam lap"ran pengamatan lan -hein 'urning( =3uardians "* the :and7 indigen"us pe"ples and the health
"* the 9arth>( /orld+atch Paper 11&( 'esember 1//&( hlm. &D.
D
Ketu#uh adalah masalah penyingkiran dan pemindahan (rel"kasi). $emindahan
masyarakat adat dari tanah mereka dan dari %ilayah kekuasaan mereka merupakan sebuah
pr"blem k"ntemp"rer yang serius dan me%arnai sejarah kemanusiaan kita de%asa ini( yang
terjadi hampir di seluruh belahan dunia. ,eberapa )egara menganggap tindakan semacam itu
sebagai sebuah s"lusi yang tepat atau cara yang sesuai untuk =mengalihkan> masalah. rtinya(
negara berdalih bah%a tindakan semacam itu diambil demi =menyelamatkan> masyarakat adat
(bandingkan dengan argumentasi reser0ation untuk bangsa #ndian di merika Serikat).
Kebijakan seperti itu lebih tepat jika dipandang sebagai tindakan menunda-nunda pemecahan
masalah yang sebenarnya yaitu mengak"m"dasikan hak dan kepentingan masyarakat adat
yang terancam atau terkena pelanggaran.
'i sini( termin"l"gi pemindahan secara =paksa> digunakan untuk menggambarkan
tindakan yang kejam dan berkesinambungan( tindakan yang dilakukan "leh pemerintah
terhadap masyarakat adat( yang dilakukan tanpa mempedulikan kepentingan masyarakat adat(
untuk memindahkan mereka dari tanah di mana mereka tinggal dan hidup.
Kedelapan adalah pr"gram dan kebijakan pemerintah yang tidak mengindahkan
hubungan masyarakat adat dengan tanah( terit"ri dan sumber dayanya. $r"gram dan kebijakan
itu bisa berupa penye%aan tanah kepada indi.idu tertentu (bukan angg"ta masyarakat adat)
yang berakibat pada hilangnya hak masyarakat adat atas tanah tersebut. 5al serupa juga terjadi
pada pr"gram peminjaman dana dengan jaminan tanah yang didiami dan dimiliki masyarakat
adat dan pr"gram pemukiman. 5al lainnya lagi yang tampak l"gis tapi sangat menindas adalah
s"al k"nsep tanggung #a+ab negara. )egara mengklaim memiliki semua tanah dan %ilayah
serta kekayaan yang terdapat di dalam %ilayah kedaulatannya sebagai %ujud tanggung
ja%abnya bagi kesejahteraan seluruh rakyat negaranya. Qang tidak kalah seriusnya adalah
s"al campur tangan negara untuk mengurus tempat-tempat suci dan upaya pelestarian budaya.
-ampaknya baik. Qang menjadi s"al adalah kalau campur tangan negara itu kemudian
bertentangan dengan kebiasaan atau keyakinan masyarakat adat dalam ritus berkaitan dengan
tempat suci tersebut. palagi( jika campur tangan negara kemudian bermakna sebagai
pelarangan tersembunyi bagi praktik dan praksis religius dan kultural masyarakat adat yang
bersangkutan.
Kesembilan, negara gagal melindungi keutuhan lingkungan tanah dan %ilayah
masyarakat adat. Masalah degradasi atau kerusakan lingkungan dan masalah yang berkaitan
dengan pembangunan memberikan ilustrasi tentang kegagalan negara atas sebuah isu yang
khusus yaitu melindungi keutuhan tanah( %ilayah( dan sumber daya masyarakat adat dari
dampak-dampak buruk yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. :ebih jauh
lagi( pers"alan ini berkaitan dengan masalah lingkungan gl"bal selain juga dengan kebijakan
perlindungan atau pelestarian lingkungan di tingkat nasi"nal.
Kesepuluh adalah masalah peman*aatan dan pengel"laan tanah serta sumber daya di
dalamnya( dan internal self-determination dalam kaitan dengan tanah( %ilayah dan sumber
daya yang dimiliki masyarakat adat. Sebuah dimensi penting untuk menguatkan klaim
kepemilikan masyarakat adat atas tanahnya adalah diberikannya kesempatan bagi mereka
untuk meng"ntr"l tanah( %ilayah dan sumber dayanya melalui institusi-institusi l"kal yang
mereka miliki. Kendati hak atas tanah( %ilayah( dan sumber daya alam kemudian menjadi kuat
di satu sisi( tetapi di pihak lain kemungkinan untuk mempraktikkan internal self-
determination (penentuan nasib sendiri sebuah suku bangsa atau sebuah masyarakat tertentu
yang berada dalam %ilayah yurisdiksi suatu negara) ; berupa %e%enang untuk meng"ntr"l
pembuatan keputusan berkaitan dengan pembangunan( peman*aatan sumber daya alam(
F
pertimbangan manajemen dan k"nser.asi( tetap tidak diperhatikan. Sebagai c"nt"h( di satu sisi
masyarakat adat mungkin saja bebas melaksanakan kegiatan ek"n"mi tradisi"nal mereka ;
semisal berburu( menangkap ikan( berburu dengan memasang perangkap( mengumpulkan hasil
hutan atau bertani ; tetapi di pihak lain mereka bisa saja tetap tidak bisa meng"ntr"l
pembangunan yang justru menghancurkan dan menghalangi kegiatan-kegiatan seperti itu.
2. Self-etermination
17
Masalah kedua adalah s"al self-determination- K"nsep self-determination berasal dari
argumentasi *il"s"*is eksistensial yaitu bah%a manusia adalah makhluk yang "t"n"m dan juga
memiliki harkat dan martabat yang sama dengan sesamanya.
'1
K"nsep ini mulai menjadi
perbincangan internasi"nal dalam pengertian hukum dan p"litik pada era $erang 'unia #.
$residen 2""dr"% 2ils"n menghubungkan prinsip self-determination ini dengan cita-cita
dem"krasi liberal ,arat (merika) dan aspirasi-aspirasi kaum nasi"nalis 9r"pa.
'&
Menurut
$r"*es"r <ames naya( de%asa ini k"nsep self-determination( dengan didukung "leh ketentuan
dalam 1) 4harter dan beberapa instrumen internasi"nal lainnya( telah menjadi salah satu
prinsip dalam hukum kebiasaan internasi"nal (customary international la+) bahkan menjadi
semacam ius cogens( n"rma internasi"nal yang %ajib dipatuhi.
2(
$ers"alannya( k"nsep ini telah dipahami secara bias baik "leh pemerintah atau negara
maupun "leh masyarakat pada umumnya. kibatnya( di satu sisi pemerintah semakin kha%atir
akan bahaya separatisme dengan dalih self-determination itu (yang berimplikasi pada
meningkatnya eskalasi kekerasan represi*)( dan di sisi lain( masyarakat semakin salah arah
dalam mengartikannya sehingga bahkan keluar dari esensi perjuangan itu sendiri.
$r"*es"r <ames naya kembali mengingatkan kita untuk merunut dan memahami
k"nsep itu dalam k"nteks hist"risnya( yaitu k"nteks k"l"nialisme. .elf-determination dalam
negara-negara jajahan itu tentu berbeda maknanya jika ditempatkan dalam k"nteks negara-
negara merdeka sekarang ini. 1ntuk k"nteks sekarang (berbeda dengan k"nteks k"l"nisasi dan
de-k"l"nisasi)( ia mengetengahkan n"rma internasi"nal berkaitan dengan masyarakat adat(
yang berimplikasi pada terelab"rasinya pemahaman terhadap self-determination( dengan
menunjukkan beberapa kateg"ri. Kateg"ri inilah yang akan menjadi semacam tuntunan dalam
memahami self-determination seperti apa sebenarnya yang c"c"k dan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat adat. Kateg"ri itu adalah n"n-diskriminasi( integritas budaya( tanah dan
sumber daya( kesejahteraan s"sial dan pembangunan( dan pemerintahan sendiri (self-
go0ernment).
2'
1F
1ntuk uraian tentang self-determination ini( acuan utama saya adalah pandangan =guru saya>( $r"*es"r
S. <ames naya( Indigenous Peoples in International La+, OP*"rd 1ni.ersity $ress( )e% Q"rk( 1//D( hlm.
F5 ; 1&0.
10
'emikian kata 9d%ard M. M"rgan( =-he #magery and Meaning "* Sel*-'eterminati"n>( dikutip dalam
S. <ames naya( ibid-, hlm. F5.
1/
1m"!urike O. 1m"!urike( .elf-determination in International La+ D ; 11 (1/F&)( dikutip dalam <ames
naya( ibid-hlm. FD.
&0
S. <ames naya( ibid- Ketentuan tentang self-determination itu terdapat dalam 1) 4harter( art. 1( para.
&E #nternati"nal 4".enant "n 9c"n"mic( S"cial dan 4ultural 6ights( art. 1(1)E #nternati"nal 4".enant "n
4i.il and $"litcal 6ights( art. 1(1)E dan dalam 1nited )ati"ns 'ra*t 'eclarati"n "n the 6ights "* #ndigen"us
$"pulati"ns art. 3.
&1
:ihat S. <ames naya( op- cit-, hlm. /F ; 1&5.
0
$enegasan serupa juga dikemukakan "leh $r"*es"r 9rica-#rene . 'aes. #a mengatakan
bah%a self-determination mensyaratkan adanya sebuah pr"ses
yang dengan itu masyarakat adat bisa bergabung bersama masyarakat lainnya dalam membangun )egara
berdasarkan kesepakatan bersama dan prinsip keadilan( setelah bertahun-tahun sebelumnya terkungkung
dalam is"lasi dan eksklusi. $r"ses ini tidak memerlukan asimilasi indi.idual( sebagaimana %arga negara
pada umumnyaE yang dibutuhkan adalah pengakuan dan pelibatan setiap "rang dari berbagai latar
belakang dalam membangun )egara secara bersama dan berdasarkan kesepakatan bersama yang adil.
22
Masih dalam pemahaman yang sama( $r"*es"r :e" 3r"ss dari 3letcher .chool of La+
and "iplomacy membedakan self-determination itu atas dua( yaitu pertama, right to self-
determination yang berarti hak yang bersi*at sekali dan tidak dapat dipecah ; untuk
membentuk suatu negara (atau integrasi atau as"siasi). Kedua, right of self-determination(
yaitu hak yang bersumber dan sekaligus merupakan k"nsekuensi dari hak jenis pertama di atas
(right to self-determination). Misalnya( hak menentukan bentuk negara (republik atau
kerajaan)( hak menentukan sistem pemerintahan (presidensiil atau parlementer)( sistem
ek"n"mi (liberal atau terk"ntr"l)( dan sistem budaya tertentu. Semuanya itu berada dalam
k"ntr"l pengaturan dan kebijakan negara bersangkutan.
24
'alam k"nteks perlindungan hak
masyarakat adat( 9rica 'aes dalam studinya tentang hubungan masyarakat adat dengan tanah(
%ilayah dan sumber daya menegaskan bah%a entah apa pun bentuk negara dan sistem
pemerintahan di mana masyarakat adat berada dan hidup( bagaimanapun juga mereka tetap
(dan harus diperjuangkan tetap) memiliki ke%enangan mengel"la sendiri dan mengurus
sendiri tanah dan kekayaan di dalamnya( tetap hidup berdasarkan sistem nilai dan religius
yang mereka yakini( sistem ek"n"mi dan budaya yang mereka %arisi dari nenek m"yang
mereka.
25

-4 Identitas
#stilah indigenous peoples biasanya digunakan untuk merujuk pada "rang-"rang dan kel"mp"k
yang merupakan keturunan p"pulasi asli yang tinggal di sebuah negara. #stilah #nggris
=indigenous> berasal dari bahasa :atin =indigenae> yang digunakan untuk membedakan antara
"rang-"rang yang dilahirkan di sebuah tempat dan mereka yang datang dari tempat lain
(=ad0enae>). Sebab itu( akar semantik dari istilah tersebut mempunyai elemen k"nseptual
berupa prioritas dalam +aktu.
&5
Sampai sekarang( tidak ada de*inisi yang secara uni.ersal disetujui dari istilah
=indigenous peoples>. Kesulitan dalam menentukan de*inisi yang secara umum diterima
mungkin merupakan hasil dari *akta bah%a indigenous peoples sangatlah ber.ariasi dalam
&&
9rica-#rene . 'aes( =S"me 4"nsiderati"ns "n the 6ight "* #ndigen"us $e"ples t" Sel*-'eterminati"na>(
3 Transnational La+ and 6ontemporary Problems 1( / (1//3).
&3
'ikutip dari <"hn ,amba( op- cit-,hlm. 5.
&+
:ihat 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, <uni &001.
&5
9rica-#rene . 'aes( .tandard .etting !cti0ities7 E0olution of .tandards 6oncerning the Rights of
Indigenous People, 2"rking $aper "n the c"ncept "* =indigen"us pe"ple>( dikutip dalam 6a*ael 9dy ,"sk"(
The Right of Indigenous Peoples in the 6onte8t of *atural Resources "e0elopment, a master thesis in public
internati"nal la%( 6a"ul 2allenberg #nstitute "* 5uman 6ights and 5umanitarian :a%( Caculty "* :a%(
1ni.ersity "* :und( pril 1///( hlm. 0.
/
budaya dan struktur s"sial(
&D
sehingga =tidak dapat diterapkan sebuah de*inisi yang tepat dan
inklusi* dengan cara yang sama di seluruh dunia>.
&F
lasan lain adalah si*at dari p"litik itu
sendiri. ,eberapa negara keberatan dengan penggunaan istilah =indigenous> yang ditujukan
kepada sebagian dari masyarakat mereka( sementara yang lain sangat keberatan dengan
penggunaan istilah =peoples> karena dapat berimplikasi pada munculnya hak menentukan
nasib sendiri (right to self-determination).
&0
,ahkan( dalam K"n.ensi #:O 1D/( dibedakan antara indigenous peoples dan tribal
peoples. 'alam k"nteks #nd"nesia( hal ini akan mendatangkan kerumitan lagi. Oleh karena itu(
sebagai usulan a%al( Sandra M"niaga dan Stephanus 'ju%eng mengusulkan penerjemahannya
menjadi sebagai berikut7 indigenous peoples diterjemahkan menjadi =bangsa pribumi> dan
tribal peoples diterjemahkan menjadi =masyarakat adat>.
&/
kan tetapi( dalam k"nteks
internasi"nal( yang lebih p"puler digunakan sekarang ini adalah indigenous peoples. ,ahkan(
untuk menghindari kerancuan dalam pemahaman dan pena*siran yang berkaitan dengan isu
self-determination, kata peoples diganti dengan populations-
4(
'ari berbagai de*inisi yang dikemukakan baik "leh para pakar maupun lembaga
internasi"nal semisal $,, dan #:O( de*inisi yang paling banyak dirujuk adalah de*inisi yang
disusun "leh <"se Martine! 4"b"( se"rang 6ep"rter Khusus $,,( dalam studinya tentang
diskriminasi terhadap masyarakat adat di dunia. #a mena%arkan sebuah de*inisi indigenous
peoples sebagai berikut7
Masyarakat( k"munitas dan bangsa-bangsa asli adalah perkumpulan-perkumpulan yang memiliki
kelanjutan sejarah pra-in.asi dan pra-k"l"nial yang berkembang di terit"ri mereka( menganggap diri
mereka berbeda dalam berbagai sekt"r terhadap masyarakat yang sekarang menempati %ilayah tersebut(
atau sebagian dari %ilayah tersebut. 'i masa kini mereka membentuk sekt"r-sekt"r perkumpulan yang
n"n-d"minan dan tekun untuk melestarikan( mengembangkan dan menularkan kepada generasi yang
akan datang( terit"ri leluhur mereka( dan identitas etnik mereka( sebagai basis kelanjutan eksistensi
mereka sebagai masyarakat( sesuai dengan p"la budaya mereka sendiri( institusi s"sial dan sistem
hukum.
G pada tataran indi.idual( yang disebut manusia asli (indigenous person) adalah sese"rang yang
merupakan bagian dari p"pulasi asli ini melalui identi*ikasi diri sebagai "rang asli (kesadaran k"lekti*)
dan diakui dan diterima "leh kumpulan ini sebagai angg"tanya (penerimaan "leh kel"mp"k).
31
&D
:ihat 2"rld bank, Operational "irecti0e O" 5-2(7 Indigeneous Peoples( 1//1 R 5. :ihat juga Ministerie
.an ,uitenlandse Saken( Indigenous in the *etherlands 3oreign Policy and "e0elopment 6ooperation( 1+
Mei 1//3( http7??%%%.haley"n.c"m?pub?C2'$?#nternati"nal?nethrlnd.tPt T1?0?//U.
&F
'aes( .tandard .etting !cti0ities7 E0olution of .tandards 6oncerning the Rights of Indigenous People,
2"rking $aper "n the c"ncept "* =indigen"us pe"ple>( dikutip dalam 6a*ael 9dy ,"sk"( op- cit-
&0
)athan :erner( =-he 1/0/ #:O 4"n.enti"n "n #ndigen"us $"pulati"n7 )e% StandardsA> dalam Israel
9earbook on :uman Rights, ."l. &0( 1//1( hlm. &&D( dikutip dalam 6a*ael 9dy ,"sk"( op- cit-, hlm. /.
&/
:ihat Stephanus 'ju%eng dan Sandra M"niaga( =Kebudayaan dan Manusia yang Majemuk( pakah
Masih $unya -empat di #nd"nesiaA> Sebuah Kata $engantar untuk buku Kon0ensi ILO '%& mengenai
;angsa Pribumi dan asyarakat !dat di *egara-*egara erdeka( 9:SM dan :,,-( <akarta( tanpa
tahun.
30
Kata peoples lebih berk"n"tasi bangsa( jadi sangat sensiti* terhadap isu self-determination, sedangkan
kata population bermakna penduduk di suatu %ilayah yang sudah diakui kedaulatannya( jadi isu self-
determination tidak bermakna separatis tetapi lebih ke s"al kesempatan dan kemampuan menentukan dan
mengel"la sendiri %ilayahnya baik secara p"litik ("t"n"mi)( s"sial( budaya dan ek"n"mi.
31
<"sH MartIne! 4"b"( op- cit-, 1/0F( 1) '"c. 9?4).+?Sub.&?1/0D?FVdds. 1 ; +.
10
Kalau kita perhatikan( de*inisi ini mengandung empat elemen yang dalam berbagai
de*inisi m"dern sekarang ini diterima luas( yaitu7 (i) pra-eksistensi (atau =kelanjutan sejarah)E
(ii) bentuk budaya yang jelasE (iii) sekarang berstatus n"n-d"minan atau tidak sedang
memegang kendaliE
3&
dan (i.) identi*ikasi diri. 9lemen-elemen ini tidak berbeda jauh dengan
kriteria yang diajukan "leh 2"rking 3r"up "n #ndigen"us $"pulati"ns( yaitu7 (a) hubungan
yang jelas dengan tanah atau %ilayah yang turun-temurun dimiliki( ditinggali atau digunakanE
(b) keberlanjutan sejarah (c) karateristik budaya yang jelasE (d) n"n-d"minanE (e) indenti*ikasi
diri dan kesadaran kel"mp"k.
33
POSISI A/ HAK-HAK MAS3A1AKA! AA! A,AM H0K0M I/!"1/ASIO/A, HAK ASASI
MA/0SIA
Karena sejumlah alasan yang berbeda-beda( masyarakat internasi"nal mulai memberikan
resp"n terhadap isu masyarakat adat ini dalam suatu cara pandang dunia yang baru dan
perspekti* *il"s"*is yang baru pula. $andangan baru ini memberikan penekanan pada
penghargaan terhadap tanah( terit"ri dan sumber daya. Standar-standar baru tengah
diupayakan dengan berdasarkan( sebagiannya( pada nilai-nilai yang telah diekspresikan "leh
masyarakat adat. Selain itu( juga didasarkan pada nilai-nilai yang sesuai dengan perspekti* dan
pandangan hidup masyarakat adat itu sendiri tentang hubungan mereka dengan tanahnya(
terit"ri( dan sumber daya yang terdapat di dalam dan di atasnya.
3+
$erhatian internasi"nal yang mulai =bersahabat> pada isu masyarakat adat tidaklah
terlepas dari perjuangan panjang mereka beberapa dekade sebelumnya. Mereka berpartisipasi
dengan semangat dan k"nsisten dalam berbagai dial"g multilateral yang melibatkan negara(
berbagai "rn"p atau )3O( pakar-pakar independen yang di*asilitasi lembaga dan "rganisasi
internasi"nal hak asasi manusia.
35
'i sini( saya tidak menguraikan perkembangan hist"ris perjuangan masyarakat adat
dan pekerja hak asasi manusia pada umumnya yang peduli pada hak masyarakat adat hingga
mencapai tara* sekarang ini. Saya lebih memilih menguraikan status masyarakat adat dan hak-
haknya dalam hukum internasi"nal k"ntemp"rer baik berupa soft la+ maupun hard la+-
4%
#nstrumen yang secara jelas (dan bahkan secara khusus) memuat tentang hak-hak masyarakat
3&
Sehubungan dengan elemen =sekarang berstatus n"n-d"minan>( hal ini menyiratkan beberapa bentuk
diskriminasi atau marjinalisasi muncul( dan membenarkan tindakan yang diambil "leh k"munitas
internasi"nal. ,agaimanapun sebuah kel"mp"k tidak akan berhenti status =asli>-nya jika mereka tidak lagi
n"n-d"minan sebagai hasil dari tindakan yang diambil untuk pemenuhan segala hak-haknya. :ihat( 6a*ael
9dy ,"sk"( op- cit-( hlm. 11.
33
:ihat 9rica-#rene . 'aes( E0olution of .tandards 6oncerning the Rights of Indigenous Peoples7 *e+
"e0elopment and <eneral "iscussion of 3uture !ction, 1) '"c. 9?4).+?Sub.&?4.+?1//5?3( para. 11 ; 10.
3+
9rica-#rene . 'aes( op- cit-, <uni &001( hlm. D( para. 15.
35
-entang k"nsep dan hak-hak masyarakat adat dalam hukum internasi"nal berdasarkan tinjauan sejarah(
silahkan baca uraian yang sangat k"mprehensi* dalam 6a*ael 9dy ,"sk"( op- cit-, hlm. + ; 0( dan 33 ; +3.
6a*ael 9dy ,"sk" membuat kateg"risasi hak-hak masyarakat adat itu dalam analisnya terhadap berbagai
instrumen internasi"nal. #a membagi hak-hak itu atas7 hak untuk tidak didiskriminasikan( hak atas tanah dan
sumber daya (alam)( hak atas kebudayaan( hak untuk berpartisipasi baik dalam p"litik maupun dalam bidang
kebudayaan secara umum( hak atas lingkungan yang sehat( dan hak atas persetujuan (sebagaimana
dinyatakan( misalnya( dalam K"n.ensi #:O 1D/ pasal D ayat & dan pasal 1D ayat &). :ihat juga <ames naya(
op- cit-, bab 1 ; &.
11
adat adalah K"n.ensi #:O 10F (1/5F)( yang kemudian diperbarui menjadi K"n.ensi #:O 1D/
(1/0/). Qang secara implisit berbicara tentang hak-hak masyarakat adat baik sebagai pribadi
maupun sebagai kel"mp"k adalah instrumen-instrumen seperti '15M( #44$6 (K".enan
5ak Sipil dan $"litik)( #49S46 (K".enan 5ak 9k"n"mi( S"sial dan ,udaya)( 496'
(K"n.ensi $enghilangan 'iskriminasi 6asial)( 4- (K"n.ensi Menentang $enyiksaan)(
49'2 (K"n.ensi $enghilangan 'iskriminasi terhadap $erempuan). Sekarang ini( bahkan
ada kel"mp"k kerja yang terus menyempurnakan dan memperjuangkan 'eklarasi $,, tentang
5ak-5ak Masyarakat dat (1) 'eclarati"n "n the 6ights "* #ndigen"us $e"ples)E deklarasi
ini diharapkan akan disahkan tahun &00+ nanti bersamaan berakhirnya dekade masyarakat
adat internasi"nal.
'i tingkat pemahaman diskursus( hak-hak masyarakat adat sebenarnya diakui sebagai
bagian dari hak-hak asasi manusia generasi ketiga. 5ak-hak generasi pertama adalah hak-hak
yang termaktub di dalam #44$6( dan hak-hak generasi kedua adalah hak-hak ek"n"mi( s"sial
dan budaya (#49S46). Sementara( hak-hak generasi ketiga adalah hak atas pembangunan dan
lingkungan. -ermasuk di dalam generasi ketiga ini adalah group rights (hak-hak kel"mp"k)
seperti hak-hak kel"mp"k min"ritas tertentu( hak-hak masyarakat adat( dsb.
3F
Sementara( di
tingkat gerakan( isu hak-hak masyarakat adat memang telah menjadi isu internasi"nal yang
hangat dibicarakan. ,ahkan( di $,,( sebagaimana telah saya kemukakan secara singkat di
muka( telah dibentuk Kel"mp"k Kerja khusus untuk masyarakat adat( terutama 3orum
Permanent on Indigenous Peoples. 'engan si*atnya yang permanen( *"rum ini memiliki
kedudukan setara dan sekuat k"mite semisal 5uman 6ights 4"mmittee untuk #44$6
(K".enan 5ak Sip"l) atau 4"mmittee against -"rture untuk 4- (K"n.ensi Menentang
$enyiksaan). ,ahkan( C"rum $ermanen Masyarakat dat itu berkedudukan setingkat
4"mmissi"n "n 5uman 6ights yang sama-sama dibentuk di ba%ah 'e%an 94OSO4.
M"KA/ISM" P"1,I/0/2A/ HAK-HAK MAS3A1AKA! AA!
'alam bagian ini saya membagi mekanisme perlindungan hak-hak masyarakat adat atas
mekanisme internasi"nal dan mekanisme nasi"nal. $embagian ini hanya untuk memudahkan
uraian dan pemahaman saja. 'alam kenyataannya( terutama dalam realitas hukum
internasi"nal k"ntemp"rer( mekanisme nasi"nal dan internasi"nal saling berhubungan ; lebih
3D
'alam hukum internasi"nal( kita mengenal ada dua jenis instrumen berdasarkan si*at mengikatnya.
$ertama adalah hard la+( yaitu jenis instrumen yang memiliki kekuatan mengikat (legally binding) dan
mengandung sanksi hukum yang pasti. Qang termasuk jenis ini adalah k".enan( k"n.ensi( res"lusi dan
perjanjian-perjanjian internasi"nal dan regi"nal lainnya (treaty, agreement) baik bilateral maupun
multilateral. <enis kedua adalah soft la+, yaitu jenis instrumen yang tidak memiliki kekuatan mengikat
secara hukum (unlegally binding)( instrumen jenis ini hanya menjadi semacam imbauan m"ral dan prinsip
etik saja. Qang termasuk jenis ini adalah deklarasi. kan tetapi( dalam hukum internasi"nal( '15M
('eklarasi 1ni.ersal 5ak sasi Manusia ; )ni0ersal "eclaration of :uman Rights)( kendati berbentuk
deklarasi( juga diperlakukan sama seperti hard la+( bahkan dianggap sebagai ius cogens, n"rma
internasi"nal yang diakui secara umum dan dengan sendirinya mengikat secara uni.ersal. #a menjadi salah
satu dari international customary la+ (hukum kebiasaan internasi"nal) ; atau lebih tepatnya lagi merupakan
salah satu dari International ;ill of :uman Rights ; di samping tiga lainnya yaitu #44$6( #49S46( dan
Opti"nal $r"t"c"l dari #44$6.
3F
:ihat penjelasan lengkapnya dalam Stuart Kaye dan 6ys!ard $i"tr"%i%ic!( :uman Rights in
International and !ustralian La+, bab 1 =)ature and Origins "* 5uman 6ights :a%>( ,utter%"rths( Sydney(
&000( hlm. D ; F.
1&
tepatnya( mekanisme internasi"nal melengkapi mekanisme nasi"nal atau mekanisme nasi"nal
menjadi lebih e*ekti* berkat adanya dukungan mekanisme internasi"nal. Memang( kedaulatan
negara tetap diakui( sebagaimana termaktub dalam pasal & (F) $iagama $,,. Oleh karena itu(
prinsip non-interference tetap penting dalam kaitan dengan yurisdiksi tingkat d"mestik sebuah
negara. -etapi( menurut $r"*es"r <ames naya( prinsip itu sekarang ini tidak lagi bermakna
abs"lut. $erkembangan hukum internasi"nal k"ntemp"rer mengalahkan prinsip itu dengan
dimungkinkannya campur tangan lembaga internasi"nal dalam urusan dalam negeri suatu
negara jika itu berkaitan dengan hak-hak asasi manusia yang diakui secara uni.ersal
sebagaimana diatur dalam berbagai instrumen internasi"nal.
30
$4 Mekanisme Internasional
$r"*es"r 3udmundur l*redss"n dan l*red de Sayas membagi met"de pr"sedural mekanisme
internasi"nal dalam kaitan dengan penegakan hak-hak masyarakat adat atas tiga kateg"ri
yaitu7 (1) pr"sedur m"nit"ring di ba%ah k"ntr"l p"litikE (&) badan-badan m"nit"ring
independenE (3) pr"sedur pengaduan yudisial dan Kuasi-yudisial.
3/
)amun( dalam uraian ini( saya mengacu pada $r"*es"r <ames naya yang membagi
mekanisme itu ke dalam dua kateg"ri yaitu =pr"sedur m"nit"ring?pelap"ran>
(monitoring=reporting procedures) dan =pr"sedur pengaduan> (complaint procedures>.
+0
,erikut ini saya uraikan secara umum.
Prosedur Monitoring7Pelaporan
Tin#auan Pembangunan oleh )* /orking <roup on Indigenous Populations ?)*-/<IP>
$r"sedur ini adalah sebuah informal o0ersight mechanism( mekanisme penga%asan yang tidak
*"rmalE dalam sistem $,, belum diakui sebagai sistem yang baku. -etapi beberapa negara
telah mempraktekkannya semisal ustralia dan )e% Sealand. Sebenarnya( secara de facto(
pr"sedur m"nit"ring ini merupakan bagian dari implementasi n"rma-n"rma kebiasaan belaka
yang suatu saat bukan tidak mungkin akan diakui sebagai %ahana yang dapat diandalkan.
,erdasarkan mandat dari 94OSO4 untuk meninjau pelaksanaan pembangunan yang berkaitan
dengan masyarakat adat( kelima angg"ta 2"rking 3r"up ini menerima lap"ran tertulis dan
lisan dari pemerintah( lembaga interg".ernmental( para %akil masyarakat adat( dan "rn"p.
,iasanya lap"ran pemerintah berkaitan dengan kemajuan praktek perlindungan hak-hak
masyarakat adat( sementara lap"ran dari masyarakat adat dan "rn"p biasanya ber*"kus pada
kajian dan kritik terhadap ketidakmampuan pemerintah dalam pemenuhan hak-hak masyarakat
adat.
30
:ihat <ames naya( op- cit-, hlm. 151 ; 15&.
3/
$endapat *redss"n dan de Sayas ini saya kutip dari 6a*ael 9dy ,"sk"( op- cit-, hlm. +3. 1ntuk uraian
lengkap ketiga kateg"ri itu( silahkan baca penjelasannya dalam hlm. +3 ; +0.
+0
S. <ames naya( op- cit-, hlm. 153 ; 1F0.
13
Tin#auan Pembangunan oleh )* 6ommission on :uman Rights dan .ub-Komisinya
Kedua institusi $,, ini merupakan %ahana pr"sedur non-treaty atau lebih dikenal sebagai
charter-based procedure.
5'
Kendatipun berkaitan secara umum saja dengan isu hak asasi
manusia( namun dalam perkembangannya belakangan ini( keduanya telah memasukkan
agenda tentang pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat adat dalam setiap sesi
tahunannya. $emerintah dan "rn"p yang sudah memiliki consultati0e status atau la!im disebut
juga E6O.O6 status bisa mengajukan lap"ran berkaitan dengan permasalahan masyarakat
adat (kendatipun tidak segencar melalui 1)-23#$( karena perhatiannya yang sangat umum
tadi). Kalau dalam 1)-23#$( angg"tanya adalah para e8pert yang independen( dalam 456
dan Sub-K"misinya
52
angg"tanya terdiri dari para %akil pemerintahE "leh karena itu( si*atnya
sangat p"litis.
onitoring ;erdasarkan Kon0ensi ILO ?'%&>
)egara-negara yang sudah merati*ikasi K"n.ensi #:O 1D/ (atau K"n.ensi #:O 10F
sebelumnya)( %ajib menyerahkan lap"ran tentang implementasi K"n.ensi tersebut secara
peri"dik kepada #:O 4"mmittee "* 9Pperts "n the pplicati"n "* 4"n.enti"n and
6ec"mmendati"ns. Ketentuan memberikan pelap"ran itu berdasarkan K"nstitusi #:O( yang
disahkan pada / Okt"ber 1/+D( pasal && dan &3. Mekanisme pr"m"si hak-hak asasi manusia
(masyarakat adat) di #:O dilakukan dengan mekanisme tripartit yang terdiri dari pemerintah
(go0ernment)( pengusaha (employer) dan buruh (+orker) atau masyarakat adat.
Prosedur Pelaporan di ;a+ah )* :uman Rights 6ommittee ?:R6> dan 6ER"
Kedua badan ini dibentuk berdasarkan ketentuan masing-masing perjanjian. 564 dibentuk
berdasarkan ketentuan K".enan 5ak Sipil dan $"litik sementara 496' dibentuk berdasarkan
K"n.ensi $enghilangan Segala ,entuk 'iskriminasi 6asial. -ugas k"mite yang dibentuk
berdasarkan perjanjian adalah menga%asi implementasi perjanjian yang dimaksud di semua
negara pihak. )egara-negara pihak menyampaikan lap"ran ke Sekretariat <enderal $,,
melalui Kant"r 5igh 4"mmissi"ner "* 5uman 6ights yang kemudian serahkan ke k"mite
terkait. K"mite kemudian me-re0ie+ dan memberikan k"mentar serta menindaklanjuti dengan
+1
da banyak pr"sedur dalam sistem $,,. 'i antara berbagai pr"sedur itu( ada dua yang paling dikenal
yaitu charter-based procedures=mechanism dan treaty-based procedures- Mekanisme yang pertama
berdasarkan ketentuan atau sebagai implikasi dan mani*estasi berbagai ketentuan dalam $iagam $,,(
sedangkan mekanisme jenis kedua ditetapkan berdasarkan ketentuan masing-masing treaty baik itu berupa
K".enan( K"n.ensi ataupun $erjanjian lainnya. Misalnya( 8ommission on Human 1ights (456) adalah
institusi untuk mekanisme charter-based karena ia dibentuk di ba%ah 94OSO4 yang merupakan lembaga
$,, berdasarkan penetapan dalam $iagam. Sebaliknya( Human 1ights 8ommittee (564) adalah institusi
treaty-based karena ia dibentuk sebagai mani*estasi ketentuan dalam perjanjian yang mengatur hal itu yaitu
K".enan 5ak Sipil dan $"litik (#44$6).
+&
Sub-k"misi 456 ini dulu bernama Sub-4"mmissi"n "n $re.enti"n "* 'iscriminati"n and $r"tecti"n "*
Min"rities( tetapi sekarang bernama Sub-4"mmissi"n "n $r"m"ti"n and $r"tecti"n "* 5uman 6ights.
1+
memberikan rek"mendasi berupa pengiriman pelap"r khusus atau penyelidikan di negara-
negara pihak.
5uman 6ights 4"mmittee yang dibentuk di ba%ah #44$6 ini telah menunjukkan
kemajuan dalam menga%asi dan memeriksa lap"ran pemerintah berkaitan dengan hak-hak
masyarakat adat. K"mite ini juga mend"r"ng terciptanya berbagai kebijakan yang
mengindahkan hak-hak masyarakat adat berdasarkan interpretasi terhadap pasal &F K".enan
tersebut. -etapi hal yang tetap sensiti* adalah s"al ketentuan self-determination sebagaimana
dinyatakan dalam pasal 1. 496' juga menunjukkan kinerja yang serupa dalam kaitan denga
hak-hak masyarakat adat.
Prosedur Pengaduan
#nstitusi internasi"nal juga memiliki ke%enangan untuk mendengarkan atau menerima
pengaduan berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. $r"sedur pengaduan
internasi"nal merupakan mekanisme penga%asan penting terutama untuk mengimbangi
lap"ran dari pihak pemerintah dan lebih khusus untuk segera mendapatkan penangan khusus.
Pengaduan dalam )* /orking <roup on Indigenous Populations
$r"sedur pengaduan dalam 1)-23#$ ini terjadi secara de facto saja "leh adanya kebutuhan-
kebutuhan mendesak pada tingkat praksis. Kel"mp"k kerja ini memb"lehkan siapa pun untuk
bicara dan menyerahkan pengaduan tertulis dalam pertemuan tahunannya untuk mendapatkan
pertimbangan. -ujuannya agar akses masyarakat adat lebih terbuka dalam sistem $,, yang
kebanyakan sangat mekanistis dan mensyaratkan adanya status tertentu. 'alam kaitan dengan
tinjauannya terhadap pembangunan( para %akil masyarakat adat dan "rn"p berulang-ulang
menyerukan agar pemerintah segera mengakhiri dan menangani dampak pelanggaran hak
asasi manusia di negara mereka masing-masing. $ada a%alnya( pernyataan sepertit itu
dihalang-halangi "leh ketua +orking group. -etapi( dalam perkembangannya( terutama
belakangan ini( pengaduan seperti itu dimungkinkan asal diajukan secara tertulis dulu sebelum
diungkapkan di dalam *"rum dengan cara yang baik dan untuk isu yang krusial.
Pengaduan dalam )* 6ommission of :uman Righst dan .ub-Komisinya
Kedua badan ini memiliki kapasitas terbatas dalam mendengarkan( menerima dan memberikan
resp"n terhadap pelanggaran dan kekerasan hak-hak asasi manusia pada umumnya. 6es"lusi
94OSO4 1&35 tahun 1/DF (yang kemudian la!im disebut sebagai Publi9 Pro9edure $'-:)
memberikan ke%enangan kepada K"misi dan Sub-K"misi untuk =memeriksa in*"rmasi yang
rele.an atas pelanggaran berat hak asasi manusia dan kebebasan dasar> dan untuk =melakukan
kajian atau studi mendalam terhadap berbagai situasi pelanggaran dan kekerasan hak asasi
manusia itu dengan penekanan pada terungkapnya berbagai p"la kejahatan tersebut.>
+3
+3
1ntuk mendapatkan pembahasan secara lebih mendalam tentang $r"sedur 1&35 ini silahkan baca )igel
S. 6"dley( =1nited )ati"ns )"n--reaty $r"cedures *"r 'ealing %ith 5uman 6ights Mi"lati"ns>( dalam
5urst 5annum (ed.)( <uide to International :uman Rights Practice, &
nd
editi"n( $hiladelphia7 1ni.ersity "*
15
$r"sedur ini tidak menjamin adanya resp"ns yang cepat dan memadai atas pengaduan. kan
tetapi( ke%enangan yang diberikan melalui 6es"lusi 94OSO4 1&35 ini telah digunakan dalam
berbagai kesempatan untuk mengeluarkan dan mengesahkan berbagai res"lusi terutama
berkaitan dengan negara-negara yang diidenti*ikasi sangat sarat dengan pelanggaran dan
kejahatan hak asasi manusia dalam skala yang luas.
da sebuah pr"sedur lain yang lebih terstruktur si*atnya yaitu Prosedur $:)-
berdasarkan 6es"lusi 94OSO4 tahun 1/F0. $r"sedur ini memungkinkan dipertimbangkannya
=k"munikasi> dari indi.idual dan "rn"p berkaitan dengan =situasi yang memperlihatkan
adanya p"la k"nsisten pelanggaran berat hak asasi manusia>. Qang berhak mengajukan
k"munikasi bukan saja k"rban langsung dan keluarganya. Siapa pun dan kel"mp"k apa pun
bisa mengajukan k"munikasi. -ujuan pr"sedur ini adalah membangun dial"g antara 456 dan
pemerintah berkaitan dengan isu atau permasalahan yang diadukan kepadanya. $aling tidak
ada lima tahap yang ditempuh dalam pr"sedur ini. $r"sedur ini sangat memakan %aktu
panjang. -etapi paling tidak ia dapat digunakan untuk =menggugat> (denounce) situasi hak
asasi manusia di negara-negara yang belum merati*ikasi instrumen-instrumen internasi"nal
yang sudah ada.
++
,erbeda dengan pr"sedur 1&35 yang dapat dengan mudah diketahui publik( pr"sedur
k"munikasi di ba%ah res"lusi 1503 ini dilakukan dalam sesi tertutup untuk menghindari
adanya dist"rsi dan bias "leh adanya l"bi-l"bi k"t"r. Menurut $r"*es"r lst"n( pr"sedur ini
sangat tepat jika disebut sebagai sistem =petition-information>( sebagai la%an dari sistem
=petition-redress>( =karena sasarannya adalah menggunakan pengaduan sebagai G bukti
WyangX mungkin ; jika dilengkapi secara memadai dengan sejumlah kasus terkait ; mend"r"ng
$,, untuk mengambil tindakan>.
+5
6"ulet mencatat bah%a Publi9 Prosedure $'-: memiliki
keunggulan dibandingkan $r"sedur 1503( yaitu bah%a pengaduan dibahas di depan angg"ta
setiap "rgan( pengamat dan publik luas. $ers juga dapat dengan cepat menangkap isu tersebut
dan menyebarluaskannya. 5al ini memberikan semacam tekanan p"litis kepada pemerintah
dan pada gilirannya akan membentuk "pini dunia dan mendapatkan simpati atas k"rban-
k"rban atau situasi pelanggaran dan kejahatan hak asasi manusia yang terjadi.
+D
Prosedur Pengaduan ;erkaitan dengan Kon0ensi ILO
$r"sedur pengaduan dalam #:O lebih bersi*at petition-redress. da dua k"n.ensi yang
langsung mengatur tentang hak masyarakat adat yaitu K"n.ensi #:O 10F yang kemudian
diperbarui dengan K"n.ensi #:O 1D/. K"n.ensi-k"n.ensi lainnya berhubungan tetapi tidak
secara langsung seperti7 K"n.ensi )". 50 tentang rekruitmen pekerja dari masyarakat adat
(1/3D)( K"n.ensi )". D+ tentang k"ntrak kerja untuk pekerja dari masyarakat adat (1/3/)(
dll.
+F
$ennsyl.ania $ress( 1//&( hlm. D0 ;D+.
++
1raian yang sangat bagus terutama untuk kepentingan masyarakat adat tentang pr"sedur ini (dan juga
pr"sedur 1&35) dapat dibaca dalam Cl"rencia 6"ulet( :uman Rights and Indigenous Peoples, a 5andb""k
"n the 1) System( #23#( 4"penhagen( 1///( hlm. 5& ; 5/.
+5
:ihat $hilip lst"n( =-he 4"mmissi"n "n 5uman 6ights>( dalam $hilip lst"n (ed.)( The )nited
*ations and :uman Rights7 ! 6ritical !ppraisal, OP*"rd( 4larend"n $ress( 1//&( hlm. 1+D.
+D
Cl"rencia 6"ulet( op- cit-, hlm. 5F.
+F
Cl"rencia 6"ulet( ibid-, hlm. 115.
1D
$r"sedur pengaduan berkaitan dengan K"n.ensi #:O ini diatur dalam K"nstitusi #:O
pasal &+ dan pasal &D. ,erdasarkan pasal &+( sebuah as"siasi pekerja atau pengusaha bisa
membuat representasi kepada #:O bah%a sebuah negara =telah gagal menjamin pelaksanaan
K"n.ensi yang sudah dirati*ikasinya>. 'i sini dikenal adanya #:O 3".erning ,"dy yang
terdiri dari tiga pihak yaitu pengusaha( buruh dan negara. da sebuah k"mite yang angg"tanya
terdiri dari %akil masing-masing pihakE k"mite ini mempertimbangkan semua pengaduan(
k"mentar( dan inter.ensi yang masuk lalu menyerahkannya kepada 3".erning ,"dy. ,adan
inilah yang akan mengambil keputusan atas langkah selanjutnya berkaitan dengan kasus yang
dibahas.
$asal &D lebih elab"rati* dalam menangani pengaduan berkaitan dengan kealpaan atau
ketidamampuan )egara dalam mengimplementasikan ketentuan K"n.ensi. $engaduan bisa
diajukan "leh suatu )egara $ihak berkaitan dengan situasi di negara lain untuk K"n.ensi yang
sama( atau "leh delegasi peserta #nternati"nal :ab"ur 4"n*erence. 3".erning ,"dy kemudian
bisa mengusulkan dibentuknya 4"mmissi"n "* #nKuiry untuk menyelidiki kebenaran kasus
yang diadukan. 'alam kaitan dengan masyarakat adat( kendatipun mereka tidak mengajukan
pengaduan( hal itu bisa dilakukan pihak lain atas nama mereka. rtikel &+ dan &D K"nstitusi
#:O tidak mengharuskan bah%a pengaju aduan adalah "rang yang menjadi k"rban langsung.
)* :uman Rights 6opmmittee dan 6ER"7 Pengaduan !ntar-*egara dan Komunikasi
Indi0idual
Kedua K"mite ini menerima pengaduan antar-negara dan pengaduan (la!im disebut
=k"munikasi>) indi.idual. $engaduan antar-negara berkaitan dengan 496' berlaku secar
"t"matis bagi semua negara pihak K"n.ensi $enghilangan 'iskriminasi 6asial sebagaimana
ditetapkan dalam pasal 11. Sebaliknya( pengaduan antar-negara berkaitan dengan 564
menyangkut implementasi K".enan 5ak Sipil dan $"litik berlaku hanya di antara negara-
negara pihak yang telah mendeklarasikan atau mengumumkan pengakuan terhadap
ke%enangan k"mite berkaitan dengan ketentuan tersebut( sebagaimana dinyatakan dalam pasal
+1 ayat 1.
+0
Setiap negara pihak %ajib menyerahkan lap"ran tentang implementasi perjanjian
atau instrumen tersebut di negara kedaulatannya masing-masing.
Kedua instrumen itu juga mengatur pr"sedur pengaduan indi.idual. 1ntuk masalah
berkaitan dengan K".enan 5ak Sipil dan $"litik( pengaduan indi.idual dimungkinkan jika
negara pihak k".enan tesebut juga menjadi negara pihak Opti"nal $r"t"c"l-nya yang secara
khusus mengatur tentang pengaduan indi.idual tersebut. 1ntuk K"n.ensi $enghilangan
'iskriminasi 6asial( pengaduan indi.idual diatur dalam pasal 1+. #ndi.idu atau kel"mp"k
indi.idu dari sebuah negara pihak( misalnya #nd"nesia( bisa mengajukan pengaduan jika
negara pihak tersebut menyatakan pengakuannya atas ke%enangan K"mite berkaitan dengan
pengaduan atau k"munikasi tersebut.
8atatan Khusus; Permanent <orum on Indigenous Issues 5P<II6
Sekarang ini ada badan baru yang secara khusus menangani masalah masyarakat adat (yang
bisa digunakan sebagai %ahana pengaduan) yaitu $ermanent C"rum "n #ndigen"us #ssues.
+0
:ihat <ames naya( op- cit-, catatan n". FD dan teksnya.
1F
,erkaitan dengan *"rum ini( 9rica 'aes mengajukan beberapa pertimbangan yaitu sebagai
berikut7
a. Membentuk sebuah badan pencari *akta( atau menunjuk se"rang pelap"r khusus untuk isu
masyarakat adat( dengan sebuah mandat inter alia untuk melakukan kunjungan dan menyiapkan
lap"ran berkaitan dengan isu-isu tanah masyarakat adat tertentu dan sumber daya yang mereka
milikiE pelap"r khusus juga bisa memberikan resp"ns( melakukan mediasi dan mengusahakan
rek"nsiliasiE
b. Menciptakan sebuah mekanisme atau pr"sedur tuntutan (complaint)( di ba%ah dan dalam tanggung
ja%ab pelap"r khusus( untuk pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada tanah-tanah dan
sumber daya masyarakat adatE
c. $elap"r khusus sebaiknya dilengkapi denga kekuasaan =peace-seeking> untuk melakukan
in.estigasi( merek"mendasikan s"lusi( k"nsiliasi( mediasi( dan membantu mencegah atau
mengakhiri kekerasan dalam situasi berkaitan dengan hak-hak masyarakat adatE
d. Membuat pr"sedur bagi negara-negara dalam membuat lap"ran peri"dik berkaitan dengan
kemajuan mereka dalam mengusahakan perlindungan terhadap hak atas tanah dan sumber daya
masyarakat adat.
+/
$ermanen C"rum ini dibentuk melalui 6es"lusi 94OSO4 &000?&& pada 5@th plenary meeting-
nya( &0 <uly &000. Mary 6"bins"n meng"mentari keputusan itu sebagai =a historic step
for+ard>. Y-he $ermanent C"rumY( katanya(
pr"mises t" gi.e indigen"us pe"ples a uniKue ."ice %ithin the 1nited )ati"ns system( c"mmensurate
%ith the uniKue pr"blems %hich many indigen"us pe"ple still *ace( but als" %ith the uniKue c"ntributi"n
they make t" the human rights dial"gue( at the l"cal( nati"nal and internati"nal le.els.
50
C"rum ini merupakan badan di ba%ah 94OSO4 yang akan terdiri dari 1D %akil. 'elapan (0)
"rang akan dical"nkan "leh pemerintah dan dipilih "leh badan 94OSO4 (mereka ini dipilih
karena kepakarannya)( dan delapan (0) lainnya akan ditunjukk "leh $residen 94OSO4 setelah
berk"nsultasi dengan berbagai "rganisasi dan kel"mp"k masyarakat adat dengan
pertimbangan pada unsur keragaman dan sebaran ge"gra*is. Organisasi Masyarakat dat bisa
menjadi pengamat dalam *"rum tersebut( sebagaimana juga )egara( ,adan $,, lainnya( dan
berbagai "rn"p di seluruh dunia. Mandat C"rum ini adalah menangani isu-isu masyarakat adat
berkaitan dengan pembangunan ek"n"mi dan s"sial( kebudayaan( lingkungan( pendidikan(
kesehatan dan hak asasi manusia pada umumnya.
51
'4 Mekanisme /asional
1ntuk mekanisme nasi"nal ini saya mengacu pada kateg"risasi yang dilakukan $r"*es"r 9rica
'aes yaitu sebagai berikut7 (a) mekanisme yudisialE (b) mekanisme neg"siasiE (c) re*"rmasi
k"nstitusi"nal dan kebijakan peraturan perundang-undanganE (d) inisiati* atau keinginan
+/
9rica-#rene . 'aes( op- cit-, &001( hlm. 3&( para. 15F.
50
Mary 6"bins"n( =1) 9stablihes $ermanent C"rum *"r #ndigen"us #ssues>( $ress 6elease
94OSO4?5/3&( http7??%%%.un."rg?)e%s?$ress?d"cs?&000?&0000F31.ec"s"c5/3&.d"c.html
51
)nited *ations <uide for Indigenous Peoples ( :ea*let )". D( =-he $ermanent C"rum "n #ndigen"us
#ssues( a.ailable "nline at7 http;77===4unh9hr49h7html7ra9ism7indileaflet>4do9
10
masyarakat adatE (e) instrumen-instrumen standar hak-hak asasi manusia.
5&
kan tetapi( perlu
dipahami sebagaimana telah disinggung di depan( dalam k"nteks hukum dan hubungan
internasi"nal k"ntemp"rer( mekanisme nasi"nal pun bisa berimplikasi pada mekanisme
internasi"nal demikian juga sebaliknya. Sehingga( kembali saya katakan di sini bah%a
pembagian uraian atas mekanisme internasi"nal dan nasi"nal ini hanya untuk mempermudah
uraian dan pemahaman saja.
a- ekanisme 9udisial
Mekaniseme yudisial pada tataran k"nsep hukum memegang peranan penting dan menjadi
andalan bahkan menjadi semacam sandaran akhir dari setiap upaya ad."kasi. )amun( bagi
masyarakat adat( "leh karena adanya kegagalan )egara dalam mengakui adanya tindakan dan
kebijakan diskriminati* yang terus berlangsung atas tanah masyarakat adat( mereka menjadi
sulit menerima mekanisme yudisial sebagai salah satu cara yang mereka harapkan dapat
menjamin pemenuhan hak-hak mereka.
Selain itu( dalam k"nteks kekinian( kiranya perlu kita ketahui bah%a penggunaan
mekanisme yudisial untuk kasus yang berkaitan dengan masyarakat adat mengandung risik".
MengapaA Karena adanya masalah interpretasi yang berbeda-beda terhadap instrumen-
instrumen hukum yang dijadikan dasar bagi penyelesaian kasus-kasus tersebut. Selain itu( juga
karena berbagai *"rum bentukan )egara itu sangat kental dengan bias p"litik dan sangat
subjekti*. $emerintah juga se"lah membiarkan terus bias kultural yang ada. Mekanisme-
mekanisme yudisial seperti itulah yang dibuat dan telah digunakan dalam beberapa kasus.
$emerintah dan "rganisasi masyarakat adat masih harus mengusahakan lebih lanjut berbagai
masukan atau pertimbangan-pertimbangan p"siti* untuk mendapatkan mekanisme yudisial
yang memadai( jujur dan adil.
b- ekanisme *egosiasi
Mekanisme neg"siasi mungkin bisa digunakan untuk mengedepankan serangkaian isu( k"nsep
dan perspekti* yan lebih luas dan kaya untuk menggali kemungkinan diterimanya klaim hak
masyarakat adat atas tanahnya. ,isa juga diharapkan untuk menyediakan kesempatan yang
lebih besar baik untuk mencapai atau melahirkan pemahaman yang sejati maupun untuk
meng"k"hkan bangunan kepercayaan. )eg"siasi( jika dilaksanakan dengan semangat saling
menghargai bagi tercapainya pengakuan atas hak-hak dasar masyarakat adat( dapat juga
memberikan k"ntribusi tersendiri bagi kelanjutan dan kelangsungan hubungan p"litik dan
hubungan hukum yang elegan. lternati* semacam itu tampaknya lebih k"nstrukti* baik bagi
$emerintah maupun bagi masyarakat adat itu sendiri( dan mungkin juga bagi pihak lain.
Selain itu( dial"g substanti*( k"nstrukti*( dan *"rmal baik di tingkat internasi"nal( nasi"nal
dan l"kal berkaitan dengan standar internasi"nal hak asasi masyarakat adat barangkali
merupakan sebuah met"de yang dapat membuahkan hasil demi tercapainya pemahaman yang
menyeluruh tentang nilai dan perspekti* masyarakat adat. $endidikan pun bisa menjadi
langkah yang sangat e*ekti* dalam hal ini. $endidikan bisa membantu membuka %a%asan
5&
:ihat 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, &001, para 0F ; 11F.
1/
untuk menyelesaikan k"n*lik yang berkepanjangan dan memahami implikasi dari
diak"m"dirnya hak dan kepentingan masyarakat adat itu sendiri dan )egara.
c- Reformasi Konstitusional dan Kebi#akan Peraturan Perundang-undangan
Sebuah langkah p"siti* untuk menjamin hak-hak masyarakat adat telah menjadi praktik yang
maju "leh )egara untuk mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat melalui
amandemen k"nstitusi( pembuatan peraturan perundangan yang khusus( dan ketetapan-
ketetepan khusus di antara berbagai hukum umum lainnya. 4"nt"h yang pantas untuk
disebutkan di sini adalah amandemen terhadap K"nstitusi ,ra!il yang disahkan pada tahun
1/00. K"nstitusi itu memuat berbagai ketentuan yang tegas akan perlunya penentuan garis
batas dan perlindungan atas tanah-tanah masyarakat adat. 'emikian juga di merika -engah
dan merika Selatan( semisal rgentina( ,"li.ia( 9kuad"r( 3uatemala( 5"nduras( Meksik"(
)ikaragua( $anama( $araguay( $eru dan Mene!uela. )egara-negara itu sekarang memilik
K"nstitusi yang mengakui kepemilikan masyarakat adat atas tanah dan sumber daya alamnya(
dan menjamin reser.asi atau penentuan garis batas yang tetap dan tegas. Sebagai tambahan(
K"nstitusi ,"li.ia( 4"l"mbia dan $eru mengakui hak masyarakat adat untuk membentuk
pemerintahan sendiri (self-go0ernment) di daerah atau %ialayah mereka sepanjang hal itu tetap
mengindahkan K"nstitusi )egara dan hukum )asi"nal lainnya.
kan tetapi( 'aes juga mencatat bah%a hingga ia menyerahkan kertas kerja *inal sebagai
lap"ran atas hasil studinya kepada $,,( belum ada in*"rmasi yang diterima mengenai sejauh
mana pemberlakuan k"nstitusi dan berbagai ketentuan perundang-undangan atau hukum di
negara-negara yang diamatinya itu telah benar-benar diimplementasikan. <uga belum ada
lap"ran mengenai sejauh mana berbagai instrumen hukum itu mencapai sasaran seperti
memulihkan hubungan masyarakat adat dengan tanahnya dalam pengertian ek"n"mi( s"sial(
budaya dan makr"k"sm"s. Sepertinya( kata 'aes( perlu dilakukan sebuah studi k"mparati*
tentang berbagai ketentuan legislasi dan k"nstitusi"nal mengenai hak-hak masyarakat adat di
mana pun.
d- Inisiatif asyarakat !dat
$erlu diperhatikan bah%a masyarakat adat itu sendiri mengajukan berbagai inisiati* atau
usulan tentang berbagai pr"yek dan pr"gram yang penting dalam kaitan dengan tanah( terit"ri
dan sumber daya yang mereka miliki. ,erbagai inisiati* itu pada gilirannya akan memberikan
k"ntribusi bagi perlindungan dan pr"m"si hak-hak mereka. 4"nt"hnya adalah usulan tentang
pengel"laan dan pengel"laan bersama sumber-sumber daya alam di laska( atau di mana pun.
Masyarakat adat juga memberikan k"ntribusi pada inisiati* perlindungan lingkungan gl"bal
dan nasi"nal. Sebagai c"nt"h( keterlibatan dan peran mereka dan "rn"p masyarakat adat pada
1nited )ati"ns 4"n*erence "n 9n.ir"nment and 'e.el"pment sangat menentukan dalam
pembuatan dra* dan diterimanya atau disahkannya bab &D genda &1( yaitu tentang
=6ec"gni!ing and Strengthening the 6"le "* #ndigen"us $e"ples and -heir 4"mmunities>
53
.
#ni merupakan k"ntribusi p"siti* "leh masyarakat adat bagi masyarakat dunia.
53
-entang isi lengkap genda &1 ini silahkan lihat7 http7??%%%.un."rg?esa?sustde.?agenda&1tePt.htm
&0
'i tingkat nasi"nal( masyarakat adat di beberapa negara tertentu telah mengusulkan pr"yek
pembuatan peta (mapping pro#ect) sebagai %ahana untuk mend"kumentasikan dan
menspesi*ikasi kepemilikan mereka atas tanah adat dan praktik pengguna
5+
an tanah adat
tersebut. 5al ini bisa menjadi sebuah sarana yang penting bagi terciptanya kesadaran dan
pemahaman yang lebih besar atas kepemilikan tanah adat. 5al ini pada akhirnya bisa juga
membantu terciptanya dasar bagi pengakuan secara legal dan perlindungan terhadap hak atas
tanah-tanah adat dan sumber dayanya. 'i ,eli!e( pembuatan pr"yek dari masyarakat #ndian
Maya di distrik -"led" berhasil diterbitkan pada tahun 1//0 di ba%ah judul7 aya !tlas7 The
.truggle to Preser0e aya Land in .outhern ;eliAe. $eta ini merupakan atlas buatan
masyarakat adat yang pertama di dunia. aya !tlas ini( yang dipr"duksi "leh -"led" Maya
4ultural 4"uncil dan -"led" lcaldes ss"ciati"n( mend"kumentasi tanah adat milik
masyarakat M"pan dan KeJkchi( dan juga mendeskripsikan sejarah bangsa Maya(
kebudayaannya( hukum adat mereka tentang tanah dan kegiatan-kegitan s"si"-ek"n"mi
masyarakat tersebut.
e- Instrumen-Instrumen .tandar :ak !sasi anusia
'i depan telah saya uraikan beberapa instrumen standar hak asasi manusi beserta
mekanismenya. Mungkin yang perlu dicatat di sini adalah bah%a berbagai n"rma hak asasi
manusia yang kini tengah berlaku( yakni n"rma yang berkaitan dengan hak atas pembangunan(
hak antar-generasi( hak atas perdamaian dan kedamaian( dan hak lingkungan yang aman dan
sehat merupakan n"rma-n"rma yang digunakan masyarakat adat untuk mulai memperngaruhi
pemikiran lama dan memba%a pengaruh pr"gresi* atas standar-standar itu( yang lebih sensiti*(
resp"nsi* dan berguna bagi masyrakat adat dan umat manusia pada umumnya. Kesimpulan
dalam lap"ran dari ,rundtland 4"mmissi"n( Our 6ommon 3uture, sudah seharusnya untuk
tidak diabaikan berdasarkan pandangan atas perubahan ini dan pengembangan standar-standar
hak-hak asasi manusia. :ap"ran itu mengandung dan menegaskan pengakuan terhadap situasi
khas nan unik dalam eksistensi masyarakat adat7
-itik a%al bagi kebijakan yang adil dan manusia%i untuk kel"mp"k-kel"mp"k masyarakat semacam itu
adalah pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak tradisi"nal mereka dan terhadap tanah dan sumber
daya lain yang mereka miliki( yang melestarikan cara hidup mereka. 5ak-hak ini barangkali memang
tidak termasuk atau tidak sesuai dengan sistem hukum standar (yang berlaku di negara di mana %ilayah
tempat tinggal mereka berada). ,erbagai institusi milik kel"mp"k-kel"mp"k masyarakat ini( institusi
untuk mengatur hak dan ke%ajiban( sangat krusial untuk membangun harm"ni dengan alam dan perilaku
peduli lingkungan dalam cara hidup mereka. Maka dari itu( pengakuan terhadap hak-hak tradisi"nal
mereka haruslah disatukan dengan undang-undang atau ketentuan hukum untuk melindungi institusi-
institusi l"kal mereka yang meningkatkan tanggung ja%ab dalam meman*aatkan sumber daya yang
mereka miliki. 'an pengakuan ini harus pula memberikan k"munitas l"kal sebuah hak suara yang
menentukan dalam keputusan tentang peman*aatan sumber daya alam di %ilayah tanah adat mereka.
55
5+
Setahu saya( di tingkat nasi"nal #nd"nesia( belum ada upaya menyeluruh untuk pembuatan peta seperti
itu untuk menandingi peta yang dibuat pemerintah. 5al penting lainnya yang menjadi satu paket dengan
pemetaan adalah s"al pend"kumentasian. 5al ini sering ditekankan "leh saudara )"er Cau!i dalam beberapa
kesempatan.
55
$andangan 3r" ,runtland ini dikutip dalam 9rica-#rene . 'aes( op- cit-, &001( para. 11F.
&1
P"/0!0P
$erkembangan k"nsep( paham dan gerakan hak asasi manusia gl"bal telah memba%a serta
semakin p"pulernya isu masyarakat adat baik di tingkat nasi"nal maupun internasi"nal. #su
masyarakat adat memang masih memiliki beban ba%aan berupa hubungan mereka dengan
tanah( %ilayah dan sumber daya dalam dimensi ek"n"mis( s"sial( kultural( maupun religius-
spiritual dan *il"s"*is-makr"k"smis. Masalah lainnya lagi yang hingga kini masih
menggantung adalah s"al self-determination dan s"al indentitas.
Kendatipun di tingkat internasi"nal kita mencatat adanya perkembangan
menggembirakan misalnya disahkannya Permanent 3orum on Indigenous Issues namun di
tingkat nasi"nal kita masih dihadapkan dengan berbagai halangan dan tantangan baik berupa
pengakuan langsung dan nyata terhadap hakikat( eksistensi dan keberadaan serta hak-hak
masyarakat adat( maupun berupa pembaruan hukum dan p"litik yang mengak"m"dir
kepentingan mereka. Karena itu benar sekali apa yang dikatakan <"hn ,amba bah%a
masyarakat adat di dunia sekarang ini bagai berada dalam =perjuangan gl"bal> namun
=tantangan l"kal>.
5D
'engan kata lain( jalan menuju puncak pengakuan k"mprehensi* atas keberadaan
(being) masyarakat adat memang panjang. -iada cara lain memperkecil jarak itu selain mulai
berjalan( berjalan( dan berjalan. <alan itu adalah menganyam kiat dengan menggali berbagi
kemungkinan berdasarkan k"nsep( paham( mekanisme dan standar internasi"nal hak asasi
manusia yang dik"ntekstualisasikan dalam tataran perjuangan l"kal.
5D
<"hn ,amba( op- cit-
&&
S"/A1AI BA8AA/
lst"n( $hilip (9d.). 1//&. =-he 4"mmissi"n "n 5uman 6ights> dalam The )nited *ations
and :uman Rights7 ! 6ritical !ppraisal- 4larend"n $ress( OP*"rd.
naya( S. <ames. 1//D. Indigenous Peoples in International La+- OP*"rd 1ni.ersity $ress(
)e% Q"rk.
,amba( <"hn. &00& (F pril). =Masyarakat dat di 'unia( $erjuangan 3l"bal dan -antangan
:"kal>. Makalah pada $elatihan )asi"nal Masyarakat dat untuk 5M dan $"licy
$r"cess. $"ntianak.
,"se( -apan. ='e*initi"n and 'elimitati"n "* the #ndigen"us $e"ples "* sia>. #23#.
a.ailable "nline at7 http7??%%%.i%gia."rg?p"p@up.phtmlAidB30/.
,"sk"( 6a*ael 9dy. 1/// (pril). The Right of Indigenous Peoples in the 6onte8t of *atural
Resources "e0elopment- master thesis in public internati"nal la%. 6a"ul 2allenberg
#nstitute "* 5uman 6ights and 5umanitarian :a%( Caculty "* :a%( 1ni.ersity "* :und.
4"b"( <"sH 6. MartIne!. 1/0F. .tudy of the Problem of "iscrimination against Indigenous
Populations- M"lume M. 4"nclusi"n( pr"p"sal and rec"mmendati"n. 1nited )ati"ns
$ublicati"ns( sales )". 9. 0D. L#M. 3. )e% Q"rk( 1nited )ati"ns.
'aes( 9rica-#rene . 1//3. =S"me 4"nsiderati"ns "n the 6ight "* #ndigen"us $e"ples t" Sel*-
determinati"n>. 4 Transnational La+ and 6ontemporary Problems 1.
'aes( 9rica-#rene . 1//5. E0olution of .tandards 6oncerning the Rights of Indigenous
Peoples7 *e+ "e0elopment and <eneral "iscussion of 3uture !ction- 1) '"c.
9?4).+?Sub.&?4.+?1//5?3.
'aes( 9rica-#rene . &001 (11 <uni). Indigenous Peoples and Their Relations to Land. Cinal
%"rking paper. 4"mmissi"n "n 5uman 6ights. 9?4).+?Sub.&?&001?&1.
'ahl( <ens dan lejandr" $arellada. &001. asyarakat !dat di "unia, Eksistensi dan
Per#uangannya- #23# dan #nstitut 'ayak"l"gi( $"ntianak.
'urning( lan -hein. 1//& ('esember). =3uardians "* the :and7 indigen"us pe"ples and the
health "* the 9arth>. /orld /atch Paper 11&.
5annum( 5urst (9d.). 1//&. <uide to International :uman Rights Practice, &
nd
editi"n.
1ni.ersity "* $ennsyl.ania $ress( $hiladelphia.
#23#. =#ndigen"us #ssues>. http7??%%%.i%gia."rg?p"p@up.htmlAidB3.
&3
Kaye( Stuart dan 6ys!ard $i"tr"%i%ic!. &000. =)ature and Origins "* 5uman 6ights :a%>
(bab 1) dalam :uman Rights in International and !ustralian La+. ,utter%"rths( Sydney.
6"bins"n( Mary. =1) 9stablihes $ermanent C"rum *"r #ndigen"us #ssues>. $ress 6elease
94OSO4?5/3&.
http7??%%%.un."rg?)e%s?$ress?d"cs?&000?&0000F31.ec"s"c5/3&.d"c.html
6"ulet( Cl"rencia. 1///. :uman Rights and Indigenous Peoples- 5andb""k "n the 1)
System. #23#( 4"penhagen.
Stephanus 'ju%eng dan Sandra M"niaga( =Kebudayaan dan Manusia yang Majemuk( pakah
Masih $unya -empat di #nd"nesiaA> Kata $engantar dalam Kon0ensi ILO '%& mengenai
;angsa Pribumi dan asyarakat !dat di *egara-*egara erdeka( 9:SM dan :,,-(
<akarta( tanpa tahun.
)nited *ations <uide for Indigenous Peoples- :ea*let )". D =-he $ermanent C"rum "n
#ndigen"us #ssues. .ailable "nline at7
http;77===4unh9hr49h7html7ra9ism7indileaflet>4do9.
!genda 2'. http7??%%%.un."rg?esa?sustde.?agenda&1tePt.htm
2"rld ,ank. 1//1. Operational "irecti0e O" 5-2(7 Indigenous Peoples.
Saken( Ministerie .an ,uitenlandse. 1//3 (1+ Mei). Indigenous in the *etherlands 3oreign
Policy and "e0elopment 6ooperation.
http7??%%%.haley"n.c"m?pub?C2'$?#nternati"nal?nethrlnd.tPt T1?0?//U.
&+
!"/!A/2 P"/0,IS
Eddie Riyadi Terre adalah se"rang sarjana hukum yang bekerja di 9:SM ; :embaga Studi
dan d."kasi Masyarakat sejak 1 Mei &001 hingga sekarang. Sebelumnya( penulis bekerja
sebagai pengajar-pendidik dan edit"r?penerjemah di $enerbit Kanisius dan $enerbit ndi(
Q"gyakarta. Menjadi *asilitat"r dan narasumber dalam beberapa e0ent di beberapa tempat
untuk berbagai t"pik yang berkaitan dengan isu hak asasi manusia( hukum( dan transitional
#ustice. $enulis juga menjabat sebagai 6edaktur $elaksana "I*IT!., ,urnal :ak !sasi
anusia terbitan 9lsam. Sekarang ini menjadi mahasis%a di $r"gram $asca-Sarjana Sek"lah
-inggi Cilsa*at 'riyarkara( <akarta.
$engalaman baik sebagai peserta (participant) maupun sebagai pembicara (resource person)
untuk isu-isu hak asasi manusia baik umum maupun( terutama( yang secara khusus berkaitan
dengan hak-hak masyarakat adat adalah sebagai berikut7
<uni &001 7 Participant =$elatihan 5M bagi $engacara> yang
diselenggarakan 9:SM.
Okt"ber ; )".ember &001 7 Participant =#nternati"nal -raining "n #nternati"nal 5uman
6ights Standards and $"licy $r"cess *"r #ndigen"us
$e"ples>( ,agui" 4ity( $hilippines.
pril &00& 7 Resource Person pada =-raining 5M -ingkat )asi"nal
untuk Masyarakat dat>( $"ntianak( Kalimantan ,arat(
#nd"nesia.
<uli &00& 7 Resource Person pada =)ati"nal -raining "n #nternati"nal
5uman 6ights Standards and $"licy $r"cess *"r #ndigen"us
$e"ples>( Sera%ak( Malaysia.
&5