Anda di halaman 1dari 38

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

BENZODIAZEPINE
Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh
Program pendidikan Profesi Dokter
Disusun Oleh :
Akbar Septian (1210221030)
da Ayu Diani PS (1210221010)
!ika "artika #ini (12102210$0)
#ulli %ka Prananda (12102210&0)
'idya (ebriani (12102210$))
PEMBIMBING :
dr* Suryo 'ijoyo
PENGUJI :
+pk* Saebani, S-"* "kes*
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN NIVERSITAS
DIPONEGORO RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DOKTER KARIADI
SEMARANG
PERIODE 1 JULI ! " AGUSTUS #$1"
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah S'! yang telah memberikan nikmat kesehatan dan
keselamatan sehingga pembuatan referat ini dapat terselesaikan tepat pada .aktunya*
#eferat ini dibuat sebagai salah satu tugas -epanitraan -linik +agian lmu (orensik #S/P
Dr* -ariadi (akultas -edokteran /ni0ersitas Diponegoro*
/1apan terimakasih kami u1apkan kepada residen pembimbing dr*Suryo 'ijoyo
dan dosen Penguji +apak Saebani, S-", "*-es atas bimbingan dan arahannya dalam
pembuatan refrat ini dan kepada semua pihak yang telah membantu kami sehingga refrat
ini dapat terselesaikan dengan baik*
!entunya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan sebagai
insan yang masih terus menuntut ilmu, kami menyadari bah.a pembuatan referat ini masih
jauh dari kata sempurna* 2leh karena itu, kami mohon maaf apabila dalam pembuatan
makalah ini terdapat banyak kesalahan*
Akhirnya kami u1apkan terima kasih atas perhatiannya dan semoga referat ini dapat
berguna dan menambah pengetahuan bagi kita semua* Amin*
Semarang, 3uli 2012
Penyusun
2
BAB I
PENDAHULUAN

1%1 L&'&( Bel&)&n*
!oksikologi forensik adalah salah satu dari 1abang ilmu forensik* "enurut
Saferstein yang dimaksud dengan Forensic Science adalah 4the application of science to
low4, maka se1ara umum ilmu forensik (forensik s1ien1e) dapat dimengerti sebagai aplikasi
atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk penegakan hukum dan peradilan* 5una
lebih memahami pengertian dan ruang lingkup kerja toksikologi forensik, maka akan lebih
baik sebelumnya jika lebih mengenal apa itu bidang ilmu toksikologi* lmu toksikologi
adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek berbahaya 6at kimia atau ra1un terhadap
mekanisme biologis suatu organisme*
1
#a1un adalah senya.a yang berpotensi memberikan efek yang berbahaya terhadap
organisme* Sifat ra1un dari suatu senya.a ditentukan oleh7 dosis, konsentrasi ra1un di
reseptor, sifat fisiko kimis toksikan tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem
bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan* !osikologi
forensik menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu toksikologi untuk
kepentingan peradilan*
2
-erja utama dari toksikologi forensik adalah melakukan analisis kualitatif maupun
kuantitatif dari ra1un dari bukti fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam
ungkapan apakah ada atau tidaknya ra1un yang terlibat dalam tindak kriminal, yang
dituduhkan, sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan*
3

8asil analisis dan interpretasi temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu
laporan yang sesuai dengan hukum dan perundang9undangan* "enurut 8ukum A1ara
Pidana (-/8AP), laporan ini dapat disebut dengan Surat -eterangan Ahli atau Surat
-eterangan* 3adi toksikologi forensik dapat dimengerti sebagai pemanfaatan ilmu
tosikologi untuk keperluan penegakan hukum dan peradilan* !oksikologi forensik
merupakan ilmu terapan yang dalam praktisnya sangat didukung oleh berbagai bidang ilmu
3
dasar lainnya, seperti kimia analisis, biokimia, kimia instrumentasi,
farmakologitoksikologi, farmakokinetik, biotransformasi*
2
:arkotika ialah bahan 6at atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
(nabati dan kimia.i) yang dapat mempengaruhi akal, badan, penurunan atau perubahan
kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan bagi yang mengonsumsinya* 8al ini dapat menyebabkan
badannya menjadi meriang dan pemalas, lenyap kegigihannya, tertutup akalnya dan
menjadikannya sebagai pe1andu dan tak dapat melepaskan diri darinya*
$
Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan 6at yang bersifat
patologik paling sedikit satu bulan lamanya* "enurut ;D 10 (International Classification
of Diseases), berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan 6at
dikelompokkan dalam berbagai keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma
ketergantungan, sindroma putus obat, dan gangguan mental serta perilaku lainnya*
$
+en6odia6epine merupakan obat yang sering digunakan sebagai terapi lini pertama
untuk penatalaksanaan kejang, terutama kejang demam dan status epileptikus* Dia6epam
adalah turunan dari ben6odia6epine yang merupakan sedatif yang berhubungan erat dengan
depresi sistem saraf pusat* 2bat ini merupakan obat standar terhadap ben6odia6epin
lainnya* +en6odia6epin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek 5A+A (gamma
aminobutyri1 a1id) di otak* 5A+A adalah neurotransmitter (suatu senya.a yang digunakan
oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat aktifitas di otak*
<
+en6odia6epin termasuk obat psikotropika yang penggunaannya harus dengan resep
dokter* Dia6epam merupakan obat dengan kelas terapi antiansietas, antikon0ulsan, dan
sedatif*

Digunakan pada pengobatan agitasi, tremor, delirium, kejang, dan halusinasi akibat
alkohol* Dalam mengatasi kejang, ben6odia6epine dapat dikombinasikan dengan obat9
obatan lain* +en6odia6epine dimetabolisme di hati dan di eksresikan di ginjal*
<

Sifat +en6odia6epine tidak larut dalam air dan harus berdisosiasi pada pelarut
organik (propylene, gly1ol, sodium ben6oat), rasa sakit mungkin mun1ul pada pemberian
$
intramuskuler ataupun pada pemberian intra0ena* Penggunannya harus mendapat perhatian
terutama pada pasien yang memiliki masalah pada penyakit pernapasan, kelemahan otot=
myastenia gra0is, ri.ayat ketergantungan obat, kelainan kepribadian yang jelas, hamil dan
menyusui*
&
+en6odia6epine juga memiliki berbagai efek samping dari yang ringan sampai
berat, interaksi obat perlu perhatian bagi kalangan medis dan penggunanya* Dalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai obat antikon0ulsan dia6epam serta efek toksikologi dalam
kegunaan dalam bidang forensik*
&
1*2 #/"/SA: "ASA>A8
2* Apa saja efek samping dari ben6odia6epine ?
3* Apa kegunaan dan penyalahgunaan dari ben6odia6epin ?
$* +agaimana dasar hukum mengenai ben6odia6epine ?
<* +agaimana gambaran forensik pada kasus penggunaan ben6odia6epine ?
1*3 !/3/A:
1* /ntuk menambah pengetahuan mengenai efek samping dari ben6odia6epine
2* /ntuk menambah pengetahuan mengenai kegunaan dan penyalahgunaan dari
ben6odia6epine
3* /ntuk menambah pengetahuan mengenai dasar hukum mengenai ben6odia6epine
$* /ntuk menambah pengetahuan mengenai gambaran forensik pada penggunaan
ben6odia6epine
<
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A% De+inisi
+en6odia6epine adalah sekolompok obat golongan psikotropika yang
mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tran@uili6er, dan
psikoleptika* +en6odi6epine merupakan salah satu obat yang bekerja di system saraf
pusat, bersifat hipnotik dan sedatif*
)
Ben,-.i&,e/ine 0i&s& .ise0u' .en*&n /il )-/l-1 /il ni/&21 BK1 Le3-1
R-h4/1 MG1 M&*&.-n1 Ben,-s1 R-5ies1 Se((ies1 M-**ies1 V&ls1 V1 Slee/e(s%
6
B. S'(u)'u( Ki2i&
#umus ben6odia6epine terdiri dari 1in1in ben6ene (1in1in A) yang melekat
pada 1in1in aromati1 dia6epin (1in1in +)* -arena ben6odia6epine yang penting
se1ara farmakologik selalu mengadung gugus <9aril (1in1in ;) dan 1in1in 1,$9
ben6odia6epin, rumus bangun kimia golongan ini selalu diidentikkan dengan <9aril
1,$9ben6odia6epin*-ebanyakan mengandung gugusan karboksamid dalam struktur
1in1in heterosiklik beranggota )* Substituent pada posisi ) ini sangat penting dalam
akti0itas hipnotik sedati0e*
7
Pada umumnya, semua senya.a ben6odia6epine memiliki empat daya kerja
seperti efek anAiolitas, hipnotik9sedatif, antikon0ulsan, dan relaksan otot* Setiap
&
efek berbeda9beda tergantung pada dri0atnya dan berdasarkan pengaruh 5A+A
pada system saraf pusat (SSP)* +en6odia6epine menimbulkan efek hasrat tdur bila
diberi dalam dosis tinggi pada malam hari, dan memberikan efeke sedasi jika
diberikan dalam dosis rendah pada siang hari*
7
-euntungan yang bisa didapat dari penguna ben6odia6epine adalah tidak
merintangi tidur #%"* A.alanya, 6at ini diperkirakan tidak menimbulkan toleransi,
tetepi teryata 6at ini menimulkan toleransi jika digunakan .&l&2 18# 2in**u%
9
5ambar 1* #umus umum struktur kimia ben6odia6epine
:% Se.i&&n
+en6odia6epine berbentuk tablet, kapsul, dan suntikan* Dapat digunakan
dengan 1ara ditelan, suntikan intra0ena melalui lubang dubur dan dilarutkan
diba.ah lidah*
&
D% Pen**-l-n*&n Ben,-.i&,e/ine
+erdasarkan lama kerjanya, ben6odia6epinedapat digolongkan kedalam tiga
kelompok 7
&
1* >ong a1ting*
)
2bat B obat ini dirombak dengan jalan demetiasi dan hidroksilasi
menjadi metabolit aktif (sehingga memperpanjang .aktu kerja) yang
kemudian dirombak kembali menjadi oksa6epam yang dikonjugasi
menjadi glukoroida tak aktif* "etabolit aktif desmetil biasanya
bersifat anAiolitas* Sehingga biasanya, 6at long a1ting lebih banyak
digunakan sebagai obat tidur .alaupun efek induknya yang paling
menonjol adalah sedati0e9hipnotik* ;ontohnya dia6epam,
flura6epam*
&
2* Short a1ting
2bat B obat ini dimetabolisme tanpa menghasilkan 6at aktif*
Sehingga .aktu kerjanya tidak diperpanjang* 2bat B obat ini jarang
menghasilkan efek sisa karena tidak terakumulasi pada penggunaan
berulang* ;ontohnya lora6epam, esta6olam*
&
3* /ltra short a1ting
lama kerjanya sangat kurang dari short a1ting* 8anya kurang dari <,<
jam* %fek abstinensia lebih besar terjadi pada obat B obatan jenis ini*
Selalin sisa metabolit aktif menentukan untuk perpanjangna .aktu
kerja, afinitas terhadap reseptor juga sangan menentukan lamanya
efek yang terjadi saat penggunaan* Semakin kuat 6at berikatan pada
reseptornya, semakin lama juga .aktu kerjanya* ;ontohnya
mida6olam, tria6olam*
&
E% F&(2&)-)ine'i)
C
Sifat fisikokimia dan farmakokinetik ben6odia6epine sangat mempengaruhi
penggunaannya dalam klinik karena menentukan lama kerjanya* Semua
ben6odia6epine dalam bentuk nonioni1 memiliki koefesien distribusi lemak 7 air
yang tinggiD namun sifat lipofiliknya daoat ber0ariasi lebih dari <0 kali, bergantung
kepada polaritas dan elektronegati0itas berbagai senya.a ben6odia6epine*
&
Semua ben6odia6epin pada dasarnya diabsorpsi sempurna,
ke1uali klora6epatD obat ini 1epat mengalami dekarboksilasi dalam 1airan lambung
menjadi :9desmetil9dia6epam (norda6epam), yang kemudian diabsorpsi sempurna*
+eberapa ben6odia6epin (seperti pra6epam dan flura6epam) men1apai sirkulasi
sistemik hanya dalam bentuk metabolit aktif*
)
5olongan ben6odia6epine menurut lama kerjanya dapat dibagi dalam $ golongan 7
)

1* senya.a yang bekerja sangat 1epat
2* senya.a yang bekerja 1epat, dengan t E kurang dari & jam 7 tria6olam dan
nonben6odia6epin (6olpidem, 6olpiklon)*
3* senya.a yang bekerja sedang, dengan t E antara &92$ jam 7 esta6olam dan
tema6epam*
$* senya.a yang bekerja dengan t E lebih lama dari 2$ jam 7 flura6epam, dia6epam,
dan @ua6epam*
+en6odi6epin dan metabolit aktifnya terikat pada protein plasma* -ekuatan
ikatannya berhubungan erat dengan sifat lipofiliknya, berkisar dari )0F
(alpra6olam) sampai GGF (dia6epam)* -adarnya pada 1airan serebrospinal (;SS)
kira9kira sama dengan kadar obat bebas di dalam plasma*
&
G
Profil kadar plasma sebagian besar ben6odia6epine se1ara tetap mengikuti
model kineti1 dua kompartemen, namun bagi ben6odia6epine yang sangat larut
lemak, profil kinetiknya lebih sesuai dengan model kineti1 tiga kompartemen*
Dengan demikian, setelah pemberian ben6odia6epine i0 (atau peroral bagi
ben6odia6epine yang diabsorpsi sangat 1epat) ambnilan ke dalam otak dan organ
dengan perfusi tinggi lainnya terjadi sangat 1epat, diikuti dengan redistribusi ke
jaringan yang kurang baik perfusinya, seperti otot dan lemak* -inetika redistribusi
dia6epam dan ben6odia6epine yang lipofilik menjadi rumit oleh adanya sirkulasi
entero hepati1* Holume distribusi ben6odia6epine adalah besar, dan banyak
diantaranya meningkat pada usia lanjut* +en6odia6epin dapat mele.ati sa.ar uri
dan disekresi kedalam AS*
&
+en6odia6epin dimetabolisme se1ara ekstensif oleh kelompok en6im sitokro
P$<0 di hati, terutama ;IP3A$ dan ;IP2;1G* +eberapa ben6odia6epine seperti
oksa6epam, dikonjugasi langsung, tidak dimetabolisme oleh en6im tersebut*
+eberapa penghambat ;IP3A$, antara lain 7 eritromisin,, klaritromisin, rito0na0ir,
itrakona6ol, ketokona6ol, nefa6odon, dan sari buah grapefruit dapat mempengaruhi
metabolism ben6odia6epine*
)
"etabolit aktif ben6odia6epine umumnya dibiotransformasi lebih lambat
dari senya.a asalnya, sehingga lama kerja ben6odia6epine tidak sesuai
dengan.aktu paruh eliminasi obar asalnyaD misalnya .aktu paruh metabolit
aktifnya (:9desalkil flura6epam) <0 jam atau lebih*
<
Sebaliknya pada ben6odia6epine yang diinaktifkan pada reaksi pertama
ke1epatan metabolism menjadi penentu lama kerjanyaD misalnya oksa6epam,
lora6epam, tema6epam, tria6olam, dan mida6olam* "etabolisme ben6odia6epine
terjadi dalam 3 tahap yaitu desaalkilasi, hidroksilasi, dan konjugasi*
&
8ipnotik ideal harus memiliki mula ketja 1epat, mampu memeprtahankan
tidur sepanjang malam, dan tidak meninggalkan efek residu pada keesokan harinya*
10
Diantara ben6odia6epine yang digunakan sebagai hipnotik, se1ara teoritis tria6olam
mendekati 1riteria tersebut* :amun, dalam praktek, bagi beberapa pasien
penggunaan hipnotik yang 1epat tereliminasi dalam darah merugikan karena masa
kerjanya pendek, sehingga lama tidirnya brkurang dan ke1enderungan timbulnya
rebound insomnia pada saat penghentian oabt* (lura6epam kurang sesuai sebagai
hipnotik, sebab ke1epatan eliminasi metabolit aktifnya yang sangat lambat* :amun
dengan pemilihan dosis yang hati9hati, flura6epam dan ben6odia6epine lain yang
memiliki ke1epatan eliminasi lebih lambat dari tria6olam masih dapat digunakan
se1ara efektif*
G
(* F&(2&)-.in&2i)
8ampir semua efek ben6odia6epine merupakan hasil kerja golongan ini pada
SSP dengan efek utama 7 sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan
emosi=ansietas, relaksasi otot, dan anti kon0ulsi*8anya dua efek saja yang
merupakan kerja golongan ini pada jaringan perifer 7 0asodilatasi koroner (setelah
pemberian dosis terapi golongan ben6odia6epine tertentu se1ara i0), dan blokade
neuromuskular (yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi)*
&,G,10
1* Susunan saraf pusat
'alaupun ben6odia6epine mempengaruhi semua tingkatan akti0itas
saraf, namun beberapa deri0ate ben6odia6epine pengaruhnya lebih besar
terhadap SSP dari deri0ate yang lain* +en6odia6epine tidak mampu
menghasilkan tingkat depresi saraf sekuat golongan barbiturate atau anestesi
umum lainnya* Semua ben6odia6epine memilii profil farmakologi yang
hamper sama, namun efek utamanya sangat ber0ariasi, sehingga indikasi
kliniknya dapat berbeda* Peningkatan dosis ben6odia6epine menyebabkan
depresi SSP yang meningkat dari sedasi ke hipnotis, dan dari hipnosis ke
stuporD keadaan ini sering dinyatakan sebagai efek anesthesia, tapi obat
11
golongan ini tidak benar9benar memperlihatkan efek anestesi umum yang
spesifik, karena kesadaran pasien teteap bertahan dan relaksasi otot yang
diperlukan untuk pembedahan tidak ter1apai* :amun pada dosis
preanestetik, ben6odia6epine menimbulkan amnesia anterograd terhadap
kejadian yang berlangsung setelah pemberian obat* Sebagai anestesi umum
untuk pembedahan, ben6odai6epin harus dikombinasikan dengan obat
pendepresi SSP lain* +elum dapat dipastikan, apakah efek ansietas
ben6odia6epine identik dengan efek hipnotik sedatifnya atau merupakan
efek lain*
+eberapa ben6odia6epine menginduksi hipotonia otot tanpa
gangguan gerak otot normal, obat ini mengurangi kekakuan pada pasien
cerebral palsy*
&,G,10
-erja ben6odoa6epin terutama merupakan interaksinya dengan
reseptor penghambat neurotransmitter yang diaktifkan oleh asam gamma
amino butirat (5A+A)* #eseptor 5A+A merupakan protein yang terikat
pada membrane dan dibedakan dalam 2 bagian besar sub9tipe, yaitu
reseptor 5A+A
A
dan reseptor 5A+A
+
*
&,G,10
#eseptor inotropik 5A+A
A
terdiri dari < atau lebih sub unit (bentuk
majemuk J, K, dan L subunit) yang membentuk suatu reseptor kanal ion
klorida kompleks* #esptor ini berperan pada sebagian besar besar
neurotransmitter di SSP*
#eseptor 5A+A
+
, terdiri dari peptide tunggal dengan ) daerah
transmembran, digabungkan terhadap mekanisme signal transduksinya
oleh protein95*
&,G,10
+en6odia6epin bekerja pada reseptor 5A+A
A
, tidak pada reseptor
5A+A
+
* +en6odia6epin berikatan langsung pada sisi spesifik (subunit L)
reseptor 5A+A
A
(reseptor kanal ion -lorida kompleks), sedangkan 5A+A
berikatan pada subunit J atau K* Pengikatan ini akan menyebabkan pembukaan
12
kanal klorida, memungkinkan masuknya ion klorida kedalam sel, menyebabkan
peningkatan potensial elektrik sepanjang membrane sel dan menyebabkan sel
sukar tereksitasi*
&
+en6odia6epine merupakan basa lemah yang sangat efektif diarbsorbsi pada
p8 tinggi yang ditemukan dalam duodenum* #eabsorbsi di usus berlangsung dengan
baik karena sifat lipofil dari ben6odia6epine dengan kadar maksimal di1apai pada E
sampai 2 jam* Penge1ualian terjadi pada pengunaan klordia6epoksida, oksa6epam dan
lora6epam* -arena sifatnya yang kurang lipofilik, maka kadar maksimunya baru
ter1apai 1$ jam* Distribusi terutama di otak, hati dan jantung* +eberapa diantara 6at
ben6odia6epine mengalami siklus enterohepatik*
&
3ika diberikan supositoria, reabsorbsinya agak lambat* !etapi bila diberikan
dalam bentuk larutan re1tal khusus, reabsorsinya sangat 1epat* 2leh karena itu bentuk
ini sangat sering diberikan pada keadaan darurat seperti pada kejang demam*
10
Mat ini bersifat lipofil sehingga dapat menembus sa.ar plasenta dan dapat
men1apai janin* Aliran darah ke plasenta relati0e lambat maka ke1epatan di1apainya
13
darah janin relati0e lebih lambat dibandingkan ke system saraf pusat, tetapi jika 6at
diberikan sebelum lahir makan mengakibatkan penekanan fungsi 0ital neonates*
10
2* %fek pada respirasi dan kardio0askular
+en6odia6epin dosis hipnotik tidak berefek pada pernapasan orang normal*
Penggunaannya perlu diperhatikan pada anak9anak dan indi0idu yang menderita
kelainan fungsi hati* Pada dosis yang lebih tinggi, misalnya pada anestesi pemedikasi
ayau pre endoskopi, ben6odia6epine sedikit mendepresi 0entilasi al0eoli, dan
menyebabkan asidosis respiratoar, hal ini lebih karena penurunan keadaan hipoksia
daripada dorongan hiperkaptikD efek ini terutama terjadi pada pasien dengan PP2-
yang mengakibatkan hipoksia al0eolar dan=atau nar1osis ;2
2
* 2bat ini dapat
menyebabkan apnea selama anestesi atau bila diberi bersama opiat* 5angguan
pernapasan yang berat pada intoksikasi ben6odia6epine biasanya memerlukan bantuan
pernapasan hanya bila pasien juga mengkonsumsi obat pendepresi SSP yang lain,
terutama alkohol*
10
Pemberian ben6odia6epine pada prakteknya menghasilkan penekanan pada 6at
endogen mirip ben6odia6epine* Sehingga 6at B 6at ini berkurang kadarnya saat
pemberian ben6odia6epine* %fek inilah yang akan mempengeruhi ketergantungan
tubuh terhadap ben6odia6epine* 8al ini dapat dihindari dengan pemakaian benar dari
6at9 6at turuna ben6odia6epine*
10
G% E+e) S&2/in*
Pemakaian a.al dapat meneyababkan beberapa efek samping* %fek tersebut
antara lain adalah rasa kantuk, pusin, nyeri kepala, mulut kering, dan rasa pahit di
mulut* Adapun efek samping lainnya adalah 7
&,G,10
1$
1* 8ang o0er* %fek sisa yang disebabkan adanya akumulasi dari sisa
metabolit aktif* 3ika ini terjadi pada pengendara bermotor, resiko terjadi
ke1elakaan meningkat lbih dari lima kali lipat*
2* Amnesia #etrograde*
3* 5ejala Paradoksal* +erupa eksitasi, gelisah, marah9marah, mudah
terangsang, dan kejang9kejang
$* -etergantungan* !imbulnya efek ini karena timbulnya gejaa abstinens
yang menyebabkan pemakai merasa lebih nyama jika mengunakan 6at
ini* 3ika terjadi menahun dapat menimulkan kompulsif sehingga terjadi
ketergantungan fisik
<* !oleransi* !erjadi setelah 192 minggu pemakaian*
&* Abstinens* 5ejala yang timbul merupakan gejala yang mirip dan
bahakan lebih parah dibandingkan gejala sebelum dipakainya
ben6odia6epine* "isalya timbu nightmare, takut, 1emas dan ketegangan
yang hebat*
H% In.i)&si .&n P-s-l-*i
Penggunaan untuk terapi atau indikasi serta posologi (1ara pemberian=bentuk
sediaan), dan dosis) beberapa ben6odia6epine yang ada di pasaran dapat dilihat pada
tabel berikut 7
&,G,10
:ama obat +entuk Penggunaan -eterangan t E (jam) Dosis (mg)
1<
(nama Dagang) sediaan !erapi
(sebagai
1ontoh)
8ipnotik9
sedatif
Alpra6olam
(NA:AN)
2ral Ansietas 5ejala putus
obat yang terjadi
1ukup berat
12,0 O 2,0 99
-lorodia6epoksid
(>+#/")
2ral, im,
i0
Ansietas,
penanganan
ketergantungan
al1ohol, anestesi
premedikasi
>ama kerja
panjang, akibat
metabolit
aktifnya, dan
menurun se1ara
bertahap
10,0 O 3,$ <,0 B 100,0D
193 A=hari
-lona6epam
(->2:2P:)
2ral 5ejala bangkitan,
tambahan terapi
pada mania akut,
dan kelainan
pergerakan
tertentu
!erjadi toleransi
terhadap efek
antikon0ulsi
23,0 O <,0 99
-lora6epat
(!#AN%:%)
2ral Ansietas
5ejala bangkitan
ProdrugD aktif
setelah diubah
menjadi
norda6epam
2,0 O 0,G 3,)< B 20,0D
29$ A=hari
Dia6epam
(HA>/")
2ral, 0,
m, re1tal
Ansietas, status
epilepsy,
relaksasi otot,
anestesi pre
medikasi*
Prototip
ben6odia6epine
$3,0 O
13,0
<,0 B 10,0
39$ A=hari
%sta6olam 2ral nsomnia %fek sampingnya
menyerupai
10,0 O 2$,0 1,0 B 2,0
1&
(P#2M2") tria6olam
(lura6epam
(DA>"A:%)
2ral nsomnia Pada
penggunaan
kronik terjadi
akumulasi
metabolit aktif
)$,0 O 2$,0 1<,0 B 30,0
8ala6epam
(PANPA")
2ral Ansietas Aktif terutama
sebab diubah jadi
metabolit
norda6epam
1$,0 99
>ora6epam
(A!HA:)
2ral, im, i0 Ansietas, anestesi,
pre medikasi
8anya
dimetabolisme
le.at konjugasi
1$,0 O <,0 2,0 B $,0
"ida6olam
(H%#S%D)
0, im Pre anestesi dan
intraoperatif9
anestesi
+en6odia6epin
yang sangat
1epat
diinaktifkan
1,G O 0,& 99 P
2ksa6epam
(S%#AN)
2ral Ansietas 8anya
dimetabolisme
le.at konjugasi
C,0 O 2,$ 1<,0 B 30,0D PP
39$ A=hari
Qua6epam
(D2#A>)
2ral nsomnia Pada
penggunaan
kronik terjadi
akumulasi
metabolit aktif
3G*0 ),< B 1<,0
!ema6epam
(#%S!2#>)
2ral nsomnia 8anya
dimetabolisme
le.at konjugasi
11,0 O &,0 ),< B 30,0
!ria6olam 2ral nsomsia +en6odia6epine 2,G O 1,0 0,12< B 0,2<
1)
(8A>;2:) yang sangat 1epat
diinaktifkan 7
dapat
menimbulkan
gangguan di siang
hari*
!abel 1*1 Posologi +en6odia6epin
I% Ke'e(*&n'un*&n Ben,-.i&,e/ine
5ejala penyalahgunaan :ap6a sangat bergantung dari tahapan
pemakaiannnya dan untuk sampai pada konsisi ketergantungan seseorang akan
mengalami beberapa tahap 7
$
1* %Aperimenta /se adalah periode dimana seseorang mulai men1oba91oba
mengunakan narkoba dan 6at adiktif untuk tujuan memenuhi rasa ingin tahu*
2* So1ial /se adalah periode dimana indi0idu mulai men1oba mengunakan
narkoba untuk tujuan rekreasional, namun sama sekali tidak mengalami
problem yang berkitan dengan aspek sosial, finan1ial, media dan sebagainya*
/mumnya indi0idu masih dapat mengontrol pengunaannya*
3* %arly Problem /se adalah periode dimana indi0idu sudah menyalahgunakan
narkoba dan perilaku penyalahgunaan in mulai berpengaruh pada kehidupan
sosial indi0idu tersebut, seperti timbulnya malas bersekolah, keinginan
bergaul dengan orang B orang tertentu, dan sebagainya*
1C
$* %arly Addi1tion adalah periode dimana indi0idu sampai pada perilaku
ketergantugan baik fisik, maupun psikologis, dan perilaku ketergantungan
ini sangat mengganggu kehidupan indi0idu tersebut*
<* Se0ere Addi1tion adalah periode dimana indi0idu hanya hidup dan berlaku
untuk mempertahankan ketergantungannya, sama sekali tidak
memperhatikan lingkunga sosial dan diri sendiri* pada biasanya sudah
terlibat pada tindakan 1riminal*
-etergantungan pada obat tidur dan anti91emas menyebabkan berkurangnya
ke.aspadaan disertai pembi1araan yang melantur, koordinasi buruk, kebingungan
dan melambatnya pernafasan* 2bat ini dapat menyebabkan penderita mengalami
depresi dan 1emas se1ara bergantian*
C
Penghentian obat se1ara tiba9 tiba bisa menyebabkan reaksi seperti pada gejala
putus al1ohol (D!s, delirium)* 5ejala putus obat yang serius lebis sering terjadi
pada pemakaian bariturat atau glutetimid*
C
!erjadinya depresi SSP dapat diamati dalam 309120 menit untuk konsumsi
se1ara oral, tergantung pada senya.anya* >etargi, berbi1ara 1adel, ataksia, koma,
dan gangguan pernapasan dapat terjadi* /mumnya, pasien dengan koma
ben6odia6epin mengalami hyporefleAia dan pupil mata menge1il* -emungkinan
dapat terjadi hipotermia* -omplikasi yang lebih serius mungkin terjadi ketika
terlibatnya short9a1ting agen yang baru atau ketika telah mengonsumsi obat
depresan lainnya* -omplikasi jarang terjadi, tapi apabila terjadi, komplikasi
terhadap kasus ini meliputi Aspirasi pneumonia, #habdomyolysis, dan -ematian
(jarang terjadi)*
C
3* Ge;&l&8*e;&l& /&.& in'-)si)&si 0en,-.i&,e/ine :
11
1G
9 5ejala neurologis 7 pembi1araan 1adel, gangguan koordinasi motorik, 1ara jalan
yang tidak stabil (sempoyongan), nistagmus, stupor atau koma dapat pula terjadi*
9 5ejala psikologis 7 afek labil, hilangnya hambatan impuls seksual dan agresif,
iritabel, banyak bi1ara, gangguan dalam memusatkan perhatian, gangguan daya
ingat dan daya nilai, fungsi sosial atau okupasional terganggu*
9 5ejala o0erdosis 7 pernafasan lambat atau 1epat tetapi dangkal, tekanan darah
turun, nadi teraba lemah dan 1epat, kulit berkeringat dan teraba dingin,
hematokrit meningkat*
K% Ge;&l& /&.& )e&.&&n /u'us 0en,-.i&,e/ine
Putus 6at ben6odia6epine adalah penghentian (pengurangan) penggunaan
ben6odia6epine yang telah berlangsug lama dan memanjang* -eparahan sindrom
putus 6at yang disebabkan oleh ben6odia6epine ber0ariasi se1ara signifikan
tergantung dosis rata9rata dan dosis penggunaan, tapi sindrom putus 6at ringan
bahkan dapat terjadi setelah penggunaan jangka pendek ben6odia6epine dosis relatif
rendah* Sindrom putus 6at yang signifikan mungkin terjadi pada penghentian dosis,
1ontohnya dalam kisaran $0 mg sehari untuk dia6epam, meski 10 sampai 20 mg
sehari, bila dikonsumsi selama sebulan, juga dapat mengakibatkan sindrom putus
6at bila pemberian obat dihentikan* A.itan gejala putus 6at biasanya terjadi 2
sampai 3 hari setelah penghentian penggunaan, tapi dengan obat kerja lama, seperti
dia6epam, latensi sebelum a.itan mungkin < sampai & hari*
11
20
5ejala putus 6at ben6odia6epine 7 insomnia, mual dan muntah, tampak
lemah, letih dan di66ines, takikardi, tekanan darah meningkat, ansietas, depresi,
iritabel, tremor kasar pada tangan, lidah dan kelopak mata, kadang terjadi, agitas,*
5ejala lainnya meliputi disforia, intoleransi terhadap 1ahaya terang dan suara keras,
gangguan persepsi singkat (ilusi atau halusinasi 0isual, taktil atau auditorik),
tinnitus, fatigue, depersonalisasi dan derealisasi, pandangan kabur, kedutan otot
(biasanya pada dosis dia6epam <0 mg per hari atau lebih)* 5ejala yang jarang terjadi
tetapi membutuhkan perhatian khusus setelah putus 6at seperti hipotensi ortostatik,
kejang (biasanya terjadi pada penggunaan ben6odia6epine bersama dengan alkohol)
dan timbulnya delirium*
11
L% D-sis T-)si)
Se1ara umum, toksik yaitu 7 rasio terapi untuk ben6odia6epin sangat tinggi*
"isalnya, o0erdosis dia6epam oral telah dilaporkan men1apai lebih dari 1<920 kali
dosis terapi tanpa depresi yang serius* Di sisi lain, penahanan pernapasan telah
dilaporkan setelah menelan < mg tria6olam dan setelah injeksi intra0ena yang 1epat
dari dia6epam, mida6olam, dan banyak jenis lainnya dari ben6odia6epin* 3uga,
konsumsi obat lain dengan agen SSP9depresan (misalnya, etanol, barbiturat, opioid,
dll) kemungkinan akan menghasilkan efek aditif*
&
21
M% Di&*n-sis
+iasanya didasarkan pada sejarah konsumsi obat oral atau injeksi terakhir*
Perbedaan diagnosis harus men1akup agen penenang9hipnotik lainnya,
antidepresan, antipsikotik, dan narkotika* -oma dan pupil yang menge1il tidak
merespon dengan nalokson tetapi dapat diatasi dengan pemberian fluma6enil*
12,13
1) !ingkat Spesifik*
-adar obat pada serum sering tersedia pada laboratorium toksikologi komersial
namun jarang dinilai dalam manajemen darurat* /rin dan skrining darah
kualitatif dapat memberikan konfirmasi se1ara 1epat* mmunoassay tertentu
mungkin tidak mendeteksi ben6odia6epin yang terbaru atau yang konsentrasinya
rendah* !ria6olam dan pra6epam jarang terdeteksi*
2) Studi laboratorium lainnya
Penelitian laboratorium yang berguna termasuk glukosa, gas darah arteri, atau
pulse ( denyut nadi ) oAymetry
N% Pe2e(i)s&&n L&0-(&'-(iu2
Skrining kualitatif urin atau darah dapat dilakukan tapi jarang
mempengaruhi keputusan pengobatan dan tidak memiliki dampak pada pera.atan
klinis segera* mmunoassay yang paling sering dilakukan dan biasanya mendeteksi
ben6odia6epin (+MDs) yang dimetabolisme untuk desmethyldia6epam atau
oAa6epam, dengan demikian, hasil skrining negatif tidak menyingkirkan adanya
agen +MD* Se1ara keseluruhan, deteksi laboratorium +MDs tergantung pada metode
skrining yang digunakan*
/ji Deteksi Halium
22
/ntuk uji ke1anduan obat terlarang, kini sudah beredar alat uji 1epat narkoba
(#apid !est)* Antara lain, "ethamphetamin (uji mendeteksi shabu), ;o1aine (uji
kokain), !8; (uji marijuana),"orphine (uji putau.), +arbiturate (untuk mendeteksi
obat tidur), dan +en6odia6epine (uji deteksi 0alium)*
2
"etode pemeriksaan berupa reaksi .arna, kromtografi, spektrofotmetri
Peralatan 7 plat tetes, peralatan dasar ->!, spektrofotodensitometri,8P>;,
5;, 5;9"S, Spektrofotometer /H9His, (!#*
"etode 7 immunokromatografi kompetitif
Prinsip 7 #apid test ben6odia6ephine merupakan tes in0itro satu langkah
yang berdasarkan immuno9 kromatografi kompetitif untuk mendeteksi
se1ara kualitatif ben6odia6ephine dan metabolitnya pada urin manusia diatas
1utt off 300 ng=ml*
2
;ara kerja7
9 -eluarkan tes 1ard dari bungkusnya dan letakkan pada permukaan datar*
9 Diteteskan urin 3 tetes (O G0 Rl) ke lubang sampel*
9 Diba1a hasil antara <930 menit setelah penetesan sampel*
Selain alat /ji :arkoba yang spesifik untuk menguji 6at kimia obat terlarang
tertentu, juga beredar produk :arkoba9test berbentuk ;ard yang bisa dipakai untuk
mendeteksi 3 (Drug !est 3 Parameter 7 A"P9!8;9"2P), < (Drug !est < Parameter 7
A"P9!8;9"2P9;2;9+M2) atau & ( Drug !est & Parameter 7 A"P9!8;9;2;9
"2P9"%!9+M2) ma1am :arkoba sekaligus*
2

/ntuk memudahkan penyidikan pada kasus kera1unan ben6odia6epin
menggunakan pemeriksaan toksikologi forensik yang terdiri dari 7
1% U;i Pen&/is&n <S=(eenin* 'es'>
/ji penapisan untuk menapis dan mengenali golongan senya.a (analit)
dalam sampel* Disini analit digolongkan berdasarkan baik sifat fisikokimia, sifat
23
kimia maupun efek farmakologi yang ditimbulkan* 2bat narkotika dan
psikotropika se1ara umum dalam uji penapisan dikelompokkan menjadi
golongan opiat, kokain, kannabinoid, turunan amfetamin, turunan
ben6odia6epin, golongan senya.a anti dipresan tri9siklik, turunan asam
barbiturat, turunan metadon*
13
/ji penapisan seharusnya dapat mengidentifikasi golongan analit dengan
derajat reabilitas dan sensitifitas yang tinggi, relatif murah dan pelaksanaannya
relatif 1epat* !erdapat teknik uji penapisan yaitu kromatografi lapis tipis (->!)
yang dikombinasikan dengan reaksi .arna dan teknik immunoassay.
13
a* !eknik immunoassay
!eknik immunoassay adalah teknik yang sangat umum
digunakan dalam analisis obat terlarang dalam materi biologi* !eknik ini
menggunakan Santi-drug antibody4 untuk mengidentifikasi obat dan
metabolitnya di dalam sampel (materi biologik)* 3ika di dalam matrik
terdapat obat dan metabolitnya (antigen9target) maka dia akan berikatan
dengan Santi-drug antibody4, namun jika tidak ada antigentarget maka
Santi-drug antibody4 akan berikatan dengan Santigen9penanda4*
!erdapat berbagai metode = teknik untuk mendeteksi ikatan
antigenantibodi ini, seperti enzyme linked immunoassay (%>SA),
enzyme multiplied immunoassay techni!ue (%"!), fluorescence
polarization immunoassay ((PA), cloned enzyme-donor immunoassay
(;%DA), dan radio immunoassay (#A)*
13
/ntuk laboratorium toksikologi dengan beban kerja yang ke1il
pemilihan teknik single test immunoassay akan lebih tepat tertimbang
teknik multi test, namun biaya analisa akan menjadi lebih mahal*
13
8asil dari immunoassay test ini dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan, bukan untuk menarik kesimpulan, karena kemungkinan
2$
antibodi yang digunakan dapat bereaksi dengan berbagai senya.a yang
memiliki baik bentuk struktur molekul maupun bangun yang hampir
sama* #eaksi silang ini tentunya memberikan hasil positif palsu* hasil
reaksi immunoassay (s1reening test) harus dilakukan uji pemastian
(1onfirmatori test)*
13
b* kromatografi lapis tipis (->!)
->! adalah metode analitik yang relatif murah dan mudah
pengerjaannya, namun ->! kurang sensitif jika dibandungkan dengan
teknik immunoassay* /ntuk meningkatkan sensitifitas ->! sangat
disarankan dalam analisis toksikologi forensik, uji penapisan dengan
->! dilakukan paling sedikit lebih dari satu sistem pengembang dengan
penampak noda yang berbeda* Dengan menggunakan
spektrofotodensitometri analit yang telah terpisah dengan ->! dapat
dideteksi spektrumnya (/H atau fluoresensi)* -ombinasi ini tentunya
akan meningkatkan derajat sensitifitas dan spesifisitas dari uji penapisan
dengan metode ->!* Se1ara simultan kombinasi ini dapat digunakan
untuk uji pemastian*
13
#% U;i /e2&s'i&n <confirmatory test>
/ji ini bertujuan untuk memastikan identitas analit dan menetapkan
kadarnya* /mumnya uji pemastian menggunakan teknik kromatografi yang
dikombinasi dengan teknik detektor lainnya, seperti7 kromatografi gas 9
spektrofotometri massa (5;9"S), kromatografi 1air kenerja tinggi (8P>;)
dengan diode9array detektor, kromatografi 1air 9 spektrofotometri massa (>;9
"S), ->!9Spektrofotodensitometri, dan teknik lainnya* "eningkatnya derajat
spesifisitas pada uji ini akan sangat memungkinkan mengenali identitas analit,
sehingga dapat menentukan se1ara spesifik toksikan yang ada*
13
2<
Prinsip dasar uji konfirmasi dengan menggunakan teknik ;59"S adalah
analit dipisahkan menggunakan gas kromatografi kemudian selanjutnya
dipastikan identitasnya menggunakan teknik spektrfotometrimassa* Sebelumnya
analit diisolasi dari matrik biologik, kemudian jika perlu dideri0atisasi* solat
akan dile.atkan ke kolom ;5, dengan perbedaan sifat fisikokima toksikan dan
metabolitnya, maka dengan 5; akan terjadi pemisahan toksikan dari senya.a
segolongannya atau metabolitnya* Pada prisipnya pemisahan menggunakan 5;,
indeks retensi dari analit yang terpisah adalah sangat spesifik untuk senya.a
tersebut, namun hal ini belum 1ukup untuk tujuan analisis toksikologi forensik*
Analit yang terpisah akan memasuki spektrofotometri massa ("S), di sini
bergantung dari metode fragmentasi pada "S, analitakan terfragmentasi
menghasilkan pola spektrum massa yang sangat kharakteristik untuk setiap
senya.a* Pola fragmentasi (spetrum massa) ini merupakan sidik jari molekular
dari suatu senya.a*
13
Dengan memadukan data indeks retensi dan spektrum massanya, maka
identitas dari analit dapat dikenali dan dipastikan* Dengan teknik kombinasi
8P>;9diode array detektor akan memungkinkan se1ara simultan mengukur
spektrum /H9His dari analit yang telah dipisahkan oleh kolom 8P>;* Seperti
pada metode 5;9"S, dengan memadukan data indeks retensi dan spektrum
/H9His analit, maka dapat mengenali identitas analit*
13
Disamping melakukan uji indentifikasi potensial positif analit (hasil uji
penapisan), pada uji ini juga dilakukan penetapan kadar dari analit* pertanyaan9
pertanyaan yang mungkin mun1ul pada kasus toksikologi forensik adalah7
- senya.a ra1un apa yang terlibat?
- berapa besar dosis yang digunakan?
2&
- kapan paparan tersebut terjadi (kapan ra1un tersebut mulai kontak dengan
korban)?
- melalui jalur apa paparan tersebut terjadi (jalur oral, injeksi, inhalasi)?
O% G&20&(&n Pe2e(i)s&&n
>akukan A9ray pada dada jika terdapat bahaya dalam pernapasan
9 %0aluasi untuk aspirasi*
9 %0aluasi untuk sindrom gangguan pernapasan akut (A#DS)
P% Tes l&inn4&
Dengan elektrokardiogram (%-5) untuk menge0aluasi 1o9ingestants,
terutama antidepresan siklik*
?% UNDANG8UNDANG @ANG MENGATUR PENGGUNAAN NARKOTIKA%
/ndang9undang #epublik ndonesia :omor 3< tahun 200G tentang :arkotika 7
1<
1* Pasal 1 ayat 1
:arkotika adalah 6at atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan
rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan9golongan sebagaimana terlampir dalam /ndang9/ndang ini*
2* Pasal 1 ayat 13
Pe1andu narkotika adalah orang yang menggunakan atau
menyalahgunakan :arkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada
:arkotika, baik se1ara fisik maupun psikis
2)
3* Pasal 1 ayat 1$
-etergantungan :arkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan
untuk menggunakan :arkotika se1ara terus menerus dengan takaran yang
meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaannya
dikurangi dan=atau dihentikan se1ara tiba9tiba, menimbulkan gejala fisik dan
psikis yang khas
$* Pasal 1 ayat 1<
Penyalah 5una adalah orang yang menggunakan :arkotika tanpa hak
atau mela.an hukum
<* Pasal & ayat 1
:arkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal < digolongkan ke dalam 7
a* :arkotika 5olongan
b* :arkotika 5olongan D dan
1* :arkotika 5olongan
&* Pasal )
:arkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan=atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
)* Pasal C ayat 1
:arkotika 5olongan dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan
C* Pasal C ayat 2
Dalam jumlah terbatas, :arkotika 5olongan 1 dapat digunakan untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk
reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan
persetujuan "enteri atas rekomendasi -epala +adan Penga.as 2bat dan
"akanan
G* Pasal 3G ayat 1
2C
:arkotika hanya dapat disalurkan oleh ndustri (armasi, pedagang besar
farmasi, dansarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan
ketentuan dalam /ndang9/ndang ini
10* Pasal $0 ayat 1
ndustri (armasi tertentu hanya dapat menyalurkan :arkotika kepada7
a* Pedagang besar farmasi tertentu
b* Apotek
1* Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah terntentuD dan
d* #umah sakit
11* Pasal $0 ayat 2
Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada7
a* Pedagang besar farmasi tertentu lainnya
b* Apotek
1* Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu
d* #umah sakitD dan
e* >embaga ilmu pengetahuan
12* Pasal $0 ayat 3
Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu hanya dapat
menyalurkan :arkotika kepada7
a* #umah sakit pemerintah
b* Pusat kesehatan masyarakat
1* +alai pengobatan pemerintah tertentu
13* Pasal $1
:arkotika 5olongan 1 hanya dapat disalurkan oleh pedagang besar
farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
1$* Pasal $3 ayat 3
2G
#umah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat dan balai pengobatan
hanya dapat menyerahkan :arkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter
1<* Pasal $3 ayat $
Penyerahan :arkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk7
a* "enjalankan praktik dokter dengan memberikan :arkotika melalui suntikan
b* "enolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan :arkotika
melalui suntikanD atau
1* "enjalankan tugas di daerah terpen1il yang tidak ada apotek*
1&* Pasal 111 ayat 1
Setiap orang yang tanpa hak atau mela.an hukum menanam,
memelihara, memiliki menyimpan, menguasai, atau menyediakan :arkotika
5olongan 1 dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat $ (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda
paling sedikit #p C00*000*000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak
#p C*000*000*000, 00 (delapan miliar rupiah)*
1)* Pasal 112 ayat 1
Setiap orang yang tanpa hak atau mela.an hukum memiliki,
menyimpan, menguasai atau menyediakan :arkotika 5olongan 1 bukan
tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat $ (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit #p
C00*000*000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak #p
C*000*000*000,00 (delapan miliar rupiah)
1C* Pasal 11< ayat 1
Setiap orang yang tanpa hak atau mela.an hukum memba.a, mengirim,
mengangkut, atau mentransito :arkotika 5olongan 1, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat $ (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun
dan pidana denda paling sedikit #p C00*000*000,00 (delapan ratus juta rupiah)
dan paling banyak #p C*000*000*000,00 (delapan miliar rupiah)
30
1G* Pasal 12) ayat 1
Setiap Penyalah 5una7
a* :arkotika 5olongan 1 bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara
paling lama $ (empat) tahun
b* :arkotika 5olongan 2 bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun
1* :arkotika 5olongan 3 bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun
R% G&20&(&n F-(ensi)
1* Pemeriksaan barang bukti hidup pada kasus ben6odia6epine*
1&
-asus kera1unan merupakan kasus yang 1ukup pelik, karena gejala
pada umumnya sangat tersamar, sedangkan keterangan dari penyidik
umumnya sangat minim* 8al ini, tentu saja akan menyulitkan dokter, apalagi
untuk ra1un9 ra1un yang sifat kerjanya mempengaruhi sistemik korban*
Akibatnya pihak dokter= laboratorium akan terpaksa melakukan
pendeteksian yang sifatnya meraba9 raba, sehingga harus melakukan banyak
sekali per1obaan yang mana akan menambah biaya pemeriksaan*
Pengambil darah urin untuk pengujian lab 7 (-"-, 200G)
31
2* Pemeriksaan +arang +ukti "ati Pada -asus Pemakai +en6odia6epine
Penyelidikan pada kasus kematian akibat pemakaian narkoba
memerlukan kerja sama dalam satu tim yang terdiri dari kepolisian
(penyidik), ahli forensik, psikiater maupun ahli toksikologi* PertanyaanB
pertanyaan yang sering mun1ul sehubungan dengan hal di atas meliputi 7
Apakah kejadian tersebut merupakaan kesengajaan (bunuh diri),
ke1elakaan, ataupun kemungkianan pembunuhan?
3enis obat apakah yang digunakan?
"elalui 1ara bagaimanakah pemakaian obat tersebut?
Adakah hubungan antara .aktu pemakaian dengan saat kematian?
Apakah korban baru pertama kali memakai, atau sudah beberapa kali
memakai, ataupun sudah merupakan pe1andu berat?
Adakah ri.ayat alergi terhadap obat tersebut?
Apakah jenis narkoba yang digunakan mempro0okasi penyakit9 penyakit
yang mungkin sudah ada pada korban?
32
Apakah mungkin penyakit tersebut terlibat sehubungan dengan kematian
korban?
#ingkasnya, penyidikan terhadap kasus narkoba meliputi $ aspek, yaitu 7
i* !-P (!empat -ejadian Perkara)*
ii* #i.ayat korban*
iii* 2topsi*
i0* Pemeriksaan !oksikologi*
Dalam kaitannya dengan !-P, dapat ditemukan bukti9 bukti adanya
pemakaian narkoba* Semua pakaian maupun perhiasan dan juga barang
bukti narkoba yang ditemukan di !-P harus diperiksa dan dianalisa lebih
lanjut* #i.ayat dari korban yang perlu digali meliputi ri.ayat pemakaian
narkoba yang bisa didapatkan melalui 1atatan kepolisian, informasi dari
keluarga, teman, maupun saksi9 saksi yang berkaitan dengan informasi
penggunaan narkoba*
1&
2topsi dikonsentrasikan pada pemeriksaan luar dan dalam dan juga
pada pengumpulan sampel yang adekuat untuk pemerikasaan toksikologi*
+iasanya temuan yang paling sering didapatkan pada pemeriksaan luar
adalah busa yang berasal dari hidung dan mulut* 8al ini merupakan
karakteristik kematian yang disebabkan oleh pemakaian narkoba meskipun
tidak bersifat diagnostik, karena pada kasus tenggelam, asfiksia, maupun
gagal jantung dapat juga ditemukan tanda kematian di atas* Selain itu pada
pemeriksaan luar dapat juga ditemukan bekas penyuntikan maupun sayatan9
sayatan di kulit yang khas pada pemakaian narkoba* Pada pemeriksaan
dalam, penyebab kematian harus digali dengan 1ara men1ari tanda9 tanda
dari komplikasi akibat pemakaian narkoba* Pembukaan 1a0um pleura dan
jantung dibarengi dengan mengguyur air untuk melihat adanya
pneumothoraks, maupun emboli udara* Pada pemeriksaan paru, biasanya
didapatkan paru membesar sebagai akibat adanya edema dan kongesti* Pada
33
pemeriksaan getah lambung jarang didapatkan bahan B bahan narkoba yang
masih utuh tetapi .arna dari 1airan lambung dapat memberi petunjuk
mengenai jenis narkoba yang dikonsumsi*
1&
/ntuk peraturan yang mengatur psikotropika hingga sekarang masih
menga1u pada /ndang9/ndang :omor < !ahun 1GG) tentang Psikotropika,
dimana disebut pengertian psikotropika adalah7
1&
SPsikotropika adalah 6at atau obat, baik alamiah maupun sintetis
bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada akti0itas
mental dan perilaku*4
$
1* Psikotropika 5olongan adalah psikotropika yang tidak digunakan untuk
tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat*
;ontohnya ekstasi, shabu* >SD
2* Psikotropika 5olongan adalah psikitropika yang berkhasiat tetapi
dapat menimbulkan ketergantungan* ;ontohnya amfetamin, metilfenidat
3* Psikotropika 5olongan adalah psikotropika dengan efek
ketergantungan sedang dari kelompok hipnotik sedati0e* ;ontohnya
Pentobarbital, (lunitra6epam
$* Psikotropika 5olongan H adalah psikotropika yang efek
ketergantungannnya ringan* ;ontohnya dia6epam, broma6epam,
klona6epam, nitra6epam (!urunan ben6odia6epine dan digolongkan ke
dalam 6at sedati0e dan hipnotika)*
3$
BAB III
PENUTUP
"%1 Kesi2/ul&n
>uka tembak merupakan suatu 1edera pada tubuh yang diakibatkan oleh
senjata api* Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil
peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berke1epatan tinggi
melalui larasnya* +erdasarkan panjang larasnya, senjata api ini dikelompokan
menjadi senjata api laras pendak dan senjata api laras panjang, sedangkan
berdasarkan alur pada laras, senjata api dikelompokan menjadi senjata api baralur dan
senjata api tanpa alur*
Pada luka tembak terjadi robekan dan kerusakan jaringan yang diakibatkan
daya dorong peluru dalam menembus jaringan* >uka tembak dikelompokan menjadi
luka tembak masuk dan luka tembak keluar, namun pada klasifikasi ini yang tidak
kalah penting adalah jarak tembakan yaitu luka tembus masuk tempel, luka tembus
masuk jarak dekat maupun luka tembus masuk jarak jauh* Penentuan jarak ini juga
dapat menentukan efek dari tembakan* %fek dari tembakan ini diakibatkan oleh
komponen peluru yang mengenai tubuh yaitu anak peluru, mesiu, asap jelaga, api dan
partikel logam
Pendeskripsian luka tembak dilakukan demi kepentingan medikolegal*
Deskripsi luka ini men1akup lokasi luka, ukuran dan bentuk luka, lingkaran abrasi,
lipatan kulit yang utuh dan robek, bubuk hitam sisa tembakan (jika ada), dan bagian
tubuh yang ditembus* Selain dekripsi luka, kita juga harus menentukan jarak
tembakan dan arah tembakan* Penentuan jarak tembakan ini dapat dilihat dari adanya
jejas laras, kelim api, kelim jelaga, atau kelim tato* Pemeriksaan khusus pada luka
tembak masuk seperti pemeriksaa nmikroskopik, kimia.i, sinar A mungkin
diperlukan*
3<
"%# S&(&n
1* Sebaiknya seorang dokter atau 1alon dokter mampu membuat Hisum %t #epertum
tentang kasus kera1unan
2* "engetahui tanda toksikologi se1ara umum dan khusus pada korban hidup maupun
mati
3* Sebaiknya seorang dokter atau 1alon dokter tidak hanya mempelajari ilmu
kedokteran tetapi juga mengetahui hukum kesehatan*
$* Pemerintah sebaiknya memperketat penga.asan dalam penyalahgunaan narkotika
umumnya dan ben6odia6epine khususnya
<* "asyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan
atas kera1unan :APMA
3&
DAFTAR PUSTAKA
1* -errigan, S, (200$), Drug "o#icology for $rosecutors "argeting %ardcore
Impaired Dri&ers' :e. "eAi1o Department of 8ealth S1ientifi1 >aboratory
Di0ision !oAi1ology +ureau, :e. "eAi1o*
2* 'irasuta, "*A*5*, (200<), $eran "oksikologi forensik dalam penegakan hukum
kesehatan di Indonesia' dalam 'irasuta, "*A*5*, et al* (%d*) (200<), $eran
kedokteran forensik dalam penegakan hukum di Indonesia. "antangan dan tuntuan
di masa depan, Penerbit /dayana,Denpasar*
3* 'irasuta "*A*5* (200$), (ntersuchung zur)etabolisierung und *usscheidung
&on %eroin im menschlichen +,rper. -in .eitrag zur /erbesserung der
0piatbefundinterpretation, ;u0illier Herlag, 5Tttingen*
$* ...*+::*go*id , selasa 1&= 02=200C
<* 5una.an S5* Farmakologi Dan "erapi %disi <* 3akarta 7 +agian (armakologi
(akultas -edokteran /ni0ersitas ndonesia, 200)*
&* -at6ung, +etram 5* Farmakologi Dasar Dan +linik* 3akarta7 Salemba "edika,
2002*
)* 5ery S1hmit6, dkk* (200G)* (armakologi dan !oksikologi* %5;*
3akarta*
C* 'i j a ya %l l e n, :a ni Suka s e di a t i , 8e r t i a na Aya t i * 5a mba r a n
Pr e s kr i ps i 2bat9obat +en6odia6epin Pada !iga #umah Sakit -elas ; di
3a.a* ;erminDunia -edokteran :o* $$, 1GC)
G* "aslim, #usdi* (1GG))* Penggunaan -linis 2bat Psikotropik* 3akarta*
10* !jay, !anhoan U -irana #ahardja* (200C)* 2bat92bat Penting, 1etakan
2* %leA "edia -omputindo* 3akarta*C* /nda ng9 unda ng #e publ i k
ndone s i a :o* <!a hun 1GG), t a ngga l 11 ma r e t 1GG), tentang
Psikotropika
3)
11* -epmenkes #* Pedoman Penatalaksanaan "edik 5angguan Penggunaan :APMA*
3akarta 7 Direktorat 3enderal +ina Pelayanan "edik -ementrian -esehatan #,
2010*
12* Stones , aleAander* Senjata kimia* Penelitian AS pada obat penenang dalam
pertempuran set off alarm* Sains* 2 Agustus 2002D 2G) (<<C2)7 )&$* V"edlineW *
13* Ni >I, Mheng '", Mhen S", Nian :S* Penangkapan 1epat kejang dengan inhalasi
aerosol yang mengandung dia6epam* %pilepsia* "ar9Apr 1GG$D 3< (2) 73<&9C*
V"edlineW *
1$* 'irasuta 200G A:A>SS !2-S-2>25 (2#%:S-
1<* /:DA:59/:DA:5 #%P/+>- :D2:%SA :2"2# 3< !A8/: 200G
!%:!A:5 :A#-2!-A
1&* !edes1hi, %*, 1G)), (orensi1 "edi1ine, Hol , ' + Saunders ;ompany, 'est
'ashington S@uart6, Philadelphia
3C