Anda di halaman 1dari 4

Analisis Abu

22 02 2011

Prosedur Kerja Analisis Abu :
a) Prinsip
Membakar bahan dalam tanur (Furnace) dengan suhu 600
0
C selama beberapa waktu (3-8 jam)
sehingga seluruh unsur utama pembentuk senyawa organik (C, H, O, N ) habis terbakar adalah
abu yang merupakan kumpulan dari mineral yang terdapat dalam bahan dengan perkataan lain
abu merupakan total mineral dalam bahan.
Kelemahan :
Tidak seluruhnya unsur utama pembentuk senyawa organik dapat terbakar dan berubah
menjadi gas oksigen ada yang masih tinggal dalam abu sebagai senyawa oksida (mis :
CaO) dan karbon sebagai karbonat.
Sebagai mineral tertentu menguap menjadi gas (mis : sulfur sebagai SO
2
).
Komponen abu : mineral-mineral, oksida, karbonat.
b) Alat dan Bahan
1. Cawan porselen
2. Pembakaran Bunsen atau hot plate
3. Tanur listrik
4. Eksikator
5. Tang penjepit
c) Prosedur
1. Keringkan cawan porselen ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 100-105
0
C.
2. Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang, catat sebagai A gram.
3. Masukan sejumlah sample kering oven 2 5 gram ke dalam cawan, catat sebagai B gram.
4. Panaskan dengan hot plate atau pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi.
5. Masukkan ke dalam tanur listrik dengan temperature 600 700
0
C, biarkan beberapa
lama sampai bahan berubah menjadi abu putih betul. Lama pembakaran sekitar 3 6 jam.
6. Dinginkan dalam eksikator kurang lebih 30 menit dan timbang dengan teliti, catat sebagai
C gram.
7. Hitung kadar abunya.


ANALISA HASIL PERTANIAN
KADAR ABU TOTAL

A.TUJUAN
Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan terampil menganalisis kadar abu bahan hasil
perkebunan dengan metode thermografimetri.

B.DASAR TEORI
Abu adalah zat organic sisa hasil pembakaran suatu bahan organic. Kandungan abu dan
komposisinya tergantung pada macan bahan dan cara pengabuanya. Beberapa contoh kadar air
abu dalam beberapa contoh kadar abu dalam beberapa bahan dapat di lihat pada table brikut ini:
Kadar abu ada hubunganya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu
bahan terdapat dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organic dan
garam anorganik. Yang termasuk dalam garam organic misalnya garam-garam asam mallat,
oksalat, asetat, pektat. Sedngkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam fosfat,
karbonat, klorida, sulfat, nitrat. Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral berbentuk
sebagai senyawaan komplek yang bersifat organis. Apabila akan ditentukan jumlah mineralnya
dalambentuk aslinya sangatlah sulit,oleh karena itu biasanya dilakukan dengan menentukan sisa-
sisa pembakaran garam mineral tersebut,yang dikenal dengan pengabuan.(sudarmadji.2003).
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menentukan baik tidaknya suatu proses penggolahan
2. Untuk mengetahui jenis bahan yang digunakan
3. Untuk memperkirakann kandungan buah yang digunakan untuk membuat jelly.
Kandungan abu juga dapat dipakai untuk menentukan atau membedakan fruit uinegar
(asli) atau sintesis
4. Sebagai parameter nilai bahan pada makanan. Adanya kandungan abu yang tidak larut
dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan adanya pasir atau kotoran lain.(
Irawati.2008 ).
Penentuan kadar abu adalah mengoksidasikan senyawa organik pada suhu yang tinggi,yaitu
sekitar 500-600C dan melakukan penimbangan zat yang tinggal setelah proses pembakaran
tersebut. Lama pengabuan tiap bahan berbedabeda dan berkisar antara 2-8 jam. Pengabuan
dilakukan pada alat pengabuan yaitu tanur yang dapat diatur suhunya. Pengabuan diangap selesai
apa bila diperoleh sisa pembakaran yang umumnya bewarna putih abu-abu dan beratnya konstan
dengan selang waktu 30 menit. Penimbangan terhadap bahan dilakukan dalam keadan
dingin,untuk itu krus yang berisi abu diambil dari dalam tanur harus lebih dahulu dimasukan ke
dalam oven bersuhu 105C agar suhunya turun menyesuaikan degan suhu didalam oven,barulah
dimasukkan kedalam desikator sampai dingin,barulah abunya dapat ditimbang hingga hasil
timbangannya konstan.( Anonim.2010 ).

C.BAHAN DAN ALAT
1.Bahan 2.Alat
a) Biji lada a) Muffle furnace
b) Pala b) Hot plate
c) Cengkeh c) Krus proselin
d) Pk d) Desikator
e) Oven


D.METODE KERJA
a) Persiapan awal
1. Ditimbang bahan contoh yang telah dihaluskan sebanyak 1-2 gr dalam kurs porslein yang
telah diketahui beratnya.
2. Dipanaskan bahan tersebut diatas hot olate (dalam ruang asam) untuk meminimalkan
asap/jelaga hitam yang muncul pada saat proses pengabuan.
3. Dimasukan bahan kedalam furnance (tanur) sesuai dengan prosedur kerja penoperasian
alat.
b) Petunjuk penggunaan furnance (Thermolyne FB.1410M.26)
1. Dihubungkan kabel power kesumber litrik.
2. Ditekan tombol power ke posisi ON, maka tampilan digital yang menyatakan temperature
akan menyala.
3. Diatur suhu pengabuan (550C) dengan cara menekan tombol Push To Set
Temperature dan secara bersamaan putar tombol Temperature hingga tercapai
tempertaur yang ditentukan.
4. Dilepaskan tekanan pada tombol Push To Set Temperature.
5. Dimasukan bahan kedalam furnance dengan lama proses pengabuan 3 jam.
6. Setelah lama proses pengabuan tercpai, diatur suhu furnance menjadi 150C.
7. Ditunggu hingga suhu mencpai 150C, selanjutnya dimasukan bahan kedlam desikator
dan ditimbang.
8. Dihitung kadar abu total bahan (%) berdasarkan berat kering bahan.

E.HASIL PENGAMATAN
No Sampel Berat krus (g) Berat bahan (g) Berat kering (g) Berat abu (g) Kadar air (%)
1. Lada 20,79 0,5 0,4589 0,0016 0,34
2. Pala 20,08 0,5 0,4559 0,0096 2,11
3. Cengkeh 14,66 0,5 0,3958 0,0336 8,49
4. Pk 21,93 0,5 0,4292 0,026 6,06

PERHITUNGAN
Berat kering = 100 x berat sampel / 100 + kadar air (db)
= 100 x 0,5 / 100 + 26,64
= 50,12 / 126,64 = 0,3958
Kadar abu = berat abu / berat kering x 100%
= 0,0336 / 0,3958 x 100%
= 8,48 %

F. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini,proses pengabuan dilakukan dengan menggunakan Muffle Furnace
(tanur) yang memijarkan sampel pada suhu mencapai 550C penggunaan tanur karena suhunya
dapat diatur sesuai dengan suhu yang telah ditentukan untuk proses pengabuan. Sampel yang
telah halus ditimbang 1-2 gram,sebelum dimasukkan kedalam tanur terlebih dahulu sampel
dipanaskan diatas hot plate tujuannya agar dapat meminimalkan asap atau jelaga yang muncul
pada saat pengabuan. Untuk kali ini analisis kadar abu total menggunakan bahan atau sampel
sebagai berikut : lada,pala,,cengkeh,dan pk. Setelah tercapai pengabuan yang dapat ditunjukkan
pada warna yang dihasilkan sampel setelah diarangkan,pada pengabuan sampel telah menjadi
abu berwarna putih abu-abu. Berat abu yang didapat pada sampel cengkeh yakni seberat 0,0336
(g), jauh sekali penurunan berat yang terjadi karena berat sampel awal 0,5 gram,berarti selama
proses pemanasan awal sampai pada proses pengabuan telah terjadi penguapan air dan zat-zat
yang terdapat pada sampel,sehingga yang tersisa hanyalah sisa dari hasil pembakaran yang
sempurna yakni abu.
Pada sampel cengkeh didapat kadar abu terbesar dibandingkan sampel yang lain yakni
sebesar 8,49% yang dihitung berdasarkan berat kering,besarnya kadar abu yang didapat dalam
praktikum kali ini, mungkin disebabkan oleh suhu ruang ataupun adanya ppasir dan kotoran yang
terdapat dalam sampel. Untuk itu dilakukan pengujian kadar abu totol yang memiliki berbagai
macam tujuan yakni : menentukan baik tidaknya suatu proses pengolahan,mengetahui jenis
bahan yang digunakan juga sebagai parameter nilai bahan makanan dan mengetahui adanya abu
yang tidak larut dalamasam yang cukup tinggii menunjukkan adanya pasir atau kotoran lain yang
terdapat dalam suatu bahan.

G. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum analisis kadar abu dapat disimpulkan bahwa :
1. Abu adalah zat orgganik dari sisa hhasil pembakaran suatu bahan organic
2. Proses untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan
3. Proses pengabuan dapat dilakukan dengan menggunakan tanur yang memijarkan sampel
pada suhu mencapai 500-600C