Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat merambah kedalam berbagai
aspek kehidupan tanpa terkecuali dalam bidang pendidikan merupakan suatu upaya untuk
menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan
pembaharuan-pembaharuan yang membawa kecenderungan menuju efisiensi dan efektifitas.
Suatu pembaharuan berjalan seiring dengan perputaran zaman yang tidak ada hentinya dan
terus berputar sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Dalam hal ini kebutuhan mengenai
layanan individual terhadap peserta didik dan segala macam perbaikan terhadap kesempatan
belajar bagi mereka telah menjadi faktor pendorong utama timbulnya suatu pembaharuan
dalam pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam suatu instansi atau lembaga
pendidikan harus mampu mengatasi perkembangan tersebut dengan selalu mengupayakan
suatu program yang sesuai dengan perkembangan anak, perkembangan zaman, situasi, kondisi
dan kebutuhan peserta didik.
Pembaharuan yang dimaksud dalam hal ini merupakan inovasi. Inovasi pada dasarnya
merupakan hasil pemikiran yang bercirikan hal baru, baik berupa praktik- praktik tertentu ,
atau berupa produk dari hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang diterapkan melalui tahapan
tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan
memperbaiki suatu keadaan menjadi lebih baik. Dalam bidang pendidikan, misalnya, untuk
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi, telah dilontarkan model-model inovasi
dalam berbagai bidang, antara lain: usaha pemerataan pendidikan, peningkatan mutu,
peningkatan efisiensi dan efektivitas pendidikan, dan relevansi pendidikan. Kesemuanya
dimaksudkan agar difusi inovasi yang dilakukan bisa diadopsi dan dimanfaatkan untuk
perbaikan dan pemecahan persoalan pendidikan di Tanah Air.
Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya
pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan tersebut antara lain dalam hal
manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru,
implementasi kurikulum, pembelajaran, dan sebagainya. Dan dalam makalah ini akan lebih
2

dijelaskan secara rinci mengenai inovasi dalam pendidikan , yaitu inovasi kurikulum dan
pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah untuk makalah ini adalah
sebagai berikut :
1.2.1 Apa hakikat, unsur dan ciri inovasi pendidikan?
1.2.2 Bagaimana adopsi dan pelaksanaan inovasi pendidikan?
1.2.3 Bagaimana kontribusi inovasi dalam pendidikan?
1.2.4 Apa saja hasil dari inovasi kurikulum?
1.2.5 Apa saja hasil dari inovasi pembelajaran?
1.2.6 Bagaimana langkah melakukan inovasi?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui hakikat , unsur dan ciri inovasi pendidikan.
1.3.2 Untuk mengetahui adopsi dan pelaksanaan inovasi pendidikan.
1.3.3 Untuk mengetahui kontribusi inovasi dalam pendidikan.
1.3.4 Untuk mengetahui hasil dari inovasi kurikulum.
1.3.5 Untuk mengetahui hasil dari inovasi pembelajaran.
1.3.6 Untuk mengetahui langkah melakukan inovasi.

1.4 Manfaat
1.4.1 Berdasarkan tujuan makalah diatas, maka manfaat penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1.4.1.1 Dengan diketahuinya hakikat , unsur dan ciri inovasi pendidikan , maka kita dapat
mengetahui makna dari inovasi pendidikan.
1.4.1.2 Dengan diketahuinya adopsi dan pelaksanaan inovasi pendidikan , maka kita dapat
mengetahui kemajuan pendidikan di Indonesia.
3

1.4.1.3 Dengan diketahuinya kontribusi inovasi dalam pendidikan , maka kita dapat
mengetahui pengaruh adanya inovasi dalam pendidikan.
1.4.1.4 Dengan diketahuinya hasil inovasi kurikulum, maka kita dapat menggunakan dan
mengimplementasikan kurikulum hasil inovasi dalam pembelajaran sebagai upaya
perbaikan pembelajaran.
1.4.1.5 Dengan diketahuinya hasil inovasi pembelajaran , maka kita dapat menggunakan
dan mengimplementasikan model-model pembelajaran hasil inovasi dalam
pembelajaran sebagai upaya perbaikan dalam pembelajaran.
1.4.1.6 Dengan diketahuinya langkah melaksanakan inovasi, maka kita dapat
mengimplementasikan langsung inovasi baik dalam inovasi kurikulum maupun
inovasi pembelajaran.
1.4.2 Berdasarkan manfaat teoritis diatas, maka manfaat praktis penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.4.2.1 Makalah ini dapat menjadi referensi dalam upaya perbaikan dan upaya dalam
mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pendidikan di Indonesia.
1.4.2.2 Makalah ini dapat memberikan informasi mengenai inovasi pendidikan , sehingga
dapat diadopsi oleh masyarakat.













4

BAB II
MATERI

INOVASI KURIKULUM DAN PENDIDIKAN

Everett M. Rogers mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktek atau
objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau
kelompok untuk diadopsi.
Stephen Robbins mendefinisikan, inovasi sebagai suatu gagasan baru yang diterapkan
untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa.
Menurut Van de Ven, Andrew H inovasi adalah pengembangan dan implementasi
gagasan-gagasan baru oleh orang dimana dalam jangka waktu tertentu melakukan transaksi-
transaksi dengan orang lain dalam suatu tatanan organisasi.
Menurut Kuniyoshi Urabe inovasi bukan merupakan kegiatan satu kali pukul (one time
phenomenon),melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif yang meliputi banyak
proses pengambilan keputusan di dan oleh organisasi dari mulai penemuan gagasan sampai
implementasinya di pasar.
Pengertian inovasi juga terdapat dalam UU No. 18 tahun 2002 yang menyatakan bahwa
inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan
mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara
baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau
proses produksi.
Beberapa contoh inovasi dalam pendidikan antara lain: program belajar jarak jauh,
manajemen berbasis sekolah, pengajaran kelas rangkap, pembelajaran kontekstual (contextual
learning), pembelajaran aktif, kreatif , efektif dan menyenangkan (PAKEM). Sedangkan,
difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan dari gagasan inovasi tersebut melalui suatu
proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam suatu rentang
waktu tertentu diantara anggota sistem sosial masyarakat.
Ada keterkaitan erat antara difusi, inovasi, dan komunikasi. Oleh karena difusi adalah
proses komunikasi untuk menyebarluaskan gagasan, ide, karya, dan sebagainya sebagai suatu
produk inovasi, maka aspek komunikasi menjadi sangat penting dalam menyebarluaskan
5

gagasan, ide, ataupun produk tersebut. Sebagai contoh, ide pembelajaran kelas rangkap (Imulti
grade instruction), dapat dipandang sebagai suatu ide atau gagasan dalam mengatasi
keterbatasan jumlah guru si sekolah. Untuk menyebarluaskan gagasan itu, maka perlu difusi
inovasi tentang pembelajaran kelas rangkap di sekolah. Biasanya ada pilot proyek yang
dilakukan, disosialisasikan, dibina, dan kemudian disebarluaskan kepada sekolah lain. Hal
inilah yang disebut difusi inovasi, yaitu penyebarluasan suatu inovasi untuk kemudian
diadopsi oleh kelompok masyarakat tertentu.
Satu hal yang tidak diharapkan muncul dalam pikiran- pikiran seseorang untuk
melakukan inovasi yaitu: salah presepsi atau asumsi (a) cenderung berpikir negatif; (b)
dihantui oleh kecemasan dan kegagalan; (c) tidak mau mengambil resiko terlalu dalam; (d)
malas; (e) saat ini berada pada daerah nyaman dan aman; (f) cenderung resisten/menolak
terhadap setiap perubahan.
1. Hakikat , Unsur , dan Ciri Inovasi Pendidikan
a. Hakikat dan Batasan Inovasi
Secara sederhana inovasi adalah perubahan ke arah yang baru, sedangkan difusi adalah
proses penyerapan sesuatu yang baru dengan menekankan pada aspek filterisasi. Dengan
demikian difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan dari gagasan inovasi tersebut
melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam
suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat.
Everett M. Rogers (1983) menyebut: Innovation as an idea, practice, or object that is
perceived as new by an individual or another unit of adoption (inovasi adalah suatu ide,
gagasan, praktik atau objek/benda yang disadari, dan diterima sebagai suatu hal yang baru
oleh seseorang atau kelompok untuk di adopsi). Dengan demikian, kata kunci inovasi adalah
gagasan, benda atau proses adopsi yang dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok
masyarakat terhadap inovasi yang ditawarkan, termasuk dibidang pendidikan.
Aspek batasan waktu ini merupakan suatu indikator penting dalam membicarakan suatu
hasil inovasi tertentu. Artinya bahwa suatu hasil olah pikir, olah ide, dan olah teknologi yang
menghasilkan sesuatu yang inovatif, maka salah satunya harus memenuhi syarat batas waktu.
Sebagai contoh berapa lama, kapan, dan sudahkah hasil inovasi ini diadopsi oleh pihak yang
memerlukannya. Sebagai misal hasil inovasi Dual Modus, yang telah dicoba dikembangkan
oleh Program Studi Kurikulum dan Pembelajaran, sampai saat ini boleh dikatakan masih baru
6

dalam waktu implementasinya. Maka Dual Modus, ini bisa dikatakan sebagai suatu inovasi
dalam dunia pembelajaran yang memang masih bisa dikatakan sebagai produk inovasi terbaru
yang memenuhi indikator batas waktu yang dimaksud.
Stephen Robbins (1994) menyebut inovasi sebagai suatu gagasan baru yang diterapkan
untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses, dan jasa. Robbins lebih
memfokuskan pada tiga hal utama yaitu:
Gagasan Baru
Adanya gagasan baru (new ideas) dari suatu olah pikir dalam mengamati suatu
fenomena yang sedang terjadi, termasuk dalam bidang pendidikan. Gagasan baru bisa
berupa penemuan (invention) dari suatu gagasan pemikiran, ide, sistem, sampai pada
kemungkinan gagasan yang mengkristal.
Produk dan Jasa, dan
Hasil langkah lanjutan dari adanya gagasan baru yang ditindaklanjuti dengan berbagai
aktivitas, kajian, penelitian, dan percobaan sehingga melahirkan konsep yang lebih
konkrit, dalam bentuk produk dan jasa yang siap dikembangkan dan
diimplementasikan, termasuk hasil inovasi dalam dunia pendidikan.
Upaya Perbaikan
Usaha sistematis untuk melakukan penyempurnaan dan melakukan perbaikan
(improvement) yang terus-menerus sehingga buah inovasi itu bisa dirasakan
manfaatnya dan berguna.

b. Inovasi pendidikan
Telaah inovasi, termasuk inovasi pendidikan akan selalu melibatkan sistem inovasi yang
mengkaji tentang tahapan persiapan dan implementasi inovasi kepada masyarakat dengan
melibatkan berbagai unsur yang satu sama lain saling terkait. Dalam sistem ini juga
dikemukakan bagaimana ide lahir, dikembangkan dan dikomunikasikan, sampai tahap adopsi,
dan penyelarasan inovasi dengan situasi kondisi masyarakat yang mengadopsinya.
Santoso S. Hamidjojo seperti dikutip Abdulhak (2002) menyatakan bahwa inovasi
pendidikan sebagai suatu perubahan yang baru dan secara kualitatif berbeda dari hal (yang
ada) sebelumnya dan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai
tujuan tertentu, termasuk dalam bidang pendidikan. Inovasi tidak hanya sekedar terjadinya
7

perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan lainnya. Dalam perubahan yang tergolong
inovasi, di samping terjadi yang baru, mesti terdapat unsur kesengajaan, unsur kualitas yang
lebih baik dari sebelumnya dan terarah pada peningkatan berbagai kemampuan untuk
mencapai tujuan yang diharapkan.
Inovasi pendidikan pada dasarnya merupakan suatu perubahan ataupun pemikiran
cemerlang di bidang pendidikan yang bercirikan hal baru, atau berupa praktik-praktik
pendidikan tertentu, atau berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang
diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan pendidikan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan pendidikan, atau proses
pendidikan tertentu yang terjadi di masyarakat.
Mattew B. Miles (1973) dalam bukunya Innovation in Education menulis tentang
inovasi sebagai spesies dari jenis perubahan. Menurut Miles Innovation is a species of the
genus change. Yaitu suatu perubahan yang sifatnya khusus, memiliki nuansa kebaruan dan
disengaja melalui suatu program yang jelas dan direncanakan terlebih dahulu, serta dirancang
untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari suatu sistem tertentu. Namun demikian, Miles
menyarankan agar inovasi bisa dilaksanakan dengan berhasil, diperlukan adanya strategi atau
alat yang jitu dengan tahapan dan mekanisme advokasi yang benar (a means (usually
involving sequence of activities) for causing and advocated innovation to become
successful) (Miles, 1973:18).

c. Difusi Inovasi Pendidikan
Secara umum, difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan gagasan inovasi
tersebut melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran
tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial dalam masyarakat.
Everett M. Rogers (1983), menyebut difusi sebagai proses untuk mengomunikasikan
suatu inovasi kepada anggota suatu sistem sosial melalui saluran komunikasi tertentu dan
berlangsung sepanjang waktu (diffusion is the process by which an innovation is
communicated through certain cannels over time among the members of a social system).
Sedangkan difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan gagasan inovasi tersebut
melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam
suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat.
8

Ada keterkaitan erat antara difusi, inovasi, dan komunikasi. Oleh karena difusi adalah
proses komunikasi menjadi sangat penting dalam menyebarluaskan gagasan, ide, ataupun
produk tersebut. Sebagai contoh, ide pembelajaran kelas rangkap (multi grade instruction),
dapat dipandang sebagai suatu ide atau gagasan dalam mengatasi keterbatasan jumlah guru di
sekolah. Untuk menyebarluaskan gagasan itu, diperlukan difusi inovasi tentang pembelajaran
kelas rangkap di sekolah. Biasanya ada pilot proyek yang dilakukan, disosialisasikan, dibina,
dan kemudian disebarluaskan kepada sekolah lain. Hal inilah yang disebut difusi inovasi,
yaitu penyebarluasan suatu inovasi untuk kemudian diadopsi oleh kelompok masyarakat
tertentu.
Dalam telaah diatas, ada keterkaitan erat antara difusi, inovasi, dan komunikasi, termasuk
difusi pendidikan. Oleh karena difusi pendidikan adalah proses komunikasi untuk
menyebarluaskan gagasan, ide, karya, dan sebagainya, sebagai suatu produk inovasi
pendidikan, maka aspek komunikasi menjadi sangat penting dalam menyebarluaskan gagasan,
ide, ataupun produk di bidang pendidikan tersebut. Dalam konteks difusi inovasi pendidikan,
saluran komunikasi yang digunakan merupakan alur suatu proses penyebarluasan gagasan
pendidikan tersebut.
Komunikasi adalah suatu proses dimana partisipan melakukan tukar-menukar informasi
satu sama lain, sehingga menghasilkan saling pengertian. Dalam konteks ini, kata kunci proses
komunikasi adalah diperolehnya saling pengertian antarsesama anggota masyarakat.
Komunikasi adalah siapa mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dan apa dampak
yang diperoleh. Shannon dan Weaver menyebut komunikasi sebagai : All procedures by
which one mind may affect another (komunikasi adalah semua prosedur di mana pemikiran
seseorang bisa memengaruhi yang lain).
Ragam komunikasi, baik komunikasi satu arah, komunikasi dua arah, ataupun komunikasi
multi arah, merupakan proses saling memengaruhi dan menyampaikan informasi, sehingga
pada akhirnya diperoleh saling pengertian. Salah satu ciri komunikasi linier atau sering juga
disebut sebagai komunikasi satu arah atau one way communication, adalah adanya
penyandian yang dilakukan pengirim pesan dan interpretasi oleh penerima, serta antisipasi
kemungkinan adanya gangguan (noises) dalam proses komunikasi yang berlangsung. Melalui
konsep ini, komunikasi dimaknai sebagai proses penyampaian pesan dari pengirim pesan
kepada penerima pesan melalui saluran tertentu untuk tujuan tertentu. Komunikasi linier ini
9

sangat berpengaruh pada kegiatan sehari-hari, sehingga peristiwa komunikasi itu ditunjukkan
dengan proses penyampaian pesan (transmission of messages) yang berupa bahan oleh
pengirim kepada penerima melalui saluran yang digunakan. Deskripsi di atas,
menghubungkan berapa erat hubungan antara difusi inovasi sebagai proses penyebarluasan
ide, dengan proses komunikasi dimana suatu ide disampaikan kepada pihak lain. Suatu inovasi
tak mungkin bisa disebarluaskan manakala tidak ada saluran komunikasi yang tepat untuk
disampaikan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, komponen saluran komunikasi merupakan
medium untuk menyebarluaskan gagasan/ide agar bisa diadopsi oleh masyarakat sebagai
adopter.
Dalam kadar tertentu, ada kesan seolah ada persamaan antara pembaruan dengan
perubahan. Namun, tak semua perubahan bisa dikatakan pembaruan atau inovasi. Misalnya,
perubahan siang menjadi malam atau dari musim hujan berubah menjadi musim kemarau. Hal
tersebut lebih karena perubahan sebagai fenomena alam atau perubahan yang sifatnya
alamiah. Dengan demikian, suatu perubahan dapat dikatakan sebagai bentuk inovasi apabila
perubahan tersebut dilakukan dengan sengaja, untuk memperbaiki keadaan sebelumnya agar
lebih menguntungkan demi upaya untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini
misalnya, dapat diamati pada perubahan proses dan produk teknologi yang terjadi tak hanya
begitu saja tanpa ada upaya sistematis melalui berbagai kegiatan penelitian dan
pengembangan.
Perubahan itu diawali dengan adanya suatu ide, gagasan ataupun praktik untuk
memperbaiki suatu keadaan atau untuk memecahkan masalah yang ada, kemudian melalui
berbagai usaha dan penelitian, dihasilkan suatu produk atau hasil baru yang berbeda dengan
keadaan sebelumnya. Dalam ilmu sosial. Juga dikemukakan bahwa terjadinya suatu
perubahan karena buah inovasi yang dilakukan. Misalnya dalam bidang pendidikan, bermula
dari sejumlah masalah yang timbul kemudian dilontarkan suatu ide baru, dikembangkan
berbagai usaha inovatif, dan melalui suatu proses penelitian yang lebih lanjut hadirlah karya
inovatif, baik berupa gagasan baru, pemikiran, konsep, ide, praktik, ataupun produk dalam
bidang pendidikan yang diharapkan bisa memecahkan persoalan yang ada sekaligus juga
upaya ke arah perbaikan dan kemajuan di bidang pendidikan itu sendiri.
Inovasi dalam bidang pendidikan dilakukan sebagai upaya sengaja untuk memperbaiki
suatu keadaan atau kondisi tertentu dalam bidang pendidikan, baik dalam bentuk ide, praktik,
10

ataupun produk baru untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan pendidikan
secara efektif dan efisien.

d. Ciri Inovasi Pendidikan
Inovasi termasuk inovasi pendidikan merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal
baru, atau berupa praktik-praktik tertentu, atau berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan
olah-teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu , yang diyakini dan dimaksudkan
untuk memecahkan persoalan yang timbul memperbaiki suatu keadaan tertentu, atau proses
tertentu yang terjadi di masyarakat. Difusi inovasi pendidikan sering diartikan sebagai
penyebarluasan gagasan inovasi pendidikan tersebut malalui suatu proses komunikasi yang
dilakukan dengan menggunakan saluran tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara
anggota sistem sosial masyarakat.
Rogers (1983) mengemukakan empat ciri penting yang mempengaruhi difusi inovasi,
termasuk inovasi pendidikan, yaitu : esensi inovasi itu sebdiri, saluran komunikasi, waktu dan
proses penerimaan dan sistem sosial.

1) Esensi Inovasi Itu Sendiri
Inovasi termasuk inovasi pendidikan adalah inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktik
atau objek/benda yang disadari, dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau
kelompok untuk di adopsi. Namun demikian, proses adopsi inovasi ini tak datang dengan
serentak tiba-tiba. Dalam kaitannya dengan esensi inovasi, paling tidak ada tiga hal yang
berkaitan erat, yaitu teknologi, informasi dan pertimbangan ketidakpastian, dan reinovasi.
Dalam kadar tertentu, makna inovasi sering identik dengan teknologi yang digunakan.
Kata teknologi diartikan sebagai a design for instrumental action that reduces the
uncertainty in the cause effect relationship involved in achieving in desired outcomes
(teknologi adalah suatu desain aksi kegiatan yang ditempuh guna mengurangi ketidakpastian
dalam hubungan sebab akibat dari hasil yang ingin dicapai). Adanya teknologi, termasuk
pemanfaatan teknologi informasi dalam difusi inovasi antara lain untuk menjawab persoalan
dalam hal mengurangi ketidakpastian masa depan.
Sebagai ilustrasi misalnya, ketika sekolah menggulirkan program desentralisasi sekolah
melalui mekanisme komite sekolah dan peran kepala sekolah dengan semangat manajemen
11

yang bercirikan keterbukaan (transparancy) dan pertanggung jawaban (accountability) dalam
mengelola sekolah ke arah raihan mutu pendidikan yang lebih baik.

2) Saluran Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses dimana partisipan berbagai informasi untuk
mencapai pengertian satu sama lain. Lasswell (1948) menyebut komponen dasar komukasi
adalah who say what, in what channels, to whom and in with what effects. Komunikasi
adalah sesuatu yang berkaitan dengan siapa mengatakan atau mengemukakan apa, dengan
saluran komunikasi apa, kepada siapa, dan dengan dampak apa (hasil yang dicapai).
Komunikasi linier sering juga disebut sebagai komunikasi satu arah atau one way
communication. Salah satu ciri komunikasi ini adalah adanya penyandian yang dilakukan
pengirim pesan dan interpretasi oleh penerimanya, serta antisipasi kemungkinan adanya
gangguan (noises) dalam proses komunikasi untuk menyebarluaskan gagasan, ide, karya, dan
sebagainya sebagai suatu produk inovasi, maka aspek komunikasi menjadi sangat penting
dalam menyebarluaskan gagasan, ide, ataupun produk tersebut. Persoalannya adalah saluran
apa yang paling lazim digunakan dalam difusi inovasi yang dilakukan.
Pada tahun 1979, Lawrence Kincaid mengembangkan model komunikasi konvergen
(convergence communication models), yang bercirikan adanya beberapa komponen utama,
yaitu : informasi (information), ketidakmenetuan (uncertainty), konvergen (convergence),
saling pengertian (mutual understanding), saling menyetujui (mutual agreement), kegiatan
bersama (collective action), dan hubungan jalinan (network relationship). Ciri utama dari
komunikasi konvergen adalah adanya informasi, ketidakmenentuan, konvergen, adanya saling
pemahaman, adanya saling persetujuan, kegiatan bersama, dan hubungan jaringan.
Menurutnya, komunikasi dimaknakan sebagai : A process of convergence in which
information is shared by participants in order to reach mutual understanding (Komunikasi
adalah suatu proses konvergen dimana terjadi pembagian informasi bersama untuk mencapai
suatu kesepakatan bersama). Melalui proses komunikasi tersebut, akan sangat memengaruhi
proses difusi inovasi yang dilakukan. Dalam telaah lain, saluran komunikasi dapat
diklasifikasikan pada dua hal, yaitu : a) komunikasi homofil, dan b) komunikasi heterofil.
a) Komunikasi Homofil
12

Komunikasi homofil adalah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua individu atau
kelompok yang dikategorikan memiliki kesamaan satu sama lain. Lazarsfeld dalam rogers
(1983) menyebut komunikasi homofil sebagai human communication in which pairs of
individuals who interacts are similar in certain attributes, suchs as beliefs, education, social
status, and the like . Suatu proses komunikasi yang berlangsung antara dua pasangan atau
kelompok individu, dimana keduanya memiliki ciri (atribute) yang sama satu sama lain. Ciri
itu antara lain kepercayaan, pendidikan, status sosial, dan sejenisnya. Secara umum,
komunikasi homofil ini akan efektif karena kedua individu atau kelompok memiliki kesamaan
karakteristik ataupun latar belakang sosial budaya, yang memudahkan komunikasi bisa
dilaksanakan secara akrab, dari hati ke hati.
Difusi inovasi yang dilakukan pada masyarakat yang homogen atau bersifat homofil, akan
menghasilkan hasil komunikasi yang positif. Artinya, difusi inovasi melalui komunikasi
homofil jauh lebih efektif ketimbang dilakukan dengan komunikasi yang lain pada masyarakat
yang heterogen atau beragam latar belakang budaya ataupun ciri lainnya.
b) Komunikasi Heterofil
Komunikasi heterofil yaitu proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih,
dimana pengirim pesan dan penerima pesan, memiliki latar belakang yang berbeda, baik
dilihat dari sosial budaya, pendidikan, agama, atau karakteristik sosial lainnya. Oleh karena
proses komunikasi yang dilakukan bersifat heterofil, maka proses difusi inovasi tak senantiasa
berjalan mulus, karena perbedaan latar belakang di atas.
Banyak gangguan atau distorsi dalam komunikasi, sebagai akibat ditemukan berbagai
kendala sebagai akibat Dari adanya keragaman atau perbedaan (heterofil) antara pengirim
pesan dan penerima pesan dalam proses difusi yang berlangsung.

3) Faktor Waktu dan Proses Pengambilan Keputusan
Waktu merupakan hal yang penting dalam proses difusi inovasi. Proses keputusan inovasi
pada hakekatnya adalah suatu proses yang dilalui individu atau kelompok, mulai dari pertama
kali adanya inovasi, dilanjutkan dengan keputusan sikap terhadap inovasi, penetapan
keputusan untuk menerima atau menolak, implementasi inovasi, dan konfirmasi atas
keputusan inovasi yang dipilihnya. Berikut adalah tahapan dari model proses keputusan
inovasi, yang dapat dilakukan oleh praktisi pendidikan hingga peserta didik, yaitu :
13

a) Tahap Pengetahuan (Knowledge)
Tahap ini berlangsung apabila individu/kelompok, membuka diri terhadap adanya
suatu inovasi serta ingin mengetahui bagaimana fungsi dan peran inovasi tersebut
memberi konstribusi perbaikan di masa mendatang.
b) Tahapan Bujukan (Persuation)
Tahap ini berlangsung manakala individu atau kelompok, mulai membentuk sikap
menyenangi atau bahkan tidak menyenangi terhadap inovasi.
c) Tahap Pengambilan Keputusan (Decision Making)
Tahap dimana seseorang atau kelompok melakukan aktifitas yang mengarah kepada
keputusan untuk menerima atau menolak inovasi tersebut.
d) Tahap Implementasi (Implementation)
Tahap ini berlangsung ketika seseorang atau kelompok menerapkan atau
menggunakan inovasi itu dalam kegiatan organisasinya.
e) Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Tahap dimana seseorang atau kelompok mencari penguatan terhadap keputusan
inovasi yang dilakukannya.

4) Sistem Sosial
Sistem sosial merupakan berbagai unit yang saling berhubungan satu sama lain dalam
tatanan masyarakat, dalam mencari tujuan yang diharapkan (a social system is defined as a set
of interrelated units that are engaged in joint problem solving to accomplish a common goal).
Beberapa hal yang dikelompokkan sebagai bagian atau unit dalam sistem sosial
kemasyarakatan, antara lain: individu anggota masyarakat, tokoh masyarakat, pemimpin
formal, tokoh agama, kelompok tertentu dalam masyarakat. Kesemuanya secara nyata, baik
langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam proses difusi inovasi yang dilakukan.
Struktur Sosial
Seperti telah dijelaskan, sistem sosial yang berupa berbagai komponen yang saling
berhubungan satu sama lain, sangat memengaruhi proses difusi inovasi. Hal lain yang
belum teridentifikasi dalam sistem sosial, adalah struktur sosial. Struktur sosial pada
dasarnya merupakan penyusunan yang terpola dari berbagai unit dalam satuan sistem
(social structure is a patterned arrengements of the units in a system). Adanya struktur
14

sosial, menghasilkan beberapa keuntungan dalam perkembangan menghadapi dinamika
sosial kemasyarakatan. Pertama, adanya struktur sosial baik formal maupun informal,
akan memberikan dorongan stabilitas dan ketaatan akan hukum khususnya dalam
konteks sistem sosial yang ada. Kedua, adanya struktur sosial akan mampu memprediksi
kecenderungan perilaku masyarakat termasuk dalam kaitannya dengan proses difusi
inovasi yang tengah berlangsung dalam tatanan masyarakat.
Norma Sosial dan Difusi
Norma merupakan hal yang penting dalam proses difusi inovasi. Lebih jauh dalam
kaitannya dengan sistem sosial, norma yang dianut dalam masyarakat dapat dipandang
sebagai pengikat dan pengukuh pola perilaku masyarakat yang bersangkutan sesuai
dengan kaidah sistem sosial yang berlaku. Dalam keadaan tertentu juga norma dapat
dianggap sebagai standar suatu tatanan perilaku masyarakat yang dianut. Norma itu
sendiri bisa bercirikan budaya lokal, bernafas keagamaan, ataupun ciri khusus
masyarakat tertentu, yang memberi warna tersendiri terhadap sosial budaya masyarakat
yang bersangkutan.
Namun demikian, disisi lain norma suatu sistemjuga bisa berperan sebagai penghalang
atau barriers suatu perubahan. Banyak contoh kasus inovasi yang terganggu atau
mengalami daya tolak masyarakat (resistensi) karena faktor norma sosial yang dianut
masyarakat. Misalnya dibeberapa provinsi di India, banyak sapi yang dianggap suci
sehingga tabu bagi masyaakat untuk menyembelihnya, padahal masyarakat yang
bersangkutan umumnya rawan gizi dan rawan protein hewani. Inovasi yang dilakukan
sedemikian rupa sesuai dengan social system yang dianut. Yang dimaksud dengan
sistem sosial dalam pendidikan misalnya lembaga sekolah (dasar, mengengah dan
tinggi), masyarakat pendidikan, malahan mungkin menjamah sistem organisasi yang
lebih luas, yang berkaitan langsung dengan layanan pendidikan, seperti; Dewan
pendidikan di tingkat kabupaten/ kota, dewan sekolah, organisasi profesi guru (PGRI),
dan sebagainya. Berikut ini antara lain kegiatan inovasi pendidikan yang melibatkan
sistem sosial tertentu:
(1) Batasan pelaksanaan inovasi (boundary maintenance operation), yaitu suatu
sistem sosial dalam garapan pendidikan yang secara nyata membatasi (melalui
in dan out) pelaksanaan suatu perubahan pendidiikan yang dilakukan.
15

Contohnya, pelaksanaan sertifikasi guru yang memprasyaratkan batasan
tertentu, program sistem merit bagi guru, pemberian penghargaan bagi guru
daerah terpencil (gudacil), dan sebagainya.
(2) Ukuran dan kewilayahan (size and teritorriality), yaitu sistem sosial yang
secara jelas mempersyaratkan kelompok orang ataupun geografis untuk
melaksanakan suatu inovasi yang akan dilakukan. Misalnya, onsolidasi
ataupun pelaksanaan penggabungan sekolah (school merger) di tingkat
kecamatan dan sebagainya.
(3) Kelengkapan fasilitas (physical facilites), yaitu sistem sosial yang mengaitkan
berbagai fasilitas dan teknologi termasuj sumber daya manusia yang akan
terlibat yntuk melaksanakan suatu proyek inovasi pendidikan yang akan
dilakukan. Misalnya, laboratorium bahasa, program circuit close television
(CCTV) yang secara nyata menuntut adanya kelengkapan fasilitas tertentu
dengan segala klasifikasi sumber daya penopangnya.
(4) Penggunaan durasi waktu (time use) yaitu suatu sistem sosial yang
mempersyaratkan faktor waktu sebagai ciri dominan suatu inovasi
pendidikan. Misalnya, program kuliah trisemester per tahun, sistem kelas
dengan dua kelompok.
(5) Tujuan yang ingin dicapai (goals), yaitu suatu sistem sosial yang
mempersyaratkan faktor tujuan sebagai ciri dominan. Sepatutnya semua
inovasi pendidikan harus memiliki tujuan yang jelas. Misalnya, reformasi
kurikulum melalui metode pembelajaran tertentu seperti inkuiri, belajar aktif,
ataupun pembelajaran kontekstual.
(6) Prosedur yang digunakan (procedure), yaitu sistem sosial yang mengaitkan
berbagai prosedur dan teknologi untuk melaksanakan suatu proyek inovasi
pendidikan yang dilakukan. Misalnya, PBM dengan menggunakan
multimedia, atau pekerjaan laboratorium dengan sistem atau prosedur
tertentu, pelaksanaan dual progress, dan sebagainnya.
(7) Definisi peran (role definition), yaitu suatu sistem sosial yang mengaitkan
berbagai peran sosal, seperti guru, peran kepala sekolah sesuai dengan tugas
dan kewenangannya untuk melaksanakan sesuai proyek inovasi. Misalnya,
16

pelaksanaan team teaching, peggunaan alat bantu mengajar, pelaksanaan
penelitian tindakan kelas yang melibatkan guru lain sebagai mitra ataupun
pengamat.
(8) Kondisi normatif (normatif beliefs), yaitu sistem sosial yang
mempersyaratkan perlunya norma dan ciri normatif lainnya untuk
melaksanakan suatu proyek inovasi. Misalnya kegiatan yang berkaitan dengan
disiplim di sekolah/kelas.
(9) Sistem struktur sosial (structure), yaitu sistem sosial yang mengaitkan
berbagai struktur dan hubungan antarmanusia dalam organisasi atau sistem
sosial lainnya untuk melaksanakan suatu proyek inovasi. Misalnya,
dibentuknya curriculum counci, atau struktur organisasi lannya seperti MBS
dan Komite sekolah ataupun peran Dewan Pendidikan tingkat
Kabupaten/kota.
(10) Metode Sosialisasi (socialization method), yaitu suatu sistem sosial yang
menghubungkan berbagai metode sosialisasi atau prosedur tertentu untuk
melaksanakan proyek inovasi. Misalnya, rogram Diploma II PGSD untuk para
guru SD yang lulusan SPG, atau program penyetaraan guru MI dan MTs
sesuai dengan tugasnya sebagai huru kelas atau guru mata pelajaran tertentu.
(11) Keterkaitan dengan sistem/ instansi lain (linkage with other system), yaitu
suatu kondisi sistem sosial dalam inovasi yang mengaitkan berbaga sitem lain
atau instansi dalam implementasi inovasi yang akan dilakukan. Misalnya,
proyek community colleges yang melibatkan berbagai pihak termasuk LSM
masyarakat, atau pada program pembangunan rehabilitasi gedung sekolah
dasar dengan melibatkan komite sekolah, dan tidak dilakuakn denngan cara
tender melalui pihak ketiga.

2. Adopsi dan Pelaksanaan Inovasi Pendidikan
Mattew B. Miles (1973:14) menulis bahwa inovasi sebagai spesies dari jenis perubahan
(innovation is a species of the genus change), yaitu suatu perubahan yang sifatnya khusus
(specific), memiliki nuansa kebaruan (novel), dan disengaja melalui suatu program yang jelas
dan direncanakan terlebih dahulu (planned and deliberate), serta dirancang untuk mencapai
17

tujuan yang diharapkan dari suatu sistem tertentu (goals of the system). Menurutnya, ciri-ciri
inovasi, termasuk inovasi dalam pendidikan terdiri dari empat hal utama, yaitu:
a. Memiliki kekhasan/khusus, artinya suatu inovasi akan memiliki ciri yang khas dalam
arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan. Ciri
khusus berarti program inovasi bisa berdimensi makro atau luas dengan melibatkan
banyak orang dengan rentang waktu yang relatif lama. Namun ciri khusus juga bisa
berdimensi mikro atau cakupan kecil, sederhana, dengan melibatkan orang yang terbatas
dengan durasi waktu yang terbatas pula. Hal utama bercirikan spesifik adalah suatu
inovasi memunculkan kondisi khusus, dan bukan asal tersebar. Misalnya, program guru
kelas rangkap (multi grade teachers), yang dianggap memiliki ciri khusus disbanding
dengan program sejenis yang ada.
b. Memiliki ciri atau unsur kebaruan. Dalam arti, suatu inovasi harus memiliki
karakteristik sebagai buah karya dan buah pikir yang memiliki kadar orisinalitas dan
kebaruan. Dengan demikian inovasi ini merupakan suatu proses penemuan (invention)
baik berupa ide, gagasan, hasil, sistem, ataupun produk yang dihasilkan.
c. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang terencana. Dalam arti, bahwa suatu
inovasi akan dilakukan melalui suatu proses yang tidak tergesa-gesa, namun kegiatan
inovasi dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan
terlebih dahulu. Proses inovasi bukan suatu proses yang tiba-tiba dan tak sengaja, tetapi
merupakan suatu proses penemuan dengan perencanaan yang matang dan
diperhitungkan tahapan-tahapan yang harus dilaksanakannya. Misalnya, pada saat akan
meluncurkan program manajemen berbasis sekolah (School-Based Management) maka
tahapan yang dilakukan tak tergesa-gesa, tetapi melalui tahapan yang direncanakan
sejak awal.
d. Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan, yaitu bahwa program inovasi yang dilakukan
harus memiliki apa yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi yang bagaimana
untuk mencapai tujuan tersebut dicapai dari sistem inovasi yang dilakukan. Suatu
inovasi bukan asal digulirkan atau asal beda dengan program sebelumnya. Inovasi
dilaksanakan karena ada tujuan yang ingin dicapai, termasuk tujuan untuk memperbaiki
kesalahan.
18

Inovasi tidak hanya sekedar terjadinya perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan
lainnya. Dalam perubahan yang tergolong inovasi, disamping terjadi yang baru mesti terdapat
unsur kesengajaan, unsur kualitas yang lebih baik dari sebelumnya dan terarah pada
peningkatan berbagai kemampuan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Itulah hubungan antara inovasi, proses difusi inovasi, dan komunikasi. Ketiganya
berhubungan erat satu sama lain. Inovasi bisa disebarluaskan bila ada proses difusi inovasi
yang menyebarluaskan gagasan, ide, praktik suatu inovasi. Sedangkan dalam proses difusi
inovasi ada komponen komunikasi, yang lebih merupakan medium atau saluran bagaimana
suatu proses difusi inovasi dilaksanakan dengan menggunakan saluran komunikasi tertentu.

a. Tahapan Pelaksanaan Inovasi
Ada beberapa tahapan proses keputusan inovasi yaitu tahap pengetahuan (knowledge)
apabila individu/kelompok, membuka diri terhadap adanya suatu inovasi. Tahapan bujukan
(persuation) manakala individu atau kelompok, mulai membentuk sikap menyenangi atau
bahkan tidak menyenangi terhadap inovasi. Tahap pengambilan keputusan (decision making)
tahap dimana seseorang atau kelompok melakukan aktifitas yang mengarah kepada keputusan
untuk menerima atau menolak inovasi. Tahap implementasi (implementation) ketika
seseorang atau kelompok menerapkan atau menggunakan inovasi itu, dan tahap konfirmasi
(confirmation) Tahap dimana seseorang atau kelompok mencari penguatan terhadap
keputusan inovasi yang dilakukannya. Dengan demikian, proses adopsi inovasi akan
dipengaruhi oleh sistem internal organisasi kemasyarakatan yang bersangkutan.
Organisasi atau tatanan kemasyarakatan yang baik dan stabil akan mengadopsi suatu
inovasi dengan mempertimbangkan syarat-syarat sebagai berikut:
1) Memiliki tujuan yang jelas.
2) Memiliki pembagian tugas yang dideskripsikan secara jelas.
3) Memilki kejelasan struktur otoritas atau kewenangan.
4) Memiliki peraturan dasar dan peraturan umum.
5) Memiliki pola hubungan informasi yang teruji.

b. Agen Perubahan
19

Agen Perubahan (Change agent) merupakan individu yang bisa mempengeruhi
pengambilan inovasi klien ke arah yang diharapkan para agent perubahan.

c. Percepatan Adopsi Inovasi
Tingkat percepatan adopsi suatu hasil inovasi akan sangat bergantung kepada beberapa
faktor. Derajat adopsi tersebut sangat bergantung pada karakteristik atau ciri dari inovasi itu
sendiri. Karakteristik inovasi, yang sangat memengaruhi derjat adopsi tersebut akan sangat
bergantung pada:
1) Adanya keuntungan relatif (relative advantages), artinya sampai sejauhmana suatu
inovasi yang diperkenalkan memberi manfaat dan keuntungan bagi perorangan atau
masyarakat yang akan mengadopsinya.
2) Memiliki kekompakan dan kesepahaman (compatibility), artinya sampai sejauhmana
suatu inovasi bisa sejalan dengan pengalaman masa lalu masyarakat yang akan
mengadopsinya.
3) Memiliki derajat kompleksitas (complexity), atinya sampai sejauhmana derajat
kompleksitas, kesukaran, dan kerumitan suatu produk inovasi dirasakan oleh
masyarakat.
4) Dapat Dicobakan (trialability), artinya sampai sejauhmana suatu inovasi dapat
diujicobakan keandalan dan manfaatnya.
5) Dapat diamati (observability), artinya sampai sejauhmana suatu hasil inovasi dapat
diamati.

d. Penemuan Kembali (Re-invention)
Secara sederhana, re-invention adalah penemuan kembali, setelah melalui proses
modifikasi. Dalam bidang pendidikan, proses penemuan kembali ini lazim dilakukan dalam
inovasi pendidikan yang dilaksanakan. Misalnya, pada 1980-an, dalam upaya peningkatan
mutu pendidikan dasar di Indonesia, diujicobakan pendekatan pembelajaran melalui Sistem
Pembinaan Cara Belajar Siswa Aktif (SPP-CBSA). Pada 2000, melalui program peningkatan
mutu pendidikan dasar digulirkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAKEM) sebagai bentuk perubahan, penyesuaian, dan modifikasi yang menghasilkan proses
re-invention dari CBSA.
20


3. Kontribusi Inovasi dalam Pendidikan
Proses adopsi inovasi akan dipengaruhi oleh sistem internal organisasi kemasyarakatan
yang bersangkutan. Organisasi atau tatanan kemasyarakatan yang baik dan stabil akan
mengadopsi suatu inovasi dengan mempertimbangkan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut
:
1. Memiliki tujuan yang jelas.
2. Memiliki kejelasan struktur otoritas atau kewenangan.
3. Memiliki peraturan dasar dan peraturan umum.
4. Memiliki pola hubungan informasi yang teruji.
5. Memiliki pembagian tugas yang dideskripsikan secara jelas.
Dalam adopsi inovasi , ada lima kategori perbedaan individu atau kelompok yang harus
diperhatikan. Kelima kelompok tersebut adalah sebagai berikut :
a. Para pembaru atau pioner/perintis (inovators) , yaitu mereka yang paling cepat
mengadopsi inovasi dalam masyarakat. Mereka tergoloong proaktif, termasuk dalam
mencari ide-ide baru yang relevan , serta aktif untuk menerapkan metode baru itu dalam
lingkungan sosialnya. Kelompok ini persentasinya sangat kecil, hanya sekitar 2,5%.
b. Para adopter awal (early adopters) , yaitu orang-orang yang tergolong cepat mengikuti
kelompok inovator. Mereka adalah kelompok rasional yang telah melihat beberapa
perubahan ke arah yang lebih baik. Kelompok ini kira-kira 13,5%.
c. Para kelompok mayoritas awal (early majority) , yaitu mereka termasuk kelompok
kebanyakan yang mau meniru cara baru apabila hal tersebut telah benar-benar berhasil.
Mereka tidak mau mengambil risiko, dan cenderung mengadopsinya secara massal.
Kelompok ini berjumlah kira-kira 34%.
d. Kelompok mayoritas akhir (late majority) , yaitu kelompok massal yang umumnya ragu-
ragu terhadap pengetahuan baru. Mereka cenderung skeptis, walaupun akhirnya mereka
mau menerima inovasi tersebut pada periode akhir. Kelompok ini kira-kira 34%.
e. Adopter akhir (late adopters) , yaitu kelompok yang sangat skeptis , dan senantiasa
resisten terhadap perubahan. Mereka sangat tradisional dalam berpikir, dan cenderung
menolak dan mengadakan perlawanan terhadap inovasi yang ditawarkan. Kelompok
ini kira-kira 16% saja.
21

Dalam konteks pendidikan , ikhtiar pembaruan dalam bidang pendidikan terus-menerus
digulirkan , baik di negara-negara maju maupun negara yang masih berkembang. Pada
umumnya permbaruan pendidikan tersebut mempunyai kecenderungan mengemban misi
untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi , khususnya di bidang pendidikan.
Permasalahan tersebut antara lain meliputi pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan ,
peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, efektivitas dan efisiensi pendidikan. Poensoen
(dalam Santoso S. Hamidjojo, 1974) mengungkapkan secara gamblang tentang tiga
kecenderungan kontribusi dan misi difusi inovasi, khususnya dalam bidang pendidikan, yaitu :
Pertama, difusi inovasi pendidikan cenderung mengembangkan dimensi demokratis,
artinya difusi inovasi yang dilaksanakan mengemban misi atau kecenderungan untuk
meninggalkan konsepsi pendidikan yang terbatas bagi kepentingan elite tertentu, menuju pada
konsepsi pendidikan yang lebih demokratis. Misi ini memungkinkan terjadinya peningkatan
pemerataan atau perluasan kesempatan memperoleh dan menikmati pendidikan sesuai dengan
kemauan , kemampuan , dan potensi yang dimilikinya. Kecenderungan ini ditandai dengan
berubahnya berbagai macam kebijaksanaan dan peraturan , mulai dari anggaran belanja
sampai adanya bantuan khusus bagi masyarakat kurang mampu, pengaturan kembali sistem
ujian , pengadaan kelas atau sekolah khusus untuk mempermudah orang masuk sekolah , atau
masuk dan melanjutkan kembali ke sekolah atau program pendidikan luar sekolah dan
sebagainya. Sebagai contoh, di negara kita telah dikembangkan adanya orang tua asuh ,
program pemberantasan buta huruf melalui kejar paket A, program dasar , dan kini sudah
mulai pada program wajib belajara pendidikan dasar sembilan tahun pada tingkat SLTP , dan
berdirinya Universitas Terbuka. Semua itu menggambarkan kecenderungan pengembangan
konsepsi pendidikan yang lebih demokratis.
Kedua, inovasi pendidikan menemban misi yang cenderung bergerak dari konsepsi
pendidikan yang berat sebelah dalam peningkatan kemampuan pribadi di antara pengetahuan,
sikap dan keterampilan , menuju pada konsepsi pendidikan yang mengembangkan pola dan isi
yang lebih komprehensif dalam rangka pengembangan seluruh potensi manusia secara
menyeluruh dan utuh. Artinya , pendidikan yang inovatif hendaknya dapat mengembangkan
segenap potensi manusia tidak hanya aspek intelektualnya saja, tetapi mencakup seluruh aspek
kepribadiannya secara bulat. Misalnya, upaya pengembangan pembelajaran terpadu atau
pengajaran unit melalui kegiatan pengajaran proyek dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
22

, atau dikembangkan Pembelajran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) atau
contextual learning merupakan berbagai ikhtiar ke arah upaya pembaruan pendidikan yang
mengembangkan segenap potensi individu secara menyeluruh dan utuh.
Ketiga, pendidikan mengemban misi yang cenderung bergerak dari konsepsi pendidikan
yang bersifat individual perorangan, menuju ke arag konsepsi pendidikan yang menggunakan
pendekatan yang lebih kooperatif. Dari konsepsi pendidikan yang boros menuju pada konsepsi
yang lebih efektif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan. Upaya pembaruan di
Indonesia, misalnya penggunaan analisis dan pendekatan sistem dalam perencanaan
pendidikan dan pengajaran di Indonesia, antara lain proyek pendidikan anak oleh masyarakat
dan oarang tua asuh (PAMONG) , pengembangan sekolah dasar kecil (SD Kecil) , program
bantuan peofesional baik bagi guru SD dan pengembangan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) ,
atau program guru bantu sementara (contract teacher) , pemberian bantuan langsung kepada
sekolah (school block grant), Pembelajaran, Aktif, Kreatif , Efektif , dan Menyenangkan
(PAKEM).
Upaya pembaruan pendidikan tertuju pada peningkatan mutu proses dan produk sistem
pendidikan nasional , yang menyangkut peningkatan pemerataan kesempatan belajar.
Bersamaan dengan itu melalui berbagai pembaruan tersebut terkandung pula tujuan yang lebih
penting yakni meningkatkan efisiensi dan efektivitas serta relevansi sistem pendidikan
nasional dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.
Berdasarkan uraian diatas, pembaruan pendidikan di Indonesia tertuju pada upaya
meningkatkan pemerataan kesempatan pendidikan, meningkatkan pemerataan pelayanan
pendidikan , meningkatkan mutu, proses dan hasil pendidikan, meningkatkan efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pendidikan , peningkatan kesesuaian proses dan hasil pendidikan
dengan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pembangunan, serta meningkatkan kesadaran
dan kegemaran masyarakat untuk senantiasa belajar sepanjang hayat.
Sebagai bahan bandingan inovasi pendidikan di Amerika Serikat pada beberapa
dasawarsa yang lampau, mengindikasikan perkembangan yang relatif lambat (very slow) ,
walaupun semua pihak sudah menyadari betapa pentingnya inovasi di bidang pendidikan akan
memberi kontribusi kepada kemajuan bangsa. Ragam inovasi dan perubahan pendidikan telah
dilakukan pada kurun waktu tersebut. Berbagai strategi dan implementasi perubahan
23

pendidikan telah dilakukan . Dalam kadar tertentu telah menjadi isu polemik , manipulatif dan
teknologis serta menjadi isu prestise dibalik kesuksesan dari perubahan pendidikan tersebut.
Bila dikaitkan dengan pendapat Rogers (1983) hal tersebut karena ada tahapan-tahapan
yang perlu dilakukan dalam inovasi. Dalam tatanan ini, kelompok inovator (tahap awal
diperkirakan hanya sekitar 3%) diharapkan mampu mengajak para early adopter (sekitar 13%)
, walaupun tidak bisa dihindari akan adanya kelompok resisten , yang selalu menolak terhadap
usaha pembaruan yang dilakukan. Inilah yang disebut Ellsworth (2000) , diperlukan adanya
bimbingan terhadap semua upaya perubahan melalui pemahaman sistem secara lebih
kontekstual (need guide all our change efforts with a system understanding of the context).
Saat ini kecenderungan inovasi terfokus pada substansi isi (content) dari perubahan di
bidang pendidikan tersebut, daripada proses perubahannya (change process). Dengan
demikian, proses inovasi yang paling mendasar adalah pertanyaan tentang bagaimana
penyebarannya, cepat atau lambat. Hal ini seperti yang dikemukakan Rogers (1983) bahwa
perlunya komunikasi sebagai process by which participants create and share information.
Dalam inovasi pendidikan unsur strategi merupakan suatu hal yang penting.
Strategi dalam inovasi diartikan sebagai a means (usually involving sequences of
activities) for causing and advocated innovation to become successful (Milles, 1983:18).
Salah satu dimensi strategi yang digunakan adalah Tipologi Strategi Inovasi Pendidikan
(Miller, 1983) yang pada dasarnya membedakan antara :
Target system , yaitu sistem target yang menjadi sasaran inovasi dilaksanakan.
Misalnya , sekolah atau kelompok masyarakat tertentu.
Other system, yaitu sistem lain diluar yang menjadi target berikutnya, misalnya
lembaga swadaya masyarakat atau institusi pemerintahan (dari luar).
Sedangkan pada tahapan yang dilakukan dalam mengadopsi inovasi termasuk dalam
inovasi pendidikan , ada empat tahapan yang bisa dipertimbangkan , yaitu :
o Design, yaitu tahap perencanaan dan perancangan.
o Awareness-interest , yaitu tahap komunikasi untuk penyadaran terhadap masyarakat
yang diharapkan dapat mengadopsi inovasi yang ditawarkan.
o Evaluation, yaitu melakukan kajian atau evaluasi terhadap kemungkinan prokontra ,
ataupun jajian terhadap masyarakat yang menerima atau menolak.
24

o Trial , yaitu ujicoba atas produk inovasi tersebut , untuk melihat sampai sejauhmana
kemungkinan diterima atau ditolaknya inovasi kepada target sistem.
Sedangkan pada sisi yang lain , target sistem ataupun sistem lain dalam penyebarluasan
inovasi , dikenal dua ciri struktur sosial, yaitu :
Existing structure , yaitu struktur sosial ataupun struktur organisasi kemasyarakatan
yang sudah ada.
New structure , yaitu struktur kemasyarakatan yang baru sebagai konsekuensi atas
adanya inovasi.
Terdapat suatu hal yang sangat universal, bahwa inovasi termasuk inovasi dan perubahan
pendidikan , terangsang karena ada persoalan atau karena ada keinginan untuk memperbaiki
keadaan (improving condition). Melalui inovasi atau perubahan yang ditawarkan diharapkan
bisa memperbaiki atau meningkatkan pada kondisi yang lebih baik.
Perubahan lahir karena ada tantangan dan tantangan ini merangsang untuk terjadinya
pembaruan ataupun perubahan termasuk perubahan sistem pendidikan Indonesia. Lahirnya
berbagai proyek pembaruan pendidikan misalnya, antara lain karena munculnya sejumlah
persoalan pelik dalam pelaksanaan pendidikan dasar mulai dari mutu belajar siswa yang turun
sehingga ada pemberian beasiswa atau peningkatan kemampuan profesional guru, kekurangan
guru antara lain ditawarkan guru bantu sementara, gedung yang rusak parah, dicoba dengan
pembangunan gedung secara swakelola dengan melibatkan masyarakat. (Report on BEP, The
World Bank, 2002).
Bila di Amerika Serikat diluncurkan slogan struggle for national survival , berjuang
untuk kemajuan bangsa , semua komponen bangkit, termasuk bidang pendidikan melalui
program inovasi diberbagai bidang. Hal tersebut menjadikan AS maju pesat dalam kurun
waktu beberapa dekade berikutnya. Hal ini pelajaran bagi Indonesia , bahwa berikhtiar untuk
mencari yang terbaik bagi perbaikan sistem pendidikan nasional perlu dilakukan. Misalnya
dengan semangat otonomi daerah, adalah arti lain dari pemberian sebagian kewenangan
pengelolaan pendidikan kepada tingkat kabupaten/kota , bahkan sampai tingkat sekolah
melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) , tetapi masih ada sebagian kepala sekolah yang
belum sepenuh hari menerima program MBS ini. Hal ini mungkin karena faktor mental
barriers , yaitu gangguan mental psikologis sebagian kepala sekolah yang khawatir kondisi
nyaman dan aman yang dialaminya selama ini terusik. Ini yang disinyalir Ellsworths (2000)
25

yang mengatakan bahwa penolakan akan sering mengganggu proses perubahan , termasuk
inovasi dalam bidang pendidikan.
Diamati dari sifatnya, kategori inovasi bisa diamati dari karakteristik perubahan yang
sedikit-sedikit atau sebagian komponen , sampai kepada perubahan ayau inovasi yang drastis
dan perubahan yang menyeluruh atau total terhadap semua komponen yang ada dalam sistem
yang ada. Dalam kaitannya dengan kontribusi inovasi pendidikan , Huberman seperti dikutip
Ishak Abdulhak (2000) membagi sifat perubahan dalam inovasi ke dalam enam kelompok,
yaitu:
a. Penggantian(substitution), misalnya inovasi dalam penggantian jenis sekolah,
penggantian bentuk perabot, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang
baru.
b. Perubahan (alternation), misalnya upaya mengubah tugas guru yang tadinya hanya
beretuggas mengajar , juga harus bertugas menjadi guru bimbingan dan penyuluhan ,
atau mengubah kurikulum sekolah mengnengah umum yang bercorak teoritis akademis ,
juga harus memasukkan orientasi kurikulum dan mata pelajaran yang bernuansa
keterampilan hidup praktis. Perubahan semacam ini mengandung sifat mengganti hanya
sebagian komponen dari sekian banyak komponen yang masih dapat dipertahankan
dalam sistem yang lama.
c. Penambahan (addition) , dalam inovasi yang bersifat penambahan ini tidak ada
penggantian atau perubahan, Kalaupun ada yang berubah, maka perubahan tersebut
hanya berupa perubahan dalam hubungan antar komponen yang terdapat dalam sistem
yang masih perlu dipertahankan. Misalnya adanya pengenalan cara penyusunan dan
analisis item tes objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti atau
mengubah cara-cara penilaian yang telah ada.
d. Penyusunan kembali (restructuring), yaitu upaya penyusunan kembali berbagai
komponen yang ada dalam sistem agar mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dan
kebutuhan. Misalnya upaya menyusun kembali susunan peralatan, menyusun kembali
komposisi dan ukuran kelas dan daya tampungnya, menyusun kembali urutan mata
pelajaran atau keseluruhan sistem pengajaran , sistem kepangkatan , sistem pembinaan
karier baik untuk tenaga edukatif maupun tenaga administratif , teknisi dalam upaya
pengembangan keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.
26

e. Penghapusan (elimination), ialah upaya pembaruan dengan cara menghilangkan aspek-
aspek tertentu dalam pendidikan, atau pengurangan komponen-komponen tertentu
dalam pendidikan atau penghapusan pola atau cara-cara lama. Misalnya, upaya untuk
menghapuskan mata pelajaran teretntu seperti mata pelajaran menulis halus, menghapus
fasilitas tertentu seperti permainan olah raga, atau menghapus kebiasaan untuk
senantiasa berpakaian seragam.
f. Penguatan (reinforcement) , yaitu upaya peningkatan untuk memperkokoh atau
memantapkan kemampuan atau pola dan cara-cara yang sebelumnya terasa lemah.
Misalnya, upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan fasilitas ,
sehingga berfungsi optimal dalam mempermudah tercapainya tujuan pendidikan secara
efektif dan efisien.
Proses adopsi inovasi dapat terhambat oleh beberapa faktor. Ada tiga hambatan
utama , yaitu :
a. Mental block barriers, yaitu hambatan yang disebabkan oleh sikap mental, seperti :
1. Salah persepsi atau asumsi
2. Cenderung berfikir negatif
3. Dihantui oleh kecemasan dan kegagalan
4. Tidak mau mengambil risiko terlalu dalam
5. Malas
6. Saat ini berada pada daerah nyaman dan aman
7. Cenderung resisten/menolak terhadap setiap perubahan
b. Hambatan yang sifatnya culture block (hambatan budaya). Hal ini lebih dilatarbelakangi
oleh :
1. Adat yang sudah mengakar dan mentradisi
2. Taat terhadap tradisi setempat
3. Ada perasaan berdosa bila mengubah tatali karuhun dan sebagainya.
c. Hambatan social block (hambatan sosial) , yait hambatan inovasi sebagai akibat dari
faktor sosial dan pranata masyarakat sekitar. Hal ini antara lain:
1. Perbedaan suku dan agama ataupun ras
2. Perbedaan sosial ekonomi
3. Nasionalisme yang sempit
27

4. Arogansi primordial
5. Fanatisme daerah yang kurang terkontrol
Mugiadi (1998) menegaskan :Dalam pembaruan itu, terlepas apakah gagasan itu datang
dari bawah atau dari atas , yang penting adalah perlu memperhitungkan berbagai kendala yang
akan dihadapi , andaikata gagasan itu akan diterapkan di dalam suatu sistem yang sedang
berlaku. Oleh karena itu , sebelum upaya pembaruan dilaksanakan perlu disusun perencanaan
yang matang tentang bagaimana mengatasi kendala tersebut, sehingga gagasan pembaruan
dapat diuji, dikembangkan, diperbaiki dan ditetapkan (diadopsi) pada skala yang lebih luas.
Kenyataannya , berhasil tidaknya gagasan baru untuk disebarluaskan , akan bergantung
pula pada situasi dan kondisi kehidupan sosial, ekonomi , politik dan budaya dimana sistem
yang akan diperbarui berada. Sebaiknya dalam era reformasi dimana kehidupan sosial politik
lebih banyak didasarkan pada suasana demokratis , serta segala tindakan , kebijaksanaan , dan
keputusan harus selalu didasarkan pada aspirasi masyarakat yang lebih banyak berada di
kalangan bawah , maka yang lebih relevan adalah inovasi yang bersumber dari bawah. Dalam
praktiknya, banyak para agen pembaruan yang mengombinasikan antar keduanya atau
ketiganya. Penggunaan kombinasi sumber inovasi antara atas dan bawah secara seimbang dan
bijaksana , merupakan upaya yang menunjukkan hal yang lebih efektif.

4. Beberapa Hasil Inovasi Kurikulum
Perubahan-perubahan dan pergantian-pergantian kurikulum sejak tahun 60-an hingga
tahun 2007 yang lalu telah banyak dirasakan, perubahan ini merupakan hasil berpikir dan
merupakan produktivitas bagaimana inovasi dalam penyesuaian kurikulum yang selalu
dituntut oleh masyarakat dapat dilakukan. Alasan kenapa perubahan atau inovasi ini dapat
terjadi, salah satunya adalah hasil evaluasi kurikulum.
Terlepas dari bagaimana inovasi kurikulum ini dilakukan, maka pada pembahasan berikut
ini bahwa inovasi kurikulum ini akan disajikan dalam bentuk contoh-contoh kurikulum yang
termasuk ke dalam the new and adaptive of curriculum. Artinya deskripsi berikut akan
diseiringkan dengan filosofisnya inovasi, yaitu menganalisis dan memunculkan suatu yang
baru. Inovasi kurikulum ini sebetulnya terjadi dan dilakukan pada setiap jenjang dan satuan
pendidikan bahkan untuk tingkat inovasi satuan pembelajaran pun sangat banyak inovasi yang
dilakukan. Berikut adalah beberapa hasil inovasi, diantaranya :
28

a. KTSP (KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN)
Dalam Standar Nasonal Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun
dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh
satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta
kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut.
1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:
1. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan
karakteristik daerah, serta social budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
2. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan
dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi
lulusan, dibawah supervise dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama
yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
KTSP pada dasarnya adalah KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan
berdasarkan standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL), SK dan KD yang terdapat
dalam SI yang merupakan penyempurnaan dari SK dan KD yang terdapat pada kurikulum
berbasis kompetensi (uji coba Kurikulum 2004)
Adapun tujuan dari KTSP ini adalah:
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan
memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada
lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara
partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Sedangkan secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk:
29

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemnadirian dan inisiatif sekolah dalam
mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang
tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangankan
kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama.
3. Meningkatkan kompetesi yang sehat antar satuan pendidikan yang akan dicapai.

b. KBK (KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI)
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam
dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada
sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara materi,
sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara
para murid belajar di kelas.
Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan.
Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu
pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari
guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan
untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya
antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun
meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua.
KBK berorientasi bahwa siswa bukan hanya memahami materi pelajaran untuk
mengembangkan kemampuan intelektual saja, melainkan bagaimana pengetahuan itu
dipahaminya dapat mewarnai perilaku yang ditampilkan dalam kehidupan nyata.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci dibandingkan
dengan pernyataan di atas, yaitu:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi baik secara individual maupun klasikal,
artinya isi KBK intinya sejumlah kompetensi yang harus dicapai siswa, dan
kompetensi inilah sebagai standar minimal atau kemampuan dasar.
2. Beroreantasi pada hasil belajar dan keberagaman, artinya keberhasilan pencapaian
kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang dijadikan
30

acuan kompetensi yang diharapkan. Proses pencapaian tentu saja bergantung pada
kemampuan dan kecepatan yang berbeda setiap siswa.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervariasi sesuai dengan keberagaman siswa
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhi unsure
edukatif, artinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi. Guru berperan sebagai fasilitator untuk mempermudah siswa belajar dari
berbagai macam sumber belajar.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi. KBK menempatkan hasil dan prosesbelajar sebagai
dua sisi yang sama pentingnya.
Setelah memahami karakteristik KBK, maka sebenarnya apa yang ingin dicapai oleh
kurikulum berbasis kompetensi adalah mengembangkan peserta didik untuk menghadapi
perannya di masa mendatang dengan cara mengembangkan sejumlah kecakapan hidup (life
skill). Life skill merupakan kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk terbiasa berani
menghadapi problem kehidupan secara wajar kemudian secara kreatif mencari solusi untuk
mengatasinya.
c. Kurikulum 2007
d. Broad based curriculum
e. Kurikulum sistem ganda (PSG)
f. Kurikulum muatan local
Selain nama-nama kurikulum hasil inovasi di atas sebetulnya masih banyak produk-
produk dari inovasi kurikulum ini yang secara internal dalam institusi akademik, maupun
praktis dapat kita temui dilapangan.

5. Beberapa Hasil Inovasi Pembelajaran
a. Model Pembelajaran Brain Based Learning
Model pembelajaran ini berkembang sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan oleh
pakar Belajar Otak dari Eric Jensen (2004). Model ini merupakan model supplement
terhadap model pembelajaran yang menggunakan landasan psikologi perkembangan,
psikologi pembelajaran, dan teori-teori belajar. Aspek yang ditelaah dari inovasi ini, yaitu
31

aspek keunggulan otak manusia terhadap gejala-gejala psikologis yang selama ini terlihat dari
bentuk dan performance siswa ketika mengikuti pembelajaran.
Inovasi pembelajaran ini telah melahirkan beberapa konsep-konsep baru dan
membuktikan konsep-konsep dan teori-teori yang selama ini banyak diperbincangkan di
kalangan akademik. Misalnya, konsep Accelerated Learning, Peta Concept, Visual
Intelligence, Audio Intelligence, Gestural Intelligence, Kinestetik Intelligence Tactile
Intelligence.

b. Model Pembelajaran LCBT
Salah satu temuan model pembelajaran yang berbasis atas berfikir Lateral, telah pula
memberikan kontribusi ke dalam inovasi dalam bidang pembelajaran. Dasar temuan mengenai
kecepatan berpikir dengan stimulus berupa tutorial yang dikemas dalam program-program
computer atau model-model pemrosesan informasi dapat dijadikan dasar dalam membantu
peserta didik untuk memunculkan suatu langkah pemikiran baru selama belajarnya. Deni
Darmawan, dkk. (2003: 89) menjelaskan bahwa LCBT sangat penting membantu kecepatan
dan melatih berfikir kritis pada guru dalam pengembangan stimulus-stimulus pembelajaran
yang mampu merangsang sisa berfikir cepat, tepat, dan bermakna selama pembelajaran.
Model pembelajaran Lateral Computer Base Tutorial (LCBT), ini pada dasarnya
menerapkan prindip model latihan dan tutorial dengan melalui penerapan berpikir lateral atau
loncatan berpikir yang didukung kemampuan visual dalam memahami informasi pembelajaran
dari layar computer. Sebagaiman yang dituturkan Yusuf dan Aris (2004), bahwa model
pembelajaran yang mampu menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan berbasis
teknologi informasi terutama computer, yaitu model pembelajaran tutorial. Melalui tutorial ini
kecerdasan visual sangat dibutuhkan terutama dalam memperoleh pemahaman melalui proses
pengamatan, seperti yang juga dikatakan Milly R. Sonneman (2002: 39) bahwa hampir 80%
orang adalah pemikir visual, penggunaan kiasan visual dalam sketsa akan menawan perhatian
pemirsa. Apabila semua hal tersebut dipadukan dalam bentuk tutorial yang berbasiskan
LCBT, maka peserta didik akan lebih cepat lagi belajarnya terlebih hal ini cukup memberikan
ketenangan belajar dan tumbuh perasaan tenang dan percaya diri. Terlebih jika model didesain
dengan menambahkan pencitraan terhadap latar belakang music yang mampu menyentuh
32

sensori otak pada belahan kanan, maka proses berpikir akan terjadi secara seimbang, dikontrol
oleh alunan music yang membuat individu stabil dalam jalur pikirannya serta merasa tenang.
Model tutorial yang dikembangkan juga sangat memerhatikan desain visual yang harus
cukup menarik perhatian siswa. Di mana dari temuan diperoleh bahwa peserta didik akan
mencoba menghubungkan ilustrasi petunjuk (visual) tersebut dengan pengetahuan
sebelumnya. Demikian juga petunjuk tersebut lebih cenderung banyak disajikan dalam bentuk
audio (narator), maka sentuhan audio ini juga harus betul-betul mampu mengoptimalkan
bagian spesifik lobus temporal baik sebelah kiri maupun sebelah kanan.

c. Model Pembelajaran ICARE
Sesuai dengan namanya, ICARE, pembelajaran ini merupakan singkatan dari lima kata,
yaitu: (1) Introduction (pengenalan), (2) Connect (menghubungkan), (3) Apply (menerapkan
dan mempraktikan), (4) Reflect (merefleksikan), dan (5) Extend (memperluas dan evaluasi).
Pada awalnya, model pembelajaran ICARE ini, dikembangkan oleh Departement of
Educational Technology, San Diago State University (SDSU) Amerika Serikat. Pada desain
awal, model pembelajaran ini dirancang untuk pembelajaran online melalui bahan ajar
modul.
Tahapan Sistem Model Pembelajaran ICARE
a. Tahap pertama: Introduction (pengenalan)
Pada tahap pengantar ini ada dua hal penting, pertama menginformasikan rumusan
tujuan (objective) yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran. Kedua,
menginformasikan bagaimana bahan yang akan disajikan sesuai dengan bahan secara
keseluruhan (context).
b. Tahap kedua: Connect (menghubungkan)
Pada tahap ini menghubungkan informasi dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
dengan informasi yang akan disajikan atau informasi baru. Ada empat langkah yang
disarankan Pastor (2000) agar informasi baru yang akan diajarkan bisa secaa mudah
dipahami oleh siswa.
Pertama, information chuncking (potongan informasi) yaitu membagi/
mengelompokkan bahan atau materi yang akan disajikan dalam sub-sub topic.
33

Kedua, contextulize yaitu menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan
kegiatan nyata yang bisa dipahami oleh siswa sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
Ketiga, prior knowledge yaitu bagaimana guru dapat mengetahui sampai sejauh mana
pengetahuan awal siswa dan kemudian memfasilitasi mereka dengan informasi secara
bertahap dan berkesinambungan sehingga merupakan rangkaian pengalaman belajar
bermakna (meaningful learning experience).
Keempat, accommodate learners yaitu menyajikan bahan yang akan diberikan secara
lebih menyenangkan dengan ragam pendekatan dan ragam media sehingga siswa
dapat memahami konsep atau bahan baru tersebut secara lebih menyeluruh.
c. Tahap ketiga: Apply (mengaplikasikan)
Pada tahap ini pembelajaran dilakukan secara interaktif dan mengaplikasikan bahan/
materi yang diajarkan dengan persoalan-persoalan nyata yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
d. Tahap keempat: Reflect (refleksi)
Yaitu bagaimana membantu siswa mengorganisasikan pikiran dan pemahaman bahan
yang telah dicapainya dengan memberi kesempatan untuk memperluas informasi
yang telah diperoleh.
e. Tahap kelima: Extend (melanjutkan)
Ada kegiatan utama dalam tahap akhir ini. Pertama, guru melakukan serangkaian
pengalaman belajar tambahan yang bisa memperkaya pengetahuan yang telah dicapai
siswa (enrichment). Kedua, sebagai bentuk kegiatan evaluasi, yaitu sampai sejauh
mana para siswa dapat menguasai bahan yang telah diajarkan.

d. Model Pembelajaran ICARE dalam Mata Pelajaran TIK
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini diajarkan sebagai salah
satu mata pelajaran keterampilan yang pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpisah atau
bersama-sama dengan mata pelajaran keterampilan lainnya. Model pembelajaran TIK
dilaksanakan melalui sistem ICARE. Secara dragmatik, sistem pembelajaran mata pelajaran
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui model ICARE ini adalah sebagai berikut:
i. Model Pembelajaran Tutorial Based Instruction
34

Model ini merupakan redesain dari model pembelajaran berbasis computer itu sendiri.
Alur atau tahapan pembelajaran dari model ini berisi tahapan tutorial yang didesain dengan
petunjuk-petunjuk belajar secara audio visual.
ii. Biological Communication Technology Based Learning
Inovasi dan produk model pembelajaran yang berbasiskan aktivitas otak melalui
pendekatan biologi komunikasi ini dapat diterapkan untuk setiap jenjang pendidikan. Model
ini harus pula menganalisis perbedaan otak berdasarkan jenis kelamin, seperti yang dijelaskan
oleh Kimura & Henry (1986), yang membedakannya adalah sebagai berikut:

Demikian juga halnya jika biologi komunikasi inijuga mampu terinspirasi oleh
kemampuan berperilaku manusia secara biologis yang dipengaruhi oleh kemampuan kerja
otak kiri dan otak kanan. Yang dapat dilihat perbedaanya seperti dibawah ini:
Otak Kiri Otak Kanan
Belahan otak kiri berkembang pesat
pada usia anak-anak (belahannya)
(Sperry & Myers)
Didukung oleh tangan kanan
Melakukan aktivitas (Gazzaniga)
Memunculkan dan mengendalikan
ketenangan (Elliot Ross & Marek-
Marsel)
Analisis, model logika (David Galin)
Belahan otak kanan berkembang lambat
pada usia anak-anak (belahannya)
(Sperry & Myers)
Didukung oleh tangan kiri
Mengontrol aktivitas (Gazzaniga)
Memunculkan dan mengendalikan
emosi (Elliot Ross & Marek-Marsel)
Holistik (David Galin)
Berdasarkan hasil tersebut, maka berikut ini adalah model-model pembelajaran berbasis
biologi komunikasi untuk setiap jenjang pendidikan, yaitu:

Otak Wanita Otak Pria
Corpus collosum lebih besar
Pembicaraan tetap berjalan meski
pusat otak mengalami gangguan
Serat menghubungkan dua cuping
occipital
Corpus collosum lebih kecil
Pembicaraan hilang jika pusat otak
mengalami gangguan
Serat menghubungkan dua cuping
frontal
35

1) Model untuk jenjang Sekolah Dasar















2) Model untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama














MODEL PEMBELAJARAN
UNTUK SD
Interaksi belahan otak melalui
Frontal, Temporal, Parietal, dan
Occipital
Kreativitas berdasarkan
Interaksi Dimensi dalam Meta
Kecerdasan
Adaptasi, Modalitas, dan
Fleksibilitas Kognitif
Imajinasi, Daya Cipta, dan
Permainan
Prosedur Desain Intructional Berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi:
Need assessment
Instructional Promt (Identitas, Petunjuk)
Menu Utama (Tujuan, Materi, Evaluasi)
Alur pembelajaran
Stimulus-Respon terkondisi
Refleksi
MODEL PEMBELAJARAN
UNTUK SMP
Interaksi belahan otak melalui
Frontal, Temporal, Parietal, dan
Occipital
Kreativitas berdasarkan Interaksi Dimensi
diperluas dengan pemaknaan ganjaran dan
relaksasi untuk Berpikir Lateral
Adaptasi, Modalitas, dan Fleksibilitas
Kognitif yang berkembang dalam
Koordinasi Kinestetik
Integrasi prinsip Tutorial,
Permainan, dan Simulasi
Prosedur Desain Intructional Berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi:
Need assessment
Instructional Promt (Identitas, Petunjuk)
Menu Utama (Tujuan, Materi, Evaluasi)
Alur pembelajaran
Stimulus-Respon terkondisi
Refleksi
36

3) Model untuk jenjang Sekolah Menengah Atas






























MODEL PEMBELAJARAN
UNTUK SMA
Interaksi belahan otak melalui
Frontal, Temporal, Parietal, dan
Occipital
Kreativitas berdasarkan
Interaksi Dimensi dalam Meta
Kecerdasan
Adaptasi, Modalitas, dan
Fleksibilitas Kognitif yang
berkembang dalam
Koordinasi Kinestetik
Multimedia Media Interaktif
(MMI)
Prosedur Desain Intructional Berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi:
Need assessment
Instructional Promt (Identitas, Petunjuk)
Menu Utama (Tujuan, Materi, Evaluasi)
Alur pembelajaran
Stimulus-Respon terkondisi
Refleksi
Abstraksi dan
Perasaan
Analogi Berpikir
37

4) Model untuk jenjang Pendidikan Tinggi






























MODEL PEMBELAJARAN
UNTUK PT
Interaksi belahan otak melalui
Frontal, Temporal, Parietal, dan
Occipital
Kreativitas berdasarkan
Interaksi Dimensi dalam Meta
Kecerdasan diperluas dengan
pemaknaan ganjaran dan
relaksasi untuk Berpikir Lateral
Adaptasi, Modalitas, dan
Fleksibilitas Kognitif yang
berkembang dalam
Koordinasi Kinestetik
Kolaborasi Model dengan
Problem Based Learning
Prosedur Desain Intructional Berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi:
Need assessment
Instructional Promt (Identitas, Petunjuk)
Menu Utama (Tujuan, Materi, Evaluasi)
Alur pembelajaran
Stimulus-Respon terkondisi
Refleksi
Abstraksi dan
Perasaan
Mapping
Concept
Kemandirian dalam Belajar
dan Advance Organizer
Penerapan Manajemen ICT
38

6. Langkah Melakukan Inovasi
Langkah dalam melakukan inovasi dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap Pengetahuan (knowledge)
Tahap ini berlangsung apabila individu / kelompok membuka diri terhadap adanya suatu
inovasi serta ingin mengetahui bagaimana fungsi dan peran inovasi tersebut memberi
kontribusi perbaikan di masa mendatang.
2. Tahap Bujukan (persuation)
Tahap ini berlangsung mana kala individu atau kelompok, mulai membventuk sikap
menyenangi atau bahkan tidak menyenangi terhadap inovasi.
3. Tahap pengambilan keputusan (disicion making)
Tahap dimana seseorang atau kelompok melakukan aktivitas yang mengerah pada
keputusan untuk, menerima atau menolak inovasi tersebut.
4. Tahap implementasi (Implementation)
Tahap ini berlangsung ketika seseorang atau kelompok menerapkan atau
menggunakan inovasi itu dalam kegiatan organisasinya.
5. Tahap konfirmasi (confirmation)
Tahap dimana seseorang atau kelompok mencari penguatan terhadap keputusan
inovasi yang dilakukan.
Kelima langkah ini dalam implemenasinya dapat dilaksanakan secara fleksibel sesuai
dengan kondisi awal mana yang lebih cepat muncul ke permukaan.











39

BAB III
STUDI KASUS

Untuk studi kasus mengenai inovasi kurikulum dan pembelajaran , kami mengambil
data yang dihimpun oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas menunjukkan, bahwa rata-rata
NEM SD untuk beberapa mata pelajaran masih rendah (Matematika: 5,2, IPA : 6,17). Untuk
SLTP ternyata lebih rendah lagi (Matematika: 5,2 dan IPA: 4,85). Begitu pula laporan dari
Reading Literacy Study (1994) sungguh mengejutkan, bahwa kemampuan membaca siswa SD
kelas IV di Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dari sekitar 30 negara, sementara
kemampuan IPA SLTA berada di urutan ke-33 dari 39 negara. (The Third International
Mathematics and Science Study Report, 1995).
Melihat data diatas timbul beberapa pertanyaan bagaimana proses pembelajaran yang
selama ini berlangsung dan sejauhmana para guru telah melakukan inovasi dalam
pembelajarannya.
Ditengarai selama ini, masih banyak guru yang belum melaksanakan tugas
mengajarnya dengan optimal. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Dr. Soebagyo
Brotosedjati mengatakan, Hingga kini masih banyak guru yang belum memenuhi
standar kualifikasi pendidikan. Padahal salah satu kunci keberhasilan pendidikan
terletak pada guru. Menurut beliau masih ada sekira 47,5 % yang belum memenuhi
standar kualifikasi sebagai guru. (Suara Merdeka : 2002).
Guru merupakan komponen yang penting dalam proses pembelajaran di kelas yang
memiliki peran dan kedudukan terhadap keberhasilan siswa. Siswa akan lebih terkembangkan
potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya
dengan strategi pembelajaran yang tepat. Ketika di kelas, guru dituntut tidak hanya
sebagai pen-transfer of knowledge tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai,
pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator. Untuk bisa mencapai
keberhasilan belajar siswa, hendaknya guru mampu mengembangkan inovasi pembelajaran
yang menarik dan dapat dipahami oleh siswa, sehingga siswa dapat termotivasi dalam belajar.
Kemampuan untuk melakukan inovasi ini tentu saja mensyaratkan sosok guru yang kreatif,
produktif, cerdas, komitmen tinggi dan tidak merasa puas dengan keadaan yang sudah ada.
40

Inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh seorang guru agar dapat menciptakan
pembelajaran yang efektif dan meningkatkan kemampuan siswa, dengan model-model
pembelajaran yang dapat diterapkan dimana model-model pembelajarn merupakan hasil
hasil dari inovasi dalam pembelajaran. Model-model pembelajaran tersebur diantaranya , yaitu
:
1. Model pembelajaran Brain Based Learning
Model ini merupakan model yang menggunakan landasan psikologi
perkembangan, psikologi pembelajaran, dan teori-teori belajar. Aspek yang
ditelaah dari inovasi ini, yaitu aspek keunggulan otak manusia terhadap gejala-
gejala psikologis yang selama ini terlihat dari bentuk dan performance siswa ketika
mengikuti pembelajaran.
2. Model pembelajaran LCBT (Lateral Computer Based Tutorial)
Model pembelajaran Lateral Computer Base Tutorial (LCBT), ini pada dasarnya
menerapkan prindip model latihan dan tutorial dengan melalui penerapan berpikir
lateral atau loncatan berpikir yang didukung kemampuan visual dalam memahami
informasi pembelajaran dari layar computer.
3. Model pembelajaran ICARE (Introduction Connect Apply Reflect Extend)
ICARE, pembelajaran ini merupakan singkatan dari lima kata, yaitu: (1)
Introduction (pengenalan), (2) Connect (menghubungkan), (3) Apply (menerapkan
dan mempraktikan), (4) Reflect (merefleksikan), dan (5) Extend (memperluas dan
evaluasi).
4. Pembelajaran berbasis Komputer dengan bentuk-bentuk model Tutorial, Simulasi,
Games dan Biological Communication Based Learning.
Model-model tersebut tentunya dipilih sesuai dengan materi pelajaran yang akan
diajarkan. Pemilihan model yang tepat dan sesuai merupakan tugas berat seorang guru. Guru
yang demikian, dapat dikatakan sebagai guru yang memiliki intregritas dan profesionalisme.
Dan dengan menggunakan model-model pembelajaran tersebut diharapkan dapat
memperbaiki dan mengatasi masalah yang dihadapi baik yang dihadapi siswa maupun guru
dalam pembelajaran, sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas , aktif dan
berprestasi, dan pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju dan dapat bersaing di lingkup
internasional.
41

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Inovasi pada dasarnya merupakan hasil pemikiran yang bercirikan hal baru, baik berupa
praktik- praktik tertentu , atau berupa produk dari hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang
diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan menjadi lebih baik. Inovasi pendidikan
pada dasarnya merupakan suatu perubahan ataupun pemikiran cemerlang di bidang
pendidikan yang bercirikan hal baru, atau berupa praktik-praktik pendidikan tertentu, atau
berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan olah-teknologi yang diterapkan melalui tahapan
tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan pendidikan yang
timbul dan memperbaiki suatu keadaan pendidikan, atau proses pendidikan tertentu yang
terjadi di masyarakat. Ciri Inovasi Pendidikan , yaitu esensi inovasi itu sendiri , saluran
komunikasi , faktor waktu dan proses pengambilan keputusan, dan sistem sosial.
Inovasi dalam pendidikan terdiri dari empat hal utama, yaitu memiliki kekhasan/khusus,
memiliki ciri atau unsur kebaruan, program inovasi dilaksanakan melalui program yang
terencana dan inovasi yang digulirkan memiliki tujuan. Tahapan pelaksanaan inovasi, yaitu
tahap pengetahuan (Knowledge), tahapan bujukan (Persuation), tahap pengambilan keputusan
(Decision Making), tahap implementasi (Implementation), dan tahap konfirmasi
(Confirmation). Organisasi atau tatanan kemasyarakatan yang baik dan stabil akan
mengadopsi suatu inovasi dengan mempertimbangkan syarat-syarat , yaitu memiliki tujuan
yang jelas, memiliki pembagian tugas yang dideskripsikan secara jelas, memilki kejelasan
struktur otoritas atau kewenangan , memiliki peraturan dasar dan peraturan umum dan
memiliki pola hubungan informasi yang teruji. Agen Perubahan (Change agent) merupakan
individu yang bisa mempengeruhi pengambilan inovasi klien ke arah yang diharapkan para
agent perubahan. Percepatan adopsi inovasi bergantung pada derajat adopsi. Derajat adopsi
tersebut sangat bergantung pada karakteristik atau ciri dari inovasi itu sendiri. Karakteristik
inovasi, yang sangat memengaruhi derjat adopsi tersebut akan sangat bergantung pada ,
adanya keuntungan relatif (relative advantages , memiliki kekompakan dan kesepahaman
(compatibility), memiliki derajat kompleksitas (complexity), dapat dicobakan (trialability),
42

dan dapat diamati (observability). Secara sederhana, re-invention adalah penemuan kembali,
setelah melalui proses modifikasi.
Tiga kecenderungan kontribusi dan misi difusi inovasi, khususnya dalam bidang
pendidikan, yaitu difusi inovasi pendidikan cenderung mengembangkan dimensi demokratis,
inovasi pendidikan mengemban misi yang cenderung bergerak dari konsepsi pendidikan yang
berat sebelah dalam peningkatan kemampuan pribadi di antara pengetahuan, sikap dan
keterampilan , menuju pada konsepsi pendidikan yang mengembangkan pola dan isi yang
lebih komprehensif dalam rangka pengembangan seluruh potensi manusia secara menyeluruh
dan utuh dan pendidikan mengemban misi yang cenderung bergerak dari konsepsi pendidikan
yang bersifat individual perorangan, menuju ke arah konsepsi pendidikan yang menggunakan
pendekatan yang lebih kooperatif.
Berikut adalah beberapa hasil inovasi kurikulum , diantaranya :
1. KTSP (KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN)
2. KBK (KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI)
3. Kurikulum 2007
4. Broad based curriculum
5. Kurikulum sistem ganda (PSG)
6. Kurikulum muatan local
Berikut adalah beberapa hasil inovasi pembelajaran , diantaranya :
a. Model Pembelajaran Brain Based Learning
b. Model Pembelajaran LCBT
c. Model Pembelajaran ICARE
d. Model Pembelajaran ICARE dalam Mata Pelajaran TIK
Langkah pelaksanaan inovasi, yaitu tahap pengetahuan (Knowledge), tahapan bujukan
(Persuation), tahap pengambilan keputusan (Decision Making), tahap implementasi
(Implementation), dan tahap konfirmasi (Confirmation).




4.2 Saran
43

Diharapkan adanya masukan terhadap penyusunan makalah ini, agar kedepannya penulis
dapat menyusun makalah lebih baik lagi dan inovasi-inovasi yang dipaparkan dalam makalah
ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sesungguhnya sebagai alternatif dalam
mengatasi berbagai permasalahan dalam pendidikan dan dalam upaya perbaikan pendidikan.























44

DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2011). Kurikulum dan
Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI
http://nurfitrianimaulida.blogspot.com/2011/01/hasil-inovasi-kurikulum.html
Inovasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pena Deni |
Mendedikasikan Diri untuk Dunia
Pendidikan http://penadeni.com/2011/06/13/159/#ixzz2uzYikWrZ

Anda mungkin juga menyukai