Anda di halaman 1dari 8

Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi

Mekanik
1



Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan
Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi Mekanik

Penulis
Rahmadevita S A M
1
, Yeni Rustina
2
, Elfi Syahreni
3
1. Rahmadevita S A M: Program Magister Ilmu Keperawatan-Kekhususan Keperawatan
Anak Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
E-mail: rahmadevitas@yahoo.com

Abstrak

Salah satu upaya untuk meminimalkan penggunaan oksigen pada bayi adalah dengan pemberian terapi musik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi musik terhadap saturasi oksigen, frekuensi denyut
jantung dan frekuensi pernafasan bayi yang menggunakan ventilasi mekanik. Jenis penelitian adalah quasi experiment
dengan pretest-posttest without control design. Pemilihan sampel secara consecutive sampling dengan jumlah 13 bayi.
Terdapat perbedaan bermakna rata-rata saturasi oksigen, frekuensi denyut jantung dan frekuensi pernafasan bayi yang
menggunakan ventilasi mekanik sebelum dan setelah pemberian terapi musik (p value<0,05). Pemberian terapi musik
dapat diberikan pada bayi yang menggunakan ventilasi mekanik untuk memperbaiki saturasi oksigen, frekuensi denyut
jantung dan frekuensi pernafasan.
Kata kunci: Bayi, musik terapi, saturasi oksigen, ventilasi mekanik

Abstract
Music therapy can minimize oxygen consumption among infant with mechanical ventilation. This study aimed to
identify the effect of music therapy on oxygen saturation, heart rate and respiratory rate of infants using mechanical
ventilation. The research used a quasi experiment with a pretest-posttest design without control.. Method of sample was
consecutive sampling with 13 infant. There was a significant difference the average of oxygen saturation, heart rate
and respiratory rate of infants using mechanical ventilation before and after music therapy (p value <0,05). Music
therapy can be used for infants who use mechanical ventilation to improve oxygen saturation, heart rate and
respiratory rate.

Key words: Infant, mechanical ventilation, music therapy, oxygen saturation

Pendahuluan
Gangguan pernafasan yang sangat serius pada
neonatus berhubungan dengan tingginya
morbiditas, mortalitas dan biaya perawatan.
Gangguan pernafasan yang sering ditemukan
pada bayi baru lahir adalah sindroma gawat nafas
(respiratory distress syndrome) karena terjadi
saat kelahiran atau beberapa jam setelah
bayi dilahirkan (Johnston, Flood & Spinks,
2003; Sweet et al., 2010, Speer, 2012).

Perawatan bayi baru lahir dengan sindroma
gawat nafas membutuhkan observasi yang
cermat dan intensif karena perkembangan
Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
2



gambaran klinis dari sindroma gawat nafas ini
terjadi dengan cepat (Surasmi, Handayani &
Kusuma, 2003). Bayi yang usaha nafasnya tidak
sanggup mempertahankan nilai analisis darah yang
normal akan membutuhkan suplai oksigen yang
adekuat, diantaranya menggunakan ventilasi
mekanik (Johnston, Flood & Spinks, 2003).

Bayi yang menggunakan ventilasi mekanik
membutuhkan pemantauan saturasi oksigen,
frekuensi denyut jantung dan frekuensi
pernafasan, guna mengetahui sejauh mana suplai
oksigen yang diberikan sudah memenuhi
kebutuhan oksigenasi jaringan bayi (Gupta &
Sinha, 2009) dan mendapatkan perawatan di
ruangan perawatan intensif neonatus (Neonatal
Intensive Care Unit).

Ruangan Neonatal Intensive Care Unit atau
NICU merupakan ruangan yang penuh dengan
kebisingan. Kebisingan ini berasal dari suara
alarm monitor, alarm inkubator, alarm ventilator
atau suara percakapan antara perawat dengan
dokter. Kebisingan yang terlalu lama akan
menyebabkan kerusakan sensori syaraf dalam
perkembangan struktur pendengaran bayi dan
berkontribusi pada keterlambatan berbicara atau
pendengaran (Brown, 2009; Hogges & Wilson,
2010). Selain itu menimbulkan prilaku stress
pada bayi yang tercermin dari
bervariasinya denyut jantung, peningkatan
konsumsi oksigen dan respon bangun yang tinggi
(Schwartz & Ritchie, 2007: Neal & Lindeke,
2008).

Pemberian oksigen dengan konsentrasi yang
tinggi dan dalam jangka waktu yang lama
dapat membahayakan pada bayi yang
menggunakan ventilasi mekanik, khususnya
bayi prematur. Bahaya yang terjadi
diantaranya adalah Retinopathy of
Prematurity atau ROP, cerebral palsy dan
Bronchopulmonary Dysplasia atau BPD (Tin
& Gupta, 2007). Selain itu resiko terjadinya
peningkatan ROP dapat juga disebabkan
karena ketergantungan oksigen dan saturasi
oksigen yang berfluktuatif (Gupta & Sinha,
2009; Sweet et al., 2010).

Berbagai upaya perlu dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan dan mencegah
kematian pada bayi terutama dalam
mempertahankan fungsi fisiologis bayi dalam
batas normal. Salah satunya dengan
memberikan terapi musik pada bayi. Selain
itu bayi dengan gangguan pernafsan
memerlukan dukungan suplai oksigen.
Pemberian oksigen tambahan disamping
memberikan manfaat, juga dapat
membahayakan bayi yang menggunakannya.
Apabila diberikan dalam jangka waktu yang
lama dengan konsentrasi yang tinggi. Oleh
sebab itu perlu upaya untuk meminimalkan
penggunaan oksigen, salah satunya dengan
pemberian terapi musik. Berdasarkan latar
belakang tersebut diatas maka penelitian ini
Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
3



melakukan penelitian tentang pengaruh terapi
musik terhadap saturasi oksigen, frekuensi denyut
jantung dan frekuensi pernafasan bayi
menggunakan ventilasi mekanik.

Metode
Jenis penelitian adalah quasi experiment dengan
pretest-posstest without control design. Jumlah
sampel sebesar 13 bayi baru lahir yang
menggunakan ventilasi mekanik yang dirawat di
NICU dan dipilih secara consecutive sampling
dengan kriteria inklusi: 1) Bayi menggunakan
ventilasi mekanik secara invasif maupun non
invasif; 2) Usia gestasi 28 minggu; 3) Tanda-
tanda vital bayi dalam batas normal; 4) Bayi
memiliki nilai Hb 12gr%; 5) Orang tua bayi
bersedia bayinya menjadi responden dalam
penelitian. Kriteria ekslusi adalah: 1) Bayi sedang
menjalankan fototerapi; 2) Bayi dengan anomali
kongenital; 3) Bayi yang mendapatkan obat
sedasi.

Pengumpulan data menggunakan lembaran
observasi yang berisikan data karakteristik
responden dan nilai pemantauan saturasi oksigen,
frekuensi denyut jantung dan frekuensi
pernafasan. Kaji lolos etik didapatkan dari
Komite Etik Riset FIK.

Pengambilan data saturasi oksigen, frekuensi
denyut jantung dan frekuensi pernafasan sebelum
pemberian terapi musik dimulai, 20 menit setelah
touching time berakhir. Pengambilan data
dilakukan tiap 5 menit selama 20 menit
sebelum musik didengarkan yakni pada menit
kelima, kesepuluh, kelimabelas dan
keduapuluh. Setelah itu, musik Brahms
Lullaby langsung diputar dengan
menggunakan MP3 dan suara musik
diperdengarkan melalui headphone yang
telah dipasangkan pada telinga bayi selama
30 menit dengan volume suara 60 dB yang
sebelumnya sudah diukur dengan alat sound
level meter. Setelah itu dilakukan
pengambilan data setelah pemberian terapi
musik tiap 5 menit selama 20 menit.

Analisis data dilakukan meliputi analisis
univariat dan analisis bivariat dengan
menggunakan uji Paired t test.

Hasil
Rerata usia gestasi responden 35,54 3,26
minggu, mayoritas jenis kelamin perempuan
(61,5%) dan (84,6%) responden
menggunakan mode ventilator CIPAP dan
15,4% menggunakan mode SIMV. Saturasi
oksigen, frekuensi denyut jantung dan
frekuensi pernafasan sebelum dan setelah
pemberian terapi musik dapat dilihat pada
tabel 1.





Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
4



Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Rerata Saturasi
Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Frekuensi
Pernafasan Sebelum dan Setelah Pemberian Terapi
Musik

N
o
Variabel Mean Median SD 95% CI
1
Saturasi Oksigen
- Sebelum
- Setelah

96,71
98,14

96,75
98,13

1,50
1,35

95,80-97,62
97,33-98,96
2
Frekuensi Denyut
Jantung
- Sebelum
- Setelah


133,47
128,88


134,30
131,00


12,52
11,25


125,90-141,03
122,08-135,67
3
Frekuensi
Pernafasan
- Sebelum
- Setelah


51,53
49,08


51,13
47,63


6,00
5,80


47,90-55,16
45,57-52,58

Rerata saturasi oksigen, frekuensi denyut jantung
dan frekuensi pernafasan responden sebelum
pemberian terapi musik adalah 96,71 1,50%
(95% CI), 133,47 12,52 kali permenit (95% CI)
dan 51,53 6,00 kali permenit (95% CI). Rerata
saturasi oksigen, frekuensi denyut jantung dan
frekuensi pernafasan responden setelah
pemberian terapi musik adalah 98,14 1,35%
(95% CI), 128,88 11,25 kali permenit (95% CI)
dan 49,08 5,80 kali permenit (95% CI).
Perbedaan rerata saturasi oksigen, frekuensi
denyut jantung dan frekuensi pernafasan sebelum
dan setelah pemberian terapi musik dapat dilihat
pada tabel 2.

Tabel 2
Perbedaan Rerata Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut
Jantung dan Frekuensi Pernafasan Sebelum dan Setelah
Pemberian Terapi Musik

Variabel n Mean SD P value
Saturasi Oksigen 13 -1,43 0,53 0,000*
Frekuensi Denyut
Jantung
13 4,59 4,47 0,003*
Frekuensi Pernafasan 13 2,45 1,80 0,000*
*p value <0,05

Uji paired t test didapatkan ada perbedaan
yang signifikan rerata saturasi oksigen dan
frekuensi pernafasan sebelum dan setelah
pemberian terapi musik (p=0,000; =0,05).
Ada perbedaan yang signifikan rerata
frekuensi denyut jantung sebelum dan setelah
pemberian terapi musik (p=0,003; =0,05).

Pembahasan
Hasil analisis statistis diperoleh adanya
perbedaan yang signifikan rata-rata saturasi
oksigen sebelum dan sesudah pemberian
terapi musik. Hasil penelitian ini didukung
oleh penelitian yang dilakukan Neal dan
Lindeke (2008) dengan memberikan rekaman
musik Brahms Lullaby selama 20 menit pada
bayi dengan usia gestasi antara 32-35 minggu.
Hasil penelitian didapatkan peningkatan
saturasi oksigen setelah 10 menit intervensi
diberikan. Selanjutnya penelitian Amiri, et al.
(2009) tentang pengaruh musik Lullabies
terhadap saturasi oksigen pada 40 orang bayi
prematur yang dirawat di NICU,
menunjukkan adanya perbedaan saturasi
oksigen yang signifikan antara kedua
kelompok.

Menurut Kirby, Oliva dan Sahler (2010)
mendengarkan musik dapat meningkatkan
relaksasi, mengurangi persepsi terhadap nyeri
dan memberikan stimulasi suara yang akan
mempengaruhi fungsi fisiologis. Musik
mempengaruhi sistem autonomik
Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
5



persyarafan dan merangsang kelenjer hipofisis
untuk memproduksi hormon endorfin dan
serotonin. Hormon endorfin dan serotonin dapat
memberikan perasaan tenang dan berperan dalam
penurunan rasa nyeri, sehingga membuat
kondisi menjadi tenang dan nyaman (Kazemi,
Kazemi, Ghazimoghaddam, Besharat & Kashani,
2012). Kondisi yang tenang membuat bayi dapat
beristirahat dan menyimpan energinya serta
menggunakan oksigen secara minimal.

Cevasco dan Grant (2005) menyatakan musik
telah terbukti efektif dalam menstabilkan tingkat
saturasi oksigen dan tidak ada efek negatif
terhadap apnea dan bradikardi. Hal ini disebabkan
karena pada bayi baru lahir baik aterm maupun
prematur sudah mampu merespon suara-suara
yang ada di lingkungan sekitarnya, karena
struktur pendengaran janin sudah terbentuk pada
usia gestasi 18 minggu, sehingga janin sudah
mempunyai kemampuan untuk mendengar
(Goding, 2010). Oleh karena itu salah satu usaha
mengurangi efek stress dari kebisingan atau
stimulasi lingkungan yang berlebihan dengan
memberikan terapi musik pada bayi. Pemberian
musik mengakibatkan sensitivitas pendengaran
bayi terhadap kebisingan dari luar menjadi
berkurang, sehingga mengurangi stress pada bayi
yang akhirnya akan mengurangi kebutuhan
terhadap oksigen.

Hasil penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa
ada perbedaan yang bermakna rata-rata frekuensi
denyut jantung bayi menggunakan ventilasi
mekanik sebelum dan setelah pemberian
terapi musik. Pemberian terapi musik
menurunkan frekuensi denyut jantung. Hal
ini didapatkan dari penelitian Arnon, et al.
(2006) pada 31 bayi prematur dengan
memberikan musik live untuk melihat respon
fisiologis dan tingkah laku bayi. Hasil
penelitian menunjukan bahwa musik live
dapat menurunkan frekuensi denyut jantung
dan memberikan tidur tenang pada bayi di
NICU.

Janin yang berada dalam kandungan sudah
dapat mendengarkan atau merasakan
suara yang menenangkan, yang berasal dari
aliran darah rahim dan suara detak jantung
ibu secara terus menerus (Goding, 2010).
Perkembangan pendengaran janin sudah
berfungsi penuh pada usia gestasi 28-32
minggu, sehingga pada awal usia gestasi 32
minggu, janin sudah mampu mendengarkan
suara ibunnya, ketika ibu berbicara atau
bernyanyi untuk dirinya sendiri dan janinnya.
Selain itu janin dapat menanggapi suara-suara
yang ada, terutama yang terkait dengan nada
dan irama atau suara musik (McGrath, 2004;
Graven & Browne, 2008).

Musik memiliki irama yang dapat
mempengaruhi irama gerakan denyut jantung
dan pernafasan manusia (Trappe, 2010).
Jika suara musik yang diterima adalah
Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
6



suara yang menenangkan dan teratur secara
berulang-ulang, maka suara musik akan
memberikan impuls pada hipotalamus untuk
merespon kelenjer medula adrenal untuk
menekan pengeluaran hormon epinefrin dan
norepinefrin atau pelepasan katekolamin ke
dalam pembuluh darah menjadi berkurang.
Akibatnya konsentrasi katekolamin dalam plasma
menjadi rendah, sehingga denyut jantung
menurun dan konsumsi oksigen berkurang, yang
akhirnya menjadikan frekuensi pernafasan
menjadi lambat (Sloane, 2004; Kirby, Oliva &
Sahler, 2010)

Dari hasil penelitian ini ditemukan adanya
perbedaaan rata-rata frekuensi pernafasan bayi
menggunakan ventilasi mekanik sebelum dan
setelah pemberian terapi musik. Penelitian lain
yang membuktikan adanya perubahan frekuensi
pernafasan setelah pemberian terapi musik adalah
penelitian yang dilakukan oleh Alipour,
Eskandari, Tehran, Hossaini dan Sangi (2013)
dengan memperdengarkan musik Lullaby pada
bayi prematur dengan usia gestasi 28-37 minggu.
Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan
yang signifikan terhadap frekuensi pernafasan
sebelum, selama dan setelah pemberian terapi
musik.

Kebisingan lingkungan NICU dapat diminimalkan
dengan memperdengarkan musik pada bayi
(Goding, 2010; Keith, Russell, & Weaver, 2009).
Musik lullabies merupakan musik pengantar tidur
yang mempunyai struktur suara yang
menenangkan, mempunyai yang irama yang
konstan dan stabil, melodi yang tenang dan
tidak mengejutkan (Neal & Lindeke, 2008).
Suara musik yang diperdengarkan mampu
menghasilkan stimulan yang bersifat ritmis.
Stimulan ini kemudian ditangkap oleh
sistem pendengaran dan dilanjutkan ke sistim
limbik yang mengatur emosi, kemudian
diolah di dalam sistem persarafan serta kortek
otak yang mereorganisasikan interpretasi
bunyi ke dalam ritme internal pendengaran.
Jika suara musik diinterpretasikan sebagai
penenang, maka suara musik yang diterima
dapat mengubah atau memulihkan ritmis
pernafasan menjadi diperlambat atau
diperdalam (Trappe, 2010).

Kesimpulan
Hasil statistik menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan rerata saturasi
oksigen, frekuensi denyut jantung dan
frekuensi pernafasan sebelum dan setelah
pemberian terapi musik pada bayi yang
menggunakan ventilasi mekanik. Bayi dalam
kondisi yang tenang dan nyaman dapat
menjalankan proses pertumbuhan dan
perkembangan dengan baik. Selain itu respon
fisiologis yang dipengaruhi dari pemberian
terapi musik dapat mengurangi kebutuhan
oksigen tambahan atau dukungan ventilasi
pada bayi yang menggunakan ventilasi
mekanik. Artinya kebutuhan oksigen
Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
7



tambahan dari ventilator dapat diturunkan secara
bertahap atau mengurangi ketergantungan oksigen
pada ventilator dan mengurangi bahaya yang
timbul akibat penggunaan ventilator yang terlalu
lama, sehingga mempercepat pemulangan bayi dan
menfasilitasi ibu untuk segera merawat bayinya.

Penelitian ini merekomendasikan pemberian
terapi musik dapat dijadikan sebagai intervensi
keperawatan pada bayi yang menggunakan
ventilasi mekanik yang bertujuan untuk
memperbaiki saturasi oksigen, frekuensi denyut
jantung dan frekuensi pernafasan. Penelitian yang
lebih lanjut perlu dilakukan dengan
menggunakan desain penelitian yang berbeda
yaitu quasi eksperiment dengan pre dan post test
control group design untuk menilai efektivitas
musik terhadap saturasi oksigen, frekuensi
denyut jantung dan frekuensi pernafasan bayi
yang menggunakan ventilasi mekanik.


Referensi
Alipour, Z., Eskandari, N., Tehran, H. A.,
Hossaini, S. K., & Sangi, S. (2013). Effect of
music on physiological and behavioral
responses of premature infants: A. Random
controlled trial. Complementary Therapies in
Clinical Practice, 30, 1-5.

Altimier, L. (2007). The neonatal intensive care
unit (NICU) environment. In C. Kenner &
J. W. Lott (Ed.). Comprehensive neonatal
care an interdisciplinary approach (pp. 480-
490). St.Louis: Saunders Elseiver.



Arnon, S., Shapsa, A., Forman, L., Regev, R.,
Bauer, S., Litmanovitz, I., ... Dolfin, K.
(2006). Live music is beneficial to
preterm infants in the neonatal intensive
care unit environment. Birth, 33(2), 131-
136.

Brown, G. (2009). NICU noise and the
preterm infant. Neonatal Network, 28(3),
165-173.

Cevasco, A. M. & Grant, R. E. (2005). Effect
of the pacifier activated lullaby on
weight gain of premature infants. Journal
of Music Therapy, 42(2), 123-139.

Gooding, L. F. (2010). Using music therapy
protocols in the treatment of premature
infants: An introduction to current
practices. The Arts In Psychotherapy, 37,
211-214.

Graven, S. N. & Browne, J. V.(2008).
Auditory development in the fetus and
infant. Newborn & Infant Nursing
review, 8(4), 187-193.

Gupta, S. & Sinha, S. (2009). Care of the
ventilated infant. Paediatrics and Child
Health, 19(12), 544-549.

Hodges, A. L. & Wilson, L. L. (2010).
Effects of music therapy on preterm
infants in the neonatal intensive care
unit. Alternative Therapies in Health an
Medicine, 16(5), 72-73.

Johnston, P., Flood, K., & Spinks, K. (2003).
The newborn child. (9th ed.).
Philadelphia: Elsevier Science.

Kazemi, S., Kazemi, S., Ghazimoghaddam,
K., Besharat, S., & Kashani, L. (2012).
Music and anxiety in hospitalized
children. Journal of Clinical and
Diagnostic Research, 6(1), 94-96.



Terapi Musik Memperbaiki Saturasi Oksigen, Frekuensi Denyut Jantung dan Pernafasan Bayi Menggunakan Ventilasi
Mekanik
8



Kirby, L .A., Oliva, R., & Sahler, O. J. (2010).
Music therapy and pain management in
pediatric patients undergoing painful
procedur: A review of the literature and a call
for research. Journal of Alternative Medicine
Research, 2(1), 7-16.

McGrath, J. M (2004). Neurologic development.
In. Kenner, C. & McGrath, J.M.(Eds),
Developmental care of newborn and infant:
A guide for health professionals (pp. 105-
118). St.Louis: Elsevier Mosby.

Neal, D. O. & Lindeke, L. L. (2008). Music as a
nursing intervention for preterm infants in
the NICU. Neonatal Network, 27(5), 319-
327.

Schwartz, F. & Ritchie, R. (2007, January 24).
Music listening in neonatal intensive care
units.
http://www.transitionsmusic.com/Final_versi
on_Dileo.html


Sloane, E. (2004). Anatomi dan fisiologi
untuk pemula (James Veldman,
Penerjemah.). Jakarta: EGC.

Speer, C. P. (2011). Neonatal respiratory
distress syndrome: An inflammatory
disease? Neonatology, 99(4), 316-325.

Surasmi, A., Handayani, S., & Kusuma, N. H.
(2003). Perawatan bayi resiko tinggi.
Jakarta: EGC.
Sweet, D. G., Carnielli, V., Greisen, G.,
Hallman, M., Ozek, E., Plavka, R., et al.
(2010). European consensus guidelines
on the management of neonatal
respiratory distress syndrome in preterm
infants-2010 update. Neonatology, 97,
402417.

Trappe, J. H. (2010). The effect of music on
the cardiovascular system and
cardiovascular health. Heart, 98, 1868-
1871.