Anda di halaman 1dari 41

CESTODA PADA RUMINANSIA

TAENIASIS, MONIEZIASIS, DAN ECHINOCOCCUS







Disusun oleh kelompok I:

DESRIWAN ANGGA PUTRA ( 1202101010001)
FAUZIAH (1202101010003)
MAHMUDI (1202101010009)
RAMA JUWITA FITRI (1202101010014)
INTAN RAHAYU (1202101010019)
FAISAL (1202101010032)
RESTI FAUZANA (1202101010045)
RESTI REMEINA (1202101010047)



FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014

CESTODA PADA RUMINANSIA
A. TAENIASIS
PENDAHULUAN
Taeniasis adalah suatu infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh cacing
taenia dewasa. Cacing pita (Taenia sp.) bentuknya panjang pipih menyerupai pita, kepalanya
kecil dan mempunyai kait untuk melekatkan diri pada dinding usus. Cacing pita mempunyai
banyak jenis, tetapi ada tiga yang biasa dikenal yaitu cacing pita daging, cacing pita ikan dan
cacing pita babi.
Jenis cacingan ini disebabkan pengkonsumsian daging (terutama sapi dan babi) yang
mengandung cacing pita dan memasaknya kurang matang.
Gejala atau tanda terinfeksi cacing pita antara lain : perut terasa mulas dan mual,
kadang perih dan tajam menusuk-nusuk tetapi akan hilang sesudah makan. Selain itu muka
pucat, pusing, kurang nafsu makan, dan feses berlendir
NOMENKLATUR
Menurut Soulsby (1986), taksonomi dari cacing ini adalah:
Kelas : Eucestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Taeniidae
Genus : Taenia
Spesies : Taenia saginata
MORFOLOGI
Taenia saginata
1. Cacing dewasa :
Bentuk pita terdiri atas :
a. Kepala (skoleks)
b. Leher (collum)
c. Badan (strobila) : proglotid immature yaitu proglotid mature dan proglotid gravida

Panjang 4 12 m, kadang-kadang 20 m

Mempunyai 1.000 2.000 proglotid


Taenia saginata dewasa

strobila
2. Skoleks :
Bulat 1 2 mm
Mempunyai 4 batil isap, tanpa rostelum dan kait-kait

scolex Taenia saginata
3. Proglotid gravida:
Berbentuk segi empat, panjang > lebar
Uterus mempunyai 15 30 cabang lateral
Lubang genital di bagian lateral (unilateral)
Lubang uterus tidak ada

Plogotid gravid Taenia saginata


4. Telur :
Bentuk agak bulat (30 40) x (20 30) m
Dinding bergaris radial
Isi heksakan embrio (embrio dengan 6 kait-kait)

Telur Taenia spp
5. Larva (sistiserkus bovis) :
Gelembung
- 1 cm
Berisi cairan dan skoleks tanpa kait-kait

SIKLUS HIDUP
Sebuah proglotid gravid berisi kira-kira 100.000 buah telur. Pada saat proglotid
terlepas dari rangkaiannya dan menjadi koyak, terdapat cairan putih susu yang mengandung
banyak telur mengalir keluar dari sisi anterior proglotid tersebut, terutama jika proglotid
berkontraksi pada saat bergerak. Telur-telur ini akan melekat pada rumput bersama dengan
tinja, bila orang berdefekasi di padang rumput atau karena tinja yang hanyut dari sungai
pada saat banjir. Ternak yang makan rumput ini akan terkontaminasi dan dihinggapi cacing
gelembung, karena telur yang tertelan bersama rumput tersebut akan dicerna dan embrio
heksakan akan menetas di dalam tubuh ternak. Embrio heksakan yang menetas di saluran
pencernaan ternak akan menembus dinding usus, masuk ke saluran getah bening atau darah
dan ikut dengan aliran darah ke jaringan ikat di sela-sela otot untuk tumbuh menjadi cacing
gelembung yang disebut sistiserkus bovis, yaitu larva Taenia saginata yang terbentuk setelah
12 s.d. 15 minggu.
Bila cacing gelembung yang ada di otot hewan ini termakan oleh manusia, karena
proses pemasakan yang tidak atau kurang matang, maka skolexnya akan keluar dari cacing
gelembung dengan cara evaginasi. Skolex akan melekat pada mukosa usus halus seperti
jejunum. Cacing Taenia saginata dalam waktu 8 s.d. 10 minggu akan menjadi dewasa.Telur
dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus. Embrio di dalam telur
disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang tumbuh menjadi bentuk infektif dalam
hospes perantara. Infeksi terjadi jika menelan larva bentuk infektif atau menelan telur.



Pertama, proglotid yang kaya akan telur cacing pita akan keluar dari badan manusia lewat
kotoran. Selanjutnya kotoran yang mengandung telur cacing ini akan dimakan oleh binatang
sapi
Kedua, melalui proses alat pencernaan sapi, proglotid tadi akan terbawa aliran darah menjadi
bentuk baru yaitu Onkosfera (larva heksakan) yang selanjutnya memasuki otot berlemak pada
sapi dan menjadi sistiserkus.
Ketiga, ketika manusia mengkonsumsi daging yang mengandung sistiserkus ini maka akan
menyebabkan timbulnya cacing dewasa yang berkembang biak didalam usus manusia.
PATOGENESA
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang mentah atau
setengah matang dan mengandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi
dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero intestinal seperti rasa mual, nyeri di daerah
epigastrium, napsu makan menurun atau meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi.
Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk se-hingga terjadi anemia, malnutrisi. Pada kasus
yang lebih berat dapat terjadi, yaitu apabila proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat
ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobilla cacing. Berat badan tidak jelas menurun.
Sistiserkus hidup hanya menimbulkan sedikit peradangan jaringan sekitar dan hanya
sedikit mononuklear serta jumlah eosinofil yang bervariasi. Untuk melengkapi siklus
hidupnya, sistiserkus harus mampu hidup dalam otot hospes selama berminggu-minggu
sampai bulanan. Oleh karena itu, kista akan mengembangkan mekanisme untuk mengatasi
respon imun penjamu. Pada hewan yang telah terinfeksi sebelumnya dengan stadium kista
kebal terhadap reinfeksi onkosfer. Imunitas ini dimediasi oleh antibodi dan komplemen.
Meskipun begitu dalam infeksi alami, respons antibodi dibangun hanya setelah parasit
berubah menjadi bentuk metacestoda yang lebih resisten
Metacestoda dapat mengembangkan sebuah mekanisme untuk memproteksi diri dari
destruksi yang dimediasi komplemen dengan menghasilkan paramiosin. Paramiosin akan
mengikat C1q dan menghambat jalur klasik aktivasi komplemen. Parasit juga akan
mensekresikan inhibitor protease serin yang disebut taeniastatin. Taeniastatin dapat
menghambat jalur aktivasi klasik atau alternatif, berintegrasi dengan kemotaksis leukosit,
dan menghambat produksi sitokin.
Sedangkan polisakarida sulfa, yang melapisi dinding kista, mengaktivasi komplemen
untuk menjauhi parasit, menurunkan deposisi komplemen, dan membatasi jumlah sel radang
yang menuju parasit. Antibodi saja tidak dapat membunuh metacestoda matang. Kista yang
hidup juga dapat menstimulasi produksi sitokin yang dibutuhkan untuk menghasilkan
imunoglobulin yang kemudian diambil oleh kista dan diperkirakan ini merupakan sumber
protein
Taeniastatin dan molekul parasit juga dapat menekan respon imun seluler dengan
menghambat proliferasi limfosit dan fungsi makrofag. Gejala akan muncul ketika kista tidak
dapat lagi memodulasi respons penjamu
GEJALA
Gambaran klinik dan diagnosa Taeniasis saginata pada usus hampir serupa dengan
infeksi Taeniasis solium. Pada taeniasis saginata terjadi inflamasi sub-akut pada mukosa
usus . Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak patognomosnis (khas). Sebagian
kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatik). gejala klinis dapat timbul sebagai akibat
iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut antara lain rasa tidak
enak pada lambung , nausea (mual), badan lemah, berat badan menurun, nafsu makan
menurun, sakit kepala, konstipasi (sukar buang air besar), pusing, diare, dan pruiritus ani
(gatal pada lubang pelepasan). Pada pemeriksaan darah tepi (hitung jenis) terjadi peningkatan
eosinofil (eosinofilia) Gejala klinis taeniasis solium hampir tidak dapat dibedakan dari gejala
klinis taeniasis saginata.
Secara psikologis penderita dapat merasa cemas karena adanya segmen/ proglotid pada tinja
dan pada Taenia saginata segmen dapat lepas dan bergerak menuju sphincter anal yang
merupakan gerakan spontan dari segmen.

Proglotid dari Taenia saginata dapat bermigrasi ke berbagai organ seperti apendiks,
uterus, duktus biliaris, dan nasofaring sehingga menyebabkan appendisitis, kholangitis,
kolesistitis dan sindrom lainnya.
DIAGNOSA
Diagnosa taeniasis dapat ditegakkan dengan 2 (dua) cara yaitu :
a. Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis)
Di dalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah mengeluarkan
proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan.
bila memungkinkan sambil memperhatikan contoh potongan cacing yang diawetkan dalam
botol transparan.

b. Pemeriksaan tinja
Tinja yang diperiksa adalah tinja sewaktu berasal dari defekasi spontan. Sebaiknya
diperiksa dalam keadaan segar. Bila tidak memungkinkan untuk diperiksa segera, tinja
tersebut diberi formalin 5 10% atau spiritus sebagai pengawet. Wadah pengiriman tinja
terbuat dari kaca atau bahan lain yang tidak dapat ditembus seperti plastik. Kalau konsistensi
padat dos karton berlapiskan parafin juga boleh dipakai.
Pemeriksaan tinja secara mikroskopis dilakukan antara lain dengan metode langsung
(secara natif), bahan pengencer yang dipakai NaCL 0,9 % atau lugol. Dari satu spesimen tinja
dapat digunakan menjadi 4 sediaan. Bilamana ditemukan telur cacing Taenia sp, maka
pemeriksaan menunjukkan hasil positif taeniasis. Pada pemeriksaan tinja secara makroskopis
dapat juga ditemukan proglotid jika keluar.
Pemeriksaan dengan metode langsung ini kurang sensitif dan spesifik, terutama telur yang
tidak selalu ada dalam tinja dan secara morfologi sulit diidentifikasi metode pemeriksaan lain
yang lebih sensitif dan spesifik misalnya teknis sedimentasi eter, anal swab, dan coproantigen
(paling sensitif dan spesifik).
Dinyatakan penderita taeniasis, apabila ditemukan telur cacing Taenia sp pada pemeriksaan
tinja secara mikroskopis dan / atau adanya riwayat mengeluarkan progloid atau ditemukan
proglotid pada pemeriksaan tinja secara makroskopis dengan atau tanpa disertai gejala klinis.
Gejala klinis (+) apabila ditemukan gejala-gejala sebagai berikut : rasa tidak enak pada
lambung, nausea, badan lemah, berat badan menurun, nafsu makan menurun, sakit kepala,
konstipasi, pusing, diare, dan pruritus ani. Pada pemeriksaan darah tepi (hitung jenis) terjadi
peningkatan eosinofil (eosinofillia).
Diagnosa Taeniasis saginata dapat menggunakan pita perekat (tes Graham). Untuk Taenia
saginata test ini sangat sensitif, namun tidak pada Taenia solium. Pemeriksaan diagnostik
terbaik untuk taeniasis intestinal adalah deteksi koproantigen yang dapat mendeteksi molekul
spesifik dari taenia pada sampel feses yang menunjukkan adanya infeksi cacing pita.
Menemukan proglotid gravida pada tinja atau proglotid keluar melalui anus Menemukan telur
dalam tinja.
Pemeriksaan diagnostik terbaik untuk taeniasis intestinal adalah deteksi koproantigen
ELISA yang dapat mendeteksi molekul spesifik dari taenia pada sampel feses yang
menunjukkan adanya infeksi cacing pita. Sensitivitas dari ELISA sekitar 95% dan
efektivitasnya sekitar 99% .
PROGNOSA
Setiap penyakit di harapkan kesembuhan dan cara penanganannya,untuk harapan
menangani Taeniasis dapat dilakukan dengan pengobatan,maka infeksi cacing pita akan
hilang. Taenisis spp dapat kemungkinan dapat disembuhkan (Dubius). Tapi pada saat taenia
saginata telah memasuki otot lurik maka kemungkinan sembuh 0 % ( infausta ).

TERAPI
Obat Kimia
Pengobatan Taeniasis pada hewan bisa dilakukan dengan pemberian obat cacing
praziquantel, epsiprantel, mebendazole, febantel dan fenbendazole.
1. Nama generik :Albendazol
Nama dagang / Nama paten :
Albendazol KF( Kimia Farma ) : Infeksi tunggal atau campuran parasit Taenia
saginata, Taenia solium
Helben( Mecosin Indonesia ) : Taenia saginata, Taenia solium
Zentel( Smith Kline Beecham ) : Hymenolepis nana, Taenia saginata.
Mekanisme : menghambat transport glukosa pada cacing, menghambat sintesis
protein dan energi sehingga menghambat sintesa ATP yang membuat cacing tidak dapat
menjadi parasit pada manusia.
2. Nama generik :Diklorofen / Paramomisin Sulfat
Indikasi :Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Taenia saginata, Taenia solium
Nama dagang / Nama paten :
Antiphen (May & Baker, South Africa)
Balsafissan
Fissa-Brust-werzensalbe
Germolene
Mycota
Onychofissan
Ovis (Warner, Germany)
Savogerm
Plath-Lyse (Genevrier, France)
Wespuril (Spitzner, Germany)
Mekanisme : Cara kerjanya belum diketahui dengan jelas. Segera setelah obat
diberikan maka skoleks terlepas dari mukosa usus, mati dan dicerna oleh usus
sehingga segmen yang matang akan susah juga sangat sedikit ditemukan dalam feses.
3. Nama generik :Levamisole
Merupakan isomer dari tetramisol yang memiliki efek antemintik, sedangkan tetramisol
merupakan derivate sintetik dari imidazotiazol
Nama dagang / Nama paten :
Kam Cek San (Bintang Toedjoe) :Taenia saginata, Taenia solium.
Ketrax( Astra Zeneca ) : Taenia saginata, Taenia solium.
Mekanisme : meningkatkan frekuensi aksi potensial, menghambat transmisi neuromuskular
cacing, sehingga cacing berkotraksi mengalami paralisis tonik kemudian mati.
4. Nama generik :Mebendazole / N-(5-benzoil-2-benzimidazolil karbamat)
Deskripsi : Mebendazole merupakan obat yang berupa bubuk berwarna putih
kekuningan, tidak larut dalam air, tidak bersifat higroskopis sehingga stabil dalam keadaan
terbuka, dan memiliki rasa yang enak.
Nama dagang / nama paten :
Antelmox (Saka Farma) :Taenia saginata, Taenia solium
Gavox( Guardian Phartama): Taenia saginata, Taenia solium
Totamin (Ponci Indonesia): Taenia saginata, Taenia solium
Totamin (Ponci Indonesia): Infeksi tunggal maupun campuran oleh Taenia
saginata, Taenia solium
Trivexan (Mecosin Indonesia): Infeksi tunggal maupun campuran oleh Taenia
saginata dan Taenia solium
Vercid (Dankos): Taenia saginata dan Taenia solium
Vermona (Mecosin Indonesia): Taenia saginata dan Taenia solium
Vermoran (Pharos Indonesia): Taenia saginata dan Taenia solium
Vermox (Janssen): Taenia saginata dan Taenia solium
Mekanisme : menyebabkan kerusakan struktur subselular dan dan menghambat sekresi
asetilkolinesterase cacing. Obat ini menghambat pengambilan glukosa sehingga terjadi
pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing.Selain itu cacing menimbulkan sterilitas pada
telur cacing sehingga telur ini gagal menjadi larva.Akan tetapi larva yang sudah matang tidak
terpengaruhi oleh mebendazole.
5. Nama generik: Niklosamid/ N (2-kloro-4-nitro-fenil)-5-klorosalisilamid
Indikasi: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis diminuta, Hymenolepis nana, Taenia
saginata, Taenia solium
Nama dagang / Nama Paten :
Cestocida (Spanyol)
Sulqui (Argentina)
Tredemine (France)
Vermitid
Yomesan (Inggris)
Deskripsi: Niklosamid berupa bubuk yang berwarna putih kekuningan, tidak berbau
dan tidak larut dalam air.
Mekanisme: Pada konsentrasi rendah, obat ini dapat merangsang pengambilan oksigen
oleh Hymenolepis diminuta, sedangkan pada kadar yang lebih tinggi dapat menghambat
respirasi dan pengambilan glukosa. Selain itu, obat ini dapat pula menghambat fosforilasi
anaerobik ADP yang merupakan proses pembentukan energi pada cacing. Cacing yang
dipengaruhi akan dirusak sehingga sebagian skoleks dan segmen dicerna dan tidak dapat
ditemukan dalam feses.
6. Nama generik : Prazikuantel
Deskripsi: Prazikuantel derivat pirazinnoisokuinolin merupakan obat yang berbentuk
kristal tidak berwarna dan rasanya pahit.
Indikasi: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Taenia saginata, Taenia Solium
Nama dagang / Nama paten:
Biltricide
Ceneride
Cesol
Cystiade
Mekanisme :
Pada kadar efektif terendah obat menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing
akibat hilangnya Ca intrasel sehingga timbul paralisis spastik yang mungkin mengakibatkan
terlepasnya cacing dari tempat normal pada hospes.
Pada dosis tinggi, obat ini mengakibatkan vakuolisasi dan vesikulisasi tegumen
cacing, sehingga isi cacing keluar. Mekanisme pertahanan tubuh hospes dipacu dan terjadi
kehancuran cacing.
7. Nama generik : Quinacrine Hydrochloride
Merupakan obat pengganti untuk terapi infeksi cacing pita. Karena toksisitasnya,
maka ia tidak lagi dipakai kecuali jika Niklosamid / obat pengganti (Prazikuantel,
Mebendazole, Diklorofen) tidak tersedia.
Indikasi: Tenia saginata dan Taenia solium
Nama dagang / Nama paten :
Atabrin
Erion
Acriquine
Palacrin
Metoquin
Italchin
Obat herbal
Resep 1
15 g kulit delima kering
5 g biji pinang kering
20 gram kunyit
a. Cuci bersih semua bahan, tumbuk.
b. Rebus dengan 600 cc air (dengan api kecil) hingga tersisa 200 cc, lalu saring. Minum
setelah dingin (juga dapat digunakan untuk semua jenis cacing).
Resep 2
30 butir biji labu kuning, kupas
1 sdm biji mentimun kering
Madu secukupnya
a. Cuci bersih semua bahan, tumbuk hingga halus, lalu seduh dengan 150 cc air panas.
b. Tambahkan madu, lalu minum hangat.
Resep 3
15 butir biji wudani kering
a. Cuci bersih bahan, tumbuk halus. Seduh dengan 200 cc air panas, lalu minum setelah
dingin (sebelum dan sesudah mengonsumsi wudani, jangan minum teh).
b. Resep ini juga dapat digunakan untuk cacing tambang dan cacing kremi.
PREVENTIF Taenia sp
Untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis, dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Mengobati penderita, untuk mengurangi sumber infeksi, dan mencegah terjadinya
autoinfeksi dengan larva.
b. Peningkatan kinerja pengawasan daging yang dijual, agar bebas larva cacing (sistiserkus).
c. Menjaga kebersihan lingkungan
d. Pembuangan kotoran manusia.
Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar
sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
e. Memasak daging sapi yang tepat.
Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan dagiikan), buah
dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
f. Pelestarian daging sapi daging oleh beku pada -10 0c selama 5 hari.
g. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.
h. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
i. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang
makan atau sesudah buang air besar.
i. Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan
parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya
dengan obat cacing.
j. Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi
mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara
sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan,
maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.

EPIDEMIOLOGI
Cacing Taenia saginata sering ditemukan di Negara yang penduduknya banyak
makan daging sapi atau kerbau. Cara penduduk memakan daging tersebut yaitu matang,
setengah matang atau bahkan mentah sama sekali tanpa proses pemasakan. Cara makan dan
cara memelihara ternak inilah yang kemudia menjadi berperan dalam proses terjadinya
infeksi cacing Taenia. Ternak yang dilepas di padang rumput lebih mudah dihinggapi cacing
gelembung tersebut, daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di kandang
secara tertutup. Pencegahan dapat dilakukan antara lain dengan cara mendinginkan daging
yang akan dikonsumsi sampai suhu -10 derajat Celsius, iradiasi dan memasak daging sampai
matang.
KERUGIAN
a. Cacing dari kelas Cestoda yang menyerang saluran pencernaan ternak dapat
menimbulkan kerugian berupa gangguan pertumbuhan dan mencret,
b. Kerugian pada saat wabah
c. Biaya penanggulangan penyakit, pengobatan ternak dan manusia yang sakit, kematian
ternak bahkan menimbulkangangguan kesehatan masyarakat, turunnya pendapatan
peternak.
d. Kerugian pengendalian pasca wabah
e. Biaya rehabilitasi lingkungan, biaya produksi yang menjadi tinggi, menurunnya investasi
pada budidaya peternakan, kredit macet, pengangguran dan ekspor peternakan yang
ditolak di luar negeri.
f. Adanya ketakutan masyarakat untuk mengkonsumsi hasil peternakan menyebabkan
kerugian bagi industri peternakan baik dari hilir maupun hulu, adanya penurunan
wisatawan pada daerah terjadi wabah menyebabkan kerugian industri pariwisata.

B. MONIEZIA
PENDAHULUAN
Moniezia benedini terdapat pada ruminansia seperti pada spesies tingkat tinggi.
Genus memiliki glandula interploglotid pendek, berlanjut pada pemberian yang berdekatan
dengan garis tengah segmennya. Cacing lebih umum terdapat pada sapi daripada domba.
Lebar proglotida mencapai 2,5 cm. Telurnya segi empat, sedikit lebih besar dari pada telur
Moniezia expansa. Kelenjar interproglotid tidak tersusun disekeliling celah sambungan
proglotida, tetapi berupa barisan pendek sekitar pertengahan proglotida. Induk semang
proglotida adalah tungau rumput orbatid dari genus yang sama seperti Moniezia expansa.
Ruminansia terinfeksi karena makan tungau ketika memakan rumput .
Agen infeksi moneizia expansa yaitu jenis tungau tanah (Oribatidae). Oribatidae
merupakan mikroarthropoda tanah dengan ukuran tubuh antara 0,08 mm dan 0,5 mm yang
mewakili kelompok besar fauna tanah. Tungau Oribatidae umumnya memiliki metabolisme
tingkat rendah, perkembangan yang lambat dan fekunditas rendah. Perkiraan waktu
pengembangan dari telur hingga dewasa bervariasi, dari beberapa bulan sampai dua tahun di
tanah. Tungau Oribatidae memiliki enam aktif instar : prelarva, larva , 3 NIMFA.
Oribatidae ini mempunyai jumlah yang melimpah, sehingga penularan cacing
moneizia expansa ini semakin besar. Dalam penyebaran moneizia expansa, Cacing dewasa
dalam usus inang akan melepaskan segmen gravid yang kemudian keluar secara pasif
bersama dengan tinja. Segmen gravid dalam tinja akan tersebar dan mengkontaminasi
lapangan penggembalaan. Sehingga Oribatidae kemudian memakan segmen gravid yang
mengandung telur cestoda maka akan berkembang menjadi stadium larva (Cysticercoid)
dalam rongga tubuhnya. Inang definitif akan terinfeksi jika memakan rumput yang
terkontaminasi oleh stadium.
M. expansa Menyerang usus kecil pada domba, kambing, lembu dan hewan
ruminansia lainnya. Panjangnya mencapai 600 cm dengan lebar 1-6 cm. Ukuran scolek 0,3-
0,8 yang dilengkapi dengan prominant sucker segment yang lebih besar dari pada panjangnya
yang masing-masing berisi 2 pasang alat kelamin. Ovarium dan gelatid berbentuk bulat pada
salah satu sisi, median sampai longitudinal canal, ketika testis di distribusi melalui bagian
central. Pinggir posterior masing-masing proglotid berisi sebaris glandula interproglotid yang
tersusun mengelilingi terowongan dua lebih uterus bekerja bersamaan secara retikuler pada
segmenya. Telur kadang-kadang berbentuk triangular yang berisikan aparatus piriformis
dengan ukuran diameter 56-57 mm.
KLASIFIKASI/TAXONOMI
Phyllum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Anoplocephalidea
Family : Anoplocephalidae
Genus : Moniezia
Species : Moniezia expansa
Moniezia benedeni
MORFOLOGI
Segmen lebih lebar dari panjang dan tiap-tiap segmen mengandung 2 genital organ
Ovarium dan vittelin gland berbentuk cincin pada kedua sisi, di sebelah medial ke
arah longitudinal terletak excretory canals
Testis tersebar dibagian sentral atau berkumpul dikedua sisi
Ditepi posterior tiap-tiap proglotid terdapat 1 deret interglottidal gland tersusun
seperti cincin-cincin kecil
Telur berbentuk segitiga mengandung pyriform apparatu
Panjang 600 cm dan lebar 1,6 cm
Lebar scolex 0,360,8 mm dan sucker prominent

PATOGENESA
Pada umumnya hanya hidup pada hewan dibawah 6 bulan dan terlihat gejala yang
timbul, meskipun parasit ini juga dapat terdapat pada hewan-hewan dewasa juga bisa. Gejala
klinisnya tidak diketahui dengan jelas. Infeksi M. expansa secara umum tubuh melemah dan
asymptomatic, bahkan ketika ada dalam jumlah besar di dalam hewan muda yang sering
terserang. Bagaimanapun infeksi berat dapat menyebabkan terhambatnya sistem digesti,
diarrhea dan kehilangan berat badan. Jaringan usus akan mengalami kerusakan akibat
infestasi cacing dewasa. Sedangkan jaringan otot akan terganggu saat cysticercus tersebar ke
seluruh tubuh terutama di jaringan otot.dan akan nampak kista-kista di jaringan otot.





SIKLUS HIDUP MONIEZIA

o Telur cacing dikeluarkan bersama feses penderita (host) satu persatu atau
dalam keadaan berkelompok dalam segmen yang terlihat sebagai butiran-
butiran beras.
o Bila segmen dimakan oleh famili Oribatidae maka dindingnya akan sobek dan
seluruh telur termakan oleh mites tersebut.
o Dalam mite oncosphere akan tumbuh membesar dan mencapai jumlah 14 sel.
Setelah 8 minggu oncosphere mempunyai 12 kait.
o Pada minggu ke 15 akan menjadi sistiserkoid



GEJALA KLINIS
Gejala klinis sapi yang terinfeksi cacing meneizia expansa tidak akan nampak dalam
waktu yang singkat gejala akan nampak jika penyakit sudah parah atau cacing sudah
menyebar ke seluruh tubuh
Gejala yang nampak adalah sapi mengalami gangguan pencernaan yang dapat
menyebabkan gejala ikutan sperti diare dan gangguan absorbsi makanan.Namun gejala yang
akut sepertikeracunan yang diakibatkan racun yan dihasilkan dari eksresi cacing dewasa
dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada sapi.infeksi ringan akan menyebabkan
gangguan pencernaan (indigesti) dan terhambatnya pertumbuhan. Sedagkan infeksi berat
akan menyebabkan diare karena darah diserap oleh cacing dewasa yang melekat di dinding
mukoa usus,dan menyebabkan diare profus karena gangguan penyerapan
makanan,pertumbuhan kan terhambat dan bisa bersifat fatl pada anak sapi.
DIAGNOSA
Diagnosa infeksi moniezia expanza dapat dilakukan dengan :
a) Menanyakan riwayat penyakit (anamnesa)
Didalam anamnesa perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah mengeluarkan
proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan.
bila memungkinkan sambil memperhatikan contoh potongan cacing yang diawetkan dalam
botol transparan.
b) Pemeriksaan tinja
Identifikasi telur cacing.
Identifikasi cacing dewasa (proglottid gravid dalam feses)
Identifikasi ini dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis bahan-bahan yang berasal
dari hewan yaitu: tinja, dan bahan lainnya yang dianggap perlu.Sampel tinja yang diperiksa
harus baru (didefekasikan) atau diambil langsung dari rektum Tinja dapat diawetkan dengan
menambah larutan formalin 10%. Wadah pengiriman tinja terbuat dari kaca atau bahan lain
yang tidak dapat ditembus seperti plastik.
Pemeriksaan tinja secara mikroskopis dilakukan antara lain dengan metode langsung
(secara natif), bahan pengencer yang dipakai NaCL 0,9 % atau lugol. Dari satu spesimen tinja
dapat digunakan menjadi 4 sediaan. Bilamana ditemukan telur cacing moniezia expanza,
maka pemeriksaan menunjukkan hasil positif. Pada pemeriksaan tinja secara makroskopis
dapat juga ditemukan proglotid jika keluar. Pemeriksaan dengan metode langsung ini kurang
sensitif dan speifik , terutama telur yang tidak selalu ada dalam tinja dan secara morfologi
sulit diidentifikasi metode pemeriksaan lain yang lebih sensitif dan spesitik misalnya teknis
sedimentasi eter, anal swab, dan coproantigen (paling sensitif dan spesifik). Pemeriksaan
dimaksudkan untuk menemukan adanya telur cacing baik secara kualitatif (macam telur
cacing) maupun kuantitatif (jumlah telur cacing tiap 1 gr tinja). Sedangkan proglotid dapat
mencapai lebar 1,6 cm yang lebih panjang dibandingkan panjangnya, organ reproduksi ganda
dan lubang kelamin terlihat opak dengan garis putih keluar pada tepi lateral. Ovarium dan
kelenjar vitelin berbentuk melingkar setiap sisi dan testes menyebar diseluruh bagian.
Pada setiap batas belakang segmen ditemukan sebaris kelenjar interproglotida berbentuk
roset (seperti bunga mawar). Telurnya bentuknya bersudut atau bisa berbentuk segi tiga
dengan diameter sekitar 56 67 mikron (2,4,3). Namun jika masih belum terlihat, diagnosis
bisa dilakukan lewat. CT-scan, MRI atau Ultrasonik
PROGNOSA
Prognosis tergantung lokasi larva. Pada sistiserkosis serebral, prognosis infausta
TERAPI
Dengan menggunakan obat kimia :
1. Pemberian Alben 10% Oral Suspension yang tiap ml mengandung albendazole
100mg, dengan dosis :
Anjing & Kucing : 0,75 ml per 2,5 kg berat badan
Kuda, Babi, domba : 0,75 ml per 10 kg berat badan (single dose)
Unggas : 0,1 0,15 ml / kg BB
2. Cupper sulfat 10-100 ml
3. Dichlorophene 300-600 mg/kgBB
4. Yomesan 75 mg/kgBB
5. Lead arsenat 0,5-1 gram dlm kapsul gelatin
Dengan menggunakan obat herbal : dengan menggunakan serbuk biji pepaya matang.

EPIDEMIOLOGI
Moneizea Expanza merupakan cacing pita anoplocephalic. Cacing ini menyerang
domba, kambing dan etrnak dan emnyebabkan kerugian secara ekonomis didaerah endemik.
Moneizea expansa biasanya menyerang daerah kosmopolitan. Di Indonesia, kasus ini jarang
mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Monezea expansa merupakan parasit yang banyak tersebar didunia namun tidak
memberikan dampak pada produksi. Infestasi besar menyebabkan obstruksi usus dan
kekurangan nutrisi. Penyebaran telur cacing ini banyak tersebar melalui mites. Telur juga bisa
menyebar melalui sitem grassing. Biasanya proglotid bertahan selama 6minggu
Kasus monezeasis sering terjadi pada domba terutama pada saat musim hujan
(15Juni-15 Desember). Pada musim kemarau awal, presentase domba yang mungkin
terinfeksi adalah 25-44%.
Cacing pita domba, Moniezia expansa, terjadi pada 100% dari domba dan wethers
selama musim hangat dan basah (15 Juni-15 Desember) di US Virgin Pulau St Croix pada
tahun 1999. Secara total, 924 mm curah hujan diukur selama periode ini. Pada musim
kemarau awal dan pertengahan musim kering, persentase anak domba dan wethers terinfeksi
adalah 25 dan 44%, masing-masing. Pada musim hujan suhu rata-rata 25oC, sedangkan suhu
rata-rata 29,4oC
Perkembangan telur monezea expansa pada awal musim hujan terus meningkan dan
menurun pada musim kemarau. Infeksi meningkat seiring dengan adanya perubahan musim
dengan curah hujan yang tinggi.


PREVENTIF
Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan hasil
peternakan yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit
cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan yaitu:
1. Pemberian obat cacing. Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah.
Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing.
2. Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan,
dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput disekitar area
peternakan. Melakukan sanitasi kandang sehingga telur Moniezia expansa tidak dapat
berkembang baik.
3. Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi
infestasi cacing.
4. Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga
daya tahan tubuh tetap baik.
5. Mencegah kandang becek, seperti menjaga litter tetap kering, tidak menggumpal dan
tidak lembab.
6. Cara untuk mencegah masuknya cacing ini adalah dengan memperhatikan kebersihan
pakan, sehingga tidak terdapat tungau yang bisa membawa Moniezia expansa masuk
KERUGIAN
Dapat menyebabkan kematian ternak
Ternak akan mengalami kekurangan berat badan (kurus)
Produksi daging menurun

C. ECHINOCOCCOSIS
PENDAHULUAN
Echinococcosis adalah infeksi yang disebabkan cacing Echinococcus granulosus atau
Echinococcus multilocularis. Nama lainnya adalah Hidatid Disease. Echinococcus tersebar di
Afrika, Asia Tengah, Amerika Selatan, Mediterania, dan Timur Tengah. Hospes definitif dari
Echinococcus granulosus adalah hewan karnivora terutama anjing, serigala, dan beberapa
karnivora lainnya. Sedangkan hospes perantaranya adalah manusia, kambing, domba, sapi,
dll.
Penyakit cacing pita pathogen anjing pada manusia diproduksi oleh kista-kista yang
merupakan tahap larva dari cacing Echinococcus granulosus. Benih- benih cacing dibentuk
didalam kista kista yang mengandung 30-40 protosoleses. Setiap Protosoleses sanggup
berkembang menjadi cacing dewasa.Simptom tergantung pada lokasi kista didalam tubuh dan
berkembang akibat tekanan, infeksi atau gesekan panas organ tubuh, yang paling umum
Echinococcus granulosus berkembang di liver, beberapa di otak, paru paru dan ginjal serta
Jantung, kelenjar gondok dan tulang juga bisa menjadi tempat berkembang, tapi sangat jarang
terjadi.Kista didalam tubuh bisa tetap hidup atau mati terurai menjadi calcium. Mereka bisa
dideteksi lewat sinar X . Prognosis umumnya bagus dan tergantung wilayah dan potensi luka
dan penyebaran organ dalam tubuh. Kista yang tiba-tiba pecah sebelum waktunya bisa
menyebabkan alergi. Pasien yang kistanya sudah mati dan berubah menjadi kalsium masih
memiliki infeksi aktif dalam dirinya.Predileksi : didalam usus halus anjing, srigala, kucing
dan carnivore lainnya.

NOMENKLATUR
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Famili : Taenidae
Genus : Echinococcus
Spesies : - Granulosus
- Multilocularis

MORFOLOGI
Cacing dewasa berukuran kecil panjangnya 3-6 mm terdiri dari skoleks, leher, dan
sebuah strobila yang hanya terdiri dari 3-4 segmen. Perkembangan segmennya yaitu
immatur, matur, dan gravid. Segmen gravidnya merupakan segmen terbesar yang panjangnya
3-4 mm dan lebarnya 0,6 mm. Skoleksnya terdiri dari 4 alat isap dengan rostelum yang
dilengkapi 2 deret kait yang melingkar.
Ukuran cacing dewasa Echinococcus granulosus dewasa bisa mencapai panjang 2
6 mm, hanya tersusun oleh tiga atau empat segmen (jarang lebih dari enam). Skolek :
dipersenjatai 30 60 kait yang tersusun dalam 2 baris, kait yang besar panjangnya 33 40
mikron sedangkan yang kecil panjangnya 22 34 mikron. Ovarium berbentuk ginjal, lubang
genital selang-seling tidak teratur dan normalnya terbuka dibagian posterior pertengahan
proglotida dewasa atau bunting. Testes berjumlah 45 65 buah menyebar ke seluruh. Uterus
memiliki cabang lateral. Telur : keluar melalui lubang uterus (sehingga tidak ditemukan
proglotid didalam tinja) berukuran 3236 x 25 30 mikron.
Ukuran cacing dewasa Echinococcus multilocularis sangat mirip dengan Echinococcus
granulosus, panjangnya 1 4 mm. Proglotid matang mempunyai 17 26 testes yang
kesemuanya terletak di sebelah posterior atau setinggi lobang kelamin yang letaknya sedikit
keanterior dari pertengahan proglotid. Uterusnya seperti kantong tanpa cabang lateral.
SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa Echinococcosis granulosus (panjangnya 3 - 6 mm) beradadi usus halus
hospes definitif misalnya anjing. Lalu proglotidmelepaskan telur yang keluar bersamafeses.
Kemudian tertelan oleh hospesintermedietyang sesuai (biri-biri, kambing, babi, sapi, kuda,
onta) setelah itu telur menetas di usus halusdanonkosfer keluar onkosfer
menembusdindingusus danmenujusitem peredaran ke berbagai organ, terutama hati danparu-
paru. Di hati dan paru-paru onkosfer berkembang menjadi kista kemudian berkembangsecara
berangsur-angsur menghasilkan protoskoleksdan anak kista yang mengisi kista interior.
Hospes definitif dapat terinfeksidengancara memakan daging hospes intermediet yang
mengandung kista hidatid. Setelahtertelan, protoskoleks melakukan evaginasimenujuke
mukosa usus dan berkembang menjadi cacing dewasa setelah 32 sampai80 hari kemudian
proglotid melepaskan telur. Hospes intermedietterinfeksi dengancara menelan telur
kemudian menetas menghasilkan onkosfer pada usus dan menjadi kista di dalam berbagai
organ.

Gbr.1


Gbr.2


Gbr.3

PATOGENESA
Kista hidatid tumbuh seperti tumor ganas.
Skoleks tersebar keseluruh tubuh
Ditandai dengan invasi dan penghancuran jaringan karena kista melakukan
pengelompokan kedalam, membentuk kista kecil-kecil yang banyak jumlahnya
yang membentuk sarang tawon pada organ yang terkena.

GEJALA KLINIS
Echinococcus granulosus menginfeksi selama bertahun-tahun sebelum kista
membesar dan menyebabkan gejala saat tersebar ke organ-organ vital. Bila menginfeksi hati
maka terjadi rasa sakit dan nyeri di bagian abdominal, benjolan di daerah hati, dan obstruksi
saluran empedu. Pada saat kista menginfeksi paru-paru menyebabkan dada sakit dan batuk
hemoptysis. Kista yang menyebar ke seluruh organ dapat menyebabkan demam, urtikaria,
eosinofilia, dan shyok anafilaktik. Kista dapat menyebar hingga ke otak, tulang, dan jantung.
Gejala klinis echinococcosis bergantung pada ukuran, jumlah dan lokasi larva
(metasestoda). Pembesaran kista dapat merusak jaringan, biasanya tanpa gejala
(asimptomatik). Gejala klinis berupa adanya lesi luas pada jaringan/organ.



DIAGNOSA
Diagnosis bisa dilakukan lewat sinar X dosis rendah, ultrasonic atau CT scan. Diagnosis
bisa juga dilakukan dengan meneliti guguran kista didalam feses, muntahan, urin dan lendir
batuk. Tes kulit Casoni bisa juga dilakukan lewat tes serologi dengan meng-fluorosen
antibody dan mengetes antibody hemaglutination langsung.
1. Pemeriksaan hematologi
Dilakukan pemeriksaan darah dengan melihat jumlah eosinofil dan dilihat presentase
lekosit jenis eosinfil pada pemeriksaan differensial lekosit. Eosinofilia sering terjadi sekitar
20-25% pada kasus infeksi Echinococcus granulosus namun tidak terlalu memberi makna
yang berarti.
2. Mikroskopis cairan kista hydatid
Prinsip pemeriksaannya adalah setetes cairan kista yang sudah disentrifuge diteteskan
pada objek gelas, dengan objek gelas lainnya dibuat apusan kemudian dilakukan pewarnaan
tertentu dan diamati secara mikroskopis. Pada saat pembuatan hapusan terjadi goresan antara
kait-kait dengan objek gelas sehingga terdengar seperti suara goresan kaca di atas pasir
(hydatid sand).
Pemeriksaan ini dilakukan apabila ditemukan kista pada saat pembedahan dari infeksi
kista hidatid, maka sebagian cairan kista dapat diaspirasi dan diperiksa secara mikroskopis
untuk mendeteksi adanya hydatid sand sehingga dapat dipastikan diagnosisnya. Aspirasi
kista juga biasanya dilakukan pada saat akan dilakukan tindakan bedah. Tindakan ini
beresiko akan adanya kemungkinan bocornya cairan sehingga menyebar ke jaringan.
Namun hidatid sand tidak selalu ada. Karena jika kista sudah tua, anak kista dan/ atau
skoleks mungkin juga rusak sehingga yang tersisa hanya kait-kaitnya. Keadaan ini
menyulitkan untuk menemukan dan identifikasinya apalagi jika terdapat debris di dalam
kista. Hydatid sand juga dapat diperiksa dari sampel urin dan sputum, yaitu pada :
a. Pemerikssan Urin
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan adanya infeksi hydatid yang
menginfeksi organ ginjal. Sehingga cairan kista akan dikeluarkan juga melalui urin. Sehingga
pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan hydatid sand pada urin.
b. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan adanyan infeksi hydatid yang
menginfeksi organ paru-paru. Sehingga pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan hydatid
sand pada sputum.
Apabila skoleks masih tetap utuh pada pemeriksaan mikroskopik, maka dari cairan
sentrifuge dijadikan sediaan basah untuk memastikan diagnosis ditemukannya skoleks.
Apabila tidak ditemukan hydatid sand dan skoleks, diagnosis dapat dilanjutkan dengan
pemeriksaan histologi dari dinding kista pada jaringan.
3. Mikroskopik Jaringan
Pemeriksaan kista hidatid secara mikroskopik pada jaringan diperiksa ketika pasien
dengan adanya masa pada abdomen dan tidak diketahui diagnosisnya secara pasti. Tes ini
dilakukan dengan mengambil sampel dari pembedahan untuk mengambil jaringan hati,
tulang, paru-paru dan jaringan lainnya lalu dibuat penampang melintang misalnya jaringan
tulang lalu dibuat preparat histologi jaringan dan diwarnai dengan hematoxilyn dan eosin.
4. Tes Serologi
Antibodi pasien terhadap Echinococcus granulosus yang terdapat dalam serumdapat
dideteksi dengan pemeriksaan serologi yang meliputi IHA (Indirect hemaglutination), IFA
(indirect fluorescent antibody), ELISA, CF, LA (latex aglutinasi), IE (immunoelektoforesis)
ID, dan Indirek hemaaglutination.
Tes serologi merupakan test yang sensitif untuk mendeteksiantibodi di dalam serum
pasieninfeksi kista hidatid, sensitifitas bervarisi antara 60% hingga 90%, tergantung
karakteristikdari kistahydatidnya. Sensitifitas ini dipengaruhi oleh beberapa hal :
a. Jenis organ tubuh yang terinfeksi
Kista di dalam jaringan hati lebih memberikan respon imunitas dibanding kista di
paru-paru. Kista memproduksi antigeni stimulasi dengan titer rendah, namun jika hampir 5
sampai 10% kista di hati sudah menimbulkan tes serologi positif, tetapi kista di paru-paru
jika hampir 50% masih menghasilkan tes serologi negatif
b. Permukaan kista hidatid
Permukaan yang kasar dari kista umumnya menentukan titer antigen. Bentuk
permukaan dan kerusakan pada jaringan yang terinfeksi dapat meningkatkan antibodi. Untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan serologi yang lebih akurat digunakan kombinasi teknik
pemeriksaan, yaitu teknik EIA dan IHA yang biasanya digunakan sebagai tes skrining untuk
semua spesimen, kemudian reaksi positif dikonfirmasikan dengan tes immunoblot assay atau
gel difusion assay yang menunjukkan hasil echinococcal Arc 5". Kelemahan tes konfirmasi
adalah memberikan reaksi positif palsu sekitar 5% hingga 25% pada penderita
neurocysticercosis. Sehingga secara klinis dan presentase epidemiologi kasus pasien
neurocysticercosis sering terjadi kerancuan dengan kasus kista hidatid. Namun untuk
konfirmasi yang lebih spesifik atau reaktif terhadap serum dapat dilakukan dengan teknik
imunoelektroforesis untuk mendeteksi diagnosa dan membedakan di dalam serum secara
elektroforesis.
Respon antibodi dapat jugadimonitor untuk mengevaluasi hasil dariterapi, tapi
dengan hasil yang bervariasi. Tergantung keberhasilan dari terapi misalnya keberhasilan
suatupembedahan,maka titer antibodi juga menurundanbahkanhilang, namun titer akan naik
lagi jika kista sekunder berkembang. TesuntukArc 5 atau antibodiIge tampakmencerminkan
kemerosotan antibodi selama yang pertama 24 bulan setelah pembedahan, sedangkan IHA
dan test lain masihpositif paling tidak selama 4 tahun. Keberhasilan pembedahan untuk
mengeluarkan kista hidatid akan diikuti penurunan titer antibodi sampai beberapa tahun
setelah pembedahan tapi hal ini memerlukan tes spesimen secara berkala. Kemoterapi tidak
mengikuti kemerosotan titer yang konsisten di dalam serum. Sehingga manfaatdari
pemeriksaan serologi untuk memonitor perjalananpenyakit terbatas yang juga tergantung
dari kondisi pasien.
5. Tes Kulit (tes intradermal)
Tes kulit atau tes intradermal berhubungan erat dengan tes serologi, yaitu
menggunakan antigen tes kulit Casoni yang merupakan antigen yang bersal dari cairan kista
hydatid, tes ini mempunyai banyak keuntungan karena kesederhanaannya dan sebanding
dengan tes serologi, namun kelemahan tes kulit adalah kurang spesifik. Ini dikarenakan tes
kulit belum terstandarisasi secara baik sehingga sering terlihat adanya kekurangan dari
spesifitas dan sensitifitasnya. Tes Casoni merupakan salah satu cara untuk mengetahui
pemaparan dari penyakit hidatid namun kendala utamanya yaitu kurangnya spesifitas. Pada
pasien yang mengandung kista hyalin maupun kista yang utuh, sentifitas diagnostiknya
terbatas. Respon imun lebih sering dideteksi pada pasien dengan kista hati dibanding kista
paru-paru.
Tes kulit telah digunakan untuk penunjang pembuktian infeksi secara tidak langsung,
apabila tidak ada tes serologi diagnostik yang tidak dapat dipercaya. Banyak dari tes kulit
terutama digunakan untuk kepentingan penelitian dan epidemiologi. Namun banyak kasus,
antigen yang digunakan sulit didapat dan tidak terdapat di pasaran.
Reaksi positif palsu juga pernah dilaporkan pada pasien nonparasit dan penyakit
parasit lainnya. Antigen casoni juga dapat mensinsitisasi pasien sehingga memproduksi
antibodi dan juga pernah dilaporkan terjadinya reaksi anafilaktik.
6. Tes Radiologi
Kista-kista asimptomatik ditemukan pada pemeriksaan radiologis. Kista biasanya
memiliki batas yang jelas dan terkadang terlihat tanda batas cairan (fluid level). Pemeriksaan
ini juga dapat membantu diagnosis kelainan pada tulang. Scan juga juga dapat menunjukkan
lesi desak ruang (space occupying lesion) terutama di dalam hati. Apabila kistanya besar dan
lokasinya di abdomen, kadang-kadang dapat dideteksi gelombangnya.
X-ray dapat menunjukkan kista hidatid di dalam paru-paru dan jantung. Kista yang
tidak terkalsifikasi di tempat lain mungkin terdeteksi pemindahan atau pembesaran organ
dengan Ultrasound dan CT scan, sehingga hasil dapat ditunjukkan kista pada hati, otak,
ginjal, atau jaringan lainnya. Jika tidak tersedia, maka radioisotop atau angiografi dapat
digunakan. Kista yang terkalsifikasi dapat ditemukan dimana saja. Namun kista di paru-paru
jarang terjadi kalsifikasi.

PROGNOSA
Kasus cystic echinococcosis paling banyak ditemukan pada manusia, dengan annual
incidence di daerah endemik 1-200 kasus/100.000 populasi; kasus alveolarechinococcosis
juga cukup banyak, dengan annual incindence 0,03-1,2 kasus/100.000 populasi. Infeksi
Echinococcus spp lebih banyak ditemukan pada dewasa. Infeksi cystic echinococcosis
awalnya tanpa gejala (asimptomatik). Syok dan reaksi anafi laktik terjadi jika kista pecah,
terutama di organ vital. Gejala akan tampak jika kista berada di otak, hati, ginjal, dan jantung.
Alveolar echinococcosis juga banyak menginfeksi manusia dan berdampak serius; jika
diagnosis terlambat, berakibat fatal. Pengobatan jangka panjang dapat menyembuhkan dan
mengurangi gejala; peluang hidup 10-20 tahun dengan keberhasilan pengobatan 80%. Jika
tidak diobati, akan berdampak fatal (70-100%). Echinococcus vogeli menyebabkan
polycysticechinococcosis, yang juga sering menginfeksi manusia. Dilaporkan 170 kasus di
tahun 2007 dan, sama seperti E. Multilocularis, memerlukan pengobatan jangka panjang.
Kasus infeksi E.oligarthrus jarang ditemukan pada manusia.

TERAPI
Dilakukan bioterapi untuk membunuh parasit dan membiarkan absorbsi yang
perlahan-lahan
Praziquantel dosis tunggal 25mg/kg BB
Dapat dipakai Niclosamide (Yomesan)
Operasi pembedahan sering kali menjadi alternative utama menyembuhkan infeksi
Echinococcus granulosus bagi para dokter spesialis. Dikombinasikan dengan dosis tinggi
Albendazole + Levamisole. Pengeringan jaringan tubuh local lewat ultrasonic terhadap tubuh
yang sudah mengkonsumsi dosis tinggi . Albendazole juga terbukti efektif bagi kista-kista
cacing yang menghuni liver , Paru, Jantung Albendazole + Levamisole juga bisa digunakan
untuk menggugurkan sisa sisa cacing setelah operasi kista cacing atau setelah penyinaran.

PREVENTIF
Menjaga kebersihan badan setelah berkebun, memegang pupuk kompos dan
memegang feses anjing atau bermain main dengan anjing.Menjaga kesehatan anjing
peliharaan dengan secara rutin memberikan obat cacing.Dalam proses penyembuhan parasit
cacing harus diikuti dengan pemberian Intraver 200-B12 guna pemulihan anemia akibat
parasit darah.
Memutus siklushidup Echinococcus spp melalui kontrolhewan peliharaan, seperti
mencegah anjingmemakan bagian visera hewan ungulata.Pajanan telur Echinococcus spp dari
hewan liarke bahan makanan sulit dicegah, diperlukanperilaku higienis dan keamanan
bahanmakanan. Sayuran dan buah-buahan terlebihdahulu dicuci untuk menghilangkan
telurEchinococcus spp. Area perkebunan sayuratau buah dipagari untuk mencegah
aksesanjing atau kucing buang feses. Sumber airtidak diolah, seperti sungai dan air
danau,mungkin tercemar telur Echinococcus sppsehingga sebaiknya dihindari untuk
keperluansehari-hari.
Didaerah endemis, anjing tidak dibolehkan ke RPH, tidak memberi makan anjing dengan
sisa daging mentah. Sampah dari RPH harus dibakar atau disterilkan. Makanan yang
dihidangkan harus bersih. Sayuran harus dicuci bersih atau dimasak. Air minum harus
direbus. Menjaga kebersihan diri (cuci tangan sebelum makan). Pekerja laboratorium
menghindari kontaminasi tangannya pada waktu memeriksa tinja anjing dan pendidikan pada
masyarakat tentang cara-cara penularan bahaya hubungan dengan anjing, dsb.
KERUGIAN
Hewan tidak bebas bersosialisasi dengan lingkungannya karena harus
dipisahkan dari kelompok.
Hewan kekurangan banyak nutrisi
Hewan tampak kurus
Hewan dihindari untuk dikonsumsi



DAFTAR PUSTAKA

Baraniah, M,A. 2005. Peran Karantina Hewan Dalam Mencegah dan Menangkal Penyakit
Zoonosis. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Pusat Karantina Hewan.
Elfriza Rizki Kartika, Fiqih Nurkholis, Hoirul Mustakim, Asrarahama A.P, 2008.
http://www.scribd.com/doc/25263857/Biji-Labu-Merah-Untuk-Mengobati- cacing-
Pita. Tanggal 31 Maret 2014
Japardi, I. 2002. Infeksi Parasit. Universitas Sumatera Utara.
Jeffrey dan Leach. 1983. Atlas helminthologi & Protozologi Kedokteran ed.2. EGC Penerbit
buku kedokteran
Marianto. 2011. Kontaminasi Sistiserkus Pada Daging Dan Hati . Sapi Dan Babi Yang
Dijual Di Pasar Tradisionalpada Kecamatan Medan Kota . Medan : Univesitas
Sumatera Utara.
Sandy, S. 2014. Kajian Aspek Epidemiologi Echinoccosis. Jurnal Kedokteran.
41 (4) : 264-267
Sany, R, A. G,D, Gray. dan R,L, Braker. 2004. Worm Control For Small Ruminants In
Tropical Asia. Australian Center For International Agriculture Research. Australian
Government
Simanjuntak, G.M.,S.S. Margono, M. Okamoto, A. Ito.1997. Taeniasis / Cysticercosis 12
in Indonesia as an emerging discase. Parasitology Today 13 : 321-
323.Simanjuntak, G.M. 2000. Studi taeniasis / cysticercosis di Kabupaten
Jayawijaya Provinsi Irian Jaya. http://www.digilib.litbang.depkes.go.id
Srikandi Fardiaz. 1983. Keamanan Pangan Jilid 1. Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan,
Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.









LAMPIRAN
a. Taeniasis


Organ normal
Pada Usus






Pada otot


Organ yang terinfeksi Taenia saginata
Pada usus








Pada Otot

b. Monieziasis
Gambar moniezia expansa






Gambaran organ Normal

Gambar usus yang terserang monieziasis


c. Echinococcus

1. Echinococcus










2. Liver normal





3. Liver terinfeksi cacing Echinococcus