Anda di halaman 1dari 32

Farmakologi dan Fisiologi

Obat Anti Kanker



Oleh Kelompok VI
1. Samhariratul Kauliyah
2. Wahyuni Sariyati
3. Anriani
4. Megawati Bakri
5. Filik Apriliyani


Tinjauan umum
Obat antikanker adalah senyawa
kemoterapeutik yang digunakan untuk
pengobatan tumor / kanker.

Tujuan utama kemoterapi kanker adalah
merusak secara selektif sel tumor yang
berbahaya tanpa mengganggu sel normal.

Obat antikanker sering disebut juga sebagai
sitotoksik, sitostatik atau antineoplasma.

Obat antikanker dibagi menjadi : senyawa
pengalkilasi, antimetabolit, antikanker
produk alam, hormon, dan golongan lain-
lain.


Terapi pengobatan kanker
Pembedahan, terutama untuk
tumor padat yang terlokalisasi.
Radiasi, pengobatan penunjang
sesudah pembedahan.
Kemoterapi, pengobatan tumor
yang tidak terlokalisasi.
Endokrinoterapi, penggunaan
hormon tertentu untuk pengobatan
tumor pada organ yang poliferasinya
tergantung hormon.
Imunoterapi, berperan penting
dalam pencegahan mikrometastasis.
INISIASI
PROMOSI
PROGRESI
METASTASIS
Karsinogenesis
Kompleks
Cyclin-cdk p53
Mutasi
Sel memperbaiki
diri
Perbaikan
gagal
Kematian Sel
Apoptosis

Fragmen
Fragmen
sel
Apoptosis
gagal

Menghambat
Siklus sel
7
Inisiasi promosi
progresi
Penyebab
Kanker
Metabolisme
di HEPAR
Sel normal
Transformed
cell
Transformed
cell
Kanker
Blocking
agent
Suppressing
agent
6
CH3
CH3
Mekanisme kerja obat antikanker
Purin / Pirimidin Nukleotida DNA
Enzim
Ribosom
antagonis asam folat
antagonis purin / pirimidin senyawa pengalkilasi /
Mitomisin C
steroid
RNA massenger
daktinomisin
RNA transfer
alkaloid Vinca
asam amino
GOLONGAN SUB
GOLONGAN
OBAT
Mustar Nitrogen


Mekloretamin
Siklofosfamid
Melfalan
Mustar urasil
Derivat
Etilenamin
Trietilenmelamin (TEM)
Trietilentriofosformelamid (tio-TEPA)
Alkil Sulfonat Busulfan
I. Alkilator
Nitrosourea Karmustin (BCNU)
Lomustin (CCNU)
Semujstin (metal CCNU)
Analog Pirimidin 5-fluorourasil
Sitarabin
6-Azauridin
Floksuridin (FUDR)
Analog Purin 6-Merkaptopurin
6-Tioguanid (T6)
II. Anti Metabolit
Antagonis Folat Metotreksat
Alkaloid Vinka Vinblastin (VLB)
Vinkristin (VCR)
Antibiotik Daktinomisin
Mitomisin
Antrasiklin: Daunorubisin
Doksorubisin
Mitramisin
Bleomisin
III. Produk Alamiah
Enzim L-asparaginase

PILIHAN OBAT KANKER
GOLONGAN SUB
GOLONGAN
OBAT
Hormon adreno-
kortikosteroid
Prednison
Progestin Hidroksiprogesteron kaproat
Hidroksiprogesteron asetat
Magestreol asetat
Estrogen Dietilstilbestrol
Etinil estradiol
IV. Hormon
Androgen Testosteron propionate
Fluoksimesteron
Fosfor Natrium fosfat (P
32
) V. Isotop Radioaktif
Iodium Natrium Iodida (I
131
)
Substitusi urea Hidroksi urea VI. Lain-lain
Derivat
metilhidrazin
Prokarbazin


Mekanisme Kerja
HUBUNGAN KERJA ANTIKANKER DG SIKLUS SEL KANKER


Sel tumor dapat berada dalam 3 keadaan:
(1) yang sedang membelah (siklus proliferatif)
(2) yang dlm keadaan istirahat (tdk membelah, Go)
(3) yang secara permanen tidak membelah.

Sel tumor yg sedang membelah tdp dlm beberapa fase:
fase mitosis (M),
pascamitosis (G1),
fase sintesis DNA (fase S),
fase pramitosis (G2).
MEKANISME KERJA
KERJA ANTIKANKER PADA PROSES DALAM SEL
Kerja antikanker berdasarkan atas gangguan pd salah satu proses sel
yg esensial. Karena tdk ada perbedaan kualitatif antara sel kanker dg
sel normal maka semua antikanker bersifat mengganggu sel normal,
bersifat sitotoksik dan bukan kankerosid atau kankerotoksik yg
selektif.
ALKILATOR.
Berbagai alkilator menunjukkan persamaan cara kerja yi melalui
pembtkan ion karbonium atau kompleks lain yg sangat reaktif. lkatan
kovalen (alkilasi) akan terjadi dg berbagai nukleofilik penting dlm tbh
misal fosfat, amino, sulfhidril, hidroksil, karboksil atau gugus imidazol.
Efek sitostatik maupun efek sampingnya berhubungan langsung dg
terjadinya alkilasi DNA ini.
Alkilator yg bifungsional misal mustar nitrogen dpt berikatan kovalen
dg 2 gugus asam nukleat pd rantai yg berbeda membtk cross-linking
shg terjadi kerusakan pd fungsi DNA. Hal ini dpt menerangkan sifat
sitotoksik dan mutagenik dr alkilator.
MEKANISME KERJA
ANTIMETABOLIT.
Antipurin dan antipirimidin mengambil tempat purin dan pirimidin
dlm pembtkan nukleosida, shg mengganggu berbagai reaksi penting
dlm tubuh. Penggunaannya sbg obat kanker didasarkan atas
kenyataan bhw metabolisme purin dan pirimidin lbh tinggi pd sel
kanker dr sel normal. Dg dmk, penghambatan sintesis DNA sel kanker
lbh dr thd sel normal.
Antagonis pirimidin misal 5-fluorourasil, dlm tubuh diubah menjadi
5-fluoro-2-deoksiuridin 5'-monofosfat (FdUMP) yg menghambat
timidilat sintetase dg akibat hambatan sintesis DNA. Fluorourasil juga
diubah menjadi fluorouridin monofosfat (FUMP) yg langsung
mengganggu sintesis RNA. Sitarabin diubah menjadi nukleosida yg
berkompetisi dg metabolit normal utk diinkorporasikan ke dlm DNA.
Obat ini bersifat cell cycle specific yg spesifik utk fase S dan tdk
berefek thd sel yg tdk berproliferasi.
MEKANISME KERJA
Antagonis purin misal merkaptopurin merpkan antagonis kompetitif
dr enzim yg menggunakan senyawa purin sbg substrat. Suatu
alternatif lain dr mekanisme kerjanya ialah pembentukan 6-metil
merkaptopurin (MMPR), yg menghambat biosintesis purin, akibatnya
sintesis RNA, CoA, ATP dan DNA dihambat.
Antagonis folat misalnya metotreksat menghambat dihidrofolat
reduktase dg kuat dan berlangsung lama. Dihidrofolat reduktase ialah
enzim yg mengkatalisis dihidrofolat (FH2) menjadi tetrahidrofolat
(FH4). Tetrahidrofolat merpkan metabolit aktif dr asam folat yg
berperan sbg kofaktor penting dlm berbagai reaksi transfer satu atom
karbon pd sintesis protein dan asam nukleat. Efek penghambatan ini
tdk dpt diatasi dg pemberian asam folat, tetapi dpt diatasi dg
leukovorin (asam folinat) yg tersedia sbg kalsium leukovorin.
Antagonis folat membasmi sel dlm fase S, terutama pd fase
pertubuhan yg pesat. Namun dg efek penghambatan thd sintesis RNA
dan protein, metotreksat menghambat sel memasuki fase S, shg
bersifat swabatas (self limiting) thd efek sitotoksiknya.
MEKANISME KERJA
ALKALOID VINKA. Zat ini berikatan secara spesifik dg tubulin,
komponen protein mikrotubulus, spindle mitotik, dan memblok
polimerisasinya. Akibatnya terjadi disolusi mikrotubulus, shg sel
terhenti dlm metafase (spindle poison).
ANTIBIOTIK. Antrasiklin berinteraksi dg DNA, shg fungsi DNA sbg
template dan pertukaran sister chromatid terganggu dan pita DNA
putus. Antrasiklin juga bereaksi dg sitokrom P450 reduktase yg dg
adanya MADPH membtk zat perantara, yg kmd bereaksi dg oksigen
menghasilkan radikal bebas yg menghancurkan sel. Pembtkan radikal
bebas in dirangsang oleh adanya Fe.
Aktinomisin memblok polimerase RNA yg dependen thd DNA, karena
terbtknya kompleks antara obat dg DNA.
Bleomisin bersifat sitotoksik berdasarkan daya memecah DNA
Asparaginase. Obat ini ialah suatu enzim katalisator yg berperan dlm
hidrolisis asparagin menjadi asam aspartat dan amonia. Dg dmk sel
kanker kekurangan asparagin yg berakibat kematian.
MEKANISME KERJA
EFEK NONTERAPI
Antikanker merupakan obat yang indeks terapinya sempit.
Semuanya dapat menyebabkan efek toksik berat, yang
mungkin sampai menyebabkan kematian secara langsung
maupun tidak langsung.
Karena antikanker umumnya bekerja pada sel yang sedang
aktif, maka efek sampingnya juga terutama. mengenai
jaringan dengan proliferasi tinggi yaitu: sistem hemopoetik
dan gastrointestinal.
MEKANISME KERJA
Efek nonterapi khusus dari beberapa antikanker
Alkilator dpt menyebabkan depresi hemopoetik yg ireversibel,
terutama bila diberikan setelah pengobatan antikanker lain atau
setelah radiasi. Siklofosfamid paling kurang menyebabkan
trombositopenia dibanding dg alkilator lain.
Antimetabolit, selain menyebabkan depresi hemopoetik dan
gangguan saluran cerna, sering menyebabkan stomatitis aftosa. Efek
samping ini paling sering terjadi setelah pemberian metotreksat,
fluorourasil dan sesekali setelah pemberian merkaptopurin.
Antimetabolit dikontraindikasikan pd pasien dg status gizi buruk,
leukopenia berat atau trombosifopenia. Kondisi ini cenderung terjadi
pd pasien yg baru mengalami pembedahan, radiasi atau akibat
pengobatan dg sitostatik.
Asparaginase toksik thd hati, ginjal, pankreas, SSP dan mekanisme
pembekuan darah. Gangguan pd hati terjadi pada 50% kasus. L-
asparaginase menekan sistem imun dan terlihat dr hambatannya pd
sintesis antibodi dan proses imun lainnya.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA

1. KLORAMBUSIL
Klorambusil (Leukeran) merpkan mustar nitrogen yg kerjanya paling
lambat dan paling tidak toksik.
Obat ini berguna utk pengobatan paliatif leukemia limfositik kronik
dan penyakit Hodgkin (stadium III dan IV), limfoma non-Hodgkin,
mieloma multipel makroglobulinemia primer (Waldenstrom), dan
dlm kombinasi dg metotreksat atau daktinomisin pd karsinoma testis
dan ovarium.
Depresi sumsum tulang terjadi pada pengobatan jangka panjang
secara bertahap berupa leukopenia, trombositopenia dan anemia.
Mielosupresi ini umumnya bersifat reversibel.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
2. SIKLOFOSFAMID
Siklofosfamid, alkilator yang paling banyak digunakan,ialah
ester fosfamid siklik mekloretamin.
Obat Ini bersifat nonspesifik thd siklus sel dan efektif thd
penyakit Hodgkin stadium III dan IV, serta limfoma non-
Hodgkin terutama dlm kombinasi dg kortikosteroid dan
vinkristin.
Siklofosfamid merupakan salah satu obat primer terhadap
neuroblastoma pada anak dan sering dikombinasikan
dengan antikanker lain untuk leukemia limfoblastik pada
anak. Kombinasinya dengan daktinomisin dan vinkristin
efektif thd rabdomiosarkoma dan tumor Ewing.
Siklofosfamid bersifat paliatif thd karsinoma mama,
ovarium dan paru, serta menghasilkan remisi pd mieloma
multipel.
MEKANISME KERJA
3. BUSULFAN
Busulfan, suatu alkilator, merupakan obat paliatif pilihan pada
leukemla mielositik kronik dan leukemia granulositik kronik. Juga
berguna pada polisitemia vera dan mielofibrosis dengan metaplasia
mieloid. Obat ini tidak elektif terhadap krisis blastik.
Busulfan merpkan antikanker yg unik, krn tdk memperlihatkan efek
farmakodinamik lain kecuali mielosupresi. Berdasarkan hal ini
digunakan utk pengobatan mieloablatif pd persiapan transplantasi
sumsum tulang. Pd dosis rendah, depresi selektif terlihat pd
granulositopoesis dan trombopoesis, sedangkan efek thd eritropoesis
terlihat pd dosis yg lbh tinggi. Efek toksik ini tdk mengenai jaringan
limfoid dan epitel gastrointestinal.
Depresi sumsum tulang paling sering terjadi sehingga pemeriksaan
darah harus sering dilakukan. Hiperpigmentasi dapat terjadi pada
pengobatan jangka panjang.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
4. FLUOROURASIL
Pada saat ini, fluorourasil dan derivat deoksiribosanya yaitu
floksuridin (FUDR) banyak digunakan sebagai terapi paliatif untuk
karsinoma kolorektal diseminata dan karsinoma mama.
Obat in hanya berguna pada tumor padat (solid). Sebagai obat
tunggal, respons untuk kedua kanker tersebut hanya 20 dan 30% .
Bila diberikan dalam regimen CMF (sikiofoslamid, metotreksat,
fluorourasil) atau CAF (siklofosfamid, adriamisin, fluorourasil),
fluorourasil merupakan pilihan kemoterapi ajuvant untuk karsinoma
mama.
Fluorourasil juga berguna pada karsinoma ovarium, prostat, kepala,
leher, pankreas, esotagus dan hepatoma.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
5. SITARABIN
Sitarabin ialah suatu nukleosid sintetik yang merupakan analog
pirimidin. Berbeda dengan nukleosid alami, gugus gulanya bukan
ribosa atau de-oksiribosa melainkan arabinosid. Dalam tubuh,
sitarabin diubah menjadi derivat nukleosid trifosfa! (araCTP) yang
menghambat enzim DNA polymerase dan di-inkorporasikan ke dalam
DNA, sehingga terjadi terminasi pembentukan rantai DNA. Efek in
terjadi pada fase S dalam siklus sel.
Sitarabin efektif untuk induksi dari remisi leukemia mielositik akut
pada orang dewasa maupun anak, dan untuk lirntoma non-Hodgkin
dalam kombinasi dengan obat lain. Untuk leukemia limfositik akut
pada anak, obat ini merupakan pilihan kedua.
Obat ini juga berguna dalam krisis blastik leukemia mielositik kronik.
Remisi umumnya berlangsung selama 3 bulan dan bila diberikan
terapi penunjang dapat berlangsung 5-8 bulan. Untuk leukemia
mielositik akut biasa dikombinasi dengan doksorubisin atau
daunorubisin dan tioguanid.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
6. METOTREKSAT
Metotreksat ialah analog 4-amino, N10-metil asam folat. Metotreksat
sangat efektif pd koriokarsinoma, korioadenoma destruens dan mola
hidatidosa.
Kombinasi metotreksat dg klorambusil dan daktinomisin efektif thd
karsinoma testis, limfoma limfositik stadium III dan IV terutama pd
anak, dan memberikan remisi temporer pd mikosis fungoides.
Dlm kombinasi dg berbagai antikanker, metotreksat digunakan pd
karsinoma mama, paru dan ovarium, timfoma Burkitt dan limfoma
non-Hodgkin.
Pd leukemia limfoblastik akut pada anak, metotreksat sebagai obat
tunggal memberikan remisi lengkap pada 20% pasien; dlm kombinasi
dg prednison remisi lengkap mencapai 80%.
Utk terapi penunjang leukemia limfositik akut, metotreksat dlm
kombinasi dengan markaptopurin merpkan obat terpilih. Metotreksat
ialah obat primer untuk limfoma sel T kulit dan meduloblastoma.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
7. VINKRISTIN
Vinkristin bersama dengan vinblastin merupakan alkaloid murni dari
tanaman Vinca rosea.
Obat ini terutama berguna pada leukemia limfoblastik akut dan
leukemia sel induk (stem cell); limfoma malignum (penyakit Hodgkin,
limfoma non-Hodgkin dan limfoma Burkitt) dan neoplasma pada anak
(neuroblastoma, rabdomiosarkoma, tumor Wilms, sarkoma Ewing
dan retinoblastoma).
Vinkristin sering digunakan dalam kombinasi dengan antikanker lain
karena jarang menyebabkan depresi hematologik; bila digunakan
sebagai obat tunggal cepat menimbulkan relaps.
Pemberian vinkristin sebagai obat tunggal pada leukemia limfoblastik
akut pada anak memberikan remisi lengkap pada 50-60% kasus
dalam 3-4 minggu.
Dlm kombinasi dg prednison remisi meningkat sampai 90%,
sebanding dg yg dicapai oleh kombinasi prednison-metotreksat atau
dg merkaptopurin.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
8. BLEOMISIN
Bleomisin merupakan sekelompok glukopeptida yang dihasilkan dan
Streptomyces verticilius.
Efek sitotoksiknya berdasarkan hambatan sintesis DNA.
Obat ini memperlihatkan efek paliatif pada beberapa karsinoma sel
skuamosa kulit, leher dan kepala (selaput lendir bukal, lidah, tonsil
dan faring) serta karsinoma paru; dmk juga pd karsinoma di testis,
serviks dan esofagus serta limfoma malignum.
Untuk karsinoma testis, respons penyembuhan 30% dan meningkat
menjadi 90% bila dikombinasi dengan vinblastin. Ditambah dengan
sisplastin, remisi lengkap terjadi dan berlangsung beberapa tahun.
Berbeda dengan antikanker lainnya obat in sedikit sekali
menyebabkan depresi sumsum tulang sehingga masih boleh
digunakan walaupun ada depresi sumsum tulang atau digabung
dengan obat yang menyebabkan depresi sumsum tulang untuk
mendapatkan remisi.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
9. DOKSORUBISIN
Doksorubisin (Adriamisin) diisolasi dari Streptomyces peucetius var.
caesius, dan bersama daunorubisin termasuk antibiotik antrasiklin.
Regresi sel kanker terjadi setelah pemberian obat ini dlm kombinasi
dg berbagai sitostatik lain pd leukemia limfositik dan mielositik akut,
tumor Wilms, neuroblastoma, sarkoma osteogenik dan sarkoma
jaringan lunak; karsinoma mama, bronkogenik, sel transisional
kandung kemih, ovarium, endometrium, serviks, prostat, dan testis;
limftoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin; karsinoma skuamosa
leher dan kepala dan hepatoma.
Efek toksiknya meliputi sistem hematopoetik, jantung, kulit dan
pencernaan.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
MEKANISME KERJA
10. PROKARBAZIN
Prokarbazin ialah suatu derivat metilhidrazin yang struktur kimianya
tidak mirip dengan salah satu antikanker lain.
Mekanisme kerjanya belum diketahui, diduga berdasarkan alkilasi
asam nukleat. Prokarbazin bersifat nonspesifik thd siklus sel. Indikasi
primernya ialah untuk pengobatan penyakit Hodgkin stadium IIIB dan
IV, terutama dalam kombinasi dg mekloretamin, vinkristin dan
prednison (MOPP regimen).
Prokarbazin hanya diberikan pada pasien yang sebelumnya tidak
mendapat kemoterapi. Remisi yang didapat sama dengan yang
dicapai dengan pengobatan vinblastin dan alkilator.
Mual dan muntah yang merupakan efek samping tersering pada
pemberian prokarbazin biasanya berkurang setelah 1 minggu
pengobatan. Anoreksia, stomatitis, disfagia dan diare lebih jarang
terjadi. Pada pemberian jangka panjang depresi sumsum tulang
sering terjadi, Perdarahan dapat terjadi akibat trombositopenia yaitu
berupa patekia, purpura, epistaksis, hemoptisis, hematemesis dan
melena.
BEBERAPA ANTIKANKER UTAMA
3. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER
Suatu tumor ganas hrs dianggap sbg sejml sel yg seluruhnya hrs
dibasmi (total cell-killed). Perpanjangan hidup pasien berbanding
langsung dg jml sel yg berhasil dibasmi dg pengobatan.

Hal-hal yg perlu dipertimbangkan dlm perencanaan pengobatan.
(1) Kanker baru dapat dideteksi bila jumlah sel kanker kira-kira 10
9
. Jml
yg dpt dibasmi diperkirakan 99,9% jadi sel kanker yg tersisa sekurang-
kurangnya 10
6
sel. Jelas sulit mencapai pembasmian total, karena itu
diperlukan pengobatan jangka panjang. Untuk membasmi sel tumor
sampai jumlahnya cukup dpt dikendalikan oleh mekanisme
pertahanan tubuh (10
5
).

(2) Adanya hubungan dosis-respons yg jelas. Berkurangnya sel kanker
ternyata berbanding lurus dg dosis. Di lain pihak, efek non terapi juga
berbanding lurus dg dosis. Pertimbangan untung rugi harus dilakukan
secara sangat cermat.
3. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER
(3) Diperlukan jadwal pengobatan yang tepat. Untuk dosis total yang
sama, pemberian dosis besar secara intermiten memberikan hasil
yang lebih baik dan imunosupresi yang lebih ringan, dibandingkan
dengan pemberian dosis kecil setiap hari. Jaringan normal memiliki
kapasitas pemulihan yang lebih besar daripada jaringan tumor.
Dengan dosis besar intermiten, dapat dibasmi sejumlah sel tertentu
dengan pengaruh minimal terhadap jaringan sehat. Dosis ulang
diberikan segera setelah terjadi pemulihan pasien dari etek samping
antikanker.
(4) Kemoterapi harus dimulai sedini mungkin. Hal ini didasarkan atas
kenyataan bahwa pada keadaan dini jumlah sel kanker lebih sedikil
dan fraksi sel kanker yg dlm pertumbuhan (yg sensitif thd obat) lbh
besar. Selain itu kemungkinan terdptnya klonus resisten thd obat
(drug resistant clonus) lbh kecil; obat lbh sukar mencapai bagian dlm
tumor yg besar karena buruknya vaskularisasi; dan pasien dg tumor
yg kecil umumnya masih berada dlm kondisi umum yg baik shg lbh
tahan thd efek samping kemoterapi dan sistem pertahanan tubuhnya
masih utuh.
3. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER
(5) Kemoterapi harus tertuju kepada sel kanker tanpa menyebabkan
gangguan menetap pada jaringan normal. Obat kanker yg ada pd saat
in umumnya bersifat sitotoksik, baik thd sel normal maupun sel
kanker. Toksisitas thd sel normal selalu terjadi. Tetapi kenyataan bhw
kemoterapi dpt menghasilkan pemulihan jangka panjang pd leukemia
limfositik akut membuktikan bhw penyembuhan kanker dpt dicapai
dg kemoterapi. Sel-sel yg cepat berproliferasi peka thd pengobatan,
tetapi untunglah kira-kira 15% sel sumsum tulang berada dlm
keadaan istirahat shg tdk peka thd obat.
(6) Sifat pertumbuhan tumor ganas harus menjadi pertimbangan.
Pertumbuhan tumor mengikuti fungsi Gompertzian, mula-mula
bersifat eksponensial kmd bersifat lambat (banyak sel berada dalam
Go). Apabila populasi tumor dikurangi misalnya dg radiasi atau
penyinaran maka sel sisa berkembang secara eksponensial kembali
dan menjadi lebih peka thd kemoterapi. Protokol pengobatan atas
dasar tsb telah diterapkan pd manusia.
3. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER
(7) Beberapa sitostatik dan hormon memperlihatkan efek selektif relatif
terhadap sel dengan tipe histologik tertentu.
5- fluorourasil lebih efektif terhadap tumor gastrointestinal dp thd
tumor payudara, dan bleomisin terutama efektif thd kanker kulit.
Hormon kelamin terutama efektif thd tumor payudara, tumor
prostal dan tumor endometrium yg fisiologik dipengaruhi hormon
tsb; dmk juga kortikosteroid thd tumor limfoid.
(8) Terapi kombinasi. Dasar pemberian dua atau lebih antikanker ialah
utk mendptkan sinergisme tanpa menambah toksisitas. Selain
meningkatkan indeks terapi, kemoterapi kombinasi juga dpt
mencegah atau menunda terjadinya resistensi thd obat ini.
Utk mencapai hasil yg baik terapi kombinasi hrs memenuhi syarat-
syarat sbb:
masing-masing obat hrs memiliki mekanisme kerja yg berbeda,
efek toksik masing-masing obat hrs berbeda, shg dpt digunakan dg
dosis maks yg masih dpt diterima pasien, dan
masing-masing obat hrs diberikan pd masa siklus sel, di mana
obatnya paling efektif.
3. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER
Kemoterapi kombinasi telah terbukti efektif pada leukemia akut,
penyakit Hodgkin, limfoma non-Hodgkin, karsinoma mama,
karsinoma testis, karsinoma ovarium, karsinoma saluran cerna,
neuroblasloma pada anak, tumor Wilms dan sarcoma osteogenik.
Alkilator (klorambusil) dan vinblastin memberikan efek aditif atau
sinergistik pada penyakit Hodgkin.
Kombinasi tioguanin dan sitosin arabinosid atau metotreksat dan
sitosin arabinosid bekerja sinergistik untuk mengobati leukemia. Pd
kombinasi ini jarak waktu antara pemberian kedua obat sangat kritis
(penting) utk mencapai efek maks. Jarak waktunya tdk boleh melebihi
beberapa jam saja.
Satu contoh lagi di mana jarak waktu sangat penting ialah kombinasi
antara metotreksat dan asparaginase. Bilamana asparaginase
diberikan 24 jam setelah metotreksat, diternukan efek antikanker
yang sinergistik terhadap beberapa tumor limfoid eksperimental dan
leukemia limfosit akut pd manusia.
Thankkk kyuuu yaa ^_^