Anda di halaman 1dari 4

Kapasitas adaptif jaringan periodontal dalam mengakomodasi kekuatan

yang diberikan pada mahkota bervariasi pada setiap individu. Pengaruh tekanan
oklusal pada periodonsium dipengaruhi oleh besarnya, arah, durasi, dan frekuensi
tekanan. Efek yang terjadi pada jaringan periodontal akibat tekanan oklusal
dipengaruhi oleh:
a. Besarnya tekanan oklusal
Ketika tekanan oklusal ditingkatkan, jaringan periodontal akan memberikan
respon berupa pelebaran ruang ligament periodontal, peningkatan jumlah dan
lebar dari serat-serat ligament periodontal, dan peningkatan kepadatan tulang
alveolar.
b. Perubahan arah dari tekanan oklusal
Perubahan arah ini akan menyebabkan reorientasi ketegangan dan tekanan
pada jaringan periodontal. Serat-serat ligamen periodontal telah diatur
sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi tekanan oklusal pada sumbu
gigi dengan baik. adi, tekanan lateral !hori"ontal# dan tekanan rotasi lebih
mungkin dalam melukai jaringan periodontal.
Gambar. Pola ketegangan yang berada pada sekitar akar akan berubah
apabila arah tekanan oklusal diubah. A. Pandangan bukal dari gigi molar yang
diberi tekanan pada sumbu gigi. $aerah yang berbayang mengindikasikan
bah%a ketegangan terjadi pada apikal akar. B. Pandangan bukal dari gigi
molar yang diberi tekanan pada sisi mesial dari permukaan oklusal yang
miring. $aerah berbayang mengindikasikan bah%a ketegangan terjadi
sepanjang permukaan mesial dan daerah apeks dari akar mesial.
&. $urasi dan frekuensi dari tekanan oklusal
'ekanan yang konstan pada tulang alveolar menyebabkan kerusakan yang
lebih parah daripada tekanan yang intermiten. Semakin sering terjadi tekanan
intermiten, maka kerusakan yang terjadi pada jaringan periodontal juga akan
semakin parah.
Ketika tekanan oklusal melebihi kapasitas adaptif jaringan, maka &edera
jaringan akan terjadi. (edera yang dihasilkan disebut trauma dari oklusi. adi
suatu oklusi yang menyebabkan &edera disebut juga sebagai trauma oklusi.
'rauma oklusi bisa berupa akut atau kronis. Berikut adalah penjelasan mengenai
trauma oklusi akut dan kronis:
a. 'rauma oklusi akut
'rauma oklusi akut terjadi akibat benturan yang terjadi se&ara tiba-tiba seperti
yang dihasilkan saat menggigit benda keras. )estorasi atau peralatan prostetik
yang mengganggu atau mengubah arah tekanan oklusal pada gigi juga dapat
menyebabkan trauma akut. ika penyebab dari timbulnya trauma akut tidak
dihilangkan, maka &edera periodontal dapat memburuk dan berkembang
menjadi nekrosis, disertai dengan pembentukan abses periodontal, atau dapat
bertahan sebagai kondisi kronis.
b. 'rauma oklusi kronis
'rauma oklusi kronis lebih umum terjadi daripada trauma akut. 'rauma jenis
ini biasanya berkembang se&ara bertahap karena gigi yang aus, ekstrusi gigi,
dan beberapa kebiasaan seperti bru*ism.
Lanjutan penjelasan jenis-jenis trauma primer sekunder:
Berikut adalah tiga kondisi berbeda dimana tekanan oklusal yang
berlebihan menyebabkan kerusakan jaringan periodontal:
a. aringan periodontal yang normal dengan tinggi tulang yang normal.
b. aringan periodontal yang normal dengan berkurangnya tinggi tulang.
&. Periodontitis marginalis dengan berkurangnya tinggi tulang.
Gambar. 'ekanan trauma bisa terjadi pada A. aringan periodontal yang normal
dengan tinggi tulang yang normal+ B. aringan periodontal yang normal dengan
berkurangnya tinggi tulang+ C. Periodontitis marginalis dengan berkurangnya
tinggi tulang.
Kasus pertama merupakan &ontoh dari trauma oklusi primer, sedangkan kasus
kedua dan ketiga merupakan &ontoh dari trauma oklusi sekunder.
'rauma oklusi tidak mempengaruhi gingiva margin. ,al ini disebabkan
karena pasokan darahnya tidak terpengaruh, meskipun pembuluh darah pada
ligamen periodontal terhambat karena tekanan oklusal yang meningkat. adi,
selama inflamasi masih terbatas pada gingiva saja, proses inflamasi tidak
dipengaruhi oleh tekanan oklusal. -amun, apabila inflamasi dari gingiva telah
menjalar ke jaringan periodontal !gingivitis telah beralih menjadi periodontitis
marginalis#, inflamasi yang diinduksi plak memasuki daerah yang dipengaruhi
oleh tekanan oklusi.
'rauma karena oklusi &enderung mengubah bentuk krista alveolar. Pada
trauma karena oklusi sekunder, perubahan pada bentuk krista alveolar akan
mempermudah terjadinya kehilangan tulang angular sehingga saku periodontalnya
menjadi saku infraboni.
Beberapa teori mengenai interaksi trauma dengan inflamasi telah
dikemukakan oleh para ahli yaitu :
a. 'rauma karena oklusi bisa mengubah jalur penjalaran inflamasi gingiva ke
jaringan pendukung di ba%ahnya. .nflamasi akan lebih dulu menjalar ke
ligamen periodontal, bukan ke tulang alveolar. /kibatnya, kehilangan
tulangnya menjadi angular dan sakunya menjadi saku infraboni.
b. $aerah resorpsi akar yang diinduksi trauma yang tidak dibalut oleh
perlekatan gingiva karena telah migrasi ke apikal, akan menjadi lingkungan
yang menguntungkan bagi pembentukan dan perlekatan plak dan kalkulus
sehingga akan menjurus ke terjadinya lesi yang lebih parah.
&. Plak supragingival bisa menjadi plak subgingival apabila gigi menjadi miring
!tilting# karena digerakkan se&ara ortodontik atau migrasi ke daerah
edentulous. /kibatnya terjadi perubahan saku supraboni menjadi saku
infraboni.
-amun, kombinasi inflamasi dengan trauma karena oklusi bisa saja tidak
disertai pembentukan saku infraboni dan &a&at tulang angular. ,al ini bisa
disebabkan karena:
a. .nflamasi atau traumanya tidak &ukup parah.
b. /natomi gigi atau tulang tidak menguntungkan bagi pembentukan saku
infraboni dan &a&at tulang angular.
Saat mengevaluasi pasien yang di&urigai mengalami trauma oklusal,
terdapat sejumlah gejala klinis dan radiografik. .ndikator trauma oklusi tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Klinis
- 0obilitas !progresif#
- -yeri saat mengunyah atau perkusi
- 1remitus
- Prematuritas2 diskrepansi oklusal
- Keausan yang disertai dengan beberapa indikator klinis lainnya
- 0igrasi gigi
- 3igi retak atau fraktur
- Sensitivitas termal
b. )adiografis
- Pelebaran ruang ligamen periodontal
- Kehilangan tulang !furkasi, vertikal, sirkumferensial#
- )esorpsi akar