Anda di halaman 1dari 3

Menyikapi Darurat Militer di Aceh

Oleh: A Malik Haramain


BELUM genap satu minggu darurat militer digelar, lebih dari 250 sekolah, puluhan
bangunan, dan kendaraan dibakar. Jumlah korban di masing-masing pihak, TNI maupun
Gerakan Aceh Merdeka terus bertambah.
Bahkan, kekhawatiran banyak pihak atas operasi militer yakni jatuhnya korban sipil tidak
bersenjata (non combatan) tidak terelakkan (Kompas, 22/5/ 2003).
TERLEPAS siapa yang bertanggung jawab atas timbulnya korban, yang jelas sejak Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD) ditetapkan sebagai daerah berstatus darurat militer, kenyataan
korban tidak berdosa terus bertambah. Kekhawatiran sejumlah kalangan, penyelesaian
konflik Aceh lewat operasi militer akan berdampak kekacauan sosial (social disorder) yang
lebih besar, ternyata terbukti. Sebetulnya, pemberlakuan operasi militer dan status darurat
militer sempat terjadi tarik-menarik kuat. Tarik ulur itu merupakan cermin masih kuatnya
pertarungan otoritas antara sipil dan militer.
Kecenderungan itu bisa dilihat dari sikap Presiden Megawati Soekarnoputri yang awalnya
tampak ragu-ragu memberlakukan kebijakan ini. Keppres yang sudah dibuat tidak kunjung
ditanda tangani untuk disahkan. Meski Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan
Susilo Bambang Yudhoyono menampik tudingan itu dengan alasan bahwa tidak segera
ditandatanganinya keppres dikarenakan pemerintah tidak mau dianggap grusa-grusu karena
di Tokyo sedang berlangsung perundingan damai (Kompas, 18/5/2003). Tetapi, sikap pro-
kontra di publik atas langkah pemerintah itu diakui cukup menjadikan alasan keraguan
Presiden Megawati mengeluarkan Keppres No 28 Tahun 2003. Apalagi, Presiden sendiri
pernah berjanji, dirinya tidak akan pernah menumpahkan setetes darah pun di Aceh dalam
setiap upaya penyelesaian masalah Aceh.
Selain itu, sebelum perundingan damai di Tokyo digelar, rapat konsultasi antara pemerintah
dengan legislatif dilakukan dan Keppres itu disahkan, TNI telah menerjunkan anggotanya ke
Aceh. Ini yang dipandang sebagian kalangan sebagai bentuk fait accompli militer atas
otoritas pemerintah sipil. Peristiwa ini dibaca sebagai bentuk ketidaksabaran dan
"pemaksaan" kehendak TNI agar pemerintah segera menarik diri dari meja perundingan dan
memberi payung hukum bagi dilakukannya operasi militer di Aceh.
Indikasi itu menjadi bukti, tarik menarik itu memang terjadi. Meski akhirnya pemerintah
sepakat melakukan operasi terpadu dengan status darurat militer, namun harus diupayakan
langkah-langkah strategis-komprehensif guna mengantisipasi kerusakan sosial dan kerugian
material lebih besar. Karena itu, kontrol pemerintah, parlemen, dan semua pihak terhadap
militer mutlak dilakukan.
SETIDAKNYA ada empat hal yang harus dilakukan pemerintah berkaitan makin besarnya
jumlah kerugian material dan sosial di Aceh. Pertama, pemerintah harus lebih mempersingkat
waktu operasi militer. Keputusan enam bulan (masih bisa diperpanjang lagi) bagi militer
merupakan jangka waktu terlalu lama. Asumsinya makin lama waktunya, diperkirakan akan
menimbulkan korban sosial dan trauma psikologis yang tinggi. Pemerintah harus tegas dan
jeli kapan operasi harus dihentikan. Bila perlu, pemerintah harus menekan militer agar
mempersingkat operasi militer di sana. Ini penting, sebab Panglima TNI Jenderal Endriartono
Sutarto sendiri tidak mampu memastikan kapan operasi militer ini berakhir (Kompas,
20/5/2003). Sebagai perbandingannya, jika Amerika Serikat saja berani mematok waktu satu
bulan penuh untuk operasi militer menggulingkan Pemerintahan Saddam Hussien di Irak,
seharusnya TNI pun mampu mengukur kapan operasi ini harus diakhiri. Tidak saja hal ini
berkait besarnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah, lebih dari itu, proses dan biaya
rehabilitasi Aceh pascaoperasi militer juga akan bertambah sulit dan lama. Apalagi situasi
perekonomian kita juga tidak begitu baik.
Kedua, korban sosial dan masyarakat sipil harus diminimalisir sedemikian rupa hingga pada
titik zero accident. Ini persoalan berat bagi TNI maupun pemerintah. Salah satu kendalanya
adalah secara kasat mata, TNI sulit membedakan antara masyarakat yang anti-GAM dengan
pengikut GAM. Pemisahan (lokalisasi) yang telah dilakukan militer, ternyata belum
sepenuhnya berhasil. Ini menunjukkan, GAM lebih menguasai medan pertempuran (Aceh)
dibanding prajurit TNI. Banyaknya sekolah yang dibakar juga membuktikan, TNI kurang
sigap mengamankan seluruh fasilitas publik yang seharusnya dilindungi. Belum lagi jalur
transportasi darat dari dan menuju Aceh juga terhenti total.
Pemerintah harus diingatkan, jangan hanya memperketat penjagaan ladang, instalasi, Kantor
Exxon, dan LNG Arun saja karena keamanan proyek- proyek itu akan membantu
peningkatan pendapat daerah Aceh. Fasilitas pendidikan seperti sekolah juga harus
diperhatikan dan tidak ada lagi penculikan kepada aktivis pejuang HAM yang ikut memantau
operasi terpadu di Aceh.
Ketiga, pemerintah juga harus memberi porsi rasional menyangkut budget Rp 1,23 triliun
untuk dana tambahan operasi militer yang masih menjadi pertanyaan publik. Lebih baik
anggaran itu dikonsentrasikan untuk kesejahteraan dan rehabilitasi Aceh pascaperang.
Apalagi, jika dalam waktu enam bulan itu diperpanjang lagi, maka dipastikan tambahan dana
akan ikut membengkak. Karena itu, sekali lagi jangan sampai budget menjadi alasan berlama-
lama dalam operasi. Apalagi pemerintah membeli pesawat tempur Sukhoi-27 SK, dua
Sukhoi-30 MK, dan dua helikopter MI-35 dari Moskwa yang prosesnya dilakukan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan dan Kepala Bulog bukan melalui Menteri Pertahanan, yang
bila ditaksir akan membebani APBN Rp. 1,728 triliun lebih (Kompas, 21/5/2003).
Keempat, problem pelanggaran hak asasi manusia (HAM), seperti diketahui UU No 23
Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya yang menjadi dasar pemberlakuan darurat militer di
Aceh, setidaknya memberi 30 hak kepada penguasa darurat militer yang beberapa hak itu
bahkan melanggar HAM pada kondisi normal. Bukan hanya persoalan berbagai bentuk
pemberitaan harus disensor, namun juga adanya kewenangan penguasa darurat militer untuk
melakukan remiliterisasi jawatan perusahaan, perkebunan atau suatu jabatan. Indikasi itu
mulai terbukti. Melalui Mendagri Hari Sabarno, pemerintah menyatakan, kini 30-40 persen
kinerja pemerintahan di NAD lumpuh karena ada kekosongan pemerintahan di beberapa
wilayah Provinsi NAD. Karena itu, Mendagri akan menempatkan mantan anggota TNI
mengisi jabatan lowong itu. Alasannya, sebagai bentuk operasi pemantapan kinerja
pemerintahan.
KARENA itu, pemerintah dan penguasa darurat militer harus mendapat tekanan publik agar
tetap memperhatikan penegakan HAM, hukum humaniter, dan berbagai ketentuan Konvensi
Geneva dalam memberlakukan operasi terpadu. Bila perlu pemerintah mengundang Komnas
HAM dan berbagai institusi pejuang HAM lainnya di tanah air untuk ikut aktif terlibat
sebagai pengawas pemberlakuan darurat militer di Aceh.
Dengan demikian, upaya mempertahankan integritas NKRI di Aceh dengan menggelar
operasi terpadu harus dikembalikan ke dalam pakem negara demokrasi, di mana tiap upaya
menyelesaikan konflik harus berprinsip pada jalur damai (diplomasi) melalui meja
perundingan.
Semua elemen bangsa sepakat, integritas NKRI sudah final, segala bentuk separatisme harus
dilumpuhkan, tetapi apa gunanya operasi militer di Aceh jika nilai-nilai HAM dan demokrasi
ikut diinjak-injak.
A Malik Haramain, Pemerhati Relasi Sipil-Militer dan Ketua Umum PB-PMII
http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=1930&coid=3&caid=22