Anda di halaman 1dari 76

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 83



I N D O N E S I A
PENGARUH SENAM TAI CHI DAN SENAM BIASA TERHADAP REDUKSI NYERI
OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
GAU MABAJI GOWA TAHUN 2013

Dita Arundhati
1
, A. Zulkifli Abdullah
2
, Noer Bahri Noor
2
,

1
Alumni Program Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

This study aimed to analyze the effect of Tai Chi and regular exercise to reduce osteoarthritis knee
pain of elderly in Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa, 2013. This is a quasi experiment
research nonrandomized pretest-posttest control group design. Samples were 21 elderly consisting of tai chi
group, regular exercisers group and control group. Sampling is collected by purposive sampling, consider of
inclusion and exclusion criteria. The data was collected using check lists, questionnaires and Lequesne
index as a instrument to measure pain responders. Data were analyzed using Wilcoxon test, Mann-Whitney
test and the Kruskall Wallis. The results showed that there was no significant difference (p = 0.221) of
osteoarthritis knee pain reduction after and before doing Tai Chi. Regular exercise also showed no
significant difference (p = 0.705) of osteoarthritis knee pain reduction after and before doing intervention.
Mean difference osteoarthritis knee pain reduction of Tai Chi and regular exercise was not statistically
significant (0.85).

Keywords: Tai Chi, Elderly, Osteoarthritis

PENDAHULUAN
Di seluruh dunia, osteoartritis (OA) diperkirakan menjadi penyebab utama keempat kecacatan.
Osteoartritis terjadi pada lebih dari 27 juta penduduk amerika (Helmick et al, 2008). Di Inggris dan Wales
sekitar 1,3 hingga 1,75 juta orang menderita simptom osteoartritis. Di Amerika, 1 dari 7 penduduk menderita
osteoartritis. Dimana, Badan Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang mengalami Osteoartritis tercatat
8,1% dari penduduk total. Pravelansi mencapai 5% pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan
65% pada usia 61 tahun.
Aktifitas fisik merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan
menurunkan risiko terjadinya nyeri karena oasteoarthritis pada lansia. Hasil penelitian Ayu (2012) berupa
terapi senam lansia yang dilakukan selama seminggu menunjukkan bahwa sebesar 86,7% lansia memiliki
skala nyeri 0 atau tidak nyeri dan 13,33% lansia mempunyai skala nyeri 1 atau skala nyeri ringan.
Selain senam lansia, terdapat Tai Chi adalah olah raga tradisional Cina dengan gerakan lambat,
pernafasan yang dalam, dan pemusatan pikiran dengan unsur meditasi. Gerakan yang lembut dari Tai Chi ini
dapat menjadi pilihan olahraga yang baik bagi para orang tua. Hal ini dapat terlihat dari dimasukkannya Tai
Chi sebagai rekomendasi olahraga bagi lansia pada website osteoartritis (Arthtritis Foundation). Penelitian
yang dilakukan oleh Wang (2009), di minggu ke-12 Tai Chi menunjukkan penurunan yang signifikan pada
nyeri lutut sesuai dengan skala WOMAC jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu -118,80 (95% CI
-183,66 to -53,94; p = 0,0005).
Dibandingkan dengan senam, gerakan Tai Chi lebih lemah lembut, gemulai. Gerakan yang tenang,
lambat, beraturan akan membawa emosi yang tenang pula. Itu akan mempunyai efek terapeutis pada
keadaan emosi yang gelisah, bergejolak. Tampaknya sifat gerakan Tai Chi inilah yang membuatnya lebih
disukai dan dinikmati masyarakat dunia. Di sinilah letak keunggulan Tai Chi terhadap jenis senam lainnya
yang juga tergolong aliran garis lunak. Dan salah satu upaya kuratif dalam menanggulangi OA lutut pada
lansia.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental dengan rancangan The Nonrandomized Pre
Test Post Control Group Design, yang dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa,
selama 6 minggu terhitung dari bulan April sampai Juli Tahun 2013.
Populasi dan sampel
Populasi penelitian ini adalah semua lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa
Tahun 2013, sedangkan sampel penelitian di ambil secara Purposive Sampling dari populasi yang memenuhi
kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Sampel yang akan diintervensi yaitu sebanyak 21 lansia yang kemudian
masing-masing dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok senam tai chi (7 orang), kelompok senam biasa (7
orang) dan kelompok control (7 orang).


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 84

I N D O N E S I A
Pengumpulan data
Instrumen penelitian ini adalah kuesioner untuk mengisi data karakteristik responden, check list
untuk mengisi data nilai pengukuran nyeri responden secara kontinyu, dan indeks Lequesne sebagai alat
untuk mengukur nyeri responden. Pengukuran di lakukan sebelum senam pertama dan setelah senam ke dua
belas. Selain itu, terdapat data sekunder berupa catatan medis Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji
Gowa dan referensi lain yang memiliki hubungan dengan topik penelitian.
Formulir persetujuan setelah penjelasan (inform consent) juga disertakan pada saat penelitian.
Analisis data
Data yang terkumpul akan dilakukan pemeriksaan data (data cleaning), koding, tabulasi dan
selanjutnya akan diolah dengan menggunakan program spss. Data yang disajikan dalam bentuk tabel
frekuensi dan hasil uji hipotesis penelitian (Uji Mann Whitney, uji Wilcoxon, dan uji Kruskall Wallis).

HASIL
Karakteristik sampel
Tabel 1 menujukkan karakteristik responden yang menjadi subjek penelitian. Berdasarkan usia,
sebagian besar responden berusia 65, yang terbagi atas: kelompok senam tai chi (71,4%), kelompok kontrol
(100%) dan kelompok senam biasa (100%). Sebagian besar sampel dari kelompok Tai Chi berjenis kelamin
perempuan (85,7%), begitu pula dengan kelompok senam biasa (57,1%), sedangkan pada kelompok kontrol
paling banyak berjenis kelamin laki-laki (57,1%). Pada variabel pendidikan ditemukan bahwa sebagian
besar responden tidak tamat SD baik pada kelompok senam Tai Chi (85,7%), senam biasa (71,4%) dan
kontrol (71,4%).

Tabel 1. Karakteristik Responden Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa
Tahun 2013

Variabel
(n = 21)
Senam Tai Chi
(n = 7)
Senam Biasa
(n = 7)
Kontrol
(n = 7)
n % n % n %
Umur (Tahun)
<65
65
2
5
28,6
71,4
0
7
0
100
0
7
0
100
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan

1
6

14,2
85,7

3
4

42,8
57,1

4
3

57,1
42,8
Pendidikan
Tidak Tamat SD
SD/Sederajat
Tidak Tamat SMP
SMP/Sederajat
Tidak Tamat SMA
SMA/Sederajat

6
1
0
0
0
0

85,7
14,2
0
0
0
0

5
0
0
1
0
1

71,4
0
0
14,2
0
14,2

5
0
0
1
0
1

71,4
0
0
14,2
0
14,2
Data Primer

Analisis bivariat
Tabel 2 menujukkan bahwa tidak ada perbedaan penurunan nyeri lutut pada responden sebelum (p
= 0,902 (p>0,05)) dan sesudah (p = 0,710 (p>0,05)), melakukan senam Tai Chi dengan yang melakukan
senam biasa. Tidak ada perbedaan penurunan nyeri lutut pada responden sebelum (p = 0,805 (p>0,05)) dan
sesudah (p = 0,620 (p>0,05)), melakukan senam Tai Chi dengan kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan
penurunan nyeri lutut pada responden sebelum (p = 0,383 (p>0,05)) dan sesudah (p = 0,383 (p>0,05)),
melakukan senam biasa dengan kelompok kontrol.

Tabel 2. Perbedaan Penurunan Nyeri Lutut Responden Pada Masing-masing Kelompok Perlakuan
dan Kontrol Sebelum dan Setelah Intervensi

Kelompok
Sebelum Sesudah
n Mean Rank Pvalue n Mean Rank Pvalue
Senam Tai Chi
Senam Biasa
7
7
7,71
7,29
0,902*
7
7
7,07
7,93
0,710*
Senam Tai Chi
Kontrol
7
7
7,21
7,79
0,805*
7
7
6,86
8,14
0,620*
Senam Biasa
Kontrol
7
7
6,43
8,57
0,383*
7
7
6,43
8,57
0,383*
Data Primer
*) Uji Mann Withney
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 85

I N D O N E S I A
Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan penurunan nyeri lutut sebelum
dengan sesudah melakukan senam Tai Chi (p = 0,221 (p>0,05)), tidak ada perbedaan yang signifikan
penurunan nyeri lutut sebelum dengan sesudah melakukan senam biasa (p = 0,705 (p > 0,05)), dan tidak ada
perbedaan yang signifikan penurunan nyeri lutut sebelum dengan sesudah pada kelompok control (p = 0,157
(p > 0,05)).

Tabel 3. Rerata Nyeri Lutut Responden Pada Masing-masing Kelompok Perlakuan dan Kontrol
Sebelum dan Setelah Intervensi

Kelompok n Mean Rank Pvalue
Senam Tai Chi
Pretest
Posttest
14

4,00
1,50
0,221
Senam Biasa
Pretest
Posttest
14

4,00
2,00
0,705
Kontrol
Pretest
Posttest
14

00
1,50
0,157
Data Primer
*) Uji Wilcoxon

Tabel 4 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan nyeri lutut
pada responden yang melakukan senam Tai Chi, senam biasa dan kelompok kontrol, baik sebelum
(p=0,727), maupun sesudah (p=0,663) dilakukan intervensi.

Tabel 4. Distribusi Rata-rata Nyeri Lutut Responden pada masing-masing kelompok perlakuan dan
kontrol

Kelompok n
Pretest Posttest
Mean Rank Pvalue Mean Rank Pvalue
Senam Tai Chi
Senam Biasa
Kontrol
21
10,93
9,71
12,36
0,727*
99,3
10,36
12,71
0,663*
Data Primer
*) Uji Kruskall Wallis

PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada penurunan nyeri
lutut sebelum dan sesudah dilakukan intervensi senam Tai Chi. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan
Hall et all (2009) yakni suatu studi meta analisis yang menilai delapan penelitian randomized control trial
ternyata Tai Chi hanya mempunyai nilai positif yang kecil untuk mengurangi nyeri pada lutut. Peneliti
menduga, tidak adanya penurunan nyeri lutut sebelum dan sesudah dilakukan intervensi ini disebabkan
karena selama enam minggu intervensi senam Tai Chi hanya dilakukan dua belas kali atau dengan kata lain
senam hanya dilakukan dua kali dalam seminggu, sedangkan untuk mendapatkan hasil yang efektif senam
Tai Chi harus dilakukan setiap hari selama dua belas minggu sebagaimana penelitian yang dilakukan Wang
(2009).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok senam Tai Chi rata-rata mengalami penurunan
nyeri lutut yang lebih besar dibanding dengan kelompok senam biasa. Bila dibandingkan antara kelompok
senam tai chi dan senam biasa, maka intervensi untuk penurunan nyeri lutut dengan senam tai chi jauh lebih
baik bila dibandingkan dengan hanya melakukan senam biasa.
Senam Tai Chi yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan tonus otot dan memperkuat otot-
otot yang lemah sehingga otot sendi lebih fleksibel dan orang akan merasakan kenyamanan dan rasa nyeri
akan lebih banyak berkurang. Penelitian Lam dan Horstman (2002), yang melakukan intervensi dengan
modifikasi gaya Tai Chi Excersice for Arthritis (TCEA) pada lansia menunjukan bahwa ada peningkatan
kekuatan otot, keseimbangan, kelenturan atau fleksibilitas dan mampu meningkatkan ambang nyeri, serta
memperbaiki quality of life secara keseluruhan.
Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Chenchen Wang et all (2009) pada 20
orang lansia yang menilai efektifitas senam tai chi terhadap penurunan osteoarthritis menunjukan bahwa
selam dua minggu perlakuan ternyata senam tai chi dapat mengurangi rasa nyeri, depresi, dan meningkatkan
fungsi fisik, kemampuan diri dan kesehatan.


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 86

I N D O N E S I A
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rerata
penurunan nyeri penderita Osteoartritis lutut sebelum dan sesudah dilakukan senam Tai Chi maupun senam
biasa pada lansia. Selain itu, perbedaan rerata penurunan nyeri penderita Osteoartritis lutut pada senam Tai
Chi dengan senam biasa tidak signifikan secara statistik.
Penelitian ini dapat menjadi pertimbangan penerapan latihan senam Tai Chi untuk meningkatkan
kualitas pernafasan pada orang tua yang berusia diatas 50 tahun, dimana dengan gerakannya yang halus dan
lembut sangat cocok untuk kondisi fisik orang tua. Diharapkan pula adanya penelitian lebih lanjut dengan
jumlah sampel yg lebih besar, kelompok umur yang berbeda, dan waktu yang lebih lama untuk mengetahui
efek lain dari senam Tai Chi ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ayu, D. A. (2012. Pemberian Intervensi Senam Lansia pada Lansia dengan Nyeri Lutut. Jurnal Nursing
Studies. 1 (1) : 60-65.
Hall, A. dkk. (2009). The Effectiveness of Tai Chi for Chronic Musculoskeletal Pain Condition : A
systematic Review and Meta-Analysis. Arthritis & Rheumatism (Arthritis Care & Research) Vol.
61, No. 6, pp 717-724.
Helmick, dkk. (2008). Estimates of the Prevalence of Arthritis and Other Rheumatic Conditions in the
United States. DOI Vol. 58, No. 1, pp 1525.
Lam, P. & Horstman, J. (2002). Overcoming Arthritis. New York: DK Publishing, Inc.
Wang, dkk. (2009). Tai Chi is Effective in Treating Knee Osteoarthritis: A Randomized Controlled Trial.
NIH Public Access, 61(11): 15451553. doi:10.1002/art.24832.









































JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 87

I N D O N E S I A
HUBUNGAN KADAR FLUOR AIR MINUM TERHADAP KARIES GIGI PADA ANAK
SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN LANDONO KABUPATEN KONAWE SELATAN
PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Erni Sunubi

Dinas Kesehatan Kab. Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara

ABSTRACT

The aim of the study was to discover the correlation between potable water fluor and dental caries
of elementary school children in Landono district, South Konawe regency, Southeast Sulawesi province. The
study was cross sectional. The number of samples was 144 six graders elementary school children aged 12
years selected by proportional stratified random sampling. The water samples were collected from water
resources consumed by the children. The dental examination was conducted at their respective schools and
the water sample examination was done at the Health Laboratory of Southeast Sulawesi province in March
2008. The results of the study indicate that the damage level of dental caries (DMF-T) is on the average 3,29
with the percentage of free caries (DMF-T = 0) 18,8% and the percentage of caries thickness (C1-C4) is
81,2% (n = 144). The highest fluor level is 0,42 ppm and the lowest one is 0,09 ppm. The average water
fluor before boiling is 0,214 ppm and after boiling 0,212 ppm . The Spearman Rank correlation analysis
indicates that the water fluor before boiling (p = 0,018) and after boiling (p = 0,022) correlates with the
damage level of dental caries (DMF-T) with the weakest correlation (r = - 0,197 and r = -0,191). This
means that the higher the fluor level, the lower level the DMF-T value.

Key words : fluor level, dental caries damage level (DMF-T), dental caries thickness level

PENDAHULUAN
Pada tahun 1999 karies gigi menyerang 4,6 juta penduduk dunia atau sekitar 0,3 % penduduk dunia
terkena karies gigi dengan 2,3 juta pada laki- laki dan 2,28 juta pada perempuan. Persentase karies gigi anak
sekolah dasar di Arkansas, Amerika Serikat pada tahun 2001 hingga tahun 2003 mencapai 72,2% (Wang,
dkk., 2004).
Di Indonesia penyakit karies gigi serta penyakit jaringan gusi masih tinggi, kurang lebih mencapai
80% dari jumlah penduduk. Tingginya prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal, serta belum berhasil
usaha untuk mengatasinya. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor distribusi penduduk, faktor
lingkungan, faktor perilaku dan faktor pelayanan kesehatan yang berbeda-beda pada masyarakat Indonesia
(Suwelo, dkk., 1994).
Pada umumnya manusia membutuhkan air untuk keperluan hidup sehari-hari. Adanya fluor dalam
air minum akan sangat berpengaruh terhadap intake fluor yang diterima oleh orang tersebut disamping itu
makan makanan dan minuman yang mengandung banyak fluor seperti teh dan ikan laut. Kandungan fluor air
minum ditiap-tiap tempat berbeda. Keadaan ini disebabkan karena penduduk mendapat sumber air yang
berbeda-beda. Keadaan yang berbeda tersebut diduga akan mengakibatkan perbedaan frekuensi karies gigi
bahkan dapat terjadi fluorosis atau hipoplasia email (Sutadi, dkk., 1990).

Penelitian yang dilakukan oleh Monang Panjaitan 2003 mengenai pengalaman karies pada anak
usia 12 sampai 15 tahun yang minum air sumur bor dan air leding di kampung nelayan dan uni kampung
belawan menunjukkan bahwa pengalaman karies gigi tetap anak yang minum air sumur bor lebih kecil
dibanding anak yang minum air leding dan secara statistik bermakna. Dengan demikian fluoride yang
terkandung dalam air sumur bor mempunyai pangaruh terhadap prevalensi karies. Menurut Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO), indikator derajat kesehatan gigi dan mulut anak usia 12 tahun pada tahun 2000
dengan nilai skor DMF-T 3 dengan prevalensi karies aktif 63% (Kristianti, dkk., 2002).
Data 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Konawe Selatan tahun 2007, penyakit gigi dan mulut
menempati rangking 5 sebanyak 4.593 (7,93%) dari jumlah penduduk 242.929 jiwa. Data dari Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas (SP2TP) dalam Profil Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan
tahun 2007 menunjukkan bahwa untuk Kabupaten Konawe Selatan jumlah murid sekolah dasar sebanyak
31.294 orang, yang membutuhkan perawatan sebanyak 20.317 orang (64,9%) dan yang telah mendapat
perawatan sebanyak 3.194 orang (15,7%), sedangkan untuk Kecamatan Landono tahun 2006 jumlah
sekolah dasar sebanyak 15 buah dengan jumlah murid sekolah dasar sebanyak 1.488 orang, yang
membutuhkan perawatan sebanyak 1.037 orang (69,6%) dan yang telah mendapat perawatan sebanyak 286
orang (27,5%).
Tingginya prevalensi karies gigi pada anak sekolah dasar dan keadaan geografi Kecamatan Landono
serta belum tersedianya data tentang kadar fluor di Kabupaten Konawe Selatan dan khususnya Kecamatan
Landono mendorong dilakukannya penelitian mengenai hubungan kadar fluor air minum terhadap karies
gigi pada anak sekolah dasar, dimana anak-anak tersebut dilahirkan dan bertempat tinggal di wilayah
Kecamatan Landono hingga penelitian dilakukan.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 88

I N D O N E S I A
BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional study.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Waktu penelitian selama 2 bulan, mulai bulan Maret sampai April 2008.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak sekolah dasar kelas VI di Kecamatan Landono,
berdasarkan survei pendahuluan sebanyak 224 orang. Sampel pada penelitian ini adalah anak sekolah dasar
berusia 12 tahun yang lahir dan bertempat tinggal di daerah penelitian sampai dilakukannya penelitian.
Pengambilan sampel dilakukan secara Proportional Stratified Random Sampling dan besar sampel 144
orang. Adapun sampel air minum ditentukan berdasarkan tempat tinggal anak-anak sekolah dasar berusia 12
tahun yang telah diperiksa karies giginya.
Analisa data
Untuk variabel tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pola/frekuensi menyikat gigi dan
frekuensi mengkonsumsi permen, serta pH saliva. Uji statistik yang digunakan adalah Korelasi Spearman
Rank untuk variabel kadar fluor dalam air minum dan tingkat keparahan karies gigi (DMF-T).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tingkat Keparahan Karies Gigi (DMF-T)
Tabel 1 menunjukkan bahwa DMF-T = 0 (bebas karies) paling banyak yaitu 27orang (18,8%),
kemudian pada DMFT = 3 sebanyak 24 orang (18,7%), dan DMF-T = 1 dan 8 sebanyak 3 orang (2,1%)
paling rendah sebanyak 1 serta 3 orang yang mempunyai pengalaman karies sebanyak 8.

Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan tingkat keparahan karies (DMF-T) di Kecamatan
Landono Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

DMF-T Jumlah Persen
0 27 18,8
1 3 2,1
2 23 16,0
3 24 16,7
4 22 15,3
5 20 13,9
6 13 9,0
7 9 6,3
8 3 2,1
Jumlah 144 100,0
Data Primer

Tingkat Keparahan Karies (DMF-T) Rata-rata
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah D (Decay) atau banyak gigi yang berlubang tertinggi yaitu 382
gigi dengan rata rata 2,65, kemudian M ( Missing) atau banyaknya gigi yang hilang sebanyak 92 gigi atau
rata-rata 0,64 dan F (Filling) atau gigi dengan tambalan 0, artinya dari 144 responden (474 gigi) yang telah
diperiksa ditemukan paling banyak gigi berlubang karena karies, kemudian gigi yang hilang karena karies
atau indikasi pencabutan dan tidak ditemukan gigi yang mempunyai tambalan, sehingga didapatkan nilai
DMF-T rata-rata 3,29.

Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan tingkat keparahan karies (DMF-T) rata-rata di
Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

Karies gigi Jumlah gigi Rata rata
D 382 2.65
M 92 0.64
F 0 0
Jumah 474 3,29
Data Primer

Karies Gigi
Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 144 responden yang telah diperiksa, ada 27 responden yang tidak
karies (18,8%), sedangkan yang menderita karies gigi mulai dari kedalaman pada email sampai pada akar
gigi sebanyak 117 orang (81,2%).


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 89

I N D O N E S I A
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan tingkat kedalaman karies (CO-C4) di Kecamatan Landono
Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

Karies gigi Jumlah Persen
C0 (Tidak ada karies) 27 18,8
C1 C4 (Ada karies) 117 81,2
Jumlah 144 100,0
Data Primer

Analisis Multivariat
Karies gigi dengan kadar fluor sebelum dididihkan
Berdasarkan hasil pemeriksaan karies gigi dan hasil pengukuran kadar fluor air sebelum dididihkan,
maka didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 5. Distribusi karies gigi dengan kadar fluor sebelum dididihkan di Kecamatan Landono Kabupaten
Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

Sebelum
dididihkan (Fluor 1)
Karies Gigi
Jumlah
Karies Tidak Karies
n % n % n %
Sangat rendah < 0,3 81 83,5 16 16,5 97 100,0
Rendah 0,3 0,7 36 76,6 11 23,4 47 100,0
Jumlah 117 81.3 27 18.8 144 100.0
Data Primer

Karies gigi dengan kadar fluor setelah dididihkan
Berdasarkan hasil pemeriksaan karies gigi dan hasil pengukuran kadar fluor setelah dididihkan, maka
didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 6. Distribusi karies gigi dengan kadar fluor setelah dididihkan di Kecamatan Landono Kabupaten
Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

Setelah dididihkan
(Flour 2)
Karies Gigi
Jumlah
Karies Tidak karies
n % n % n %
Sangat rendah < 0,3 81 83,5 16 16,5 97 100,0
Rendah 0,3 0,7 36 76,6 11 23,4 47 100,0
Jumlah 117 81.3 27 18.8 144 100.0
Data Primer

Tabel 5 dan 6 menunjukkan bahwa responden yang mempunyai karies gigi lebih banyak
mengkonsumsi kadar fluor yang sangat rendah (83,5%) dan rendah (76,6%) adalah sama sebelum dididihkan
dan setelah dididihkan (83,5%). Demikian pula dengan responden yang tidak mempunyai karies gigi lebih
banyak mengkonsumsi kadar fluor yang rendah (23,4%) dan sangat rendah (16,5%) adalah sama sebelum
dan setelah dididihkan. Artinya kadar fluor tetap memberikan kontribusi untuk terjadinya karies gigi, namun
menurut (Roth, dkk., 1981) secara klinik untuk perkembangan karies gigi membutuhkan waktu yang lama
rata-rata 12-24 bulan.

Kadar fluor terhadap keparahan karies gigi (DMF-T)
Tabel 7 menunjukkan bahwa responden yang mempunyai DMF-T sangat rendah mempunyai sumber
air minum yang lebih banyak mengandung kadar fluor rendah yaitu (23,4%). Responden yang mempunyai
DMF-T sangat tinggi mempunyai sumber air minum yang lebih banyak mengandung kadar fluor sangat
rendah yaitu (10,3%).

Tabel 7. Kadar fluor terhadap keparahan karies gigi (DMF-T) anak SD di Kecamatan Landono Kabupaten
Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008

kadar Fluor
Keparahan Karies gigi (DMF-T)
Jumlah
Sangat
rendah
< 1,2
Rendah
1,2 2,6
Sedang
2,7 4,4
Tinggi
4,5 6,6
Sangat
tinggi
>6,6
n % n % n % n % n % n %
Sangat rendah <0,3 19 19,6 14 14,4 29 29,9 25 25,8 10 10,3 97 100,0
Rendah 0,3 -0,7 11 23,4 9 19,1 17 36,2 8 17,0 2 4,3 47 100,0
Jumlah 30 20,8 23 16,0 46 31,9 33 22,9 12 8,3 144 100,0
Data Primer
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 90

I N D O N E S I A
PEMBAHASAN
Keadaan Karies Gigi Anak SD
Pada penelitian ini hasil DMF-T rata-rata 3,29. Hasil tersebut menurut WHO termasuk dalam
kategori sedang dan sedikit berbeda dari Profil Kesehatan Gigi dan Mulut 2005 bahwa target yang
ditetapkan WHO untuk indikator derajat kesehatan gigi dan mulut anak usia 12 tahun yaitu DMF-T 3.
Mengenai jumlah bebas karies hanya sebanyak 27 orang dari 144 anak secara epidemiologi mempunyai
alasan tertentu mengenai keterkaitan berbagai faktor penyebab kejadian karies, menurut Suwelo,IS 1994
bahwa perbedaan suku/ras, budaya, lingkungan agama akan menyebabkan perbedaan karies. Diketahui
bahwa masyarakat Kecamatan Landono adalah masyarakat yang multi etnis, juga karena faktor susunan
gigi yang berjejal yang biasanya sulit dibersihkan dari sisa makanan.
Kadar fluor air
Pada tabel terlihat bahwa ada perubahan kadar fluor tertinggi setelah dididihkan, hal ini disebabkan
karena fluor bereaksi dengan silica membentuk silicafluorit yang larut dalam air. Namun pada penelitian ini
dari 27 sampel air yang diteliti ada 21 sampel air yang tidak mengalami perubahan kadar fluor sebelum dan
setelah dididihkan, hal ini disebabkan karena fluor tidak mudah menguap hanya dengan dididihkan kecuali
bila dipijarkan(dibakar) pada suhu sekitar 600 C. Hai ini berarti bahwa kadar fluor yang baik untuk
dikonsumsi adalah kadar fluor yang tidak mengalami perubahan setelah dididihkan, dengan asumsi bahwa
air sebelum dikonsumsi oleh masyarakat terlebih dahulu harus dididihkan. Dengan kadar fluor yang tidak
mengalami perubahan sebelum dan setelah dididihkan, maka air yang dikonsumsi tidak kehilangan
kandungan kadar fluor, meskipun pada hasil pemeriksaan laboratorium ternyata kadar fluor air di Kecamatan
Landono masih rendah dan ada beberapa desa yang masih sangat rendah kadar fluornya. Dean dari US
Public Health Service menganjurkan pemakaian 1 ppm fluoride dalam air minum. Ternyata insiden karies
menurun 50-60% dan tidak ditemukan mottled enamel.
Sampel air yang berasal dari mata air, perpipaan dan sebagian sumur gali tidak mengalami
perubahan kadar fluor setelah dididihkan. Kadar fluor tertinggi sebelum dididihkan pada sumur gali (0,42
ppm) dan terendah pada sumur gali dan mata air (0,09 ppm). Sedangkan kadar fluor air tertinggi setelah
dididihkan terdapat pada sumur gali (0,40 ppm) dan terendah pada sumur gali dan mata air (0,09 ppm), Ada
perbedaan berarti pada distribusi bebatuan yang dengan mudah melepaskan fluor, dimana nampak bahwa
perbedaan kandungan fluor sebagai akibat perbedaan kondisi hidrogeologik lokal. Fluor yang terkandung
dalam air tanah berbeda tergantung adanya kandungan fluor yang terbentuk pada kedalaman yang berbeda.
Kadar fluor air sebelum dan setelah dididihkan dengan keparahan karies gigi (DMF-T)
Pada penelitian ini kadar fluor sebelum dan setelah dididihkan umumnya tidak mengalami
perubahan, jadi anak yang mempunyai DMF-T sangat rendah mempunyai sumber air minum yang lebih
banyak mengandung kadar fluor rendah yaitu 23,4%, sedangkan anak yang mempunyai DMF-T sangat
tinggi mempunyai sumber air minum yang lebih banyak mengandung kadar fluor yang sangat rendah
(10,3%). Pada penelitian yang dilakukan oleh Monang Panjaitan (2003) mengenai pengalaman karies pada
anak usia 12 sampai 15 tahun yang minum air sumur bor dan air leding di Kampung Nelayan dan Uni
Kampung Belawan menunjukkan bahwa pengalaman karies gigi tetap anak yang minum air sumur bor lebih
kecil dibanding anak yang minum air leding dan secara statistik bermakna. Fluoride yang terkandung dalam
air sumur bor mempunyai pangaruh terhadap prevalensi karies. Kadar fluor sebelum dan setelah dididihkan
memberikan kontribusi terhadap kejadian karies dan proses terjadinya karies membutuhkan waktu yang
lama 12-24 bulan.
Hubungan kadar fluor air minum terhadap karies gigi
Untuk melihat hubungan kadar fluor air minum terhadap karies gigi digunakan analisis Korelasi
Spearman Rank. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fluor
sebelum dididihkan (p = 0,018) dan setelah dididihkan (p = 0,022) berhubungan dengan karies gigi dengan
kekuatan hubungan yang sangat lemah ( r = - 0,197 dan r = - 0,191). Jadi dalam hal ini kadar fluor dalam
air minum berhubungan dengan karies gigi dan hubungan tersebut berbanding terbalik artinya semakin
tinggi kadar fluor air semakin rendah terjadinya karies gigi, sehingga hipotesis diterima. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Agtini (1988) pada anak SD di Kecamatan Asem Bagus, Jawa Timur
menunjukkan bahwa makin tinggi kadar fluor dalam air makin rendah prevalensi karies gigi diantara anak-
anak yang diperiksa, demikian pula hubungan sebaliknya.
Pada hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa kadar fluor dalam air minum di Kecamatan Landono
termasuk dalam kategori rendah dan ada beberapa tepat yang sangat rendah. DMF-T rata-rata 3,29 yang
menurut WHO termasuk kriteria sedang, dan kebanyakan tingkat kedalaman karies masih dalam kriteria
karies pada email (karies dangkal). Selain itu secara deskriptif terlihat bahwa cara dan waktu menyikat gigi
serta frekuensi mengkonsumsi permen juga berkontribusi menyebabkan karies gigi. Hal lain yang
menyebabkan nilai DMF-T dalam kriteria sedang karena pengetahuan anak tentang kesehatan gigi dan mulut
semakin bertambah didukung dengan adanya media informasi yang sudah semakin luas dan terjangkau.

KESIMPULAN DAN SARAN
Dapat disimpulkan bahwa kadar fluor air minum di Kecamatan Landono tertinggi 0,42 ppm
(rendah) dan terendah 0,09 ppm (sangat rendah) dengan kadar fluor rata-rata sebelum dididihkan 0,214 ppm
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 91

I N D O N E S I A
dan setelah dididihkan 0,212 ppm. Sedangkan Dean dari US Public Health Service menganjurkan pemakaian
1 ppm fluor dalam air minum. Tingkat keparahan karies gigi (DMF-T) rata-rata anak SD di Kecamatan
Landono tergolong sedang (3,29) dengan jumlah bebas karies (DMF-T =0) sebanyak 27 orang (18,8 %) dari
144 orang yang diteliti dan tingkat kedalaman karies (C1-C4) masih dalam kategori karies dangkal (karies
pada email). Ada hubungan antara kadar fluor air minum terhadap karies gigi anak sekolah dasar di
Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Semakin tinggi kadar fluor
dalam air minum semakin rendah tingkat keparahan karies gigi (nilai DMF-T rendah) ,demikian pula
sebaliknya. Disarankan kepada masyarakat melakukan fluoridasi baik melalui fluoridasi air minum,
penggunaan pasta gigi yang berfluoride maupun mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
fluor.

DAFTAR PUSTAKA
Agtini, MD. (1988). Fluor Sistemik dan Kesehatan Gigi, Cermin Dunia Kedokteran, 1988, vol.52, no.45.
Angelillo, I. F. dkk. (1999). Caries and Fluorosis Prevalences in Communities with Different
Concentrations of Fluoride in the Water. Caries Research (on line) at http/Biomed
Net.Com/Karger.
Burt, B. A. (1983). The Epidemiology of Oral Disease in Dentistry, Dental Practice and Community 3 Ed,
W.B.Saunders Company.
Depkes, RI. (1995). Materi Penyehatan Air Bagi Petugas Kesehatan Lingkungan Puskesmas, Direktorat
Jenderal PPM dan PLP, Jakarta
Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan. (2006). Profil Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan.
Kristianti, C. H. & M Rusiawati,Y. (2002). Gigi Sehat Tahun 2000 dan Tinjauan Profil Kesehatan Gigi
1995, Jurnal Kedokteran Gigi UI, 2002, vol.9, no.2 ;1-5.
Notoatmojo, S. (2005). Metodology Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Panjaitan, M. dan Lubis, ME. (2003). Pengalaman Karies pada Usia 12 Sampai 15 Tahun yang Minum Air
Sumur Bor dan Leding di Kampung Nelayan dan Uni Kampung Belawan, Dentika Dental Journal,
2003, vol.8, no.2; 151 156.
PSMKGI. (2005). Hari Senyum Sehat Nasional, Yogyakarta, Januari 2005.
Roth, GI, Calmes, R. (1981). Etiology of Dental Caries in Oral Biology, CV.Mosby Company, Toronto.
Sugiono. (2007). Korelasi Spearman Rank pada Pengujian Hipotesis Asosiatif dalam Statistika untuk
Penelitian, Afabeta Bandung.
Sutadi,H, dkk. (1990). Hubungan Kadar Fluor Air Minum terhadap Terjadinya Hipoplasia Enamel dan
Karies Gigi di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, Jurnal PDGI, Agustus 1990, th 39, no.2 ;
22-28.
Suwelo, IS, et al. (1994). Kandungan Mineral Air Minum dan Status Kesehatan Gigi dan Mulut Anak di
Pulau Batam, Jurnal PDGI, Desember 1994, vol.43, no.3; 79 84.



























JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 92

I N D O N E S I A
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN TERHADAP PENINGKATAN CAKUPAN ANTENATAL
CARE OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABILA
KABUPATEN BONE BOLANGO

Firdausi Ramadhani

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo

ABSTRACT

Showed that Kabila PHC KIA low coverage of antenatal K4 51% compared with K1 antenatal care
coverage 63%, this shows that the coverage of antenatal care in health centers K4 Kabila has not reached the
target, which should be based on the Regulation of the Minister of Health No. 741 of 2008 on Service
Standards minimal (SPM) targets pregnant women visit coverage K4 87% in 2008. To analyze the quality of
services to increase coverage of Antenatal Care midwives working in the area of Kabila district health
centers and Bone Bolango To analyze Assurance / assurance, tangible / physical evidence, Reliability /
reliability officers, Responsiveness / responsiveness officer, Emphaty / care workers in Antenatal Care
services. Be important information for health centers Kabila in order to repair and improve the quality of
care that patient satisfaction can be met. There is a relationship between the dimensions of the result
Reliability / reliability officers, Assurance / assurance, tangible / physical evidence, Emphaty / care workers
and Responsiveness / responsiveness with Antenatal Care service

Keywords : Quality of care, Antenatal Care

PENDAHULUAN
Salah satu keberhasilan pembangunan kesehatan adalah menurunnya angka kematian ibu. Untuk
mencapai keberhasilan tersebut diperlukan upaya peningkatan program pelayanan pemeriksaan kehamilan,
karena pelayanan tersebut membentuk manusia yang sehat sejak dalam kandungan. Antenatal Care atau
yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga ahli profesional
yaitu dokter spesialis kandungan, dokter umum dan bidan. Pemanfaatan Antenatal care diharapkan dapat
menghasilkan atau memperbaiki status kesehatan ibu hamil (Sarwono, dalam Mangerangkonda 2010).
Peman-fataan Antenatal Care pada ibu hamil selama masa kehamilan secara berkala dan lengkap dapat
menjaga kesehatan ibu dan janin. Hal ini meliputi pemeriksaan dan upaya terhadap penyimpangan yang
ditemukan. Pemberian intervensi dasar serta mendidik dan memotivasi ibu agar dapat merawat dirinya
selama hamil dan mempersipakan persalinannya (Depkes RI, 2000).
Tahun 1990-1991 Departemen kesehatan dibantu WHO, UNICEF dan UNDP melaksanakan
Assesment Safe Motherhood yang menerapkan strategi operasional untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu (AKI) dari 450 per 100.000 ribu kelahiran hidup pada tahun 1986, menjadi 225 pada tahun
2000. Hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu di Indonesia
307 per 100.000 kelahiran hidup (Target tahun 2009 adalah 226), sedangkan menurut Survei Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas 2004) Umur Harapan Hidup (UHH) waktu lahir masih rendah rata-rata 66,2
/tahun jika dibandingkan dengan target tahun 2009 yaitu 70,6 /tahun.
Salah satu upaya yang dilakukan Depkes RI dalam mempercepat penurunan AKI adalah
mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya. Untuk mendukung upaya
kesehatan dan pencapaian sasaran pembangunan maka diperlukan tenaga kesehatan dalam jumlah, jenis dan
kualitas yang tepat dan dapat diandalkan khususnya dalam akselerasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI)
dan Angka Kematian Bayi (AKB). (Depkes RI, 2003).
Hasil penelitian Colti Sistiarani (2008) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan antenatal yang
kurang baik beresiko terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), selain karena faktor usia ibu
hamil dan jarak kelahiran. Sedangkan hasil penelitian Choiroel Anwar (2005) menunjukkan bahwa bayi
yang dilahirkan dari ibu yang menerima pelayanan ANC tidak baik mempunyai risiko terjadinya kematian
perinatal 5,6 kali dibandingkan dengan ibu yang mendapatkan kualitas pemeriksaan ANC baik.
Hasil penelitian Widyawaty (2003) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signi-fikan antara
kualitas pelayanan ANC dengan cakupan K4, selain karakteristik bidan dan kelengkapan sarana. Penelitian
di Kabupaten Bone Bolango (2009) didapatkan cakupan Indikator pela-yanan KIA dalam tiga tahun terakhir,
dimana pelayanan KIA di Puskesmas Kabupaten Bone Bolango dari tahun 2007 kunjungan K1 adalah
53,96% dan kunjungan K4 adalah 40,94 %. Sedangkan tahun 2008 kunjungan K1 82,93% dan K4 adalah
61,66%. Tahun 2009 kunjungan K1 adalah 79,28% dan kunjungan k4 adalah 66,90%. Pada tahun 2010
kunjungan K1 adalah 94,53% dan K4 adalah 81,7% Melihat data cakupan K1 dan K4 dari tahun 2007
2010 masih ada kesenjangan antara K1 dan K4. Sedangkan data yang diperoleh dari laporan KIA Puskesmas
Kabila tahun 2007 cakupan K1 sebesar 80,9 dan K4 sebesar 75,6 %. Pada tahun 2008 K1 sebesar 60,9% dan
K4 sebesar 60,2%. Tahun 2009, cakupan kunjungan K1 sebesar 63%, kunjungan K4 51 dan tahun 2010 K1
sebesar 92,3 % dan K4 sebesar 73,4 %.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 93

I N D O N E S I A
Berdasarkan survai pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti dengan melalui wawancara bidan dan
pengamatan pada saat pelayanan di Puskesmas didapatkan bahwa bidan memiliki peran yang cukup besar
dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas, tidak hanya melaksanakan pelayanan KIA sebagai tugas pokok,
juga melakukan tugas tambahan, dimana tiap satu bidan bertanggung jawab terhadap tiga desa.
Kecenderungan ini tentunya berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh bidan
karena semakin dipatuhi pedoman atau prosedur tetap semakin baik pencapaian standar pelayanannya.
Berdasarkan masalah-masalah yang didapatkan pada studi pendahuluan maka penulis tergerak untuk
melakukan penelitian tentang kualitas pelayanan terhadap peningkatan cakupan antenatal care oleh bidan di
wilayah kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolang tahun 2010.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed methode) dengan pendekatan
wawancara mendalam (deep interview) yang bersifat untuk menggali informasi lebih mendalam atau
memperoleh penjelasan terperinci tentang suatu fenomena. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni
September 2011 dengan lokasi penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil tahun 2010 di wilayah kerja Puskesmas
Kabila yang berjumlah 592 orang berdasarkan dari data buku register di puskesmas. Sampel dalam
penelitian ini diambil dengan cara purposive sampling sebanyak 85 orang.
Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi yang benar dan valid dilakukan cara triangulasi data, yaitu
penggalian atau dari berbagai sumber di lapangan. Data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner,
wawancara mendalam, serta Pengamatan atau Observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui bagian
pencatatan dan pelaporan atau buku register di Puskesmas.
Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan diolah dan dianalisis dengan sistem komputerisasi program SPSS
secara univariat, bivariat dan multivariat kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

HASIL PENELITIAN
Analisis Univariat
Analisis univariat dimaksudkan untuk meninjau gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari sampel
terhadap variabel yang diteliti.

Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone
Bolango

Karakteristik Jumlah Persentase
Umur Ibu Hamil
< 20
20 24
25 29
30 34
> 34
11
39
27
20
3
11
39
27
20
3
Pendidikan Ibu
Tidak Tamat SD
SD
SMP
SMA
DIP
S1
8
14
28
30
16
4
8
14
28
30
16
4
Pekerjaan Suami
Tani
Buruh
Sopir
PNS/Swasta
Dagang
42
18
10
19
11
42
18
10
19
11
Jumlah 100 100
Data Primer

Tabel 1 memperlihatkan bahwa sebagian besar (39%) ibu hamil berumur 20 - 24 tahun. Hal ini
menunjukan bahwa responden masih berada pada rentan usia yang aman secara produktif untuk melahirkan
(tidak berisiko tinggi). Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan yaitu sebagian besar (30%)
responden dengan tingkat pendidikan tamat SLTA. Berdasarkan pekerjaan suami yaitu sebagian besar (42%)
bekerja sebagai Tani.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 94

I N D O N E S I A
Analisis Variabel I ndependen
Tabel 2. Distribusi Variabel Independen di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone
Bolango

Variabel Jumlah Persentase
Realibility (Kehandalan) Kualitas Pelayanan
Tidak sesuai
Sesuai
40
60
40
60
Assurance (J aminan) Kualitas Pelayanan
Tidak sesuai
Sesuai
35
65
35
65
Tangible ( Bukti Fisik) Kualitas Pelayanan
Tidak sesuai
Sesuai
36
64
36
64
Empathy (Kemampuan memahami) Kualitas Pelayanan
Tidak sesuai
Sesuai
39
61
39
61
Responsiveness Kualitas Pelayanan
Tidak sesuai
Sesuai
46
54
46
54
Jumlah 100 100
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 40 (40%) ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila
Kabupaten Bone Bolango menyatakan tidak sesuai atas dimensi Realibility (Kehandalan) kualitas pelayanan
antenatal care. Sebanyak 35 (35%) ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango
menyatakan tidak sesuai atas dimensi Assurance (Jaminan) kualitas pelayanan antenatal care. Sebanyak 36
(36%) ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango menyatakan tidak sesuai atas
dimensi tangible (Bukti Fisik) kualitas pelayanan antenatal care. Sebanyak 39 (39%) ibu hamil di Wilayah
Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango menyatakan tidak sesuai atas dimensi Empaty
(Kemampuan Memahami) kualitas pelayanan antenatal care. Sebanyak 46 (46%) ibu hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango menyatakan tidak sesuai atas dimensi Responsiveness (Daya
Tanggap) kualitas pelayanan antenatal care.

Analisis Bivariat

Tabel 3. Hubungan Variabel Penelitian dengan kualitas pelayanan ANC di Wilayah Kerja Puskesmas
Kabila Kabupaten Bone Bolango Tahun 2010

Variabel Penelitian
Kualitas Pelayanan
Jumlah
Uji Statistik
Tidak
Berkualitas
Berkualitas
n % n % n %
Reliability
X = 6.791
(0.009)
Tidak sesuai 16 40.0 24 60.0 40 100
Sesuai 10 16.7 50 83.3 60 100
Assurance
X = 7.953
(0.005)
Tidak sesuai 15 42.9 20 57.1 35 100
Sesuai 11 16.9 54 83.1 65 100
Tangible
X = 9.946
(0.002)
Tidak sesuai 16 44.4 20 55.6 36 100
Sesuai 10 15.6 54 84.4 64 100
Empathy
X = 5.160
(0.023)
Tidak sesuai 15 38.5 24 61.5 39 100
Sesuai 11 18 50 82 61 100
Responsiveness
X = 5.315
(0.021)
Tidak sesuai 17 37 29 63 46 100
Sesuai 9 16.7 45 83.3 54 100
Data Primer

Reliability
Tabel 3 menunjukkan sebanyak 40 ibu hamil yang menyatakan tidak sesuai atas dimensi reliability
(Bukti Fisik) terdapat 16 (40.0%) dengan pelayanan tidak berkualitas dan 24 (55.6%) dengan pelayanan
berkualitas. Sedangkan dari 60 ibu hamil yang menyatakan sesuai terdapat 10 (16.7%) yang menyatakan
tidak berkualitas dan sisanya yaitu sebanyak 50 (83.3%) menyatakan berkualitas. Hasil uji statistic
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 95

I N D O N E S I A
menunjukkan hubungan (p=0.009 < 0,05). Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil
merasa sesuai dengan pelayanan bidan di puskesmas, sebagaimana seperti diungkapkan oleh responden
berikut :
..kita suka sekali periksa di sini karena tidak lama mo batunggu.... (Ny. SS, 34 th)
.depe bidan perhatian sekali.kalo kita rasa sakit, dia so langsung kase
vitamin. (Ny. RB, 27 th)
Assurance
Sebanyak 35 ibu hamil yang menyatakan tidak sesuai atas dimensi Assurance (Jaminan), terdapat
15 (42.9%) menyatakan pelayanan tidak berkualitas dan 20 (57.1%) menyatakan pelayanan berkualitas.
Sedangkan dari 65 ibu hamil yang menyatakan sesuai terdapat 11 (16.9%) yang menyatakan tidak
berkualitas dan sisanya yaitu sebanyak 54 (83.1%) menyatakan berkualitas. Hasil uji statistic menunjukkan
hubungan (p=0.005 < 0,05). Hasil wawancara menunjukkan bahwa ibu hamil merasakan akan kemampuan
bidan, sebagaimana terungkap pada hasil wawancara berikut :
.. kalo datang, kita slalu di suruh timbang badan.trus mo priksa samua.
(Ny. SD, 24 th)
depe bidan baek, tidak suka marah-marah biar kita banyak batanya.
(Ny. RD, 31 th)
Tangible
Tabel 3 menunjukkan sebanyak 36 ibu hamil yang menyatakan tidak sesuai atas dimensi tangible
(Bukti Fisik), terdapat 16 (44.4%) dengan pelayanan tidak berkualitas dan 20 (55.6%) dengan pelayanan
berkualitas. Sedangkan dari 64 ibu hamil yang menyatakan sesuai terdapat 10 (15.6%) yang menyatakan
tidak berkualitas dan sisanya yaitu sebanyak 54 (84.4%) menyatakan berkualitas. Hasil uji statistic
menunjukkan hubungan dimana (p=0.002 < 0,05).
Sebagian besar ibu hamil merasakan bahwa penampilan bidan serta sarana dan prasarana puskesmas sudah
sesuai, sebagaimana terungkap dalam hasil wawancara berikut :
bu bidan itu cantik depe orang, trus salalu rapi. (Ny. RD, 31 th)
Kita suka periksa disini karena depe ruang tunggu basar, jadi tidak baku ruju.
(Ny. SD, 24 th)
Empathy
Tabel 3 menunjukkan sebanyak 39 ibu hamil yang menyatakan tidak sesuai atas dimensi Assurance
(Jaminan), terdapat 15 (38.5%) menyatakan pelayanan tidak berkualitas dan 24 (61.5%) menyatakan
pelayanan berkualitas. Sedangkan dari 61 ibu hamil yang menyatakan sesuai terdapat 11 (18%) yang
menyatakan tidak berkualitas dan sisanya yaitu sebanyak 54 (82%) menyatakan berkualitas. Hasil uji
statistic menunjukkan hubungan (p=0.005 < 0,05). Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
hamil merasakan perhatian bidan di puskesmas, sebagaimana seperti diungkapkan oleh responden berikut :
kita suka sekali dengan depe bidan, karena tidak bapilih-pilih orang. Samua
orang mo dia pariksa. ( Ny. RL, 26 th).
Responsiveness
Tabel 4.13 menunjukkan sebanyak 46 ibu hamil yang menyatakan tidak sesuai atas dimensi
Responsiveness (Daya Tanggap), terdapat 17 (40.%) menyatakan dengan pelayanan tidak berkualitas dan 29
(63%) menyatakan dengan pelayanan berkualitas. Sedangkan dari 54 ibu hamil yang menyatakan sesuai
terdapat 9 (16.7%) yang menyatakan tidak berkualitas dan sisanya yaitu sebanyak 45 (83.3%)menyatakan
berkualitas. Hasil uji statistic menunjukkan hubungan (p=0.021 < 0,05) Hasil wawancara menunjukkan
bahwa sebagian besar ibu hamil berpendapat bidan cepat dan tanggap dalam melayani pasien di puskesmas,
sebagaimana seperti diungkapkan oleh responden berikut :
kalo kita datang bu bidan so langsunhg bapariksa, biar taliat sibuk (Ny. SD,
24 th).

Analisis Multivariat

Tabel 4. Hubungan Antara Dimensi Reliability, Assurance, Tangible, Empathy dan Responsivennes Dengan
Kualitas Pelayanan Antenatal Care Oleh Bidan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten
Bone Bolango Tahun 2010

Variabel B Wald df Sig Exp(B)
Tangible
Reliability
Responsivenes
Assurance
Empathy
Constant
-21.688
-749
-1.194
20.378
.340
.485
.000
.000
5.284
.000
.000
1.074
1
1
1
1
1
1
1.000
1.000
.022
1.000
1.000
.300
.000
.473
.303
7.078
1.406
1.642
Data Primer
Berdasarkan analisa multivariat menggunakan uji regresi logistic, variable yang paling
berhubungan adalah variable responsiveness dimana nilai p = 0.022.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 96

I N D O N E S I A
PEMBAHASAN
Hubungan Dimensi Reliability (Kehandalan) Dengan Kualitas Pelayanan Terhadap Peningkatan
Cakupan Antenatal Care.
Dimensi reliability (kehandalan) dalam penelitian ini adalah kemampuan bidan untuk
melaksanakan jasa sesuai dengan yang dijanjikan. Dengan indicator penerimaan ibu hamil yang cepat dan
tepat, prosedur pelayanan tidak menyusahkan ibu hamil, pelayanan cepat dan tepat waktu, petugas
memberikan perhatian yang tulus untuk menangani setiap keluhan ibu hamil, bidan memberi pelayanan
bebas dari tekanan.
Hasil penelitian pada tabel 3 dapat dilihat bahwa tanggapan responden terhadap kualitas dimensi
Reliability yang menyatakan sesuai dan berkualitas sebanyak 50 responden (83.3%), namun masih ada juga
responden yang menyatakan pada dimensi reliability tidak sesuai dan tidak berkualitas sebanyak 16
responden (40%). Hal ini menunjukkan bahwa ibu sudah merasa sesuai dengan kecepatan dan ketepatan
bidan dalam menanggapi kebutuhan ibu hamil dalam hal menangani setiap keluhan ibu hamil, bidan
memberi pelayanan secara teratur, dimana pelayanan bagi ibu hamil di khususkan setiap hari senin
Hasil analisis hipotesis penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nilawaty Uly
(2010), dimana hasil yang diperoleh ada hubungan antara dimensi realibility dengan kualitas pelayanan
kesehatan. Sesuai dengan pendapat Supranto (2006) yang menyatakan bahwa realibility merupakan salah
satu dari lima criteria penentu kualitas pelayanan. Senada dengan penelitian Bery, Parasuraman dan Zeithml
(Supranto, 2006) menemukan ada beberapa yang dapat dijadikan sebagai kriteria penentu kepuasan, salah
satu diantaranya yaitu reliability (kehandalan).
Wijono (1999), mengemukakan bahwa reliability (kehandalan) adalah kemungkinan dari suatu
produk tampil tanpa cacat dalam prinsipnya pada suatu produk tertentu. Menurut Parasuraman, dkk.
(Supranto, 2006) berpendapat kehandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan seusai dengan apa yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan
harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.

Hubungan dimensi Assurance(jaminan) dengan Kualitas terhadap Peningkatan Cakupan Antenatal
Care.
Dimensi Assurance (jaminan) dalam hal ini yaitu kemampuan bidan dalam memberikan jaminan
kepastian pelayanan yang aman dan dapat dipercaya. Dengan indicator pengetahuan dan kemampuan bidan
untuk melakukan anamnesa dan mendiagnosa, pelayanan bidan memberi rasa aman kepada ibu hamil, bidan
sopan dan ramah dalam memberikan pelayanan, bidan mampu dan mau memberikan jawaban yang tepat
terhadap pertanyaan serta keluhan pasien.
Hasil penelitian pada table 3 dapat dilihat bahwa tanggapan responden terhadap kualitas dimensi
Assurance yang menyatakan sesuai dan berkualitas sebanyak 54 responden (83.1%), walaupun masih ada
responden yang menyatakan tidak sesuai dan tidak berkualitas yaitu sebanyak 15 responden (42.9%).
Jaminan merupakan faktor yang menentukan dalam kualitas pelayanan karena dengan jaminan
pasien merasakan aman pada saat melakukan pemeriksaan dan pasien merasa puas.
Menurut Azwar dalam Syafrudin (2011), kualitas pelayanan kesehatan mengacu pada tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan yang disatu pihak menimbulkan kepuasan pasien. Hal ini juga sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Solikhah (2008), dimana terciptanya kualitas pelayanan akan
menciptakan kepuasan pasien, sehingga pasien kembali memanfaatkan pelayanan tersebut.
Menurut Bery, Parasuraman, dan Zeithml (Supranto, 2006) menemukan ada beberapa yang dapat
dijadikan sebagai kriteria penentu kepuasan, salah satu diantaranya yaitu Assurance (jaminan) adalah
sebagai suatu kegiatan menjaga kepastian suatu pelayanan atau indikasi yang menimbulkan rasa
kepercayaan (garansi/jaminan).
Kualitas pelayanan yang berkaitan dengan kemampuan bidan ini dapat terpenuhi jika bidan
mendapatkan pelatihan. Pelatihan pelayanan antenatal penting dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi
bidan dalam melayani kesehatan masyarakat.
Hubungan dimensi Tangible (Bukti Fisik) dengan kualitas terhadap peningkatan cakupan Antenatal
Care.
Tangible (Bukti Fisik) Adalah berupa pelayanan fisik, dari sarana dan prasarana puskesmas.
Dengan indicator puskesmas bersih dan rapi, kebersihan dan keindahan pekarangan puskesmas dan
kenyamanan ruangan, peralatan lengkap, bersih dan siap pakai. Hasil penelitian pada table 3 dapat dilihat
bahwa tanggapan responden terhadap kualitas dimensi Tangible yang menyatakan sesuai dan berkualitas
sebanyak 54 responden (84.4%), walaupun masih ada responden yang menyatakan tidak sesuai dan tidak
berkualitas yaitu sebanyak 16 responden (44.4%). Hal ini karena belum adanya saran rawat inap, sehingga
belum dapat menerima pasien untuk melahirkan di puskesmas. Dimana menurut Syafrudin (2011) unsure
lingkungan sekitar akan mempengaruhi penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Sejalan dengan hasil
penelitian Widyawaty (2003) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan
sarana, kualitas pelayanan ANC dengan cakupan K4.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 97

I N D O N E S I A
Hal ini menunjukan bahwa untuk sarana dan prasarana yang menunjang pelayanan antenatal sudah
lengkap dan sesuai standar, jadi tidak ada alasan bagi bidan untuk tidak melakukan pelayanan antenatal yang
berkualitas.
Hubungan dimensi Empathy (perhatian) dengan Kualitas terhadap Peningkatan Cakupan Antenatal
Care.
Empathy (perhatian) adalah dimana bidan memahami dan menempatkan diri pada keadaan yang
dihadapi atau dialami oleh pasien. Dengan indicator bidan memberikan perhatian khusus kepada setiap ibu
hamil, perhatian bidan pada keluhan pasien, tidak membeda-bedakan ibu hamil, bidan bersikap sabar dan
telaten dalam menghadapi ibu hamil dan senantiasa memperlakukan pasien dengan baik.
Hasil penelitian pada table 3 dapat dilihat bahwa tanggapan responden terhadap kualitas dimensi
Empathy yang menyatakan sesuai dan berkualitas sebanyak 50 responden (82%), walaupun masih ada
responden yang menyatakan tidak sesuai dan tidak berkualitas yaitu sebanyak 15 responden (38.5%).
Menurut Wiyono (dalam Syafrudin, 2011) bahwa pasien butuh akan empati dan respek sesuai dengan
kebutuhan mereka dan diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung.
Periode antenatal adalah suatu kondisi yang dipersiapkan secara fisik dan psikologis untuk
kelahiran. Segalan perubahan baik fisik maupun psikologis akan dialami oleh wanita selama hamil
berhubungan dengan beberapa system yang disebabkan oleh efek khusus dari hormone (Case dan
Waterhaouse, dalam Salmah, 2006) Ibu yang hamil membutuhkan dukungan karena stress, sehingga ibu
hamil akan lebih sensitive. Oleh karena itu bidan harus memahami apa yang dialami oleh ibu hamil. Bidan
harus bersikap sabar dan telaten dalam menghadapi ibu hamil. Dalam penelitian Bery, Parasuman, dan
Zeithml (Supranto, 2006) empathy (perhatian) adalah harapan pasien yang dimiliki berdasarkan kemampuan
petugas dalam memahami dan menempatkan diri dari keadaan yang dihadapi oleh pasien. Sikap bidan sabar
dan telaten yang memiliki rasa hormat dan bersahabat, memahami keadaan yang dialami pasien,
memperlakukan pasien dengan baik itu merupakan harapan para pelanggan atau pasien.
Hubungan Dimensi Responsiveness (ketanggapan) dengan Kualitas terhadap Peningkatan Cakupan
Antenatal Care.
Responsiveness (ketanggapan) Adalah kecepatan dan ketanggapan bidan dalam memberikan jasa.
Dengan indicator dimana bidan cepat dan tanggap melayani keluhan ibu hamil, dengan memberikan
pemeriksaan baik fisik maupun kebidanan, serta memberikan pemeriksaan laboratorium atas indikasi
tertentu serta indikasi dasar dan khusus yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu agar kehamilan dan
persalinannya.
Tabel 4. dapat dilihat bahwa tanggapan responden terhadap kualitas dimensi responsiveness yang
menyatakan sesuai dan berkualitas sebanyak 45 responden (83.3%), walaupun masih ada responden yang
menyatakan tidak sesuai dan tidak berkualitas yaitu sebanyak 17 responden (37%).
Menurut Nurmawati (2010) hubungan antar manusia yang baik akan menimbulkan kemitraan,
saling percaya, saling menghormati dan keterbukaan.
Kecepatan dan ketanggapan bidan dalam memberikan jasa ini berkaitan dengan pengetahuan
tentang tujuan dan manfaat pelayanan antenatal yang baik. Dari hasil pengamatan dan wawancara bidan
mengetahui apa tujuan dan manfaat dari pelayanan antenatal.

KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil analisis statistik dapat dijelaskan bahwa realibility sangat menentukan keberhasilan bidan
dalam peningkatan kualitas pelayanan Antenatal Care, namun secara kualitatif masih terdapat kelemahan,
terutama dalam hal tepat waktu. Disarankan bagi Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango untuk dapat
lebih meningkatkan kualitas pelayanan antenatal care dari seluruh dimensi, terutama pada dimensi reability,
Bagi Dinas Kesehatan Bone Bolango agar memberikan pelatihan tentang pelayanan antenatal care secara
rutin, serta memfasilitasi puskesmas yang memiliki pelayanan PONED.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Choiroel. (2005). Hubungan Kualitas Pemeriksaan ANC Dengan Kematian Perinatal Tahun 2004.
Dinkes Kabupaten Bone Bolango. (2010). Profil Kesehatan. Gorontalo
Muninjaya. (2004). Manajemen Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Nasriwaty. (2010). Analisis Kualitas Pelayanan Di Puskesmas Sulili Kabupaten Pinrang, Tesis Program
Pascasarjanan Universitas Hasanuddin Makasar.
Solikhah. (2008). Hubungan Kepuasan Pasien Dengan Minat Pasien Dalam Pemanfaatan Ulang Pelayanan
Pengobatan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 11, No. 4 Desember 2008. (diakses 5
April 2011)
Thomas, Salamuk dan Kusnanto Hari. (2007). Evaluasi Kinerja BidanPuskesmas Dalam Pelayanan
Antenatal di Kabupaten Puncak Jaya.Jurnal KMPK, Program Magister Universitas Gajahmada, No.
08 April 2007 (diakses 5 April 2011)
Widowati, Christina dan Hakimi. H.M. (2006). Manajemen Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dan
Kualitas Antenatal Care di Puskesmas Keacamatan Semarang Barat. Jurnal KMPK, Program
Magister Universitas Gajahmada, No. 17 April 2006 (diakses 5 April 2011)
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 98

I N D O N E S I A
PEMETAAN DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANKEJADIAN HIV DAN AIDS DI
PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013

Hasrati Husfahsari Ramadhani
1
, Ridwan Aminudin
2
, Burhanuddin Bahar
3


1
Alumni Program Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Hasanuddin
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

HIV and AIDS disease progression show trends that are increasingly concerned about both the
quantitative and qualitative.This study aims to analyze the relationship between population density, regional
characteristics, classification of the city, drug users, and users of condoms on the incidence of HIV and
AIDS as well as to map the incidence of HIV and AIDS in South Sulawesi province in 2013.The study was
observational with cross sectional study. This study uses Geographic Information Systems (GIS) to visualize
and explore spatial data. Samples taken as many as 24 districts/cities in South Sulawesi who are categorized
by endemicity status on the incidence of HIV and AIDS.Bivariate analysis using Chi-square test and
multivariate logistic regression.The results showed that factors associated with the incidence of HIV and
AIDS in South Sulawesi Province is characteristic of the region (p=0.019), drug users (p=0.011), and
condom users (p=0.001). While the population density (p=0.076) and the city classification (p=0.348) was
not associated with the incidence of HIV and AIDS. Results of multivariate logistic regression test was found
that the characteristics of the region is the most influential factor on the incidence of HIV and AIDS
(Wald=4.902, p=0.027).

Keywords: mapping, factor, HIV and AIDS

PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh menyerang sel Cluster of Differentiation 4 (CD4) sehingga terjadi
penurunan sistem pertahanan tubuh. Replikasi virus yang terus menerus mengakibatkan semakin berat
kerusakan sistem kekebalan tubuh dan semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO) sehingga akan
berakhir dengan kematian (Bruner, 2002).
Data WHO (World Health Organization, 2009) menyatakan 33,3 juta orang hidup dengan HIV dan
1,8 juta orang meninggal karenanya. Diperkirakan jumlah ini masih jauh lebih banyak lagi karena masih
banyaknya kasus-kasus yang tidak terdeteksi. HIV dan AIDS sudah menjadi global effect dengan kecepatan
penularan penyebaran yang sangat pesat, diperkirakan 1 menit 5 orang tertular di seluruh dunia (UNAIDS,
2006).Sejak kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987 di Bali, jumlah kasus
bertambah secara perlahan menjadi 225 kasus di tahun 2000.Sejak itu kasus AIDS bertambah cepat dipacu
oleh penggunaan NAPZA suntik. Pada tahun 2006, sudah terdapat 8.194 kasus AIDS. Pada akhir tahun 2009
dilaporkan sebesar 17.699 kasus AIDS, 15.608 kasus diantaranya dalam golongan usia produktif 25-49
tahun (88%). Dari laporan Ditjen PP dan PL Depkes RI juga dapat dilihat jumlah kumulatif kasus AIDS di
Indonesia sampai dengan akhir Juni 2011 sebanyak 26.483 kasus. (Kurniasih, 2006).Jumlah kasus AIDS
secara kumulatif di Indonesia yang dilaporkan sebanyak 22.726 kasus tersebar di 32 provinsi. Kasus
tertinggi di dominasi usia produktif yaitu usia 20-29 tahun (47,8%), diikuti kelompok umur30-39 tahun
(30,9%), dan kelompok umur 40-49 tahun (9,1%). Dari jumlah tersebut 4.250 kasus atau 18,7% diantaranya
meninggal dunia.Kawasan Timur Indonesia, Sulawesi Selatan adalah provinsi terbesar kedua setelah Papua
dalam hal tingkat pandemik HIV dan AIDS. Semua wilayah kabupaten/kota di dalam wilayah propinsi
Sulawesi Selatan telah ditemukan kasus HIV dan AIDS. Tiga diantaranya yang tertinggi adalah Makassar,
Parepare, dan Bulukumba(Depkes, 2010).
Dampak HIV dan AIDS sangat mengkhawatirkan. Sindrom ini telah menyebabkan peningkatan
angka kesakitan dan kematian penduduk di usia produktif. Epidemi ini tumbuh seiring dengan penggunaan
narkoba baik narkoba suntik (Injection Drug Users) yang tidak steril maupun narkoba hisap.Hubungan seks
berisiko dengan tidak menggunakan kondom juga merupakan penyebab tingginya angka kejadian HIV dan
AIDS. Distribusi penggunaan kondom di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010 sebesar 49.522, tahun
2011 mengalami peningkatan sebesar 50. 234 dan tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 50.182
(BKKBN Provinsi Sul-Sel, 2012).
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah Suatu komponen yang terdiridari perangkat keras,
perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan,
menganalisa dan menampilkandata dalam suatu informasi berbasis geografis (Hartoyo dkk, 2010). Sampai
saat ini belum diketahui pola spasial yang terinci mengenai distribusi kasus HIV dan AIDS di Provinsi
Sulawesi Selatan.Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial kasus HIV dan
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 99

I N D O N E S I A
AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012. Gambaran spasial kasus HIV dan AIDS diharapkan
mengidentifikasi faktor-faktor risiko terhadap penyebaran HIV dan AIDS.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis Penelitian adalah observasional dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilaksanakan
di Provinsi Sulawesi Selatan
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalahkejadian HIV dan AIDS pada setiap Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan.Sampel dalam penelitian ini adalahkejadian HIV dan AIDSyang lengkap data-datanya pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan dengan status endemis dan non-endemis terhadap kejadian
HIV dan AIDS tahun 2010-2012.Penarikan sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling yang
dilakukan dengan cara Exhautive Sampling, yaitu kejadian HIV dan AIDSyang lengkap data-datanya pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan akan dijadikan sebagai sampel penelitian.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan berupa data sekunderyang diperoleh dari beberapa instansi
terkait yaitu: Data kasus HIV dan AIDS diperoleh dari hasil pencatatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
Selatantahun 2010 2012, Data kepadatan penduduk, klasifikasi kota dan karakteristik wilayah untuk
Kabupaten/Kota se-Provinsi Sulawesi Selatan diperoleh dari hasil pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS)
Provinsi Sulawesi Selatan, Data Pengguna narkoba diperoleh dari Badan Narkotika Nasional (BNN)
Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2010 -2012, Data Penggunaan kondom diperoleh dari Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2010 2012, Peta Dasar
daerah penelitian dan data-data yang terkait dengan penelitian didapatkan dari instansi terkait seperti Badan
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Dinas Tata Ruang dan Badan Penelitian dan
Pengembangan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Selatan dalam bentuk softcopy untuk selanjutnya
dianalisis.
Analisis Data
Data diolah dengan menggunakan SPSS dan kemudian dilakukan analisis univariat, analisis bivariat
untuk melihat hubungan yang meliputi variabel independen dan variabel dependen. Uji statistik pada analisis
ini menggunakan Chi-square test.Dari analisis ini diperoleh variabel independen yang berhubungan atau
tidak berhubungan secara bermakna dengan variabel dependen.Variabel independen ini selanjutnya di sebut
faktor risiko serta analisis multivariat dimana Variabel-variabel hasil analisis bivariat yang terbukti
berhubungan secara signifikan atau yang telah ditetapkan sebagai faktor risiko, dianalisis lanjut dengan
analisis multivariatdengan menggunakan Uji Regresi Logistik.untukmengetahui variabel dependen yang
paling besar pengaruhnyaterhadap variabel independen.

HASIL
Analisis Univariat
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah kabupaten yang endemis di Provinsi Sulawesi Selatan
mengalami peningkatan sejak tahun 2010 sampai 2012.Pada tahun 2012 masih terdapat 22(91,7%)
kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan tergolong endemis HIV dan AIDS, yaitu terdapat kasus HIV
dan AIDS selama tiga tahun berturut-turut dan hanya terdapat 2 (8,3%) kabupaten/kota yang tergolong non-
endemis, yaitu Kabupaten Barru dan Luwu.

Tabel 1.Status Endemisitas Kejadian HIV dan AIDSProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010-2012

Tahun
Kabupaten
Endemis
Kabupaten
Non-Endemis
Total
n % n % n %
2010
2011
2012
18
19
22
75
79,2
91,7
6
5
2
25
20,8
8,3
24
24
24
100,0
100,0
100,0
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan meningkat
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 sebesar 589,46 jiwa/km
2
, tahun 2011 sebesar 595,44 jiwa/km
2
dan
tahun 2012sebesar 592,38 jiwa/km
2
. Secara keseluruhan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012,
kepadatan penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar1777,29 jiwa/km
2
, dengan kepadatan penduduk
terendah 10,89 jiwa/km
2
dan kepadatan penduduk tertinggi sebesar 7786,63 jiwa/km
2
.Selain itu pengguna
narkoba di Provinsi Sulawesi Selatan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 sebesar 5073,88%,
tahun 2011 sebesar 4794,00% dan tahun 2012 sebesar 5466,67%. Secara keseluruhan dari tahun 2010
sampai dengan tahun 2012, pengguna narkoba di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 5643,55%, dengan
pengguna narkoba terendah 2016% dan kepadatan penduduk tertinggi sebesar 12974%.Sedangkan pengguna
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 100

I N D O N E S I A
kondom di Provinsi Sulawesi Selatan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 sebesar 111,96%,
tahun 2011 sebesar 139,21% dan tahun 2012 sebesar 86,96%. Secara keseluruhan dari tahun 2010 sampai
dengan tahun 2012, pengguna kondom di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 338,126%, dengan pengguna
narkoba terendah 1% dan kepadatan penduduk tertinggi sebesar 985%.

Tabel 2. Hasil Analisis Univariat Kepadatan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010-2012

Tahun n
(Kabupaten)
Nilai Min
(Jiwa/km
2
)
Nilai Maks
(Jiwa/km
2
)
Mean
(Jiwa/km
2
)
Standar
Deviasi
Kepadatan Penduduk
2010
2011
2012

24
24
24

35,00
35,35
10,89

7615,99
7695,07
7786,63

589,46
595,44
592,38

1520,55
1536,34
1558,17
Pengguna Narkoba
2010
2011
2012

24
24
24

2019
2016
2232

12632
11538
12974

5073,88
4794,00
5466,67

2025,885
1895,611
2028,329
Penggunaan Kondom
2010
2011
2012

24
24
24

1
1
1

975
985
833

111,96
139,21
86,96

287,915
317,123
232,712
Data Primer

Analisis Bivariat
Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan variabel yang berhubungan yaitu karakteristik wilayah
dengan nilai p sebesar 0,019 (p<0,05), pengguna narkoba dengan nilai p sebesar 0,011 (p<0,05), pengguna
kondom dengan nilai p sebesar 0,001 (p<0,05), sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian
HIV dan AIDS yaitu kepadatan penduduk dengan nilai p sebesar 0,0776 (p>0,05), klasifikasi kota dengan
nilai p sebesar0,348 (p>0,05).

Tabel 3.Hubungan antara Variabel Penelitiandengan Kejadian HIV dan AIDS Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2013

Kepadatan
Penduduk
Kejadian HIV dan AIDS Jumlah P
Value Endemis Non-Endemis
n % n % n %
Rendah 4 33,3 8 66,7 12 100,0
0,076 Tinggi 10 83,3 2 16,7 12 100,0
Jumlah 14 58,3 10 41,7 24 100,0
Karakteristik
Wilayah

Pariwisata 12 80,0 3 20.0 15 100,0
0,019 Non-Pariwisata 2 22,2 7 77,8 9 100,0
Jumlah 14 58,3 10 41,7 24 100,0
Klasifikasi kota
Besar 3 100,0 0 0 3 100,0
0,348 Sedang 11 52,4 10 47,6 21 100,0
Jumlah 14 58,3 10 41,7 24 100,0
Pengguna Narkoba
Rendah 3 27,3 8 72,7 11 100,0
0,011 Tinggi 11 84,6 2 15,4 13 100,0
Jumlah 14 58,3 10 41,7 24 100,0
Pengguna Kondom
Rendah 12 92,3 1 7,7 13 100,0
0,001 Tinggi 2 18,2 9 81,8 11 100,0
Jumlah 14 58,3 10 41,7 24 100
Data Primer

Analisis Multivariat
Pada tabel 4,dari tiga variabel yang diuji multivariat analisis regresi logistik diketahui ada satu
variabel yang secara statistik bermakna yaitu karakteristik wilayah dengan nilai p value (0,027). Berdasarkan
hasil analisis dengan uji regresi logistik, variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian HIV dan AIDS
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 101

I N D O N E S I A
adalah karakteristik wilayah dengan nilai wald 4,902 dan berpengaruh 12,191 kali terhadap kejadian HIV
dan AIDS.

Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Logistik Hubungan Antara Faktor Karakteristik Wilayah, Pengguna
Narkoba, dan Pengguna Kondom dengan Kejadian HIV dan AIDS Di Provinsi Sulawesi
Selatan Tahun 2013

Variabel B Wald p Exp (P)
OR (95% Cl)
Low Uper
Karakteristik
Wilayah
2,501 4,902 0,027 12,191 1,332 111,555
Pengguna Narkoba -0,265 1,037 0,309 0,767 0,460 1,278
Pengguna Kondom -0,070 1,117 0,291 0,932 0,818 1,062
Constant -1,081 0,193 0,661 0,339
Data Primer

PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa variabel independen yang memiliki hubungan
dengan kejadian HIV dan AIDS. Dari sudut pandang geografis, epidemi HIV dan AIDS diberbagai benua
dan negara tampaknya telah berkembang dengan cara yang berbeda. Selama dekade pertama epidemi, hal itu
mengkarakterisasi pola geografis penularan HIV dan AIDS secara berbeda yaitu pola pertama, HIV dan
AIDS dikenal sejak tahun 1970an dengan prevalensi rendah dan umum terjadi pada pasangan homoseksual
dan terjadi di negara industri termasuk Amerika Serikat dan Eropa. Pola kedua, HIV dan AIDS mulai terjadi
pada pasangan heteroseksual dan terjadi pada daerah sub-urban yaitu Afrika dan Haiti. Pola ketiga, HIV dan
AIDS mulai mencapai tingkat prevalensi yang tinggi yang terjadi pada kaum homoseksual dan heteroseksual
bahkan sampai pada transfusi darah yaitu di daerah Timur Tengah dan Asia (Lytnen, 2003).
Hasil uji statistik pada penelitian diperoleh nilai p sebesar 0,076 (p>0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kepadatan penduduk dengan kejadian HIV dan AIDS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara karakteristik wilayah dengan kejadian HIV
dan AIDS diperoleh bahwa terdapat 80,0% wilayah dengan karakteristik wilayah yang tergolong wilayah
pariwisata berstatus endemis dan sebesar 77,8% wilayah dengan karakteristik wilayah yang tergolong non-
pariwisata berstatus non-endemis terhadap kejadian HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil uji
statistik didapatkan nilai p sebesar 0,019 (p<0,05), maka dapa disimpulkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara karakteristik wilayah dengan kejadian HIV dan AIDS.
Proporsional tingkat infeksi HIV pada kelompok berisiko tinggi tertentu telah mengakibatkan
perbedaan dramatis bahkan dalam sebuah negara atau wilayah.Perbedaan yang signifikan dalam prevalensi
antara penduduk daerah pariwisata dan nonpariwisata bahkan antara dua daerah yang berbatasan telah
diamati (Lytnen M, 2003).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara pengguna narkoba dengan kejadian HIV
dan AIDS diperoleh bahwa terdapat 84,6% wilayah dengan pengguna narkoba yang tergolong tinggi
berstatus endemis dan sebesar 72,7% wilayah dengan pengguna narkoba yang tergolong rendah berstatus
non-endemis terhadap kejadian HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil uji statistik didapatkan
nilai p sebesar 0,011 (p<0,05), maka dapa disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pengguna narkoba dengan kejadian HIV dan AIDS.Penelitian terkait dilakukan oleh Heimer (2009) yang
memetakan 18 dari 20 kasus insiden terdeteksi di daerah perkotaan yang endemis HIV dan AIDS, dan
sisanya berada di wilayah yang berdekatan dengan cluster kota endemis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara pengguna narkoba dengan kejadian HIV dan AIDS
diperoleh bahwa terdapat 92,3% wilayah dengan pengguna kondom yang tergolong tinggi berstatus endemis
dan sebesar 81,8% wilayah dengan pengguna kondom yang tergolong rendah berstatus non-endemis
terhadap kejadian HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil uji statistik didapatkan nilai p sebesar
0,001 (p<0,05), maka dapa disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengguna kondom
dengan kejadian HIV dan AIDS.Penelitian terkait dilakukan oleh Luginaah (2005) di Kenya menunjukkan
bahwa ada beberapakesamaan dalambeberapa praktekbudaya di antarasuku-sukumembuatkelompok etnisdi
Kenya menjadi populasi berisiko.Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Ronan (2001) menunjukkan
prevalensi HIVdi Nigeriameningkat dengan cepat.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, ada beberapa variabel independen yang berhubungan
dengan variabel dependen yaitu ada hubungan antara karakteristik wilayah, pengguna narkoba dan
penggunaan kondom dengan kejadian HIV dan AIDS. Sedangkan kedua variabel independen lainnya yaitu
kepadatan penduduk dan klasifikasi kota tidak berhubungan dengan kejadian HIV dan AIDS. Diharapkan
ada pembuatan tren penyebaran kasus HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan agar dapat menentukan
wilayah yang rawan serta dapat melihat pencapaian program penanggulangan HIV dan AIDS. Analisis
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 102

I N D O N E S I A
spasial penting dilakukan dalam kegiatan analisis surveilans HIV dan AIDS sebagai salah satu metode untuk
mempelajari hubungan sebaran kejadian HIV dan AIDS dengan determinannya serta digunakan dalam
kegiatan deteksi dini wilayah-wilayah yang berpotensi kejadian HIV dan AIDS tinggi serta penentuan
prioritas penanganannya.Peningkatan analisis masalah kesehatan yang berbasis wilayah sangat
diharapkan.Dengan pemetaan penyakit maka dapat memudahkan menentukan prioritas masalah serta dapat
menentukan langkah-langkah yang lebih tepat. Diharapkan kepada penelitian-penelitian selanjutnya untuk
meneliti faktor-faktor lain yang berhubungan dengan HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan atau
penelitian penyakit lain dengan menggunakan pemetaan.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner, Suddarth dkk.(2002). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Medikal Bedah.Volume 2. Jakarta. EGC.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.(2010). Strategi Nasional Penanggulangan IMS dan HIV dan
AIDS. Jakarta
Hartoyo G.M.E., dkk. (2010). Modul Pelatihan Sistem Informasi Geigrafis (SIG) Tingkat Dasar.Tropenbos
International Indonesia Programme. Bogor.
Heimer, Robert et al. (2009). Spatial Distribution of HIV prevalence and incidence among injection drugs
users in St Petersburg : implicatin for HIV transmission. Journal of National Institutes of Health :
Januasri 2 ; 22 (1) : 123-130
Kurniasih, N., dkk. (2006). Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987-2006. Jakarta: Depkes RI.
Luginaah I., dkk. (2005). Challenges of a pandemic: HIV/AIDS related problems affecting Kenyan widows.
Social Science and Medicine60: 1219-1228.
Lytnen M., (2003).The spatial diffusion of Human Immunodeficiency Virus Type 1 in Finland, 1982-
1987. Annals of the Association of American Geographers 81: 127-151
Ronan Van Rossem, dkk. (2001). Consistent Condom Use With Different Types of Partners: Evidence From
Two Nigerian Surveys. AIDS Education and Prevention: Vol. 13, No. 3, pp. 252-267.
UNAIDS. (2006). Report On The Global AIDS Epidemic: ExecutiveSummary. A UNAIDS 10
th
Anniversary
Special Edition.
World Health Organization (WHO).(2009). The Use Of Antiretroviral Therapy: A Simplified Approach For
Resource-Constrained Countries


































JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 103

I N D O N E S I A
PENGARUHKOMBINASI CAPTOPRIL DAN SELEDRI (Apiumgraveolens)TERHADAP
PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI PRIMER

Irawati
1
,

A. Zulkifli Abdullah
2
,

Indar
3


1
Akademi Perawat Kabupaten Bone,
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

High blood pressure or hypertension is a common condition in which the blood fluid in the body
suppress the arterial wall is strong enough to eventually cause health problems, such as heart disease. This
study aimed to determine the effect of the intervention (provision) celery to decrease blood pressure in
hypertensive patients in the Work Area Bajoe of Bone Health Centerin 2013. The study design was
arandomized non Quasi-experimental preposttest control group design. Populationis Visitors who came for
treatment at the health center Bajoe and hypertension as well as a new patient. Sample is partially treated
hypertensive patients in Puskesmas Bajoe. Sample of 72 people, divided into three groups were given celery,
catopriland celery+catorpil combination of each 24 people. Analysis of the data used were paired t test and
ANOVA. The results showed that administration of celery, and acombination catoprilcatopril+celeryeffecton
blood pressure of hypertensive patients. Highest percent age dropin the combination catopril+celery.
Difference in systolic blood pressure in all three groups occurred in the first measurement, the third and
fourth, while the difference in diastolic blood pressure in the first and fourth measurement.

Key words: hypertension, celery, catopril

PENDAHULUAN
Hipertensi diperkirakan menjadi penyebab kematian 7,1 juta orang di seluruh dunia, yaitu sekitar
13% total kematian. Hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) yang
tinggi. Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu,
sehingga sering ditemukan penderita yang telah mengalami komplikasi pada organ vital seperti jantung,
otak ataupun ginjal (Sani,2008).
Data Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007 menyebutkan hipertensi sebagai penyebab
kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberculosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab
kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi hipertensi penduduk umur >18 tahun sebesar 31%.
Hasil survey secara umum prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun berkisar antara 1520%. Data
Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone menunjukkan jumlah kasus hipertensi pada tahun 2011 sebanyak 437
kasus dan tahun 2012 sebanyak 524.
Masyarakat di daerah ini diduga memiliki risiko tinggi akan hipertensi, karena kebiasaan
masyarakat mengkonsumsi natrium, lemak seperti ikan asin, makanan bersantan dan jeroan didaerah ini
cukup tinggi serta cenderung memiiki pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok dan konsumsi
alkohol.(Puskesmas Bajoe,2012).
Pengobatanhipertensimembutuhkanbiaya yang tidak sedikit, sehingga menjadi beban yang besar
baik untuk keluarga, masyarakat maupun Negara (Madina, 2007). Selain obat-obatan kimia, penggunaan
obat tradisional juga termasuk penatalaksanaan farmakologi dalam mengatasi hipertensi. Pengobatan
tradisional terus berkembang walaupun perlahan. Perkembangan ini disebabkan obat-obat kimia memiliki
beberapa kelemahan, misalnya sering menimbulkan efek samping baik secara langsung maupun
terakumulasi. Sebaliknya, tanaman yang berkhasiat obat atau jamu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki
oleh obat kimia. Diantaranya efek samping tanaman obat tidak ada, jika penggunaannya sesuai dengan
petunjuk (Sukmono, 2009).
Tingginya biaya pengobatan obat-obat kimia juga mendorong masyarakat untuk mencari alternatif
pengobatan dengan pengobatan tradisional. Salah satunya adalah pengobatan dengan tanaman obat
(Mahendra, 2005). Salah satu yang dipergunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah seledri
kesabaran (Apium graveolens), bawang putih atau garlic (alium satvium), bawang merah atau onion (alium
cepa), tomat (lycopersicum), semangka (citrullus vulgaris) (Mahendra, 2005). Seledri telah lama digunakan
oleh manusia sebagai penyedap masakan. Selain itu seledri dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk
menurunkan tekanan darah tinggi dan sebagai sampo yang dapat menghitamkan rambut (Mahaputra 2009).
Keuntungan obat antihipertensi antara lain: (1) tanaman seledri mudah didapat, (2) proses meramunya lebih
mudah dan cepat, (3) hanya membutuhkan sedikit ketelitian dan kesabaran. Seledri megandung apigenin
yang sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhintervensi (pemberian) seledri terhadap penurunan tekanan darah
pada pasien hipertensi di Wilayah KerjaPuskesmas Bajoe Kabupaten Bone tahun 2013.

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 104

I N D O N E S I A
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah KerjaPuskesmas Bajoe Kabupaten Bone dengan jumlah kasus
hipertensi selalu meningkat tiap tahunnya. Waktu penelitian selama 2 bulan yaitu bulan April-Juni 2013.
Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen non randomized pre post test control group design
karena dalam intervensi tidak melakukan randomisasi. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok yaitu
kelompok yang diberi captopril, seledri dan kombinasi captopril +seledri.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita hipertensi baru sesuai dengan kriteria JNC 7.
Sampel adalah sebagian penderita baru hipertensi yang berkunjung ke Puskesmas Bajoe. Penarikan sampel
untuk kelompok intervensi dilakukan secara non randomya itu dengan metode purposive sampling.
Pengumpulan Data
Data primer diperoleh langsung dari pasien hipertensi berupa tekanan darah yang diukur
menggunakan spygnomanometer air raksa dan stateskop. Pasien yang menjadi responden dibagi dalam tiga
kelompok, yaitu kelompok pengobatan dengan rebusan seledri, captopril dan captopril+seledri. Sebelum
dilakukan pemberian obat pada pasien hipertensi, pasien terlebih dahulu diukur tekanan darahnya untuk
mengetahui hasil tekanan darah pasien dan keluarga mengisi checklist yang sudah diberikan (pre-test) yang
dilakukan satu hari sebelum pemberian rebusan seledri. Post-test pengukuran tekanan darah pada pasien
hipertensi dilakukan setelah tiga hari diberi rebusan seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan
keluarga menyerahkan checklist yang sudah diisi. Data sekunder diperoleh dari keluarga, hasil pengukuran
tekanan darah dan sumber-sumber lain yang menunjang penelitian tersebut.
Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS 18 untuk melakukan
analisis data dengan uji univariat dan bivariat menggunakan uji T-testdan Anova test.

HASIL
Perubahan Tekanan Darah
Saat post tets I persentase penurunan tekanan darah paling tinggi pada kelompok seledri 3 orang
(12,5%), dan paling rendah pada kelompok captopril (4,2%). Saat post test 2, tekanan darah normal paling
banyak di kelompok seledri dan kombinasi captopril+seledri (37,5%). Saat post test 3, jumlah responden
yang mempunyai tekanan darah normal paling tinggi pada kombinasi catopril+seledri (66,7%) dan paling
sedikit pada kelompok catopril (33,3%). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan seledri dapat menurunkan
tekanan darah penderita hipertensi, dan akan maksimal hasilnya jika dikombinasikan dengan obat dokter
yaitu catopril.
Tabel 1 menunjukkan bahwa penurunan rata rata tekanan darah sistole saat post test I paling tinggi
pada kelompok yang menggunakan catopril+seledri yaitu 6,8%, dan paling sedikit yang minum seledri yaitu
2,5%. Demikian juga penurunan tekanan darah diastole paling tinggi pada penggunaan catopril+seledri
yaitu 8,3% dan paling rendah pada pengguna seledri yaitu 0,5%. Hasil uji statistik dengan dengan uji t
berpasangan menunjukkan bahwa pemberian obat anti hipertensi (seledri maupun catopril dan kombinasi
catopril+seledri berpengaruh pada penurunan tekanan darah sistole semua kelompok yaitu p=0,000 (p<0,05).
Sedangkan untuk tekanan darah diastole, penggunaan catopril dan kombinasi catopril+seledri berhasil
menurunkan tekanan darah diastole (p<0,05) namun tidak demikian dengan seledri (p=0,338) yang
menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah diastole belum signifikan.

Tabel 1. Perbedaan tekanan darah sistole pre dan post test 1 pada ketiga kelompok perlakuan di
Wilayah Kerja Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone Tahun 2013

Karakteristik Responden
Pre test Post test 1
Beda
Persen
penurunan
P
Mean Mean
Seledri
Sistole 148,85 145 3,7 2,5 0,001
Diastole 85 84,6 0,4 0,5 0,338
Catopril
Sistole 161,7 152,5 9,2 5,7 0,000
Diastole 91,2 85,4 5,8 6,4 0,000
Catopril+seledri
Sistole 159,6 148,8 10,8 6,8 0,000
Diastole 95 87,1 7,9 8,3 0,000
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa bahwa penurunan rata rata tekanan darah sistole saat post test 2
paling tinggi pada kelompok yang menggunakan catopril+seledri yaitu 13,8%, dan paling sedikit yang
minum seledri yaitu 5,0%. Demikian juga penurunan tekanan darah diastole paling tinggi pada penggunaan
catopril+seledri yaitu 15,8% dan paling rendah pada pengguna seledri yaitu 3,9%. Hasil uji statistik dengan
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 105

I N D O N E S I A
dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa pemberian obat anti hipertensi berpengaruh terhadap
penurunan tekanan darah sistole dan diastole pada semua kelompok yaitu p=0,000 (p<0,05).

Tabel 2. Perbedaan tekanan darah sistole pre dan post test 2 pada ketiga kelompok perlakuan di
Wilayah Kerja Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone Tahun 2013

Karakteristik Responden
Pre test Post test 2
Beda
Persen
penurunan
P
mean Mean
Seledri
Sistole 148,85 141,2 7,5 5,0 0,000
Diastole 85 81,7 3,3 3,9 0,003
Catopril
Sistole 161,7 150 11,7 7,2 0,000
Diastole 91,2 82,9 8,3 12,8 0,000
Catopril+seledri
Sistole 159,6 137,5 22,1 13,8 0,000
Diastole 95 80,0 15,0 15,8 0,000
Data Primer

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada saat post test 3, penurunan rata rata tekanan darah sistole pada
kelompok seledri 9,0%, catopril 13,9% dan kombinasi catopril+seledri 20,6%. Penurunan rata rata tekanan
darah diastole pada kelompok seledri 6,9%, catopril 9,1% dan kombinasi catopril + seledri 20,2%.Hasil uji
statistik dengan dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa pemberian obat anti hipertensi (seledri,
catopril, catopril+seledri) berpengaruh menurunkan tekanan darah sistole maupun diastole pada semua
kelompok yaitu p=0,000 (p<0,05).

Tabel 3. Perbedaan tekanan darah sistole pre dan post test 3 pada ketiga kelompok perlakuan di
Wilayah Kerja Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone Tahun 2013

Karakteristik Responden
Pre test Post test 3
Beda Persen penurunan P
mean mean
Seledri
Sistole 148,85 135,4 13,3 9,0 0,000
Diastole 85 79,2 5,8 6,9 0,000
Catopril
Sistole 161,7 140 21,7 13,4 0,000
Diastole 91,2 79,6 11,7 9,1 0,000
Catopril+seledri
Sistole 159,6 126,7 32,9 20,6 0,000
Diastole 95 75,8 19,2 20,2 0,000
Data Primer

Perbandingan Tekanan Darah pada ketiga kelompok
Rata- rata tekanan darah sistole paling tinggi pada pasien yang menggunakan catopril dan terendah
pada seledri. Hasil uji statistik dengan anova diperoleh bahwa pada pengukuran pertama diperoleh nilai
p=0,002 yang berarti tekanan darah sistole pada ketiga kelompok berbeda. Pada pengukuran kedua
diperoleh nilai p=0,108 yang berarti tekanan darah sistole pada ketiga kelompok tidak berbeda. Pada
pengukuran ketiga dan keempat diperoleh nilai p=0,002 dan 0,004 yang berarti tekanan darah sistole pada
ketiga kelompok berbeda(Tabel 4).

Tabel 4. Perbandingan tekanan darah sistole pada ketiga kelompok perlakuandiWilayah Kerja
Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone Tahun 2013

Tekanan darah Kelompok pengobatan Rata-rata p
Sistole 1


Seledri 148,75
0,002 Catopril 161,67
Catopril + Seledri 159,58
Sistole 2


Seledri 145,00
0,108 Catopril 152,50
Catopril + Seledri 148,75
Sistole 3


Seledri 141,25
0,006 Catopril 150,00
Catopril + Seledri 137,50
Sistole 4


Seledri 135,42
0,004 Catopril 140,00
Catopril + Seledri 126,67
Data Primer
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 106

I N D O N E S I A
Rata rata tekanan darah diastole paling tinggi pada pasien yang menggunakan obat
catopril+seledri dan terendah pada kelompok yang menggunakan seledri. Perbandingan tekanan darah
sistole pres test, post test1, post test 2 dan post test 3 pada ketiga kelompok perlakuan. Hasil uji statistik
dengan kruskall wallis diperoleh bahwa pada pengukuran pertama diperoleh nilai p=0,000 yang berarti
tekanan darah diastole pada ketiga kelompok berbeda. Pada pengukuran kedua dan ketiga diperoleh nilai
p=0,283 dan 0,091 yang berarti tekanan darah diastole pada ketiga kelompok tidak berbeda. Pada
pengukuran keempat diperoleh nilai p=0,001 yang berarti tekanan darah diastole pada ketiga kelompok
berbeda (Tabel 5).

Tabel 5. Perbandingan tekanan darah Diastole pada ketiga kelompok perlakuandi Wilayah Kerja
Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone Tahun 2013

Tekanan darah Kelompok pengobatan Rata-rata p
Diastole 1


Seledri 85,00
0,000 Catopril 91,25
Catopril + Seledri 95,00
Diastole 2


Seledri 84,58
0,283 Catopril 85,42
Catopril + Seledri 87,08
Diastole 3


Seledri 81,67
0,091 Catopril 82,92
Catopril + Seledri 80,00
Diastole 4


Seledri 79,17
0,001 Catopril 79,58
Catopril + Seledri 75,83
Data Primer

PEMBAHASAN
Hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat
mengingat dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga
membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu. Hipertensi menimbulkan
angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) yang tinggi.Pada kebanyakan kasus, hipertensi
terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu, sehingga sering ditemukan penderita yang
telah mengalami komplikasi pada organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal (Sani, 2008).
Selain obat-obatan kimia juga menggunaan obat tradisional juga termasuk penatalaksanaan
farmakologi dalam mengatasi hipertensi. Pengobatan tradisional terus berkembang walaupun perlahan.
Perkembangan ini disebabkan obat obat kimia memiliki beberapa kelemahan misalnya sering menimbulkan
efek samping baik secara langsung maupun terakumulasi. Sebaliknya, tanaman yang berkhasiat obat atau
jamu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh obat kimia. Diantaranya efek samping tanaman obat tidak
ada, jika penggunaannya sesuai dengan petunjuk (Sukmono, 2009). Tingginya biaya pengobatan obat-obat
kimia juga mendorong masyarakat untuk mencari alternative pengobatan dengan pengobatan tradisional.
Salah satunya adalah pengobatan dengan tanaman obat (Mahendra, 2005)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan rata rata tekanan darah sistole pada kelompok
yang menggunakan seledri dari 2,5% pada pengukuran kedua menjadi 9,0% pada pengukuran keempat.
Penurunan pada kelompok captopril adalah 5,7% pada pengukuran kedua menjadi 13,4% pada pengukuran
keempat. Penurunan pada kelompok catopril+seledri dari 6,8% pada pengukuran kedua menjadi 20,6%
pada pengukuran keempat.
Hasil uji statistik dengan dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa pemberian obat anti
hipertensi berpengaruh pada semua kelompok yaitu p=0,000 (p<0,05). Persentase penurunan paling besar
adalah yang menggunakan obat catopril + seledri (20,6%), kemudian catopril (13,4%) dan seledri (9,0%).
Penurunan rata rata tekanan darah diastole pada kelompok yang menggunakan seledri dari 0,5%
pada pengukuran kedua menjadi 6,9% pada pengukuran keempat. Penurunan pada kelompok catopril adalah
6,4% pada pengukuran kedua menjadi 12,8% pada pengukuran keempat. Penurunan pada kelompok
catopril+seledri dari 8,3% pada pengukuran kedua menjadi 20,2% pada pengukuran keempat.
Hasil uji statistik dengan dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa pemberian obat anti
hipertensi berpengaruh pada kelompok catopril dan catopril +seledri yaitu p=0,000 (p<0,05). Sedangkan
kelompok seledri tidak berpengaruh pada pengukuran kedua, tetapi pada pengukuran ketiga dan keempat
pemberian seledri telah berhasil menurunkan tekanan darah diastole p=0,000. Persentase penurunan paling
besar adalah yang menggunakan obat catopril + seledri (20,2%), kemudian catopril (12,8%) dan seledri
(6,9%).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan seledri daapt menurunkan tekanan darah sehingga
dapat digunakan sebagai pengganti atau pendamping obat paten (catopril). Hal ini disebabkan Seledri
megandung apigenin yang sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 107

I N D O N E S I A
darah tinggi. Selain itu seledri mengandung pthalides dan magnesium yang baik untuk melemaskan otot-otot
dan membantu menormalkan penyakit pembuluh darah arteri.
Seledri mengandung senyawa aktif yang dapat menurunkan tekanan darah yaitu apiin (yang
berfungsi sebagai calcium antagonist) dan manitol yang berfungsi sebagai diuretic. Daun seledri banyak
megandung Apiin dan substansi diuretik yang bermanfaat untuk menambah jumlah air seni (Hariana, 2008).
Unsur-unsur yang terdapat dalam seledri dapat menurunkan tekanan darah adalah flavonoid,
apigenin, vitamn C, fitosterol dan vitamin K dan dapat berperan dalam metabolism gula (mengatur kadar
Glukosa), meabolisme lemak, efek diuretik dan mempertahankan elastisitas pembuluh darah. Dengan
demikian seledri memiliki peranan mekanisme dalam penurunan tekanan darah.
Kandungan seledri yang dapat menurunkan tekanan darah adalah 1) Flvanoid, dapat menghalau
penyakit degenerative. Flavanoid dapat bertindak sebagai sebagai penstabil oksigen singlet. Salah satu
flavonoid yang berkhasiat seperti itu adalah quarcetin. Senyawa yang beraktifitas sebagai anti oksidan
dengan melepaskan atau menyumbangkan ion Hidrogen kepada radikal bebas peroksi agar menjadi lebih
stabil. Aktifitas tersebut menghalangi reaksi oksidasi kolesterol jahat (LDL) yang menyebabkan darah
mengental, sehingga mencegah pengendapan lemak pada dindng pembuluh darah (Jupiter,2008). 2)
Apigenin, terdapat di Seledri sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah tinggi.
3)Vitamin C, dapat memperkuat otot jantung, vitamin C berperan penting melalui proses metabolisme
kolesterol vitamin C dapat meningkatkan kadar HDL dan berfungsi sebagai pencahar sehingga dapat
meningkatkan pembuangan kotoran. 4) Fitosterol, adalah sterol yang terdapat dalam tanaman yang
mempunyai struktur mirip kolesterol, fitosterol dapat membantu menurunkan kadar kolesterol yang
memasuki aliran darah sehingga fitosterol dapat membantu untuk menurunkan tekanan darah. 5) Vitamin K
berfungsi membantu proses pembekuan darah. Vitamin K berpotensi mencegah penyakit seperti jantung dan
stroke karena efeknya mengurangi pengerasan pembuluh darah oleh factor-faktor seperti timbunan flak
kalsium. 6) Apiiin bersifat diuretic yang membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan garamdari
dalam tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam darah akan menurunkan tekanan darah.
Dewi (2011) mengemukakan bahwa seledri berpengaruh pada penurunan tekanan darah sistolik
sebesar 13,65 mmHg dan diastolic sebesar 5,79 mmHg, sedangkan Musakkar (2012), menyakatan bahwa
seledri berpengaruh pada penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20,32 mmHg dan diastolic sebesar 7,09
mmHg.
Penelitian Musakkar (2012) menyatakan tekanan darah sistol maupun diastole
terjadipenurunansetelahdiberikanrebusanseledridanobat anti hiperteniselama 3 harisebesar20,32 mmHg dan
7,09 mmg. Penelitian ini menyatakan pemberian seledri dapat menurunkan rata-rata tekanan darah sistole
dan diastole sebesar 21,86 mmHg dan 9,75 mmHg.

KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menyimpulkan pemberian seledri, captopril, dan kombinasi catopril+seledri
berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi. Perbedaan tekanan darah sistole pada
ketiga kelompok terjadi pada pengukuran pertama, ketiga dan keempat, sedangkan perbedaan tekanan darah
diastole pada pengukuran pertama dan keempat. Disarankan sebaiknya penderta hipertensi menggunakan
kombinasi obat paten (catopril) dengan obat herbal (seledri) supaya penurunah tekanan darah lebih cepat
dan penderita hipertensi perlu memperhatikan pola makan agar tidak mengkonsumsi makanan yang dapat
memicu peningkatan tekanan darah.

DAFTAR PUSTAKA
Hariana Arief. (2008). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta, Penebar Swadaya.
Hembing. (2008). Manfaat Seledri (online) (www. Vibislife.com) Diakses tanggal 2 Maret 2013.
Juwita, R. (2008). Validas Metode Penentuan Kadar Apigenin dalam ekstrak Departemen FMIPA Bogor.
Mahendra. (2005). 13 JenisTanaman obat Ampuh . Penebar Swadaya. Jakata.
Madina. (2007). Menkes :Prevalensi Hipertensi di Indonesia 17-21 % (online) http//www. Madinask.com
diakses 25 Maret 2013.
Musakkar. (2012). Pengaruh Pemberian Rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah. Palembang
Sumatera Selatan.
Puskesmas Bajoe. (2012). Profil Puskesmas Bajoe tahun 2012. Watampone.
Sani, R. (2008). Pengaruh Seledri Terhadap Penurunan Tekanan Darah. Jakarta.
Sukmono. (2009). Mengatasi Aneka Penyakit dengan terapi herbal. Penerbit :Penebar Swadaya, Jakarta.








JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 108

I N D O N E S I A
FAKTOR RISIKO KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS PADA BENTOR DI POLRES
LIMBOTO KABUPATEN GORONTALO TAHUN 2007-2009

Ivon Riyanto Abdullah

Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo

ABSTRACT

There were 387 cases of traffic accident at Limboto Resort Police in 2007-2009. From theses cases,
111 (287,7%) were motorized becak (bentor) accidental. The study was analytic observation using a control
case study. The population and samples of the study were those who have suffered from bentor accident. The
selection of samples was done by simple random sampling. The number of csae group was 71 people and the
control was 71 people. The data were analyzed by using odds ratio (OR). The bivariate analysis indicates
that the risk factors in the incidence of traffic accident are rider behaviour OR = 1/503 (95% Cl: 0.76
2.941), riders age OR = 1.208 (95% Cl: 0,515-2.833), riders condition OR = 1.376 (95% Cl: 0.682-
2.776), alcoholic consumption OR = 1.207 (95% Cl: 0,641-2.584), speed OR = 1.796 (95% Cl: 0.797-4.01),
and rental fee system OR = 1.800 (95% Cl: 0.914-3.542). Discipline must be enforced and periodical sweep
to bentor rider is necessary.

Key words: Traffic accident, bentor


PENDAHULUAN
Kecelakaan (accident) merupakan kejadian yang sangat mendadak sehingga tidak terduga dan
terkendali, bahkan juga tidak dapat diramalkan. Bentuk kecelakaan ini umumnya terjadi pada dunia
transportasi atau lalu lintas. Lalu lintas dikota kecil tidak memiliki masalah sekompleks dikota besar,
masyarakat yang cenderung homogen dan jumlah penduduk yang sedikit membuat suasana lalu lintas di
daerah cenderung terlihat lebih manusiawi dibanding kota besar (Bustan 2000).
Meskipun demikian, bukan berarti keadaan baik-baik saja ada juga sejumlah insiden terkait lalu
lintas dan angkutan jalan, insiden yang terjadi di kota kecil ataupun kota besar di Indonesia cukup pelik.
Pertumbuhan penduduk yang terjadi setiap tahun secara otomatis membuat permintaan akan kebutuhan alat
transportasi meningkat, baik transportasi umum maupun pribadi (Kusmagi 2010).
Menurut direktur WHO untuk kawasan Asia Tenggara, Bo Asplund menyatakan pentingnya
mengubah pandangan masyarakat bahwa kecelakaan di jalan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak
bisa dihindari. Di kawasan Asia Tenggara pada Tahun 2001 ada 354.000 orang meninggal akibat kecelakaan
dijalan dan 6,2 juta terpaksa dirawat dirumah sakit akibat kecelakaan dijalan. Dan biaya akibat kecelakaan di
jalan di negara-negara kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai 14 milyar Dollar Amerika (Icawati,
2006). Di Indonesia, kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa 30.000 jiwa setiap tahunnya dan jumlah itu
tertinggi nomor tiga se-ASEAN (Achmadi, 2008). Sebagian besar (70%) korban kecelakaan lalu lintas
adalah pengendara sepeda motor dengan umur 15-55 tahun dan berpenghasilan rendah, dan cedera kepala
merupakan urutan pertama dari semua jenis cedera yang dialami korban kecelakaan (Yusherman, 2008).
Data dari Direktorat Kepolisian RI, pada tahun 2009 terjadi 57.726 kasus kecelakaan, artinya
dalam setiap 9,1 menit sekali terjadi satu kasus kecelakaan. Peristiwa tersebut menyebabkan 18.205 korban
meninggal. Kebanyakan korban meninggal adalah pengguna jalan di usia produktif (31-40 Tahun), jumlah
kerugian mencapai Rp 84,416 triliyun (Kusmagi, 2010).
Di Polda Gorontalo pada tahun 2007 jumlah kasus sebesar 906 kasus yang meninggal dunia 118
orang, luka berat 205 orang, luka ringan 583 orang, dengan kerugian material Rp 1.030.800.000,-. Tahun
2008 420 kasus, meninggal dunia 87 orang, luka berat 172 orang, luka ringan 409 orang dengan jumlah
kerugian materi Rp.1.425.141.000,- dan pada tahun 2009 kasus kecelakaan meningkat (21,15%) menjadi
530 kasus, meninggal dunia 93 orang, luka berat 163 orang, luka ringan 463 orang dengan kerugian materil
mencapai Rp. 1.871.311.000,- (Ditlantas Polda Gorontalo, 2010).
Berdasarkan data tahun 2007 di Polres Limboto kabupaten Gorontalo jumlah kasus kecelakaan lalu
lintas yang dilaporkan sebanyak 140 kasus dengan jumlah meninggal dunia 61 orang, luka berat 139 orang
dan luka ringan 23 orang, tahun 2008 kasus yang dilaporkan sebanyak 158 kasus dengan jumlah yang
meninggal dunia sebanyak 56 orang, luka berat 65 orang dan luka ringan sebanyak 150 orang, sedangkan
pada tahun 2009 jumlah kecelakaan di Polres Limboto kabupaten Gorontalo sebanyak 89 kasus, yang
meninggal dunia 70 orang, luka berat 40 orang dan luka ringan 76 orang dengan kerugian material Rp.
328.450.000. Jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di Polres Limboto pada tahun 2007 - 2009 mencapai 387
kasus dan kasus kecelakaan bentor mencapai 111 kasus atau 28,7% dari seluruh kejadian kecelakaan yang
terjadi di wilayah hukum Polres Limboto (Satlantas Polres Limboto, 2010).
Beberapa penyebab kecelakaan lalu lintas telah dilaporkan antara lain faktor manusia, kenderaan,
dan lingkungan. Faktor yang paling dominan memberikan kontribusi terjadinya kecelakaan lalu lintas
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 109

I N D O N E S I A
adalah faktor manusia / pengendara (human factor) yaitu sebesar 75-80%. Faktor pengendara ini meliputi
perilaku pengendara, kondisi pengendara, dan usia pengendara, kebiasaan mengkonsumsi alkohol (Bustan,
2000).
Di negara berkembang seperti Indonesia, kesadaran tertib di jalan raya masih rendah sehingga
untuk menemukan pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan, terutama pengendara mobil dan motor,
cukup mudah. Mulai dari pengendara berjalan melawan arah, menerobos lampu merah, tidak menggunakan
helm, hingga angkutan umum yang ngetem seenaknya (Kusmagi, 2010).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yohanes Lulie dan John Tri Hatmoko tahun 2005, perilaku
pengendara yang agresif seperti menyelinap, ngebut, kurang hati-hati atau ceroboh, dan adanya gangguan
kondisi pengendara seperti mengantuk, letih dan mabuk merupakan faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu
lintas 83%.
Usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 55 tahun mempunyai risiko terjadinya kecelakaan lalu
lintas (Bustan,2000). Menurut Icawati 2006, umur pengendara kurang dari 20 tahun atau lebih dari 54 tahun
merupakan faktor risiko OR = 2,26 terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas.
Distribusi kecepatan pengemudi tersebar antara 20 km/jam sampai 110 km/jam. Ada 116 responden
(65,17%) mengendara dengan kecepatan 60 km/jam ke atas memberikan konstribusi pada kejadian
kecelakaan lalu lintas (Lulie dan Hatmoko, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Ismiyati tahun 2009 di
Boalemo, kecepatan kenderaan lebih dari 50 km/jam merupakan faktor risiko yang berisiko sebesar
OR=2.10 terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Upaya pencegahan untuk mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas telah banyak dilakukan,
seperti penggunaan helm pada pengendara sepeda motor, penggunaan sabuk pengaman (seat belt) pada
pengendara kendaraan roda empat, penyediaan koridor (sidewalk) dan penyedian jembatan penyeberangan
(over head bridge) untuk pejalan kaki dan penyediaan rambu jalanan (traffic signal) yang didukung oleh
sesuatu peraturan tentang lalu lintas (Bustan 2000).
Bentor adalah angkutan umum dianggap sebagai pedang bermata dua bagi masyarakat Gorontalo,
disatu sisi membantu mereka yang tidak memiliki kenderaan pribadi dan disisi lain karena rendahnya
disiplin dan kurang hati hatian para pengemudi bentor menjadi bencana tersendiri karena sumber
kesemrautan dan kemacetan yang dapat menyebabkan kecelakaan.

METODE PENELITIAN
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan adalah observasional analitik dengan desain Case Control
Study, yang berangkat dari efek kemudian menelusuri secara retrospektif faktor risikonya.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengendara yang pernah mengalami kecelakaan lalu
lintas yang tercatat di unit kecelakaan lalu lintas satlantas Polres Limboto Kabupaten Gorontalo pada tahun
2007- 2009 yaitu sebanyak 387 orang.Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pengendara bentor yang
pernah mengalami kecelakaan lalu lintas maupun tidak di Polres Limboto Kabupaten Gorontalo pada tahun
2007- 2009. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan menggunakan teknik simpel
sampling yaitu orang yang mengendarai bentor dan tercatat di Satlantas Polres Limboto Kabupaten
Gorontalo pada tahun 2007-2009. Besarnya sampel dalam penelitian ini menggunakan tabel Stanley
Lemeshow (tabel 9h), dengan derajat kepercayaan 95%, penduga dalam jarak () 50 %, Odds Rasio (OR) =
2 dan perkiraan proporsi keterpaparan pada kelompok control (P
2
*) = 0,30, maka diperoleh besar sampel
minimal untuk setiap kasus dan kontrol adalah 71 sehingga bila mengambil perbandingan kasus : kontrol = 1
: 1, maka jumlah sampel minimal sebanyak 142 sampel
Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dari data sekunder melalui laporan Satlantas Polres Limboto
Kabupaten Gorontalo. Data primer melalui wawancara mendalam kepada pengemudi bentor Pengolahan
data meliputi editing, coding, entri data, cleaning data, analisa data.
Analisis Data
Analisis data penelitian disajikan melalui analisis univariat untuk mendapatkan gambaran umum
dengan cara mendeskripsikan variabel bebas dan variabel terikat yaitu dengan melihat gambaran distribusi
frekuensi. Selanjutnya dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui besarnya risiko masing-masing variabel
bebas terhadap variabel terikat dengan menggunakan uji Odds Ratio dengan Confidence Interval (CI) = 95
%.

HASIL
Gambaran Univariat
Dari 142 responden berdasarkan kejadiaan kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto
Kabupaten Gorontalo Tahun 2007-2009 responden yang celaka sebanyak 71 orang atau 50% dan tidak
celaka sebanyak 71 orang atau 50%, proporsi perilaku pengendara terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas
pada bentor, perilaku pengendara yang tertinggi adalah ngebut sebanyak 67 orang atau 47,18% dan yang
terendah adalah melanggar rambu sebanyak 2 orang atau 1,41%.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 110

I N D O N E S I A
Proporsi umur pengendara terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas pada bentor di terlihat umur
pengendara yang tertinggi adalah 20-55 Tahun sebanyak 120 orang atau 84,51% dan yang terendah adalah
>55 Tahun sebanyak 5 orang atau 3.52%.
Proporsi responden berdasarkan kondisi pengendara terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas pada
bentor terlihat kondisi pengendara yang tertinggi adalah letih sebanyak 69 orang atau 48,59% dan yang
terendah adalah kondisi pengendara baik sebanyak 3 orang atau 2,11%.
Proposri responden berdasarkan mengkonsumsi alkohol terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas
pada bentor terlihat bahwa mengkonsumsi alkohol yang tertinggi adalah mabuk sebanyak 94 orang atau
66,20% dan yang terendah adalah mengkonsumsi alkohol tidak mabuk sebanyak 48 orang atau 33,80%.
Proporsi responden berdasarkan kecepatan kendaraan terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas pada
bentor terlihat bahwa kecepatan kendaraan yang tertinggi adalah > 50 km/Jam sebanyak 111 orang atau
78,20% dan yang terendah adalah kecepatan kendaraan < 50 km/Jam sebanyak 31 orang atau 21,80%.
Proporsi responden berdasarkan sistem setoran terhadap kejadian kecelakaan lalu lintas pada bentor
terlihat bahwa sistem setoran yang tertinggi adalah > Rp. 25.000/hari sebanyak 84 orang atau 59,20% dan
yang terendah adalah sistem setoran < Rp. 25.000/hari sebanyak 58 orang atau 40,80%.
Analisis Bivariat

Tabel. Analisis Bivariat

Variabel
Kecelakaan
Jumlah
Kasus Kontrol
n % n % n %
Perilaku Pengendara

Baik 26 36.6 34 47.9 60 42.25
Ngebut 33 46.5 34 47.9 67 47.18
Menyalip 7 9.8 1 1.4 8 5.63
Tidak Menjaga Jarak 4 5.7 1 1.4 5 3.52
Melanggar Rambu lalu lintas 1 1.4 1 1.4 2 1.41
Jumlah 71 100 71 100 142 100
Umur Pengendara

< 20 Tahun 9 12.7 8 11.3 17 11.97
20 - 55 Tahun 60 84.5 60 84.5 120 84.51
> 55 Tahun 2 2.8 3 4.2 5 3.52
Jumlah 71 100 71 100 142 100
Kondisi Pengendara

Baik 14 19.8 27 38 44 30.99
Tidak Sehat 2 2.8 1 1.4 3 2.11
Ngantuk 15 21.1 14 19.8 26 18.31
Letih 40 56.3 29 40.8 69 48.59
Jumlah 71 100 71 100 142 100.00
Mengkonsumsi Alkohol

Mabuk 49 69 45 63.4 94 66.20
Tidak Mabuk 22 31 26 36.6 48 33.80
Jumlah 71 100 71 100 142 100.00
Kecepatan Kenderaan n % n % n %
50 km/Jam 59 83.1 52 73.2 111 78.20
< 50 km/Jam 12 16.9 19 26.8 31 21.80
Jumlah 71 100 71 100 142 100.00
Sistem Setoran

Rp.25.000/hr 47 66.2 37 52.1 84 59.20
< Rp.20.000/hr 24 33.8 34 47.9 58 40.80
Jumlah 71 100 71 100 142 100.00
Data Primer

Hasil analisis statistik bivariat dengan uji uji Odds Ratio terhadap variable perilaku pengendara
diperoleh nilai OR=1,503 yang berarti pengendara bentor yang sering ngebut, menyalib, tidak menjaga jarak,
serta melanggar rambu lalu lintas mempunyai risiko 1,503 kali untuk mengalami kecelakaan dibandingkan
dengan pengendara yang berperilaku baik. Dari hasil analisis bivariat lebih lanjut bahwa perilaku ngebut,
menyalib, tidak menjaga jarak, serta melanggar rambu lalu lintas merupakan faktor risiko yang tidak
bermakna terhadap status kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto berdasarkan nilai p = 0,174 >
0,05 pada 95% CI Lower Limit = 0,768, Upper Limit = 2,941.
Hasil uji odds ratio terhadap variable umur pengendara diperoleh nilai OR=1,208 yang berarti
pengendara bentor yang berumur < 20 tahun dan > 55 tahun mempunyai risiko 1,208 kali untuk mengalami
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 111

I N D O N E S I A
kecelakaan dibandingkan dengan pengendara bentor yang berumur 20 55 tahun. Dari hasil analisis bivariat
lebih lanjut bahwa umur yang berisiko tinggi merupakan faktor risiko yang tidak bermakna terhadap status
kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto berdasarkan nilai p = 0,664 > 0,05 pada 95% CI Lower
Limit = 0,515, Upper Limit = 2,883.
Hasil uji odds ratio terhadap variable kondisi pengendara diperoleh nilai OR=1,376 yang berarti
kondisi pengendara bentor yang tidak sehat, ngantuk, dan letih mempunyai risiko 1,376 kali untuk
mengalami kecelakaan dibandingkan dengan kondisi pengendara bentor yang baik. Dari hasil analisis
bivariat lebih lanjut bahwa kondisi pengendara bentor yang tidak sehat, ngatuk, dan letih merupakan faktor
risiko yang tidak bermakna terhadap status kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto berdasarkan
nilai p = 0,373 > 0,05 pada 95% CI Lower Limit = 0,682, Upper Limit = 2,776.
Hasil uji odds ratio diperoleh nilai OR=1,207 yang berarti pengendara bentor yang mabuk
mempunyai risiko 1,207 kali untuk mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pengendara yang tidak
mabuk. Dari hasil analisis bivariat lebih lanjut bahwa pengendara yang mabuk merupakan faktor risiko yang
tidak bermakna terhadap status kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto berdasarkan nilai p =
0,478 > 0,05 pada 95% CI Lower Limit = 0,641, Upper Limit = 2,584.
Hasil uji odds ratio terhadap variable kecepatan kenderaan diperoleh nilai OR=1,796 yang berarti
pengendara bentor dengan kecepatan 50 km/Jam mempunyai risiko 1,796 kali untuk mengalami
kecelakaan dibandingkan dengan pengendara dengan kecepatan < 50 km/Jam. Dari hasil analisis bivariat
lebih lanjut bahwa kecepatan kenderaan 50 km/Jam merupakan faktor risiko yang tidak bermakna terhadap
status kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto berdasarkan nilai p = 0,155 > 0,05 pada 95% CI
Lower Limit = 0,797, Upper Limit = 4,051.
Hasil uji odds ratio terhadap variable sistem setoran diperoleh nilai OR=1,800 yang berarti sistem
setoran Rp.25.000/hr mempunyai risiko 1,800 kali untuk mengalami kecelakaan dibandingkan dengan
sistem setoran < Rp. 25.000/hr . Dari hasil analisis bivariat lebih lanjut bahwa sistem setoran Rp.25.000/hr
merupakan faktor risiko yang tidak signifikan terhadap status kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres
Limboto berdasarkan nilai p = 0,088 > 0,05 pada 95% CI Lower Limit = 0,914, Upper Limit = 3,542.

PEMBAHASAN
Faktor risiko perilaku pengendara terhadap kecelakaan lalu lintas pada bentor tidak signifikan.
OR=1,503 yang berarti bahwa perilaku pengendara ngebut, menyalip, tidak menjaga jarak dan melanggar
rambu lalu lintas mempunyai risiko 1,503 kali terhadap kecelakaan lalu lintas pada bentor dibandingkan
perilaku pengendara baik. Selain faktor diatas, perilaku setiap orang sangat kompleks yang merupakan salah
satu faktor yang terkait dengan faktor pengemudi. Menurut Sembiring (2000) dalam laporannya bahwa
kecelakaan lalu lintas akibat faktor pengemudi diidentifikasi karena kurang hati-hati. Hal tersebut mungkin
terjadi karena lalu lintas dikota kecil seperti Kabupaten Gorontalo tidak memiliki masalah sekompleks di
kota besar. Masyarakat yang cenderung homogen dan jumlah penduduk yang sedikit membuat suasana lalu
lintas di daerah cenderung terlihat lebih manusiawi dibandingkan dikota besar, meskipun demikian bukan
berarti keadaan selalu baik baik saja ada juga sejumlah insiden terkait lalu lintas dan angkutan jalan.
Faktor umur merupakan faktor risiko terhadap kecelakaan lalu lintas pada bentor. terhadap
kecelakaan lalu lintas pada bentor tidak signifikan. OR=1,208 yang berarti bahwa umur < 20 atau > 55
tahun mempunyai risiko 1,208 kali terhadap kecelakaan lalu lintas pada bentor dibandingkan umur 20-55
tahun. Pada fase regresif dimulai pada umur 50 tahun keatas dimana mekanisme tubuh lebih berat kearah
kemunduran yang dimulai dalam sel sebagai komponen terkecil dalam tubuh manusia pada jaringan atau
organ tubuh yang pada akhirnya mempengaruhi keadaan fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa kecelakaan banyak terjadi pada umur < 20 tahun akibat emosi
responden yang belum stabil akibatnya mengendarai bentor ugal-ugalan, sedangkan pada usia > 55 tahun
akibat daya konsentrasi dan kemampuan penglihatan berkurang serta stamina yang mulai menurun sehingga
tidak dapat mengendalikan kendaraan
Faktor risiko kondisi pengendara tidak sehat, ngantuk dan letih mempunyai risiko 1,376 kali
terhadap kecelakaan lalu lintas pada bentor dibandingkan kondisi pengendara yang baik. Hasil penelitian
Nurul Kusuma yang dilakukan di Kota Makassar tahun 2010 menunjukan bahwa kondisi pengendara
merupakan faktor risiko terhadap kecelakaan lalu lintas. Hal ini didukung oleh Pendapat Aris Buditomo
(2002) bahwa kecelakaan banyak terjadi karena pengemudi mengantuk dan bila mengemudi 3-4 jam sehari
akan mengakibatkan kondisi pengendara menjadi lelah. Hal ini bisa saja terjadi mengingat bahwa sampel
dalam penelitian ini baik untuk kelompok kasus maupun kelompok kontrolnya mempunyai ciri dan karakter
suatu peristiwa yang sama, sehingga perbedaan yang diharapkan terlihat tidak terlalu jelas.
Hasil wawancara dengan responden menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi pada responden yang
tidak sehat akibat berkurangnya kemampuan fisik, mengantuk sehingga menyebabkan daya konsentrasi
berkurang dan pada saat kondisi letih akibat aktifitas yang dilakukan dari pagi hingga larut malam. Untuk
menghilangkan rasa ngantuk biasa pengendara bentor mendengarkan musik lewat headset ponsel hal dapat
mengurangi daya konsentrasi dan pendengaran sehingga mengurangi reaksi saat terjadi hal hal tak terduga.
Faktor risiko mengkonsumsi alkohol sampai mabuk mempunyai risiko 1,207 kali terhadap
kecelakaan lalu lintas pada bentor dibandingkan yang tidak mabuk. Hasil wawancara dan observasi
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 112

I N D O N E S I A
didapatkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol sering pengendara bentor minum bersama dipangkalan sambil
menunggu penumpang. Kecelakaan banyak terjadi pada responden mabuk karena banyak mengkonsumsi
alkohol, akibatnya konsentrasi menurun, jarak pandang terganggu sehingga bentor yang dikemudikan tidak
dapat dikontrol dan dikendalikan dengan sempurna.
Faktor risiko kecepatan pengendara > 50 km/jam mempunyai risiko 1,796 kali terhadap kecelakaan
lalu lintas pada bentor dibandingkan kecepatan pengendara < 50 km/jam. Kecepatan kendaraan merupakan
salah satu faktor pengendara yang terkait erat dengan pengemudi. (Menurut harian Algemeen Dagblad,
1999). Bahwa separuh dari kecelakaan lalu lintas di Belanda terjadi di jalan-jalan dengan kecepatan
maksimum 50 kilometer perjam. Hal ini mendukung pernyataan yang dimuat harian Algemeen Dagblad
tentang Kecelakaan Lalu lintas dilaporkan bahwa separuh dari kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan-jalan
dengan kecepatan lebih dari 50 km perjam.
Hasil wawancara dengan responden menunjukkan bahwa kecelakaan banyak terjadi pada responden
yang mengemudikan bentor dengan kecepatan > 50 km/jam, hal ini akibat bentor pada kecepatan tinggi tidak
dapat dikendalikan secara sempurna, terutama pada`saat jalan licin atau tikungan ditambah lagi sistem
pengereman bentor hanya menggunakan 1 (satu) rem yaitu di roda belakang.
Berdasarkan hasil penelitian,yang dilakukan oleh Conor CO Reynolds, dkk (Journal Environmental
Health) tahun 2009, semakin cepat kenderaan kita semakin jauh jarak yang dibutuhkan untuk melakukan
pengereman agar kenderaan dapat berhenti total. Kecepatan 40 km/jam saja butuh jarak sekitar 20-100 meter
untuk berhenti secara optimal, bergantung pada kondisi cuaca dan jalan, maka jarak yang dibutuhkan untuk
berhenti jadi makin panjang.
Faktor risiko sistem setoran > Rp. 25.000/hari mempunyai risiko 1,800 kali terhadap kecelakaan
lalu lintas pada bentor dibandingkan sistem setoran < Rp. 25.000/hari.Sebagian besar angkutan umum di
Indonesia menggunakan sistem setoran. Sistem setoran adalah suatu sistem yang mengharuskan pengemudi
memenuhi sejumlah uang tertentu per hari agar bisa mendapatkan penghasilan dan disetorkan ke pemilik
kenderaan (majikan), jika tidak terpenuhi sang sopir / pengemudi harus menutupi kekurangan itu (Kusmagi,
2010).
Sistem seperti ini membuat para pengemudi bentor menjadi kurang hati-hati, lebih mementingkan
mengejar penghasilan dan menomorduakan keselamatan, mereka berkejar-kejaran, berebut penumpang
sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan. Hasil wawancara dengan responden menunjukkan bahwa
kecelakaan banyak terjadi pada responden dengan sistem setoran > Rp. 25.000/hari, hal ini diakibatkan
pengemudi bentor berburu waktu untuk mencukupi setoran dengan ngebut untuk mengejar setoran.
Dilokasi penelitian ini sangat mudah ditemukan pelanggaran yang dilakukan para pengendara
bentor, salah satunya daya angkut bentor melebihi kapasitas yang seharusnya hanya dua orang penumpang,
dapat diisi empat sampai lima penumpang sehingga bentor sulit untuk dikendalikan dan mudah terbalik,
sedangkan di sisi lain produksi bentor tidak terkendali sehingga jumlah bentor semakin banyak.

KESIMPULAN DAN SARAN
Faktor risiko perilaku pengendara bentor, umur pengendara, kondisi pengendara, mengkonsumsi
alkohol, kecepatan pengendara, sistem setoran merupakan faktor risiko terhadap kejadian kecelakaan lalu
lintas pada bentor di Polres Limboto Kabupaten Gorontalo tahun 2007-2009.
Disarankan perlunya penegakkan disiplin berkendara dan razia yang dilakukan petugas yang
berwenang secara berkala dan berkelanjutan bagi pengemudi bentor dengan memberlakukan aturan berlalu
lintas. Perlunya pengemudi bentor cadangan untuk mencegah keletihan sebagai faktor risiko kecelakaan.
Perlunya pemberlakuan sistem setoran yang sama sehingga tidak terjadi persaingan antar pengemudi bentor
yang memaksa mereka mengejar setoran. Perlunya adanya penelitian yang lebih lanjut untuk menganalisis
faktor risiko kejadian kecelakaan lalu lintas pada bentor di Polres Limboto Kabupaten Gorontalo dengan
melihat variable lainnya

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo. (2008). Profil Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Promkes Dikes Kab.
Gorontalo.
Di Bortolomeo, et al. (2009). A Case-crossover study of alcohol consumption, meals and the risk of road
traffic crashes, (Online), (http://www.biomedcentral.com/1471-2458/316, diakses 28 Januari 2010)
Ismiati. (2009). Faktor Risiko Cidera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Polres Boalemo. Tesis tidak
diterbitkan,Makassar : Program Pascasarjana. FKM-UNHAS
Iciawati. (2006). Analisis Faktor Risiko Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas di Rumah sakit Labuang Baji,
Tesis tidak diterbitkan,Makassar : Program Pascasarjana. FKM-UNHAS.
Kusmagi Marye Agung. (2010). Selamat Berkendara di Jalan Raya, Raih Asa Sukses, Jakarta
Lulie dan Hatmoko. (2005). Perilaku Agresif Menyebabkan Resiko Kecelakaan Saat Mengemudi, Buletin
Kesehatan, Volume 6 No.1
Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. (2010).
Jakarta. Tim Kreatif Nusa Media, Bandung

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 113

I N D O N E S I A
PENGARUH PELATIHAN DENGAN METODE PROBLEM BASED LEARNING DAN
KONVENSIONAL TERHADAP PERILAKU KADER POSYANDU
DI KABUPATEN KONAWE SELATAN

Jummu Huwriyati
1
, A. Zulkifli Abdullah
2
, Mappeaty Nyorong
3


1
Bagian Epidemiologi STIK AVICENNA Kendari
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Promosi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

PBL method can improve the skills of cadres so as to increase the performance of IHC and impact
on improving the health status of mothers and children. This study aimed to determine the effect of problem
based learning method for knowledge, attitudes and actions in the district Konawe posyandu South. This
type of research is a quasi experimental design with non-randomized control group pretest-posttest design.
These samples as many as 80 cadres were selected at random sampling.Pengumpulan data is conducted
through interviews using a questionnaire. Analysis of the influence of PBL and conventional methods by
posyandu on knowledge, attitudes and actions performed by paired sample t test test and test kolmogrov-
Smirnov test for normal distribution seen in PBL and conventional groups. The results showed that based on
bivariate analysis showed the average value of the knowledge, attitudes and actions cadres given greater
influence PBL method compared with the control group using conventional methods, with a mean value of
pre test and post test for knowledge of the PBL group (12:28 to 17:03 ), attitude (5:48 to 8:43) and actions
(13.68-9.48), while for the control group using conventional methods mean value of pre test and post test for
knowledge (12:43 to 14:03), attitude (5.10-6.63) and action (9.00-10.98 ) so that there is an influence
disimpulakan PBL method on knowledge, attitudes and actions cadre posyandu.Penelitian reflikasi study
recommends the PBL method in improving behavior posyandu.

Keywords: PBL,conventional, knowledge, attitudes, actions.

PENDAHULUAN
Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat
yang dibantu oleh petugas kesehatan di suatu wilayah kerja Puskesmas, dimana program ini dapat
dilaksanakan dibalai dusun, balai kelurahan, maupun tempat-tempat lain yang mudah didatangi oleh
masyarakat. Posyandu merupakan langkah yang cukup strategis dalam rangka pengembangan kualitas
sumber daya manusia bangsa Indonesia agar dapat membangun dan menolong dirinya sendiri, sehingga
perlu ditingkatkan pembinaannya (Ismawati, 2010).
Kader posyandu merupakan kelompok yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat
sekitarnya. Kader sebagai tumpuan pemberdayaan masyarakat dan keluarga perlu dibekali pengetahuan yang
cukup. Salah satu bentuk operasional yang sangat layak untuk dilaksanakan adalah pelatihan dan penyegaran
kader Posyandu (Saripawan, 2007). Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt Behavior) (Notoatmodjo, 1997).
Selama ini kader telah memperoleh pelatihan dasar dan penyegaran tentang kegiatan pelayanan di
Posyandu. Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan dasar dan penyegaran kader tersebut adalah
pendekatan Konvensional, yaitu pelatihan yang diberikan secara ceramah dan Tanya jawab. Salah satu
kelemahan dari metode Konvensional adalah hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi tidak meningkatkan
keterampilan peserta latih (Balai Pelatihan Kesehatan Salaman, 1997 ).
Menurut Sanusi (1991), metode problem based learning atau pelatihan Belajar Berdasarkan
Masalah (BBM) merupakan salah satu alternatif yang dapat dipergunakan mengatasi kelemahan metode
pelatihan Konvensional. Karena metode BBM adalah suatu konsep pendekatan proses belajar mengajar yang
bermula dari masalah. Burhn (1992) dan Sanusi (1991) menunjukkan bahwa pemilihan masalah dalam
metode BBM merupakan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas para peserta, sehingga peserta
dapat mandiri untuk mencari pemecahan masalahnya. Di samping itu metode BBM mempergunakan modul
sebagai cara penyampaian materi. Materi disusun sedemikian rupa sehingga peserta aktif dalam
mempelajarinya. Pelatih hanya memberikan pengarahan pada awal pengajaran, dan selanjutnya pelatih
berfungsi sebagai nara sumber (Harsono, dkk., 1996 ).
World Health Organization (WHO) memperkirakan di seluruh dunia Program Posyandu yang
dicanangkan pada tahun 1986 secara dunia jumlahnya tercatat sebanyak 67.986 posyandu dan pada tahun
2004 meningkat menjadi 238.699 Posyandu. Namun bila ditinjau dari segi kualitas, masih ditemukan banyak
masalah antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai (WHO, 2008).
Di Indonesia secara kuantitas perkembangan jumlah posyandu sangat mengembirakan karena
banyak desa ditemukan 2 sampai 3 unit posyandu. Sebagai gambaran pada tahun 1986 jumlah posyandu
secara nasional tercatat sebanyak 25.000 unit, namun pada tahun 2004 meningkat menjadi 245.154. Jika
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 114

I N D O N E S I A
setiap Posyandu ditangani rata-rata 5 kader,,maka jumlah kader posyandu di Indonesia berjumlah 1.228.770
orang, dengan jumlah kader posyandu tercatat Kader aktif 823.275 orang (67,2 %) dan kader yang tidak aktif
tercatat 405.495 orang (32,8%). (Depkes, 2008).
Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara bahwa pada tahun 2009 jumlah posyandu
sebanyak 2.822 unit di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara, dengan strata Posyandu Pratama 28,1 %,
Posyandu Madya 36,6 %, Posyandu Purnama 28,1 % dan Posyandu Mandiri 6,0 %. Pada tahun 2010 jumlah
Posyandu tercatat 2.845 unit dengan kategori strata Posyandu Pratama 25,2 %, Posyandu Madya 32,3 %,
Posyandu Purnama 29,4 % dan Posyandu Mandiri 7,8 % (Dinkes Sultra, 2010). Setiap Posyandu ditangani
rata-rata 5 kader, maka jumlah kader posyandu di Propinsi Sulawesi Tenggara berjumlah 14.225 orang,
dengan jumlah kader posyandu tercatat Kader aktif 8.108 orang (57,7 %) dan kader yang tidak aktif tercatat
6.117 orang (42,3 %). Data tersebut masih menunjukkan rendahnya kinerja kader posyandu. (Dinkes Sultra,
2010).
Maka dari itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan pelatihan dengan metode
problem based learning yang dihadapi oleh kader posyandu guna melihat seberapa besar pengaruhnya dalam
peningkatan perilaku kader dalam mengelola kegiatan posyandu.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis Penelitian adalah penelitian quasy experimental dengan desain penelitian non-randomized
control group pretest postest design. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh kader posyandu yang tercatat dalam register Dinas Kesehatan
kabupaten Konawe Selatan tahun 2012 sebanyak 510 orang yang berada di Kabupaten Konawe Selatan.
Penarikan sampel yang digunakan adalah simpel random sampling yakni dengan menggunakan pengundian
unsur-unsur penelitian. Dimana tiap anggota populasi berkesempatan untuk menjadi sampel dalam penelitian
ini.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan berupa data primer yang diperoleh dari hasil wawancara
langsung dengan responden yang terpilih sebagai sampel baik kelompok yang diberikan penyuluhan
problem based learning ataupun kelompok yang diberikan dengan metode konvensional dengan
menggunakan pertanyaan yang telah di sediakan. Data sekundcer diperoleh dari catatan pada petugas Jurim
dan data dari Puskesmas Induk, tentang kader pada setiap Posyandu yang berada di Kabupaten Konawe
Selatan.
Analisis Data
Data diolah dengan menggunakan SPSS dan kemudian dilakukan analisis univariat, analisis bivariat
untuk melihat Guna melihat pengaruh intervensi terhadap variabel dependen digunakan uji t berpasangan
(paired sampel t tes) adapun untuk melihat perbedaan nilai hasil pre test maupun post test di gunakan uji t
tidak berpasangan (unpaired t test).

HASIL
Analisis Univariat
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Konda Kabupaten
Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2013

Karakteristik Responden

PBL Konventional
n % n %
Umur (Tahun)
20 29 20 50.0 24 60.0
30 40 20 50.0 16 40.0
Total 40 100 40 100
Tingkat Pendidikan
SDN 5 12.5 9 22.5
SLTP 17 42.5 20 50.0
SLTA 18 45.0 11 27.5
Total 40 100 40 100
Status Perkawinan
Kawin 30 75.0 31 77.5
Belum kawin 10 25.0 9 22.5
Total 40 100 40 100
Data Primer

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden umur 20-29 tahun pada kelompok PBL sebesar 20
(50.0%) responden dan pada kelompok konventional sebesar 24 (60.0%) responden, sedangkan responden
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 115

I N D O N E S I A
umur 30-40 tahun pada kelompok PBL sebesar 20 (50.0%) responden dan pada kelompok konventional
sebesar 16 (40.0%) responden. responden terdistribusi paling banyak pada kelompok PBL yaitu pada tingkat
pendidikan SLTA sebanyak 18 (45.0%) responden sedangkan pada kelompok konvensional yang
terdistribusi paling banyak pada tingkat pendidikan SLTP sebanyak 20 (50.0%) responden. responden
terdisribusi paling banyak pada kelompok PBL yaitu responden yang telah kawin sebanyak 30 (75,0 %)
responden sedangkan pada kelompok konvensional yang terdistribusi paling banyak yaitu responden yang
telah kawin sebanyak 31 (77.5%) responden. status pekerjaan pada kelompok PBL yang terdistribusi paling
banyak yaitu yang tidak bekerja sebesar 24 ( 60.0%) responden sedangkan pada kelompok konventional
yang terdistribusi paling banyak juga yaitu pada kelompok yang tidak bekerja sebesar 26 (65.0%) responden.

Analisis Bivariat
Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan tentang kegiatan posyandu kelompok
PBL pada pre tes adalah 12.28 dengan standar deviasi 1.90 sedangkan pada saat post test menjadi 17.03
dengan standar deviasi 1.25 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 4.75. Nilai pengetahuan terendah pada
pre test adalah 8 dan tertinggi adalah 16, sedangkan pada post test nilai terendah adalah 15 dan tertinggi
adalah 19.

Tabel 2 Gambaran rata-rata nilai pengetahuan, sikap dan tindakan kader posyandu kelompok PBL
dan Konventioanal pada pre tes dan post tes di Wilayah Kerja Puskesmas Konda Kabupaten
Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2013


Variabel
PBL
(n=40)
Konventional
(n =40)
Selisih
rerata
PBL dan
Kon
Rerata SD Rerata SD
Pengetahuan
Pre Tes
Post Tes
Beda Rata-rata

12.28
17.03

1.90
1.25

12.43
14.03

2.43
1.92


3.15
4.75 1.60
Sikap
Pre Tes
Post Tes
Beda Rata-rata

5.48
8.43

1.24
0.63

5.10
6.63

0.77
0.58


1.42
2.95 1.53
Tindakan
Pre Tes
Post Tes
Beda Rata-rata

9.48
13.68

1.45
0.88

9.00
10.98

1.26
1.20


2.22
4.20 1.98
Data Primer

PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan problem baced learning terhadap
pengetahuan, sikap dan tindakan kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu. Metode pelatihan dengan
problem based learning (PBL) atau belajar berdasarkan masalah adalah salah satu metode yang sampai saat
ini masih tergolong baru. Keuntungan lain dari metode PBL adalah lebih meningkatkan penyerapan materi
dari sasaran serta dimungkinkan pengembangan materi semaksimal mungkin sesuai dengan bahan ajaran
yang tersedia. Kelemahan metode PBL adalah apabila peserta tidak mampu untuk mengembangkan bahan
ajaran, maka proses belajar menjadi tidak menarik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan tentang kegiatan posyandu
kelompok PBL pada pre tes adalah 12.28 dengan standar deviasi 1.90 sedangkan pada saat post test menjadi
17.03 dengan standar deviasi 1.25 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 4.75. Nilai pengetahuan terendah
pada pre test adalah 8 dan tertinggi adalah 16, sedangkan pada post test nilai terendah adalah 15 dan
tertinggi adalah 19.
Sedangkan pada kelompok control menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan tentang
kegiatan posyandu kelompok Konventional pada pre tes adalah 12.43 dengan standar deviasi 2.43
sedangkan pada saat post test menjadi 14.03 dengan standar deviasi 1.92 yang berarti terjadi peningkatan
sebesar 1.6 Nilai pengetahuan terendah pada pre test adalah 7 dan tertinggi adalah 17, sedangkan pada post
test nilai terendah adalah 9 dan tertinggi adalah 19.
Perbandingan rerata masing-masing menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan pada pre tes
tertinggi pada kelompok konventional dan terendah pada kelompok PBL namun pada post test rata-rata
nilai pengetahuan tertinggi pada kelompok PBL dan terendah pada kelompok conventional. Hasil uji
statistic menunjukkan pada saat pre test didapatkan nilai p = 0,126 (p< 0,05) yang menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden antara kelompok PBL dan conventional
, namun pada saat post test didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada perbedaan
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 116

I N D O N E S I A
signifikan rata-rata skor pengetahuan responden setelah pelaksanaan intervensi pada kedua kelompok
penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai sikap tentang kegiatan posyandu kelompok
PBL pada pre tes adalah 5.48 dengan standar deviasi 1.24 sedangkan pada saat post test menjadi 8.43 dengan
standar deviasi 0.88 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 2.95. Nilai sikap terendah pada pre test adalah
4 dan tertinggi adalah 8, sedangkan pada post test nilai terendah adalah 4 dan tertinggi adalah 9. Sedangkan
pada kelompok control menunjukkan bahwa rata-rata nilai sikap tentang kegiatan posyandu kelompok
Konventional pada pre tes adalah 5.10 dengan standar deviasi 0.77 sedangkan pada saat post test menjadi
6.63 dengan standar deviasi 0.58 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 1.42 Nilai pengetahuan terendah
pada pre test adalah 4 dan tertinggi adalah 7, sedangkan pada post test nilai terendah adalah 4 dan tertinggi
adalah 8. Perbandingan rerata masing-masing menunjukkan bahwa rata-rata nilai sikap terhadap pelaksanaan
kegiatan posyandu pada pre test tertinggi pada kelompok PBL dan terendah pada kelompok konventional .
Pada post test rata-rata nilai sikap tertinggi masih pada kelompok PBL dan terendah pada kelompok
konventional. Perubahan sikap antara sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai beda rerata ke duanya
ialah 1.42 ini menunjukan terjadinya peningkatan sikap kader setelah di berikan intervensi. Hasil uji statistic
menunjukkan pada saat pre test didapatkan nilai p = 0,103 (p< 0,05) yang menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden antara kelompok PBL dan konventional , namun pada
saat post test didapatkan nilai p = 0,006 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan rata-
rata skor sikap responden setelah pelaksanaan intervensi pada kedua kelompok penelitian.
Hasil analisis tersebut menunjukkan adanya pengaruh bermakna proses belajar dengan
menggunakan metode PBL terhadap sikap kader . hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan mukti
(2006) dimana menyebutkan metode PBL dapat meningkatkan sikap bidan di desa dari aspek , klinis, umum
dan social. Sama dengan hasil temuan widodo ( 2009) bahwa pelatihan dengan metode diskusi dalam
pemecahan masalah kelompok meningkatkan sikap kader usaha kesehatan Gigi Masyarakat desa (UKGMD)
. Di perkuat juga dengan temuan Kurrachman (2003) bahwa pelatihan dengan metode ceramah yang disertai
dengan diskusi ,simulasi dan praktek meningkatkan sikap mahasiswa dalam kegiatan penimbangan balita di
Posyandu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai tindakan tentang kegiatan posyandu pada
kelompok PBL pada pre tes adalah 9,48 dengan standar deviasi 1.450 sedangkan pada post test menjadi
13,68 dengan standar deviasi 0.88 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 4.20 Nilai tindakan terendah
pada pre test adalah 7 dan tertinggi adalah 13 sedangkan pada post test nilai terendah adalah 11 dan tertinggi
adalah 15.
Sedangkan pada kelompok control menunjukkan bahwa rata-rata nilai tindakan tentang kegiatan
posyandu pada kelompok konventional pada pre tes adalah 9,00 dengan standar deviasi 1.261 sedangkan
pada post test menjadi 10.98 dengan standar deviasi 1.209 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 2.22 .
Nilai tindakan terendah pada pre test adalah 7 dan tertinggi adalah 12 sedangkan pada post test nilai terendah
adalah 8 dan tertinggi adalah 13.
Perbandingan rerata masing-masing menunjukkan bahwa rata-rata nilai tidakan terhadap
pelaksanaan kegiatan posyandu pada pre test tertinggi pada kelompok PBL dan terendah pada kelompok
konventional . Pada post test rata-rata nilai tindakan tertinggi masih pada kelompok PBL dan terendah pada
kelompok conventional.
Perubahan tindakan antara sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai beda rerata ke duanya ialah
2.22 ini menunjukan terjadinya peningkatan tindakan kader setelah di berikan intervensi.
Hasil uji statistik pada saat pre test didapatkan nilai p = 0,281 (p< 0,05) yang menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan signifikan rata-rata skor tindakan responden antara kelompok PBL dan konventional ,
namun pada saat post test didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada perbedaan
signifikan rata-rata skor tindakan responden setelah pelaksanaan intervensi pada kedua kelompok penelitian.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian parida (2010) yang menyimpulkan bahwa sebagian
besar responden memiliki skor rendah pada praktik/tindakan tentang keterampilan diposyandu sebelum
intervensi, dan setelah intervensi program pelatihan penyegaran kader kesehatan dengan hasil post test
menunjukkan nilai responden pada kelompok eksperimen membaik sebagai dampak program, dan hasilnya
signifikan pada berbagai aspek

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, Ada pengaruh metode pelatihan dengan PBL
terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu di Kabupaten
Konawe selatan, artinya metode pelatihan dengan PBL efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan
tindakan kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan posyandu dibandingkan metode konventional.
Disarankan Pelatihan kepada kader posyandu dengan menggunakan metode PBL dapat dijadikan pilihan
dalam meningkatkan perilaku kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu di Kabupaten Konawe Selatan.
Pelatihan kepada kader posyandu dengan menggunakan metode PBL perlu diberikan secara berkala pada
setiap kader sebagai bagian dalam penyegaran. Perlu adanya reflikasi penelitian menggunakan metode
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 117

I N D O N E S I A
pelatihan PBL terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan kader dalam mengukur kinerja para
kader.

DAFTAR PUSTAKA
Bruhn, J.G. (1992) Problem Based Learning : an approach toward reformning allied health education. J
Allied Health, 21, 161.
Balai Pelatihan Kesehatan Salaman, (1997).pelatihan kader posyandu. Jakarta
Depkes. (2008), Ditjen Depdagri, Ditjen Binkesmas Depkes, Unicef. 1999. Panduan Pelatihan Kader
Posyandu, Jakarta. 120
Harson (2006). Problem Based Learning for Training Health Care Managers in Developing Countries, Med
Educ, 27, 266 273.
Ismawati. (2010). Konsep Penerapan Belajar Berdasarkan Masalah (BBM) di Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Suimatera Utara Medan, Buletin Pendidikan : 1, Medan.
Mukti. (2006). A Comparison of Assessment Practices and Their Effects on Learning and Motivation in a
Student- Centered Learning Environment. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13
(3),pp.283-307 (http:// www.wikipedia.org/diakses pada 25-12-2011).
Notoatmodjo, S. (2001). Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 163 164..
Parida. (2010). Pengaruh Pelatihan Partisipatif Terhadap Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan
Kader Dalam Monitoring Tekanan Darah Usia Lanjut Di Kabupaten Sleman, Tesis tidak
diterbitkan, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Sanusi.(1991). Growth Data from Posyandu in Indonesia dan problem based learnig Precision, Accuracy,
Reliability and Utilization. Jakarta : Gizi Indonesia. 2002, 26: 17-23. (http:// www. Gizi net/diakses
pada 14-08-06).
Saripawan. (2007). Education. The Journal of Experiential Education, 27 (2),pp141-161 http://
www.wikipedia.org/diakses pada 25-12-2011).
Widodo. (2009), Faktor-faktor Positif Untuk Meningkatkan Potensi Kader Posyandu Dalam Upaya
Mencapai Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), Penelitian Gizi dan Makanan, Vol. 26 No. 2, Puslitbang
Gizi dan Makanan, Bogor.
World Health Organization. (2008). Kader Kesehatan Masyarakat (alih bahasa oleh Adi Heru S), Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

































JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 118

I N D O N E S I A
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM TYPOID
DI RUMAH SAKIT UMUM SALEWANGEN

Masriadi dan Susniati


Bagian Epidemiologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tamalatea Makassar

ABSTRACT

The typhoid fever still represents the disease caused by salmonella enteric bacterium, particularly
salmonella typhi primarily attacks the digestion duct part. The typhoid fever represents the endemic disease
and it is necessary to get attention because the high sickness figures with the incidence of 800 patients
among 100,000 inhabitants. The total cases reported were much smaller than the actual total cases. The
research aimed to investigate the factors related to the typhoid fever incident. This was an observational
research with the cross sectional study approach population in the research was all the typhoid fever
patients based on the medical record seport of Salewangan Regional General Hospital Maros in 2012 as
many as 218 people samples were as many as 52 respondent the samples were taken by the purposive
sampling technique.The research result indicates that the social economy represents the factor related to the
typhoid fever incident (p = 0.00<0.05), clean water supply is the factor related to the typhoid fever incident
(p =0.00<0,05) personal hygiene represents the factor related to the typhoid fever incident (p =0,00<0,05),
contact history is not the factor related to the typhoid fever incident (p =1.00 > 0.05).Based on the research,
it is expected to the local health officials to pay a visit to examine the environmental condition and the clean
water supply location for the community with the purpose to direct the community for always being
autonomous in maintaining the health

Key words: Typhoid fever, social economy, clean water suppy, personal hygiene, contact history.

PENDAHULUAN
Demam tifoid merupakan penyakit endemik yang selalu ada di masyarakat sepanjang waktu dengan
angka kejadian kecil. Demam tifoid typhus abdominalis adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada usus
kecil yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi. Badan kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah
sakit demam tifoid demam tifoid diseluruh dunia mencapai 16-33 juta jiwa dengan 500-600 ribu jiwa
kematian tiap tahunnya (Hadinogoro 2011)
Tingginya kejadian penyakit infeksi di negara berkembang khususnya demam typoid dihubungkan
dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan rendahnya tingkat pengetahuan yang dimiliki
kebanyakan masyarakat. Masyarakat yang berstatus sosial ekonomi rendah, keadaan gizinya rendah,
pengetahuan tentang kesehatannyapun rendah sehingga keadaan kesehatan lingkungannya buruk dan status
kesehatannya buruk. (Meylie,2010).
Demam tifoid merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak negara berkembang,
diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. Indonesia diperkirakan insiden demam
tifoid adalah 800 penderita per 100.000 penduduk pertahun, dengan angka kematian 2% (Widoyono,
2011). Demam tifoid merupakan salah satu dari penyakit infeksi terpenting. Penyakit ini di seluruh daerah
provinsi merupakan penyakit infeksi terbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh 24 kabupaten.
Sulawesi Selatan melaporkan demam tifoid melebihi 2500/100.000 penduduk (Rahayu, 2012).
Situasi penyakit Typhus (demam tifoid) di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005 sebanyak
16.478 sakit demam tifoid, dengan kematian sebanyak 6 orang (CFR=1%). Berdasarkan laporan yang di
terima oleh Subdin P2&PL Dinkes Prov. Sulsel dari beberapa kabupaten yang menunjukkan sakit demam
tifoid tertinggi yakni Kota Parepare, Kota Makassar, Kota Palopo, Kab. Enrekang dan Kab. Gowa.
Sedangkan untuk tahun 2006, tercatat jumlah penderita sebanyak 16.909 dengan kematian sebanyak 11
orang (CFR=0,07%) dan sebaran sakit demam tifoid tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang, Kota Makassar
dan Kota Parepare (Julaiha, 2012).
Riset Kesehatan Nasional, 2007 menyebutkan prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1,6 %,
sedangkan hasil prevalensi analisis lanjut ini sebesar 1,5 % yang artinya ada sakit demam tifoid tifoid 1.500
per 100.000 penduduk Indonesia (Okky, 2012). Penyakit typhus pada tahun 2008 tercatat jumlah penderita
sebanyak 20.088 dengan kematian sebanyak 3 orang, masing-masing Kab. Gowa (1 orang) dan Barru (2
orang) atau CFR= 0,01 %. Insiden Rate (IR=0.28%) yaitu tertinggi di Kab.Gowa yaitu 2.391 sakit demam
tifoid dan terendah di Kab. Luwu sebanyak 94 sakit demam tifoid, tertinggi pada umur 15-44 tahun)
sebanyak 15.212 sakit demam tifoid (Julaiha, 2012).
Hubungan demam tifoid yang berperan antara lain sanitasi lingkungan yang buruk ( tidak
menggunakan jamban saat buang air besar, kualitas sumber air bersih buruk), hygiene perorangan yang
buruk ( tidak mencuci tangan sebelum makan). Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan
bahwa kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun dan air yang bersih merupakan Hubungan terjadinya
demam tifoid (Whidy, 2012).
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 119

I N D O N E S I A
Melihat data yang ada serta beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian demam tifoid yang
dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian masyarakat, maka penulis tertarik untuk meneliti
faktor o yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangeng
Maros, 2013.

METODE PENELITIAN
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan cross sectional
study. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros, propinsi sulawesi
selatan. Waktu penelitian adalah bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2013
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita demam tifoid menurut laporan rekam medik
RSUD. Salewangang Maros pada tahun 2012 sebanyak 218 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah
dilakukan berdasarkan teknik purposive sampling, dengan kriteria bahwa: sampel yang dipilih adalah pasien
yang memiliki gejala demam tifoid dan sampel tidak memiliki gejala komplikasi di luar dari thypoid.
Prosedur Pengambilan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung responden menggunakan kuesioner.
Analisis Data
Data dianalisis dengan menggunakan uji statistic X (Chi-Square), dan logistic regresi dengan metode
backward Stepwise.

HASIL PENELITIAN
Analisis Bivariat
Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita demam tifoid (97,4%) sosial ekonomi
cukup, sedangkan yang sosial ekonomi kurang (2,6%). Hasil uji chi-square dengan nilai harapan/expected
(dibawah 5) diperoleh nilai p (0.00) lebih kecil dari 0,05. hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh
antara sosial ekonomi dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros.

Tabel 1. Hubungan Sosial Ekonomi terhadap Kejadian Demam Tifoid Di Rumah Sakit Umum Daerah
Salewangang Maros

Sosial Ekonomi
Kejadian Demam Tifoid
Jumlah
P Value
Demam Tifoid
Tidak Demam
Tifoid
n
Persen
%
n
Persen
%
n
Persen
%



0,00
Cukup 37 97.4 0 0 37 71.2
Kurang 1 2.6 14 100 15 28.8
Total 38 100.0 14 100.0 52 100.0
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita demam tifoid (97,4%) memenuhi syarat
dengan risiko tinggi, sedangkan yang penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat (2,6%). Hasil uji
fisher exact (uji alternatif chi-square dengan nilai harapan/expected (di bawah 5) diperoleh nilai p (0.00)
lebih kecil dari 0,05. hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh antara penyediaan air bersih dengan
kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros.

Tabel 2. Hubungan Penyediaan Air Bersih terhadap Kejadian Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah
Salewangang Maros

Penyediaan Air Bersih
Kejadian Demam Tifoid
Jumlah P Value
Demam tifoid Tidak demam tifoid
n % n % n %


0.00
Memenuhi Syarat 37 97.4 2 14.3 39 75.0
Tidak Memenuhi Syarat 1 2.6 12 85.7 13 25.0
Total 38 100.0 14 100.0 52 100.0
Data Primer

Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita demam tifoid (89,5%) hygiene perorangan
dengan risiko tinggi, sedangkan yang hygiene perorangan yang risiko rendah (10,5%). Hasil uji fisher exact
(uji alternatif chi-square dengan nilai harapan/expected (dibawah 5) diperoleh nilai p (0.00) lebih kecil dari
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 120

I N D O N E S I A
0,05. hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh antara higyene perorangan dengan kejadian demam
tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros.

Tabel 3. Hubungan Hygiene Perorangan terhadap Terjadinya Demam Tifoid Di Rumah Sakit Umum Daerah
Salewangang Maros

Hygiene Perorangan
Kejadian Demam Tifoid
Jumlah
P value
Demam tifoid Tidak demam tifoid
n % n % n %


0.00
Risiko Tinggi 34 89.5 5 35.7 39 75.0
Risiko Rendah 4 10.5 9 64.3 13 25.0
Total 38 100.0 14 100.0 52 100.0
Data Primer

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita demam tifoid (52,6%) riwayat kontak
dengan risiko tinggi, sedangkan yang riwayat kontak yang risiko rendah (47,4%). Hasil uji chi-square
diperoleh nilai p (1,00) lebih besar dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara
riwayat kontak dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros.

Tabel 4. Analisis Faktor Risiko Riwayat Kontak terhadap Kejadian Demam Tifoid Di Rumah Sakit Umum
Daerah Salewangan Maros

Riwayat Kontak
Kejadian Demam Tifoid
Jumlah P Value
Demam tifoid
Tidak demam
tifoid
n % n % n %

1,00
Risiko Tinggi 20 52.6 7 50.0 27 51.9
Risiko Rendah 18 47.4 7 50.0 25 48.1
Total 38 100.0 14 100.0 52 100.0
Data Primer

Analisis Multivariat
.
Tabel 5. Analisis Multivariat Variabel Yang Berpotensi Berhubungan Dengan Terjadinya Demam tifoid Di
Rumah Sakit Umum Daerah Salewangan Maros.

Variabel B Sig P Value EXP (B)
Sosial Ekonomi -59,205 0,998 0,000 0,000
Penyediaan Air Bersih 2,252 1,000 0,000 9,509
Higyene Perorangan 17,564 0,999 0,000 0,381
Riwayat Kontak -17,788 0,998 0,556 0,000
Constant 19,174 0,998 0,635
Data Primer

Setelah itu dilakukan analisis regresi logistik dengan menggunakan metode backward Stepwise LR
terdapat tiga variabel yang berhubungan dengan kejadian penyakit demam tifoid yaitu variabel sosial
ekonomi, penyediaan air bersih, hygiene perorangan karena nilai Exp (B) masing-masing 0,000, 9,509 dan
0,381. Riwayat kontak tidak berhubungan dengan kejadian penyakit demam tifoid, sebab analisis interaksi s
variabel diperoleh nilai p>0,05. Dari ketiga variabel tersebut, yang paling kuat hubungannya dengan
kejadian penyakit demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang Maros adalah variabel
penyediaan air bersih karena diantara ketiga variabel tersebut yang paling tinggi nilai exponen betanya yaitu
variabel higyene perorangan (425,381)

PEMBAHASAN
Penghasilan keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi asupan makanan dan penyakit Infeksi
yang berperan langung terhadap status gizi, penghasilan keluarga mempengaruhi fasilitas perumahan,
penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi.
Penghasilan keluarga akan menentukan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh anggota
keluarga yang sekaligus mempengaruhi asupan zat gizi.
Pendapatan seseorang merupakan faktor penting dalam menentukan permintaan masyarakat
terhadap suatu barang dan jasa tertentu, termasuk pemenuhan kebutuhan dan pelayanan kesehatan.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 121

I N D O N E S I A
Pendapatan yang memadai dapat memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk datang ke fasilitas
kesehatan. Status sosial ekonomi berhubungan dengan kejadian Dssemam tifoid, setelah dilakukan analisis
logistik regresi terhadap semua variabel yang secara bivariat, sosial ekonomi berhubungan dengan terjadinya
demam tifoid. Analisis tersebut diperoleh bahwa sosial ekonomi tetap merupakan variabel yang tida
berhubungan dengan kejadian penyakit demam tifoid dengan nilai p<0,05.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sosial ekonomi buan merupakan Hubungan kejadian demam
tifoid, hal ini berbanding terbalik dengan toeri yang ada. Hal ini disebabkan bahwa masyarakat yang
bertempat tinggal di Tanralili, kualitas makanan yang dipilih untuk keluarganya masih alami dengan melihat
bahwa lokasi penelitian rata-rata penduduknya petani yang bercocok tanam untuk memenuhi memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya.Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ade Putra (2012) yang
menyebutkan bahwa ada yang signifikan atau berhubungan antara sosial ekonomi dengan Hubungan
kejadian demam tifoid pada anak.
Mahchfuds (2005) air yang dijadikan sebagai sumber air bersih sebaiknya secara fisik dan
bakteriologis harus memenuhi syarat kesehatan. Air bersih yang tidak memenuhi standar kesehatan, menjadi
tempat lahirnya penyakit-penyakit menular yang berkumpul atau air menjadi vektor penyakit, seperti demam
tifoid (Okky,P.2012). Seseorang yang memiliki penyediaan air bersih akan lebih leluasa menggunakan air
bersih untuk berbagai keperluan, termasuk untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci tangan dan keperluan
rumah tangga lainnya. Sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki penyediaan air bersih sendiri, akan
cenderung membatasi penggunaan air bersih.
Penyediaan air bersih berhubungan dengan kejadian demam tifoid, setelah dilakukan analisis
logistik regresi terhadap semua variabel yang secara bivariat, penyediaan air bersih berhubungan dengan
terjadinya demam tifoid. Analisis tersebut diperoleh bahwa penyediaan air bersih tetap merupakan variabel
yang berhubungan dengan kejadian penyakit demam tifoid dengan nilai p<0,05.
Penelitian tersebut ditemukan sakit demam tifoid penyediaan air bersih oleh responden karena
berasal dari sumur gali dan sumur pompa tangan, yang mana air tersebut ada yang tidak memenuhi syarat
fisik untuk dikonsumsi karena tidak jernih, berasa, dan berbau, tapi masyarakat tetap memakai air itu karena
tidak ada pilihan lain kalau sudah musim hujan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Zulfikar (2011) di
Kecamatan Ngemplak, kabupaten Boyolali ditemukan bahwa tidak ada yang signifikan atau berhubungan
antara penyediaan air bersih di rumah dengan kejadian demam tifoid pada pasien rumah sakit tersebut.
Pengamatan dilapangan ditemukan sumur gali yang sudah ditembok pada saat dilakukan penelitian
sehingga airnya memenuhi syarat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang sebelumnya tidak
ditembok sehingga airnya keruh, dan penelitian ini tidak menguji secara bakteriologis sampel air yang
digunakan oleh kelompok yang bukan penderita, sehingga kemungkinan untuk terjadinya kontaminasi
dengan salmonella secara bakteriologis tidak diketahui oleh peneliti.
Hygiene perorangan adalah suatu kondisi memenuhi syarat-syarat kesehatan secara fisik secara
perorangan atau individu. Hygiene perorangan dapat berpengaruh dalam terjadinya penyakit infeksi.
Menghindari berbagai penyakit infeksi memerlukan kesadaran dari individu untuk memenuhi kebutuhannya
akan hygiene. Ini dapat diwujudkan dengan memiliki kebiasaan hidup yang memenuhi syarat.
Hygiene perorangan berhubungan dengan kejadian demam tifoid, setelah dilakukan analisis logistik
regresi terhadap semua variabel yang secara bivariat, hygiene perorangan berhubungan dengan terjadinya
demam tifoid. Analisis tersebut diperoleh bahwa hygiene perorangan tetap merupakan variabel yang
berhubungan dengan kejadian penyakit demam tifoid dengan nilai p<0,05. Responden yang kebersihan
perorangan kurang, cenderung untuk mengalami demam tifoid lebih tinggi karena penyakit ini masuk dalam
kategori falco-oral. Kuman Salmonella thypi masuk dalam tubuh melalui tangan yang tercemar karena
tidak dicuci sebelum makan, atau ikut masuk dalam tubuh, pada saat selesai buang air besar,namun tangan
tidak dicuci dengan bersih.
Personal hygiene yang buruk ini dapat berupa perilaku tidak bersih dan sehat oleh anggota
masyarakat, seperti tidak mencuci tangan sebelum maupun sesudah makan, menggunakan peralatan makan
yang sudah dipakai sebelumnya (belum dicuci langsung dipakai kembali, atau kalaupun dicuci tetapi tidak
bersih), tidak menggunakan jamban atau toilet untuk buang air besar maupun buang air kecil. Hal tersebut
juga sejalan dengan penelitian dilakukan oleh suhartini (2002) di Desa Tamajasu yang mana menemukan
bahwa pada anak yang dengan kebersihan perorangannya kurang lebih cenderung mengalami demam tifoid
jika dibandingkan dengan anak yang kebersihan peroramgannya baik.
Penelitian ditemukan sakit demam tifoid, dimana ada responden yang hygiene perorangan kurang
atau tidak memenuhi syarat, namun tidak mengalami demam tifoid. Hal tersebut disebabkan karena
kekebalan tubuh orang atau responden tersebut dalam keadaan baik, sehingga tubuh tidak mudah untuk
terinfeksi oleh Salmonella tyipi, dan ini disebabkan karena asupan makanan yang masuk dalam tubuh betul-
betul sesuai dengan kebutuhan tubuh orang atau responden tersebut.
Terhadap subyek yang dinyatakan terinfeksi demam tifoid diteliti tentang pelacakan individu
kontak serumah dan lingkungan. Penelitian ini untuk melacak anggota keluarga serumah yang menderita
demam tifoid dilakukan matching berdasarkan pekerjaan dan tempat tinggal. Hasil uji chi-square diperoleh
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 122

I N D O N E S I A
nilai p (0.556) lebih besar dari 0,05. hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara riwayat
kontak dengan kejadian demam tifoid .
Demam tifoid merupakan keadaan umum yang dapat disebabkan oleh kontak serumah. Penelitian
ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Laksono H (2009)
dan Zulfikar (2010) pada masyarakat penderita Demam tifoid di Ngemplak kabupaten Boyolali, menemukan
bahwa terdapat anggota keluarga yang menderita demam tifoid, terdapat lebih banyak pada kelompok sakit
demam tifoid daripada kelompok tidak demam tifoid. Terdapat pula anggota keluarga serumah yang
menderita demam tifoid, tidak terbukti statistik dan tidak konklusif secara klinis sebagai hubungan
terjadinya infeksi demam tifoid

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sosial ekonomi, Penyediaan air bersih dan
Hygiene perorangan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid. Disarankan agar
masyarakat agar selalu menggunakan air bersih dan diharapkan kepada pemerintah setempat untuk
menyediakan tempat air bersih pada musim hujan.

DAFTAR PUSTAKA
Ade, P. (2012). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Demam Tifoid Terhadap Kebiasaan
Jajan Anak Sekolah Dasar. Universitas Diponegoro Semarang
Hadinogoro. (2011). Data Demam Tifoid. http://www.depkes.go.id diakses tanggal 27 februari 2013
Julaiha. (2012). Asuhan Keperawatan. JurnaL Kesehatan.
Laksono, H. (2009). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid Pada anak yang
dirawat di Rumah Sakit Di Kota Bengkulu. Tesis pasca sarjana fakultas kedokteran universitas
gadjah mada.
Meylie. (2010). Pengaruh Sosial Ekonomi Terhadap Demam Tifoid. Universitas. Diponegoro Semarang
Okky, P. (2012). Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid Pada Penderita Yang Di Rawat Di Rumah Sakit
Umum Daerah Ungaran. Jurnal Kesehatan Masyarakat UNDIP
Risky , I. (2009). Metode Diagnostik Demam Tifoid. Jakarta
Whidy, Y. (2012). Diagnosis Dan Penatalaksanaan Demam Tifoid. EGC. Jakarta
Widoyono. (2011). Penyakit Tropis. Erlangga. Jakarta
Zulfikar. (2011). Sanitasi Lingkungan Dan Hygiene Perorangan Dengan Kejadian Demam Tifoid Di
Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Penatalaksanaan Demam Tifoid. J. Kesehatan
Masyrakat UI. Jakarta





























JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 123

I N D O N E S I A
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN EFEKTIFITAS TERAPI HIPERTENSI DI
PUSKESMAS PATTINGALLOANG KOTA MAKASSAR TAHUN 2013

Muchlis
1
, A. Zulkifli Abdullah
2
, Ridwan M. Thaha
3

1
Puskesmas Pattingaloang Kota Makassar
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Promosi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

Hypertension is oftentimes conceived of "Silent Killer", because oftentimes do not emerge any
symptom happened damage of vital organ which enough weight. This research aimed to identify the factors
associated with the effectiveness of the hypertension therapy in Pattingalloang Community Health,
Makassar. It was an observational research making use of the cross-sectional design. The samples
consisting of 167 patients who had been diagnosed to suffer from blood hypertension in Pattingalloang
Health Center in 2012. The data were then analyzed using the Chi-square and the logistic regresssion tests.
The research result indicated that the adherence of the hypertension patients (p=0.000 CI 95%), the
knowledge of the patients (p=0.000 95% CI), the attitudes of the patients (p=0.229 95% CI) and the roles of
the family of patients (p=0.148 95% CI) where the factors which were associated with the effectiveness of
the hypertension therapy. However, the variables which were most closely related to the effectiveness of the
hypertension therapy were the patients adherence (p=0.000 CI 95%) and patients knowledge (p=0.000 CI
95%).

Keywords : Effective therapy, hypertension, adherence, knowledge

PENDAHULUAN
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara
umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam
arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan
kerusakan ginjal. Hipertensi seringkali disebut sebagai "Silent Killer", karena seringkali tidak muncul gejala
apapun sampai terjadi kerusakan organ vital yang cukup berat (Anies, 2006).
Penatalaksanaan terapi penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan dan
kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal mungkin menurunkan gangguan terhadap
kualitas hidup penderita. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan terapi farmakologi melalui
obat antihipertensi dan non farmakologi melalui modifikasi gaya hidup (Depkes. RI, 2008).
Perubahan gaya hidup yang efektif dapat menurunkan tekanan darah setara dengan masing-masing
obat antihipertensi. Kombinasi dari dua atau lebih perubahan gaya hidup dapat memberikan hasil lebih baik
(Depkes, 2008a). Dianjurkan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai
terapi obat. Dalam Pedoman British Hypertension Society 2004 (Williams, 2004), mengajukan perubahan
gaya hidup untuk pencegahan utama bagi hipertensi adalah sebagai berikut, menjaga berat badan normal
(misalnya, indeks massa tubuh 2025 kg/m
2
), mengurangi asupan diet yang mengandung natrium sampai
<100 mmol/ hari (<6 g natrium klorida atau <2,4 g natrium per hari), melakukan aktivitas fisik aerobik
secara teratur, misalnya jalan cepat (30 menit per hari, pada hampir setiap hari dalam seminggu), batasi
konsumsi alkohol tidak lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari pada perempuan
dan mengonsumsi makanan yang kaya buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari).
Diperlukan usaha yang cukup besar untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat
demi mencapai target tekanan darah yang dinginkan. Paling sedikit 50% pasien yang diresepkan obat
antihipertensi tidak meminumnya sesuai dengan yang di rekomendasikan. Satu studi menyatakan kalau
pasien yang menghentikan terapi antihipertensinya lima kali lebih besar kemungkinan terkena stroke.
Kurangnya adherence mungkin disengaja atau tidak disengaja. Strategi yang paling efektif adalah dengan
kombinasi beberapa strategi seperti edukasi, modifikasi sikap dan sistem yang mendukung (Depkes, 2008b).
Angka prevalensi hipertensi didunia diperkirakan terus meningkat. Di Canada tercatat prevalensi
22%, lalu 26% di Mesir dan di Cina sebesar 13,6%, (Sharma,2006). Angka prevalensi hipertensi di Amerika
Serikat menunjukkan kisaran antara 15-22%. Di Amerika diperkirakan sekitar 64 juta atau lebih
penduduknya yang berusia antara 18 sampai 75 tahun menderita hipertensi dan dengan kematian hampir 14
ribu pria Amerika setiap tahunnya. Di negara tersebut, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita
hipertensi (Vitahealth, 2005).
Prevalensi hipertensi di dunia sebagaimana yang dihimpun dan dilaporkan oleh Kearney,
et.al.(2005) adalah sekitar 26% pada orang dewasa dengan berbagai perbedaan antar-negara. Hasil terapi
terhadap hipertensi masih sangat tidak memuaskan. Pada survei terhadap pengobatannya dengan target
140/90, kontrol hipertensi hanya dapat dicapai pada 29% di Amerika Serikat, 17% di Kanada dan 10% di 5
negara Eropa yaitu, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol dan Swedia (Lumbantobing, 2008).
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 124

I N D O N E S I A
Data Riskesdas tahun 2007, menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 32,2%
dan 76% kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan
darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%. Prosentase
prevalensi hipertensi tersebut, yang sudah mengetahui memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi)
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7,2%. Sementara dari kasus tersebut yang sadar dan
menjalani pengobatan hipertensi hanya 0,4% (Arieska, 2008).
Berbagai rekomendasi dalam diagnosis dan pengelolaan penyakit hipertensi, masih berdasarkan
pengukuran tekanan darah klinis secara terisolasi. Evaluasi risiko kardiovaskular yang terkait tekanan darah,
didasarkan pada pengukuran tekanan darah rerata. Tujuan pengobatan pada hipertensi adalah mengurangi
risiko dan kerusakan organ terhadap kualitas hidup pasien melalui kepatuhan pengobatan. Menurunkan
tekanan darah dan mengontrolnya sesuai target penurunan darah adalah salah satu cara mengurangi risiko
kematian dan penyakit penyerta hipertensi, seperti penyakit jantung, gagal ginjal dan stroke (Deedwania. P,
2008).
Angka penderita hipertensi dengan jumlah yang cukup besar serta begitu banyaknya faktor risiko
yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Tujuan penelitian ini dilakukakan untuk mengetahui Faktor
yang berhubungan dengan efektifitas terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar tahun
2013.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis Penelitian adalah Observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian
ini dilaksanakan di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar pada penderita Hipertensi.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang berkunjung dengan diagnosa
hipertensi sesuai dengan hasil diagnosa dokter di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar. Adapun sampel
penelitian ini adalah 167 Pasien. Penarikan sampel menggunakan rancangan Systematic Random Sampling.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.
Datanya berupa jawaban-jawaban yang diajukan berupa kuesioner melalui teknik wawancara dari hasil
kuesioner tersebut kemudian diolah dengan komputer program STATA dan SPSS.
Analisis Data
Analisa data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat ( uji chi square ) dan analisis
multivariat (uji regresi logistik), dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

HASIL
Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Di Puskesmas Pattingalloang Tahun
2013

No. Distribusi Responden n %
1 Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

48
119

28,74
71,26
2 Umur responden
40-44 tahun
45-49 tahun
50-54 tahun
55-59 tahun
60-64 tahun
65-69 tahun
70-74 tahun

33
22
27
10
20
31
24

18,76
13,17
16,17
5,99
11,99
18,56
14,37
3 Tingkat Pendidikan
SD/Sederajat
SMP/Sederajat
SMA/Sederajat
Akademi/Diploma/PT

117
28
20
2

70,06
16,77
11,98
1,20
4 Pekerjaan
PNS
Nelayan
Buruh
Wiraswasta
Pensiunan
IRT/Lain-lain

2
7
3
36
13
106

1,20
4,19
1,80
21,56
7,78
63,47
Data Primer
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 125

I N D O N E S I A
Tabel 1 Analisis univariat menunjukkan distribusi responden berdasarkan jenis kelamin, dimana
jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak48 responden (%) sedangkan yang berjenis
kelamin perempuan sebanyak 119 responden ( %). Distribusi responden berdasarkan usia, dimana jumlah
responden berusia 40-44 tahun sebanyak 33 responden ( %) sedangkan yang berumur 55-59 tahun sebanyak
10 responden ( %). Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan, dimana jumlah responden dengan
pendidikan SD/Sederajat sebanyak 117 responden (%) sedangkan yang tingkat pendidikan
Akademi/Diploma/PT sebanyak 2 responden (%). Distribusi responden berdasarkan pekerjaan, dimana
jumlah responden dengan pekerjaan IRT/Lain-lain sebanyak 106 responden (%) sedangkan responden
dengan pekerjaan PNS sebanyak 2 responden (%). Distribusi menurut lokasi tempat tinggal, dimana jumlah
responden dengan lokasi dikelurahan Cambaya sebanyak 49 responden ( %) sedangkan responden dengan
lokasi di kelurahan Camba Berua sebanyak 12 responden (%). Distribusi menurut jenis layanan kepesertaan
pasien, dimana jumlah responden dengan layanan umum sebanyak 114 responden (%) dan responden
dengan layanan Jamsostek sebanyak 2 responden (%).

Berdasarkan tabel 2 bahwa sebagian besar efektifitas terapi Hipertensi terjadi pada kepatuhan
pasien sebanyak (87,91%) dan pasien tidak patuh namun efektif terapinya didapatkan pasien sebanyak
(6,58%). Sedangkan efektifitas terapi Hipertensi yang terjadi pada pasien patuh tapi tidak efektif terapinya
(12,09%), namun efektifitas terapi Hipertensi yang terjadi pada pasien tidak patuh dan tidak efektif terapinya
adalah (93,42%).

Tabel 2. Efektifitas terapi Hipertensi berdasarkan Kepatuhan Pasien di Puskesmas Pattingalloang
Kota Makassar Tahun 2013


No. Kepatuhan Pasien
Efektifitas Terapi Hipertensi
Jumlah
p value
CI 95%
Efektif Tidak Efektif
n % n % n %
1 Patuh 80 87,91 11 12,09 91 100,00
(p=0,000)
2 Tidak Patuh 5 6,58 71 93,42 76 100,00
Jumlah 85 50,90 82 49,10 167 100,00
Data Primer

Berdasarkan hasil analisa data dengan menggunakan uji Chi Square (X
2
) untuk mengetahui
hubungan antara kepatuhan pasien dengan efektifitas terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang Kota
Makassar di peroleh hasil X
2
yaitu nilai p value adalah p=0,0000 pada tingkat confidence interval 95%
(a=5%) menunjukkan ada hubungan (p<0,05) antara kepatuhan pasien dengan efektifitas terapi hipertensi,
berdasarkan probabilitas lebih kecil dari 0,05 (0,0000<0,05). Interpretasi hasil analisis bivariat antara
Kepatuhan pasien dengan efektifitas terapi Hipertensi adalah responden dengan pasien hipertensi yang
efektif terapinya mempunyai hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien.
Uraian yang dapat disimpulkan dari tabel 3 adalah sebagian besar efektifitas terapi Hipertensi
terjadi pada pengetahuan pasien yang memiliki pengetahuan kurang (83,70%) dibanding yang memiliki
pengetahuan cukup (93.33%). Sedangkan pada efektifitas terapi Hipertensi juga banyak terjadi pada mereka
yang memiliki pengetahuan kurang yakni sebesar 16,30%.Hasil analisa data dengan menggunakan uji Chi
Square (X
2
) untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien dengan efektifitas terapi Hipertensi di
Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar di peroleh hasil X
2
yaitu nilai p value adalah p=0,000 0pada
tingkat confidence interval 95% (a=5%) menunjukkan ada hubungan (p<0,05) antara pengetahuan pasien
dengan efektifitas terapi hipertensi, berdasarkan probabilitas lebih kecil dari 0,05 (0,0000<0,05). Interpretasi
hasil analisis bivariat antara efektifitas terapi Hipertensi dengan pengetahuan pasien adalah merupakan
faktor yang berhubungan dengan efektifitas terapi Hipertensi.

Tabel 3. Efektifitas terapi Hipertensi berdasarkan Pengetahuan Pasien di Puskesmas Pattingalloang
Kota Makassar Tahun 2013


No.
Pengetahuan
Pasien
Efektifitas Terapi Hipertensi
Jumlah
p value
CI 95%
Efektif Tidak Efektif
n % n % n %
1 Cukup 70 93,33 5 6,67 75 100,00
(p=0,000)
2 Kurang 15 16,30 77 83,70 92 100,00
Jumlah 85 50,90 82 49,10 167 100,00
Data Primer

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 126

I N D O N E S I A
Uraian yang dapat disimpulkan dari tabel 4 diatas adalah sebagian besar efektifitas terapi Hipertensi
terjadi pada sikap positif pasien (60,16%) dibanding dengan sikap negatif (25,00%). Sedangkan pada
efektifitas terapi banyak terjadi pada mereka dengan sikap yang negatif yakni sebesar 75,00%. Hasil analisa
data dengan menggunakan uji Chi Square (X
2
) untuk mengetahui hubungan antara sikap pasien dengan
efektifitas terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar di peroleh hasil X
2
yaitu nilai p
value adalah p=0,0001 pada tingkat confidence interval 95% (a=5%) menunjukkan ada hubungan (p<0,05)
antara sikap pasien dengan efektifitas terapi hipertensi, berdasarkan probabilitas lebih kecil dari 0,05
(0,0001<0,05). Interpretasi hasil analisis bivariat antara efektifitas terapi hipertensi dengan sikap pasien
adalah merupakan faktor yang berhubungan dengan efektifitas terapi Hipertensi.

Tabel 4. Efektifitas terapi Hipertensi berdasarkan Sikap Pasien dan Peran Keluarga Pasien di
Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar Tahun 2013


No.
Sikap
Pasien
Efektifitas Terapi Hipertensi
Jumlah
p value
CI 95%
Efektif Tidak Efektif
n % n % n %
1 Positif 74 60,16 49 39,84 123 100,00
(p=0,0001) 2 Negatif 11 25,00 33 75,00 44 100,00
Jumlah 85 50,90 82 49,10 167 100,00
Data Primer

Uraian yang dapat disimpulkan dari tabel 4 adalah sebagian besar efektifitas terapi Hipertensi yang
efektif dengan peran keluarga pasien terjadi pada peran aktif keluarga (55,71%) dibanding dengan peran
keluarga pasien yang tidak aktif (25.93%). Sedangkan pada efektifitas terapi yang tidak efektif banyak
terjadi pada mereka yang peran keluarga yang aktif yakni sebesar 55,71%. Hasil analisa data dengan
menggunakan uji Chi Square (X
2
) untuk mengetahui hubungan antara peran keluarga pasien dengan
efektifitas terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar di peroleh hasil X
2
yaitu nilai p
value adalah p=0,0046 pada tingkat confidence interval 95% (a=5%) menunjukkan ada hubungan (p<0,05)
antara peran keluarga pasien dengan efektifitas terapi hipertensi, berdasarkan probabilitas lebih kecil dari
0,05 (0,0046<0,05). Interpretasi hasil analisis bivariat antara efektifitas terapi Hipertensi dengan peran
keluarga pasien adalah merupakan faktor yang berhubungan dengan peran keluarga pasien.
Pada tabel 5 Analisis multivariat memberikan simpulan bahwa variabel kepatuhan pasien tetap
didapatkan nilai p=0,0000 dan pengetahuan pasien p=0,0000 yang artinya memberikan hubungan secara
bermakna terhadap efektifitas terapi Hipertensi.

Tabel 5. Hubungan Kepatuhan, Pengetahuan, Sikap dan Peran Keluarga Pasien terhadap Efektifitas
terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar Tahun 2013 pada Program
STATA dan SPSS.


No.
Peran Keluarga
Pasien
Efektifitas Terapi Hipertensi
Jumlah
p value
CI 95%
Efektif Tidak Efektif
n % n % n %
1 Aktfi 78 55,71 62 44,29 140 100,00
(p=0,0046) 2 Tidak Aktif 7 25,93 20 74,07 27 100,00
Jumlah 85 50,90 82 49,10 167 100,00
Data Primer

PEMBAHASAN
Adapun faktor yang tidak berhubungan dengan efektifitas terapi Hipertensi ialah jenis kelamin,
umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, lokasi tempat tinggal dan layanan kepesertaan pasien. Hasil penelitian
ini tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan.
Berdasarkan variabel kepatuhan pasien didapatkan nilai p =0,0000 pada =0,05, pengetahuan
pasien didapatkan nilai p =0,0000, sikap pasien didapatkan nilai p =0,0001 dan peran keluarga pasien
didapatkan nilai p =0,0046 terhadap efektifitas terapi Hipertensi di Puskesmas Pattingalloang, Penelitian ini
sejalan pada variabel kepatuhan pasien, pengetahuan pasien dan sikap pasien dengan hasil penelitian yang
dilakukan Risani A.P (2013), bahwa kepatuhan pasien minum obat harian diantaranya adalah persepsi
pasien, interaksi antara pasien dan dokter dan komunikasi medis antara kedua belah pihak, kebijakan dan
praktek pengobatan di publik yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berbagai intervensi yang
dilakukan agar kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dapat terjadi.
Jurnal hasil penelitian lain oleh Fatimah.L (2013), bahwa kepatuhan pasien minum obat harian
diantaranya adalah persepsi pasien, interaksi antara pasien dan dokter dan komunikasi medis antara kedua
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 127

I N D O N E S I A
belah pihak, kebijakan dan praktek pengobatan di publik yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan
berbagai intervensi yang dilakukan agar kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dapat terjadi.
Kepatuhan pasien akan perubahan gaya hidup sehat masih sangat kurang dan merupakan hambatan
utama dalam pendekatan terapi hipertensi, sebagaimana yang dilakukan penelitian oleh Costa, F.V, (2002)
masih sangat kurang efektif. Hal ini terlihat pada penelitiannya bahwa kepatuhan pasien wanita untuk di
evaluasi perubahan gaya hidupnya hanya dibawah 10% tingkat kepatuhannya, yaitu pada pengurangan
lemak total, NaCl, peningkatan serat, dan lain-lain). Sehingga masalah kepatuhan ini sangat kompleks dan
membutuhkan kerjasama yang ketat antara dokter dan pasien. Pertama yang harus menyadari hal ini adalah
pasien, untuk mengikuti semua anjuran dokter atau petugas kesehatan dan lebih aktif menginstruksikan
pasien tentang bagaimana untuk berhasil mengubah gaya hidup mereka.
Pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat pendidikan pasien. Hal ini sejalan dengan jurnal
hasil penelitian yang dilakukan oleh Roza, Z, (2013), diperoleh bahwa tingkat pengetahuan pasien hipertensi
primer dalam pola diet untuk efektifitas pengobatannya yaitu (74,2%) yang memiliki pengetahuan yang baik
dan cukup. Sedangkan sikap pasien juga berhubungan efektifitas terapi hipertensi hal ini pula sejalan dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Patriani, I. (2012), pada pasien Hipertensi di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Mataram, bahwa sikap pasien Hipertensi untuk berobat merupakan variabel dominan yang
paling mempengaruhi adalah sikap keterbukaan,empati dan sikap mendukung.
Hasil analisis tingkat pengetahuan pada model pencegahan primer sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Ariawan, 2007) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian
hipertensi. Penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini pada tingkat pengetahuan pada model
pencegahan primer adalah penelitian yang dilakukan oleh (Yoga, 2011) yang menyatakan bahwa kejadian
hipertensi risikonya dengan pengetahuan kurang lebih besar dibanding dengan yang tidak menderita
hipertensi yaitu OR=5,5.Demikian pula peran keluarga pasien berhubungan secara signikan dengan
efektifitas terapi hipertensi. Hasil penelitian sejalan dengan yang dilakukan oleh Delima P.N, Dkk. (2013),
menunjukan ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga/peran keluarga dengan kepatuhan diit
rendah garam dan keteraturan kontrol tekanan darah penderita Hipertensi dengan nilai p =0,017(p>0,05).
Faktor yang paling dominan berhubungan dengan efektifitas terapi Hipertensi berdasarkan tabel 5
yakni variabel kepatuhan pasien dengan nilai p =0,0000 dan Wald 28,354 serta variabel pengetahuan pasien
dengan nilai p =0,0000 dan Wald 17,429. Demikian dari hasil uji regresi logistik dapat dirasionalkan
dengan menganalisis faktor penyebab masalah tidak efektifnya terapi Hipertensi menurut Foster G.M.
et,al.(2005), yang di artikan bahwa seseorang mempunyai pengetahuan tentang suatu tertentu yang didapat
dari pendidikan formal, non formal atau informal. Pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui,
kepandaian yang berkenaan dengan suatu hal. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman berbagai
macam sumber, misalnya media massa, elektronika, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat
dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat berbentuk keyakinan tertentu.
Hal ini secara statistik menunjukkan bahwa pengetahuan yang cukup akan memberi hubungan yang
bermakna, yang sejalan dengan efektifitas terapi pasien hipertensi di pelayanan-pelayanan kesehatan. Namun
pada penelitian lain seperti dikemukakan oleh Supriyono, M. (2008) banyak faktor lain yang kadang-kadang
seseorang bertindak tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Faktor lain itu bisa berupa pendapatan,
sosial budaya(suku, agama, kepercayaan, pandangan), psikologi (faktor pribadi) karakteristik fisiologi. Dari
analisis multivariat ini memberikan hubungan yang bermakna dari sikap pasien yang positif memberikan arti
yang sejalan dengan efektifnya terapi pada pasien Hipertensi. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
Patriani. I, (2012), bahwa sikap keterbukaan, empati dan sikap mendukung memberikan variabel yang paling
dominan dalam terapi pasien, yang salah satunya adalah pasien Hipertensi. Demikian pula peran keluarga
pasien memberikan hubungan yang signifikan dengan efektif tidaknya terapi pada pasien Hipertensi.
Keluarga cenderung terlibat dalam pengambilan keputusan dan proses terapi pada setiap tahapan sehat dan
sakit anggota keluarga, dari keadaan sejahtera hingga tahap pemulihan (Doherty, 1992 dalam Friedman et.al
2003). Peran keluarga pasien berhubungan dengan interaksi keluarga-kelurga lain yaitu upaya keluarga
dalam promosi kesehatan, penilaian keluarga terhadap gejala, mencari perawatan, merujuk dan mendapatkan
perawatan, respon akut klien dan keluarga terhadap penyakit, serta adaptasi terhadap penyakit dan
pemulihan.
Hal ini pula di kemukakan beberapa teori bahwa peran keluarga menunjukkan bahwa keluarga
adalah pengaruh utama, baik pada status kesehatan maupun pada perilaku kesehatan anggota keluarga.
Menurut Green & Kreuter 1991 dalam McMurray(2003), dukungan keluarga termasuk dalam faktor penguat
(enabling factors) yang dapat mempengaruhi perilaku dan gaya hidup seseorang sehingga berdampak pada
status kesehatan dan kualitas hidupnya.
Analisis Multivariat digunakan untuk melihat reaksi seluruh variabel yang terjaring pada analisis
bivariat. Variabel independen yang memenuhi syarat untuk diikutsertakan dalam analisis multivariat adalah
variabel yang mempunyai nilai Signifikansi (p) < 0,25 (Ridwan A, dkk 2013). Analisis multivariat yang
dilakukan dengan menggunakan uji regresi berganda logistik maka model tersebut dapat dijelaskan bahwa
variabel yang berhubungan dengan Efektifitas terapi Hipertensi adalah kepatuhan pasien dan pengetahuan
pasien.

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 128

I N D O N E S I A
Persamaan regresi logistik yang diperoleh dari model ini adalah
Y = - 3,351923 + 3,313974(kepatuhan pasien) +
2,52495(pengetahuan pasien)+0,8295221 (sikap pasien)+
1,167224(peran Keluarga pasien).
Y = 4,4837471
Persamaan regresi tersebut dapat ditentukan probabilitas efektifitas terapi Hipertensi pada
responden dengan karakteristik tertentu atau pada terapi efektif dan pada terapi tidak efektif. Rumus yang
digunakan untuk menentukan probabilitas efektifitas terapi Hipertensi, yaitu:

P = 1 / (1+exp
(-y)
)

Jika fungsi regresi tersebut dimasukkan ke dalam rumus probabilitas pada hipotesis kepatuhan
pasien dan pengetahuan pasien untuk menimbulkan efektifitas terapi Hipertensi, maka akan menghasilkan
persamaan regresi sebagai berikut:

P = 1 / (1+exp
(-y)
)
P = 1 / (1 + exp(-4,4837471))
P = 0,98883504

Berdasarkan nilai tersebut di atas dapat dikatakan bahwa probabilitas efektifitas terapi Hipertensi
pada pasien yang tidak patuh dan pasien yang pengetahuannya kurang adalah 98,88 %

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dari 167 pasien Hipertensi di peroleh bahwa yang efektif terapi
Hipertensinya sebanyak 85 pasien (50,90%) sedangkan yang tidak efektif terapi Hipertensinya sebanyak 82
pasien (49,10%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa Kepatuhan Pasien (p=0,000), berhubungan
secara signifikan dengan efektifitas terapi pada pasien Hipertensi di wilayah sampel. Sedangkan hasil
analisis multivariat tetap menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,000) antara kepatuhan pasien dengan
efektifitas terapi Hipertensi. Pada pengetahuan pasien (p=0,000), berhubungan secara signifikan dengan
efektifitas terapi pada pasien Hipertensi di wilayah sampel. Sedangkan hasil analisis multivariat tetap
menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,000) antara pengetahuan pasien dengan efektifitas terapi
Hipertensi. Hasil analisis multivariat dari 4 variabel independen menunjukkan bahwa variabel kepatuhan
pasien (p=0,0000) dan variabel pengetahuan pasien (p=0,000) yang merupakan hubungan yang paling kuat
terhadap efektifitas terapi pada pasien Hipertensi di wilayah sampel. Dengan demikian penelitian ini
menyarankan kepada upaya pemeriksaan kesehatan secara berkala pada masyarakat agar mereka benar-benar
menyadari mengenai bahaya Hipertensi sehingga langkah-langkah pencegahan dan pengobatannya dapat
dilakukan secara tepat dan diharapkan lebih berfokus pada penerapan pengetahuan pasien untuk pencegahan
timbulnya penyakit penyerta lainnya yang diakibatkan oleh pola gaya hidup yang tidak sehat dengan
memberikan penyuluhan tentang masalah hipertensi yang berkenaan dengan efektifitas terapi pasien, serta
lebih mengaktifkan kegiatan Posyandu Usila di seluruh wilayah kerja puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA
Arieska A. Soenarta. (2008). Penderita Hipertensi Tergolong Tinggi di Indonesia. (Online)
(http://www.poskotanews.com/2012/09/08/ diakses 20 Maret 2013).
Costa, Francesco Vittorio.(2002). Non-pharmacological treatment of hypertension in women. Journal of
Hypertension, Vol 20 (suppl 2).
Delima P.N, dkk. (2013). Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diit rendah garam dan keteraturan
kontrol tekanan darah pada penderita Hipertensi di Poliklinik RSUD Tugurejo Semarang.
(Online).(http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/index.php/ilmukeperawatan/article/view/106. diakses
24 Maret 2013).
Deedwania Prakash. C. (2008). The Progression from Hypertension to Heart Failure. AJH 1997;10:280S-
288S.(On Line). (http://ajh.oxfordjournals.org/content/10/S7/280S.full.pdf+html. diakses 28 Maret
2013).
Fatimah L, S.T. (2013), Jurnal Kepatuhan Pasien yang menderita Penyakit Kronis dalam mengkonsumsi
Obat Harian, (Online).(www.Mercubuana-Psikologi,Yogya.com) diakses 25 Juni 2013).
Friedman, M.M.. et,al (2003). Family Nursing : Research Teori and practice, Ffth Edition, New Jersey,
Prentice Hall.
Patriani, I. (2012). Komunikasi Dokter dengan Sikap Konkordansi pada Pasien Tuberkulosis Paru,
Hipertensi, dan Asma di RSUD Kota Mataram. Tesis tidak diterbitkan. Program Pascasarjana
Kajian Administrasi Rumah Sakit. Universitas Indonesia. Jakarta.
Williams, Bryan, et.al . (2004). "British Hypertension Society Guidelines for hypertension managemen,
2004-BHS IV.". Journal of human hypertension.



JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 129

I N D O N E S I A
ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU DENGAN KERUGIAN EKONOMI
(ECONOMIC LOSS) PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK
ENDOKRIN DI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO

Muhammad Ali Makaminan
1
, Ida Leida Maria
2
, Alimin Maidin
3

1
Staf Pengajar Poltekes Kemenkes Manado
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT
The purpose of research is to analyze the correlation between the behavior of economic loss
(Economic Loss) on Endocrine Polyclinic Hospital. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado in 2013. This research
is quantitative research design Cross-sectional study. The research was conducted two mount in the
department clinicals Endokrine of Prof Dr. R.D. Kandou Manado Hospital with 239 people sampled
purposively selected. Collecting data using questionnaires. Data was analyzed using univariate, bivariate
and multivariate analyzes. The results showed that there was no relationship between knowledge (p =
0.391), attitude to diet (p = 0.524) with economic losses (Economic Loss), and there is a relationship
between adherence to the diet (p = 0.002) and interest in physical activity (p = 0.007) with economic losses.

Keywords: Economic loss, Diabetes type 2, Compliance, Physical activity

PENDAHULUAN
Penyakit Diabetes melitus masih menjadi masalah kesehatan yang utama. Penyakit ini sering
diistilahkan Silent Killer Disease karena gejala pada penyakit ini datang secara tiba tiba bagi
penderitanya (Novitasari, 2012).
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronik yang memberikan beban besar bagi masalah
kesehatan. Dengan gejala penyakit yang ditandai dengan ganguan metabolik utama, yaitu hiperglikemia
kronik, resistensi insulin, reduksi respon insulin, dan peningkatan glukosa hepar. Gejala khasnya seperti
penurunan berat badan, sering lapar (poliphagia), sering haus (polidipsi), sering kencing (poli uria), lemas.
DM tipe 2 dialami penderita seumur hidupnya, karena tidak bisa disembuhkan tetapi hanya dapat
dikendalikan atau diperlambat (Bustan, 2007).
Pengelolahan pengobatan dan intervensi pola hidup bagi penderita diabetes melitus tipe 2 harus
tetap dijalankan seumur hidupnya, hal ini akan berimplikasi pada pengaturan pembiayaan kesehatan yang
dikeluarkan penderita guna mempertahankan kondisi kesehatan selama menderita penyakit tersebut.
Produktifitas dan kualitas hidup penderita tidak pada kondisi normal, hal ini akan berdampak pada beban
ekonomi individu, keluarga, maupun Negara dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.
Analisis biaya kesehatan pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Amerika menunjukkan bahwa
total biaya ekonomi sebesar US$ 245 milliar, termasuk US$ 176 milliar untuk biaya kesehatan langsung dan
US$ 69 milliar akibat hilangnya waktu produktifitas, meningkat 41% dari perkiraan sebelumnya yaitu
sebesar US$ 174 milliar pada tahun 2007 (Yang, et al, 2012).
Laporan Dinas Kesehatan tentang Profil kesehatan Propinsi Sulawesi Utara, menunjukan
prevalensi Diabetes di Sulawesi Utara tahun 2008 melitus 2,6% jiwa (DinKes Prop.Sulut, 2008). Data di
Poliklinik Endokrin RSUP Prof. DR. R.D Kandou penderita DM Tipe 2 tahun 2012 yaitu 6576 jiwa dengan
perbandingan pasien baru sebanyak 611 dan pasien lama 6065 jiwa (Data Poliklinik Endokrin, 2012).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor perilaku dengan Kerugian ekonomi (Economic
Loss) di Poliklinik Endokrin RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado tahun 2013.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan Cross sectional. Lokasi Penelitian
dilakukan di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Adapun waktu pelaksanaan
penelitian dilaksanakan mulai bulan April-sampai bulan Juni tahun 2013.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian ini yaitu seluruh pasien Diabetes melitus Tipe 2 yang berkunjung pada di
RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado tahun 2013 dengan rata rata kunjungan setiap bulannya sebanyak
548 penderita. Sampel pada penelitian ini yaitu Sebagian dari pasien rawat jalan dengan diabetes melitus tipe
2 di Polilklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado tahun 2013 sebanyak 239 orang. Tehnik
penarikan sampel pada penelitian dengan menggunakan cara purposive sampling
Metode Pengumpulan Data
Data Primer, diperoleh melalui kuesioner dengan melakukan wawancara langsung dengan
responden terpilih. Data Sekunder diperoleh melalui penelusuran dokumen yaitu dari status pasien.
Analisa Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada analisis univariat , dan bivariat dan
multivariat.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 130

I N D O N E S I A
HASIL
Karakteristik Umum Responden
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah responden yang melakukan rawat jalan terbanyak pada kelompok
umur 56-65 tahun yaitu sebanyak 91 orang (38,1%), jenis kelamin responden umumnya perempuan
sebanyak 130 orang (54,4%), tingkat pendidikan responden umumnya SLTA yaitu 112 orang (46,9%),
mempunyai pekerjaan pensiunan sebanyak 139 orang (58,2%), dan umumnya berasal dari Manado yaitu
sebanyak 147 orang (61,5%).

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Tahun 2013.

Karakteristik responden n %
Kelompok Umur (tahun)
36 45 8 3,3
46 55 79 33,1
56 65 91 38,1
> 66 61 25,5
Jenis Kelamin
Laki-laki 109 45,6
Perempuan 130 54,4
Tingkat Pendidikan
SD 11 4,6
SLTP 39 16,3
SLTA 112 46,9
S1 67 28,0
S2 10 4,2
Pekerjaan
Nelayan 1 ,4
Petani 19 7,9
Wiraswasta 24 10,0
PNS 39 16,3
Karyawan BUMN/ Swasta 17 7,1
Pensiunan 139 58,2
Asal Daerah Kab/Kota
Bitung 1 ,4
Bolmong 4 1,7
Manado 147 61,5
Minahasa 21 8,8
Minsel 15 6,3
Minut 22 9,2
Mitra 16 6,7
Tomohon 13 5,4
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa yang memiliki pengetahuan baik yaitu 120 orang (50,2%), sikap baik
124 orang (51,9%), yang patuh 147 orang (61,5%), yang memiliki minat aktifitas fisik yang tinggi 97 orang
(40,6%)

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Penderita DM Tipe 2 Di Poliklinik Endokrin
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2013

Variabel penelitian n %
PengetahuanTentang DM Tipe 2
Baik 120 50,2
Kurang Baik 119 49,8
Sikap Penderita DM Tipe 2 n %
Baik 124 51,9
Kurang Baik 115 48,1
Kepatuhan Penderita n %
Patuh 147 61,5
Tidak Patuh 92 38,5
Minat Aktifitas Fisik n %
Tinggi 97 40,6
Rendah 142 59,4
Data Primer
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 131

I N D O N E S I A
Tabel 3 dapat dilihat bahwa biaya langsung oleh 239 responden dalam satu kali kunjungan yaitu rata-
rata biaya langsung sebesar Rp 911.481. Rata - rata biaya langsung tertinggi pada biaya obat sebesar Rp.
541618,45 dan terendah biaya administrasi rawat jalan sebanyak Rp. 5000,00. Rata-rata total biaya tidak
langsung responden yaitu Rp 44757,32, biaya transport sebanyak Rp. 19506,28 dan biaya makan/minum
sebanyak Rp. 25112,97. Rata-rata kerugian ekonomi (Economic loss) responden sekali kunjungan adalah
Rp. 1.007.796,09.

Tabel 3. Total Biaya Langsung, biaya tidak langsung dan kerugian ekonomi Responden dalam satu kali
kunjungan di Poliklinik Endokrin RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2013

Minimum Maximum Mean SD
Total Biaya Langsung
Biaya Obat 18.000 3.342.600 541.618,45 365.288,6
Biaya Pemeriksaan Lab 0 1.109.000 363.135,88 261.367,9
Biaya tindk/ Konsl Medis 3.000 30.000 29.887,03 1.746,5
Biaya Adm RJ 5.000 5.000 5.000,00 0,000
Biaya langsung 10.000 2.650.000 911.481,59 402.836,2
Biaya Tidak langsung
Total Biaya Transport 0 150.000 19.506,28 17.109,4
Total biaya makan/minum 6.000 200.000 25.112,97 26.538,7
Biaya Tidak langsung 0 350.000 44.757,32 42.298,4
Kerugian Ekonomi 715 11.148.000 1.007.796,09 777.645,8
Data Primer

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 119 responden yang mengalami kerugian ekonomi yang tinggi
karena memiliki tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 48 orang (40,3%), sikap yang kurang baik 52
orang (45,2%), yang tidak patuh 75 orang (51,0%), dan minat aktifitas fiisk rendah 52 orang (53,6%). Hasil
uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan (p=0,391) dan sikap
(p=0,524) dengan kerugian ekonomi, sedangkan kepatuhan penderita (0,002) dan minat aktifitas fisik
(p=0,007) berhubungan dengan kerugian ekonomi.

Tabel 4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan Kerugian Ekonomi di RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado Tahun 2013.

Variabel
Kerugian ekonomi
Jumlah
Uji Statistik (p) Tinggi Rendah
n % n % n %
Tingkat pengetahuan
p = 0,391
Kurang 48 40,3 71 59,7 119 100,0
Baik 55 45,8 65 54,2 120 100,0
Sikap
Kurang 52 45,2 63 54,8 115 100,0
p = 0,524
Baik 51 41,1 73 58,9 124 100,0
Kepatuhan
Tidak Patuh 75 51,0 72 49,0 147 100,0
p = 0,002
Patuh 28 30,4 64 69,6 92 100,0
Minat Aktifitas Fisik
Rendah 52 53,6 45 46,4 97 100,0
p = 0,007
Tinggi 51 35,9 91 64,1 142 100,0
Jumlah 103 43,1 136 56,9 239 100,0
Data Primer

Tabel 5 menunjukkan bahwa dari hasil analisis multivariat diketahui bahwa variabel yang paling
berhubungan dengan kerugian ekonomi adalah kepatuhan penderita (9,211, sig. = 0,002). Probabilitas
responden untuk memiliki kerugian ekonomi apabila ia patuh dalam diet dan berminat aktifitas fisik adalah
sebesar 38,7%.

Tabel 5. Hasil Regresi Variabel Independen yang Berhubungan secara bermakna dengan kerugian ekonomi
Responden yang Menjalani pengobatan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2013.

Variabel B Wald Sig Exp ()
Patuh ,863 9,211 ,002 2,371
Aktifitas ,719 6,876 ,009 2,052
Constant -2,041 11,522 ,001 ,130
Data Primer
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 132

I N D O N E S I A
PEMBAHASAN
Hubungan Pengetahuan penderita Tentang DM Tipe 2 dengan Kerugian ekonomi (Economic Loss)
Responden yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak dibandingkan yang memiliki
pengetahuan kurang baik. Hal disebabkan sebagian besar responden pernah mendapat penyuluhan tentang
DM Tipe 2. Responden yang memiliki pengetahuan yang baik lebih banyak mengalami kerugian yang tinggi
dibandingkan dengan tingkat pengetahuan kurang baik mengalami kerugian ekonomi yang rendah. Hasil uji
statistik menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kerugian ekonomi penderita
diabetes melitus tipe 2.
Sebanding dengan penelitian dari Witasari dkk pada penderita Diabetes melitus Tipe 2 rawat jalan
di RSUD Dr. Moerwadi Surakarta, yang menyatakan tidak ada hubungan pengetahuan tentang
pengelolahan Diabetes melitus dengan kadar glukosa darah, disebabkan adanya faktor lain yang
menyebabkan kenaikkan kadar gula darah puasa antara lain hormon, kelainan genetik dan ketidakpatuhan
pada pola makan.
Berbeda dengan hasil penelitian oleh Hermin, 2010 tentang hubungan pengetahuan tentang DM
tipe 2 dengan kadar gula darah, menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan yang baik dengan
peningkatan kadar gula positif. Walaupun penderita mempunyai tingkat pengetahuan baik tentang Diabetes
Melitus, namun ada faktor lain yang tidak bisa di cegah dengan tingkat pengetahuan yang baik akan tetapi
ada faktor lain yang mempengaruhi kenaikan glukosa darah dari penderita Diabtes melitus tipe 2 yaitu faktor
hormonal, riwayat keluarga dengan diabetes, kelainan genetik dan gaya hidup yang tidak sehat.
Faktor gaya hidup memungkinkan seseorang yang menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 bisa
mengeluarkan biaya perawatan atau pengobatan guna mempertahankan kondisi kesehatan penderita diabetes
melitus Tipe 2 dengan menurunkan kadar gula darah yang melewati ambang batas normal dengan
memeriksakan ke dokter, sehingga keadaan ini merupakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari suatu
kondisi kesehatan yang buruk/sakit.
Hubungan Sikap Akan Diet DM Dengan Kerugian Ekonomi
Responden yang memiliki sikap yang baik lebih banyak dibandingkan yang memiliki sikap kurang
baik. Responden yang memiliki sikap kurang baik mengalami kerugian ekonomi lebih sedikit dibandingkah
dengan responden yang memiliki sikap baik. Namun bila dilihat dari kerugian ekonomi rendah, responden
dengan sikap yang baik lebih besar dari responden dengan sikap kurang baik. Hasil analisis statistik
menunjukan bahwa tidak ada hubungan antar pengetahuan responden dengan kerugian ekonomi (economic
loss).
Dalam penelitian lain dengan desain Crossectional pada populasi DM Tipe 2 di poliklinik penyakit
dalam RSUD Karanganyar, didapatkan hasil bahwa pengetahuan dan sikap yang baik tidak dapat
mengendalikan kadar gula darah pada batas normal. Hal ini memberi gambaran bahwa dengan pengetahuan
dan sikap yang baik belum cukup untuk dapat merubah perilaku, sehingga diperlukan intervensi lain seperti
pemberian motivasi dengan membentuk tim motivator yang rutin memberikan motivasi kepada penderita
untuk dapat mengendalikan kadar gula darah (Rosita, 2013).
Menurut teori Benyamin Bloom (1908) (dalam Notoadmojo, 2012), perilaku manusia dibagi dalam
tiga domain sesuai tujuan pendidikan yaitu Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Psikomotor (practice) yaitu
Kecenderungan orang untuk bertindak melakukan suatu tindakan perawatan karena adanya faktor dukungan
keluarga, fasilitas dll. Hal ini memungkinkan penderita yang didukung oleh keluarga dengan fasilitas, waktu,
uang dengan sangat mudah menjangkau pelayanan kesehatan.
Untuk biaya kesehatan pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi akan menyerap
biaya yang lebih besar dari pada penderita yang tidak komplikasi dalam mempertahankan situasi sakit
seumur hidupnya, disisi yang lain bila penyakit ini terkena pada usia produktif maka hal ini akan
mempengaruhi kualitas hidupnya dan akan menjadi beban anggaran dalam keluarganya (Azwar Asrul, 1998)
(Dalam Asad, 2006).
Hubungan Kepatuhan Terhadap Jenis Makanan, Waktu Dan Porsi Makan Penderita DM Tipe 2
Dengan Kerugian Ekonomi (Economic Loss)
Kepatuhan terhadap jenis makanan, porsi makanan dan waktu makan yang dikhususkan bagi
penderita DM Tipe 2 sebagian besar responden patuh hanya sedikit yang kurang patuh. Uji statistik
menunjukan ada hubungan antara Kepatuhan penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan kerugian ekonomi
(Economic loss).
Menurut Becker, 1979 (dalam Notoadmojo, 2012), Perilaku hidup sehat (healthy life style), yaitu
perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya atau pola/gaya hidup sehat (healthy life style). Perilaku ini mencakup
diantaranya makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang yang memiliki kualitas dan
kuantitas. Arti kualitas yang dimaksud yaitu mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh, sedangkan arti
kuantitas yaitu dalam jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, umumnya di Indonesia di kenal
dengan ungkapan empat sehat lima sempurna.
Kepatuhan diet makanan dan pengelolahan terapi berguna mencegah penyakit diabetes melitus tipe
2 bertambah parah. Keadaan kesehatan penderita akan semakin buruk bila terjadi gangguan pada sistem
organ seperti sistem kardiovaskuler, pernapasan, perkemihan, penglihatan serta sistem saraf, sehingga
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 133

I N D O N E S I A
kerugian ekonomi yang dialami akan meningkat karena bukan saja mengeluarkan biaya untuk pengobatan
Diabetes Melitus tetapi bertambah lagi dengan pengobatan dari suatu komplikasi dari penderita DM tipe 2
tersebut.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Study Observasional terhadap inaktifitas Penderita
Diabetes di Australia oleh Meltzer dkk, 2010, didapatkan bahwa kerugian ekonomi bagi penderita diabetes
sangat besar terjadi namun bisa dihindari atau dikurangi karena pada umumnya masalah penyakit dapat
dicegah kejadiannya maupun tingkat keparahan/komplikasi dari penyakit tersebut asalkan perilaku individu
dapat melaksanakan pola hidup sehat dan aktifitas fisik secara teratur.
Kepatuhan diet dapat ditingkatkan dengan drastis dengan memberikan penyuluhan oleh ahli gizi
terampil pada pasien, kunjungan yang sering, adanya evaluasi, adanya dorongan dari dokter yang menyadari
pentingnya pengontrolan bagi penderita diabetes dalam jangka lama. Dianjurkan kepada penyuluh atau ahli
gizi untuk menggunakan gabungan prinsip belajar, yaitu informasi diberikan secara singkat, jelas dan
komunikatif serta menekankan pada informasi yang penting untuk menjadikan pasien patuh. Informasi yang
selektif dangan bahasa dan format yang sesuai. Informasi diberikan berulang ulang secara lisan dan
sederhana serta proses penyuluhan bertahap.
Hubungan Minat Aktifitas Fisik Penderita DM tipe 2 Dengan Kerugian Ekonomi (Economic Loss)
Sebagian besar responden memiliki minat aktifitas rendah dibandingkan yang memiliki aktifitas
tinggi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara Minat aktifitas fisik dengan kerugian
ekonomi (Economi loss).
Aktifitas fisik adalah semua gerakan tubuh yang membakar kalori. Olah raga aerobik yang
mengikuti serangkaian gerak tubuh akan menguatkan dan mengembangkan otot dan semua bagian tubuh.
Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa
dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan. Sedangkan faktor resiko penderita DM
adalah mereka yang memiliki aktivitas minim, sehingga pengeluaran tenaga dan energi hanya sedikit.
Pada saat berolah, otot berkontraksi dan mengalami relaksasi dan glukosa akan dipakai atau dibakar
untuk energy. Bila aktifitas fisik baik aktifitas kerja ringan maupun olah raga kita melakukannya dengan
benar maka dapat membuat insulin menjadi lebih sensitif dan glukosa darah akan turun hingga dapat
dipertahankan dalam batas normal. Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan
tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan. Sedangkan
faktor resiko penderita DM adalah mereka yang memiliki aktivitas minim, sehingga pengeluaran tenaga dan
energi hanya sedikit (IDF, 2003)
Dalam penelitian Franco, et al, (2005), membuktikan bahwa berjalan kaki selama 30 menit/hari
selama lima hari setiap minggu secara intens dapat meningkatkan harapan hidup 1,5 sampai 3 tahun.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Cadilhac, et al, 2011 tentang aktifitas fisik orang
dewasa di Australia, menemukan penurunan ; penyakit sebesar 13% dari 45.000 kasus baru per tahun, 15%
dari 13.000 kematian per tahun, 14% dari 174.000 DALY per tahun dengan potensi penghematan biaya
disektor kesehatan AUD 96 juta (0,9% total biaya kesehatan tahunan)
Menurut Perkeni (2011), Aktifitas fisik selain menjaga kesehatan & kebugaran tubuh bagi penderita
DM Tipe 2 dapat mempertahankan glukosa darah pada batas normal. Dengan demikian perilaku ini sangat
penting untuk dilakukan karena dengan begitu si penderita jarang untuk minum obat penurun kadar gula
darah dan menghindari komplikasi atas penggunaan obat maka hal ini merupakan salah satu perilaku yang
bisa mempengaruhi tinggi atau rendahnya kerugian ekonomi yang dialami oleh responden selama menderita
penyakit DM Tipe 2.
Kerugian Ekonomi (Economic loss)
Besar dan luasnya permasalahan akibat penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 mengharuskan semua
pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan penyakit tidak
menular/non communicable desease . Kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek
kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Dengan demikian DM Tipe 2 merupakan
ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Karenanya
memerangi penyakit ini berarti pula memerangi terhadap kemiskinan, ketidakproduktifan, dan kelemahan
akibat DM Tipe 2.
Penelitian ini menguraikan besarnya kerugian ekonomi yang dialami oleh penderita DM Tipe 2
terhadap besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Total kerugian ekonomi (Economic loss) penderita DM
Tipe 2 di poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado didapatkan dari total biaya pengeluaran
rumah tangga (House Hold Expenditure) yang meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung.
Biaya Langsung (direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan oleh responden pada setiap kunjungan untuk
membayar obat, tindakan medis, pemeriksaan klinik laboratorium, adminitrasi/registrasi rawat jalan.
Hasil penelitian terhadap 239 responden menunjukkan bahwa, total biaya kesehatan langsung yang
dikeluarkan oleh penderita dalam satu kali kunjungan rawat jalan di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado sebesar Rp. 217844100 dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp 911.482 per penderita.
Untuk total Biaya tidak langsung Per tahun penderita DM Tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado didapatkan sebesar Rp. 2.305.540.650, dengan rata-rata per tahunnya Rp. 9.646.614.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 134

I N D O N E S I A
Penelitian ini dilakukan pada responden yang mengalami penyakit DM Tipe 2 lebih dari 1 tahun,
hal ini sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya komplikasi penyakit sehingga semakin banyak
penderita mendapat perlakuan medis dalam pengobatan maupun perawatan dari penyakit tersebut dan hal ini
akan berdampak pada pengeluaran biaya langsung oleh keluarga penderita.
Biaya Tidak langsung (indirect cost)
Biaya tidak langsung adalah adalah biaya yang dikeluarkan oleh responden pada setiap kunjungan
untuk membayar makanan/ minuman, dan transportasi. Hasil penelitian terhadap 239 responden
menunjukkan bahwa, total biaya kesehatan tidak langsung yang dikeluarkan oleh penderita dalam satu kali
kunjungan rawat jalan di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado sebesar Rp.
10.697.000 dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp 44.757 per penderita. Untuk total Biaya tidak langsung
Per tahun penderita DM Tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado didapatkan
sebesar Rp. 104.490.000, dengan rata rata per tahunnya Rp. 437197.
Biaya tidak langsung pada sebagian responden dipengaruhi oleh jarak dan sarana transpotasi dari
tempat tinggal ke tempat pelayanan kesehatan. Penderita diabetes melitus tipe 2 ada yang berasal dari daerah
kab/kota yang jauh dari jarak rumah sakit, tentunya akan berdampak pada pengeluaran biaya makan/minum
dan transportasi yang berbeda untuk setiap penderita DM Tipe 2.
Hasil penelitian ini, didapatkan kerugian ekonomi (Economic loss) Berdasarkan pengeluaran total
biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost) maka didapatkan kerugian ekonomi
(Economic loss) atas pengeluaran rumah tangga (house hold expendicture) dari penderita DM Tipe 2 dalam
satu kali kunjungan yaitu sebesar Rp. 217844100 dengan ratarata kerugian ekonomi (Economic loss) Rp.
911482
Kondisi sakit akan menimbulkan kerugian ekonomi bagi penderita, keluarga maupun terhadap
pemerintah. Anggapan bahwa kesehatan merupakan hal yang konsumtif merupakan persepsi yang sangat
keliru. Penelitian tentang kerugian ekonomi akibat kesehatan yang buruk pada beberapa penyakit infeksi /
penyakit menular sudah ada yang melakukan,
Dalam penelitian Yang dkk, (2012) di Amerika Serikat tentang biaya kerugian ekonomi karena
Diabetes, menunjukan bahwa biaya kesehatan langsung US$ 176 milliar dan US$ 69 milliar utk biaya tidak
langsung, total biaya ekonomi sebesar US$ 245 milliar. Jumlah kerugian ekonomi karena diabetes di
Amerika masih lebih besar di bandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado tahun 2013.
Beban biaya kesehatan membawa dampak kerugian ekonomi, hal ini dapat dipengaruhi beberapa
seperti faktor lingkungan , social Kultural maupun kondisi penyakit dan penderita serta dapat pula
dipengaruhi nilai keekonomian suatu daerah atau Negara terhadap barang dan jasa sangat berbeda (Maidin,
2004).

KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap penderita
penderita DM Tipe 2 dengan Kerugian ekonomi, sedangkan kepatuhan terhadap Diet dan minat aktifitas
fisik penderita DM Tipe 2 berhubungan dengan Kerugian ekonomi (Economic Loss). Penelitian ini
menyarankan agar para pengambil kebijakan lebih memprioritas upaya kesehatan promotif dan preventif
dari pada upaya kuratif dan rehabilitatif terhadap pemecahan masalah kesehatan di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Asad, H. (2006). Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Pasien Rawat Inap Usia Produktif Lima Penyakit Di
RSUD Kab. Mamuju. Tesis tidak diterbitkan, Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin,
Makassar
Bustan. M.N. (2007). Epidemiologi Penyakit tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta
Cadilhac, A. D., dkk. (2013). The economic benefits of reducing physical inactivity : an Australian example,
Biomed Central,8:99. Diakses 8 April 2013.
Dinkes Prop. SULUT. (2008). Profil Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara, Manado.
Hermin. A. (2010). Hubungan Perilaku Makan Dengan Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 Rawat Inap
Di RSUD Undata Palu, Tesis tidak diterbitkan, Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin,
Makassar.
IDF. (2003). Diabetes Atlas Global burden : prevalence and project. (on line)
(http://www.diabetesatlas.org/conten/diabetesand-impaired-glucose-tolerance). Diakses 6 April
2013
Meltzer D.O, Jena A.B. (2010). The economics of intense exercise, Journal Health Econ, 29 (3) : 347 352.
Diakses 8 April 2013.
Witasari. U, Setyaningrum, Rahmawaty., 2009, Hubungan Tingkat Pengetahuan, Asupan Karbohidrat dan
Serat Dengan Pengendalian Kadar Glukosa Darah Pada Penderita DM Tipe 2, Jurnal Penelitian
Sains Dan Tenologi, vol 10,No.2.2009:130 138. diakses 24 Juli 2013
Yang W. dkk. (2012). Economis Cost of Diabetes in U.S. in 2002, American Diabetes Association,
published online March 6 2013.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 135

I N D O N E S I A
FAKTOR RISIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RSUD PROF. DR. H. ALOEI
SABOE KOTA GORONTALO PROVINSI GORONTALO TAHUN 2012

Puspita Sukmawaty Rasyid

Staf Pengajar Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Gorontalo

ABSTRACT

LBW births is an indication of nutrient deficiency during pregnancy that is made possible by
foetomaternal circulatory system disorders, and motivated by a variety of risk factors, and potentially lead
to impaired development of fetal organs especially the brain development disorder, and simultaneously
trigger a decline in Intelligence Quotient (IQ) points at birth, and these conditions are a threat declining
quality of human resources in the future. This study aims to establish the risks (stress of pregnancy, exposure
to cigarette smoke, history of infectious disease, pregnancy nutritional status, utilization of ANC) on the
incidence of LBW. Is a case-control study design, the unit of observation is the mother who birth LBW, as
many as 150 people, drawn by purposive, and control is the mother who gave birth to normal as many as
150 people, drawn by simple random sampling of hospitals Prof. DR. H. Aloei Saboe Gorontalo city
Gorontalo Province. Data analysis was performed using univariate, bivariate tests and multivariate odds
ratios with multiple logistic regression. The results found: of the five variables expected risk of LBW events,
variables (cigarette smoke exposure OR=4.2; pregnancy nutritional status OR= 2.7 and OR =1.7 pregnancy
stress the significance level, respectively: p <0, 05) has given a risk of LBW births. Conclusion: found 3
variables (exposure to cigarette smoke during pregnancy, nutritional status, and the stress of pregnancy) is
an important determinant of the risk-reward birth LBW.

Keywords: LBW, Pregnancy Stress, Cigarette Smoke Exposure, Pregnancy Nutrition Status.

PENDAHULUAN
Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu proses yang
berlangsung selama dalam kandungan. Saat ini Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) masih tetap menjadi
masalah dunia khususnya di negara-negara berkembang. Lebih dari 20 juta bayi di dunia yaitu sebesar
15,5% dari seluruh kelahiran mengalami BBLR dan 95% diantaranya terjadi di negara-negara berkembang.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat untuk masa mendatang. (Kawai et al., 2010).
Salah satu tujuan akhir kehamilan adalah melahirkan bayi dengan berat badan normal. Apabila bayi
dilahirkan dengan berat badan yang rendah maka berbagai masalah akan dialami selama kehidupannya
bahkan dapat menyebabkan kematian. Kelahiran BBLR disebabkan karena defisiensi bahan nutrien oleh ibu
selama hamil yang menyebabkan terganggunya sirkulasi foeto maternal dan berdampak buruk terhadap
tumbuh kembang setelah diluar kandungan, dimana bayi yang bertahan hidup memiliki insiden lebih tinggi
mengalami penyakit infeksi, kekurangan gizi dan keterbelakangan dalam perkembangan kognitif yang
ditandai dengan menurunnya Intelligence Quotient (IQ) poin sehingga memberi ancaman terhadap kualitas
Sumber Daya Manusia pada masa yang akan datang (Soetjiningsih, 2012).
Penelitian oleh Ijarotimi OS (2007), di Nigeria menemukan bahwa status gizi yang kurang
menyebabkan penurunan IQ poin pada anak. Kelahiran BBLR menurunkan IQ sampai lima poin (Grantham
et al., 2009). Banyak faktor risiko yang langsung menyebabkan gangguan terhadap tumbuh kembang janin
diantaranya stres yang dialami saat hamil, penyakit yang pernah di derita ibu, status gizi dan pemanfaatan
ANC (Manuaba, 2009). Penelitian Tiffani et al., (2010) di Amerika Serikat, membuktikan bahwa ibu hamil
yang mengalami tekanan psikis selama kehamilan memiliki kadar stres tinggi sehingga akan mempengaruhi
suplai oksigen ke janin dan berisiko melahirkan BBLR. Keadaan lain yang menyebabkan suplai oksigen ke
janin terganggu yaitu paparan asap rokok, karena bahan kimia seperti nikotin menyebabkan vasokonstriktor
yang dapat menurunkan perfusi plasenta dan menurunkan penerimaan oksigen pada janin sehingga
menyebabkan gangguan pertumbuhan janin di dalam kandungan (Ward C, 2007).
Pada tingkat dunia, BBLR merupakan penyebab dasar kematian (underlying cause) dari dua pertiga
kematian neonatus. Data (Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo tahun 2011), memperlihatkan bahwa
penyebab kematian neonatal yang tertinggi disebabkan oleh BBLR yaitu 38,50% dari 174 kasus. Prevalensi
BBLR berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 sebesar 8,8%. Data persalinan tahun 2012 di RSUD Prof. Dr.
H. Aloei Saboe Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 10,3% kelahiran BBLR. Penelitian ini
ditujukan untuk mengetahui besar risiko stres kehamilan, keterpaparan asap rokok, riwayat penyakit Infeksi,
status gizi kehamilan dan pemanfaatan ANC terhadap kejadian BBLR di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota
Gorontalo Provinsi Gorontalo tahun 2012.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian menggunakan desain kasus kontrol. Penelitian ini dilakukan di RSUD Prof. Dr. H.
Aloei Saboe Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 136

I N D O N E S I A
Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu melahirkan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo selama tahun 2012. Sampel sebanyak 300 ibu dimana kelompok kasus adalah ibu yang
melahirkan BBLR dan kelompok kontrol adalah ibu yang melahirkan BBLN, dengan perbandingan sampel
kasus : kontrol adalah 1 : 1, sehingga jumlah sampel minimal adalah 150 : 150. Penarikan sampel untuk
kelompok kasus menggunakan purposive sampling dan kelompok kontrol menggunakan simple random
sampling.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh melalui data sekunder dari RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo Provinsi Gorontalo dan Data Primer dengan cara melakukan wawancara secara terpimpin dan
terarah terhadap responden menggunakan kuesioner untuk menggali informasi mengenai variabel-variabel
yang akan dianalisis pada penelitian ini yang erat kaitannya dengan kejadian BBLR.
Analisis Data
Data karakteristik umum responden, variabel independen dan variabel dependen diolah dengan
menggunakan SPSS. Untuk mengetahui faktor risiko kejadian BBLR pada ibu melahirkan di RSUD Prof. Dr.
H. Aloei Saboe Kota Gorontalo digunakan analisa data secara univariat, bivariat dengan Odds Ratio dan
multivariat dengan regresi berganda logistik.

HASIL
Hasil penelitian menemukan jumlah total responden 300 ibu, terdiri dari kelompok kasus 150 ibu,
kelompok kontrol 150 ibu. Untuk jelasnya lihat tabel 1. Berat badan lahir bayi bervariasi dari terrendah 1060
gram dan tertinggi 4000 gram.

Tabel 1. Distribusi Ibu Melahirkan Berdasarkan Kejadian BBLR di RSUD Prof. Dr.H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo Provinsi Gorontalo tahun 2012

Variabel n %
Kasus
Kontrol
150
150
50,0
50,0
Jumlah 300 100
Data Primer

Hasil penelitian menemukan umur terendah 15 tahun dan tertinggi 46 tahun. Kelompok umur
terendah > 40 tahun 6,0%, kelompok umur tertinggi 25-29 tahun 28,0%. Hasil penelitian menemukan jenis
pekerjaan ibu terendah wiraswasta 2,7%, tertinggi urusan rumah tangga 83,0%. Hasil penelitian menemukan
tingkat pendidikan ibu terendah Diploma III 4,3%, tertinggi SLTA 40,7%. Untuk jelasnya dapat dilihat
Tabel 2.

Tabel 2. Distribusi karakteristik umum ibu melahirkan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo
Provinsi Gorontalo Tahun 2012

Variabel Jumlah (n) Persen (%)
Kelompok Umur
< - 19 31 10,3
20 24 71 23,7
25 29 84 28,0
30 34 52 17,3
35 39 44 14,7
40 - > 18 6,0
Jenis Pekerjaan
URT 249 83,0
PNS/POLRI 29 9,6
Wiraswasta 8 2,7
Karyawan 14 4,7
Tingkat Pendidikan
< - SD 58 19,3
SLTP 83 27,7
SLTA 122 40,7
D III 13 4,3
Perguruan Tinggi 24 8,0
Data Primer

Hasil penelitian menemukan stres kehamilan memberi risiko 1,7 kali secara signifikan (p=0,037)
terhadap kejadian BBLR. Hasil penelitian menemukan keterpaparan asap rokok selama hamil memberi
risiko 4,2 kali secara signifikan (p=0,002) terhadap kejadian BBLR. Hasil penelitian menemukan status gizi
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 137

I N D O N E S I A
ibu selama hamil memberi risiko 2,7 kali secara signifikan (p = 0,003) terhadap kejadian BBLR. Untuk
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Multivariat Faktor Risiko Terhadap BBLR di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo Provinsi Gorontalo Tahun 2012

Variabel p OR 95% C.I
Stres Kehamilan 0,037 1,7 1,030-2,698
Paparan asap rokok 0,002 4,2 1,702-10,496
Riwayat penyakit infeksi 0,999 0,0 0,000
Status gizi ibu hamil 0,003 2,7 1,421-5,216
Pemanfaatan ANC 0,051 1,6 0,998-2,618
Data Primer

PEMBAHASAN
Penelitian ini terfokus pada penilaian faktor risiko yaitu stres kehamilan, keterpaparan asap rokok,
riwayat penyakit infeksi, status gizi kehamilan dan pemanfaatan ANC terhadap kejadian BBLR. Secara
teoritis semua variabel dianggap memberi risiko terhadap kejadian kelahiran BBLR, namun setelah
dianalisis terdapat dua variabel yang tidak memberi risiko secara signifikan terhadap kejadian BBLR yaitu
riwayat penyakit infeksi (p=0,999) dan pemanfaatan ANC (p=0,051). Riwayat penyakit infeksi bukan
merupakan risiko terjadinya BBLR, karena tergantung kondisi ibu saat menjalani kehamilannya. Dengan
memperhatikan asupan gizi yang cukup akan memberikan jaminan keberlangsungan tumbuh kembang janin
sehingga akan lahir bayi dengan berat badan normal. Pemanfaatan ANC bukan merupakan faktor risiko
terjadinya BBLR. ANC bertujuan agar ibu lebih mudah untuk mengakses informasi secara dini tanda dan
bahaya pada kehamilan, akan tetapi informasi yang diperoleh belum tentu dapat merubah pemahaman
terutama bila ibu berpendidikan rendah, sehingga tidak dapat mengaplikasikan secara langsung informasi
tersebut selama menjalani kehamilan.
Berdasarkan hasil penelitian, stres berat yang dialami selama kehamilan memberi risiko secara
signifikan (p= 0,037) terhadap kejadian BBLR dengan besar risiko 1,7 kali lebih besar dibandingkan dengan
ibu yang mengalami stres ringan selama kehamilan. Secara teori dan beberapa penelitian mengemukakan
bahwa ibu hamil mengalami berbagai tekanan fisik ataupun psikis. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai
faktor diantaranya pengalaman buruk ibu sebelum hamil, efek kehamilan yang berdampak pada kehidupan
terutama jika ibu seorang wanita karir dimana tanggungjawab baru atau beban tambahan, kecemasan tentang
kemampuan menjadi seorang ibu, faktor keuangan dan urusan rumah, penerimaan kehamilan oleh orang
lain dan ketidaknyamanan selama hamil seperti mual, lelah, perubahan selera. Kondisi ini memicu
peningkatan hormon kortisol dan merangsang hormon prostaglandin untuk rahim berkontraksi sebelum
waktunya yang menyebabkan pembuluh darah mengalami konstriksi sehingga janin mengalami defisiensi
bahan nutrien melalui plasenta dan berpotensi untuk melahirkan BBLR.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Juliana et al (2009) di Jerman yang melakukan survey
tentang kekhawatiran ibu saat kehamilan dan mendapatkan hasil bahwa stres kehamilan dapat
mempengaruhi kejadian BBLR dimana dengan diketahuinya stres yang dialami ibu sejak awal kehamilan
dapat mengatasi kejadian kelahiran BBLR. Penelitian lainnya dilakukan oleh Endera et al (2009) di New
York menemukan hasil bahwa stres pada ibu hamil memberi pengaruh yang signifikan terhadap kejadian
kelahiran BBLR.
Hasil penelitian menunjukkan keterpaparan asap rokok selama hamil memberi pengaruh secara
signifikan (p= 0,002) terhadap kejadian BBLR dengan besar risiko 4,2 kali lebih besar dibandingkan dengan
ibu yang tidak terpapar. Ibu hamil perokok baik aktif maupun pasif (terkena paparan asap rokok) akan
menyalurkan zat-zat beracun seperti nikotin dan karbon monoksida dari asap rokok kepada janin yang
dikandungnya melalui peredaran darah. Nikotin menimbulkan kontriksi pembuluh darah, akibatnya aliran
darah ke janin melalui tali pusat janin akan berkurang sehingga mengurangi kemampuan distribusi zat
makanan yang diperlukan oleh janin. Sedangkan karbon monooksida akan mengikat hemoglobin dalam
darah, akibatnya akan mengurangi kerja hemoglobin yang mestinya mengikat oksigen untuk disalurkan ke
seluruh tubuh sehingga akan mengganggu distribusi zat makanan serta oksigen ke janin.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Amiruddin A, dkk (2007), di Rumah Sakit Siti Fatimah
Kota Makasar menemukan ibu hamil yang terpapar asap rokok berisiko 3,7 kali mengalami kelahiran BBLR
dibanding dengan ibu yang tidak terpapar. Penelitian lainnya oleh Jauniaux et al., (2007) di London,
menemukan bahwa ibu yang terpapar asap rokok sejak awal kehamilannya dapat menurunkan berat plasenta
dan menyebabkan turunnya fungsi plasenta sehingga terjadi penurunan berat badan lahir bayi.
Hasil penelitian menemukan status gizi yang kurang selama kehamilan memberi risiko secara
signifikan (p= 0,003) terhadap kejadian BBLR dengan besar risiko 2,7 kali lebih besar dibandingkan dengan
ibu yang mengalami status gizi baik selama kehamilan. Selama hamil ibu membutuhkan cadangan energi
dan zat gizi lain yang penting untuk kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin. Ibu hamil merupakan
kelompok yang cukup rawan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar
terhadap proses tumbuh kembang janin dalam kandungan dan bayi yang akan dilahirkan.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 138

I N D O N E S I A
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pengaruh gizi kurang terhadap kejadian BBLR. Penelitian
Syarifuddin (2011) di Kota Bantul Yogyakarta, menemukan Ibu hamil yang menderita KEK berisiko 3,95
kali melahirkan bayi dengan BBLR (CI 95%; LL-UL=2,147-7,299; p < 0,001). Penelitian oleh Hidayati M
(2005) di Kota Mataram Nusa tenggara Barat, menemukan hasil bahwa Ibu hamil yang terpapar KEK
mempunyai kecenderungan 4,71 kali lebih besar melahirkan BBLR dibandingkan yang tidak terpapar KEK
(CI 95%; LL-UL= 2,973-7,469; p < 0,005).

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan mengacu pada rumusan masalah dan hipotesis
penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu besar risiko kejadian BBLR pada ibu yang mengalami stres
berat selama hamil sebesar 1,7 kali dibanding dengan ibu yang mengalami stres ringan selama kehamilan,
besar risiko kejadian BBLR pada ibu yang terpapar asap rokok selama kehamilan sebesar 4,2 kali
dibandingkan dengan ibu yang tidak terpapar asap rokok, besar risiko kejadian BBLR pada ibu dengan status
gizi kurang sebesar 2,7 kali dibanding dengan ibu dengan status gizi baik selama kehamilan. Riwayat
penyakit infeksi dan pemanfaatan ANC bukan merupakan risiko terhadap kejadian BBLR.
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat disampaikan kepada ibu
hamil untuk menghindari kecemasan yang berlebihan dengan menambah informasi seputar kehamilan dari
buku atau bertanya pada orang yang lebih berpengalaman, mempertahankan kondisi gizi yang baik dengan
melakukan upaya pengaturan konsumsi makanan dan pemantauan pertambahan berat badan serta
pengukuran LILA sebelum atau saat hamil, menghindari paparan asap rokok baik dalam rumah maupun luar
rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Endara et al., (2009). Does acute maternal stress in pregnancy affect infant health outcomes? Examination of
a large cohort of infants born after the terrorist attacks of September 11, 2001. BMC Public Health
2009, 9:252
Hidayati dkk., (2005). Kurang Energi Kronis dan Anemia Ibu Hamil Sebagai Faktor Risiko Kejadian Berat
Bayi Lahir Rendah di Kota Mataram Prov.Nusa Tenggara Barat.
Ijarotimi OS, Ijadunola KT. (2007). Nutritional status and intelligence quotient of primary schoolchildren in
Akure community of Ondo State, Nigeria. Tanzan Health Res Bulletin. 2007, 9(2): 69-76.
Jauniaux et al., (2007). Morphological and biological effects of maternal exposure to tobacco smoke on the
feto-placental unit. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubbmed Diakses pada tanggal 3 Maret 2013)
Juliana J.P, et. al., (2009). A survey on worries of pregnant women - testing the German version of the
Cambridge Worry Scale. BMC Public Health. 2009; 9: 490.
Kawai et al., (2010). Maternal multiple micronutrien supplementation and pregnancy outcomes in
developing countries: meta analysis and meta regression. Bulletin WHO.89: 402 411B.
Manuaba. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta.
RSUD. Prof. Dr. H. Aloei Saboe. (2011). Profil Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. H. Aloei Saboe tahun
2011.
Tiffany et al., (2010). Prenatal Depression Effects and Interventions: A Review. NIH Public Access Journal
Infant Behav Dev. 33(4): 409-418.
Ward C, Lewis S, Coleman T,. (2007). Prevalence of maternal and Environmental tobacco smoke exposure
during pregnancy and impact on birth weight: retrospective study using Millennium Cohort,
(Online), (http://www.biomedcentral.com/1471-2458/7/81, diakses 8 September 2012).


















JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 139

I N D O N E S I A
DETERMINAN KEJADIAN STRES PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DIPUSKESMAS
MONGOLATO KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO

Ridha Hafid

Puskesmas Mongolato Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo

ABSTRACT

Pregnancy stress is a symptom produce by experienced pregnant women primigravida triggered by
specific allegations before and during pregnancy, both from themselves and from other people's experiences,
and are directly or indirectly triggers the cathecol amines (adrenaline and noradrenaline) which causes
uterine contractions and impact to occuredof abortion, premature birth, until the death of the fetus. It also
potential to cause the death of the mother pre and postpartum delivery.This study aimed to determine the
affectof the implementation of the ANC, history of pregnancy risk, pregnancy counseling, religiosity, support
the husband / family to the stress of labor in the health center MongolatoGorontalo regency. Gorontalo
province. The study design was a "cross sectionalstudy" with observation unit primigravida third trimester
pregnant women. The sample size was 119 pregnant women, taken by simple random sampling. Data
analysis by using univariate, bivariate and logistic regression. The study found: (a history of high risk
pregnancies, pregnancy counseling, religiosity, support the husband / family significantly affect the stress of
pregnancy with p <0,05). While the utilization of ANC does not affect the stress of pregnancy. Conclusion:
variable (history of high risk pregnancies, pregnancy counseling, religiosity, support the husband / family
are important determinants of the stress of pregnancy) and high-risk variable is the main detertminan stress
of pregnancy.

Keywords: Risk of pregnancy, religiosity in pregnancy counseling, support the husband / family

PENDAHULUAN
Stres persalinan adalah respon yang dialami ibu yang sedang menghadapi persalinan yang
dimungkinkan oleh perasaan takut menghadapi proses persalinan terutama ibu yang pertama kali
mengalami kehamilan (primigravida). Stres kehamilan adalah salah satu fenomena yang dialami oleh setiap
ibu khususnya ibu yang pertama kali mengalami kehamilan (primigravida) yang dipicu oleh adanya
prasangka prasangka buruk yang akan menimpa dirinya ketika akan bersalin berdasarkan pengalaman
yang selama ini diperoleh utamanya pengalaman yang dialami langsung selama proses kehamilan, salah satu
dampak penting terjadinya stress adalah diproduksinya adrenalin dan noradrenalin yang memberi dampak
pada ibu utamanya pada bayi berupa abortus, kelahiran bayi premature sampai pada kematian janin dan ibu
melahirkan (Atiq, 2007). Jika hal ini dibiarkan terjadi maka angka mortalitas dan morbiditas akan semakin
meningkat (Maimunah 2009)
Penelitian (Astria dkk, 2009) menunjukan bahwa ibu hamil yang mengalami kecemasan tinggkat
tinggi dapat meningkatkan resiko kelahiran bayi premature bahkan keguguran. Penelitian lain menunjukan
bahwa ibu hamil dengan kecemasan yang tinggi ketika hamil akan meningkatkan resiko hipertensi. Resiko
hipertensi dapat berupa terjadinya stroke, kejang bahkan kematian pada ibu dan janin.
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi sampai sekarang masih tinggi dari kawasan Asean,
walaupun sudah terjadi penurunan dari 270 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2006 menjadi 228 per
100.000 kelahiran hidup pad atahun 2007 dan turun lagi menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2009. Dari angka kematian tersebut terdapat 34-45 % diakibatkan oleh perdarahan, sekitar 16-17%
insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio placenta, 14,5%-24% akibat dari hipertensi, 10-10,5%
akibat dari infeksi dan 5%-6,5% karena lain-lain. (DepkesRI,2010).
Menurut Keumalasari (2009) Strategi Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) Indonesia 2001-
2010 disebutkan dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 memiliki visi bahwa
kehamilan .dan persalinan diIndonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.
Menurut target dari MDGs (Millennium Development Goals) tahun 2015 bahwa diharapkan AKI turun
sampai 102/100.000 KH.dan kematian bayi (AKB) 23/1000 KH
Angka kematian Provinsi Gorontalo pada tahun 2010 mencapai 178/ 100.000 kelahiran hidup,
tahun 2011 meningkat menjadi 249/ 100.000 kelahiran hidup ( data profil Prop. Gorontalo). Sedangkan
kabupaten Gorontalo memegang angka yang tertinggi dari semua kabupaten kota yang berada di Propinsi
Gorontalo yaitu tahun 2010 kematian ibu diKabupaten Gorontalo ada 11 kematian ibu(163/100.000 KH),
tahun 2011 meningkat jadi 16 kematian ibu (253/100.000 KH), sedangkan penyebab kematian terbanyak
masih berkisar pada eklamsia, infeksi, keterlambatan penanganan disarana kesehatan. Berdasarkan data yang
diperoleh menunjukan bahwa pentingnya pengetahuan tentang terjadinya stress sehingga peneliti tertarik
melakukan penelitian untuk melihat besarnya pengaruh pelaksanaan ANC,faktor risiko kehamilan,konseling
kehamilan, religiusitas dan dukungan suami/keluarga terhadap stress persalinan primigravida diPuskesmas
Mongolato Kabupaten Gorontalo provinsi Goronttalo.


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 140

I N D O N E S I A
BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan diwilayah kerja Puskesmas Mongolato Kabupaten Gorontalo Propinsi
Gorontalo. Jenis penelitian dengan menggunakan desain cross sectional. jenis rancangan penelitian yang
sifatnya analitik dan termasuk dalam jenis rancangan penelitian observasional.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil primigravida trimester III, di Puskesmas
Mongolato Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo tahun 2013 dengan jumlah sampel 119 ibu hamil yang
diambil dengan menggunakan tehnik simple random sampling. yang memenuhi kriteria yang telah
ditentukan oleh peneliti
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dengan cara melakukan wawancara langsung terhadap responden
dengan berpedoman pada kuesioner yang telah tersedia yang memuat pertanyaan-pertanyaan maupun
pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk menggali informasi mengenai variabel-variabel yang akan
dianalisis pada penelitian ini yang erat kaitannya dengan kejadian keterlambatan konsepsi. Adapun langkah-
langkah yang dilakukan selama pengumpulan data primer adalah melakukan wawancara langsung dengan
responden dengan berpedoman pada kuesioner yang telah tersedia baik responden di rumah masing-masing.
Analisis Data
Data karakteristik, variabel dependen dan variabel independen diolah dengan menggunakan SPSS
For Windows. Untuk mengetahui Determinan kejadian stress persalinan primigravida diwilayah kerja
Puskesmas Mongolato Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Analisis data dilakukan secara univariat,
bivariat dengan uji chi-sguare dan linier berganda logistic.

HASIL
Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah responden yang terlibat pada penelitian ini
adalah 119 ibu hamil primigravida trimester III baik yang akan melahirkan maupun yang dalam proses
melahirkan dan akan memberi kontribusi terhadap stress.
Hasil penelitian memperlihatkan karakteristik ibu hamil primigravida yang dianggap memberi
konstribusi terhadap stress persalinan.Dari jumlah ibu hamil primigravida 119, kelompok umur 20 -24 tahun
lebih besar (47.1%) ,pada tingkat pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) lebih besar (33.6 5)
pada jenis pekerjaan suami mayoritas wiraswasta (53.8%) jenis pekerjaan responden Mayoritas URT
(78.2%) (lihat tabel 1).

Tabel 1. Distribusi Karekteristik Umum Responden Diwilayah kerja Puskesmas Mongolato Kabupaten
Gorontalo Provinsi Gorontalo

Karakteristik umum n %
Kelompok Umur
16-20
20-24
25-29
29-30

20
56
38
5

16,8
47,1
31,9
4,2
Pendidikan
Tidak tamat SD 4 3,4
SD 30 25,2
SLTP 40 33,6
SLTA 32 26,9
DIII 4 3,4
Perguruan Tinggi 9 7,6
Pekerjaan Suami Responden
URT 11 9,2
PNS/POLRI 21 17,6
Petani 64 53,8
Wiraswasta 23 19,3
Pekerjaan
URT 93 78,2
PNS/POLRI 9 7,6
Petani 1 0,8
Wiraswasta 13 10,9
Buruh/Karyawati 3 2,5
Jumlah
Data Primer

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 141

I N D O N E S I A
Hasil analisis dari 119 jumlah responden pada variabel pemanfaatkan pelayanan ANC Kategori
baik 28.6 % kategori kurang 71.4 %, variable resiko tinggi kehamilan kategori tidak ada riwayat risiko
89.9%, konseling keluarga kategori baik 58.0%, religiusitas kategori baik 39.6%, dukungan suami/keluarga
kategori baik 51.3% yang memberi kontribusi terhadap stress persalinan kategori ringan 63.0% dan kategori
stress berat 37.0%. (lihat tabel 2).

Tabel 2 Distribusi ibu hamil primigravida menurut Faktor Determinan di Puskesmas Mongolato Kabupaten
Gorontalo Provinsi Gorontalo

Variabel n %
Pemanfaatan ANC
Baik 34 28,6
Kurang 85 71,4
Riwayat Risiko Tinggi
Tidak ada riwayat 107 89,9
Ada riwayat 12 10,1
Konseling Kehamilan
Baik 69 58,0
Kurang 50 42,0
Religiusitas
Baik 47 39,5
Kurang 72 60,5
Dukungan Suami/Keluarga
Baik 61 51,3
Kurang 58 48,7
Data Primer

Hasil penelitian dengan uji regresi linier berganda logistic melalui tingkat signifikan (Sig)
memperlihatkan pemanfaatan ANC dengan nilai Betha 1,084,p=0,210 (tidak signifikan) memberikan arti
bahwa apabila tidak dilakukan dengan baik maka tidak memberi kontribusi terhadap stress persalinan.
Sedangkan yang memberi nilai signifikan adalah variabel riwayat risiko tinggi nilai B=3,526, P=0,024
dengan besar resiko Exp(B)=33,983, variabel konseling kehamilan memperlihatkan nilai B=2,761,P=0,000
besar resiko EXP(B)=13,610, variabel religiusitas memperlihatkan nilai B=2,611 P=0,001 dengan besar
risiko Exp(B)= 13,610, Dukungan suami/keluarga dengan nilai B = 1,567, p=0,010 dengan besar risiko
yang dinilai Exp(B)= 4,791 (tabel 3).

Tabel 3. Hasil uji regresi linier berganda logistik faktor determinan terhadap stres persalinan primigravida
di wilayah puskesmas Mongolato Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo


Variabel

B

Wald

DF

Sig.

Exp(B)
95% C.I for
Exp(B)
Lower Upper
Pemanfaatan ANC -0,084 1,569 1 0,210 0,338 0,062 1,844
Riw. Risiko tinggi 3,526 5,094 1 0,024 33,983 1,590 726,189
Konseling kehamilan 2,761 13,528 1 0,000 15,810 3,631 68,840
Religiusitas 2,611 11,776 1 0,001 13,610 3,064 60,457
Dukungan keluarga 1,567 6,639 1 0,010 4,791 1,455 15,775
Data Primer

PEMBAHASAN
Pada penelitian ini memperlihatkan 5 variabel determinan terdapat 4 variabel berhubungan secara
signifikan terhadap kejadian stress persalinan yaitu ; riwayat risiko tinggi kehamilan, konseling kehamilan,
nilai religiusita dan dukungan suami/keluarga, sedangkan pemanfaatan ANC tidak berhubungan secara
signifikan.
Secara teori riwayat risti kehamilan merupakan gangguan fisik yang dialami ibu hamil yang dapat
menggangu proses persalinan dan dapat mengancam kematian ibu dan janin. Pada ibu dengan stress akan
meningkatkan risiko melahikan premature
Secara teori pemanfaatan pelayanan ANC merupakan cara untuk memonitor, mendukung serta
memberikan asuhan kepada ibu hamil agar dapat mengenal tanda-tanda bahaya dan gejala agar dapat
mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin akan timbul dengan mengimformasikan dan memberi
saran secara tepat kepada ibu hamil agar dapat mengenal status kesehatannya. Berdasarkan penelitian ibu
hamil dengan stress akan memberi akibat komplikasi pada janin yang dikandungnya serta akan
meningkatkan risiko melahirkan bayi premature sampai pada kematian janin dan Ibu ( M. Bobak 2005).
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 142

I N D O N E S I A
Hasil Uji statitik menunjukan bahwa adanya hubungan yang signiifikan antara riwayat resiko
tinggi kehamilan dengan stres persalinan dengan nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai =0.05. sehingga
disimpulkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara riwayat risiko tinggi dalam keluarga
berhubungan dengan stres persalinan yang dialami oleh ibu hamil primigravida. Besarnya kontribusi riwayat
risiko tinggi dalam keluarga terhadap stres pesalinan yang dinilai melalui uji Phi = 0,322 atau kontribusi
variabel riwayat stres persalinan adalah 32,2%.
Hasil uji regresi logistik menunjukkan adanya hubungan antara pelaksanaan konseling kehamilan
dengan tingkat stress yang dialami oleh ibu hamil (p = 0,000) dengan besar kontribusi (Phi) = 61,8 %,
demikian juga denga uji multivariate dengan menggunakan regressi logistic memperlihatkan nilai p =
0,000) dengan besar risiko konseling untuk mengurangi stress persalinan Exp(B) = 15,810 kali lipat
dibandingkan dengan yang mengalami stress berat
Hasil Penelitian pada berbagai negara seperti : menurut penelitian yang dilakukan (Sally 2010) di
Miami dan Florida menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara nilai keagamaan dengan
stres kehamilan yang di teliti oleh para sosiolog dan psikolog, meskipun tidak terlalu jelas di temukan
didalam penelitian ini. Hasil studi tentang pemanfaatan sosial memberi dukungan bahwa agama adalah
elemen kunci yang mempengaruhi baik prilaku ibu hamil maupun keputusan yang diambilnya
Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara religiusitas dengan tingkat stress yang
dialami oleh ibu hamil (p = 0,000) dengan besar kontribusi (Phi) = 47,6%, demikian juga denga uji
multivariate dengan menggunakan regressi logistic memperlihatkan nilai p = 0,001) dengan besar risiko
dukungan keluarga Exp(B) = 13,610 kali lipat dibandingkan dengan yang memiliki religiusitas kurang baik,
dalam menghadapi persalinannya.
Dukungan suami/keluarga adalah berupa pemberian dorongan moril dapat berupa pemberian
nasihat motivasi dan perhatian serta dukungan materil berupa persiapan dana persalinan pendampingan
waktu melahirkan menagntar ketika akan bersalin, serta melakukan pemeriksan
Hasil penelitian pada berbagai negara seperti di wilayah Urban Nepal yang dilakukan oleh ( Mulani
et.al. 2007) menemukan bahwa dengan adanya dukungan suami terhadap istrinya untuk melakukan ANC
dengan teratur maka istrinya akan lebih aman menjalani persalinannya dan memungkinkan tidak terjadi stres
persalinan dibanding dengan istri yang tidak didampingi/ didukung oleh suami/keluargaaan (Keumalahayati
2009).
Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh antara dukungan keluarga terhadap tingkat stress
yang dialami oleh ibu hamil (p = 0,000) dengan besar kontribusi (Phi) = 47,2%, demikian juga denga uji
multivariate dengan menggunakan regressi logistic memperlihatkan nilai p = 0,010) dengan besar risiko
dukungan keluarga Exp(B) = 4,791 kali lipat dibandingkan dengan yang tidak memperoleh dukungan
keluarga dalam menghadapi persalinannya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan mengacu pada rumusan masalah dan hipotesis
penelitian maka ditarik kesimpulan bahwa yang memberi pengaruh dan berhubungan dengan kejadian stress
persalinan adalah riwayat risiko kehamilan, konseling kehamilan, nilai religiusitas, dan dukungan keluarga
sedangkan pemanfaatan ANC adalah tidak memberi pengaruh terhadap kejadian stress, walaupun pada
dasarnya dan menurut teori-teori bahwa pemanfaatan ANC adalah factor yang member konstribusi terhadap
kejadian stress.

DAFTAR PUSTAKA
Liani Al-Atiq .(2007). Kehamilan dan Tuberkulosis. http://lely-nursinginfo. blogspot. 2007/06/pregnancy-
and-tuberculosis.html, diakses 12 September 2012
Brita C. Mullany. ( 2007). The impact of including husbands in Antenatal Education services on Maternal
Heatht Practices in Urban Nepal: Results Health from a randomized controlled trial. Departemen of
international Health Jonhs Hopkins Bloomberg scool of Public Health, Baltimore, MD 21205, USA
Chomaria Sally( 2010), Panduan Terlengkap Kehamilan Bagi Muslimah, Pengantar ahli dr. Agus Sunanto,
Sp.O Cox, J.L,.et.al. 1987. The Epidenburgh Postnatal Depression Scale (EPDS).
Frances L. Drew, hubungan antara stress daan lamanya persalinan, Journal of chronic desease Keely,
Keumalahayati. (2009). Dukungan suami terhadap kesiapan ibu primigravida menghadapi persalinan di
daerah pedesaan Langsa Nanggro Aceh Darusalam, Universitas Indonesia Manuaba. 2009.
Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta.
Write in Their Consultation Letters?, 1Department of Medicine, University of Ottawa, Ottawa, Ontario,
Canada 2Department of Obstetrics and Gynecology, University of Ottawa, Ottawa, Ontario, Canada
3Department of Medicine, Queens University, Kingston, Ontario, Canada
Maimuna Siti. (2009). Kecemasan ibu hamil menjelang persalinan pertama, Jurnal Humaniti Universitas
Muhammadiyah Malang, Volume, No.1
Nigenda G, Langer A, et al (2003) Women opinions on antenatal care in developing countries, results of a
studi in cuba, Thailand,Saudi Arabia and Argentina, This Article is Available from;
http;//www.biomedcentral.com. /147-2458/3/17.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 143

I N D O N E S I A
PENGARUH KONSELING GIZI DAN GAYA HIDUP TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH
DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINASA UPA KOTA MAKASSAR TAHUN 2013

St. Nuralya
1
, A. Zulkifli Abdullah
2
, Saifuddin Sirajuddin
3

1
Alumni Program Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
2
Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
3
Bagian Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

This study aimed to determine the effect of nutrition and lifestyle counseling on blood glucose levels
and body mass index (BMI) in patients with type 2 diabetes mellitus in the Work Area Health Center Upa
Minasa Makassar in 2013. This study uses a quasi-experimental design with a nonrandomized control group
pretest-posttest design. Samples were drawn as many as 32 people with type 2 diabetes mellitus consisting of
16 people in the intervention group and 16 in the control group. Sampling is done in a non randomized
purposive sampling. The data was collected using a check list, glukometer, weight scales, and height gauges.
Data were analyzed using paired t test, unpaired t test, Wilcoxon test, Mann-Whitney's test. Results of this
study showed that there was no significant difference in mean glucose levels and body mass index (BMI)
before and after counseling on nutrition and lifestyle intervention groups, respectively (p = 0.426) and (p =
0.552). Whereas in the control group there was a significant difference on average glucose levels and BMI
after counseling, respectively (p = 0.009) and (p = 0.036). Glucose comparisons between the intervention
group and the control group showed no significant differences (p = 0.865) as well as comparison of BMI
between the intervention group and the control group showed no significant difference with (p = 0.405).
Nutrition and lifestyle counseling only able to slow the rate of blood glucose levels and IMT in patients with
type 2 diabetes mellitus.

Keywords: nutrition counseling, lifestyle, type 2 diabetes mellitus, blood glucose, body mass index (BMI).

PENDAHULUAN
Penyakit kronik adalah suatu kondisi di mana terjadi keterbatasan pada kemampuan fisik,
psikologis atau kognitif dalam melakukan fungsi harian atau kondisi yang memerlukan pengobatan khusus
dan terjadi dalam beberapa bulan, salah satunya adalah diabetes mellitus (DM) (Schloman, et al. dalam
Yusra, 2011). Diabetes melitus adalah kelainan yang bersifat kronis yang ditandai dengan adanya kelainan
permanen dari sistem metabolisme tubuh berupa kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) (Permana,
2010).
Diperkirakan 171 juta orang didunia dengan diabetes pada tahun 2000 dan terjadi peningkatan
sampai 366 juta pada tahun 2030 (WHO, 2006), sedangkan menurut International Diabetes Federation
(IDF) menyatakan bahwa pada tahun 2005 di dunia terdapat 200 juta (5,1%) orang dengan diabetes dan
diduga 20 tahun kemudian yaitu tahun 2025 akan meningkat menjadi 333 juta (6,3%) orang. Negara-negara
seperti India, China, Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, Pakistan, Banglades, Italia, Rusia, dan Brazil
merupakan 10 negara dengan jumlah penduduk diabetes terbanyak (Depkes RI, 2008).
Menurut data dari WHO, Indonesia menempati urutan ke 6 di dunia sebagai Negara dengan jumlah
penderita diabetes melitus terbanyak setelah India, China, Rusia, Jepang, dan Brazil. Tercatat pada tahun
1995 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia mencapai lima juta dengan peningkatan sebanyak 230
ribu penderita diabetes mellitus setiap tahunnya sehingga pada tahun 2005, diperkirakan mencapai 17 juta
orang atau 8,6% dari jumlah penduduk (Nina dkk, 2008 dalam Yusra, 2011). Hasil penelitian epidemiologis
di Jakarta (urban) membuktikan adanya peningkatan prevalensi penyakit DM tipe 2 dari 1,7% pada tahun
1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993. Di Makassar 1,5% (1981) menjadi 12,9% (1998). Sedangkan menurut
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, menemukan prevalensi DM di kalangan penduduk 25-64
tahun, 7,5% di Jawa dan Bali.
Diabetes melitus disebabkan oleh hiposekresi dan hipoaktivitas dari insulin. Saat aktivitas insulin
tidak ada atau berkurang, kadar gula darah meningkat karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel
jaringan. Terdapat 2 jenis tipe DM yang paling umum yaitu tipe 1 dan 2. DM tipe 1 adalah penyakit
autoimun di mana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin dan lebih sering terjadi pada anak-anak dan
remaja. Sedangkan DM tipe 2 adalah gangguan metabolisme, di mana produksi insulin ada tetapi jumahnya
tidak adekuat atau reseptor insulin tidak dapat berespon terhadap insulin. Tipe ini paling umum dan
insidennya mencapai 90-95% dari semua DM. (Yusra, 2011).
Kriteria diagnosis dari DM menurut WHO (2006) adalah apabila kadar glukosa darah puasa >7,0
mmol (126 mg/dl) atau glukosa darah 2 jam setelah puasa adalah >11,1 mmol (200 mg/dl). Diabetes melitus
dapat menjadi serius dan menyebabkan kondisi kronik yang membahayakan apabila tidak diobati. Akibat
dari hiperglikemi dapat terjadi komplikasi metabolik akut seperti Ketoasidosis Diabetik (KAD) dan keadaan
hiperglikemi dalam jangka waktu yang lama berkontribusi terhadap komplikasi kronik pada kardiovaskuler,
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 144

I N D O N E S I A
ginjal, penyakit mata dan komplikasi neuropatik. Diabetes mellitus juga berhubungan dengan peningkatan
kejadian penyakit makrovaskuler seperti MCI dan stroke (Smeltzer et. al, 2008).
Menurut WHO (2006), penderita diabetes berisiko mengalami kerusakan mikrovaskuler seperti
retinopati, nefropati dan neuropati. Hal ini akan memberikan efek terhadap kualitas hidup pasien. Penurunan
kualitas hidup mempunyai hubungan yang signifikan terhadap angka kesakitan dan kematian, serta
mempengaruhi usia harapan hidup pasien DM.
Untuk mencegah terjadinya komplikasi dari diabetes mellitus, maka diperlukan pengotrolan yang
terapeutik dan teratur melalui perubahan gaya hidup pasien DM yang tepat, tegas dan permanen.
Pengotrolan diabetes mellitus diantaranya adalah pembatasan diet, peningkatan aktivitas fisik, regimen
pengobatan yang tepat, kontrol medis teratur dan pengontrolan metabolik secara teratur melalui pemeriksaan
labor (Golien et al dalam Yusra, 2011).
Terkait dengan pengelolaan diabetes melitus, ada tiga tingkat pencegahan diabetes, yaitu pertama
pencegahan primer; pencegahan ini mencakup kegiatan yang bertujuan agar diabetes tidak terjadi pada
seseorang yang rentan terkena diabetes, dengan melakukan modifikasi faktor-faktor risiko atau penentu
lingkungan atau perilaku. Kedua pencegahan sekunder; yaitu pencegahan ini meliputi kegiatan deteksi dini
untuk menemukan kasus yang belum terdiagnosis diabetes, serta penanganan segera untuk memperbaiki atau
menghentikan agar diabetes tidak memburuk. Dan ketiga pencegahan tersier; yaitu pencegahan ini dilakukan
untuk mencegah atau memperlambat komplikasi pada seseorang yang telah terkena diabetes (Hasanat dkk,
2010).
Strategi yang dapat dilakukan dalam pencegahan ini adalah salah satunya dengan mengatur pola
makan yaitu dengan melakukan konseling gizi dan gaya hidup. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran penderita DM agar mengubah pola makan dan gaya hidup menjadi sehat sehingga dapat
memperbaiki kadar glukosa darah sewaktu (Octa, 2011). Dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat
maka akan membantu menurunkan indeks massa tubuh seiring dengan turunnya kadar glukosa dalam darah
pada penderita diabetes 2, seperti dalam penelitian Davis menyatakan bahwa dengan diet rendah karbohidrat
pada penderita DM tipe 2 memiliki efek pada berat badan yang berpengaruh besar pada HDL kolesterol
sama terlihat jika dengan diet rendah lemak (Davis et.al. 2009). Selain itu, kebiasaan aktivitas fisik yang
kurang baik secara signifikan berhubungan dengan kualitas hidup (Gautam et. al, 2009). Pada penelitian
Gillies, menyatakan bahwa intervensi gaya hidup dan farmakologis mengurangi laju perkembangan kadar
glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 (Gillies et.al. 2007). Maka dari itu, dianggap perlunya
dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk Mengetahui pengaruh konseling gizi dan gaya hidup terhadap
kadar glukosa darah dan indeks massa tubuh (IMT) pada penderita diabetes tipe 2 di wilayah kerja
Puskesmas Minasa Upa Tahun 2013.

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis Penelitian adalah Quasi Eksperimental (Eksperimen Semu) dengan rancangan The
Nonrandomized Control Group Pretest Postest Design. Penelitian ini dilaksanakan di setiap rumah penderita
DM tipe 2, di wilayah kerja Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar selama 2 bulan yang dimulai pada bulan
April sampai Mei.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita DM tipe 2 yang
tercatat mulai bulan Januari - Februari Tahun 2013 di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar yaitu sebanyak
69 orang. Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini adalah secara non randomisasi yaitu purposive
sampling dengan kriteria inklusi: (1) Penderita DM tipe 2 yang tercatat di Puskesmas Minasa Upa,
(2)Mempunyai alamat yang lengkap yang tercatat di Puskesmas, (4)Penderita DM tipe 2 yang tinggal
menetap di wilayah kerja Puskesmas, (5)Bersedia untuk ikut serta dalam penelitian ini. Sedangkan kriteria
Eksklusi: Meninggalkan wilayah kerja puskesmas Minasa Upa pada saat penelitian berlangsung.
Metode Pengumpulan Data
Proses pendataan awal hanya dilakukan oleh peneliti yang mana hanya mendata jumlah populasi
penderita DM tipe 2 yang tercatat di rekam medik Puskesmas Minasa Upa Makassar. Setelah penderita DM
tipe 2 dinyatakan bahwa ingin mengikuti proses konseling tersebut dan memenuhi kriteria penelitian dan
menandatangani lembar persetujuan (informed consent), maka dilakukan pengukuran oleh petugas lapangan
dengan memeriksa kadar glukosa darah dan indeks massa tubuh (IMT) awalnya dengan menggunakan
glukometer dan alat ukur berat dan tinggi badan berdasarkan daft konseling yang dikembangkan oleh
peneliti dan telah diuji coba sebelumnya.
Analisis Data
Data diolah dengan menggunakan SPSS dan kemudian dilakukan analisis univariat analisis
univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran umum mengenai karakteristik responden dan memperoleh
pemaparan secara deskriptif variabel penelitian. Selain itu, juga dilakukan analisis bivariat dilakukan untuk
melihat apakah ada efek intervensi setelah melakukan pemberian konseling gizi dan gaya hidup dengan cara
membandingkan kadar glukosa darah dan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum dan setelah dilakukan
intervensi tersebut dengan menggunakan uji t berpasangan. Selain itu untuk melihat hubungan antara
variabel independen dan dependennya dilakukan uji t tidak berpasangan.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 145

I N D O N E S I A
HASIL
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa kelompok intervensi pada saat pre test adalah
244,13 mg/dl dengan standar deviasi 66,65 sedangkan pada saat post test menjadi 256,50 mg/dl dengan
standar deviasi 77,79 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 5,07% dengan p = 0,426 (p 0,05) yang
artinya tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata kadar glukosa darah sebelum dan setelah intervensi.
Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata kadar glukosa pada saat pre test adalah 240,63 mg/dl dengan
standar deviasi 116,41 dan pada saat post test menjadi 276,81 mg/dl dengan standar deviasi 107,42 yang
terjadi peningkatan sebesar 15,03% dengan p = 0,009 (p 0,05) yang artinya ada perbedaan yang signifikan
rata-rata kadar glukosa darah sebelum dan setelah intervensi. Pada tabel tersebut juga menunjukkan rata-rata
IMT kelompok intervensi pada saat pre test adalah 25,82 kg/m
2
dengan standar deviasi 3,15 sedangkan pada
saat post test rata-rata IMT menjadi 25,65 kg/m
2
dengan standar deviasi 2,81 yang berarti ada penurunan
sebesar 0,66% dengan p = 0,552 (p 0,05) yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata IMT
sebelum dan setelah intervensi. Dan pada kelompok kontrol rata-rata IMT pada saat pre test adalah 24,21
kg/m
2
dengan standar deviasi 4,15 sedangkan pada saat post test rata-rata IMT adalah 24,58 kg/m
2
dengan
standar deviasi 4,27 yang berarti ada peningkatan sebesar 1,52% dengan p = 0,036 (p 0,05) yang artinya
ada perbedaan yang signifikan rata-rata IMT sebelum dan setelah intervensi.

Tabel 1. Gambaran rata-rata kadar glukosa darah dan indeks massa tubuh (IMT) pada penderita DM tipe 2
pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Wilayah Kerja Puskesmas Minasa Upa Tahun
2013

Variabel
Intervensi
(n=16)
Kontrol
(n=16)
Rerata SD Rerata SD
Kadar Glukosa
a. Pre Test
b. Post Test
Beda rata-rata
p value

244,13
256,50

66,65
77,79

240,63
276,81

116,41
107,42
12,37 36,18
0,426 0,009
IMT
a. Pre Test
b. Post Test
Beda rata-rata
p value

25,82
25,65

3,15
2,81

24,21
24,58

4,15
4,27
0,17 0,37
0,552 0,036
Data Primer

Tabel 2. Perbandingan rata-rata kadar glukosa darah penderita DM pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol di Wilayah Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar Tahun 2013

Nilai Statistik
Pre Test Post Test
Intervensi Kontrol Intervensi Kontrol
n
Mean Rank
16
17,38
16
15,63
16
16,22
16
16,78
p value 0,598 0,865
Data Primer

Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil uji statistik saat pre test didapatkan nilai p = 0,598 (p > 0,05) yang
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan rata-rata kadar glukosa darah responden antara
kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Begitu pula pada post test nilai p = 0,865 (p > 0,05) yang
menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan rata-rata kadar glukosa darah responden setelah pelaksanaan
intervensi pada kedua kelompok penelitian

Tabel 3. Perbandingan rata-rata indeks massa tubuh (IMT) penderita DM pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol di Wilayah Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar Tahun 2013

Nilai Statistik
Pre Test Post Test
Intervensi Kontrol Intervensi Kontrol
n
Mean
SD
SE
16
25,82
3,16
0,77
16
24,21
4,14
1,03
16
25,65
2,81
0,70
16
24,57
4,27
1,07
p value 0,225 0,405
Data Primer

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 146

I N D O N E S I A
Pada tabel 3 menunjukkan bahwa hasil uji statistik pada saat pre test didapatkan p = 0,225 (p >
0,05) yang berati bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata IMT responden antara kelompok
intervensi dan kelompok kontrol. Begitu pula pada saat post test didapatkan p = 0,405 (p > 0,05) yang berati
bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata IMT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kadar glukosa darah responden pada
kelompok intervensi dan hasil yang didapatkan adalah selisih rata-rata kadar glukosa darah yang telah diukur
dari pre test sampai ke post tesnya yaitu 12,37 mg/dl dengan p = 0,426 (p 0,05) yang artinya tidak ada
perbedaan yang signifikan kadar glukosa darah sebelum dan setelah konseling, namun jika dibandingkan
pada kelompok kontrol hasil yang didapatkan adalah selisi antara pre test dan post testnya yaitu sebesar
38,18 mg/dl dengan p = 0,009 (p 0,05) yang artinya ada perbedaan yang signifikan pada saat pre test
hingga post test, tetapi perbedaan tersebut mengarah pada hal yang negatif karena kadar glukosa darah pada
kelompk kontrol cenderung meningkat lebih tinggi dari pada kelompok intervensi. Jadi dapat dikatakan
bahwa konseling gizi dan gaya hidup yang telah dilakukan sedikit berhasil walaupun masih jauh dari yang
diharapkan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Hanifa (2011) yang menyatakan bahwa belum
ada responden yang mengatur makanan menurut jumlah energi, jenis makanan dan jadwal makan sesuai
dengan anjuran. Hal tersebut yang bisa didapatkan dari hasil konseling gizi. Hal tersebut dapat disebabkan
karena faktor umur seperti dalam penelitian Indra (2010) bahwa diagnosis maupun tata laksana DM pada
lansia tidak berbeda dengan populasi lainnya. Rekomendasi tata laksana DM yang banyak digunakan saat ini
adalah consensus ADA-EASD (2008) yang membagi obat-obatan untuk tata laksana DM menjadi 2 tingkat
dan 3 langkah.
Sedangkan pada hasil penelitian Octa (2011) yang bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh dari frekuensi konseling gizi dan gaya hidup terhadap perubahan indeks massa tubuh, lingkar
pinggang, tekanan darah, dan glukosa darah penderita DM, didapatkan perbedaan yang bermakna setelah
konseling pada kelompok perlakuan, didapatkan glukosa darah sewaktu (p =0,001), sedangkan pada
kelompok kontrol tidak ada perbedaan bermakna (p = 0,308). Oleh karena itu perlunya pengontrolan secara
teratur mengenai glukosa darah pada pendrita DM tipe 2, seperti dalam penelitian Manious (2004) bahwa
kesinambungan perawatan yang dikaitkan dengan kontrol glikemik lebih baik dilakukan pada penderita DM
tipe 2.
Terkait dengan pengaruh konseling gizi dan gaya hidup terhadap indeks massa tubuh (IMT), Hasil
penelitian menunjukkan bahwa selisi rata-rata IMT baik saat pre test hingga post test pada penderita DM tipe
2 pada kelompok intervensi adalah 0,17 kg/m
2
dengan p = 0,0552 (p 0,05), yang artinya bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan pada saat pre test hingga post test dilakukan. Sedangkan pada kelompok kontrol
selisi IMT nya adalah 0,36 dengan p = 0,036 (p 0,05) yang artinya bahwa ada perbedaan yang signifikan
pada saat pre test maupun post tesnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Podojoyo (2007)
yang menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan penurunan berat badan dan konsumsi energi pada kelompok
sebelum dan setelah dilakukan konseling gizi, hal ini mengacu pada penurunan IMT. Dalam penelitian
Lipoeto, dkk (2007) juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara IMT, lingkar pinggang dan rasio
lingkar pinggang-panggul dengan glukosa darah. Selain itu pada penelitian Hidayanti, Hadi, dan Lestariana
(2006) menyatakan bahwa peningkatan asupan lemak dan karbohidrat berhubungan dengan kejadian
hiperlipidemia pada anak yang obesitas, dengan hal ini dapat memicu pada peningkatan glukosa darah
secaara dini.
Berdasarlan perbandingan kadar glukosa antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa hasil uji statistik saat pre test didapatkan nilai p = 0,598 (p > 0,05) yang
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan rata-rata kadar glukosa darah responden antara
kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Begitu pula pada post test nilai p = 0,865 (p > 0,05).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Dayana (2012) yang menyatakan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara metode konseling dengan metode pemberian leaflet terhadap kadar glukosa
darah 2 jam pp responden pada akhir penelitian. Hal ini disebabkan adanya ketidakpatuhan dalam mengatur
pola makan karena kurang intensifnya pemberian konseling, seperti dalam hasil penelitian Mona (2012)
bahwa ada hubungan frekuensi pemberian konseling gizi dengan kepatuhan diet penderita DM tipe 2.
Hasil uji statistik perbandingan indeks massa tubuh (IMT) antara kelompok intervensi dan
kelompok control menunjukkan pada saat pre test didapatkan p = 0,225 (p > 0,05) yang berati bahwa tidak
ada perbedaan yang signifikan rata-rata IMT responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Begitu pula pada saat post test didapatkan p = 0,405 (p > 0,05) yang berati bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan rata-rata IMT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian ini sejalan dengan
penelitian Octa (2012) bahwa tidak adanya perbedaan yang bermakna pada selisih penurunan IMT pada
penderita DM tipe 2, hal demikian disebabkan karena kurangnya pemahaman penderita DM tentang gizi dan
gaya hidup. Selain itu pada penelitian Soetiarto, Roselinda, dan Suhardi (2010) bahwa didapatkan bahwa
obesitas sentral berdasarkan LP lebih berperan sebagai faktor risiko DM dibandingkan dengan obesitas
umum berdasarkan IMT.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 147

I N D O N E S I A
Oleh karena itu perlunya kesadaran bagi penderita DM tipe 2 untuk memperhatikan berat badannya
agar dalam keadaan terkontrol karena semakin tinggi IMT seorang penderita DM maka semakin tinggi pula
risiko untuk mengalami komplikasi, seperti dalam penelitian Saripati (2008) menyatakan bahwa aktivitas
fisik yang rendah, menderita diabetes, hipertensi merupakan predictor independen penyakit jantung koroner.
Hal tersebut dapat dicegah melalui konseling gizi dan gaya hidup secara teratur yaitu dengan memperhatikan
asupan makanan yang dimakan oleh penderita DM tipe 2, mengurangi makanan cepat saji, merokok, dan
melakukan aktivitas fisik secara teratur.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik, tidak ada pengaruh konseling gizi dan gaya hidup
terhadap kadar glukosa darah dan indeks massa tubuh (IMT) pada penderita DM tipe 2 pada kelompok
intervensi di Wilayah Kerja Puskesmas Minasa Upa Tahun 2013. Tidak ada perbedaan kadar glukosa darah
dan indeks massa tubuh (IMT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada penderita DM tipe 2 di
Wilayah Kerja Puskesmas Minasa Upa Tahun 2013. Perlu dilakukan konseling dengan melibatkan keluarga
responden agar dapat membantu responden dalam mengatur gizi dan gaya hidupnya. Perlu dilakukan
konseling gizi dan gaya hidup yang lebih intensif sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. Selain itu perlunya
aktivitas fisik yang teratur seperti dalam penelitian Ni Komang (2009) bahwa Orang dengan aktivitas fisik
rendah disertai obesitas sentral memiliki risiko lebih tinggi terhadap DM tipe 2 dibandingkan yang tidak
obes.

DAFTAR PUSTAKA
Davis et. al. (2009)). Comparative Study of the Effects of a 1-Year Dietary Intervention of a Low-
Carbohydrate Diet Versus a Low-Fat Diet on Weight and Glycemic Control in Type 2 Diabetes.
Diabetes care, volume 32, number 7, july 2009.
Gautam, et.al. (2009). Effect of The Diabetic Patients Perceives Social Support in Their Qualiaty of Life.
Journal of Clinical Nursing, 16, 1353-1360.
Gillies Clare, et. al. (2007). Pharmacological and Lifestyle Intervention to Prevent or Delay Type 2 Diabetes
in People with Impaired Glucose Tolerance: Systematic Review and Meta Analysis. BMJ, doi:
10.1136/bmj.39063.689375.55.
Hidayati, Hadi, Lestariana. (2006). Hubungan Asupan Zat Gizi dan Indeks Masa Tubuh dengan
Hiperlipidemia pada Murid SLTP yang Obesitas di Yogyakarta. Sari Pediatri, Vol. 8, No. 1, Juni
2006: 25 31.
Indra Kurniawan. 2010. Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia Lanjut. Maj Kedokteran Indonesia, Volume 60,
Nomor:12.
Lipoeto, dkk. (2007). Hubungan Nilai Antropometri dengan Kadar Glukosa Darah. Medika, Januari 2007,
hal 23 28.
Manious, Arch. (2004). Relationship Between Continuity of Care and Diabetes Control: Evidence From The
Third National Helath and Nutrition Examination Survey. American Journal of Public Health,
January 2004. Vol. 94, No. 1.
Mona Eva, Biufana Sufiati, dan Astuti Rahayu. (2012). Hubungan Frekuensi Pemberian Konsultasi Gizi
dengan Kepatuhan Diet Serta Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di
Rumah Sakit Tugurejo Semarang. Jurnal Gizi Unversitas Muhammadiyah Semarang, November
2012, Vol. 1 No. 1.
Ni Komang. (2009). Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Kejadian Diabetes Melitus (DM) tipe 2. Jurnal
Skala Husada Volume 6 No. 1 2009: 59-64.
Perwira Rifki. (2012). Sistem untuk Konsultasi Menu Diet bagi Penderita Diabetes Melitus Berbasis Aturan.
Jurnal Teknologi, Volume 5 Nomor 2. 104-113.
Saripiati. (2008). Efikasi Monitoring Gula Darah Sendiri Pada Pasien yang Baru Terdiagnosis Diabetes
Melitus Tipe 2 (Esmon Study): Randomised Controlled Trial. J Peny Dalam, Volume 9 Nomor 1
Bulan Januari 2008.
Smeltzer & Bare. (2008). Social Support Survay. Social Science and Medicine. 32 (6) 705-706.
Soetiarto, Roselinda, Suhardi. (2010). Hubungan Diabetes Melitus Dengan Obesitas Berdasarkan Indeks
Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang Data Riskesdas 2007. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 38,
No. 1, 22010: 36-42.









JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 148

I N D O N E S I A
FAKTOR DETERMINAN PEMBERIAN ASI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TILOTE
KABUPATEN GORONTALO TAHUN 2012

Sunarti Hanapi


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo

ABSTRACT

Lack of breastfeeding can be athreat to the health ofchildren becausein addition toan effecton the
growth ofthe braintocause the baby's in telligence can also besusceptible to infectious diseases because of
antibody rendah. Penelitian aims to identify the determinant factors of exclusive breastfeeding by lactation
counseling, localc ultural values, promotion of infant formula, and family support milk production. The
study wasan observational analytic cross sectional design. Sample size of 265 mothers who had a baby boy
taken month sex hautive sampling (total sampling). Using secondary data from their medical calendar notes.
Data analysis conducted by Kaplan Meyertest, Cox Proportional Hazards. The results showed that the
probability of applying the provision of local cultural values Asi 27%, the probability of giving breast milk
to17% less milk production. Multivariate test results indicate that the variables most as sociated with
breastfeeding are local cultural values (p=0.000) and milk production (p=0.041). Concluded hat From the
five variables studied (lactation counseling, local cultural values, promotion of infant formula, family
support, and milk production) is the most influential factor in the provision of Asi is alocal cultural values
and milk production.

Keywords: Breastfeeding, Determinan Factor

PENDAHULUAN
Tingkat pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di indonesia yang masih sangat rendah, hanya 15,3
% bayi yang mendapat ASI ekslusif hingga enam bulan (Riskesdas 2010). Rendahnya pemberian ASI di
indonesia bisa menjadi ancaman bagi kesehatan anak-anak indonesia karena selain berpengaruh pada
pertumbuhan otak untuk kecerdasan juga bisa menyebabkan bayi mudah terkena penyakit infeksi karena anti
bodinya rendah. (Syahruni,2012).
Data Susenas 2010 menunjukkan bahwa baru 33,6% bayi di indonesia mendapatkan ASI, ini
terlihat masih rendahnya cakupan ASI eksklusif di indonesia .Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi dalam
acara pembukaan Pekan ASI Sedunia 2012 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu(19/9/2012), menyoroti bahwa
ada beberapa faktor penyebab rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia, dilihat daridata Riset Fasilitas
Kesehatan Dasar (2011) mengungkapkan bahwa baru sekitar 40% Rumah Sakit yang melaksanakan Rumah
Sakit Sayang Ibu dan Bayi sebagai penerapan 10 Langkah Keberhasilan Menyusui. (Anonim, 2012).
Pada data profil kesehatan RI 2011 menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif untuk Provinsi
gorontalo tahun 2010 adalah 60,4%. Pada data tahunan Dinas kesehatan Kabupaten Gorontalo tentang
cakupan ASI esklusif tahun 2010 adalah 36,6 %, tahun 2011 adalah 56,4%, Sedangkan di Puskesmasmas
Tilote data Asi Esklusif tahun 2010 dari 285 bayi adalah 0%, tahun 2011 dari 301 bayi yang ASI esklusif
hanya 3 orang (0.9%), dan pada tahun 2012 dari 265 bayi adalah 1 orang (0,3%).
Terjadinya kondisi bayi tidak mendapatkan asupan ASI dengan baik diduga disebabkan oleh
beberapa faktor, Faktor tersebut berupa pengaruh dukungan suami dan keluarga, konseling laktasi selama
kehamilan yang kurang baik, pengaruh promosi susu formula dan ada nilai budaya yang sudah melekat
dimasyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Feryani Dwi Permana menunjukkan kegagalan pemberian ASI
eksklusif disebabkan oleh sebahagian besar para ibu termotivasi untuk memberikan MP-ASI dini karena
bayi rewel, kurangnya realisasi program ASI eksklusif dari puskesmas, kurangnya dukungan dari orang
terdekat terutama suami, kurangnya dukungan dari tenaga kesehatan terutama penolong persalinan, adanya
kondisi bayi yang bingung puting dan bayi yang sakit, adanya promosi susu formula dengan penyampaian
iklan yang menarik dan promosi lewat petugas kesehatan, serta masih adanya kebiasaan dalam hal
pemberian prelaktal setelah bayi lahir berupa madu dan pemberian MP-ASI dini sebelum bayi berumur 6
bulan (Feryani, 2010).

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan menggunakan desain cross sectional
study.Peneliti melakukan pengukuran pada variabel dependent yaitu pemberian ASI, variabel independent
yaitu konseling laktasi, nilai budaya lokal, promosi susu formula, dukungan keluarga, dan produksi ASI.
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas Tilote Kabupaten Gorontalo.Pada bulan november 2012
hingga februari 2013.


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 149

I N D O N E S I A
Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai anak umur 0-12 bulanyang ada di wilayah kerja
puskesmas Tilote kabupaten gorontalo. Sampel sebanyak 265 orang ibu yang mempunyai anak umur 0-12
bulan yang diambil dengan cara exhautive sampling dimana seluruh populasi dijadikan sampel.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari rekam
puskesmas Tilote kabupaten Gorontalo tahun 2012.Data primer diperoleh melalui wawancara langsung
dengan ibu di posyandu berdasarkan jadwal posyandu yang ada di desa wilayah kerja puskesmas tilote
sesuai dengan data yang dibutuhkan.
Analisis Data
Analisis data menggunakan program SPSS 18.00 for Windows.Analisis bivariat dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui besarnya perbedaan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan
menggunakan metode life table. Untuk mengetahui lama pemberian ASI dilakukan Uji Kaplan Meyer
sedangkan untuk melihat kemaknaannya digunakan Tes Logrank. Analisa multivariat digunakan untuk
melihat variabel mana yang paling mempengaruhi lama pemberian ASI Uji statistik yang digunakan adalah
Regresi Cox Proportional Hazards.

HASIL PENELITIAN
Analisi Unvariat
Tabel 1, menunjukkan karakteristik ibu yang menjadi sampel dalampenelitian ini. Sebahagian
besar untuk pemberian ASI lebih banyakterdistribusi pada ibu yang berpendidikan SD dan SLTA yaitu
28.6% dan 25.3%. Berdasarkan pekerjaan untukpemberian ASI lebih banyakterdistribusi pada ibu yang
bekerja sebagai URT yaitu 26,2 %. Sedangakan yang berdasarkan agama responden yang memberikan ASI
saja lebih banyakterdistribusi pada ibu yang beragama Islam yaitu 22,9 %, sedangakan untuk pemberian
ASI dengan MP-ASI lebih banyak terdistribusi pada ibu yang beragama Kristen yaitu 85,7%.

Tabel 1 Karakteristik responden menurut pemberian ASI

Jenis Variabel
Pemberian ASI
Total
ASI saja ASI dengan MP-ASI
n % n % n %
Pendidikan ibu
TS
SD
SLTP
SLTA
Diploma
Sarjana
0
22
15
19
2
2
0.0
28.6
21.1
25.3
13.3
9.1
5
55
56
56
13
20
100
71.4
78.9
74.7
86.7
90.9
5
77
71
75
15
22
100
100
100
100
100
100

Total 60 22.6 205 77.4 265 100
Pekerjaan ibu
PNS/PEG.SWASTA
Wiraswasta
Buruh
URT
2
8
0
50
6.9
19.0
0.0
26.2
27
34
3.0
141
93.1
81.0
100
72.8
29
42
3
191
100
100
100
100

Total 60 22.6 205 77.4 265 100
Agama
Islam
Kristen
59
1
22.9
14.3
199
6
77.1
85.7
258
7
100
100

Total 60 22.6 205 77.4 265 100
Data Primer

Analisi Bivariat
Untuk mengetahui peranan masing-masing variabel independen dilakukan analisi bivariat. Dari
hasil uji yang dilakukan Peluang bayi untuk tidak mendapatkan ASI pada 0 bulan yaitu 14%. Sebaliknya,
peluang bayi untuk mendapatkan ASI pada 0 bulan adalah 86%. Sedangkan bayi yang tetap mendapatkan
ASI sampai bulan ke 6 sebesar 0% serta setengah dari jumlah bayi sudah tidak mendapatkan ASI sampai 6
bulan yaituhanya sampai 3,5 bulan. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan pemberian ASI kepada
bayi mulai dari usia 0-6 bulan (tabel 2).


JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 150

I N D O N E S I A
Tabel 2 Analisis Pemberian ASI

waktu
pemberian
Jumlah
yang masuk
pada selang
waktu
Jumlah
yang
berhenti

Proporsi
yang
berhenti/
berkhir
Proporsi
yang
bertahan
Proporsi
kumulatif yang
bertahan sampai
pada batas waktu
perhitungan
(Median)
0
1
2
3
4
5
6
265
227
194
154
111
78
60
38
33
40
43
33
18
60
0.14
0.15
0.21
0.28
0.30
0.23
1.00
0.86
0.85
0.79
0.72
0.70
0.77
0.00
0.86
0.73
0.58
0.42
0.29
0.23
0.00
3.50
Data Primer

Tabel 3, menunjukkan Hasil uji statistik variabelKonseling, laktasi bayidiberikan ASIuntuk ibu
yang mendapat konseling Laktasi yaitu 23% dan tidak mendapatkan konseling yaitu23 %. Ini menjelaskan
bahwa tidak ada perbedaan antara ibu yang mendapat konseling laktasi dengan ibu yang mendapat konseling
laktasi.

Tabel 3 Probabilitas Pemberian ASI Mulai 0 bulan sampai 6 bulan

Faktor
Waktu
(bulan)
Proporsi kumulatif yang
bertahan sampai pada batas
waktu perhitungan
Jumlah yang
berhenti
Konseling laktasi
Ya
Tidak
5
5
0,23
0.23
11
7

*Nilai budaya lokal
Ya
Tidak

5
5
0.27
0.13
13
5
Promosi susu formula
Ya
Tidak

5
5
25
14
17
1
Dukungan keluarga
Ya
Tidak

5
5
0.22
0.23
12
6
*Produksi ASI
Ya
Tidak
5
5
0.24
0.17
17
1
Data Primer
* Ada hubungan dengan pemberian ASI

Hasil uji statistik variabel nilai budaya lokal,Untuk peluang bayi diberikan ASI pada ibu yang
memiliki nilai budaya lokal dengan yang tidak memiliki nilai budaya lokal diperoleh untuk ibu yang
memiliki nilai budaya lokal lama pemberian ASI yaitu 27% dan 13% bagi ibu yang tidak memiliki nilai
budaya lokal. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaanpemberian ASI antara ibu yang memiliki nilai
budaya lokal dengan ibu yang tidak memiliki nilai budaya lokal.
Hasil uji statistikuntuk variabel dukungan keluargamenunjukkan bahwa untuk peluang bayi
diberikan ASI pada ibu yang mendapat dukungan dari keluargayaitu 22%. Sedangkan ibu yang tidak
mendapat dukungan dari keluarga yaitu 23%. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaanpemberian ASI
antara ibu yang dukungan keluarga dengan ibu yang tidakmendpat dukungan keluarga.
Uji sttistik untuk variabel promosi susu formulamenunjukkan bahwapeluang bayi mendapatkan ASI
untuk ibu yang tidak mendapat promosi susu formula yaitu 25%. Sedangkan ibu yang mendapat promosi
susu formula yaitu 14%. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pemberian ASI antara ibu yang
mendapat promosi susu formula denga yang tidak mendapat promosi susu formula.
Uji statistik untuk variabel Produksi ASI menunjukkan bahwapeluang bayi mendapatkan ASI untuk
ibu yang produksi ASInya cukup cukup yaitu 24%. Sedangkan ibu yang produksi ASInya kurang yaitu 17%.
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 151

I N D O N E S I A
Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pemberian ASI antara ibu yang produksi ASI kurang dengan
ibu yang produksi ASI cukup.
Analisis Multivariat
Berdasarkan tabel 4, hasil analisispemberian ASI dengan menggunakan metode Cox Proportional
Hazard pada semua variabel independen. Pada variabel nilai budaya lokal nilai Wald =13,473 dengan nilai
p=0,000. Variabel yang keduaProduksi ASI dengan nilai Wald = 4,617 dengan nilai p = 0,041. Ini
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara nilai budaya lokal dengan produksi ASI dengan
pemberian ASI. Variabel lainnya tidak merupakan determinan didalam menentukan pemberian ASI.

Tabel 4 Hasil Analisis Multivariat dengan Cox Proportional Hazard Lama Pemberian ASI

Variabel B SE p Wald
95% CI
Batas
bawah
Batas
atas
Konseling laktasi
Nilai budaya lokal
Dukungan keluarga
Promosi susu formula
Produksi ASI
0.003
0.503
-0.061
0.248
0.312
0.131
0.137
0.138
0.161
0.153
0.979
0.000*
0.661
0.125
0.041*
0.001
13.473
0.192
2.353
4,167
0.0776
1.264
0.718
0.934
1.013
1.298
2.163
1.234
1.758
1.844
Data Primer
*Yang signifikan

PEMBAHASAN
ASI esklusif sangat penting untuk peningkatan SDM kita dimasa yang akan datang, terutama dari
segi kecukupan gizi sejak dini. Memberikan ASI secara esklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan menjamin
tercapainya pengembangan kecerdasan anak secara optimal. Selain itu, ASI juga merupakan makanan yang
baik serta meningkatkan daya tahan tubuh bayi dari penyakit infeksi (Arini, 2012)
Promosi susu formula merupakan suatu bentuk penyebaran informasi tentang produk susu kepada
masyarakat agar masyarakat bisa mengenal serta menggunakannya guna memenuhi kebutuhan anak mereka,
dewasa ini sudah banyak ibu-ibu kesadarannya akan pemberian ASI kepada bayi meningkat, tapi para ibu
sering kali masih ragu dan tergoda menggunakan susu formula. Hasil penelitian variabel promosi susu
formula menunjukkan bahwa ibu tidak mendapat promosi susu formula peluang pemberian ASI esklusifnya
lebih besar dibandingkan yang mendapat promosi susu formula. Hasil penelitian lain yaitu: Ridwan
Amirudin dan Rostia (2006), menunjukkan bahwa ada hubungan bernakna antara promosi susu formula
dengan pemberian ASI eksklusif. Hidayanti (2010) dikota Tasikmalaya menunjukkan bahwa paparan iklan
susu formula berdampak sebesar 4% untuk menurunkan status pemberian Asi eksklusif.
Konseling laktasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang melakukan konseling laktasi dan
tidak melakukan konselinglaktasi lama pemberian ASI esklusifnya sama yaitu hanya sampai pada bulan ke
lima. Hasil penelitian lain yaitu : Rahmawatidan Husnah dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ibu yang
diberi konseling ASI eksklusif secara intensif 23.92 lebih besar kemungkinan untuk menyusui dini
dibandingkan dengan ibu yang tidak diberi konseling ASI eksklusif tidak secara intensif OR= 23,92 (95%
Cl = 8.43-67.83). Ambarawati, juga dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ada perbedaan perubahan
pengetahuan, sikap terhadap IMD, dan ASI eksklusif terhadap yang kelompok tidak mendapat konseling
laktasi secara intensif dengan kelompok yang mendapat konseling laktasi secara intensif. Yang mendapat
koseling laktasi secara intensif dalam pemberian ASI eksklusif sampai 3 bulan pada anak yang dilahirkan
sebelum dan selama penelitian dari 2(16,7) menjadi 10(83,35).
Keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif ditetukan oleh peran keluarga, terutama ayah atau
suami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapat dukungan keluarga peluang untuk
memberikan ASI esklusif yaitu 22% sedangkan yang tidak mendapat dukungan keluarga untuk memberikan
ASI esklusif yaitu 23%. Hasil penelitian lain oleh Aswa (2010), juga menemukan bahwa peran keluarga
berhubungan terhadap pemberian ASI eksklusif, nilai p= 0.048.Astanti(200), menunjukkan bahwa faktor
yang mempengaruhi pemberian Asi eksklusif untuk dorongan/dukungan keluarga dengan nilai
signifikansinya = 0,43 dan OR=6,461.
Analisis multi variat untuk variabel nilai budaya lokal menunjukkan bahwa nilai Wald = 13.473 dan
nilai p=0,000 dan Variabel Produksi ASI dengan nilai Wald = 4,617 dengan nilai p = 0,041. Variabel lainnya
tidak merupakan determinan didalam menentukan pemberian AS. Hal ini menunjukkan bahwa produksi ASI
dan nilai budaya lokal ada pengaruh terhadap pemberian ASI esklusif dimana nilai budaya dan keyakinan
agama punya andil dalam pemberian ASI esklusif.dan kondisi produksi ASI kurang berhubungan dengan
rendahnya pemberian ASI diwilayah kerja Tilote.
Alasanibu untuk tidak memberika ASI saja pada bayi karena setiap bayi mereka pada saat setelah
dilahirkan harus diberi madu, itu merupakan tradisi masayarakat gorontalo serta orang tua mengatakan hal
tersebut merupakan sunnah nabi, Pada bulan ke-3 dan 4 anak sudah diberi makan pisang dengan pemahaman
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 152

I N D O N E S I A
agar bayi sehat dan kuat. Sebahagian lagi menjelaskan bahwa mereka tidak memberikan madu tetapi pada
bulan kedua dan ke tiga bayi selain di beri ASI bayi sudah di beri susu formula.
Berdasarkan pemahaman tentang nilai budaya, hal ini cukup berperan dalam pengambilan
keputusan bagi seorang ibu menyusui untuk memberikan atau tidak memberikan ASI esklusif kepada
bayinya. Faktor lain yang turut berperan dalam pengambilan keputusan seorang ibu dalam menyusui adalah
pengalaman keluarga dalam hal menyusui, pengetahuan ibu dan keluarga tentang manfaat ASI, sikap suami
dan saudara lainya tentang pemberian ASI, serta sikap petugas kesehatan dalam membantu ibu untuk
mengambil keputusan dalam pemberian ASi esklusif. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ludin,BH,
menemukan bahwa faktor sosial budaya masyarakat merupakan salah satu penghambat dalam pemberian
ASI eksklusif dimana variabel nilai/norma tentang tindakan pemberian ASI eksklusif nilai p=0.000.
Sulistinah(2013), menemukan bahwa yang berpengaruh secara signifikan tehadap status pemberian ASI
eksklusif adalah sosial budaya masyarakat (p= 0,002).
Nilai budaya lokal pada penelitian ini cukup memberikan nilai positif bagi pemberian ASI sebab
setelah dilakukan uji univariat ternyata ibu yang memiliki nilai budaya lokal mempunyai waktu yang lama
dalam pemberian ASI dibandingkan dengan yang tidak memiliki nilai budaya lokal.
Hasil penelitian di wilayah kerja puskesmas Tilote untuk variabel produksi ASI menunjukkan
bahwa ibu yang memiliki produksi ASI cukup lebih lama pemberian ASI esklusifnya yaitu sampai bulan ke
lima dibandingkan dengan yang produksi ASInya sedikit yaitu hanya sampai 4 bulan. Dari hasil penelitian
ini dapat dilihat bahwa sejalan dengan teori dimana menurut Roesli (2004), faktor-faktor yang
mempengaruhi pemberian susu formula yaitu ASI tidak cukup alasan ini merupakan alasan utama bagi ibu
tidak memberikan ASI secara eksklusif. Walaupun banyak ibu yang merasa ASInya kurang, tetapi hanya
sedikit (25%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya.Selebihnya ibu dapat menghasilkan
ASI yang cukup untuk bayinya.
Alasan utama ibu tidak memberikan ASI saja kepada bayi adalah produksi ASI kurang karena
makanan yang dikonsumsi kurang mendukung meningkatnya produksi ASI untuk sehingga selain ASI bayi
diberi susu formula atau makanan lunak untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sebahagian ibu juga
menjelasakan bahwa produksi ASI mereka cukup tetapi alasan pekerjaan dan kemempuan keluarga untuk
membeli susu sebagai pengganti ASI sehingga walaupun produksi ASI cukup mereka tidak memberi ASI
esklusif pada anak mereka. Hai ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Teresa Gonzales; dkk.
Bahwa Produksi ASI akan meningkat jika ibu menyusui mengkonsumsi suplemen makanan yang dapat
meningkatkan produksi ASI yang secara langsung bisa memperpanjang waktu pemberian ASI eksklusif
sehingga ASI eksklusif bisa tercapai.
Sesuai target cakupan nasional pemberian ASI eksklusif yaitu 80%, namun hasil penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa keberhasilan pemberian ASI saja pada bayi belum dapat dilaksanakan sesuai
target, hal ini di sebabkan oleh faktor produksi ASI kurang dan nilai budaya lokal yang ada di masyarakat
Gorontalo sangat berpengaruh terhadap pemberian ASI.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kami menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan lama pemberian ASI untuk ibu yang mendapat
konseling laktasi, promosi susu formula, dan dukungan keluarga, sedangkan ibu yang memiliki Nilai budaya
lokal dan produksi ASI kurang ada perbedaan terhadap lama pemberian ASI, serta yang paling berpengaruh
terhadap pemberian ASI adalah nilai budaya likal dan produksi ASI Kurang. Oleh sebab itu, perlu
meningkatkan peran petugas kesehatan dalam penerapan IMD pada saat ibu melahirkan, serta memberikan
informasi tentang manfaat pemberian ASI kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama yang ada didesa
sehingga dapat meminimalisir secara perlahan-lahan nilai budaya yang dapat merugikan masyarakat .

DAFTAR PUSTAKA
Ambarawati,Ria.(2013). Pengaruh konseling laktasi intensif terhadap pemberian ASI eksklusif sampai 3
bulan.http://www.magi.undip.ac.id( diakses tanggal 2 April 2013)
Astanti.(2000).Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di kecamatan ngemplak
kabupaten sleman.http://repository.uii.ac.id/ASTANTI-4543524129-abstract.pdf. (Diakses tanggal
2 April 2013)
Hidayanti, Lilik.(2011). Penurunan pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu damapak paparan iklan susu
formula. Jurnal FKM-UNSIL 2011.ISBN 978-602-96943-1-4. ( diakses tanggal 1 april 2013)
Ludin,BH.. Pengaruh Sosial Budaya masyarakat terhadap tindakan pemberian ASI ekslusif diwilayah kerja
puskesmas kecamatan Rumbay Pesisir Kota pekan baru. Jurnal Artikel (www.goole.com, diakses 7
september 2012).
Teresa, dkk. (1997).Inpac of food suplementation during laktation on infant breast milk intake and on the
proportion of infants exklusively breast-fed. Community and International Nutrition .from.jn.org by
guest on september 6, 2012. the journal of Nutrition.



JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 153

I N D O N E S I A
PENGARUH KAMPANYE BERHENTI MEROKOK TERHADAP PERILAKU MEROKOK PADA
MAHASISWA STIKES PASAPUA AMBON TAHUN 2013

Vonny Roberth
1
,

Ridwan Amiruddin
2
, Darmawansyah
3


1
Puskesmas Bara-Baraya Kota Makassar
1.
Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
2.
Bagian AKK , Fakultas Kesehatan Masyarakat , Universitas Hasanuddin

ABSTRACT

This research is Quasi Experiment (Quasi experiment) with a non-randomized design of pretest-
posttest design. 134 samples were divided into 81 treatment group and 53 controls of the group. Analysis of
the data used were paired t test.. The results showed that there was no effect of smoking cessation
campaigns against student knowledge and attitudes about smoking, but to give effect to measures to stop
smoking. The control group was not found to change the knowledge, attitudes, and actions at pre-test and
post test.

Keywords: stop smoking campaigns, smoking, knowledge, attitudes

PENDAHULUAN
Konsumsi Produk Tembakau terutama rokok, menjadi masalah tersendiri, karena sebenarnya di
dalam Produk Tembakau yang dibakar terdapat lebih dari 4.000 (empat ribu) zat kimia antara lain Nikotin
yang bersifat adiktif dan Tar yang bersifat karsinogenik. Dampak negatif penggunaan tembakau pada
kesehatan seperti kanker paru merupakan penyebab nomor satu di dunia, disamping dapat menyebabkan
serangan jantung, impotensi, penyakit darah, emfisema, stroke, dan gangguan kehamilan dan janin yang
sebenarnya dapat dicegah. (Depkes. RI, 2013)
Merokok merugikan kesehatan baik bagi perokok itu sendiri maupun orang lain disekitarnya yang
tidak merokok (perokok pasif). Perokok mempunyai risiko 2-4 kali lipat untuk terkena penyakit jantung
koroner dan risiko lebih tinggi untuk kematian mendadak. (Depkes. RI, 2013).Gencarnya iklan, promosi dan
sponsor rokok berdampak pada semakin meningkatnya prevalensi merokok pada anak-anak. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa iklan, promosi dan sponsor rokok menimbulkan keinginan anak-anak untuk
mulai merokok, mendorong anak-anak perokok untuk terus merokok dan mendorong anak-anak yang telah
berhenti merokok untuk kembali merokok. (Depkes. RI, 2013)
Perlindungan terhadap bahaya asap rokok orang lain (perokok pasif) perlu dilakukan mengingat
risiko terkena penyakit kanker bagi perokok pasif 30% (tiga puluh persen) lebih besar dibandingkan dengan
yang tidak terpapar asap rokok. Perokok pasif juga terkena penyakit lainnya seperti perokok antara lain
penyakit jantung iskemik yang disebabkan oleh asap rokok. (Depkes.RI. 2013).
Masyarakat berhak mendapat informasi dan peringatan yang jelas dan benar atas dampak yang
ditimbulkan akibat merokok. Walaupun lebih dari 90% masyarakat pernah membaca peringatan kesehatan
berbentuk tulisan di bungkus rokok, hampir separuhnya tidak percaya dan 26% tidak termotivasi berhenti
merokok. Studi diberbagai Negara membuktikan peringatan tertulis yang disertai gambar lebih efektif dari
pada hanya berbentuk tulisan saja. Oleh karena itu, pesan kesehatan pada kemasan rokok wajib dicantumkan
dalam bentuk gambar dan tulisan untuk meningkatkan kesadaran perokok dan bukan perokok akan
bahayanya merokok bagi kesehatan. Agar efektif peringatan kesehatan harus mudah dilihat, relevan dan
mudah diingat serta menggambarkan aspek yang perlu diketahui oleh setiap orang. (Depkes. RI, 2013)
Kampanye anti rokok telah banyak dilakukan oleh banyak orang, baik itu swasta, pemerintah,
lembaga swadaya masyarakat atau bahkan institusi pendidikan yang menaruh perhatian pada masalah
berhenti merokok ini. Salah satunya ialah seperti yang dilakukan oleh ICW (Indonesia Corruption Watch)
dalam aksi 'memberangus' industri rokok melalui kampanye anti rokok yang gencar dilakukannya.
Banyaknya kampanye baik melalui media televisi, radio, maupun elektronik yang dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan RI.
Penelitian Ispawati (2007) pada siswa SMU 5 dan 9 Makassar menunjukkan bahwa promosi
kesehatan dengar menggunakan medium poster dan metode ceramah lebih bermakna dibandingkan dengan
hanya menggunakan rne:ude ceramah saja dalam hal peningkatan pengetahuan dan pencegahan perilaku
merokok pada siswa.Hasil penelitian Vallone (2011) di 8 negara bagian Amerika Serikat menunjukkan hasil
adanya pengaruh kampanye anti merokok terhadap perilaku merokok. Responden yang semula merokok
akibat adanya kampanye telah berangsur angsur mengurangi jumlah rokok yang diisap per hari bahkan
berhenti merokok. Responden mendaptakan pemahaman tentang bahaya merokok bagi diri sendiri dan
lingkungan. Berdasarkan data WHO (Word Health Organization), Indonesia menduduki urutan ke tiga
dunia yang memiliki jumlah perokok terbanyak setelah Cina dan India (Priyadi, 2013)
Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa prevalensi penduduk umur 15 tahun keatas yang
merokok tiap hari secara nasional adalah 28,2 %, dengan jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap per
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 154

I N D O N E S I A
hari menurut Provinsi yang tertinggi 1-10 batang/hari Maluku (69,4%). Prevalensi perokok untuk propinsi
Maluku menduduki urutan ke 20 dari 33 propinsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh kampanye berhenti merokok terhadap perilaku merokok mahasiswa STIKES Pasapua Ambon
tahun 2013

BAHAN DAN METODE
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Eksperimen Semu (Quasi experiment)
dengan rancangan non-randomized Pretest-Posttest Design. Adapun pengelompokan anggota sampel dalam
kelompokperlakuan dan kelompon kontrol dilakukan secara non-random. Penelitian ini dilaksanakan di
Stikes Pasapua Ambon selama 6 minggu pada bulan Mei sampai bulan Juni tahun 2013.
Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki Stikes Pasapua Ambon yang sebanyak
134 orang. Peneliti menggunakan total sampling dalam penentuan jumlah besar sampel untuk melihat
besarnya pengaruh kampanye berhenti merokok ini dengan jumlah sampel yang besar pada mahasiswa
(Dahlan, 2010).
Pengumpulan Data
Data primer diperoleh malalui pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengan
menggunakan kuisioner. Dilakukan pengukuran awal sebelum dilakukan intervensi atau perlakuan dan
dilanjutkan dengan pengukuran akhir. Data sekunder diperoleh dari data jumlah mahasiswa yang ada pada
Stikes Pasapua Ambon
Analisis Data
Pengolahan dilakukan dengan komputer menggunakan program SPSS. Penyajian data dilakukan
dalam bentuk table distribusi frekuensi disertai penjelasan-penjelasan (Notoatmodjo, 2010). Analisis data
penelitian menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariate.(A. Santjaka, 2011)

HASIL
Berdasarkan tabel 1 di atas diperoleh bahwa sampel tersebar dari tiga angkatan masuk dimana
angkatan 2010 sebanyak 43 orang (32,1%), angkatan 2011 sebanyak 56 orang (41,8%) dan angkatan 2012
sebanyak 35 orang (26,1%). Pada kelompok perlakuan sampel paling banyak berasal dari angkatan 2012
sebanyak 32 orang (39,5%) dan paling sedikit pada angkatan 2010 sebanyak 22 orang (27,2%). Pada
kelompok kontrol paling banyak berasal dari angkatan 2011 sebanyak 29 orang (54,7%) dan paling sedikit
berasal dari angkatan 2012 sebanyak 3 orang (5,7%).

Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden dan Kelompok Penelitian Stikes Pasapua Ambon
Tahun 2013

Karakteristik responden
Kelompok Total
Perlakuan Kontrol n

%
n % n %
Angkatan
2010 22 27.2 21 39.6 43 32.1
2011 27 33.3 29 54.7 56 41.8
2012 32 39.5 3 5.7 35 26.1
Umur (tahun)
18 1 1.9 1 .7
19 4 4.9 4 7.5 8 6.0
20 24 29.6 20 37.7 44 32.8
21 34 42.0 17 32.1 51 38.1
22 15 18.5 8 15.1 23 17.2
23 2 2.5 2 3.8 4 3.0
24 2 2.5 1 1.9 3 2.2
Data Primer

Berdasarkan usia, paling banyak pada usia 21 tahun yaitu 51 orang (38,1%) dan paling sedikit
pada juga yang paling muda (18 tahun) yakni 1 orang (0,7%). Usia pada kelompok perlakuan paling
banyak 21 tahun yaitu 34 orang (42%) dan paling sedikit usia 23 dan 24 tahun masing-masing 2 orang
(2,5%). Pada kelompok kontrol, paling banyak berusia 20 tahun yaitu 20 orang (37,7%) dan paling sedikit
berusia 18 dan 24 tahun masing-masing 1 orang (1,9%).
Pada tabel 2 memperlihatkan nilai mean SD pengetahuan pada kelompok perlakuan (kampanye
anti merokok) saat pre test=104,420,8 dan post test 104,021,2. Pada kelompok kontrol, rata-rata
pengetahuan saat pre test dan post test mempunyai nilai yang sama yaitu 112,116,.1 dan post test
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 155

I N D O N E S I A
104,021,2. Hasil uji statistik dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan
diperoleh nilai p=0,320 >0,05 yang berarti tidak ada perubahan pengetahuan sebelum dan seudah perlakuan.
Sedangkan kelompok kontrol tidak ada nilai p karena sama rata-ratanya saat pre test dan post test. Hal ini
menunjukkan bahwa pemberian kampanye anti merokok tidak memberikan dampak yang lebih baik
terhadap pengetahuan mahasiswa.

Tabel 2 Perbedaan pengetahuan (Pre Test Dan Post Test) Stikes Pasapua Ambon Tahun 2013

Perlakuan Pengetahuan Mean SD p
Kampanye anti merokok Sebelum 104,4 20,8
0,320
Sesudah 104,0 21,2
Tidak ada perlakuan Sebelum 112,1 16,1
-
Sesudah 112,1 16,1
Data Primer
Pada tabel 3 memperlihatkan nilai mean SD sikap pada kelompok perlakuan (kampanye anti
merokok) saat pre test 59,512,5 dan post test 60,021,2. Pada kelompok kontrol, rata-rata sikap saat pre
test dan post test mempunyai nilai yang sama yaitu 66,19,1 dan post test 66,87,3. Hasil uji statistik dengan
uji t berpasangan menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan diperoleh nilai p=0,069 >0,05 yang berarti
tidak ada perubahan sikap sebelum dan seudah perlakuan. Sedangkan kelompok kontrol diperoleh nilai p
0,322 > 0,05 yang berarti tidak ada perubahan sikap saat pre test dengan post test Hal ini menunjukkan
bahwa pemberian kampanye anti merokok tidak memberikan dampak perubahan sikap mahasiswa yang
lebih baik terhadap peprilaku merokok.

Tabel 3 Perbedaan Rata-rata Sikap (Pre Test Dan Post Test) Stikes Pasapua Ambon Tahun 2013

Perlakuan Sikap Mean SD P
Kampanye anti merokok Sebelum 59,5 12,5
0,069
Sesudah 60,6 11,2
Tidak ada perlakuan

Sebelum 66,1 9,1
0,322
Sesudah 66,8 7,3
Data Primer

Pada tabel 4 memperlihatkan nilai mean SD tindakan pada kelompok perlakuan (kampanye anti
merokok) saat pre test 52,811,5 dan post test 61,199,5. Pada kelompok kontrol, rata-rata sikap saat pre
test dan post test mempunyai nilai yang sama yaitu 29,72,5 dan post test 29,52,7. Hasil uji statistik dengan
uji t berpasangan menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan diperoleh nilai p=0,000 <0,05 yang berarti
ada perubahan tindakan sebelum dan sesudah perlakuan. Sedangkan kelompok kontrol diperoleh nilai p
0,322 > 0,05 yang berarti tidak ada perubahan tindakan saat pre test dengan post test Hal ini menunjukkan
bahwa pemberian kampanye anti merokok memberikan dampak perubahan tindakan mahasiswa yang lebih
baik terhadap perilaku merokok.

Tabel 4 Perbedaan Rata-rata Tindakan (Pre Test Dan Post Test) Stikes Pasapua Ambon Tahun 2013

Perlakuan Tindakan Mean SD p
Kampanye anti merokok Sebelum 52,81 11,538
0,000
Sesudah 61,19 9,500
Tidak ada perlakuan

Sebelum 29,66 2,472
0,322
Sesudah 29,49 2,743
Data Primer

PEMBAHASAN
Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat pengaruh kampanye berhenti merokok terhadap
pengetahuan dan sikap merokok mahasiswa. Namun diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh kampanye
berhenti merokok terhadap tindakan merokok mahasiswa.
Pengetahuan atau tahu ialah mengerti sesudah melihat atau menyaksikan, mengalami atau diajar.
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu
obyek tertentu. Penginderaan terjadi pada panca indera manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010). Hasil uji t berpasangan diperoleh hasil bahwa tidak
terdapat pengaruh kampanye berhenti merokok terhadap pengetahuan merokok mahasiswa Stikes Pasapua
Ambon tahun 2013 baik pada kelompok perlakuan maupun kontrol.
Hal ini memiliki penyebab yang dapat dilihiat dari dua arah. Pertama, bahwa saat kampanye
berhenti merokok dilakukan mahasiswa tidak memperhatikan dengan seksama mengenai materi bahaya
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 156

I N D O N E S I A
merokok yang disampaikan kepada mereka. Sehingga pengetahuan mereka mengenai rokok tidak sedikit
banyak bertamba setelah kampanye berhenti merokok dilakukan. Atau mahasiswa dengan sampel yang
menjadi objek penelitian memiliki perbandingan yang tidak terlalu signifikan dalam hal pengetahuan dan
sikap mereka mengenai kampanye merokok ini.Kedua, materi kampanye berhenti merokok yang
disampaikan tidak menarik perhatian mahasiswa sehingga apa yang disampaikan tidak tersalurkan ke dalam
pikiran mereka. Dan ada kemungkinan penyampaian materi yang kurang tepat.
Dalam penelitian ini tidak terjadi peningkatan pengetahuan. Hal ini disebabkan responden
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bahaya merokok, perokok pasif, dan larangan merokok.
Penelitian yang dilakukan oleh Uswatun (2010) bahwa untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam
melakukan promosi kesehatan sebaiknya dilakukan dengan mix media yaitu media poster dan tanya jawab.
Hasil optimal akan dicapai pada kelompok perlakuan jika penyampaian materi oleh fasilitator dalam hal ini
nara sumber sehingga siswa serius memperhatikan mated yang diberikan, timbulnya respon (tanya jawab)
siswa, menggunakan media gambar yaitu poster, sedangkan hasil kurang optimal pada responden
disebabkan peserta tidak mendapat penjelasan secara optimal.
Faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan pendidikan maupun promosi meliputi
pendidik/pelatih, kurikulum, kondisi, peserta, proses penyelenggaraan, sarana yang dipergunakan serta
metode yang dipakai. Dalam proses belajar mengajar atau proses penyampaian materi kampanye kepada
sasaran, dibutuhkan metode dan alat bantu turut memegang peranan penting, sebab bagaimanapun pandainya
seorang nara sumber dalam usahanya mengubah tingkah laku, tidak terlepas dari metode dan alat bantu yang
digunakan yang disebut alat peraga (Notoatmodjo, 2010).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salawati dkk., (2010) yang
melakukan penelitian tentang Perilaku Merokok Di Kalangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Semarang dimana walaupun sebagian besar yakin dan memiliki pengetahuan yang baik bahwa merokok itu
berbahaya, namun mereka tidak yakin mampu berhenti dan hanya berniat mengurangi saja. Mereka tidak
memiliki beban yang sama dengan informan dari Fakultas Kesehatan, karena mereka bukan calon petugas
kesehatan.
Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Solicha (2012)
yang melakukan penelitian tentang tingkat Pengetahuan Pengunjung di Lingkungan RSUP Dr. Kariadi
tentang Kawasan Tanpa Rokok Studi Kasus Di RSUP dr. Kariadi Semarang dimana diperoleh hasil bahwa
Sebanyak 38.9% responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan 48.9% cukup. Dari seluruh responden,
ada 85.6% responden bersikap patuh, sedangkan 14.4% nya tidak. Analisis hubungan antara keduanya
didapatkan nilai signifikan p adalah 0.001.
Sejalan dengan penelitian Rahmadi Dkk. (2012) pada siswa SMP di Kota Padang yang
menyatakan 32,30% siswa adalah perokok, 10,4% dengan pengetahuan rendah, dan 7,3% dengan sikap
negatif. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=1,000) dengan kebiasaan merokok
pada siswa. Pengetahuan (p=0,155) tidak berhubungan dengan dengan sikap terhadap rokok pada siswa SMP
di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh kampanye berhenti merokok
terhadap sikap merokok mahasiswa Stikes Pasapua Ambon tahun 2013 baik pada kelompok perlakuan
mapun kontrol. Hal ini disebabkan karena hampir semua mahasiswa yakni 93,28% memiliki persetujuan
terhadap larangan merokok di tempat umum pada pre test nya dan meningkat sebesar 94,03% pada post tes
yang dilakukan. Hal ini tentu saja baik sebab ada perubahan asumsi sikap yang ditunjukkan oleh mahasiswa
melalui kuesioner yang dibagikan pada saat post test. Selain itu ketidakpedulian mereka terhadap larangan
merokok juga membaik dari 16,42% menjadi 15,67% untuk pertanyaan dengan pilihan jawaban tidak peduli.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Solicha (2012) di
Lingkungan RSUP Dr. Kariadi Semarang dimana diperoleh hasil bahwa sikap patuh pada larangan merokok
berhubungan dengan merokok. Responden yang bersikap patuh terhadap larangan merokok 85.6%,
sedangkan yang tidak patuh 14.4%. Penelitian lainnya yang yang tidak sejalan dengan penelitian ini adalah
Puryanto dkk., (2012) yang menyatakan adanya pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan
terhadap sikap merokok (p=0,000). Hal ini disebabkan sebagian anak menyetujui dampak rokok bagi
kesehatan yaitu dapat mengganggu pernafasan. Penelitian Rahmadi dkk., (2012) pada Siswa SMP di Kota
Padang, ditemukan 32,30% siswa adalah perokok dengan dengan sikap negatif 7,3%. Tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara sikap (1,000) dengan kebiasaan merokok pada siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye berhenti merokok berpengaruh terhadap tindakan
merokok kelompok perlakuan mahasiswa Stikes Pasapua Ambon tahun 2013, sedangkan pada kelompok
kontrol tidak ada perbedaan tindakan saat pre dan post test. Hal ini menunjukkan bahwa kampanye berhenti
merokok ini berhasil dalam merubah keinginan mahasiswa untuk berhenti merokok setelah menerima metari
kampanye berhenti merokok ini.
Tindakan ini dituang ke dalam hasil jawaban kuesioner dimana terdapat 86 mahasiswa yang
memiliki niat dan tindakan untuk langsung berhenti merokok. Namun ada juga yang cuek atau tidak
memperhatikan bahaya merokok itu sendiri sebesar 25,38% atau sebanyak 33 mahasiswa. Dan lainnya itu
diapresiasikan dengan berhenti secara perlahan-lahan.
Faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku merokok adalah teman sebaya yang bergaul erat.
Hal ini terjadi karena mahasiswa yang tidak merokok akan mendapat pressure atau tekanan dari teman
JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 157

I N D O N E S I A
sebayanya yang sudah menjadi perokok yunior. Mereka yang tidak merokok akan diberi ejekan hukuman
psikologis sebagai seorang yang tidak jantan dan atau kikir. Tekanan dalam bentuk ejekan sangat mujarap
untuk membuat teman sebaya segera mencoba merokok sampai akhirnya kecanduan. Artinya ketika remaja
bergabung dengan kelompok sebayanya maka seorang remaja akan dituntut untuk berperilaku sama
dengan kelompoknya, sesuai dengan norma yang dikembangkan oleh kelompok tersebut.
Lingkungan pergaulan merupakan tempat kedua setelah keluarga untuk mengenal dan belajar
banyak hal. Adanya keinginan untuk selalu diterima dalam lingkungan pergaulan kadang kala mendasari
perilaku remaja dewasa ini. Ikut-ikutan dan munculnya keinginan untuk mencoba-coba pun turut mewarnai
kehidupan mereka. Bahkan, banyak di antara mereka yang rela melakukan apa saja untuk diakui dan sebisa
mungkin menciptakan sensasi untuk diikuti. Keadaan lingkungan pergaulan sedikit banyak akan
mempengaruhi perilaku seseorang. Disamping itu, keterpaparan dengan media (iklan rokok) dalam jangka
waktu lama dapat memberikan konstribusi yang besar bagi siapa saja untuk meniru utamanya para remaja
yang masih labil. Remaja bergaul dengan orang-orang yang merokok akan mulai mengikuti gaya teman
sebayanya untuk merokok.
Notoatmodjo berpendapat bahwa perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang
lingkup yang luas, terbentuknya perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif
dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa mated atau obyek di luarnya sehingga
menimbulkan pengetahuan baru selanjutnya timbul respon batin dalam bentuk sikap terhadap obyek yang
sudah diketahui tersebut akhirnya timbul respon yang lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan terhadap obyek
tersebut. Slameto mengatakan bahwa persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya informasi atau
pesan ke dalam otak manusia yang bisa lewat indera penglihat, peraba, pendengar, perasa`
Modal utama sukses berhenti merokok adalah niat dan tekad yang kuat dari perokok itu sendiri.
Alasan untuk berhenti merokok adalah faktor kesehatan, organisasi keagamaan, dan keluarga. Faktor
kesehatan berkaitan dengan sakit yang diderita oleh informan, seperti hipertensi, demam tinggi, batuk-batuk,
dan dada terasa nyeri. Faktor organisasi keagamaan berkaitan dengan organisasi agama yang diikuti
informan yang melarang merokok. Faktor keluarga berkaitan dengan keluarga informan yang mengikuti
jejaknya sebagai perokok. Di samping itu, informan juga mempunyai balita yang seharusnya tidak boleh
terkena asap rokok. Metode yang dipilih untuk berhenti merokok adalah metode pengobatan, perubahan
perilaku, dan dorongan positif.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dkk. (2012) ditemukan hasil bahwa persepsi
mantan perokok tentang rokok adalah sesuatu yang membawa kenikmatan karena adanya kandungan
nikotin. Gangguan yang dialami akibat merokok adalah gangguan fisik, sosial, ekonomi dan psikologis. Cara
yang dilakukan dalam usaha berhenti merokok dengan berkomitmen. Sumber dukungan yang didapatkan
mantan perokok terdiri dari sumber dukungan dari luar yaitu teman dan sumber dukungan dari dalam yaitu
keluarga.
Penelitian lainnya yang menyangkut besarnya keinginan sampel untuk langsung berhenti merokok
adalah seperti yang dilakukan oleh Kumboyono tahun 2011 dimana dilakukan penelitian tentang Analisis
Faktor Penghambat Motivasi Berhenti Merokok Berdasarkan Health Belief Model Pada Mahasiswa Fakultas
Teknik Universitas Brawijaya Malang ditemukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara persepsi
terhadap ancaman penyakit akibat rokok dengan motivasi berhenti merokok.
Persepsi manfaat (perceived benefit) berhenti merokok berhubungan dengan motivasi berhenti
merokok. Persepsi terhadap manfaat merupakan prediktor kuat dalam health belief model yang
melatarbelakangi berbagai pilihan tindakan untuk berhenti merokok. Persepsi penghambat (perceived
barrier) berhenti merokok berhubungan dengan motivasi berhenti merokok. Dapat disimpulkan bahwa
persepsi terhadap penghambat berhenti rokok merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
motivasi berhenti merokok. Tingginya persepsi seseorang terhadap penghambat berhenti merokok dapat
menjadi salah satu faktor penghambat motivasi berhenti merokok.
Faktor yang berpengaruh pada perubahan perilaku khususnya pada remaja. Informasi berperan
dalam menunjang perubahan perilaku seseorang. Informasi yang diterima melalui media cetak, elektronik,
pendidikan, penyuluhan, buku-buku dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan seseorang sehingga ia
bisa memperbaiki atau merubah perilaku menuju ke arah yang lebih baik. Disamping itu berdasarkan kondisi
psikologik pada masa umur remaja merupakan masa dimana keinginan untuk mencoba sesuatu sangat besar
apalagi bila hal tersebut berhubungan dengan gaya hidup dan pergaulan remaja tersebut. Dari pergaulan
tersebut remaja memperoleh pengetahuan yang lebih bermakna karena diperoleh langsung oleh remaja dan
tidak melalui orang lain seperti dosen dan keluarga.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh kampanye berhenti merokok
terhadap pengetahuan dan sikap merokok mahasiswa, ada pengaruh kampanye berhenti merokok terhadap
tindakan merokok mahasiswa Stikes Pasapua Ambon tahun 2013. Disarankan agar pihak kampus untuk
lebih giat memberikan materi bahaya merokok kepada mahasiswanya dengan memberikan contoh model
atau video tentang bahaya merokok.

JURNAL MASYARAKAT EPIDEMIOLOGI

Volume 2, Nomor 2, Januari-Juni 2014 158

I N D O N E S I A
DAFTAR PUSTAKA
A.Santjaka. (2011). Statistik untuk Penelitian kesehatan. Cetakan 1. Nuha Medika , Yogyakarta.
Dahlan. (2010). Besar sampel dan Cara Pengambilan Sampel, edisi 3, Salemba Medika . Jakarta.
Depkes.(2013). Data Riskesdas tahun 2010, Jakarta
Ispawati.(2007). Efektivitas Medium Poster dan Meiode Ceramah terhadap Pencegahan Perifaku Mernkok
pada Kalangan Siswa SMUN 9 dan SMUN 5 di Kota Makassar, Tesis FKM unhas Makassar
Notoatmodjo.(2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineke Cipta.
Notoatmodjo.( 2010). Promosi Kesehatan. Teori dan Praktek.Rineka Cipta Jakarta
Puryanto, Eko Jemi Santoso, Sayono.(2012). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan
Sikap Siswa Tentang Bahaya Rokok
Priyadi,Edi.(2013). 10-negara-dengan-jumlah-perokok... bosskeren.com/.../ diundu tanggal 28/03/2013
Rahmadi, Afdol; Lestari, Yenita. (2012). Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap rokok dengan
Kebiasaan Merokok Siswa SPM di Kota PadangFakultas kedokteran Universitas Andalas
http://jurnal.fk.unand.ac.id.afdolrahmadi @gmail .com.diundu tanggal 28/03/2013
Solicha, Rizkia Amalia.(2012).. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pengunjung di Lingkungan RSUP Dr.
Kariadi tentang Kawasan Tanpa Rokok, Jurnal Undip
Salawati, Trixie dan Amalia,Rizki (2010) Perilaku Merokok Di Kalangan Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Semarang, Tesis Unismuh.
Uswatun Nur.(2010). Perilaku, pengetahuan, Sikap dan Tindakan www.jtptunimus-gdl-uswatunnur-5888-2-
babii.pdf diundu tanggal 28/03/2013
Vallone, Donna M. dkk. (2009). Evaluation of EX: A National Mass Media Smoking Cessation Campaign,
Jurnal Am J Public Health 2011;101:302309. doi:10.2105/AJPH.2009.190454)
Wulandari,Cicilia Ika dan Agus Santoso.(2012). Pengalaman Menghentikan Kebiasaan Merokok Pada
Mantan Perokok secara kualitatif, Jurnal Undip