Anda di halaman 1dari 17

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS LAMPUNG
Jalan Prof. Soemantri Brojonegoro No. 01 Gedong Meneng, Bandar Lampung

MAKALAH KELOMPOK 1 (SATU)
STUDI SOSIAL
BUDAYA HORMATI GURU DI ERA GLOBALISASI














Disusun Oleh: Kelompok 1 (satu)
1. Defika Putri Nastiti (1313031021)
2. Devita Anggraeni (1313031025)
3. Elsha Yohana (1313031031)
4. Julia Marlina (1313031049)
5. Nurhoiriyah (1313031063)
6. Yunitha Muthia N (1313031093)

PROGRAM STUDI PENDIDIDKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
ABSTRAK

Di zaman era globalisasi ini, semakin banyak siswa yang mulai menganggap remeh
profesi guru. Mereka mulai lupa dengan jasa-jasa guru sehingga dengan mudahnya mereka
untuk tidak menghargai gurunya. Banyak murid yang kini tidak menghormati guru layaknya
seperti orang tua mereka. Dan kini seperti trend dalam sekolah untuk tidak menghormati guru.
Disintergrasi moral yang terjadi pada murid ini sungguh memprihatinkan. Banyak murid yang
kini tidak mengindahkan perintah guru.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan berbagai sumber rujukan seperti
buku pembelajaran dan media elektronik. Selain itu, penulis juga menggunakan berbagai
pendekatan dengan beberapa disiplin ilmu seperti: Agama, Hukum, Ilmu Pengetahuan Sosial,
Psikologi dan ilmu Filsafat.
Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui definisi budaya hormat, faktor
penyebab terjadinya penurunan rasa hormat (respect) siswa terhadap guru, dampak
menurunya rasa hormat terhadap guru, cara mengembalikan rasa hormat (respect) siswa
terhadap guru dan cara menghormati guru.
Dalam makalah ini dijelaskan beberapa fakta yang berhubungan dengan siswa zaman
sekarang yaitu: kurang menghormati guru bahkan cenderung berani, ketika diberitahu /
dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah, kurang perhatian kepada
guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir, ketika diperintahkan guru untuk
mengerjakan tugas menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua / guru
kelasnya, tidak malu kalau belum mengerjakan tugas, kalau dihukum / diberitahu malah
menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang, menganggap guru sebagai
teman, bukan orang tua, bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya
dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan.
Berdasarkan fakta diatas maka terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat
mengembalikan rasa hormat siswa terhadap guru yaitu melalui peran keluarga dan sekolah. Di
keluarga orang tua dapat memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun di
depan anak, menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasaan dan menanamkan sikap
sopan santun sejak anak masih kecil. Pembudayaan sikap sopan santun di sekolah dapat
dilakukan melalui program yang dibuat oleh sekolah untuk mendesain skenario pembiasaan
sikap sopan santun. Demi lestarinya budaya sopan santun siswa yang merupakan budaya
warisan leluhur maka upaya ini harus dilakukan oleh siswa, guru dan orang tua sebagai
pranata pertama yang membentuk karakter siswa.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena penulis telah
menyelesaikan tugas mata kuliah Studi Sosial dalam pembuatan makalah pembelajaran
dengan penuh kemudahan dan diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, kerabat dan teman-teman, sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Ibu Dosen bidang studi Studi Sosial yang telah memberikan tugas dan petunjuk
sehingga penulis termotivasi menyelesaikan tugas ini.
2. Orang tua, teman dan kerabat yang telah turut membantu, membimbing, dan
mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amin.



Penyusun












iii
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .............................................................................................................. i
ABSTRAK .............................................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Makalah .... ......................................................................1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan Makalah ...................................................................... 2
D. Metodelogi Penulisan Makalah ................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN 3
1.Definisi Budaya Hormat ............................................................................. 3
2.Faktor penyebab terjadinya penurunan rasa hormat (respect) siswa
terhadap guru? ............................................................................................ 4
3.Dampak menurunya rasa hormat terhadap guru? ................................. 7
4.Cara mengembalikan rasa hormat (respect) siswa terhadap guru? ...... 8
5.Cara Menghormati Guru ........................................................................... 9

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 11

DAFTAR PUSTAKA ...................... .....................................................................................13










iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di zaman era globalisasi ini, semakin banyak siswa yang mulai menganggap remeh
profesi guru. Mereka mulai lupa dengan jasa-jasa guru sehingga dengan mudahnya mereka
untuk tidak menghargai gurunya. Banyak murid yang kini tidak menghormati guru layaknya
seperti orang tua mereka. Dan kini seperti trend dalam sekolah untuk tidak menghormati guru.
Disintergrasi moral yang terjadi pada murid ini sungguh memprihatinkan. Banyak murid yang
kini tidak mengindahkan perintah guru. Memalingkan muka ketika melihat guru mereka
sedang jalan, melawan guru, mengejek guru sampai-sampai ada yang memfitnah guru dan
merusak nama baik guru.
Masih banyak murid yang kurang mengetahui bahwa tindakan-tindakan tersebut
melanggar peraturan baik peraturan dalam sekolah, norma kesopanan bahkan melanggar tindak
pidana. Bahkan dalam setiap agama apapun pasti mengajarkan kita untuk menghormati guru
kita. Berarti apabila murid tidak menghormati guru itu sama dengan mereka telah melanggar
norma agama. Kini mereka seperti lupa dengan pengabdian jasa guru. itu di tandai dengan
semakin banyak murid-murid yang mulai tidak hormat kepada guru.
Banyak fakta menunjukan hal tersebut, seperti yang terjadi pada 5 Desember 2013,
seorang siswa SMK Muhammadiyah 1 Solo menyerang guru pengawas ulangan dengan pisau
cutter hingga sang guru terluka. Hanya karena sang guru dianggap lambat membagikan soal
ulangan, siswa tersebut merasa kesal kemudian mendorong badan guru sembari mengeluarkan
kata-kata kasar dan menantang sang guru untuk berkelahi, (Merdeka.com, 30 Maret 2014).
Lain halnya dengan seorang siswa SMP di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara,
mengancam akan berbuat kasar setelah dimarahi oleh guru kelasnya. Siswa tersebut
mengancam akan menginjak leher sang guru lantaran sang guru memarahinya karena sering
berbuat onar di kelas (Okezone.com, 30 Maret 2014).
Dari ketiga fakta di atas dapat kita simpulkan bahwa pelajar saat ini memiliki budaya
hormat dan sopan santun yang kini terkesan kurang etika dan tidak bermoral. Hal tersebut
terjadi secara perlahan dan terus menerus, sesuai dengan pola perkembangan dan perubahan
zaman. Tidak dipungkiri globalisasi yang mengedepankan kebesaran materi memberikan
andil bagi pola relasi antara guru dan murid. Demikian juga pada pola hubungan yang lain,
antara anak dengan orang tua, kakak dan adik, dan hubungan dengan orang-orang
disekitarnya. Oleh sebab itu, sebagai calon guru kita memiliki kewajiban untuk mendidik para
pelajar menjadi generasi yang berkharakter.
1
A. RUMUSAN MASALAH
Adapun pembahasan yang akan dibahas dalam makalah Budaya Hormati Guru di Era
Globalisasi ini diantaranya sebagai berikut:
1) Apakah definisi budaya hormat?
2) Apa saja faktor penyebab terjadinya penurunan rasa hormat (respect) siswa
terhadap guru?
3) Bagaimana dampak menurunya rasa hormat terhadap guru?
4) Bagaimana cara mengembalikan rasa hormat (respect) siswa terhadap guru?
5) Bagaimana cara menghormati guru?

C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Sosial. Selain
itu, tujuan penulisan makalah ini juga sebagai bahan belajar bagi kami calon pendidik untuk
ngajarkan hal-hal yang dapat membangun generasi penerus bangsa yang berkharakter. Selain
itu, tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Memahami definisi budaya hormat?
2. Memahami dan mengetahui faktor penyebab terjadinya penurunan rasa hormat
(respect) siswa terhadap guru?
3. Memahami dampak menurunya rasa hormat terhadap guru?
4. Memahami cara mengembalikan rasa hormat (respect) siswa terhadap guru?
5. Mengetahui cara menghormati guru?

B. METODELOGI PENULISAN MAKALAH
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan berbagai sumber rujukan seperti
buku pembelajaran dan media elektronik. Selain itu, penulis juga menggunakan berbagai
pendekatan dengan beberapa disiplin ilmu seperti: Agama, Hukum, Ilmu Pengetahuan Sosial,
Psikologi dan ilmu Filsafat. Makalah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama adalah
pendahuluan yang meliputi; latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, dan
metodelogi penulisan makalah. Bagian kedua yaitu pembahasan Budaya Hormati Guru di Era
Globalisasi. Dan pada bagian terakhir akan dibahas tentang kesimpulan dan saran serta daftar
pustaka.



2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Budaya Hormat?
Sikap hormat merupakan nilai dan norma dalam masyarakat. Karena nilai adalah suatu
perangkat keyakinan/ perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak
khusus pada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun perilaku. Sedangkan norma adalah
pelaksanaan dari nilai ( Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Noor Salimi, 201:2008). Oleh sebab
itu, budaya hormat merupakan bagian dar nilai dan norma. Budaya hormat adalah suatu
prilaku menghormati orang lain sesuai dengan adat yang ada dalam suatu masyarakat.
Berikut ini pengertian budaya hormat menurut beberapa tokoh:
a) Kamus Umum Bahasa Indonesia milik W.J.S. Poerwadarminta
Sopan adalah hormat dan takzim (akan,kepada) atau tertib menurut adat yang baik.
Santun adalah halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya atau sabar dan tenang.
b) Ki Hajar Dewantara (Adam, 2011)
Kebudayaan diartikan sebagai buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia
terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup
manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan
penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat
tertib dan damai.
c) Menurut Koentjoroningrat (Adam, 2013)
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.
Sedang di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi
(Poerwadarminta, W.J.S.,2011:180).
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya hormat atau sopan
santun adalah cara hidup yang diciptakan secara turun temurun oleh sekelompok orang dalam
memperlakukan orang lain secara halus dan baik, baik itu budi bahasa maupun tingkah laku
dengan menggunakan akal budi dan nurani.
Hormat dalam ilmu hukum
Dalam ilmu hukum tidak dibahas mengenai definisi hormat. Namun menurut para
pakar bahwa kehormatan dan nama baik, menjadi hak seseorang atau hak asasi setiap manusia
(Leden : 9). Apabila murid-murid telah melakukan pelanggaran seperti menghina guru dan
3
memfitnah guru maka pelanggaran tersebut dapat di bawa kekepolisian dengan kasus tindak
pidana melanggar kehormatan guru tersebut.
Dalam pasal 310 ayat 1 KUHP membuat rumusan menista yang isinya sebagai
berikut:Barang siapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik orang dengan
jalan menuduh dia melakukan sesuatu perbuatan tertentu dengan maksud yang nyata untuk
menyiarkan tuduhan itu supaya diketahui umum, dihukum karena salahnya menista dengan
hukuman penjara selama-lamanya Sembilan bulan.
Berdasarkan rumusan pasal 310 ayat 1 KUHP, maka unsur-unsurnya adalah sebagai
berikut: Dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik orang lain menuduh
melakukan suatu perbuatan tertentu, dengan maksud atas upaya diketahui oleh umum.
Jadi apabila seorang murid melakukan hal-hal tersebut maka dia dapat dikenakan pasal
310 ayat 1.

2. Faktor Penyebab Terjadinya Penurunan Rasa Hormat (Respect) Siswa terhadap
Guru
Menurunnya budaya hormat siswa di era globalisasi dipengaruhi oleh banyak faktor,
baik faktor dari siswa dan guru yang merupakan faktor internal, ada pula faktor eksternal.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau yang lebih akrab kita sebut TIK
atau ICT, bisa menjadi latar belakang dalam masalah ini. Tapi bukan hanya TIK atau ICT
yang menjadi faktor eksternal, pengaruh moderenisasi kultur, pergaulan bebas dan
penyalahgunaan obat-obat terlarang juga mengambil peranan dalam proses hilangnya sopan
santun siswa terhadap guru. Adapun faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu :
1. Pengaruh perkembangan TIK
Kebebasan meng-akses informasi yang didukung oleh akses dari internet yang mudah
melalui laptop, TAB dan handphone / smartphone sehingga mempengaruhi pikiran siswa.
2. Moderenisasi kultur
Kemudahan akses internet membuat siswa bisa melihat budaya dari negara lain. Yang
secara tidak langsung mereka mengaplikasikan dikehidupan sehari-hari tanpa adanya
filterisasi terhadap budaya yang diambil. Perubahan kebudayaan berpengaruh terhadap peru-
bahan nilai dan norma sosial. Selanjutnya, pergeseran nilai sosial berpengaruh terhadap
norma-norma sosial. Norma sosial yang paling terpengaruh adalah kebiasaan (folkways) dan
tata kelakuan/mores (Suhardi dan Sri Sunarti, 2009:57). Oleh karena itu, jika modernisasi
kultur diaplikasikan tanpa ada filterisasi akan menyebabkan siswa tidak menghormati guru.


4
3. Pergaulan bebas
Merupakan efek dari moderenisasi kultur yang tidak sesuai dengan adat istiadat
Indonesia. Hal ini akan menimbulkan sifat meniru budaya barat yang cendrung bebas tanpa
ada ikatan adat istiadat yang telah lama berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
4. Penyalahgunaan obat -obat terlarang
Sifat labil dalam diri siswa akan membuat siswa mencari-cari jati dirinya. Jika hal ini
tidak tersalur secara positif, siswa akan terjerumus dalam kenikmatan semu obat-obat
terlarang yang akan berpengaruh pada tingkah laku siswa tersebut.
5. Kurangnya pembiasaan sopan santun di rumah.
Sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah atau dilingkungan keluarga sehingga
sikap orang tua yang tidak mencerminkan norma-norma kesopanan akan mudah ditiru anak.
Karena suatu kebiasaan yang telah mempola, dibentuk oleh lingkungan hidup, oleh kebutuhan
ataupun oleh kehendak meniru, kepatuhan mengikut, biasanya sukar diubah karena kebiasaan
ini pun sudah menghilangkan pengaruh dari kewibawaan diri sendirim ( Drs. H. Burhanuddin
Salam, M.M, 2000:17).
6. Lingkungan yang tidak mendukung
Dalam teori Empirisme dinyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan
ditentukan oleh pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu
itu (Drs. H. Abu Ahmadi, 1998:196). Oleh karena itu, jika seorang individu tinggal dalam
lingkungan yang kurang baik akan mempengaruhi kepribadiannya termasuk dalam hal
menghormati guru.
Selain kelima faktor eksternal diatas, masih ada satu faktor lagi yang tidak bisa kita
abaikan sebagai penyebab lunturnya budaya sopan santun siswa yaitu faktor dari guru.
Berikut ulasan faktor eksternal ditinjau dari guru :
1. Penampilan guru
Hal ini sangat penting karena siswa akan menilai rapi atau kucel cara berpakaian guru,
harum atau bau aroma tubuh guru tersebut, panjang atau pendek rambut guru (khusus guru
laki laki).
2. Telat atau jarang masuk
Dengan beban 24 jam pelajaran dan banyaknya adminitrasi yang harus dibuat oleh
seorang guru ditambah lagi ada side job untuk menambah penghasilan. Akan berdampak pada
performa guru tersebut sehingga sering telat dan tidak masuk.
3. Pilih kasih
Sifat ini yang sering tidak disadari oleh guru dan sering membanding-bandingkan
siswa yang satu dengan siswa yang lain. Hendaknya seorang guru tidak boleh pilih kasih
5
karena seharusnya seorang guru merasa diri sebagai orang tua yang memandang murid-
muridnya seolah-olah sebagai anaknya sendiri (Drs. Burhanuddin Salam M.M, 2000:201).
4. PR dan tugas sering tidak dikoreksi
Dengan mengoreksi dan memberikan nilai merupakan reward bagi siswa dimana guru
telah menghargai hasil kerja keras siswa tersebut.
5. Berkata kasar
Perkataan yang kasar akan membat pandangan negatif siswa terhadap guru.
6. Suka perintah
Suka memerintah siswa diwaktu dan tempat yang tidak sepantasnya.
7. Menghukum semena-mena
Guru hanyalah manusia biasa dimana ada masalah diluar sekolah yang sering terbawa
disekolah. Perlunya sikap profesional guru untuk membedakan masalah sekolah dengan
masalah luar sekolah. Sehingga siswa tidak menjadi pelampiasan untuk masalah-masalah guru
tersebut.

Bila kita lihat secara seksama dari faktor eksternal diatas, terdapat efek domino yang
sangat besar. Dimana antara faktor yang satu dengan faktor yang lain saling berhubungan.
Dan bila tidak diberikan perhatian yang cukup besar maka akan menimbulkan efek yang
besar. Bila dilihat kasat mata hanya dianggap sebagai kenalakan remaja. Tetapi dibalik itu
terdapat masalah yang sangat besar yang akan merusak masa depan siswa dikemudian hari
(Rohana, 2011 : 252).
D.Zawawi Imron (dalam Fathurrohman dan Sutikno, 2007: 49) menyatakan bahwa
Guru yang baik ialah yang menganggap semua muridnya sebagai anak-anaknya sendiri, yang
setiap hari akan mendapat curahan kasih sayangnya. Guru yang baik ialah yang memberikan
masa depan cemerlang dengan membekali anak didiknya dengan visi yang tajam dan ilmu
yang menjanjikan. Jadi, mengajar yang baik bukan sekedar persoalan teknik-teknik dan
metodologi belajar saja tetapi disertai dengan rasa kasih sayang.

Selain faktor eksternal, ada faktor internal yang menyebabkan hilangnya sopan santun
siswa terhadap guru. Berikut adalah faktor internal penyebab lunturnya budaya sopan santun
siswa :
1. Posisi sosial lebih tinggi dari guru
Hal ini sering terjadi bila sang siswa berasal dari keluarga yang terpandang atau orang
tuanya merupakan pejabat. Jadi dengan posisi orang tuanya tersebut siswa seakan tidak takut
pada apapun termasuk pada guru karena orangtunya pasti akan mendukung anaknya.
6
2. Posisi ekonomi lebih baik dari guru
Hal ini banyak terjadi disekolah favorit dan internasional. Siswa tersebut akan
memandang rendah gurunya, karena posisi ekonominya lebih baik dari gurunya. Dimana
siswa kesekolah dengan kendaraan mobil, sedangkan sang guru hanya naik sepeda motor.
3. Siswa lebih paham dengan materi yang diajarkan
Pada masa sekarang pendalaman materi bukan hanya didapat dari sekolah. Bagi siswa
yang serius belajar, mereka akan mencari cara untuk menperdalam materi dengan cara kursus
baik melalui lembaga atau privat. Hal ini memungkinkan siswa bisa saja lebih paham dari
siswa lainya. Apa lagi bila siswa itu lebih paham dari gurunya maka akan memberikan
pandangan rendah terhadap guru tersebut ( Rohana dalam Farista, 2013).

3. Dampak Menurunya Rasa Hormat terhadap Guru
Faktor internal dan eksternal menurunya rasa hormat terhadap guru apa bila tidak
ditanggulangi dan diatasi secara serius akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sikap
profesional guru dengan kode etiknya diharapkan bisa meredam sifat labil, energi yang besar
dan gelora yang tinggi dari siswa.
Adapun dampak yang akan terjadi apa bila guru dan siswa tidak lebih jeli dan selektif
untuk menyikapi faktor faktor tersebut yaitu :

1. Siswa tidak hormat dan tidak segan pada guru
2. Siswa tidak mau dinasehati.
3. Tidak mendengarkan perkataan guru
4. Menganggap guru sebagai teman
5. Berani berkata kasar bahkan sampai melakukan tindak kekerasan kepada guru.
Bila ditinjau lebih jauh, terdapat banyak perbedaan antara siswa dulu (tahun 90-an)
dengan siswa sekarang. Perbedaan ini merupakan dampak akibat menurunnya rasa hormat di
era globalisasi ini. Dikutip dari tulisan Mudzakkir Hafidh (ideguru.wordpress.com : 2010)
yang memberikan opini perbedaan antara siswa dulu dengan siswa sekarang yaitu :
SISWA DULU
1. Lebih patuh dan hormat kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa
menjaga kesopanannya.
2. Ketika diberitahu / dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
7
3. Lebih perhatian kepada guru, jika ada guru yang sakit, langsung inisiatif ke rumah
guru tersebut, walau jaraknya jauh, terkadang sampai mengumpulkan uang untuk
membeli oleh oleh.
4. Ketika diperintah guru langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah
sebelum mengerjakan tugas tersebut
5. Siswa dulu menganggap guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya,
meskipun guru itu kadang keras.
6. Mengganggap hukuman adalah pelajaran dan konsekwensi dari sebuah kesalahan.

SISWA SEKARANG
1. Kurang menghormati guru bahkan cenderung berani
2. Ketika diberitahu / dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah
3. Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.
4. Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia
meminta tolong kepada orang tua / guru kelasnya
5. Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas
6. Kalau dihukum / diberitahu malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum
malah senang.
7. Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua, bahkan tak jarang ada yang
panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil
dengan gurauan

4. Cara Mengembalikan Rasa Hormat (respect) Siswa terhadap Guru
Pembudayaan merupakan suatu proses pembiasaan. Pembudayaan sopan santun dapat
dimaksudkan sebagai upaya pembiasaan sikap sopan santun agar menjadi bagian dari pola
hidup seseorang yang dapat dicerminkan melalui sikap dan perilaku keseharian. Menurut
Ujiningsih dan Antoro (2010: 4-6), pembudayaan sopan santun dapat dilakukan di rumah dan
di sekolah.
Pembudayaan sopan santun di rumah dapat dilakukan melalui peran orang tua dalam
mendidik anaknya. Orang tua dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Orang tua memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun di depan anak.
Contoh merupakan alat pendidikan yang sekaligus dapat memberikan pengetahuan pada anak
tentang makna dan implementasi dari sikap sopan santun itu sendiri.
8
b) Menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasaan. Anak dibiasakan bersikap
sopan dalam kehidupan sehari hari baik dalam bergaul dalam satu keluarga maupun dengan
lingkungan.
c) Menanamkan sikap sopan santun sejak anak masih kecil, anak yang sejak kecil
dibiasakan bersikap sopan akan berkembang menjadi anak yang berperilaku sopan santun
dalam bergaul dengan siapa saja dan selalu dapat menempatkan dirinya dalam suasana
apapun. Sehingga sikap ini dapat diajadikan bekal awal dalam membina karakter anak.
Pembudayaan sikap sopan santun di sekolah dapat dilakukan melalui program yang
dibuat oleh sekolah untuk mendesain skenario pembiasaan sikap sopan santun. Sekolah dapat
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Peran sekolah dalam membiasakan sikap sopan santun dapat dilakukan dengan
memberikan contoh sikap sopan dan santun yang ditunjukkan oleh guru. Siswa sebagai
pembelajar dapat menggunakan guru sebagai model. Dengan contoh atau model dari guru ini
siswa dengan mudah dapat meniru sehingga guru dapat dengan mudah menanamkan sikap
sopan santun.
b) Guru dapat selalu mengitegrasikan perilaku sopan santun ini dalam setiap mata
pelajaran, sehingga tanggungjawab perkembangan anak didik tidak hanya menjadi beban guru
agama dan guru BP saja.
c) Guru agama dan guru BP dapat melakukan pembiasaan yang dikaitkan dalam penilain
secara afektif. Penilaian pencapain kompetensi dalam 2 matapelajaran ini hendaknya
difokuskan pada pencapain kompetensi afektif. Kompetensi kognitif hanya sebagai
pendukung mengusaan secara afektif.

5. Cara Menghormati Guru
Sabda Rasulullah SAW yang artinya: Muliakanlah orang yang kamu belajar
darinya. Penyair Mesir Ahmad Syauki Bey mengatakan : Berdiri dan hormatilah guru, dan
berilah ia penghargaan, (karena) seorang guru itu hampir saja merupakan Tuhan. (HR.
Abul Hasan Al-Mawardi).
Guru merupakan orang tua di sekolah. Guru mengajari banyak hal sehingga murid-
muridnya mampu membaca, menulis, menghitung karena diajarkan oleh guru. Karena itu,
sudah seharusnya sebagai seorang pelajar harus berperilaku hormat dan santun kepada guru.
Cara berperilaku hormat dan santun kepada guru yaitu dengan :


9
Hormat kepada Guru (Drs. Burhanuddin Salam M.M, 2000:202)
Sebagai pelajar yang baik, kita harus selalu menghormati bapak dan ibu guru. Hormat
kepada guru dilakukan di manapun, baik di sekolah maupun di jalan. Menghormati guru bisa
dilakukan dengan cara berikut :
1. Apabila berjumpa dengan guru, ucapkan salam dan ciumlah tangannya dengan
membungkukkan sedikit badan.
2. Apabila guru sedang mengajar, duduklah dengan tenang, dan dengarkan apa yang
diajarkan agar mudah memahaminya.

Mematuhi Perintah Guru
Guru orang yang berjasa dalam hidup kita. Mereka mengajarkan kita ilmu yang
bermanfaat. Di sekolah, kita harus selalu menghormati semua perintah guru. Mematuhi
perintah guru dapat dilakukan dengan cara :
1. Apabila kta diperintah oleh guru, misalnya mengambil kapur, mengantarkan buku,
menghapus papan tulis dan sebagainya, kita harus melaksanakannya.
2. Selalu menaati peraturan sekolah. Misalnya apabila tidak masuk karena sakit, harus
membuat surat izin, memakai seragam sesuai waktunya, dan sampai di kelas tepat
pada waktunya.
3. Apabila mendapat tugas atau pekerjaan rumah (PR) selalu dikerjakan dan
dikumpulkan tepat pada waktunya.
4. Apabila mendapat tugas piket, berangkat lebih awal agar tidak mengganggu waktu
belajar.
Meneladani Sikap Baik Guru
Bapak dan ibu guru dapat dijadikan panutan dalam kehidupan kita. Mereka orang yang
membimbing kita. Oleh karena itu, kita dapat meneladani sikap baik bapak dan ibu guru.
Meneladani sikap baik guru dapat dilakukan dengan cara :
1. Meniru kebiasaan baiknya. Misalnya, bu guru sering mengisi waktu istirahat dengan
membaca buku.
2. Meniru tutur kata-kata baiknya.
3. Melaksanakan semua nasihatnya.




10
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya penulis dapat mengemukakan
kesimpulan sebagai berikut:
1. Budaya hormat atau sopan santun adalah cara hidup yang diciptakan secara turun
temurun oleh sekelompok orang dalam memperlakukan orang lain secara halus dan
baik, baik itu budi bahasa maupun tingkah laku dengan menggunakan akal budi dan
nurani.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi menurunnya rasa hormat siswa terdiri dari faktor
eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu pengaruh perkembangan TIK,
moderenisasi kultur, pergaulan bebas, penyalahgunaan obat -obat terlarang, kurangnya
pembiasaan sopan santun di rumah). Faktor internal yaitu posisi sosial lebih tinggi dari
guru, posisi ekonomi lebih baik dari guru, siswa lebih paham dengan materi yang
diajarkan.
3. Adapun dampak yang akan terjadi apa bila faktor faktor menurunnya rasa hormat
tidak diatasi maka siswa tidak hormat dan tidak segan pada guru, siswa tidak mau
dinasehati, tidak mendengarkan perkataan guru, menganggap guru sebagai teman,
berani berkata kasar bahkan sampai melakukan tindak kekerasan kepada guru.
4. Pembudayaan sopan santun dapat dilakukan melalui peran keluarga dan sekolah. Di
keluarga orang tua dapat memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun
di depan anak, menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasaan dan menanamkan
sikap sopan santun sejak anak masih kecil. Pembudayaan sikap sopan santun di
sekolah dapat dilakukan melalui program yang dibuat oleh sekolah untuk mendesain
skenario pembiasaan sikap sopan santun.
5. Cara menghormati guru dapat dilakukan melalui hal-hal berikut ini: hormat kepada
guru, mematuhi perintah guru dan meneladani sikap baik guru.







11
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis menyampaikan beberapa saran demi
lestarinya budaya sopan santun siswa yang merupakan budaya warisan leluhur, hal yang perlu
dilakukan selaku siswa, guru dan orang tua adalah :
1. Siswa, diharapkan siswa dapat membudayakan sopan santun baik dilingkungan rumah
maupun sekolah.
2. Guru, sebagai tenaga pendidik, guru adalah model bagi siswa. Seorang guru
hendaknya selalu menunjukkan sikap sopan dan santun agar dapat menjadi contoh
bagi anak didiknya serta sesalu mengintegrasikan sopan santun disetiap proses
pembelajaran sehingga dapat menjadikan siswa manusia yang intelek dan berakhlak
mulia.
3. Orang tua, sebagai orang tua yang baik hendaknya selalu menunjukkan dan
mengajarkan sikap sopan santu pada anak sedini mungkin mengingat karakter dan
watak anak akan terbentuk sejalan dengan kebiasaan yang sering dilakukan sejak
kecil.




















12
DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Ahmadi, Abu. 1998. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Drs. H. Ahmadi, Abu dan Drs. Salimi, Noor. 2008. MKDU Dasar-dasar Pendidikan Agama
Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Drs. H. Salam, Burhanuddin, M.M. 2000. Etika Individual (Pola Dasar Filsafat Moral.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar: Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Islami. Bandung: Refika Aditama.
Poerwadarminta, W.J.S. 2011. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Suhardi dan Sunarti, Sri. 2009. Sosiologi 1untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Graha Multi
Grafika.
Ujiningsih dan Antoro, S.D. 2010. Pembudayaan Sikap Sopan Santun di Rumah dan di
Sekolah Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Karakter Siswa. Makalah disampaikan dalam
Temu Ilmiah Nasional Guru tahun 2010.
Farista, Irsadi. 2013. Problematika Menurunnya Rasa Hormat (Respect) Siswa Kepada Guru
Ditinjau dari Landasan Sosial Budaya.
http://irsadifarista.wordpress.com/2013/01/04/problematika-menurunnya-rasa-hormat-respect-
siswa-kepada-guru-ditinjau-dari-landasan-sosial-budaya/ . Diakses tanggal 1 April 2014.
Sunaryo, Arie. 2013. Kesal Disuruh Sabar, Murid Tantang dan Aniaya Guru dengan Pisau
Cutter. http://www.merdeka.com/peristiwa/kesal-disuruh-sabar-murid-tantang-aniaya-guru-
dengan-cutter.html . Diakses tanggal 1 April 2014.
Tamenk, Febriyono. 2013. Dimarahi, Siswa ini Ancam Injak Leher Gurunya.
http://news.okezone.com/read/2013/11/14/340/897096/redirect. Diakses tanggal 1 April 2014


13