Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Inseminasi Buatan dan Bayi tabung

Inseminasi buatan (artifisial insemination) diistilahkan sebagai pembuahan buatan, yaitu


proses pemasukan sel sperma ke dalam saluran kelamin wanita tanpa melalui hubungan
seksual.
Tujuan : kehamilan
Teknologi reproduksi : ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) sperma dimasukkan
langsung ke dalam ovum
MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) teknik pengambilan sperma
Bayi tabung adalah usaha penyatuan sperma dan ovum diluar tubuh (fertilisasi in vitro -
FIV) yaitu dicawan biakan yang suasananya alamiah, setelah zigot (morula) terbentuk,
akan ditransfer ke endometrium rongga uterus.
Inseminasi buatan pada hewan
Dikenal sebagai kawin suntik
Tujuan : menghasilkan hewan sehat, unggul, dan lebih produktif
Hukumnya : mubah
Masalah : terkait jual beli sperma hewan
Nabi melarang memperjualbelikan sperma hewan karena tidak diketahui kadar,
kualitas dan jumlahnya.
Dulu jumhur ulama mengharamkan inseminasi buatan : terkait memperjualbelikan
sperma pejantan oleh karena illat yang dijadikan acuan berupa tidak dapat diketahui
kuantitas, kualitas dan tidak bisa diserahterimakan. Pada dasarnya, hadist-hadist nabi dan
logika sejalan dengan perkembangan teknologi saat itu, pada saat sekarang teknologi
sudah maju dan berkembang sehingga sudah dapat diketahui kuantitas dan kualitasnya
serta dapat diserahterimakan. Oleh karena itu illat tersebut gugur.
Imam syafii dan Imam Malik : pemilik hewan pejantan boleh mengambil upah, alasannya
mengqiyaskannya dengan penyerbukan yang banyak dilakukan di masa nabi.
Imam Hanafi dan Zhahir : membolehkan jual beli barang najis yang ada bermanfaat
besar seperti jual beli kotoran binatang sebagai pupuk atau jual beli darah untuk
menyelamatkan mereka yang membutuhkan darah.
Implikasi penerapan teknologi reproduksi
Muncul apabila ada keterlibatan donor : anak yang lahir bernasab hanya pada ibunya,
tidak ada nasab pada ayah biologisnya sehingga tidak ada kewajiban apapun, tidak ada
hubungan kemahraman, hubungan waris-mewarisi serta hak dan kewajiban ayah dan
anak
Kerancuan dan pencampuran nasab
Hilangnya hak-kewajiban orang tua dan anak
Ketidak jelasan posisi dan silsilah anak
Tidak adanya hubungan kemahraman
Hilangnya hak waris-mewarisi
Hilangnya hak perwalian dalam pernikahan (bila akan menikah kelak)
Perebutan bayi antara pihak yang menitipkan embrio dengan ibu titipan
Inseminasi buatan dan bayi tabung pada manusia
Jenis jenis Bayi Tabung (Fertilisasi In Vitro)
Jenis BT Sperma Ovum Rahim
1
Suami-istri sah
Istri
2 Surrogate Mother / istrinya yg lain
3
Salah satu benih dari donor
Istri
4 Surrogate Mother
5
Semua benih dari donor
Istri
6 Surrogate Mother

Hukum melakukan Inseminasi buatan dan Bayi tabung
Hukum boleh atau tidaknya terkait maslahah dan mufsadah terutama bagi suami istri.
Syarat sahnya melakukan IB dan BT adalah suami istri yang sah dan masih terikat dalam
pernikahan dan ketika embrio diimplantasikan ke rahim istri, juga masih dalam ikatan
pernikahan sah.

Alasan bolehnya inseminasi dan bayi tabung
1. Diqiyaskan dg proses reproduksi alamiah yang tujuannya mendapatkan keturunan
melalui jalan yang dibenarkan syarak, yaitu melalui pernikahan yang sah.
2. Sesuai dengan maqashid al-Syariah yaitu adanya keturunan dan menjaganya
3. IB dan BT dalam konteks menjaga keturunan dalam maqashid al-syariah, termasuk
berobat dalam upaya merealisasikannya, disamping itu pengobatan kemandulan
termasuk dalam perintah berobat dan penyembuhan medis yang dibenarkan.
4. Sebagai salah satu bentuk Rukhshah atau kemudahan. Allah tidak pernah
mempersulit umatnya dan menjadikan kemudahan bagi manusia. QS Al-baqarah :
185 dan QS Al-Hajj :78
5. Hajat = sangat membutuhkan keturunan. Karena segala cara apapun sudah tidak
membawakan hasil maka kaidah Darurat berlaku kaidah ini tidak berlaku bila
ingin memiliki anak kedua karena sama dengan melampaui batas.

Syarat bolehnya inseminasi buatan
1. Sel sperma dan ovum yang digunakan berasal dari pasangan suami istri yang
terikat dalam pernikahan yang sah. Syarat ini juga berlaku ketika embrio di
implantasikan ke dalam rahim istri.
2. Darurat , karena tidak dapat memperoleh anak secara alamiah dan diniatkan luhur
agar lahir anak yang saleh yang akan menegakkan agama islam. Atau karena
ingin mencegah atau menanggulangi penyakit keturunan secara dini.
Apabila syarat tersebut terpenuhi, maka anak (BT) tersebut merupakan anak sah dari
pasangan suami istri dan diantara mereka tercipta hubungan nasab, hubungan waris-
mewarisi, dan hak perwalian dari orang tuanya dalam pernikahannya kelak.

Keterlibatan donor
Keterlibatan donor dalam IB dan BT hukumnya Haram. Karena secara substantif sama
dengan zina, dan anak tersebut tidak bernasab pada ayah biologisnya (pendonor
sperma). Walaupun secara teknis pemilik ovum dan pemilik sperma tidak berhubungan
seksual.
Keharamannya terkait : menodai nilai kemuliaan manusia.
QS. At-Tiin : 4 dan Al-Israa : 70
Manusia makhluk yang lebih mulia dari makhluk yang lain, inseminasi buatan dengan
donor akan menghilangkan kemuliaan itu karena terjadi pencampuran bibit manusia,
sehingga terjadi pengaburan nasab dan asal-usul keturunan. Akibatnya manusia sama
seperti binatang. QS. Al Araf : 179
dalam islam dianjurkan bercocok tanam hanya boleh di ladangnya seperti ditegaskan
dalam QS Al-baqarah : 223
juga hadist nabi yang melarang menyiramkan airnya ke ladang (rahim) orang lain.
Ayat tersebut menyatakan bahwa suami hanya dibenarkan menanam benihnya (sperma)
didalam rahim istrinya, sedangkan istri tidak dibenarkan menerima benih dari org yg
bukan suaminya. Nash diatas juga termasuk larangan penyiraman sperma donor ke
vagina seorang wanita dalam praktik inseminasi buatan. Perbuatan ini sama seperti zina
dan merupakan dosa yang paling besar setelah perbuatan syirik (menyekutukan Allah).
QS Al-Israa :32
QS. An-Nuur :2

Dokter ahli yang melakukan inseminasi buatan
Membuka aurat dalam prosedur iB dan BT merupakan alasan diharamkannya IB dan BT.
Terkait dengan batasan darurat yaitu darurat membolehkan yang dilarang dan darurat
itu ditentukan sesuai dengan kadar kedaruratannya maka pihak Dokter yang
melaksanakan IB dan BT didasarkan pada skala prioritas :
Dokter muslimah
Dokter wanita non-muslim yang dapat dipercaya (Tsiqah)
Dokter muslim yg dapat dipercaya
Dokter non-muslim yang dapat dipercaya, tidak boleh khalwat (berduaan saja dlm satu
ruangan) dan harus disertai mahramnya.

Pendapat yang menolak inseminasi buatan dilakukan
Syeikh Ahmad al-Hajji : 1) tujuan utama menikah adalah terciptanya ketenangan batin
(sakinah) dan kasih sayang antara mereka, sedangkan keturunan merupakan tujuan
selanjutnya. Kaidah islam asal segala sesuatu yang berkaitan dengan kemaluan adalah
haram, kecuali ada dalil yang menghalalkannya.
2) merendahkan martabat kemuliaan insani
Al-imam Abd. Hamid Mahmud, Syeikh Tajaj At-Tamimi dan Syeikh Muhammad Ibrahim
Syaqarah : 1) tidak ada jaminan kepastian keberhasilan IB dan BT
2) Sadudz Dzariah yaitu menghindarkan diri dari sesuatu yang haram , sebab prosesnya
harus melihat dan menyingkap aurat dan pelaksanaannya dapat mengundang fitnah.
3) perintah menanami ladang miliknya QS Al-Baqarah : 223
4) kemungkinan benih tertukar dalam laboratorium sehingga anak yang lahir dianggap
sama dengan anak zina dan menyebabkan kerancuan nasab

Hukum Penggunaan teknologi reproduksi manusia
Hukumnya BOLEH/ JAIZ, asalkan benih berasal dari pasangan suami istri sah dan embrio
diimplantasi ke rahim istri disaat ikatan pernikahan itu masih berlaku. (Haiah Kibar al-
Ulama As-Saudiyah, Majma Al-Fiqh al-Islami, Lajnah al-Ifta di Ordon dan di Mesir)
Para ulama sepakat mengHARAMkan hukum IB dan BT, pada keadaan :
Jenis jenis Bayi Tabung (Fertilisasi In Vitro)
Jenis BT Sperma Ovum Rahim HUKUM
1
Suami-istri sah
Istri BOLEH
2 Surrogate Mother/ istrinya yg lain HARAM
3
Salah satu benih dari donor
Istri HARAM
4 Surrogate Mother HARAM
5
Semua benih dari donor
Istri HARAM
6 Surrogate Mother HARAM
Keharaman ini terkait masalah nasab dari anak yang akan dilahirkan
Jika memang sangat dibutuhkan dan telah memastikan keamanan dan keselamatannya,
DIPERBOLEHKAN :
1. Sperma suami dan ovum istri di satukan, kemudian di implantasikan ke rahim istri
2. Sperma suami diinseminasikan ke saluran rahim istrinya atau langsung ke dalam
rahim istrinya.

Fatwa ulama Indonesia tentang inseminasi buatan dan bayi tabung
Mayoritas ulama Indonesia seperti MPKS, MUI, NU, PERSIS dan Majlis Tarjih
Muhammadiyah sepakat membolehkan IB dan BT oleh karena dilihat dari sudut pandang
hukum islam tidak ada persoalan, secara teknis tidak bertentangan dengan syariah
maupun perundang-undangan yang berlaku.
Fatwa MPKS th. 1958 , yang intinya :
-IB dengan melibatkan donor hukumnya HARAM
-IB dengan manis suami dibolehkan
-peringatan terhadap umat beragama agar menjauhi IB dengan mani donor.

Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah
Komisi A : membolehkan Komisi B : mengharamkan
Syarat diperbolehkannya adalah :
-BT diakui sebagai penemuan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern
-Teknis pengambilan sperma tidak
bertentangan dengan syariat islam
-pelaksanaan BT terhadap umat islam
hukumnya haramun muthlaqun
-Implantasi embrio dilakukan oleh dokter
wanita

-Resipien embrio adalah istrinya yang sah
-status anak BT dari benih pasutri sah dan
resipien adalah istri sah pemilik ovum
tersebut adalah anak sah pasutri yg
bersangkutan


NU :
1. Embrio yang diimplant bukan milik pasutri adalah haram, 2. Embrio adalah benih
suami istri tapi cara mengeluarkannya tidak muhtarom maka hukumnya juga haram, 3.
Embrio dari benih suami istri sah dan cara mengeluarkannya termasuk muhtarom dan
diimplantasi ke rahim istri pemilik ovum maka hukumnya boleh.
MUI :
1 BT dari pasutri yang sah hukumnya Boleh karena termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-
kaidah agama
2 BT dari pasutri sah yang diimplantasi ke rahim istrinya yg lain hukumnya Haram karena
kaidah sadd al-Dzariah, sebab akan menimbulkan masalah terkait warisan (antara anak
yg dilahirkan dengan ibu ovum dan ibu yang melahirkannya)
3 BT dari sperma beku milik suami yang telah meninggal hukumnya Haram, karena bila
suami telah meninggal maka berakhirlah ikatan suami-istri (cerai mati), sehingga
hukumnya sama saja dengan BT diluar pernikahan dan termasuk zina
4 BT yang melibatkan donor hukumnya haram karena sama dengan pembuahan di luar
pernikahan dan termasuk zina. Berdasarkan kaidah sadd al-dzariah yaitu untuk
menghindarkan terjadinya perbuatan zina yang sesungguhnya.

Fatwa Dewan Hisbah PERSIS :
1 BT dari pasutri sah dan implantasi embrio pada istri sah pemilik ovum tersebut
hukumnya mubah/boleh
2 BT dari pasutri sah dan implantasi ke rahim wanita lain hukumnya Haram
3 BT dari benih donor hukumnya haram

Surrogate Mother
Terkenal dengan istilah ibu titipan atau ibu pengganti atau mother hoster. Merupakan
wanita yang dibayar untuk menjadi resipien dari embrio hasil bayi tabung dengan syarat
akan mengembalikan anak tersebut kepada orang tua biologisnya setelah dilahirkan.
Maslahah Mudharat
Menyelamatkan sisa embrio dari tindakan
pemusnahan embrio yang dianggap tidak
menghormati kehidupan insani dan
merupakan pembunuhan dengan sengaja
Kehadiran anak hasil surrogate mother
akan menjadi sumber konflik antara
penyewa rahim dengan pemilik rahim

Dikhawatirkan munculnya Komersialisasi
rahim dan wanita tidak mau mengandung
karena takut tubuhnya rusak dan gemuk

Tidak terjalin hubungan keibuan antara
anak dengan ibu ovum, dan hal ini
bertentangan dengan QS Luqman :14 dan
QS al-ahqaf :15

Mayoritas ulama MENOLAK praktik surrogate mother alasan utama karena
menimbulkan persoalan hukum yang krusial yang intinya pada kerancuan nasab bahkan
dapat terjadi perebutan bayi antara pihak penyewa rahim dengan pemilik rahim.
Ali Akbar : MEMBOLEHKAN surrogate mother alasannya diqiyaskan dengan penyusuan
sistem embrio mendapat energi dari rahim ibu pengganti sama seperti seorang bayi
yang menyusu pada ibu susuannya. Ali akbar juga mengharamkan pemusnahan sisa
embrio karena menganggapnya sebagai pembunuhan yang dilarang.
Kelemahan pendapat Ali : ketidaksingkronan illat antara implantasi embrio (al-maqis)
dengan persusuan (al-maqis alaih) selain itu pendapat Ali tidak mempertimbangkan segi
kerancuan nasab yang ditimbulkannya
Fatwa ulama indonesia terhadap Surrogate mother
Fatwa NU pada Muktamar ke 29 th 1994 : TIDAK SAH DAN HARAM
1 nasab, kewalian, waris dan hadhanah tidak bisa dinisbatkan kepada pemilik sperma
karena masuknya tidak muhtarom
2 yang menjadi ibu secara syari adalah :
-jika sperma dan ovum yang diimplant dipastikan tidak mungkin terjadi pencampuran
maka anak tersebut milik ibu ovum
-jika ada pencampuran dengan ovum pemilik rahim, maka ibu anak itu adalah ibu rahim
(yang melahirkan)

Fatwa PERSIS :
1 sewa menyewa rahim hukumnya haram
2 menjadikan istri yang lain (ke 2, 3 4) sebagai ibu pengganti hukumnya haram
3 memusnahkan sisa embrio dalam proses bayi tabung atas petimbangan medis tidak
dilarang
Fatwa MUI :
1 implantasi embrio pasutri ke dalam rahim wanita lain hukumnya HARAM
2 Implantasi embrio pasutri ke dalam rahim istrinya yang lain hukumnya HARAM
3 implantasi embrio pasutri ke dalam rahim wanita lain dengan alasan egoistik,
hukumnya HARAM
4 status anak yang dilahirkan dari point 1,2,3 adalah anak milik ibu yang memiliki rahim
Implantasi zigot pasca cerai
Implantasi zigot setelah cerai hidup atau cerai mati hukumnya haram karena sama
dengan melakukan hubungan seksual pasca cerai
Hukuman pidana bagi pelaku donor sperma atau ovum
IB dan BT tidak memenuhi unsur zina karena dua metode tersebut bersifat aseksual yakni
tidak adanya kontak seksual dalam pembuahan, karena itu pelakunya tidak dapat
dikenakan sanksi hukuman had yaitu rajam dan cambuk 100 kali.
Pemusnahan sisa embrio
Dalam proses BT, beberapa sel ovum masing-masing akan dibuahi dan hanya zigot yang
berkualitas yang akan diimplant. Masalah muncul : sisa zigot yang lain akan
dikemanakan? dimusnahkan atau diselamatkan ?
Mayoritas ulama membolehkannya, sebagian mengharamkannya.
Alasan membolehkan :
-karena embrio hasil FIV belum ditiupkan ruh dan diqiyaskan dengan azl dan tidak ada
ayat atau dalil yang melarang atau mengharamkan matinya sel reproduksi.
-Kadar mafsadahnya lebih ringan dibandingkan kadar mafsadah surrogate mother. Sesuai
kaidah islam bila dihadapkan pilihan menolak mafsadah atau menarik maslahah maka
dahulukan menolak mafsadah dengan memusnahkannya atau membiarkan zigot itu mati
daripada mengambil maslahah dengan cara melakukan surrogate mother.
Mazhab syafii pemusnahan zigot sama dengan aborsi ?
1 hukumnya boleh dan tidak haram karena embrio itu belum bernyawa (Imam Ramli)
2 Makruh, karena janin sedang mengalami pertumbuhan
3 Haram menurut ibnu Hajar jika dilakukan sesudah janin diberi ruh para ulama
sepakat mengharamkannya.
Dalam praktiknya, sisa ovum yang belum dibuahi biasanya disimpan di bank ovum dan
diberi label pemiliknya agar tidak tertukar dengan sel ovum milik orang lain, tujuannya
sebagai cadangan bila nidasi pada dinding rahim gagal, maka cukup mengambil ovum
dari bank ovum

Pembuahan dengan sperma yang dibekukan
Apabila suami meninggal maka terputuslah ikatan suami istri (cerai mati). Pembuahan
dari sperma yang dibekukan (diawetkan) milik suami yang telah meninggal sama saja
seperti berhubungan seksual diluar nikah.
Merelakan istri dibuahi sperma donor
Anak yang lahir dari pembuahan sperma donor tidak bernasab pada suaminya karena
bukan anak kandung suaminya. Perbuatan ini merupakan kerja sama dalam perbuatan
dosa dan pelanggaran. QS almaidah : 2
Nasab anak mother hoster
Anak yang lahir milik ibu rahim ? atau ibu ovum ? sehingga akan terjadi kerancuan nasab
oleh karen itu diharamkan.
Nasabnya adalah pada pemilik ovum karena secara genetika anak tersebut mewarisi
sifat-sifat ibu ovum, sementara keberadaannya dan perkembangannya dalam ibu rahim
dianggap seperti penyusuan yang tidak mempengaruhi sifat-sifat genetika.
Nasabnya adalah pemilik rahim, terkait sejumlah ayat-ayat yang menyebutkan anak yg
berasal dari perut ibunya , ibu-ibu yg telah melahirkan mereka dan yg semakna dg itu.
QS An-Najm : 32, QS Al-Ahqaf :15, QS An-Nahl 78, QS AlMujadalah :2, QS Lukman :14

Kesimpulan
-Inseminasi buatan pada hewan hukumnya mubah dan sangat dianjurkan karena dapat
meningkatkan produktivitas dan termasuk maslahat.
-inseminasi buatan dan bayi tabung dibolehkan dg syarat benihnya dari pasutri yang
terikat dalam perkawinan yang sah karena termasuk berobat dan memiliki anak
merupakan anjuran islam, termasuk maslahat.
Sebagian kecil ulama mengharamkan : mengharuskan melihat aurat yang bukan dalam
keadaan darurat, sedangkan sebagian lain membolehkannya untuk anak pertama saja,
-inseminasi buatan dan bayi tabung yang melibatkan donor, baik donor benih maupun
donor rahim, hukumnya haram. Karena secara substantif sama dengan zina
-ES : menodai dan mengabaikan lembaga perkawinan, merendahkan martabat
kemanusiaan, merancukan nasab dan hak warisan, terjadi perebutan hak asuh anak.
-pemusnahan sisa bayi tabung : terkait batas hidup insani membolehkan dan
mengharamkan.
Mengharamkan : tidak menghormati kehidupan insani sejak pembuahan, dianggap
sebagai pembunuhan.
Membolehkan : kadar konsekuensi yang teringan, bila sisa benih ditanam dalam rahim
wanita lain yang bukan pemilik ovum akan berakibat merancukan nasab. Dapat pula
disebut Coitus Interruptus sebagian besar ulama membolehkan.