Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOMORFOLOGI

ACARA: BENTUK LAHAN DENUDASIAL




DISUSUN OLEH:
Nama : Muhammad Syahidi
NIM : 03071281320002

PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI
LABORATORIUM GEOLOGI TATA LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

HALAMAN PENGESAHAN
BENTUK LAHAN DENUDASIAL

PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI
LABORATORIUM GEOLOGI TATA LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Syahidi
NIM : 03071281320002
Hari / Jam : Senin / 09.40 11.20

Indralaya, 3Februari 2014
Disahkan Oleh
Praktikan, Dosen Pembimbing,




Muhammad Syahidi Harnani, S.T., M.T.


BAB I
Maksud, Tujuan, dan Latar Belakang
1.1 Maksud
Meningkatkan pengetahuan tentang bentuklahan denudasi

1.2 Tujuan
Dapat mengetahui struktur, litologi, proses, dan ciri bentuklahandenudasi
Dapat membuat penampang melintang berdasarkan peta topografi
Dapat mengetahui pembentukan bentukan bentuklahan denudasi

1.3 Latar Belakang
Pembuatan peta geomorfologi ini dilatar belakangi oeh beberapa hal,
diantaranya adalah untuk memahami persepsi tentang pemetaan geologi, untuk
mempelihatkan karakteristik bentuklahan denudasi dan proses-proses dan
tahapan yang bekerja dari bentang alam tersebut, agar mengetahui
keseragaman peta geomorfologi, dan mengetahui dan memahami kegunaan
peta geomorfologi.













BAB II
BENTUKLAHAN ASAL DENUDASIONAL
2.1 DASAR TEORI
Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga
denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Denudasi cenderung akan
menurunkan bagian permukaan bumi yang positif hingga mencapai bentuk
permukaan bumi yang hamper datar membentuk dataran nyaris (pineplain).
Proses denudasi merupakan proses yang cenderung mengubah bentuk
permukaan bumi yang disebut dengan proses penelanjangan. Proses yang utama
adalah degradasi berupa pelapukan yang memproduksi regolit dan saprolit serta
proses erosi, pengangkutan dan gerakan massa. Proses ini lebih sering terjadi pada
satuan perbukitan dengan material mudah lapuk dan tak berstruktur. Proses
degradasi menyebabkan agradasi pada lerengkaki perbukitan menghasilkan
endapan koluvial dengan material tercampur. Kadang proses denudasional terjadi
pula pada perbukitan struktur dengan tingkat pelapukan tinggi, sehingga disebut
satuan struktural denudasional.
Proses denudasional sangat dipengaruhi oleh tipe material (mudah lapuk),
kemiringan lereng, curah hujan dan suhu udara serta sinar matahari, dan aliran-
aliran yang relatif tidak kontinyu. Karakteristik yang terlihat di foto udara, umumnya
topografi agak kasar sampai kasar tergantung tingkat dedudasinya, relief agak
miring sampai miring, pola tidak teratur, banyak lembah-lembah kering dan erosi
lereng/back erosion, penggunaan lahan tegalan atau kebun campuran dan proses
geomorfologi selalu meninggalkan bekas di lereng-lereng bukit dan terjadi akumulasi
di kaki lereng, serta kenampakan longsor lahan lebih sering dijumpai.
Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses
pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua
proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan
menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa
fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang
lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan.
Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah
erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya, vegetasi, dan
relief.
Ciri-ciri Bentuk Lahan Asal Denudasional
Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu:
1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai
2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, dep/strike tertutup
3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain
4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk
merinci satuan bentuk lahan
5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan.
Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.

Denudasi adalah kumpulan proses yang mana, jika dilanjutkan cukup jauh,
akan mengurangi semua ketidaksamaan permukaan bumi menjadi tingkat dasar
seragam. Dalam hal ini, proses yang utama adalah degradasi, pelapukan, dan
pelepasan material, pelapukan material permukaan bumi yang disebabkan oleh
berbagai proses erosi dan gerakan tanah. Kebalikan dari degradasi adalah agradasi,
yaitu berbagai proses eksogenik yang menyebabkab bertambahnya elevasi
permukaan bumi karena proses pengendapan material hasil proses degradasi.

Proses Terbentuknya Bentuk Lahan Asal Denudasional
Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan
proses pengendapan/sedimentasi.
1). Pelapukan
Pelapukan adalah proses berubahnya sifat fisik dan kimia batuan di permukaan dan
atau dekat permukaan bumi tanpa di sertai perpindahan material. Pelapukan dapat
dibagi manjadi pelpukan fisik, dan pelapukan biotic. Pelapukan fisik merupakan
proses pecahnya batuan menjadi ukuran yang lebih kecil tanpa diikuti oleh
perubahan komposisi kimia batuan. Perubahan kimia merupakan proses
berubahnya komposisi kimia batuan sehingga menghasilkan mineral sekunder.
Factor pengontrol pelapukan adalah batuan induk, aktivitas organism, topografi, dan
iklim. Didalam evolusi bentanglahan yang menghasilkan bentuklahan dedasuonal M.
W. Davis mengemukakan adanya3 faktor yang mempengaruhi perkembangan
bentuklahan struktur geologi, proses geomorfologi, waktu. Dengan adanya factor
tersebut maka dalam evolusinya, bentuklahan melewati beberapa stadium ; stadium
muda, stadium dewasa, stadium tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan adalah:
A. Jenis batuan (kandungan mineral, retakan, bidang pelapisan, patahan dan
retakan). Batuan yang resisten lebih lambat terkena proses eksternal sehingga tidak
mudah lapuk, sedangkan batuan yang tidak resisten sebaliknya. Contoh :
1. Limestone, resisten pada iklim kering tetapi tidak resisten pada iklim basah.
2. Granit, resisten pada iklim basah tetapi tidak resisten pada iklim kering.
B. Iklim, terutama tenperatur dan curah hujan sangat mempengaruhi
pelapukan.Contoh :
1. Iklim kering, jenis pelapukannya fisis
2. Iklim basah, jenis pelapukannya kimia
3. Iklim dingin, jenis pelapukannya mekanik
C. Vegetasi, atau tumbuh-tumbuhan mempunyai peran yang cukup besar terhadap
proses pelapukan batuan. Hal ini dapat terjadi karena:
1. Secara mekanis akar tumbuh-tumbuhan itu menembus batuan, bertambah
panjang dan membesar menyebabkan batuan pecah.
2. Secara kimiawi tumbuh-tumbuhan melalui akarnya mengeluarkan zat-zat
kimia yang dapat mempercepat proses pelapukan batuan. Akar, batang, daun
yang membusuk dapat pula membantu proses pelapukan, karena pada bagian
tumbuhan yang membusuk akan mengeluarkan zat kimia yang mungkin dapat
membantu menguraikan susunan kimia pada batuan. Oleh karena itu, jenis dan
jumlah tumbuhan yang ada di suatu daerah sangat besar pengaruhnya
terhadap pelapukan. Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan proses
pelapukan terdapat hubungan yang timbal balik.
D. Topografi
Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah datangnya sinar matahari
atau arah hujan, maka akan mempercepat proses pelapukan.
2). Gerakan massa batuan (mass wasting)
yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh
pengaruh gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air. Ada yang
menganggap masswasting itu sebagai bagian dari pada erosi dan ada pula yang
memisahkannya. Hal ini mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan
secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu turut bekerja.
Pada batuan yang mengandung air, gerakan massa batuan itu lebih lancar dari pada
batuan yang kering. Perbedaannya ialah bahwa pada masswasting, air hanya
berjumlah sedikit dan fungsinya bukan sebagai pengangkut, melalinkan hanya
sekedar membantu memperlancar gerakan saja. Sedang dalam erosi diperlukan
adanya tenaga pengangkut. Gerakan massa batuan pada dasarnya disebabkan oleh
adanya gayaberat/gravitasi atau gaya tarik bumi.
Faktor-faktor pengontrol mass wasting antara lain:
1. Kemiringan lereng,
Makin besar sudut kemiringan lereng dari suatu bentuk lahan semakin besar
peluang terjadinya Mass Wasting, karena gaya berat semakin berat pula.
2. Relief lokal,
Terutama yang mempunyai kemiringan lereng cukup besar, misal kubah, perbukitan
mempunyai peluang yang besar untuk terjadinya Mass Wasting.
3. Ketebalan hancuran batuan(debris) diatas batuan dasar,
Ketebalan hancuran batuan atau Debris diatas batuan dasar makin tebal hancuran
batuan yang berada diatas batuan dasar, makin besar pula peluang untuk terjadinya
Mass Wasting, karena permukaan yang labil makin besar pula.
4. Orientasi bidang lemah dalam batuan,
Pada umumnya Mass wasting akan mengikuti alur bidang lemah dalam batuan,
karena orientasi bidang lemah tersebut akan lapuk lebih dahulu kemudian materi
yang lapuk akan bergerak.
5. Iklim,
Kondisi iklim disuatu daerah akan mempengaruhi cepat atau lambatnya Mass
wasting.
6. Vegetasi,
Daerah yang tertutup oleh vegetasi atau tumbuh-tumbuhan peluang untuk terjadinya
Mass Wasting kecil, karena vegetasi dapat menahan laju gerakan massa batuan di
permukaan.
7. Gempa bumi,
Daerah yang sering mngalami gempa bumi cenderung labil, sehingga peluang
terjadinya Mass wasting besar.
8. Tambahan material pada bagian atas lerengBanyak klasifikasi gerak massa
batuan tetapi semuanya dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe gerakannya, yaitu :
a. Gerakan lambat
Tipe ini disebut tipe rayapan ; (rayapan tanah, rayapan batuan, rayapan batuan
gletsyer, dan solifluction.
b. Gerakan cepat
Tipe ini dosebut tipe aliran ; (aliran lumpur , aliran tanah
c. Gerakan sangat cepat
Tipe gerakan ini disebut longsorlahan (landslide) yang terdiri dari Jatuh bebas : rock-
fall, earth-fall Longsoran : rockslide, earthslide, debrisslide
d. Terban
Jatuhnya material batuan secara vertical tanpa adanya gerakan horizontal.
Bentukan lahan asal denudasional
1. Pegunungan denudasional
2. Perbukitan denidasional
3. Perbukitan terisolasi
4. Nyaris dataran
5. Lereng kaki
6. Gabungan kipas kolluvial
7. Dinding terjal
8. Rombakan kaki lereng
9. Lahan rusak
10. Daerah dengan gerak massa
11. Keruvut talus
12. Monadnock
3). Erosi
Erosi adalah proses terlepsnya agrerat material (tanah atau batuan lapuk) dan
terpindahkannya material tersebut ke tempat lain.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah adalah:
a. Iklim
Faktor iklim yang berpengaruh adalah curah hujan, angin, temperatur,
kelembapan, penyinaran matahari. Banyaknya curah hujan, intensitas dan distribusi
hujan menentukan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran
permukaan, serta besarnya kerusakan erosi. Angin selain sebagai agen transport
dalam erosi beberapa kawasan juga bersama-sama dengan temperatur,
kelembaban dan penyinaran matahari terhadap evapotranspirasi, sehingga
mengurangi kandungan air dalam tanah yang berarti memperbesar investasi tanah
yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepekaan erosi tanah.
b. Topografi
Kemiringan lereng, panjang lereng, konfigurasi, keseragaman, dan arah lereng
mempengaruhi erosi. Kemiringan lereng dinyatakan dalam derajad atau
persen.Kecuraman lereng memperbesar jumlah aliran permukaan, dan
memperbesar kecepatan aliran permukaan, sehingga dengan demikian
memperbesar daya angkut air. Semakin besar erosi terjadi dengan makin curamnya
lereng.
c. Vegetasi
Vegetasi berperan untuk mengurangi kecepatan erosi. Kaitannya jenis
tumbuhan, aliran permukaan dan jumlah erosi.
D. Satuan Bentuk Lahan Asal Denudasioal
1. Pegunungan Denudasional
Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng
sangat curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi
(relief) > 500 m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V
karena proses yng dominan adalah proses pendalaman lembah (valley deepening).
2. Perbukitan Denudasional
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar
antara 15 > 55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m.Terkikis sedang
hingga kecil tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup daik alami
maupun tata guna lahan. Salah satu contoh adalah pulau Berhala, hamper 72,54
persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas 38,19 ha. Perbukitan yang
berada di pulau tersebut adalah perbukitan denudasional terkikis sedang yang
disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga terbentuk lereng-lereng
yang sangat curam.
3. Dataran Nyaris (Peneplain)
Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus
menerus, maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya dan
membentuk permukaan yang hamper datar yang disebut dataran nyaris (peneplain).
Dataran nyaris dikontrol oleh batuan penyusunan yang mempunyai struktur berlapis
(layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih dan mempunyai permukaan yang
datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.
4. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)
Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses
denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan
bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselberg
tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan
(outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada pegunungan/perbukitan terpisah
maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk
membulat. Apabila bentuknya relative memanjang dengan dinding curam tersebut
monadnock.
5. Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van)
Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350).
Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung
pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan
pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah
dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.
6. Lereng Kaki (Foot slope)
Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu
pegunungan/perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis. Lereng kaki
terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin). Permukaan
lereng kaki langsung berada pada batuan induk (bed rok). Dipermukaan lereng kaki
terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di atasnya yang diangkut oleh
tenaga air ke daerah yang lebih rendah.
7. Lahan Rusak (Bad land)
Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam hingga
sangat curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk lembah-lembah
yang dalam dan berdinding curam serta berigir tajam (knife-like) dan membulat.
Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif sehingga banyak singkapan batuan
muncul ke permukaan (rock outcrops).




2.2 PEMBAHASAN
2.2.1 PERBUKITAN TERKIKIS
Perbukitan terkikis adalah suatu kenampakan morfologi dari bentuklahan asal
denudasional. Perbukitan terkikis pada peta yang kita bahas ini disimbolkan dengan
simbol D1. Perbukitan ini terkikis akibat terjadiya erosi yang terjadi secara terus
menerus di perbukitan ini sehingga perlahan dari material yang ada di perbukitan ini
kian lama akan semakin mengikis sehingga akan menyebabkan kenampakan
kurang lebih seperti yang ada pada gambar diatas. Morfometrinya curam dengan
batuan resisten yang ada.
2.2.2 BUKIT SISA
Bukit sisa di dalam peta bentuklahan asal denudasional yang kita amati ini
memiliki simbol D3. Bukit sisa isi kenampakannya pada peta biasanya dicirikan
dengan adanya daerah perbukitan, dimana ada suatu bukit yang berdiri sendiri
namun kontur disekitarnya perlahan mencirikan bahwa kawasan itu landai. Bukit sisa
ini biasa berada di ketinggian 150 m diatas permukaan laut. Litologi batuan yang ada
di daerah ini yaitu resisten dengan morfometri yang bisa dikatakan curam.
2.2.3 BUKIT TERISOLASI
Bukit terisolasi pada peta bentuklahan asal denudasional ini biasanya
dicirikan dengan perbukitan yang biasanya terletak di daerah dataran yang luas.
Didalam peta ini bukit terisolasi dideskripsikan dengan simbol D4. Biasanya bukit
terisolasi ini berada pada 150 200 m diatas permukaan laut. Morfometrinya sedikit
curam dengan litologi batuan yang resisten.
2.2.4 LERENG KAKI
Lereng kaki ini berada setelah daerah tinggian perbukitan. Apabila pada peta
bentuklahan asal denudasional lereng kaki ini biasanya berada di daerah setelah
perbukitan terisolasi maupun perbukitan saja, karena umunya lereng kaki ini berada
di kaki-kaki bukit. Lereng kaki ini morfometrinya sudah hampir landai tapi masih
sedikit curam, berada sekitar 100-150 m diatas permukaan laut dengan ciri kontur
yang lumayan merenggang. Litologi batuannya masih resisten. Pada peta yang kita
bahas lereng kaki disimbolkan dengan simbol D7.
2.2.5 DATARAN ALUVIAL
Pada peta yang di amati di atas yaitu bentuklahan asal danudasional, dataran
alluvial dengan ketinggian yaitu 50 meter di atas permukaan laut. Dataran alluvial ini
ditandai dengan simbol F1. Pada tiap lokasi dataran alluvial ini terdapat aliran
sungai, baik itu berupa induk sungai maupun anak sungai. Dataran alluvial
menempati daerah dataran rendah dan dataran lembah sungai. daerah alluvial ini
tertutup oleh bahan hasil rombakan dari daerah sekitarnya, daerah hulu ataupun dari
daerah yang lebih tinggi letaknya. Potensi air tanah daerah ini ditentukan oleh jenis
dan tekstur batuan. Dari konturnya yang jarang, dataran alluvial ini memperlihatkan
batuan yang tidak kompak dan tidak resisten. Batuan yang ada di daerah ini
biasanyan batuan semacam batulempung, batupasir, dan lainnya.
2.2.6 DATARAN BANJIR
Pada peta bentuklahan asal denudasional, dataran banjir dapat terlihat pada
bagian barat sampai barat laut peta dengan ketinggian kira-kira 50 meter di atas
permukaan laut. Dataran banjir berupa dataran yang luas yang berada pada kiri
kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat hempasan banjir sungai tersebut.
Dataran banjir ini umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur. Dataran banjir ini
disimbolkan dengan lambang F7. Seiring dengan proses yang berlangsung terus
menerus akan membentuk akumulasi sedimen yang tebal dan dataran limpah banjir.


















BAB III
KESIMPULAN

1. Proses denudasi merupakan proses yang cenderung mengubah bentuk
permukaan bumi yang disebut dengan proses penelanjangan.
2. Proses denudasional sangat dipengaruhi oleh tipe material (mudah lapuk),
kemiringan lereng, curah hujan dan suhu udara serta sinar matahari, dan
aliran-aliran yang relatif tidak kontinyu
3. Proses terbentuknya bentuklahan asal denudasional meliputi :
pelapukan,gerakan massa batuan (mass wasting), erosi, dan sedimentasi
atau pengendapan.
4. dampak dari bentuklahan denudasional adalah dampak erosi, dampak
pelapukan, dan dampak sedimentasi.
5. Denudasi adalah kumpulan proses yang mana, jika dilanjutkan cukup jauh,
akan mengurangi semua ketidaksamaan permukaan bumi menjadi tingkat
dasar seragam.
6. Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses
pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan.















DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/search?q=bukit+terisolasi&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=dsVKU6LhOY
GKrQeb2oHoAg&ved=0CAYQ_AUoAQ&biw=1349&bih=562#q=dataran+banjir&tbm=isch
http://bloggernine-iq.blogspot.com/2012/04/blog-post.html
http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/geomorfologi-bentuklahan-denudasional.html























KALKIR