Anda di halaman 1dari 12

STUDY KASUS PENANANGAN

KEBISISNGAN
Indria Rahmadina
Pendahuluan
Pengertian kebisingan adalah bunyi atau suara
yang timbul yang tidak dikehendaki yang sifatnya
mengganngu dan menurunkan daya dengar
seseorang.
Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar 20
Hz sampai 20.000 Hz
Suara yang sangat keras menyebabkan kerusakan
pada sel rambut, karena sel rambut yang rusak
tidak dapat tumbuh lagi maka bisa terjadi
kerusakan sel rambut progresif dan berkurangnya
pendengaran
Jenis Kebisingan
Bising kontinu (terus menerus) seperti suara mesin,
kipas angin, dll.
Bising intermitten (terputus putus) yang terjadi tidak
terus menerus seperti suara lalu lintas, suara pesawat
terbang
Bising Impulsif yang memiliki perubahan tekanan suara
melebihi 40 dB dalam waktu yang cepat sehingga
mengejutkan pendengarnya seperti suara senapan,
mercon, dll
Bising impulsif berulang yang terjadi secara berulang-
ulang pada periode yang sama seperti suara mesin
tempa.
Contoh sumber kebisingan

Pengaruh Kebisingan terhadap tenaga
kerja

Gangguan fisiologis
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, nadi dan dapat
menyebabkan pucat dan gangguan sensoris
Gangguan psikologis
Gannguan psikologis berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi,
emosi dll.
Gangguan komunikasi
Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan,
bahkan bisa berakibat kepada kecelakaan karena tidak dapat
mendengar isyarat ataupun tanda bahaya.
Gangguan pada pendengaran (Ketulian)
Merupakan gangguan yang paling serius karena pengaruhnya dapat
menyebabkan berkurangnya fungsi pendengaran. Gannguan ini
bersifat progresif tapi apabila tidak dikendalikan dapat menyebabkan
ketulian permanen.
GPAB
Gangguan Pendengaran Akibat Bising/GPAB
(Noise Induced hearing Loss/NIHL)
Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB)
adalah penurunan pendengaran sensorineural
yang pada awalnya tidak disadari, karena
belum mengganggu percakapan sehari-hari.
Faktor yang mempercepat GPAB/NIHL adalah
pajanan intensitas kebisingan melebihi NAB
(>85 dbA selama 8 jam)
Contoh kasusnya
Ilustrasi dibawah ini adalah beberapa penelitian tentang GPAB (sumber:Ketulian.com)
Di Indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak dilakukan sejak lama. Survai
yang dilakukan oleh Hendarmin dalam tahun yang sama pada Manufacturing Plant Pertamina dan dua pabrik es di
Jakarta mendapatkan hasil terdapat gangguan pendengaran pada 50% jumlah karyawan disertai peningkatan
ambang dengar sementara sebesar 5-10 dB pada karyawan yang telah bekerja terus-menerus selama 5-10 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Hendarmin dan Hadjar tahun 1971, mendapatkan hasil bising jalan raya
(Jl.MH.Thamrin, Jakarta) sebesar 95 dB lebih pada jam sibuk.
Sundari pada penelitiannya di pabrik peleburan besi baja di Jakarta, mendapatkan 31,55 % pekerja menderita tuli
akibat bising, dengan intensitas bising antara 85 105 dB, dengan masa kerja rata-rata 8,99 tahun.
Lusianawaty mendapatkan 7 dari 22 pekerja ( 31,8%) di perusahaan kayu lapis Jawa Barat mengalami tuli akibat
bising, dengan intensitas bising lingkungan antara 84,9 108,2 dB.
Purnama pada penelitian dampak pajanan bising bajaj pada pengemudinya mendapatkan 26 dari 32 pengemudi
mengalami tuli akibat bising, 14 pengemudi mengalami tuli akibat bising tahap awal dan 12 pengemudi
mengalami tuli akibat bising tahap lanjut. Rerata intensitas bising bajaj pada kelompok kasus tersebut adalah
101,42 dB dengan lama pajanan kerja 12,37 tahun dan 98,5 dB pada kelompok kontrol dengan lama pajanan kerja
8 tahun.
Bashiruddin pada penelitian pengaruh bising dan getaran pada fungsi keseimbangan dan pendengaran
mendapatkan rerata intensitas bising bajaj pada beberapa frekuensi adalah 90 dB dengan intensitas maksimum 98
dB dan serata akselerasi getar adalah 4,2 m/dt. Hal ini melebihi nilai ambang batas bising dan getaran yang
diperkanankan.
Kombinasi antara bising alat transportasi dengan sistem suspensi dan gas buang yang buruk seperti bajaj dan
bising jalan raya menyebabkan risiko gangguan pendengaran pengemudi kendaraan tersebut menjadi lebih tinggi
GPAB tidak dapat disembuhkan namun bisa
dicegah???
Oleh karena itu tempat kerja yang melebihi NAB
harus menerapkan Program Konservasi
Pendengaran / Hearing Conservation Program
(HCP).
Program Konservasi Pendengaran meliputi :
1. Pemantauan Kebisingan
2. Audiometri Test
3. Pengendalian Kebisingan
4. Alat Pelindung Diri
5. Training Motivasi
6. Pemeliharaan Catatan / record
Pengendalian kebisingan
Langkah efektif sebagai sebagai berikut
Eliminasi
pengurangan mesin jika mesin sudah tidak layak pakai dan
menghasilkan suara yang melebihi kebisingan normal
Subtitusi
menggganti mesin yang sudah tidak layak
Engineering
Pada tahap perencanaan / engineering pastikan memilih peralatan
dengan efek kebisingan paling rendah, mesin dengan intensitas
kebisingan tinggi jauhkan dari area yang terdapat banyak pekerja
disana.
Administrasi.
Berlakukan area tersebut sebagai area terbatas, hanya boleh dimasuki personil
yang terlatih, menggunakan Alat Pelindung Pendengaran
Pengaturan jadwal kerja sesuai NAB, misal 85 dBA bekerja selama 8 jam, 88
dBA bekerja selama 4 jam, dst.
Alat pelindung pendengaran
Alat Pelindung Diri / Alat Pelindung
pendengaran
Pemakaian Alat pelindung pendengaran
adalah upaya terakhir dalam upaya
pencegahan gangguan pendengaran, ada 2
jenis :
1. Ear plug / sumbat telinga
2. Ear muff / tutup telinga
Contoh alat pelindung kebisingan

Traning dan motivasi
Berikan penjelasan ke karyawan tentang
akibat kebisingan serta bagaimana cara
mencegahnya, buktikan bahwa tidak ada
orang yang kebal terhadap kebisingan dengan
memberikan data catatan rekam medis
audiometri serta data pengukuran area kerja.
Pelatihan dengan metoda visualisasi adalah
cara yang efektif untuk menjelaskan ke
karyawan.