Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR

Percobaan 3
INDIKATOR DAN LARUTAN

Disusun oleh
Nama : Cinderi Maura Restu
NPM : 10060312009
Shift / kelompok : 1 / 2
Tanggal Praktikum : 29 Oktober 2012
Tanggal Laporan : 26 November 2012
Asisten : Syifa Fatasya,S.Farm



LABORATORIUM KIMIA TERPADU A
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2012

Percobaan 3
Indikator dan Larutan
1. Tujuan :
Untuk dapat menguasai prinsip dan prosedur pembuatan dan pengenceran suatu
larutan serta memahami prinsip perubahan warna pada indikator pH.
2. Prinsip :
Mengindikasikan perubahan warna pada suatu zat, apakah reaksinya sudah
berlangsung atau belum.
3. Metode/teori dasar :
a. Larutan baku
Larutan baku yaitu larutan yang diketahui dengan tepat konsentrasinya, dan
dipakai sebagai pereaksi. Salah satu teknik yang digunakan untuk analisis
kuantitatif yaitu titrimetri. Teknik titrimetri yaitu dimana suatu larutan
ditambahkan dari buret (titran) sedikit demi sedikit kepada titrat, sampai jumlah
zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekuivalen satu sama lain. Larutan pereaksi
yang digunakan haruslah diketahui volume dan konsentrasinya dengan tepat.
Untuk mendapatkan konsentrasi yang tepat, berat zat yang dilarutkan dan
volume larutan yang akan dibuat harus diketahui dengan tepat. Kalau untuk
mendapatkan berat yang tepat, maka harus digunakan zat dengan kemurnian
yang sangat tinggi. Contohnya NaOH. NaOH memiliki sifat higroskopis. Jadi
selama penyimpanan dapat menarik uap air dan juga mudah bereaksi dengan
CO
2
yang menyebabkan NaOH tidak murni lagi. Dalam penimbangan, NaOH sukar
sekali untuk diketahui kandungan NaOH murninya. Larutan yang seperti NaOH
digunakan sebagai pereaksi dalam titrimetri disebut larutan baku sekunder.
Dalam menentukan konsentrasi yang tepat dari larutan baku sekunder,
diperlukan standarisasi dengan larutan baku primer. Yaitu suatu bahan yang
konsentrasi larutannya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat
murni. Salah satu larutan baku primer yang dapat digunakan untuk
menstandarisasi NaOH yaitu H
2
C
2
O
4
.
b. Pengenceran larutan
Untuk membuat larutan standar, bisa dilakukan dengan mengencerkan larutan
yang sudah tersedia. Untuk menghitung berapa banyak larutan standar yang
akan dibuat dan menghitung berapa banyak larutan induk yang harus
diencerkan, dapat digunakan persamaan :
V1 x N1 = V2 x N2
Dimana,
V1 = volume larutan induk yang diperlukan
N1 = normalitas larutan induk
V2 = volume larutan standar yang akan dibuat
N2 = normalitas larutan standar yang akan dibuat
c. Indikator pH
Dari sepuluh zat terbanyak yang digunakan di industri setiap tahunnya, enam
diantaranya merupakan suatu asam atau basa (asam sulfat, asam klorida, asam
nitrat, ammonia, natrium hidroksida, natrium karbonat). Sejumlah zat pembersih
anionik seperti alkil benzen sulfonat linier, alfa olefin sulfonat, dan natrium
tripolifospat merupakan bahan aktif dasar yang diproduksi oleh industri sabun
dan detergen. Obat maag (antasida) sebagian diantaranya mengandung kalsium
karbonat. Asam sitrat yang terdapat pada buah-buahan digunakan dalam
pembuatan aneka jus, jelly, dan selai. Tingkat keasaman dan kebasaan suatu
larutan diukur berdasarkan konsentrasi ion hidrogen didalamnya. Cara mengukur
pH larutan yaitu : pH = - log [H
+
].
Penentuan pH dapat dilakukan dengan menggunakan suatu zat yang disebut
indikator visual. Penambahan indikator kedalam suatu larutan dapat
menyebabkan perubahan warna. Indikator asam-basa merupakan suatu senyawa
organik dengan massa molekul besar.
HIn H
+
+ In
-

Jika HIn lebih dominan, maka warna yang teramati diistilahkan sebagai warna
asam. Dan jika spesi In
-
lebih dominan, maka diistilahkan sebagai warna basa.
Contoh indikator pH yang umum digunakan yaitu Fenolftalein, Metil Merah, dan
Metil Jingga. Indikator digunakan dalam proses titrasi untuk menentukan titik
akhir titrasi. Proses titrasi asam basa dinamakan juga reaksi netralisasi. Dalam
titrasi, asam basa merupakan suatu zat yang disebut standar. Disebut standar
karena dapat diketahui konsentrasinya dengan pasti. Zat standar digunakan
untuk menentukan konsentrasi sample. Zat standar dibagi menjadi standar
primer, contoh : asam oksalat. Dan standar sekunder, contoh : NaOH.
Data interval pH dan perubahan warna pada masing-masing indikator :
Indikator
Warna
Interval pH
Asam Basa Titik Akhir
Fenolftalein Tidak berwarna Ungu Merah muda 8 - 10
Metil Merah Merah Kuning Jingga 4 - 6
Metil Jingga Merah Kuning Jingga 3 - 5

Komponen larutan :
Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutan, yaitu pelarut dan zat yang
dilarutkan dalam pelarut tersebut (zat terlarut).
4. Prosedur percobaan :
1. Pembuatan Larutan Baku
a. Larutan Baku Primer Asam Oksalat
Dibuatkan 100 ml larutan asam oksalat 0,1 N (BM=126).
Perhitungannya :
N = (

) x (

) , BE asam oksalat =

BM
0,1 = (


) x (

)
0,1 = (


) x 10
0,1 x 63 = 10 x g
6,3 = 10 g
g = 0,63 gram
Pembuatannya :
1. Asam oksalat ditimbang dengan teliti, yaitu sebanyak 0,63 gram.
2. Asam oksalat yang telah ditimbang, dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml.
3. Ditambahkan aquadest sedikit demi sedikit kedalam labu ukur tadi dan sambil
dikocok sampai larut.
4. Ditambahkan lagi aquadest sampai tanda batas dan dikocok sampai larutannya
homogen.

b. Larutan Baku Sekunder NaOH
Dibuatkan larutan NaOH 0,01 N sebanyak 100 ml (BM = 40). BE NaOH = BM
NaOH. Dihitung berapa gram NaOH yang harus ditimbang.
Perhitungannya :
N = (

) x (

)
0,01 =


0,01 x 40 = 10 x g
0,4 = 10 g
g = 0,04 gram
Pembuatannya :
1. NaOH ditimbang dengan teliti, yaitu sebanyak 0,04 gram.
2. NaOH yang telah ditimbang, dimasukkan kedalam beaker glass.
3. Ditambahkan aquadest hangat kedalam beaker glass tadi dan diaduk sampai
larut.
4. Kemudian larutan tadi dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml.
5. Beaker glass dibilas dengan aquadest dan kemudian bilasannya dimasukkan
kedalam labu ukur 100 ml tadi.
6. Selanjutnya dilakukan penambahan aquadest kedalam labu ukur sampai
mencapai tanda batas.

2. Pengenceran Larutan
Pembuatannya :
a. Diambil 5 ml aquadest dengan menggunakan gelas ukur. Kemudian aquadest
yang telah diukur tadi dituangkan kedalam tabung reaksi.
b. Diambil 2 ml aquadest dengan menggunakan gelas ukur. Kemudian dituangkan
kedalam tabung reaksi yang lain.
c. Dimasukkan H
2
SO
4
2 ml kedalam gelas ukur yang telah terisi aquadest 2 ml
tadi.
d. Kedalam tabung reaksi yang telah terisi aquadest 5 ml, dimasukkan aquadest 2
ml dan H
2
SO
4
2 ml tadi. Penuangannya dilakukan dengan pelan dan hati-hati.

3. Indikator pH
1. Pembuatan filtrat
Pembuatannya :
Telah disiapkan macam-macam bunga warna-warni atau sayuran/buah (kol
ungu, anggur merah, strawberry, dan anggur hitam), 2 buah mortar beserta alu,
1 buah corong, 1 buah batang pengaduk, 4 lembar kertas saring, 4 buah tabung
reaksi, dan isopropil akohol.
1. Kol ungu
a. Pertama, kol ungu dipotong kecil-kecil dan digerus dengan menggunakan
mortar dan alu yang pertama.
b. Ditambahkan 5 ml isopropil alkohol kedalam mortar tersebut yang berisi
gerusan kol ungu.
c. Kemudian gerusan tadi diaduk dengan menggunakan batang pengaduk.
d. Hasil dari gerusan tadi (filtratnya), kemudian disaring dengan menggunakan
kertas saring yang diletakkan kedalam corong dan ditampung kedalam tabung
reaksi yang pertama.
2. Anggur merah
a. Pertama, anggur merah dipotong kecil-kecil dan digerus dengan menggunakan
mortar dan alu yang kedua.
b. Ditambahkan 5 ml isopropil alkohol kedalam mortar tersebut yang berisi
gerusan anggur merah.
c. Kemudian gerusan tadi diaduk dengan menggunakan batang pengaduk yang
telah dicuci terlebih dahulu bekas mengaduk hasil gerusan kol ungu tadi.
d. Hasil dari gerusan tadi (filtratnya), kemudian disaring dengan menggunakan
kertas saring yang diletakkan kedalam corong dan ditampung kedalam tabung
reaksi yang kedua.
3. Strawberry
a. Pertama, strawberry dipotong kecil-kecil dan digerus dengan menggunakan
mortar dan alu yang pertama yang telah dicuci bersih bekas menggerus kol ungu
tadi.
b. Ditambahkan 5 ml isopropil alkohol kedalam mortar tersebut yang berisi
gerusan strawberry.
c. Kemudian gerusan tadi diaduk dengan menggunakan batang pengaduk yang
telah dicuci bersih terlebih dahulu bekas mengaduk hasil gerusan anggur merah.
d. Hasil dari gerusan (filtratnya) tadi, kemudian disaring dengan menggunakan
kertas saring yang diletakkan kedalam corong dan ditampung kedalam tabung
reaksi yang ketiga.
4. Anggur hitam
a. Pertama, anggur hitam dipotong kecil-kecil dan digerus dengan menggunakan
mortar dan alu yang kedua yang telah dicuci bersih bekas menggerus anggur
merah tadi.
b. Ditambahkan 5 ml isopropil alkohol kedalam mortar tersebut yang berisi
gerusan anggur hitam.
c. Kemudian gerusan tadi diaduk dengan menggunakan batang pengaduk yang
telah dicuci bersih terlebih dahulu bekas mengaduk hasil gerusan strawberry.
d. Hasil dari gerusan (filtratnya) tadi, kemudian disaring dengan menggunakan
kertas saring yang diletakkan kedalam corong dan ditampung kedalam tabung
reaksi yang keempat.

2. Penentuan trayek perubahan warna indikator
a. Telah disiapkan plat tetes yang akan digunakan untuk menampung zat yang
akan ditentukan trayek perubahan warnanya.
b. Kedalam lubang-lubang yang ada di plat tetes, dimasukkan berbagai pH (pH 1-
12) masing-masing sebanyak 5 tetes.
c. Ditambahkan masing-masing kedalam lubang-lubang pada plat tetes tersebut
2 tetes filtrat yang telah diperoleh tadi pada percobaan pembuatan filtrat (filtrat
dari kol ungu, anggur hitam, anggur merah, dan strawberry) dan juga 2 tetes
phenolptalein dan metil merah.
d. Ditentukan trayek perubahan warna yang terjadi pada indikator yang dimiliki.

3. Penentuan pH
a. Telah disiapkan sejumlah bahan, seperti : sabun, pasta gigi, dan minuman coca
cola.
b. Kedalam plat tetes ditempatkan masing-masing 3 tetes bahan-bahan tadi.
c. Ditambahkan 1 tetes indikator metil merah.
d. Ditentukan pH masing-masing bahan tersebut.
e. Diulangi percobaan tadi dengan mengganti metil merah dengan penolptalein.

5. Alat dan bahan yang diperlukan :
a. Alat yang diperlukan :
1. Timbangan
2. Labu ukur 100 ml
3. Beaker glass
4. Labu ukur 1000 ml
5. Gelas ukur
6. Tabung reaksi
7. Mortar dan alu
8. Batang pengaduk
9. Kertas saring
10. Plat tetes
11. Pipet tetes
12. Corong gelas
b. Bahan yang diperlukan :
1. Asam oksalat
2. Aquadest hangat
3. NaOH
4. Aquadest biasa
5. H
2
SO
4
pekat
6. Kol ungu
7. Anggur hitam
8. Anggur merah
9. Strawberry
10. Isopropil alkohol
11. Indikator Fenolftalein
12. Indikator Metil merah
13. Sabun
14. Pasta gigi
15. Minuman ringan bersoda (coca cola)
6. Hasil Pengamatan :
1.A. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat dari 100 ml larutan asam
oksalat 0,1 N (BM=126).
Setelah dihitung menggunakan rumus N = (

) x (

), terdapat 0,63 gram


asam oksalat yang akan ditimbang. Setelah dilakukan pengamatan melalui cara
pembuatannya, asam oksalat lalu berbentuk serbuk agak kasar.
1.B. Pembuatan larutan baku sekunder NaOH 0,01 N sebanyak 100 ml (BM=40).
Setelah dihitung menggunakan rumus N = (

) x (

), terdapat 0,04 gram


NaOH yang akan ditimbang. Setelah dilakukan pengamatan melalui cara
pembuatannya, NaOH lalu berbentuk bulat (setengah lingkaran), dan bersifat
higroskopis. NaOH ini harus ditimbang di kaca arloji.
2. Pengenceran larutan
Pada saat aquadest dan H
2
SO
4
dicampurkan, suhu menjadi naik sehingga
campurannya menjadi hangat. Setelah ditambahkan kedalam tabung reaksi yang
berisi aquadest 5 ml, suhu menjadi tambah naik lagi (lebih hangat/panas), dan
terdapat gelembung-gelembung pada dinding tabung reaksi tersebut. Pada
percobaan ini terjadi reaksi eksoterm.
3.1. Penambahan 5 ml isopropil alkohol kedalam tabung reaksi yang berisi filtrat
dari kol ungu, tabung reaksi yang berisi filtrat dari anggur merah, tabung reaksi
yang berisi filtrat dari strawberry, dan tabung reaksi yang berisi filtrat dari anggur
hitam.



(1). Filtrat kol ungu (2). Filtrat anggur merah


(3). Filtrat strawberry (4). Filtrat kol ungu
Setelah dilakukan pengamatan, kol ungu tetap berwarna ungu, anggur merah
menjadi pink keunguan, strawberry menjadi merah, dan anggur hitam menjadi
merah rukam.
3.2. Penentuan trayek perubahan warna indikator
a. Kol ungu :

pH 1 : pink tua, pH 2 : pink muda, pH 3 : pink pucat, pH 4 : ungu pucat, pH 5 :
ungu lebih pucat dari pH 4, pH 6 : putih keunguan, pH 7 : putih kebiruan, pH 8 :
hijau telur asin, pH 9 : hijau toska, pH 10 : hijau toska muda, pH 11 : hijau muda,
pH 12 : kuning kehijauan.
b. Anggur merah :

pH 1 : pink pucat, pH 2 : pink lebih pucat, pH 3 pH 12 : warnanya tetap, tidak
berubah, sesuai warna pH aslinya.
c. Anggur hitam :

pH 1 pH 3 : pink tua, pH 4 : pink muda, pH 5 : warnanya lebih tua dari warna pH
4, pH 6 : pink pucat, pH 7 : ungu keabuan, pH 8 : abu-abu, pH 9 : hitam keabuan,
pH 10 : biru keabuan, pH 11 : biru keunguan, pH 12 : warnanya lebih tua dari
warna pH 10.
d. Strawberry :

pH 1 dan pH 2 : orange pucat, pH 3 dan pH 4 : orange muda pucat, pH 5 : orange
lebih keputih-putihan, pH 6 : warnanya tetap sesuai warna pH aslinya, pH 7 :
orange kecokelatan, pH 8 : orange gelap kecokelatan, pH 9 : putih kecokelatan,
pH 10 : cokelat muda, pH 11 : cokelat terang, pH 12 : cokelat gelap.
e. Metil merah :

pH 1 pH 3 : pink tua, pH 4 : pink agak muda, pH 5 : orange tua, pH 6 : kuning
pucat, pH 7 dan pH 8 : kuning terang, pH 9 : kuning kurang terang, pH 10 : kuning
gelap, pH 11 : kuning kurang terang, pH 12 : kuning tua.
f. Penolptalein :

pH 1 pH 7 : warnanya tetap sesuai warna pH aslinya, pH 8 pH 12 : warna
pinknya dari pink muda ke pink tua.
3.3. Penentuan pH pada sabun, pasta gigi, dan coca cola.

( Kedalam plat tetes baris pertama ditambahkan metil merah kedalam sabun,
cola, dan pasta gigi. Kedalam plat tetes baris kedua ditambahkan phenolptalein
kedalam sabun, cola, dan pasta gigi ).
Pada saat ditambahkan metil merah, sabun menjadi berwarna orange, pasta gigi
menjadi berwarna kuning, dan coca cola menjadi berwarna merah marun.
Pada saat ditambahkan penolptalein, sabun menjadi berwarna putih keunguan,
pasta gigi menjadi berwarna putih keunguan, dan coca cola menjadi berwarna
cokelat muda.
Pada saat ditambahkan metil merah dan ditambahkan phenolptalein pada plat
tetes yang berbeda, sabun memiliki pH sebesar 10 dan bersifat basa, pasta gigi
memiliki pH sebesar 8 dan bersifat basa, sedangkan coca cola bersifat asam.
7. Pembahasan :
1. A. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat dari 100 ml larutan asam
oksalat 0,1 N (BM=126).
Melalui hasil pengamatan, asam oksalat (H
2
C
2
O
4
) berbentuk serbuk agak kasar.
Mengapa BE asam oksalat sama dengan setengah dari BMnya ? Karena ion H
+

dari asam oksalat memiliki ekivalen 2 setelah disetarakan dengan ion C
2
O
4
2-

dengan persamaan reaksinya adalah H
2
C
2
O
4
2H
+
+ C
2
O
4
2-
. Rumus dari BE =

,
karena Mr atau BMnya sama dengan 126, maka BE =

BM =

126.
1. B. Pembuatan larutan baku sekunder NaOH 0,01 N sebanyak 100 ml (BM=40).
Melalui hasil pengamatan, NaOH berbentuk bulat (agak setengah lingkaran) dan
bersifat higroskopis. Higroskopis adalah sifat dari suatu zat yang dapat menyerap
air di udara. Sifat ini dimiliki oleh NaOH. Oleh karena itu, NaOH dapat digunakan
sebagai larutan baku sekunder dan dalam proses titrimetri NaOH digunakan
sebagai pereaksi. Dan juga NaOH mudah sekali untuk bereaksi dengan CO
2
yang
menyebabkan NaOH tidak murni lagi. Mengapa BE NaOH sama dengan BMnya ?
Karena ion Na
+
dari NaOH memiliki ekivalen 1 setelah disetarakan dengan ion
OH
-
dengan persamaan reaksinya adalah NaOH Na
+
+ OH
-
. Karena BMnya
adalah 40, maka BE =

= 40. Jadi, BE NaOH sama dengan BMnya.


2. Pengenceran larutan
Berdasarkan hasil pengamatan, suhu menjadi naik (menjadi hangat) pada saat
pencampuran aquadest dengan H
2
SO
4
. Dan menjadi lebih hangat/panas lagi
pada saat campuran tadi dituangkan kedalam tabung reaksi yang berisi aquadest
5 ml dan terdapat gelembung-gelembung gas pada dinding tabung reaksi
tersebut. Pada percobaan ini terjadi reaksi eksoterm. Yaitu reaksi kimia yang
menghasilkan kalor. Pada reaksi ini terjadi perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan, sehingga lingkungan menjadi lebih panas. Lingkungan disini adalah
keadaan tabung reaksinya. Kalor yang ada di sistem pun menjadi berkurang.
3.1. Penambahan 5 ml isopropil alkohol kedalam tabung reaksi yang berisi filtrat
dari kol ungu, tabung reaksi yang berisi filtrat dari anggur merah, tabung reaksi
yang berisi filtrat dari strawberry, dan tabung reaksi yang berisi filtrat dari anggur
hitam.
Filtrat dari kol ungu, anggur merah, strawberry, dan anggur hitam dapat
digunakan sebagai indikator alam. Indikator alam adalah indikator yang
berbahan dasar dari alam. Syarat indikator alam adalah mempunyai warna yang
mencolok. Indikator alam mempunyai kelemahan yaitu tidak bisa digunakan
dalam waktu yang lama karena bisa rusak. Isopropil alkohol yang ditambahkan
pada setiap filtrat tadi merupakan suatu zat yang bersifat semi polar. Yaitu zat
yang bisa menarik senyawa polar dan non polar.
3.2. Penentuan trayek perubahan warna indikator
Kol ungu, anggur merah, strawberry, dan anggur hitam merupakan contoh
indikator alam. Merupakan indikator yang mudah rusak dan tidak tahan lama. pH
1-12 warnanya berubah sesuai penempatan indikatornya. Phenolptalein dan
metil merah merupakan salah satu contoh indikator buatan. Indikator buatan
bisa digunakan dalam waktu yang lama. Indikator buatan juga dapat dignakan
dalam proses titrasi. Metil merah dalam suasana lingkungan asam, akan
berwarna merah. Dalam suasana lingkungan netral akan berwarna kuning. Dalam
suasana lingkungan basa akan berwarna kuning juga. Phenolptalein dalam
suasana lingkungan asam tidak menghasilkan warna (tetap bening sesuai warna
aslinya). Dalam suasana lingkungan netral juga tidak menghasilkan warna (warna
tetap bening). Dalam suasana lingkungan basa akan berwarna merah.
3.3. Penentuan pH pada sabun, pasta gigi, dan coca cola.
Metil merah diteteskan pada sabun yang bersifat basa akan berwarna orange
dan mempunyai pH 10. Ini dikarenakan metil merah dengan pH diatas 7
warnanya akan menjadi orange hingga kuning. Metil merah diteteskan pada
pasta gigi yang bersifat basa akan berwarna kuning dan mempunyai pH 8. Ini juga
dikarenakan metil merah dengan pH diatas 7 warnanya akan menjadi kuning.
Metil merah diteteskan pada coca cola yang bersifat asam akan berwarna merah
marun. Hal ini dikarenakan metil merah pada suasana asam akan berwarna
merah. Warna transisi dari metil merah adalah orange.
Phenolptalein diteteskan pada sabun yang bersifat basa akan berwarna putih
keunguan dengan pH 10. Sedangkan phenolptalein dalam suasana basa akan
berwarna merah. Mengapa menjadi warna putih keunguan ? Ini disebabkan oleh
adanya faktor lain yang mempengaruhi kerja indikator tersebut. Seperti
membersihkan plat tetesnya kurang bersih, sehingga masih menyimpan zat-zat
yang sebelumnya. Hal inilah yang harus dicermati oleh seluruh praktikan agar
kinerja di laboratorium bisa berjalan lancar.
Mengapa sabun bersifat basa ? Ini disebabkan oleh sabun adalah garam alkali
dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena
itulah larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH
Mengapa pasta gigi bersifat basa ? Hal ini disebabkan oleh pasta gigi terbuat dari
KOH yang bersifat basa. Pasta gigi akan bersifat menetralkan dalam mulut untuk
membunuh kuman yang menyebabkan gigi rusak dan bau mulut.
Mengapa coca cola bersifat asam ? Ini dikarenakan coca cola mengandung
senyawa asam fosfat dan asam sitrat yang bersifat asam yang apabila dikonsumsi
terus menerus akan merusak ginjal dan melemahkan tulang.
8. Jawaban pertanyaan :
1. Berapa gram asam oksalat yang harus ditimbang untuk membuat 50 ml
larutan asam oksalat 2 N ?
Jawab : N = (

) x (

)
2 = (


) x (

)
20 g = 126
g = 6,3 gram
2. Berapa gram NaOH yang harus ditimbang untuk membuat 100 ml larutan
NaOH 0,1 N ?
Jawab : N = (

) x (

)
0,1 =


g = 0,4 gram
3. Berapa volume HCl pekat yang harus diambil untuk mendapatkan 10 ml HCl 2
N ?
Jawab : V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 12 N = 10 x 2 N
12 V1 = 20
V1 = 1,67 ml
9. Kesimpulan :
Dari hasil percobaan indikator dan larutan tersebut, akhirnya dapat dikuasai
prinsip dan prosedur pembuatan dan pengenceran suatu larutan serta dapat
memahami prinsip perubahan warna pada indkator pH. Dalam menentukan pH
digunakan beberapa indikator, karena setiap indikator mempunyai trayek
perubahan warna yang berbeda.
10. Daftar pustaka :
1. Danny.2011.Larutan Baku atau Larutan Standar.
http://artikelteknikkimia.com/2011/12/larutan. Diakses tanggal 26 Oktober
2012.
2. Chang,Raymond.Kimia Dasar.Ketiga/1.Erlangga.2005.
3. Lansida.2010.Pengenceran Larutan.
http://Lansida.wordpress.com/2010/10/pengenceran_larutan.html. Diakses
tanggal 26 Oktober 2012.
4. Safrizal,Rino.2009.Indikator Asam Basa.
http://www.Jejaringkimia.web.id/2009/12/Indikator_asam_basa.html.
5. Tim Asisten Laboratorium Kimia Farmasi.2012.Buku Penuntun Praktikum Kimia
Dasar Famasi.Bandung:Universitas Islam Bandung.
6. Anonim.2009.Indikator pH. Diakses tanggal 23 november 2012.
http://jejaringkimia.blogspot.com/indikator-asam-basa.html.
7. Anonim.Metil Merah. Diakses tanggal 23 November 2012.
http://belajarkimia.com/kamuskimia/metil-merah-methyl-red.

8. Andi.Fenolftalein. Diakses tanggal 23 November 2012.
http://andykimia03.wordpress.com/tag/fenolftalein/
9. Purba,Michael.2004.KIMIA untuk SMA KELAS XI 2B.Jakarta:Erlangga.
10. Purba, Michael.2007.KIMIA UNTUK SMA KELAS XI.Jakarta:Erlangga.