Anda di halaman 1dari 1

Daftar Pustaka:

Etika Enjiniring (Ed. ke-2), Bab 1: Pendahuluan, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006
Hubungan dan Pengertian Etik, Etika, Etiket dan Moral
Dibuat oleh Tiffany Patra, 0906518776

Ketika kita mendengar kata etika maka langsung ikut bermunculan kata-kata lain
seperti etiket, etik, moral serta tentu saja akhlak bahkan agama, tetapi sedikit diantara
kita yang mengerti dan mengetahui akan arti, perbedaan, serta hubungan diantara kata-
kata tersebut. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit memperjelas hubungan diantara etik,
etika, etiket dan moral.
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu diperhadapkan pada pengambilan
keputusan baik itu dalam skala pribadi maupun organisasi. Ketika kita mengambil
sebuah keputusan yang bersangkutan dengan orang lain maka diperlukan suatu hal
untuk mengarahkan kita pada keputusan yang dianggap baik dan tepat, dan disanalah
kita bertemu dengan kata etika dan etik dan etiket.
Etika merupakan ilmu yang berkenaan tentang karakteristik moral, termasuk
juga di dalamnya pilihan moral yang dibuat oleh tiap orang dalam hubungannya dengan
orang lain, dan etik merupakan nilai mengenai moral yang dianut oleh suatu
masyarakat. Kedua kata ini bersifat umum dan tidak spesifik. Sedangkan ketika kita
berbicara mengenai penuntun tata cara berprilaku yang spesifik dalam suatu kebudayaan
tertentu antar individu dengan individu lainnya maupun dengan suatu kelompok
tertentu, maka kita berbicara mengenai etiket. Sebagai contoh, etika mengajarkan kita
untuk senantiasa sopan ketika betemu dengan orang lain, sedangkan panduan etiket
budaya barat adalah bersalaman tangan sambil menempelkan pipi ketika bertemu
dengan orang lain yang tidak dapat diterapkan di timur karena tidak sesuai dengan
budaya timur.
Seperti telah dibahas sebelumnya ketiga kata tersebut bersumber pada moral
yang merupakan suatu tuntuan kepatutan dan kepantasan tata nilai baik-buruk atau
benar-salah universal yang tidak/belum terlembaga secara formal. Termasuk di dalam
moral adalah kewajiban, hak serta sanksi sosial yang bersifat tidak mengikat,
berlawanan dengan sumber panutan lainnya seperti hukum yang sudah terlembaga dan
sifatnya mengikat.