Anda di halaman 1dari 10

Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang yang harus diberikan sejajar pada

permukaan zat cair untuk mengimbangi besarnya gaya kohesi antar molekul di dalam zat cair
terhadap molekul sejenisnya di permukaan. Fenomena tegangan permukaan terjadi bila di dalam
zat cair, molekul-molekul zat cair tersebut dikelilingi oleh molekul lainnya yang sejenis dari
segala arah sehingga gaya tarik-menarik molekul sejenisnya (kohesi) sama besar. Akan tetapi
terdapat gaya tolak menolak antara zat cair dengan udara (adhesi) di atas permukaan zat cair.
Menurut pengamatan, gaya adhesi lebih kecil daripada gaya kohesi sehingga zat cair cenderung
lebih tertarik ke arah dalam. Tegangan permukaan bekerja untuk mengimbangi gaya kohesi
tesebut. Simbol yang digunakan untuk tegangan permukaan adalah dan satuannya adalah
dyne.cm
-1
.
Tegangan antar permukaan adalah tegangan pada antar permukaan dua cairan yang tidak
bercampur atau tidak larut satu sama lain atau antara permukaan zat padat dengan cairan.
Tegangan antar permukaan akan selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan. Hal ini
disebabkan besarnya gaya adhesi antara zat cair dengan udara pada tegangan permukaan akan
selalu lebih kecil daripada gaya adhesi antara dua zat cair yang tidak saling bercampur.
Tegangan antar permukaan dapat dianggap nol atau tidak ada apabila kedua lautan tersebut
bercampur dan larut dengan sempurna. Semakin larut campuran zat cair, tegangan antar
permukaannya semakin kecil.

Tegangan permukaan dapat pula didefinisikan sebagai perubahan energi bebas permukaan
per satuan luas sesuai persamaan
W = A
di mana W adalah kerja yang dilakukan atau kenaikan energy bebas permukaan yang
dinyatakan dalam erg, adalah tegangan permukaan dalam dyne/cm dan A adalah kenaikan
luas dalam cm
2
.
Tegangan permukaan dan tegangan antar permukaan dapat ditentukan dengan berbagai
metode. Dalam percobaan kali ini, tegangan permukaan air, minyak kacang, tegangan antar
permukaan air-minyak minyak serta penentuan KMK Crillet 3 atau Tween 60 ditentukan dengan
metode Cincin DuNouy.
Prinsip pengukuran tegangan dengan metode cincin Du Nouy (dikenal dengan nama Dunouy
Tensiometer) adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan sebuah cincin platinum iridium
yang dicelupkan pada permukaan cairan sebanding dengan tegangan permukaan cairan tersebut.
Pada metode ini, digunakan suatu cincin yang terbuat dari bahan platina. Penggunaan bahan
platina dikarenakan sifat platina yang tidak terlalu bersifat hidrofilik maupun lipofilik sehingga
gaya adhesi antara cincin dan senyawa yang diukur dapat diminimalisasi dan hasil pengukuran
cukup menggambarkan kondisi tegangan permukaan yang sesungguhnya dari cairan sampel.
Besarnya nilai tegangan permukaan atau antar permukaan diperoleh pada saat sebelum lamela
yang terbentuk pada cincin platina pecah. Prosesnya digambarkan pada diagram berikut:

1. Cincin berada di atas
permukaan zat cair, gaya dianggap
nol.
2. Cincin mulai menyentuh
permukaan, gaya sedikit positif
menunjukkan gaya adhesi antara
cincin dan permukaan.
3. Cincin harus sedikit
didorong melalui permukaan yang
menyebabkan gaya sedikit negatif.
4. Cincin masuk melewati
permukaan dan gaya yang terukur
sedikit positif berasal dari kawat
penopang cincin.
5. Ketika cincin mulai terangkat menuju permukaan, gaya yang terukur mulai naik.
6. Gaya masih tetap naik.
7. Gaya maksimum tercapai.
8. Setelah gaya maksimum tercapai, terjadi sedikit penurunan gaya hingga lamela pecah.
Perhitungan tegangan permukaan atau tegangan antar permukaan menggunakan teknik ini
berdasarkan pada pengukuran gaya maksimum. Faktor koreksi diperlukan karena ada variabel-
variabel tertentu yang tidak dapat diabaikan, yaitu:
- Jari-jari cincin
- Jari-jari kawat pembentuk cincin
- Volume zat cair yang terangkat dari permukaan pada saat cincin ditarik ke atas
Tegangan permukaan:
=


x
= faktor koreksi
Selain menggunakan Cincin Du Nouy, tegangan permukaan dapat juga ditentukan oleh
berbagai metode lainnya yaitu :
1. Metode Kenaikan Kapiler
Apabila suatu pipa kapiler ditempatkan di dalam suatu cairan dalam gelas piala, cairan ini
biasanya naik ke atas pipa sampai suatu jarak tertentu. Hal ini terjadi bila gaya adhesi antar
molekul cairan dengan dinding kapiler lebih besar dari gaya kohesi antar molekul cairan. Cairan
ini dikatakan membasahi dinding kapiler, menyebar diatasnya dan naik dalam pipa.
Metode ini hanya dapat digunakan untuk menentukan tegangan permukaan suatu zat cair
dan tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak
bercampur.

Komponen gaya keatas akibat tegangan permukaan
adalah a = cos
Keliling penampang dalam kapiler adalah 2 r
Jika sudut kontak antara permukaan zat dengan
dinding kapiler = , maka total gaya keatas di
bagian dalam = 2 r cos
Untuk air dan zat cair lain yang dapat mmbasahi dinding kapiler, sudut kontak kecil, cos = 1
Gaya ke bawah yaitu gaya berat adalah:
r
2
(
1
-
0
) hg+ w
h : tinggi kenaikan zat cair di dalam pipa kapiler

1
: bobot jenis cairan

0
: bobot jenis uap
g : gaya gravitasi
w : berat bagian sebelah atas dari miniskus
Bila zat cair mencapai tinggi maksimum, maka gaya ke atas = gaya ke bawah. Dalam hal
ini bobot jenis uap, sudut kontak, dan w dapat diabaikan sehingga diperoleh persamaan:
2 r = r
2

1
hg
Atau =

rhg
2. Metode Pendant drop
Cairan diinjeksikan menggunakan jarum sehingga membentuk tetesan pada ujung jarum.
Tetesan diamati secara optik dan tegangan permukaan dihitung berdasarkan bentuk dari tetesan.
Untuk tensiometer yang menggunakan metode ini diperlukan instrumen yang dikontrol oleh
komputer.


= . g . R
0
2
/
= tegangan permukaan
= perbedaan kerapatan
antara cairan pada antar permukaan
g = konstanta gravitasi
R
0
= jari-jari lekukan cairan
pada bagian apeks
3. Metode Spinning drop
Metode ini
digunakan ketika tegangan permukaan yang akan diukur sangat kecil
sehingga tensiometer yang telah dijelaskan sebelumnya tidak dapat
menghitungnya. Pada metode ini sejumlah kecil sampel diinjeksikan pada sebuah tabung
bersama cairan lain. Tabung kemudian diputar pada kecepatan tinggi dan tegangan antar
permukaan dihitung dari kecepatan angular dan bentuk dari tetesan.

4. Metode Bubble drop
5.
Pada metode ini, tabung kapiler pertama-tama dicelupkan pada cairan
sampel. Kemudian, aliran udara yang konstan dilewatkan melalui
tabung sehingga membentuk gelembung pada cairan.
Tekanan yang diperlukan untuk membentuk gelembung diukur dan
tegangan permukaan dari cairan dihitung dari perbedaan tekanan antara
bagian dalam gelembung dan bagian luar gelembung serta jari jari
gelembung. Namun, batas pengukuran alat ini terbatas dan pembersihan sistemnya sulit sehingga
menyebabkan deviasi.

5. Metode Wihelmy
Metode ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan statik dan tegangan
antar permukaan dari zat cair dengan cara melepaskan lempeng tipis kaca platina. Dalam metode
ini diasumsikan bahwa sudut kontak lempeng dengan zat cair adalah 0, maka :
W
total
= W
lempeng
+ p
Dan tegangan permukaannya dihitung dengan cara :
cos =
1
/
p
W
Dimana :
W = berat lempeng
p = perimeter (garis keliling) lempeng

6. Metode Sraug
Tegangan permukaan dan tegangan antar permukaan antara dua cairan dapat diukur
menggunakan alat Stalagmometer Traube. Tetesan dari alat tersebut dibiarkan jatuh kedalam
wadah penampung kemudian ditentukan berat per tetesan.
Besar tegangan permukaan ditentukan menggunakan rumus :



Beberapa faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan antara lain :
1. Suhu
Suhu dan tegangan permukaan memiliki hubungan yang linear. Bila suhu dinaikkan maka
tegangan permukaan akan menurun. Hal ini disebabkan energi kinetik dalam larutan akan
meningkat. Energi kinetik yang meningkat akan memperkecil gaya kohesi karena suatu molekul
akan cenderung lebih bergerak bebas.
2. Zat terlarut
Garam anorganik menaikkan tegangan permukaan zat cair karena gaya tarik menarik
antarmolekul zat terlarut dengan pelarut lebih besar daripada gaya tarik menarik antarsesama
molekul pelarut sehingga konsentrasi zat terlarut di permukaan lebih kecil daripada konsentrasi
di dalam larutan. Sedangkan garam organik akan menurunkan tegangan permukaan karena pada
umumnya akan teradsorpsi pada antar permukaan.
3. Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) atau zat aktif permukaan, merupakan suatu zat yang
molekulnya memiliki sisi polar (hidrofilik) dan sisi nonpolar (hidrofobik). Pada konsentrasi yang
rendah, surfaktan akan terkumpul di permukaan cairan membentuk lapisan monomolekular
dengan bagian hidrofobik menghadap ke udara dan bagian hidrofilik menghadap ke air. Adanya
lapisan monomolekular ini akan menurunkan tegangan permukaan cairan Bila konsentrasi
surfaktan di permukaan telah jenuh, tegangan permukaan tidak dapat diturunkan lagi, dan
molekul surfaktan akan turun dan membentuk agregat dengan molekul-molekul yang ada dalam
cairan. Agregat ini disebut misel sedangkan konsentrasi saat misel terbentuk disebut konsentrasi
misel kritik (KMK). Misel dapat meningkatkan kelarutan suatu zat nonpolar dalam pelarut polar
atau sebaliknya melalui suatu peristiwa solubilisasi miselar. Molekul polar akan teradsorpsi di
permukaan misel, sedangkan molekul nonpolar akan masuk ke baian nonpolar. Molekul
semipolar akan masuk ke daerah palisade di permukaan dan membentuk misel campuran. Salah
satu contoh surfaktan yang dipakai pada percobaan kali ini adalah Tween 40 yang mempunyai
nama IUPAC yaitu polyoxyethylene sorbitan monopalmitate.


Gambar 2. Pembentukan Misel


Gambar 3. Misel


Gambar 4. Tween-60
Manfaat fenomena tegangan antar muka dalam farmasi antara lain dalammempengaruhi penyerapan obat
pada bahan pembantu padat pada sediaan obat,penetrasi molekul melalui membrane biologis dan pembentukan
dan kestabilanemulsi dan dispersi partikel tidak larut dalam media cair untuk membentuk sediaansuspensi
(Giancoli, 2001).
Sifat antar muka atau tegangan permukaan suatu cairan penting untuk membuat emulsi, gelataukrem.
Banyak obat yang dibuat dalam bentuk emulsi danuntuk bisa mempertahankan emulsi ini hingga saatnya
dikonsumsi, tentu sajadiperlukan pengetahuan tentang teori pembuatan emulsi. Demikian pula untuk gelatau krem
sehingga gel atau krem tidak mencair pada saat dikemas dan tidak berjamur karena lembab maka diperlukan
Senyawa pengatur tegangan muka ataukoloid pelindung sebagai penstabil koloid (Widjajanti, Endang, 2009).
Pada percobaan ini dilakukan penentuan nilai tegangan permukaan air dan tegangan
permukaan minyak kacang serta tegangan antar permukaan antara air dan minyak kacang dengan
metode Cincin Du Nouy. Nilai tegangan permukaan air yang diperoleh adalah 39,74317 mN.m-1
tidak sesuai dengan tegangan permukaan air pada literatur yakni 72 mN/m pada suhu 25
o
C ,
besar tegangan permukaan minyak kacang yang diperoleh dari percobaan 30,75313 mN.m
-1

setelah dikalikan dengan faktor koreksi dan tegangan antar permukaan air dan minyak kacang
yakni sebesar 18,68064 mN.m
-1
.
Air memiliki tegangan permukaan yang lebih besar dari tegangan permukaan minyak
kacang karena pada molekul air gaya kohesi diperkuat dengan ikatan hidrogen, sementara pada
minyak kacang struktur molekulnya merupakan rantai C golongan alkana sehingga gaya antar
molekul yang dimilikinya hanya gaya Van Der Waals yang kekuatan ikatannya lebih rendah
dibandingkan ikatan hidrogen.
Tegangan antar permukaan air dan minyak kacang hasil pengamatan mempunyai nilai yang
lebih kecil dibandingkan dengan nilai tegangan permukaan kedua komponennya (air dan minyak
kacang). Hal tersebut terjadi karena gaya adhesi antara air dan minyak jarak lebih tinggi
dibandingkan gaya kohesi air dengan udara atau minyak kacang dengan udara. Meningkatnya
gaya adhesi tersebut meningkatkan interaksi antar molekul sehingga menimbulkan tegangan
antar permukaannya yang bernilai lebih kecil dari tegangan permukaan.
Pada percobaan ini juga dilakukan penentuan konsentrasi misel kritis (KMK) dari
surfaktan Tween 60. Penentuan KMK tersebut dengan cara membuat grafik tegangan permukaan
terhadap konsentrasi surfaktan (Tween 60). KMK terjadi ketika penambahan konsentrasi
surfaktan sudah tidak merubah nilai tegangan permukaan atau ketika kurva mulai mendatar.
Kurva tegangan permukaan terhadap konsentrasi surfaktan menurut literatur adalah:










KMK
Berdasarkan grafik di atas nilai tegangan permukaan akan semakin kecil seiring dengan
bertambahnya konsentrasi surfaktan hingga dicapai KMK dimana nilai tegangan surfaktan sudah
tidak berubah lagi atau membentuk garis lurus pada kurva. Pada percobaan ini, terlihat bahwa
semakin tinggi konsentrasi surfaktan yang diberikan pada suatu zat cair, maka semakin kecil
nilai tegangan permukaannya namun tegangan permukaan meningkat lagi pada konsentrasi 0,8
mg/100 ml dan mendekati konstan lalu turun kembali dan konstan lagi.
Menurut literatur, KMK Tween 60 dicapai saat konsentrasinya adalah 0.025 mM dan dari
hasil percobaan setelah dikonversi maka didapat KMK pada rentang 0,0061 - 0,0,0152 mM.
Nilai KMK Tween 60 berdasarkan literatur tidak berada pada rentang hasil percobaan. Hasil
yang diperoleh pada percobaan menunjukkan bahwa tegangan permukaan yang diperoleh
mengalami kenaikan dan penurunan, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
pada saat titik KMK telah tercapai maka tegangan permukaan tidak akan turun lagi.
Ketidaksesuaian dengan teori ini kemungkinan disebabkan karena kesalahan pengenceran akibat
terbentuknya busa. Terbentuknya busa menyebabkan pembacaan skala pada labu takar menjadi
kurang akurat karena busa tersebut berada pada permukaan dan menghalangi skala pada labu
takar. Selain itu cincin Du Nouy yang digunakan tidak berbentuk bulat sempuran yang
mempengaruhi tegangan permukaan yang terukur kurang akurat. Hal tersebut juga dipengaruhi
oleh suhu ruang praktikum yang tidak sesuai kondisi yang telah ditentukan (25
o
C).

Martin, A.N., J.Swarrick, A. Cammarata, Physical Pharmacy, 5
th
ed., Lea & Febiger,
Philadelphia, 2006, p.922-958
http://www.scribd.com/doc/110425821/tegangan-permukaan-ismayanii diakses tangga 1 maret
2014 pukul 19.00
ffarmasi.unand.ac.id/RPKPS/Bahan_Ajar/Deni N/Materi Ajar Farmasi Fisika II.pdf diakses
tanggal 1 maret 2014 pukul 19.10
http://openwetware.org/wiki/Critical_micelle_concentration_%28CMC%29 diakses tanggal 1
maret 2014 pukul 19.25
C
http://www.nature.com/nprot/journal/v2/n11/fig_tab/nprot.2007.426_T1.html diakses tanggal 1
maret 2013 pukul 19.35

Anda mungkin juga menyukai