Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan
menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara
Indonesia sepanjang jaman.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum
merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan
untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi
tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum, yang dikembangkan dengan
berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk
mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan
proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia
terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum
berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan
nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan komponen- komponen pengembangan kurikulum 2013 !
2. Jelaskan prinsip pengembangan kurikulum 2013 !
3. Jelaskan Landasan Yuridis Formal Kurikulum 2013 !
4. Jelaskan Implementasi Ktsp Kurikulum 2013 !
5. Jelaskan model pengembangan Ktsp Kurikulum 2013 !
6. Apa saja Kendala / Hambatan KTSP / K13 ?
7. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum 2013 !

2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Komponen Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial,
olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan
di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam
segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan
pendidikan (Dr. Addamardasyi dan Dr. Munir Kamil).

Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai
tujuan pendidikan. Dalam hal ini, berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum
memiliki komponen-komponen penting dan sebagai penunjang yang dapat
mendukung operasinya secara baik. Komponen-komponen pembentuk ini satu sama
lainnya saling berkaitan. Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum,
yaitu komponen tujuan, komponen isi, komponen metode, dan komponen evaluasi.
Komponen satu sama lain ini saling berkaitan.

Adapun uraian dari masing-masing komponen tersebut ialah sebagai berikut:
1. Komponen Tujuan
Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang
berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari
3

kurikulum yang akan dijalankan. Dengan membuat tujuan yang pasti, hal
tersebut akan membantu dalam proses pembuatan kurikulum yang sesuai dan
juga membantu dalam pelaksanaan kurikulumnya agar tujuan yang diharapkan
dapat tercapai.
Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
a. Tujuan Pendidikan Nasional
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional
dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
b. Tujuan Institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga
pendidikan. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa
tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan
sebagai berikut.
1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai
dengan kejuruannya.


4

c. Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi
atau mata pelajaran.
d. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat
didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah
mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu
kali pertemuan.
2. Komponen Isi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik
dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum
meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program dari masing-
masing bidang studi tersebut.
3. Komponen Metode
Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup penting
karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum tersebut
menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang diharapkan dapat
tercapai atau tidak. Dalam prakteknya, seorang guru seyogyanya dapat
mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan berbagai
strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya
secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi.
Pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum
yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan
yang ingin dicapai.
4. Komponen Evaluasi
Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa
tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui
kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas,
evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara
keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria.
Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum yang
berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah
5

dibuat itu tercapai atau tidak. Selain itu, dengan melakukan evaluasi, kita dapat
mengetahui apabila ada kesalahan pada materi yang diberikan atau metode yang
digunakan dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil
dari evaluasi tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki
kesalahan yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang
sudah baik atau berhasil.

B. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan
daftar mata pelajaran.
2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang
pendidikan, dan program pendidikan.
3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan
kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan
keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran.
4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan
pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan
Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning)
sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat.
6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta lingkungannya. Kurikulum dikembangkan
berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif
dalam belajar.
7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran
bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni berkembang secara
dinamis..
8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan.
6

9. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
10. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan
kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki
pencapaian kompetensi

C. Landasan Yuridis Formal Kurikulum 2013
Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan
terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda
bangsanya. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang
memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya
dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan
kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan
bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang
didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang
pendidikan.
Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang
Dasar 1945, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, dan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006
tentang Standar Isi.

D. Implementasi Kurikulum 2013
a. Implementasi Kurikulum
Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan
pemerintah daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
1. Pemerintah bertanggungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala
sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
7

2. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan
kurikulum secara nasional.
3. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan
evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
4. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan
profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum
di kabupaten/kota terkait.

Strategi Implementasi Kurikulum terdiri atas:
1. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:
- Juli 2013: Kelas I, IV, VII, dan X
- Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
- Juli 2015: kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
2. Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dari tahun 2013 2015
3. Pengembangan buku siswa dan buku pegangan guru dari tahun 2012 2014
4. Pengembangan manajemen, kepemimpinan, sistem administrasi, dan
pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA dan
SMK, dimulai dari bulan Januari Desember 2013
5. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan
kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013
2016
b. Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan/PTK
Pelatihan PTK adalah bagian dari pengembangan kurikulum. Pelatihan PTK
disesuaikan dengan strategi implementasi yaitu: Tahun pertama 2013 sampai
tahun 2015 ketika kurikulum sudah dinyatakan sepenuhnya
diimplementasikan.
c. Pengembangan Buku Siswa dan Pedoman Guru
Implementasi kurikulum dilengkapi dengan buku siswa dan pedoman guru
yang disediakan oleh Pemerintah. Strategi ini memberikan jaminan terhadap
kualitas isi/bahan ajar dan penyajian buku serta bahan bagi pelatihan guru
dalam keterampilan melakukan pembelajaran dan penilaian pada proses serta
hasil belajar peserta didik.
8

Pada bulan Juli 2013 yaitu pada awal implementasi Kurikulum 2013 buku
sudah dimiliki oleh setiap peserta didik dan guru.
Ketersediaan buku adalah untuk meringankan beban orangtua karena
orangtua tidak perlu membeli buku baru.
d. Evaluasi Kurikulum
Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut:
Jenis Evaluasi:
Formatif sampai tahun Belajar 2015-2016
Sumatif: Tahun Belajar 2016 secara menyeluruh untuk menentukan
kelayakan ide, dokumen, dan implementasi kurikulum.
Evaluasi pelaksanaan kurikulum diselenggarakan dengan tujuan untuk
mengidentifikasi masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala
sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada
setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah
kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran.
1. Evaluasi dilakukan di akhir tahun ke II dan ke V SD, tahun ke VIII SMP
dan tahun ke XI SMA/SMK. Hasil dari evaluasi digunakan untuk
memperbaiki kelemahan hasil belajar peserta didik di kelas/tahun
berikutnya.
2. Evaluasi akhir tahun ke VI SD, tahun ke IX SMP, tahun ke XII
SMA/SMK dilakukan untuk menguji efektivitas kurikulum dalam
mencapai Standar Kemampuan Lulusan (SKL).


E. Model Pengembangan Kurikulum 2013
1. Definisi model pengembangan kurikulum
Model pengembangan kurikulum merupakan berbagai model dalam
pengembangan kurikulum dimana yang didalamnya berisi berbagai hal tentang
alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan
(impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Oleh karena
itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses
9

sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan
standar keberhasilan dalam pendidikan.

2. Macam macam model pengembangan kurikulum 2013
a. The administrative model
The administrative model atau line staff adalah pengembangan
kurikulum yang pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat
keputusan atau kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum.
b. The grass roots model
Model pengembangan grass roots ini merupakan lawan dari model
adminitratif. Inisiatif dan pengembangan kurikulum model yang pertama, yang
digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat
sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem
pendidikan yang bersifat desentralisasi.
c. Beauchamps system
Model pengembangan kurikulum beauchamps system, dikembangkan
oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum, dan beliau mengemumakan lima hal
dalam pengembangan kurikulum:
1. Menetapkan arena atau lingkup wilayah.
2. Menetapkan personalia.
3. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum.
4. Implementasi kurikulum. (melaksanakan kerikulum)
5. Evaluasi kurikulum.
d. The demonstration model
Model pengembangan kurikulum idenya datang dari bawah (Grass Roots).
e. Rogers interpersonal relations model.
Menurut Rogers manusia berada dalam proses perubahan (becoming,
developing, changing) yang mempunyai kekuatan dan potensi untuk
berkembang sendiri.
f. Model Hilda Taba
Hilda Taba mengikuti cara pengembangan kurikulum yang berlaku secara
umum yang mengikut langkah-langkah sebagai berikut:
10

1. Menentukan tujuan pendidikan
2. Menseleksi pengalaman belajar
3. Organisasi bahan kurikulum dan legiatan belajar
4. Evaluasi hasil kurikulum

3. Model Perkembangan Kurikulum di Indonesia
a) Kurikulum tahun 1964
Bersifat tradisonal yaitu pendidikan dan pengajaran dimaksudkan untuk
memberi pelajaran kepada siswa.
b) Kurikulum tahun 1968
Mata pelajaran PAI yang awalnya masuk dalam pelajaran budi pekerti pada
tahun 1968 resmi menjadi mata pelajaran sendiri yakni mata pelajaran PAI
karna PKI dibubarkan, sehingga lebih mengarah kepada Pancasila sebagai
dasar Negara RI.
c) Kurikulum tahun 1975
Adanya kurikulum yang mengajarkan bahwa pembelajran harus
memperhatikan lingkungan yang ada disekitar dimana tempat pembelajaran
dilaksanakan. Kurikulum 1975 mulai mengenal PPSI(Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional)
d) Kurikulum tahun 1984
Pola pembelajaran dua arah yakni siswa ikut aktif dalam mempelajari mata
pelajaran tertentu. Kurikulum 1984 mengenal adanya sistem semester untuk
jenjang SMP dan SMA sedangkan SD catur wulan (cawu).
e) Kurikulum tahun 1994
Ada pengembangan kurikulum pada tahun 1994 yakni:
1. Adanya penerapan muatan lokal
2. Konsep link dan match (keterkaitan dan kesepadanan) antara penddikan
dengan dunia kerja.
3. Peningkatan wajib belajar yang awalnya 6 tahun menjadi 9 tahun.



11

f) Kurikulum tahun 1999
Karena adanya era reformasi maka Kurikulum 1999 disebut kurikulum
suplemen yaitu adanya pelajaran yang bisa tetap diajarkan dan ada yang tidak
yakni pelajaran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
g) Kurikulum tahun 2004, Kurikulum Berbasis Kopetensi (KBK)
Ciri khusus KBK yakni:
1. Lebih memgutamakan kemampuan
2. Menekankan bantuan alat
3. Evaluasi lebih menekankan kepada kemampuan atau percepatan masing-
masing siswa.
4. Berbasis kinerja: lebih menekankan kinerja.
h) Kurikulum tahun 2006/2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
KTSP memberikan kebebasan pada masing masing sekolah, KTSP
memberikan kebebasan atau otonomi pada tingkat sekolah. Artinya kepada
sekolah dan guru memiliki keluasan dalam mengembangkan kurikulum secara
tepat dan proporsional.

F. Kendala / Hambatan Pengembangan Kurikulum 2013
Saat ini yang ramai diperbincangkan di media massa terkait perubahan
kurikulum adalah masalah pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam
belajar, secara mendasar, ada empat elemen perubahan dalam kurikulum 2013,
yakni standar kompetensi lulusan, standar isi (kompetensi inti dan kompetensi
dasar), standar proses, dan standar penilaian. Penyempurnaan standar kompetensi
lulusan memperhatikan pengembangan nilai, pengetahuan, dan keterampilan.
Secra terpadu dengan fokus pada pencapaian kompetensi.
Dalam bahasan kurikulum yang akan dicanangkan tersebut masih menuai
banyak perdebatan. Dikalangan praktisi pendidikan masih menimbulkan pro dan
kontra. Pihak yang mendukung kurikulum baru menyatakan bahwa kurikulum
2013 nantinya akan memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani siswa.
Selain itu kurikulum ini akan memfokuskan pada tantangan masa depan bangsa,
dan tidak memberatkan guru dalam penyusunan KTSP. Sedangkan pihak yang
kontra menyatakan bahwa, kurikulum justru kurang fokus karena menggabungkan
12

mata pelajaran IPA dengan bahasa indonesia di SD. Padahal kedua mata pelajaran
memiliki substansi pokok yang berbeda. Akan tetapi hampir semua orang setuju
atas alasan di balik perubahan kurikulum. Hal ini dipertegas lagi bahwa
kementrian pendidikan dan kebudayaan berupaya kembali pada tujuan mulia
pendidikan; tak hanya mencecoki siswa dengan pengetahuan, tapi juga
membentuk karakter mereka.
Dari pihak kontra memberikan argumen kembali bahwa, memang nantinya
mata pelajaran yang akan diajarkan tersebut dibuat lebih simpel. Akan tetapi
tingkat pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa akan semakin
berkurang akibat berpaduan mata pelajaran tersebut.
Kelemahan kurikulum 2013
Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan
pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain
itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam
pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama
dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam
proses pengembangan kurikulum 2013.
Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai
langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu
berbeda.

G. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Kurikulum 2013
Menurut Soetopo dan Soemanto, ada sejumlah faktor yang dipandang mendorong
terjadinya perubahan kurikulum pada berbagai Negara dewasa ini.
a. Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum
kolonialis. Dengan merdekanya Negara-negara tersebut, mereka menyadari
bahwa selama ini mereka telah dibina dalam suatu sistem pendidikan yang
13

sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita nasional merdeka. Untuk itu , mereka
mulai merencanakan adanya perubahan yang cukup penting di dalam
kurikulum dan sistem pendidikan yang ada.
b. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali. Di satu
pihak, perkembangan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan
di sekolah menghasilkan diketemukannya teori-teori yang lama. Di lain pihak,
perkembangan di dalam ilmu pengetahuan psikologi, komunikasi, dan lain-
lainnya menimbulkan diketemukannya teori dan cara-cara baru di dalam proses
belajar mengajar. Kedua perkembangan di atas, dengan sendirinya mendorong
timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan kurikulum.
c. Pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia. Dengan bertambahnya
penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang yang membutuhkan
pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau pendekatan yang telah
digunakan selama ini dalam pendidikan perlu ditinjau kembali dan kalau perlu
diubah agar dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar.
Ketiga faktor di atas itulah yang secara umum banyak mempengaruhi
timbulnya perubahan kurikulum yang kita alami dewasa ini.












14

BAB III
KESIMPULAN

Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial,
olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan
di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam
segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan
pendidikan (Dr. Addamardasyi dan Dr. Munir Kamil).
Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai
tujuan pendidikan. Dalam hal ini, berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum
memiliki komponen-komponen penting dan sebagai penunjang yang dapat
mendukung operasinya secara baik. Komponen-komponen pembentuk ini satu sama
lainnya saling berkaitan. Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum,
yaitu komponen tujuan, komponen isi, komponen metode, dan komponen evaluasi.
Komponen satu sama lain ini saling berkaitan.
Kelemahan kurikulum 2013
Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan
pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain
itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam
pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama
dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam
proses pengembangan kurikulum 2013.
Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai
langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu
berbeda.


15

DAFTAR PUSTAKA


http://pendidikan41.blogspot.com/2013/10/makalah-kurikulum-
2013_5907.html?m=1
http://nadyaafrilia.blogspot.com/2013/10/makalah-kurikulum-2013.html?m=1
http://catatanalexandro.blogspot.com/2013/11/pengertian-kurikulum-menurut-para-
ahli.html?m=1
http://gurupembaharu.com/home/empat-belas-prinsip-pembelajaran-kurikulum-2013/
http://keyboard-cakrawala.blogspot.com/2013/02/analisis-kurikulum-pendidikan-
nasional.html?m=1
http://info-data-guru-ptk.blogspot.com/2014/01/perbedaan-kurikulum-2013-dengan-
ktsp.html?m=1
http://gurutomo.blogspot.com/2014/01/jenis-dan-model-pengembangan-
kurikulum.html?m=1
http://pgri.or.id/forum/11-kuliah-bersama-pak-didi-suprijadi/164-belajar-kurikulum-
2013.html?limit=6&start=30
http://zulfaidah-indriana.blogspot.com/2013/02/perubahan-kurikulum-pendidikan-
di.html?m=1