Anda di halaman 1dari 6

ANALISA FILM ALIVE

ANALISA FILM ALIVE AHMAD RIFAI NIM: 46112010093 UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA Jalan Raya Meruya Selatan Nomor

AHMAD RIFAI NIM: 46112010093

UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

Jalan Raya Meruya Selatan Nomor 01, Kembangan, Jakarta Barat Tahun 2014

DINAMIKA KELOMPOK

  • A. Pembentukan Kelompok

    • 1. Tahap Afiliasi Tahap ini dimulai ketika penumpang menjadi korban kecelakaan pesawat. Perkenalan mereka berlangsung dalam situasi yang amat tragis. Mereka saling membutuhkan, atas dasar kebutuhan itulah mereka memikirkan menjadi kesatuan yang utuh, tidak berpisah satu sama lain dengan menerima keadaan yang ada.

    • 2. Tahap Fungsional dan Solusi Tahap ini mulai terjadi dengan segera, karena situasi yang tidak memungkinkan. Mereka mulai mengkoordinir bagaimana jatah minum, membangun penutup lubang bersama ketika malam hari dimana mereka harus tidur bersama. Mengatur jadwal keberangkatan pencarian ke luar, serta mengkomando memakan mayat teman sendiri itu adalah bukti bahwa mereka bersatu untuk mendapatkan solusi yakni mempertahankan kelangsungan hidup mereka bersama. Hubungan mereka yang terjadi adalah sesuatu hal yang hangat, lebih memiliki kedekatan emosionall yang sama karena kesamaan nasib.

  • B. Status Pemimpin dan Anggota Dalam film Alive, tidak jelas status antara pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin disini dapat siapa saja dalam kelompok korban pesawat. Berbagai peristiwa yang mereka alami bukanlah pengalaman yang dipelajari, tidak semua korban dapat mengerti, atau menerima setiap kejadian yang sama-sama mereka alami bersama. Berbeda dengan kelompok formal, yang memiliki pemimpin yang jelas secara struktural. Mereka disini membentuk kelompok karena kesatuan mereka yakni sesame korban, bukan hal yang mudah diterima, tetapi mereka harus bersatu dalam satu kelompok karena tidak mungkin berpisah.

    • C. Grup Pemikir Grup ini hadir sebagai pengkoordinir dan pencari ide. Mereka memiliki tugas memikirkan nasib bersama. Setidaknya dapat dilihat dari bagaimana ia mengatur sebotol Wine untuk jatah minum semua anggota. Disini lebih menekankan keselamatan bersama. Grup pemikir menjadi “peri” pada situasi yang sepertinya mustahil. Bagaimana mereka memikirkan agar dapat keluar dari masalah karena keterbatasan, memutuskan untuk menemukan jalan keluar dangan melakukan tindakan berjalan keluuar dari gunung salju.

    • D. Pengambilan Keputusan Keputusan-keputusan dalam kelompok tidak selalu mulus, terkadang harus menemukan penolakan oleh sebagian anggota. Seperti bagaimana mereka menyatakan setuju untuk “memakan mayat” teman se pesawat yang meninggal. Ini adalah keputusan berat. Keputusan yang mereka ambil melampaui sejarah dalam hidup mereka sendiri, itu tindakan luar biasa bagaimana mereka memikirkan untuk bertahan hidup pada titik nadir yang hebat antara “mempertahankan hidup” dan “mati jika tidak memakan mayat temannya yang meninggal.” Ini adalah bukti bagaimana mereka berpikir kontekstual: apa yang terjadi seandainya…? (Baron, Byrne, 2003). Berpikir kontekstual sangat penting dalam kelompok, guna melihat berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi seandainya jika tidak atau melakukan keputusan. Pertimbangan yang rinci ini diperkuat oleh berpikir kontekstual.

    • E. Komunikasi Kelompok Penggunaan bahasa oral tanpa adanya media membuat hamper semua komunikasi yang mereka lakukan menggunakan komunikasi verbal. Sehingga terjadi feedback yang cepat antara anggota kelompok. Penggunaan komunikasi non verbal sulit untuk dilakukan karena terbatasnya media. Penggunaan isyarat dengan melambungkan benda ke atas ketika ada pesawat melintas tidak ada artinya karena tidak terbentuk komunikasi dengan dunia luar, media seperti radio pun sudah tidak mungkin dilakukan.

    • F. Menembus Batas Norma Kesatuan dan semangat hidup yang mereka himpun bersama telah menembus batasan norma. Mereka telah menemui situasi yang lain dari pada yang lain, yang lebih susah dari kesusahan orang lain. Keputusan mereka memakan mayat korban pesawat yang lain adalah bukti bahwa mereka telah menembus batas norma yang ada. Kanibalisme yang secara hukum dilarang sudah tidak berlaku ketika dalam situasi dimana hak untuk hidup saja hamper tidak ada. Mereka menemukan pengalaman yang luar biasa, menembus batasan norma yang ada.

    STUDI KASUS

    KELOMPOK PEMBELA HAM BURUH MIGRAN INDONESIA

    F. Menembus Batas Norma Kesatuan dan semangat hidup yang mereka himpun bersama telah menembus batasan norma.Erwiana Sulistyaningsih, 23, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sragen yang disiksa di Hong Kong masuk dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time. Salah satu alasannya, kasus yang " id="pdf-obj-3-9" src="pdf-obj-3-9.jpg">

    Sindonews.com Erwiana Sulistyaningsih, 23, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sragen yang disiksa di Hong Kong masuk dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time. Salah satu alasannya, kasus yang

    menimpanya telah memicu kemarahan ribuan orang di Hong Kong dan menjadi sorotan dunia. Majalah Time memuji keberanian Erwiana yang berani menyuarakan penentangan terhadap tindak penyiksaan para majikan TKI di Hong Kong, meski dia menjadi salah satu korbannya. Dari keberaniannya itulah muncul

    gelombang demonstrasi besar yang mendorong pembuatan undang-undang perlindungan buruh rumah tangga di Hong Kong. Dia adalah wanita pemberani yang berbicara untuk menciptakan perubahan,” puji aktivis Kamboja, Somaly

    Mam. Edisi majalah yang memasukkan sosok Erwiana itu terbit kemarin. Erwiana menganjurkan pembuatan undang-undang yang lebih baik untuk melindungi orang lain yang mungkin sama nasibnya, yang menempatkan sorotan

    pada nasib orang yang rentan bahaya dan sering tidak terlihat (media),” lanjut

    Mam. Juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia yang berbasis di Hong Kong, Eman Vilanueva, juga mengapresiasi penobatan Erwiana oleh majalah Amerika Serikat tersebut. “Dimasukkannya (Erwiana) membuktikan bahwa masalah buruh migran pekerja rumah tangga, perbudakan, eksploitasi dan kekerasan adalah masalah yang dapat perhatian masyarakat dunia,” kata Villanueva. Ewiana adalah TKI yang pernah disiksa Law Wan-tung, 44, wanita yang pernah menjadi majikannya di Hong Kong. Jaksa Hong Kong menuduh Law menyiksa Erwiana dengan kain pel, penggaris, gantungan baju dan alat-alat lain. Law juga dituduh mengintimidasi keluarga Erwiana di Sragen. Kasus Erwiana juga mendapat sorotan khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di mana, ketika Erwiana dirawat di sebuah rumah sakit di kampung halamannya, Presiden Yudhoyono menghubunginya untuk memastikan pelaku yang menyiksanya dihukum setimpal. Bahkan polisi Hong Kong sampai turun tangan ke Sragen untuk menyelidiki kasus itu.

    PEMBENTUKAN KELOMPOK PEMBELA BURUH MIGRAN

    Terjadinya kesamaan nasib antara banyaknya buruh migrant yang mendapatkan siksaan dari majikan dan anggapan bahwa buruh migrant adalah penyumbang devisa untuk Negara yang cukup besar menimbulkan di berbagai kota besar muncul kelompok-kelompok buruh migrant di seluruh Indonesia.

    KONFORMITAS

    Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada(Baron, Byrne, 2003). Beberapa contoh dari konfomitas adalah ketika menengok orang sakit, orang akan membawakan buah atau makanan lainnya (Sarlito, Meniarno, 2010). Ketika hendak mengambil uang di ATM atau menaruh uang di bank, orang akan menunggu giliran dengan mengantri(Sarlito, Meniarno,

    2010).

    Perilaku “Pendukung Buruh Migran” yang menyampaikan demonstrasi di

    mana-mana adalah perilaku konformitas yang meluas. Bukan hanya mengikuti bagaimana seharusnya bertindak. Tetapi usaha yang mereka ikuti adalah dalam rangka menegakan hokum. Jadi ketika orang-orang melakukan pembelaan terhadap buruh migrant, yakni orang-orang itu bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam lingkungan sosialnya. Sehingga dapat dikatakan pembelaan semacam itu adalah hal yang menjadi normal, ini adalah bukti seberapa kuatnya pengaruh social terhadap aspirasi masyarakat dalam jumlah yang besar.

    DAFTAR PUSTAKA:

    Baron, Byrne. 2003. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga

    Muhaimin. 2014. Erwiana masuk 100 orang paling berpengaruh di dunia. Tersedia di<http://international.sindonews.com/read/2014/04/25/40/85 7586/erwiana-masuk-100-orang-paling-berpengaruh-di-dunia> diakses 11 Mei 2014 Sarlito, Meniarno. 2010. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika