Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Status Gizi
2.1.1. Definisi Status Gizi
Menurut Hammond (2004), status gizi berarti penggolongan suatu hasil pengukuran ke
dalam tingkat kebutuhan gizi fisiologis seseorang. Sedangkan pengertian lain
menyebutkan, status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu, atau perwujudan dari status tubuh yang berhubungan dengan gizi dalam
bentuk variabel tertentu (Supariasa, Bakri, dan Fajar, 2002).
Jadi intinya, terdapat suatu variabel yang diukur (misalnya berat badan dan tinggi
badan) yang dapat digolongkan ke dalam kategori gizi tertentu (misalnya baik, kurang,
buruk, dan sebagainya). Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekedar gambaran
perubahan ukuran tubuh, tetapi lebih dari itu memberikan gambaran tentang keseimbangan
antara asupan dan kebutuhan gizi (status gizi). Oleh karena itu, pertumbuhan merupakan
indikator yang baik dari perkembangan status gizi anak (Depkes RI, 2002).
2.1.2. Penilaian Status Gizi
1. Definisi Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan dengan menggunakan
berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang berisiko atau dengan
status gizi buruk (Hartriyanti dan Triyanti, 2007)
2. Tujuan Penilaian Status Gizi
Tujuan penilaian status gizi menurut Hammond (2004) adalah untuk :
a. Mengidentifikasi individu yang membutuhkan dukungan nutrisi yang cukup.
b. Mempertahankan status gizi seseorang.
c. Mengidentifikasi penatalaksanaan medis yang sesuai.
d. Memonitor efektivitas intervensi yang telah dilakukan tersebut.
Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut, Peneliti akan melakukan penilaian status gizi anak
gizi buruk yang telah diberi intervensi berupa pemberian makanan tambahan.
3. Metode dalam Penilaian Status Gizi
- Penilaian Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu:
antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
a. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposi si tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada
pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah
air dalam tubuh.
b. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk melihat status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupn zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan
epitel (supervicial ephitel tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau
pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
c. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot.
d. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan
melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur
dari jaringan tubuh.
- Penilaian Secara Tidak Langsung
-
2.1.3. Klasifikasi Status Gizi
Dalam menentukan status gizi harus ada ukuran baku (reference). Baku antropometri
yang sekarang digunakan di Indonesia adalah Baku World Health Organization-National
Centre for Health Statistics (WHO-NCHS). Terakhir, berdasarkan Temu Pakar Gizi di
Bogor tanggal 19-21 Januari dan di Semarang tanggal 24-26 Mei 2000, merekomendasikan
baku WHO-NCHS untuk digunakan sebagai baku antropometri di Indonesia (Depkes RI,
2000 dalam Arisman, 2004). Menurut WHO, data berat dan tinggi badan yang
dikumpulkan oleh United States - National Centre for Health Stastics merupakan pilihan
terbaik baku rujukan (Supariasa, Bakri, dan Fajar, 2002).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia membuat rujukan penilaian status gizi anak
balita yang terpisah antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan yang telah
disampaikan di atas. Kriteria jenis kelamin inilah yang membedakan baku WHO-NCHS
dengan Baku Harvard yang sebelumnya digunakan. Adapun baku WHO 2005 belum
digunakan di Indonesia sebagai rujukan pengganti baku WHO-NCHS (Sudiman, 2006).
Penggolongan status gizi pada tabel indeks berat badan menurut umur dan berat badan
menurut tinggi badan didasarkan kepada deviasi standar (DS). Dari indeks berat badan
menurut umur (BB/U), status gizi dapat digolongkan menjadi empat kelas yaitu gizi buruk
(BB/U < -3 DS), gizi kurang (- 3 DS <BB/U< -2 DS), gizi baik (-2 DS <BB/U< +2 DS),
dan gizi lebih (BB/U > +2 DS).
Status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) juga dibagi
menjadi empat kelas, yaitu kurus sekali ( BB/TB < -3 DS), kurus ( - 3 DS <BB/TB< -2
DS), normal (2 DS <BB/TB<+2 DS), dan gemuk ( BB/TB > +2 DS).
Untuk melakukan pengawasan pertumbuhan anak, dapat didahului dengan pengisian
Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita. Bila pada KMS tersebut didapati BB/U < -3 deviasi
standar (DS) ataupun < 60 % median NCHS (atau di bawah garis merah), maka ditentukan
status gizinya melalui indeks BB/TB. Jika BB/TB < -3 DS (< 70 % median NCHS),
ditambah dengan tanda klinis yang sesuai, maka status gizi anak tersebut adalah buruk.

Tabel 2.1. Penentuan status gizi anak
Status Gizi Klinis
Antropometri
(BB/TB-PB)
Gizi Buruk
Tampak sangat kurus dan atau edema
pada kedua punggung kaki sampai
seluruh tubuh
< -3 SD
Gizi Kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD
Gizi Baik Tampak sehat -2 SD - 2 SD
Gizi Lebih Tampak gemuk > 2 SD
Sumber : Buku Bagan Tata Laksana Anak Gizi Buruk I, DiREKTORAT Bina Gizi. Hlm.2.
BB/TB-PB=Berat badan menurut tinggi (panjang) badan


2.2.2 Macam-macam status gizi :

1. Status Gizi Normal

Keadaan tubuh yang mencerminkan keseimbangan antara
konsumsi dan penggunaan gizi oleh tubuh (adequate).
2. Malnutrisi

Keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif
maupun absolut satu atau lebih zat gizi.
Ada 4 bentuk:

a. Under nutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau

absolut untuk periode tertentu.

b. Specific deficiency: kekurangan zat gizi tertentu misalnya kekurangan
iodium, Fe dan lain-lain.
c. Over nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.

d. Imbalance: keadaan disproporsi zat gizi misalnya tinggi kolesterol karena
tidak imbangnya kadar LDL (Low Density Lipoprotein), HDL (High Density
Lipoprotein), dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) (Supariasa,
2002).

2.2. Gizi Buruk
2.2.1. Definisi Gizi Buruk
Gizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi,
kesehatan dan kedokteran (Pudjiadi, 2005). Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang
nutrisinya di bawah rata-rata (Almatsier, 2001).

Hal ini merupakan suatu bentuk terparah
dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Pudjiadi, 2005).
Balita disebut gizi buruk apabila indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD
(Kementerian Kesehatan RI, 2011). Keadaan balita dengan gizi buruk sering digambarkan
dengan adanya busung lapar (Pudjiadi, 2005).
2.2.2. Klasifikasi Gizi Buruk
Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :
1. Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemukan pada
balita (Kliegman, 2007). Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk.
Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,kulit keriput yang
disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka seperti orang tua (berkerut),
balita cengeng dan rewel meskipun setelah makan, bokong baggy pant, dan iga gambang
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
Pada patologi marasmus awalnya pertumbuhan yang kurang dan atrofi otot serta
menghilangnya lemak di bawah kulit merupakan proses fisiologis.Tubuh membutuhkan
energi yang dapat dipenuhi oleh asupan makanan untuk kelangsungan hidup jaringan.
Untuk memenuhi kebutuhan energi cadangan protein juga digunakan. Penghancuran
jaringan pada defisiensi kalori tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga
untuk sistesis glukosa (Walker, 2004).

2. Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan
karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat (WHO, 2009). Hal
ini seperti marasmus, kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi
buruk (Kliegman, 2007). Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu,
perubahan mental, pada sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan maupun
berat, gejala gastrointestinal, rambut kepala mudah dicabut, kulit penderita biasanya kering
dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar, sering ditemukan
hiperpigmentasi dan persikan kulit, pembesaran hati, anemia ringan, pada biopsi hati
ditemukan perlemakan (Departemen Kesehatan RI, 2002).
Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan hati dan
oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme jaringan yang
sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan jumlah kalori yang
cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan
kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Asupan makanan yang
terdapat cukup karbohidrat menyebabkan produksi insulin meningkat dan sebagian asam
amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya
pembentukan albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum
yang kemudian menimbulkan oedema (Walker, 2004).
3. Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmik-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala
klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) <
60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok (Dini, 2000).
2.1.4. Faktor risiko
Faktor risiko gizi buruk antara lain :
1. Asupan makanan
Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan
bergizi seimbang, dan pola makan yang salah (Pudjiadi, 2005).

Kebutuhan nutrisi yang
dibutuhkan balita adalah air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
Setiap gram protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4
kalori.Distribusi kalori dalam makanan balita dalam keseimbangan diet adalah 15% dari
protein, 35% dari lemak, dan 50% dari karbohidrat.Kelebihan kalori yang menetap setiap
hari sekitar 500 kalori menyebabkan kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu (Staf
Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
Setiap golongan umur terdapat perbedaan asupan makanan misalnya pada golongan
umur 1-2 tahun masih diperlukan pemberian nasi tim walaupun tidak perlu disaring.Hal ini
dikarenakan pertumbuhan gigi susu telah lengkap apabila sudah berumur 2-2,5 tahun.Lalu
pada umur 3-5 tahun balita sudah dapat memilih makanan sendiri sehingga asupan
makanan harus diatur dengan sebaik mungkin. Memilih makanan yang tepat untuk balita
harus menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien,menentukan jenis bahan makanan
yang dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan
yang dikehendaki (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam.
Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut mengkonsumsi
hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang. Berdasarkan dari
keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi seimbang adalah
jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun dan pemelihara
jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah (Soekirman, 2000).
Menurut penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Magelang, konsumsi protein (OR
2,364) dan energi (OR 1,351) balita merupakan faktor risiko status gizi balita (Rumiasih,
2003).
Pengertian pola makan adalah gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan
yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok
masyarakat tertentu. Pola makan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain adalah
kebiasaan kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam, dan sebagainya.
Semua faktor di atas dapat disebut pola konsumsi. (Santoso dan Ranti, 2004).
Kebiasaan makan adalah cara-cara individu dan kelompok individu memilih,
mengkonsums, dan menggunakan makanan-makanan yang tersedia, yang didasarkan
kepada faktor-faktor sosial dan budaya di mana mereka hidup. Kebiasaan makan individu,
keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh :
a) Faktor perilaku termasuk di sini adalah cara berpikir, berperasaan, berpandangan
tentang makanan. Kemudian dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih
makanan. Kejadian ini berulang kali dilakukan sehingga menjadi kebiasaan makan.
b) Faktor lingkungan sosial, segi kependudukan dengan susunan, tingkat dan sifat-
sifatnya.
c) Faktor lingkungan ekonomi, daya beli, ketersediaan uang kontan dan sebagainya.
d) Lingkungan ekologi, kondisi tanah, iklim, lingkungan biologi, system usaha tani,
sistem pasar dan sebagainya.
e) Faktor ketersediaan bahan makanan, dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang bersifat
hasil karya manusia seperti sistem pertanian (perladangan), prasarana dan sarana
kehidupan (jalan raya dan lain-lain), perundang-undangan dan pelayanan pemerintah.
f) Faktor perkembangan teknologi, seperti bioteknologi yang menghasilkan jenis-jenis
bahan makanan yang lebih praktis dan lebih bergizi, menarik, awet dan lainnya.
(Santoso dan Ranti, 2004).
Pola makan yang salah akan menyebabkan gizi buruk secara langsung, misalnya
kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu
dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak daging, telur,
santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein
maupun kalori yang cukup.
Tabel 2.2. Pola Makan Balita
Umur (Bulan) Bentuk Makanan
0 6 ASI Eksklusif
6 9 Makanan lumat
9 12 Makanan lembek
12 24 Makanan keluarga
1-1 piring nasi/pengganti
2-3 potong lauk hewani
1-2 potong lauk nabati
mangkuk sayur
2-3 potong buah-buahan
1 gelas susu
24 ke atas 1-3 piring nasi/pengganti
2-3 potong lauk hewani
1-2 potong lauk nabati
1-1 mangkuk sayur
2-3 potong buah-buahan
1-2 gelas susu
Sumber : DepKes RI, 2002 : 36.
2. Status sosial ekonomi
Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah
segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup
(Pius, 2001). Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial
ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan (Notoatmodjo, 2003). Rendahnya
ekonomi keluarga, akan berdampak dengan rendahnya daya beli pada keluarga tersebut.
Selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab
langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan dan
ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut (Effendi, 1998). Balita
dengan gizi buruk pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi
(Soekirman, 2000).
Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang bekerja
mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktivitas ekonomi yang mencari
penghasilan baik dari sektor formal atau informal yang dilakukan secara reguler di luar
rumah yang akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan
pelayanan terhadap anaknya. Pekerjaan tetap ibu yang mengharuskan ibu meninggalkan
anaknya dari pagi sampai sore menyebabkan pemberian ASI tidak dilakukan dengan
sebagaimana mestinya (Departemen Kesehatan RI, 2002).
Masyarakat tumbuh dengan kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan lebih
dihargai secara sosial ekonomi di masyarakat. Pekerjaan dapat dibagi menjadi pekerjaan
yang berstatus tinggi yaitu antara lain tenaga administrasi tata usaha,tenaga ahli teknik dan
ahli jenis, pemimpin, dan ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun
swasta dan pekerjaan yang berstatus rendah antara lain petani dan operator alat angkut.
33
Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kampar Kepulauan Riau terdapat
hubungan bermakna status ekonomi dengan kejadian gizi buruk p=0,0001 (Taruna, 2002).
3. Pendidikan ibu
Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai
pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.
Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang
rendah. Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang
mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan (Abu, 1997).
Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang
selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan
penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Departemen Kesehatan RI,
2004).
Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi derajat
kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak. Tingkat
pendidikan yang tinggi membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi dan
mengamalkan dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang terencana dan
sadar untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang diperlukan oleh diri sendiri,
masyarakat, bangsa, dan negara (Departemen Kesehatan RI, 2004).
Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal dan non formal yang bisa saling
melengkapi. Tingkat pendidikan formal merupakan pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang
melandasi tingkat pendidikan menengah. Tingkat pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar
dan Sekolah Menengah Pertama atau bentuk lain yang sederajat, sedangkan pendidikan
menengah adalah lanjutan dari pendidikan dasar yaitu Sekolah Menengah Atas atau bentuk
lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan tingkat pendidikan setelah pendidikan
menengah yang terdiri dari program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi (Departemen Kesehatan RI, 2004). Tingkat
pendidikan berhubungan dengan status gizi balita karena pendidikan yang meningkat
kemungkinan akan meningkatkan pendapatan dan dapat meningkatkan daya beli makanan.
Pendidikan diperlukan untuk memperoleh informasi yang dapat meningkatkan kualitas
hidup seseorang (Abu, 1997).
4. Penyakit penyerta
Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit.
Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi
anak (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007). Penyakit-penyakit tersebut
adalah:
Diare persisten : sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang
dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri). Kejadian ini sering
dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare
persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit sprue,
gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind loop (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan
Anak FK UI, 2007).
Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai
organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi.
Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya terjadipada
malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru
maupun di luar paru (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia
(terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-komponen utama sistem
kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini
mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang
akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Sistem kekebalan dianggap defisien
ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan
penyakit- penyakit (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
Penyakit tersebut di atas dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan
masukan makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Terdapat
hubungan timbal balik antara kejadian penyakit dan gizi kurang maupun gizi
buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya
tahan, sehingga rentan terhadap penyakit. Di sisi lain anak yang menderita sakit akan
cenderung menderita gizi buruk (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007).
Menurut penelitian yang dilakukan di Jogjakarta terdapat perbedaan penyakit yang
bermakna antara balita KEP dengan balita yang tidak KEP(p=0,034) CI 95% (Razak,
Gunawan, dan Budiningsari, 2009).
5. Pengetahuan ibu
Ibu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan konsumsi makanan dalam
keluaga khususnya pada anak balita. Pengetahuan yang dimiliki ibu berpengaruh terhadap
pola konsumsi makanan keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi menyebabkan
keanekaragaman makanan yang berkurang. Keluarga akan lebih banyak membeli barang
karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga
disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam
kehidupan sehari-hari (Abu, 1997).
6. Berat Badan Lahir Rendah
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Kosim, 2008). Penyebab terbanyak terjadinya BBLR
adalah kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu
ini pada umumnya disebabkan oleh tidak mempunyai uterus yang dapat menahan janin,
gangguan selama kehamilan,dan lepasnya plasenta yang lebih cepat dari waktunya. Bayi
prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan
hidup di luar rahim sehingga semakin muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi
semakin kurang berfungsi dan prognosanya juga semakin kurang baik. Kelompok BBLR
sering mendapatkan komplikasi akibat kurang matangnya organ karena premature (Tim
Paket Pelatihan Klinik PONED, 2008).
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir kecil untuk
masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat berada di dalam
kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu yang kurang baik. Kondisi
bayi lahir kecil ini sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan
mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama
yang disebabkan oleh BBLR (Tim Paket Pelatihan Klinik PONED, 2008). Gizi buruk
dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang. Pada BBLR zat anti kekebalan kurang
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit infeksi. Penyakit ini
menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam
tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk (Kosim, 2008). Menurut
penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur BBLR terdapat hubungan yang
bermakna dengan kejadian gizi buruk (95%CI) p=0.02. (Anwar, Juffrie, dan Julia, 2005).
7. Kelengkapan imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi terhadap suatu
penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit tersebut sehingga bila balita
kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut tidak akan sakit dan untuk menghindari
penyakit lain diperlukan imunisasi yang lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah
dengan imunisasi (Hidayat, 2008). Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan
kekebalan terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi
pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan
atau dimatikan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan
imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh
meningkat (Supartini, 2002).
Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan
bila anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan menciptakan bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Taruna, 2002). Kelompok yang paling
penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling
peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan
orang dewasa (Hidayat, 2008).
Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak terjangkit sakit.
Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh balita akan berkurang
dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai dampak yang tidak langsung dengan
kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara
bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan
dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit (Supartini, 2002). Macam- macam
imunisasi antara lain (Hidayat, 2008).
BCG : vaksin untuk mencegah TBC yang dianjurkan diberikan saat berumur 2 bulan
sampai 3 bulan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml pada
anak disuntikkan secara intrakutan (Hidayat, 2008).
Hepatitis B : salah satu imunisasi yang diwajibkan dengan diberikan sebanyak 3 kali
dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua kemudian 5 bulan antara
suntikan kedua dan ketiga. Usia pemberian dianjurkan sekurang-kurangnya 12 jam
setelah lahir (Hidayat, 2008).
Polio : imunisasi ini terdapat 2 macam yaitu vaksi oral polio dan inactivated polio
vaccine.Kelebihan dari vaksin oral adalah mudah diberikan dan murah sehingga
banyak digunakan (Hidayat, 2008).
DPT : vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta
bakteri pertusis yang diinaktivasi (Hidayat, 2008).
Campak : imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak
pada anak karena termasuk penyakit menular. Pemberian yang dianjurkan adalah
sebanyak 2 kali yaitu pada usia 9 bulan dan pada usia 6 tahun (Hidayat, 2008).
MMR : diberikan untuk penyakit measles,mumps,dan rubella sebaiknya diberikan
pada usia 4 bulan sampai 6 bulan atau 9 bulan sampai 11 bulan yang dilakukan
pengulangan pada usia 15 bulan-18 bulan (Hidayat, 2008).
Typhus abdominal : terdapat 3 jenis vaksin yang terdapat di Indonesia yaitu kuman
yang dimatikan, kuman yang dilemahkan, dan antigen capsular Vi polysaccharide
(Hidayat, 2008).
Varicella : pemberian vaksin diberikan suntikan tunggal pada usia diatas 12 tahun
dan usia 13 tahun diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4-8 mg (Hidayat, 2008).
Hepatitis A: imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya hepatitis A yang
diberikan pada usia diatas 2 tahun (Hidayat, 2008).
HiB : Haemophilus influenzae tipe b yang digunakan untuk mencegah terjadinya
influenza tipe b dan diberikan sebanyak 3 kali suntikan (Hidayat, 2008).
Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur, imunisasi yang tidak
lengkap terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian gizi buruk OR (95%CI) dari
10,3; p<0.001 (Anwar, Juffrie, dan Julia, 2005).
8. ASI
Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada
bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif
kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
periode 1997-2003 yang cukup memprihatinkan yaitu bayi yang mendapatkan ASI
eksklusif sangat rendah (WHO, 2009). Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan berupa
susu formula, makanan padat, atau campuran antara ASI dan susu formula (Kliegman,
2007).
Berdasarkan riset yang sudah dibuktikan di seluruh dunia, ASI merupakan makanan
terbaik bagi bayi sampai enam bulan, dan disempurnakan sampai umur dua tahun
(Soekirman, 2000). Memberi ASI kepada bayi merupakan hal yang sangat bermanfaat
antara lain oleh karena praktis, mudah, murah, sedikit kemungkinan untuk terjadi
kontaminasi,dan menjalin hubungan psikologis yang erat antara bayi dan ibu yang penting
dalam perkembangan psikologi anak tersebut. Beberapa sifat pada ASI yaitu merupakan
makanan alam atau natural, ideal, fisiologis, nutrien yang diberikan selalu dalam keadaan
segar dengan suhu yang optimal dan mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi
yang sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi (Walker, 2004)
Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi atau
zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang menyebabkan
balita yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat berperan langsung
terhadap status gizi balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi
sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan
yang diberikan secara dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada
akhirnya, bayi sulit buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi
akan rawan diare (Soekirman, 2000).

2.3. Antropometri
2.3.1. Definisi Antropometri
Antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi dan komposisi tubuh (Hartriyanti
dan Triyanti, 2007). Ada dua hal yang terkandung di dalam antropometri yaitu perolehan
pengukuran fisik dan hubungannya dengan standar yang menyatakan tumbuh kembang
individu tersebut (Hammond, 2004). Evaluasi adanya gizi lebih ataupun kurang serta untuk
memonitor efek dari intervensi gizi dapat dilakukan melalui pengukuran antropometri.
2.3.2. Kelebihan dan Keterbatasan Pengukuran Antropometri
Kelebihan dan keterbatasan pengukuran antropometri dapat dilihat pada Tabel berikut
ini :
Tabel 2.3. Kelebihan dan Keterbatasan Pengukuran Antropometri
Kelebihan Keterbatasan
Relatif murah Membutuhkan data referensi yang relevan
Cepat, sehingga dapat dilakukan pada
populasi yang besar
Kesalahan yang muncul, seperti kesalahan
pada peralatan (belum dikalibrasi) dan
kesalahan pada observer (kesalahan
pengukuran dan pencatatan)
Objektif Hanya mendapatkan data pertumbuhan,
obesitas, malnutrisi karena kurang energi
dan protein
Gradabel, artinya dapat dirangking Tidak mendapatkan informasi mengenai
defisiensi zat gizi mikro
Tidak menimbulkan rasa sakit pada
responden

Sumber : Rangkuman Jellife DB & Jellife EFP, 1989. Community Nutritional Assessment.
Oxford University Press dalam Syafiq, A et al, 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarak=at<
Rajagrafindo, Jakarta. Hlm 265.

Berdasarkan kelebihan dan keterbatasan pengukuran antropometri serta adanya faktor-
faktor lain yang menjadi pertimbangan, maka Peneliti memakai pengukuran antropometri.
Faktor-faktor lain tersebut adalah tujuan pengukuran, yaitu melihat fisik anak balita; unit
sampel yang diukur, yaitu kelompok masyarakat rawan gizi; ketersediaan fasilitas
peralatan, tenaga, waktu dan dana (Supariasa, Bakri, dan Fajar, 2002).

2.3.3. Parameter Antropometri
Parameter antropometri merupakan ukuran tunggal dari tubuh manusia (Supariasa,
Bakri, dan Fajar, 2002). Parameter yang didapat sangat dipengaruhi oleh berat lahir, etnis,
faktor keluarga, dan lingkungan. Parameter antropometri terdiri dari tinggi atau panjang
badan; berat badan; lingkar kepala; ketebalan kulit, baik pinggang maupun lengan atas;
lingkar lengan atas; dan lingkar betis (Hammond, 2004).
Di antara parameter antropometri yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa
parameter antropometri yang utama. Pengukuran tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut
ini.
Tabel 2.4. Parameter Antropometri yang Utama
Parameter Pengukuran Komponen Jaringan Utama yang
Diukur
Tinggi Badan Kepala, os vertebralis, os
sacralis, ekstremitas bawah
Tulang
Berat Badan Seluruh tubuh Seluruh jaringan :
khususnya lemak, otot,
tulang, dan air
Lingkar Lengan Lemak bawah kulit Lemak (lebih sering
digunakan secara teknik di
negara maju)
Otot, tulang Otot (secara teknik lebih
sedikit digunakan di negara
maju)
Lipatan Lemak Lemak bawah kulit, kulit lemak
Sumber : Rangkuman Jellife DB & Jellife EFP, 1989. Community Nutritional Assessment.
Oxford University Press dalam Syafiq, A et al, 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarak=at<
Rajagrafindo, Jakarta. Hlm 265.
2.3.4. Indeks Antropometri
Indeks antropometri merupakan kombinasi dari beberapa parameter. Menurut Khomsan
(2008), standar acuan gizi balita adalah berat badan menurut umur (BB/U), berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB), dan tinggi badan menurut umur (TB/U). Sedangkan
menurut Waterlow (1973) dalam Notoatmodjo (2006), pengukuran status gizi pada saat
sekarang ini menggunakan ukuran BB/TB. Ukuran TB/U hanya cocok untuk mengukur
status gizi pada saat yang lalu. Hasil penelitian lain menyimpulkan bahwa ukuran berat
badan per umur kurang mampu membedakan malnutrisi akut dengan kronik (Thowbridge,
1970 dalam Notoatmodjo, 2006). Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (2007)
menggunakan BB/U sebagai penyaring status gizi buruk dan BB/TB sebagai penentu status
gizi anak. Dengan alasan yang hampir sama yaitu perubahan berat badan menunjukkan
gangguan pertumbuhan dalam waktu singkat. Ini dapat diakibatkan oleh penurunan nafsu
makan, sakit (misalnya diare), ataupun kurang cukupnya makan. Adapun hambatan
pertambahan tinggi badan menunjukkan gangguan pertumbuhan dalam waktu yang lama
(Depkes RI, 2002).
Berdasarkan rujukan tersebut, maka acuan yang dipakai pada penelitian ini adalah
BB/TB anak gizi buruk yang menerima PMT.
2.4. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
2.4.1. Tujuan PMT
Tujuan dari program PMT adalah mempertahankan dan meningkatkan status gizi anak
dari keluarga miskin.

2.4.2. Proses PMT
Seperti yang dikutip dari Handayani, Mulasari, dan Nurdianis (2008), proses PMT
terdiri dari tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, yang harus
disesuaikan dengan petunjuk teknis Program Jaring Pengamanan Sosial Bidang Kesehatan
(JPS-BK) bagi Puskesmas.
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilakukan penentuan balita sasaran PMT dan penentuan
jadwal pendistribusian program PMT.
2. Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan meliputi penentuan jenis makanan, pembelian bahan makan
dan pemberian paket PMT kepada sasaran. (Depkes RI, 2002).
3. Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian
Pada proses ini dilakukan pencatatan dan pelaporan dengan mengisi register yang
telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Untuk melaksanakan proses tersebut diperlukan juga unsur lain berupa:
1. Tenaga
Tenaga adalah orang yang bertanggung jawab dan mengkoordinir program PMT
sasaran di wilayah kerja Puskesmas. Tenaga berupa Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) di
Puskesmas dan bidan di desa, yang bertugas melaksanakan pembinaan teknis di
lapangan (Depkes RI, 1999 dalam Handayani, Mulasari, dan Nurdianis, 2008).
2. Dana
Menurut Hasibuan (2003) dalam Handayani, Mulasari, dan Nurdianis (2008)
besarnya biaya untuk pengadaan paket PMT tergantung dari jumlah sasaran
penerima program. Menurut Handayani, Mulasari, dan Nurdianis (2008) sumber
dana didapatkan dari Pemerintah Daerah atau dari Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD).
3. Sarana
Kartu pencatatan dan formulir pelaporan merupakan sarana untuk pemantauan yang
sangat penting (Hasibuan, 2003 dalam Handayani, Mulasari, 2008). Selain itu
diperlukan juga KMS dan timbangan (Handayani, Mulasari, dan Nurdianis, 2008).

4. Bahan
Bahan paket berisi kacang hijau, biskuit, gula, susu, telur, dan multivitamin. Isi
paket harus berkualitas baik. Bahan paket makanan yang bisa dibawa pulang adalah
beras, telur, gula, dan kacang-kacangan (Depkes RI, 1999 dalam Handayani,
Mulasari, dan Nurdianis, 2008).
5. Metode
Metode berarti cara penyelengaraan pemberian paket PMT kepada sasaran program
(Handayani, Mulasari, dan Nurdianis, 2008).

2.5. Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) pada Gizi Buruk
PMT merupakan bagian penatalaksanaan balita gizi kurang. PMT ini disebut PMT
pemulihan (PMT-P). PMT-P dilaksanakan oleh Pusat Pemulihan Gizi (PPG) di Posyandu
dan secara terus menerus di rumah tangga. Keseluruhannya berjumlah 90 hari.
2.5.1. Lama PMT-P
Pemberian PMT-P diberikan setiap hari kepada anak selama tiga bulan (90 hari)
2.5.2. Bentuk Makanan PMT-P
Makanan yang diberikan berupa:
1. Kudapan (makanan kecil), yang dibuat dari bahan makanan setempat (lokal)
2. Bahan makanan mentah berupa tepung beras, tepung susu, gula, minyak, kacang-
kacangan, sayur, telur, dan lauk-pauk lainnya.
3. Contoh paket bahan makanan tambahan pemulihan (PMT-P)
yang dibawa pulang.
2.5.3. Cara Penyelenggaraan
1. Makanan kudapan diberikan setiap hari di PPG, atau
2. Seminggu sekali kader mendemonstrasikan pembuatan MP-ASI makanan anak, dan
membagikan makanan tersebut kepada balita gizi kurang, selanjutnya kader
membagikan paket bahan makanan mentah untuk kebutuhan enam hari (Depkes RI
2000).
Bentuk lain dari PMT untuk balita adalah PMT penyuluhan. PMT penyuluhan
diberikan bagi balita yang berat badannya tidak naik pada satu kali penimbangan Posyandu
(Depkes RI, 2000).