Anda di halaman 1dari 225

BAB I

ISI

A. KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI
COMPETENCIES
CD 5. Berpartisipasi dalam penyusunan kebijakan pemerintah dalam bidang pangan, gizi,
dan pelayanan kesehatan (Participate in legisitive and public policy processes as they
affect food, food security, nutrition and health care )
CD 12. Mampu berpartisipasi dalam penggunaan media masa untuk mempromosikan
makanan dan nutrisi (Participate in the use of mass media to promote food and nutrition )
CD 40. Mahasiswa mampu mengawasi screening status gizi suatu populasi atau
masyarakat (Supervise screening of the nutritional status of the population and/or
community groups)
CD 42. Mampu melakukan asuhan gizi untuk individu pada semua daur kehidupan sesuai
dengan keragaman budaya dan agama (Provide nutrition care for people of diverse
cultures and religions across the lifespan, i.e infancy through geriatric (perform))
CD 12. Mampu berpartisipasi dalam pengembangan dan evaluasi program pangfan dan gizi
berbasis komunitas (Participate in development and evaluation of a community-based
food and nutrition program )


B. SKENARIO
Nyam..Nyam..Nyam
Survey yang dilakukan oleh Dinkes Kabupaten di NTT menunjukan prevalensi wasting pada anak usia
sekolah sebesar 36,6%. Untuk menanggulangi masalah tersebut, ahli gizi dinkes setempat diminta untuk
melakukan intervensi gizi yaitu membuat formulasi makanan (food formulation) yang menggunakan
bahan makanan local sesuai standar PMT dan sosio budaya masyarakat. Produk tersebut akan dikemas
sesuai dengan peraturan pelabelan makanan (food labelling) disertai informasi gizi (Nutrition fact),
claims dan mendapatkan sertifikat halal.

C. UNCLEAR TERM
NO ISTILAH PENGERTIAN
1. Food Labelling Food labeling : proses pemberian keterangan yang
melengkapi suatu kemasan makanan yang berisi
tentang bahan-bahan yang digunakan untuk makanan
tersebut dan sebagainya serta merupakan salah satu
bentuk perlindungan pemerintah kepada para
konsumen (Fibo.2012)

Labeling : Keterangan mengenai pangan yang
berbentuk gambar, tulisan/kombinasi yang merupakan
kemasan pangan yang berisi tanggal kadaluarsa, alamat,
dan nama produk (Kamus Gizi)

2. Claim Segala bentuk uraian yang menyatakan, menyarankan
secara tidak langsung menyatakan karakteristik tentang
perihal karakteristik asal usul, tmpat pngolahan ,
kandungan gizi, sifat produksi pngolahan kmposisi atau
faktor mutu lainnya (BPOM.2011)
3. Food Formulation Perumusan dalam pembuatan kebutuhan gizi spesifik
pada penderita masalah gizi, memilih bahan- bahan
makanan yang berkhasiat dan kemudian menentukan
proses pengolahan dan distribusi serta penyajian
(Yohanes, -)
4. Sertifikat Halal Fatwa tertulis yang dikeluarkan oleh MUI melalui
keputusan siding komisi fatwa yang menyatakan
kehalalan suatu produk berdasarkan proses audit yang
dilakukan oleh LPPOM MUI. (LPPOM-MUI.2008)
5. Nutrition Fact Daftar kandungan zat gizi pangan pada label pangan
sesuai dengan format yang dibakukan dalam persen
AKG (Kamus Gizi ; BPOM.)
6. PMT Pemberian makanan tambahan disamping makanan
sehari-hari yang bertujuan untuk memulihkan keadaan
gizi dan kesehatan, dapat berupa makanan lokal atau
pabrik (Kamus Gizi)
7. Produk Hasil dari sebuah proses atau barang-barang yang
dibuat atau dihasilkan (KBBI)
8. Bahan Makanan
Lokal
Bahan makanan atau makanan yang tersedia dan
mudah diperoleh di wilayah setempat dengan harga
terjangkau (BPOM RI.2011)
9. Dinkes Unsur pelaksana dari otonom daerah yang bertugas
memiliki tugas pokok urusan pemerintahan daerah
berdasar atas otonomi dan tugas pembantuan dibidang
kesehatan, dibwah bupati melaui sekda. (Pemerintah
Boyolali.2012)
10. Wasting Kondisi kurang gizi akut yang diukur menurut indeks
BB/TB dibandingkan dengan standar yang biasa
digunaka, jika z-scorenya dibawah -2 SD baku berarti
kurang gizi akut, dibawah -3 adalah kurang gizi akut
berat dilihat berdasarkan klasifikasi WHO. (Kamus Gizi)

11. Sosio-Budaya Pola perilaku , sosial, yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri yang memiliki nilai berbangsa
dan negara (Demartanto.2010 ; Takers.2012)


D. DAFTAR CUES
Ahli Gizi mampu melakukan intervensi gizi dengan membuat formulasi makanan yang menggunakan
Bahan Makanan lokal yang dibuat sesuai dengan standar PMT dan sosio-budaya masyarakat dengan
pengemasan produk yang menggunakan peraturan pelabelan makanan yang disertai informasi gizi,
claims, dan sertifikat halal untuk menanggulangi masalah wasting pada anak usia sekolah di NTT

E. DAFTAR PROBLEM IDENTIFICATION

F. LEARNING ISSUE
1. UMUR YANG TERMASUK ANAK SEKOLAH
Masa kelas rendah sekolah dasar berlangsung antara usia 6-7 tahun, yaitu kelas 1-3 SD. Masa
kelas tinggi sekolah dasar yang berlangsung antara usia 9-10 tahun sampai 12-13 tahun, yaitu
kelas 4-6 SD. (Purwanti,2009) Menurut Peraturan Pemerintah RI no 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Pasal 63 : Pendidikan anak usia dini (PAUD) usia 4-6 tahun
Pasal 69 : Ayat 1 dan 4 usia anak SD/MI paling rendah adalah 6 tahun dan rentang usia anak
SD sampai 12 tahun
Pasal 71 :Ayat 2 rentang usia SMP/MTS antara 13-15 tahun dan usia SMA/MA/SMK antara
16-18 tahun.

2. APA CIRI-CIRI DARI WASTING BILA DIBANDINGKAN DENGAN ANAK YANG
STUNTING DAN ANAK NORMAL?
Normal Wasting Stunting
- Anak tampak aktif dan
lincah
- Muka tampak segar
- Tidak ada gangguan
pertumbuhan rambut
dan kulit
- BB dan TB Ideal
- Kenaikan BB berkurang,
terhenti/ menurun
- Ukuran LiLA menurun
- Maturasi tulang
terhambat
- Rasio BB/TB cenderung
menurun
- Tebal lipat kulit semakin
berkurang
- Kehilangan lemak
subkutan
- Tulang terlihat terutama
disekitar rusuk (iga
gambang)
- Kegagalan mencapai BB
- Kegagalan mencapai TB
ideal
- Hilangnya lemak
dibawah kulit secara
signifikan
- Berkurangnya massa
otot
- Dermatitis
- Infeksi berulang
- Kurus, lemas, kulit
kering, rambut rontok
- Keterlambatan
perkembangan motor/
gerak
- Lemahnya fungsi cognitif
relative menurut TB
- Z score BB/U relative
rendah
dan rendahnya prestasi
belajar

(Kamus Gizi ; Adisasmito, Wiko. 2008 ; UNICEF. 2007)

3. MENGETAHUI KARAKTERISTIK WASTING MELIPUTI :
a. PHI untuk wasting dan bagaimana intrepetasinya terhadap kasus
PHI untuk wasting dan intrepetasinya terhadap kasus
Berikut adalah PHI dari wasting
Indicator Low Medium High Very high
Wasting < 5 % 5 9,9 % 10 14,9 % 15
( sumber : Gibson, 2005)
Dari data yang diperoleh diketahui bahwa prevalensi wasting pada anak SD di NTT
berjumlah 36,6%. Jika prevalensi tersebut dibandingkan dengan PHI pada tabel di atas,
maka disimpulkan bahwa prevalensi wasting pada anak sekolah di NTT adalah sangat
tinggi.
b. Faktor-faktor penyebab wasting secara umum dan faktor penyebab wasting di NTT
(khususnya)
Penyebab langsung gizi kurang akut (wasting) adalah makan tidak seimbang, baik jumlah
dan mutu asupan gizinya, disamping itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh
tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi.
Penyebab tidak langsung adalah tidak cukup tersedianya pangan di rumah tangga, kurang
baiknya pola pengasuhan anak terutama dalam pola pemberian makan pada balita, kurang
memadainya sanitasi dan kesehatan lingkungan serta kurang baiknya pelayanan kesehatan.
Semua keadaan ini berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan dan kemiskinan. Akar masalah gizi adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan
sosial termasuk kejadian bencana alam, yang mempengaruhi ketidak seimbangan antara
asupan makanan dan adanya penyakit infeksi, yang pada akhirnya mempengaruhi status
gizi anak (Saragih,2010).



Dimensi Masalah Gizi (UNICEF, 1998)
Dampak



Penyebab langsung



Penyebab tidak
langsung

pokok masalah di masyarakat Kurang pendidikan, pengetahuan dan keterampilan


Pengangguran, inflasi,
kurang pangan dan kemiskinan


Akar masalah nasional





Penyebab dan akibat dari wasting di NTT
Secara Umum
Penyebab
Akibat
Penyebab langsung (Kent, 2005):
- Asupan makan menurun
- Adanya penyakit infeksi

- Peningkatan angka morbiditas dan
mortalitas balita
- Penurunan kualitas penerus bangsa
Kurang gizi
Makan tidak seimbang Penyakit infeksi
Tidak cukup
persediaan pangan
Pola asuh anak tidak
memadai
Sanitasi dan
pelayanan tidak
memadai
Krisis ekonomi, politik, dan social
Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga,kurang
pemanfaatan sumnber daya masyarakat
Penyebab tidak langsung:
- Tidak cukupnya persediaan pangan di
rumah tangga
- Pola asuh kurang
- Sanitasi/ kesehatan yang kurang baik
- Akses pelayanan kesehatan terbatas
- Faktor sosial budaya dan
ketidaktahuan
- Rendahnya daya beli
- Tingginya penyakit infeksi
- Pengetahuan perilaku dan
keterampilan perbaikan gizi kurang
- Rendahnya pndapatan dan kemiskinan
keluarga
- Anak menjadi lemas, malas beraktivitas
dan berpikir
- Kematan ibu meningkat
- Pertumbuhan dan perkembangan anak
menurun
- Daya tahan tubuh menurun sehingga
mudah terjangkit infeksi penyakit
- Menghambat perkembangan mental
dan fisik (Kent , 2005)
- Menyebabkan marasmus, kwarsiorkor,
serta marasmic-kwarsiorkor
(Martianto, 2008)
- Menurunkan tingkat kecerdasan
(Cannor, 2007)


Penyebab Wasting di NTT
Penyebab
Akibat
Penyebab langsung:
- Kurangnya asupan makan sehingga
kebutuhan zat gizi tidak terpenuhi
- Adanya penyakit infeksi, seperti
malaria, diare, infeksi, demam, dan
infeksi parasit

Penyebab tidak langsung:
- Kurangnya sarana dan prasarana
kesehatan yang memadai serta sulitnya
akses pelayanan kesehatan
- Kurangnya kesadaran akan kebersihan
diri (hygiene) dan sanitasi (FAO, 2010)
- Tingginya angka kematian bayi (tahun
2005 mencapai 293 bayi)
- Berat badan anak menurun dan tinggi
badan tidak sesuai dengan grafik
pertumbuhan

- Keterbatasan dan kesulitan akses air
bersih
- Kurangnya pola asuh ibu dan anak
- Kesulitan akses pangan (NGO, 2008)
- Kemarau panjang yang menyebabkan
gagal panen (Martianto, 2008)

Penyebab dasar:
- Status sosio ekonomi yang rendah
(miskin alamiah)
- Kurangnya pemanfaatan sumber daya
masyarakat (Marut, 2007)


Penyebab lainnya:
- BBLR
- Asupan gizi buruk
- Penyakit infeksi
- Kekeringan
- ASI eksklusif rendah
- Kesadaran ibu rendah
- Pendapatan kurang (KPjogja.com)
- konsumsi pangan keluarga dan anak masih rendah baik kualitas maupun kuantitas
- pengetahuan gii ibu masih rendah
- masih ada kepercayaan food taboo yang bertentangan dengan prinsip gii
- Buruknya perilaku hidup sehat anak
- Buruknya sanitasi dan air
- Aksesbilitas fisik dan ekonomi terkendala kurangnya sumber penghasila
- Produksi pangan cenderung monokultur dengan sistem tumpang gilir
- Ketersediaan pangan sangat tergantung dengan hasil panen. (Drajat, 2008)
- kawin-cerai suami bekerja di Malaysia (TKI) sehingga banyak yang
- menjadi janda Malaysia (Jamal) karena suami menikah lagi, fenomena ini juga akan
menyebabkan kemiskinan pada rumah tangga dan akhirnya pola asus anak tidak baik
(Saragih, 2010)
- Viamin dan mineral kurang, makanan tidak bervariasi didominasi makanan sumber
karbohidrat, anak biasa makan nasik tanpa lauk.
- Jarang makan protein. Makan daging hanya saat ada upacara adat. Ternak disembelih
hanya saat upacara adat seperti kematian dan pernikahan.
c. Dampak wasting secara keseluruhan
Wasting tentunya memberikan dampak tersedniri bagi penderitanya, antara lain
- Kerentanan terhadap mortalitas
Wasting menyebabkan kerentanan penderitanya terhadap mortilitas semakin tinggi.
Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa gizi kurang baik akut maupun kronis
menyebabkan 56% kematian anak-anak di seluruh dunia dan bahwa kondisi gizi kurang
baik itu ringan, sedang, maupun berat meningkatkan resiko kematian karena penyakit
anak-anak yang biasa dengan resiko 2,5 , 4,6 , 8,4 secara terpisah.
- Kerentanan terhadap morbiditas
Dibandingkan dengan orang yang gizinya mencukupi, orang-orang dengan kondisi gizi
kurang/buruk lebih cenderung mengalami penyakit diare, malaria, serta infeksi
pernapasan, dan juga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita semua
penyakit ini dalam waktu lebih lama. Mereka juga cenderung mengalami gejala sisa
akibat infeksi umum yang akan melemahkan mereka.
- Penurunan perkembangan kognitif
Sebuah studi case control di Jamaika menunjukan bahwa kurang gizi akut menyebabkan
tingkat kognitif yang lebih rendah pada kelompok wasting jika dibandingkan dengan
kelompong stunted dan norman (non stunted), baik dari segi kousien perkembangan,
psikomotorik mata dan tangan, maupun kinerja mereka.
- Penurunan produktifitas ekonomi
Pada daerah yang penduduknya sebagian besar bekerja sebagai petani, kemampuan fisik
sangat diperlukan untuk menghasilkan hasil pertanian yang menunjang ekonomi
mereka. Akan tetapi jika seseorang mengalami kurang gizi akut/kronis maka mereka
akan lebih rentan terhadap infeksi. Kerentanan ini menurunkan kemampuan mereka
untuk produktif dalam bekerja sehingga produktifitas ekonomi mereka pun menurun.
- Akibat lain
Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa pembuatan program metabolisme tubuh
terjadi dalam awal kehidupan dengan memaksimalkan konservasi nutrient seperti
energy, Natrium, dan air. Kondisi ini merupakan adaptasi yang logis dan bersifat
protektif dalam lingkungan yang asupan nutrientnya buruk. Menurut teori ini, respon
tersebut telah dipelajari. Ketika dalam makanan terdapat nutrient dalam jumlah
berlimpah, pemograman metabolisme menghasilkan pertahanan yang berlebihan yang
kecenderungan menjadi penyakit.
Selain itu, terdapat dampak terhadap perkembangan janin dan hasilnya di
kemudian hari, serta dapak terhadap organ tubuh. Hal ini juga berdampak terhadap
produktivitas generasi akan datang ( Fransiska, 2011).

4. APA SAJA USAHA SELAIN FOOD FORMULATION YANG SUDAH DILAKUKAN
PEMERINTAH DALAM MENGATASI MASALAH WASTING DI NTT?
Program Keterangan
Program Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga (PUGK)
berupa penyuluhan tentang pemanfaatan pekarangan
keluarga untuk ditanami berbagai macam sayuran atau
buah-buahan sebagai usaha mengatasi adanya kejadian
kurang gizi masa mendatang (Deny Hidayati, et al., 1998)
Pemanfaatan posyandu Dalam program posyandu yang tersebar di berbagai
daerah, pemerintah juga memasukkan program
pendidikan gizi (KIE-Komunikasi Informasi Edukasi),
monitoring perkembangan, PMT (Martianto, Soekiman.
2006)

Program Diversifikasi Pangan (DPG) sebagai upaya pengurangan kebutuhan konsumsi beras.
Usaha ini sebagai salah satu upaya mengatasi kerawanan
pangan yang terjadi akibat adanya ketergantungan dalam
mengonsumsi beras (Deny Hidayati, et al., 1998)
Kerjasama atau Bantuan Organisasi
internasional
Adanya kemitraan antara pemerintah Indonesia dengan
UNICEF dan Uni-Eropa dalam membantu mengatasi
tantangan gizi untuk anak (Nuraini Razak, 2012)

Pemberian biscuit dan air mineral oleh LSM internasional
(Hera, 2009)

Program Takesra/Kukesra peminjaman modal usaha masyarakat miskin, tetapi
kurang efektif, karena terjadi penyimpangan penggunaan
dana dari masyarakat sendiri akibat monitoring dan
evaluasi dari pemerintah dari program ini kurang begitu
efektif (Deny Hidayati, et al., 1998)
Program Peningkatan Gizi Keluarga program dari Depkes berupa pemberian garam
beryodium, penyuluha kesehatan, serta pemberian poster
gizi ke sekolah (Deny Hidayati, et al., 1998)
Gerakan Nasional Sadar Gizi
Menuju Indonesia prima
Usaha meningkatkan produksi pangan
Usaha peningkatan penanganan pasca panen
Memperbesar penyediaan protein nabati dan hewani
(Repelita, 1979)

Program Keluarga Berencana (KB) Adanya keterpaduan antara gizi dan KB yaitu terdapat
hubungan antara jumlah anak, jarak kehamilan dan
kelahiran, ASI-Eksklusif dengan prevalensi anak pendek
dan anak kurus karena kekurangan gizi (Rea Golloway,
2011)
Subsidi beras dan susu bagi
masyarakat yang menderita kurang
gizi atau gizi buruk (Achmad , 2009)

Penyediaan obat-obatan gratis

Pembebasan biaya pengobatan


Pemberian susu gratis pada balita

Bantuan pemerintah berupa bahan
makanan pokok
(Hera, 2009)

Program pemerintah untuk menangani wasting di Indonesia
Jangka Pendek untuk Tanggap Darurat
Menerapkan prosedur tatalaksana penanggulangan masalah yaitu : Melaksanakan sistem
kewaspadaan dini secara intensif, Pelacakan kasus dan penemuan kasus baru, Melakukan
operasi sadar gizi yang mencakup deteksi dini penemuankasus melalui operasi timbang
dengan mengukur balita, Menangani kasus gizi dengan perawatan Puskesmas dan di Rumah
Sakit
Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas
sektor. Memberikan bantuan pangan, memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI),
pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan
terutama peningkatan ASI Eksklusif sejak lahir sampai 6 bulan dan diberikan Makanan
Pendamping ASI setelah usia 6 bulan, menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun .
Jangka Menengah
Revitalisasi Posyandu yang mencakup pelatihan ulang kader, penyediaan sarana, pembinaan
dan pendampingan kader
Revitalisasi puskesmas dengan mengaktifkan kegiatan preventif dan promotif,
meningkatkan manajemen program gizi, sarana dan bantuanbiaya operasional untuk
kegiatan pembinaan posyandu, pelacakankasus, dan kerjasama lintas sektor
Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan
Pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi, pendidikan dan bidangketahanan pangan untuk
meningkatkan pengetahuan dan daya beli keluarga.
Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif, tokoh
masyarakat, tokoh agama, pemuka adat danmedia massa agar peduli dan bertindak nyata di
lingkungannya untuk memperbaiki status gizi anak
Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pemantauan terus menerus situasi
pangan dan gizi masyarakat, untuk melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah
timbulnya bahaya rawan pangan.
Jangka Panjang
Mengintegrasikan program perbaikan gizi dan ketahanan pangan Ke dalam program
penanggulangan kemiskinan
Meningkatkan daya beli masyarakat
Meningkatkan pendidikan terutama pendidikan wanita
Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi, yaitu;Menimbang berat
badan secara teratur, Makan beraneka ragam setiap hari, Hanya memberikan ASI saja
kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan, memberikan MP-ASI setelah usia 6 bulan ,
menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun, Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A,
tablet Fe) kepadaanggota keluarga yang memerlukan.
Memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan melalui Posyandu, TokohAgama (Tuan Guru),
Perkumpulan Keagamaan dan kelompok potensiallainnya.
Meningkatkan persentase penduduk yang menikmati produk pangan difortifikasi dan
meningkatkan jumlah jenis produk pangan yang difortifikasi.
(Depkes RI,2005)
Diversifikasi
Upaya diversifikasi pangan sebetulnya sudah dilakukan oleh pemerintah sejak awal
tahun 50-an. Namun sampai sekarang upaya tersebut masih sulit terwujud. Belajar dari
pengalaman, Kebijakan diversifikasi pangan ke depan harus mengacu pada aturan yang tertuang
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan, yaitu dengan
memperhatikan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal serta ditetapkan oleh Menteri
atau Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggungjawab sesuai dengan
tugas dan kewenangannya masing-masing.
Ini berarti keberhasilan diversifikasi pangan adalah tanggungjawab bersama, bukan hanya
pemerintah (Purnama, tanpatahun)
Suplementasi
Suplementasi vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirop besi serta kapsul minyak beryodium
merupakan salah satu upaya pemerintah dalam penanggulangan masalah gizi kurang yang
dilakukan secara terpadu. Berikut penjelasan mengenai suplementasi vitamin A :
1) Waktu pemberian suplementasi Vitamin A dosis tinggi untuk bayi dan anak balita
Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara
serentak:
Untuk bayi umur 6-11 bulan pada bulan Februari atau Agustus
Untuk anak balita umur 12-59 bulan pada bulan Februari dan Agustus
2) Tenaga yang memberikan suplementasi Vitamin A padabayi dananak balita
Tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, tenagagizidll)
Kader terlatih
3) Cara Pemberian
Sebelum dilakukan pemberian kapsul, tanyakan pada ibu balita apakah pernah menerima
kapsul Vitamin A pada 1 (satu) bulan terakhir.
Cara pemberian kapsul pada bayi dan anak balita:
Berikan kapsul biru (100.000 SI) untuk bayi dan kapsul merah(200.000 SI) untuk balita
Potong ujung kapsul dengan menggunakan gunting yang bersih
Pencet kapsul dan pastikan anak menelan semua isi kapsul (dan tidak membuang sedikit
pun isi kapsul)
Untuk anak yang sudahbisa menelan dapat diberikan langsung satu kapsul untuk
diminum
4) Tempatpemberian
Sarana fasilitas kesehatan (rumahsakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu),
polindes/poskesdes, balai pengobatan,praktek dokter/bidan swasta)
Posyandu
Sekolah Taman Kanak-kanak, Pos PAUD termasuk kelompok bermain, tempat penitipan
anak, dll
Catatan :
Pemberian kapsul vitamin A pada bulan Februari dan Agustus dapat diintegrasikan dengan
pelaksanaan program lain seperti kegiatanKampanye Campak (Measles Campaign), malaria,
untuk meningkatkancakupan masing-masing program. (Direktorat Bina Gizi Masyarakat
Departemen Kesehatan, 2009)(Almatsier, 2009)

Fortifikasi
Langkah-langkah pengembangan program fortifikasi pangan, antara lain adalah:
a) Menentukan prevalensi defisiensi mikronutrien
b) Segmen populasi (menentukan segmen)
c) Tentukan asupan mikronutrien dari survey makanan
d) Dapatkan data konsumsi untuk pengan pembawa (vehicle) yang potensial
e) Tentukan availabilitas mikronutrien dari jenis pangan
f) Mencari dukungan pemerintah (pembuat kebijakan dan peraturan)
g) Mencari dukungan industri pangan
h) Mengukur (Asses) status pangan pembawa potensial dan cabang industry
pengolahan(termasuk suplai bahan baku dan penjualan produk)
i) Memilih jenis dan jumlah fortifikasi dan campurannya
j) Kembangkan teknologi fortifikasi
k) Lakukan studi pada interaksi, potensi stabilitas, penyimpangan dan kualitas organoleptik
dari produk fortifikasi.
l) Tentukan bioavailabilitas dari pangan hasil fortifikasi
m) Lakukan pengujian lapangan untuk menentukan efficacy dan kefektifan
n) Kembangkan standar-standar untuk pangan hasil fortifiksi
o) Defenisikan produk akhir dan keperluan-keperluan penyerapan dan pelabelan
p) Kembangkan peraturan-peraturan untuk mandatory compliance
q) Promosikan (kembangkan) untuk meningkatkan ketertarikan oleh konsumen.
(Siagian,2003)

Intervensi (Selain Formulasi Makanan) Yang Dilakukan Pemerintah Untuk Menanggulangi Wasting
Penyuluhan gizi kepada masyarakat tentang penanggulangan KEP dan kurang gizi kronis KEK
Pemantapan system kewaspadaan pangan dan gizi
Penganekaragaman pangan
Pendidikan gizi dan kesehatan
Pemanfaatan pekarangan rumah dan sekolah
Pemberian obat cacing bagi peserta didik
Pendidikan pola hidup sehat
Therapeutic feeding center (TFC)
TFC (Therapeutic Feeding Centre) atau PPG (Pusat Pemulihan Gizi) adalah pusat
pemulihan gizi buruk dengan perawatan serta pemberian makanan anak secara intensif dan
adekuat sesuai usia dan kondisinya, dengan melibatkan peran serta orang tua (ibu) agar
dapat mandiri ketika kembali ke rumah.
TFC merupakan tempat pemberian makanan tambahan disertai dengan terapi diet
dan medis pada anak yang menderita gizi buruk (sangat kurus) yang bertujuan menurunkan
angka kematian balita. Perawatan di TFC dilakukan meliputi 3 aspek, yaitu aspek : medis,
nutrisi, dan keperawatan.TFC dapat dikembangkan dengan membuat bangunan tambahan
secara khusus atau memanfaatkan bangunan (ruangan) yang telah ada di Rumah Sakit
maupun Puskesmas Perawatan.
Langkah Penyelenggaraan TFC
1. Advokasi dan sosialisasi
Kegiatan advokasi dan sosialisasi dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak terkait dalam rangka keberhasilan penyelenggaraan TFC.
2. Penjaringan (screening) sasaran.
Penjaringan sasaran dapat dilakukan melalui kegiatan: penimbangan balita di
Posyandu, pelayanan pengobatan di Puskesmas, survai Pemantauan Status Gizi,
maupun Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Gizi.
3. Pelatihan tatalaksana anak gizi buruk
Pelatihan tatalaksana anak gizi buruk dimaksudkan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penanganan balita gizi buruk.
Sasaran (peserta) pelatihan adalah Tim Asuhan Gizi, yaitu : Dokter spesialis
anak,Perawat di bagian anak, dan ahli gizi.
Pelayanan dengan menerapkan tatalaksana anak gizi buruk oleh tenaga yang sudah terlatih.
Dilakukan dengan mengacu pada buku tatalaksana anak gizi buruk, meliputi penanganan
pada fase stabilitasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. (PERMEN DAGRI no. 18 tahun 2011)
5. NUTRITION FACTS
A. Tujuan dari Nutrition Fact
Secara Umum:
1. Dapat dimanfaatkan konsumen dalam pemilihan makanan.
2. Digunakan untuk membandingkan antara satu produk dengan produk lainnya yang
masih dalam satu katagori (Al-Jannah, 2010)
3. Untuk mendukung berjalannya program PUGS, karena dalam PUGS terdapat salah satu
pendidikan gizi mengenai kebiasaan untuk membaca nilai gizi pada kemasan (Zahara,
2009)
4. a) Membandingkan antar produk. b) Memastikan klaim. c) Dietary Made-off.
(USFDA/CFSAN, 2004)
Bagi konsumen
o Media untuk mendapat informasi yang benar dan tidak menyesatkan
o Menyediakan informasi zat gizi
o Membantu mengatur diet
o Membantu dalam menentukan jumlah yang sebaiknya dikonsumsi (penambahan atau
pengurangan)
o Dapat dimanfaatkan oleh konsumen dalam pemilihan yang bijak terhadap produk
makanan, terutama yang berkenaan dengan kandungan zat gizi di dalamnya sesuai
dengan kebutuhannya (BPOM, 2009).
Bagi produsen
o Untuk menginformasikan kandungan zat gizi yang terdapat dalam suatu produk
makanan kepada konsumen. (BPOM, 2011)
o Pihak produsen berkesempatan untuk menyampaikan informasi zat gizi yang terkandung
dalam produknya yang kemungkinan merupakan keunggulan produk tersebut
dibandingkan produk lainnya sesuai dengan cara pencantuman yang telah ditetapkan
(BPOM, 2009). (A Handbook of Nutrition Labeling Singapore)
o Untuk memenuhi persyaratan perundang-undangan dalam penulisan label makanan
apabila dalam label makanan tersebut mencantumkan klaim yang terkait suatu zat gizi
tertentu.
o Dari sisi produsen, pencantuman nutrition facts mendukung inovasi yang dilakukan
perusahaan makanan (Vaclavik and Christian, 2008)
B. Komponen Nutrition Fact Indonesia
a. Bagian 1, berisi:
Takaran saji
Jumlah sajian per kemasan
b. Bagian 2, kandungan energy dan zat gizi per saji:
Kandungan energy per takaran
Kandungan zat gizi mikro
Kandungan vitamin dan mineral
c. Bagian 3, persen angka kecukupan gizi. Satu porsi makanan dibandingkan kecukupan zat gizi
sehari konsumen
d. Bagian 4, catatan kaki
Informasi tentang acuan kecukupan zat gizi yang digunakan untuk menghitung % AKG per
saji (BPOM. 2009)
C. Ketentuan dalam Nutrition Fact di Indonesia
1) KETENTUAN UMUM
a) JENIS PANGAN
Tidak semua label pangan wajib mencantumkan Informasi gizi. Pencantuman
Informasi Gizi diwajibkan pada label pangan yang memuat keterangan tertentu, yaitu
label pangan yang:
- Disertai pernyataan bahwa pangan mengandung vitamin, mineral, dan atau zat
gizi lainnya yang ditambahkan, atau
- Dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dibidang mutu dan gizi pangan, wajib ditambahkan vitamin, mineral, dan
atau zat gizi lainnya.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan zat gizi lain yaitu karbohidrat, protein, lemak,
dan komponen serta turunannya, termasuk energy.
b) POSISI DAN UKURAN HURUF
Informasi Nilai Gizi harus dicantumkan dengan huruf yang jelas, mudah dibaca,
dengan ukuran huruf sekurang-kurangnya 1 mm dan proporsional dengan luas
permukaan label. Informasi Nilai Gizi dapat dicantumkan pada bagian utama ataupun
pada bagian lain label produk pangan.
c) FORMAT
Informasi Nilai Gizi harus dicantumkan sesuai dengan format yang ditetapkan.
2) KETENTUAN LAIN
a) ANGKA KECUKUPAN GIZI
Acuan
Angka kecukupan gizi (AKG) yang digunakan untuk menghitung persentase
Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada label adalah AKG pelabelan sesuai dengan
kelompok umur sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepala Badan POM
yang berlaku.
Zat gizi yang belum ditetapkan dalam AKG
Zat gizi yang belum ditetapkan AKG-nya atau tidak ada acuan lain yang dapat
digunakan maka pencantuman informasi mengenai zat gizi tersebut diletakkan
dibawah Informasi Nilai Gizi dengan pernyataan sebagai berikut:
Mengandung..g/mg/mcg(zat gizi) per sajian
Pencantuman AKG untuk pangan bagi anak
Pangan yang ditujukan untuk anak berusia 6 sampai 24 bulan dan 2 sampai 5
tahun, persentase AKG yang dicantumkan hanya untuk protein, vitamin, dan
mineral.
b) PANGAN REKONSTITUSI DAN PANGAN YANG DIKERINGKAN
Pangan Rekonstitusi
Informasi Nilai Gizi pada pangan dehidrasi atau konsentrat yang harus
direkonstitusi dengan air sebelum dikonsumsi, kandungan zat gizi yang dicantumkan
adalah kandungan zat gizi setelah direkonstitusi.
Pangan yang harus ditiriskan (drained)
Informasi Nilai Gizi yang dicantumkan pada pangan yang harus ditiriskan
(drained) sebelum dikonsumsi adalah kandungan zat gizi setelah ditiriskan.
c) JUMLAH ZAT GIZI YANG TIDAK BERARTI
Suatu zat gizi dinyatakan dalam jumlah tidak berarti apabila terdapat dalam
pangan dengan jumlah sebagai berikut:

Zat gizi yang terdapat dalam jumlah yang tidak berarti per sajian dapat
dicantumkan pada label dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Dicantumkan setelah tulisan vitamin dan mineral dan
b. Dengan menggunakan pernyataan seperti berikut:
tidak merupakan sumber.(isi nama zat gizi) yang berarti
(BPOM tentang Pedoman Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan)
D. Isi dari Nutrition Fact
Salah satu keterangan yang dicantumkan dalam informasi nilai gizi adalah jumlah zat
gizi yang terdapat dalam produk pangan. Keterangan tentang kandungan gizi tersebut harus
dicantumkan dalam persentase dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Angka Kecukupan
Gizi (AKG) yang digunakan untuk menghitung persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada
label adalah AKG pelabelan sesuai dengan kelompok umur sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, nomor: HK.00.05.52.6291 tahun
2007 tentang Acuan Label Gizi Produk Pangan. Acuan Label Gizi dalam keputusan tersebut
dibagi dalam beberapa kelompok konsumen seperti berikut:
1. Acuan Label Gizi untuk makanan yang dikonsumsi umum.
2. Acuan Label Gizi untuk makanan bayi usia 0-6 bulan.
3. Acuan Label Gizi untuk makanan bayi usia 7- 23 bulan
4. Acuan Label Gizi untuk makanan anak usia 2-5 tahun.
5. Acuan Label Gizi untuk makanan ibu hamil
6. Acuan Label Gizi untuk makanan ibu menyusui.
Mengingat bahwa konsumen berhak memperoleh informasi yang benar dan tidak
menyesatkan serta bahwa perdagangan pangan memerlukan kepastian hukum, jujur dan
bertanggung jawab, maka penerapan pencantuman informasinilai gizi telah diatur dalam
suatu acuan yaitu Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
nomor HK.00.06.51.0475 tahun 2005 tentang Pedoman Pencantuman Informasi Nilai Gizi.
Untuk lebih jelasnya sedikit ditinjau tentang Ketentuan Pencantuman Informasi Nilai Gizi.
1) INFORMASI YANG WAJIB DICANTUMKAN
a. TAKARAN SAJI
Pengertian
- Takaran saji adalah jumlah produk pangan yang biasa dikonsumsi dalam satu
kali makan, dinyatakan dalam ukuran rumah tangga yang sesuai untuk produk
pangan tersebut.
- Ukuran rumah tangga meliputi antara lain sendok the, sendok makan, sendok
takar, gelas, botol, kaleng, mangkuk/cup, bungkus, sachet, keeping, buah, biji,
potong, iris.
- Penentuan takaran saji harus disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (Badan POM) pada saat penilaian keamanan pangan/pendaftaran.
Pencantuman
- Pencantuman takaran saji harus diikuti dengan jumlah dalam satuan metrik
(mg, g, ml), seperti berikut:
Takaran sajisendok makan (g) atau
Takaran sajibotol (ml)
Misal:
Takaran saji 2 sendok takar (14 g)
Takaran saji 1 botol (120 ml)
Pembulatan unit ukuran metrik takaran saji
1. Kurang dari 10 g atau 10 ml, dibulatkan ke kelipatan 0,1 g atau 0,1 ml terdekat (1
desimal)
Misal : 7,68 g dibulatkan menjadi 7,7 g
2. Lebih dari 10 g atau 10 ml, dibulatkan ke kelipatan I g atau I ml terdekat (tanpa
desimal)
Misal : 25,3 ml dibulatkan menjadi 25 ml

b) JUMLAH SAJIAN PER KEMASAN
Pengertian
Jumlah sajian per kemasan menunjukkan jumlah takaran saji yang terdapat dalam
satu kemasan pangan.
Pencantuman
- Jika satu bungkus produk pangan berisi 5 takaran saji, maka pencantuman
jumlah sajian per kemasan adalah sebagai berikut:
Jumlah sajian per kemasan : 5
- Jika kemasan pangan berisi sajian tunggal maka pangan tersebut tidak perlu
mencantumkan informasi mengenai jumlah sajian per kemasan.
Pembulatan jumlah sajian per kemasan
1) Jika jumlah sajian per kemasan merupakan angka pembulatan, maka
pencantumannya harus diikuti dengan kata-kata sebagai berikut:
o sekitar atau
o kurang-lebih atau
o
2) Ketentuan tentang pembulatan ukuran jumlah sajian per kemasan adalah
sebagai berikut:
1. Jika produk pangan berisi kurang dari 2 sajian per kemasan maka dianggap
sebagai sajian tunggal
2. Jika kemasan berisi 2 sampai 5 sajian maka dibulatkan ke kelipatan 0,5
terdekat
Misal: isi bersih produk sebesar 100 ml dengan takaran saji 30 ml
perhitungan jumlah sajian per kemasan produk adalah 3,33. Pencantuman
jumlah sajian per kemasan produk tersebut adalah sebagai berikut:
o jumlah sajian per kemasan : 3,5
o jumlah sajian per kemasan : sekitar 3,5
o Jumlah sajian per kemasan : kurang lebih 3,5
3. Jika kemasan berisi lebih dari 5 sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 terdekat
(tanpa desimal)

Misal : berat bersih suatu produk sebesar 180 g dengan takaran saji 35 g,
perhitungan jumlah sajian per kemasan adalah 5,14. Pencantuman jumlah
sajian per kemasan untuk produk tersebut adalah sebagai berikut:
o jumlah sajian per kemasan : sekitar 5
o jumlah sajian per kemasan : kurang lebih 5
o jumlah sajian per kemasan : 5

c) CATATAN KAKI
Pengertian
Catatan kaki merupakan informasi yang menerangkan bahwa persentase AKG
yang ditunjukkan dalam informasi Nilai Gizi dihitung berdasarkan kebutuhan
energy 2000 kkal
Pencantuman
- Tulisan yang dicantumkan adalah sebagai berikut:
*persen AKG berdasarkan kebutuhan energy 2000 kkal. Kebutuhan energy
anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah
- Catatan kaki dicantumkan pada bagian paling bawah, ditulis dengan huruf
miring (italic) dan merupakan informasi terakhir di dalam kotak informasi Nilai
Gizi.
- Catatan kaki tidak perlu dicantumkan untuk pangan yang ditujukan bagi anak
berusia 6 sampai 24 bulan dan pangan yang ditujukan bagi anak berusia 2
sampai 5 tahun.
2) ZAT GIZI YANG WAJIB DICANTUMKAN
Uraian tentang zat gizi yang dicantumkan dalam informasi Nilai Gizi merupakan
kandungan masing-masing zat gizi persajian. Oleh karena itu sebelum uraian tentang
zat gizi, tulisan berikut harus dicantumkan dengan huruf besar (kapital) dan tebal
(bold):
JUMLAH PER SAJIAN
(a) Energi total, dinyatakan dalam gram dan presentase AKG
Pengertian
Energy total merupakan jumlah nergi yang berasal dari lemak, protein dan
karbohidrat
Pencantuman
Kandungan energi total dicantumkan dalam satuan kkal per takaran saji dengan
tulisan tebal (bold)
Pembulatan nilai energi total
1. Kurang dari 5 kkal per sajian dinyatakan sebagai 0 kkal
Misal : kandungan energi total sebesar 4 kkal per sajian maka pencantuman nilai
energy total sebagai berikut:
Energi total 0 kkal
2. 5 kkal sampai 50 kkal per sajian dibulatkan ke kelipatan 5 kkal terdekat.
Misal : kandungan energy total sebesar 22 kkal per sajian maka pencantuman
nilai energy total sebagai berikut
Energi total 20 kkal
3. Lebih dari 50 kkal per sajian dibulatkan ke kelipatan 10 kkal terdekat.
Misal : kandungan energy sebesar 266 kkal per sajian, pencantuman nilai energi
total sebagai berikut:
Energi total 270 kkal

(b) Lemak total, dinyatakan dalam gram dan presentase AKG
Pengertian
Lemak total menggambarkan kandungan semua asam lemak dalam pangan dan
dinyatakan sebagi trigliserida.
Pencantuman
Kandungan lemak total dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam
persentase AKG lemak, dengan tulisan tebal (bold).
Pembulatan nilai lemak total


Pembulatan Nilai Persentase AKG lemak total


(c) Protein, dinyatakan dalam gram dan persentase AKG
Pengertian
Kandungan protein menggambarkan kandungan semua asam amino dalam
produk pangan.
Pencantuman
Kandungan protein dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase
AKG, dengan tulisan tebal (bold).
Pembulatan nilai protein

Pembulatan nilai persentase AKG protein


(d) Karbohidrat total, dinyatakan dalam gram dan presentase AKG
Pengertian
Karbohidrat total meliputi gula, pati, serat pangan dan komponen karbohidrat
lain
Pencantuman
Kandungan karbohidrat total dinyatakan dalam gram per sajian dan dalam
persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold).
Pembulatan nilai karbohidrat total


Pembulatan nilai persentase AKG karbohidrat total


(e) Natrium, dinyatakan dalam gram dan presentase AKG
Pencantuman
Kandungan natrium dinyatakan dalam milligram per sajian dan dalam
persentase AKG, dengan tulisan table (bold).
Pembulatan nilai natrium

Pembulatan nilai persentase AKG natrium

AKG yang digunakan untuk menghitung presentasi AKG pada label adalah AKG pelabelan
sesuai dengan kelompok umur. Acuan label gizi dibagi sesuai kelompok konsumen
seperti tesebut diatas, sehingga % AKG dapat dihitung sesuai dengan target.

3) ZAT GIZI YANG WAJIB DICANTUMKAN DENGAN PERSYARATAN TERTENTU
Sejumlah zat gizi wajib dicantumkan dalam informasi nilai gizi berkenaan dengan
beberapa kondisi berikut:
(a) Produk pangan mengandung zat gizi tersebut dalam jumlah tertentu, atau
(b) Zat gizi tersebut dipersyaratkan untuk ditambahkan atau difortifikasi pada pangan,
atau
Pangan yang bersangkutan memuat klaim yang berkenaan dengan zat gizi tersebut.
Beberapa zat gizi tersebut antara lain: energi dari lemak, lemak jenuh, lemak trans,
kolesterol, serat pangan, gula, vitamin, A, vitamin C, kalsium, zat besi. Berikut adalah
aturan penulisan zat gizi tersebut:
a) Energi dari Lemak
Ketentuan umum
Energi dari lemak wajib dicantumkan apabila terdapat dalam jumlah yang
berarti yaitu lebih dari 0,5 gram lemak (energi dari lemak sebesar 4,5 kkal) per
sajian.
Kandungan energi dari lemak tidak perlu dicantumkan untuk pangan yang
ditujukan bagi anak berusia 6 sampai 24 bulan.
Pencantuman
Kandungan energi dari lemak dicantumkan dalam satuan kkal per sajian.
Pembulatan nilai energi dari lemak
(a) Kurang dari 5 kkal per sajian, dinyatakan sebagai 0 kkal.
Misal: Kandungan energi dari lemak sebesar 3 kkal per sajian, maka
pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut: Energi dari lemak 0 kkal
(b) 5 kkal sampai 50 kkal per sajian, dibulatkan kekelipatan 5 kkal terdekat.
Misal: Kandungan energi dari lemak sebesar 17 kkal per sajian, maka
pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut: Energi dari lemak 15
kkal
(c) Lebih dari 50 kkal per sajian, dibulatkan kekelipatan 10 kkal terdekat.
Misal: Kandungan energi dari lemak sebesar 108 kkal per sajian, maka
pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut: Energi dari lemak 110
kkal
b) Lemak Jenuh
Ketentuan Umum
(a) Kandungan lemak jenuh wajib dicantumkan apabila :
(1) Terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 0,5 g per sajian; dan
atau
(2) Mencantumkan pernyataan (klaim) tentang lemak, asam lemak, atau
kolesterol; dan atau
(3) Mencantumkan nilai energi dari lemak jenuh.
(b) Kandungan lemak jenuh tidak perlu dicantumkan untuk pangan yang ditujukan
bagi anak berusia 6 sampai 24 bulan.
Pencantuman
Kandungan lemak jenuh dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase
AKG lemak jenuh per sajian.
Pembulatan nilai lemak jenuh
(a) Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Misal: Kandungan lemak jenuh sebesar 0,3 g per sajian, maka pencantuman nilai
lemak jenuh sebagai berikut : Lemak jenuh 0 g
(b) 0,5 g sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Misal: Kandungan lemak jenuh sebesar 3,7 g per sajian, maka pencantuman nilai
lemak jenuh sebagai berikut : Lemak jenuh 4,0 g
(c) Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Misal: Kandungan lemak jenuh sebesar 11,4 g per sajian, maka pencantuman
nilai lemak jenuh sebagai berikut : Lemak jenuh 11 g
Pembulatan nilai persentase AKG lemak jenuh
(a) Jika kandungan lemak jenuh yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG
lemak jenuh adalah 0 %.
(b) Lebih dari 0 %, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Misal : Nilai persentase AKG lemak jenuh sebesar 5,3 % per sajian, maka nilai
yang dicantumkan adalah 5 %.
c) Lemak Trans
Ketentuan
Kandungan lemak trans wajib dicantumkan apabila:
1. terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 0,5 g per sajian; dan atau
2. mencantumkan pernyataan (klaim) tentang lemak, asam lemak, atau
kolesterol.
Pencantuman
Kandungan lemak trans dicantumkan dalam gram per sajian. Kata trans ditulis
dengan huruf miring (italic).
Pembulatan nilai lemak trans
(a) Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Misal: Kandungan lemak trans sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai
lemak trans sebagai berikut: Lemak trans 0 g
(b) 0,5 g sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Misal: Kandungan lemak trans sebesar 2,8 g per sajian, maka pencantuman nilai
lemak trans sebagai berikut : Lemak trans 3,0 g
(c) Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Misal: Kandungan lemak trans sebesar 9,3 g per sajian, maka pencantuman nilai
lemak trans sebagai berikut: Lemak trans 9 g
d) Kolesterol
Ketentuan
(a) Kandungan kolesterol wajib dicantumkan apabila:
(1) Terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2 mg per sajian; dan
atau
(2) Mencantumkan pernyataan (klaim) tentang lemak, asam lemak atau
kolesterol.
(b) Kandungan kolesterol tidak perlu dicantumkan untuk pangan yang ditujukan bagi
anak berusia 6 sampai 24 bulan.
Pencantuman
Kandungan kolesterol dicantumkan dalam miligram per sajian dan dalam persentase
AKG, dengan tulisan tebal (bold).
Pembulatan nilai kolesterol
(a) Kurang dari 2 mg per sajian, dinyatakan sebagai 0 mg.
Misal: Kandungan kolesterol sebesar 1 mg per sajian, maka pencantuman nilai
kolesterol sebagai berikut: Kolesterol 0 mg
(b) 2 mg sampai 5 mg per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 mg terdekat.
Misal: Kandungan kolesterol sebesar 3,5 mg per sajian, maka pencantuman nilai
kolesterol sebagai berikut: Kolesterol 4 mg
(c) Lebih dari 5 mg per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 mg terdekat.
Misal: Kandungan kolesterol sebesar 27 mg per sajian, maka pencantuman nilai
kolesterol sebagai berikut: Kolesterol 25 mg
Pembulatan nilai persentase AKG kolesterol
(a) Jika kandungan kolesterol yang dicantumkan 0 mg, maka nilai persentase AKG
kolesterol adalah 0 %.
(b) Lebih dari 0 %, dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Misal : Nilai persentase AKG kolesterol sebesar 4,8 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 5 %.
e) Serat Pangan
Ketentuan
Serat pangan wajib dicantumkan apabila terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu
lebih dari 0,5 gram per sajian.
Pencantuman
Serat pangan dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG.
Pembulatan Serat Pangan
(a) Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Misal : Kandungan serat pangan sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman
nilai serat pangan sebagai berikut: Serat pangan 0 g
(b) Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Misal : Kandungan serat pangan sebesar 4,7 g per sajian, maka pencantuman
nilai serat pangan sebagai berikut : Serat pangan 5 g
Pembulatan nilai persentase AKG serat pangan
(a) Jika kandungan serat pangan yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG
serat pangan adalah 0 %.
(b) Lebih dari 0 %, dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Misal : Nilai persentase AKG serat pangan sebesar 7,5 % per sajian, maka nilai
yang dicantumkan adalah 8 %.
f) Gula
Ketentuan
Gula wajib dicantumkan apabila :
a. Terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 1 gram per sajian; dan atau
b. Mencantumkan penyataan (klaim) tentang kandungan gula, gula alkohol atau
pemanis
Pencantuman
Kandungan gula dicantumkan dalam gram per sajian.
Pembulatan Nilai Gula
(a) Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Misal : Kandungan gula sebesar 0,25 g per sajian, maka pencantuman nilai gula
sebagai berikut : Gula 0 g
(b) Lebih dari 0,5 g per sajian, pembulatan dilakukan ke kelipatan 1 g terdekat.
Misal : Kandungan gula sebesar 7,4 g per sajian, maka pencantuman nilai gula
sebagai berikut : Gula 7 g
g) Vitamin A
Ketentuan
Kandungan Vitamin A wajib dicantumkan apabila terdapat dalam jumlah yang
berarti yaitu lebih dari 2 % AKG per sajian; dan atau b. mencantumkan pernyataan
(klaim) tentang vitamin A.
Pencantuman
Kandungan Vitamin A dicantumkan dalam persentase AKG per sajian.
Pembulatan nilai persentase AKG vitamin A
(a) Kurang dari 2 % AKG per sajian, dinyatakan sebagai 0 %.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin A sebesar 1,9 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 0 %.
(b) 2 % sampai 10 % AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 2 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin A sebesar 7,2 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 8 %.
(c) Lebih dari 10 % AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin A sebesar 12 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 10 %.
h) Vitamin C
Ketentuan
Kandungan Vitamin C wajib dicantumkan apabila:
a. terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2 % AKG per sajian; dan atau
b. mencantumkan pernyataan (klaim) tentang vitamin C.
Pencantuman
Kandungan Vitamin C dicantumkan dalam persentase AKG per sajian.
Pembulatan nilai persentase AKG Vitamin C
(a) Kurang dari 2 % AKG per sajian, dinyatakan sebagai 0 %.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin C sebesar 1,7 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 0 %.
(b) 2 % sampai 10 % AKG per sajian, maka dibulatkan ke kelipatan 2 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin C sebesar 5,7 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 6 %.
(c) Lebih dari 10 % AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG vitamin C sebesar 24 %, maka nilai yang
dicantumkan adalah 25 %.
i) Kalsium
Ketentuan
Kalsium wajib dicantumkan apabila:
(a) terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2 % AKG per sajian; dan
atau
(b) mencantumkan pernyataan (klaim) tentang kalsium.
Pencantuman
Kalsium dicantumkan dalam persentase AKG per sajian.
Pembulatan nilai persentase AKG Kalsium
(a) Kurang dari 2 % AKG per sajian, dinyatakan sebagai 0 %.
Misal: Nilai persentase AKG kalsium sebesar 1,1 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 0 %.
(b) 2 % sampai 10 % AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 2 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG kalsium sebesar 5,6 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 6 %.
(c) Lebih dari 10 % AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 % terdekat.
Misal: Nilai persentase AKG kalsium sebesar 19 % per sajian, maka nilai yang
dicantumkan adalah 20 %. (www.pom.go.id) (BPOM, 2009)
j) ZAT BESI
Ketentuan
Zat besi wajib dicantumkan apabila:
1) Terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2% AKG per sajian, dan
atau
2) Mencantumkan pernyataan (klaim) tentang zat besi
Pencantuman
Zat Besi dicantumkan dalam persentase AKG per sajian
Pembulatan nilai persentase AKG zat besi


4) ZAT GIZI LAIN YANG WAJIB DITAMBAHKAN/DIFORTIFIKASI SESUAI DENGAN
KETENTUAN YANG BERLAKU
Pencantuman kandungan zat gizi yang wajib ditambahkan/difortifikasikan tersebut
harus mengikuti ketentuan tentang pencantuman zat gizi yang berada dalam kelompok
tersebut.
5) ZAT GIZI LAIN YANG PERNYATAANNYA (KLAIM) DICANTUMKAN PADA LABEL PANGAN
Jika klaim yang dimuat adalah perihal zat gizi yang tidak termasuk sebagai zat gizi yang
wajib dicantumkan atau zat gizi yang wajib dicantumkan dengan persyaratan tertentu,
maka kandungan zat gizi tersebut harus dicantumkan dalam Informasi Nilai Gizi.
Pencantuman kandungan zat gizi tersebut harus mengikuti ketentuan tentang
pencantuman zat gizi yang berada dalam kelompok tersebut.
6) ZAT GIZI LAIN DAPAT DICANTUMKAN (SUKARELA)
Beberapa zat gizi tidak wajib untuk dicantumkan dalam nutrition fact, namun jika ingin
dicantumkan maka harus memenuhi ketentuan. Antara lain: energi dari lemak jenuh,
MUFA, PUFA, kalium, serat pangan larut, serat pangan tidak larut, gula alkohol,
karbohidrat lain, mineral dan zat gizi lain. Berikut adalah ketentuan penulisannya:
a) ENERGI DARI LEMAK JENUH
Pencantuman
Energy dari lemak jenuh dicantumkan dalam kkal per sajian dan
ditempatkan setelah energy dari lemak
Kandungan energy dari lemak jenuh tidak perlu dicantumkan untuk
pangan yang ditujukan bagi anak berusia 6 sampai 24 bulan.
Pembulatan nilai energy dari lemak jenuh

b) LEMAK TIDAK JENUH TUNGGAL
Pengertian
Lemak tidak jenuh tunggal merupakan jumlah semua lemak tidak jenuh
tunggal yang dihitung sebagai jumlah semua asam lemak dengan sedikitnya 1
ikatan rangkap pada posisi cis.
Pencantuman
Lemak tidak jenuh tunggal dicantumkan dalam gram per sajian dan
ditempatkan setelah lemak jenuh
Pembulatan nilai lemak tidak jenuh tunggal

c) LEMAK TIDAK JENUH GANDA
Pengertian
Lemak tidak jenuh ganda merupakan jumlah semua lemak tidak jenuh ganda
yang dihitung sebagai jumlah semua asam lemak dengan sedikitnya 2 ikatan
rangkap cis-cis yang diselingi dengan gugus metilon.
Pencantuman
Lemak tidak jenuh ganda dicantumkan dalam gram persajian dan ditempatkan
setelah lemak jenuh
Pembulatan nilai lemak tidak jenuh

d) KALIUM
Pencantuman
Kandungan kalium dinyatakan dalam milligram per sajian dan dalam
persentase AKG kalium, serta ditemptkan setelah natrium.
Pembulatan nilai kalium

Pembulatan nilai persentase AKG kalium

e) SERAT PANGAN LARUT
Pengertian
Serat pangan larut meliputi antara lain gum, pectin, sebagian kecil
hemiselulosa serta oligosakarida (bermacam-macam frukto- dan galakto-
oligosakarida) dan sebagian gula alcohol (misalnya sorbitol dan manitol)
Pencantuman
Serat pangan larut dicantumkan dalam gram per sajian serta ditempatkan
setelah serat pangan.
Pembulatan nilai serat pangan larut

f) SERAT PANGAN TIDAK LARUT
Pengertian
Serat pangan tidak larut meliputi antara lain selulosa, lignin, sebagian besar
hemiselulosa, sejumlah kecil kutin dan lilin tanaman, senyawa pektat yang
tidak larut serta resisten starch.
Pencantuman
Serat pangan tidak larut dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan
setelah serat pangan.
Pembulatan nilai serat pangan tidak larut

g) GULA ALKOHOL
Pengertian
Gula alcohol merupakan senyawa kimia yang mempunyai struktur seperti gula
tetapi semua atom oksigennya berada dalam bentuk gugus hidroksil.
Pencantuman
Gula alcohol dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan setelah
gula.
Pembulatan nilai gula alcohol

h) KARBOHIDRAT LAIN
Pengertian
Karbohidrat lain merupakan selisih antara karbohidrat total dengan jumlah
dari serat pangan, gula dan gula alcohol.
Pencantuman
Karbohidrat lain dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan setelah
gula alcohol.
Pembulatan nilai karbohidrat lain


i) VITAMIN, MINERAL DAN ZAT GIZI LAIN
Ketentuan tentang pencantuman vitamin, mineral dan zat gizi lain mengikuti
ketentuan tentang pencantuman zat gizi yang berada dalam kelompok
tersebut.
Vitamin dan mineral lain hanya dapat dicantumkan jika terdapat dalam jumlah
sekurang-kurangnya 5% dari AKG per sajian.
7) ISI NUTRITION FACT UNTUK BAYI
Untuk informasi nilai gizi untuk formula bayi ditampilkan lebih sederhana. Uraian zat gizi
diawali dengan protein, lemak dan karbohidrat diikuti dengan asam linoleat dan diakhiri
dengan kelompok vitamin mineral (BPOM RI. 2009).
Informasi nilai gizi Satuan Jumlah
Per 100 gr Per 100 kkal Per 100 ml
Protein gr
Lemak gr
Karbohidrat gr
Asam Linoleat mg
Asam linoleat mg
Vitamin
Mineral




E. Format Nutrition Facts
a. Penulisan konten zat gizi
1) Informasi untuk energy harus dituliskan dalam kJ dan kcal per 100 gram atau per 100 ml
atau per kotak/pack bila kotak/pack hanya terdiri satu porsi.
2) Informasi untuk protein, karbohidrat, dan lemak dalam makanan harus dituliskan dalam
gram per 100 gram atau 100 ml per pack/kotak bila per pack/kotak terdiri hanya satu
porsi.
3) Untuk penulisan informasi vitamin dan mineral harus di tuliskan dalam unit meter
dan/atau sebagai presentase dari AKG per 100 g atau 100 ml atau per pack/kotak bila
pack/kotak hanya terdiri dari satu porsi. (WHO,FAO, 2007)








b. Format Baku di Indonesia
Format Informasi Nilai Gizi pada label pangan yang diuraikan berikut ini meliputi antara lain
bentuk, susunan informasi dan cara pencantumannya. Berdasarkan luas permukaan label
pangan, format Informasi Nilai Gizi dikelompokkan atas:
1) Format Vertikal
Untuk kemasan dengan luas permukaan label lebih dari 100 cm2. Format Vertikal terdiri
dari beberapa model sesuai dengan peruntukan masing-masing yaitu:
a. Umum
Format Umum terdiri atas 3 (tiga) bagian:
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat gizi. Bagian ini dibagi atas 3
(tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan yang berkenaan dengan lemak,
protein, karbohidrat, dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin dan mineral lainnya.
(3) Catatan kaki yang menerangkan bahwa perhitungan persentase AKG dilakukan
berdasarkan energi 2000 kkal dan kebutuhan masing-masing orang mungkin
berbeda-beda.

b. Pangan yang ditujukan bagi bayi/anak usia 6 sampai 24 bulan
Format terdiri atas 2 (dua) bagian:
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan tentang kandungan zat gizi. Persentase AKG yang dicantumkan
hanya untuk protein, vitamin dan mineral. Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub
bagian dan diawali dengan kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat informasi tentang energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak, protein, karbohidrat
dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang protein, vitamin dan mineral
lainnya.

c. Pangan yang ditujukan bagi anak usia 2 sampai 5 tahun
Format terdiri atas 2 (dua) bagian:
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan tentang kandungan zat gizi. Persentase AKG yang dicantumkan
hanya untuk protein, vitamin dan mineral.vBagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub
bagian dan diawali dengan kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat informasi tentang energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan tentang lemak, protein, karbohidrat
dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang protein, vitamin dan mineral
lainnya.

d. Pangan yang berisi 2 atau lebih pangan yang dikemas secara terpisah dan
dimaksudkan untuk dikonsumsi masing-masing dan pangan yang berbeda dalam hal
rasa, aroma atau warna. Ketentuan penggunaan format tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Jika tidak ada perbedaan kandungan zat gizi untuk pangan yang tedapat
dalam kemasan tersebut, Informasi Nilai Gizi dapat dicantumkan dalam
bentuk umum (hanya satu kolom).
2) Jika terdapat perbedaan kandungan gizi, pencantuman Informasi Nilai Gizi
untuk pangan tersebut diatas dilakukan dengan mencantumkan Informasi
Nilai Gizi untuk masing masing produk pangan secara terpisah (format umum)
atau mencantumkan informasi secara bersamaan.
Format ini terdiri atas 3 (tiga) bagian utama:
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat gizi. Ukuran satuan yang
dicantumkan untuk masing-masing zat gizi sebagaimana diuraikan pada bab-
bab terdahulu. Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan
kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan yang berkenaan dengan lemak,
protein, karbohidrat dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin dan mineral
lainnya.
(3) Catatan kaki yang menerangkan bahwa perhitungan persentase AKG dilakukan
berdasarkan energi 2000 kkal dan kebutuhan masing-masing orang mungkin
berbeda-beda.

Pada contoh format di atas ditunjukkan jika kemasan pangan tersebut berisi 3
(tiga) pangan. Kandungan zat gizi masing-masing diuraikan berdasarkan kolom
jenis pangan.
e. Pangan yang biasa dikombinasikan dengan pangan lain sebelum dikonsumsi.
Pengertian pangan yang biasa dikombinasikan dengan pangan lain sebelum
dikonsumsi dalam hal ini adalah pangan yang dapat langsung dikonsumsi secara
individual atau dapat dikombinasikan dengan pangan lain sebelum dikonsumsi
sesuai dengan saran penyajian yang dicantumkan oleh produsen pada label produk
tersebut. Sebagai contoh adalah produk sereal atau biskuit yang dapat
dikombinasikan dengan susu. Ketentuan pencantuman Informasi Nilai Gizi untuk
pangan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Informasi Nilai Gizi yang dicantumkan adalah Informasi Nilai Gizi untuk pangan
sebelum dikombinasikan.
2) Produsen dapat menambahkan kolom kedua yang menunjukkan Informasi Nilai
Gizi dari pangan setelah dikombinasi dengan pangan lain (pangan yang siap
dikonsumsi).
Format terdiri atas 3 (tiga) bagian:
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat gizi. Bagian ini dibagi atas 3
(tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat inf
Informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan yang berkenaan dengan lemak,
protein, karbohidrat dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin dan mineral lainnya.
(3) Bagian ketiga adalah catatan kaki yang menerangkan bahwa perhitungan
persentase AKG dilakukan berdasarkan energi 2000.

Pada contoh format di atas ditunjukkan cara pencantuman Informasi Nilai Gizi
pangan sebelum dikombinasikan dan setelah dikombinasikan yang ditunjukkan
dalam masing-masing kolom.
f. Pangan yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi
Ketentuan pencantuman Informasi Nilai Gizi untuk pangan tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Informasi Nilai Gizi yang dicantumkan adalah Informasi Nilai Gizi pangan
sebelum diolah.
2) Produsen dapat menambahkan kolom kedua yang menunjukkan Informasi
Nilai Gizi dari pangan setelah diolah (pangan yang siap dikonsumsi).
Format ini terdiri atas 3 (tiga) bagian :
(1) Tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang takaran saji dan
jumlah sajian per kemasan.
(2) Keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat gizi. Bagian ini dibagi atas
3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat JUMLAH PER SAJIAN.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan yang berkenaan dengan lemak,
protein, karbohidrat dan natrium.
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin dan mineral
lainnya.
(3) Catatan kaki yang menerangkan bahwa perhitungan persentase AKG
dilakukan berdasarkan energi 2000 kkal dan kebutuhan masing-masing orang
mungkin berbeda-beda.

Pada contoh format ditunjukkan cara pencatuman Informasi Nilai Gizi pangan
sebelum diolah dan setelah diolah sebagaimana ditunjukkan dalam masing-
masing kolom.
2) Format Horizontal
Untuk kemasan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama dengan 100 cm2.
Format Horizontal terdiri dari:
Format tabular
Keterangan yang dimuat dalam format ini disajikan dalam bentuk kolom dan baris:
(1) Kolom pertama memuat tulisan INFORMASI NILAI GIZI serta keterangan tentang
takaran saji, jumlah sajian per kemasan dan keterangan mengenai energi.
(2) Kolom kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan lemak dan protein
dalam persen AKG per sajian.
(3) Kolom ketiga dicantumkan uraian yang berkenaan dengan karbohidrat dan
natrium.
(4) Uraian mengenai vitamin dan mineral lainnya dimuat dalam kolom tersendiri di
bawah kolom kedua dan ketiga.
(5) Baris paling akhir adalah catatan kaki yang menerangkan bahwa perhitungan
persentase AKG dilakukan berdasarkan energi 2000 kkal dan kebutuhan masing-
masing orang mungkin berbeda-beda.


Format Linier
Dalam format linier, seluruh informasi dicantumkan dalam satu kolom.

3) Format untuk kemasan pangan dengan luas permukaan label kurang dari atau sama
dengan 30 cm2. Informasi Nilai Gizi dapat dilakukan dengan mencantumkan nomor
telepon atau alamat lengkap untuk memperoleh Informasi Nilai Gizi. Ketentuan tersebut
hanya diperbolehkan jika tidak terdapat klaim kandungan gizi, klaim fungsi gizi, klaim
kesehatan atau informasi gizi lainnya pada label pangan tersebut.

4) Jika luas permukaan label lebih dari 100 cm2, namun bentuk kemasan tidak dapat
mengakomodasi format vertikal, maka pencantuman Informasi Nilai Gizi dapat
menggunakan format horizontal (Peraturan kepala BPOM, 2011).
c. Format untuk bayi
Selain format informasi nilai gizi berdasarkan luas permukaan tersebut di atas, terdapat
format khusus untuk informasi nilai gizi susu formula bayi. Dibandingkan dengan format
lainnya, format informasi nilai gizi untuk susu formula bayi ditampilkan lebih sederhana.
Format informasi nilai gizi untuk susu formula bayi dibedakan dari produk pangan lainnya
karena memperhatikan peranannya yang sangat spesifik serta muatan informasi yang wajib
dicantumkan. Keterangan yang dimuat dalam format ini :
(1) Kandungan zat gizi dicantumkan dalam ukuran per 100 g, per 100 kkal dan per sajian.
(2) Uraian zat gizi diawali dengan protein, lemak dan karbohidrat, diikuti dengan air, asam
linoleat dan diakhiri dengan kelompok vitamin dan mineral.
(3) Zat gizi lain yang ditambahkan dan atau dibuat klaimnya pada label, harus
dicantumkan pada Informasi Nilai Gizi, sesuai dengan kelompok zat gizi tersebut.
Jika biotin, kolin dan inositol ditambahkan ke dalam produk susu formula bayi, maka
komponen tersebut dicantumkan dalam kelompok vitamin (BPOM RI, 2005).

d. Format menurut FDA
1) Format secara umum dalam bentuk vertical maupun horizontal
Bentuknya hampir sama seperti di Indonesia, tetapi ada tambahan informasi pada
catatan kaki, yaitu di bawah keterangan persen AKG terdapat penjelasan tentang
kebutuhan kalori 2000 dan 2500 serta konversi kalori ke gram.
Format general dalam bentuk vertical:

Format general dalam bentuk horizontal :

2) Format label spesifik
(a) Bilingual Format
Ketika informasi nilai gizi harus disajikan dalam 2 bahasa, dapat disajikan dalam
label yang terpisah atau dalam satu label nutrition fact, menerjemahkan semua
informasi yang diperlukan.



(b) Variety packs/Aggregate Format
Ketika dalam satu kemasan berisi dua atau lebih jenis makanan, maka informasi nilai
gizi disajikan untuk setiap produk makanan yang berbeda dalam satu label.

(c) AS package/As prepared/Dual Column Format
Untuk pangan yang dapat dikombinasikan sebelum dikonsumsi. Pada informasi nilai
gizi dicantumkan untuk kolom 1 informasi nilai gizi produk pangan tanpa
kombinasi/sebelum kombinasi, kolom 2 untuk produk yang setelah dikombinasikan).

(d) Simplified Format
Dapat digunakan jika setidaknya delapan dari zat gizi terdapat dalam jumlah yang
signifikan (kalori, lemak total, lemak jenuh, lemak trans, kolesterol, sodium, KH
total, serat pangan, gula, protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi).

(Compendium of Templates for Nutrition Facts Tables, tanpa tahun)
3) Contoh format di Luar Negeri yang sesuai FDA
Australia dan New Zaeland

Singapura

e. Alasan Perbedaan Format dan Konten Nutrition Fact
Format informasi nilai gizi berbeda-beda karena berkenaan dengan perbedaan peruntukan
pangan, keadaan produk pangan, serta luas permukaan label pangan (BPOM RI, 2005).
Konten dari informasi nilai gizi berbeda-beda karena dalam komponen informasi nilai gizi
selain zat gizi yang wajib dicantumkan, adapula zat gizi yang sukarela dapat dicantumkan.
Pencantuman zat gizi sukarela bergantung pada jenis pangannya dimana kandungan zat
gizinya juga akan berbeda-beda, selain itu juga bergantung pada pencantuman klaim pada
produk tersebut.
F. Langkah-langkah pembuatan Nutrition Fact
1. Analisis jumlah zat gizi pada produk pangan di laboratorium.
2. Mengisi jumlah zat gizi yang terdapat dalam produk pangan.
3. Keterangan tentang zat gizi tersebut dicantumkan dalam %AKG sesuai dengan kelompok
umur sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Kepala BPOM RI harus tahun 2007. (BPOM
RI, 2009)
G. Prosedur pemberian nutrition fact berdasarkan BPOM
1. Informasi nilai gizi yang dicantumkan pada label pangan harus dibuktikan dengan hasil
analisis zat gizi dari laboratorium pemerintah atau laboratorium yang telah terakreditasi
oleh Komite Akreditasi Nasional.
2. Pangan olahan wajib fortifikasi hasil analisis zat gizi tertentu seperti energy, lemak, lemak
jenuh, kolesterol, asam lemak trans, gula dan natrium tidak boleh lebih dari 120% dari nilai
yang tercantum pada informasi nilai gizi
3. Pangan olahan lain sekurang-kurangnya 80% dari nilai yang tercantum pada informasi nilai
gizi
4. Pangan olahan lain harus memiliki batas maksimum dan minimum sesuai persyaratan yang
telah ditentukan
5. Jika hasil analisis zat gizi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, maka hasil analisis
dapat diterbitkan. Penerbitan hasil analisis oleh laboratorium dari negara asal yang telah
mempunyai perjanjian saling pengakuan baik secara bilateral atau multilateral (Peraturan
Kepala BPOM.2011)
H. Cara Menentukan Nilai Gizi Dalam Suatu Makanan
a. Menggunakan database bahan makananperhitungan manual
b. Melakukan analisa laboratorium.
zat yang dianalisis:
- kalori
- kalori dari
lemak
- total lemak
- saturated fat
- trans fat
- kolesterol
- natrium
- serat pangan
- gula
- protein
- vitamin A
- vitamin C
analisis spesifik:
- rendah lemak
- rendah KH
- rendah natrium
- tidak ada gluten
- tidak ada trans fat
- serat gandum
- omega 3
- vitamin D
(www.fda.org)
c. Nilai gizi dibuktikan dengan hasil analisis zat gizi dari laboratorium pemerintah/lab.lain yang
telah terakreditasi oleh komite akreditasi nasional
d. Untuk pangan yang masuk kewilayah indonesia, hasil analisis dapat diterbitkan oleh lab. dari
negara asal yang punya perjanjian saling pengakuan baik secara bilateral/multirateral sesuai
ketentuan.
e. Analisis zat gizi
Digunakan untuk sampel makanan yang banyak dan dianalisis di laboratorium. Ada
beberapa makanan tertentu yang hanya bisa ditentukan oleh analisis lab, termasuk
makanan yg digoreng, asin dan yang dilapisi. Hal ini karena bahan dalam makanan akan sulit
untuk ditentukan. Kelemahan analisi ini adalah harganya mahal.
f. Database zat gizi
Cara ini menghitung kandungan gizi tiap item makanan dengan meneruskan data ke dalam
database yg sudah berisi analisa bahan. Proses ini jauh lebih mudah karena data tersedia
dan lebih murah. Kelamahan dari metode ini ada beberapa makanan yang tidak bisa
dianalisis menggunakan cara ini. (www.quicklabel.com)
I. Acuan Standar Acuan Nutrition Facts
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa Standar Acuan Label Gizi menurut BPOM (2009) ada 6,
yaitu:
- Acuan Label Gizi untuk makanan yang dikonsumsi umum
- Acuan Label Gizi untuk makanan bayi usia 0-6 bulan
- Acuan Label Gizi untuk makanan bayi usia 7-23 bulan
- Acuan Label Gizi untuk makanan yang dikonsumsi anak usia 2-5 tahun
- Acuan Label Gizi untuk makanan ibu hamil
- Acuan Label Gizi untuk makanan ibu menyusui, dengan masing-masing kebutuhan zat
gizinya adalah sebagai berikut:









Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (2004), ada penggolongan usia dan zat gizi yang
dibutuhkan berdasarkan kelompok usia tersebut:



















Acuan Label Gizi untuk produk umum diambil berdasarkan penghitungan kisaran
kebutuhan energi pria dan wanita dewasa, yaitu sekitar 1600 kkal hingga 2500 kkal. Dari range
nilai tersebut, nilai rata-ratanya adalah 2031 kkal, sehingga ALG untuk produk umum ditentukan
sebesar 2000 kkal. Selain itu, untuk nilai kandungan zat gizi dalam label informasi gizi juga
mengalami pembulatan berdasarkan hasil pengujian laboratorium. Dengan adanya pembulatan
nilai kandungan zat gizi maka terdapat keseragaman pencantuman kandungan gizi pada tabel
informasi nilai gizi.
Pada ALG juga telah ditetapkan kebutuhan karbohidrat, protein dan lemak yang
disesuaikan dengan kebutuhan rata-rata kisaran. Karbohidrat ditetapkan diberikan sebanyak 60-
65% kecukupan energi, protein 10-15% kecukupan energi dan lemak 25% atau sisa dari
pengurangan energi dengan karbohidrat dan protein.
Pembulatan tersebut antara lain sebagai berikut:



Jika kebutuhan seseorang kurang atau lebih dari standar Acuan Label Gizi, maka
konsumen perlu menyesuaikan asupan dari makanan tersebut dengan asupan makanan lainnya
dalam sehari. Misalnya kebutuhan A adalah 1600 kkal. Jika A mengkonsumsi 250 kkal dari suatu
produk makanan, maka produk makanan tersebut telah menyumbangkan 15% energi dari
kebutuhan energi sehari A. Energi tersebut memiliki kemungkinan setara dengan satu kali snack
Tabel: Pembulatan nilai kandungan gizi dalam rangka pencantuman informasi nilai gizi (BPOM,
2005)
yang dianjurkan untuk dikonsumsi A dalam sehari, sehingga A tinggal memiliki satu kali lagi
waktu makan snack di hari tersebut (Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Tentang Acuan Label Gizi Produk Pangan. 2007 ; Zahara, Siti. 2009. ; Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2005 ; Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi.
2004).

J. Cara membaca Nutrition Fact
Memahami isi Nutrition Facts
1) Serving size (takaran saji): takaran dalam 1 konsumsi. Contohnya 1 buah dengan 107 gram.
2) Serving per container (jumlah sajian per kemasan), misalnya jumlahnya 4, jadi dalam 1
kemasan bisa dikonsumsi 4 kali.
3) Energi total: jumlah kalori yang dihasilkan dalam per sajian.
4) Energi dari lemak: kalori yang dihasilkan dari tiap gram lemak dalam per sajian.
5) Lemak total: menunjukkan kandungan total dari lemak per sajian.
6) Protein: jumlah kandungan protein per sajian.
7) Karbohidrat total: total kandungan karbohidrat per sajian.
8) Vitamin: jenis-jenis dan total kandungan vitamin per sajian.
9) % AKG berdasarkan....: menunjukkan persentase AKG harian dan kalori harian secara
umum yang diambil rata-rata 2000 kalori.
(The University of Arizone, 2008)


Langkah-Langkah Membaca Nutrition Facts
1. Check serving size
Serving size menunjukkan berapa banyak takaran saji dalam satu paket produk. Takaran
saji untuk menunjukkan atau melihat berapa serving yang akan kita konsumsi. Perhatikan
ukuran satu porsi dan berapa banyak porsi dalam paket. Lalu tanyakan pada diri sendiri,
Berapa banyak porsi yang akan saya konsumsi?

2. Menghitung total kalori dan kalori dari lemak.
Total kalori menunjukkan beberapa energy yang kita konsumsi dalam satu serving,
sedangkan kalori dari lemak menunjukkan berapa energy yang tersedia dari lemak.
Periksa total kalori perporsi. Perhatikan pada takaran saji dan berapa banyak yang
benar-benar anda konsumsi. Jika ternyata dua kalinya maka kalori dan zat gizi yang anda
asup sebanyak dua kalinya pula.
Pahami catatan kaki. Pada bagian %DV atau %AKG
memberitahu anda presentase dari masing-masing
nutrisi dalam satu porsi dalam hal jumlah harian yang
disarankan. %AKG atau %Daily Value (DV) adalah
pedoman umum untuk membantu mennghubungkan
antara satu serving makanan dan kontribusinya
terhadap diet harian total konsumen.
Berdasarkan %AKG diet 2000 kalori, seseorang
sebaiknya mengkonsumsi kurang dari 600 kalori dari
lemak atau kurang dari 30% dalam kalori dari lemak.
<40 kalori per saji = low fat / rendah lemak
100 kalori per saji = moderate fat / cukup
lemak
>400 kalori per saji = high fat / tinggi lemak
Cara cepat untuk menentukan apakah jumlah zat gizi yang kita makan apakah tinggi
atau rendah jumlahnya:
Jika sebuah nilai gizi dalam suatu produk memiliki 5% dari Daily Value atau
kurang dari itu, maka kandungannya rendah dalam produk tersebut.
Jika sebuah nilai gizi dalam suatu produk memiliki 20% dari Daily Value atau
lebih dari itu, maka kandungannya tinggi
dalam produk tersebut.
3. Membatasi beberapa zat gizi
Ada beberapa zat gizi yang direkomendasikan
untuk dikonsumsi dalam jumlah yang terbatas dan
tidak berlebihan karena dapat berakibat
meningkatkan risiko beberapa penyakit; yaitu
jumlah lemak jenuh, kolesterol, dan sodium
(Natrium). Ingat, anda harus membatasi lemak
total tidak boleh lebih dari 56-78 gram perhari,
termasuk tidak lebih dari 16 g untuk lemak jenuh,
kurang dari 2 g untuk lemak trans, dan kurang dari 300 mg kolesterol.
4. Menambah beberapa zat gizi
Ada beberapa zat gizi yang direkomendasikan untuk dikonsumsi secara cukup
jumlahnya setiap hari, yaitu serat, vitamin, dan mineral; terutama Kalsium (Ca),
Vitamin A, dan Vitamin C. Pastikan anda mendapat 100% dari serat, vitamin, dan
nutrisi yang dibutuhkan dalam sehari.
5. Me-review Ingredient List
Daftar bahan baku biasanya diurutkan sesuai dengan beratnya dalam produk
tersebut. Bahan yang paling banyak/mendominasi, atau yang paling natural harus
diletakkan dalam list paling atas. Mereview hal ini akan membantu untuk
menghindarkan dari penyakit dan alergi.

(FDA U.S. Food and Drug Administration, 2004)

K. Peraturan tentang Nutrition Facts di Indonesia
1. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan pasal 32 ayat 1
yang menyatakan bahwa pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada
label wajib dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan mengandung vitamin, mineral
dan zat gizi lainnya dan sesuai dengan ketentuan di bidang mutu dan zat gizinya.
2. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan
3. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.05.52.6291 tentang Acuan
Label Gizi Produk Pangan menyatakan bahwa pencantuman keterangan tentang kandungan
gizi pangan pada label wajib dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan mengandung
vitamin, mineral dan zat gizi lainnya dan sesuai dengan ketentuan di bidang mutu dan zat
gizinya dan dicantumkan dalam persentase (BPOM. 2007)
4. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.06.51.0475 tentang
Pedoman Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan yang menyatakan bahwa
masyarakat berhak memperoleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan mengenai
pangan yang akan dikonsumsinya.
5. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.05.1.2569 tanggal 31 Mei
2004 tentang Kriteria dan Tata Laksana Penilaian Produk Pangan.
L. Komponen Nutrition Facts di German dan Canada
Nutrition fact German dan Canada menggunakan multiple traffic light dengan
keterangan berupa warna merah, hijau dan kuning. Untuk warna merah menandakan bahan
makanan tersebut menyumbang zat gizi paling banyak (less healthy choice), warna hijau rendah
persentase kandungan gizinya (healthier choice) dan warna kuning, (medium atau OK choice).
Masing masing zat gizi ditampilkan dalam bentuk gram per serving.

Selain multiple traffic light, nutrition fact yang dipakai dalam bentuk monochrome
percentage. Kandungan zat gizi yang ditampilkan hanya kalori, sugars, fat, saturated dan salt.
Penyajiannya dalam bentuk horizontal dengan gram per serving dan persentase kandungan zat
gizinya (National Collaborating Centre for Healthy Public Policy, 2011)

M. Peraturan Nutrition Facts di Luar Negeri
Format dasar (kemasan lebih dari sama dengan 40 inch kuadrat menggunakan ukuran 3 inch
atau lebih menggunakan format vertikal).
Dicantumkan dengan jelas mudah dibaca
FDA dan USDA telah menyepakati format dasar untuk menampilkan sajian per porsi.
Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, bagian keterangan zat gizi dan keterangan
mengenai informasi zat gizi yang lain.


Informasi seharusnya tidak menyebabkan konsumen percaya bahwa ada informasi
mengenai jenis makanan dengan klaim fungsi kesehatan tertentu melainkan untuk

menyampaikan pemahaman tentang jumlah nutrisi yang terkandung dalam produk
tersebut.
Penulisan zat gizi di sebelah kanan yaitu lemak, lemak jenuh, lemak trans, kolesterol,
sodium, totalkarbohidrat, dan serat makanan) dibandingkan dengan kebutuhan harian dari
masing-masing zat gizi
Satuan yang digunakan untuk energi kj (kilojoule) dan kkal
Sebagai acuan menggunakan 2000-2500kkal
N. Siapakah yang berhak dan diizinkan untuk membuat informasi gizi?
Pihak yang membuat nutritional fact adalah produsen pangan yang bertanggung jawab atas
produknya berdasarkan hasil analisa zat gizi dari Laboratorium Pemerintah atau laboratorium
lain yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional. Khusus untuk pangan yang
dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia, hasil analisis dapat diterbitkan oleh laboratorium dari
negara asal yang telah mempunyai perjanjian saling pengakuan baik secara bilateral maupun
multilateral sesuai ketentuan yang berlaku. (BPOM RI, 2011).
6. Food Labelling
a. Tujuan Food labeling
Tujuan secara garis besar :
Memberikan informasi tentang isi produk yang diberi label tanpa harus membuka
kemasan
Berfungsi sebagai sarana komunikasi produsen kepada konsumen tentang hal-hal yang
perlu diketahui oleh konsumen tentang produk tersebut, terutama hal-hal yang kasat
mata atau tidak diketahui secara fisik
Memudahkan konsumen dalam memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang
setiap produk yang dikemas (baik menyangkut asal. Keamanan, mutu, kandungan gizi,
maupun keterangan lain sebelum memutuskan membeli)
Alat komunikasi produsen kepada konsumen
Memberi petunjuk kepada konsumen hingga diperoleh fungsi produk yang maksimum
Sarana periklanan bagi produsen
Member rasa aman bagi konsumen
Untuk melindungi hak-hak konsumen yang membeli produk supaya tidak tertipu
Untuk menunjukkan keunggulan produk
Untuk menggambarkan karakteristik makanan
(Juwaedah,tanpa tahun) (Oksowela,2008)
Untuk Konsumen :
Perangkat efektif pengendali mutu dan sekaligus dapat mempertinggi alarm
keamanan pangan
Sarana untuk memberi penilaian sekaligus menjatuhkan sanksi bagi produk-produk yang
tidak memenuhi syarat
Konsumen dapat meminta pertanggungjawaban produsen, karena tahu kepada siapa
mereka harus meminta tanggung jawab
Konsumen akan merasa lebih aman membeli produk - produk bonafid di mata mereka
dimana informasi ini mereka dapatkan dari label produk umumnya
Memberi informasi tentang isi produk yang diberi label tanpa harus membuka kemasan
Label dan iklan pangan diperlukan untuk memperoleh informasi yang benar, jelas, dan
lengkap baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya
mengenai pangan.
Informasi pada label pangan atau melalui iklan sangat diperlukan bagi masyarakat agar
supaya masing-masing individu secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum
membeli dan atau mengonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka
kecurangan-kecurangan dapat terjadi
Untuk Produsen :
Alat komunikasi tertulis pihak produsen dengan pihak konsumen dalam melakukan
pelayanan jaminan persyaratan mutu produk dan kesehatan
Membantu penjualan produk atau membantu periklanan bagi produsen
Sebagai hadiah atas mutu yang produsen berikan kepada konsumennya
Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab
(PP. 1999 ; Juwaedah, Ade. 2010)

1) Peraturan Pelabelan Makanan
Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK.03. 1.5 12. 11. 09955 Tahun 2011 tentang Pendaftaran Pangan Olahan;
1) Pangan olahan yang diproduksi di dalam negeri atau dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diperdagangkan dalam kemasan, wajib mencantumkan label pada, di
dalam, dan/atau di kemasan pangan
2) Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundang-undangan
3) Selain harus memenuhi ketentuan perundang-undangan, pencantuman label juga harus
memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam peraturan ini
4) Keterangan dan atau pernyataan tentang pangan olahan dalam label harus benar dan
tidak menyesatkan baik mengenai tukisan, gambaran atau bentuk apapun lainnya
5) Label memuat tulisan yang jelas, dapat mudah dibaca, teratur dan tidak berdesak-
desakan
6) Pengunaan latar belakang, baik berupa gambar, warna maupun desain lainnya tidak
boleh mengaburkan tulisan pada label
7) Pelabelan dilakukan sedemikian rupa sehingga:
Tidak mudah lepas dari kemasan
Tidak mudah luntur atau rusak
Terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca
8) Selain ketentuan sebagaimana tercantum pada angka 7, label yang melekat atau
ditempelkan pada kemasan harus melekat kuat sehingga jika dilepas akan merusak
label/kemasan aslinya
9) Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam label hanya
dapt dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
10) Label pangan olahan terdiri dari bagian utama dan bagian lain
11) Label pangan olahan paling sedikit harus mencantumkan:
Nama pangan olahan
Berat bersih atau isi bersih
Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam
wilayah Indonesia
Daftar bahan yang digunakan
Nomor pendaftaran pangan
Keterangan kaldaluarsa
Kode produksi
12) Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada angka 11, pada label pangan olahan juga
harus dicantumkan keterangan sebagai berikut:
Keterangan tentang kandungan gizi
Keterangan tentang iradiasi pangan
Keterangan tentang pangan organik
Keterangan tentang pangan rekayasa genetika
Keterangan tentang pangan yang dibuat daribahan baku alamiah
Petunjuk penggunaan/penyiapan
Petunjuk tentang cara penyimpanan
Keterangan tentang petunjuk atau saran penyajian
Keterangan tentang peruntukan
Keterangan lain yang perlu diketahui mengenai dampak pangan terhadap kesehatan
manusia
Peringatan
13) Percantuman keterangan sebagaimana dimaksud pada angka 11 dan 12 sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
(Siagian,2002)
Peraturan pelabelan produk pangan olah di Indonesia diatur dalamperaturan Menteri
Kesehatan RI No. 79/Menkes/PER/III/1978. Dalam peraturantentang label dan periklanan
makanan ini diatur tentang tata cara pelabelan sertaketentuan-ketentuan yang
menyertainya. Peraturan ini telah dilengkapi dengankeputusan Direktur Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) No.02240/B/S/SK//VII/1991 yang diterbitkan
pada tanggal 2 Juli 1996.
Ketentuan Umum:
1) Label dicantumkan pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan
2) Pencantuman label dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari
kemasannya, tidak mudah luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan
pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca.
3) Keterangan dan atau pernyataan tentang pangan dalam label harus benar dan tidak
menyesatkan, baik mengenai tulisan, gambar, atau bentuk apapun lainnya
4) Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam label hanya
dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan.
5) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayahIndonesia pangan
yang dikemas untuk diperdagangkan, dilarangmencantumkan Label yang tidak
memenuhi ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini.
6) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam
wilayah infonesia untuk diperdagangkan dan menyatakan bahwa pangan tersebut halal
bagi umat Islam, bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan tersebut dan wajib
mencantumkan keterangan atau tulisan halal pada label.
a) Ketentuan Tulisan Dan Gambar
1. Bahasa, Huruf dan Angka
a) Ditulis dan dicetak dengan menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf
Latin.
b) Penggunaan istilah asing dalam keterangan dapat dilakukan sepanjang tidak ada
padanannya, tidak dapat diciptakan padanannya atau digunakan untuk
kepentingan perdagangan pangan ke luar negeri.
c) Istilah asing adalah bahasa, angka atau huruf selain bahasa Indonesia, angka Arab
atau huruf Latin serta istilah teknis atau ilmiah, misalnya rumus kimia untuk
menyebutkan suatu jenis bahan yang digunakan dalam komposisi.
d) Dalam label dengan keterangan dapat ditambahkan keterangan yang sama dalam
bahasa selain bahasa Indonesia, angka arab dan huruf latin
2. Gambar
a) Gambar harus menunjukkan keadaan sebenarnya, termasuk sifat dan/atau
keadaan pangan olahan serta tidak boleh menyesatkan;
b) Gambar buah, daging, ikan atau bahan pangan lainnya hanya boleh dicantumkan
apabila pangan mengandung bahan tersebut, bukan sebagai perisa (termasuk
perisa alami, perisa identik alami, dan perisa artifisial). Pada bagian komposisi
harus dicantumkan jumlah bahan yang digunakan tersebut.
Misal :
Komposisi : air, gula, sari buah mangga (10%), perisa mangga
Komposisi : gula, ekstrak buah jeruk (2%), perisa jeruk
c) Untuk pangan olahan yang memerlukan atau mempunyai petunjuk penyajian atau
petunjuk penggunaan dapat mencantumkan gambar bahan pangan lainnya sesuai
dengan penjelasan petunjuk penyajian atau petunjuk penggunaan.
c) Ketentuan ukuran Huruf dan Tulisan
1) Huruf dan angka yang digunakan pada label harus jelas dan mudah dibaca serta
proporsional dengan luas permukaan label.
2) Ukuran huruf minimal sama dengan atau lebih besar dari huruf kecil o pada jenis
huruf Arial dengan ukuran 1 mm (Arial 6 point), kecuali untuk keterangan tertentu.
3) Keterangan dalam bahasa Indonesia harus ditulis dengan ukuran huruf yang
proporsional dengan bahasa lain dan tidak kurang dari 1 mm.
4) Ukuran huruf untuk nama jenis harus proporsional terhadap ukuran huruf untuk nama
dagang.
5) Ukuran huruf keterangan tidak boleh lebih kecil dari huruf kecil o pada jenis huruf
Arial dengan ukuran 2 mm atau sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan;
6) Pengecualian terhadap ketentuan pelabelan diberikan kepada pangan olahan yang
kemasannya terlalu kecil, sehingga secara teknis sulit memuat seluruh keterangan yang
diwajibkan sebagaimana berlaku bagi pangan olahan lainnya, dengan persyaratan:
1) Ukuran kecil yang dimaksud adalah luas permukaan label sama atau kurang dari
10 cm
2
;
2) Memuat keterangan paling sedikit nama dan alamat pihak yang memproduksi;
dan
3) Pangan tersebut dimasukkan ke dalam kemasan yang lebih besar yang
memungkinkan untuk memuat keterangan yang harus dicantumkan.
h) Untuk label pangan yang luas permukaannya mempunyai ukuran sama atau lebih kecil
dari 10 cm2, ukuran huruf dan angka yang dicantumkan tidak boleh lebih kecil dari 0,75
mm.
i) Tuliasan dengan huruf latin atau arab
j) Tulisan dengan bahasa Indonesia dengan huruf latin atau arab



d) Tulisan dan Peringatan
Selain keterangan sebagaimana dimaksud sebelumnya, pada label pangan tertentu harus
dicantumkan tulisan atau peringatan.
a) Pangan olahan yang mengandung bahan berasal dari babi
1) Pangan olahan yang mengandung bahan tertentu yang berasal dari babi harus
mencantumkan tanda khusus berupa tulisan MENGANDUNG BABI dan gambar
babi berwarna merah dalam kotak berwarna merah di atas dasar putih, seperti
contoh berikut :
2) Tulisan peringatan harus jelas terbaca dan proporsional terhadap luas permukaan
label dengan ukuran paling sedikit 1,5 mm serta dicantumkan pada bagian yang
paling mudah dilihat oleh konsumen.
3) Penulisan bahan pangan yang berasal dari babi harus diikuti dengan kata babi.
Contoh : daging babi, gelatin babi, lemak babi
4) Bahan pangan yang mungkin berasal dari babi antara lain berupa gelatin, enzim,
lemak, kolagen, kolostrum, ekstrak darah/marus, hemoglobin terhidrolisat,
keratin, ekstrak rambut, plasenta, protein, ekstrak kelenjar timus (thymus
extract), hidrolisat timus (thymus hydrolisate), ekstrak usus (stomach extract),
bahan penyusun (asam stearat, asam palmitat, gliserol), minyak, ekstrak ginjal,
lemak reroti (shortening), pengental, pengemulsi, pemantap, l-sistein,
monogliserida, digliserida, trigliserida, nisin.
e) Hal- Hal yang Dilarang Dicantumkan Pada Label Pangan Olahan
Pernyataan, gambar atau keterangan yang dilarang dicantumkan pada Label meliputi :
1. Pernyataan atau keterangan yang tidak benar yaitu suatu keterangan yang isinya
bertentangan dengan kenyataan sebenarnya atau tidak memuat keterangan yang
diperlukan agar keterangan tersebut dapat memberikan gambaran atau kesan yang
sebenarnya tentang pangan.
2. Pernyataan atau keterangan yang menyesatkan yaitu pernyataan yang berkaitan
dengan hal-hal seperti sifat, harga, bahan, mutu, komposisi, manfaat atau keamanan
pangan yang meskipun benar dapat menimbulkan gambaran yang menyesatkan
pemahaman mengenai pangan yang bersangkutan.
3. Pencantuman pernyataan bahwa pangan olahan mengandung suatu zat gizi lebih
unggul daripada pangan olahan lain yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4. Pernyataan bahwa pangan olahan dapat menyehatkan.
5. Pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan olahan yang
bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat.
6. Gambar tenaga kesehatan atau seolah-olah sebagai tenaga kesehatan.
7. Pernyataan bahwa pangan olahan dapat meningkatkan kecerdasan atau IQ.
8. Pernyataan keunggulan pada pangan olahan jika keunggulan tersebut tidak
seluruhnya berasal dari pangan tersebut tetapi sebagian diberikan dari pangan lain
yang dapat dikonsumsi bersama-sama.
9. Pernyataan yang memuat ketiadaan suatu komponen yang secara alami tidak ada
dalam pangan olahan, kecuali ada data pendukung/standar umum pangan olahan
yang mengandung komponen tersebut.
10. Pernyataan bebas bahan tertentu tetapi mengandung bahan tertentu tersebut baik
tidak disengaja maupun sebagai bahan / senyawa ikutan.
11. Keterangan yang menyatakan pangan olahan bersifat tonik, hanya karena pangan
tersebut mengandung alkohol, gula atau karbohidrat lain, protein, kafein, atau zat
yang berasal dari hidrolisis protein atau turunan purin. Pencantuman kata tonik
hanya dapat digunakan untuk anggur tonikum kinina.
12. Tulisan atau gambar seolah-olah pemanis buatan berasal dari alam.
13. Nama, logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis tentang pangan olahan.
14. Menggunakan nama dan gambar tokoh yang telah menjadi milik umum, kecuali
mendapat izin dari yang bersangkutan.
15. Mencantumkan nama tempat, negara, kota, provinsi, suku dan sejenisnya dalam
bentuk apapun apabila tidak ada kaitannya dengan pangan olahan tersebut (antara
lain nama jenis, asal bahan atau tempat produksi).
16. Pernyataan atau keterangan yang secara langsung atau tidak langsung merendahkan
barang dan/atau jasa pihak lain.
17. Pernyataan yang bersifat referensi, nasihat, peringatan atau pernyataan dari tenaga
kesehatan atau seolah-olah sebagai tenaga kesehatan yang bertujuan untuk
meningkatkan penjualan baik secara langsung atau tidak langsung.
18. Keterangan, tulisan atau gambar yang menyinggung suku, agama, ras dan/atau
golongan tertentu.
19. Pencantuman keterangan mengenai undian, sayembara, hadiah dan tulisan atau
gambar apapun yang tidak sesuai dengan label yang disetujui pada persetujuan
pendaftaran produk pangan atau persetujuan perubahan data pangan olahan.
20. Keterangan, tulisan atau gambar lainnya yang bertentangan dan dilarang oleh
ketentuan perundang-undangan.
(BPOM RI, 2011)
Tidak boleh dicantumkan referensi, nasihat, pernyataan dari siapapun dengan tujuan
menaikkan penjualan(Albiner Siagian, 2002)
b. Peraturan dan undang-undang mengenai food labeling di Indonesia
Peraturan Pemerintah RI No. 69 Tahun 1999 tentang label dan iklan pangan (pasal 3 ayat
2, pasal 10,dan pasal 11)
Undang-undang RI No.8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
Kepala Menteri Agama Tahun 2011 tentang pedoman dan pemeriksaan pangan halal
Undang-undang RI No. 18 Tahun 2012 bab 8 tentang label pangan
BPOM RI HK 03.1.23.11.11.09909 tentang pengawasan klaim pada label dan iklan pangan
olahan
BPOM RI HK . 00.05.52.4321 Tahun 2003 tentang pedoman umum pelabelan
BPOM RI HK .00.06.51.0475 Tahun 2005 tentang pedoman pencantuman info gizi
BPOM RI HK.00.05.52.6291 Tahun 2007 tentang acuan label gizidan label pangan
Peraturan BPOM RI 2011 tentang pedoman pencantuman info nilai gizi pada label
Permenkes RI 382/Menkes/per/VI/1989 tentang pendaftaran makanan
Kepmenkes No 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang pencantuman label halal pada kemasan
Kepala Menkes dan Menag No 427/Menkes/SKB/VIII/1985 tentang pencantuman label
halal pada kemasan
Kepala Dirjen POM No 02240/B/SK/VII tentang pedoman persyaratan mutu dan
periklanan makanan
Permendag No 22/M-Dag/Per/V/2010 tentang kewajiban pencantuman label pada barang



c. Komponen food labeling
Informasi yang Wajib dicantumkan
Menurut UU No 7 tahun 1996 pasal 30 label makanan sekurang-kuranganya memuat
keterangan :
1. Nama produk
2. Komposisi / daftar ingredient
3. Netto atau berat bersih
4. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau yang mengimpor pangan ke wilayah
Indonesia
5. Tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa
Bahan makanan yang wajib mencantumkan tanggal kadaluarsa:
- Susu : pasteurisasi, steril, fermentasi, dan bubuk
- Makanan atau minuman yang mengandung susu
- Makanan bayi
- Makanan kalengan yang komersial
- Cara penulisan: Sebaiknya digunakan sebelum .
- Tempat, harus ditempatkan di tempat yang mudah dan jelas terbaca. (Siagian, 2002)
6. Keterangan tentang halal
Untuk keterangan tentang halal menurut UU no 69 tahun 1999 tidak wajib dicantumkan.
Informasi tambahan
1. Logo perusahaan
2. Nilai gizi
3. Petunjuk penggunaan
4. Petunjuk penyimpanan (Juwaedah, tanpa tahun)
5. Nomer pendaftaran
6. Kode produksi
7. Tulisan / pernyataan khusus (klaims) (Siagian, 2002)
8. Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Bagian-bagian dari label makanan
Secara garis besar, dibagi menjadi 2, yaitu :
1) Bagian utama ;
a) Memuat nama dagang / produk,
b) Berat bahan,
c) Isi bersih,
d) Nama alamat produksi,
e) Nomor pendaftaran.
2) Bagian informasi ;
a) Daftar bahan / komposisi
b) Informasi nilai gizi
c) Hal lain yang belum dicantumkan pada bagian utama
(Zahara, 2009)
Isi label mencakup :
1) Nama produk
a) Nama produk pangan harus menunjukkan sifat dan atau keadaan yang sebenernya.
b) Penggunaan nama produk pangan tertentu yang sudah terdapat dalam Standar
Nasional Indonesia, dapat diberlakukan wajib dengan keputusan Menteri Teknis
c) Penggunaan nama selain yang termasuk dalam Standar Nasional Indoensia harus
menggunakan nama yang lazim atau umum dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku.
d) Nama makanan produk dalam negeri ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dapat
ditambahkan dalam Bahasa Inggris. Nama makanan produk impor menggunakan
nama Indonesia atau nama Inggris.
e) Bila nama belum ditetapkan dalam standar makanan, deskripsi yang cocok, tidak
menyesatkan, misalnya mi telur tidak boleh digunakan untuk produk mi yang
tidak mengandung telor.
f) Kata-kata yang menunjukkan bentuk sifat atau keadaan peroduk tidak perlu
merupakan bagian nama makanan, tetapi cukup dicanrumkan pada label , antara
lain: segar, alami, murni, dibuat dari, dan halal.
2) Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam
wilayah Indonesia
Nama dan alamat pihak yang memproduksi pangan wajib dicantumkanpada
Label. Untuk produk yang diimpor dari luar negeri, nama dan alamat pihak yang
memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. Jika pihak yang memasukkan dan
mengedarkan produk impor ke dalam wilayah Indonesia berbeda, wajib pula
dicantumkan nama dan alamat yang mengedarkan tersebut. Label harus
mencantumkan nama dan alamat pabrik pembuat/ pengepak importir, untuk makanan
impor harus dilengkapi dengan kode negara asal. Nama jalan tidak perlu dicantumkan
apabila sudah tercantum dalam buku telepon.
3) Komposisi atau daftar ingridient
- Ingredien penyusun termasuk Bahan Tambahan Makanan (BTM) harus dicantumkan
secara lengkap
- Urutan dimulai dari bagian yang terbanyak, kecuali untuk vitamin dan mineral.
- Ada beberapa perkecualian, antara lain ingredien tidak perlu dicantumkan:
(1) bila komposisi diketahui secara umum,
(2) pada makanan dengan luas permukaan tidak lebih dari 100 cm2
- Bagi makanan dehidrasi, komposisi yang ditulis adalah komposisi setelah
direkonstruksi
- Nama ingredien harus spesifik, bukan generik (kecuali untuk bumbu dan tepung),
misalnya lemak sapi, miyak kelapa
- Bahan Makanan Tambahan (BTM) cukup dicantumkan dengan nama golongan,
misalnya anti kempal, pemutih, dan seterusnya. Khusus untuk antioksidan, pemanis
buatan, pengawet, pewarna dan penguat rasa, harus dilengkapi dengan nama jenis,
sedang untuk pewarna juga perlu dicantumkan nomor indeks khusus
- Untuk produk tertentu, persentase berat bahan utama produk harus dicantumkan
- Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atauproses produksi
pangan dicantumkan pada Label sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai dari
bagian yang terbanyak, kecuali vitamin,mineral dan zat penambah gizi lainnya.
- Nama yang digunakan bagi bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses
produksi pangan adalah nama yang lazim digunakan.
- Nama bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan
telahditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia, pencantumannya padaLabel
hanya dapat dilakukan apabila nama bahan yang bersangkutantelah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam Standar NasionalIndonesia.
- Air yang ditambahkan harus dicantumkan sebagai komposisi pangan, kecuali apabila
air itu merupakan bagian dari bahan yang digunakan.
- Air atau bahan pada pangan yang mengalami penguapan seluruhnyaselama proses
pengolahan pangan, tidak perlu dicantumkan.
- Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan telah ditambah,diperkaya atau
difortifikasi dengan vitamin, mineral, atau zat penambahgizi lain tidak dilarang,
sepanjang hal tersebut benar dilakukan pada saatpengolahan pangan tersebut, dan
tidak menyesatkan.
- Untuk pangan yang mengandung Bahan Tambahan Pangan, padaLabel wajib
dicantumkan golongan Bahan Tambahan Pangan.
- Dalam hal Bahan Tambahan Pangan yang digunakan memiliki namaBahan
Tambahan Pangan dan atau kode internasional, pada Labeldapat dicantumkan nama
Bahan Tambahan dan kode internasionaldimaksud, kecuali Bahan Tambahan
Pangan berupa pewarna.
- Dalam hal Bahan Tambahan Pangan berupa pewarna, selainpencantuman golongan
dan nama Bahan Tambahan pangan, padaLabel wajib dicantumkan indeks pewarna
yang bersangkutan.
- Ada beberapa perkecualian, antara lain bahan-bahan yang tidak perlu dicantumkan :
(1) bila komposisi diketahui secara umum, (2) pada makanan dengan luas
permukaan tidak lebih dari 100 cm
2

4) Isi netto
- Isi netto dinyatakan dalam satuan metric
- Untuk makanan padat dinyatakan dengan satuan bobot/ berat
- Untuk makanan cair dinyatakan dengan satuan volume/isi
- Untuk makanan semi padat atau kental dinyatakan dalam satuan volume atau bobot
(isi/berat)
- Untuk makanan padat dalam cairan dinyatakan dalam bobot tuntas
- Pangan yang menggunakan medium cair harus disertai pula penjelasanmengenai
berat bersih setelah dikurangi medium cair.Label yang memuat keterangan jumlah
takaran saji harus memuatketerangan tentang berat bersih atau isi bersih tiap
takaran saji.
5) Nomor pendaftaran
- MD untuk produk dalam negeri,
- ML untuk produk luar negeri.
6) Kode produksi
Kode produksi pangan olahan memberikan penjelasan mengenai riwayat produksi
pangan yang bersangkutan. Kode produksi wajib dicantumkan pada label, wadah, atau kemasan
pangan, dan terletak pada bagian yang mudah untuk dilihat dan dibaca.
Kode produksi meliputi: tanggal produksi dan angka atau huruf lain yang mencirikan
:batch produksi. Produk-produk yang wajib mencantumkan kode produksi:
susu: pasteurisasi, steril, fermentasi, dan bubuk,
makanan atau minuman yang mengandung susu,
makanan bayi,
makanan kalengan yang komersial, dan
aging dan hasil olahannya.
7) Tanggal kadaluarsa
Tanggal kadaluwarsa harus dicantumkan pada:
susu: pasteurisasi, steril, fermentasi, dan bubuk,
makanan atau minuman yang mengandung susu,
makanan bayi,
makanan kalengan yang komersial
(Cara penulisan: baik digunakan sebelum .)
- Tempat, harus ditempatkan di tempat yang mudah dan jelas terbaca.
- Produk pangan yang kedaluwarsanya lebih dari 3 (tiga)bulan, diperbolehkan untuk hanya
mencantumkan bulan dan tahunkedaluwarsa saja.
- Macam-macam penulisan tanggal kadaluwarsa:
a. Best Before Date produk masih dalam kondisi baik dan masih dapat dikonsumsi beberapa saat
setelah tanggan yang tercantum terlewati. Terdapat pada berbagai produk seperti makanan beku,
makanan kering dan makanan kaleng.
b. Use By Date produk tidak dapat dikonsumsi setelah tanggal yg tercantum terlewati. Digunakan
untuk makanan yang sangat mudah rusak, misalnya daging, ikan, unggas.
c. Pull date (batas sebelum penarikan) merupakan cara lain untuk memberikan informasi mengenai
gunakan sebelum. Kalimat batas waktu sebelum penarikan menandakan tanggal terakhir yang
dianjurkan bagi konsumen untuk membeli produk tersebut sehingga masih mempunyai jangka
waktu untuk mengkonsumsinya tanpa produk tersebut mulai mengalami kerusakan. Setelah
tanggal tersebut, suatu produk akan ditarik dari pengecer dan took-toko karena dianggap
mutunya akan segera menurun dan jika tidak ditarik akan menimbulkan kerugian bagi konsumen.
d. Pack date (tanggal dikemas) merupakan informasi yang berupa tanggal pada saat produk dikemas,
baik pengemasan oleh produsen maupun oleh pengecer. Contoh produk yang diberikan
penyantuman pack date adalah minyak sayur curah atau buah potong dalam kemasan yang
dijual di supermarket.
e. Sell by date (tanggal masuk toko) merupakan informasi yang berupa tanggal pada saat produk
memasuki gudang penyimpanan di toko atau tempat penjualan.
f. Display date (tanggal pemajangan) merupakan informasi yang berupa tanggal pada saat produk
mulai dipajang di rak-rak atau display di toko atau tempat penjualan
- Produk pangan yang memiliki umur simpan 2 bulan dinyatakan dalam tanggal, bulan dan
tahun, sedang produk pangan yang memiliki umur simpan lebih dari 3 bulan dinyatakan
dalam bulan dan tahun

8) Petunjuk atau cara penggunaan
Petunjuk atau cara penggunaan diperlukan untuk makanan yang perlu penyimpanan
khusus . Informasi tentang cara penyimpanan sangat diperlukan bagikonsumen, karena
kekeliruan pada cara penyimpanan dapatmempercepat penurunan mutu pangan atau membuat
pangantertentu tersebut cepat rusak, misalnya untuk pangan yang harusdisimpan di tempat
yang sejuk akan mengalami penurunan mutuapabila tidak disimpan di dalam lemari es, atau
tidak disimpan ditempat yang sejuk.

9) Petunjuk atau cara penyimpanan
Petunjuk cara penyimpanan diperlukan untuk makanan atau minuman yang perlu
peyimpanan khusu sebelum digunakan.
10) Komposisi (Keterangan tentang Bahan Yang Digunakan)
Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atauproses produksi pangan
dicantumkan pada Label sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai dari bagian yang
terbanyak, kecuali vitamin, mineral dan zat penambah gizi lainnya. Nama yang digunakan bagi
bahan yang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan adalah nama yang lazim
digunakan. Dalam hal nama bahan yang digunakan dalam kegiatan atau prosesproduksi pangan
telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia, pencantumannya pada Label hanya dapat
dilakukan apabila nama bahan yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan
dalam Standar Nasional Indonesia.
11) Nilai gizi
- Nilai gizi diharuskan untuk dicantumkan bagi makanan dengan nilai gizi yang
diperkaya, makanan diet atau makanan lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan (lihat contoh pada lampiran 2)
- Informasi yang harus dicantumkan:
energi,
protein,
lemak,
karbohidrat,
vitamin, dan
mineral atau komponen tertentu.
- Untuk makanan lain, pencantumannya bersifat sukarela.
- Pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada Labelwajib dilakukan
bagi pangan yang:
disertai pernyataan bahwa pangan mengandung vitamin, mineral,dan atau zat
gizi lainnya yang ditambahkan; atau
dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundanganyang
berlaku di bidang mutu dan gizi pangan, wajibditambahkan vitamin, mineral,
dan atau zat gizi lainnya.
- Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan merupakansumber suatu zat gizi tidak
dilarang sepanjang zat gizi dalam pangantersebut sekurang-kurangnya 10 % lebih banyak
dari jumlahkecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji bagipangan
tersebut.
12) Tulisan atau pernyataan khusus
a.Pangan olahan yang mengandung bahan berasal dari babi
1) Pangan olahan yang mengandung bahan tertentu yang berasal dari babi harus
mencantumkan tanda khusus berupa tulisan MENGANDUNG BABI dan gambar babi
berwarna merah dalam kotak berwarna merah di atas dasar putih, seperti contoh berikut :




b. Minuman Beralkohol
1) Pada label minuman beralkohol harus dicantumkan tulisan:
a) MINUMAN BERALKOHOL dan nama jenis sesuai kategori pangan.
b) DIBAWAH UMUR 21 TAHUN ATAU WANITA HAMIL DILARANG MINUM
c) Mengandung Alkohol + % v/v
2) Jika nama jenis sebagaimana dimaksud pada angka 1) huruf a) tidak tercantum pada Kategori
Pangan, maka pencantuman nama jenis adalah sebagai berikut : MINUMAN BERALKOHOL
GOLONGAN ....
a) Golongan A : 1 5%
b) Golongan B : lebih dari 5 20%
c) Golongan C : lebih dari 20 55%
c. Pangan Olahan yang Mengandung Alkohol
1) Pangan yang mengandung alkohol, wajib mencantumkan kadar alkohol pada label pada
bagian yang mudah dilihat.
2) Kadar alkohol dicantumkan dalam bentuk persentase.
Contoh : mengandung alkohol + %.
d. Susu Kental Manis
1) Pada label susu kental manis harus dicantumkan tulisan
2) Tulisan sebagaimana dimaksud pada angka 1) dicantumkan dengan tulisan berwarna
merah didalam kotak persegi panjang berwarna merah seperti contoh berikut :



f. Pangan Olahan yang Mengandung Alergen
1) Pangan olahan yang mengandung bahan yang dapat menimbulkan alergi pada konsumen
tertentu dapat mencantumkan keterangan tentang alergen sesuai ketentuan yang
berlaku.
g. Pangan Olahan yang Mengandung Pemanis Buatan
Ketentuan pelabelan pangan olahan yang mengandung pemanis buatan:
1) Mencantumkan tulisan Mengandung pemanis buatan.
2) Mencantumkan kadar pemanis buatan yang dinyatakan dalam mg/kg atau persen,
kecuali jika label mencantumkan Informasi Nilai Gizi, kadar pemanis buatan
dicantumkan dalam mg/saji.
3) Mencantumkan nilai ADI, kecuali yang tidak mempunyai nilai ADI.
4) Mencantumkan tulisan Mengandung pemanis buatan, disarankan tidak dikonsumsi oleh
anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
5) Mencantumkan tulisan Untuk penderita diabetes dan atau orang yang membutuhkan
makanan berkalori rendah.
6) Untuk pangan olahan yang mengunakan pemanis buatan aspartam, mencantumkan
peringatan Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita fenilketonuria

a) Pada Label untuk pangan yang mengalami perlakuan iradiasi wajibdicantumkan
tulisan PANGAN IRADIASI, tujuan iradiasi, dan apabilatidak boleh diiradiasi ulang,
wajib dicantumkan tulisan TIDAK BOLEHDIIRADIASI ULANG.
b) Pangan yang mengalami perlakuan iradiasi merupakan bahan yang digunakan
dalamsuatu produk pangan, pada Label cukup dicantumkan keterangantentang
perlakuan iradiasi pada bahan yang diiradiasi tersebut saja.
c) Selain pencantuman tulisan, padaLabel dapat dicantumkan logo khusus pangan
iradiasi.
d) Selain keterangan, pada Labelharus tercantum:
nama dan alamat penyelenggara iradiasi, apabila iradiasi tidakdilakukan sendiri
oleh pihak yang memproduksi pangan;
tanggal iradiasi dalam bulan dan tahun;
nama negara tempat iradiasi dilakukan.
e) Pada Label untuk pangan hasil rekayasa genetika wajib dicantumkantulisan
PANGAN REKAYASA GENETIKA.
f) Jika pangan hasil rekayasa genetika merupakan bahan yang digunakan dalam suatu
produkpangan, pada Label cukup dicantumkan keterangan tentang
panganrekayasa genetika pada bahan yang merupakan pangan hasil
rekayasagenetika tersebut saja.
g) Selain pencantuman tulisan, padaLabel dapat dicantumkan logo khusus pangan
hasil rekayasa genetika.
13) Keterangan tentang pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah
a) Pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah dapat diberi Label yangmemuat
keterangan bahwa pangan itu berasal dari bahan alamiahtersebut, apabila pangan
itu mengandung bahan alamiah yangbersangkutan tidak kurang dari kadar minimal
yang ditetapkan dalamStandardisasi Nasional Indonesia.
b) Pangan yang dibuat dari bahan baku alamiah yang telah menjalaniproses lanjutan,
pada labelnya wajib diberi keterangan yangmenunjukkan bahwa bahan yang
bersangkutan telah mengalamiproses lanjutan.
c) Pada Label untuk pangan yang dibuat tanpa menggunakan atau hanyasebagian
menggunakan bahan baku alamiah dilarang mencantumkanpernyataan atau
keterangan bahwa pangan yang bersangkutanseluruhnya dibuat dari bahan
alamiah.
14) Keterangan lain pada label tentang pangan olahan tertentu
Keterangan pada Label tentang pangan olahan yang diperuntukkan bagibayi,
anak berumur dibawah lima tahun, ibu yang sedang hamil ataumenyusui, orang yang
jalani diet khusus, orang lanjut usia, dan orangyang berpenyakit tertentu, wajib
memuat keterangan tentang peruntukan,cara penggunaan, dan atau keterangan lain
yang perlu diketahui,termasukmengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan
manusia.
Pada Label untuk pangan olahan yang memerlukan penyiapan danatau
penggunaan dengan cara tertentu, wajib dicantumkanketerangan tentang cara
penyiapan dan atau penggunaannyadimaksud.Apabila pencantuman keterangan
tersebut tidak mungkin dilakukan pada label, maka pencantumanketerangan dimaksud
sekurang-kurangnya dilakukan pada wadah atau kemasan Pangan.
Apabila suatu mutu pangan tergantung pada cara penyimpanan atau
memerlukan cara penyimpanan khusus, maka petunjuk tentang cara penyimpanan
harus dicantumkan pada label. Pada label untuk pangan yang terbuat dari bahan
setengah jadi atau bahan jadi, dilarang dimuat keterangan atau pernyataan bahwa
pangan tersebut dibuat dari bahan yang segar.
15) Keterangan tentang bahan tambahan pangan
Sediaan Bahan Tambahan Pangan (BTP)
1) Pada label bahan tambahan pangan harus dicantumkan:
a) Tulisan Bahan Tambahan Pangan,
b) Nama golongan bahan tambahan pangan,
c) Nama bahan tambahan pangan, dan
d) Nomor Pendaftaran Produsen BTP, kecuali untuk sediaan pemanis
buatan dalam bentuk table top.
2) Pada label pemanis buatan, selain keterangan sebagaimana dimaksud pada
angka 1), juga harus dicantumkan:
a) Jumlah pemanis buatan pada sediaan bentuk padat (misal tablet, granul
atau serbuk) dinyatakan dengan mg dan pada sediaan bentuk cairan
dinyatakan dengan ml, dalam jumlah sediaan sekali pakai.
b) Kesetaraan kemanisan dibandingkan dengan gula.
c) Jumlah mg pemanis buatan yang dapat digunakan tiap hari per kg bobot
badan (Acceptable Daily Intake, ADI).
d) Tulisan "Untuk penderita diabetes dan atau orang yang membutuhkan
makanan berkalori rendah,
e) Tulisan Mengandung pemanis buatan, disarankan tidak dikonsumsi
oleh anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
f) Untuk pemanis buatan aspartam, juga harus dicantumkan tulisan Tidak
cocok digunakan untuk bahan yang akan dipanaskan.
g) Untuk pangan olahan yang mengunakan pemanis buatan aspartam,
mencantumkan peringatan Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk
penderita fenilketonuria
3) Pada label pewarna pangan, selain keterangan sebagaimana dimaksud pada
angka 1), juga harus dicantumkan:
a) Nomor indeks (Color Index, CI)
b) Tulisan pewarna pangan yang ditulis dengan huruf besar berwarna hijau
di dalam kotak persegi panjang berwarna hijau.
c) Logo huruf M di dalam suatu lingkaran berwarna hitam, seperti contoh:

a. Ketentuan Khusus
Ketentuan tentang label sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor
69 Tahun 1999 tidak berlaku bagi :
1) Pangan yang kemasannya terlalu kecil sehingga tidak mungkin dicantumkan seluruh
keterangan dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
2) Pangan yang dijual dan dikemas secara langsung dihadapan pembeli dalam jumlah
kecil-kecil
3) Pangan yang dijual dalam jumlah besar (curah)

Peraturan Food Labelling Regulation yang dikeluarkan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) Th
1999 :
Untuk produk yang kadaluwarsanya kurang dari 3 bulan :
1) wajib mencantuman tanggal, bulan, tahun kadaluwarsa
2) pencantumannya setelah kata Best before .......... diikuti tanggal, bulan,
tahun kadaluwarsa
Untuk produk yang kadaluwarsanya lebih dari 3 bulan :
1) wajib mencantuman tanggal, bulan, tahun kadaluwarsa
2) pencantumannya setelah kata Best before end .......... diikuti tanggal, bulan,
tahun kadaluwarsa
Tujuh jenis produk pangan yang tidak memerlukan pencantuman tanggal, bulan,
tahun kadaluwarsa :
1) buah, sayuran segar, kentang yang belum dikupas
2) minuman mengandung alkohol 10% (v/v)
3) makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi kurang dari 24 jam
4) vinegar
5) garam meja
6) gula pasir
7) produk konvensionary yang bahan bakunya hanya berupa gula + flavor atau
gula + pewarna

d. Perbedaan peraturan pembuatan food labeling di luar negri dengan di Indonesia
1) Peraturan food Labeling di benua afrika
Syarat :
Only fact
Tidak membingungkan konsumen
Menggunakan label sebagai sarana untuk edukasi kepada konsumen
Komponen label makanan :
Nama dan alamat perusahaan
Petunjuk penggunaan
Isi bersih
Negara asal
Tanggal kadaluarsa
Use by date
Analisis zat gizi di tabel per 100 gram produk
Komposisi bahan makanan
Alergen yang di identifikasi
(villers,2009)

2) Peraturan food labeling di australia dan new zealand
Label harus benar- benar mendeskripsikan isi dan produk
Terdapat tanggal kadaluarsa atau by date
Nama dan alamat produsen
Komposisi harus dicantumkan mulai dari terkecil hingga terbanyak
Nutririon informasi panel (NIP) beriisi daftar energi ,protein , lemak ( seperti
nutrition fact)
Pernyataan peringatan ,pernyataan pembritahuan dan mandatory declaration
Negara asal
Bahan makanan dengan modifikasi genetik juga harus dicantumkan
(food standart australia new zealand )

1. Australia
a. Nutrition information panel
Informasi harus disajikan dalam format standar yang menunjukkan jumlah per
saji dan per 100g (100ml atau jika cairan) dari makanan. Ada beberapa pengecualian
untuk mencantumkan informasi gizi adalah :
- Kemasan yang sangat kecil seperti permen karet
- Makanan yang tidak ada nilai gizi yang signifikan seperti rempah-rempah, kopi dan
teh.
- Makanan yang dijual tanpa kemasan.
- Makanan yang dibuat dan dikemas pada saat penjualan.



b. Percentage labelling
Pada label makanan kemasan harus menunjukkan persentase atau karakteristik
bahan atau komponen dalam produk makanan. Hal ini akan memungkinkan untuk
membandingkan dengan produk yang sama. Misalnya untuk produk yoghurt salad
buah terdiri dari daftar bahan pisang 8%, strawberry 8%, anggur 4%, dan nanas 2%.
Beberapa produk makanan seperti keju tidak memiliki bahan karakteristik.
c. Name or description of the food
Makanan harus diberi label dengan nama atau keterangan yang akurat,
misalnya buah yoghurt harus mengandung buah. Jika itu mengandung penyedap buah
daripada buah asli, label akan perlu mengatakan 'yoghurt rasa buah'.
d. Food recall information
Label makanan harus memiliki nama dan alamat perusahaan di Australia atau
Selandia Baru dari produsen atau importir, serta banyak yang identifikasi makanan
(atau coding tanggal).
e. Information for allergy sufferers
Beberapa makanan, bahan makanan atau komponen dari suatu bahan dapat
menyebabkan reaksi alergi sehingga harus dicantumkan. Misalnya makanan seperti
kacang tanah, pohon kacang (kacang mete misalnya, almond, walnut), kerang, ikan,
susu, telur, wijen dan kedelai ketika ada dalam makanan dapat menyebabkan reaksi
alergi parah dan harus dinyatakan pada label betapapun kecilnya. Selain itu, makanan
yang mengandung pengawet sulfit harus dicap sebagai mengandung sulfit jika mereka
memiliki 10 miligram per kilogram atau lebih ditambah sulfit. Ini adalah tingkat yang
dapat memicu serangan asma pada beberapa penderita asma.
f. Date marking
Makanan dengan umur simpan kurang dari dua tahun harus memiliki tanggal
'best before', dimana makanan tersebut masih bisa dikonsumsi jika Makanan yang
tidak boleh dikonsumsi setelah tanggal tertentu untuk alasan kesehatan dan
keselamatan harus memiliki 'use by date'.
g. Ingredient list
Ketika makanan yang diproduksi bahan pertama yang tercantum memberikan
kontribusi jumlah terbesar dan bahan terakhir yang terdaftar menyumbang sedikit,
dibandingkan dengan lainnya bahan. Jadi, jika lemak, gula atau garam yang tercantum
di dekat bagian awal dari daftar tersebut produk mengandung proporsi yang lebih
besar dari bahan-bahan.
h. Labels must tell the truth
Undang-undang perdagangan yang adil dan hukum makanan di Australia dan
Selandia Baru membutuhkan bahwa label tidak memberi informasi yang salah melalui
palsu, menyesatkan atau menipu representasi. Misalnya, makanan dengan gambar
stroberi di
label harus berisi stroberi.
i. Food additives
Semua makanan aditif harus memiliki penggunaan tertentu, telah dinilai dan
disetujui oleh FSANZ untuk keselamatan. Aditif makanan harus diidentifikasi, biasanya
dengan nomor, dan termasuk dalam daftar bahan. Hal ini memungkinkan orang-orang
yang mungkin sensitif terhadap makanan aditif.
j. Legibility requirements
Persyaratan pelabelan secara hukum diperlukan dalam Kode Standar Makanan
harus
dapat dibaca, menonjol, dan berbeda dari latar belakang dan dalam bahasa Inggris.
k. Directions for use and storage
Dimana kondisi penyimpanan khusus yang diperlukan agar produk tetap terjaga
sampai 'best before' atau 'use by date', produsen harus menyertakan informasi
tentang label.
l. Country of origin
Legislasi Australia juga meletakkan aturan tentang 'Product of Australia', yang
berarti harus dibuat di Australia dari bahan-bahan Australia, dan 'Made in Australia',
yang
berarti itu dibuat di Australia dengan bahan impor yang signifikan.
3) Peraturan food labelling di uni eropa
Terdapat nama makanan
Komposisi bahan makanan
Allergen
Jumlah komposisi bahan makanan
Isi bersih
Tanggal kadaluarsa
Petunjuk penyimpanan
Nama perusahhan dan alamat
Asal negara
Petunjuk penggunaan
Kadar maksimal alkhohol untuk beverages mengandung 1,2 % volume alkhohol
Nutrition declaration
Tambahan untuk kategori spesifik seperti frozen meat , dll.
Terdapat ukuran tulisan mininum
( brains ,huren. 2012)
2. Eropa
Food labeling tidak hanya untuk produk pangan komersil dengan tujuan sebagai
pengenal produk terhadap masyarakat, tetapi juga sebagai informasi untuk makanan-makanan
yang :
- Mengandung alergen, seperti serelia dengan kandungan gluten yang tinggi,
krustasia (udang, kepiting dan sebagainya), telur, kacang-kacangan, kedelai,
laktosa, ikan, seledri, mustard, moluska, sulfur dioksida dan sulfit dengan
konsentrasi lebih dari 10 mg/kg bahan pangan dan biji wijen.
- Makanan tanpa kemasan (non-packed food) berupa pemberitahuan kemungkinan
bahan makanan dapat menyebabkan alergi.

b. Informasi gizi
- Label gizi bersifat sukarela, namun menjadi wajib jika klaim kesehatan yang dibuat
sehubungan dengan produk, atau jika makanan telah dilengkapi dengan
tambahan vitamin atau mineral.
- Pelabelan gizi meliputi informasi yang berkaitan dengan nilai energi makanan itu,
serta jumlah protein, karbohidrat, lemak, serat, sodium, vitamin dan mineral.
c. Pelabelan informasi
- Petunjuk ini menguraikan informasi wajib yang harus disertakan pada semua label
produk makanan, termasuk nama produk, daftar bahan, penggunaan-menurut
tanggal, dan setiap instruksi tertentu atau kondisi penggunaan.
- Melarang produk makanan atau bahan-bahan dari yang terakreditasi dengan sifat
yang berhubungan dengan pencegahan, mengobati, atau menyembuhkan
penyakit manusia (EUROPA, 2010).
- Hal ini juga melarang membuat klaim palsu keseluruhan, atau menunjukkan
produk memiliki karakteristik khusus atau unik, padahal sebenarnya, semua
produk makanan sejenis yang memiliki karakteristik yang sama (Bisnis Link, 2010).
- Komponen wajib label produk meliputi:
1. Nama produk jual
2. Daftar bahan
3. Jumlah setiap bahan yang terkandung dalam nama produk
4. Jumlah bersih
5. Tanggal penggunaan
6. Kondisi penyimpanan khususatau petunjuk penggunaan
7. Nama usaha, produsen, atau packager
8. Tempat yang bisa dihubungi
9. Keterangan mengenai kondisi fisik atau pengobatan khusus produk
10. Kadar alkohol yang sebenarnya dengan volume, untuk minuman dengan
alkohol 1,2% atau lebih (Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa, 2007).
d. Skema Pelabelan
Skema pelabelan diklasifikasikan menjadi tiga jenis :
1. Health Mark Schemes
Terdiri dari simbol-simbol, logo, atau indikator lain yang memberikan penilaian
instan dari makanan itu keseluruhan kesehatan bagi konsumen.
2. Interpretative Colour-Coded Schemes
Informasi tentang nutrisi kunci yang ditemukan dalam produk makanan.
Memanfaatkan warna yang berbeda sebagai panduan interpretatif, apakah tingkat
masing-masing gizi yang tinggi, menengah, atau rendah, diukur dengan ukuran
porsi.
3. Numerical and/or Percentage Guideline Daily Amount (GDA) Schemes
GDA berbasis skema memberikan informasi numerik pada jumlah yang sebenarnya
dari nutrisi kunci yang hadir dalam produk, dan data ini berhubungan dalam
persentase atau bentuk grafik, untuk pedoman harian.






e. Asal Pelabelan
Produsen harus memilih untuk memberikan asal atau pelabelan asalnya,
mereka juga harus memberikan informasi ini untuk bahan kunci jika mereka berasal
dari tempat yang berbeda dari produk jadi. Misalnya, diproduksi di Belgia dengan susu
Denmark.
f. Keterbacaan
Informasi wajib dicetak dalam ukuran minimal 3 mm, dan harus dalam warna
kontras secara signifikan oleh latar belakang yang muncul (misalnya teks hitam pada
latar belakang putih).
g. Traffic Light Labelling System
Produk lemak, gula dan kandungan sodium menggunakan merah, kuning dan
hijau lampu lalu lintas. Sistem ini akan memperingatkan konsumen bahwa produk
tersebut tidak apa-apa untuk menikmati sesekali (merah), sebagian besar (kuning) dan
mendorong membeli produk (hijau).
3. USA
Peraturan foodlabeling di United states
Secara umum semua produk harus menyediakan informasi gizi kecuali untuk
pengusaha kecil, dan mempunyai ketentuan khusus dalam jumlah besar , produk
mentah dan untuk tanggal bahan.
Statment umum, ditempatkan dibagian depan kemasan nama makanan dan berat
bersih.
Statment spesifik dibagian sisi kemasan :nama dan alamat pabrik , komposisi dan
informasi gizi .
(sihombing , 2008)

- Dalam label pangan harus terdapat : nama produk, berat bersih, jumlah produk, nama
dan alamat produsen, kode pos, kota.
- Nama produk dicantumkan pada bagian paling depan dan ukurannya setengah dari
ukuran label.
- Untuk berat bersih dituliskan 30% dibawah label, ditulis dengan dua ukuran SI dan
Standart USA.
- Untuk komposisi bahan yaitu bahan yang paling banyak digunakan ditulis didepan.
Di jepang
- Pedagang lebih tertib dan patuh aturan mengenai jumlah kalori pada makanan
- Tidak hanya makanan kemasan tapi makanan di toko juga dilengkapi label
(arie heraldin hutama.www.intisari-online.com)
- Khusus untuk konsumen muslim bisa menghubungi no. Bebas pulsa yang ada di
label
(harian jurnal nasional, ardiansyah, 2011)



Di malaysia
- Bahasa untuk produk lokal/tempatan boeh menggunakan bahasa malaysia atau
diterjemahkan ke bahasa lain, untuk produk impor boleh menggunakan bahasa
malaysia atau bahasa inggris atau dibenarkan dalam bahasa lain.
- Memakai nama sebenarnya yang mengambarkan makanan tersebut
- Senarai ramuan jenis atau kandungan harus di cantumkan pada label atau disusun
mengikuti berat (jika mengandung > 1 jnis ramuan kecuali air, aditif atau tambahan
zat makanan)
- Sertakan senarai ramuan yang menyebabkan hipersensitifity (ekstrak malt, gula,
tepung susu skim, mltodextrim, vit. C, minya kelapa sawit)
- Makanan yang mengandung zat aditif perlulah meletakkan perkataan
mengandungi.. sebagai kondisioner yang dibenarkan / perisa yang dibenarkan
- Berat berih/isi padu
- Maklumat pengeluar
- Penulisan penanda tarikh
- Nutrition fact
(Unza MD yasin,2011)
Indonesia Thailand Amerika Inggris Singapore Cina
Bagian utama
label
- nama produk
- berat bersih
- nama dan
alamat pihak
yang
memproduksi
atau
memasukkan
pangan ke
wilayah
indonesia
Bagian
Komponen
dalam label
- nama produk
- nomer seri
produk
- nama dan
alamat pabrik
atau pengemas
ulang
- berat bersih
- daftar
komposisi
- tanggal
kadaluwarsa
Statement
umum (bagian
depan
kemasan)
- identitas/
nama
makanan
- berat bersih
- jumlah produk

Statement
spesifik
(bagian kanan
kemasan)
Peraturan
label makanan
- Nama
makanan
- Daftar
komposisi
(termasuk
alergen)
- Berat
komposisi
utama produk
- Tanggal
kadaluwarsa
- Suhu
Komponen
dalam label
- Nama dan
deskripsi
produk
- Berat bersih
- Komposisi
bahan
- Nama atau
alamat
produsen/pen
gimport
- Negara asal
(bagi produk
Berisikan :
a. Merek
dagang
b. Nomor
makanan
c. Daftar
bahan
d. Netto
e. Nama
dan
alamat
produsen
dan
distributo
informasi
- kode produksi,
nomer
pendaftaran
pangan
- tanggal
kadaluwarsa
- petunjuk
penyimpanan/p
enggunaan/
penyajian
- komposisi
- informasi
kandungan gizi,
- claims
- tulisan atau
pernyataan
khusus
- gambar

Nutrition fact
menggunakan %
AKG

Kewajiban
pencantuman
label: suka rela
- cara
penyimpanan
- cara
penggunaan
- gambar

Untuk produk
import paling
tidak memiliki
konten:
- nama dan tipe
makanan
- nomer seri
makanan
- berat bersih
- nama dan
negara asal
pabrik

Nutrition fact
menggunakan
Thai RDI

Kewajiban
pencantuman
label: suka rela
(Document
Reference Thailand,
2010)
- nama dan
alamat pabrik
- nama
distributor
- komposisi
- informasi gizi
- city or town
- state (or
country jika di
luar US)
- ZIP code
(digunakan
pada negara
di luar US)

Kewajiban
pencantuman
label: wajib
(FRL Guidance
Notes, 1997)
penyimpanan
- Nama dan
alamat pabrik,
pengemas,
distributor
- Asal negara

Peraturan
komposisi
makanan
lebih ketat
pada produk
berikut:

- Roti dan
tepung
- Cocoa dan
coklat
- Soluble coffee
- Evaporated
and dried milk
- Fruit juice
- Madu
- Infant formula

Kewajiban
pencantuman
label: -
(US Departement
of Health and
Human Services,
2009)
makanan yang
diimport)
- Tanggal
kadaluwarsa

* Ukuran huruf
dalam label tidak
boleh lebih dari
1,5 mm

Kewajiban
pencantuman
label: suka
rela
(Shuhaiza, tanpa
tahun)
r
f. Indikasi
tanggal
produksi
dan masa
berlaku
g. Negara
asal jika
barang
impor
Harus
menggunakan
tulisan china.
Tulisan lain
digunakan
setelah tulisan
China.


Negara Asal Ketentuan food label
Malaysia Tidak ada peraturan label gizi yang wajib dicantumkan di dalam kemasan
pangan kecuali pada pelabelan makanan dengan tujuan khusus seperti
memberikan label nutrisi wajib makanan seperti susu formula bayi dan sereal
berbasis makanan untuk bayi dan anak kecil. Tidak ada keseragaman dalam
berbagai format label nutrisi.
Singapura Label nutrisi wajib dicantumkan hanya untuk makanan yang diperkaya atau
difortifikasi dengan vitamin tertentu, mineral, asam amino esensial dan asam
lemak (Departemen Kesehatan Singapore 1990). Selain itu, pengunaan label
gizi pada makanan wajib dicantumkan untuk makanan tujuan khusus,
termasuk formula bayi.
Thailand Label nutrisi wajib untuk kategori makanan berikut:
Makanan yang mengandung klaim gizi ( klaim pembanding atau klaim fungsi
gizi)
Makanan yang mengandung klaim kesehatan (makanan dengan klaim
manfaat tertentu atau fungsi untuk tubuh atau bahan tertentu)
Makanan untuk kelompok sasaran tertentu, misalnya anak-anak sekolah,
lansia
Makanan lain yang ditentukan oleh Kantor Administrasi Makanan dan Obat
Thailand
Filipina Peraturan Filipina juga mengharuskan label nutrisi wajib bagi sejumlah
makanan, termasuk makanan yang diperkaya atau difortifikasi (Departemen
Kesehatan Filipina 1984). Informasi nutrisi dapat diberikan dalam bentuk
ditabulasi dan disajikan atas dasar makanan seperti kemasan, sedangkan
kolom lain menyatakan jumlah nutrisi setelah memasak, dalam kaitannya
dengan rata-rata penyajian dalam hal irisan, potongan atau ditentukan dalam
berat dan jumlah. Nilai gizi juga harus dinyatakan sebagai persen dari RDA
Indonesia Label pangan merupakan hal yang penting dalam pembuatan klaim gizi, yang
berisi energi, protein, lemak dan karbohidrat serta vitamin dan mineral
(Depkes RI). Dalam label pangan ada 10 hal yang diperlukan, yaitu nilai
energi, jumlah total protein, karbohidrat yang tersedia (tidak termasuk serat)
dan lemak, jumlah nutrisi lain yang terdapat dalam klaim, dan zat gizi yang
dianggap relevan untuk meningkatkan status gizi. Disamping itu, informasi
juga dapat diperoleh dari nilai pertakaran saji yang tertera pada label. Nilai
jumlah karbohidrat, protein dan lemak ditulis dengan satuan gram dalam 100
gram atau per 100 mL. Nilai kandungan gizi pada label harus berasal dari hasil
analisis yang mampu merepresentatifkan kandungan pada makanan.

e. Prosedur pemberian food labeling
Untuk industry besar













(BPOM, 2011)







Pengajuan pendaftaran
(setiap Pangan Olahan termasuk yang
memiliki perbedaan dalam hal:
desain Label; jenis kemasan;
komposisi; dan/atau nama dan/atau
alamat pihak yang memproduksi)

Pemeriksaan dan penilaian

Pemberian keputusan

Surat
persetujuan

Surat
penolakan

Penerbitan
nomor
pendaftaran
pangan

Pangan produksi
dalam negeri
BPOM RI MD
diikuti dengan digit
angka



Pangan produksi
luar negeri
BPOM RI ML
diikuti dengan digit
angka



Data
pendukung
terbaru

Pengisian formulir pendaftaran dan
kelengkapan dokumen pendaftaran

keterangan:
1. Pengajuan pendaftaran harus memenuhi kelengkapan administratif dan teknis
a. Persyaratan administrative
Pangan olahan produksi dalam negeri
- Surat kuasa ditandatangani penanggung jawab perusahaan
- Izin industri
Untuk pangan yang diproduksi sendiri : Izin Usaha Industri
Untuk pangan yang diproduksi berdasarkan kontrak :
a. Izin Usaha Industri pemberi kontrak
b. Izin Usaha Industri penerima kontrak
c. Surat Perjanjian/Kontrak antara pihak pemberi kontrak dengan pihak
penerima kontrak
Untuk pangan yang dikemas kembali :
a. Izin Usaha Industri mengemas kembali
b. Surat kerjasama antara pabrik asal dengan pabrik pengemas kembali
Untuk pangan yang dikemas kembali :
a. Izin Usaha Industri mengemas kembali
b. Surat kerjasama antara pabrik asal dengan pabrik pengemas kembali
Untuk pangan yang diproduksi dengan lisensi :
a. Izin Usaha Industri
b. Surat perjanjian antara pemberi lisensi dengan penerima lisensi atau
produsen
- Hasil audit sarana produksi/ distribusi mengajukan kepada kepala balai setempat
- Surat keterangan yang menyatakan hubungan antar perusahaan (jika perlu)
Pangan olahan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia
- Surat kuasa
- Surat perjanjian/ kontrak antara pihak pemberi dan penerima
- Surat ijin usaha perdagangan (SIUP) atau angka pengenal impor (API)
- Surat penunjukan dari perusahaan luar negeri kepada importer/ distributor
- Sertifikat kesehatan (health certificate) atau sertifikat bebas jual (certificate of free
sale)
- Hasil audit sarana distribusi
- Surat keterangan yang menyatakan hubungan antar perusahaan (jika perlu)
b. Persyaratan teknis
Komposisi atau daftar bahan yang digunakan
Penjelasan untuk bahan baku tertentu yang digunakan
Proses produksi atau sertifikat GMP/HACCP
Hasil analisis produk akhir (Certificate of Analysis)
Informasi tentang masa simpan
Informasi tentang kode produksi
Rancangan label
2. Dokumen pendukung lain (jika perlu)
a. Sertifikat Merek
b. Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (Standar Nasional Indonesia
c. Sertifikat Organik
d. Keterangan tentang status bebas GMO (Genetically Modified Organism)
e. Keterangan Iradiasi Pangan
f. Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk RPH (Rumah Pemotongan Hewan)
g. Surat Persetujuan Pencantuman Tulisan Halal pada Label Pangan
h. Data pendukung lain
i. Surat Penetapan sebagai Importir Terdaftar (IT) untuk Minuman Beralkohol
3. Persyaratan dan kelengkapan dokumen untuk perubahan data pangan olahan
a. Persyaratan umum untuk semua perubahan data
Surat pengajuan sesuai dengan format yang ditetapkan
Fotocopi surat persetujuan pendaftaran
Fotocopi label yang disetujui pada surat persetujuan pendaftaran
Fotocopi surat persetujuan perubahan data pangan olahan terakhir
Fotocopi label pada persetujuan perubahan data pangan olahan terakhir
Rancangan label baru berwarna
Label dan kemasan asli produk pangan yang beredar
b. Persyaratan tambahan untuk pangan tertentu
No. Persyaratan Keterangan
1. Fotokopi sertifikat merek Untuk pangan yang mencantumkan dan atau
2. Fotokopi surat izin
pencantuman halal
Untuk pangan yang mencantumkan halal
3. Fotokopi sertifikat SNI Untuk pangan wajib SNI (AMDK, tepung terigu,
garam beryodium, cokelat bubuk dan gula rafinasi)

4. Fotokopi surat kerjasama Untuk pangan yang diproduksi dengan kerjasama
(lisensi, pengemasan kembali atau kontrak, dll)
5. Fotokopi surat penunjukan
dari pabrik asal
Untuk pangan impor
6. Fotokopi SIUP Untuk pangan impor

c. Persyaratan tambahn berdasarkan perubahan yang diajukan
No. Perubahan Kelengkapan data
1. Perubahan nama produsen a. Izin usaha industri atau tanda daftar industri
b. Akte notaris yang menjelaskan status perubahan
2. Perubahan nama importer/
distributor
a. Fotokopi surat penunjukan dari pabrik asal
dengan nama importir /distributor yang terbaru
(menunjukkan asli)
b. Fotokopi SIUP atas nama importir /distributor
yang baru
3. Pencantuman dan atau
perubahan informasi nilai gizi
dan atau penambahan klaim

a. Hasil analisa terbaru ASLI dari laboratorium
terakreditasi atau laboratorium Pemerintah untuk
zat gizi dan atau komponen fungsional
b. Cara perhitungan % AKG pada label informasi
nilai gizi
4. Perubahan nama dagang

Sertifikat SNI dengan nama dagang yang baru
(untuk pangan wajib SNI)
5. Perubahan komposisi

a. Komposisi lama dan komposisi baru
b. Penjelasan tentang bahan tertentu
c. Hasil analisa produk akhir terbaru ASLI dari
laboratorium terakreditasi atau laboratorium
Pemerintah
6. Perubahan untuk kepentingan
promosi dalam waktu tertentu

a. Surat pernyataan atau keterangan dari
perusahaan yang menjelaskan tujuan dan batas
waktu untuk promosi
b. izin promosi dari instansi yang berwenang
(untuk hadiah langsung dan undian berhadiah).

(BPOM, 2011)
Untuk industry pangan rumah tangga (SPP-IRT)
1. Diberikan oleh bupati/walikota
2. Penerimaan pengajuan permohonan SPP IRT, diterima oleh bupati, dinkes kabupaten/kota,
kelengkapan untuk dievaluasi:
a. Nama jenis pangan, nama dagang, jenis kemasan, berat bersih,, komposisi, yahapn
produksi, nama alamt, kodepos, nomor telepon IRTP, nama pemilik, nama penanggung
jawab, informasi masa simpan, kode produksi.
b. SIU dan instansi berwenang
c. Rancangan label pangan
3. Penyelenggaraan penyuluhan keamanan pangan
a. Dikoordinasi oleh Bupati/ Walikota/ Dinkes
b. Narasumber: Dinkes/ Balai POM setempat
c. Materi penyuluhan:
- Peraturan UU bidang pangan
- Keamanan dan mutu pangan
- Teknologi proses pengolahan pangan
- CPPB-IRT, BTP, persyaratan label iklan pangan
- Pencantuman label halal
d. Metode penyuluhan keamanan pangan
e. Sertifikat penyluhan keamanan pangan
- Diberikan kepada pemilik yang lulus penyuluhan keamanan pangan dengan hasil
minimal 60
4. Pemeriksaan sarana produksi pangan IRT
a. Dilakukan setelah melakukan sertifikasi penyuluhan
b. Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga pengawas pangan kabupaten/kota dilengkapi surat
tugas yang diterbitkan Bupati/Dinkes
c. Criteria TPP kab./kota: PNS memiliki sertifikat kompetensi pengawas pangan dari BPOM
d. Pemeriksaan sesuai keputusan BPOM
e. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa IRTP masuk level I-II maka diberikan SPP-IRT
5. Pemberian nomor P-IRT, untuk 1 jenis pangan
6. Diterbitkan oleh instansi dalam penerbitan kode provinsi, kabupaten, kota.
(BPOM. 2012)
f. Langkah membuat food labeling
a. Langkah-langkah
1. Formulasi produk baru
Nama produk
Bahan bahan
2. Desain produk
format penulisan : huruf latin, jelas, mudah dibaca, ukuran huruf minim 0,5 mm
warna kontras, gambar tidak menyesatkan, klaim produk jelas. (Siagian, 2003)
Tulisa pada label dibuat teratur, tidak berdesak-desakan, jelas dan mudah
dibaca
Dilarang menggunakan latarbelakan dan warna yang dapat pengaburkan tulisan
utama. (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999
Tentang Label Dan Iklan Pangan, 1999)
Peletakan nama brand di bagian yang terluas

Peletakan nutritional fact



Peletakan informasi

Peletakan netto/berat bersih harus jelas tidak boleh kabur

(U.S. Department of Health and Human Services, 2009)
3. Analisis laboratorium
4. Product trial
5. Prosedur manufaktur (tatacara pendaftaran)
mengisi formulir Pendaftaran disertai dengan kelengkapan dokumen
Pendaftaran.
Pengisian formulir Pendaftaran Pangan Olahan harus menggunakan bahasa
Indonesia diisi dengan lengkap
Dokumen Pendaftaran dapat menggunakan bahasa Indonesia atau Bahasa
Inggris.
menyerahkan permohonan
pemeriksaan dokumen serta penetapan Biaya Evaluasi dan Pendaftaran
dinyatakan diterima untuk dinilai lebih lanjut, kepada Pendaftar diberikan Surat
Pengantar Pembayaran Bank
Surat Pengantar Pembayaran
mencantumkan Biaya Evaluasi dan Pendaftaran yang harus dibayar sebagai
penerimaan negara bukan pajak
Permohonan Pendaftaran yang telah dilengkapi dengan bukti pembayaran Biaya
Evaluasi dan Pendaftaran dari bank, diserahkan kepada Kepala Badan cq.
Direktur untuk dilakukan Penilaian lebih lanjut
penerbitan Surat Persetujuan/penolakan Pendaftaran ( BPOM, 2011)
6. Perumusan harga
7. Pencantuman bahan
8. Pencantuman nutritional fact
9. Prediksi tanggal kadaluarsa
FOOD LABELING DI INDONESIA DAN LUAR NEGERI
g. Kondisi khusus dimana produsen diberikan kewenangan tidak mencantumkan label
Keterangan tentang bahan yang digunakan
a) Keterangan tentang bahan yang digunakan dalam kegiatan atauproses produksi
pangan dicantumkan pada Label sebagai daftar bahan secara berurutan dimulai
dari bagian yang terbanyak, kecuali vitamin,mineral dan zat penambah gizi lainnya.
b) Ada beberapa perkecualian, antara lain bahan-bahan yang tidak perlu dicantumkan
: (1) bila komposisi diketahui secara umum, (2) pada makanan dengan luas
permukaan tidak lebih dari 100 cm
2

h. Ketentuan khusus untuk tanggal kadaluwarsa
Tanggal Kedaluarsa
a) Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa wajib dicantumkan secara jelas pada Label.
b) Pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa dilakukan setelah
pencantuman tulisan Baik Digunakan Sebelum, sesuai dengan jenis dan daya
tahan panganyang bersangkutan.
c) Produk pangan yang kedaluwarsanya lebih dari 3 (tiga)bulan, diperbolehkan untuk
hanya mencantumkan bulan dan tahun kedaluwarsa saja.
i. Pihak pihak yang memberikan izin dan sasaran pada food labeling
BPOM : institusipemerintahan yang bertanggung jawab terhadap peredaran produk anganol
pahan di seluruh Indonesia (BPOM, 2012)
Terdapat sistem pengkodean merek barangmenurut BPOM antara lain:
SP (sertifikatpenyuluhan)
- Jaminan tertulis terhadap pangan produksi IRTP yang memenuhi persyaratan
- Diberikan kepada pengusaha kecil dengan modal terbatas dan pengawasan diberikan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kodya, sebatas penyuluhan.
- SPP IRT berlakuselama 5 tahun
MD
- Perusahaan pengolahan pangan yg produknya dipasarkan secara nasional dan masuk
dalam resiko sedang/tinggi
ML
- Berasal dari produk impor
Menurut PP No.69/1999 ,Depagdan MUI hanyaberwenang dalam pengaturan lebih lanjut
proses sertifikasi halal,bukan hal teknis dengan menerbitkan stiker halal. Sementara teknis
pelabelan,termasuk pemuatan keterangan halal, merupakan kewenangan BPOM setelah
memperoleh sertifikasi halal.
Untuk labelisasi produk impor sistem perdagangan internasional sudah lama mengenal
ketentuan halal dalam codex yang didukung oleh organisasi internasional antara lain WHO,FAO
dan WTO. (Wiku,2008)
j. Pengecualian pelabelan makanan berlaku untuk :
Pengecualian Pelabelan Makanan
Untuk beberapa produk yang memang tidak memungkinkan untuk diberi label secara
lengkap seperti yang tertera pada Peraturan Pemerintah tahun 1999, diperbolehkan untuk
tidak mencantumkan label makanan. Hal ini sesuai dengan ketentuan khusus dari
Pemerintah sendiri yang menggolongkannya ke dalam Ketentuan Khusus Label yang tertera
pada Pasal 63 pada Peraturan Pemerintah tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
Ketentuan label makanan tidak berlaku jika :
a. pangan yang kemasannya terlalu kecil sehingga tidak mungkin dicantumkan seluruh
keterangan dimaksud dalam Peraturan Pemerintah;
b. pangan yang dijual dan dikemas secara langsung dihadapan pembeli dalam jumlah kecil-
kecil;
c. pangan yang dijual dalam jumlah besar (curah).

7. Claims di Indonesia dan Luar negeri :
a. Apa saja tujuan dan syarat-syarat penulisan claim?
- Pengertian
Klaim adalah bentuk uraian yang menyatakan, menyarankan atau secara tidak langsung
menyatakan perihal karakteristik tertentu suatu pangan yang berkenanaan dengan asal usul,
kandungan gizi, sifat, produksi, pengolahan, komposisi, atau mutu lainnya.
- Prinsip Claims
Tidak boleh menyesatkan konsumen dan tidak memuat klaim yang dikaitkan dengan
peranan sebagai obat, treatment, preventive dan cure penyakit.
(Sihombing, 2009)
- Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam klaim
1. Klaim tidak boleh menyesatkan, harus berdasarkan fakta atau bukti ilmiah
2. Pencantuman pernyataan pada label pangan bahwa pangan merupakan sumber suatu
zat gizi tidak dilarang sepanjang jumlah zat gizi dalam pangan tersebut sekurang-
kurangnya 10% lebih banyak dari jumlah kecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan
dalam satu takaran saji bagi pangan tersebut
3. Dilarang mencantumkan pernyataan pada label bahwa pangan mengandung zat gizi
lebih unggul daripada produk lain
4. Makanan apapun dengan klaim harus disertai dengan nutrition label yang sesuai
dengan panduan pelabelan makanan
5. Tidak boleh menyatakan seolah-olah makanan yang berlabel gizi ini memmpunyai
kelebihan dari makanan yang tidak berlabel
6. Pernyataan bermanfaat bagi kesehatan harus benar-benar didasarkan atas komposisi
dan jumlahnya yang dikonsumsi sehari- hari
7. Klaim harus konsisten terhadap kebijakan nutrisi alami dan mendukung kebijakan
tersebut
8. Harus berdasarkan panduan ilmiah
- Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan health claim
1. Pada label harus tercantum kandungan bahan dan jumlah yang perlu dikonsumsi
perhari, terutama untuk bahan mudah cerna, dan dapat merangsang nafsu makan dan
ccok untuk orang sakit
2. Harus konsisten dengan peraturan kesehatan nasional dan peraturan pendukung
dinegara tersebut
3. Harus didukung oleh bukti ilmiah
4. Tidak boleh dinyatakan sebagai bebas gula atau kurang gula bila mengandung
karbihidrat
5. Penjelasan tentang klaim tentang pengurangan resiko harus terjamin
6. Harus berhubungan dengan pola makan keseluruhan
7. Tidak menganjurkan praktek dietary yang buruk
8. Harus dapat menerima dan diterima di pihak yang berwenang
9. Harus ada penelitian pada manusia
- Tujuan
- Untuk mempengaruhi konsumen agar manggunakan produk dengan mempengaruhi
pengetahuan dan emosi konsumen ( Kristanto, yohanes. 2010
- Untuk meningkatkan daya jual produk
- Untuk memberikan gambaran tentang keberadaan dan manfaat nsuatu zat gizi spesifik
yang terkandung dalam makanan.
- Sebagai informasi adanya keunggulan kesehatan dari produk makanan tersebut
(Joannne, Cammans. 2006)
- Sumber informasi
- Sarana pendidikan
- Membantu konsumen memilih produk yang tepat (Moniharapan, Sumowa, Khumsa,
Sukandar. 1999) (Fitria. 2008)
- Membantu konsumen dalam memilih produk pangan dikaitkan dengan pemenuhan gizi
dan kesehatan
(info POM, BPOM RI. 2012)
- Untuk memudahkan konsumen dalam memilih produk yang diharapkan
- Untuk mendapatkan kekuatan hukum
- Untuk menunjukkan keunggulan produk
- Digunakan untuk informasi tambahan terkait alergi. Sumber: Peraturan Kepala BPOM
tentang Pengawasan Klaim dalam Label dan Iklan Pangan
- Untuk mempengaruhi konsumen agar menggunakan produk tersebut
- Untuk menguatkan daya jual produk
- Untuk memberi gambaran tentang keberadaan dan manfaat produk
- Sebagai panduan konsumen untuk memiih produk yang tepat sesuai kebutuhan
- Syarat
- Tidak boleh menyatakan seolah olah makanan yang berlabel gizi mempunyai kelebihan
daripada makanan yang tidak berlabel
- Tidak boleh membuat pernyataan adanya nilai kusus, bila nilai kusus tersebut tidak
sepenuhnya berasal dari bahan makanan tersebut tetapi karena dikombinasikan dengan
produk lain
- Pernyataan bermanfaat bagi kesehatan harus benar benar didasarkan pada komposisi
dan jumlahnya yang dikonsumsi per hari
- Tidak menyebutkan pernyataan bahwa makanan tersebut akan menyediakan semua
sumber zat gizi esensial
- Tidak diperbolehkan menyatakan diet seimbang tidak bisa mensuplai zat gizi yang cukup
- Dapat dibuktikan
- Bukan sebagai obat
- Tidak diperbolehkan menimbulkan ketidakyakinan konsumen terhadap produk lain yang
sejenis atau yang dapat menyebabkan ketakutan konsumen
- Tidak boleh mencantumkan zat yang memang sudah ada di nutrition fact pada
umumnya, misalnya menulis klaim karbohidrat padahal memang bahan makanan
tersebut sumber karbohidrat (WHO & FAO, 2007)
- Menggambarkan bahwa satu zat gizi atau komponen dapat mencegah, mengobati atau
menyembuhkan penyakit (info POM, BPOM RI. 2012)
- Teruji sesuai kondisi keadaan pangan (peraturan kepala BPOM RI, 2011) (Fitria, 2008)
- Klaim rendah atau bebas pangan olahan yang memiliki proses tertentu sehingga jadi
penulisan rendah harus sesuai dengan peraturan (BPOM, 2011)
- Pernyataan yang secara langsung maupun implisit yang menunjukkan kandungan zat gizi
dalam pangan, zat gizi yang wajib dari label gizi, mendeklarasikan zat gizi dari label
mencantumkannya. Pernyataan fat Free bukan berarti tidak terdapat lemak
didalamnya, namun terdapat sedikit lemak yaitu 0.5 mg/100 gram (Zahara, 2009)
- Tidak dihubungkan dengan pengobatan dan pencegahan penyakit pada individu
(Peraturan KBPOM, 2011 tentang pengawasan Klaim dalam Label dan Iklan Pangan
Olahan)
- Untuk siapa produk makanan tersebut, terdapat petunjuk cara penggunaan dan
penyimpanan, serta keterangan lain peringatan konsumsi makanan dalam jumlah
maksimum (pasal 7 BPOM RI, 2011)
- Setiap label atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan
mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan (UU RI No.7 Tahun 1996
Tentang Pangan Pasal 33)
- Ukuran huruf tidak boleh lebih besar dari ukuran huruf nama produk
- Ditempatkan di bagian yang mudah dilihat (bagian utama label)
- Tidak bersifat menipu atau menyesatkan konsumen. Sumber: Food Labelling Guide,
2008
- Syarat mencantumkan klaim gizi
Pangan Olahan yang mencantumkan klaim dalam label dan iklan harusmemenuhi
persyaratan asupan per saji tidak lebih dari:
a. 13 g lemak total;
b. 4 g lemak jenuh;
c. 60 mg kolesterol; dan
d. 480 mg natrium.
Pangan olahan yang mencantumkan klaim harus memuat informasi sebagai berikut:
a) Informasi nilai gizi;
b) Peruntukan;
c) Petunjuk cara penyiapan dan penggunaan, khusus untuk Pangan Olahan yang perlu
petunjuk cara penyiapan dan penggunaan; dan
d) Keterangan lain yang perlu dicantumkan, termasuk namun tidak terbatas pada
peringatan tentang konsumsi maksimum atau kelompok orang yang perlu menghindari
pangan tersebut.
- Larangan Klaim
a) Dilarang mencantumkan klaim untuk Pangan Olahan yang diperuntukkan bagi bayi,
kecuali diatur dalam peraturan lain.
b) Dilarang mencantumkan klaim fungsi lain dan klaim penurunan risiko penyakit untuk
Pangan Olahan yang diperuntukkan bagi anak berusia 1-3 tahun, kecuali diatur dalam
peraturan lain.
c) Dilarang mencantumkan klaim yang:
- memuat pernyataan bahwa konsumsi pangan tersebut dapat memenuhi
kebutuhan semua zat gizi esensial;
- memanfaatkan ketakutan konsumen;
- menyebabkan konsumen mengkonsumsi suatu jenis Pangan Olahan secara tidak
benar; dan/atau
- menggambarkan bahwa suatu zat gizi atau komponen dapat mencegah, mengobati
atau menyembuhkan penyakit.
b. Jenis claim
a. Jenis claims
Dalam peraturan Kepala BPOM RI Tahun 2011 tentang Pengawasan Klaim dalam Label
dan Iklan Pangan Olahan Pasal 2, Ayat 2, klaim dibagi menjadi :
1. Klaim gizi
Klaim kandungan gizi, yaitu klaim yang menggambarkan kandungan zat gizi
dalam pangan
Klaim perbandingan zat gizi, yaitu klaim yang membandingkan kandungan zat
gizi dan/atau kandungan energi antara dua atau lebih pangan
2. Klaim kesehatan
Klaim fungsi zat gizi, yaitu klaim gizi yang menggambarkan peran fisiologis zat
gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi normal tubuh
Klaim fungsi lain, yaitu klaim yang berkaitan dengan efek khusus yang
menguntungkan dari pangan atau komponen pangan dalam diet total terhadap
terhadap fungsi/aktivitas biologis normal dalam tubuh
Klaim penurunan resik penyakit, yaitu klaim yang menghubungkan konsumsi
pangan atau komponen pangan dalam diet total dengan penurunan resik
terjadinya suatu penyakit atau kondisi kesehatan tertentu
3. Klaim indeks glikemik
(BPOM RI, 2011)
Sedangkan di luar negeri, klaim dibagi menjadi :
1. Klaim gizi, yang dibagi lagi menjadi
Klaim komparatif, yaitu klaim yang menggabungkan tingkat zat gizi dan/atau
jumlah energi dari dua bahan makanan atau lebih
Klaim nutrient content, yaitu klaim yang mendeskripsikan tingkat zat gizi dalam
satu produk makanan, misalnya tinggi kalsium
Klaim fungsi gizi, yaitu klaim yang mendeskripsikan daur fisiologis dari zat gizi
dalam pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi normal dalam tubuh
2. Klaim kesehatan, yaitu klaim yang mendeskripsikan hubungan antara satu makanan
atau komponen makanan dalam mengurangi resiko suatu penyakit atau kondisi yang
berhubungan dengan kesehatan, misalnya membantu menstabilkan kadar gula
darah
3. Klaim struktur/fungsi, yaitu klaim yang mendeskripsikan efek dari suatu zat gizi atau
substansi pada struktur normal atau fungsi dalam tubuh, misalnya kalsium untuk
membantu menguatkan tulang Anda
1. Klaim Gizi :
Klaim atau pernyataan dari produsen makanan bahwa produknya mempunyai manfaat gizi
dan kesehatan, seperti dalam menurunkan resiko penyakit kronis.
2
a. Klaim kandungan zat gizi
Klaim yang menggambarkan kandungan zat gizi dalam pangan.
3
b. Klaim perbandingan zat gizi
Klaim yang membandingkan kandungan zat gizi dan/atau kandungan energi antara dua
atau lebih pangan.
3
2. Klaim Kesehatan
Klaim atau pernyataan dan produsen makanan bahwa produknya mempunyai manfaat
kesehatan setelah ada bukti ilmiah.
2
a. Klaim fungsi zat gizi
Klaim gizi yang menggambarkan peran fisiologis zat gizi untuk pertumbuhan,
perkembangan dan fungsi normal tubuh.
3
b. Klaim fungsi lain
Klaim yang berkaitan dengan efek khusus yang menguntungkan dari pangan atau
komponen pangan dalam diet total terhadap fungsi atau aktifitas biologis normal dalam
tubuh, klaim tersebut berkaitan dengan efek positif untuk memperbaiki fungsi tubuh
atau memelihara kesehatan.
3
c. Klaim penurunan risiko penyakit
Klaim yang menghubungkan konsumsi pangan atau komponen pangan dalam diet total
dengan penurunan risiko terjadinya suatu penyakit atau kondisi kesehatan tertentu.
3
3. Klaim index glikemik
Klaim mencantumkan kategori dan nilai indeks glikemik. Indeks Glikemik (IG) adalah nilai yang
mencerminkan laju peningkatan kadar glukosa darah setelah mengonsumsi pangan yang
mengandung karbohidrat, semakin tinggi IG maka semakin tinggi kadar glukosa darah setelah
pangan dikonsumsi, kenaikan kadar glukosa darah tidak semata ditentukan oleh IG tetapi juga
oleh jumlah karbohidrat yang dikonsumsi (beban glikemik/glycemic load)
Menurut BPOM :
a. Klaim gizi
1) Klaim kandungan zat gizi
2) Klaim perbandingan zat gizi
b. Klaim kesehatan
1) Klaim fungsi zat gizi
2) Klaim fungsi lain
3) Klaim penurunan resiko penyakit
c. Klaim indeks glikemik
1) indeks glikemik tinggi dengan nilai indeks glikemik lebih dari 70;
2) indeks glikemik sedang dengan nilai indeks glikemik antara 55-70;
3) indeks glikemik rendah dengan nilai indeks glikemik kurang dari 55.
( peraturan kepala BPOM RI tahun 2011 )
Berdasarkan objektifitasnya dibagi menjadi
a) Klaim subjektif
Merupakan klaim yang mungkin menghasilkan tafsiran yang berbeda antar individu.
b) Klaim objektif
Merupakan klaim yang focus pada informasi factual dan tidak tergantung pada tafsiran
individu.
Klaim untuk mengelabui konsumen
a) Klaim yang tampak objektif
Seperti klaim kandungan gizi tertentu alam produk pangan, yang harus dibuktikan
dengan pengujian / dibandingkan dengan standar yang ada.
b) Klaim yang subjektif
Klaim yang menampilkan persepsi individu ( kesukaan, pilihan, kepercayaan) yang
mungkin menghasilkan penafsiran yang berbeda tiap individu
c) Mendua
Klaim yang menampilkan dua sisi pesan yang pro dan kontra (sebagian benar
sebagian lagi salah )
d) Tidak rasional
Klaim dibuat dengan tujuan kepentingan promosi yang lebi mengutamakan segi
persuasi dibandingkan segi informasinya.
(kurniawan , 2008)
Absolute Nutrient Contain Claim
Absolute nutrient contain claim adalah klaim gizi yang merujuk ke tingkat nutrisi tertentu
dalam makanan tunggal, sehingga tidak dibandingkan dengan makanan lain. Klaim ini
bersifat deskriptif seperti bebas, rendah, tinggi, dl. Contohnya : bebas kolesterol,
rendah lemak, dll. Tentu saja makanan dapat dikatakan mengandung tinggi, rendah dan
bebas apabila sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Relative Nutrient Contain Claim
Relative nutrient contain claim adalah klaim gizi yang menggambarkan tingkat nutrisi dalam
satu makanan dengan makanan lain. Contohnya : produk ini mengandung lemak 50% lebih
sedikit daripada keju biasa. Ada beberapa kententuan dalam memberikan klaim jenis ini
yaitu :
a) Dilakukan pada makanan yang sama.
Contoh : keju rendah lemak Swiss akan dibandingkan dengan keju Swiss reguler, atau
lite cream cheese dengan keju krim biasa
b) Dilakukan pada makanan berbeda namun dalam kategori produk yang sama. Misalnya :
Contoh : keripik kentang dengan pretzel. Keduanya adalah makanan yang berbeda namu
keduanya termasuk dalam kategori yang sama yaitu makanan ringan.
Implied Nutrient Content Claim
Implied nutrient content claim merupakan klaim yang tersirat pada klaim yang sudah
dituliskan berdasarkan ketentuan yang secara implisit mencirikan tingkat atau kandungan
nutrisi dalam produk tersebut. Misalnya : produk ini mengandung tinggi Oat, maka secara
tersirat produk ini mengandung tinggi dietary fiber.
Numeric declaration for nutrient content claims
Klaim jenis ini menggunakan pernyataan kuantitatif faktual yang mengungkapkan jumlah
nutrisi dalam suatu produk. Dengan ketentuan :
a) Pernyataan yang ditulis tidak mencirikan tingkat nutrisi dan bersifat benar serta tidak
menyesatkan.
Contoh : 100 kalori atau 5 gram lemak
b) Pernyataan yang ditulis mencirikan tingkat nutrisi namun disertai dengan kalimat
disclaimer.
Contoh : produk ini bukan produk rendah lemak, produk ini hanya mengandung 2 gr
lemak (menyiratkan bahwa produk ini hanya mengandung sejumlah kecil lemak).
(US Diary Research Institute, 2011)
Jenis Klaim menurut BPOM 2011
1. Klaim gizi
Klaim gizi yang diizinkan terkait dengan energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan
mineral, serta turunannya yang telah ditetapkan dalam ALG. Adalah merupakan suatu
gambaran untuk mensugesti secara tidak langsung tentang makanan bahwa makanan
tersebut makanan tersebut mengandung zat gizi khusus. Klaim gizi menurut BPOM 2011
dibagi menjadi 4 yaitu :
a. Klaim kandungan gizi ( nutrient content claim)
Klaim rendah... (nama komponen pangan) atau bebas...(nama komponen
pangan) hanya boleh digunakan pada pangan yang telah mengalami proses tertentu
sehingga kandungan zat gizi atau komponen pangan tersebut menjadi rendah atau
bebas dan harus sesuai dengan persyaratan.









b. Klaim perbandingan zat gizi ( comparative claim)




Klaim perbandingan zat gizi hanya dapat digunakan untuk pangan olahan yang
memenuhi syarat :
- Pangan olahan yang dibandingkan adalah pangan sejenis, tetapi dengan varian
yang berbeda dari produsen yang sama
- Perbedaan kandungan dinyatakan dalam presentase, pecahan atau dalam angka
mutlak terhadap pangan sejenis
- Perbedaan relatif kandungan zat gizi yang dibandingkan sekurang- kurangnya 10%
ALG ( lebih tinggi atau lebih rendah) untuk zat gizi mikro, sedangkan untuk energi
dan zat gizi lain sekurang- kurangnya 25%( lebih tinggi atau lebih rendah)
- Perbedaan mutlak sekurang- kurangnya memenuhi persyaratan rendah atau
sumber sebagaimana ditetapkan dalam klaim kandungan zat gizi.


2. Klaim kesehatan (Health Claims )
Adalah suatu pernyataan yang menyatakan bahwa ada hubungan antara makanan dengan
kesehatan. Jenis- jenis klaim kesehatan antara lain:
a) Klaim fungsi zat gizi ( Nutrient Function Claim)
Klaim Fungsi Zat Gizi adalah klaim gizi yang menggambarkan peran fisiologis zat gizi
untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi normal tubuh. Contoh :
































b) Klaim fungsi lain
Contoh :





























































Klaim fungsi lain hanya dapat digunakan pada makanan yang memenuhi kriteria
sumber persyaratan sebagai berikut:
a. Fungsi zat gizi telah diakui secara internasional; dan
b. Terdapat relevansi penggunaan zat gizi tersebut padamasyarakat Indonesia
berdasarkan permasalahan dankebutuhan di Indonesia dan dibuktikan
dengan metodeilmiah yang sahih.
c) Klaim penurunan resiko penyakit
Adalah klaim yang menghubungkan konsumsi pangan atau komponen pangan
dalam diet total dengan penurunan resiko terjadinya. Contoh :


















3. Klaim indeks glikemiks
Kategori indeks glikemiks antara lain:
- Indeks glikemik tinggi dengan nilai indeks glikemik lebih dari 70;
- Indeks glikemik sedang dengan nilai indeks glikemik antara 55-70;
- Indeks glikemik rendah dengan nilai indeks glikemik kurang dari 55.
Menurut CODEX (Guidelines for use of nutrition and health claims, 2009)
1. Nutrition Claims
Adalah suatu gambaran untuk mensugesti secara tidak langsung tentang makanan
bahwa makanan tersebut mengandung zat gizi khusus.

a. Nutrient Content Claim
Adalah klaim yang mendiskripsikan zat gizi yang terkandunng dalam makanan.
Contoh : Sumber Ca, Rendah Lemak
b. Comparative Claim
Adalah klaim yang membandingkan tingkat energi, zat gizi yang terkandung dalam
produk makanan dibandingkan dengan kandungan dalam jenis makanan yang sama
pada umumnya. Contoh : reduced, less than, more than
c. Non- Addition Claim
Klaim yang menyatakan bahwa suatu bahan belum ditambahkan ke dalam makanan
baik secara langsung maupun tidak langsung dan bahan tersebut penambahannya
diizinkan dalam makanan.
2. Health Claim
Merupakan suatu pernyataan, menyarankan, atau menyiratkan bahwa ada hubungan
antara makanan atau konstituen dari bahwa makanandan kesehatan. Jenis- jenis health
claim :
- Nutrient Function Claim
Klaim gizi yang mendiskripsikan sifat fisikologi zat gizi dalam pertumbuhan,
pembangun, dan fungsi normal tubuh. Contoh : Kalsium penting dalam pertumbuhan
tulang dan gigi
- Others function claims
Klaim ini menyangkut efek menguntungkan spesifik dari konsumsi makanan atau
konstituen, dalam konteks diet total fungsinormal atau aktivitas biologis tubuh. Klaim
tersebut berhubungan dengan kontribusi positif terhadap kesehatan atau
peningkatan fungsi atau untuk memodifikasi atau menjaga kesehatan.
- Reduction of disease risk claims
Klaim yang berkaitan dengan konsumsi konstituen makanan, dalam konteks diet
total, dengan penurunan risiko terkena penyakit atau kesehatan yang berhubungan
dengan kondisi. Pengurangan risiko berarti secara signifikan mengubah factor risiko
utama untuk suatu penyakit atau kondisi yang berhubungan dengan kesehatan.
Penyakit memiliki berbagai faktor risiko dan mengubah salah satu faktor risiko
mungkin atau mungkin tidak memiliki efek yang menguntungkan. Presentasi dari
klaim pengurangan risiko harus memastikan, misalnya, dengan menggunakan bahasa
yang sesuai dan mengacu pada faktor-faktor risiko lain, bahwa konsumen tidak
menafsirkannya sebagai klaim pencegahan.
i. Perbandingan Claim di Indonesia dan di Negara Lain
Indonesia Thailand CODEX U.S.FDA
Di indonesia yang
mengatur klaim produk
adalah BPOM . Menurut
BPOM Klaim
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi :
a. klaim gizi;
b. klaim kesehatan; dan
c. klaim indeks glikemik.
(3) Klaim gizi
sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. klaim kandungan zat
gizi; dan
b. klaim perbandingan
zat gizi.
(4) Klaim kesehatan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b
meliputi:
a. klaim fungsi zat gizi;
b. klaim fungsi lain; dan
c. klaim penurunan risiko
penyakit.
Secara umum Tha F.D.A
secara umum
menggunakan CODEX dan
USFDA sebagai pedoman
pencantuman klaim.
Klaim gizi terdiri terdiri dari
klaim kandungan zat gizi,
perbandingan zat gizi, dan
klaim fungsi zat gizi. Dan
tidak ada klaim kesehatan
untuk produk makanan di
Thailand.
Jenis- jenis klaim antara
lain:
1. Nutritions Claims
- Nutrient content claims
- Nutrient comparative
claims
- Non- addition Claim
2. Health Claims
- Nutrient functions
claim
- Others function claims
- Reduction of disease
risk claims
Jenis-jenis klaim
antara lain :
1. Nutrient Content
Claims (NCC
2. Health Claim
3. Qualified Health
Claim
4. Function Claims
c. Manfaat klaim:
1. Konsumen dapat memperoleh informasi tentang karakteristik suatu pangan.
2. Dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kesehatan karena dapat membantu
konsumen dalam memilih produk pangan dikaitkan dengan pemenuhan gizi dan
kesehatannya.
3. Klaim gizi dan kesehatan juga menjadi salah satu strategi pemasaran bagi produsen yang
merupakan nilai tambah yang membedakan antara satu produk dengan yang lainnya.
4. Klaim gizi dan klaim kesehatan yang merupakan informasi tentang manfaat zat gizi atau
komponen yang ada dalam pangan, dapat memberikan kontribusi pada peningkatan
kesehatan karena dapat menbantu konsumen dalam memilih produk pangan yang dikaitkan
dengan pemenuhan gizi dan kesehatannya
5. Label yang membuat informasi gizi dan kesehatan merupakan sarana penting untuk
memfasilitasi pilihan dan akses konsumen terhadap produk pangan bergizi. (sumber. Info
POM. 2012. Regulasi tentang klaim Gizi dan Klaim Kesehatan pada produk pangan)

c. Peraturan Claim
Peraturan Perundangan-undangan
a. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan
Pangan Olahan, Bab 1-6 pasal 1-26
b. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan pasal 33 (ayat 1)
Pencantuman persyaratan pada Label bahwa pangan merupakan sumber suatu gizi tidak
dilarang sepanjang jumlah zat gizi dalam pangan tersebut sekurang-kurangnya 10% lebih
banyak dari jumlah kecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji bagi
pangan tersebut. Dan (ayat 2) Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan
mengandung suatu zat lebih unggul dari pada produk yang lain dilarang.

KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI RENDAH ATAU BEBAS
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Lebih Dari
Energi Rendah 40 kkal (170kJ) per 100 g (dalam bentuk padat) atau
20 kkal (80kJ) per 100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas 4 kkal per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Rendah 3 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
1,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
bebas 0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Jenuh Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak trans
Bebas 0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Trans Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh
bebas 0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh
Kolesterol Rendah 0,02 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,01 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh dan rendah
lemak trans
Bebas 0,005 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,005 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh dan rendah
lemak trans
Gula Rendah 5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
2,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas 0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Natrium Rendah 0,12 g per 100 g
Sangat Rendah 0,04 g per 100 g
Bebas 0,005 g per 100 g

KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI SUMBER ATAU TINGGI
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Kurang Dari
Protein Sumber 20 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
10 % ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Tinggi 35 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
17,5 % ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Vitamin dan
Mineral
Sumber 15 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat) atau
7,5 % ALG per 100 g (dalam bentuk cair)
Tinggi 2 kali jumlah untuk sumber
Serat Pangan Sumber 3 g per 100 g
Tinggi 6 g per 100 g
Sumber: Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan Pangan
Olahan
KLAIM KANDUGAN ZAT GIZI yang BERLAKU DI INDONESIA
Klaim Persyaratan
Mengandung
Memberikan
Merupakan sumber yang baik
Dalam satu sajian produk mengandung zat gizi tersebut
sedikitnya 10-19% dari yang di anjurkan (sesuai dengan
AKG untuk kelompok target per hari)
Tinggi
Kaya akan
Merupakan sumber yang sangat baik
Dalam satu sajian produk mengandung zat gizi tersebut
sedikitnya 20% dari yang dianjurkan (sesuai dengan AKG
untuk kelompok target per hari)
Sumber: Sihombing, Tetty H. Kajian Klaim Gizi dan Kesehatan Pada Produk Pangan untuk
Bayi dan Anak Balita serta Ibu Hamil dan Menyusui
1. Klaim Gizi :
a. Klaim kandungan zat gizi
1). Klaim rendah (nama komponen pangan) atau bebas (nama komponen pangan)
hanya boleh digunakan pada pangan olahan yang telah mengalami proses tertentu
sehingga kandungan zat gizi atau komponen pangan tersebut menjadi rendah atau
bebas dan harus sesuai dengan persyaratan.
2). Pangan Olahan yang secara alami rendah atau bebas mengandung komponen tertentu,
dilarang memuat klaim kandungan zat gizi rendah atau bebas yang terkait dengan
komponen tersebut.

KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI "RENDAH" ATAU "BEBAS"
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Lebih Dari
Energi Rendah 40 kkal (170 kJ) per 100 g (dalam bentuk
padat) atau 20 kkal (80 kJ) per 100 ml (dalam
bentuk cair)
Bebas
1
4 kkal per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Rendah 3 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau 1,5
g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas
1
0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Jenuh Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Persyaratan lain: Memenuhi persyaratan
rendah lemak trans
Bebas
1
0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Trans Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Persyaratan lain : Memenuhi persyaratan
rendah lemak jenuh
Bebas
1
0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Persyaratan lain: Memenuhi persyaratan
rendah lemak jenuh
Kolesterol Rendah 0,02 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,01 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Persyaratan lain: Memenuhi persyaratan
rendah lemak jenuh dan rendah lemak trans
Bebas
1
0,005 g per 100 g (dalam bentuk padat)
0,005 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Persyaratan lain: Memenuhi persyaratan
rendah lemak jenuh dan rendah lemak trans
Gula
2,3
Rendah 5 g per 100 g (dalam bentuk padat) 2,5 g per
100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas
1
0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) 0,5 g
per 100 ml (dalam bentuk cair)
Natrium Rendah 0,12 gr per 100 gr
Sangat
Rendah
0,04 gr per 100 gr
Bebas
1
0,005 gr per 100 gr


KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI "SUMBER" ATAU "TINGGI"
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Kurang Dari
Protein Sumber
4
20 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat) 10
% ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Tinggi 35 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
17,5 % ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Vitamin dan
Mineral
Sumber
4
15 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
atau 7,5 % ALG per 100 ml (dalam bentuk
cair)
Tinggi 2 kali jumlah untuk "sumber"
Serat
Pangan
5

Sumber
4
3 gr per 100 gr
Tinggi 6 gr per 100 gr

1
Selain kata "bebas" dapat menggunakan kata yang sepandan
seperti "tanpa", "tidak mengandung"
2
Termasuk semua monosakarida dan disakarida yang
terkandung dalam minuman.
3
Berlaku untuk produk: permen, sirup, minuman serbuk, jus,
jeli, selai, minuman.
4
selain kata "sumber" dapat menggunakan kata yang
sepandan seperti "mengandung".
5
Serat pangan adalah polimer karbohidrat dengan tiga atau
lebih unit monomer, yang tidak dihidrolisis oleh enzim
pencernaan dalam usus kecil manusia dan terdiri dari:
polimer karbohidrat yang dapat dimakan (edible), yang secara
alami terdapat dalam pangan; atau polimer karbohidrat, yang
diperoleh dari bahan baku melalui proses fisik, enzimatik atau
kimiawi yang telah terbukti secara ilmiah mempunyai efek
fisiologis bermanfaat terhadap kesehatan; atau polimer
karbohidrat sintetis yang telah terbukti secara ilmiah
mempunyai efek fisiologis bermanfaat terhadap kesehatan.

b. Klaim perbandingan zat gizi
Klaim perbandingan zat gizi hanya dapat digunakan untuk Pangan Olahan yang memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Pangan Olahan yang dibandingkan adalah pangan sejenis, tetapi dengan varian yang
berbeda dari produsen yang sama;
b. Perbedaan kandungan dinyatakan dalam persentase, pecahan atau dalam angka mutlak
terhadap pangan sejenis;
c. Perbedaan relatif kandungan zat gizi yang dibandingkan sekurang kurangnya 10 % ALG
(lebih tinggi atau lebih rendah) untuk zat gizi mikro, sedangkan untuk energi dan zat gizi
lain sekurang-kurangnya 25 % (lebih tinggi atau lebih rendah); dan
d. Perbedaan mutlak sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan kandungan zat gizi.

2. Klaim Kesehatan
a. Klaim fungsi zat gizi
Sekurang kurangnya memenuhi persyaratan sumber
b. Klaim fungsi lain
c. Klaim penurunan risiko penyakit








3. Klaim index glikemik
1). Kategori indeks glikemik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. indeks glikemik tinggi dengan nilai indeks glikemik lebih dari 70;
b. indeks glikemik sedang dengan nilai indeks glikemik antara 55-70;
c. indeks glikemik rendah dengan nilai indeks glikemik kurang dari 55.
2). Jenis Pangan Olahan yang diizinkan mencantumkan klaim indeks glikemik harus
mengandung karbohidrat tersedia sekurang-kurangnya 40 gram per saji, tidak termasuk
serat pangan.
3). Nilai indeks glikemik harus dibuktikan dengan dokumen hasil analisis yang diterbitkan oleh
institusi terakreditasi. Dokumen hasil analisis tersebut merupakan hasil uji klinis yang
dilakukan terhadap pangan siap konsumsi.
4). Uji klinis dimaksud untuk Pangan Olahan yang diperuntukkan bagi:
a. Konsumen umum, uji klinis dilakukan pada orang normal.
b. Penyandang diabetes, uji klinis dilakukan pada penyandang diabetes melitus tipe 2
yang terkendali dengan diet, atau dengan diet dan penggunaan obat hipoglikemik
oral.
5). Pencantuman klaim indeks glikemik pada label Pangan Olahan dilakukan dengan
penulisan kategori indeks glikemik diikuti dengan nilai indeks glikemik.
6). Pada label Pangan Olahan yang memuat klaim indeks glikemik harus dicantumkan
peringatan : penyandang diabetes harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
7). Metode standar penentuan indeks glikemik pangan. Prosedur penentuan indeks glikemik
pangan adalah sebagai berikut :
1. Ruang lingkup penelitian
a. Untuk pangan yang diperuntukkan bagi penyandang diabetes.
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui indeks glikemik pangan pada
penyandang diabetes melitus tipe 2 yang terkendali dengan diet saja atau diet dan
obat hipoglikemik oral.
b. Untuk pangan yang diperuntukkan bagi orang normal.
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui indeks glikemik pangan pada orang
normal yang terkendali dengan diet.
2. Cara pemilihan subyek
a. Subyek adalah penyandang diabetes yang terkendali baik, tidak hamil dan tidak
mempunyai komplikasi lain seperti kelainan ginjal, fungsi hati, tidak menderita
anemia. Pemilihan subyek berdasarkan pemeriksaan laboratorium :
- Glukosa darah untuk mengetahui apakah diabetes mellitus terkendali yaitu
glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial. Akan lebih baik jika diperiksa
juga HbA1C.
- SGPT
- Kreatinin darah
- Hb
- Albumin, globulin
b. Subyek adalah orang normal.
3. Jumlah subyek 10 orang.
4. Data yang dikumpulkan
Data yang dikumpulkan adalah data kadar glukosa darah dari semua subyek setelah
diberi beban berupa glukosa murni kemudian diberi bahan makanan yang akan
diperiksa indeks glikemiknya. Bahan yang akan diteliti adalah makanan yang paling
sedikit mengandung 40 g karbohidrat dalam 1 porsinya (setara 1 penukar sumber
karbohidrat), sebanyak 200 kalori setara dengan 50 g glukosa murni.
5. Prosedur penentuan indeks glikemik pangan
- Mula-mula subyek puasa sekurangnya 10 jam (dari jam 22.00 sampai jam 8.00).
Subyek diambil dan diperiksa kadar glukosa darahnya, selanjutnya obat diabetes
melitus yang biasa dipakai diberikan, 10 menit kemudian diberi beban glukosa
murni 50 g dalam segelas air (200 ml).
- Subyek diambil dan diperiksa kembali glukosa darahnya 30 menit setelah beban
diberikan. Selanjutnya glukosa darah diperiksa lagi untuk waktu 60 menit, 90 menit
dan terakhir 120 menit setelah pemberian beban.
- Hasil pengukuran glukosa darah tersebut dimasukkan dalam tabel.
- Perlakuan selanjutnya dengan selang waktu yang telah ditentukan, glukosa murni
digantikan dengan pangan yang akan diteliti indeks glikemiknya yang mengandung
40 g karbohidrat.
- Jarak setiap penelitian untuk masing-masing pangan adalah 4-7 hari.
- Kadar glukosa darah (pada setiap waktu pengambilan glukosa darah) ditebarkan
pada dua sumbu yaitu sumbu waktu (absis) dan sumbu kadar glukosa darah
(ordinat).
- Indeks glikemik ditentukan dengan cara membandingkan luas daerah di bawah
kurva antara pangan yang diukur indeks glikemiknya dengan glukosa murni.







(A) kurva respons glukosa darah setelah mendapat pangan yang diukur
IG; (B) kurva respons glukosa darah setelah mendapat glukosa murni
Rumus / Perhitungan:

Sumber :
1
BPOM-RI. 2012.
2
Sadjaja, dkk. 2008.
3
BPOM-RI. 2011.
Prosedur Permohonan
1. Pemohon mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Badan POM cq. Direktur
Standardisasi Produk Pangan dengan menggunakan format Formulir A.
2. Pemohon bertanggung jawab atas:
a. Kelengkapan dokumen
b. Kebenaran informasi yang tercantum dalam dokumen; dan
c. Kesesuaian dan keabsahan dokumen
3. Pengajuan permohonan disampaikan dalam bentuk fisik dan elektronik
4. Lalu akan dilakukan pnerimaan dokumen, pengkajian dan selanjutnya pemberian keputusan
Sumber: Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan Pangan Olahan
1. Prosedur dalam membuat klaim gizi
Pengajuan permohonan secara tertulis kepada kepala BPOM
Pemohon bertanggungjawab terhadap :
Kelengkapan dokumen
Kebenaran informasi yang tercantum dalam dokumentasi
Kesesuaian dan keabsahan dokumen
Alur permohonan






















(BPOM RI, 2011)
Surat persetujuan
/ penolakan klaim
Pengkajian oleh penilai
dan/atau Tim Mitra Bestari
Rekomendasi /
hasil kajian
Pengajuan permohonan
dan kelengkapan kepada
direktur standarisasi
produk pangan
Pemeriksaan
kelengkapan
pemohon
Satu
hari
kerja
Tidak
lengkap
Masimal 6
bulan
a. Claim yang cocok diberikan pada produk yang akan dibuat (berdasarkan skenario)
Berdasarkan sknario di NTT, claim yang tepat digunakan dalam produk yang akan
diberikan adalah claim gizi (kandungan dan perbandingan zat gizi) dan claim kesehatan
(fungsi zat gizi)
1. Claim kandungan zat gizi:
- Tinggi energi
- Tinggi protein
Tinggi atau sumber yang baik jika dalam satu sajian produk mengandung zat gizi
sebelumnya 10-19% dari anjuran AKG kelompok target/hari
2. Fungsi zat gizi
Penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, karena cocok untuk PMT-AS
(Sihombing, Tetty. 2008)
- Cara mendapatkan klaim
a. permohonan mengajukan permohonan secara tertulis kepda kepala badan POM dan direktur
standarisasi produk pangan dengan menggunakan format formulir A dalam lampiran VI
b. pemohon bertanggung jawab atas :
- kelengkapan dokumen
- kebenaran informasi yang tercantum dalam dokumen
- kesesuaian dan keabsahan dokumen
c. pengajuan klaim (permohonan) disampaikan dalam bentuk fisik dan elektronik
(Badan POM, 2011)

e. Langkah/ tahapan menentukan claim
Pengajuan permohonan secara tertulis kepada kepala BPOM
Pemohon bertanggungjawab terhadap :
Kelengkapan dokumen
Kebenaran informasi yang tercantum dalam dokumentasi
Kesesuaian dan keabsahan dokumen
Pengajuan permohonan disampaikan dalam bentuk fisik dan elektronik
Lalu akan dilakukan pnerimaan dokumen, pengkajian dan selanjutnya pemberian keputusan
Alur permohonan


























f. Contoh claims untuk anak wasting
Berdasarkan sknario di NTT, claim yang tepat digunakan dalam produk yang akan
diberikan adalah claim gizi (kandungan dan perbandingan zat gizi) dan claim kesehatan
(fungsi zat gizi)
3. Claim kandungan zat gizi:
- Tinggi energi
- Tinggi protein
Surat
persetujuan /
penolakan
klaim
Pengkajian oleh penilai
dan/atau Tim Mitra
Bestari
Rekomendasi
/ hasil kajian
Pengajuan
permohonan dan
kelengkapan kepada
direktur standarisasi
produk pangan
Pemeriksaa
n
kelengkapa
n
pemoh
on
Satu
hari
kerja
Tida
k
leng
kap
Masi
mal 6
bulan
Tinggi atau sumber yang baik jika dalam satu sajian produk mengandung zat gizi
sebelumnya 10-19% dari anjuran AKG kelompok target/hari
4. Fungsi zat gizi
Penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, karena cocok untuk PMT-AS
(Sihombing, Tetty. 2008)
5. Klaim kesehatan gizi komparatif, misalnya Tinggi Protein penting untuk tumbuh
kembang anak
g. Perbedaan claims dan nutrition fact
Aspek
Pembeda
Claims Nutrition Fact
Definisi Pernyataan atau gambaran yang
menyatakan, menyarankan bahwa
produk pangan mengandung zat dan
manfaat tertentu atau bermanfaat
terhadap kesehatan.
Daftar kandungan zat gizi pangan pada
label pangan sesuai dengan format yang
dibakukan (Kamus Gizi).
Tujuan - Untuk menunjukkan keunggulan
produk yang dipromosikan
- Untuk mempengaruhi konsumen
agar menggunakan produk
tersebut
- Untuk menguatkan daya jual
produk
- Untuk memberi gambaran tentang
keberadaan dan manfaat produk
- Sebagai panduan konsumen untuk
memiih produk yang tepat sesuai
kebutuhan
- Untuk memenuhi persyaratan
perundang-undangan dalam penulisan
label makanan apabila dalam label
makanan tersebut mencantumkan klaim
yang terkait suatu zat gizi tertentu.
- Untuk menginformasikan kandungan zat
gizi yang terdapat dalam suatu produk
makanan kepada konsumen.
(BPOM, 2011)

Bentuk Kata- kata atau kalimat Tabel atau kolom dengan format
horizaontal atau vertical
Isi Sebuah pernyataan kandungan zat
gizi, perbandingan, atau fungsi untuk
Daftar kandungan zat gizi yang terkandung
di dalam produk dan dinyatakan dalam
kesehatan gram atau miligram dan persentase AKG

h. Hal-hal yang diperlukan dalam penetapan claim
Pangan olahan yang mencantumkan klaim harus memuat informasi sebagai berikut :
Informasi nilai gizi
Peruntukan
Petunjuk cara penyiapan dan penggunaan, khusus untuk pangan olahan yang perlu
petunjuk cara penyiapan dan penggunaan
Keterangan lain yang perlu dicantumkan, termasuk namun tidak terbatas pada
peringatan tentang konsumsi maksimum atau kelompok orang yang perlu menghindari
pangan tersebut
Klaim perbandingan zat gizi hanya dapat digunakan untuk Pangan Olahan yang
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Pangan Olahan yang dibandingkan adalah pangan sejenis, tetapi dengan varian yang
berbeda dari produsen yang sama
Perbedaan kandungan dinyatakan dalam persentase, pecahan atau dalam angka mutlak
terhadap pangan sejenis
Perbedaan relatif kandungan zat gizi yang dibandingkan sekurangkurangnya 10 % ALG
(lebih tinggi atau lebih rendah) untuk zat gizi mikro, sedangkan untuk energi dan zat gizi
lain sekurang-kurangnya 25 % (lebih tinggi atau lebih rendah)
Perbedaan mutlak sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan kandungan zat gizi
Komponen dan/atau klaim yang diajukan oleh pemohon harus :
Sejalan dengan kebijakan gizi dan kesehatan nasional
Tidak dihubungkan dengan pengobatan dan pencegahan penyakit pada individu
Tidak mendorong kepada pola konsumsi yang salah
Berdasarkan diet total, khusus untuk klaim kesehatan
Benar dan tidak menyesatkan

Dalam proses pengajuan klaim suatu produk pangan, maka harus dilakukan evaluasi
menyeluruh terhadap data penelitian yang ada. Hasil penelitian sebaiknya sudah dipublikasi
dalam jurnal ilmiah dan dibuktikan dengan sertifikat laboratorium yang terakreditasi.
Penelitian dilakukan oleh peneliti atau lembaga independen. Hasil penelitian harus
menunjukkan bahwa penggunaan produk memperlihatkan efek bermakna secara statistik
dan secara klinis sesuai klaim dan jumlah asupan yang dianjurkan. Semua temuan dari hasil
penelitian baik positif maupun negatif harus diperhitungkan oleh Penilai dan Tim Mitra
Bestari berdasarkan strategi penelusuran ilmiah.
(BPOM. 2011)

8. FOOD FORMULATION
PI NO.8
Tujuan dan manfaat formulasi makanan :
Untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat tertentu dan memelihara serta
meningkatkan kualitas kesehatan kelompok tertentu
Untuk memasok energy tambahan zat gizi untuk makanan pokok
Menyingkat waktu konsumsi dari beberapa bahan makanan dalam 1 waktu.(misal ada 3 bahan
makanan yang harus dikonsumsi , dengan adanya formulasi makanan , maka hanya memakan
suatu produk makanan yang mengandung 3 bahan makanan yang harus dikonsumsi)
Meningkatkan kecukupan intake makronutrien dan mikronutrien dari sekelompok bahan
makanan yang dikonsumsi
Memperbaiki kualitas pangan
Meningkatkan ketersediaan makanan, akses reguler, dan konsumsi pangan kaya vitamin dan
mineral pada kelompok yang defisiensi
Menghasilkan produk yang aman dan bermutu sesuai dengan kebutuhan konsumen
Mempercepat penanganan masalah KEP serta mencegah, menghambat, mengurangi komplikasi
medis
Sebagai upaya diverifikasi makanan tambahan
Meningkatkan dan pengetahuan dan perilaku sasaran agar menyukai makanan lokal bergizi
dalam mewujudkan rasa cinta terhadap makanan Indonesia
Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan dan menyediakan bahan pangan
lokal
Untuk merumuskan kebutuhan gizi spesifik penderita masalah gizi
Memperbaiki kekurangan zat gizi dari pangan, memperbaiki zat gizi yang hilang saat
pengolahan, meningkatkan kualitas gizi, meningkatkan nilai gizi dari berbagai sumber makanan
Meningkatkan variasi makanan bergizi untuk anak
Untuk mempermudah masyarakat mendapatkan asupan makanan secara menyeluruh
Untuk memberikan pendampingan dalam aspek gizi dan teknik produksi formulasi makanan
bersuplemen untuk balita dan anak termasuk formulasi makanan berdasarkan kebutuhan gizi,
teknik pembuatan, kebutuhan hygiene sanitasi, pengemasan, pelabelan, dan cara penggunaan.
(CodexAlimentarius)

Syarat dalam membuat formulasi makanan :
Nilai (kandungan) gizi yang tepat sesuai kebutuhan zat gizi sasaran
Aspek sosial dan ekonomi dari sasaran
Menggunakan bahan makanan lokal
Dapat diterima oleh masyarakat setempat dan mudah digunakan dengan memperhatikan
organoleptik
Sanitasi pangan dan memenuhi persyaratan higienis (bebas mikroorganisme patogen, tidak
mengandung racun, dan tidak mengandung mikroorganisme melebihi ambang batas)
Ada teknologi pendukung dengan teknik pengolahan yang tepat
Memenuhi ketentuan kemasan, label, dan petunjuk penggunaan
Mempunyai nilai biologis yang tinggi
Dapat disimpan pada berbagai variasi kondisi dan suhu
Mengandung protein yang cukup, berkualitas dan mudah diserap tubuh. Protein diutamakan
BCAA (mudah cerna, bebas kolesterol, meningkatkan level glutathion darah untuk ketahanan
tubuh)
Mengandung anti-gizi yang rendah
Mengandung lemak yang berkualitas terutama asam lemak essential
KH biasanya digunakan tepung terigu yang kaya akan vitamin, dengan tidak tinggi gula karena
dapat merusak gigi
Sumber antioksidan (Vitamin A,C, E, dan K), Fe, Mn, Ca, Mg yang banyak terdapat di sayuran dan
buah-buahan)
Makanan yang disarankan untuk produk foodformulation adalah roti, kraker, biskuit, yoghurt,
dan kacang-kacangan
Standar gizi dalam formulasi makanan :
Aspek gizi
- Nilai gizi
- Energi dalam 100 gram bahan minimal terkandung 400 kkal.
- Protein dalam 100 gram bahan minimal terkandung 15 gr protein.
- Lemak dalam 100 gram bahan minimal terkandung 10- 25 gram lemak.
- Karbohidrat
- Serat tidak lebih dari 5 gram dalam 100 gram bahan.
- Penambahan vitamin dan mineral disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sesuai
peraturan setempat.
Untuk bayi :
- Protein
Sumber protein Satuan minimum maximum
Protein susu sapi Gr/100 kkal 1,8 3,0
Isolaterotein kedelai Gr/100 kkal 2,25 3,0

- Lemak
Sumber lemak Minimum Maximum
Lemak 4,4 gr/100
kkal
6,0 gr/100 kkal
Asam linoleat 300 gr/100
kkal
-
Asam- linolenat 50 gr/100
kkal
N.S

- Karbohidrat
Minimum : 9,0 gr/100 kkal
Maximum : 14,0 gr/100 kkal
- Mineral
Sejumlah mineral penting yang ditambahkan ke dalam susu formula adalah ; kalsium,
fospat, natrium, kalium, klorida, magnesium, belerang, tembaga, seng, yodium dan zat
besi.
- Vitamin
Ditambahkan untuk meningkatkan nilai gizi termasuk vitamin A, B12, C, D dan E, tiamin,
riboflavin, niasin, piridoksin, panthotenate, folacin.
Untuk Lansia :
- Mengandung zat gizi yang terdiri : zat tenaga, zat pembangun, zat pengatur
- Jumlah kalori yang dikonsumsi 50% hirat arang (sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian)
- Jumlah lemak dalam makanan dibatasi 25-30% dari total kalori
- jumlah protein yang baik 8-10% dari total kalori
- tinggi serat, tinggi kalsium (susu nonfat, yoghurt, ikan)
- tinggi Fe (kacang-kacangan, hati, daging, bayam, sayuran hijau)
- membatasi penggunaan garam natrium
Kendala dalam formulasi makanan :
- alat dan bahan sulit didapatkan
- terjadi pencemaran saat proses produksi
- Rasa dan tekstur serta organoleptik kurang diminati konsumen
- kurang diminati oleh konsumen
Monev intervensi dari formulasi makanan :
- Analisis zat gizi produk, persentase penggunaan bahan makanan lokal, kemudahan
mendapatkan bahan, sanitasi
- Evaluasi kepuasan dan daya terima konsumen menggunakan foodscale / uji kesukaan hedonic
- Uji skala yang menggunakan garis sebagai parameter penilaiannya.Panelis diminta untuk
memberikan penilaian terhadap aroma, rasa dan tekstur dan penerimaaan keseluruhan dengan
memberikan tanda silang pada gariss kala yang tersedia.Skor garis skala antara 1 (Sangat tidak
suka sekali) dan 9 (sangat suka sekali)
- Platewaste
Makanan yang terbuang karena setelah dihidangkan tidak habis dikonsumsi. Dapat diukur
dengan beberapa cara :
Weighedplatewaste menimbang sisa makanansetiap jenis hidangan / untuk mengukur total
sisa makanan pada individual / kelompok.
Observational menaksir secara visual banyaknya sisa makanan untuk setiap jenis hidangan.
Hasil taksiran dinyatakan dalam skala.
Selfreportedconsumption menanyakan pada responden banyaknya sisa makanan.
Responden menaksir sisa makanan mengunakan skala taksiran visual
- Evaluasi mutu indrawi (warna, tekstur, rasa)
- Evaluasi nilai gizi
Kelebihan dan kekurangan formulasi makanan :
No Kelebihan Kekurangan
1 Mendorong perekonomian
rakyat
Membutuhkan durasi waktu yang cukup
lama
2 Mendukung program diversifikasi
pangan
Memerlukan tenaga ahli dalam
melaksanakan proses atau prosedur food
formulation
3 Mengoptimalkan sumber pangan
lokal
Membutuhkan kerjasama lintas sektoral
4 Meningkatkan mutu atau value
dari produk lokal
Tidak bisa untuk dijadikan pengganti
makanan pokok.


Kebijakan Food Formulation Kelebihan Kekurangan
Secara Umum Membantu penyelesaian
masalah gizi yang ada di
masyarakat (kekurangan
zat gizi)
(Ramachandran, 2002)
- Membutuhkan
penelitian awal untuk
menjamin keamanan
pangan
- Membutuhkan waktu
yang relatif lama
(Ramachandran, 2002)
Fortifikasi Makanan - Efektif untuk jangka
menengah dan jangka
panjang
- Tidak memerlukan
kerjasama yang intensif
- Mengutamakan
tambahan satu atau
beberapa zat gizi
- Biaya relatif tinggi
- Memerlukan impor
bahan fortifikan
(FormulationSubgroup,
2009)
(FormulationSubgroup,
2009)
PMT - Adanya ketersediaan
bahan pangan lokal yang
cukup melimpah
- Adanya standar tersendiri
terkait formulasi produk
berdasarkan target
sasaran
(Palupi, Tanpa Tahun)
- Penerapan keragaman
produk masih rendah
- Citra pangan terhadap
bahan pangan lokal
masih rendah,
khususnya umbi-umbian
- PMT-AS : pemerintah
diharapkan
menyeimbangkan
konsumsi makanan
utama juga, bukan
sekedar PMT
- Yang bisa dilakukan
contohnya :
meningkatkan kualitas
dan kuantitas makanan
utama
(Palupi, Tanpa Tahun)
Pangan Fungsional - Mengandung jenis
komponen pangan dalam
jumlah yang sesuai
dengan batasan yang
ditetapkan
- Memiliki karakteristik
sensori seperti
penampakan, warna,
tekstur atau konsistensi
dan cita rasa yang dapat
diterima konsumen
- Memerlukan klaim
produk pangan yang
menjamin karakteristik
tertentu suatu pangan
yang berkenaan dengan
asal usul, kandungan
gizi, sifat, produksi,
pengolahan, komposisi
atau faktor mutu lainnya
(BPOM RI, 2011)
- Tidak membahayakan
bagi tubuh
(BPOM RI, 2011)


a. Bagaimana tahapannya dalam formulasi makanan ?
Tahap I : Pemilihan local-food-based yang akan digunakan
a) Menetapkan standar/kriteria bahan makanan
b) Melakukan survey lapangan terhadap potensi bahan makanan lokal
c) Melakukan analisis alternatif untuk beberapa bahan makanan yang sesuai kriteria
d) Mendapat pilihan bahan makanan sebagai bahan dasar produksi
1. Cari data untuk komposisi bahan baku, kualitas, dan biaya
a) Jenis sereal: hampir semua jenis sereal sesuai untuk dikonsumsi oleh semua
golongan umur (kecuali bayi), dan dapat diproses dengan metode tertentu yang
dapat mengurangi kandungan serat atau menghilangkan tanin dan bahan phenolic
lainnya bila diperlukan.
b) Pulses: termasuk juga golongan chick peas, lentils, peas, cow peas, mungo beans,
green gram and kidney beans yang merupakan summber protein yang baik (20-24%).
c) Oil Seed Flours and Oil Seed Protein Products: tepung, konsentrat protein dan isolat
protein dari oil seed dapat diterima bila diolah dengan kondisi yang spesifik dan
sesuai.
d) Lemak dan minyak: kedua bahan harus ditambahkan jika memungkinkan dengan
tujuan tercipta produk yang memiliki densitas energi tinggi.
e) Bahan lainnya:
- Susu dan atau produk olahan susu
- Karbohidrat yang dapat dicerna termasuk gula
- Tepung
- Other ingredients of food quality: ditambahkan sesuai kebutuhan dan tujuan
pembuatan produk.
2. Tentukan batasan pada bahan baku, kualitas, dan biaya
3. Persiapan bahan dan penentuan teknik dalam memproses makanan
Proses persiapan bahan disesuaikan dengan jenis bahan makanan yang digunakan
seperti proses perebusan, pengupasan dan pencucian
Tahap II : Perencanaan Formula Makanan
a) Mengidentifikasi sasaran
b) Mempelajari standar aturan food formulation
c) Menentukan komposisi bahan-bahan penyusun yang akan digunakan (sesuai aturan)
d) Menentukan proses pengolahan/produksi dan teknologi serta efek prosesnya
e) Storage studies
Salah satu cara menghitung formulasi makanan yang menggunakan lebih dari 1 bahan
makanan
1. Carilah berbagai referensi yang berkaitan dengan kandungan zatgizi yang
diinginkan dari bahan baku yang tersedia dan akan digunakan.
Misalnya bahan A mengandung 30 % protein dan bahan B mengandung 25 %
protein.
2. Gambarlah sebuah bujur sangkar dan letakkan nilai kandungan zat gizi yang
diinginkan tepat ditengah-tengah garis diagonal bujur sangkar tersebut.
Misalnya persen kandungan gizi yang diinginkan adalah 10 persen.

3. Pada sisi kiri bujur sangkar cantumkan 2 jenis bahan baku yang tersedia berikut
nilai kandungan proteinnya. Pada sisi kiri atas adalah bahan baku yang memiliki
nilai kandungan yang lebih tinggi. Sedangkan pada sisi kiri bawah adalah yang
memiliki nilai kandungan lebih rendah.
4. Lakukan perhitungan dengan melakukan pengurangan untuk setiap kandungan
bahan baku antara nilai yang lebih besar dengan nilai kandungan yang
diinginkan. Hasilnyamerupakan bagian dari masing-masing komponen bahan
baku pangan tersebut (lihat gambar).
5. Lakukan penjumlahan masing-masing komponen bahan baku tersebut.
Misalnya : 15 + 20 = 35
6. Nilai yang diperoleh adalah sebagai berikut
Jumlah bahan baku A yang diperlukan adalah 30/35 x 100
Jumlah bahan baku B yang diperlukan adalah 25/35 x 100
4. Penghitungan dari rasio percampuran bahan makanan bisa menggunakan rumus atau
menggunakan software
Penghitungan rasio percampuran bahan makanan tergantung dengan jenis zat gizi yang
diinginkan terdapat pada produk makanan. Sebagai contoh kandungan protein, maka rumus
yang digunakan adalah Skor Asam Amino (SAA). Dalam penghitungan rasio juga diperlukan
pedoman atau aturan yang jelas tentang komposisi zat gizi tiap bahan makanan dan
komposisi zat gizi untuk suatu produk.
Program software yang bisa digunakan untuk food formulation :
a. ANZFA Website
b. FoodWorks Pro
c. Genesis R&D
d. Hamilton Grant Recipe Module
e. Tech Wizard
f. Serve NZ
g. Spreadsheet (ex. Microsoft Excel)
Untuk penentuan rumus perbandingan dan desain eksperimen dalam food formulation
terdapat 3 model, yaitu :
a. Factorial Design Selection
b. Response Surface Methodology
c. Mixture Design Selection
5. Menentukan komposisi zat gizi dari produk sesuai dengan jenis produk yang ingin
dihasilkan disesuaikan dengan aturan yang ada
6. Preliminary Treatment of Raw Materials (seleksi pemilihan bahan makanan)
Gandum (cereal), kacang-kacangan (pulses) dan oilseeds harus pertama kali dipilih untuk
memperoleh bahan yang bersih dan banyak yang bagus kualitasnya.
Beberapa proses pemilihan termasuk :
a. Pembersihan atau pencucian : untuk menghilangkan kotoran, bahan yang rusak,
bahan kontaminasi dan tunas pada tanaman, serangga dan pestisida dan berbagai
macam kontaminan yang melekat pada bahan
b. Dehulling (Penggilingan ulang)
Ketika diperlukan, kacang-kacangan (pulses), oilseeds dan gandum (cereal) seperti
oat, barley, sorgum, millet dan teff harus dilakukan penggilingan ulang selengkap
mungkin untuk mengurangi kandungan serat kasar ke kadar yang dapat diterima
dan untuk menghilangkan kandungan fenol yang dapat menurunkan proses
pencernaan protein.
7. Milled Products (Pengayaan produk)
a. Milling (pengayaan) atau grinding bahan agar menjadi bentuk yang sesuai harus
dilakukan sebagai cara meminimalkan kehilangan kandungan zat gizi untuk
menghindari perubahan yang tidak diinginkan dalam komponen bahan-bahan yang
berteknologi.
b. Bahan kering harus diayak bersama, apabila memungkinkan dilakukan secara
otomatis menggunakan teknologi, atau dicampur selama pengayaan.
c. Formulasi yang mengandung gandum (cereal) hasil ayakan, kacang-kacangan (pulses)
dan/atau oilseed tanpa membutuhkan pemrosesan lebih jauh yang ditambah dengan
perebusan atau penggodokan selama persiapan makanan untuk gelatinisasi tepung
dan/atau menghilangkan factor anti-gizi yang muncul pada kacang-kacangan (pulses).
Perebusan atau penggodokan meningkatkan penyerapan dan absorbs zat gizi dan
sterilisasi makanan.
d. Penggumpalan atau pemampatan (bulkiness) makanan dari formulasi makanan yang
mengandung bahan kering dilakukan dengan pengayaan bahan, dapat dikurangi
dengan menambahkan, selama formulasi, jumlah enzim yang ckup seperti alfa-
amilase yang selama, yang selama pemanasan lambat hingga perebusan, sebagian
besar tepung dicerna awal dan diperlukan pengurangan jumlah air untuk persiapan
makanan.
8. Toasting (Pemanggangan)
a. Pemanggangan (pemanasan kering) meningkatkan aroma dan rasa makanan melalui
dektrinisasi tepung. Pemanggangan juga meningkatkan tingkat pencernaan untuk
mengurangi penggumpalan makanan formulasi. Selain itu, pemanggangan juga
membunuh mikroorganisme dan serangga serta mengurangi aktivitas enzim,
sehingga dan meningkatkan dan menjaga kualitas.
b. Kerusakan protein disebabkan karena reaksi Maillard yang mungkin muncul pada
pada awal penguraian karbohidrat. Proses pemanggangan harus dikontrol secara
hati-hati.
c. Kacang-kacangan sebagaimana oilseed seperti kedelai, kacang tanah dan sesame
seeds dapat dipanggang seperti whole grains atau setelah perendaman. Perendaman
menghasilkan puffed grains dengan tekstur mengkilat.
d. Bahan yang dipanggang dapat diayak (ground) digunakan sebagai komponen
9. Sprouting and Malting
a. Gandum dan kacang-kacangan dapat dibentuk untuk digerminasi dengan perendaman
atau humidifying. Hal ini penting dilakukan, meskipun, untuk memastikan bahwa tidak
terjadi pertumbuhan mycotoxin yang memproduksi mikroorganisme. Proses alami
amilase yang terkandung dalam gandum muncul pada predigesti bagian tepung
gandum (dekstrinisasi) sehingga mengurangi penggumpalan makanan ketika disiapkan
untuk dimakan, dan umumnya, meningkatkan densitas zat gizi dari makanan.
b. Selama proses, selaput biji gandum terpisah dan dapat dihilangkan dengan mencuci.
Bahan yang terbentuk tepung diayak (ground) setelah pengeringan.
10. Penambahan proses teknologi
a. Extrusion Cooking
- Pencampuran bahan pengayaan atau bahan dasar (gandum, kacang, oilseed flour)
dapat secara langsung diproses dengan pengolahan ekstrusi. Ekstrusi dapat
berdampak pada ketersediaan lisin, asam amino yang mengandung sulfur, arginin
dan triptofan. Proses tersebut harus dikontrol secara hati-hati.
- Produk ekstrusi, setelah pengeringan apabila diperlukan, diayak menjadi ukuran
yang diinginkan
Dampak dari teknologi tersebut adalah :
- Gelatinisasi dari tepung yang tercampur dengan kandungan air yang sedikit
- Inaktivasi lektin dan pengurangan secara simultasn dari aktivitas penghambat
tripsin;
- Pengurangan jumlah air diperlukan untuk persiapan makanan
b. Enzymatic Predigestion
- Dalam proses pengayaan atau ground basic ingredients (gandum, kacang,
oilseed flours) dipanaskan secara pelan dalam pengadukan terus-menerus
hingga campuran didapatkan kelenturan (fluiditas) yang diinginkan. Molekul
tepung terpisah menjadi dekstrin dan mengurangi gula.setelah meningkatkan
suhu untuk menginaktivasi enzim, bahan dikeringkan dan ditepungkan atau
dijadikan small flakes.
- Produk yang di-predigest telah ditingkatkan karakteristik organoleptiknya,
digestibiltas tinggi, solubilitas yang bagus dan membutuhkan sedikit air untuk
persiapan makanan.
Tahap III : Analisa Produk
- Uji organoleptik produk, dana analisis kimia, fisik, dan fungsional produk.
Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui batas penerimaan konsumen terhadap
produk yang akan disajikan melalui uji kesukaan / hedonik.
- Uji fisik, parameter yang diuji adalah viiskositas, densitas kamba, dan daya serap air.
- Uji kimia, meliputi pengukuran kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar
karbohidrat, kadar serat, kadar vitamin A dan D, vitamin C, kadar mineral CA, Na, Fe,
Zn, I, dan logam berat yaitu As, Sn, Hg, Pb.
- Uji mikrobiologi, meliputi Angka Lempeng Total, MPN coliform, Salmonella, dan
Staphylococcus.
11. Analisis zat gizi
12. Analisis mineral
13. Gunakan tes profil produk dan tes teknis untuk menghubungkan kualitas produk
terhadap perubahan pada formulasi (Uji organoleptik)
Metode pengujian organoleptik:
Skala yang digunakan harus :
a. Berarti pada subjek : kata-kata yang digunakan untuk pertanyaan dan/atau skala
untuk merespon harus familiar, mudah dimengerti dan tidak ambigu pada subjek.
Kata-kata harus berhubungan dengan produk
b. Tidak susah saat digunakan : form/tugas untuk penguji serta skala harus mudah
untuk digunakan
c. Relevan : berhubungan dengan validitas skala
d. Sensitive dengan perbedaan
e. Menyediakan untuk variasi analisa statistic

- Different test
Untuk menentukan apakah ada perbedaan sifat sensorik atau organoleptik
antara 2 sampel.
Macam:
Uji pasangan, segitiga, duo- trio, pembanding ganda, pembanding jarak,
pembanding tunggal, pasangan jarak, uji tunggal.
- Preference test/ Acceptance test
Uji penerimaan menyangkut penilaian seseorang akan suatu sifat kualitas suatu
bahan yang menyebabkan orang menyenangi.
Uji penerimaan lebih subjektif dari uji perbedaan.
Tujuan untuk mengetahui apakah suatu komoditi/ sifat sensorik tertentu dapat
diterima oleh masyarakat.
Macam: uji hedonik dan uji mutu hedonik.
- Pengujian skalar
Panelis diminta untuk menyatakan besaran kesan yang diperolehnya.
Macam: uji skalar garis, uji skor, uji perbandingan pasangan, uji perbandingan
jarak, uji perjenjangan.
- Pengujian deskripsi
Pengujian ini merupakan penilaian sensorik yang didasarkan pada sifa- sifat sensorik
yang lebih kompleks atau yang meliputi banyak sifat- sifat sensorik, karena mutu
komoditi umumnya ditentukan oleh beberapa sifat sensorik.
(The New Zealand Institute of Food Science & Technology Inc, - )
14. Uji ketahanan produk
Uji ketahanan produk bisa dilakukan dengan cara mengemas produk dengan
Polyethylene dan membungkusnya pada kemasan rapat untuk waktu 3 bulan dengan
temperature tertentu. Setiap sample dikemas dengan ukuran 100 gr dan disimpan
pada suhu ruang selama 90 hari. Setiap sampel diperiksa secara periodic pada hari ke-
0, 30, 60 dan 90. Diperhatikan kandungan keasaman asam lemak yang dianalisa sebagai
indikator dari ketengikan.
Tahap IV : Perencanaan Pelabelan dan Pengemasan
a) Mempelajari standar regulasi pendaftaran produk dan sertifikasi halal
b) Mempelajari standar regulasi food labeling, nutritional fact, dan klaim

15. Pengemasan menggunakan kemasan yang sesuai untuk kemasan pangan
16. Pengemasan
Labeling harus mencantumkan nama produk, daftar bahan makanan, nilai zat gizi dan informasi
penggunaan
b.Apa saja jenisnya formulasi makanan?
1. Fortified Blended Foods (FBF)
FBF adalah campuran dari sereal dan bahan yang lain (seperti kedelai, beans dan biji-
bijian lainnya) yang digiling, dicampur dan dimasak terlebih dahulu oleh ekstrusi dan
panggang serta difortifikasi dengan jumlah yang cukup dengan jumlah vitamin dan
minerals yang cukup besar. Namun sekarang telah dikembangkan FBF yang terbaru yaitu
meliputi susu, minyak, gula dan vitamin dan mineral yang mendukung dengan beberapa
bahan yang khusus diproses untuk menurunkan zat anti gizi
FBF digunakan sebagai pengganti bubur lokal tradisional atau sebagai tambahan bubur
tradisional.
Contoh: fortifikasi sereal bayi yang terbuat dari beras, gandum, jagung, atau milet,
kedelai, kacang, atau susu, gula, minyak.
Contoh produk: pada fortifikasi sereal bayi terbuat dari jagung, contoh produk Favina
dari Vietnam, Mi Papilla (Ekuador), Koba Aina (Madagaskar)
FBF mulai dikembangkan menggunakan sumber lemak tambahan yang mengandung
asam lemak esensial, protein bermutu tinggi, dan/ atau makromineral seperti kalsium
dan fosfor.
Kelebihan : dapat diproduksi di semua tempat
Kekurangan : densitas energy terlalu rendah dan viskositas terlalu tinggi untuk anak
anak malnutrisi.
2. Micronutrient Powders (MNP)
Hanya vitamin dan mineral yang ditambahkan ke dalam makanan bayi tradisional,
digunakan sebagai point of use fortificant atau home fortificant.
Contoh: fortified powder, crushable tablet.
Contoh produk: Sprinkles, Chispitas (Bolivia)
Micronutrien powder didesain dengan menggunakan carrier seperti maltodextrin atau
tepung beras dalam jumlah yang kecil. Dari aspek gizi, carrier ini tidak secara signifikan
meningkatkan intake makronutrien, tetapi dapat mempengaruhi apakah produk
tersebut dianggap sebagai makanan atau obat.
MNPs adalah bentuk sachet kecil yang terdiri atas campuran mikronutrient yang
ditambahkan bahan padat atau semi padat setelah persiapan dan sebelum dikonsumsi.
Bahan ini tidak berasa, tidak berbau dan mudah tidak larut dalam hampir makanan
panas. MNPs tidak menyediakan energi tetapi menyediakan RNI dalam setiap
kebutuhan gizi orang.
3. Commercial infant cereals
4. Ready to use foods (RUF)
Contohnya: biscuit
Kelebihan : dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama dan dapat digunakan di
komunitas maupun rumah tangga.
Kekurangan : mahalnya bahan bahan dalam pembuatan.
RUF adalah makanan yang tidak perlu diproses, dimasak atau dicampur dengan air. RUFs
secara umum terbuat dari kecang-kacangan, gula, susu bubuk, minyak sayur dan vitamin
serta minerals ataupun dibuat berdasakan kacang buncis atau komoditi yang lainnya.
Pengemasan dapat dengan mudah dibuka dan makanan dapat langsung dimakan. RUF
rendah kandungan airdan tidak memerlukan air atau proses memasak sehingga
kontaminasi rendah.
Ready to Use Therapeutic Foods (RUTF)
RUTF adalah makanan tinggi energi kaya mineral dan vitamin khususnya dikhususkan untuk
merawat Severe Acute Malnutrition tanpa komplikasi medis pada level komunitas.
RUTF diberikan selama 6-8 minggu dan anak-anak yang tidak butuh makanan lainnya selain
ASI
Ready-to-Use Supplementary Food (RUSF)
RUSF adalah khusus digunakan untuk perawatan dari malnutrisi akutpada anak usia 6-59
bulan. RUSF difortifikasi dengan mikronutrients dan asam lemak esensial dengan kualitas
protein yang sesuai yang dibutuhkan untuk anak-anak.
Lipid nutrient spread (LNS)
LNS digunakan untuk menggambarkan produk seperti pasta dari lemak. LNS berbeda
formulasinya dan dosisnya yang disesuaikan dengan tujuan. Terdapat kuantitas yang
berbeda di setiap dosisnya yaitu kecil, sedang dan besar.
5. Complementary Food Supplements (CFS)
Merupakan produk makanan fortifikasi yang ditambahkan ke makanan lain atau
dikonsumsi sendiri untuk meningkatkan intake makronutrien dan mikronutrien.
Contoh:fortifikasi selai kacang, fortifikasi susu kedelai tinggi lemak
Contoh produk:
- Ready to use suplementary food, tetapi diberikan dalam jumlah yang lebih
kecil dari rekomendasi pemberian makanan tambahan.
- Nutributter
CFS juga dapat memberikan kandungan lemak tinggi dari diet normal, asam lemak
esensial, susu, mikronutrien, macrominerals, dan protein mutu tinggi. Lipid- based
nutrient supplement seperti Nutributter merupakan subkategori dari CFS.(Food and
Nutrition Bulletin, 2009)
Di dalamnya terdapat micronutrirnt powders (MNP); CFS bubuk yang mengandung
mikronutrien, protein, asam amino dan atau enzim; lipid based nutrient supplements
(LNS), 120 500 kkal/hari, mengandung bubuk susu, minyak sayur berkualitas tinggi
(high quality vegetable oil), pasta kacang (peanut paste), gula, dan mikronutrien.
6. To be prepared foods
7. Lain-lain
a. Suplementasi Gizi
Penambahan 1 atau lebih zat gizi ke konsumsi makanan sehari-hari dengan harapan
terpenuhnya kebutuhan zat gizi.
b. Restorasi
Penambahan 1 atau lebih zat gizi ke dalam makanan untuk menggantikan zatgizi yang telah
ada namun hilang setelah proses pengolahan
c. Enrichment
Menggunakan alasan kesehatan publik dari suatu populasi dan memproduksi produk
berkualitas dengan nilai gizi meningkat
d. Standarisasi
Penambahan zat gizi dalam tujuan untuk mengkompensasi variasi kandungan gizi baik secara
natural atau pengaruh musim
e. Subtitusi
Penambahan zat gizi untuk mensubtitusi prodeuk untuk menggantikan atau memiripkan
produk pangan
f. Pengkayaan (nutrifikasi)
Penambahan zat gizi dengan tujuan untuk memenuhi standar produk sesuai undang-undang
yang berlaku
g. Fortifikasi
Penambahan satu atau lebih zat gizi ke dalam makanan yang secara alami tidak terdapat
dalam makanan untuk meningkatkan nilai gizi
Fortified blended food: bentuk cereal, kacang-kacangan, susu
Komplementari food supplement
Micronutrient powder: hanya menambahkan vitamin dan mineral
Contoh dari CFS yaitu Ready to Use Therapeutic Foods (RUTF)
RUTF adalah makanan lembut atau crushable yang dapat dikonsumsi dengan mudah
oleh anak-anak dari usia enam bulan tanpa menambahkan air. RUTFmemiliki komposisi
zat gizi yang mirip dengan F100, yang merupakan diet terapi yang digunakan di rumah
sakit. Tapi tidak seperti F100, RUTF tidak berbasis air, yang berarti bahwa bakteri tidak
dapat tumbuh di dalamnya. Oleh karena itu makanan ini dapat digunakan secara aman
dirumah tanpa pendingin dan bahkan di daerah yang kondisi kebersihannya kurang.
RUTF merupakan makanansiap makan yang berenergi tinggi dan terfortifikasi, yang
cocok untuk pengobatan anak-anak denganmalnutrisi akut yang parah. Setidaknya
setengah dari proteinyang terkandung dalam makanan harus berasal dari produk susu.

JENIS FORMULASI MAKANAN BERDASARKAN BENTUK
A. Formula Bentuk Bubur
Biasanya pada formula bayi atau formula lanjutan berbahan dasar susu
B. Formula Bentuk Cair
Merupakan gabungan dari beberapa bahan yang diblender jadi satu. Padat energi seperti
modisco.
C. Formula Bentuk Padat
Merupakan makanan dalam bentuk padat energi. Dapat berupa modifikasi dari beberapa bahan
menjadi satu jajanan yang disukai anak-anak.
CONTOH BENTUK
Brownies/Cakes : berbentuk seperti kek/kue-kue kering
Gel : berbentuk jelly
Smoothie : berbentuk minuman ringan
Milkshake : berbentuk minuman, campuran antara air dingin dan air sedang
Fondue : berbentuk seperti makanan bayi yang kemudian dicampur dengan air, teksturnya
padat
Sorbet : berbentuk makanan pencuci mulut yang didinginkan

JENIS FORMULASI MAKANAN BERDASARKAN BENTUK PEMBUATAN
a) Une Extension (misalnya jagung diubah menjadi popcorn)
b) Repositoring produk yang sudah ada
Misal:
- Oatmeal untuk menurunkan kolesterol
- Soya untuk melawan kanker
c) Membuat bentuk ukuran baru dari produk
d) Memformulasikan kembali makanan yang sudah ada
e) Produk Inovatif
f) Produk Kreatif
g) Formulasi makanan tidak berbasis air
1. RUTF (Ready To Use Therapeutic Foods)
Merupakan makanan fortifikasi yang berenergi tinggi dengan kandungan
vitamin dan mineral di dalamnya, dikemas dalam porsi individu dengan E=500
kkal. Bentuknya pasta lembut, biskuit yang mudah ditelan. Produk yang populer
adalah RUTF dalam bentuk pasta kacang
Kelebihan Kekurangan
a. Tinggi protein, vitamin, mineral dan
padat energi
b. Mudah dalam hal mobilisasi
c. Mudah aplikasi
d. Terjangkau
e. Dapat mempromisikan
pertumbuhan dengan baik
1. Kapasitas produksi tidak
mencukupi
2. Biaya bahan yang tinggi,
khususnyanjika memakai susu
3. Kacang rasa tidak familiar bagi
negara- negara di Asia Selatan,
ketersediaan kacang juga
f. Dapat disimpan dengan aman dan
digunakan dalam masyarakat dan
rumah tangga
terbatas
2. Lipid Based Supplementary Food
Dosis 500 kkal per 3 bulan
3. Formula Corn Soy Blend
a. Bahan
Kedelai
Susu bubuk
Minyak sayur
Premix mikronutrien
b. Dosis 500 kkal per 3 bulan
4. Misola
a. Bahan : sereal kacang polong
b. Dosis : 500 kkal per 3 bulan
5. Fortified Blended Foods
Digunakan untuk menggantikan bubur tradisional, terdiri dari sereal, kacang-
kacangan, dan gula atau minyak
6. Complementary Food Suplements
Makanan fortifikasi yang akan ditambahkan ke produk lain
Contoh : RUSF
7. Micronutrient Powder
Hanya vitamin dan mineral yang ditambahkan pada makanan tradisional
Mengetahui program promosi dan sosialisasi food formulation untuk penduduk
Referensi 1
Setelah tahapan dari food formulation dapat dilakukan tahap product development yang
terdiri dari :
a. Stage 1 Product Strategy Development
Integrasi dari program pengembangan produk dengan strategi bisnis, memperjelas
deskripsi dari pasar dan konsumen, identifikasi kebutuhan pasar dan konsumen
b. Stage 2 Product Design and Process Development
Spesifikasi desain kuantitatif, intergrasi multidisiplin, penggunaan teknik baru dan
analisis feasibility
c. Stage 3 Product Commercialisation
Integrasi multifungsi, perencanaan dan penjadwalan, uji marketing dan analisa
bisnis
d. Stage 4 Product Launch and Evaluation
Organisasi dan control, pemecahan masalah dengan cepat, evaluasi dari launching,
produksi, distribusi dan marketing serta evaluasi dari pendapatan


Model Roger dari sikap konsumen terhadap produk inovatif :

Referensi 2
1. Promosi dan perkenalan terkait ketersediaan raw material yang akan digunakan
Pengenalan dan pengembangan bahan pangan lokal sebagai raw material
diarahkan dengan dua kegiatan terfokus dalam sektor pertanian, yaitu off-farm dan on-
farm. Kegiatan off-farm terdiri dari perlakuan pasca panen, pengolahan, dan pemasaran.
Sedangkan kegiatan on-farm terdiri dari budidaya dan produksi yang tinggi dengan
terjaminnya kualitas, kuantitas, serta kontinuitas.
2. Promosi produk yang telah termodifikasi
- Lomba pangan lokal pada even-even tertentu dan sebagai tindak lanjut
mempromosikan produk pangan
- Pembinaan usaha pembuatan produk dengan perbaikan estetika penyajian dan aspek
keamanan melalui penerapan cara produksi makanan yang baik dengan salah satu
kegiatan yaitu masak bersama
- Pembinaan Industri Rumah Tangga (home industry) melalui penyuluhan dengan
sentuhan perbaikan teknologi proses, mutu, pengemasan, aspek-aspek keamanan
pangan, serta manfaat pangan yang diangkat

Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam pembuatan formulasi makanan?
- Jenis keadaan gizi kurang yang ditangani.
- Karakteristik hasil akhir dari produk yang diinginkan (tekstur, warna, bau, rasa, dll).
- Kualitas bahan makanan yang dipakai.
- Faktor gizi pada makanan formula sesuai untuk sasaran.
- Menjaga hygiene dan sanitasi saat penyimpanan, pengolahan dan penyajian.
- Menggunakan cara pengolahan yang benar.
- Kemungkinan produksi dan distribusi.
- Daya terima konsumen
- Citarasa, kesesuaian dengan pola dan kebiasaan makan.
- Harga terjangkau
- Menggunakan bahan makanan lokal
- Daya tahan makanan cukup selama waktu distribusi sampai konsumsi
- Memperhatikan kecukupan asam amino
- Teknik pengolahan, pengemasan serta hygiene san sanitasi
- Nilai dan kandungan gizi dari bahan makanan
- Pola konsumsi / kebiasaan makan mempengaruhi penerimaan anak sekolah terhadap PMT
yang akan diberikan
- Keadaan sosio ekonomi dan budaya daerah sasaran
- Ketersediaan dan keterjangkauan bahan makanan, oleh karena itu bahan PMT sebaiknya
merupakan komoditas local sehingga mudah ditemukan dalam jumlah besar dan harga yang
terjangkau untuk menjamin keberlangsungan program.
- Keamanan tempat penyimpanan
- Pelatihan dan supervise yang adequate terhadap tenaga produksi sehingga ada standarisasi
dan spesifikasi dari awal proses produksi (pemilihan bahan baku dan spesifikasi komposisi
dan formula bahan, penetapan cara produksi, spesifikasi kemasan)
- Percobaan produk
- Menghindari kontaminasi
- Aspek- aspek yang perlu diperhatikan:
a. Aspek gizi
- Nilai gizi
- Energi dalam 100 gram bahan minimal terkandung 400 kkal.
- Protein dalam 100 gram bahan minimal terkandung 15 gr protein.
- Lemak dalam 100 gram bahan minimal terkandung 10- 25 gram lemak.
- Karbohidrat
- Serat tidak lebih dari 5 gram dalam 100 gram bahan.
- Penambahan vitamin dan mineral disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sesuai
peraturan setempat.
b. Kebiasaan atau pola makan
c. Sosio ekonomi
d. Ketersediaan dan keterjangkauan bahan
e. Higiene
Ketika diuji menggunakan metode sampling dan pemeriksaan, produk harus:
f. Bebas dari mikroorganisme patogen
g. Tidak mengandung substansi dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan bahaya
h. Tidak mengandung substansi beracun yang dapat berbahaya bagi kesehatan.
i. Pengemasan
Disarankan dikemas dalam container yang aman, higienis dan dapat mempertahankan
kualitas produk
j. Pelabelan
- Nama produk
- Daftar bahan yang digunakan
- Informasi nilai gizi
- Informasi penggunaan
(CAC,1991)
k. Faktor anti gizi
l. Bahan- bahan tertentu
m. Bentuk makanan yang diformulasikan Ready to use dan membutuhkan persiapan
n. Cara penyimpanan
(Pee de siska, 2008)
o. Makanan harus padat energi, kaya mikronutrien, sesuai dengan budaya, mudah dicerna dan
enak.
- Nilai (kandungan) gizi yang tepat
- Keamanan pangan
Pencegahan cemaran biologis, kimia dan lain sebagainya.
- Menggunakan bahan makanan lokal
- Dapat diterima oleh masyarakat setempat
- Mudah digunakan
- Sanitasi pangan
- Ada teknologi pendukung
- Teknik pengolahan tepat
- Tidak menimbulkan efek dengan zat gizi lainnya
- Harga murah (terjangkau)
- Diperuntukkam berdasarkan kebutuhan zat gizi sasaran
- Memenuhi persyaratan higienis
- Memenuhi ketentuan kemasan, label, dan petunjuk penggunaan
- Mempunyai nilai biologis yang tinggi
- Dapat disimpan pada berbagai variasi kondisi dan suhu
- Mengandung protein yang cukup
- Mengandung protein yang berkualitas dan mudah diserap tubuh
- Mengandung anti-gizi yang rendah
- Mengandung lemak yang berkualitas terutama asam lemak essential
- Salah satu strategi kunci formulasi produk adalah pemanfaatan sumber daya lokal (bahan
makanan, teknologi, keterampilan) (WHO, UNICEF, SCN, 2005 dalam Yohanes, 2012).
- Untuk zat gizinya minimal harus mengandung 300 kkal dan 5 gram protein yang senilai dengan
makan pagi.
- Keberhasilan program bergantung pada cita rasa makanan sehingga perlu kreasi dalam
pengolahan dengan bumbu dan bahan tambahan yang disukai anak.
- Keamanan pangan harus sangat diperhatikan untuk menghindari keracunan pangan mulai dari
tahap penyediaan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, pendistribusian dan konsumsi,
serta kebersihan dari penjamah makanan
a. Contoh formulasi makanan yang sesuai kasus?
Bubur jagung susu
Bahan :
- 100 gram jangung muda pipilan
- 1 sdt gula merah
- 100 ml air
- 3 sendok takar susu formula
Cara pembuatan :
1. Masukkan jagung muda, gula merah dan air kedalam blender, haluskan , keluarkan sari
blender dan saring . buang ampasnya
2. Masak diatas ai kecil aduk hingga kental, lalu angkat
3. Masukkan susu formula, diaduk
Pisang goreng, kue nogosari , kue kacang jagung , kue kacamata.
(Deny,et al.1998)
b. Apa saja macam-macam dari Formulasi Makanan yang pernah dilakukan?
- pisang goreng special, kue nogo sari, kue kacang hijau, kue kacamata (Deny at al, 1998)
- LSM bernama word vision memberikan penyuluhan kepada ibu ibu di NTT tentang formula
3M (murah, mudah, menyeluruh) terbuat dari bahan makanan local dijadikan tepung, tepung
tersebut diolah menjadi berbagai makanan misalnya biscuit ataupun minuman

9. PMT
Apa saja jenis PMT? Dan bagaimana standar PMT-AS?
a) JENIS PMT
BERDASARKAN SASARAN
1. PMT Pemulihan
A. Pemulihan untuk balita kurang gizi
- MP ASI (6 23 bulan),
- Makanan tambahan berupa makanan keluarga (24 59 bulan)
B. Pemulihan untuk ibu hamil dengan KEK
2. PMT-AS
3. PMT Penyuluhan
4. PMT LANSIA (LANJUT USIA)

BERDASARKAN BAHAN
1. Bahan makanan pabrik : susu, susu formula, bubur, biscuit
2. Bahan makanan mentah : kacang hijau, gula pasir
3. Bahan makanan matang : bubur, sop, telur puyuh
(Sandjaja, dkk, 2005)

b) STANDART PMT SECARA UMUM
a. Memenuhi kebutuhan zat gizi penderita masalah gizi baik makro maupun mikro nutrient
b. Memenuhi syarat pemrosesan produk yang aman
c. memenuhi standart hygiene sanitasi
d. mengutamakan penggunaan bahan makanan lokal
e. memberikan manfaat yang besar terhadap kesehatan

c) STANDAR PMT BERDASARKAN SASARAN
1. PMT AS
- Definisi :
Kegiatan pemberian makanan kepada peserta didik dalam bentuk jajanan/kudapan atau
makanan lengkap yang aman dan bermutu beserta kegiatan pendukung lainnya dengan
memperhatikan aspek mutu dan keamanan pangan
(Permendagri no 18 tahun 2011)

- Sasaran :
a. Seluruh siswa usia sekolah dasar, diutamakan yang berada didaerah miskin sesuai criteria yang
ditetapkan
b. Masyarakat luas terutama orang tua siswa dan guru, agar dapat memahami manfaat PMT AS

- Tujuan :
Meningkatkan ketahanan fisik siswa sekolah dasar sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi dan
kesehatan sehingga dapat mendorong minat dan kemampuan belajar siswa untuk meningkatkan
prestasi dalam rangka menunjang Program Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun
Meningkatkan ketahanan fisik peserta didik RA dan MI dalam mengikuti kegiatan belajar
Meningkatkan kehadiran dan minat belajar peserta didik RA dan MI dalam kegiatan belajar
mengajar
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kecerdasan anak
Meningkatkan kecukupan asupan gizi
Meningkatkan ketahanan fisik
Meningkatkan kehadiran sekolah
Meningkatkan perilaku peserta didik untuk menyukai makanan lokal bergizi
Meningkatkan perilaku hidup bersih, meningkatkan partisipasi masyarakat
Membantu upaya peningkatan pendapatan masyarakat
(Kementrian Pendidikan Nasional)
A. Tujuan Umum :
Meningkatkan ketahanan fisik siswa SD/MI negeri dan swasta melalui perbaikan keadaan gizi
dan kesehatan sehingga dapat mendorong minat dan kemampuan belajar anak untuk
meningkatkan prestasi dalam rangka menunjang tercapainya Program Wajib Belajar Pendidikan
Dasar Sembilan Tahun.
B. Tujuan Khusus :
1. Meningkatkan keadaan gizi siswa SD/MI negeri dan swasta, meningkatkan minat belajar siswa,
mengurangi absensi siswa dan tinggal kelas serta mengurangi jumlah anak yang putus sekolah.
2. Mendukung program diversifikasi pangan dengan menanamkan sikap dan perilaku menyukai
makanan jajanan setempat dalam rangka pelaksanaan gerakan Aku Cinta Makanan Indonesia
(ACMI) yang dimulai pada usia dini.
3. Menanamkan kebiasaan makan yang baik serta kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak anak-
anak untuk menumbuhkembangkan perilaku hidup sehat yang didukung oleh sanitasi
lingkungan yang baik.
4. Mendorong perkembangan ekonomi rakyat melalui pemanfaatan produk pertanian setempat,
untuk digunakan dalam PMT-AS. Bagi desa IDT diutamakan agar PMT-AS menggunakan hasil
produksi Kelompok Masyarakat (POKMAS) program IDT.
5. Mendorong peran serta aktif masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan anak dengan
memperhatikan keadaan gizi dan kesehatannya, sehingga apabila bantuan pemerintah selesai,
masyarakat mau dan mampu melanjutkan dan melestarikan PMT-AS ini atas swadaya
masyarakat sendiri. (Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1997 Tanggal 15 Januari 1997)
6. Meningkatkan kecukupan asupan gizi peserta didik melalui makanan tambahan
7. Meningkatkan ketahanan fisik dan kehadiran peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar
8. Meningkatkan kesehatan anak khususnya dalam penanggulangan penyakit kecacingan;
9. Meningkatkan pengetahuan dan perilaku peserta didik untuk menyukai makanan lokal bergizi,
menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS)
10. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan dan pengadaan pangan lokal
11. Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan gizi peserta didik,
produksi pertanian, pendapatan masyarakat dan kesejahteraan keluarga.
(PERMENDAGRI NO 18 TAHUN 2011)

- Manfaat
a) Meningkatnya ketahanan fisik anak misalnya
Menurunnya ketidakhadiran karena sakit
Meningkatknya kegairahan
Menurunnya murid yang pingsan ketika upacara
Meningkatnya status gizi
b) Absensi dan putus sekolah menurun
c) Peningkatan prestasi anak
(Djalal, Fasli. 2000)

- Standart PMT AS
Menurut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1997 menyatakan bahwa :
1. Bentuk dan jenis makanan yang akan disajikan tidak berupa makanan lengkap seperti nasi dan
lauk pauknya, tetapi berupa makanan jajanan atau makanan kecil dengan tetap
memperhatikan aspek mutu dan keamanan pangan.
2. Makanan jajanan untuk PMT- AS harus menggunakan bahan hasil pertanian setempat dan
tidak dibenarkan menggunakan bahan makan produk pabrik atau industry yang dibeli atau
didatangkan dari kota, seperti susu bubuk, susu kaleng, susu karton, macam- macam mie
instant, roti atau kue- kue produk pabrik.
3. Makanan jajanan PMT- AS harus mengandung energy minimal 300 kalori dan 5 gr protein
untuk tiap anak dalam setiap hari pelaksanaan PMT- AS.
4. Makakanan jajanan tersebut diberikan paling sedikit 3 kali seminggu atau selama 108 hari
belajar efektif dalam satu tahun ajaran. Apabila memungkinkan penyediaan makanan jajanan
dapat diselenggarakan lebih dari 3 kali seminggu (Inpres, 1997).

Aturan di atas diperbaharui lagi menurut Kemenag RI tahun 2012, yaitu :
1. Bentuk makanan tambahan tidak berupa makanan lengkap seperti nasi dan lauk pauk, tetapi
berupa makanan kudapan yang menyediakan 10 20% dari kebutuhan energy dan protein
peserta didik.
2. Syarat kudapan harus memperhatikan kandungan gizi, keamanan makanan, dan cita rasa.
a. Kandungan gizi
Makanan kudapan minimal mengandung energy 300 kkal dan 5 gr protein untuk setiap
peserta didik setiap hari pelaksanaan PMT- AS. Jumlah tersebut senilai dengan masukan
kalori dan protein makan pagi pola makan peserta didik di desa (bila sarapan pagi).
b. Keamanan makanan
Dalam rangka peningkatan keamanan makanan kudapan perlu dilakukan pencegahan agar
tidak terjadi keracunan. Untuk itu diperlukan upaya- upaya pencegahan dari berbagai tahp
penyelenggaraan PMT- AS bagi siswa SD yaitu tahap penyediaan bahan baku, proses
pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, pembagian dan konsumsi. Kebersihan diri
petugas, peserta didik dan lingkungan, terutama air untuk mencuci tangan.
c. Cita rasa
Keberhasilan PMT- AS bagi siswa ditentukan salah satunya oleh penerimaan siswa terhadap
makanan yang diberikan. Oleh karena itu citarasa kudapan PMT penting untuk
diperhatikan. Untuk mendapatkan cita rasa makanan yang baik diperlukan kreasi dalam
pengolahan dan penyajian termasuk penggunaan bumbu- bumbu dan bahan tambahan
yang aman dan disukai anak. Beberapa jenis bumbu dan bahan tambahan juga sekaligus
berguna untuk meningkatan asupan energy seperti gula, minyak, santan, susu, dan telur.
3. Bahan pangan PMT- AS sebaiknya menggunakan bahan hasil pertanian setempat (desa,
kecamatan atau kabupaten). Apabila bahan hasil pertanian setempat tidak tersedia, maka
dapat diperoleh dari produksi pertanian daerah sekitarnya, akan tetapi harus tetap
mempertimbangkan mutu gizi, dan daya terima peserta didik.
Bahan utama kudapan terutama mengandung sumber karbohidrat seperti ubi jalar, ubi
kayu, tals, sukun, sagu, beras, jagung, dan sebagainya, dan buah- buahan sperti pisang, dsb.
Untuk meningkatkan mutu gizinya bahan pangan tersebut perlu ditambahkan atau dikonsumsi
dengan pangan lainnya, terutama pangan sumber protein. Misalnya kacang tanah, kacang
merah, kacang hijau, kedelai, kedelai hitam, tempe, tahu, oncom, telur, daging, susu, ikan, dsb.
yang diproduksi oleh usaha pertanian setempat
(Kemenag RI. 2012)

- Pelaksanaan :
1. Pelaksanaan PMT-AS menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah, orang tua dan
masyarakat.
2. PMT-AS diselenggarakan bagi seluruh siswa SD/MI negeri dan swasta yang ditetapkan
pemerintah dalam rangka perbaikan keadaan gizi dan kesehatan anak sehingga dapat
mendorong minat dan kemampuan belajar siswa.
3. Penentuan jenis, jumlah dan harga makananan jajanan untuk keperluan program setiap tiga
bulan akan diusulkan oleh kader PKK setelah bermusyawarah dengan mengurus BP3 atas dasar
buku petunjuk yang ditetapkan, dan usulan tersebut harus disetujui oleh bidan didesa/tenaga
pelaksanaan gizi Puskesmas
4. Pengadaan dan pemasakan makanan jajanan dilaksanakan oleh kader PKK dan dibantu oleh
orang tua murid yang pelaksanaan kegiatannya dapat dilakukan dirumah kader PKK atau orang
tua murid, dimana jadwalnya ditentukan bersama secara berkelompok dan dilakukan secara
bergilir
5. Warung atau koperasi sekolah juga dapat dilibatkan agar mereka dapat turut berkembang
sesuai dengan perkembangan program

- Cara pemberian :
1. Pembagian makanan jajanan siswa di kelas, dilaksanakan oleh guru dan dapat dibantu oleh
kader PKK
2. Sebelum jajanan dimakan secara bersama sama oleh siswa di kelas maka terlebih dahulu para
guru mengingatkan anak anak agar mencuci tangan sebelum makan dimana sabun cuci tangan
harus disediakan di sekolah, selanjutnya berdoa sesuai dengan ajaran agama masing masing
3. Guru menjelaskan manfaat jajanan yang sedang dimakan bagi kesehatan anak tersebut menurut
ilmu gizi

- Contoh PMT :
Hari ke- Menu PMT
1 Risoles jagung manis dan ayam, gethuk coklat
2 Donat kentang, skotel telur
3 Pastel sayur, pisang keju
4 Lumpia sayur, putu ayu
5 Sosis solo, bolu gulung
6 Kroket, pukis meses
7 Nagasari, risoles sayur
dst dst

2. PMT PEMULIHAN
A. PMT Pemulihan untuk balita kurang gizi
- Definisi :
Program penatalaksanaan balita gizi kurang dan gizi buruk yang dilaksanakan oleh Pusat
Pemulihan Gizi (PPG) di posyandu dan secara terus menerus di rumah tangga

- Sasaran :
1. Balita yang dalam pemulihan pasca perawatan gizi buruk di TFC/Pusat Pemulihan
Gizi/Puskesmas Perawatan atau RS
2. Balita kurus dan berat badannya tidak naik dua kali berturut turut (2T). Balita yang dimaksud
adalah balita dengan hasil penimbangan yang tidak naik berat badannya 2 kali berturut-turut
pada Kartu Menuju Sehat (KMS)
3. Balita Bawah Garis Merah (BGM). balita yang berat badannya berada di bawah garis merah
pada KMS.
4. Balita kurus, dimana balita dengan status gizi kurang berdasarkan indicator BB/PB atau BB/TB
dengan nilai z-score: -2 SD sampai dengan <-3 SD

- Tujuan :
Untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan
sarana komunikasi antar ibu dari balita sasaran
Mempertahankan dan meningkatkan status gizi balita berusia 12 - 59 bulan dengan BB/U
dibawah garis merah (BGM) pada KMS dan berasal dari keluarga miskin

- Prinsip :
1. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk bahan makAnan local atau makanan, tidak dalam
bentuk uang
2. PMT pemulihan hanya sebagai tambahan bukan pengganti makanan utama
3. PMT pemulihan merupakan kegiatan diluar gedung, pendekatan pemberdayaan masyarakat
yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas program dan sector terkait lainnya
4. PMT pemulihan dibiayai Badan Operasional kesehatan (BOK), juga dari biaya bantuan
pemerintah daerah, dunia usaha dan partisipasi masyarakat

- Syarat jenis dan bentuk :
1. Berbasis bahan makanan local atau makanan pabrikan yang tersedia diwilayah setempat
dengan memperhatikan kemasan, label dan masa kadaluarsa untuk keamanan pangan
2. Memenuhi kebutuhan gizi balita diutamakan berupa sumber protein hewani/nabati, serta
sumber vitamin dan mineral yang terutama berasal dari sayur sayuran dan buah buahan
setempat
3. Diberikan kepada anak penderita gizi buruk dan gizi kurang, jumlah hari pemberian bergantung
dari tujuan untuk meningkatkan status gizi anak
4. Ibu yang mempunyai anak dibawah 5 tahun yang menderita gizi kurang/gizi buruk diberi satu
paket PMT pemulihan
5. Paket berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatannya, penyuluhan gizi, pemberian
makanan khusus selama waktu tertentu
6. Perkembangan kesehatan dan keadaan gizi anak dipantau oleh petugas kesehatan dalam
interval waktu tertentu juga.
7. Diberikan 1x/hari selama 90 hari
8. Ada 2 jenis :
MP ASI (6 23 bulan),
Makanan tambahan berupa makanan keluarga (24 59 bulan)
9. Bentuk makanan sesuai pola makanan balita








Tabel. Pola Makan Balita
Berdasarkan CAC tahun 1991:
Energy : 100 gram makanan setidaknya menghasilkan 400 kkal
Protein : kandungan protein dalam bahan yang digunakan harus saling melengkapi dan stabil,
serta menyediakan 15 gram protein per 100 gram makanan
Lemak : energy yang didapat dari lemak berkisar 20 dan 40% atau setara 10-25 gram per 100
gram makanan
Karbohidrat : disarankan dietary fiber, tidak boleh lebih dari 5 gram per 100 gram makanan
Vitamin dan mineral : setidaknya dalam 100 gram makanan harus terdapat 2/3 dari RDA
(Reference Daily Requirement)

Nutrient RDA
Vitamin A 400 g Retinol Equivalent
Vitamin D 100 g
Vitamin E 5 g
Vitamin C 20 g
Thiamin 0,5 mg
Riboflavin 0,8 mg
Niasin 9 mg
Vitamin B6 0,9 mg
Folate 50 g
Vitamin B12 1 g
Kalsium 800 mg
Iron 12 mg
Iodine -
Zinc 10 mg

Berdasarkan UPN Veteran Jakarta yang dikutip dari Departemen Kesehatan RI :
Nilai gizi harus berkisar 200 300 kalori dan protein 5 8 gram
PMT berupa makanan selingan atau makanan lengkap (porsi) kecil
Mempergunakan bahan makanan setempat dan diperkaya protein nabati/hewani, dan
mengandung 4 sehat 5 sempurna
Mempergunakan resep daerah atau dimodifikasi, serta dipersiapkan, dimasak aman
memenuhi syarat kebersihan serta kesehatan
Pemberian makanan tambahan (PMT) diberikan dari Kelurahan dengan frekuensi minimal 3
kali seminggu selama 100 160 hari.

B. PMT Pemulihan untuk ibu hamil dengan KEK
Kategori ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) adalah status gizi ibu hamil menurut ukuran
Lengan Atas (LILA) yang <23,5 cm. Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan kepada bumil KEK
dilakukan dengan memberikan makanan berupa makanan lokal dan pabrikan dengan cara
minimal 2 kali per minggu diberi makanan lokal dan pada hari lainnya diberikan makanan
pabrikan. PMT-P untuk bumil KEK ditujukan sebagai salah satu usaha penanggulangan gizi buruk
dengan asumsi bahwa ibu hamil juga merupakan target kurang gizi yang harus ditangani.

3. STANDAR PMT PENYULUHAN
- Definisi : program pemberian makanan tambahan kepada ibu balita
- Tujuan : Memberikan contoh tentang makanan yang baik menunya dan tepat porsi
serta pengaturannya
(Suyanto, tanpa tahun)
- Diberikan 1 (satu) bulan sekali di Posyandu dengan tujuan disamping untuk pemberian
makanan tambahan juga sekaligus memberikan contoh pemberian makanan tambahan yang
baik bagi ibu balita.
- PMT Penyuluhan ini didasarkan atas pendapat yang menyatakan bahwa penyuluhan gizi
bagi golongan tidak mampu akan efektif jika disertai bantuan pangan berupa makanan
tambahan.

4. STANDAR PMT LANSIA
Pemberian Makanan Tambahan untuk lansia merupakan salah satu kegiatan yang
dilakukan oleh Posyandu Lansia yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat
dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia. Kegiatan ini biasa dibarengi
dengan kegiatan olahraga seperti senam lanjut usia atau gerak jalan santai untuk meningkatkan
kebugaran.

a. Pihak yang terlibat dalam pembuatan formulasi makanan
- Ahli gizi.
- Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten serta pihak sekolah/madrasah melakukan kegiatan
sosialisasi.
- Kepala sekolah, guru UKS dan Komite Sekolah sebagai penanggung jawab dan pemantau
program.
- Kader PKK desa/kelurahan.
- Tim koordinator program kecamatan sebagai pengawas (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Kementrian Pendidikan Nasional, 2011; FAO, 1994).
- Orang tua.
- Peserta didik (Mendagri, 2011).

b. Cara pengemasan produk PMT yang baik?
1. Utamakan menggunakan kemasan yang terbuat dari kaca atau gelas atau keramik.
2. Jika menggunakan kemasan plastik, pilih yang mencantumkan kode daur ulang.
3. Pilih kemasan yang mencantumkan tulisan aman, untuk makanan atau logo gelas dan garpu.
4. Pilih kemasan yang warnanya tidak mencolok.
5. Ikuti petunjuk pemakaian yang disarankan oleh produsennya.
6. Pilih kemasan yang mencantumkan identitas produsen.
7. Tidak terkecoh dengan harga murah, utamakan menggunakan kemasan pangan yang terbuat
dari kaca dan keramik.
8. Jangan menggunakan kantong plastik kresek berwarna hitam untuk mewadahi langsung
makanan siap santap.
9. Sebaiknya mengurangi penggunaan kemasan pangan yang terbuat dari plastik PVC untuk
makanan berminyak atau berlemak atau mengandung alkohol berlebih dalam keadaan
panas.
10. Memuat informasi jelas dan jujur.
11. Ukuran dan material bahan sesuai kebutuhan.
12. Komposiis seimbang.
13. Bahan pengemas :
a. Tahan terhadap panas / suhu beku
b. Dapat dilihat jelas
c. Ketebalan dan ukuran bervariasi
14. Bersifat non toksik, dapat mempertahankan warna, flavor, dan cita rasa produk yang dikemas
15. Kuat dan tidak mudah bocor.
16. Dikemas sesuai dengan karakteristik bahan makanan :
a. Produk roti tawar perlu perlindungan terhadap kelembaban Polipropilen dan Low
density poly ethylene
b. Produk susu, kekuatan menahan uap air Poly Ethylene high density dan HDPE
17. Tidak menggunakan bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
18. Kebersihan dari kemasan harus terjamin.
19. Di Amerika Serikat, pemakaian plastik untuk kemasan pangan harus mengarah pada FDA.
Semua industri harus memberikan info kepada FDA mengenai jenis plastik dan aditif yang
digunakan untuk mengemas produk makanan.
20. Di Perancis, plastik untuk kemasan pangan tidak merusak cita rasa makanna dan tidak
beracun.

c. Aspek aspek yang perlu diperhatikan PMT agar di terima masyarakat setempat?
Aspek yang perlu diperhatikan agar PMT dapat diterima masyarakat
Adanya dukungan dari pihak pemerintah untuk mempromosikan PMT
Bentuk makanan disesuaikan dengan keinginan atau selera masyarakat dan menggunakan
bahan baku local
Bahab baku mudah didapat dan masih di dalam wilayah kecamatan
Harga PMT disesuaikan dengan kemampuan masyarakat
Cara pengemasan makanan bervariasi agar tidak bosan
Ada sosialisasi PMT bahwa PMT program pemerintah harus berjalan secara kontinyu, karena
anggapan masyarakat biasanyaPMT hanya bantuan dan kewajiban pemerintah dan
masyarakat tidak perlu terlibat.
(Yogaswara. Puslitbang LIPI. 1998)

d. Apa standardari PMT secara umum dan khusus (anak sekolah)? ?(kel H)
e. Bagaimana prosedur pemberian PMT? ?(kel H)
f. Peraturan yang mengatur PMT? ?(kel H)
g. Berdasarkan skenario, untuk pembuatan PMT, claim apa yang cocok diberikan pada produk yang
akan dibuat ?(kel E)

d. Peraturan yang mengatur PMT
KEBIJAKAN YANG MENGATUR TENTANG PMT-AS
Landasan hukum untuk membuat program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS)
1. UUD 1945 pasal 28 ayat 1 dan UU nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pembangunan
kesehatan. Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar
rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan
2. UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pemerintah wajib memenuhi hak-hak
anak, yaitu kelangsungan hidup, penumbuhan dan perkembangannya serta perlindungan
demi kepentingan terbaik anak.
3. UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan dan nomor 33 tahun 2004 tentang
penimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Peranan pemerintah daerah
(propinsi, kabupaten/kota) dan pusat dalam pemenuhan hak-hak dasar anak.
4. Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) ditegaskan
bahwa pada tahun 2015 setiap negara diharapkan dapat menurunkan kemiskinan dan
kelaparan separuh dari kondisi 1990.
5. Salah satu sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009
Bidang Kesehatan adalah menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20%
(termasuk penurunan prevalensi gizi buruk menjadi 5 %)
Peraturan tentang penyelenggaraan PMT-AS
1. Instruksi presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas
pembangunan nasional antara lain pemberian makanan tambahan anak sekolah untuk siswa
TK dan SD di daerah tertinggal, terpencil, terisolir, perbatasan, pedalaman, pulau-pulau kecil
dan terluar.
2. Instruksi presiden nomor 1 tahun 1997 tentang PMT-AS
3. Peraturan menteri dalam negeri nomor 18 tahun 2011 tentang PMT-AS.

e. PMT yang sesuai untuk skenario di NTT
PMT-Anak Sekolah
10. Makanan lokal dan sosial-budaya di NTT :
a. Apa saja bahan makanan lokal NTT ?
Hasil pertanian jagung, padi, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, kacang
hijau, dsb (Deny Hidayati, et al., 1998)
Sayuran kentang, sawi, buncis, bawang merah, bawang putih,
kacang merah, labu siam, wortel, tomat, cabe,
terong, kacang panjang
Buah jeruk, pisang, papaya, alpukat, labu kuning, jambu
mente, nangka, mangga
Hewan ternak babi, sapi, kerbau, kambing, ayam buras, itik, kuda,
domba
(Maruti, 2007)
Kelautan Ikan tembang, udang, cumi, teripang, rumput laut,
ikan cakalang, tuna, kerang (Marut, 2007)
Lain-lain Sorgum, jejawut, gaplek, keladi, wijen, jail, ikan
kering, kopi, nira, kelapa, kemiri, kedelai
(Metty Wasa dan Maria, 2009)

b. Bagaimana karakteristik sosio budaya masyarakat di NTT?
Wilayah NTT dipengaruhi oleh angin musim sehingga musim kemarau berlangsung 7
bulan. Masalah yang sering muncul adalah kekeringan yang berkepanjangan.
Memiliki topografi yang bergelombang hingga berbukit dan didominasi lahan kering serta
banyak pegunungan kapur (Nagib, Laila, tanpa tahun).
Kondisi wilayah dan letak geografisnya relatif terisolir baik dari pusat pemerintahan
maupun dari jaringan utama transport antar negara.
Terdapat kelangkaan sumber air yang memadai. Akses untuk mendapatkan air bersih sulit
dijangkau. Untuk mendapatkan air bersih harus berjalan sejauh 1 atau 2 kilometer.
Sumber mata air untuk memasak atau minum umumnya didapatkan dari mata air/sumur
umum/air pancuran.
Tidak semua desa memiliki pasar dan pasar biasanya sifatnya mingguan sehingga akses
masyarakat terhadap pangan dan kesempatan untuk menjual hasil pertanian terbatas.
Biasanya panen jagung dilakukan bulan April Mei, sedangkan bulan Oktober
Januari/Februari adalah musim paceklik.
Ladang ditanami setahun sekali karena curah hujan yang sangat sedikit dan lama bulan
hujan hanya 5 bulan dan tidak ada irigasi teknis.
Masa tanam jagung adalah pada awal musim hujan.
Kacang-kacangan ditanam pada bulan Mei/Juni.
Sayuran ditanam pada bulan April-Juli.
Sistem tanah adalah sistem balik tanah dengan linggis, cangkul, parang atau tembilang
(Martianto, dkk, 2008).
Masih menggunakan pupuk organik, membiarkan bila ada gangguan hama.
Sampai saat ini, masih terdapat desa yang tidak tersaluri listrik sehingga memakai bahan
bakar minyak tanah.
Mulai pada tahun 2000-an, masyarakat mulai menanam tumbuh-tumbuhan di halaman
depan rumah.
Iklimnya lebih kering karena terletak ditengah garis bujur yang menyebabkan
ketersediaan air terbatas, tanaman susah untuk hidup.
Terdiri dari suku bangsa, yaitu Timor, Rote, Sabu, Sumba, Helong, Flores, Alor, dll.
Sensus penduduk tahun 2010 menyatakan terdapat 4.679.316 jiwa (laki-laki : 2.355.782
jiwa dan perempuan : 2.323.534 jiwa).
Kepemimpinan menganut system dualism yang terdiri dari kepemimpinan formal dan
non-formal. Kepemimpinan formal dipimpin oleh kepala desa dan untuk non-formal
dipimpin oleh tokoh atau pemimpin adat.
Pendapatan rata-rata perkapita masih rendah jika dibandingkan dengan pendapatan
perkapita nasional.
Tokoh masyarakat yang dihormati antara lain pendeta yang mayoritas beragama kristen.
Perbedaan agama tidak mempengaruhi peran dan relasi gender dalam berbagai aspek
kehidupan.
Pemuka agama memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan kepala desa sehingga
apabila terdapat program tertentu harus mendatangi dan meminta ijin pada tokoh
masyarakat.
Lapangan perkerjaan yang terdapat di NTT masih terbatas, sehingga penduduk banyak
yang bermigrasi untuk mencari pekerjaan sebagai buruh pabrik diluar wilayah NTT hingga
menjadi TKI di luar negri.
Berdasarkan pandangan masyarakat, apabila terdapat warga yang menjual harta (ternak
dan hasil perkebunan), maka hal tersebut dianggap sebagai indikator kemiskinan.
Masyarakat kota memiliki pola konsumsi beras.
Masyarakat desa mengutamakan jagung sebagai pangan pokok.
Pola konsumsi pangan beberapa daerah mengkombinasikan antara beras, jagung, dan ubi
kayu.
Kepemilikan tanah kuirang pasti dikalangan penduduk pedesaan. Sehingga sering
mengakibatkan konflik baik antar warga maupun dengan pemerintah, bahkan tanah
dijadikan komoditas yang diperjual belikan. Hal-hal tersebut mengakibatkan kegiatan
pertanian di daerah pedesaan tidak bisa optimal.
Sumber air dapat dijaga kebersihannya, namun ternak masih berkeliaran di sekitar
sumber mata air. Maka besar kemungkinan terancam tercemar bakteri E.coli.
Alokasi untuk pengeluaran pangan lebih besar daripada pengeluaran untuk non pangan.
Ibu atau perempuan yang berhak berperan dalam pengelolaan dan manajemen stok
pangan, pola asuh, makan dan kesehatan.
Terdapat adat yang bernama banu panak lopo yaitu warga tidak boleh menjual jagung
hasil pertaniannya pada tetangga apabila diperkirakan tidak dapat mencukupi kebutuhan
selama setahun kedepan. Apabila ingin membeli maka harus pergi ke luar desa.
Bayi tidak diperbolehkan memakan garam karena dianggap tali pusar dari bayi masih
belum kering.
Pesta dilakukan pada acara-acara tertentu seperti kematian dan pernikahan yang
memanfaatkan hewan ternaknya ( sebagai lambang status sosialnya ).
Sebagian besar memiliki aset rumah dan memelihara hewan ternak, tetapi banyak yang
tidak memiliki aset berharga seperti emas, alat elektronik atau alat transportasi.
Lumbung pangan, tempat penyimpanan hasil pertanian seperti jagung, pengambilannya
diatur oleh hukum adat yang ketat.
Mengutamakan anak balita.
Masyarakat yang miskin tinggi yaitu 25%, dan terjadi kesenjangan sosial antara
masyarakat yang kaya dan miskin.
Berdasarkan standar nasional pencapaian ketuntasan program wajib belajar 9 tahun, NTT
termasuk provinsi yang memiliki angka pencapaian terendah dengan presentase 69,78%.
Penyebabnya adalah karena ada inefisiensi anggaran pendidikan oleh oknum-oknum
pelaku kebijakan.
Didominasi oleh penyakit-penyakit infeksi yang lama seperti ISA, malaria, diare, TBC,
frambusia, lepra, HIV AIDS, DBD dengue. Perilaku hidup sehat di NTT dan akses pelayanan
kesehatan masih sangat kurang (Martianto, dkk, 2008).
Pembinaan keluarga di NTT telah terbina dengan cukup baik.
Karakter warga NTT terbilang cukup keras dan tidak mudah terprovokasi oleh tindakan
atau hasutan pihak-pihak tertentu. Kerukunan masyarakat masuk dalam kategori sangat
tangguh.
Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat NTT cukup baik dan kondusif.
Akses anak perempuan yang pergi sekolah rendah karena faktor keamanan dan adat lokal
yang kurang menghargai pendidikan untuk anak perempuan.
Tipikal manusia di NTT lebih menunjukkan perilaku ke arah pola hidup yang konsumtif dan
bukan ke arah yang produktif (Yuliawati S, 2011).
Food processing sangat sederhana, dimana hanya dengan tambahan garam dan sedikit
minyak.
Kebiasaan masyarakat NTT untuk makan adalah 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang dan
malam. Jika pada saat musim paceklik makan 2 kali dalam sehari.
Beberapa bumil pantang daun singkong dan ikan (takut melahirkan susah) serta daun dan
buah papaya (takut banyinya gatal-gatal) (Drajat Martianto, 2008).
Mata penceharian dominan penduduk dari sector pertanian, hasil pertanian berupa
jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kopi dll.
Cadangan makanan keluarga berbentuk lumbung pangan keluarga yang berupa cadangan
tongkol jagung dan lumbung hidup dalam bentuk umbi-umbian dan ternak.
Banyak ibu meninggalkan anak dirumah untuk bekerja di ladang atau menjadi TKW.
Sebagian besar penduduk bertani karena mendapat warisan tanah.
Agama yang paling dominan adalah agama katolik dan dipengaruhi kebudayaan portugis.
Ternak yang biasa dipelihara adalah sapi, babi, anjing, kuda, domba dan ayam/ unggas.
Daging unggas jarang dimanfaatkan, dan biasanya mengkonsumsi daging bila ada
perayaan adat dan pesta pora. Kepemilikan ternak merupakan symbol status.
Peraturan adat masih dipegang teguh, budaya food taboo masih diterapkan, misalnya
ayah diutamakan dalam hal makanan, berbagai pantangan makan untuk balita, setelah
melahirkan ibu tidak boleh makan daging.
Emansipasi wanita sangat kurang, tingkat pendidikan wanita rendah, dan keterbatasan
dalam mengakses informasi tentang gizi dan kesehatan (Prof.Dr.Ir Bungaram Saragih,
2006).
Banyak anak yang masih tidak terlalu suka sayur karena pengolahan dan penyajian yang
kurang menarik dan rasanya hambar karena hanya direbus dan dibumbui garam (Drajat
Martianto, 2008).
Perempuan setelah melahirkan hanya boleh makan jagung bose selama 40 hari karena
takut diare dan meninggal karena perut masih terluka dan juga ditabukan makanan
berlemak dan mengandung cabai (Drajat Martianto, 2008).
Orang dewasa laki-laki senantiasa menjadi prioritas dalam memperoleh makanan inti.
Masyarakat sebagian besar melakukan pola cocok tanam untuk makan hari ini sehingga
lahan tempat tinggal ada yang digunakan untuk bercocok tanam, akan tetapi hanya
sebagian kecil. Sedangkan lahan ternak lebih luas dari tempat tinggal dan bercocok tanam
sehingga lahan bercocok tanam kurang.
Terdapat daerah yang tidak terbiasa dengan kudapan, kebiasaan mengolah makanan di
rumah jarang (Desa Ainut) (Kaian Kinerja PMT-AS di NTT, 1998).
Babi menjadi symbol status sosial dalam upacara adat Karena itu bukan hal aneh kalau
mereka sangat jarang menjual babi (kecuali terpaksa). Babi juga menjadi tabungan untuk
upacara adat. Karena itu dengan menternakkan babi tidak secara otomatis menghasilkan
pendapatan bagi mereka.
Masyarakat biasanya mengkonsumsi jagung dengan sayur, tanpa sumber protein hewani
seperti ikan dan daging.
Makanan tabu untuk bayi yaitu ubi jalar ditambah babi dapat menyebabkan mencret.
Mereka menganggap bahwa jagung bose dan katemak memberikan efek meningkatkan
kekuatan fisik psikis untuk berkonsentrasi dengan baik dalam bekerja. Makanan ini
dianggap memberi kekuatan untuk menunjang seluruh aktivitas fisik mereka selama
bertani di ladang.
Ibu menyusui memiliki pantangan berbagai makanan berlemak dan cabe karena takut
anak akan menjadi diare.
Makanan tertentu juga dilarang dimakan dengan alasan larangan agama, terutama pada
penganut agama Kristen Advent yang melarang semua anggota keluarga makan daging
babi.
Salah satu keluarga, yaitu keluarga Bae, mentabukan memakan tebu merah bagi setiap
anggota keluarganya. Menurut mereka, jika mereka memakan tebu merah, maka badan
mereka akan menjadi kurus, bengkak dan luka.
Masyarakat biasa membeli ikan satu minggu sekali. Ikan yang biasa dibeli adalah ikan
tembang. Dalam sekali pembelian biasanya masyarakat membeli 7-15 ekor ikan tembang.
Ikan ini tidak habis dimakan dalam satu hari. Biasanya mereka mengasinkan ikan supaya
dapat dimakan di hari-hari berikutnya.
Anak-anak jarang jajan di sekolah karena jarang mendapat uang jajan kalaupun ada
jumlahnya kecil sekali. Kebiasaan jajan di sekolah adalah jajan permen.
Anak-anak jarang mengonsumsi makanan kudapan selain makanan rebusan karena
sebagian besar orangtua jarang membuat kudapan di rumah (apabila ada persediaan
bahan di rumah dibuatkan rebusan ubi atau pisang terkadang juga digoreng).
Ibu menyusui dilarang makan papaya dan daunnya karena dapat menyebabkan gatal-
gatal pada bayi.
Pada ibu hamil dilarang makan telur, daging, ikan lele, mangga, nanas, durian, kuini,
kasturi, timun, air es, dan herbal.
Pada upacara ritual missal kelahiran anak disajikan daging ayam dan pisang kulit manta
sebagai makanan khusus.
Pada masa kemarau, dicirikan dengan tingginya konsumsi gula sebagai sumber energi.
Ibu-ibu yang mengikuti kelompok memasak sudah tahu cara membuat kudapan namun
tidak punya cukup uang untuk membeli bahan lain seperti gula, tepung, dsb.
Food taboo berdasarkan nama marga.
- Marga Tahus dilarang makan ikan, wanita hamil dilarang makan ikan, ayam, dan
kacang-kacangan.
- Marga Bekitolas dan Maumutin: ibu hamil dilarang makan kacang-kacangan karena
diyakini membuat janin kotor atau sakit, kacang hijau membuat janin besar dan
kesulitan kelahiran.





(BPS NTT. 2010 ; Martianto, Derajat., dkk. 2008)

c. Makanan lokal apa saja yang bisa digunakan untuk PMT yg sesuai standar dan Sosio-Budaya
yang mempengaruhi pembuatan PMT?
- Semua makanan lokal dapat digunakan karena bahan makanan yang dapat digunakan
berasal dari daerah setempat (local) dan juga pemanfaatan bahan local dalam inovasi
produk pangan local dapat memperkuat feeding system serta berkontribusi untuk
ketahanan pangan dan nilai gizi yang lebih baik (Ramachandran, 2002).
- Sosbud yang mempengaruhi pembuatan PMT-AS :
a. Kesadaran diri anak-anak karena tidak terlalu suka sayur.
b. Penggunaan daging ternak (babi, kambing, sapi) hanya digunakan saat upacara-
upacara tertentu saja, karena hewan ternak dianggap mencerminkan status social
sehingga ternak jarang atau susah diperjualbelikan di daerah tersebut.

11. SERTIFIKAT HALAL
a. Bagaimana alur pengajuan dari produsen ke pihak yang berwenang (sampai
mendapatkan sertifikat)?
Posedur Pengajuan Sertifikat Halal dibedakan berdasarkan tipe produsen
1. Bagi industri Pengolahan
(a) Produsen harus mendaftarkan eluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama dan
atau memiliki merk/brand yang sama
(b) Produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi termasuk pabrik pengemasannya
(c) Ketentuan untuk tempat maklon haus dilakukan di perusahannya yang sudah
mempunyai produk bersertifikat halal atau besedia disertifikasi
2. Bagi restoran / katering
a) Restoran / katering haus emndaftrakan seluruh menu yang dijual temasuk produk-
produk titipan, kue ulang tahun serta menu minuman
b) Haus mendapatkan seluruh geai, dapur serta gudang
3. Bagi rumah potong hewan
Produsen harus emndapatkan seluruh tempat penyembelihan yang berada dalam suatu
perusahaan yang sama.

















































Beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan pemohon :
Pertama-tama produsen yang menginginkan sertifikat halal mendaftarkan ke sekretariat LPPOM
MUI dengan ketentuan sebagai berikut :
- Produsen harus mendaftarkan seluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama
dan/atau yang memiliki nerek/brand yang sama
- Produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi produksi termasuk pabrik pengemasan.
Setiap produsen yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal bagi produknya, harus mengisi
Form yang telah disediakan. Form tersebut berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan
nama produk serta bahan-bahan yang digunakan.
Form yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke sekretariat LP POM MUI
untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai
dengan ketentuan.
LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit. Tim Auditor LPPOM MUI
akan melakukan pemeriksaan/audit ke lokasi produsen dan pada saat audit, perusahaan harus
dalam keadaan memproduksi produk yang disertifikasi.
Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboratorium (bila diperlukan) dievaluasi dalam Rapat Auditor
LPPOM MUI. Hasil audit yang belum memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan
melalui audit memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat laporan
hasil audit guna diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya.
Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam Sidang Komisi Fatwa Mui
pada waktu yang telah ditentukan.
Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolak laporan hasil audit jika dianggap belum memenuhi
semua persyaratan yang telah ditentukan, dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen
pemohon sertifikasi halal.
Sertifikat Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah ditetapkan status kehalalannya
oleh Komisi Fatwa MUI.
Sertifikat Halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan fatwa.
Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus mengajukan
perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan LPPOM MUI.






Dokumen2 standar untuk sertifikasi
























Keterangan :
Pada diagram alir (Gambar 1) pengertian Dokumen SJH adalah sebagai berikut:
1. Untuk perusahaan baru yang belum memiliki SH MUI, Dokumen SJH yang dibutuhkan
adalah :
a) Dokumen SJH1) berupa surat pernyataan di atas materai bahwa perusahaan bersedia
menyerahkan Manual SJH Standard paling lambat 6 bulan setelah terbitnya SH.
Dokumen sertifikasi
produk
Pendaftaran
Dokumen SJH
1
Audit produk
Audit
memorandu
m bahan
Evaluasi Audit
Fatwa ulama
Sesuai
Dokumen SJH
1
Sertifikat
Halal
b) Dokumen SJH2) berupa Manual SJH minimum yang terdiri dari klausul kebijakan halal,
struktur manajemen halal dan ruang lingkup penerapan SJH.
2. Untuk perusahaan yang telah memiliki SH MUI namun audit implementasi SJH belum
dilakukan, Dokumen SJH yang dibutuhkan adalah :
a) Dokumen SJH1) berupa Manual SJH Minimum terdiri dari : klausul kebijakan halal,
struktur manajemen halal dan ruang lingkup penerapan SJH.
b) Dokumen SJH2) berupa Manual SJH Standar terdiri dari :
I.Infor masi Dasar Perusahaan
II. Kendali Dokumen
III. Tujuan Penerapan
IV. Ruang Lingkup Penerapan
V. Kebijakan Halal
VI. Panduan Halal
VII.Struktur Manajemen Halal
VIII. Standard Operating Procedures (SOP)
IX. Acuan Teknis
X. Sistem Administrasi
XI. Sistem Dokumentasi
XII. Sosialisasi
XIII. Pelatihan
XIV. Komunikasi Internal dan Eksternal
XV. Audit Internal
XVI. Tindakan Perbaikan
XVII. Kaji Ulang Manajemen
3. Untuk perusahaan yang telah mendapatkan status SJH minimal B (cukup) dan akan
memperpanjang masa berlaku SH-nya, Dokumen SJH yang dibutuhkan adalah :
a) Dokumen SJH1) berupa laporan berkala terkini dan Revisi Manual SJH (jika ada) atau
copy status SJH minimal B atau Sertifikat SJH.
b) Dokumen SJH2) tidak diperlukan.



Alur pengajuan secara umum dari produsen ke pihak yang berwenang (sampai mendapatkan
sertifikat)
Registrasi
Perusahaan mendaftarkan sertifikat secara onlen dan offlen.
Pembayaran sertifikat
Pembayaran sertifikat merupakan kontrak dan pembayaran yang dapat ditransfer ke
LPPOM MUI Account.
Mengecek kelengkapan Dokumen
Ferivikasi dari document selesai dengan form registrasi dan semua document yang
dibutuhkan.
Implementasi Audit
Dapat diselesaikan dengan dua auditor. Jika dalam proses ini bisa ditentukan halal
tidaknya makanan maka sertifikat akan diproses.
Post Audit Evaluation
- Audit meeting
- Fatwa cimmision meeting
Laboratory analysis (MUI, 2010)

*tambahan : Penilaian penerapan SJH (System Jaminan Halal)
Prinsip Penilaian
Prinsip penilaian atas dokumentasi dan implementasi SJH di perusahaan adalah :
1. Mengikuti semua ketentuan LPPOM MUI
2. Memenuhi semua persyaratan administrasi
3. Sesuai dengan prinsip-prinsip SJH
4. Kecocokan antara manual dan implementasi
5. Kemampuan sistem dalam menjamin kehalalan
Pelaksanaan Audit
Penilaian atas dokumentasi dan implementasi SJH perusahaan meliputi:
1. Ketersediaan Dokumen (sesuai persyaratan dalam proses sertifikasi halal)
2. Penilaian kecukupan dan kesesuaian Manual SJH (On Desk Appraisal)
3. Audit Lapang (Implementasi)
4. Evaluasi dan penilaian dalam Rapat Auditor
5. Kategorisasi pelaksanaan SJH
Kriteria Perusahaan
Kriteria sebuah produsen siap untuk dilakukan audit implementasi SJH:
1. Memiliki Manual SJH standard
2. Memiliki Tim Auditor Halal Internal dan mengimplementasikan SJH sedikitnya
selama 6 bulan
3. Telah melakukan audit internal SJH
4. Telah menyerahkan minimal 3 kali laporan berkala pada masa waktu SH
sebelumnya (untuk perpanjangan)
Kategori Penilaian
Setelah dilakukan audit implementasi SJH di perusahaan, mak aLPPOM akan
memberikan hasil penilaian atas kinerja pelaksanaan SJH di perusahaan.
Kategorisas penilaian adalah sebagai berikut :
1. Baik ( A ), jika pencapaian (achievement) telah mencapai 90% - 100%
2. Cukup ( B ), jika pencapaian (achievement) baru mencapai 80% - 90%
3. Kurang ( C ), jika pencapaian (achievement) baru mencapai 70% - 80%
4. Tolak ( D ) jika pencapaian (achievement) berada dibawah 70%

b. Masa berlaku sertifikat halal
- Masa berlaku Sertifikat Halal adalah 2 tahun. Hal tersebut untuk menjaga
konsistensi produksi produsen selama berlakunya sertifikat.
1. Sertifikat Halal hanya berlaku selama dua tahun, untuk daging yang diekspor Surat Keterangan
Halal diberikan untuk setiap pengapalan.
2. Tiga bulan sebelum berakhir masa berlakunya sertifikat, LP-POM MUI akan mengirimkan surat
pemberitahuan kepada produsen yang bersangkutan.
3. Dua bulan sebelum berakhir masa berlakunya sertifikat, produsen harus daftar kembali untuk
Sertifikat Halal yang baru.
4. Produsen yang tidak memperbaharui Sertifikat Halalnya, tidak dizinkan lagi
menggunakan Sertifikat Halal tersebut dan dihapus dari daftar yang terdapat dalam majalah
resmi LP-POM MUI, Jurnal Halal.
5 Jika Sertifikat Halal hilang, pemegang harus segera melaporkannya ke LP-POM MUI.
6. Sertifikat Halal yang dikeluarkan oleh MUI adalah milik MUI. Oleh sebab itu, jika karena
sesuatu hal diminta kembali oleh MUI, maka pemegang sertifikat wajib menyerahkannya.
7. Keputusan MUI yang didasarkan atas fatwa MUI tidak dapat diganggu gugat.

Prosedur Perpanjangan Sertifikat Halal:
1. Produsen harus mendaftar kembali dan mengisi borang yang disediakan.
2. Pengisian borang disesuaikan dengan perkembangan terakhir produk.
3. Produsen berkewajiban melengkapi kembali daftar bahan baku, matrik produk versus
bahan serta spesifikasi, sertifikat halal dan bagan alir proses terbaru.
4. Prosedur pemeriksaan dilakukan seperti pada pendaftaran produk baru.
5. Perusahaan harus sudah mempunyai manual Sistem Jaminan Halal sesuai dengan
ketentuan prosedur sertifikasi halal di atas.
(MUI. 2010)
c. Peraturannya
Landasan Hukum mengenai Sertifikat halal
Keputusan Menteri Agama RI nomor 518 tahun 2001 tentang pedoman dan tata cara
pemeriksaan dan penetapan pangan halal
Peraturan Pemeintah RI No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM-MUIKeputusan Mentri Kesehatan dan
Menteri Agama No. 427 / MENKES / SKB / VIII / 1985
UU RI No 7 1996 tentang pangan
Contoh pasal 30 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut :
Label yang sebagaimana dimaksut pada ayat (1) memuat sekurang-kurangnya
keterangan mengenai :
a. Nama produk
b. Daftar bahan yang digunakan
c. Berat bersih atau isi bersih
d. Nama dan alamat pabrik yang memproduksi atau memasukkan pangan kedalam
wilayah Indonesia
e. Keterangan halal
f. Tanggal,bulan, dan tahun kadaluarsa
(Piagam Kerjasama Depkes, Depag, MUI tahun 1996)

LOGO MUI




Sertifikat halal berlaku selama 2 tahun dan dapat diperbaharui untuk jangka waktu yang
sama
Sertifikat halal dapat dicabut apabila produsen/importir pemegang sertifikat tersebut
melakukan pelanggaran dibidang pangan halal
Lembaga pemeriksa berhak melakukan pemeriksaan mendadak
Jika terjadi perubahan proses produksi, bahan baku, bahan tambahan, audit halal
internal wajib melapor untuk dievaluasi dan disetujui oleh MUI sebelum digunakan
Produsen/importir yang telah memperoleh sertifikat halal, wajib mencantumkan label
halal pada kemasan produknya
Wajib dicantumkan nomor sertifikat halal dan tulisan halal dengan huruf arab dan
latin
Label halal wajib dibuat dalam bentuk yang tidak mudah rusak dan tidak dapat
dipalsukan, serta dalam ukuran tertentu.(Kepmen Agama RI. 2001)

d. Syarat untuk mendapatkan sertifikat halal
Syarat penulisan logo Halal pada sebuah produk
Ditulis dalam sebuah lingkaran
Tedapat tulisan Majelis Ulama Indonesia
Terdapat tulisan halal, baik dalam bahasa indonesia maupun arab
Terdapat tulisan arab
Dan ada nomor sertifikat halal
Diletakkan dibagian yang mudah telihat dai sebuah label pangan
(sumber : LPPOM-MUI)



Syarat suatu bahan makanan boleh memperoleh sertifikat halal :
Tidak mengandung babi dan bahaya yang berasal dari babi
Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan sepeti : bahan-bahan yang berasal
dari organ manusia, darah koto-kotoran, darah, bangkai, babi, anjing, binatang buas,
binatang yang hidup di dua alam, binatang yang menjijikkan, burung yang
bercakar tajam dan binatang bertaring.
Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, pengolahan dna tansportasinya tidak
boleh digunakan untuk babi. Jika pernah digunakan untuk babiata barang yang tidak
halal lainnya terlebih dahulu harus dibersihkan dengan tata cara yang diatur dalam
syariat islam
Syarat pengolahan :
a. Penyembelih (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syariat Islam sehari
hari)
b. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih)
c. Peralatan/pisau (harus tajam)
d. Proses pasca penyembelihan (hewan harus benar-benar mati sebelum proses
selanjutnya dan darah harus keluar secara tuntas)
Syarat untuk daging import
a) Harus dilengkapi dengan sertifikat halal dari lembaga yang diakui LP POM MUI.
b) Harus dilengkapi dengan dokumen pengapalan dan dokumen lainnya (kesehatan, dan
sebagainya).
c) Harus ada kecocokan antara sertifikat halal dengan dokumen lain.
d) Harus ada kecocokan antara dokumen dengan fisik (kemasan, label, dan lain-lain)
e) Harus ada kecocokan nomor lot, plant number, tanggal penyembelihan, dan
sebagainya.
Syarat beberapa bahan makan oleh fatwa MUI (Lebih Spesifik)
1. Khamr
a. Segala sesuatu yang memabukkan dikategorikan sebagai khamr.
b. Minuman yang mengandung minimal 1 % ethanol, dikategorikan sebagai khamr.
c. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis.
d. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang mengandung kurang dari 1 %
ethanol, tidak dikategorikan khamr tetapi haram untuk dikonsumsi.
2. Ethanol
a. Ethanol yang diproduksi dari industri bukan khamr hukumnya tidak najis atau suci.
b. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri non khamr di dalam produksi pangan
diperbolehkan, selama tidak terdeteksi pada produk akhir.
c. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri khamr tidak diperbolehkan.
3. Hasil Samping Industri Khamr
a. Fusel oil yang berasal dari hasil samping industri khamr adalah haram dan najis
b. Komponen bahan yang diperoleh dari industri khamr melalui pemisahan secara fisik
adalah haram (contohnya iso amil alkohol),
c. Tetapi apabila direaksikan untuk menghasilkan bahan baru, bahan baru tersebut
adalah halal.
4. Flavor Yang Menyerupai Produk Haram
Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram,
contohnya flavor rum, flavor babi, dan lain-lain, tidak bisa disertifikasi halal serta tidak
boleh dikonsumsi walaupun ingredien yang digunakan adalah halal.
5. Produk Mikrobial
Produk mikrobial adalah halal selama ingredien medianya (mulai dari media penyegaran
hingga media produksi) tidak haram dan najis.
6. Penggunaan Alat Bersama
a. Bagi industri yang memproduksi produk halal dan non halal maka untuk menghindari
terjadinya kontaminasi silang, pemisahan fasilitas produksi harus
b. Dilakukan mulai dari tempat penyimpanan bahan, formulasi, proses produksi dan
penyimpanan produk jadi.
c. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan non-babi
meskipun sudah melalui proses pencucian.
7. Daging
Daging yang berasal dari hewan halal dapat menjadi tidak halal jika disembelih tanpa
mengikuti aturan syariat Islam. Hal-hal yang menjadi titik kritis proses penyembelihan
adalah sebagai berikut :
a. Penyembelih (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syariat Islam
sehari-hari).
b. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih).
c. Peralatan/pisau (harus tajam)
d. Proses pasca penyembelihan (hewan harus benar-benar mati sebelum proses
selanjutnya dan darah harus keluar secara tuntas).
Untuk daging impor perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini :
a. Harus dilengkapi dengan sertifikat hala dari lembaga yang diakui LP POM MUI.
b. Harus dilengkapi dengan dokumen pengapalan dan dokumen lainnya (kesehatan dan
sebagainya).
c. Harus ada kecocokan antara sertifikat halal dengan dokumen lain.
d. Harus ada kecocokan nomor lot, plant number, tanggal penyembelihan, dan
sebagainya.
8. Bahan Turunan Hewani
Bahan turunan hewani berstatus halal dan suci jika berasal dari hewan halal yang
disembelih sesuai dengan syariat Islam, bukan berasal dari darah dan tidak bercampur
dengan bahan haram atau najis. Berikut ini disampaikan contohcontoh bahan turunan
hewani / mungkin berasal dari turunan hewani :
Lemak
Protein
Gelatin
Kolagen
Asam lemak dan turunannya (E430-E436)
Garam atau ester asam lemak (E470-E495)
Gliserol/gliserin (E422)
Asam amino (contoh : sistein, fenilalanin, dan sebagainya)
Edible bone phosphate (E521)
Di/trikalsium fosfat
Tepung plasma darah
Konsentrat globulin
Fibrinogen
Media pertumbuhan mikroba (contoh : blood agar)
Hormon (contoh : insulin)
Enzim dari pankreas babi/sapi (amilase, lipase,pepsin, tripsin)
Taurin
Plasenta
Produk susu, turunan susu dan hasil sampingnya yang diproses menggunakan enzim
(contoh: keju, whey, laktosa, kasein/kaseinat)
Beberapa vitamin (contoh: vitamin A, B6, D, E)
Arang aktif
Kuas
9. Bahan Nabati
Bahan nabati pada dasarnya halal, akan tetapi jika diproses menggunakan bahan
tambahan dan penolong yang tidak halal, maka bahan tersebut menjadi tidak halal. Oleh
karena itu perlu diketahui alur proses produksi beserta bahan tambahan dan penolong
yang digunakan dalam memproses suatu bahan nabati. Berikut ini disampaikan
beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis:
Tepung terigu dapat diperkaya dengan berbagai vitamin antara lain B1, B2, asam
folat.
Oleoresin (cabe, rempah-rempah dan lain-lain) dapat menggunakan emulsifier
(contoh: polysorbate/tween & glyceril monooleat yang mungkin berasal dari
hewan), supaya dalam larut air.
Lesitin kedelai mungkin menggunakan enzim fosfolipase dalam proses
pembuatannya untuk memperbaiki sifat fungsionalnya.
Hydrolyzed Vegetable Protein (HVP) perlu diperhatikan jika proses hidrolisisnya
menggunakan enzim.
10. Produk hasil samping industri minuman beralkohol dan turunannya
Produk/bahan hasil samping industri minuman beralkohol beserta turunannya berstatus
haram jika cara memperolehnya hanya melalui pemisahan secara fisik dan produk masih
memiliki sifat khamr. Akan tetapi jika bahan/produk tersebut direaksikan secara kimiawi
sehingga menghasilkan senyawa baru, maka senyawa baruyang telah mengalami
perubahan kimiawi statusnya menjadi halal. Beberapa contoh produk hasil samping
industri minuman beralkohol dan turunannya yang merupakan titik kritis :
Cognac oil (merupakan hasil samping distilasi cognac/brandy)
Fusel Oil (merupakan hasil samping distilled beverages) dan turunannya seperti
isoamil alkohol, isobutil alkohol, propil alkohol,
gliserol, asetaldehid, 2,3 butanadiol, aseton dan diasetil dan sebagainya).
Brewer yeast (merupakan hasil samping industri bir)
Tartaric Acid (hasil samping industri wine)
11. Produk Mikrobial
Status produk mikrobial dapat menjadi haram jika termasuk dalam kategori berikut :
Produk mikrobial yang jelas haram, yaitu produk minuman beralkohol (khamr)
beserta produk samping dan turunannya.
Produk mikrobial yang menggunakan media dari bahan yang haram pada media
agar, propagasi dan produksi. Contoh media yg haram atau diragukan kehalalannya
diantaranya : darah, pepton (produk hasil hidrolisis bahan berprotein seperti
daging, kasein atau gelatin menggunakan asam atau enzim),
Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya melibatkan enzim dari bahan
yang haram.
Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya menggunakan bahan penolong
yang haram. Contohnya adalah penggunaan anti busa dalam kultivasi mikroba yang
dapat berupa minyak/lemak babi, gliserol atau bahan lainnya.
Produk mikroba rekombinan yang menggunakan gen yang berasal dari bahan yang
haram. Contohnya adalah sebagai berikut :
a. Enzim amilase dan protease yang dihasilkan oleh Saccharomyces cerevisae
rekombinan dengan gen dari jaringan hewan.
b. Hormon insulin yang dihasilkan oleh E. coli rekombinan dengan gen dari jaringan
pankreas babi.
c. Hormon pertumbuhan (human growth hormone) yang dihasilkan oleh E. coli
rekombinan.
12. Bahan-bahan lain
Selain kelompok bahan-bahan di atas, berikut ini adalah contoh bahan/kelompok bahan
lain yang belum sering menjadi titik kritis.
Aspartam (terbuat dari asam amino fenilalanin dan asam aspartat)
Pewarna alami
Flavor
Seasoning
Bahan pelapis vitamin
Bahan pengemulsi dan penstabil
Anti busa
Dan lain-lain
(LP POM MUI, 2008)

e. Sistem pengawasan dari MUI
Pemeriksaan (audit) produk halal mencakup :
1. Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem Jaminan Halal).
2. Pemeriksaan dokumen-dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal-usul bahan,
komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat halal pendukungnya,
dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi serta dokumen
pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.
3. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai dari
penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan penggudangan serta penyajian
untuk restoran/catering/outlet.
4. Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan harus
terpenuhi.
5. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu.

Sistem Pengawasan Sertifikat Halal :
1. Perusahaan wajib mengimplementasikan Sistem Jaminan Halal sepanjang
berlakunya Sertifikat Halal
2. Perusahaan berkewajiban menyerahkan laporan audit internal setiap 6 (enam)
bulan sekali setelah terbitnya Sertifikat Halal.
3. Perubahan bahan, proses produksi dan lainnya perusahaan wajib melaporkan dan
mendapat izin dari LPPOM MUI.

Lain-lain(tambahan):
- Perusahaan wajib menandatangani perjanjian untuk bersedia menerima tim sidak
LPPOM MUI
- Perusahaan wajib membuat manual system jaminan Halal guna menjamin kehalalan
produk yang dihasilkan

f. Pihak yang mengeluarkan sertifikat halal
Stakeholder (pemangku kepentingan) pada sertifikasi halal
Pemangku kepentingan terhadap proses sertifikasi halal antara lain:
1. Manajemen perusahaan
2. Auditor Halal Internal
3. LPPOM MUI
4. Komisi Fatwa MUI

Badan yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikat halal
Sertifikat Halal di Indonesia dikeluarkan oleh MUI. (LPPOM, 2008). Untuk tulisan Halal
hanya dapat dicantumkan pada pangan olahan yang mempunyai sertifikat Halal dari
lembaga yang berwenang di Indonesia (MUI) dan mendapat persetujuan pencantuman
tulisan Halal dari Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan.
(Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.5.12.11.09955 Tahun 2011)

g. Syarat memperoleh sertifikat halal LPPOM MUI bagi perusahaan dalam negeri dan luar
negeri
Syarat perusahaan dalam negeri
1. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebihdahulu harus mempersiapkan
Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang Sistem Jaminan Halal dapat merujuk
kepada Buku Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LP POM
MUI.
2. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI)
yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal.
3. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk diinspeksi secara mendadak tanpa
pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.
4. Membuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.
Syarat memperoleh sertifikat halal bagi perusahaan luar negeri harus ada pengakuan halal dari
Lembaga Sertifakasi Halal (LSH) yang diakui MUI
1. LSH harus didirikan oleh organisasi Islam setempat yang memiliki tugas utama untuk
memberikan edukasi sesuai dengan aturan Islam dan memfasilitasi kegiatan beribadah
dan pendidikan agama Islam.
2. Lembaga harus memiliki kantor tetap di bawah pengelolaan yang profesional dan
kredibel.
3. LSH harus memiliki komisi fatwa yang berperan untuk mengeluarkan fatwa halal dan tim
halal auditor.
4. LSH harus memiliki SOP untuk menjalankan proses sertifikasi halal.
5. Semua dokumen administrasi diatur pada sistem yang baik.
6. LSH harus memiliki jaringan kerjasama Internasional di bidang halal dan jadi anggota
WHFC (World Halal Food Council).
7. LSH harus mampu bekerja sama dengan MUI dalam menjaga dan mengawasi produk
halal yang ada di Indonesia. (The Decree of The National Coordination Meeting Between
the Indonesia Council of Ulama (MUI) Concerning Halal Products, 2009)

h. Kategori produk perusahaan pendaftar sertifikat halal MUI
a. Kategori Tidak Berisiko (No Risk)
- Tidak melibatkan bahan lain dan fasilitas yang digunakan terbebas dari najis dan
haram.
Contoh : tepung-tepungan, garam murni, madu, bihun, minyak wijen murni, dll.
- Isi manual SJH : kebijakan halal, surat kesanggupan untuk mensosialisasikan
kebijakan halal, dan melaporkan secara tertulis bila ada perubahan atau
penambahan bahan, fasilitas, daftar bahan dan diagram alir, proses produksi,
proses laporan berkala 6 bulan sekali.
- Proses sertifikasi halal jika dalam 2 tahun pertama pelaksanaan SJH terjaga
konsistensinya maka sertifikat SJH berlaku sampai 4 tahun sehingga pada proses
perpanjangan dilakukan audit administrasi.
b. Resiko rendah (Low risk)
- Melibatkan 1 atau 2 bahal kritis yang bukan kategori sangat beresiko dan fasilitas
bebas najis dan haram. Contoh : mi telot, minyak goreng, pacar cina, dll.
- Isi manual SJH kebijakan halal, prosedur tertulis untuk menangani bahan kritis,
sosialisasi halal, pelaksanaan audit internal, prosedur pelaporan 6 bulan sekali dan
menejemen review.
- Tidak ada perubahan proses sertifikasi.
c. Resiko Sangat Tinggi (Very High Risk)
- Melibatkan bahan hewani dan atau bahan kritis lainnya . Contoh : Rumah potong
hewan, gelatin, whey, and lactose, kondroitin, kolagen, dll
- Bentuk manual SJH : manual SJH standar lengkap dengan tambahan uraian
kesetimbangangan masa dengan antara potensi ketersediaan sumber bahan baku
dengan produk halal yang dihasilkan
- Proses sertifikasi halal:
1. Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan tidak ada kontaminasi bahan dari
babi
2. Wajib audit pemantauan setelah satu tahun berlaku sertifikat halal
d. Berisiko (risk)
- Diluar kategori diatas
- Bentuk manual SJH : Manual SJH standar lengkap (SK LP POM MUI 2011)
- Sertifikat halal dikeluarkan oleh MUI setelah ditetapkan status kehalalanya oleh
komisi Fatwa MUI
- Sertifikat halal berlaku selama 2 tahun sejak tanggal penetapan fatwa
3 bulan sebelum masa berlaku berakir produsen harus mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai
dengan aturan yang ditetapkan LP POM- MUI (LP POM MUI,2008)

12. BAGAIMANA ATURAN PENGEMASAN SUATU PRODUK MAKANAN?
Pembagian Kemasan
1. Kemasan primer: kemasan langsung bersentuhan dengan makanan, bisa terjadi mix
komponen bahan kemasan yang berpengaruh terhadap makanan yang mempengaruhi rasa dan
wangi.
2. Kemasan sekunder: kemasan lapis kedua setelah kemasan primer bertujuan memberikan
perlindungan kepada produk.
3. Kemasan tersier: kemasan lapis ketiga setelah kemasan sekunder , dengan tujuan untuk
memudahkan proses transportasi agar lebih praktis dan efisien.

Jenis-Jenis Kemasan
1. Berdasarkan frekuensi pemakaian:
- Kemasan sekali pakai: harus dibuang. contoh: Permen
- Kemasan dapat dipakai berulang kali. contoh: botol kaca
- kemasan yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen: kaleng biscuit

2. Berdasarkan struktur system kemas(kontak produk dengan kemasan)
- kemasan primer: kemasan yang langsung mewadahi bahan pangan. contoh kaleng susu.
- kemasan sekunder: kemasan yang fungsi utamanya melindungi kemasan basah. contoh
kotak untuk mewadahi susu dalam kaleng.
- kemasan tersier: kemasan yang dipakai untuk mengemas setelah kemasan primer dan
sekunder. digunakan untuk melindungi selama pengangkutan.

3. Berdasarkan sifat kekakuan bahan
- kemasan fleksibel: yang mudah dilenturkan. contoh: plastic.
- kemasan kaku: bersifat keras. contoh gelas.
- kemasan semi kaku: contoh botol kecap plastic.

4. Berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan
- kemasan hermetic (tahan uap dan gas), contohnya kaleng yang tidak berenamel.
- kemasan tahan cahaya atau tidak transparan, contohnya kemasan logam dan fold:
cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi serta
makanan hasil fermentasimempengaruhi aktifitas enzim.
- kemasan tahan suhu tinggi: untuk bahan yang melalui proses pemanasan pasteurisasi
dan sterilisasi. contohnya logam dan gelas.

5. Berdasarkan tingkat kesiapan pakai
- wadah siap pakai: kemasan yang siap diisi dengan bahan yang telah sempurna. contoh
botol.
- wadah yang siap dirakit: kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum
diisi. contoh kardus susu.
(Buku Ajar: Teknologi Pengemasan, Julianti dan Nurninah, 2007)

Syarat Pengemasan Secara Umum:
1. Kuat, menarik, dan dapat menjual
2. Mudah untuk diletakkan
3. Memiliki barcode
4. Tidak terlalu besar atau kecil
5. Disesuaikan dengan nilai barang dan daya beli
6. Sesuai keperluan pasar
7. Wadah harus dapat melindungi isi
8. Wadah harus dibuat dari bahan yang tidak melepaskan zat yang dapat mengganggu
kesehatan
9. Kandungan logam berbahaya:
Pb, cd, hg kurang dari 100 ppm.
(Utami, Budi.2009).

Syarat lain kemasan:
1. Kemasan pangan tidak bersifat toksik,
2. Tidak meninggalkan residu
3. Harus menjaga bentuk rasa, kebersihan, dan gizi
4. Senyawa bahan toksik kemasan tidak boleh bermigrasi dalam bahan pangan terkemas
5. Bentuk ukuran dan jenis kemasan dapat memberikan efektifitas tidak mencemari
lingkungan

Jenis Kemasan
1. Polietilen Tera Fialat (PET)
2. High Density Polyethylene (HDPE)
3. Poliviril Klorida (PVC)
4. Low Density Polyethylene (LDPE)
5. Polipropilen (PP)
6. Polistinen(PS)
7. Polistinenbusa (EDS_STEROFOAM)
8. Polikarbonat
9. Melanin Formalidehid(MF)

Persyaratan Kemasan:
1. Batas migrasi bahan dasar yang diijinkan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat 1
2. Bahan dasar digunakan sesuai tipe pangan dan kondisi penggunaan tertentu
3. Tipe pangan dan kondisi penggunaan yang dimaksud pada ayat 2 dan yang tercantum
dilampiran
4. Dan dijelaskan pada bab 3 pasal 5, 6, 7, 8, 9
(Badan POM RI)

Jenis Pengemasan:
1. Gelas: bersifat transparan, tidak mempengaruhi produk yang dikemas. Dapat disterilisasi,
tahan terhadap perubahan suhu
2. Plastic: lebih ringan, praktis, fleksibel, murah, tidak mudah pecah, dapat dilengkungkan atau
dibengkokkan
3. Logam

Pengemasan Bahan Pangan Harus Memperhatikan:
- harus dapat mempertahankan produk agar bersih
- harus member perlindungan pada bahan pangan terhadap kerusakan fisik, oksigen dan
sinar
- harus berfungsi secara benar, efisien, dan ekonomis dan melewati proses pengepakan
- harus mempunyai suatu tingkat kemudahan untuk dibentuk menurut rancangan
- harus memberi keterangan dan daya tarik penjualan
Peraturan pemerintahan yang mengatur kemasan makanan yakni bagian VI pasal 6-19 UU RI No.
7 Tahun 1996 yang isinya mencakup:
1. Dilarang menggunakan bahan terlarang untuk kemasan pangan
2. Menghindari terjadinya kerusakan dan adanya pencemaran saat pengemasan
3. Bahan kemasan dan syarat pengemasan ditentukan pemerintah
4. Dilarang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas lagi dan diperdagangkan
(Peraturan Pengemasan Pangan, tanpa tahun)

Cara Pengemasan
1. Pengemasan atmosfer termodifikasi (MAP)
Pengemasan produk dengan menggunakan bahan kemasan yang dapat menahan keluar
masuknya gas sehingga konsentrasi gas di dalam kemasan berubah dan ini menyebabkan laju
respirasi produk menurun, mengurangi pertumbuhan mikroba, mengurangi kerusakan oleh
enzim, serta memperpanjang umur simpan. MAP banyak digunakan dalam teknologi olah
minimal buah-buahan dan syuran segar dan bahan pangan yang siap santap.

2. Kemasan aktif adalah teknik kemasan yang mempunyai indicator eksternal atau internal untuk
menunjukkan secara aktif perubahan bentuk serta menentukan mutunya.

3. Teknik kemasan pintar yang ada saat ini mempunyai indicator untuk suhu dan indicator O2.
Indokator ini bertjuan untuk menunjukkan apa produk di dalam sudah menurun, sebelum
produk tersebut menjadi rusak.

4. Kemasan aseptik adalah mengisi wadah steril dengan produk komersial steril dibawah kondisi
aseptic.

13. ZAT GIZI YANG PERLU DIUTAMAKAN UNTUK PEMULIHAN KONDISI WASTING
PADA ANAK SEKOLAH
Pemberian PMT-Pemulihan yang mengandung semua nutrisi, ditambah dengan vitamin dan
mineral. Formula ini mengandung lemak nabati, whey, gula kompleks, mineral dan vitamin
sehingga cocok untuk fase pemulihan yang membutuhkan makanan padat gizi untuk
memperbaiki jaringan tubuh yang rusak (catch up).
PMT yang diberikan mengandung:
- Protein : semua jenis asam amino essensial khususnya lisin dan triptofan.(Munimbula et
al.2011)
- Lemak : lemak MCT yang mudah di absorbsi dan dapat membantu meningkatkan
penyerapan vitamin A,D,E,K.
- Karbohidrat : untuk karbohidrat berupa glukosa primer (bebas laktosa) sehingga lebih
mudah diabsorbsi oleh tubuh.
- Mikromineral : Seng (Zn), kalium , magnesium dan tembaga (Cu): dapat membantu dalam
proses pertumbuhan balita, di butuhkan saat diare serta dehidrasi. (farida, 2012 )
Zat besi berperan dalam metabolism energi system kognitif serta imunitas. Yodium
berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, pembentukan eritrosit, fungsi otot dan
saraf serta sintesis protein dan absorbs karbohidrat di saluran cerna. Mangan berperan
dalam kofaktor enzim dalam metabolism karbohidrat dan lipid. Kromium juga berperan
dalam metabolism karbohidrat dan lipid, dimana kromium bekerjasama dengan insulin
dalam memudahkan glukosa masuk ke sel. (Almatsier, 2009)
- Vitamin : berperan dalam tahap reaksi metabolism energi, pertumbuhan dan pemeliharaan
tubuh, dan sebagai koenzim. Contohnya: vitamin A yang berfungsi sebagai system imun dan
pertumbuhan dimana defisiensi vitamin A dapat meningkatkan resiko penyakit infeksi (
penyakit saluran pernafasan, diare, resiko kematian karena campak) serta keterlambatan
pertumbuhan. Vitamin A juga berperan dalam sintesa protein dan berperan terhadap
pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B. vitamin C berperan dalam koenzim dan mencegah
infeksi. Vitamin B berperan dalam metabolism karbohidrat, protein, lipid, asam nukleat
berperan dalam proses glikolisis, pernafasan sel dan detoksifikasi.(Almatsier, 2009)








14. Bagaimana alur intervensi jika akan melakukan intervensi tersebut?
(analisanya hanya pada saat mau mengintervensi)?
Alur intervensi PMT-AS











(Rahartato, 1998)





15. Peraturan perundang undangan yang berhubungan dengan :
a. Food Labeling
Peraturan tentang food labelling
1. UU no.7 tahun 1996 tentang pangan.
Menjelasakan tentang tujuan pemberian label pangan pada pangan yang dikemas, baik
menyangkut asal, keamanan, mutu, kandungan gizi, maupun keterangan lain yang
diperlukan sebelum memutuskan akan membeli atau mengonsumsi pangan tersebut.
2. Keputusan Dirjen POM No.02240/BSIK/VII/1991 tentang etiket kemasan makanan,
pedoman persyaratan mutu serta periklanan makanan.
3. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI no.HK 03.1.23.1.11.09909 tahun 2011
tentang pengawasan klaim dalam label pangan dan iklan pangan olahan.
PUSAT
PROPINSI
KABUPATEN /
KODYA
KECAMATAN
DESA /
KELURAHAN
SD / MI
a. Ketentuan klaim
b. Jenis jenis klaim
4. BPOM RI no HK.00.05.52.4321 tahun tentang pedoman umum pelabelan produk
pangan.
5. PP RI no.69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan.
6. Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK.03.1.5.12.11.09955 TAHUN 2011 tentang pendaftaran pangan olahan
a. Pasal 1 : Definisi semua aspek tentang pangan olahan antara lain : surat
persetujuan pendaftaran, label, nomer pendaftaran pangan dan lain-lain.
b. Pasal 8-38: tentang prosedur pendaftaran pangan olahan
c. Pasal 39 : sanksi administrative bagi pelanggar.
- Jenis sanksi yang diberikan
- Pelanggaran yang dilakukan yang mendapat sanksi.
7. Pasal 5 ayat 2 UUD 1945
8. UU no.23 tahun 1992 tentang kesehatan
9. UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan

b. Nutrition fact
0. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan pasal 32 ayat 1 yang
menyatakan bahwa pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada label wajib
dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan mengandung vitamin, mineral dan zat gizi
lainnya dan sesuai dengan ketentuan di bidang mutu dan zat gizinya.
1. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan
2. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.05.52.6291 tentang Acuan
Label Gizi Produk Pangan menyatakan bahwa pencantuman keterangan tentang kandungan gizi
pangan pada label wajib dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan mengandung vitamin,
mineral dan zat gizi lainnya dan sesuai dengan ketentuan di bidang mutu dan zat gizinya dan
dicantumkan dalam persentase (BPOM. 2007)
3. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.06.51.0475 tentang Pedoman
Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan yang menyatakan bahwa masyarakat
berhak memperoleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan mengenai pangan yang akan
dikonsumsinya.
4. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK 00.05.1.2569 tanggal 31 Mei
2004 tentang Kriteria dan Tata Laksana Penilaian Produk Pangan

c. claims
c. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan
Pangan Olahan, Bab 1-6 pasal 1-26
d. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan pasal 33 (ayat 1)
Pencantuman persyaratan pada Label bahwa pangan merupakan sumber suatu gizi tidak
dilarang sepanjang jumlah zat gizi dalam pangan tersebut sekurang-kurangnya 10% lebih
banyak dari jumlah kecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji bagi
pangan tersebut. Dan (ayat 2) Pencantuman pernyataan pada Label bahwa pangan
mengandung suatu zat lebih unggul dari pada produk yang lain dilarang.
KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI RENDAH ATAU BEBAS
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Lebih Dari
Energi Rendah 40 kkal (170kJ) per 100 g (dalam bentuk padat) atau
20 kkal (80kJ) per 100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas 4 kkal per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Rendah 3 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
1,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
bebas 0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Jenuh Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak trans
Bebas 0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Lemak Trans Rendah 1,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,75 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh
bebas 0,1 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,1 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh
Kolesterol Rendah 0,02 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,01 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh dan rendah
lemak trans
Bebas 0,005 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,005 g per 100 ml (dalam bentuk cair)

Persyaratan lain:
Memenuhi persyaratan rendah lemak jenuh dan rendah
lemak trans
Gula Rendah 5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
2,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Bebas 0,5 g per 100 g (dalam bentuk padat) atau
0,5 g per 100 ml (dalam bentuk cair)
Natrium Rendah 0,12 g per 100 g
Sangat Rendah 0,04 g per 100 g
Bebas 0,005 g per 100 g

KLAIM KANDUNGAN ZAT GIZI SUMBER ATAU TINGGI
Komponen Klaim Persyaratan Tidak Kurang Dari
Protein Sumber 20 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
10 % ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Tinggi 35 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat)
17,5 % ALG per 100 ml (dalam bentuk cair)
Vitamin dan
Mineral
Sumber 15 % ALG per 100 g (dalam bentuk padat) atau
7,5 % ALG per 100 g (dalam bentuk cair)
Tinggi 2 kali jumlah untuk sumber
Serat Pangan Sumber 3 g per 100 g
Tinggi 6 g per 100 g
Sumber: Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan Pangan
Olahan
KLAIM KANDUGAN ZAT GIZI yang BERLAKU DI INDONESIA
Klaim Persyaratan
Mengandung
Memberikan
Merupakan sumber yang baik
Dalam satu sajian produk mengandung zat gizi tersebut
sedikitnya 10-19% dari yang di anjurkan (sesuai dengan
AKG untuk kelompok target per hari)
Tinggi
Kaya akan
Merupakan sumber yang sangat baik
Dalam satu sajian produk mengandung zat gizi tersebut
sedikitnya 20% dari yang dianjurkan (sesuai dengan AKG
untuk kelompok target per hari)
Sumber: Sihombing, Tetty H. Kajian Klaim Gizi dan Kesehatan Pada Produk Pangan untuk Bayi
dan Anak Balita serta Ibu Hamil dan Menyusui
d. Sertifikat halal
Keputusan Menteri Agama RI nomor 518 tahun 2001 tentang pedoman dan tata cara
pemeriksaan dan penetapan pangan halal
Peraturan Pemeintah RI No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM-MUI
Keputusan Mentri Kesehatan dan Menteri Agama No. 427 / MENKES / SKB / VIII / 1985

16. BAGAIMANA STANDAR KEMASAN YANG BAIK MENURUT SNI?
a. Food Labeling
Tidak mudah lepas dari kemasan
Tidak mudah luntur dan rusak
Terletak padabagian kemasan pangan yang mudah dibaca
Keterangan pangan dalam label harus benar dan tidak menyesatkan
(tulisan,gambar/bentuk lain)
Pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam label didukung oleh fakta
ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan
Dilarang pernyataan dapat digunakan sebagai obat
Dilarang mencantumkan nama, logo/identitas lembaga yang menganalisis produk
pangan
Makanan yang masuk dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan, menyatakan
bahwa pangan tersebut halal bagi umat islam,bertanggung jawab atas kebenaran
pernyataan tersebut, wajib mencantumkan keterangan/tulisan halal pada label.
Boleh menggunakan bahasa Indonesia, arab, latin
(kemenkes RI no.79/menkes/PER/III/1978)
Keterangan pada label ditulis dengan jelas dan tegas sehingga mudah dimengerti
Penggunaan istilah asing jika tidak ada padanannya atau untuk kepentingan luar negeri
(uu tahun 1996 pasal 31)
Ukuran huruf atau angka yang digunakan pada label harus cukup besar, dimana huruf
o tidak boleh < 1 mm (universe medium corps 10),kecuali tulisan/keterangan
tertentu
Ukuran huruf yang lebih kecil boleh digunakan pada bagian informasi untuk kemasan
yang berukuran sangat kecil
Khusus untuk informasi nilai gii,ukuran huruf yang berbeda boleh digunakan atau di
atur sendiri
Untuk produk yang dikemas dalam botol isi ulang atau table yang lebih luas permukaan
berukuran < 10 cm2, ukuran huruf atau angka yang dicantumkan pada tutup botol atau label
pangan tersebut tidak boleh digunakan atau diatur sendiri
Komponen minimal yang harus ada pada food labelling di Indonesia
Nama pangan olahan
Komposisi atau daftar ingredient
Isi netto/ berat bersih
Nama dan alamat pihak yang memproduksi/ memasukkan pangan ke dalam wilayah
indonesia
Nomor pendaftaran pangan
Kode produksi
Tanggal kadaluarsa
(Peraturan Kepala BPOM No.HK.03.1.5.1211.0955.th2011)


17. KEBIJAKAN APA SAJA YANG PERNAH DIKELUARKAN OLEH PEMERINTAH
TERKAIT FORMULASI MAKANAN (LABEL MAKANAN, CLAIM, DAN
SERTIFIKASI) ?
1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label Dan Iklan
Pangan Olahan
2. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.23.11.11.09605 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat Dan Makanan Nomor Hk.00.06.51.0475 Tahun 2005 Tentang Pedoman
Pencantuman Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan
3. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
Hk.03.1.5.12.11.09956tahun 2011 Tentang Tata Laksana Pendaftaran Pangan Olahan
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Dan
Iklan Pangan

18. PROSES APA SAJA YANG HARUS DILALUI SEBUAH PRODUK BARU SAMPAI
KE TANGAN KONSUMEN (MASYARAKAT) ?
1. Produk pangan yang akan dijual di wilayah Indonesia, baik produksi lokal maupun impor,
harus didaftarkan dan mendapatkan nomor pendaftaran dari Badan POM sebelum
diedarkan ke pasar.
2. Nomor pendaftaran berguna untuk mengawasi produk yang beredar di pasar, sehingga
apabila terjadi suatu kasus akan mudah ditelusuri siapa produsennya.
3. Nomor pendaftaran berlaku sepanjang tidak ada perubahan yang menyangkut komposisi,
proses meupun lokasi pabrik pengolah, dan lain-lain.
4. Setelah mendapat nomor pendaftaran, kemudian mengurus ijin edar sebagai jaminan
produk pangan memenuhi standar keamanan pangan, dengan diawali proses pendaftaran
PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) ke Departemen Kesehatan di masing-masing wilayah
(kabupaten/kota).
5. Dinkes akan mengadakan survei langsung ke lokasi pembuatan pangan yang didaftarkan.
Setelah itu Dinkes akan mengeluarkan 2 sertifikat, yaitu Sertifikat Penyuluhan dan Sertifikat
PIRT.
6. Selanjutnya mengajukan permohonan sertifikat halal dari LPPOM MUI untuk lebih
memastikan produk pangan aman untuk dikonsumsi.
7. Dengan didapatkannya ijin PIRT dan sertifikat halal, maka produk pangan sudah bisa
diedarkan ke masyarakat, namun bisa juga dilengkapi lagi dengan sertifikat pangan lainnya
seperti SNI, HACCP, ISO, dan lain-lain.
8. BPOM akan menganugerahi Piagam Bintang Keamanan Pangan terhadap industri pangan
yang produknya dianggap terjamin mutu keamanan pangannya, mulai dari proses produksi,
SDM, hingga sampai masyarakat
(Ichda, 2008)








Disatukan oleh Kelompok B
Mohon Maaf bila terdapat kesalahan dan kekurangan
Good Luck buat UTS nya kawan
Cemungud eaaa