Anda di halaman 1dari 22

RESUME MANAJEMEN INFRASTRUKTUR

(Studi Kasus: )
Disusun Oleh:
Inti Lestari (16309836)
Sarmag Sipil 2009A
1

Pendahuluan

2

Manajemen Infrastruktur

3

Jenis-Jenis Kemitraan

4

BOT

5

Pendanaan Infrastruktur

6

Contoh Kasus:

Diperlukan kerjasama yang sinergis antar pelaku untuk
mengoptimalkan dukungan pembiayaan infrastruktur
Jenis-jenis pembiayaan dapat berasal dari APBN/APBD,
BUMN/BUMD, dan KPS (Pemerintah-Swasta)
Permasalahan utama infrastruktur indonesia ialah
pembiayaan
Infrastruktur mengacu pada sistem fisik
yang menyediakan transportasi, air,
bangunan, dan fasilitas publik lain yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
dasar manusia secara ekonomi dan sosial
Manajemen: suatu proses untuk
memanfaatkan sumber daya manajemen
yang terbatas untuk mencapai tujuan
tertentu.
Kelompok jalan (jalan, jalan raya, jembatan)
Kelompok pelayanan transportasi (transit, jalan rel, pelabuhan,
bandar udara)
Kelompok air (air bersih, air kotor, semua sistem air, termasuk
jalan air)
Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat)
Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga luar
Kelompok produksi dan distribusi energi (listrik dan gas)
Perencanaan: bagian-bagian dari
kegiatan mulai dari studi
pengembangan sampai dengan
penyusunan dokumen kontrak kerja
konstruksi, yang dapat terdiri dari :
survei
perencanaan umum, studi makro dan studi mikro
studi kelayakan proyek, industri dan produksi
perencanaan teknik, operasi dan pemeliharaan
penelitian
Pelaksanaan
Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian layanan jasa
pelaksanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi
rangkaian kegiatan atau bagian-bagian dari kegiatan
mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan
penyerahan akhir hasil pekerjaan konstruksi.
Pengoperasian
Pengeoperasian ialah kegiatan usaha untuk
mendayagunakan bangunan yang telah dibangun untuk
mendapatkan keuntungan bagi pemilik dan
memberikan manfaat bagi pengguna.
Pemeliharaan
Adalah segalah kegiatan yang meliputi pemeriksaan,
perawatan, perbaikan dan uji ulang, agar suatu
bangunan selalu dalam keadaan baik, aman dan
gangguang serta kerusakan dapat dengan mudah
diketahui, dicegah dan diperkecil.
Penyebab:
Kegagalan pembuatan (modal, desain,
konstruksi/teknologi)
Runtuh (ambruk, teknologi)
Rusak/aus (umur, pemakaian, salah pakai)
Bencana alam (banjir, gempa, kebakaran)
Tidak ada penambahan/penyesuaian (kapasitas
kurang)
Tidak ada/minim pemeliharaan
Usang (tidak sesuai, terlambat dibuat,
perkembangan teknologi)

Kenyataan (Kesalahan manajemen):
Pemotongan anggaran/investasi kurang
Kesalahan pemilihan infrastruktur
Pemakaian melewati umur/life-cycle tidak
diperhatikan
Kecenderungan mengabaikan pemeliharaan
Mahalnya pemeliharaan (20 40% dari konstruksi
baru)
Teknologi kurang berkembang
Mahalnya teknologi baru

Build Operate Transfer (BOT)
Pemerintah memiliki lahan dan swasta memiliki dana untuk
membangun, swasta mengoperasikan dalam jangka waktu
tertentu dan menerima keuntungan pengoperasian
Build Transfer Operate (BTO)
Sektor swasta membangun suatu fasilitas , yang setelah selesai
dialihkan kepada pemerintah sebagai pemilik yang kemudian
mengoperasikan fasilitas tersebut
Build Own Operate (BOO)
Pihak swasta membangun suatu fasilitas dengan biaya
sendiri, mengoperasikannya dan memungut pembayaran
terhadap pengguna fasilitas tersebut tanpa waktu yang
ditentukan (tanpa transfer kepemilikan ke pemerintah)
Pihak yang satu menyerahkan penggunaan tanah
miliknya untuk di atasnya didirikan suatu bangunan
komersial oleh pihak kedua (investor),
Pihak kedua tersebut berhak mengoperasikan atau
mengelola bangunan komersial untuk jangka waktu
tertentu dengan memberikan fee (atau tanpa fee)
kepada pemilik tanah,
Pihak kedua wajib mengembalikan tanah beserta
bangunan komersial di atasnya dalam keadaan dapat
dan siap dioperasionalkan kepada pemilik tanah
setelah jangka waktu operasional tersebut berakhir.
KELEBIHAN KELEMAHAN
Publik mendapat manfaat dari keahlian partner swastanya.
Publik mendapatkan manfaat dari penghematan operasi
dari partner swasta.
Publik dapat mempertahankan kepemilikan aset.
Kepemilikan publik dan kontrak diluar operasi tidak dapat
dikenai pajak.
Publik mempertahankan otoritas terhadap kualitas layanan
dan pembayarannya.
Kontrol pemerintah terhadap kinerja operasional, standar
pelayanan, dan perawatannya.
Kemampuan untuk mengakhiri kontrak jika standar kinerja
tidak terpenuhi, walaupun fasilitas dapat terus digunakan.
Penghematan terhadap desain, konstruksi, dan
arsitekturnya.
Kemungkinan pemindahan
entitas sektor swasta atau
penyelesaian kontrak ketika
terjadi kebangkrutan partner
swasta.
Jika kontraktor bangkrut,
maka pemerintah yang harus
melanjutkan operasi proyek
dan memberikan subsidi.
Lebih rawan terjadi korupsi.
Mahmudi. (2007), Kemitraan Pemerinah Daerah dan Efektivitas Pelayanan Publik, Jurnal Bisnis dan
Manajemen (Sinergi) Vol. 9 (No. 1 Januari): 53-67
Prinsipal/Client
Pihak yang secara keseluruhan bertanggung-
jawab atas pemberian konsesi dan merupakan
pemilik akhir dari proyek/fasilitas tersebut
(Pemerintah)
Promotor
Suatu badan hukum/organisasi yang diberi konsesi
untuk membangun, memiliki, mengoperasikan dan
mengalihkan fasilitas tertentu
Promotor didukung Contractor, Investor,
Operator, Supplier, Lender dan User
Jenis Pendanaan Infrastruktur
Corporate finance
Corporate finance adalah pembiayaan proyek jangka menengah
sampai panjang dengan agunan proyek yang dibiayai, dan sumber
pelunasan berasal dari cash flow yang dihasilkan oleh perusahaan
baik dari proyek yang dibiayai maupun proyek lainnya. Ukuran
feasibility proyek ditentukan oleh seluruh instrumen yang ada
dalam korporasi.
Project finance
Project finance adalah pembiayaan proyek jangka menengah
sampai panjang dengan agunan proyek yang dibiayai, dan sumber
pelunasan berasal dari cash flow yang dihasilkan oleh proyek
yang dibiayai. Ukuran feasibility proyek ditentukan oleh
instrumen yang terdapat dalam proyek itu sendiri.
Public Private Partnership
Publicprivate partnership (PPP) merupakan government
service/private business venture yang dibiayai dan dilaksanakan
melalui kerjasama antara Pemerintah dan sektor swasta. Ukuran
feasibility Proyek ditentukan oleh instrumen yang terdapat dalam
Proyek itu sendiri. Prakarsa Proyek dapat berasal dari Pemerintah
atau Swasta. Proyek dapat dilakukan dengan atau tanpa Jaminan
Pemerintah atau Subsidi Pemerintah.

Rencana ruas tol Pekanbaru-Kandis-Dumai
sepanjang 126 kilometer yang diusulkan oleh
Pemerintah Provinsi Riau termasuk kedalam
kategori potencial project
Pembebasan lahan : diperkirakan selesai
akhir 2011
Pengerjaan fisik : 2012 atau 2013
Perkiraan selesai : 2015
8 triliun dari cina. Pembebasan dari APBN. APBD
biaya survey, pengukuran.
(sumber: www.tribunpekanbaru.com/brt)

Kerja sama antara pemerintah dan badan usaha
(public-private partnership) pada pengusahaan
jalan tol di Indonesia umumnya diselenggarakan
melalui skema BOT (Build Operate Transfer)
Isi Perjanjian:
Perjanjian dalam bentuk build operate and transfer
(BOT)
Pihak kedua membangun Jalan Tol
Hak daya guna selama 35 tahun dnegan membayar
kontribusi ke pihak pertama
Setelah jangka waktu berakhir pihak kedua
menyerahkan kembali tanah dan bangunan ke pihak
pertama (pemerintah)


Pihak Pertama (Pemerintah Pekanbaru):
Menjamin Pembebasan lahan untuk jalan
Menjamin lokasi tidak dalam perkara
Memfasilitasi perizinan pembangunan dan pengoperasian
jalan
Menerima royalty dari pengoperasian jalan
Menerima proyek yang sudah dibangun setelah masa
kontrak habis
Membentuk tim monitoring pengendalian pelaksanaan
pembangunan jalan tol
Pihak Kedua :
Mengelola Jalan Tol dana menerima hasil pengelolaan
selama jangka waktu
Berhak menyewakan atau membuat kerja sama dengan
pihak lainnya atas jalan tol Pekanbaru-Dumai
Berkewajiban untuk membangun Jalan Tol
Menanggung seluruh biaya pembangunan
Menyerahkan Jalan kepada pemerintah setelah masa
habis kontrak

Proyek ini baru berjalan hingga tahap desain
dan baru akan dimulai pelelangan. Saat ini
sedang dilakukan perubahan desain oleh
konsultan perencana yang ditunjuk PU
Program ini dibagi menjadi dua paket PPK
pekanbaru-kandis 58 km kemudian sekitar 70
km berada di kandis-dumai.
Pembebasan lahan belum mengalami
progress terkait perubahan desain geometri
jalan yang mengubah jalur lahan yang
dilewati
Pembiayaan pembangunan proyek
infrastruktur jalan tol oleh pihak swasta
umumnya bersumber dari kombinasi equity
dan debt dengan menggunakan konsep non-
recourse project financing (NRPF), dimana
pembayaran hutang piutang (debt service)
kepada kreditor semata-mata dibebankan
kepada cash flow proyek dan aset-asetnya.
Proyek Infrastruktur Indonesia masih terbatas dalam
hal pendanaan sehingga membutuhkan kerjasama
kemitraan.
Salah satu bentuk kerja sama pemeirntah-swasta
ialah perjanjian BOT
Perjanjian BOT dianggap paling menguntungkan
kedua belah pihak (keuntungan lebih banyak dari
kerugian (Tabel 1)
Proses Pembangunan Infrastruktur yakni melaui tahap
perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan
pemeliharaan. Namun tahap yang paling akhir yakni
pemeliharaan seringkali di anggap remeh dan
dikesampingkan sehingga menyebabkan kegagalan
infrastruktur tinggi.
Proyek ruas tol Pekanbaru-Dumai menggunakan
perjanjian BOT. sistem pendanaannya non-recourse
project financing (NRPF) yang pembebanannya asset-
aset kreditor.

Adha, Hadi L. 2011. Kontrak , Operate and Transfer
(BOT)sebagai Perjanjian Kebijakan Pemerintah
dengan Pihak Swasta. Jurnal Dinamika Hukum vol.11
No.3 september 2011. FH. Univ. Matram NTB

Nugraha, Shandy. 2012. Perjanjian Build, Operate
and Transfer (BOT). diunduh dari
http://sendhynugraha.blogspot.com/2012/11/perjan
jian-build-operate-and-transfer.html pada 15
Februari 2013

Alfian, 2011. Pendekatan Stokastik dalam Kajian
Kelayakan Pembangunan Jalan Studi Kasus Rencana
Ruas Tol Kandis Dumai. Diunduh dari
http://ejournal.unri.ac.id/index.php/JTB/article/do
wnload/501/494 tanggal 8 maret 2013.