Anda di halaman 1dari 4

KARSINOMA TESTIS

Tumor testis berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih daru 90%
berasal dari sel germinal. Tumor ini mempunyai derajat keganasan tinggi, tetapi dapat
sembuh bila diberi penanganan adekuat. Tumor ini mempunyai petanda tumor sejati yang
berharga sekali untuk diagnosis, rencana terapi, dan kontrol.
Tumor testis sel germinal merupakan tumor yang agak jarang ditemukan dan meliputi
kurang lebih 1% dari keganasan lelaki. Kebanyakan ditemukan pada usia antara 20-36 tahun.

ETIOLOGI
Faktor penyebab karsinoma testis tidak jelas. Faktor genetik, virus atau penyebab
infeksi lain, atau trauma testis tidak mempengaruhi terjadinya tumor ini. Penderita
kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai resiko lebih tinggi untuk tumor testis
ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia muda mengurangi insidens tumor
testis sedikit, resiko terjadinya tumor tetap tinggi. Rupanya kriptorkismus merupakan suatu
ekspresi disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas.
Penggunaan hormon dietilstilbesterol, yang terkenal sebagai DES, oleh ibu pada
kehamilan dini meningkatkan resiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa
muda, yang berarti karsinoma testis untuk janin lelaki.

KLASIFIKASI
Klasifikasi tumor ganas testis
Seminoma Yang khas
Spermatositik
Anaplastik
Nonseminoma Karsinoma embrional
Teratokarsinoma (embrional + teratom)
Teratom matur dan imatur
Koriokarsinoma

PATOLOGI
Dari berbagai klasifikasi tumor testis ganas, klasifikasi WHO makin sering dipakai.
Selain seminoma yang memang berasal dari sel germinal, terdapat karsinoma embrional,
teratoma, dan koriokarsinoma yang digolongkan nonseminoma, yang dianggap berasal dari
sel germinal pada tahap perkembangan lain histogenesis. Seminoma meliputi sekitar 40%
dari tumor ganas testis. Koriokarsinoma jarang sekali ditemukan (1%).
Metastasis tumor testis kadang berbeda sekali dari tumor induk, yang berarti tumor
primer terdiri atas berbagai jenis jaringan embrional dengan daya invasi yang berbeda.

PERTUMBUHAN DAN PENYEBARAN
Kecuali tumor koriokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe.
Kelenjar limfe terletak paraaortal kiri setinggi L2 tepat di bawah hilus ginjal dan di sebelah
kanan antara aorta dan v. kava setinggi L3 dan parakava setinggi L2. Metastasis di kelenjar
inguinal hanya terjadi setelah penyusupan tumor ke dalam kulit skrotum atau setelah
dilakukan pembedahan pada funikulus spermatikus, seperti pada hernia inguinalis lateralis
yang menyebabkan gangguan aliran arus limfe di dalamnya.
Penyebaran hematogen luas pada tahap dini merupakan tanda koriokarsinoma. Untuk
klasifikasi tingkat penyebaran digunakan sistem TNM
Klasifikasi TNM karsinoma testis
T Tumor Primer N Kelenjar Limfe M Metastasis Jauh
Tis
Prainvasif
(intratubular)
N0
Tidak ditemukan
keganasan
M0 Tidak dapat ditemukan
T1 Testis dan retetestis N1 Tunggal <2cm M1
Terdapat metastasis
jauh
T2
Di luar tunika
albuginea atau
epididimis
N2
Tunggal 2-5 cm;
multipel < 5 cm

T3 Funikulus spermatikus N3
Tunggal atau multipel
>5 cm

T4 Skrotum
GAMBARAN KLINIS
Gambaran khas tumor testis adalah benjolan di dalam skrotum yang tidak nyeri dan
tidak diafan. Biasanya tumor terbatas di dalam testis sehingga mudah dibedakan dari
epididimis pada palpasi yang dilakukan dengan telunjuk dan ibu jari.
Gejala dan tanda lain, seperti nyeri pinggang, kembung perut, dispnea atau batuk,
ginekomastia menunjukkan pada metastasis yang luas. Metastasis paraaorta sering luas dan
besar sekali, kadang tanpa nyeri pinggang. Metastasis di paru kada tertabur luas dan cepat
menjadi besar sehingga sesak napas. Gonadotropin yang mungkin disekresi oleh sel tumor
dapat menyebabkan ginekomastia. Kadang keadaan umum merosot cepat dengan penururan
berat badan.

DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding meliputi setiap benjolan di dalam skrotum yang berhubungan
dengan testis, seperti hidrokel, epididimitis, orkitis, infark testis, atau cedera.
Transiluminasi, ultrasonografi, dan pemeriksaan endapan kemih sangat berguna untuk
membedakan tumor dari kelainan lain. Kadang tumor testis disertai hidrokel. Oleh karena itu,
ultrasonografi sangat berguna.
Pemeriksaan petanda tumor sangat bertuna, yaitu beta-human chorionic gonadotropin
(beta-HCG), alfa-fetoprotein (AFP), dan laktat dehidrogenase (LDH), foto paru dibuat untuk
diagnosis metastasis paru.
Diagnosis ditentukan dengan histologik sediaan biopsi. Setiap benjolan testis yang
tidak menyurut dan hilang setelah pengobatan adekuat dalam waktu dua minggu harus
dicurigai dan dibiopsi. Biopsi harus dilakukan dari testis yang didekati melalui sayatan
inguinal. Testis diinspeksi dan dibuat biopsi insisi setelah funikulus ditutup dengan jepitan
klem untuk mencegah penyebaran limfogen atau hematogen. Sekali-kali tidak boleh diadakan
biopsi langsung melalui kulit skrotum karena bahaya pencemaran luka bedah dengan sel
tumor dengan implantasi lokal atau penyebaran ke regio inguinal. Bila ternyata ganas,
dilakukan orkidektomi yang disusul dengan pemeriksaan luas untuk menentukan jenis tumor,
derajat keganasan dan luasnya penyebaran. Untuk menentukan lias penyebaran limfogen
biasanya dilakukan diseksi kelenjar limfogen retroperitoneal secara transabdomen, suatu
operasi yang menuntut pengalaman khusus.



TATALAKSANA
Seminoma merupakan tumor ganas yang cukup sensitif terhadap penyinaran dan
kemoterapi. Pemilihan terapi didasarkan derajat penyebaran setelah orkidektomi dan
pemeriksaan lengkap, termasuk keterangan histologik kelenjar limfe retroperitoneal.
Stadium dan Tingkat Penyebaran Tumor Testis
Stadium TNM Lokasi Tumor
I T1 NO Di dalam testis dan rete testis, kelenjar limfe negatif
II N+ Kelenjar limfe retroperitoneal positif
IIA N1 <2cm
IIB N2 2-5cm
IIC N3 >5cm
III M+ Kelenjar limfe proksimal diafragma positif atau metastasis jauh
seperti di paru, hati, otak, atau tulang

Penderita dengan stadium I,IIA, dan IIB, setelah orkidektomi diradiasi pada regio
paraaorta dan regio panggul ipsilateral. Karena kurang lebih separuh penderita dengan
stadium IIC mendapat kekambuhan dengan terapi penyinaran, pada penderita ini dilakukan
kemoterapi. Kepada penderita stadium III diberikan skema kemoterapi dengan skema yang
berlaku untuk penderita nonseminoma.
Bila penanganan bedah sempurna serta kemoterapi dan penyinaran dilakukan
lengkap, prognosis baik sekali.
Penderita tumor nonseminoma stadium I tidak membutuhkan terapi tambahan
setelah pembedahan. Penderita stadium IIA dapat diobservasi saja, kadang diberikan
kemoterapi dua seri. Pada stadium IIB biasanya diberikan empat seri kemoterapi. Penderita
stadium IIC dan III diberikan kemoterapi yang terdiri atas sisplastin, bleomisin, dan
vinblastin. Bila respon tidak sempurna, diberikan seri tambahan dengan sediaan kemoterapi
lain. Bila masih terdapat sisa jaringan di regio retroperitoneal, dilakukan laparotomi
eksplorasi. Pada kebanyakan penderita ternyata hanya ditemukan jaringan nekrotik atau
jaringan matur. Jaringan matur merupakan jaringan yang berdiferensiasi baik dan tidak
bersifat ganas lagi. Prognosis umumnya memuaskan, kecuali bila terjadi banyak metastasis
ke paru-paru atau bila terdapat kekambuhan disertai tingginya kadar marker tumor.
Dianjurkan pemeriksaan lanjutan berkala.