Anda di halaman 1dari 28

Dr. Hasbir Paserangi, SH,MH.

E-mail : hasbir_paserangi@yahoo.co.id
Kajian terhadap hukum dapat dibedakan ke
dalam beberapa pandangan.

1. Kajian Normatif
Kajian normatif memandang hukum dalam
wujudnya sebagai kaidah, yang menentukan apa
yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Kajian normatif sifatnya preskriptif; yaitu
bersifat menentukan apa yang salah dan
apa yang benar. Kajian-kajian normatif
terhadap hukum antara lain: Ilmu Hukum
Pidana Positif, dan IImu Hukum
Tatanegara Positif. Dengan perkataan
lain, kajian normatif mengkaji law in
books. Kajian normatif dunianya adalah
das sollen (apa yang seharusnya).

Contohnya, IImu Hukum Pidana dalam mengkaji
pencurian, membahas unsur-unsur pencurian yang
terkandung dalam Pasal 362 KUH. Pidana, yaitu :
(a)
,
barangsiapa,
(b) yang mengambil barang orang lain,
(c) dengan maksud memiliki,
(d) dengan jalan melawan hukum.
Kalau perbuatan yang dilakukan terdakwa memenuhi
semua unsur yang
.
ditentukan oleh pasal 362 KUH.
Pidana, berarti terdakwa telah terbukti bersalah
melakukan pencurian. Sebaliknya, jika salah satu
unsur dalam Pasal 362 KUH. Pidana tidak terpenuhi,
maka si terdakwa dianggap tidak bersalah dan
karena itu tidak boleh dipidana.

2. Kajian Filosofis
Kajian filosofis merupakan kajian yang
memandang hukum sebagai seperangkat
nilai ideal, yang seyogianya senantiasa
menjadi rujukan dalam setiap
pembentukan, pengaturan, dan
pelaksanaan kaidah hukum.
Kajian filosofis sifatnya ideal. Kajian
ini diperankan oleh kajian Filsafat
Hukum. Dengan perkataan lain,
kajian filsafat hukum itu mengkaji
law in ideas.

Jika dalam kasus pencurian kajian
filosofis yang digunakan, maka objek
bahasannya tidak lagi unsur-unsur dan
berat sanksi yang diatur oleh pasal 362
KUH. Pidana, melainkan aspek-aspek
ideal dan moral dari pencurian tersebut.
mengapa perbuatan mencuri itu dikategorikan
kejahatan, dan bukan pelanggaran?
apakah berat sanksi pidana yang diancamkan
oleh undang-undang terhadap pelaku
pencurian sudah adil atau tidak adil?
apa dasar moral pembenaran dikenakannya
sanksi pidana bagi pelaku pencurian?
dan lain sebagainya.

3. Kajian yang Empiris

Kajian empiris adalah kajian yang memandang
hukum sebagai kenyataan, mencakup
kenyataan sosial, kenyataan kultur, dan lain
lain.
Kajian ini bersifat deskriptif. Kajian-kajian
empiris antara lain: Sosiologi Hukum,
Antropologi Hukum, dan Psikologi Hukum.
Dengan perkataan lain, kajian empiris mengkaji
law in action. Dengan demikian, kajian empiris
dunianya adalah das sein (apa kenyataannya).

Mempelajari hukum, tidak dapat hanya
dengan menggunakan satu pendekatan
(pendekatan sendiri-sendiri)

Normatif, atau
Filusufis, atau
Sosiologis/Empiris saja.
Melainkan harus dengan menggunakan
ketiga pendekatan itu secara bersamaan
sebagai suatu sistem.

SISTEM HUKUM

Sistem adalah :
They are wholes, they have elements and
those elements have relations which form
as tructure Sistem ialah wholes
(keseluruhan), sistem mempunyai elemen-
elemen dan elemen-elemen itu
mempunyai relations (hubungan-
hubungan) yang membentuk structure
(studi struktur)

Tabel Unsur Sistem Hukum

Lawrence M. Friedman
1. Structure
2. Substance
3. Legal Culture
Charles Sampford
1. Source Based System
2. Content Based System
3.Functionalist Based System
Werner Mensky
1. Moral, Religy, Ethich
2. Society
3. State
Ket : Lawrence M. Friedman :
1) Structure (struktur) keseluruhan institusi-institusi
hukum yang ada beserta aparatnya, mencakupi
antara lain kepolisian dengan para polisinya,
kejaksaan dengan para jaksanya, pengadilan
dengan para hakimnya, dan lain-lain.
2) Substance (substansi) adalah keseluruhan asas
hukum, norma hukum dan aturan hukum, baik
yang tertulis maupun yang tidak tertulis, termasuk
putusan pengadilan.
3) Legal culture adalah segala opini-opini,
kepercayaan-kepercayaan (keyakinan-keyakinan),
kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, dan cara
bertindak, baik dari para penegak hukum maupun
dari warga masyarakat tentang hukum dan
berbagai fenomena yang berkaitan dengan
hukum.
Unsur sistem hukum, Charles Sampford
1) Source based system (sistem-sistem berbasis
sumber) mempunyai aturan-aturan (legal ruler)
atau norma-norma hukum (legal norms) sebagai
elemen-elemennya. Elemen-elemen diperlakukan
relations of authority in validity / validitas atau
hubungan otoritas dengan aturan-aturan yang
lebih tinggi membentuk suatu struktur piramida dan
hierarki dari suatu aturan tertinggi basicnorm
norma dasar atau legal science fiat (otoritas ilmu
hukum) di puncaknya merujuk teori yang
dikembangkan oleh tokoh positivisme Hans Kelsen
:
- Stufenbau theory (teori piramida)
- Reine rechtlehre (the pure theory of law)
- Groundnorm (sistem-sistem isi)
2) Content based system (sistem-sistem isi)
Juga mempunyai aturan-aturan atau norma-
norma sebagai elemen-elemennya, meskipun
teoretisi isi penonjolannya ialah, memberikan
suatu tempat bagi asas-asas dan putusan-
putusan.
Hubungan-hubungan yang dibangun ialah
relations of justification (hubungan-hubungan
pembenaran).
Suatu aturan yang lebih rendah dibenarkan oleh
suatu asas yang lebih tinggi, merujuk pada
ajaran Ronald Dworkin.
Functionalist based system (sistem-sistem
fungsional).
Mempunyai tindakan-tindakan atau peran-
peran yaitu expected or required action
(tindakan-tindakan yang diharapkan atau
diperlukan) sebagai elemen-elemennya.
Hubungan-hubungan yang dibangun adalah
hubungan-hubungan sosial diantara faktor
yang mempertautkan setiap aktor atau peran.
Pendekatan global : Teori Triangular concept of legal pluralism
dari Werner Menski, seorang profesor hukum dari Unirversity of
London, Pakar hukum Bangsa-Bangsa Asia dan Afrika.
Konsep Menski memperkuat konsep Lawrence M.
Friedman tentang unsur, kultur hukum (legal culture)
yang sifatnya sangat pluralistik, dimana hubungan antar
warga dunia, tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat sempit
otoritas kaku, dari masing-masing negara (contoh aneka
ragam hukum positif) namun juga sistem hukum, sistem
peradilan.
Menski mengkombinasikan secara interaktif
teori hukum alam modern. Positivisme dan
sosiologi hukum melalui konsep segitiga
pluralisme hukum
The identity postulate of legal culture (postulat
identitas dari suatu kultur hukum) secara terus
menerus, mendekat dan secara langsung
berhubungan pada nilai-nilai etis, norma-norma
sosial dan aturan-aturan yang dibuat.

Hukum terdiri dari atas dasar nilai etis,
norma-norma sosial dan aturan-aturan yang
dibuat oleh negara dimana ketiga unsur
tersebut bersifat plural.
Religion /ethiecs/morality
Segitiga unsur masyarakat
(the triangle of society)
Unsur negara (the triangle
of state).
Unsur nilai agama dan etika
(the realism of values and
ethiecs)
Legal
plurali
sm
1. The triangle of society
Hukum ditemukan dalam kehidupan sosial, karena
kehidupan sosial merupakan tempat dimana hukum
selalu berlokasi tidak ada masyarakat yang tanpa
hukum. Dibidang sosial kita menemukan aturan-aturan,
norma-norma yang murni bersumber dari masyarakat
sendiri, bukan produk negara.
2. The triangle of the state
Hukum bersumber dari produk negara yang mengambil
bentuk dari aturan-aturan, norma-norma ataupun input
dalam hal negosiasi.
3. The triangle of natural law
Yang sumbernya berhubngan erat dengan unsur-unsur
nilai dan unsur-unsur etis.
3 komponen itu kemudian berkembang
menjadi 9
1. Hukum produk negara yang sesungguhnya,
yang muncul langsung sebagai hukum dan
tidak dikenal sebelumnya didalam nilai-nilai
etika, moral, dan agama, maupun norma sosila
contohnya, UU Helm yang merupakan absolut
produk hukum negara.

2. Hukum produk negara yang hanya melegetimasi
norma sosial yang telah ada sebelumnya,
contohnya; larangan membunuh, mencuri,
memerkosa. Perbuatan itu sebelum diancamkan
pidana dalam KUHP, memang telah dinyatakan
sebagai kejahatan oleh norma moral dan agama,
maupun oleh norma-norma sosial.

3. Hukum produk negara yang memperoleh
pengaruh sebagai hasil negosiasi dengan
norma-norma etika, moral dan agama atau
norma-norma sosial atau kultur tertentu.
4. Hukum yang murni produk sosial

5. Hukum produk sosial yang telah mendapat
pengaruh sebagai hasil negosiasi dengan
kekuasaan negara.

6. Hukum produk sosial yang telah mendapat
pengaruh sebagai hasil negosiasi dengan nilai-
nilai etika, moral atau agama.

7. Nilai-nilai etika, moral atau agama yang masih murni

8. Nilai-nilai etika, moral atau agama yang telah mendapat
pengaruh sebagai hasil negosiasi dengan norma-norma
soial atau kultur tertentu.

9. Nilai-nilai etika, moral, atau agama yang telah mendapat
pengaruh sebagai hasil negosiasi dengan kekuasaan
pemerintah.