Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk yang kompleks, memiliki banyak kebutuhan
dalam kelangsungan hidupnya. Mulai dari kebutuhan biologis sampai kebutuhan
psikologis. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia membentuk sebuah
organisasi sebagai wadah atau tempat berinteraksi dan bekerja sama dengan
manusia lainnya. Sondang P Siagian dalam Pangewa (2008:7) mengemukakan
bahwa keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang
didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya disebut dengan istilah administrasi.
The Liang Gie dalam Pangewa (2008:43) mengemukakan bahwa salah
satu unsur administrasi adalah manajemen. Manajemen merupakan proses yang
menggerakkan kegiatan dalam organisasi sehingga tujuan yang telah ditentukan
tercapai. Kepemimpinan adalah Inti dari manajemen, yaitu motor penggerak
segala unsur di dalam organisasi. Pemimpin akan menentukan arah dan
bagaimana tujuan organisasi dapat tercapai sehingga keberhasilan maupun
kegagalan sebuah organisasi tergantung pada bagaimana pemimpin melaksanakan
kepemimpinannya.
Pemimpin suatu organisasi memiliki tanggung jawab yang sangat besar
yakni mendayagunakan segala unsur yang ada dalam organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi tersebut. Untuk mencapai tujuan organisasi, seorang pemimpin
dihadapkan pada berbagai persoalan yang sangat beragam dan kompleks. Dalam
menyelesaikan berbagai persoalan seorang pemimpin dihadapkan pada beberapa
pilihan alternatif yang kemudian disebut dengan pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan merupakan inti dari kepemimpinan. Oleh karena
itu, pemimpin suatu organisasi tidak akan pernah bisa terlepas dari proses
pengambilan keputusan. Baik itu organisasi profit maupun non profit, besar
maupun kecil tidak dapat terhindar dari pengambilan keputusan. Keputusan yang
1
2

telah ditetapkan seorang pemimpin dalam keterbatasannya sebagai manusia
dengan mempertimbangkan semua faktor alternatif solusi sebaik mungkin dengan
menggunakan alat pertimbangan yang tepat. Pendekatan terhadap penyelesaian
masalah yang benar akan membantu seorang pemimpin dalam meraih keputusan
yang memiliki konsekuensi yang berhasil menyelesaikan masalah.

B. Fokus Pembahasan

Fokus pembahasan dalam makalah ini yaitu:
1. Konsep keputusan Stratejik
2. Perencanaan stratejik

C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui keputusan stratejik
2. Untuk mengetahui perencanaan stratejik










3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Pengambilan Keputusan
1. Pengertian pengambilan keputusan stratejik
Keputusan adalah suatu reaksi terhadap beberapa solusi
alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa
kemungkinan - kemungkinan dari alternatif tersebut bersama
konsekuensinya.Setiap keputusan akan membuat pilihan terakhir, dapat
berupa tindakan atau opini. Itu semua bermula ketika kita perlu untuk
melakukan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Mahtika (2007:53) Keputusan adalah suatu penyelesaian
masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang harus
dilakukan dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat
juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil
proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif
yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Setelah pengertian keputusan disampaikan, kiranya perlu pula
diikuti dengan pengertian tentang pengambilan keputusan. Ada
beberapa definisi tentang pengambilan keputusan, dalam hal ini arti
pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan, diantaranya:
Pengambilan keputusan menurut Siagian (2004) dalam Pasolong
(2008:155) adalah
Suatu pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang
dihadapi. Pendekatan sistematis itu menyangkut pengetahuan
tentang hakikat alternatif yang dihadapi, pengumpulan fakta dan
data yang relevan dengan masalah yang dihadapi, analisis
masalah dengan mempergunakan fakta dan data, mencari
alternatif pemecahan, menganalisis setiap alternatif sehingga
ditemukan alternatif yang paling rasional, dan penilaian dari hasil
yang dicapai sebagai akibat dari keputusan yang diambil.
3
4

Menurut Salusu (1996:47), pengambilan keputusan ialah proses
memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien
sesuai situasi.
Dari kedua pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan
tidak boleh sembarangan. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan
dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan
pemilihan alternatif terbaik dari alternatif yang ada. Jadi, pengambilan
keputusan adalah suatu proses pemilihan alternatif dari beberapa pilihan
alternatif yang tersedia secara sistematis untuk mendapatkan aternatif
terbaik.
Kita telah mengetahui apa itu pengambilan keputusan, selanjutnya
kita kan membahas tentang keputusan stratejik. Baker (1980) dalam
Salusu (1996:111) keputusan stratejik biasanya mencakup persoalan-
persoalan yang bersangkut paut dengan usaha menciptakan,
menghasilkan, dan mengalokasikan sumber daya. Menurut pemahaman
penulis, pengertian ini lebih mengarah pada persoalan internal suatu
organisasi yakni mencakup masalah-masalah sumber daya (modal dan
manusia) dan kekuatan organisasi. Fakhri Kahar (2010:13) Keputusan
stratejik berarti pilihan stratejik, pilihan ini berupa ketetapan mengenai
aspirasi-aspirasi stratejik yang realistik, masuk akal dan dapat
direalisasikan. Pengertian ini menjelaskan bahwa pilihan stratejik adalah
pilihan dari beberapa alternatif pilihan stratejik, dimana pilihan itu masuk
akal dan sesuai dengan keadaan untuk diimplementasikan dalam
organisasi.




5

2. Tujuan keputusan stratejik
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu
dimaksudkan untuk mencapai tujuan organisasinya yang dimana
diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancar dan tujuan dapat
dicapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-
hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang
harus dipecahkan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan
dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut.
Tujuan stratejik digunakan untuk merumuskan perubahan
perubahan stratejik yang diinginkan dengan menyusun:
Rencana organisasi dangan maksud untuk menambah, memperluas
atau memperbesar jasa pelayanan kepada kelompok masyarakat.
Rencana perbaikan dengan maksud melaksanakan lebih awal, lebih
baik, lebih murah, lebih efektif dengan mutu lebih tinggi.
Rencana yang inovatif dengan maksud melaksanakan sesuatu
yang baru lain dari pada yang lain. Rencana yang adaptif dengan maksud
menyesuikan bahwa pelayanan atau produk mencerminkan kebutuhan
masyarakat dan kecenderungan perubahan yang terjadi masyarakat.
Salusu (1996:136) mengemukakan bahwa tujuan stratejik adalah
kunci dari arah perubahan masa depan. Ia mengarahkan apa yang hendak
dikejar di waktu yang akan datang, yaitu dalam jangka waktu sekitar 3
sampai 5 tahun.
3. Karakteristik keputusan stratejik
Berdasarkan pendapat Schwenk (1988), Hickson et al, (1986) dan
Steiss (1985) dalam Salusu (1996:114), karateristik utama dari keputusan
stratejik ada 7 point yaitu:
Tidak terstruktur dan non rutin. Keputusan stratejik tidak dibuat
dengan cara-cara pengambilan keputusan dengan aturan
6

pengambilan keputusan biasa, bahkan dengan menggunakan fomula,
seperti model matematis,
Keputusan stratejik memegang peranan sentral bagi organisasi
karena mengandung komitmen yang sangat luas tentang
sumberdaya, dan kemungkinan resiko yang besar,
Keputusan stratejik pada umumnya sangat kompleks, sehingga tidak
menarik untuk dipelajari,
Memiliki kelainan sendiri karena keputusan stratejik sangat jarang
dilakukan,
Selain melibatkan sumber daya yang besar juga sangat kompleks,
salah satu kekompleskannya dengan keterlibatan sejumlah orang
dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak orang yang
terlibat semakin kompleks permasalahannya yang dihadapi oleh
setiap orang yang berperan serta,
Memiliki konsekuensi yang besar, menyangkut kehidupan organisasi
secara keseluruhan,
Selalu mendahului, karena mendahului keputusan berikutnya lebih
mudah dibuat karena telah ada payungnya.
Ciri-ciri keputusan stratejik menurut Nisjar, Karhi dan Winardi
(1997) dalam Helmi (2009) sebagai berikut:
a. Keputusan-keputusan strategik pada umumnya berkaitan dengan
skope dari aktifitas sesuatu organisasi.
b. Timbullah pertanyaan di sini: Apakah kirannya organisasi yang
bersangkutan memusatkan perhatiannya pada satu bidang aktifitas
saja, ataukah perlu ia memiliki aneka macam bidang aktifitas?
Strategi berkaitan dengan upaya menyesuaikan (MATCHING)
aktifitas-aktifitas organisasi dengan lingkungan di mana ia
beroperasi.
Misalnya persaingan luar negeri merupakan salah satu perubahan
lingkungan yang dapat mempengaruhi sesuatu organisasi.
7

c. Strategi juga berhubungan dengan tindakan dan upaya menyesuaikan
aktifitas-aktifitas organisasi yang bersangkutan dengan kemampuan
sumberdayanya.
Strategi bukan hanya sekedar menghadapi ancaman lingkungan dan
memanfaatkan peluang karena lingkungan, tetapi juga berkaitan
dengan upaya menyesuaikan sumber-sumber daya keorganisasian
dengan ancaman dan peluang tersebut.
d. Keputusan-keputusan strategik sering kali menimbulkan implikasi-
implikasi serius terhadap sumber daya sesuatu organisasi.
Misalnya perusahaan-perusahaan mobil sudah banyak menggunakan
tenaga robot agar mereka tetap dapat bertahan dalam persaingan
mobil.
e. Keputusan-keputusan strategik besar kemungkinan mempengaruhi
keputusan-keputusan operasional.
f. Strategi suatu organisasi bukan saja akan dipengaruhi oleh kekuatan-
kekuatan lingkungan, dan ketersediaan sumber-sumber daya, tetapi
akan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan harapan-harapan pihak yang
memiliki kekuasaan dalam organisasi yang bersangkutan.
g. Keputusan-keputusan strategik kirannya akan mempengaruhi arah
jangka panjang suatu organisasi.
h. Keputusan-keputusan strategik sering kali bersifat kompleks.
Kompleksitas itu terjadi karena adanya :
Keputusan-keputusan strategik biasanya mencakup
ketidakpastian tingkat tinggi. Mungkin di dalamnya termasuk
keputusan tentang landasan pandangan-pandangan sehubungan
dengan masa yang akan datang yang tak mungkin diketahui
secara pasti oleh manajer.
Keputusan-keputusan strategik, kirannya menuntut adanya suatu
pendekatan yang terintegrasi guna memanajemen organisasi
yang bersangkutan.
8

Keputusan-keputusan strategik, biasanya menyebabkan
timbulnya dampak berupa perubahan besar pada organisasi-
organisasi.

B. Perencanaan Stratejik
1. Pengertian perencanaan stratejik
Lingkungan organisasi saat ini sangat kompetitif, hal ini menuntut
lembaga pendidikan untuk membangun keunggulan dan memutakhirkan
peta perjalanan organisasi secara berkelanjutan, menempuh langkah-
langkah strategik dan mengerahkan serta memusatkan kapabilitas dan
komitmen seluruh staf dalam mewujudkan masa depan organisasi.
Kecenderungan umum, saat ini organisasi hanya mengandalkan anggaran
tahunan sebagai alat perencana masa depan organisasi, sehingga menjadi
tidak koheren antara misi, visi, tujuan, rencana jangka panjang, rencana
jangka pendek, serta implementasinya. Selain itu, sistem perencanaan
pada umumnya hanya mengikutsertakan sebagian kecil staf organisasi
untuk membangun masa depan organisasi.
Untuk itu, maka perencanaan strategis merupakan solusi yang
dapat diandalkan sebagai penentu masa depan sebuah lembaga.
Perencanaan strategis telah lama digunakan sebagai alat untuk
mentransformasi dan merevitalisasi lembaga bisnis, publik, dan non-
profit. Tujuan utamanya adalah untuk merespon kemungkinan terjadinya
perubahan-perubahan lingkungan di masa depan. Perubahan tersebut
sebagai akibat terjadinya ketidaktentuan keadaan politik, ekonomi,
tuntutan masyarakat, dan perubahan teknologi yang terjadi secara cepat.
Kesemuanya itu menuntut perubahan internal dan eksternal organisasi
agar bisa menjalankan kegiatan atau programnya secara
berkesinambungan.

9

Perencanaan strategik merupakan suatu rencana jangka panjang
yang bersifat menyeluruh, memberikan rumusan ke mana lembaga akan
diarahkan, dan bagaimana sumberdaya dialokasikan untuk mencapai
tujuan selama jangka waktu tertentu dalam berbagai kemungkinan
keadaan lingkungan. Selain itu, perencanaan strategik (Strategic Plans)
juga merupakan suatu proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi,
penentuan strategi, kebijaksanaan, program-program strategi yang
diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut.
Steiss dalam Salusu (1996: 500) mengemukakan bahwa :
Perencanaan stratejik sebagai komponen dari manajemen stratejik
bertugas untuk memperjelas tujuan dan sasaran, memilih berbagai
kebijaksanaan, terutama dalam memperoleh dan mengalokasikan
sumber daya, serta menciptakan suatu pedoman dalam
menerjemahkan kebijaksanaan organisasi.

Salusu (1996: 500) mengemukakan bahwa perencanaan stratejik
adalah suatu metode dalam mengarahkan para pemimpin unit kerja
sehingga keputusan-keputusan dan tindakan mereka mempunyai dampak
terhadap masa depan organisasi dengan cara yang konsisten dan rasional.
Bryson (2008: 23) mengemukakan bahwa perencanaan strategi
adalah sebagai upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan
tindakan penting yang membentuk dan mengarahkan bagaimana suatu
organisasi atau entitas lainnya, apa yang akan dikerjakan organisasi
atau entitas lainnya dan mengapa organisasi (entitas lainnya)
mengerjakan seperti itu.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi
untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk
mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal dan sumber daya
manusia) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


10

2. Proses perencanaan stratejik
Bryson (2008:55) membagi proses perencanaan strategik menjadi
sepuluh langkah, yang mengarah kepada tindakan, hasil, dan evaluasi
adalah:
a. Memrakarsai dan menyepakati suatu proses perencanaan strategis.
Tujuan langkah pertama adalah menegosiasikan kesepakatan dengan
orang-orang penting pembuat keputusan (decision makers) atau
pembentuk opini (opinion leaders) internal dan eksternal tentang
seluruh upaya perencanaan strategis dan langkah perencanaan yang
terpenting.
b. Memperjelas mandat organisasi. Mandat formal dan informal yuang
ditempatkan pada organisasi adalah keharusan yang dihadapi
organisasi.
c. Memperjelas misi dan nilai-nilai organisasi. Misi organisasi yang
berkaitan erat dangan mandatnya, menyediakan raison deetre-nya,
pembenaran sosial bagi keberadaannya, mengurangi konflik, dan
merencanakan masa depan.
d. Menilai lingkungan eksternal. Tim perencanaan harus
mengeksplorasi lingkungan di lingkungan organisasi untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi.
e. Menilai lingkungan internal. Untuk mengetahui kekuasaan dan
kelemahan internal, organisasi dapat memantau sumber daya
(inputs), strategi sekarang (process), dan kinerja (outputs).
f. Mengidentifikasi isu strategis yang dihadapi organisasi. Lima unsur
pertama dari proses secara bersamaan melahirkan unsur keenam,
identifikasi isu strategis persoalan kebijakan penting yang
mempengaruhi mandat, misi, dan nilai-nilai dalam organisasi.




11

g. Merumuskan strategi untuk mengelola isu-isu. strategi didefinisikan
sebagai pola tujuan, kebijakan, program, tindakan, keputusan, atau
alokasi sumber daya yang menegaskan bagaimana organisasi, apa
yang dikerjakan organisasi, mengapa organisasi harus mengerjakan
hal itu. Strategi dapat berbeda karena tingkat, fungsi, dan kerangka
waktu.
h. Menciptakan visi organisasi yang efektif untuk masa depan. langkah
terakhir dalam proses perencanaan, organisasi mengembangkan
deskripsi mengenai bagaimana seharusnya organisasi itu sehingga
berhasil mengimplementasikan strateginya dan mencapai seluruh
potensinya. Deskripsi tersebut merupakan visi keberhasilan.
i. Mengembangkan proses implementasi. Proses implementasi adalah
inti dari seluruh perencanaan yang dibuat. Bagaimana strategi
dijalankan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan organisasi.
j. Menilai kembali strategi dan proses perencanaan strategis. Setelah
seluruh langkah dijalankan, maka yang terakhir adalah menilai
kembali strategi dan proses perencanaan untuk perbaikan organisasi
di masa mendatang.

3. Elemen-elemen kunci dalam perencanaan stratejik
Mercer dalam Salusu (1996: 505) mengemukakan bahwa ada
enam elemen kunci dalam suatu perencanaan stratejik yang efektif, yaitu:
a. Mengamati lingkungan mencakup analisis SWOT
b. Pernyataan tentang misi organisasi
c. Seperangkat strategi yang menegaskan apa yang harus dilakukan
untuk mencapai misi tersebut
d. Sasaran dari setiap strategi
e. Taktik atau rencana operasional jangka pendek untuk
merealisasikan sasaran tadi
f. Kontrol yaitu pengendalian dan langkah-langkah evaluasi yang
menentukan sebaik mana rencana stratejik itu dijalankan.
12

4. Model perencanaan stratejik
Perencanaan strategis umumnya dipakai dalam organisasi yang
bersifat publik. Model perencanaan strategis sebagaimana RCP dengan
menggunakan langkah-langkah sistematis. Menurut John M. Bryson
(1998) langkah-langkah yang dimaksud adalah:
(1) Identifikasi mandat organisasi,
(2) Memperjelas misi dan nilai-nilai organisasi,
(3) Penilaian terhadap lingkungan eksternal,
(4) Penilaian lingkungan internal,
(5) Identifikasi isu-isu strategis yang dihadapi,
(6) Merumuskan strategi untuk mengelola isu,
(7) Penetapan visi organisasi yang efektif dan efisien.
Mercer salam salusu (1996: 507) mengembangkan salah satu
model perencanaan stratejik yang hampir senada dengan pendapat
Bryson di atas, dimana model tersebut mengenal sepuluh langkah
berikut:
1) Persiapan
2) Pernyataan awal tentang misi
3) Scanning lingkungan
4) Pengemangan misi, tujuan dan sasaran
5) Identifikasi indikator-indikator dan faktor-faktor
keberuntungan yang kritis
6) Pengembangan strategis
7) Penilaian terhadap kemampuan intenal untuk menjalankan
rencana stratejik
8) Perencanaan kontingensi
9) Integritas dari rencana-rencana fungsional
10) Perencanaan taktis
Karakter dasar perencanaan strategis adalah pembuat keputusan
adalah masyarakat, pihak-pihak terkait dibantu para ahli yang bertindak
sebagai fasilitator. Bersifat komprehensif karena semua aspek dikaji
tetapi hanya berkaitan dengan isu strategis, hasil kajiannya bersifat
13

menyeluruh bukan hanya aspek fisik serta memperhitungkan sumber
daya yang tersedia. Kelemahan perencanaan strategis terletak pada
keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia organisasi yang tidak
merata sehingga tidak semua memahami visi dan misi organisasi. Dalam
pencermatan lingkungan internal dan eksternal organisasi harus
dilakukan oleh anggota organisasi yang berpengalaman dan mengenal
betul karakter organisasi sehingga mampu mengetahui isu-isu organisasi
yang strategis.
Contoh model perencanaan strategis adalah dalam penyusunan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), serta Rencana Strategis Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). RPJM memuat Visi, Misi dan
program-program Kepala Daerah berdasarkan janji-janji saat pencalonan
Kepala Daerah. Namun dalam perkembangannya Visi, Misi dan
program-program Kepala Daerah mengalami perubahan saat masih
menjadi calon Kepala Daerah dengan sesudah menjadi Kepala Daerah.
Perubahan tersebut disebabkan karena Visi, Misi dan Program sebelum
menjadi Kepala Daerah disusun dan direncanakan oleh Tim Sukses
calon Kepala Daerah. Sedangkan setelah menjadi Kepala Daerah, visi,
misi dan program-program tersebut disusun oleh perencana melalui
Bappeda. Hal ini bisa dihindari apabila terjalin komunikasi antara Tim
Sukses dengan Kepala Bappeda.






14

BAB III
KESIMPULAN

Keputusan stratejik adalah pilihan dari beberapa alternatif pilihan stratejik,
dimana pilihan itu masuk akal dan sesuai dengan keadaan untuk
diimplementasikan dalam organisasi.
karateristik utama dari keputusan stratejik ada 7 point yaitu:
a. Tidak terstruktur dan non rutin.
b. Keputusan stratejik memegang peranan sentral bagi
c. Keputusan stratejik pada umumnya sangat kompleks
d. Memiliki kelainan sendiri karena keputusan stratejik sangat jarang
dilakukan,
e. Melibatkan sumber daya yang besar
f. Memiliki konsekuensi yang besar,
g. Selalu mendahului, karena mendahului keputusan berikutnya lebih
mudah dibuat karena telah ada payungnya.
Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk
menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk
mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal dan sumber daya
manusia) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.









14
15

DAFTAR PUSTAKA

Bryson, John M., Strategic Planning For Public and Nonprofit Organization, San
Francisco: Jossey-bass, 1998. Diterjemahkan oleh googletranslate.co.id

Helmi. 2009. Pengambilan Keputusan, (Online). (http://www.agamkab.go.id
/?agam=kreatifitas&se=detil&id=364, Diakses 20 Maret 2014).
Kahar, Fakhri. 2010. Implementasi Keputusan Stratejik (Suatu Studi di
Universitas Negeri Makassar). Jurnal Administrasi Publik, (Online), Vol.
1, No. 1. (https://www.ojs.unm.ac.id/ index.php/ iap/ article/ download/
125/ 18, Diakses 18 Maret 2014).
Mahtika, Hanafie. 2007. Pengambilan Keputusan Stratejik. Makassar: Badan
Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Salusu, J. 1996. Pengambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan
Organisasi Nonprofit. Jakarta: Grasindo
Pangewa, Maharuddin. 2008. Mengenal Subtansi Ilmu Administrasi. Makassar:
Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Pasolong, Harbani. 2008. Kepemimpinan Birokrasi. Bandung: Penerbit Alfabeta.
15