Anda di halaman 1dari 2

Pada primigravida sering mengalami stress dalam menghadapi persalinan.

Stress emosi yang terjadi pada


primigravida menyebabkan peningkatan pelepasan corticotropic-releasing hormone (CRH) oleh hipothalamus, yang kemudian
menyebabkan peningkatan kortisol. Efek kortisol adalah mempersiapkan tubuh untuk berespons terhadap semua stressor
dengan meningkatkan respons simpatis, termasuk respons yang ditujukan untuk meningkatkan curah jantung dan
mempertahankan tekanan darah. Pada wanita dengan preeklamsia/eklamsia, tidak terjadi penurunan sensitivitas terhadap
vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga peningkatan besar volume darah langsung meningkatkan curah jantung dan
tekanan darah.
Pada bab ini, kita akan membahas penelitian experimental atau intervensi (intervention trial). Tujuan dari penelitian
experimental adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yang diprediksi sebelumnya. Desain ini
merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru.
Kelebihan penelitian experimental adalah memungkinkan untuk dilakukan randomisasi dan melakukan penilaian penelitian
dengan double-blind. Teknik randomisasi hanya dapat dilakukan pada penelitian intervensi dibandingkan penelitian
observasional. Dengan teknik randomisasi, peneliti bisa mengalokasikan sampel penelitian ke dalam dua atau lebih kelompok
berdasarkan kritieria yang telah ditentukan peneliti lalu diikuti ke depan. Teknik randomisasi bertujuan untuk menciptakan
karakteristik antar kelompok hampir sama dalam penelitian. Kemudian, desain ini juga memungkinkan peneliti melakukan
double-blind, dimana peneliti maupun responden tidak mengetahui status responden apakah termasuk dalam kelompok
intervensi atau non-intervensi. Kekuatan desain ini bisa meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias dalam
hasil penelitian. Kelemahan penelitian experimental berkaitan dengan masalah etika, waktu dan masalah pengorganisasian
penelitian.

Penelitan experimental dalam epidemiologi secara garis besar, dibagi menjadi dua kelompok besar; 1) penelitian
experimen /randomised controlled trial (RCT) dan 2) penelitian experimen klaster / cluster randomised controlled trial (Cluster
RCT). Experimen dengan desain RCT umumnya dilakukan untuk intervensi secara individu seperti percobaan obat baru,
efektivitas vaksin sedangkan cluster RCT dilakukan untuk intervensi secara kelompok (cluster) seperti untuk melihat
efektivitas promosi dan pelayanan kesehatan. Dalam perhitungan analisa statistik dan perhitungan sampel, korelasi dan
jumlah clusters lebih harus diperhitungkan dibandingkan desain RCT yang berasumsi setiap individu itu mandiri. Berikut
perbedaaan RCT dan cluster RCT secara umum

Tabel 1. Perbedaan umum Cluster RCT dan Indivudually RCT (4)
Characteristics Cluster Randomised Trial Individually Randomised trial
Apa/Siapa yang
dirandomisasi
Kelompok atau kluster Individu/personal
Kejadian Intervensi
(Nature of Intervention)

Sering dilaksanakan pada level
kelompok/klaster (contoh puskesmas,
desa, rumah sakit)
Diimpementasikan pada tingkatan
individu
Ukuran sampel Harus memperhitungkan
Nilai korelasi dalam klaster-klaster
Mengasumsikan setiap orang itu
mandiri/independen
Analisis Harus memperhitungkan klaster Mengasumsikan setiap orang

Crossover trials, Individual patient (n-of-1) trials, community based cluster trials, non randomised intervention trials
(elwood)

PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA
2.1 Konsep Dasar Preeklampsia & Eklampsia
Pre eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi edema dan protein usia yang timbul karena kehamilan dan umumnya
terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan (Sarwono, 2002:282). Pre eklampsia ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan
edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Mansjoer Arif, 2000:270).
Pre eklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi
endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria (Cunningham et al, 2003, Matthew warden, MD, 2005).
Pre eklampsia terjadi pada umur kehamilan diatas 20 minggu, paling banyak terlihat pada umur kehamilan 37 minggu, tetapi
dapat juga timbul kapan saja pada pertengahan kehamilan. Penyebab pasti Preeklampsia masih belum jelas. Hipotesa faktor-
faktor etiologi Preeklampsia bisa diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu: Genetik, Imunologi, Gizi, Infeksi
Peran faktor imunologis : Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama, hal ini dihubungkan dengan pembentukan
blocking antibodies terhadap antigen plasenta yang tidak sempurna. Beberapa wanita dengan Preeklampsia mempunyai kompleks
imun dalam serum. Beberapa study yang mendapati aktivasi komplemen dan system imun humoral pada Preeklampsia.
Peran faktor genetik / familial : Beberapa bukti yang mendukung factor genetik pada Preeklampsia antara lain:
a. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia
b. Terdapat kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia pada anak-anak dari ibu yang menderita Preeklampsia.
c. Kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia pada anak cucu ibu hamil dengan riwayat Preeklampsia dan
bukan ipar mereka.
Faktor Risiko
Walaupun belum ada teori yang pasti berkaitan dengan penyebab terjadinya preeklampsia, tetapi beberapa penelitian
menyimpulkan sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia. Faktor risiko tersebut meliputi:
1. Riwayat preeklampsia, seseorang yang mempunyai riwayat preeklampsia atau riwayat keluarga dengan preeklampsia
maka akan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia.
2. Primigravida, karena pada primigravida pembentukan antibodi penghambat (blocking antibodies) belum sempurna
sehingga meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Perkembangan preeklampsia semakin meningkat pada umur
kehamilan pertama dan kehamilan dengan umur yang ekstrem, seperti terlalu muda atau terlalu tua.
3. Kegemukan
4. Kehamilan ganda, pre eklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang mempuyai bayi kembar atau lebih.
5. Riwayat penyakit tertentu, wanita yang mempunyai riwayat penyakit tertentu sebelumnya, memiliki risiko terjadinya
preeklampsia. Penyakit tersebut meliputi hipertensi kronik, diabetes, penyakit ginjal atau penyakit degeneratif seperti
reumatik arthritis atau lupus.
Pre eklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Penyebab pre
eklampsia ringan belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai maladaptation syndrome akibat vasospasme
general dengan segala akibatnya. Gejala klinis pre eklampsia ringan meliputi :
a. Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih; diastol 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada
kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg; diastol 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg.
b. Proteinuria : secara kuantitatif lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif positif 2
c. Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
4. Pemeriksaan dan Diagnosis
a. Kehamilan lebih 20 minggu.
b. Kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih dengan pemeriksaan 2 kali selang 6 jam dalam keadaan istirahat (untuk
pemeriksaan pertama dilakukan 2 kali setelah istirahat 10 menit).
c. Edema tekan pada tungkai (pretibial), dinding perut, lumbosakral, wajah atau tungkai.
d. Proteinuria lebih 0,3 gram/liter/24 jam, kualitatif (++).
Pre Eklampsia Berat
Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih
disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre eklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi
menjadi : Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medisinal.
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG).
1. Indikasi : Usia kehamilan 37 minggu atau lebih Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi
konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada
gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) Adanya tanda IUGR
c. Laboratorium Adanya HELLP syndrome (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia).
a. Tes tidur miring (TTM)
Tes ini dikenal dengar nama Roll-over test pertama kali diperkenalkan oleh Gant dan dilakukan pada usia kehamilan 28-32
minggu. Pasien berbaring dalam sikap miring ke kiri, kemudian tekanan darah diukur, dicatat dan diulangi sampai tekanan darah
tidak berubah. Kemudian penderita tidur terlentang kemudian diukur dan dicatat kembali tekanan darahnya. Tes dianggap positif
bila selisih tekanan darah diastolik antara posisi baring ke kiri dan terlentang menunjukkan 20 mmHg atau lebih. Tes ini
mempunyai sensitivitas 88%, spesifitas 95%, nilai prediksi positif 93% dan nilai prediksi negatif 91%.