Anda di halaman 1dari 21

Asas-asas dalam Hukum Administrasi Negara :

- Asas-asas umum pemerintahan yang baik/layak (AAUPB)


- Prinsip-prinsip dalam good governance
- Asas-asas HAN lainnya

Kegunaan asas-asas dan prinsip-prinsip (AAUPB dan Good Governance) bagi HAN ini :
- Sebagai dasar dalam pembentukan HAN.
- Sebagai pedoman bagi pejabat administrasi negara dalam menjalankan tugas.
- Sebagai dasar bagi kerjasama dan koordinasi diantara badan/pejabat administrasi negara.
- Memelihara kewibawaan dan kepercayaan bagi administrasi negara dari masyarakat.

Asas-asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB) :
1. Asas tidak boleh menyerobot wewenang badan administrasi negara lainnya
Setiap badan administrasi negara mempunyai wewenang sendiri-sendiri.
2. Asas persamaan atau non diskriminatif
Kesamaan hak bagi setiap warga negara.
Perbuatan administrasi negara tidak boleh diskriminatif terhadap warga.
Hal-hal yang sama harus diperlakukan sama.
Di peradilan asas persamaan jarang dipakai karena keadaan yang konkrit tidak
pernah sepenuhnya sama satu sama lain.
Pemerintah harus dapat memberikan alasan mengapa dalam pelaksanaan yang
sepintas sama akhirnya harus dipandang tidak sama.
3. Asas upaya memaksa
Dalam HAN perlu adanya sanksi sebagai upaya supaya orang taat kepada HAN.
4. Asas kepercayaan
Harapan-harapan yang ditimbulkan sedapat mungkin harus dipenuhi.
Menepati janji-janji yang pernah diberikan, bisa dalam bentuk keterangan-
keterangan, aturan-aturan kebijaksanaan dan bentuk-bentuk rencana.
Asas ini menghalangi kebijaksanaan yang berlaku surut, yang merugikan para pihak.
5. Asas legalitas/kepastian hukum
Badan pemerintahan/pejabat pemerintahan untuk tidak menarik kembali suatu
keputusan atau mengubahnya yang menimbulkan kerugian bagi yang
berkepentingan.
Penarikan kembali keputusan atau pengubahan keputusan dapat dilakukan bila terjadi
hal-hal:
a. Karena perubahan keadaan atau pendapat.
b. Adanya kekeliruan, pihak yang berkepentingan mengetahui kekeliruan
tersebut.
c. Pihak yang berkepentingan memberikan keterangan yang tidak benar atau tidak
lengkap, sehingga menyebabkan keputusan yang keliru.
d. Tidak ditaati syarat-syarat yang dikaitkan pada keputusan tersebut.
Asas kepastian hukum dapat memberi kepada yang berkepentingan untuk
mengetahui dengan tepat hak dan kewajiban apa yang dikehendaki dari padanya
(adanya transparansi).
Asas kepastian hukum menghalangi keputusan yang berlaku surut apabila keputusan
tersebut merugikan pihak yang terkena keputusan.
6. Asas kecermatan
Suatu keputusan harus dipersiapkan dan diambil dengan cermat. Meneliti semua
fakta dan kepentingan yang berhubungan langsung, juga memperhitungkan
kepentingan pihak ketiga yang mungkin terkena akibat dari keputusan tersebut.
Kalau fakta-fakta kurang menduking, dapat minta keterangan/mendengar dari pihak
yang berkepentingan atau pendapat para ahli.
7. Asas pemberian alasan (motivasi)
Suatu keputusan harus dapat didukung oleh alasan-alasan yang dijadikan dasarnya.
Alasan-alasan yang dikemukakan harus meyakinkan, pemberian alasan tidak saja
harus masuk akal, tetapi secara keseluruhan harus sesuai dan memiliki kekuatan
meyakinkan.
Pemberian alasan sedapat mungkin segera diumumkan atau diberitahukan bersama-
sama dengan keputusan yang telah dikeluarkan.Ciri-cirinya :
a. Adanya penyusunan yang rasional. Pemerintah harus dapat memberi alasan
mengapa pemerintah telah mengambil suatu keputusan tertentu.
b. Keputusan harus memiliki dasar fakta yang kuat.
c. Fakta-fakta yang menjadi titik tolah dari keputusan yang akan dikeluarkan
harus benar.
d. Pemberian alasan harus cukup dapat mendukung.
8. Asas larangan penyalahgunaan wewenang
Suatu wewenang tidak boleh digunakan untuk tujuan lain selain untuk tujuan dimana
wewenang itu diberikan. Bisa menimbulkan detournement de pouvoir.
9. Asas fairplay
Pemerintah di dalam mengeluarkan keputusan harus jujur sesuai dengan yang
diinginkan.
Pada tahu 1950 pemerintah Belanda membentuk komisi yang diketuai oleh Mr. De
Monchy yang bertugas menyelidiki cara-cara perlindungan hukum bagi penduduk/ rakyat.
Komisi ini telah berhasil menyusun asas-asas umum untuk pelaksanaan suatu pemerintahan yang
baik yang diberi nama General Principle of Good Government .
Asas-asas umum menurut Komisi de Monchy adalah :
1. Asas Kepastian Hukum
Artinya didalam pemerintah menjalankan wewenagnya haruslah sesuai dengan aturan-aturan
hukum yang telah ditetapkannya. Pemerintah harus menghormati hak-hak seseoang yang
diperoleh dari pemerintah dan tidak boleh ditarik kembali. Pemerintah harus konsekwen atas
keputusannya demi terciptanya suatu kepastian hukum.
2. Asas Keseimbangan
Yaitu adanya keseimbangan antara pemberian sanksi terhadap suatu kesalahan seseorang
pegawai, janganlah hukuman bagi seseorang berlebihan dibandingkan dengan kesalahannya,
misalnya seorang pegawai baru tidak masuk kerja langsung dipecat, hal ini tidak seimbang
dengan hukuman yang diberikan kepadanya. Dengan adanya asas ini maka lebih menjamin
terhadap perlindungan bagi pegawai negeri.
3. Asas Kesamaan
Artinya pemerintah dalam menghadapi kasus yang sama/ fakta yang sama, pemerintah harus
bertindak yang sama tidak ada perbedaan, tidak ada pilih kasih dan lain sebagainya.
4. Asas Bertidak Cermat
Artinya pemerintah senantiasa bertindak secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerugian bagi
warga masyarakat, misalnya kewajiban pemerintah memberi tanda peringatan terhadap jalan
yang sedang diperbaiki, jangan sampai dapat menimbulkan korban akibat jalan diperbaiki.
5. Asas Motivasi
Artinya setiap keputusan pemerintah harus mempunyai alasan atau motivasi yang benar dan adil
dan jelas. Jadi tindakan-tindakan pemerintah disertai alasan-alasan yang tepat dan benar.
6. Asas Jangan Mencampuadukan Kewenangan
Artinya pemerintah jangan menggunakan wewenang untuk tujuan yang lain, selain tujuan yang
sudah ditetapkan untuk wewenang itu.
7. Asas Fair Play
Artinya pemerintah harus memberikan kesempatan yang layak kepada warga masyarakat untuk
mencari kebenaran dan keadilan, misalnya memberi hak banding terhadap keputusan pemerintah
yang tidak diterima.
8. Asas Keadilan dan Kewajaran
Artinya pemerintah tidak boleh bertindak sewenang-wenang atau menyalahgunakan wewenang
yang diberikan kepadanya untuk kepentingan pribaduinya.


9. Asas Menanggapi Penghargaan Yang Wajar
Artinya agar tindakan pemerintah dapat menimbulkan harapan-harapan yang wajar bagi yang
berkepentingan, misalnya seorang pegawai negeri minta izin untuk menggunakan kendaraan
pribadi pada waktu dinas, yang kemudian izin yang telah diberikan untuk menggunakan
kendaraan pribadi dicabut, tindakan pemerintah demikian dianggap salah/ tidak wajar.
10. Asas Meniadakan Akibat-Akibat Suatu Keputusan Yang Batal
Asas ini menghendaki jika terjadi pembatalan atas suatu keputusan, maka yang
bersangkutanharus diberi ganti rugi atau rehabilitasi.
11. Asas Perlindungan Hukum
Artinya bahwa setiap pegawai negeri diberi hak kebebasan untuk mengatur kehidupan
pribadinya sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya atau sesuai dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila.
12. Asas Kebijaksanaan
Artinya pemerintah dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan undangundang dan
menyelenggarakan kepentingan umum. Unsur bijaksana harus dimiliki oleh setiap pegawai/
Pemerintah.
13. Asas Penyelenggraan Kepentingan Umum
Artinya tugas pemerintah untuk mendahulukan kepentingan umu daripada kepentingan pribadi.
Pegawai negeri sebagai aparatur Negara, abdi Negara, dan abdi masyarakat dan Pemerintah
menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan.




Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPB) Menurut UU RI Nomor 28
Tahun 1999.
Dalam Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pasal 1 angka 6 menyebutkan bahwa
Asas Umum Pemerintahan Negara yang Baik adalah asas yang menjunjung tinggi norma
kesusilaan, kepatutan, dan norma hukum, untuk mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih
dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Dalam Bab III Pasal 3 UU No. 28 Tahun 1999 menyebutkan Asas-Asas Umum Penyelenggaraan
Negara meliputi :
1. Asas Kepastian Hukum ;
2. Asas Tertib Penyelenggaran Pemerintahan ;
3. Asas Kepentingan Umum ;
4. Asas Keterbukaan ;
5. Asas Proporsionalitas;
6. Asas Profesionalitas;
7. Asas Akuntabilitas.
Dalam penjelasan dari Pasal 3 dijelaskan yang dimaksud dengan :
1. Asas Kepastian Hukum adalah asas dalam Negara hukum yang mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara
Pemerintah.
2. Asas Tertib Penyelenggaran Negara adalah asas yang menjadi landasan keteraturan,
keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan Negara.
3. Asas Kepentingan Umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum, dengan cara
yang aspioratif, akomodatif, dan selektif.
4. Asas Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan
Negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia
Negara.
5. Asas Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan
kewajiban Penyelenggara Negara.
6. Asas Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik
dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Asas Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari
kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau
rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku.
Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPB) Menurut Menurut World
Bank dan UNDP tahun 1997.
Suatu pemerintahan yang baik meliputi :
1. Participation
2. Rule of Law
3. Transparancy
4. Responsiveness
5. Concensus Orientation
6. Equity
7. Effectiveness and Efeciency
8. Acountability
9. Strategy Vision
Dari uraian-uraian di atas maka cirri-ciri Tata Pemerintahan yang baik antara lain adalah :
1. Mengikutsertakan seluruh masyarakat
2. Transparansi dan bertanggung jawab
3. Adil dan Efektive
4. Menjamin Kepastian Hukum
5. Adanya Konsensus masyarakat dengan Pemerintah dalam segala bidang
6. Memperhatikan kepentingan orang miskin.

















Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik
Prof.Dr.BagirManan,
Guru Besar Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung
Good Governance hindarkan rakyat dari tindakan negara yang merugikan
Good Governance berkaitan dengan tata penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Sedangkan pemerintahan dapat diartikan secara sempit dan luas.
Dalam arti sempit, penyelenggaraan pemerintahan yang baik bertalian dengan
pelaksanaan fungsi administrasi negara. Dalam kaitan ini, di Negeri Belanda (yang juga
diikuti oleh ahli Hukum Administrasi Negara Indonesia) dikenal sebagai "Prinsip-prinsip
atas asas-asas umum penyelenggaraan administrasi yang baik". Asas ini berisikan
pedoman yang harus digunakan oleh administrasi negara dan juga oleh hakim untuk
menguji keabsahan (validitas) perbuatan hukum atau perbuatan nyata administrasi
negara. Asas ini pun meliputi antara lain: motivasi yang jelas, tujuan yang jelas, tidak
sewenang-wenang, kehati-hatian, kepastian hukum, persamaan perlakuan,, tidak
menggunakan wewenang yang menyimpang dari tujuan, fairness dan lain-lain.
Harus diakui bahwa administrasi negara sebagai penyelenggara negara fungsi
pemerintahan (eksekutif), selain memiliki konsentrasi kekuasaan yang makin besar,
juga bersentuhan langsung dengan rakyat. Tindakan-tindakan penertiban, perizinan
dan berberbagai pelayanan merupakan pekerjaan administrasi negara yang langsung
berhubungan dengan rakyat. Setiap bentuk penyalahgunaan kekuasaan atau cara-cara
bertindak yang tidak memenuhi syarat penyelenggaraan administrasi negara yang baik
akan langsung dirasakan sebagai perbuatan sewenang-wenang atau merugikan orang
tertentu atau pun rakyat banyak. Karena itu, betapa penting pelaksanaan asas-asas
diatas untuk mencegah dan menghindari rakyat dari segala tindakan administrasi
negara yang dapat merugikan rakyat.
Tetapi, cabang-cabang penyelenggara negara yang lain, seperti pembentuk undang-
undang (DPR) atau penegak hukum (kekuasaan kehakiman) tidak kurang perannya
dalam mewujudkan dan menampakkan pemerintahan yang baik, kurang atau tidak
baik. Pembentuk UU dapat membuat UU yang sewenang-wenang. Berbagai UU yang
dibuat belum tentu berpihak kepada kepentingan rakyat banyak melainkan untuk
kepentingan penguasa atau kepentingan kelompok tertentu yang tentu saja dominan,
seperti para konglomerat dan lain-lain.
Demikian pula dalam penegakkan hukum, dapat terjadi berbagai tindakan atau putusan
yang sewenang-wenang. Kesewenang-wenangan itu bukan hanya terjadi karena
kekuasaan penegak hukum tidak berdaya atau berkolaborasi dengan penyelenggara
cabang kekuasaan lain. Kesewenang-wenangan dapat juga terjadi karena
penyalahgunaan kekuasaan kebebasan yang ada pada penegak hukum. Berbagai
tindakan hukumseperti perkara perdata yang dijadikan perkara pidana, putusan
hakim yang dirasakan tidak benar dan tidak adil, penundaan eksekusi yang merugikan
pencari keadilansama sekali tidak terkait dengan ketidakberdayaan atau
kolaborasinya dengan kekuasaan, melainkan karean penyalahgunaan kebebasan dalam
memutus atau membuat suatu ketetapan.
Menyikapi hal diatas, seyogyanya tinjauan mengenai penyelenggaraan pemerintahan
yang baik (good governance) tidak hanya berkenaan dengan fungsi administrasi
negara, melainkan juga termasuk pada cabang-cabang kekuasaan negara yang lain
seperti pembentukan undang-undang dan penegak hukum.
Berbagai ungkapan teoritik sering dilekatkan pada bentuk dan isi penyelenggaraan
pemerintahan yang baik seperti: responsible, accountable, controlable, transparancy,
limitable dan lain sebagainya.
Bagi rakyat banyak, penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah pemerintahan
yang memberikan berbagai kemudahan, kepastian dan bersih dalam menyediakan
pelayanan dan perlindungan dari berbagai tindakan sewenang-wenang baik atas diri,
hak maupun harta bendanya.
Dalam kaitan pelayanan dan perlindungan, ada dua cabang pemerintahan yang
berhubungan langsung dengan rakyat yaitu administrasi negara dan juga penegak
hukum.
Karena itu sangat wajar apabila tuntutan penyelenggaraan pemerintahan yang baik
terutama ditujukan pada pembaharuan administrasi negara dan pembaharuan
penegakkan hukum.
Pelayanan yang dipanjang-panjangkan atau bertele-tele (birokratisasi), bukan hanya
memperlambat, tetapi menjadi suatu fungsi "komersial", karena melahirkan sistem
"uang pelicin", "hadiah" yang tidak lain dari suatu bentuk suap. Hal serupa terjadi pada
penegakkan hukum . Keadilan yang ditentukan oleh kemampuan tawar-menawar
menurut hukum tawar-menawar.
Berdasarkan keadaan diatas, secara praktis usaha mewujudkan penyelenggaraan
pemerintahan yang baik tidak lain dari pemerintahan yang bersih, memberikan
kemudahan dan berbagai jaminan bagi rakyat banyak. Dan mengingat sentuhan
langsung kepada masyarakat, penyelenggaraan pemerintahan yang baik tidak lain dari
upaya pembaharuan sistem adminstrasi negara (birokrasi) dan tata cara penegakkan
hukum.
Penyelenggaraan pemerintahan yang baik atau pun tidak, tidak semata-mata terjadi
karena ketentuan hukum yang tidak jelas, manajemen pemerintahan yang kurang baik
atau berbagai faktor tata laksana pemerintahan lainnya.
Tatanan politik yang berlaku dapat mempengaruhi bahkan menentukan baik, kurang,
atau tidak baik penyelenggaraan pemerintahan. Politisasi birokrasi untuk mendukung
regim politik yang berkuasa, menjadi salah satu contoh terjadinya segala bentuk sistem
perkoncoan menuju pada korupsi, kolusi dan nepotisme. Lebih lanjut, politisasi
birokrasi menyebabkan administrasi tidak berorientasi kepada kepentingan masyarakat,
tetapi pada kekuasaan. Birokrasi menjadi tertutup dan tidak dapat terkontrol secara
wajar.
Faktor lain yang mempengaruhi penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah
kepastian dalam penegakkan hukum. Di masa Orde Baru ada semacam praktik yang
ganjil, apabila seorang pejabat diketahui melakukan tindakan pidana korupsi, maka
secara internal ia ditawari untuk mengembalikan hasil-hasil korupsi, namun pejabat
korup ini tidak dihukum. Pengembalian hasil korupsi tersebut dianggap meniadakan
sifat pidana dengan alasan negara atau pemerintah tidak mengalami kerugian.
Perlindungan atas berbagai penyelewengan tersebut dilakukan antara lain demi
"menjaga kewibawaan" satuan atau pejabat yang bersangkutan.
Faktor manajemen pemerintahan juga ikut menentukan, termasuk sistem sentralisasi
yang mengabaikan penyelenggaraan pemerintah dalam satu sistem otonomi yang akan
memungkinkan daerah dapat ambil bagian secara wajar dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Sentralisasi yang berjalan terutama 40 tahun terakhir selain melahirkan
birokratisasi mahal, juga pada saat ini melahirkan berbagai tuntutan dari berbagai
daerah untuk melepaskan diri dari ikatan RI.
Tidak Selalu Memiliki Kualifikasi
Tidak kalah penting adalah sumber daya manusia. Mulai dari rekuitmen (untuk
sebagian dilakukan dengan dasar koncoisme atau suap) menyebabkan sumber daya
manusa tidak selalu memiliki kualifikasi sebagai pengemban penyelenggara
pemerintahan yang baik. Selain dasar-dasar hubungan primordial, ketentuan-ketentuan
yang mengatur sistem promosi tidak jarang menjadi hambatan memperoleh tenaga
yang masih berpotensi melaksanakan tugasnya dengan baik.
Promosi untuk menjadi Hakim Agung yang berasal dari hakim karir, misalnya, harus
menempuh masa kerja dan jabatan yang panjang. Seorang mungkin bisa menjadi
Hakim Agung hanya untuk masa yang pendek sebelum masa pensiun. Akibatnya yang
bersangkutan tidak berkesempatan untuk melaksanakan tugas dalam jangka waktu
yang wajar.
Berbagai faktor diatas merupakan sebagian kenyataan yang menyebabkan sulitnya
mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yang berpihak kepada
kepentingan rakyat.
Sebenarnya baik secara ilmiah maupun berbagai bentuk kebijakan telah banyak
disusun konsep untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Tetapi
tidak terlaksana sebagai mestinya, bila karena faktor-faktor politik maupun kurangnya
kemauan dari pengelola pemerintahan.
Langkah-langkah
Demokrasi dan juga supremasi hukum seyogyanya menjadi pangkal tolak mewujudkan
penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Berdasarkan prinsip demokrasi dan
supremasi hukum dapat diharapkan unsur-unsur seperti keterbukaan, dapat diawasi,
akuntabilitas dan lain sebagainya. Usaha untuk mewujudkan penyelenggaraan
pemerintahan yang baik dapat dilakukan seperti cara di bawah ini.
Pertama, melanjutkan pembaharuan politik. Peraturan perundang-undangan di bidang
politik yang menjadi dasar pembentukan pemerintahan baru, dapat diperbaharui.
Ketentuan-ketentuan mengenai sistem pemilu, susunan MPR, DPR, dan DPRD, KPU
yang independen dan lain-lain perlu ditata kembali.
Kedua melanjutkan pembaharuan UUD. Pembahruan ini tidak hanya mengenai jabatan
kepresidenan, tetapi perbaikan keseluruhan termasuk menyusun kembali badan
perwakilan menuju sistem dua kamar. Demikian pula mengenai lembaga negara lain,
disamping ketentuan-ketentuan mengenai hak asasi dan lain sebagainya.
Ketiga, melanjutkan pembaharuan kekuasaan kehakiman seperti sistem pemilihan
hakim Agung, pertanggungjawaban hakim yang melanggar hukum, wewenang menguji
tindakan pemerintahan dan peraturan perundangan dibawah UUD, masa jabatan haik
dan lain sebagainya.
Keempat, pembahruan administrasi negara. Melanjutkan pembebasan administrasi
negara dari segala pengaruh politik. Penyusunan kembali organisasi administrasi
negara. Menyiapkan daerah untuk menjalankan tatanan otonomi baru yang meletakkan
titik berat penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam kaitan dan pemikiran bentuk
negara federal, perlu dibentuk Komisi Nasional untuk menyelidiki masalah federal dan
juga otonomi. Usaha merampingkan administrasi negara untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas perlu ditingkatkan tanpa mengurangi asas kehati-hatian dan tidak
sewenang-wenang. Memperbesar gaji pegawai dapat lebih memusatkan perhatian pada
tugas-tugasnya.
Kelima, ketegasan dalam menjalankan prinsip dan ketentuan hukum untuk menjamin
kepastian, ketertiban dan keadilan hukum.
Keenam, Melakukan evaluasi terhadap segala produk hukum masa lalu, dalam rangka
membangun satu tertib hukum yang utuh dan harmonis satu sama lain. Tugas ini
seyogyanya dijalankan Badan Pembinaan Hukum Nasional dengan mengikutsertakan
para ahli dan juga praktisi dari kalangan kampus.
Ketujuh, menata kembali pemerintahan desa agar mampu menjalankan pemerintahan
yang bersentuhan langsung dengan rakyat banyak. Penataan ini dapat mencakup
kemungkinan penggabungan desa-desa agar lebih managable dan mandiri.



Artikel
Penyelenggaraan Otonomi Pertanahan; Suatu Pemikiran
[ Rizal Anshari ]
1. Latar Belakang
Pelaksanaan otonomi daerah sudah memasuki implementasi tahun kedua,
walau banyak kelemahan dan kendala dalam pelaksanaan otonomi daerah,
namun kita tidak bisa mundur dan kembali ke belakang. Otonomi daerah mesti
kita sikapi dengan bijaksana dan hati-hati agar implementasi dari undang-
undang dimaksud dapat berjalan dengan semestinya. Dari sekian banyak
persoalan yang harus dibenahi oleh pemerintah pusat dalam pelaksanan
otonomi daerah adalah persoalan yang menyangkut masalah kewenangan
pertanahan. Sesuai dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999,
bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah/Kabupaten antara
lain bidang pertanahan.









Tugas bidang pertanahan menurut undang undang tersebut dilaksanakan oleh
dinas daerah atau lembaga teknis lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah
masing-masing, sedangkan menurut PP. 25/2000, Propinsi sebagai derah
otonomi tidak mempunyai kewenangan dalam bidang pertanahan, sehingga
pelimpahan dibidang pertanahan di tingkat propinsi sebagai daerah
administrasi sangat bergantung pada Pemerintahan Pusat. Kalaupun ada
pelimpahan kewenangan pusat kepada gubernur selaku kepala pemerintahan
di tingkat propinsi, maka itu masih dalam kerangka dekonsentrasi.

Sampai saat ini masih terdapat selisih pendapat mengenai pelaksanaan
otonomi pertanahan. Hal ini terlihat dari adanya daerah yang membentuk
dinas daerah yang melaksanakan tugas-tugas pertanahan dan ada juga yang
masih menunggu petunjuk tennis dari pemerintah pusat, bahkan di beberapa
daerah seperti Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, telah
melantik pejabat-pejabat di lingkungan Dinas Pertanahan dan beberapa
kabupaten/kota lain. Perbedaan pendapat dan duplikasi organisasi
pertanahan di daerah tentu saja menimbulkan in-efisiensi dan
membingungkan masyarakat.

Berdasarkan rapat dengan Tim Keppres tanggal 22 Desember 2000 bahwa
ketua tim yang membawahi Badan Pertanahan Nasional mengatakan bahwa
BPN tetap melaksanakan tugas-tugas berdasarkan Keppres No. 195/2000,
namun demikian dianjurkan untuk meninjau kembali Keppres tersebut untuk
disesuaikan dengan Undang-undang No. 22 tahun 1999.

Tulisan ini dimaksud untuk memberikan sumbangan pemikiran mengenai
penyelenggaraan otonomi bidang pertanahan.

2. Tujuan Pengelolaan Pertanahan dan Otonomi Pertanahan
Pada dasarnya tujuan pengelolaan pertanahan dan otonomi pertanahan adalah
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat. Dalam mencapai tujuan tersebut sasaran pemerintahan
dalam mengelola pertanahan adalah catur tertib pertanahan, yaitu tertib
hukum pertanahan, tertib administrasi pertanahan, tertib penggunaan tanah
dan tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup.

Catur tertib pertanahan tersebut merupakan tugas yang tidak dapat
dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional sendiri, tetapi merupakan tugas
dan fungsi lintas departemen. Dari keempat tertib pertanahan tersebut diatas
salah satu sasaran yang cukup urgen adalah menyangkut Adminstrasi
Pertanahan. Badan Pertanahan Nasional merupakan pelaku utama untuk
tercapainya tertib administrasi pertanahan.

Ada beberapa indikator untuk melihat tingkat keberhasilan pemerintah dalam
mewujudkan tertib administrasi pertanahan antara lain :
a. diketahuinya siapa yang memiliki/menguasai sesuatu bidang tanah jenis
penggunaan tanahnya.
b. bagaimana hubungan hukum antara bidang tanah dengan yang menguasai
bidang tanah.
c. berapa luas suatu bidang tanah yang dimiliki oleh orang atau badan hukum.
d. dimana letak tanah tersebut yang dapat dipetakan berdasarkan suatu
sistem proyeksi peta yang dipilih, sehingga dapat dihindari tumpang tindih
sertipikat.
e. informasi yang disebutkan pada huruf a, b, c dan d diatas dikelola dalam
sistem informasi pertanahan yang memadai.
f. penyimpanan dokumen yang tertib, teratur, dan terjamin keamanannya.
g. terdapat prosedur tetap yang sederhana, cepat namun akurasinya terjamin.
Salah satu cara yang sangat efektif dalam mewujudkan Administrasi
pertanahan adalah dengan menyelenggarakan pendaftaran tanah sistematik.

Namun demikian hambatan yang dihadapi pemerintah sekarang dalam
pelaksanaan kegiatan ini menyangkut pendanaan. Oleh pemerintah pusat,
untuk mengatasi hambatan tersebut pemerintah melalui Badan Pertanahan
Nasional melaksanakan Proyek Administrasi Pertanahan (PAP Tahap I)
melalui pinjaman dana yang berasal dari Bank Dunia dan dana pendamping
APBN. Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 1994 dan berakhir tahun 2000.

Melihat betapa urgensinya kegiatan pendaftaran tanah sistematik dalam
mewujudkan tertib administrasi pertanahan di Indonesia, pemerintah maupun
pihak Bank Dunia tengah mengevaluasi kegiatan PAP tahap I. Ada indikasi
bahwa pelaksanaan PAP tahap I cukup berhasil walau ada beberapa hambatan
dan permasalahan dalam pelaksanaannya. Diharapkan pada tahap kedua
pelaksanaan proyek administrasi pertanahan ini, makin dapat mewujudkan
tertib administrasi pertanahan di Indonesia.

Selain untuk mewujudkan tertib administrasi pertanahan, maka Badan
Pertanahan Nasional sebagai organisasi publik mempunyai tugas pelayanan
kepada masyarakat. Sebagai organisasi publik dan mendorong "good
governance" BPN sudah semestinya menciptakan pelayanan yang lebih
transparasi, sederhana, murah dan akuntabilitasnya dapat dipertanggung-
jawabkan kepada publik. Penyerahan kewenangan bidang pertanahan kepada
daerah dalam rangka Otonomi Daerah dimaksudkan agar dapat meningkatkan
pelayanan pemerintah kepada masyarakat dan meringankan beban
masyarakat dalam pengurusan pertanahan, yang menurut sebagian orang
masih tetap dipusatkan di BPN Pusat.


3. Pelaksanaan Pengelolaan Pertanahan
Kebijakan pengelolaan pertanahan diatur dalam beberapa undang-undang
antara lain; Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-undang
Penataan Ruang. UUPA merupakan hukum publik dan hukum perdata, sebagai
hukum publik memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk
melaksanakan politik pertanahan, dan sebagai hukum perdata antara lain
mengatur kewenangan pemegang hak atas tanah dalam menggunakan hak
keperdataannya antara lain seperti memanfaatkan tanah, menjual tanah,
memberikan hak tanggungan.

Badan Pertanahan Nasional melaksanakan tugasnya berdasarkan UUPA secara
umum mengatur beberapa hal mengenai:
a. kebijaksanaan pengaturan penguasaan dan hak-hak atas tanah (land tenure
dan land rights).
b. kebijaksanaan rencana penggunaan tanah (land use planning).
c. kebijaksanaan pendaftaran tanah (land registration).
Pengaturan ketiga jenis kebijaksanaan pertanahan yang merupakan
kewenangan negara tersebut dijabarkan lagi dalam peraturan perundangan
berupa Undang-undang sampai tingkat peraturan menteri. Dalam UUPA
ditegaskan bahwa kewenangan penyelenggaraan pengelolaan pertanahan
yang berkaitan dengan pengaturan penguasaan tanah, hak-hak atas tanah,
dan pendaftaran tanah dipegang oleh Pemerintah Pusat dan pelaksanaannya
sebagian besar dilaksanakan di propinsi dan di kota/kabupaten, bahkan
kewenangan pendaftaran hak atas tanah untuk segala jenis hak maupun
penggunaannya dilaksanakan di kota/kabupaten dalam rangka dekonsentrasi.
Sedangkan rencana penataan ruang (termasuk penggunaan tanah daerah)
menurut pasal 14 ayat (2) UUPA dan pasal 27 dan pasal 28 Undang-undang
No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang kepada daerah diserahkan kepada
daerah dalam rangka desentralisasi.

Dalam rangka memberikan kepastian hukum atas hak dan batas tanah pasal
19 UUPA menugaskan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan
pendaftaran tanah yang sangat penting artinya untuk mendapat ketenangan
dan kepercayaan diri bagi masyarakat yang mempunyai hak atas tanah.
Pendaftaran tanah pertama kali yang meliputi kegiatan pengukuran dan
pemetaan, pembukuan tanah, ajudikasi, pembukuan hak atas tanah dan
penerbitan sertipikat memerlukan biaya yang relatif tinggi, sehingga
percepatan kegiatan tersebut Pemerintah mendapat pinjaman dari Bank
Dunia.

Penyelenggaraan pendaftaran tanah pada saat ini melalui 2 (dua)
pendekatan:

Pertama melalui pendekatan sistematik : Proyek uji coba pendekatan
sistematik dilaksanakan tahun 1995 di Kota Depok, yang biayanya mendapat
bantuan Bank Dunia. Biaya yang dipungut masyarakat untuk tanah hak lama
antara Rp. 3.000 - Rp. 45.00, sedangkan untuk tanah-tanah yang berasal dari
tanah negara berkisar antara lain Rp. 10.500 - Rp. 18.000. dengan
diberlakukannya PMNA No. 4 tahun 1998 yang antara lain menghapuskan
biaya administrasi dan PMNA/KBPN No. 7 tahun 1999 yang antara lain
membebaskan biaya pendaftaran tanah, untuk tanah-tanah hak lama
masyarakat hanya dipungut biaya blanko sertipikat. Sedangkan untuk tanah
negara yang diberikan kepada masyarakat dengan sesuatu hak atas hanya
dipungut biaya blanko sertipikat dan untuk tanah-tanah yang nilainya diatas
Rp. 30 juta dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah (BPHTB). Berdasarkan
pengalaman dalam Proyek Administrasi Pertanahan, pendaftaran tanah
sistematik sangat diharapkan oleh masyarakat terutama yang berpenghasilan
rendah.

Kedua melalui pendekatan sporadik : sebagian besar penyelenggaraan
pendaftaran tanah sekarang ini melalui pendekatan sporadik yang
berdasarkan permohonan masyarakat, hal ini disebabkan kemampuan
pemerintah untuk menyelenggaraan pendekatan sistematik terbatas. Biaya
yang dipungut dari masyarakat dalam pendekatan sporadik adalah untuk
pengukuran dan biaya panitia A, sedangkan untuk pendaftaran hak atas tanah
tidak dipungut biaya. Untuk tanah negara yang diberikan kepada masyarakat
dengan sesuatu hak atas tanah dipungut BPHTB (nilai tanah diatas Rp. 30
juta) dan uang pemasukan ke Kas Negara yang besarnya tergantung dari jenis
hak atas tanah dan luas tanahnya dan untuk luas tanahnya tidak lebih dari
200 meter persegi tidak dikenakan uang pemasukan.

Proses penyelenggaraan pendaftaran tanah berfungsi sebagai peradilan
pertanahan, sehingga dalam tahapan pekerjaan terdapat proses ajudikasi
yaitu suatu proses yang menetapkan bagaimana status hukum bidang tanah,
siapa yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah tersebut dan
bagaimana hubungan hukumnya. Oleh karena itulah di sebagian besar negara
Eropa, pelaksanaan pendaftaraan tanah diselenggarakan oleh siapapun.
Begitu juga di Indonesia sampai tahun 1947 penyelenggaraan pendaftaran
hak atas tanah dilakukan oleh pegawai balik nama yang berada di pengadilan
dan dalam pertengahan tahun 1950 an kewenangan pendaftaran hak atas
tanah menjadi tanggung jawab Jawatan Pendaftaran Tanah yang berada di
lingkungan Kementerian Kehakiman.

Realitas lain, dalam pelayanan yang dilaksanakan Badan Pertanahan Nasional
menyangkut masalah pelayanan yang lintas batas dan berwawasan nasional.
Pelayanan pertanahan yang lintas kabupaten/kota maupun propinsi, antara
lain; Pembebanan tanggungan yang dapat di bebankan pada beberapa bidang
tanah yang letaknya di beberapa propinsi dimana bisa saja pembuatan akte
tanggungannya dibuat oleh PPAT dalam satu akta, pemasangan Jaringan
Kerangka Dasar Kadastral Nasional yang melintasi batas propinsi, pembagian
lembar peta dasar pendaftaran yang melintasi batas propinsi. Sehingga
melihat realitas pelayanan seperti diatas, maka kewenangan yang berskala
nasional pelaksanaannya akan lebih efesien kalau di selenggarakan secara
nasional, oleh karena itu menurut PP No. 25 tahun 2000 tetap dilaksanakan
oleh Pemerintah Pusat.

Kondisi saat ini kegiatan pelayanan pertanahan untuk kepentingan
masyarakat sebagian besar dilaksanakan di kota/kabupaten dan propinsi,
sedangkan yang dilaksanakan di pusat hanya sebagian kecil yaitu :
a. Pemberiah hak pengelolaan atas tanah negara kepada pemerintah daerah,
instansi pemerintah, BUMN dan BUMD.
b. Pemberian hak guna usaha atas negara yang luasnya lebih dari 200 Ha.
c. Pemberiah hak milik non pertanian atas tanah negara yang luasnya lebih
dari 5.000 meter persegi.
d. Pemberian hak guna bangunan tanah non pertanian atas tanah negara yang
luasnya lebih dari 15 Ha.
e. Pemberian hak pakai tanah non pertanian yang luasnya lebih dari 15 Ha.
f. Menetapkan pemberian hak atas tanah secara umum.
g. Pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah yang dikeluarkan Kepala
Kantor Wilayah BPN Propinsi yang terdapat cacat hukum dalam
penerbitannya.
h. Pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah yang diterbitkan Kepala
BPN yang terdapat cacat hukum dalam penerbitannya maupun untuk
melaksanakan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap.
i. Penegasan obyek landreform.
j. Pengukuran batas tanah yang luasnya lebish dari 1.000 Ha.
k. Pengukuran kerangka dasar kadastral nasional orde 1 dan orde 2.
l. Pembuatan peta dasar pendaftaran nasional.
m. Penetapan lokasi pendaftaran tanah sistematik.
n. Pemberian hak atas tanah berdasarkan UU No. 3 1960 (P3MB/Prk 5).
4. Prakiraan Permasalahan Otonomi Pertanahan
Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 diklasifikasikan sebagai hukum publik
yang secara langsung tidak dapat diberlakukan dalam bidang pertanahan,
karena bidang pertanahan tidak hanya menyangkut hukum publik tetapi juga
menyangkug hukum perdata (UUPA yang merupakan pengganti Buku II KUH
Perdata yang berkaitan dengan bumi, air dan ruang angkasa). Dengan
demikian perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat
harus berdasarkan UUPA dan peraturan pelaksanaan lainnya, sehingga produk
hukum yang dihasilkan tidak mengandung cacat hukum. Oleh karena itu kalau
otonomi pertanahan dilaksanakan apakah produk hukumnya tidak
mengandung cacat hukum.

Penyelenggaraan pendaftaran tanah selain berskala nasional juga berfungsi
sebagai lembaga peradilan yang berkaitan dengan penetapan status hukum
bidang tanah, batas tanah, siapa yang mempunyai hubungan hukum dengan
tanah tersebut dan bagaimana hubungan hukum tersebut. Dengan demikian
seharusnya dalam melakukan tugasnya harus benar-benar obyektif,
independen dan bebas dari pengaruh siapapun. Kalau kewenangan ini
diserahkan kepada daerah, dikhawatirkan kepentingan Pemerintah Daerah
diutamakan dengan mengabaikan keadilan dan kebenaran menurut hukum.

Pelayanan yang bersifat lintas propinsi seperti pembuatan akta hak
tanggungan yang dibuat oleh seorang PPAT yang wilayah kerjanya meliputi
satu kota/kabupaten akan menimbulkan permasalahan mengenai siapa yang
berhak untuk memberikan izin kepada PPAT tersebut untuk membuat akta di
luar wilayah kerjanya, apabila pendaftaran dilaksanakan di wilayah otonomi
yang lain.

Permasalahan yang krusial sejak dilaksanakannya Otonomi Daerah
berdasarkan UU No. 22 1999, terjadi perpindahan besar-besaran Sumberdaya
Manusia terutama sarjana dalam skala besar baik yang berada ditingkat
Kantor Wilayah BPN maupun Kantor Pertanahan di luar Pulau Jawa ke Pulau
Jawa. Perpindahan tentu saja menimbulkan penurunan kualitas pekerjaan dan
pelayanan kepada masyarakat. Sebagai contoh; eksodus puluhan bahkan
ratusan sarjana Geodesi ke Jawa menimbulkan ketidakmampuan daerah
dalam pembuatan peta pendaftaran dalam sistem TM-3 derajat. Sebagai
contoh, pada bulan Desember 2000 Kepala Seksi Pengukuran dan Pemetaan
pada beberapa Kantor Wilayah BPN di Kaltim, Kalsel dan beberapa propinsi
lain, memberikan implikasi lain, memberikan implikasi daerah yang
bersangkutan tidak mampu melakukan pekerjaan merapatkan titik kadastral
Nasional Orde 2 dalam sistem TM-3 derajat. Bagaimanapun juga titik dasar
teknis orde 2 dan orde 3 adalah titik awal kegiatan kadastral dalam sistem
nasional.

Penyelenggaraan Otonomi Daerah, juga menimbulkan kecenderungan daerah
untuk menambah pendapatan asli daerah. Bidang pertanahan merupakan
salah satu potensi untuk menambah pendapatan daerah. Sebagai contoh
pemerintah kota Samarinda saat ini telah mengeluarkan keputusan bahwa
masyarakat dipungut biaya untuk mendaftarkan tanahnya, yang selama ini
tidak dipungut biaya. Pemerintah kota Tarakan meminta kepada Kepala Kantor
Pertanahan agar 80% dari uang pemasukan ke Kas Negara dalam rangka
pemberian hak atas tanah negara disetorkan ke kas Kota Tarakan. Keadaan-
keadaan demikian sangat potensial di contoh oleh kabupaten/kota lain,
sehingga pada akhirnya menimbulkan kesan otonomi pertanahan akan
memberatkan masyarakat.

Menurut pasal 19 UUPA penyelenggaraan pendaftaraan tanah adalah
kewajiban Pemerintah, namun melihat kecenderungan daerah disatu sisi dan
kondisi kondisi sebagian besar rakyat Indonesia berada pada level masyarakat
berpenghasilan rendah dan tidak mampu untuk membiayai persertipikatan
tanahnya, jika tidak mampu digantikan oleh peranannya oleh Pemerintah
Daerah, penyelenggaraan pendaftaran tanah sistematik dan pendaftaran
tanah massal lain disinyalir akan memberatkan masyarakat dan menghambat
terwujudnya tertib administrasi pertanahan.

Berdasarkan hasil pengamatan kami ke beberapa daerah pada tahun 1999,
penyelenggaraan pendaftaran tanah oleh beberapa Kantor Pertanahan belum
sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 yo.PMNA/KBPN No. 3
1997, sehingga tidak mempunyai ciri sebagai pendaftaran modern yang
mengharuskan adanya peta pendaftaran. Seorang reseach fellow dari
University of Tokyo dalam Seminar Internasional ke 6 tentang Konsolidasi
Tanah dan Pembangunan Perkotaan menyatakan bahwa "land registration in
Indonesia is unclear". Pada umumnya yang menjadi kelemahan pelaksanaan
pendaftaran tanah sekarang ini adalah jenis kegiatan manajemen
dokumentasi pertanahaan (land records management) dan pengukuran
pemetaan.

Dalam manajemen dokumentasi pertanahan pada umumnya Kantor
Pertanahan tidak membuat daftar tanah yang mencatat semua bidang tanah
yang telah diukur, begitu juga distribusi Jaringan Kerangka Dasar Kadastral
Nasional Orde 1 dan 2 tidak dipetakan dalam peta Kabupaten/Kota sehingga
mengakibatkan tumpang tindih Jaringan Kerangka Dasar Kadastral Nasional
yang pembuatannya melalui proyek-proyek yang berbeda. Sedangkan dalam
bidang pengukuran dan pemetaan, kelemahan mendasar adalah penerbitan
sertipikat tidak diikuti dengan pembuatan peta pendaftaran. Kelemahan dalam
bidang pengukuran dan pemetaan ini, kemungkinan disebabkan kurangnya
pengetahuan mengenai prosedur kerja pembuatan peta pendaftaran
sebagaimana yang dimaksud dalam PMNA No. 3 tahun 1997, ataukah
disebabkan oleh hal lain ? Perlu diteliti lebih jauh.

Kedua kegiatan kurang mendapatkan perhatian serius padahal sebenarnya
kegiatan inilah inti dari pendaftaran tanah dalam mewujudkan tertib
administrasi pertanahan, karena tanpa memperhatikan kedua kegiatan ini
akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan seperti timbulnya tumpang tindih
sertipikat, kesulitan mencari dokumen pada waktu diperlukan. Selain itu tanpa
memperhatikan kedua jenis kegiatan tersebut, maka pembangunan Sistem
Informasi Pertanahan akan mengalami kesulitan besar.

Sebagai kontrol penerbitan surat keputusan pemberian hak, Kepala BPN
mempunyai kewenangan membatalkan surat keputusan pemberian hak tanah
yang dalam penerbitannya oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Propinsi
mengandung cacat hukum. Apabila semua kewenangan pemberian hak tanah
dan pembatalannya berada disatu tangan, fungsi kontrol dalam penerbitan
surat keputusan pemberian hak atas tanah negara yang mengandung cacat
hukum tidak akan berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan tugas lain
Instansi Pertanahan adalah menyelesaikan permasalahan pertanahan.
Permasalahannya adalah apabila dalam suatu sengketa tanah yang strategis,
lintas sektoral dan berdampak nasional serta melibatkan Pemerintah Daerah,
akan sulit bagi Pemerintah Daerah untuk menyelesaikannya secara obyektif.
Sebagai contoh adalah permasalahan tanah timbul di Segara Anak Propinsi
Jawa Tengah yang sekarang ini diakui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten
Cilacap, Departemen Kehutanan, Departemen Kehakiman dan HAM, menurut
pendapat kami seharusnya ditangani oleh Pemerintah Pusat.
5. Kesimpulan
1. Walaupun dikatakan dalam pasal 11 UU No. 22 tahun 1999 bahwa bidang
pertanahan merupakan bidang yang wajib dilaksanakan di Daerah, namun
melihat sebagian fungsi pertanahan bersifat pekerjaan yang menuntut
objektifitas dan kemandirian dalam pendaftaran tanah (dibandingkan dengan
Kantor Imigrasi yang mengeluarkan paspor dan Kantor Pendaftaran Fidusia
yang mendaftarkan fidusia masih tetap merupakan kewenangan Pemerintah
Pusat), penyelesaian masalah pertanahan yang strategis dan bersifat nasional
serta kegiatan yang bersifat lintas propinsi seperti pembebanan hak
tanggungan, maka kewenangan Pemerintah Pusat dalam bidan pertanahan
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 perlu diperluas.
2. Dengan mengingat hal-hal yang kami kemukakan dalam bahasan
sebelumnya, kewenangan Pemerintah Pusat sebagaimana disebutkan PP. 25
tahun 2000 perlu diperluas dengan memasukan kewenangan BPN yang
tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000 dan ditambah
beberapa hal, antara lain; penyelenggaraan pendaftaran tanah, pemberian hal
pengelolaan dan pemberian hak pakai Instansi Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah, pembatalan surat keputusan pemberian hak atas tanah
negara yang dikeluarkan daerah yang dalam penerbitannya mengandung cacat
hukum, penyelesaian masalah pertanahan yang strategis dan bersifat nasional
misalnya sengketa tanah yang melibatkan Pemerintah Pusat,dan Pemerintah
Daerah.
3. Kelemahan yang mendasar pada Kantor pertanahan adalah bidang
Manajemen Dokumen Pertanahan serta Bidang Pengukuran dan Pemetaan
yang sangat mempengaruhi kinerja Kantor Pertanahan. Kondisi ini disebabkan
antara lain kurangnya sarana dan prasarana, biaya dan terutama tingkat
profesionalisme staf yang belum memadai. Untuk meningkatkan
profesionalisme sumberdaya manusia dibidang pertanahan perlu dipikirkan
menghidupkan kembali kursus- kursus profesional setingkat DI, DII dan DIII
agar benar-benar dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang profesional
khususnya bidang pendaftaran tanah dan pengukuran dan pemetaan yang
selama ini ketrampilannya tidak sebagaimana yang diharapkan.
4. Walaupun penyelenggaraan pendaftaran tanah merupakan tanggung jawab
Pemerintah Pusat, tetapi untuk kelancaran pelayanan masyarakat tetap
dilaksanakan di daerah, dan untuk hal tersebut perlu dibuat kantor untuk
melaksanakannya seperti Kantor Pendaftaran Fidusia, Kantor Imigrasi.
5. Terwujudnya tertib administrasi pertanahan sangat ditentukan oleh
penyelenggaraan pendaftaran tanah. Berdasarkan fakta selama ini
pendaftaran tanah melalui pendekatan sporadik banyak menimbulkan masalah
antara lain timbulnya tumpang tindih sertipikat, bidang tanah yang terdaftar
tidak diketahui tempatnya, karena itu pendaftaran tanah melalui pendekatan
sistematik perlu ditingkatkan.


Ir. Rizal Anzhari: penulis adalah Inspektur Utama Utama Badan Pertanahan
Nasional.
http://www.bpn.go.id/html/artikel/artikel002.html?print=yes