Anda di halaman 1dari 4

GAMBARAN KEJADIAN INFEKSI OPORTUNISTIK

PADA PASIEN HIV/AIDS DI KALIMANTAN


BARAT TAHUN 2014


Proposal Penelitian

















OLEH : AGUS DARMANTO
NIM : I11108067


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang system
kekebalan tubuh. Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh menyerang sel Cluster of
Differentiation 4 (CD4) sehingga terjadi penurunan sistem pertahanan tubuh. Replikasi virus
yang terus menerus mengakibatkan semakin berat kerusakan sistem kekebalan tubuh dan
semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO) sehingga akan berakhir dengan kematian.
Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh
dimana pada orang normal infeksi ini terkendali oleh kekebalan tubuh (curtis dan way, 2008).
Virus HIV (Human Imunodeficiency Virus) merupakan penyebab penyakit yang
sangat mematikan sepanjang sejarah peradaban manusia, dan dikenal dengan nama AIDS
(Acquired Immuno Deficiency Syndrome), merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah
kesehatan global dan tersebar hampir di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.
Masalah tersebut mencakup angka kejadian HIV/AIDS yang cenderung semakin meningkat
dari tahun ke tahun dengan angka kematian yang tinggi (milner et al, 2010).
Penyebaran HIV/AIDS sangat cepat di dunia, berdasarkan hasil laporan epidemi
HIV/AIDS, didapatkan dalam tahun 2010 terdapat 27 juta infeksi baru dan 2 juta kematian
akibat HIV/AIDS. Secara estimasi diperkirakan terdapat 33 juta orang yang hidup dengan
HIV/AIDS didunia (WHO, 2010; Depkes, 2011).
Kasus HIV/AIDS di Indonesia terjadi peningkatan setiap tahun. Dua dekade terakhir
jumlah kasus yang dilaporkan mendekati 22.000 orang. Berdasarkan jumlah kasus yang
dilaporkan hampir 33% diantaranya termasuk HIV positif dan selebihnya sudah memasuki
tahap AIDS, serta kematian mencapai 13%. Berdasarkan laporan estimasi pada tahun 2010
yang dilakukan UNAIDS didapatkan estimasi infeksi HIV di Indonesia sebanyak 270.000
orang, hasil ini cukup mengejutkan dimana menunjukkan peningkatan estimasi 35% dari
tahun 2009 (Depkes, 2011).
Kasus HIV/AIDS di kalimantan barat cenderung tinggi. Jumlah infeksi HIV yang
dilaporkn provinsi kalimantan barat dari tahun 2006 sampai tahun 2013 berturut-turut adalah
sebagai berikut: tahun 2006 terdapat 547 kasus, tahun 2007 terdapat 387 kasus, tahun 2008
terdapat 463 kasus, tahun 2009 terdapat 379 kasus, tahun 2010 terdapat 643 kasus, tahun
2011 terdapat 499 kasus, tahun 2012 terdapat 465 kasus dan tahun 2013 terdapat 114
kasus. Provinsi Kalimantan Barat menempati urutan ke lima untuk prevalensi kejadian
HIV/AIDS per 100.000 penduduk dan menempati urutan ke delapan untuk penderita
HIV/AIDS terbanyak di Indonesia (Depkes, 2013).
Penyebab utama morboditas dan mortalitas diantara pasien dengan stadium
lanjutinfeksi HIV adalah infeksi oportunistik, yaitu infeksi berat yang diinduksi agen
yang jarang menyebabkan penyakit serius pada individu yang imunikompeten.
Infeksioportunistik biasanya tidak terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV hingga jumlah sel
T CD4 turun dari kadar normal sekitar 1.000 sel/l menjadi kurang dari 200 sel/l
(Sumarsono, 1998).
Tingginya angka kematian penderita HIV/AIDS disebabkan oleh berbagai faktor.
Salah satu diantaranya adalah penanganan penderita yang kurang tepat, termasuk terlambat
dalam melakukan diagnostik infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik yang sering kali terjadi
adalah kandidiasis mulutesofagus, tuberkulosis, Cytomegalo Virus (CMV), ensefalitis
toksoplasma, pneumonia pneumokistik karinii (PCP), herpes simplex, mycobacterium avium
complex (MAC), kriptosporodiosis, histoplasmosis paru serta berbagai infeksi pada kulit.
Infeksi HIV seringkali disertai komplikasi hematologis berupa anemia, neutropenia,
limfopenia dan trombositopenia (Hofman, 2007).
Pemberian antiretroviral (ARV) dapat menekan replikasi Umum Dr. Saiful Anwar
Malang. Berdasarkan golongan virus HIV, menurunkan viral load, mencegah perburukan usia
penderita, 10 orang berusia 21-30 tahun, 10 orang tanda dan gejala HIV, memperlambat
progresivitas berusia 31-40 tahun dan 2 orang termasuk kategori umur penyakit, menurunkan
kejadian infeksi oportunistik dan 41-50 tahun. tumor, melindungi limfosit T-CD4 dari
kerusakan, memperbaiki sistem imun (Yunihastuti el al, 2005).
Sampai saat ini obat dan vaksin yang diharapkan dapat membantu memecahkan
masalah penanggulangan HIV/AIDS belum ditemukan. Salah satu alternatif dalam upaya
menanggulangi problematik jumlah penderita yang terus meningkat adalah upaya pencegahan
yang dilakukan semua pihak yang mengharuskan kita untuk tidak terlibat dalam lingkungan
transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV dan jika sudah terkena hiv diupayakan
untuk tidak menularkan ke orang lain dan mencegah terjadinya infeksi oportunistik.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mencari tahu tetnang gambaran
infeksi oportunistik pada pasien HIV /AIDS di Kalimantan barat.



B. Kerangka Teori



HIV
Masuk ke
tubuh host
Menyerang
sistem imun
(sel T CD4)
Imunosupresan
kematian
Infeksi Oportunistik