Anda di halaman 1dari 19

Pembahasan

Kondisi masyarakat di kota bandung



Masyarakat kota Bandung terdiri dari para warga yang berasal
dari bermacam-macam lapisan/tingkatan hidup, pendidikan.
Kependudukan kota Bandung saat ini sangat plural,
masyarakatnya sekarang terdiri dari warga yang asli orang
bandung dalam lingkup etnis sunda dan juga warga pendatang
yang menetap di Bandung untuk bekerja ataupun untuk
urusan pendidikan.
(dikasih ilustrasi gambar)

Lingkungan Fisik

Morfologi kota Bandung:
Kota Bandung sejak lama direncanakan sebagai
salah satu pusat kegiatan Pemerintah Hindia
Belanda pada tahun 1930-an apabila merujuk
pada keberadaan Gedung Sate Konsep yang
dikembangkan awalnya adalah kota taman yang
asri, sebagai unsur esensial dari sistem internal
kotanya. Proses urbanisasi telah terjadi secara
cepatmulai tahun 1980-an, ditandai dengan
okupansi lahan-lahan di Bandung Utara dan
Bandung Selatan
Morfologi kota Bandung:
(lanjutan)
Kawasan Dago, Setiabudi dan sekitarnya kini menjadi
pusat kegiatan komersial utama di Kota Bandung,
padahal lama sebelumnya ia direncanakan sebagai
pusat hunian yang tenang. Sementara itu, kawasan
Bandung Utara yang sebelumnya merupakan kawasan
lindung untuk peresapan air, kini telah beralih fungsi
menjadi salah satu pusat permukiman elit serta pusat
kegiatan pariwisata yang dipadati oleh turis domestik
saat weekend.
(Morfologi Transformasi dalam Ruang Perkotaan
yang Berkelanjutan, Imam S. Ernawi, Direktur Jenderal
Penataan Ruang)

Perkembangan Ruang Kota Bandung

Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan
fisik ruang kota sangat dipengaruhi oleh
urbanisasi. Perkembangan urbanisasi di
Indonesia dapat diamati dari 3 (tiga) aspek :
pertama, jumlah penduduk yang tinggal di
kawasan perkotaan, kedua, sebaran penduduk
yang tidak merata, serta, ketiga, laju
urbanisasi yang tinggi.

Urbanisasi mengubah morfologi kota secara
drastis, baik dilihat dari struktur, fungsi
maupun wajah kotanya. Secara sosio-kultural,
fenomena mengkota menandakan
terbentuknya network society yang baru dan
berbeda dalam tuntutan pelayanan
infrastruktur (Graham & Marvin, 2001)


Permasalahan tata kota dan Kondisi
Sosial Masyarakat

Pada masa yang akan datang, urbanisasi
diyakini akan terus terjadi di Indonesia, baik
karena pertumbuhan penduduk kota secara
alamiah, migrasi dari desa ke kota maupun
pemekaran wilayah. (Imam S. Ernawi -
Direktur Jenderal Penataan Ruang)


The urban paradox
Di satu sisi, kota merupakan katalis pertumbuhan
ekonomi yang utama (engine of growth). Tetapi kota-
kota bertansformasi menjadi lebih modern, secara
bersamaan kualitas kehidupan perkotaan menurun
secara signifikan. Kemacetan yang akut, banjir yang
berulang bahkan semakin parah, penyediaan air yang
tidak layak minum, polusi air dan udara, serta
penyebaran kawasan kumuh di perkotaan, kesemuanya
menjadi potret buram kota-kota, khususnya kota
metropolitan di Indonesia. Dua sisi pembangunan
perkotaan yang saling bertolak-belakang ini disebut
oleh para ahli sebagai the urban paradox.
Dengan kondisi yang kritis tersebut, penduduk
miskin perkotaan akan menjadi korban
pertama. Tanpa akses ke pelayanan dasar
perkotaan, penduduk miskin tersebut kini
mendiami hunian kumuh yang sangat padat
(slums dan squatters) di ruang-ruang sempit
perkotaan yang sama sekali tidak layak huni
Fenomena Individualitas warga kota
Bandung

Fenomena Individualisme berdasarkan morfologi
wilayah dan perumahan
Dengan alibi keamanan dan kenyamanan sosial bagi
warga real estate, pengembang boleh membangun
pagar tinggi yang membentengi kawasan.
Sebenarnya, tidak ada salahnya seseorang membuat
kediaman yang nyaman dan aman bagi dirinya. Sesuai
dengan konsep teritorialitas yang menyatakan bahwa
daerah perumahan dan kediaman dirancang untuk
bisa bertahan terhadap kejahatan dan vandalisme
(Newman, 1973).

Kondisi masyarakat perkotaan terlebih ketika
lingkungan tempat tinggalnya sudah terjadi
cluster-cluster yang mengkotak-kotakan setiap
individu didalamnya berdasarkan kesenjangan
ekonomi. (Muhammad Cholil Mansyur, 2007).
Kenyamanan penghuni tercapai bila terdapat
kesesuaian antara privacy yang diperoleh
dengan privacy yang diharapkan ( Altman,
1975).


Privacy. Setiap orang dicurigai dan diawasi dengan
keamanan ketat. Jika kenyamanan terus berkurang
membuat orang enggan atau takut datang.
Akibatnya, kesenjangan sosiai makin tinggi. Kekacauan
ekonomi, sosiai dan keamanan ini terjadi selama beberapa
tahun ini turut dipicu oleh pembangunan fisik arsitektural
yang memisahkan kelas sosial. Jika hal ini terjadi terus,
maka pembangunan fisik ini akan merubah arsitektur kota.
"Kota Benteng" mungkin sebutan yang ironi bagi wajah kota
Bandung. Bangunan-bangunan yang tertutup dan tidak
nyaman untuk dikunjungi. Permukiman dan rumah-rumah
tinggal tidak lagi memiliki fasilitas interaksi sosial yang layak
untuk warganya. Kota kita akan menjadi kota yang
menakutkan dan menegangkan.
(Fenomena Kawasan Permukiman Yang Individualis , Altim
Setiawan).

hubungan antara manusia dan
lingkungannya (Altman. 1975).
Pertama, fenomena perilaku lingkungan, adalah aspek
psikologis manusia sehubungan dengan Iingkungan fisik
sehari-hari. Fenomena ini meliputi personal space, privacy,
tertorialitas, persepsi, dan pemaknaan.
Hal kedua adalah pemakai, kelompok pemakai yang
berbeda-beda di suatu rona lingkungan mempunyai
kebutuhan yang berbeda-beda pula. Hal ini karena tingkat
sosial-ekonomi, kondisi fisik, kondisi mental, serta
perbedaan ras.
rona (setting) lingkungan, wadah dari kegiatan dilakukan
dengan berbagai skala dari bangunan hingga kota. Ketiga
faktor inilah yang harus diperhatikan oleh perancang untuk
mengetahui hubungan antara manusia, perilaku, dan
lingkungannya.

Secara garis besar ada dua buah golongan
privacy,
yaitu ketidakinginan diganggu secara fisik dan
keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri
(Holahan, 1982). Golongan pertama mewujudkan
privacy-nya dengan menarik diri dengan
menyendiri, menjauh dari pandangan dan
gangguan suara, atau mendekatkan diri dengan
orang-orang tertentu saja.
Sedangkan golongan kedua berusaha untuk
mengendalikan informasi tetang dirinya dengan
cara merahasiakan jati diri, tidak terlalu banyak
mengungkapkan diri, atau tidak mau terlibat
dengan tetangganya.

Sedangkan teritorialitas adalah perilaku
sekelompok orang yang ingin menunjukkan diri,
memiliki dan mempertahankan teritori. Teritori
merupakan daerah yang tetap atau dapat
dipindahkan. Teritorialitas juga merupakan wujud
dari privacy.
Teritori dibutuhkan karena di dalamnya
terkandung kebutuhan dasar manusia yaitu:
Kebutuhan identitas, harga diri, aktualisasi diri
yang berkaitan dengan kedudukan di masyarakat
Kesesakan, faktor terakhir ini adalah faktor
yang berhubungan dengan ukuran ruang
dengan jumlah manusia. Dapat diartikan
sebagai kegagalan untuk memperoleh tingkat
privasi tertentu yang diinginkan.
(Fenomena Kawasan Permukiman Yang
Individualis , Altim Setiawan)

Premis Sementara

Dari jabaran di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa pola interaksi antara kepribadian dan
lingkungan yang menghasilkan sebuah
perilaku. Perilaku yang akan mempengaruhi
individu bahkan masyarakat yang
bersangkutan. Dari lingkungan yang
mengandung rangsangan (stimulus),
kemudian akan ditanggapi (respon) oleh
manusia dalam bentuk tindakan. Tindakan
yang dilakukan inilah yang disebut perilaku.

Ruang Publik di Bandung (kasih
contohnya)

Ruang publik merupakan tempat warga untuk saling
bertemu. Ruang ini menyediakan sarana bagi interaksi
warga masyarakat di suatu kawasan hunian
Taman bermain (playground) dipilih menjadi salah satu
ruang publik yang penting karena sebagian besar
jumlah penghuni perumahan adalah pasangan muda
memiliki anak
Lapangan olahraga adalah ruang lain yang menjadi
ajang interaksi yang atraktif bagi penghuni suatu
kawasan perumahan