Anda di halaman 1dari 7

1

A S M A
A. DEFINISI ASMA
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai inflamasi saluran
nafas dan spasme akut otot polos bronkiolus. Kondisi ini menyebabkan produksi
mucus yang berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara, dan penurunan
ventilasi alveolus. (J. Corwin, Elizabeth ,2009)
Asma terjadi pada individu tertentu yang berespons secara agresif terhadap
berbagai jenis iritan di jalan napas. Factor resiko untuk salah satu jenis gangguan
hiper-responsif ini adalah riwayat asma atau alergi dalam keluarga, yang
mengisyaratkan adanya kecenderungan genetic. Pajanan yang berulang atau terus
menerus terhadap beberapa rangsangan iritan, kemungkinan pada masa penting
perkembangan, juga dapat meningkatkan resiko penyakit ini. Meskipun kebanyakan
penyakit asma di diagnosis pada masa kanak-kanak, pada saat dewasa dapat
menderita asma tanpa riwayat penyakit sebelumnya. Stimulasi pada asma awitan
dewasa seringkali terjadi dikaitkan dengan riwayat alergi yang memburuk. Infeksi
pernapasan atas yang berulang juga dapat memicu asma awitan dewasa, seperti yang
dapat terjadi akibat pajanan okupasional terhadap debu di lingkungan kerja.

B. ETIOLOGI
Faktor penyebab yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan sedapat
mungkin di hindarkan. Faktor tersebut adalah :
1. Alergen utama : debu rumah, spora jamur dan tepung sari rerumputan.
2. Iritan seperti asap, bau-bauan, dan polutan.
3. Infeksi saluran pernafasan terutama yang disebabkan oleh virus.
4. Perubahan cuaca yang ekstrim.
5. Aktifitas fisik yang berlebihan.
6. Lingkungan kerja.
7. Obat-obatan.
8. Emosi


2

C. JENIS-JENIS ASMA
Asma sering dicirikan sebagai alergik, idiopatik, nonalergik, atau gabungan.
Asma alergik disebabkan oleh allergen atau allergen-alergen yang dikenal
(mis; serbuk sari, binatang, amarah, makanan, dan jamur). Kebanyakan alergen
berasal dari udara dan musiman. Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai
riwayat keluarga yang alergik dan riwayat medis masa lalu ekzema atau rhinitis
alergik. Pemajanan terhadap allergen mencetuskan serangan asma. Anak-anak dengan
asma alergik sering dapat mengatasi kondisi sampai masa remaja.
Asma idiopatik atau nonalergik tidak berhubungan dengan alergen spesifik.
Factor-faktor, seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan
polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan. Beberapa agens farmakologi, seperti
aspirin dan agens antiinflamasi nonsteroid lain, pewarna rambut, antagonis beta-
adrenergik, dan agens sulfit (pengawet makanan), juga mungkin menjadi faktor.
Serangan asma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan sering sejalan
dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis kronis dan
emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
Asma gabungan adalah bentuk asma yang paling umum. Asma ini
mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau
nonalergik.

D. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis pada penyakit asma yaitu sebagai berikut :
a. Dispnea yang bermakna.
b. Batuk, terutama di malam hari.
c. Pernapasan yang dangkal dan cepat.
d. Mengi yang dapat terdengar pada auskultasi paru. Biasanya mengi terdengar
hanya saat ekspirasi, kecuali kondisi pasien parah.
e. Peningkatan usaha bernapas, ditandai dengan retraksi dada, disertai pemburukan
kondisi, napas cuping hidung.

3

E. PATOFISIOLOGI
Asma akibat alergi bergantung kepada respons IgE yang di kendalikan oleh
limfosit T dan B. Asma diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE
yang berkaitan dengan sel mast. Sebagian besar allergen yang menimbulkan asma
bersifat airborne. Alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak dalam periode
waktu tertentu agar mampu menimbulkan gejala asma. Namun di lain kasus terdapat
pasien yang sangat responsive, sehingga sejumlah kecil alergen masuk ke dalam
tubuh sudah dapat mengakibatkan eksaserbasi penyakit yang jelas.
Obat yang paling sering berhubungan dengan fase akut asma adalah asprin,
bahan pewarna seperti tartain, antagonis beta-adrenergik, dan bahan sulfat. Sindrom
khusus pada sistem pernapasan yang sensitive terhadap aspirin terjadi pada orang
dewasa, namun dapat pula dilihat pada masa kanak-kanak. Masalah ini biasanya
berawal dari rhinitis vasomotor perennial lalu menjadi rhinosinusitis hiperplastik
dengan polip nasal dan akhirnya diikuti oleh munculnya asma progresif.
Pasien yang sensitive terhadap aspirin dapat dikurangi gejalanya dengan
pemberian obat setiap hari. Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi silang akan
terbentuk terhadap agen inti inflamasi nonsteroid. Mekanisme terjadinya
bronkospasme oleh aspirin ataupun obat lainnya belum diketahui, tetapi mungkin
berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinsuksikan secara khusus oleh
aspirin.
Antagonis beta-adrenergik merupakan hal yang biasanya menyebabkan
obstruksi jalan napas pada pasien asma, demikian juga dengan pasien lain dengan
peningkatan reaktifitas jalan nafas. Oleh karena itu, antagonis beta- adrenergik harus
dihindarkan pada pasien tersebut. Senyawa sulfat yang secara luas digunakan sebagai
agen sanitasi dan pengawet dalam industri makanan dan farmasi juga dapat
menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. Senyawa sulfat
tersebut adalah kalium metabisulfit, kalium dan natrium bisulfit, natrium sulfit, dan
sulfat klorida. Pada umumnya tubuh akan terpapar setelah menelan makanan atau
cairan yang mengandung senyawa tersebut seperti salad, buah segar, kentang,
kerang,dan anggur.
Factor penyebab yang telah disebutkan di atas di tambah dengan sebab
internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi. Reaksi
tersebut mengakibatkan dikeluarkannya substansi pereda alergi yang sebetulnya
merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan, yaitu dikeluarkannya
4

histamine, braditimin, dan anafilatoksin. Sekresi zat-zat tersebut menimbulkan tiga
gejala seperti berkontraksinya otot polos, peningkatan permeabilitas kapiler, dan
peningkatan sekresi mucus seperti terlihat pada gambar berikut ini .

Pencetus serangan
(allergen, emosi atau stress, obat-obatan, infeksi)

Reaksi antigen dan antibodi

Release vasoactive substance
(histamine, bradikinin, anafilatoxin)

Kontriksi otot polos permeabilitas kapiler sekresi mukus

bronchospasme -Kontraksi Otot Polos produksi mukus
-Edema Mukosa
-Hipersekresi

Obstruksi saluran nafas

Hipoventilasi
Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru
Gangguan difusi gas di alveoli

Hipoxemia
Hiperkapnia
Bersihan jalan
nafas tak efektif
Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh
(risiko/aktual)
Kerusakan
pertukaran gas
5

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas
2. Gangguan pertukaran gas b.d hipoxemia
3. Kurang pengetahuan b.d tidak mengetahui sumber-sumber informasi
4. Ketidakseimbangan nutrisi b.d penurunan masukan oral

G. INTERVENSI
1. Anjurkan pasien untuk istirahat dan nafas dalam
2. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
3. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
4. Monitor adanya penurunan berat badan dan gula darah

H. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
Kristal-kristal charcot layden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinofil.
Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid
dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mukus plug.
2. Pemeriksaan darah
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoxemia, hiperkapnia, atau asidosis.
Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari IgE pada
waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

6

I. PEMERlKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umunya normal pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diagframa yang menurun.
akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang di dapat adalah sebagai
berikut:
Bila disertai dengan bronchitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah.
Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis local bila terjadi
pneumonia media stinum, pneumonia toraks, dan pneumoperikardium,
maka dapat di lihat untuk gambaran radiolusen pada paru-paru
2. Pemeriksaan test kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai allergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
3. Scanning paru
Dengan scanning paru melaui inhalasi dapat di pelajari bahwa redistribusi udara
selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.








7

D A F T A R P U S T A K A

C. Smeltzer, Suzanne, Brenda, G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal- Bedah.
Jakarta : EGC
J. Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Somantri, Irman. 2008. Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan system
pernapasan. Jakarta : Salemba Medika