Anda di halaman 1dari 9

Dikirim pada 15-10-2007 oleh: Anarch[Oi]!

Tag: bebas!, feminisme, kontra kultur


Oleh: John Zerzan
Pada dasarnya, peradaban, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki
berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan
sinonim
!ilsa"at telah meninggalkan alam penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam
pembagi#bagian di$isi kerja, perlahan#lahan mulai terbuka. %&l'ne (i)ous menyebut sejarah
"ilsa"at sebagai suatu *rantai ayah#ayah.+ Perempuan, seperti halnya penderitaan, selalu absen
dari hal tersebut, dan tentunya ,mereka: penderitaan dan perempuan- adalah saudara dekat.
.eperti (amille Paglia, seorang pemikir anti#"eminis, ketika ia merenungi peradaban dan
perempuan:
Ketika Aku melihat seekor burun banau besar mele!ati sebuah truk "an#an, se#enak Aku
ter$iam $an tertun$uk, se"erti %an akan $ilakukan oran-oran ketika se$an bera$a $alam
iba$ah ere#a& Konse"si kekuatan macam a"a' kebesaran macam a"a' %an $ihubunkan oleh
banau-banau ini $enan "era$aban (esir kuno, ketika arsitektur monumental "ertama kali
$iba%ankan $an $ica"ai& A"abila "era$aban $iserahkan ke tanan "erem"uan, mestilah kita
masih tinal $i $alam ubuk-ubuk #erami&) ,/-
*0ejayaan+ peradaban dan bagaimana hal tersebut tidak menarik bagi perempuan. 1agi sebagian
dari kita *gubuk#gubuk jerami+ me2akili a3uan untuk tidak mengambil jalan yang salah, yaitu
penindasan dan pengrusakan. Di dalam kemajuan peradaban teknologi global yang mengarah
pada kehan3uran dan kematian, andai saja kita masih tinggal di dalam gubuk#gubuk jerami4
Perempuan dan alam se3ara uni$ersal telah dihilangkan nilainya oleh paradigma dominan dan
siapa yang tak melihat pertanda#tanda dari ini 5rsula 6e 7uin memberikan kita koreksi yang
tepat dari ketidakper3ayaan Paglia akan keduanya ,perempuan dan alam-:
*8anusia beradab berkata: Aku adalah diri, Aku adalah tuan, segala sesuatu diluar dari Aku
adalah yang lain9berada di luar, di ba2ah, tak terlihat, ba2ahan. Aku memiliki, Aku
menggunakan, Aku mengeksplorasi, Aku mengeksploitasi, Aku mengontrol. Apa yang
kulakukan adalah yang penting. Apa yang Aku inginkan adalah alasan mengapa semua ini ada.
Aku adalah Aku, dan selain dari itu adalah keperempuanan dan keliaran yang, harus digunakan
sesuai kemauanku.+ ,:-
1anyak orang per3aya bah2a peradaban mula#mula itu matriarkal. ;amun tak seorangpun ahli
antropologi atau arkeologi, termasuk "eminis, menemukan bukti dari asumsi tersebut. *Pen3arian
akan sebuah budaya egalitarian asli yang, taruhlah matriarkal, tak pernah membuahkan hasil,+
terang .herry Ortner. ,<-
8eskipun demikian, memang ada masanya, sebelum budaya lelaki menjadi sesuatu yang
uni$ersal, ketika perempuan se3ara garis besar tidak selalu berada di ba2ah pria. .ejak /=>?an
antropolog sema3am Adrienne Zihlman, ;an3y tanner dan !ran3es Dahlberg ,@- membenarkan
stereotip mula#mula era prasejarah di mana +6elaki adalah sang pemburu+ dan +Perempuan
adalah sang peramu.+ 0un3inya di sini adalah data bah2a se3ara garis besar, komunitas#
komunitas pra#agrikultur memperoleh A? persen kebutuhan makan dari mengumpul
,mengumpulkan makanan- dan :? persen dari berburu. .angat mungkin untuk men3urigai
pemisahan antara berkumpulBberburu dan mengabaikan bah2a komunitas#komunitas tersebut,
dalam tingkatan#tingkatan signi"ikan, dapat membuktikan bah2a perempuan yang berburu dan
pria yang meramu ,C-. ;amun otonomi perempuan di dalam masyarakat sema3am ini menga3u
pada "akta, melalui penilaian pola akti$itas mereka, bah2a sumberdaya untuk hidup bagi
perempuan 3ukup setara dengan pria.
Dalam konteks etos#etos egalitarian kelompok pemburu ,hunter gatherer- atau peramu makanan
,"oraging so3iety-, ahli#ahli antropologi seperti Dleanor 6ea3o3k, Patri3ia Draper dan 8ina
(au"ield telah menjelaskan, se3ara garis besar, terdapat bukti adanya hubungan setara antara
perempuan dan pria ,E-. Di dalam tatanan masyarakat sema3am itu ketika seseorang memperoleh
sesuatu Fa pula yang akan membagikannya dan ketika perempuan memperoleh A? persen
makanan, maka mereka jugalah yang menentukan aturan bagi gerak kelompok serta lokasi#lokasi
untuk menetap. .erupa dengan adanya bukti bah2a perempuan dan pria yang membuat alat#alat
dari batu yang digunakan oleh masyarakat#masyarak at pra#agrikultur. ,>-
Dalam komunitas#komunitas matriarkal Pueblo, FroGuois, (ro2 dan kelompok#kelompok Fndian
Amerika lainnya, perempuan dapat memutuskan tali perka2inan kapan saja. .e3ara garis besar,
pria dan perempuan di dalam masyarakat sema3am ini lebih leluasa bergerak dengan bebas dan
damai dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti halnya juga ketika mereka berada di
dalam atau di luar suatu hubungan. ,A- 8enurut Hosalind 8iles, pria tidak hanya tidak
memerintah ataupun mengeksploitasi perempuan, *mereka memiliki sedikit atau sama sekali
tidak memiliki kendali atas tubuh perempuan maupun anak#anak mereka, sehingga tidak ada
yang namanya penyakralan akan suatu kepera2anan atau kesu3ian, dan ,kaum lelaki- tidak
menuntut apapun dari eksklusi$itas akti$itas seksual perempuan.+ ,=- Zubaeeda 1anu Iuraishy
memberikan satu 3ontoh dari A"rika: *%ubungan#hubungan gender suku 8buti dikarakteristikan
oleh harmoni dan kerjasama.+ ,/?-
.eseorang akan berpikir, benarkah situasinya semenyenangkan itu 8elihat terjadinya
penghapusan makna keperempuanan yang beragam bentuknya namun tidak se3ara esensi,
pertanyaan bah2a kapan dan bagaimana, 3ukup jelas berkata sebaliknya. Terdapat sebuah
pemisahan mendasar eksistensi sosial menurut gender, serta hirarki dari pemisahan tersebut.
1agi "iloso" Jane !la), dualisme yang paling mapan, termasuk pemisahan subyek#obyek serta
tubuh#pikiran, merupakan suatu re"leksi dari perpe3ahan gender. ,//-
7ender tidaklah serupa dengan pemisahan kealamianB"isiologi s menurut jenis kelamin. Fa adalah
suatu kategorisasi kultural dan tingkatan yang bersandar pada sebuah pembagian di$isi kerja
menurut jenis kelamin yang, bisa jadi merupakan bentuk tunggal kultural yang terpenting.
Apabila gender memba2a dan melegitimasi ketidaksetaraan serta dominasi, apa yang penting
untuk dipertanyakan Jadi dalam pengertian asal#usulnya9 serta dalam pengertian masa depan
kita9pertanyaan mengenai masyarakat manusia tanpa gender yang menjadi pertanyaannya.
0ita semua mengerti bah2a pembagian di$isi kerja memperlebar jalan ter3iptanya domestikasi
dan peradaban yang menjadi penggerak sistem dominasi global sekarang ini. Juga terlihat bah2a
bentukan#bentukan pembagian di$isi kerja menurut jenis kelamin merupakan bentuknya yang
paling a2al dan juga, sebagai e"eknya, membentuk "ormasi gender.
.aling berbagi makanan telah lama diketahui sebagai suatu 3apaian terbaik dari 3ara hidup
meramu bahan makanan ,"oraging so3iety-. .ama halnya dengan membagi#bagi ke2ajiban untuk
mera2at keturunan yang masih dapat dilihat dari sisa#sisa masyarakat sema3am itu, dan pola
sema3am ini 3ukuplah berbeda dengan kehidupan keluarga dalam peradaban ,*yang beradab+-
yang terisolasi dan terpri$atisasi. 0eluarga tidak dipandang sebagai suatu institusi yang abadi,
begitupula dengan peran ibu yang sekarang ini dimaknai sebagai suatu hal yang tak terhindarkan
dari e$olusi manusia.
8asyarakat terintegrasikan melalui pembagian di$isi kerja dan keluarga melalui pembagian
di$isi kerja menurut jenis kelamin. 0ebutuhan untuk integrasi memperlihatkan sebuah tegangan,
sebuah keterpisahan yang mengundang suatu dasaran kohesi atau solidaritas. Dalam pengertian
ini, anggapan Testart 3ukup tepat: +hal yang inheren di dalam hubungan kekerabatan adalah
hirarki.+ ,/<- Dengan berdasar pada pembagian di$isi kerja, hubungan di dalam keluarga
menjadi hubungan produksi. +7ender adalah sesuatu yang inheren di dalam si"at alami hubungan
keluarga,+ seperti yang dijelaskan oleh (u33hiari, +yang tak dapat eksis tanpanya.+ Di dalam
2ilayah inilah akar dari dominasi terhadap alam dan perempuan dapat dieskplorasi.
.eperti yang telah diketahui, suku#suku peramu makanan di dalam masyarakat sema3am itu
membuka jalan bagi peran#peran yang terspesialisasi, struktur hubungan kekerabatan membentuk
in"rastruktur hubungan yang akan berkembang menuju ketidaksetaraan dan pembeda#bedaan
kekuatan. 6umrahnya perempuan menjadi pasi" akibat suatu peran khusus menjaga anakJ pola
sema3am ini selanjutnya semakin berkembang melampui kriteria#kriteria yang tadinya terbentuk
sebagai peran gender. Pemisahan dan pembagian di$isi kerja menurut gender ini mulai hadir
selama transisi dari era Pertengahan sampai era Paleolitikum 6anjut. ,/C-
7ender dan sistem hubungan kekerabatan merupakan konstruksi kultural yang di bentuk
berdasarkan dan bertentangan dengan subyek#subyek biologis yang, menurut Juliet 8it3hell,
melibatkan *lebih dari apapun sebuah organisasi simbolik dari perilaku.+ ,/E- .eperti yang telah
eksis di dalam masyarakat berbasis gender, mungkin akan lebih menjelaskan apabila melihat
langsung pada budaya simbolik itu sendiri, dengan melihat *kebutuhan untuk memediasi se3ara
simbolis suatu pendikotomian kosmos yang hebat.+ ,/>- Pertanyaan siapa#yang#lebih# dulu#
mun3ul, datang dengan sendirinya dan sulit untuk diketahui. 0endati demikian, 3ukup jelas
bah2a tak ada pembuktian akti$itas#akti$itas simbolik ,seperti misalnya yang terdapat di dalam
lukisan#lukisan goa- sebelum sistem gender, yang didasari pembagian di$isi kerja menurut jenis
kelamin, terlihat berlangsung di era tersebut. ,/A-
8emasuki era Paleolitikum 6anjut, yang merupakan a2alan dari He$olusi era ;eolitikum di
mana terbentuknya peradaban dan domestikasi, re$olusi gender telah men3apai masanya. Tanda#
tanda maskulin dan "eminim mulai hadir sekitar <C,??? tahun lalu di dalam seni#seni goa.
0esadaran gender bangkit sebagai pen3apaian keseluruhan dualitas, suatu spektral dari
masyarakat yang terpilah#pilah. Di dalam suatu polarisasi akti$itas baru ini, akti$itas menjadi
berorientasi dan terde"inisikan oleh gender. Peran pemburu, misalnya, berkembang menjadi
sesuatu yang kelaki#lakian, kriteria#kriteriany a terkhususkan pada gender pria sebagai suatu si"at
yang diinginkan.
0etika telah menjadi sangat menyatu atau menyeluruh, akti$itas sema3am kelompok#kelompok
peramu makanan dan tanggung ja2ab komunal untuk mera2at anak, sekarang ini menjadi
bidang#bidang yang terpisah di mana ke3emburuan seksual dan kepemilikan ,posesi"- mulai
hadir. Di saat yang bersamaan, hal#hal simbolis mun3ul sebagai suatu bidang ataupun realitas
yang terpisah. 1ukti#bukti ini bisa dilihat dalam praktik#praktik seni dan ritual. .angatlah
beresiko untuk mengandaikan masa lalu yang jauh menggunakan titik berangkat masa sekarang,
meskipun budaya#budaya non#industrial yang masih tersisa dapat menunjukan titik terang. .uku
1imin#0ushumin Papua ;ugini, misalnya, mengalami pemisahan maskulin dan "eminim sebagai
sesuatu yang mendasar dan menegaskan. +Dsensi+ maskulin, yang diistilahkan sebagai "iniik,
tidak hanya melambangkan kualitas#kualitas kekuatan ala ksatria perang, tapi juga berhubungan
dengan ritual dan kontrol. +Dsensi+ "eminim, atau khaapkhabuurien, adalah sesuatu yang liar,
impulsi", sensual, dan a3uh pada ritual. .ama halnya dengan 8ansi di daerah barat#daya .iberia
yang memberlakukan aturan#aturan keras pada keterlibatan perempuan di dalam praktik#praktik
ritual. ,:?- Dengan bukti suku#suku seperti ini, bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan
bah2a peran ritual merupakan sesuatu yang menentukan bagi subordinasi perempuan. ,:/- 7ayle
Hubin menyimpulkan bah2a +kekalahan uni$ersal perempuan se3ara historis hadir melalui asal#
usul budaya dan merupakan prasyarat dari terjadinya budaya.+ ,::-
0ebangkitan bersamaan budaya simbolis dan kehidupan gender bukanlah suatu kejadian yang
kebetulan. 0edua#duanya melibatkan suatu perubahan mendasar dari kehidupan yang tadinya
tidak terpilah#pilah dan non#hirarkis. 6ogika perkembangan dan perluasan kedua hal tersebut
merupakan sebuah respon dari tegangan#tegangan dan ketidaksetaraan yang mereka 3iptakanJ
keduanya saling#terhubung se3ara dialektis dengan a2al#mula pemisahan di$isi kerja yang
arti"isial.
.e3ara 3ukup relati", 6ompatan 1esar 8enuju era agrikultur dan peradaban mulai hadir ketika
terjadinya alterasi gender atau budaya simbolik. Fni merupakan era yang menentukan bagi istilah
+berdiri diatas alam+, dengan mulai mengenyampingkan keharmonisan dan ke3erdasan non
dominati" dengan alam. Perubahan ini 3ukup menentukan bagi konsolidasi dan intensi"ikasi
pembagian di$isi kerja. 8eillasou) mengingatkan kita tentang permulaannya:
Alam sama sekali tidak menjelaskan mengenai pembagian di$isi kerja menurut jenis kelamin,
tidak pula dengan institusi sema3am pernikahan, keterikatan suami#istri, maupun paternalitas.
.emuanya dipaksakan kepada perempuan, maka dari itu semua ini haruslah dijelaskan melalui
peradaban, bukan malah menggunakannya untuk menjelaskan se3ara sebaliknya. ,:<-
0elkar dan ;athan, misalnya, tidak banyak menemukan bukti adanya spesialisasi gender pada
suku#suku kelompok pemburu di Fndia bagian barat, apabila dibandingkan dengan kondisi
masyarakat agrikultur disana. ,:@- Transisi dari 3ara#3ara mengumpulkan makanan menuju pada
produksi makanan mengarah pada perubahan#perubahan radikal di dalam masyarakat di mana
saja. (ukuplah menjelaskan, apabila men3ermati 3ontoh yang mendekati jaman sekarang, bah2a
suku 8uskogee di Amerika Tenggara yang menjunjung tinggi nilai#nilai intrinsik dari hutan
yang belum terjamah, dan terdomestikasiJ dijajah oleh kaum kolonial dan menggantikan tradisi
8uskogee yang matrilineal dengan hubungan patrilineal. ,:C-
Tempat terjadinya trans"ormasi dari gaya hidup alami ,liar- menuju yang berbudaya adalah
ketika manusia mulai berdomisili se3ara tetap, sebagaimana perempuan mulai terbatasi horison#
horisonnya. Domestikasi berangkat dari sini ,juga se3ara etimologi, yang latinnya domus, atau
rumah tangga-: kerja#kerja membosankan# #yang tidak sesulit seperti meramu bahan makananK,
reproduksi berlebihan, dan pengharapan hidup yang lebih rendah daripada kaum pria. Fndikasi#
indikasi ini hadir di dalam masyarakat agrikultur sebagai peran perempuan. ,:E- Dari sini
dikotomi yang lain lagi mun3ul, pembedaan antara kerja dan non#kerja, sesuatu yang bagi
banyak generasi tidak pernah eksis. 8elalui produksi gender ini beserta perluasannya yang
konstan, mulai berkembanglah "ondasi#"ondasi budaya dan mentalitas kita.
.etelah dibatas#batasi seperti ini, perempuan, meski belum sepenuhnya dipasi"kan, mulai
dide"inisikan sebagai pasi". .eperti halnya alam, sebagai nilai yang dijadikan sumber untuk
diproduksiJ yang menunggu penyuburan dan pengakti$an dari luar tubuhnya. Perempuan
mengalami pelepasan otonomi dan kesetaraan yang relati" di dalam suku#suku ke3il yang bersi"at
nomadik dan anarkik menjadi kediaman#kediaman yang besar, kompleks, dan dikontrol.
8itologi dan agama, sebagai kompensasi#kompensa si dari masyarakat yang terpilah#pilah,
bersaksi atas direduksinya posisi perempuan. Dalam 3erita Lunani $ersi %omer, tanah kosong
,yang belum didomestikasi oleh budaya ber3o3ok#tanam- , kediaman (alypso asal (ir3a, .irens
yang menggoda Odysseus untuk meninggalkan kerja#kerja peradaban, dikategorikan sebagai
"eminin. 1aik tanah dan perempuan, sekali lagi, menjadi subyek dominasi. ;amun imperialisme
sema3am ini mengkhianati asal muasal rasa bersalah, sebagaimana hukuman bagi mereka yang
berkaitan dengan domestikasi dan teknologi, di dalam dongeng#dongeng Promotheus dan .isi"us.
Proyek#proyek agrikultur di banyak tempat, menjadi sema3am pelanggaranJ seperti halnya
pemerkosaan di dalam 3erita#3erita Demeter. .eiring le2atnya 2aktu dan kekalahan#kekalahan ,
hubungan#hubungan ibu dan anak perempuan di dalam mitos Lunani9seperti 3erita#3erita
Demeter#0ore, (lytemnestra# Fphigenia, Jo3astra#Antigone, misalnya9mulai hilang.
Di dalam kitab 0ejadian, bagian a2al dari Alkitab, perempuan lahir dari rusuk pria. Pengusiran
dari taman Dden me2akili kematian kehidupan berburu dan berkumpul, pemaksaan menuju
agrikultur dan kerja#kerja keras. Tentunya, semua itu disalahkan pada %a2a, yang menjadi
stigma dari pengusiran ini. ,:>- (ukup ironis memang, di dalam 3erita tersebut domestikasi
terasa seperti rasa takut dan penolakan terhadap si"at alami perempuan, sementara mitos Dden,
dalam kenyataannya, justru menyalahkan korban utama dari skenarionya.
Agrikultur adalah penaklukan yang mengisi lahirnya "ormasi dan berkembangnya gender.
Terlepas dari adanya "igur#"igur de2i#de2i, yang dijadikan sebagai lambang kesuburan, se3ara
garis besar budaya ;eolitikum sangatlah menjunjung tinggi kejantanan. 8elalui dimensi#dimensi
emosional maskulinisme, sebagaimana yang dilihat (au$in, domestikasi he2an#he2an mestilah
datang dari inisiati" kaum pria. ,:A- .emenjak itu pemisahan dan tekanan pada kekuasaan mulai
hadir bersama kitaJ ekspansi daerah#daerah, misalnya, di mana energi pria menundukan si"at
alami perempuan mulai diperluas.
%al ini telah men3apai proporsinya yang dashyat, dan dari segala sisi kita diberitahu bah2a kita
tidak dapat menghindari hubungan dengan teknologi yang sudah sangat menyeluruh. ;amun
patriarki, juga, ada di mana#mana, dan sekali lagi in"erioritas alam dipertahankan. 5ntungnya,
+banyak kaum "eminis+, menurut (arol .tabile, per3aya bah2a *penolakan terhadap teknologi
sangatlah identik dengan penolakan terhadap patriarki.+ ,:=-
Ada kaum "eminis lain yang mengklaim bah2a bagian dari sumber#sumber teknologi, mengakui
adanya suatu *pelepasan dari tubuh+ se3ara $irtual, 3yborg ,organisme sibernetik- dan sejarah
penaklukan gendernya. ;amun titik berangkat sema3am ini salah kaprah, suatu pelupaan akan
keseluruhan angkutan dan logika menindas dari institusi yang men3iptakan patriarki. 8asa depan
high#te3h yang mengoyak tubuh ini hanya merupakan unsur dan jalan yang sama destrukti"nya.
8enurut !reud, menganalisa orang menurut subyek gendernya merupakan sesuatu yang
mendasar, baik se3ara kultural dan psikologis. ;amun teori#teorinya mengasumsikan masa yang
telah mengekspresikan subyekti$itas gender, dan karenanya memi3u banyak pertanyaan.
1erbagai ma3am pertimbangan tetap tak terpetakan, seperti halnya gender sebagai suatu ekspresi
relasi kekuasaan, dan "akta bah2a manusia datang di dunia sebagai mahkluk biseksual.
(arla !reeman memiliki pertanyaan yang berkaitan di dalam esainya yang berjudul, MFs 6o3al:
7lobal as !eminine: 8as3uline Hethinking the 7ender o" 7lobalization+ .,<?-
0risis umum modernitas berakar pada imposisi gender. Pemisahan dan ketidaksetaraan dimulai
pada periode lahirnya budaya simbolik, yang pada tingkatan lanjutnya menjadi sesuatu yang
menentukan seperti halnya dengan domestikasi dan peradaban: patriarki. %irarki gender tidak
dapat dire"ormasikan seperti halnya sistem kelas atau globalisasi. Tanpa konsep pembebasan
perempuan yang benar#benar radikal, kita akan terjebak di dalam penge3ohan dan
pengerudungan yang sekarang ini telah menjadi hasil yang menakutkan di manapun.
0eseluruhan otentik ketiadaan gender mungkin bisa menjadi prasyarat bagi penyelamatan kita.
(atatan:
/. (amille Paglia, .e)ual Personae: Art and De3aden3e "rom ;e"ertiti to Dmily Di3kinson ,Lale
5ni$ersity Press: ;e2 %a$en, /==?-, p. <A.
:. 5rsula 6e 7uin, *NomenBNildness, + Judith Plant, ed., %ealing the Nounds ,;e2 .o3iety:
Philadelphia, /=A=-, %al. @C.
<. .herry 1. Ortner, 8aking 7ender: the Politi3s and Droti3s o" (ulture ,1ea3on Press: 1oston,
/==E-, %al. :@. 6ihat juga (ynthia Dller, The 8yth o" 8atriar3hal Prehistory: Nhy an Fn$ented
Past NonOt 7i$e Nomen a !uture ,1ea3on Press: 1oston, :???-.
@. .ebagai 3ontoh, Adrienne 6. Zihlman dan ;an3y Tanner, *7athering and %ominid
Adaptation,+ dalam 6ionel Tiger and %eather !o2ler, eds., !emale %ierar3hies ,1eres"ord:
(hi3ago, /=>A-J Adrienne 6. Zihlman, *Nomen in D$olution,+ .igns @ ,/=>A-J !ran3es
Dahlberg, Noman the 7atherer ,Lale 5ni$ersity Press: ;e2 %a$en, /=A/-J Dlizabeth !isher,
NomanOs (reation: .e)ual D$olution and the .haping o" .o3iety ,An3horB Doubleday: 7arden
(ity ;L, /=>=-.
C. James .teele dan .tephan .hennan, eds., The Ar3haeology o" %uman An3estry ,Houtledge:
;e2 Lork, /==C-, hal. <@=. Also, 8. 0ay 8artin and 1arbara Poorhies, !emale o" the .pe3ies
,(olumbia 5ni$ersity Press: ;e2 Lork, /=>C-, hal :/?#://.
E. 6ea3o3k merupakan salah satu yang paling ngotot di antara semuanya, dengan mengatakan
bah2a apapun bentuk dari dominasi pria yang ada dalam masyarakat tersebut yang bertahan,
disebabkan oleh e"ek dominasi kolonial. 6Fhat Dleanor 1urke 6ea3o3k, *NomenOs .tatus in
Dgalitarian .o3iety,+ (urrent Anthropology /= ,/=>A-J dan 8yths o" 8ale Dominan3e ,8onthly
He$ie2 Press: ;e2 Lork, /=A/-. 6ihat juga *Po2er"ul Nomen and the 8yth o" 8ale
Dominan3e in Azte3 .o3iety,+ karya .. dan 7. (a""erty Ar3haeology "rom (ambridge > ,/=AA-.
>. Joan 7ero dan 8argaret N. (onkey, eds., Dngendering Ar3haeology ,1la3k2ell: (ambridge
8A, /==/-J (.!.8. 1ird, *Noman the Toolmaker,+ Dalam Nomen in Ar3haeology ,Hesear3h
.3hool o" Pa3i"i3 and Asian .tudies: (anberra, /==<-.
A. (laude 8eillasou), 8aidens, 8eal and 8oney ,(ambridge 5ni$ersity Press: (ambridge,
/=A/-, p. /E.
=. Hosalind 8iles, The NomenOs %istory o" the Norld ,8i3hael Joseph: 6ondon, /=AE-, p. /E.
/?. Zubeeda 1anu Iuraishy, *7ender Politi3s in the .o3io#D3onomi3 Organization o"
(ontemporary !oragers,+ dalam Fan 0een dan Takako Lamada, eds., Fdentity and 7ender in
%unting and 7athering .o3ieties ,;ational 8useum o" Dthnology: Osaka, :???-, p. /=E.
//. Jane !la), *Politi3al Philosophy and the Patriar3hal 5n3ons3ious, + dalam .andra %arding
adan 8errill 1. %intikka, eds., Dis3o$ering Heality ,Heidel: Dortre3ht, /=A<-, pp :E=#:>?.
/:. 6Fhat Patri3ia Dlliott, !rom 8astery to Analysis: Theories o" 7ender in Psy3hoanalyti3
!eminism ,(ornell 5ni$ersity Press: Ftha3a, /==/-, e.g. p. /?C.
/<. Alain Testart, *Aboriginal .o3ial FneGuality and He3ipro3ity, + O3eania E? ,/=A=-, p. C.
/@. .al$atore (u33hiari, *The 7ender He$olution and the Transition "rom 1ise)ual %orde to
Patrilo3al 1and,+ dalam , .e)ual 8eanings: The (ultural (onstru3tion o" 7ender and .e)uality
,(ambridge 5ni$ersity Press: (ambridge 50, /=A@-, karya .herry 1. Ortner dan %arriet
Nhitehead hal. <E. Dssay ini sangatlah penting.
/C. Olga .o""er, *.o3ial Trans"ormations at the 8iddle to 5pper Paleolithi3 Transition,+ dalam
Hepla3ement: (ontro$ersies in %omo .apiens D$olution ,A.A. 1alkema: Hotterdam /==:- karya
7Qnter 1rauer dan !red %. .mith, hal. :C@.
/E. Juliet 8it3hell, Nomen: The 6ongest He$olution ,Pirago Press: 6ondon, /=A@-, hal. A<.
/>. (u33hiari, op.3it., hal. E:.
/A. Hobert 1ri""ault, The 8others: the 8atriar3hal Theory o" .o3ial Origins ,8a3millan: ;e2
Lork, /=</-, hal. /C=.
/=. Theodore 6idz and Huth Nilliams 6idz, Oedipus in the .tone Age ,Fnternational 5ni$ersities
Press: 8adison (T, /=AA-, hal. /:<.
:?. Dlena 7. !edoro$a, *The Hole o" Nomen in 8ansi .o3iety,+ in Peter P. .3h2eitzer, Dalam
%unters and 7atherers in the 8odern Norld ,1erghahn 1ooks: ;e2 Lork, :???-, karya 8egan
1iesele dan Hobert 0. %it3hho3k, hal. <=E.
:/. .te$en %arrall, %uman !amilies ,Nest$ie2 Press: 1oulder (O, /==>-, hal. A=. *(ontoh#
3ontoh hubungan antar ritual dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat "orager tersebar luas,+
menurut .tephan .hennan di *.o3ial FneGuality and the Transmission o" (ultural Traditions in
!orager .o3ieties,+ karya .teele and .hennan, op.3it., hal. <E=.
::. 7ayle Hubin, *The Tra""i3 in Nomen,+ To2ard an Anthropology o" Nomen ,8onthly
He$ie2 Press: ;e2 Lork, /=>=-, hal. />E.
:<. 8eillasou), op.3it., hal :?#:/.
:@. Disebut oleh Fndra 8unshi, *Nomen and !orest: A .tudy o" the Narlis o" Nestern Fndia,+
dalam 7ender Helations in !orest .o3ieties in Asia: Patriar3hy at Odds ,.age: ;e2 Delhi, :??<-,
karya 7o$ind 0elkar, De$ ;athan dan Pierre Nalter, hal. :EA.
:C. Joel N. 8artin, .a3red He$olt: The 8uskogeesO .truggle "or a ;e2 Norld ,1ea3on Press:
1oston, /==/-, hal ==, /@<.
:E. The produ3tion o" maize, one o" ;orth Ameri3aOs 3ontributions to domesti3ation, *had a
tremendous e""e3t on 2omenOs 2ork and 2omenOs health.+ NomenOs status *2as de"initely
subordinate to that o" males in most o" the horti3ultural so3ieties o" R2hat is no2S the eastern
5nited .tates+ by the time o" "irst Duropean 3onta3t. The re"eren3e is "rom 0aren Olsen 1ruhns
and 0aren D. .tothert, Nomen in An3ient Ameri3a ,5ni$ersity o" Oklahoma Press: ;orman,
/===-, p. AA. Also, "or e)ample, 7ilda A. 8orelli, *7ro2ing 5p !emale in a !armer (ommunity
and a !orager (ommunity,+ in 8ary Dllen 8abe3k, Alison 7allo2ay and Adrienne Zihlman,
eds., The D$ol$ing !emale ,Prin3eton 5ni$ersity Press: Prin3eton, /==>-: *Loung D"e RZaireS
"orager 3hildren are gro2ing up in a 3ommunity 2here the relationship bet2een men and 2omen
is "ar more egalitarian than is the relationship bet2een "armer men and 2omen+ ,p. :/=-. .ee
also (atherine Panter# 1ri3k and Tessa 8. Pollard, *Nork and %ormonal Pariation in
.ubsisten3e and Fndustrial (onte)ts,+ in (. Panter#1ri3k and (.8. Northman, eds., %ormones,
%ealth, and 1eha$ior ,(ambridge 5ni$ersity Press: (ambridge, /===-, in terms o" ho2 mu3h
more 2ork is done, 3ompared to men, by 2omen 2ho "arm $s. those 2ho "orage.
:>. The Dtoro people o" Papua ;e2 7uinea ha$e a $ery similar myth in 2hi3h ;o2ali, kno2n
"or her hunting pro2ess, bears responsibility "or the DtorosO "all "rom a state o" 2ell#being.
Haymond (. 0elly, (onstru3ting FneGuality ,5ni$ersity o" 8i3higan Press: Ann Arbor, /==<-, p.
C:@.
:A. Ja3Gues (au$in, The 1irth o" the 7ods and the Origins o" ;ature ,(ambridge 5ni$ersity
Press: (ambridge, :???-, p. /<<.
:=. (arol A. .tabile, !eminism and the Te3hnologi3al !i) ,8an3hester 5ni$ersity Press:
8an3hester, /==@-, p. C.
<?. (arla !reeman, *Fs 6o3al:7lobal as !eminine:8as3uline Hethinking the 7ender o"
7lobalization, + .igns :E ,:??/-.
v