Anda di halaman 1dari 30

Pengaruh Aromaterapi Terhadap Tingkat Stres Mahasiswa

View clicks

Posted May 13th, 2008 by oky maifrisco

Psikologi

abstraks:

Penelitian eksperimental tentang pengaruh pemberian aromaterapi terhadap


penurunan tingkat stres pada mahasiswa yang mengikuti matakuliah statistik II
dilaksanankan di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, yaitu yang bertempat
dijalan Dharmawangsa Dalam nomor 6-8 Surabaya (Kompleks kampus B Universitas
Airlangga). Lokasi tersebut dipilih karena subjek penelitian adalah mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga sehingga lokasi tersebut sangat
memudahkan peneliti dalam melakukan kegiatan pemberian treatmen yang berupa
aromaterapi.

Pada saat pelakasanaan eksperimen ini, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga


memiliki satu buah gedung utama yang terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama terdiri
dari ruang dekan beserta pembantu dekan, ruang dosen, ruang kesekretariatan
magister psikologi, ruang kelas magister psikologi, kantor LP3T, dan ruang sidang.
Lantai II terdiri dari laboratorium psikologi, kantor tata usaha, Pusat Media
Pembelajaran Mahasiswa (PMPM), dan ruang penyimpanan berkas penting. Lantai III
terdiri dari 5 ruang kelas dan 2 ruang kelas (belum digunakan), aula, ruang absensi,
dan musholla. Sebagian besar ruang dalam gedung ini dilengkapi dengan fasilitas
AC dan diberi nama tokoh-tokoh psikologi. Pada tiap-tiap lantai terdapat fasilitas
kamar mandi perempuan dan laki-laki serta meja dan kursi yang terletak di lobby
yang biasanya digunakan untuk diskusi oleh mahasiswa. Gedung utama ini
didominasi warna hijau pada tiap lantai dan kombinasi warna seperti warna biru,
orange, dan ungu pada ruang kelas.

Peneliti menggunakan 1 ruang yang terdapat di Fakultas Psikologi Universitas


Airlangga yaitu ruang kelas 302 (Ruang Ivan P.Pavlov) di lantai III yang berukuran
±12x9 meter yang dilengkapi dengan fasilitas berupa 2 AC, 2 Kipas angin, white
board, Komputer, LCD, meja dan kursi dosen, dan ±60 buah kursi untuk mahasiswa.
Ruangan ini bercat putih namun dikombinasikan dengan warna biru pada bingkai
jendela dan gordennya. Ruangan ini cukup efektif untuk pemberian treatmen
aromaterapi dan cukup nyaman untuk mengerjakan pre-test dan post-test. Dengan
demikian, seluruh ruangan yang digunakan dalam kegiatan eksperimen cukup
mendukung proses pemberian treatmen aromaterapi.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Biasanya mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan sering diikuti oleh perasaaan


stress. Stress seringkali timbul sehingga menyebabkan mahasiswa tidak dapat
mengikuti perkuliahan secara efektif. Menurut Dr. So Koo Meng, MBBS, Mmed,
FAMS, Adjunct Associate Professor National University of Singapore. Gejala Stres
timbul akibat dari ketidak harmonisan pemenuhan keinginan dan kemampuan
untuk menghadapinya. Stres adalah reaksi alami tubuh untuk mempertahankan diri
dari tekanan secara psikis. Tubuh manusia dirancang khusus agar bisa merasakan
dan merespon gangguan psikis ini. Tujuannya agar manusia tetap waspada dan
siap untuk menghindari bahaya. Kondisi ini jika berlangsung lama akan
menimbulkan perasaan cemas, takut dan tegang.

(http://www.mitsuilease.co.id)

Pada kenyataannya keadaan stress seperti ini sering dialami oleh mahasiswa
Psikologi terutama yang mengikuti mata kuliah Statistik II. Keadaan ini bisa
disebabkan karena proses belajar mengajar yang kurang menarik atau bisa
dikatakan bobot mata kuliah Statistik berat. Hal ini dikarenakan mata kuliah
statistik lebih menekankan pada rumus dan pemahaman, tidak hanya sekedar
hafalan. Jelas sekali hal ini bisa menimbulkan stress bagi mahasiswa. Dan akhirnya,
stress yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan saat mengikuti mata kuliah
tersebut dan mungkin akan menghambat belajar mahasiswa. Seperti Pusing-
pusing/sakit kepala, kelelahan, Ingin mengerjakan segalanya dengan cepat, ingatan
melemah, tidak mampu berkonsentrasi, tidak sanggup melaksanakan tugas yang
sudah dimulai, kehilangan semangat.

Aromaterapi sendiri adalah terapi menggunakan essential oil atau sari minyak
murni untuk membantu memperbaiki atau menjadi kesehatan, membangkitkan
semangat, gairah, menyegarkan serta menenangkan jiwa, dan merangsang proses
penyembuhan.

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan aromaterapi.html)

Aromaterapi yang dipakai bisa berupa pengharum ruangan, dupa (incense stick),
cologne/parfum, minyak esensial yang dibakar bersama air di atas tungku kecil,
atau bentuk-bentuk yang lainnya. Aromaterapi selalu dihubungkan dengan hal-hal
menyenangkan agar membuat jiwa,tubuh dan pikiran merasa relaks dan 'bebas'
Pada tahun 1928 penggunaan istilah aromaterapi dipopulerkan oleh Rene Maurice
Gattefosse di Perancis. Aromaterapi digunakan untuk rileksasi dan pengobatan.
Bahkan pada Perang Dunia II minyak esensial untuk aromaterapi ini digunakan
untuk pengobatan karena pada zaman itu sulit memperoleh antibiotika Minyak
tersebut mengandung bahan kimia asli dari tumbuhan tersebut berupa zat
antiseptik seperti fenol dan alkohol dan molekul-molekul lain. Khasiatnya
menyembuhkan berbagai penyakit serta menyebarkan bau harum.

(www.hanyawanita.com).

Bagaimana cara kerja aromaterapi itu? Ketika hidung menghirup wangi minyak
esensial yang telah terbukti mampu mempengaruhi emosi. Minyak yang dihirup
akan membuat vibrasi di hidung. Dari sini minyak yang mempunyai manfaat
tertentu itu akan mempengaruhi sistem limbik, tempat pusat memori, suasana hati,
dan intelektualitas berada.

(www.hanyawanita.com).

Menurut Dr. Alan Huck (neurology psikiater dan Direktur Pusat Penelitian Bau dan
Rasa di Chicago), bau berpengaruh langsung terhadap otak manusia, mirip
narkotika. Ternyata hidung kita memiliki kemampuan untuk membedakan lebih dari
100.000 bau yang berbeda yang mempengaruhi kita dan itu terjadi tanpa kita
sadari. Bau-bauan tersebut mempengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan
mood (suasana hati), emosi, ingatan, dan pembelajaran. Misalnya, dengan
menghirup aroma lavender maka akan meningkatkan gelombang-gelombang alfa di
dalam otak dan gelombang inilah yang membantu kita untuk merasa rileks.
Sementara dengan menghirup aroma bunga melati maka akan meningkatkan
gelombang-gelombang beta dalam otak yang meningkatkan ketangkasan dan
kesiagaan.) Selain itu Lavender dipercaya bisa membantu terciptanya
keseimbangan tubuh dan pikiran. Sedangkan wewangian Lemon digunakan untuk
menenangkan suasana. Aromanya yang menggemaskan dapat membuat anda
makin percaya diri, merasa lebih santai, dapat menenangkan syaraf, tetapi tetap
membuat kita sadar.

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan-aromaterapi.html

Diharapkan setelah pemberian Aromaterapi dapat mengurangi tingkat stres para


mahasiswa saat mengikuti mata kuliah Statistik II. Sehubungan dengan hal tersebut
diatas, maka peneliti berusaha untuk mengatasi atau melakukan suatu penanganan
atas tingkat stress yang tinggi dari para mahasiswa itu. Peneliti mengemukakan
suatu solusi yaitu dengan penggunaan Aromaterapi.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mengidentifikasi adanya permasalahan,


yaitu : Pada saat mahasiswa mengikuti mata kuliah statistik II cenderung
memunculkan perilaku stres; Seperti Pusing-pusing/sakit kepala, kelelahan, Ingin
mengerjakan segalanya dengan cepat, ingatan melemah, tidak mampu
berkonsentrasi, tidak sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai, kehilangan
semangat. Keadaan ini bisa disebabkan karena proses belajar mengajar yang
kurang menarik atau bisa dikatakan bobot mata kuliah Statistik II berat. Hal ini
dikarenakan mata kuliah statistik lebih menekankan pada rumus dan pemahaman,
tidak hanya sekedar hafalan. Sehingga banyak mahasiswa Fakultas Psikologi yang
tidak lulus dalam mata kuliah ini. Hal inilah yang lalu menimbulkan stres pada para
mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini. Stres yang ditimbulkan dapat
mengurangi kenyamanan saat mengikuti mata kuliah Statistik II dan mungkin akan
menghambat belajar mahasiswa. Penggunaan aromaterapi dapat dijadikan salah
satu cara dalam mengurangi tingkat stres mahasiswa saat mengikuti mata kuliah
Statistik II.

1.3. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapatlah ditarik sebuah rumusan


masalah. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut :

“Apakah ada pengaruh antara pemberian Aromaterapi beraroma Lavender dan


Lemon terhadap tingkat stres mahasiswa Psikologi yang mengikuti mata kuliah
Statistik II ?”

1.4. BATASAN MASALAH

Pembatasan masalah digunakan untuk menetapkan batas-batas permasalahan


dengan jelas dan untuk menghindari pembahasan masalah yang menyimpang dari
yang sebenarnya. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1.4.1. Stres

Stres adalah adanya perasaan tidak nyaman pada suatu kondisi tertentu yang
ditunjukkan dengan adanya perilaku seperti Pusing-pusing/sakit kepala, kelelahan,
Ingin mengerjakan segalanya dengan cepat, ingatan melemah, tidak mampu
berkonsentrasi, tidak sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai, kehilangan
semangat.

1.4.2. Aromaterapi

Aromaterapi adalah terapi yang menggunakan bau wangi-wangian bisa berupa


pengharum ruangan, dupa (incense stick), cologne/parfum, minyak esensial yang
dibakar bersama air di atas tungku kecil, atau bentuk-bentuk yang lainnya yang
dapat menenangkan jiwa dan menurunkan tingkat stress. Aromanya seperti wangi
Lavender, Lemon, Jasmine, Rose, Peppermint, vanilla, dll.

1.4.2. Mahasiswa Statistik II

Subjek yang dijadikan penelitian dalam eksperimen ini adalah mahasiswa yang
mengikuti matakuliah statistik II, dalam hal ini jumlah kelas yang mengikuti
matakuliah statistik II hanya ada satu kelas yaitu kelas A, baik yang berjenis
kelamin laki-laki maupun perempuan yang mengulang ataupun baru dari angkatan
2001 sampai 2005.

1.5. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh pemberian
Aromaterapi beraroma lavender da lemon terhadap penurunan tingkat stress
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang mengikuti mata kuliah
Statistik II.

1.6. MANFAAT PENELITIAN

Diharapkan manfaat dari hasil penelitian ini :

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai pengaruh antara pemberian


Aromaterapi terhadap tingkat stress mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga yang mengikuti mata kuliah Statistik II.

b. Manfaat Praktis

1. Dapat memberikan alternatif cara dalam upaya untuk mengurangi tingkat stress
mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Statistik II melalui penggunaan
Aromaterapi.

2. Dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kenyamanan saat mengikuti


mata kuliah Statistik II.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Stres

A.1. Pengertian dan Terjadinya Stres

Stres adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya
tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau diluar batasan kemampuan
mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut (Brehm & Kassin, 1996:527).

Patel (1996:3) stres merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa
disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi
tantangan-tantangan (challenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman
(threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak
realistis dari lingkungannya. Disamping itu, keadaan stres akan muncul apabila ada
tuntutan yang luar biasa sehingga mengancam kesselamatan atau integritas
seseorang. Menurut Patel (1996:3-5), stres tidak selalu bersifat negatif. Pada
dasarnya, stress merupakan respon-respon tertentu tubuh terhadap adanya
tuntutan-tuntutan dari luar. Dengan adanya berbagai tuntutan tersebut, tubuh
manusia berusaha mengatasi dengan menciptakan keseimbangan antara tuntutan
luar, kebutuhan dan nilai-nilai internal, kemampuan coping personal, dan
kemampuan lingkungan untuk memberikan dukungan. Hasil dari interaksi tersebut
akan menghasilkan persepsi terhadap stres. Ketika stress telah dipersepsikan
secara positif dapat memotivasi manusia untuk lebih percaya diri dan lebih
berprestasi.

Menurut Cranweld-Ward (1990, dalam Isniwarti, 1996:16) stres merupakan reaksi


fisiologis dan psikologis yang terjadi ketika seseorang merasakan ketidak
seimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuannya untuk
mengatasi tuntutan tersebut.

Sedangkan menurut Korchin (1976, dalam Isnawarti,1996:16) juga menjelaskan


bahwa stress tidak hanya berupa kondisi yang menekan baik dari keadaan fisik atau
psikis seseorang, maupun reaksi-reaksinya terhadap tekanan itu, melainkan
keterkaitan antara ketiga hal tersebut.

Weiten (1992, dalam Sukmawati, 1999:21) menjelaskan adanya empat jenis stres,
antara lain :

1) Frustasi

Kondisi dimana seseorang merasa jalan yang akan ditempuh untuk meraih tujuan
dihambat.

2) Konflik

Kondisi ini muncul ketika dua atau lebih perilaku saling berbenturan, dimana
masing-masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling
memberatkan.
3) Perubahan

Kondisi yang dijumpai ternyata merupakan kondisi yang tidak semestinya serta
membutuhkan adanya suatu penyesuaian.

4) Tekanan

Kondisi dimana terdapat suatu harapan atau tuntutan yang sangat besar terhadap
seseorang untuk melakukan perilaku tertentu.

Patel (1996:5-6) menjelaskan adanya berbagai jenis reaksi stress yang umumnya
dialami manusia meliputi :

1) Too little stress

Dalam kondisi ini, seseorang belum mengalami tantangan yang berat dalam
memenuhi kebutuhan pribadinya. Seluruh kemampuan belum sampai
dimanfaatkan, serta kurangnya stimulasi mengakibatkan munculnya kebosanan dan
kurangnya makna dalam tujuan hidup

2) Optimum stress

Seseorang mengalami kehidupan yang seimbang pada situasi “atas” maupun


“bawah” akibat proses manajemen yang baik oleh dirinya. Kepuasaa kerja dan
perasaan mampu individu dalam meraih prestasi menyebabkan seseorang mampu
menjalani kehidupn dan pekerjaan sehari-hari tanpa menghadapi masalah yang
terlalu banyak atau rasa lelah yang berlebihan.

3) Too much stress

Dalam kondisi ini, seseorang merasa telah melakukan pekerjaan yang terlalu
banyak setiap hari. Dia mengalami kelelahan fisik maupun emosional, serta tidak
mampu menyediakan waktu untuk beristirahat atau bermain. Kondisi ini dialami
secara terus-menerus tanpa memeperoleh hasil yang diharapkan

4) Breakdown stress

Ketika pada tahap too much stress individu tetap meneruskan usahanya pada
kondisi yang statis, kondisi akan berkemban menjadi adanya kecenderungan
neurotis yang kronis atau munculnya rasa sakit psikosomatis. Misalnya pada
individu yang memiliki perilaku merokok atau kecanduan minuman keras, konsumsi
obat tidur, dan terjadinya kecelakaan kerja. Ketika individu tetap meneruskan
usahanya ketika mengalami kelelahan, ia akan cenderung mengalami breakdown
baik secara fisik , maupun psikis.
Senada dengan Patel, Hans Selye (1975a, dalam Patel, 1996:6) menerangkan
adanya empat tahapan stres yang meliputi understress, eustress, overstress, dan
distress. Pada kondisi eustress hendaknya dapat disadari ketika kondisi tubuh dan
pikiran dalam keadaan yang seimbang, mersa enerjik, mudah beradaptasi, dan
dalam kondisi santai atau rileks. Ketika sudah melampaui tahapan eustress,
individu akan merasa lelah, cemas, agresif, serta defensif.

Walaupun ada berbagai pengertian, mekanisme, serta klasifikasi stress, Lazzarus


(1976, dalam Isniwarti, 1996:17) dan Patel (1996:13-14) menjelaskan bahwa stres
merupakan mekanisme yang bersifat individual. Stres bagi seseorang belum tentu
merupakan stres bagi yang lainnya, hal ini disebabkan karena persepsi dan
toleransi yang berbeda-beda pada setiap orang tentang hal-hal yang menjadi
hambatan atau tuntutan yang mungkin menimbulkan stres.

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa stress


merupakan suatu keadaan yang menekan diri individu yang disebabkan adanya
ketidakseimbangan antara kemampuan yang dimiliki dengan tuntutan yang ada.
Stres merupakan mekanisme yang kompleks dan menghasilkan respon yang saling
terkait baik fisiologis, psikologis, maupun perilaku pada individu yang
mengalaminya, dimana mekanisme tersebut bersifat individual yang sifatnya
berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain.

A.2. Penyebab Stres atau Stresor

Stresor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan


terjadinya respon stres. Stresor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari
kondisi fisik, psikologis, maupun social (Kisker, 1977 dalam Isniwarti, 1996:18) dan
juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan
luar lainnya (Patel, 1996:15).

Secara garis besar, stresor bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu :

1) Stresor mayor yang berupa major live events yang meliputi peristiwa kemayian
orang yang disayangi, masuk sekolah untuk pertama kali, dan perpisahan; dan

2) Stresor minor yang biasanya berawal dari stimulus tentang masalah hidup
sehari-hari, misalnya ketidaksenangan emosional terhadap hal-hal tertentu
sehingga menyebabkan munculnya stres (Brantley,dkk., 1988, dalam Isnawarti,
1996:18).

SE. Taylor (1991:197-198) merinci beberapa karakteristik kejadian yang berpotensi


untuk dinilai menciptakan, antara lain :
1) Kejadian negatif agaknya lebih banyak menimbulkan stress daripada kejadian
positif.

2) Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi lebih membuat stres
daripada kejadian yang terkontrol dan terprediksi.

3) Kejadian “ambigu” seringkali dipandang lebih mengakibatkan stress daripada


kejadian yang jelas.

4) Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas (overload) lebih mudah mengalami


stres daripada orang yang memiliki tugas lebih sedikit.

Ada beberapa sumber stres yang berasal dari lingkungan, diantaranya adalah
lingkungan fisik seperti polusi udara, kebisingan, kesesakan, dan lingkungan kontak
social yang bervariasi, serta kompetisi hidup yang tinggi (Howart & Gillham, 1981;
Atkinson, 1990; dalam Iswinarti, 1996:19). Seperti yang dikutip oleh oleh Patel
(1996:18-19) bahwa pada Holmes and Rahe Schedule of Recent Life Events telah
diteliti berbagai peristiwa kehidupan yang membutuhkan penyesuaian sosial
kembali dan memberinya rating berdasarkan muatan nilai stresnya. Stresor yang
berupa peristiwa-peristiwa perubahan di sekolah (change in school) berada pada
peringkat 33 yang dapat menimbulkan stres.

Holmes dan Rahe (dalam Davidson & Neale), 1992) merumuskan adanya sumber
stres, yaitu :

1) Dalam diri individu

Hal ini berkaitan dengan adanya konflik. Pendorong dan penarik konflik
menghasilkan dua kecenderungan yang berkebalikan, yaitu approach dan
avoidance. Kecenderungan ini menghasilkan tipe dasar konflik (Weiten, 1992), yaitu
:

a. Approach-approach Conflict

Muncul ketika kita tertarik terhadap dua tujuan yang sama-sama baik.

b. Avoidance-avoidance Conflict

Muncul ketika kita dihadapkan pada satu pilihan antara dua situasi yang tidak
menyenangkan

c. Approach-avoidance Conflict

Muncul ketika kita melihat kondisi yang menarik dan tidak menarik dalam satu
tujuan atau situasi.

2) Dalam keluarga
Dari keluarga ini yang cenderung memungkinkan munculnya stres adalah hadirnya
anggota baru, sakit, dan kematian dalam keluarga.

3) Dalam komunitas dan masyarakat

Kontak dengan orang di luar keluarga menyediakan banyak sumber stres. Misalnya,
pengalaman anak di sekolah dan persaingan.

Dari berbagai penjelasan di atas, maka stresor atau hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya stres dapat berupa faktor-faktor fisiologis, psikologis, dan
lingkungan di sekitar individu (baik fisik maupun sosial). Namun, Stresor tersebut
dapat menimbulkan stres ataupun tidak tergantung bagaimana individu menyikapi
stresor itu.

A.3. Konsekuensi dan Respon Stres

Stres, pada penjelasan awal telah disimpulkan akan menghasilkan reaksi fisiologis,
reaksi psikologis dan perubahan perilaku. Seperti juga yang dijelaskan oleh
Coleman (1991, dalam Iswinarti, 1996:20), bahwa contoh reaksi fisiologis sebagai
tanda peringatan awal yang penting adalah nyeri dada, diare, sakit perut, sakit
kepala atau pusing-pusing, mual, insomnia, kelelahan, dan jantung berdebar-debar.
Selanjutnya, reaksi psikologis dari stres bisa dilihat dari tanda-tanda seperti tidak
mau santai pada saat yang tepat, merasa tegang, tidak tahan terhadap suara atau
gangguan lain, cepat marah atau mudah tersinggung, ingatan melemah, tidak
mampu konsentrasi, daya kemauan berkurang, emosi tidak terkendali, tidak
sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai, impulsive, dan reaksi berlebihan
terhadap hal-hal sepele.

Atkinson (1990, dalam Iswinarti, 1996:22) mengistilahkan reaksi stres sebagai gaya
stres yang sebetulnya merupakan reaksi psikologis stres. Ada beberapa gaya stress
yang ditunjukkan pada individu yang mengalami stres, misalnya ingin mengerjakan
segalanya dengan cepat sehingga menjadi bingung dan frustrasi, kecemasan,
ketidak berdayaan atau keputusasaan, depresi dan kehilangan semangat.

A.4. Pengertian dan Mekanisme Coping stres

Coping adalah segala usaha untuk mengurangi stres, yang merupakan proses
pengaturan atau tuntutan (eksternal maupun internal) yang dinilai sebagai beban
yang melampaui kemampuan seseorang (Lazarus & Folkman, 1984). Definisi lain
menyatakan coping sebagai proses dimana individu melakukan usaha untuk
mengatur (management) situasi yang dipersepsikan adanya kesenjangan antara
usaha (demands) dan kemampuan (resources) yang dinilai sebagai penyebab
munculnya situasi stres (dalam Sarafino, 1998:133).
Usaha coping sangat bervariasi dan tidak selalu dapat membawa pada solusi dari
suatu masalah yang menimbulkan situasi stres. Individu melakukan proses coping
terhadap stres melalui proses transaksi dengan lingkungan, secara perilaku dan
kognitif (Sarafino, 1998:133).

Peristiwa stresful merupakan kejadian yang berpotensi memicu stres pada individu.
Sedangkan penilaian dan interpretasi terhadap stresor melalui primary dan
secondary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu kejadian dan
penaksiran terhadap kemampuan dan potensi coping individu (SE. Taylor,
1991:232)

A.5. Fungsi coping stres

Proses coping terhadap stres memiliki 2 fungsi utama yang terlihat dari bagaimana
gaya menghadapi stres, yaitu :

1) Emotion-focused coping

Coping ini bertujuan untuk melakukan kontrol terhadap respon emosional terhadap
situasi penyebab stres, baik dalam pendekatan secara behavioral maupun kognitif.
Lazarus dan Folkman (1984b) mengemukakan bahwa individu cenderung
menggunakan emotional-focused coping ketika individu memiliki persepsi bahwa
stresor yang ada tidak dapat diubah atau diatasi.

2) Problem-focused coping

Coping ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari situasi stres atau
memperbesar sumber daya dan usaha untuk menghadapi stres. Lazarus & Folkman
(1984b) mengemukakan bahwa individu cenderung menggunakan Problem-focused
coping ketika individu memiliki persepsi bahwa stresor yang ada dapat diubah
(Sarafino, 1998:133-135)

Greenberg (2002:293) mengutip bahwa ketika Problem-focused coping telah


dilakukan dan mengakibatkan kelelahan karena tugas yang diselesaikan terlalu
berat, manusia bisa saja melakukan Emotion-focused coping untuk membuat
perasaan dirinya menjadi lebih baik ketika mengerjakan tugas-tugas dan kembali
melakukan Problem-focused coping yang telah dilakukan. Jadi kedua tipe coping
tersebut dapat saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.

A.6. Metode-metode Coping Stres

Individu memerlukan kemampuan tertentu (skill) dan strategi untuk mengatasi


masalah dan mengatur respon emosional terhadap kondisi yang mengakibatkan
stres. Lazarus & Folman (1986, 1988) mengidentifikasikan berbagai jenis strategi
coping, baik secara problem-focused maupun emotion-focused, antara lain :

(1) Planful problem solving

(2) Confrontive coping

(3) Seeking social support

(4) Distancing

(5) Escape-avoidance

(6) Self-control

(7) Accepting responsibility

(8) Positive reappraisal (Sarafino, 1998:135)

B. Aromaterapi & Relaksasi

B.1. Pengertian & fungsi Aromaterapi

Aromaterapi sendiri adalah terapi menggunakan essential oil atau sari minyak
murni untuk membantu memperbaiki atau menjadi kesehatan, membangkitkan
semangat, gairah, menyegarkan serta menenangkan jiwa, dan merangsang proses
penyembuhan.

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan-aromaterapi.html)

Aromaterapi yang dipakai bisa berupa pengharum ruangan, dupa (incense stick),
cologne/parfum, minyak esensial yang dibakar bersama air di atas tungku kecil,
atau bentuk-bentuk yang lainnya. Aromaterapi selalu dihubungkan dengan hal-hal
menyenangkan agar membuat jiwa,tubuh dan pikiran merasa relaks dan 'bebas'
Pada tahun 1928 penggunaan istilah aromaterapi dipopulerkan oleh Rene Maurice
Gattefosse di Perancis. Aromaterapi digunakan untuk rileksasi dan pengobatan.
Bahkan pada Perang Dunia II minyak esensial untuk aromaterapi ini digunakan
untuk pengobatan karena pada zaman itu sulit memperoleh antibiotika Minyak
tersebut mengandung bahan kimia asli dari tumbuhan tersebut berupa zat
antiseptik seperti fenol dan alkohol dan molekul-molekul lain. Khasiatnya
menyembuhkan berbagai penyakit serta menyebarkan bau harum.

(www.hanyawanita.com).

Bagaimana cara kerja aromaterapi itu? Ketika hidung menghirup wangi minyak
esensial yang telah terbukti mampu mempengaruhi emosi. Minyak yang dihirup
akan membuat vibrasi di hidung. Dari sini minyak yang mempunyai manfaat
tertentu itu akan mempengaruhi sistem limbik, tempat pusat memori, suasana hati,
dan intelektualitas berada.

(www.hanyawanita.com).

Menurut Dr. Alan Huck (neurology psikiater dan Direktur Pusat Penelitian Bau dan
Rasa di Chicago), bau berpengaruh langsung terhadap otak manusia, mirip
narkotika. Ternyata hidung kita memiliki kemampuan untuk membedakan lebih dari
100.000 bau yang berbeda yang mempengaruhi kita dan itu terjadi tanpa kita
sadari. Bau-bauan tersebut mempengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan
mood (suasana hati), emosi, ingatan, dan pembelajaran. Misalnya, dengan
menghirup aroma lavender maka akan meningkatkan gelombang-gelombang alfa di
dalam otak dan gelombang inilah yang membantu kita untuk merasa rileks.
Sementara dengan menghirup aroma bunga melati maka akan meningkatkan
gelombang-gelombang beta dalam otak yang meningkatkan ketangkasan dan
kesiagaan.

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan-aromaterapi.html)

B.1.1. Macam-macam wewangian aromaterapi dan kegunaan

Tabel wewangian

No Jenis wewangian Kegunaan

1) Apple Cinnamon Wangi apple cinnamon dipercaya dapat membangkitkan


kenangan hangat bersama orang tua serta mengingatkan orang akan suasana
rumah yang nyaman.

2) Black Cherry aromanya sangat tajam dan menyegarkan. Cocok untuk


ditempatkan di ruang pertemuan.

3) Lemon wewangian yang digunakan untuk menenangkan suasana. Aromanya


yang menggemaskan dapat membuat anda makin percaya diri, merasa lebih santai,
dapat menenangkan syaraf, tetapi tetap membuat kita sadar.

4) Cinnamon konon, minyak essensialnya mengandung antibiotik, antiseptik dan


antivirus yang dapat melindungi tubuh manusia

5) Eucalyptus pohonnya dikenal dengan nama kayu putih. Wanginya dapat


menghilangkan bau secara efektif. Selain itu juga ampuh menghilangkan bakteri,
antiseptik dan antiviral juga ada pada minyak jenis ini.

6) Freesia aroma bunga freesia ini sangat khas. Untuk memperoleh wangi yang pas,
jangan gunakan terlalu banyak.
7) Gardenia merupakan wewangian Bunga Gardenia yang sangat disukai wanita.
Wanginya sangat identik dengan acara-acara besar dan mewah seperti pernikahan,
prom night dan pesta eksotis lainnya.

8) Honey Suckle aromanya sangat bersahabat dengan hidung. Karenanya aroma


yang satu ini dapat membuat orang merasa nyaman dan rileks.

9) Jasmine merupakan jenis aroma yang sanggup menciptakan suasana romantis.


Namun, jangan gunakan terlalu banyak. Sebab, aroma kuat bunga melati justru
membuat udara menjadi tidak segar, bahkan mungkin sedikit menyeramkan.

10) Juniper Berry aromanya sangat maskulin dan dipercaya dapat meredam emosi.

11) Lavender jika anda penderita insomnia atau ingin mendapatkan relaksasi dapat
menggunkan aromatherapy jenis ini. Lavender dipercaya bisa membantu
terciptanya keseimbangan tubuh dan pikiran.

12) Pachouli aromanya sangat eksotik dan berpaut erat dengan kegiatan masak-
memasak.

13) Peppermint aroma yang begitu menyegarkan, membangkitkan suasana, dapat


mengurangi sakit perut, mengurangi ketegangan dan dipercaya bisa
menyembuhkan sakit kepala.

14) Pine Merupakan aroma yang bisa mengingatkan anda pada suasana luar
ruangan yang begitu bersih dan berbau kayu.

15) Cendana/ Sandalwood aroma yang dilahirkannya dapat membantu menciptakan


dan menuangkan ide kreatif. Selain dapat mengurangi depresi, harum cendana
dipercaya dapat mengatasi masalah sulit tidur serta masalah lain yang
berhubungan dengan stres. Selain itu, aromanya sangat bermanfaat digunakan saat
meditasi

16) Pikake atau Plumeria merupakan wewangian bunga khas Hawaii yang dapat
membangkitkan ingatan anda akan lembutnya hembusan angin pantai. Sangat
disarankan digunakan untuk relaksasi

17) Rosemary merupakan jenis aromatherapy yang biasa digunakan untuk


melegakan otot dan pikiran. Wangi yang dihasilkannya juga dapat membantu anda
lebih konsentrasi.

18) Sage salah satu jenis aromatherapi yang digunakan untuk memberikan rasa
tenang. Jenis wewangian ini bermanfaat mengatasi sakit selama menstruasi dan
dapat mengatur sistem syaraf pusat.

19) Sweet Orange biasanya digunakan untuk membangkitkan gairah dan semangat
pria.
20) Vanilla aroma yang dihasilkannya sangat akrab dengan suasana rumah yang
hangat dan nyaman, sehingga wanginya sanggup menenangkan pikiran anda.

B.2. Relaksasi

Pengertian Relaksasi

Relaksasi adalah suatu kondisi istirahat pada aspek fisik dan mental manusia,
sementara aspek spirit tetap aktif bekerja. Dalam keadaan relaksasi, seluruh tubuh
dalam keadaan homeostatis atau seimbang, dalam keadaan tenang tapi tidak
tertidur, dan seluruh otot-otot dalam keadaan rileks dengan posisi tubuh yang
nyaman (Suryani, 2000:76).

C. Mahasiswa yang Mengikuti matakuliah Statistik II

C.1. Matakuliah Statistik II

Statistik II adalah salah satu mata kuliah yang ada di semester III. Statistik II adalah
salah satu mata kuliah prasyarat wajib. Maksudnya adalah mata kuliah ini harus
atau wajib diambil untuk dapat mengambil mata kuliah selanjutnya. Dalam hal ini,
Statistik II adalah mata kuliah prasyarat wajib untuk dapat mengambil mata kuliah
lanjutan wajib yang dalam hal ini adalah skripsi. Seperti yang kita tahu bahwa
skripsi adalah prasyarat bagi kelulusan. Oleh sebab itu, sebagai mata kuliah
prasyarat wajib, setiap mahasiswa harus memenuhi nilai diatas D. Untuk dapat
dinyatakan lulus dari mata kuliah ini dan boleh mengambil mata kuliah lanjutan
berikutnya.

Mata kuliah ini merupakan lanjutan dari statistik I. Melalui mata kuliah ini
mahasiswa diajak memahami teknik analisis varians, korelasi dan regresi, dan
hubungan kedua teknik tersebut serta memahami penggunaannya dalam
menganalisis data penelitian psikologi. Oleh karena itu mata kuliahnya meliputi
analisis varians, analisis kovarians, korelasi dan analisis regresi, serta hubungan
analisis varians dan regresi. Dapat dikatakan bahwa mata kuliah statistik ini lebih
menekankan pada rumus dan pemahaman, tidak hanya sekedar hafalan.

C.2. Mahasiswa yang mengikuti matakuliah Statistik II

Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini adalah mahasiswa angkatan 2001-2005.
Dari keseluruhan mahasiswa di kelas ini ada yang mengulang dan ada yang baru
mengambil mata kuliah ini.
Berdasarkan uraian diatas dapat kita lihat bahwa mata Statistik adalah mata kuliah
yang sangat penting, mengingat hal tersebut adalah mata kuliah prasyarat wajib
untuk dapatnya mahasiswa membuat skripsi bagi kelulusannya nanti. Sehingga
dapat dikatakan mata kuliah ini mempunyai bobot yang lumayan berat karena
selain materinya yang berat, mahasiswa juga dituntut untuk memperoleh nilai yang
sesuai standar. Hal ini dikarenakan mata kuliah statistik lebih menekankan pada
rumus dan pemahaman, tidak hanya sekedar hafalan, serta mungkin cara mengajar
yang kurang menarik. Hal inilah yang lalu menimbulkan stres pada para mahasiswa
yang mengikuti mata kuliah ini. Stres yang ditimbulkan seperti Pusing-pusing/sakit
kepala, kelelahan, ingin mengerjakan segalanya dengan cepat, ingatan melemah,
tidak mampu berkonsentrasi, tidak sanggup melaksanakan tugas yang sudah
dimulai, kehilangan semangat. Stres yang ditimbulkan dapat mengurangi
kenyamanan saat mengikuti mata kuliah Statistik II dan mungkin akan menghambat
belajar mahasiswa. Sehingga banyak mahasiswa Fakultas Psikologi yang tidak lulus
dalam mata kuliah ini.

D. Hubungan antara Stres dan Aromaterapi

Berdasarkan uraian diatas dapat kita lihat bahwa mata Statistik adalah mata kuliah
yang sangat penting. mengingat hal tersebut adalah mata kuliah prasyarat wajib
untuk dapatnya mahasiswa membuat skripsi bagi kelulusannya nanti. Sehingga
dapat dikatakan mata kuliah ini mempunyai bobot yang lumayan berat karena
selain materinya yang berat, mahasiswa juga dituntut untuk memperoleh nilai yang
sesuai standar. Hal ini dikarenakan mata kuliah statistik lebih menekankan pada
rumus dan pemahaman, tidak hanya sekedar hafalan, serta mungkin cara mengajar
yang kurang menarik. Pada akhirnya hal ini dapat menimbulkan stres. Stres, pada
penjelasan awal telah disimpulkan akan menghasilkan reaksi fisiologis, reaksi
psikologis dan perubahan perilaku. Seperti juga yang dijelaskan oleh Coleman
(1991, dalam Iswinarti, 1996:20), bahwa contoh reaksi fisiologis sebagai tanda
peringatan awal yang penting adalah nyeri dada, diare, sakit perut, sakit kepala
atau pusing-pusing, mual, insomnia, kelelahan, dan jantung berdebar-debar.
Selanjutnya, reaksi psikologis dari stres bisa dilihat dari tanda-tanda seperti tidak
mau santai pada saat yang tepat, merasa tegang, tidak tahan terhadap suara atau
gangguan lain, cepat marah atau mudah tersinggung, ingatan melemah, tidak
mampu konsentrasi, daya kemauan berkurang, emosi tidak terkendali, tidak
sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai, impulsife dan reaksi berlebihan
terhadap hal-hal sepele.

Munculnya reaksi-reaksi diatas sebagai respon dari stres akan menghambat proses
belajar mahasiswa sehingga memungkinkan banyaknya mahasiswa yang tidak lulus
dalam mata kuliah ini.

Aromaterapi sendiri adalah terapi menggunakan essential oil atau sari minyak
murni untuk membantu memperbaiki atau menjadi kesehatan, membangkitkan
semangat, gairah, menyegarkan serta menenangkan jiwa, dan merangsang proses
penyembuhan.

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan-aromaterapi.html).

Aromaterapi selalu dihubungkan dengan hal-hal menyenangkan agar membuat


jiwa, tubuh dan pikiran merasa relaks. Oleh karena itu, peneliti berusaha
mengurangi tingkat stres yang terjadi pada mahasiswa saat mengikuti mata kuliah
statistik dengan menggunakan aromaterapi.

E. Hipotesis

Ada dua hipotesis yang ada dalam penelitian ini yaitu :

• Ho : Tidak ada pengaruh antara pemberian Aromaterapi (beraroma lavender dan


lemon) terhadap tingkat stres mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
yang mengikuti matakuliah Statistik II.

• Ha : Ada pengaruh antara pemberian Aromaterapi (beraroma lavender dan lemon)


terhadap tingkat stres mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang
mengikuti matakuliah Statistik II.

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu sifat yang dapat memiliki bermacam nilai atau seringkali
diartikan dengan simbol atau lambang yang memiliki bilangan atau nilai. Untuk
dapat meneliti suatu konsep secara empiris, konsep tersebut dioperasionalkan
dengan mengubahnya menjadi variabel.

Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah :

1) Variabel Independen (X) :


Pemberian Aromaterapi berbentuk pengharum ruangan. Manipulasi yang akan
dilakukan terhadap independen variabel ini disebut dengan Experimental
Manipulation, yaitu teknik atau metode untuk melakukan variasi terhadap
independen variabel dengan cara memberikan perlakuan yang berbeda pada
sebuah kelompok yang sama. Dalam hal ini, satu kelompok yang sama itu masing-
masing akan diukur sebanyak dua kali yaitu Pretest (sebagai hasil kelompok
kontrol) dan Posttest (sebagai hasil kelompok eksperimen). Dalam pretest, subyek
diukur tingkat stresnya dengan mengggunakan kuisioner. Pemberian kuisioner ini
sebagai indikator dari tingkat stres sebelum diberi aromaterapi beraroma lemon
dan lavender yang berbentuk pengharum ruangan. Sedangkan dalam posttest,
subyek diukur tingkat stresnya dengan mengggunakan kuisioner. Pemberian
kuisioner ini sebagai indikator tingkat stres setelah diberi aromaterapi beraroma
lemon dan lavender yang berbentuk pengharum ruangan.

2) Variabel Dependen (Y):

Tingkat Stres Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah statistik II yang dilihat
indikatornya Seperti Pusing-pusing/sakit kepala, kelelahan, Ingin mengerjakan
segalanya dengan cepat, ingatan melemah, tidak mampu berkonsentrasi, tidak
sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai, kehilangan semangat.

C. Definisi Operasional Variabel

Perlakuan aromaterapi : suatu teknik yang menggunakan aroma tumbuhan yang


dapat berupa minyak esensial tumbuhan baik dari akar, daun dan bunga. Pada
eksperimen ini digunakan pengharum ruangan. Adapun aroma yang digunakan
dalam eksperimen ini adalah aroma lemon dan lavender. Metode yang digunakan
untuk pemberian aroma dalam eksperimen ini adalah dengan cara menghirup
aroma tersebut secara tidak langsung melalui ruangan yang telah diberi
aromaterapi berupa pengharum ruangan sebelum kelas dimulai.

Stres dalam eksperimen ini dapat ditunjukkan dari perilaku-perilaku yang akan
ditunjukkan sebagai berikut ini :

*Pusing-pusing/sakit kepala

*Kelelahan

*Ingin mengerjakan segalanya dengan cepat

*Ingatan melemah

*Tidak mampu berkonsentrasi


*Tidak sanggup melaksanakan tugas yang sudah dimulai

*Kehilangan semangat

D. Populasi dan Sampling

D1. Populasi

Populasi yang digunakan dalam eksperimen ini menggunakan mahasiswa Psikologi


Universitas Airlangga.

D.2. Sampling

Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive


sampling dikenakan pada sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan dan
diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya. Subyek dalam
eksperimen ini adalah mahasiswa psikologi yang mengikuti matakuliah statistik II
dengan kriteria yang ditentukan oleh peneliti yaitu laki-laki dan perempuan baik
yang mengulang atau yang baru mengambil mata kuliah statistik II dari angkatan
2001-2005. Subyek diberi pretest sebanyak satu kali dan posttest dua kali. Alat
ukur yang digunakan untuk pretest dan posttest menggunakan kuisioner.

E. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan Treatment by Subject Design. Treatment by subject


design adalah satu kelompok yg sama diberikan treatment yg berbeda kemudian
diukur hasilnya. Dalam penelitian ini kelompok penelitian hanya satu kelompok
yang bisa diambil secara random atau tidak random. Pada kelompok tersebut
diberikan perlakuan berulang-ulang. Dalam eksperimen ini satu kelompok subyek
tersebut akan dikenai dua kali pemberian treatment yaitu pemberian aromaterapi
dengan wewangian Lavender dan pemberian aromaterapi dengan wewangian
Lemon. Penelitian melibatkan adanya pretest dan posttest.

F. Instrumen Penelitian

Penelitian eksperimen pada dasarnya adalah ingin mengetahui hubungan kausal


antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat(Y). Untuk mengetahui ada
tidaknya pengaruh tersebut, peneliti harus melakukan pengukuran terhadap
variabel terikatnya. Beberapa eksperimen menggunakan instrumen penelitian.
Instrumen penelitian adalah alat untuk pemberian perlakuan terhadap subjek
eksperimennya.

Instrumen dalam penelitian ini adalah :

* Kuisioner

* Aromaterapi beraroma bunga lavender berbentuk pengharum ruangan.

* Aromaterapi beraroma bunga lemon berbentuk pengharum ruangan

G. Validitas dan Reliabilitas Alat ukur

Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data,
diharapkan hasil penelitan akan menjadi valid dan reliabel.

1) Validitas Alat Ukur

Validitas mengacu pada kepercayaan dan kesesuaian antara konstruk atau cara
peneliti mengkonseptualisasikan idenya ke dalam definisi konseptual dan alat
pengukur. Validitas dapat diartikan sebagai seberapa baik sebuah ide tentang
realita “sesuai”dengan realita aslinya (Newman, 1999 : 164).

Instrumen yang valid berarti bahwa alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan
data itu valid dimana instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa
yang hendak diukur (Sugiyono, 2005 : 267).

Untuk mendapatkan content validity ini, penulis skripsi, Atika Dian Ariana,
menggunakan pendapat tiga rater yaitu sesuai dengan jumlah minimal pendapat
rater yang dibutuhkan dalam validitas isi (Sugiyono, 2002a:271). Hasil dari
penilaian dan evaluasi para rater terhadap skala tingkat stres yang disusun ulang
oleh penulis skripsi dari ICSRLE dan SST dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang
digunakan dalam penelitian tersebut cukup baik dan dapat digunakan untuk
mengukur tingkat stres pada subjek penelitian.

2) Validitas item

Untuk validitasnya, kami mengambil alat ukur dari skripsi yang ditulis oleh Atika
Dian Ariana (2005) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya yaitu skala
tingkat stress dari ICSRLE. Untuk skala ICSRLE, setelah dua kali putaran didapatkan
32 butir item yang sahih atau memuaskan dan 17 butir item yang gugur karena
tidak memenuhi persyaratan. Sedangkan untuk skala SST, setelah tiga kali putaran
didapatkan 5 butir item yang sahih atau memuaskan dan 5 butir item yang gugur
karena tidak memenuhi persyaratan.
3) Reliabilitas Item

Reliabilitas mengacu pada sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau
konsisten.Artinya, sejauh mana alat ukur tersebut mampu menghasilkan data yang
sama apabila digunakan dalam keadaan atau situasi lain yang identik atau hampir
sama. Dapat diartikan pula bahwa reliabilitas mengarah pada hasil-hasil numeris
yang dicapai sebuah indikator tidak banyak (bervariasi) disebabkan oleh
karakteristik dari alat ukur atau instrumen alat ukur itu sendiri (Newman, 1999 :
164).

Pengukuran reliabilitas dalam ekperimen ini menggunakan formula koefisien Alpha


Cronbach dalam SPSS 11.0 for Windows.

. Berdasarkan uji reliabilitas yang kami lakukan, diketahui bahwa r alpha = 0,891
untuk ICSRLE (putaran pertama) dan r alpha = 0,679 untuk SST (putaran pertama),
r alpha = 0,663 untuk SST (putaran kedua), dan r alpha = 0,673 untuk SST (putaran
ketiga).

H. Validitas dan Reliabilitas Eksperimen

Validitas dalam penelitian eksperimen dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu :

1) Validitas Internal : merupakan seberapa jauh keakurasian pengamatan peneliti


terhadap variabel bebas atau independen variabel yang berpengaruh terhadap
variabel terikat atau dependen variabel. Eksperimen dikatakan memiliki nilai
validitas internal yang tinggi apabila efek variabel terhadap variabel terikat benar-
benar disebabkan oleh variabel bebas atau perlakuan yang diberikan peneliti dan
bukan karena extraneous variable. Validitas internal ini meliputi :

a. History : Mengacu pada kejadian-kejadian yang lebih spesifik yang terjadi antara
pengukuran pertama (pre-test) maupun pengukuran kedua (post-test) diluar
eksperimen yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Peristiwa-peristiwa yang
terjadi diantara pre-test dan post-test tersebut dapat berpengaruh pada post-test
yang akan dilakukan selanjutnya. Sebagai contoh nilai ujian tengah semester yang
dapat berpengaruh terhadap post-test dan pengajar yang berbeda. Namun dalam
hal ini pengajar yang berbeda sudah dapat dikontrol.

b. Maturation; berkaitan dengan perubahan-perubahan pada kondisi internal


individu yang terjadi sebagai konsekuensi dari berlalunya waktu. Perubahan-
perubahan itu melibatkan proses biologis dan psikologis, seperti usia, proses
belajar, kelelahan dan kebosanan yang sifatnya menetap pada individu.

c. Testing; mengulang soal tes pada pre-test dan post-test pada subjek penelitian
yang sama bisa mengakibatkan subjek menjadi lebih hafal pada soal tes tersebut,
sehingga akan berpengaruh pada hasil pengukuran variabel terikatnya atau
variabel tergantungnya. Hal ini dapat diatasi dengan pengacakan nomor soal agar
tidak sama antara tes pertama dengn tes kedua.

d. Instrumentation; mengacu pada perubahan-perubahan yang terjadi selama


pengukuran variabel terikat (dependent variabel). Variabel ini memang tidak
mengacu pada perubahan yang terjadi pada subjek, tetapi lebih melihat perubahan
yang terjadi sebelum proses pengukuran. Situasi pengukuran yang merupakan
instrumen dalam eksperimen dan biasanya menimbulkan terjadinya bias adalah
ditempatkannya seseorang untuk mengobservasi jalannya eksperimen. Kehadiran
observer ini mau tidak mau akan berpengaruh pada subjek.

Observer terkadang bias dalam menilai pengaruh yang dimunculkan akibat


pemberian treatment saat eksperimen. Subjektivitas observer sangat besar
kemungkinannya terjadi saat menilai subjek penelitian. Inilah sebabnya mengapa
studi dengan menggunakan observer manusia biasanya menggunakan lebih dari
satu observer. Dengan cara itu diharapkan bias yang muncul dapat diminimalisir
dengan saling mengecek ulang data-data yang sudah didapatkan.

e. Statistical regression; variabel yang menyebabkan terjadinya perubahan pada


skor tinggi dan skor rendah pada saat pre-test dan post-test yang diketahui dengan
distribusi dari skor ekstrem yang cenderung bergerak menuju nilai rata-rata sebagai
konsekuensi dilakukannya pengulangan tes (Neale, Liebert dalam Christensen,
1988). Fenomena regresi ini terjadi karena pengukuran saat pre-test dan post-test
tidak memiliki hubungan atau dengan kata lain, ada kondisi di mana seperangkat
pengukuran (alat tes yang digunakan) tidak reliabel.

f. Selection; terjadi jika serangkaian prosedur seleksi yang berbeda digunakan


untuk menempatkan subjek dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Seleksi bisa saja berhubungan dengan maturation, history atau instrumentation
yang semunya dapat mengakibatkan munculnya pengaruh yang terlihat seperti
akibat diberikannya treatment (perlakuan).

g. Mortality; keadaan dimana kehilangan subjek dalam jumlah tertentu dalam


proses eksperimen, baik yang menggunakan subjek manusia maupun hewan.
Misalnya, ada mahasiswa yang tidak masuk pada saat diberikan perlakuan.

2) Validitas Eksternal : Merupakan seberapa jauh hasil dari ekperimen tersebut


dapat digeneralisasikan pada populasinya atau populasi lain dengan subjek, waktu,
tempat, dan ekologi yang berbeda sehingga suatu eksperimen dapat dikatakan
valid.

I. Teknik Analisa Data


Data yang akan diperoleh dalam penelitian ini akan dihitung korelasinya
menggunakan teknik statistik Uji T (T Test) lebih spesifik lagi yaitu Paired-Samples T
Test.

Keterangan :

t = Nilai t hitung

D = Rata-rata selisih pengukuran 1 & 2

SD = Standar deviasi selisih pengukuran 1 & 2

N = Jumlah sample

Uji asumsi yang dilakukan sebelum analisa data dilakukan adalah uji linearitas
hubungan dan uji normalitas sebaran. Asumsi utama teknik komparasi paired t-test
adalah berdasarkan tidak adanya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen,
tetapi dengan melakukan pre-test dan post-test pada satu kelompok yang sama.

Keseluruhan proses analisis data ini menggunakan cara perhitungan manual.


Dengan melihat tabel t-test dengan taraf signifikan 5 % uji dua fihak (two tail test).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian eksperimental tentang pengaruh pemberian aromaterapi terhadap


penurunan tingkat stres pada mahasiswa yang mengikuti matakuliah statistik II
dilaksanankan di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, yaitu yang bertempat
dijalan Dharmawangsa Dalam nomor 6-8 Surabaya (Kompleks kampus B Universitas
Airlangga). Lokasi tersebut dipilih karena subjek penelitian adalah mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga sehingga lokasi tersebut sangat
memudahkan peneliti dalam melakukan kegiatan pemberian treatmen yang berupa
aromaterapi.

Pada saat pelakasanaan eksperimen ini, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga


memiliki satu buah gedung utama yang terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama terdiri
dari ruang dekan beserta pembantu dekan, ruang dosen, ruang kesekretariatan
magister psikologi, ruang kelas magister psikologi, kantor LP3T, dan ruang sidang.
Lantai II terdiri dari laboratorium psikologi, kantor tata usaha, Pusat Media
Pembelajaran Mahasiswa (PMPM), dan ruang penyimpanan berkas penting. Lantai III
terdiri dari 5 ruang kelas dan 2 ruang kelas (belum digunakan), aula, ruang absensi,
dan musholla. Sebagian besar ruang dalam gedung ini dilengkapi dengan fasilitas
AC dan diberi nama tokoh-tokoh psikologi. Pada tiap-tiap lantai terdapat fasilitas
kamar mandi perempuan dan laki-laki serta meja dan kursi yang terletak di lobby
yang biasanya digunakan untuk diskusi oleh mahasiswa. Gedung utama ini
didominasi warna hijau pada tiap lantai dan kombinasi warna seperti warna biru,
orange, dan ungu pada ruang kelas.

Peneliti menggunakan 1 ruang yang terdapat di Fakultas Psikologi Universitas


Airlangga yaitu ruang kelas 302 (Ruang Ivan P.Pavlov) di lantai III yang berukuran
±12x9 meter yang dilengkapi dengan fasilitas berupa 2 AC, 2 Kipas angin, white
board, Komputer, LCD, meja dan kursi dosen, dan ±60 buah kursi untuk mahasiswa.
Ruangan ini bercat putih namun dikombinasikan dengan warna biru pada bingkai
jendela dan gordennya. Ruangan ini cukup efektif untuk pemberian treatmen
aromaterapi dan cukup nyaman untuk mengerjakan pre-test dan post-test. Dengan
demikian, seluruh ruangan yang digunakan dalam kegiatan eksperimen cukup
mendukung proses pemberian treatmen aromaterapi.

B. Deskripsi Umum Subyek Penelitian

Keseluruhan subyek dalam penelitian ini berjumlah 41 orang yang berada dalam
satu kelas. Dari 41 orang tersebut, terdapat angkatan 2001 sebanyak 1 orang,
angkatan 2002 sebanyak 8 orang, angkatan 2003 sebanyak 12 orang, angkatan
2004 sebanyak 9 orang, dan angkatan 2005 sebanyak 11 orang. Pengambilan
subyek menggunakan purposive sampling dengan kriteria subjek yaitu laki-laki dan
perempuan baik yang mengulang maupun yang baru mengambil matakuliah
statistik II dari angkatan 2001-2005.

Namun, pada akhir eksperimen terdapat 11 orang yang tidak dapat mengikuti post-
test dikarenakan pada saat pengambilan data pre-test, 11 orang tersebut tidak
hadir pada perkuliahan mata kuliah statistik II. Sehingga 11 orang tersebut
dianggap gugur dan tidak diikutkan dalam post-test pertama dan post-test kedua.
Oleh karena itu skor pre-test dan post-test dari 30 subyek inilah yang akan
disertakan dalam analisis data.

C. Persiapan Penelitian

C.1. Studi lapangan, perumusan masalah, dan studi literatur

Eksperimen tentang aromaterapi yang dilakukan oleh peneliti, sempat menemukan


kendala yaitu kesulitan menemukan referensi yang membahas mengenai
aromaterapi, karena penelitian serupa di Indonesia masih sangat jarang. Oleh
karena itu, peneliti lebih banyak memasukkan teori aromaterapi dari jurnal asing
online. Selain itu, peneliti juga mengalami kendala dalam menemukan skala tingkat
stres untuk mahasiswa.

C.2. Penyusunan Instrumen

Dalam proses penelitian ini dibutuhkan beberapa instrumen yang akan digunakan
sebelum, selama, dan setelah pemberian treatmen. Oleh karena itu, sebelum
pelaksaan treatmen aromaterapi, peneliti mempersiapkan beberapa instrumen
tersebut.

1) Pengutipan skala tingkat stres

Dalam hal ini peneliti mendapatkan dan mengutip skala tingkat stres dari skripsi
yang ditulis oleh Atika Dian Ariana tahun 2005 yaitu skala ICSRLE (Inventory of
College Students Recent Experiences) yang mengukur tingkat stres yang
berdasarkan stresor khusus yang biasanya muncul pada mahasiswa dan Skala SST
(Symptom Stress Table) yang mengukur tingkat stres berdasarkan munculnya
gejala fisik dan psikologis

(http://faculty.weber.edu/molpin/healthclasses/1110/bookchapters/selfasse...).

Dimana ICSRLE terdiri dari 49 pernyataan mengenai suatu kejadian atau sikap yang
umumnya dialami oleh mahasiswa di negara-negara Amerika dan SST berupa skala
dalam bentuk tabel check list yang berisi 10 gejala fisik dan psikologis yang
umumnya muncul pada seorang remaja/dewasa yang mengalami stres. Dalam
skripsinya, Atika Dian Ariana telah menerjemahkan dan memperbaiki aitem dengan
menggunakan pendapat tiga rater untuk mendapatkan content validity. Hasil dari
penilaian dan evaluasi para rater terhadap skala tingkat stres yang disusun ulang
oleh penulis skripsi dari ICSRLE dan SST dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang
digunakan dalam penelitian tersebut cukup baik dan dapat digunakan untuk
mengukur tingkat stres pada subjek penelitian

2) Penyediaan instrumen aromaterapi

Peneliti memilih aroma yang digunakan dalam eksperimen berdasarkan referensi


yang didapat yang dikaitkan dengan stres. Dalam hal ini peneliti menggunakan
aroma Lemon dan Lavender dalam bentuk pengharum ruangan.

C.3. Persiapan administrasi

Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan persiapan administrasi berupa


permohonan ijin secara lisan untuk melakukan eksperimen pada saat
berlangsungnya perkuliahan kepada PJMK dan dosen pengajar mata kuliah statistik
II. Ruang kelas yang dipakai adalah ruang kelas 302 (Ruang Ivan P.Pavlov) di lantai
III.

C.4. Pelaksanaan penelitian

C.4.1. Pelaksanaan pretest

Proses pelaksanaan pre test dilaksanakan oleh seluruh subjek penelitian yaitu pada
hari rabu, tanggal 30 mei 2007, pukul 09.30-10.00. Sebelum peneliti membagikan
kuisioner, peneliti memberikan debriefing mengenai pelaksanaan treatmen yang
akan dilakukan.

C.4.2. Pelaksanaan treatment

Aromaterapi diberikan sebagai treatmen kepada kelompok eksperimen. Kegiatan ini


berlangsung selama 2 hari dengan 2 variasi tipe aroma. Treatmen dengan
menggunakan variasi pertama berupa aroma Lavender dilakukan pada tanggal 06
juni 2007, pukul 07.30-09.30. Sedangkan treatmen dengan menggunakan variasi
kedua berupa aroma Lemon dilakukan pada tanggal 20 Juni 2007, pukul 07.30-
09.30. Hal ini dilakukan peneliti untuk menghindari carry over effect dengan
memberikan jeda waktu dalam eksperimennya pada tanggal 13 juni 2007. Pada 2
hari tersebut peneliti datang pukul 07.00 di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga,
ruangan 302 (Ruang Ivan P.Pavlov), pukul 07.15 peneliti menyemprotkan aroma ke
seluruh ruangan sehingga pada pukul 07.30 ruang kelas sudah siap untuk menjadi
tempat eksperimen.

C.4.3. Pelaksanaan posttest

Proses pelaksanaan posttest dilaksanakan pada setiap akhir pemberian treatmen


yaitu pada tanggal 06 juni 2007, pukul 09.30-10.00. Dan pada tanggal 20 Juni 2007,
pukul 09.30-10.00

D. Hasil Penelitian

D.1. Melakukan skoring dan tabulasi hasil pretest

Pretest yang telah diisi oleh para subjek penelitian kemudian diskoring menurut
aturan yang telah ditentukan selanjutnya hasil penyekoran tersebut dimasukkan
dalam program Microsoft Excel untuk memudahkan langkah-langkah penghitungan
dan analisis data. Data pretest yang ada dalam Microsoft Excel tersebut selanjutnya
akan di hitung secara manual.
D.2. Melakukan skoring dan tabulasi hasil posttest

Seperti halnya dengan hasil pretest, posttest yang telah diisi oleh para subjek
penelitian kemudian diskoring menurut aturan yang telah ditentukan. Selanjutnya
hasil penyekoran tersebut dimasukkan dalam program Microsoft Excel untuk
memudahkan langkah-langkah penghitungan. Hasil rekapitulasi pretest dan
posttest inilah yang kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik t-Test untuk
mendapatkan hasil dan memperoleh kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.,
kemudian melihat nilai t dalam tabel two tail test dan mencocokkan nilai t hitung
dengan nilai t tabel dengan taraf signifikansi 5%

E. Validitas Internal dan Eksternal Penelitian

E.1. Validitas Internal eksperimen

a. History

Peristiwa-peristiwa yang terjadi diantara pre-test dan post-test tersebut dapat


berpengaruh pada post-test yang akan dilakukan selanjutnya. Dalam hal ini,
peristiwa-peristiwa itu dapat berupa pengalaman atau aktifitas yang dapat
mempengaruhi tingkat stres diluar treatmen yang diberikan. Hal tersebut
dikhwatirkan akan mempengaruhi hasil penelitian

b. Maturation

Selama pemberian treatmen subjek diperkenankan untuk keluar masuk ruangan,


memilih tempat duduk, dan tetap melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian,
diharapkan tidak banyak perubahan fisik dan psikologis yang mengganggu jalannya
treatmen dan mempengaruhi hasil penelitian.

c. Testing

Perubahan hasil pada pretest dan posttest bisa jadi dikarenakan subjek
mengerjakan skala yang sama dan mengakibatkan carry over effect. Untuk
meminimalisir hal ini, peneliti mengacak susunan-susunan aitem dalam masing-
masing skala yang disajikan sebagai pretest dan posttest.

d. Instrumentation

Observer terkadang bias dalam menilai pengaruh yang dimunculkan akibat


pemberian treatment saat eksperimen. Subjektivitas observer sangat besar
kemungkinannya terjadi saat menilai subjek penelitian. Inilah sebabnya mengapa
studi dengan menggunakan observer manusia biasanya menggunakan lebih dari
satu observer.
e. Statistical regression; variabel yang menyebabkan terjadinya perubahan pada
skor tinggi dan skor rendah pada saat pre-test dan post-test yang diketahui dengan
distribusi dari skor ekstrem yang cenderung bergerak menuju nilai rata-rata sebagai
konsekuensi dilakukannya pengulangan tes (Neale, Liebert dalam Christensen,
1988). Fenomena regresi ini terjadi karena pengukuran saat pre-test dan post-test
tidak memiliki hubungan atau dengan kata lain, ada kondisi di mana seperangkat
pengukuran (alat tes yang digunakan) tidak reliabel.

f. Selection; terjadi jika serangkaian prosedur seleksi yang berbeda digunakan


untuk menempatkan subjek dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Seleksi bisa saja berhubungan dengan maturation, history atau instrumentation
yang semunya dapat mengakibatkan munculnya pengaruh yang terlihat seperti
akibat diberikannya treatment (perlakuan).

g. Mortality; keadaan dimana kehilangan subjek dalam jumlah tertentu dalam


proses eksperimen, baik yang menggunakan subjek manusia maupun hewan.
Misalnya, ada mahasiswa yang tidak masuk pada saat diberikan perlakuan.

E.2. Validitas Ekstenal Penelitian

Masih memungkinkan untuk dilakukannya generalisasi apabila populasi memiliki


karakteristik yang sama dengan subyek pada eksperimen kami yaitu mahasiswa
yang mengikuti matakuliah Statistik II. Selain itu, alat ukur yang kami gunakan telah
cukup dinilai reliabel untuk digunakan mengukur tingkat stres pada mahasiswa baru
yang mengikuti mata kuliah Statistik II.

F. Hasil pengujian dan hipotesis

Dari eksperimen yang telah dilakukan dapat dilihat perubahan hasil dari pretest dan
posttest. Analisis data dengan menggunakan teknik t-test dihitung secara manual
dengan menggunakan rumus :

t = -1,97

( 24,69 / ?30 )

t = -1,97

( 24,69 / 5,48 )

t = - 0,93
Dengan derajad kebebasan n-1 = 29. Pada taraf signifikansi 5 % didapatkan nilai t
tabel 2,045. Maka terlihat bahwa nilai t yang kita peroleh yaitu 0,93 lebih kecil dari
nilai t tabel ( t hitung < t tabel ). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tidak
terdapat pengaruh pemberian aromaterapi (beraroma lavender dan lemon)
terhadap tingkat stres mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang
mengikuti matakuliah statistik II

G. Pembahasan

Pembahasan dari hasil eksperimen ini ditekankan pada penarikan kesimpulan yaitu
bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pemberian Aromaterapi
(beraroma lavender dan lemon) tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat stres
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang mengikuti matakuliah
Statistik II. Tidak semua subjek mengalami penurunan stres, dari hasil treatmen
dikarenakan penurunan tingkat stres yang tidak merata mungkin disebabkan oleh
respon mereka yang berbeda terhadap wewangian yang diberikan.

BAB V

Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan

Berdasarkan pelaksanaan eksperimen ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa


tidak ada pengaruh Aromaterapi (beraroma lavender dan lemon) terhadap tingkat
stres mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang mengikuti
matakuliah Statistik II.

B. Saran

Berdasarkan pengalaman dalam memberikan treatmen aromaterapi (beraroma


lavender dan lemon) terhadap tingkat stres, maka peneliti dapat memberikan
beberapa masukan kepada peneliti dan praktisi treatmen aromaterapi berikutnya
antara lain :

Pada kenyataannya wewangian aromaterapi yang diberikan dalam penelitian ini


kurang dapat bertahan lama di dalam ruangan eksperimen sehingga peneliti
selanjutnya sebaiknya lebih memperhitungkan luas ruangan dalam memberikan
wewangian aromaterapi agar wewangian tersebut dapat bertahan lebih lama.
DAFTAR PUSTAKA

(http://www.mitsuilease.co.id)

(http://lepuspacastle.blogspot.com/2007/01/leha-leha-dan-aromaterapi.html)

(www.hanyawanita.com).

Hadi MSi, DR.Cholicul, Bahan Ajar Matakuliah Psikologi Eksperimen Program SP4,
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Dian Ariana, Atika, Efektifitas Terapi Humor (humor therapy)Tterhadap Penurunan


Tingkat Stress Pada Mahasiswa Baru Fakultas psikologi Universitas Airlangga
surabaya, 2005, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Wulandari, Niken, Pengaruh Tteknik Meditasi-Relaksasi dengan Story Telling (MRST)


terhadap Penurunan Tingkat Stres pada Anak Usia Sekolah yang Memperoleh
Pengayaan dikelas 3 SD fullday Darut Taqwa Surabaya, 2003, Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga

Winarsunu, Tulus, Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan, 2002,


Universitas Muhammadiyah Malang.

Prof. Dr. Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, 2006, CV Alfabeta, Bandung

Tim penyusun kurikulum program strata satu sarjana psikologi Universitas


Airlangga, Buku pedoman pendidikan psikologi, Fakultas psikologi universitas
Airlangga