Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

REKAYASA LINGKUNGAN BANGUNAN PERTANIAN


ACARA IA
PENGUJIAN SEMEN PORTLAND


Disusun oleh:
Nama : Abror Insany Alatqo
NIM : 12/333211/TP/10469
Golongan : Rabu
Asisten : 1. Ahmad Denim
2. Nofita Kurnia Dewi



LABORATORIUM TEKNIK LINGKUNGAN DAN BANGUNAN
PERTANIAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. Latar Belakang
Iklim dalam kegiatan pertanian sangat berpengaruh terhadap kualitas dari
produk pertanian yang dihasilkan. Tidak kalah penting dari pemeliharaan tanaman,
tahap pasca panen juga wajib mendapatkan perlakuan yang layak dengan
memodifikasi unsur-unsur iklim mikro sekitar tujuannya adalah agar bahan
pertanian tersebut mempunyai umur simpan yang lama serta tidak mudah dirusak
oleh jamur dan mikroorganisme lainnya. Bangunan, dalam hal ini sering juga
disebut gudang penyimpanan, haruslah memenuhi syarat syarat tertentu agar
bahan pertanian yang disimpan di dalamnya mampu bertahan lama.
Di daerah dengan kelembaban tinggi seperti di Indonesia, diperlukan
penempatan khusus produk pertanian ini di suatu ruangan/bangunan pertanian
tertentu sehingga faktor-faktor seperti kelembaban dapat kita kendalikan sekalius
mengisolasi produk dari iklim luar. Untuk itulah diperlukan pengetahuan
yanglebih bagaimana membangun suatu bangunan pertanian yang baik dan layak.
Kualitas dari suatu bangunan dapat ditinjau dari kualitas semen. Maka pada
praktikum kali ini, kita akan mencoba menguji dan memberikan penilaian
terhadap kualitas semen mengingat semen merupakan salah satu bahan dasar yang
sangat penting dan esensial dalam membangun suatu bangunan.

B. Manfaat dan Tujuan
Manfaat
Praktikan dapat mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam pengujian
dan penilaian semen portland secara cepat sehingga dapat diterapkan untuk
pemilihan bahan pada rekayasa lingkungan maupun bangunan pertanian.
Tujuan
Untuk mengetahui cara cara pengujian dan penilaian semen portland
secara tepat.

C. Tinjauan Pustaka
Semen merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan
gedung baik sederhana maupun bertingkat. Semen dapat digolongkan sebagai
perekat non organik dan biasa digunakan bersama-sama dengan pasir, bahan-
bahan berupa fiber untuk membuat beton. Produk tersebut digunakan bukan hanya
sebagai perekat dalam pekerjaan konstruksi secara langsung tetapi pula untuk
membuat material-material yang akan digunakan sebagai komponen dalam
pekerjaan konstruksi seperti bata berlubang (Kawigraha, 2011).
Kualitas semen didasarkan pada ukuran partikel dan distribusi partikelnya.
Hal ini memiliki pengaruh besar dalam adonan semen, karena melibatkan reaksi
anatar permukaan partikel semen dengan air. Dari berbagai metode untuk
mengukur luas partikel, yang paling umum digunakan dalam karakteristik
pengendapan partikel adalah, medium viskositas dan permeability dari unggunan
partikel semen ke udara (Lea, 1970).
Semen merupakan salah satu bahan perekat yang jika dicampur dengan air
mampu mengikat bahan-bahan padat seperti pasir dan batu menjadi suatu
kesatuan kompak. Sifat pengikatan semen ditentukan oleh susunan kimia yang
dikandungnya. Adapun bahan utama yang dikandung semen adalah kapur (CaO),
silikat (SiO
2
), alumunia (Al
2
O
3
), ferro oksida (Fe
2
O
3
), magnesit (MgO), serta
oksida lain dalam jumlah kecil (Lea and Desch, 1940).
Semen portland sendiri didefinisikan sebagai campuran antara batu
kapur/gamping (bahan utama) dan lempung / tanah liat atau bahan pengganti
lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk, tanpa memandang
proses pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan
air (Jack Widjajakusuma, 2004).
Semen portland dibuat dari bahan yang mengandung kapur (lime), silica,
dan alumina serta oksida besi dengan perbandingan tertentu. Ketiga bahan dasar
ini dicampur dan dibakar pada suhu 2700
o
Fahrenheit sehingga terbentuk klinker,
kemudian klinker dihaluskan (digiling) sambil ditambahkan gypsum kurang lebih
5% untuk mengatur waktu ikatnya, hasil penggilingan ini sangat halus sehingga
hampir seluruh partikel semen tersebut lolos ayakan dengan jumlah lubang 40.000
per in
2
(Mesh 200). Kadang-kadang ditambahkan juga bahan-bahan lain untuk
membentuk sifat-sifat khusus, misalnya : calcium chlorida (Ca Cl
2
) untuk
menjadikan semen yang cepat mengeras (Nursigit, 2000).
Fungsi dari semen portland adalah untuk merekatkan butir-butir agregat agar
terjadi suatu massa yang kompak dan padat, selain juga untuk mengisi rongga-
rongga di antara butiran agregat (Tjokrodimuljo, 1996).
Pemakaian semen Portland pada bahan bangunan sebagai bahan pengikat
hidrolis karena sifat-sifat yang lebih baik dan angka kepadatannya tinggi yaitu
bila dicampur dengan air maka akan terjadi proses pengerasan. Suatu campuran
komposisi kerikil, pasir dan semen Portland dengan perbandingan 3:2:1 akan
membentuk suatu adonan beton yang banyak digunakan untuk konstruksi
bangunan. Selain sebagai perekat, semen Portland juga berfungsi sebagai isolator
dan bahan pengawet, serta dapat mengurangi sifat mudah terbakar. (Anonim,
2009)
Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen Portland
berkolaborasi dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain),
misalnya, memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi
sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok yang kokoh. Namun
untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah
dengan bongkahan batu atau kerikil, biasa disebut concrete atau beton (Jack
Widjajakusuma, 2004).
Jenis semen yang biasa digunakan di pasaran adalah semen jenis I. Semen
jenis ini mempunyai perkembangan kekuatan yang relatif cepat dan konstan.
Semen jenis III mempunyai perkembangan kekuatan sangat cepat, tetapi setelah
berumur tiga bulan perkembangan tersebut menurun drastis. Semen jenis II dan
IV mempunyai perkembangan kekuatan yang lebih lambat daripada semen jenis I,
tetapi dalam jangka waktu lama dihasilkan kekuatan yang lebih tinggi sehingga
sering digunakan pada daerah yang memerlukan konstruksi khusus. Semen jenis
IV mempunyai perkembangan kekuatan sangat lamban (Lea, 1970).

D. Data Hasil Pengamatan
1. Pengujian kehalusan dengan pengayakan
Berat awal = 100 gram

Lubang Mesh
(mm)
1 Kali 2 Kali 3 Kali Rata rata
120 200 120 200 120 200 120 200
Sampel A (gr) 11.5 1.9 79.6 4.9 54.5 1.1 48.53 2.63
Sampel B (gr) 9.5 1.3 7.7 1.3 22.9 1.4 13.37 1.33

2. Pengujian berat volume padat dan gembur
Berat literan kosong A : 229 gram
Berat literan kosong B : 229 gram
Jenis Semen Ulangan
Semen
Padat (gr)
Semen
gembur
(gr)
Semen
padat -
literan
kosong
(gr)
Semen
gembur
literan
kosong (gr)
Semen A
1 1603 1223 1374 994
2 1643.6 1219.5 1414.6 990.5
3 1700.2 1224.3 1471.2 995.3
Semen B
1 1537.4 1104.5 1308.4 875.5
2 1544.6 1107.8 1315.6 878.8
3 1525 1090.6 1296 861.6


3. Pengujian konsistensi normal
Berat semen A dan B masing-masing = 300 gram
Lama Penetrasi = 30 detik
Sampel Volume air (ml) Penetrasi (mm)
1 2 3 rerata 1 2 3 Rerata
Semen A 80 82 84 82 0,4 0,8 0,6 0,6
Semen B 99 100 101 100 0,5 0,9 0,8 0,73

4. Pengujian pengikatan awal
Berat semen A dan B masing-masing = 300 gram
Semen A dengan Air = 70 gr
Semen B dengan Air = 80 gr

Semen A Semen A
Waktu
(menit)
Kedalaman penetrasi
(mm)
Waktu
(menit)
Kedalaman penetrasi
(mm)
1 2 Rerata 1 2 Rerata
15 23 - 23 15 38 - 38
30 21 - 21 30 33 - 33
45 - - - 45 25 - 25

5. Pengujian pengikatan semu
Jenis
Sampel
Volume
Air (ml)
Massa (gr) Penetrasi
awal (mm)
Penetrasi
akhir
(mm)
Prosentase
penetrasi
Sampel A 93 300 37 12 32,43%
Sampel B 120 300 32 18 56,25%

6. Pengujian kekekalan bentuk
Diameter awal : Tebal awal :
Semen A = 11,84 cm Tebal A = 2, 41 cm
Semen B = 11,74 cm Tebal B = 2,23 cm
Sebelum dikukus 2 jam
Jenis
Sampel
Diameter (cm) Tebal (cm)
Ciri - Ciri
1 2 3 rerata 1 2 3 rerata
Semen
A
11.75 11.94 11.83 11.84 2.5 2.36 2.37 2.41 Tidak retak
Semen
B
11.78 11.73 11.72 11.74 2.26 2.24 2.20 2.23
Tidak retak,
ada lubang

Sesudah dikukus 2 jam
Jenis
Sampel
Diameter (cm) Tebal (cm)
Ciri - Ciri
1 2 3 rerata 1 2 3 rerata
Semen
A
11.54 11.74 11.8 11.69 2.36 2.31 2.33 2.33 Tidak retak
Semen
B
11.88 12.2 11.84 11.97 2.32 2.37 2.23 2.31
Tidak retak,
ada lubang

E. Analisa Data
1. Pengujian kehalusan dengan pengayakan
sisa jumlah prosentase = x
awal berat
sisa
% 100

Lubang Mesh 200
a) Semen A
Berat awal semen = 100 gr
Berat sisa rata-rata = 2,63 gr
Persentase jumlah sisa = % 100
100
63 , 2
x

= 2,63 %
b) Semen B
Berat awal semen = 100 gr
Berat sisa rata-rata = 1,33 gr
Persentase jumlah sisa = % 100
100
33 , 1
x

= 1,33 %
Lubang Mesh 120
a) Semen A
Berat awal semen = 100 gr
Berat sisa rata-rata = 48,5 gr
Persentase jumlah sisa = % 100
100
5 , 48
x

= 48,5 %
b) Semen B
Berat awal semen = 100 gr
Berat sisa rata-rata = 13,37 gr
Persentase jumlah sisa = % 100
100
37 , 13
x

= 13,37%
2. Pengujian berat volume padat
padat liter berat1 = literan berat literan semen berat
gembur liter berat1 = literan berat literan semen berat

Pengulangan 1
a) Semen A padat
Berat literan kosong = 229 gr
Berat semen padat = 1603 gr
Berat 1 liter = (berat semen padat berat literan kosong)

= 1603 229
= 1374 gr
b) Semen A gembur
Berat semen gembur = 1223 gr
Berat 1 liter = 1223 229

= 994 gr
Pengulangan 1
c) Semen B padat
Berat literan kosong = 229 gr
Berat semen padat = 1537,4 gr
Berat 1 liter = (berat semen padat berat literan kosong)

= 1537,4 229
= 1308,4 gr
d) Semen A gembur
Berat semen gembur = 1104,5 gr
Berat 1 liter = 1104,5 229

= 875,5 gr
3. Pengujian konsistensi normal
air massa = x V gram

Massa air semen A = 1 gr/ml 82 ml = 82 gr
Massa air semen B = 1 gr/ml 100 ml = 100 gr
air massa prosentase = % 100 x
semen berat
air berat

Prosentase massa air semen A = % 100
300
82
x

= 27,3 %
Prosentase massa air semen B = % 100
300
100
x

= 33,3 %
4. Pengujian pengikatan semu
akhir penetrasi prosentase = % 100
awal penetrasi
akhir penetrasi

Persentase pengikatan akhir semen A = % 100
37
12

= 32,43 %
Persentase pengikatan akhir semen A = % 100
32
18

= 56,25 %
5. Pengujian kekekalan bentuk
otoklaf pemuaian = % 100 x
d
d d
a
a b


a
d = diameter awal

b
d = diameter akhir

Pemuaian oktolaf semen A = % 100
84 . 11
84 . 11 69 . 11
x


= -1,27%
Pemuaian oktolaf semen B = % 100
74 . 11
74 . 11 97 . 11
x


= 1,95%

F. Pembahasan
Praktikum Rekayasa Lingkungan Bangunan Pertanian acara 1A dengan
judul Pengujian Semen Portland memiliki tujuan mengetahui cara-cara pengujian
dan penilaian semen Portland secara cepat. Secara cepat maksudnya dapat
mengenali, mengidentifikasi, menilai dan memutuskan bahan atau semen yang
baik dalam waktu singkat dengan alat sederhana. Pengujian pada praktikum ini
didasari pada beberapa aspek, yaitu uji kehalusan dengan pengayakan secara
manual dan secara otomatis, uji berat volume padat, uji konsistensi normal, uji
pengikatan awal, uji pengikatan semu, dan uji kekekalan bentuk dari dua macam
semen yaitu semen A dan semen B yang belum diketahui tingkat kualitasnya.
Semen berkualitas baik yaitu semen yang memiliki kehalusan tinggi, berat volum
tinggi, konsistensinya rendah , pengikatan awal optimum (standar), pengikatan
semu tinggi serta memiliki kekelan bentuk yang tinggi atau persentase otoklaf
rendah.
Keenam aspek pengujian diatas, dilakukan secara bertahap yang diawali
dengan pengujian kehalusan dengan pengayakan, semen baik yaitu semen yang
memiliki tingkat kehalusan tinggi. Pengujian kehalusan dengan pengayakan ini
digunakan ayakan tyler. Hasil percobaan didapat, diperoleh sisa dari semen A
2,63% dan sisa dari semen B sebanyak 1,33%. Hasil terlihat bahwa sisa semen A
lebih sedikit dibanding semen B yang menandakan semen A lebih halus atau
dapat dikatakan semen A akan memilki kerapatan yang tinggi karena terdiri dari
butiran-butiran yang lebih halus. Dari pengujian kehalusan, semen A lebih baik
daripada semen B.
Selain pengujian kehalusan, pengujian berat volume padat dan gembur juga
dilakukan. pengujian berat volume ini dilakukan dengan prinsip pengukuran berat
semen berbeda pada volume yang sama. Dari hasil pengamatan dan perhitungan
diperoleh berat volume padat semen A seberat 1374 gram dan berat volume
gembur seberat 994 gram sedangkan berat volume padat semen B seberat 1308,4
gram dan berat volume gembur seberat 875,5 gram, dari hasil tersebut terlihat
bahwa berat volume semen A lebih tinggi dibanding semen B sehingga semen A
dapat dikatakan lebih berkualitas baik dibanding semen B.
Ada juga pengujian konsistensi normal, pengujian ini dilakukan untuk
menentukan kualitas semen dari segi konsistensinya, dimana nilai konsistensi
diperoleh dari perbandingan massa air dengan massa semen dikali 100%. Massa
air yang tepat yaitu massa air yang digunakan untuk dicampurkan dengan semen
dan ketika diuji dengan alat vicat berdiameter 10 mm akan menunjukan
kedalaman penetrasi jarum sedalam 10 1 mm. Hasil pengujian dan perhitungan
diperoleh persentase air semen A untuk memperoleh penetrasi tepat sebanyak
27,3% dan persentase air semen B untuk memperoleh penetrasi tepat sebanyak
33,33%, dari nilai tersebut persentase air semen A lebih kecil daripada semen B,
sehingga dapat disimpulkan semen A lebih baik daripada semen B karena semen
dikatakan lebih baik jika persentase air semen lebih kecil karena semen dapat
bekerja sesuai standar dengan kebutuhan air lebih sedikit.
Pengujian selanjutnya yaitu pengujian pengikatan awal, pengujian ini
dilakukan dengan menggunakan pencampuran air sebanyak kebutuhan air pada
pengujian konsistensi sebelumnya, sehingga diperoleh campuran air dan semen
yang tepat dan akan diuji dengan alat vicat tiap 15 menit selama 60 menit. 60
menit merupakan waktu awal atau waktu yang dibutukan semen mulai mengeras
yang kalau diukur dengan alat vicat mencapai kedalaman penetrasi kurang dari 25
mm. Pada pengujian ini semen yang baik yaitu semen yang memiliki kedalaman
penetrasi kurang dari 25 mm selama 18 jam, apabila lebih dari 8 jam dan semen
masih pada kedalaman penetrasi lebih dari 25 mm semen dikatakan buruk karena
terlalu lama mengeras, sedangkan apabila semen mencapai kedalaman penetrasi
kurang dari 25 mm sebelum 60 menit, semen juga dikatakan buruk karena terlalu
cepat mengeras.
Pengujian pengikatan semu merupakan salah satu pengujian semen portland
selain pengujian diatas. Pengujian pengikatan semu akan diperoleh kesimpulan
semen yang lebih baik apabila persentase pengikatan akhir lebih besar dari 50%
atau memiliki nilai minimum 50 % seperti tabel syarat-syarat semen portland.
Hasil pengujian tercatat nilai persentase pengikatan akhir semen A sebesar
32,43% dan nilai persentase pengikatan akhir semen B sebesar 56,25 %, dari nilai
tersebut terlihat nilai pengikatan akhir semen B lebih besar sehingga dapat
disimpulkan semen B lebih baik dari semen A.
Kemudian pada uji kekekalan bentuk, dilakukan dengan pengukusan selama
kurang lebih 2 jam. Tujuan dari uji ini adalah untuk mengukur tingkat kestabilan
adonan semen. Dari pengukusan ini kita bisa melihat bagaimana kualitas suatu
semen, apakah melalui proses ini suatu semen dapat mempertahankan bentuk,
ukuran, maupun teksturnya atau tidak. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa
setelah proses pengukusan terjadi beberapa perubahan pada kedua jenis semen.
Baik itu perubahan dari segi bentuk, kekerasan maupun fisik. Dari segi bentuk
dapat dilihat bahwa diameter dan ketebalan pada adonan semen A dan B
mengalami perubahan.
Semen portland adalah suatu bahan konstruksi yang paling banyak dipakai
serta merupakan jenis semen hidrolik yang terpenting. Penggunaannya antara lain
meliputi beton, adukan, plesteran,bahan penambal, adukan encer (grout) dan
sebagainya.Semen portland dipergunakan dalam semua jenis beton struktural
seperti tembok, lantai, jembatan, terowongan dan sebagainya, yang diperkuat
dengan tulangan atau tanpa tulangan. Selanjutnya semen portland itu digunakan
dalam segala macam adukan seperti fundasi,telapak, dam,tembok penahan,
perkerasan jalan dan sebagainya. Apabila semen portland dicampur dengan pasir
atau kapur, dihasilkan adukan yang dipakai untuk pasangan bata atau batu,atau
sebagai bahan plesteran untuk permukaan tembok sebelah luar maupun sebelah
dalam.
Semen merupakan bahan bangunan yang digunakan untuk merekat, melapis,
dan membuat beton. Semen yang terbaik saat ini adalah semen Portland yang
ditemukan tahun 1824 oleh Joseph Aspdin. Semen yang baik secara fisik/kasat
mata, tidak menggumpal. Semen yang telah lama disimpan bisa membentuk
lumps yang akan hancur jika diremas dan lama-kelamaan mengeras (grit).
Penyimpanan semen yang baik adalah di tempat penyimpanan yang jauh dari
kelembaban dan (kantong) tidak dapat ditembus (uap) air.


G. Kesimpulan
1. Pengujian semen portland dilakukan dengan enam cara, yaitu pengujian
kehalusan dengan pegayakan, pengujian berat volume padat dan gembur
pengujian konsistensi normal, pengujian pengikatan awal, pengujian
pengikatan semu, dan pengujian kekekalan bentuk
2. Semakin halus tekstur semen ikatan antar molekulnya semakin baik,
sehingga kerapatan yang didapat juga akan lebih besar,
3. Semakin besar kerapatan yang didapat dari adonan semen, maka semakin
kuat pula beton yang menyangga bangunan, begitu juga sebaliknya
4. Angka penetrasi menunjukkan tingkat kekerasan suatu semen. Semakin
kecil angka penetrasi maka semakin besar tingkat kekerasan semen, begitu
juga sebaliknya
5. Hasil pengujian semen portland menunjukan bahwa kualitas semen A
lebih baik dari pada semen B.

H. Daftar Pustaka
Anonim. 2009 .Semen. Dalam http://www.beacukai.go.id/library/data
/Semen.htm Diakses 1 April 2014 pukul 20.15
Bintoro, Nursigit .2000. Pengantar Praktikum Dasar-Dasar Bangunan
Pertanian . Jurusan Teknik Pertanian, FTP UGM . Yogyakarta.
Jack Widjajakusuma. 2004. Beton. Universitas Gunadarma.
Lea, FM and Desch, CH . 1940 . the Chemistry of Cement and Concrete .
Edward Arnold and Co . London .
Lea, F.M.1970. The Chemistry of Cement and Concrete. 3rd edition. London :
Edward Arnold
Tjokrodimuljo, K . 1996 . Teknologi Beton . Jurusan Teknik Sipil, FT UGM .
Jogjakarta .
Kawigraha, Adji Sri. 2011. Pemanfaatan Batu Polozanik. Dalam:
http://www.iptek.net. Diakses pada 1 April 2014 pukul 20.30










LAMPIRAN