Anda di halaman 1dari 2

5/12/2014 Kasus Tolak Tebus Obat Tak Berulang - Kedaulatan Rakyat Online

http://krjogja.com/read/176411/kasus-tolak-tebus-obat-tak-berulang.kr 1/2

Senin , 12 Mei 2014 | 22:56:31 WIB
Yogyakarta Cerah Berawan 23-33
o
C

Cari Berita
Indeks Berita | Citizen Journalism | Internasional | Kriminal | Pemilu 2014 | Suara Pembaca | Opini
Tweet
1
3
Suka
SOLO (KRjogja.com) - Kasus penolakan tebus obat pasien pemegang kartu
Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS), di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Ngipang, dipastikan tak terulang lagi, menyusul persediaan
obat formularium mencukupi kebutuhan hingga satu tahun ke depan.
Pengadaan obat sudah beres, setelah tertunda-tunda hingga beberapa bulan,
jelas Direktur RSUD Ngipang, Sumartono, itupun dilakukan lewat mekanisme
penunjukkan.
STOCK OBAT RSUD NGIPANG MENCUKUPI
Kasus Tolak Tebus Obat Tak Berulang
Danar Widiyanto | Kamis, 13 Juni 2013 | 20:30 WIB | Dibaca: 397 | Komentar: 0
Ilustrasi (Foto: Doc)
BERITA TERKAIT
Solo Buka Layanan Lumpur Tinja
TSTJ Ancang-ancang Gaet Investor
Lelang Proyek Sampah Jadi Listrik Gagal
DPP Lengkapi Ruang Kesehatan
22:42
22:35
22:20
22:10
22:02
21:52
21:45
21:30
21:20
21:18
SMA 9 Tak Ingin Tersisih
Undip Buka Formasi 25 Pegawai
Tidak Tetap
Diduga Cabuli Bocah, Han Hampir
Jadi 'Bancakan' Warga
41 Balita di Purworejo Derita Gizi
Buruk
Pos Lalu Lintas Tugu Kartasuro
Diteror Bom
Tiga Parpol Tak Raih Kursi Dewan
Kerjasama Wisata Purworejo Belum
Membuahkan Hasil
PBB dan PKPI Gagal Tempatkan
Caleg di DPRD Kebumen
Tujuh Siswa SMP Dipastikan Gugur
Tampilkan Hasil Karya Dosen-
Mahasiswa
Indeks Berita..
Terkini Terpopuler
Solo
LOKAL NASIONAL PENDIDIKAN EKONOMI OLAHRAGA TEKNOLOGI WISATA GAYA HIDUP REMAJA
5/12/2014 Kasus Tolak Tebus Obat Tak Berulang - Kedaulatan Rakyat Online
http://krjogja.com/read/176411/kasus-tolak-tebus-obat-tak-berulang.kr 2/2
Kedaulatan Rakyat Group
2014 Kedaulatan Rakyat Yogyakarta | Mobile Site | Download | Tentang | Redaksi
1
Menjawab wartawan di kantornyan Kamis (13/06/2013), Sumartono mengakui,
persediaan obat di RSUD sangat menipis, sementara permintaan cukup tinggi.
Sedangkan pengadaan obat tak bisa dilakukan sesegera mungkin, karena
terkendala birokrasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang kaku.
Lelang pengadaan obat senilai Rp 1,5 sebenarnya sudah dilakukan beberapa
bulan lalu, namun ternyata tak diminati swasta, hingga tak diperoleh pemenang
lelang.
Karenanya harus dilakukan lelang ulang, ujarnya, dan ternyata juga tidak
diminati, padahal persediaan obat kian menipis, bahkan beberapa jenis obat
tertentu telah kosong. Setelah dua kali lelang gagal, menurut Sumartono,
pengadaan obat dilakukan dengan penunjukkan. "Jadi, penolakan tebus obat
pasien PKMS itu murni karena kehabisan stock, dan itu tak bakal terjadi lagi
hingga satu tahun ke depan," ungkapnya.
Saat ini, berbagai jenis obat generik sudah tersedia dalam jumlah mencukupi,
diantaranya reagent, obat-obatan penyakit kronis, serta berbagai jenis obat
pendukung. Kasus penolakan tebus obat seperti itu, menurut Sumartono
sebenarnya tidak perlu terjadi, jika mekanisme pengadaan barang dan jasa tak
terlalu kaku. Minimal ada toleransi pengadaan obat, sebab menyangkut
keselamatan nyawa pasien.
Jika nanti RSUD Ngipang telah berstatus Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD), tambahnya, mekanisme pengadaan obat maupun pembinaan Sumber
Daya Manusia (SDM) lebih fleksibel. Dalam hal pengadaan obat misalnya, bisa
dilakukan setiap saat sesuai kebutuhan, tanpa harus menunggu pencairan
anggaran dari pemerintah seperti sekarang ini. Demikian halnya pengadaan
kebutuhan tenaga medis dapat dilakukan secara mandiri.
Sementara pembentukan BLUD RSUD Ngipang, saat ini sudah memasuki fase
akhir. Landasan hukum pembentukan, jelas Sekretaris Daerah (Sekda), Budi
Suharto, terpisah, akan dipenuhi melalui Surat Keputusan (SK) Walikota.
Pembentukan BLUD pada unit layanan kesehatan mutlak diperlukan, ujarnya
agar tak menghambat perkembangan rumah sakit itu sendiri. (Hut)
Share
Facebook social plugin
Add a comment...
Comment using...