Anda di halaman 1dari 22

Di susun oleh :

-Happy Cindy
-Nawar
-Norma
-Rilo
-Sumi
-Tangkas
Pendahuluan
Pengertian
Lingkungan
Jenis dan Macam-
macam Limbah
Limbah B3
Sumbernya
Sifat-sifat
Tujuan
pengelolaan
Tahapan
identifikasi
Persyaratan
Pengelolaan
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang
ada di sekitar manusia yang memengaruhi
perkembangan kehidupan manusia baik langsung
maupun tidak langsung.


1.Limbah Padat
Limbah padat adalah sisa hasil kegiatan industri ataupun
aktivitas domestik yang berbentuk padat.
2. Limbah Cair
Limbah cair adalah sisa hasil buangan proses produksi atau
aktivitas domestik yang berupa cairan.
3. Limbah Gas
Limbah gas adalah udara yang mengandung partikulat (zat
limbah) yang bisa berupa asap / jelaga, hidrokarbon, sulfur
dioksida, nitrogen dioksida, timah, serta karbon monoksida.
Udara merupakan satu-satunya media pencemar dari limbah gas
ini.


Jenis-jenis Limbah

1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian
besar adalah berupa proses pengolahan secara
fisika.

Penyaringan
Pengolahan
awal
Pengendapan
Pengapungan Penyaringan
Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah
setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses
produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability,
reactivity, dan corrosivity) Semua jenis limbah,
baik limbah gas, limbah cair, maupun limbah padat bisa
masuk ke dalam golongan limbah B3 ini karena pada
dasarnya sebuah limbah dikategorikan sebagai limbah
B3. Serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat merusak,
mencemari lingkungan, atau membahayakan kesehatan
manusia.

Pengertian Limbah B3
Mudah meledak (explosive)
Limbah mudah meledak dapat didefinisikan sebagai :
Limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan
gas dengan cepat, suhu dan tekanan yang tinggi dan
mampu merusak lingkungan sekitarnya.
Contoh:
a)Limbah dari pabrik yang menghasilkan bahan
eksplosif.
b Limbah kimia khusus dari laboratorium seperti asam
prikat
Sifat-sifat Limbah B3
Mudah terbakar (flammable)
Limbah mudah menyala/terbakar ini didefinisikan sebagai:
Limbah yang apabila didekatkan dengan api, percikan api,
gesekan atau sumber nyala lain akan mudah
menyala/terbakar dan apabila telah menyala akan terus
terbakar hebat dalam waktu yang lama.
Contoh umum dari limbah ini adalah :
Pelarut seperti benzena, toluena atau aseton.

Menimbulkan korosi (korosif )
Limbah yang menimbulkan korosi/ karat didefinisikan
sebagai: limbah yang dalam kondisi asam atau basa
(ph < 2 atau ph > 12.5) dapat menyebabkan nekrosis
(terbakar) pada kulit atau dapat megkaratkan
(mengkorosikan) baja.

Contoh :
a) Sisa-sisa asam/cuka dan asam sulfat
b) Limbah pembersih yang bersifat basa (alkaline),
c) Limbah asam dari baterai.
Pengoksidasi (oxidizers)
Limbah ini berbayaha karena dapat menghasilkan oksigen
sehingga dapat menyebabkan kebakaran.

Limbah pengoksidasi didefinisikan sebagai :
a)Limbah yang menyebabkan / menimbulkan kebakaran
karena melepaskan oksigen.
b)Limbah peroksida (organik) yang tidak stabil dalam
keadaan suhu tinggi.

Contoh: Zat-zat kimia tertentu yang digunakan di
laboratorium seperti Magnesium, Perklorat, dan Metil Etil
Keton Peroksida.

Menimbulkan penyakit (infections)
Limbah ini didefinisikan sebagai : Bagian tubuh manusia,
cairan dari tubuh orang yang terkena infeksi dan limbah
dari laboratorium yang terinfeksi kuman penyakit yang
dapat menular.

Contoh limbah jenis ini :
a)Bagian tubuh manusia seperti anggota badan yang
diamputasi dan organ tubuh manusia yang dibuang dari
rumah sakit/klinik.
b)Cairan tubuh manusia seperti darah dari rumah
sakit/klinik.
c)Bangkai hewan yang ditemukan (dinyatakan resmi)
terinfeksi.

Beracun (toxic)
Limbah beracun ini biasanya didefinisikan sebagai :
Senyawa kimia yang beracun bagi manusia atau
lingkungan hidup, baik untuk jangka panjang maupun
jangka pendek.

Contoh limbah beracun:
a) Pestisida, sebagian besar pestisida yang sudah tidak
diijinkan untuk digunakan bersifat beracun seperti DDT,
Aldrin dan Parathion.
b) Bahan farmasi,.
c) Pelarut Halogen, pelarut seperti Perchloroethylene dan
Methylene Chloride

Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki
sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak
mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan
mudah menguap
Chemical sludge, limbah yang dihasilkan dari proses
koagulasi dan flokulasi
Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari
proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak
mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil
proses tersebut
Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari
pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun
anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup
stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat
diklasifikasikan menjadi:
untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran atau
kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh
limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas
lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai
dengan fungsinya kembali.

Tujuan pengelolaan Limbah B3
Lokasi pengolahan
1. Pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil
limbah atau di luar lokasi penghasil limbah. Syarat lokasi
pengolahan di dalam area penghasil harus:
2. daerah bebas banjir;
3. jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter;

Syarat lokasi pengolahan di luar area
penghasil harus:
1. daerah bebas banjir;
2. jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m atau 50 m
untuk jalan lainnya;
3. jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan aktivitas
umum minimum 300 m;

Syarat Pengelolaan Limbah B3
Fasilitas pengolahan

Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem
operasi, meliputi.
sistem kemanan fasilitas.
sistem pencegahan terhadap kebakaran.
sistem pencegahan terhadap kebakaran.
sistem penanggulangan keadaan darurat.
sistem pengujian peralatan.
dan pelatihan karyawan.


Keseluruhan sistem tersebut harus terintegrasi dan menjadi bagian yang
tak terpisahkan dalam pengolahan limbah B3

Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji
analisis kandungan guna menetapkan prosedur yang
tepat dalam pengolahan limbah tersebut. Setelah uji
analisis kandungan dilaksanakan, barulah dapat
ditentukan metode yang tepat guna pengolahan
limbah tersebut, sesuai dengan karakteristik dan
kandungan limbah
Penanganan limbah B3
sebelum diolah

Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat dilakukan dengan proses
sbb:
1. proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi,
pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa.
2. proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan
dan penyisihan komponen-komponen spesifik dengan metode
kristalisasi, dialisa, osmosis balik, dll
3. proses stabilisas/solidifikasi, dengan tujuan untuk mengurangi
potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi
daya larut, penyebaran, dan daya racun sebelum limbah dibuang ke
tempat penimbunan akhir
4. proses insinerasi, dengan cara melakukan pembakaran materi
limbah menggunakan alat khusus insinerator dengan efisiensi
pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu
materi limbah B3 ingin dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg,
maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau 10 gr

Tidak keseluruhan proses harus dilakukan terhadap satu Jenis Limbah B3,
tetapi proses dipilih berdasarkan cara terbaik melakukan pengolahan
sesuai dengan jenis dan materi limbah
Pengolahan limbah B3


Memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3
yang telah diolah dan dilakukan pemantauan di area
tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka
waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan akhir
habis masa pakainya atau ditutup.
Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses
pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus
melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode
triwulan (setiap 3 bulan sekali

Hasil pengolahan limbah
B3


1. Berdasarkan sumber
2. Berdasarkan karakteristik



1. Limbah B3 dari sumber spesifik;
2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;

Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu:
Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
Tahapan Identifikasi
Beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam identifikasi
limbah B3 antara lain :
1. Mencocokkan jenis limbah dengan daftar jenis limbah B3
2. Apabila tidak termasuk dalam jenis limbah B3 , maka
harus diperiksa apakah limbah tersebut memiliki
karakteristik: mudah meledak, mudah terbakar, beracun,
bersifat reaktif, menyebabkan infeksi dan atau bersifat
infeksius.
3. apabila kedua tahap telah dijalankan dan tidak termasuk
dalam limbah B3, maka dilakukan uji toksikologi.

Tahapan Identifikasi