Anda di halaman 1dari 21

1.

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Komunikasi mempunyai banyak sekali makna dan sangat bergantung pada
konteks pada saat proses komunikasi dilakukan. Bagi beberapa orang, komunikasi
merupakan pertukaran informasi antara 2 orang atau lebih, aau dengan kata lain
merupakan pertukaran ide atau pemikiran. Metodenya antara lain dengan berbicara
dan mendengarkan atan menulis dan membaca, melukis, menari, bercerita dan lain
lain sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala bentuk upaya penyampaian
pikiran kepada orang lain tidak hanya secara lisan (verbal) tetapi juga dengan gesture
atau gerakan tubuh (non verbal).
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam
hubungan antar manusia. Pada profesi medik komunikasi menjadi lebih bermakna
karena merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses perawatan
yang dilakukan. Pengalaman ilmu komunikasi tersebut digunakan untuk menolong
sesama yang mana memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang besar.
Untuk itu tenaga medik memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian
sosial yang mencakup ketrampilan intelektual, tehnical dan interpersonal yang
tercermin dalam perilaku caring atau kasih sayang dalam berkomunikasi dengan
orang lain.
Tenaga medik yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik
tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah
terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan
keperawatan dan meningkatkan citra profesi serta citra rumah sakit, tetapi yang paling
penting adalah mengamalkan ilmunya untuk memberikan pertolongan terhadap
sesama manusia.




1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi therapeutik?
2. Apa fase-fase dalam melakukan komunikasi therapeutik?
3. Apa teknik-teknik dari komunikasi therapeutik?

2. Pembahasan

2.1 Pengertian Komunikasi Therapeutik

Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, dalam
hal ini komunikasi yang dilakukan oleh seorang tenaga medic paa saat melakukan
intervensi perawatan harus mampu memberikan khasiat terapi bagi proses
penyembuhan pasien. Oleh karenanya seorang tenaga medik harus meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan aplikasi komunikasi therapeutic agar kebutuhan dan
kepuasan pasien dapat terpenuhi.

S. Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan
kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku perasaan pikiran dan
pengaalaman dalam membina hubungan yang terapeutik, Indrawati (2003)
mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan
secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan
pasien. Komunikasi Terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan
titik tolak saling pengertian antar tenaga medik dan pasien.
Persoalan mendasar dalam komuni kas i adal ah adanya hubungan
s al i ng membut uhan ant ar a t enaga medi k dan pas i en, sehingga dapat
dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat
membantu dan pasien menerima bantuan.

Arwana (2003) menyatakan bahwa komunkikasi terapeutik bukan pekerjaan
yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan
tindakan profesional. Elemen yang harus ada pada proses komunikasi adalah
pengirim pesan, penerima pesan, media dan umpan balik.
Semua perilaku individu pengirim dan penerima adalah komunikasi yang akan
member efek pada perilaku. Pesan yang disampaikan dapat berupa verbal dan
nonverbal. Bermain merupakan cara berkomunikasi dan berhubungan yang baik
dengan klien anak.

Tenaga medik dapat menyampaikan atau mengkaji proses ini secara verbal
antara lain :
1. Vokal
2. nada
3. kualitas
4. keras atau lembut
5. kecepatan berbicara

Dimana disini semuanya menggambarkan suasana emosi, dan juga dapat juga
secara non verbal antara lain :
1. Gerakan; reflex, postur, ekspresi muka, gerakan yang berulang, atau
gerakan-gerakan yang lain. Khusus gerakan dan ekspresi muka dapat
diartikan sebagai suasana hati.
2. Jarak (space) Jarak dalam berkomunikasi dengan orang lain
menggambarkan keintiman.
3. Sentuhan : dikatakan sangat penting, namun perlu mempertimbangkan
aspek budaya dan kebiasaaan.

Tujuan komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah
lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:
1. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan kehormatan diri
2. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak hanya secara
superficial namun juga saling bergantung dengan orang lain
3. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta
mencapai tujuan yang reistis



Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik meningkatkan pemahaman dan membantu
terbentuknya hubungan yang konstruktif diantara tenaga medik dan klien, tidak
seperti komunikasi sosisal, komunikasi ini mempunyai tujuan untuk membantu klien
dalam mencapai suatu tujuan dalam asuhan tenaga medik, oleh karena itu sangat
penting bagi tenaga medik untuk memahami prinsip dasar komunikasi terapeutik ini.

1. Hubungan tenaga medik dan klien adalah hubungan terapeutik yang saling
menguntungkan, didasarkan pada prinsip humanity of nurses and clients

2. Tenaga Medik harus menghargai keunikan klien, menghargai perbedaan karakter
memaham perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang
keluarga, budaya, dan keunikan setiap .individu.

3. Semua komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi
maupun penerima pesan , dalam hal ini tenaga medik harus mampu menjaga harga
dirinya dan harga diri dari pasien.

4. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya harus dicapai
lebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternative pemecahan
masalah, hubungan saling percaya antara tenaga medik dan klien adalah kunci dan
komunikasi terapeutik.

5. Tenaga medic harus mengenal dirinya sendiri yan berarti memahami diri sendiri
dan nilai yang dianut.

6. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan
saling menghargai

7. Tenaga medik harus memahami dan menghargai nilai yang dianut oleh pasien.

8. Tenaga medik harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun
mental

9. Tenaga medik harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya, sehingga
tumbuh lebih matang dan dapat memecahkan masalah masalah yang dihadapi.

10. Tenaga medik harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk
mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun
fungsi proses perawatan itu sendiri.

Komunikasi terapeutik mempunyai ciri sebagai berikut
1. Terjadi antara tenaga medik dengan pasien
2. Mempunyai hubungan akrab
3. Berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan
4. Tenaga medic dengan aktif mendengarkan dan memberikan respon pada pasien

Ada tiga hal dasar yang memberi ciri ciri komunikasi therapeutik, yaitu

1. Ikhlas (Genuiness) Semua perasaan negative yang dimiliki pasien harus bisa
diterima dengan pendekatan individu yang verbal maupun non verbal dimana
ini akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan
kondisinya secara tepat.
2. Empati (Emphaty) meruakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien,
Objektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak
berlebihan.
3. Hangat (Warmth) Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diaharapkan
pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide idenya tanpa rasa takut
sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.







2.2 FASE FASE KOMUNIKASI TERAPEUTIK

1. Tahap Persiapan (Prainteraksi)
Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum
berinteraksi dengan klien. Pada tahap ini tenaga medik menggali perasaan dan
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini tenaga medik juga
mencari informasi tentang klien, Kemudian merancang strategi untuk pertemuan
pertama dengan klien. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang tenaga medik untuk
memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap
untuk berinteraksi dengan klien.

Tugas tenaga medik pada tahap ini antara lain:

a. Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan. Sebelum berinteraksi dengan
klien, tenaga medik perlu mengkaji perasaannya sendiri. Perasaan apa yang muncul
sehubungan dengan interaksi yang akan dilakukan. Apakah ada perasaan cemas? Apa
yang dicemaskan?.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemanhan sendiri. Kegiatan ini sangat penting
dilakukan agar tenaga medik mampu mengatasi kelemahannya secara maksimal pada
saat berinteraksi dengan klien.
c. Mengumpulkan data tentang klien. Kegiatan ini juga sangat penting karena dengan
mengetahui informasi tentang klien tenaga medik bisa memahami klien. Paling tidak
bisa mengetahui identitas klien yang bisa digunakan pada saat memulai interaksi.


d. Merencanakan pertemuan yang pertama dengan klien. Tenaga medik perlu
merencanakan pertemuan pertama dengan klien. Hal yang direncanakan mencakup
kapan, dimana, dan strategi apa yang akan dilakukan untuk pertemuan pertama
tersebut.



2. Tahap Perkenalan

Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau
kontak dengan klien. Pada saat berkenalan, tenaga medik harus memperkenalkan
dirinya terlebih dahulu kepada klien. Dengan memperkenalkan dirinya berarti dia
telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk
membuka dirinya.
Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah
dibuat dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu.

Tugas Tenaga medik pada tahap ini antara lain:

a. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan komunikasi terbuka.
Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan hubungan terapeutik,
karena tanpa adanya rasa saling percaya tidak mungkin akan terjadi keterbukaan
antara kedua belah pihak. Hubungan yang dibina tidak bersifat statis, bisa berubah
tergantung pada situasi dan kondisi. Karena itu, untuk mempertahankan atau
membina hubungan saling percaya maka tenaga medik harus bersikap terbuka, jujur,
ikhlas, menerima klien apa adanya, menepati janji, dan menghargai klien.

b. Merumuskan kontrak pada klien. Kontrak ini sangat penting untuk menjamin
kelangsungan sebuah interaksi. Pada saat merumuskan kontrak tenaga medik juga
perlu menjelaskan atau mengklarifikasi peran-peran tenaga medik dan klien agar tidak
terjadi kesalah pahaman klien terhadap kehadiran tenaga medik. Disamping itu juga
untuk menghindari adanya harapan yang terlalu tinggi dari klien terhadap perawatan
yang diberikan karena karena klien menganggap tenaga medik seperti dewa penolong
yang serba bisa dan serba tahu. Tenaga medik perlu menekankan bahwa mereka
hanya membantu, sedangkan kekuatan dan keinginan untuk berubah ada pada diri
klien sendiri.





c. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien. Pada tahap ini
tenaga medik mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan
memberikan pertanyaan terbuka, diharapkan dapat mendorong klien untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaannya sehingga dapat mengidentifikasi masalah
klien.

d. merumuskan tujuan dengan klien. Tenaga medik perlu merumuskan tujuan interaksi
bersama klien karena tanpa keterlibatan klien mungkin tujuan sulit dicapai. Tujuan ini
dirumuskan setelah klien diidentifikasi.


Fase orientasi, fase ini dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan
seterusnya, tujuan fase ini adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah
dibuat dengan keadaan klien saat ini, dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu.
Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama klien.

3. Tahap Kerja
Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi
terapeutik. Pada tahap ini tenaga medik dan klien bekerja bersama-sama untuk
mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan
mereka dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Tenaga medik
juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap
adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien.
Pada tahap ini tenaga medik perlu melakukan active listening karena tugas
mereka pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui
active listening, tenaga medik membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang
dihadapi, bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi cara atau
alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih.
Tenaga medik juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan
klien. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan
menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu agar antara tenaga
medik dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama.
Tujuan tehnik menyimpulkan adalah membantu klien menggali hal-hal dan
tema emosional yang penting.

4. Tahap Terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan tenaga medik dengan klien. Tahap
ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir.
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan tenaga medik-klien,
setelah terminasi sementara, maka tenaga medik akan bertemu kembali dengan klien
pada waktu yang telah ditentukan.
Terminasi akhir terjadi jika tenaga medik telah menyelesaikan proses
perawatan secara keseluruhan.

Tugas tenaga medik pada tahap ini antara lain:

a. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini
juga disebut evaluasi objektif. Dalam mengevaluasi, tenaga medik tidak boleh
terkesan menguji kemampuan klien, akan tetapi sebaiknya terkesan sekedar
mengulang atau menyimpulkan.

b. Melakukan evaluasi subjektif. Evaluasi subjektif dilakukan dengan menanyakan
perasaan klien setelah berinteraksi dengan tenaga medik. Dala hal ini tenaga medik
perlu mengetahui bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi dengan mereka.
Apakah klien merasa bahwa interaksi itu dapat menurunkan kecemasannya? Apakah
klien merasa bahwa interaksi itu ada gunanya? Atau apakah interaksi itu justru
menimbulkan masalah baru bagi klien.


c. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindakan ini juga
disebut sebagai pekerjaan rumah untuk klien. Tindak lanjut yang diberikan harus
relevan dengan interaksi yang akan dilakukan berikutnya. Misalnya pada akhir
interaksi klien sudah memahami tentang beberapa alternative mengatasi marah. Maka
untuk tindak lanjut perawatan mungkin bisa meminta klien untuk mencoba salah satu
dari alternative tersebut.

d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Kontrak ini penting dibuat agar
terdapat kesepakatan antara tenaga medik dan klien untuk pertemuan berikutnya.
Kontrak yang dibuat termasuk tempat, waktu, dan tujuan interaksi.
Stuart G.W. (1998) dalam Suryani (2005), menyatakan bahwa proses
terminasi antara tenaga medik dan klien merupakan aspek penting dalam asuhan
keperawatan, sehingga jika hal tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh tenaga
medik, maka regresi dan kecemasan dapat terjadi lagi pada klien. Timbulnya respon
tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan tenaga medik untuk terbuka, empati dan
responsif terhadap kebutuhan klien pada pelaksanaan tahap sebelumnya.

2.3 TEHNIK-TEHNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK

1. Bertanya
Bertanya (questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk
mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Tehnik berikut sering digunakan pada
tahap orientasi.

a. Pertanyaan fasilitatif dan nonfasilitatif
Pertanyaan fasilitatif (facilitative question) terjadi jika pada saat bertanya tenaga
medik sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan
dengan masalah klien, sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (nonfacilitative question)
adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan pertanyaan yang tidak fokus
pada masalah atau pembicaraan, bersifat mengancam, dan tampak kurang pengertian
terhadap klien.


b. Pertanyaan terbuka dan tertutup
Pertanyaan terbuka (open question) digunakan apabila tenaga medik membutuhkan
jawaban yang banyak dari klien. Dengan pertanyaan terbuka, mereka mampu
mendorong klien mengekspresikan dirinya.
Pertanyaan tertutup (closed question) digunakan ketika tenaga medik membutuhkan
jawaban yang singkat.

c. Inapropriate quantity question
Inapropriate quantity question yaitu pertanyaan yang kurang baik dari sisi jumlah
pertanyaan, yang mengakibatkan klien bingung dalam menjawab. Terlalu banyak
pertanyaan merupakan tindakan yang tidak tepat karena menimbulkan kebingungan
klien untuk menjawab.

d. Inapropriate quality question
Inapropriate quality question yaitu pertanyaan yang tidak baik diberikan pada klien
dan biasanya dimulai dengan kata why (mengapa). Why question ini
dipertimbangkan tidak tepat karena :
1) Terkesan menginterogasi, sehingga klien merasa seolah-olah diintimidasi. Hal ini
bisa menghambat keterbukaan klien terhadap tenaga medik.
2) Tidak akan dapat menggali perasaan klien yang sebenarnya karena why question
mengiring klien untuk menjawab secara rasional atau mengemukakan alasan dari
suatu perbuatan atau keadaan, bukan bagaimana perasaanya terhadap kejadian

2. Mendengarkan
Mendengarkan (listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik.
Mendengarkan adalah proses aktif dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi
seseorang terhadap pesan yang diterima.
Selama mendengarkan, tenaga medik harus mengikuti apa yang
dibacakan klien dengan penuh perhatian. Tenaga medik memberikan tanggapan
dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. Tunjukkan perhatian bahwa kita
mempunyai waktu untuk mendengarkan.

3. Mengulang
Mengulang (restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien.
Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi tenaga medik
mengikuti pembicaraan klien. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi
yang mendukung listening.




4. Klarifikasi
Klarifikasi (clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang
tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.
Pada saat klarifikasi, tenaga medik tidak boleh menginterpretasikan apa yang
dikatakan klien, juga tidak boleh menambahkan informasi. Apabila mereka
menginterpretasikan pembicaraan klien, maka penilaiannya akan berdasarkan
pandangan dan perasaannya. Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan, karena
pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien.

5. Refleksi
Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan
isi pembicaraan kepada klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian tenaga
medik tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan
penghargaan terhadap klien.

Tehnik-tehnik refleksi terdiri dari:
a. Refleksi visi, yaitu memvalidasi apa yang didengar. Klarifikasi ide yang
diekspresikan klien dengan pengertian tenaga medik.
b. Refleksi perasaan, yaitu memberi respon pada perasaan klien terhadap isi
pembicaraan, agar klien mengetahui dan menerima perasaanya.
Gunanya adalah untuk :
a. Mengetahui dan menerima ide dan perasaan.
b. Mengoreksi.
c. Memberi keterangan lebih jelas.

Ruginya adalah :
a. Mengulang terlalu sering dan sama.
b. Dapat menimbulkan marah, iritasi, dan frustasi

6. Memfokuskan
Memfokuskan (focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk
membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan.
Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik
pembicaraan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengguanakan metode ini adalah usahakan
untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting.

7. Diam
Tehnik diam (silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien
sebelum menjawab pertanyaan. Diam akan memberikan kesempatan kepada tenaga
medik dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing. Tehnik ini
memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati, memperlambat tempo
interaksi, sambil tenaga medik menyampaikan dukungan, pengertian, dan
penerimaannya. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya
sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.

8. Memberi Informasi
Memberikan tambahan informasi (informing) merupakan tindakan penyuluhan
kesehatan klien. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau
pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan
penyembuhan klien. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan
pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu
dalam memberikan alternatif pemecahan masalah.

9. Menyimpulkan
Menyimpulkan (summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien
mengeksplorasi poin penting dari interaksi tenaga medik-klien. Tehnik ini membantu
tenaga medik dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri
pertemuan. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi
yang telah dilakukan.
Manfaat dari menyimpulkan antara lain :
a. Memfokuskan pada topik yang relevan.
b. Menolong tenaga medik dalam mengulang aspek utama interaksi.
c. Membantu klien untuk merasa bahwa tenaga medik memahami perasaannya.
d. Membantu klien untuk dapat mengulang informasi dan membuat tambahan atau
koreksi terhadap informasi sebelumnya.


10. Mengubah Cara Pandang
Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan
cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek
negatifnya saja. Tehnik ini sangat bermanfaan terutama ketika klien berfikiran negatif
terhadap sesuatu, atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. Seorang tenaga medik
kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan
masalah, misalnya menyatakan : sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk
itu kejadiannya. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang
dialaminya dari sisi positif, sehingga memungkinkan klien untuk membuat
perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

11. Eksplorasi
Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam
masalah yang dialami klien supaya masalah tersebut bisa diatasi. Tehnik ini
bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang
masalah yang dialami klien.

12. Membagi Persepsi
Stuart G.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan, membagi persepsi
(sharing peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang tenaga medik
rasakan atau pikirkan. Tehnik ini digunakan ketika hendak merasakan atau melihat
ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien.

13. Mengidentifikasi Tema
Tenaga medik harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus
mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. Gunanya adalah untuk
meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting. Tehnik ini sangat
bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal
masalah yang benar-benar dirasakan klien.

14. Humor
Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Florence
Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan
suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor.
Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas, serta menurunkan
tekanan darah dan nadi.
Dalam beberapa kondisi berikut humor mungkin bisa dilakukan :
a. Pada saat klien mengalami kecemasan ringan sampai sedang, humor mungkin bisa
menurunkan kecemasan klien.
b. Jika relevan dan konsisten dengan sosial budaya klien.
c. Membantu klien mengatasi masalah lebih efektif.

15. Memberikan Pujian
Memberikan Pujian (reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang
didapatkan klien ketika berinteraksi dengan tenaga medik. Reinforcement berguna
untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien. Reinforcement bisa
diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.


FAKTOR-FAKTOR KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Faktor yang mempengaruhi komunikasi :
a) Kredibilitas
Kredibilitas (credibility) terdapat dan berpengaruh pada sumber atau komunikator.
Kredibilitas komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan proses komunikasi,
karena hal ini mempengaruhi tingakat kepercayaan sasaran atau komunikasi terhadap
pesan yang disampaikan.
b) Isi pesan
Pesan yang disampaikan hendaknya mengandung isi yang bermanfaat bagi sasaran.
Hasil komunikasi akan lebih baik jika isi pesan besar manfaatnya bagi kepentingan
sasaran.
c) Kesesuaian dengan kepentingan sasaran
Kesesuaian dengan kepentingan sasaran (context) terdapat dan berperan pada pesan.
Pesan yang disampaikan harus berhubungan dengan kepentingan sasaran.
d) Kejelasan
Kejelasan (clarity) terdapat dan berperan pada pesan. Kejelasan pesan yang
disampaikan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi.

e) Kesinambungan dan konsistensi
Kesinambungan dan konsistensi (continuity and consistency) terdapat pada pesan.
Pesan yang akan disampaikan harus konsistensi dan berkesinambungan.
f) Saluran
Saluran (channel) terdapat dan berperan pada media. Media yang digunakan harus
disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.
g) Kapabilitas sasaran
Kapabilitas sasaran (capability of the audience) terdapat pada komunikan. Dalam
menyampaikan pesan, komunikator harus memperhitungkan kemampuan sasaran
dalam menerima pesan.
h) Psikologis
Seperti sikap, pengalaman hidup, motivasi, kepribadian, dan konsep.
i) Sosial
Seperti usia, jenis kelamin, kelas sosial, suku, bahasa, kekuasaan, dan peran sosial.

Faktor faktor penghambat dalam proses komunikasi terpeutik adalah :

a. Kemampuan pemahaman yang berbeda.
b. Pengamatan/penafsiran yang berbeda karena pengalaman masa lalu.
c. Komunikasi satu arah.
d. Kepentingan yang berbeda
e. Memberikan jaminan yang tidak mungkin
f. Memberitahu apa yang harus dilakukan kepada penderita
g. Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
h. Menuntut bukti, tantangan serta penjelasan dari pasien mengenai tindakannya
i. Memberikan kritik mengenai perasaan penderita
j. Menghentikan/mengalihkan topik pembicaraan
k. Terlalu banyak bicara yang seharusnya mendengarkan.
l. Memperlihatkan sifat jemu, pesimis.





PROSES KOMUNIKASI TERAPEUTIK DALAM PERAWATAN

1. Proses komunikasi :

a. Reference, stimulus yang memotifasi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Dapat berupa pengalaman, ide atau tindakan.
b. Pengirim/ sumber/ encorder, disebut juga komunikator. Bisa perorangan atau
kelompok.
c. Pesan/ berita, informasi yang dikirimkan. Dapat berupa kata-kata, gerakan tubuh
atau ekspresi wajah.
d. Media/ saluran, alat atau sarana yang dipilih pengirim untuk menyampaikan pesan
pada penerima/ sasaran.
e. Penerimaan/ sasaran/ decoder, kepada siapa pesan yang ingin disampaikan tersebut
dituju.
f. Umpan balik/ feed back/ respons, reaksi dari sasaran terhadap pesan yang
disampaikan.

2. Komunikasi Terapeutik dalam Perawatan.

a. Pengkajian
1) Menentukan kemampuan seseorang dalam proses informasi.
2) Mengevaluasi data tentang status mental pasien untuk menentukan batas
intervensi.
3) Mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi secara verbal.
4) Mengobservasi apa yang terjadi pada pasien tersebut saat ini.
5) Mengidentifikasi tingkat perkembangan pasien sehingga interaksi yang diharapkan
bisa realistik.
6) Menentukan apakah pasien memperlihatkan sikap verbal dan nonverbal yang
sesuai.
7) Mengkaji tingkat kecemasan pasien sehingga dapat mengantisifasi intervensi yang
dibutuhkan.



b. Diagnosa keperawatan
1) Analisa tertulis dari penemuan pengkajian.
2) Sesi perencanaan tim kesehatan.
3) Diskusi dengan klien dan keluarga untuk menentukan metoda implementasi.
4) Membuat rujukan.

c. Rencana tujuan
1) Rencana asuhan tertulis
2) Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
3) Membantu pasien agar dapat menerima pengalaman yang pernah dirasakan.
4) Meningkatkan harga diri pasien.
5) Memberikan support karena adanya perubahan lingkungan.
6) Tenaga medik dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara lebih terbuka.

d. Implementasi
1) Memperkenalkan diri kepada pasien.
2) Memulai interaksi dangan pasien.
3) Membantu pasien untuk dapat menggambarkan pengalaman pribadinya.
4) Menganjurkan kepada pasien untuk dapat mengungkapkan perasaan
kebutuhannya.
5) Menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.

e. Evaluasi
1) Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi
kebutuhan sendiri.
2) Komunikasi menjadi lebih jelas, lebih terbuka dan berfokus pada masalah.
3) Membantu menciptakan lingkungan yang dapat mengurangi tingkat kecemasan.






Sikap dalam melakukan komunikasi terapeutik

Berikut adalah tindakan atau sikap yang dilakukan ketika menunjukkan kehadiran
secara fisik :

1.Berhadapan dengan lawan bicara Dengan posisi ini tenaga medik menyatakan
kesiapannya (saya siap untuk anda)

2. Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan) sikap ini
mununjukan bahwa kita telh siap untuk mendukung terciptanya komunikasi

3.Menunduk/memposisikan tubuh kearah lebih dekat dengan lawan bicara, hal ini
menunjukan bahwa tenaga medik bersiap untuk merespon dalam komunikasi
(berbicara mendengar).

4.Pertahankan kontak mata sejajar dan natural dengan posisi mata sejajar, maka tenaga
medic menunjukan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.

5 . Bersikap tenang; akan terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan
menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.













Daftar Pustaka

1. Dalami,Ermawati.2009. Buku Saku Komunikasi Keperawatan. Jakarta : Trans
Info Media
2. Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan. Jakarta : Graha Ilmu.
3. Suryani. 2005.Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktik . Jakarta :EGC
4. http://dhanwaode.wordpress.com/2010/10/09/komunikasi-dalam-proses-
pembangunan-dalam-proses-keperawatan/ pada selasa 4 maret 2014
5. http://riff46.wordpress.com/2011/05/21/integrasi-konsep-komunikasi-dan-
etika-dalam-pemberian-obat/ pada selasa 4 maret 2014
6. http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/komunikasi-terapeutik.html pada
kamis 6 maret 2014
7. http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/03/komunikasi-terapeutik.html pada
kamis 6 maret 2014
8. http://www.lusa.web.id/komunikasi-terapeutik/ pada kamis 6 maret 2014


























Makalah
Komunikasi Therapeutik




Oleh,

Nama : Farid Yuristiawan
BP : 1210343001

Tutor : drg. Susi. MKM

Ditulis untuk melengkapi nilai tutorial Blok 10
Tentang Psikologi, Etika dan Hukum Kedokteran








FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
2014