Anda di halaman 1dari 12

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Bronkiolitis adalah penyakit inflamasi akut dari saluran atas dan bawah menyebabkan
obstruksi dari saluran napas kecil.
ETIOLOGI
Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah agen yang paling sering yang ditemukan
dalam isolasi sebanyak 75% pada anak-anak kurang dari 2 tahun yang menderita bronkiolitis
dan dirawat di rumah sakit. Penyebab lain yang menyebabkan bronkiolitis termasuk di
dalamnya adalah virus parainfluenza tipe 1 dan 3, influenza B, parainfluenza tipe 2,
adenovirus tipe 1, 2, 5 dan micoplasma yang paling sering pada anak-anak usia sekolah.
Terdapat pembuktian bahwa komplek imunologis yang memainkan peranan penting dari
patogenesis bronkiolitis dengan RSV. Reaksi alergi tipe 1 dimediasi oleh antibodi IgE hal ini
dapat dihitung untuk signifikasi dari bronkiolitis. Bayi yang meminum ASI dengan kolustrum
tinggi yang di dalamnya terdapat IgA tampaknya lebih relatif terproteksi dari bronkiolitis.
Adenovirus dapat dihubungkan dengan komplikasi jangka lama, termasuk bronkiolitis
obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral (sindrom Sywer-James).
Virus sinsisial respiratorik
Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah virus RNA terkat membran berukuran medium
yang berkembang dalam sitoplasma sel yang terinfeksi dan matang dengan pertunasan dari
membran plasma. Berbagai strain RSV emnunjukkan beberapa heterogenitas antigenik.
Variasi ini terutama ditemukan pada hanya satu dari dua glikoprotein permukaan dari virus
menunjukkan reaksi pada hospes manusia seperti satu serotip. RSV menghasilkan
sitopatologis sinsisial khas dalam biakan jaringan spesimen dikirim dengan cepat dalam es
basah karena labil.
Adenovirus
Adenovirus adalah virus DBA ukuran sedang, yang diklasifikasikan menjadi subgenus A
sampai G. Tipe 1-39 ada dalam subgenus A sampai E, tipe 40 adalah subgenus F dan tipe 41
adalah subgenus G, virion mempunyai pembungkus ikosahedral yang tersusun dari berbagai
protein, yang paling berlebihan darinya adalah hexon, antigen biasa yang bereaksi silang
dengan semua adenovirus mamalia. Penton memberi spesifisitas tipe dan antibodi
terhadapnya adalah protektif. Penton ini juga sitotoksik pada biakan jaringan dan sifat
sofatoksik telah dianggap berasalh darinya juga in vivo. Adenovirus dapat juga
diklasifikasikan dengan mencetakkan sidik jadi DNA-nya pada jelli sesudah terdigesti
dengan pembatasan endonuklease dan klasifikasi ini biasanya sesuai dengan tipe-tipe
antigeniknya.
Semua tipe adenovirus kecuali tipe 40 dan 41 tumbuh dalam sel ginjal embrional manusia
primer dan kebanyakan tumbuh pada sel Hep-2 atau HeLa, menghasilkan pengaruh sitopatik,
destruksi khas. Tipe 40 dan 41 (dan serotip lain juga), tumbuh pada 293 sel, deretan sel ginjal
embrional manusia yang kepadanya telah dimasukkan genus adenovirus awal tertentu.
Banyak tipe adenovirus tetapi terutama tipe anak biasa (1, 2 dan 5), dilepas selama masa
yang panjang dari saluran pernapasan maupun saluran cerna. Tipe ini juga menyebabkan
infeksi tonsil ringan dan kronik.
Virus parainflueza
Ada empat virus dalam famili parainfluenza yang menyebabkan sakit pada manusia
ditandai tipe 1-4. Virus ini mempunyai genom RNA helai tunggal, tidak bersegmen dengan
pembungkus mengandung lipid yang berasal dari pertunasan melalui membran sel. Bagian
antigenik utama adalah tonjolan-tonjolan protein pembungkus yang menunjukkan sifat-sifat
hemaglutinasi (protein HN) dan fusi sel (protein F).

KLASIFIKASI
Bronkiolitis dapat diklasifikasikan menjadi:
Bronkiolitis akut
Bronkiolitis obliterans
Bronkiolitis akut dengan bronkiolitis obliterans dibedakan pada bronkiolus dan saluran
pernapasan yang lebih kecil terjejas karena upaya perbaikan menyebabkan sejumlah besar
jaringan granulasi yang menyababkan obstruksi jalan napas, lumen jalan napas terobliterasi
oleh masa noduler granulasi dan fibrosis. Bronkiolitis obliterans merupakan komplikasi yang
lazim pada transplantasi paru.

EPIDEMIOLOGI
Epidemi dari RSV berkembang pada iklim dengan musim hujan dan menjelang
kemarau dan biasanya juga muncul pada musim yang bersamaan dengan menjangkitnya
parainfluenza. Terdapat bukti bahwa RSV endemik di daerah subtropis dari Asia Tenggara
sepanjang tahun dan memuncak antara bulan Oktober sampai Februari dan berkurang pada
bulan Maret sampai Juli. Dua dari sub tipe RSV telah diketahui, yaitu tipe A dan tipe B,
dengan tipe yang paling sering menyebabkan infeksi yang berat. Tipe B biasanya
mendominasi apabila tipe A tidak dalam musim endemi. Penyakit ini sangat menular,
penularan disebarkan melalui sekresi hidung yang keluar dan sangat menular pada hari ke-6
sampai hari ke-21 setelah gejala muncul. Waktu intubasi antara 2 5 hari. Infeksi terjadi
pada anggota keluarga sebanyak 45% pada bayi yang dirawat di rumah sakit tetapi tidak
terinfeksi. Infeksi menyebar melalui muntahan dan penggunaan sarung tangan, sedangkan
baju khusus dapat mengurangi penyebaran infeksi nosokomial. Sebanyak 25% anak umur di
bawah 1 tahun dan 13% anak umur antara 1 sampai 2 tahun akan mendapatkan infeksi
saluran napas. Separuh dari angka tersebut didapatkan gejala bersin yang diasosiasikan
dengan infeksi saluran napas. RSV dapat ditemukan pada kultur pasien yang dirawat di
rumah sakit yang menderita infeksi tersebut dan 80%-nya berumur kurang dari 6 bulan. Di
antaranya bayi yang sehat 80% dirawat di rumah sakit pada tahun pertama kehidupannya dan
sekitar 50% perawatan di rumah sakit adalah bayi antara umur 1 -3 bulan. Kurang dari 5%
perawatan di rumah sakit pada neonatus, kemungkinan dengan adanya antibodi yang masih
terdapat dari tranplasental-maternal. Faktor penyebab untuk berat badan lahir rendah,
prematuritas, sosio-ekonomi rendah, hidup di daerah padat, orang tua perokok, tidak
diberikan ASI eksklusif dan perawatan harian.
Pada satu laporan, pemeriksaan fungsi paru yang canggih dilakukan terhadap populasi
besar bayi-bayi normal. Analisis tidak lanjut menunjukkan bahwa penyakit paru mengi secara
bermakna lebih lazim dijumpai pada bayi hantaran pernapasan total awalnya ada pada
sepertiga terendah dari mereka yang diuji. Penurunan fungsi paru dapat memainkan oeran
penting dalam menentukan bayi mana yang dengan infeksi virus yang akan berkembang
bronkiolitis.

PATOGENESIS
Bronkiolitis akut ditandai dengan obstruksi bronkiolus yang disebabkan oleh edema
dan kumpulan mukus dan oleh invasi bagian-bagian bronkus yang lebih kecil oleh virus.
Karena tahanan atau resistensi terjadap aliran udara di dalam saluran besarnya berbanding
terbalik dengan radius atau jari-jari pangkat empat, maka penebalan yang sedikit sekali pun
pada dinding bronkiolus bayi dapat sangat mempengaruhi aliran udara. Tahanan pada saluran
udara kecil bertambah selama fase inspirasi dan ekspirasi, namun karena selama ekspirasi
jalan napas menjadi lebih kecil, maka hasilnya adalah obstruksi pernapasan katup yang
menimbulkan udara terperangkap dan overinflasi. Atelektasis dapat terjadi ketika obstruksi
menjadi total dab ydara yang terperangkap diabsorpsi.
Beberapa fakta memberi kesan cidera imunologis sebagai faktor-faktor pada patogenesis
bronkiolitis yang disebabkan RSV:
a. Bayi yang sekarat karena bronkitis telah menunjukkan imunoglobin maupun virus
dala jaringan bronkiolus yang terjejas;
b. Anak yang mendapat vaksin RSV yang diberikan secara parenteral sangat antigenik,
inaktif pada pemajanan RSV berikutnya, penyakitnya menjadi lebih berat dan lebih
sering kambuh dibandingkan anak-anak lainnya;
c. Bronkiolitis yang bergabung dalam asma pada bayi yang lebih tua dan RSV seringkali
merupakan serangan asma akut yang dikenali pada anak usia 1 5 tahun; dan
d. Antibodi imunoglobin E (IgE) yang mengarah langsung ke RSV ditemukan pada
sekresi konvalesen pad abayi dengan bronkiolitis
Di samping pengaruh destruktif virus dan respon hospes yang menyertai, belum jelas
peran apa yang dimainkan oleh bakteri yang menumpanginya. Pada kebanyakan bayi dengan
bronkiolitis, dengan atau tanpa pneumonia interstitial, pengalaman klinis memberi kesan
bahwa bakteri memainkan peran yang tidak berarti.
Penyakit ini juga berkembang pada bayi-bayi yangbiasanya terdapat titer antibodi
maternal (IgG) menetralkan SCV tetapi tidak terdapat antibodi sekretorik (IgA) pada saluran
napas sehingga terdapat pada sekret hidung yang memproteksi terhadap infeksi RSV. Fakta
tersebut telah mengarah ke spekulasi bahwa fakta tersebut penyebab alamiah terjadinya
bronkiolitis.
Berbeda antara bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentoleransi edema saluran
napas dengan lebih baik. Oleh karena itu, pada anak besar dan orang dewasa jarang terjadi
bronkiolitis bila terkena infeksi oleh virus. Ada pendapat bahwa bronkiolitis merupakan hasil
dari reaksi kompleks imun antara antibodi dengan virus. Pendapat tersebut berdasarkan
pengamatan di mana terjadinya infeksi oleh virus ketika umur masih muda, terutama kurang
dari 6 bulan. Saat itu, antibodi yang secara pasif didapatkan dari ibu masih cukup tinggi.

MANIFESTASI KLINIK
Bronkiolitis Akut
Mula-mula bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa pilek encer, batuk,
bersin-bersin dan kadang-kadang demam. Gejala ini berlangsung beberapa hari, kemudian
timbul distres respirasi yang ditandai oleh batuk paroksimal, mengi, dispneu dan iritabel.
Timbulnya kesulitan minum terjadi karena napas cepat sehingga menghalangi proses menelan
dan menghisap. Pada kasus ringan, gejala menghilang 1 3 hari. Pada kasus berat, gejalanya
dapat timbul beberapa hari dan perjalanannya sangat cepat. Kadang-kadang, bayi tidak
demam sama sekali, bahkan hipotermi. Terjadi distres pernapasan dengan frekuensi napas 60
kali per menit, terdapat napas cuping hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan, retraksi
dan kadang-kadang sianosis. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru
(terperangkapnya udara dalam paru). Hepar dan lien bisa teraba karena terdorong diafragma
akibat hiperinflasi paru. Mungkin terdengar ronki pada akhir inspirasi dan awal ekspirasi.
Ekspirasi memanjang dan mengi kadang-kadang terdengar dengan jelas.
Gambaran radiologik biasanya normal atau hiperinflasi paru, diameter anteroposterior
meningkat pada foto lateral. Kadang-kadang ditemukan bercak-bercak pemadatan akibat
atelektasis sekunder terhadap obstruksi atau inflamasi alveolus. Leukosit dan hitung jenis
biasanya dalam batas normal. Limfopenia yang sering ditemukan pada infeksi virus lain
jarang ditemukan pada bronkiolitis. Pada keadaan yang berat, gambaran analisis gas darah
akan menunjukkan hiperkapnia karena karbondioksida tidak dapat dikeluarkan akibat edema
dan hipersekresi bronkiolus.

Bronkiolitis Obliterans
Bronkiolitis obliterans adalah suatu peradangan kronik pada bronkiolitis dimana
sudah terjadi obliterasi pada bronkiolus. Pada mulanya dapat terjadi batuk, kegawatan
pernapasan, sianosis dan disertai dengan periode perbaikan nyata dan singkat. Penyakit yang
progresif terlihat dengan bertambahnya dispneu, batuk, produksi sputum dan mengi. Polanya
dapat menyerupai bronkitis, bronkiolitis atau pneumonia. Temuan rontgenografi dada
berkisar dari normal sampai pola yang memberi kesan tuberkulosis milier. Sindrom Swyer
James dapat berkembangnya dengan dijumpainya hiperlusensi unilateral dan pengurangan
corak pembuluh darah paru pada sekitar 10% kasus. Bronkografi menunjukkan obstruksi
bronkiolus dengan sedikit atau tidak ada bahan kontras yang mencapai perifer paru.
Tomografi terkomputasi dapat menunjukkan bronkietasia yang terjadi pada banyak penderita.
Temuan-temuan uji fungsi paru bervariasi, yang paling sering adalah obstruksi berat, namun
demikian retraksi atau kombinasi obstruksi dan retraksi dapat ditemukan. Diagnosis dapat
dikonfirmasikan melalui biopsi paru.

FAKTOR RISIKO
Salah satu faktor risiko yang terbesar untuk menjadi bronkiolitis pada umur kurang dari 6
bulan sebab paru-paru dan sistem kekebalan tidak secara penuh berkembang dengan baik.
Anak laki-laki cenderung untuk mendapatkan brokiolitis lebih sering dibanding anak-anak
perempuan. Faktor lain yang telah dihubungkan dengan peningkatan risiko bronkiolitis pada
anak-anak meliputi:
A. Tidak pernah diberi air susu ibu sehingga tidak menerima perlindungan kekebalan
dari ibu
B. Kelahiran prematur
C. Pajanan asap rokok
D. Sering dititipkan pada tempat banyak bayi-bayi contoh tempat penitipan anak, panti
asuhan
E. Saudara kandung lebih tua dengan kontak infeksi dari sekolah atau tempat bermain
Bayi dengan ibu perokok pasif mempunyai peningkatan risiko infeksi RSV dengan suatu
perbandingan rintangan dilaporkan 3.87 untuk itu telah banyak studi atas efek dari perokok
pasif pada penyakit yang berhubungan dengan pernapasan di bayi dan anak-anak. Di dalam
suatu tinjauan ulang yang sistematis dari perokok pasif dan infeksi saluran napas bawah pada
bayi dan anak-anak, Strachan dan Cook menunjukkan suatu perbandingan digabungkan daro
1.57 jika kedua orang tua perokok dan suatu perbandingan dari 1.72 jika ibu yang merokok.
Air susu ibu (ASI) telah menunjukkan mempunyai faktor kebal terhadap RSV yang
mencakup immunoglobin G dan suatu antibodi 160 dan interferon-161. ASI telah pula
ditunjukkan untuk menetralkan aktivitas melawan terhadap RSV. Di satu studi merujukan ke
rumah sakit yang relatif dengan RSV adalah anak-anak yang tidak diberi ASI. Di dalam studi
lain, 8 (7%) dari 115 anak-anak diopname dengan infeksi RSV adalah disusui dan 46 (27%)
dari 167 pasien sebagai kendali disusui.
Suatu metaanalisis hubungan menyusui dengan opname untuk infeksi saluran napas
bawah di (dalam) awal kelahiran menguji 33 studi, semua dari yang menunjukkan suatu
asosiasi bersifat melindungi antara menyusui dan risiko opname untuk infeksi saluran napas
bawah. Sembilan studi dijumpai pada semua ukuran-ukuran pemasukan analisa. Kesimpulan
adalah bahwa bayi yang tidak disusui ASI hampir meningkatkan risiko tiga kali lipat lebih
besar diopname untuk infeksi saluran napas bawah dibanding yang disusui ASI eksklusif
untuk 4 bulan (perbandingan risiko: 0.28).

DIAGNOSIS
Bronkiolitis adalah diagnosa klinis. Keterlibatan RSV pada setiap penyakit anak
tertentu dapat dicurigai pada berbagai tingkat kepastian dari musim tahunan dan adanya
wabah khas pada saat tersebut. Tanda lain yang mungkin membantu adalah umur anak (selain
RSV, satu-satunya virus respiratori yang sering menyerang bayi umur beberapa bulan
pertama adalah virus parainfluenza tipe 3) dan epidemiologi keluarga.
Masalah terbesar dalam diagnostik bronkiolitis adalah adanya kemungkinan
keterlibatan infeksi bersama dengan bakteri atau klamidia. Bila bronkiolitis ringan atau
infiltrat tidak tampak pada rontgen, ada kemungkinan infeksi komponen dengan bakteri. Pada
bayi usia 1 4 bulan, pneumonitis interstisial dapat disebabkan oleh klamidia trakhomatis.
Pada keadaan ini mungkin riwayat konjunctivitis dan penyakit cenderung subakut. Terdapat
keluhan batuk sering tetapi tidak ada mengi dan tanpa demam.
Konsolidasi tanpa tanda-tanda lain atau dengan efusi pleura dianggap berasal dari
bakteri sampai terbukti lain. Tanda-tanda lain yang mengarah pada pneumonia bakteri adalah
kenaikan angka neutrofil, depresi jumlah sel darah putih bila ada penyakit berat, ileus atau
tanda-tanda perut lain, demam tinggi dan kolaps sirkulasi.
Diagnosis pasti infeksi RSV didasarkan pada deteksi virus atau antigen virus dalam
sekresi pernapasan. Spesimen harus diletakkan di atas es dan langsung dibawa ke
laboratorium untuk diproses dengan deteksi antigen atau ditanamkan pada suatu sek yang
rentan. Aspirat mukus dari lubang hidung posterior (nasal washing) merupakan spesimen
yang optimal. Pulasan nasofaring atau tenggorok juga dapat diterima, aspirat trakea tidak
perlu.

DIAGNOSIS BANDING
Keadaan yang paling lazim untuk diagnosis banding bronkiolitis akut adalah asma,
satu atau lebih dari yang berikut ini mendukung diagnosis asma, riwayat keluarga asma,
episod berulang kali pada bayi yang samam mulainya mendadak tanpa infeksi yang
mendahului, ekspirasi sangat memanjang, eosinofilia dan respons perbaikan segera pada
pemberian satu dosis albuterol aerosol. Serangan berulang menggambarkan titil pembeda
yang penting kurang dari 5% serangan berulang bronkiolitis klinis mempunyai penyebab
infeksi virus. Wujud lain yang dapat terancukan dengan bronkiolitis akut adalah gagal
jantung kongesif, benda asing di dalam trakea, pertusis, keracunan organofosfat, kistik
fibrosis dan bronkopneumonia bakteri yang disertai dengan overinflasi paru obstruktif
menyeluruh.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap
Dengan hitungan jumlah sel darah lengkap jarang bermanfaat karena sel darah putih pada
umumnya di dalam batas normal atau naik dan hitung jenis mungkin normal atau bergeser ke
kanan atau ke kiri
Urin
Berat jenis urin dapat menyediakan informasi bermanfaat mengenai keseimbangan cairan dan
kemungkinan dehidrasi
Serum darah
Kimia serum darah tidaklah terpengaruh secara langsung oleh infeksi atau peradangan tetapi
dapat membantu menebak beratnya derajar dehidrasi
Analisis gas darah
Analisis gas darah mungkin diperlukan pada pasien yang sakitnya berat, terutama yang
menuntut ventilasi mekanik atau buatan
Radiologi
Foto sinar X dada cukup diperlukan meliputi foto anterior-posterior dan lateral, dapat terlihat
gambaran (tergantung berat ringannya penyakit)
o Hiperinflasi dan infiltrat yang tertutup, gambaran ini adalah nonspesifik dan mungkin
juga dapat pada gambaran pasien dengan sakit asma, pneumonia yang tidak lazim
atau karena virus dan aspirasi cairan
o Atelektasis fokal
o Gambaran udara yang terperangkap
o Gambaran sekat diafragma yang rata
o Peningkatan gambaran garis tengah antero-posterior
o Peribronchial Cuffing
o Foto sinar X dapat juga mengungkapkan bukti alternatif untuk diagnosa banding,
seperti pneumonia lobaris, gagal jantung kongetsif atau aspirasi benda asing
Pemeriksaan lainnya:
o Antigen Test pada nasal wash dapat mengungkap dengan cepat (pada umumnya di
dalam 30 menit) dan akurat (kepekaan 87% - 91%, ketegasan 96% - 100%) dalam
pendeteksian RSV
o Kultur positif dengan direct flourescent antibody, test hasil percobaan
mengkonfirmasikan infeksi karena RSV
o Nasal washing test harus diperoleh dari anak-anak yang diperlukan opname dan anak-
anak yang berhadapan dengan risiko berat
o Kultur RSV lebih sedikit sensitif (60%) tetapi spesifisitas mencapai 100%
o Panel karena virus yang berhubungan dengan pernapasan, kultur untuk RSV atau
virus lain atau pendeteksian dengan polymerase chain reaction mungkin bermanfaat
untuk pertimbangan yang berikut:
o Sebagai pemeriksaan konfirmasi lainnya
o Untuk mencari agen lain infeksius yang lain
o Karena tujuan epidemiologik


PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN
Penatalaksanaan
Bayi umur kurang dari 6 bulan dengan bronkiolitis akut dan distress pernapasan
sebaiknya dirawat di rumah sakit bila ditemukan kadar Sp02 kurang dari 92%, tidak dapat
mempertahankan hidrasi oral dan mengingkatkan angka respirasi atau mempunyai riwayat
penyakit kardio-respiratori yang kronik. Desaturasi di 40% 02 (3 4 l/menit) biasanya
muncul sianosis, gejala ekstra pulmonal, apnea dan asidosis merupakan tanda bayi di rawat di
ruang rawat intensif. Hipoksemia merupakan tanda kelainan laboratorium yang tampak untuk
itu diperlukan tambahan oksigen bagi pasien. Arah utama untuk pengobatan pasien dengan
bronkiolitis adalah dengan penggantian cairan dan suplemen cairan. Pada pasien tersebut
biasanya mengalami dehidrasi ringan dikarenakan berkurangnya asupan cairan dan banyak
kehilangan cairan melalui demam dan takipnea. Penggunaan cairan tambahan agar diawasi
agar tidak terbentuknya formasi edema paru. Terapi suportif adalah mendeteksi cepat bila ada
apnea dan memberikan perhatian khusus terhadap demam pada neonatus.
Pengobatan
Bronkodilator
Penggunaan bronkodilator merupakan kontroversi pada neonatus dan bayi. Pad atahun
1993 editorial dari Lancet masih tidak memperkenankan penggunaan bronkodilator pada
pasien-pasien bronkiolitis yang jelas tidak efektif. Kellner dkk, menyimpulkan bahwa
terdapat peningkatan ringan dari perbaikan sementara pada pasien dengan bronkiolitis sedang
sampai berat.

Kortikosteroid
Di samping aturan utama inflamasi sebagai patogenesis terjadinya sumbatan saluran
napas, kortikosteroid sebagai anti inflamasi tidak terbukti menguntungkan untuk
meningkatkan statusklinis pada studi klinis multi-instusional. Dibuktikan dalam penelitian
yang ada maka penggunaan dexamethasone atau glukokortikosteroid lain pada anak-anak
tidak dapat didukung. Nebulasi epinefrin (0.1 g/kgBB) ditemukan leih efektif daripada B-
agonis salbutamol pad abayi dengan bronkiolitis akut. Pada studi yang dilakukan Henderson
dkk, tidak ditemukannya peningkatan signifikan fungsi respirasi pada penggunaan inhalasi
adrenalin. Kesimpulan yang didapat bahwa adrenalin inhalasi tidak mengurangi obstruksi
saluran napas. Berdasarkan percobaan acak terkontrol untuk membandingkan subkutaneus
epinefrin dan nebulisasi epinefrin dengan plasebo ditemuakn peningkatan yang signifikan
pada pasien yang diterapi dengan epinefrin dalam hal peningkatan perbaikan oksigenasi dan
tanda klinis
Antikolinergik
Ipratropium bromide adalah zat antikolinergik dalam bentuk aerosol, tidak dapat
menunjukkan bukti dapat membantu dalam manajemen dari bayi yang sakit. Hal ini
menunjukkan tidak ada keuntungan klinis dibandingkan dengan pengobatan albuterol
tersendiri pada kasus bronkiolitis sedang sampai berat.
Antibiotik
Virus adalah etiologi utama pada bronkiolitis untuk itu penggunaan rutin dari
antibiotik sebaiknya dihindari untuk penyakit ini. Apabila bayi mengarah ke arah lebih buruk
dan menunjukkan kenaikkan dari hitung sel darah putih kedepannya menunjukkan tanda-
tanda sepsis, selanjutnya kultur bakteri dari darah, urin dan Liquor Cerebro Spinal (LCS)
sebaiknya diambil dan di follow up segera dengan pemberian antibiotik spektrum luas.
Penelitian yang dilakukan oleh Kupperman dkk, dari 156 bayi di bawah umur 24 bulan yang
sebelumnya sehat dengan sedikit demam dan menderita bronkiolitis, menunjukkan bahwa
bayi-bayi ini mau tidak mau menderita bakteremia dan menderita infeksi saluran kemih.
Penggunaan rutin dari antibiotik tidak menunjukkan perbaikan dari bronkiolitis.
Heliox
Heliox (campuran antara helium dengan oksigen) telah digunakan pada pasien asma
akut telah ada laporan kasus ang menyatakan dan menjelaskan tentang penggunaan heliox
pada bayi laki-laki umur 4 bulan dengan bronkiolitis positif RSV. Heliox mungkin
bermanfaat sebagai tambahan untuk terapi konvensional pada pasien bronkiolitis dalam
keadaan kritis. Bagaimana pun studi klinis dari terapi ini sangat diperlukan untuk mengetahui
keefektifan terapi ini. Hal ini dimungkinkan bahwa heliox dengan terapi nebulisasi dapat
sangat berguna pada bayi dengan bronkiolitis berat atau pasien terpasang intubasi dan tidak
merespon dengan terapi konvensional.

Ventilasi mekanik
Bayi dengan bronkiolitis kadang-kadang memerlukan ventilasi mekanik khususnya
pada kasus apneu berulang atau peningkatan usaha napas gagal napas. Terapi pada pasien
seperti ini adalah terapi suportif dengan pemberian oksigen yang adekuat baik Continous
Positive Airway Pressure (CPAP) dan Intermitent Mandattory Ventilation (IMV) dengan
Possitive End-distending Pressure (PEEP) telah digunakan dan sukses sebagai terapi pada
bayi tersebut. Pemberian susu pada hari ke-2 sampai ke-3 biasanya tidak suskes setelah
kesakitan berkurang, untuk itu pemberian susu dilakukan segera. Bayi dengan hipeksemia
progresif tidak merespon ventilasi konvensional biasanya merespon penggunaan ventilasi
frekuensi tinggi. Eksperimen terapi terkini untuk bayi dengan insufisiensi pulmonal dari
bronkiolitis meliputi surfaktan dan nitrit oksida.
Antivirus (Ribavirin)
Ribavirin (1 beta-D-ribafuranosyl-1,2,4-triazole-3-carbox-amide) adalah analog
nuklrosida sintetik yang menggabungkan guanosin dan inosin tampaknya dibuat untuk
mempengaruhi RNA massenger dan menghambat sintesis protein virus. Ribavirin
mempunyai spektrum luas aktivitas antiviral in vitro. Terapi ribavirin untuk infeksi RSV
masih kontroversial dikarenakan msaih ada penggunaan aerosol, harga yang relatif mahal,
toksisitas dan efek sampingnya.
Saat ini rekomendasi dari American Academy of Pediatrics (AAP) terapi dengan ribavirin
aerosol sedang didipertimbangkan untuk bayi-bayi dengan risiko tinggi penderita penyakit
karena RSV:
a. Di antara pasien dengan komplikasi penyakit jantung kongenitak termasuk di
dalamnya hipertensi portal, displasia bronkopulmonar, kistik fibrosis dan penyakit
paru kronik lainnya
b. Pasien yang menderita penyakit yang didasari oleh penyakit imun
c. Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan umur kurang dari 6 minggu dengan
penyakit penyerta seperti anomali kongenital multipel atau penyakit neurologi
metabolik
Kesimpulannya ribavirin merupakan terapi yang aman tetapi mahal, efisiensi dan
keefektifannya tidak tampak jelas menunjukkan dalam penelitian. Penggunaan ribavirin
secara rutin pada saat ini kurang direkomendasikan.

PENCEGAHAN
Penyebaran dari RSV kemungkinan terjadi karena kontak angsung dengan sekret
pasien yang terinfeksi. Pencegahan penting pada staf rumah sakit seperti perhatian khusus
terhadap kebersihan sekret pasien dan kebersihan badan petugas rumah sakit tampaknya
dapat mengurangi penyebaran RSV di rumah sakit. Saat ini menggunakan RSV
imunoglobulin intra vena pada dosis tinggi (500 750 mg/kgBB) tampaknya dapat mencegah
RSV pada pasien risiko tinggi sebagai tambahan RSV imunoglobulin intra venus dalam
bentuk aerosol dapat memberikan keuntungan pada pasien dengan bronkiolitis karena RSV.
Dalam penelitian baru oleh Rimensberger, dkk., menyimpulkan bahwa dosis tunggal RSV
imunoglobulin intra vena (0,1 gr/kgBB) tidak menunjukkan keuntungan untuk bronkiolitis
akut karena RSV. Saat ini tampaknya ada kerugian yang ditimbulkan oleh penggunaan
human polyclonal RSV imunoglobulin antibodi spesifik pada bayi. Hal ini meliputi
penggunaan secara intravena antara 2 4 jam. Insidensi tertinggi di rumah sakit pada kasus
bronkiolitis karena RSV terjadi pada bayi umur 2 5 bulan untuk itu vaksinasi dapat
menstimulasi keefektifan setelah bayi berumur 2 bulan.

PROGNOSIS
Bronkiolitis Akut
Fase penyakit yang paling kritis terjadi selama 48 72 jam pertama sesudah batuk
dan dispneu mulai. Selama masa ini, bayi tampak sangat sakit, serangan apneu terjadi pada
bayi yang sangat muda dan asidosis respiratorik mungkin ada. Sesudah periode klinis,
perbaikan terjadi dengan cepat dan seringkali secara drastis. Penyembuhan selesai dalam
beberapa hari. Angka fatalitas kasus di bawah 1%, kematian dapat merupakan akibat dari
serangan apneu yang lama, asidosis respiratorik berat yang tidak terkompensasi atau
dehidrasi berat akibat kehilangan penguapan air dan takipneu serta ketidakmampuan minum
cairan. Bayi yang memiliki keadaan-keadaan, misalnya penyakit jantung kongenital ,
displasia bronkopulmonal, penyakit imunodefisiensi atau kistik fibrosis mempunyai angka
morbiditas yang lebih besar dan mempunyai sedikit kenaikan angka mortalitas. Angka
mortalitasnya tidak sebesar pada bayi yang berisiko tinggi seperti di masa yang silam.
Perkiraan mortalitas pada bayi berisiko tinggi yang menderita bronkiolitis. RSV ini telah
menurun dari 37% pada tahun 1982 menjadi 3,5% pad atahun 1988. Komplikasi bakteri
seperti bronkopneumonia atau otitis media, tidak lazim terjadi. Kegagalan jantung selama
bronkiolitis jarang kecuali pada anak yang memiliki dasar penyakit jantung. Ada proporsi
yang bermakna bahwa bayi-bayi yang menderita bronkiolitis mengalami hipereaktivitas
saluran pernapasan selama akhir masa anak-anak, tetapi hubungan antara kedua hal ini, jika
belum ada dimengerti. Kesan bahwa satu episode bronkiolitis dapat mengakibatkan kelainan
seluran pernapasan kecil yang jangkanya sangat lama memerlukan pengamatan yang lebih
lanjut. Kelainan ini sebagian dapat dijelaskan melalui penemuan bahwa bayi yang memiliki
hantaran pernapasan total rendah lebih mungkin mengalami bronkiolitis dalam responnya
terhadap infeksi virus pernapasan. Bayi dengan bronkiolitis yang padanya
berkembangsaluran pernapasan reaktif kemungkinan besar mempunyai riwayat keluarga
asma dan alergi, episode bronkiolitis akut lama dan terpajan asap rokok.



Bronkiolitis Obliterans
Beberapa minggu setelah mulainya gejala-gejala awal, keadaan penderita pada
umumnya memburuk sampai meninggal tetapi kebanyakan bertahan hidup, beberapa anak
menderita kecacatan kronis.