Anda di halaman 1dari 21

KENTUT

Simbah Kakung (kakek) di kampung sering cerita tentang wayang saat saya kecil, karakter
wayang favorit beliau adalah Semar. Sebagai abdi dalm, Semar adalah perlambang rakyat
jelata, tak boleh disepelekan. Semar punya senjata, yang meski wagu tapi ganggu: kentut. Tapi
kentut bukan sembarang kentut, karenanya hanya dikeluarkan ketika sangat mendesak.
Begitu bertuahnya kentut Semar, tak cuma raja-raja, para dewa di Kahyangan juga tak akan bisa
hidup nyaman jika Semar sudah kentut. Senjata yang tak mematikan, tapi mengganggu.
Karena tujuannya memang bukan untuk membunuh, tapi to attract all attention. Bahwa rakyat
jelata juga bisa protes ketika tak lagi diperhatikan oleh penguasa.
Dan seperti kentut Semar, begitu jugalah demo, karena cuma itu senjata rakyat jelata. Jadi
kalau ada yang masih crigis dan iyig, bisa gak sih, demo gak pakai acara mengganggu, berarti
belum paham apa itu demo. Pengajian saja ada yang mengganggu kok, apalagi demo. Kalau
tidak mengganggu, namanya piknik.
Yang namanya demo memang harus mengganggu, kalau bisa, sampai ada sektor ekonomi yang
lumpuh biar dituruti. Istilahnya simbah: bargaining power, biar didenger. Demo itu memaksa,
bukan meminta. Dan kalau yang dipaksa adalah pemerintah, harap maklum kalau lebih
mengganggu, pemerintah Indonesia kan ndablg. Kalau ada yang merasa terganggu, harusnya
malah ikut demo, bukannya iyig dan crigis.
Tapi kalau ada yang menganggap kentut itu sepele, sama sepelenya dengan kenaikan harga
BBM yang cuma duaribu rupiah ini, berarti tak bisa kentut harusnya juga tak perlu jadi
masalah. Jadi kalau setelah ini pendidikan tidak makin murah, untuk yang
suka ngomong subsidi BBM lebih baik dialihkan untuk pendidikan, saya doakan semoga tak bisa
kentut selama sebulan.

SUPPORTER
Pada suatu masa tersebutlah sebuah negara nun jauh di antah-berantah, rakyatnya bertikai
satu sama lain karena rebutan kekuasaan. Golongan pertama tidak setuju atas presiden terpilih
hasil pemilu, mereka melakukan unjuk rasa menuntut diadakan pemilu ulang. Golongan kedua
tidak mau, mereka bersikukuh mengusung jagonya tetap jadi presiden.
Tak kunjung ada di titik temu, politik negeri itu memanas. Demo demi demo terjadi tiap hari,
baik yang kontra juga yang pro presiden. Karena kondisi makin tegang, tentara merasa harus
turun tangan, pemerintah dianggap tak mampu lagi menstabilkan keadaan, tak kunjung
berhasil menciptakan kepercayaan di golongan rakyat yang kontra.
Awalnya tentara berada di persimpangan: membela yang pro atau yang kontra, setiap
keputusan pasti ada akibat yang mengikuti di belakang, salah-salah jadi bumerang yang
menghantam jidat sendiri. Entah deal politik macam apa yang membuat tentara membela pihak
yang kontra, yang jelas akhirnya mereka mengkudeta presiden dan mengambil alih
pemerintahan.
Golongan yang pro tidak terima jago mereka dilengserkan, demonstrasi semakin intens, tak
jarang terjadi kontak fisik, baik dengan militer, maupun dengan golongan yang kontra. Gesekan
demi gesekan terjadi, benturan demi benturan tak dapat dielakkan, negeri itupun jadi
tontonan. Semua mata dunia tertuju ke sana, menantikan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Di sini juga tak mau ketinggalan. Sudah seperti supporter liga bola Eropa, mainnya di luar
negeri, yang menang orang luar negeri, yang kalah orang luar negeri, tapi yang
saling ngotot malah di sini. Suka heboh sendiri, semacam bakat sepertinya. Dan yang khas
supporter di sini itu, ribut-ribut di luar negeri sana yang murni duniawi: rebutan kekuasaan, jadi
agama urusannya jika supporter sini yang angkat bicara.
Supporter yang sungguh agamis, di mana segala arus habis bermuara di agama, pokoknya
tahu-tahu bisa sampai di sana entah bagaimana rimbanya. Ahli-ahli agama merangkap
pengamat geo-politik dadakan, tiba-tiba piawai berdalil tanpa perlu repot-repot kuliah
Hubungan Internasional segala, tanpa merasa rikuh-pekewuh juga tentunya. Othak-athik
gathuk? Entah, yang jelas, sekuler harom hukumnya.
Agama, igama, ugama. Apa itu agama? Bisa saja kita berdebat tentang semantik seharian, tapi
apapun itu, tak terlalu penting sebenarnya. Setiap tempurung kepala, punya hak untuk gaduh
dengan definisi masing-masing. Yang jelas, semua yang punya agama pasti sepakat, bahwa
agama mereka membawa tujuan baik. Itupun jika urusannya memang cuma perkara baik-tak-
baik.
Sejak manusia beranak-pinak dan berkembang jadi banyak, kebutuhan jadi bermacam-macam,
resource makin terbatas dan diperebutkan, masalah bermunculan, aneka kepentingan
berbenturan, sengketa tak terhindarkan. Peradaban membuat bermacam nilai untuk
menengahi: agama, adat, tradisi, norma, etika, mitos, isme, sampai negara.
Permasalahannya, setiap nilai adalah benda mati, semuanya punya kelemahan: selalu ada celah
yang bisa dicurangi. Ibarat pisau, tak perlu sampai bermata ganda, pisau dapur yang tujuan
dibuat sebagai alat memasak sekalipun, bisa merobek perut. Pun agama. Yang jelas, tanpa
beragama, manusia tetap bisa jadi baik. Tapi tanpa jadi baik, beragama juga percuma.
Namanya juga mengatur manusia, orang banyak, tak ada satupun nilai yang selalu pas dan
serba diterima, tetap ada yang harus disesuaikan. Entah karakter masing-masing, entah tingkat
pemahaman yang tak sama, perlu treatment yang berbeda untuk tiap-tiap kepala. Ada yang
perlu tuhan segala untuk jadi baik, ada yang masih perlu dipaksa untuk jadi baik, ada juga yang
cuma perlu pemahaman: bahwa manusia tak semestinya saling memangsa.
Tapi jualan agama tetap yang paling laris manis di sini, sudah seperti bisnis Multi Level
Marketing saja. Jangankan politik, perempuan boncengan ngangkang-pun bisa dicari-carikan
ayat sucinya. Apalagi perkara perempuan, di tangan mereka yang misoginis, agama sangat
niscaya dijadikan belenggu bagi perempuan, meski maksud tuhan sebenarnya pasti bukan
demikian.
Pada dasarnya, segala nilai adalah semata upaya, agar manusia jadi manusiawi. Namanya juga
upaya, kadang-kadang bisa gagal juga. Yang salah adalah ketika nilai yang sama-sama baik,
dipertentangkan satu sama lain, terlebih jika alasannya dikarenakan naluri hewani: kompetisi
dan menguasai. Memang benar kompetisi dan menguasai adalah hal yang serba alami, toh
tidak semua naluri alamiah harus selalu dituruti, karena yang alami belum tentu manusiawi.

FETISH
Setelah sekian lama, akhirnya ada iklan di TV yang benar-benar bisa membuat saya tersenyum,
alih-alih karena menghibur, justru karena merasa disindir. Tak ada adegan lucu dalam iklan
produk provider handphone tersebut, pun bintang iklannya bukan pelawak atau komedian
kondang, cuma anak-anak kecil yang bicara tentang bagaimana jadi dewasa.
Anak-anak kecil bicara bahwa jadi dewasa adalah dengan bersepatu bagus biar dikira orang
penting, padahal pekerjaannya tidak penting: fotokopi. Meskipun cuma iklan, tapi menjelaskan
dengan presisi yang sedang terjadi pada banyak orang, terutama kelas menengah yang sibuk
mengejar status, tanpa yang bersangkutan menyadari apa yang tengah dilakukannya sendiri.
Asosiasi tanda dan relasi makna, kalau kata Derrida. Manusia menerjemahkan sekeliling
berdasarkan tanda-tanda yang ditangkap oleh indra. Makin sering tanda muncul, makin kuat
makna yang terbentuk dalam benak kita, ingat: dalam benak kita. Makna dalam benak kita
hanyalah representasi, sedangkan keberadaan objek adalah presentasi. Permasalahannya
adalah ketika ketika kita sering meleset memaknai tanda, luput niteni ttngr, dan
representasi jauh dari presentasinya.
Keseringan luput memaknai tanda ini, jadi salah satu sebab yang mendorong pola
konsumerisme sebagai penanda status, bahwa identitas diri diterjemahkan dari komoditas yang
dikonsumsi. Si Fulan beli mobil bukan lagi karena punya keluarga besar yang sering bepergian,
melainkan karena Fulan ingin menunjukkan bahwa dia sudah sukseslah maka dia beli mobil.
Begitupun keluarga besarnya, melihat Fulan beli mobil sebagai tanda, dimaknai bahwa Fulan
memang sudah sukses.
Mobil sebagai tanda, sukses sebagai makna. Padahal boleh jadi Fulan beli secara kredit, boleh
jadi Fulan harus memotong anggaran belanja istri demi menutup cicilan mobil, boleh jadi
banyak kebutuhan lainnya yang harus dikorbankan. Yang penting tanda ada dulu, yang penting
makna yang muncul adalah sukses. Presentasi atau representasi?
Kata-kata dalam gambar di atas adalah potongan dari dialog film Fight Club, film lama yang
sebenarnya bagus dan banyak pelajaran penting, tapi sayangnya saya tak terlalu suka. Saya
lebih suka film-film kacangan semacam Ironman, yang kata Mas Madan, seorang teman dan
guru, nonton Ironman itu tak ubahnya makan krupuk: enak tapi tak ada gizinya. Kembali lagi
ke Fight Club, kata-kata utuh dari kalimat di gambar itu begini,
Man, I see in fight club the strongest and smartest men whove ever lived. I see all this
potential, and I see squandering. God damn it, an entire generation pumping gas, waiting
tables; slaves with white collars. Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we
hate so we can buy shit we dont need. Were the middle children of history, man. No purpose
or place. We have no Great War. No Great Depression. Our Great Wars a spiritual war our
Great Depression is our lives. Weve all been raised on television to believe that one day wed
all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we wont. And were slowly learning that
fact. And were very, very pissed off.
Untuk dikatakan orang penting, harus bersepatu mengkilat. Untuk dikatakan sukses, Fulan beli
mobil. Untuk memperoleh pengakuan atas status sosial, harus ada barang yang dibeli. Beli, beli,
beli. Siapa yang paling diuntungkan? Tentunya industri, produsen, para pemilik kapital. Lantas
apa konsumen berhak merasa bebas dari kesalahan?
Sulit rasanya mengelak dari dakwaan bahwa identitas, memang telah salah dilekatkan pada
barang-barang yang kita konsumsi. Seandainya barang-barang itu dilucuti, siapa kita? Betapa
rapuh konsep identitas yang selama ini kita pegang. Pemujaan terhadap tanda, luput
menerjemahkan makna. Sayangnya, yang demikian bukan barang baru lagi. Puluhan tahun lalu,
Karl Marx menyebutnya Commodity Fetishism.
Awalnya terminologi Fetish digunakan untuk tradisi pagan di Afrika, merujuk pada pemujaan
terhadap benda-benda yang dipercaya punya daya supranatural. Juga masyarakat Kristiani
Eropa, yang gemar menyimpan relik-relik peninggalan para santo (rambut, gigi, tulang, sobekan
pakaian, perabotan makan, dan semacamnya) karena dianggap bertuah. Belakangan,
kata Fetish dipakai dunia psikologi untuk pemujaan anggota tubuh atau barang tertentu secara
berlebihan terkait rangsang seksual.
Sementara Commodity Fetishism a la Marx, ditujukan untuk penghargaan pada komoditas yang
jauh melampaui nilai sebenarnya. Pemberhalaan. Representasi melampaui presentasi. Misalnya
begini, faktor pembentuk apa yang terakumulasi dalam harga sebuah komoditas? Secara
sederhana pasti biaya-biaya dan laba. Biaya-biaya meliputi biaya produksi, beban operasional
(iklan, pemasaran, dan lain-lain), dan beban lain-lain (pajak, misalnya).
Jika memang sesederhana itu, kenapa dua pakaian dengan model dan bahan yang sama, bisa
jauh berbeda harganya cuma karena yang satu branded dan satunya tidak? Karena
pemilik brand merasa komoditas yang dijualnya lebih punya prestige, sehingga pantas menjual
dengan harga jauh lebih tinggi. Selisih harga yang jauh, menjelma sebagai profit margin,
akumulasi laba yang besar.
Konsumenpun demikian, karena merasa baju yang branded akan meningkatkan gengsi personal
dihadapan orang lain, tak masalah mengeluarkan uang lebih banyak untuk beli barang serupa.
Terjadilah kesepakatan umum, bahwa komoditas yang branded harus lebih mahal dan elit
ketimbang yang tidak branded. Ilusi dari sebuah benda imajiner bernama harga diri, atas
nama brand.
Begitu juga dengan emas, kenapa harganya jauh lebih tinggi daripada besi? Apakah karena
langka? Atau mengkilat? Atau tak berkarat? Sementara besi, menyumbang banyak pada
peradaban manusia selama berabad-abad: peralatan masak, peralatan pertanian, jembatan,
konstruksi bangunan, sampai senjata. Tapi emas paling jauh cuma jadi maskawin.
Pada dasarnya, segala harga, termasuk harga diri, adalah metamorfosis dari nilai. Sementara
nilai adalah semata representasi subjektif manusiawi: kesepakatan-kesepakatan atas beraneka
rupa asumsi yang memadat jadi banderol bernilai dan tidak bernilai. Lain tidak. Karena
sejatinya tak ada sesuatupun, yang hadir di dunia ini dengan pongah, berteriak
memproklamirkan berapa nilai dirinya. Dan itupun jika saya tidak salah.

SABUNG AYAM
Dulu setiap Kliwon (hari pasaran Jawa), hampir selalu ada sabung ayam di pasar kampung dekat
rumah. Ramai teriakan pemilik ayam mendukung jagonya dari luar lingkaran, dua ayam jago
Bangkok bertarung makin sengit, saling menerjang satu sama lain, bulu-bulu leher yang tadinya
berdiri sangar, banyak yang rontok bertebaran bersama debu dan bau apek di udara. Sampai
salah satu ayam lemas, tak berani lagi bertarung.
Pemilik ayam yang menang tersenyum bangga, ayam jago digendong layaknya anak pertama,
digadang-gadang di depan para kolega. Penjudi-penjudi yang beruntung bertambah tebal
kantongnya, lumayan bisa beli martabak telur special untuk anak-istri di rumah. Sementara
yang kalah spekulasi, biasanya makin penasaran, silakan coba lagi.
Dari kecil saya selalu suka menonton sabung ayam, sampai kemudian merantau, jadi tak pernah
lagi. Tapi belakangan, ada yang kembali mengingatkan hiburan masa kecil itu. Adalah cerita dari
kawan-kawan yang bangga fotonya dipajang di dinding kantornya, Employee of the Month
Award, katanya. Menurut saya, ada kesamaan antara kawan-kawan dengan ayam-ayam
aduan tetangga di kampung. Melihat mereka, sama menghiburnya.
Ayo, jangan sampai kalah! Lawan! Lawan! Lawan!
Kiranya begitu teriakan supporter dan pemilik ayam untuk jago-jagonya. Seandainya para bos
perusahaan juga melakukan hal yang sama untuk para Employee of the Month, mungkin cuma
perkara redaksi yang beda. Tentu kosakata bos perusahaan tak bisa disamakan dengan
tetangga saya yang cuma tukang sabung ayam.
Tunjukkan kalian layak untuk terpilih, biar kami ada hiburan, biar kalian tak akan pernah tahu
ada posisi yang lebih nyaman di sini, di luar lingkaran manusia-manusia objek, di luar
tempurung kepala kalian sendiri. Teruslah berlomba, teruslah bekerja. Banting tulang, peras
keringat, biar kami tetap ongkang-ongkang kaki di atas punggung kalian. Teruslah onani
dengan fantasi yang kalian namai prestasi kinerja, biar profit kami makin besar. Percayalah,
kalian memang jagoan, jago-jago aduan.
Yang kalah, boleh jadi ayam sayur lebaran nanti. Yang menang, pasti terus diadu dengan jago-
jago lainnya, dalam perlombaan berikut-berikutnya, sampai akhirnya kalah dan dapat giliran
jadi ayam sayur lebaran. Tapi betapa seringpun menang, betapa panjangpun jalu, betapa
nyaringpun kokok, jago tetap jago, tetap ayam, tetap peliharaan, tetap cuma akan jadi hiburan,
tetap bukan majikan. Diadu untuk kesenangan orang lain, menangpun tetap pecundang.
Memang, makin kemari, kapitalisme makin menampilkan diri dengan make up yang begitu
anggun dan sexy. Jargon-jargon semacam integritas, profesionalisme, etos kerja dan
semacamnya, laris dijual. Seperti micro-chip yang ditanam kuat-kuat, atas nama produktifitas.
Tak cukup di situ, di antara pegawai juga dibakar naluri hewaninya: kompetisi. Yang menang,
ditimang-timang sebagai pegawai berprestasi. Dan yang kalah, jangan menyerah.
Penggunaan kata prestasi sendiri bukan tanpa tujuan, tapi disengaja untuk membangkitkan
rasa bangga. Jika sudah mengenai kebanggaan, tentu bukan lagi cuma perkara uang, bukan lagi
hanya bonus, bukan lagi sekadar reward. Fetish. Bangga karena terpilih, rumongso lebih dari
yang tak terpilih, adalah bangga meski cuma jadi objek. Selebih apapun, objek tetap
objek. Objek-objek yang saling bersaing antar sesamanya, untuk bisa jadi lebih, lantas layak
dipilih oleh sang subjek.
Berangkat dari asumsi bahwa yang terpilih lebih baik dari yang tidak terpilih, tercipta kasta-
kasta yang dikejar-hindari. Hingga perlombaan usai, pemenangnya kemudian masuk kasta
terpilih, yang berdasarkan kepercayaan umum: boleh berbangga diri. Seperti jago Bangkok
tetangga saya yang makin jumawa, membusungkan dada, mengepakkan sayap, lalu berkokok
lantang: kukuruyuk

PAPERLESS
Sebut media komunikasi digital yang akrab dengan kita, dari aplikasi semacam twitter,
facebook, blog, dan lain-lain, hampir semua orang yang membaca tulisan ini pasti tahu. Atau
sebut perangkat komunikasi elektronik yang pertama kali terlintas di pikiran, bisa dipastikan
semua akan tertuju pada kata handphone, tv, komputer, tablet, dan banyak lagi. Dimulai dari
beberapa dekade lalu, manusia memang terus menapak mantap memasuki jaman elektronik,
jaman ketika segala yang berbau digital menyebar seperti spora di musim hujan, dan perangkat
elektronik laris-manis melebihi kacang goreng di bus-bus metromini.
Dari sekadar untuk eksistensi basa-basi, sampai ke sudut-sudut birokrasi. Dari sekadar tempat
menumpahkan perasaan, sampai ke ekonomi dan perbankan. Dari sekadar berkirim kabar
dengan keluarga, sampai pada urusan transnasional lintas negara. Berangkat dari kenyataan
bahwa semua urusan sekarang haruslah serba cepat, serba praktis, serba efektif, serba efisien,
dan serba-serbi lainnya, lahirlah sesuatu yang kita sebut sekarang sebagai modernisasi, solusi
yang menjawab serba-serbi tuntutan umat manusia. Ya, manusia memang makhluk penuntut.
Wajah modernisasi sendiri awalnya tak seperti yang kita lihat sekarang. Berawal dari tangan
James Watt yang membidani lahirnya mesin uap, lantas temuannya diaplikasikan secara
massive hingga terjadi revolusi industri, tenaga manusia digantikan dengan mesin, banyak
buruh menganggur, sementara kebutuhan akan komoditas semakin meningkat. Tapi sehebat
apapun revolusi industri dan akibatnya, semua masih tetap sama: serba mekanis. Sampai
kemudian listrik ditemukan, temuan Michael Faraday ini kemudian dikawinkan dengan temuan
James Watt, perkawinan yang mengawali babak baru modernisasi.
Mendapat nutrisi baru, mendorong modernisasi bermetamorfosis makin menyeramkan,
teknologi makin perkasa, industri makin buas mencari mangsa. Bangsa-bangsa Eropa memulai
ekspansi, penaklukan demi penaklukan, perang demi perang, penjajahan demi penjajahan,
mengatasnamakan nasionalisme kulit putih: terpenuhinya lapar dan dahaga modernisasi
kapitalis yang tak puas-puas. Tak berhenti di sana, metamorfosis ternyata terus berlanjut.
Berangsur-angsur yang mekanik didominasi elektronik, yang manual dialihkan secara otomatis,
yang konvensional hijrah ke kontemporer, yang analog diganti digital. Tapi kemudian terlontar
pertanyaan, kenapa penggundulan hutan masih tetap berlanjut? Kenapa kebutuhan akan kertas
tak juga bisa dihentikan? Apakah kita tak bisa benar-benar paperless?
Paperless memang konsep yang terdengar indah dan mudah, semudah 1-2-3, terlebih di atas
kertas. Tapi teori tetaplah teori, prakteknya tak seindah dan semudah itu. Bisa saja kita katakan
sulitnya paperless adalah dikarenakan alasan legal, administrasi kita masih banyak memerlukan
tandatangan dan cap basah. Atau boleh jadi kita katakan bahwa lebih nyaman membaca
dengan kertas ketimbang media elektronik. Pun begitu, kertas adalah komoditas yang sangat
luas digunakan masyarakat, kertas adalah produk industri yang tak hanya remeh-temeh soal
kebiasaan, kenyamanan, atau soal domestik personal. Pun institusional, yang belum berani
melepas aspek legalitas tandatangan dan cap basah.
Susahnya mewujudkan konsep paperless, tentu harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas
dan menyeluruh: kerangka makro. Bahwa industri kertas bukanlah industri yang bisa dipandang
sebelah mata, terlebih jika dirunut dari sektor hulu ke hilir. Soal statistik, silakan cari datanya
sendiri, sehingga tak perlu ada pertanyaan-pertanyaan sepele seperti: Apakah bijak menutup
salah satu lapangan kerja ketika angkatan kerja produktif masih banyak yang menganggur?
Apakah bijak menutup salah satu sumber devisa ketika negara sendiri masih melata-lata di
antara kumpulan negara dunia ketiga lainnya? Bukan tidak setuju konsep paperless, tapi harus
dipikir masak-masak dan ditimbang baik-baik, karena sudah terlampau sering kita mengambil
langkah instant. Harus ada langkah jelas untuk jangka panjang: setelah ini, lantas apa? Paling
tidak, solusi pengganti untuk menyerap tenaga kerja, jika perkara devisa memang bukan
sesuatu yang penting.

KERAH PUTIH VS KERAH BIRU
Beberapa waktu lalu timeline twitter saya ramai dengan adu argumen tentang demo buruh
yang dilakukan oleh beberapa orang, berawal dari komentar seseorang pada portal berita yang
sepertinya merasa terganggu dengan adanya gerakan buruh yang bergerak menuntut
peningkatan kesejahteraan, lalu berlanjut semakin sengit setelah komentar tersebut
dikomentari lagi oleh pihak lain, entah yang pro, entah yang kontra. Ya, komentar atas
komentar, kritik atas kritik. Seperti biasa, yang pro atas demo buruh adalah kawan-kawan
aktivis atau sekedar pihak yang simpati dengan kehidupan buruh. Sedangkan seperti klise dan
mudah ditebak, yang kontra biasanya adalah kawan-kawan yang merasa kenyamanannya
terganggu, entah karena macet yang timbul sehingga mereka tak bisa ke tempat tujuan dengan
on time, entah sekadar karena pemandangan yang tak sedap di mata, entah sebab-sebab lain.
Sejauh yang saya ikuti sepanjang diskusi mereka, baik yang pro maupun kontra, sebenarnya
adalah sama-sama buruh. Buruh? Bukannya yang kontra kebanyakan adalah para
profesional/kelas menengah? Karena jika mereka sendiri buruh, kenapa merasa terganggu
dengan gerakan yang dilakukan oleh sama-sama buruh?
gaji itu sesuai sama prinsip ekonomi kok.. bukan buruh doang. pegawai swasta dan kantoran
juga begitu.
Ya, baik yang pro maupun kontra, mereka juga buruh. Termasuk kawan-kawan
profesional/kelas menengah yang ikut angkat bicara karena sedikit terusik kenyamanannya
adalah buruh. Karena siapapun yang menjual tenaganya kepada pemberi kerja adalah buruh.
Baik buruh tani, buruh mesin, buruh kantor, dengan bermacam sebutan seperti pekerja, tenaga
kerja, pegawai, karyawan, dan sebutan lain pada dasarnya semua sama: buruh. Bermacam-
macam jenis buruh ini ada, disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih,
yang membuat industri berkembang sedemikian kompleks, sehingga proses-proses di dalamnya
mengalami diverensiasi, termasuk dalam pembagian kerja, dan praktis tingkat salary juga
beragam. Dari beragamnya bidang pekerjaan dan tingkat salary itu, buruh seolah terbagi-bagi.
Kelas dalam kelas. Di antara kelas buruh pekerja kemudian dikenal istilah buruh kerah putih
dan kerah biru.
Secara serampangan, kerah putih adalah sebutan bagi buruh yang lebih banyak bekerja dengan
pikiran/otak daripada fisik/otot, kebanyakan berada dalam ruangan ber-AC yang nyaman dan
tidak terlalu banyak berkeringat, sehingga jika mengenakan kemeja dengan kerah putih akan
tetap putih karena tidak lekas kotor (misalnya para karyawan/pegawai kantoran, wartawan,
termasuk juga PNS). Sedangkan kerah biru adalah sebutan bagi buruh yang lebih banyak
bekerja dengan fisik/otot daripada pikiran/otak, menangani pekerjaan kasar, dan cenderung
lebih banyak berkeringat, sehingga secara konotatif dilambangkan dengan kerah biru, yang tak
terlihat lekas kotor daripada jika memakai kerah putih (misalnya supir, buruh pabrik, kuli, dan
sebagainya). Tidak hanya terjadi dalam bidang kerja, ternyata diverensiasi juga berlaku dalam
hal salary, perbedaan keahlian membuat yang berkerah putih diupah lebih daripada rekan
mereka yang berkerah biru.
Di samping soal keahlian dan tingkat pendidikan, perbedaan tingkat salary ini terkait dengan
terbatasnya jumlah buruh kerah putih, baik dibandingkan dengan permintaan pasar akan
tenaga mereka, maupun dibandingkan dengan buruh yang kerah biru, bahkan juga
dibandingkan dengan yang tak berkerah (pengangguran). Lagi-lagi soal supply vs demand, teori
ekonomi klasik yang terus didaur ulang oleh ekonom-ekonom kapitalis dari masa ke masa
sampai sekarang. Pada mulanya, teori ini hanya dimaksudkan untuk menganalisa tentang harga
komoditas, ternyata belakangan diterapkan juga pada upah (harga) tenaga kerja. Yang semula
diperuntukan untuk barang, sekarang juga dipakai untuk menghargai manusia, buruh telah
benar-benar disamakan dengan barang. Dan lebih jauh lagi, buruh kemudian dilekati predikat
aset biologis bagi perusahaan, yang meski dengan embel-embel biologis sekalipun, aset
tetaplah aset. Rupanya kapitalisme industri, dengan bermacam wajah dalam metamorfosisnya
dari waktu ke waktu, tetaplah makhluk yang begitu menyeramkan.
demand sekian banyak. lapangan kerja sedikit. kalau mau meningkatkan taraf hidup itu bukan
buruh doang parameternya.
Semula saya berpikir, yang terjadi pada sebagian kelas menengah, para buruh kerah putih,
para karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik itu hanyalah sebuah
gegar kesadaran kelas. Semua tahu bahwa proses perkembangan industri yang terjadi di
Indonesia berbeda dengan yang terjadi di tempat asalnya: Eropa. Industri di Indonesia tidak
mengalami siklus yang sempurna, yang secara urut bermula dari fase paling primitif sampai
begitu kompleks seperti sekarang. Industrialisasi kita adalah industrialisasi tiban, serba instan,
mendadak dan tiba-tiba. Kita terinfeksi wabah industri dari Eropa ketika industri memang
sudah berkembang sedemikian kompleks dengan pembagian kerja dan tingkat salary telah
sedemikian beragam. Seperti Orang Kaya Baru (OKB) yang mengalami shock culture, sebagian
kita juga mengalami hal yang sama, terutama kawan-kawan yang berkerah putih. Bedanya, jika
shock culture yang terjadi pada OKB berangkat dari kesadaran bahwa mereka telah naik kelas
menjadi borjuis sehingga harus merubah total gaya hidupnya secara dramatis dari yang semula
melarat, sedangkan yang terjadi pada buruh kerah putih justru berangkat dari ketidaksadaran
karena tidak mengalami fase-fase sejarah industri secara lengkap, sehingga dari awal mereka
tidak tahu bahwa mereka juga buruh. Tidak sadar kelas.
Tapi kemudian saya berpikir sekali lagi tentang dugaan saya yang sok pintar tersebut, karena di
samping prejudice dan stereotyping, lancang rasanya jika menyimpulkan bahwa yang
melatarbelakangi komentar sebagian kelas menengah, para buruh kerah putih, para
karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik itu hanyalah karena adanya
gegar kesadaran. Benarkah bahwa mereka yang menganggap bukan bagian dari kelas buruh
pekerja itu, hanya dikarenakan ketidaktahuan belaka? Lantas bagaimana dengan kesan yang
timbul selama ini bahwa mereka juga gagal paham atas asal-usul kenyamanan yang mereka
peroleh selama ini: menikmati cuti untuk liburan ke Bali, berakhir pekan dengan
sepeda Specialized kebanggaannya, mentraktir teman karaoke dengan rapelan uang lembur,
atau sekadar makan siang dengan tenang saat jam istirahat, dan masih banyak kenyamanan
lainnya? Apakah memang cuma ketidaktahuan? Apa iya komentar-komentar miring itu
terlontar karena murni ketidakpahaman? Bagaimana mungkin para kelas menengah, para
buruh kerah putih, para karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik itu
berkomentar dengan sangat gegabah tanpa benar-benar tahu apa yang sedang mereka
sendiri bicarakan? Akhirnya saya memaksa prasangka dan pertanyaan saya sendiri untuk
berdamai. Tidak mungkin para kelas menengah, para buruh kerah putih, para
karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik itu tak tahu remeh-temeh
semacam itu, ya, mereka mungkin memang hanya lupa. Lupa bahwa kenyamanan-
kenyamanan kerja yang mereka nikmati seperti cuti, libur di akhir pekan, tambahan uang
lembur, dan jam istirahat tersebut adalah hasil perjuangan yang meminta tumbal, darah dan
nyawa para buruh pekerja, bukan anugrah yang jatuh tiba-tiba dari langit. Jika memang lupa,
silakan baca lagi tentang sejarah May Day yang berdarah-darah itu. Saya rasa bukan sesuatu
yang terlalu memalukan bila seorang selebtwit berkenan meluangkan sedikit waktu dan
memanfaatkan fasilitas koneksi internet yang dimilikinya untuk sekadar membuka Wikipedia.
Sukur-sukur bisa menjadi bahan kultwit bukan?
ya kalau mau minta kenaikan yang make sense dong. UMR 2jt? really? sudah siap kerja lebih
keras?
Baiklah, daripada kita semakin terlalu jauh terjebak pada demagogi, mari kembali ke diskusi
twitter. Ada statement yang menurut saya menarik: ya kalau mau minta kenaikan yang make
sense dong. UMR 2jt? really? sudah siap kerja lebih keras? Kesan apa yang kita tangkap
dari statement tersebut? Apakah berlebihan jika saya katakan bahwa secara implisit tercium
hasrat eksploitasi? Jika bukan, lantas pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan?
Permintaan seperti apa yang make sense untuk orang yang hanya sekadar buruh? Apakah
karena nilai dua jutanya atau karena yang minta orang yang hanya sekadar buruh, sehingga ini
tidak make sense? Apakah memang untuk orang yang hanya sekadar buruh tak layak
memegang uang sebesar dua juta rupiah sehingga harus siap bekerja lebih keras? Apakah
pekerjaan buruh selama ini masih belum layak disebut keras? Bekerja lebih keras macam apa
lagi yang harus ditanggung di atas punggung mereka? Kali ini saya gagal berdamai dengan
pikiran saya sendiri. Saya jadi teringat Ramadan beberapa bulan lalu, ketika waktu itu saya
masih tinggal di Bintaro dan masih sesekali shalat subuh berjamaah di masjid komplek dekat
rumah. Sepulang dari masjid, saya berpapasan dengan Mas Budiman, tetangga yang tinggal di
kos-kosan dekat rumah di daerah Bintaro (Tangerang Selatan, bukan Jakarta Selatan) ini bekerja
di perusahaan swasta yang berkantor di Jl. Gatot Subroto Jakarta. Mas Budiman harus
berangkat kerja pagi-pagi sekali untuk menghindari macetnya Jakarta dan pulang sehabis isya
juga karena macet. Sementara itu, penghasilannya harus dibagi-bagi untuk bayar kos, makan,
transportasi, dan mengirim sisanya kepada keluarga di Brebes, itulah kenapa Mas Budiman
memilih tinggal di luar Jakarta padahal di Jakarta-lah beliau bekerja, tidak lain karena tarifnya
lebih terjangkau daripada kos di Jakarta yang relatif lebih tinggi. Mari kita buat hitung-
hitungan kasar. Bila tarif kos di daerah saya tinggal kira-kira Rp300.000,00; dan katakanlah
sekali makan di warteg habis Rp10.000,00 maka biaya makan tiga kali sehari selama sebulan
adalah Rp10.000,00 x 3 x 30 = Rp900.000,00; seandainya ongkos transportasi sehari adalah
Rp10.000,00 maka sebulan adalah Rp10.000,00 x 30 = Rp300.000,00; bila UMR Jakarta saat ini
(2012) sebesar Rp1.529.150,00, dikurangkan hitung-hitungan kasar saya tersebut, sisa
penghasilan Mas Budiman selama sebulan hanya tinggal: Rp1.525.150,00 (Rp300.000,00 +
Rp900.000,00 + Rp300.000,00) = Rp25.150,00 terbilang dua puluh lima ribu seratus lima puluh
rupiah saja, untuk tenaga dan waktu yang dihabiskannya dari sebelum adzan subuh hingga
lepas adzan isya. Dan dua juta tidak make sense! Tentu ini hanya hitung-hitungan kasar saya,
entah bagaimana caranya Mas Budiman tetap bisa mengirim uang untuk istri dan kedua
anaknya yang masih sekolah di Brebes. Belum lagi dipotong biaya pulsa, ongkos pulang
kampung, dan biaya tak terduga seperti pengobatan bila jauh sakit. Selanjutnya, mari kita lihat
statement-statement yang sangat akademis khas anak kuliahan yang masih saya kutip dari twit
mereka di bawah ini:
coba dengan gaji 2 juta ngerokok ga dia? Nyicil motor saama bb gak? Dia ga bisa ngatur
prioritas pengeluaran, maksa naik gaji.
Masalahnya adalah life style org endonesa yg borju. dah tau cm buruh, maunya bb an.. ya
bangkrutlah..
Borju? Entah bagaimana cara mereka menarik kesimpulan bahwa hanya dengan premis punya
BlackBerry maka lifestyle buruh dikatakan borju? Tiba-tiba saya jadi meragukan pemahaman
saya sendiri tentang apa itu borju, jangan-jangan saya yang kurang mengerti apa itu borju,
karena sepertinya tidak mungkin para kelas menengah, para buruh kerah putih, para
karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik ini tidak tahu apa itu borju,
baik secara leksikal maupun gramatikal. Tapi saya tak akan membahas tentang terminologi
borju di sini, karena ada yang lebih menarik, yaitu keberatan mereka jika buruh merokok, nyicil
motor, maupun punya BlackBerry yang lantas dibenturkan dengan kemampuan buruh
mengatur prioritas pengeluaran. Saya jadi makin bingung dengan logika berpikir yang mereka
pakai dan kembali bertanya, berapa sih harga BlackBerry sekarang? Bukannya di Roxy cukup
dengan dua ratus ribuan sudah bisa membawa pulang BlackBerry? Apa buruh memang dilarang
keras memiliki BlackBerry dan motor? Batasan macam apa yang membuat orang pantas
memiliki BlackBerry dan motor? Apa hanya kelas menengah yang berhak? Saya sempat berpikir
betapa semena-mena dan khas kelas menengah sekali satement tersebut, tapi kemudian buru-
buru saya sudahi karena tak ingin makin terjebak dalam stereotyping yang ad
hominem. Kembali ke hitung-hitungan kasar kita tadi, seandainya UMR memang bisa naik
sebesar dua juta rupiah perbulan, justru sangat hebat bila buruh dapat menyisihkan uangnya
untuk mencicil motor dan BlackBerry. Saya rasa seorang financial planner/advicer-pun akan
takjub dan geleng-geleng kepala, terlepas dari yang namanya prioritas pasti ada yang harus
dikorbankan dan entah apa yang mereka korbankan, karena itu sudah masuk urusan dapur
masing-masing yang serba privat. Pantaskah kita mengurusi dapur orang lain? Tentu itu retoris,
tak perlu dijawab. Kembali ke statement tadi, apa buruh memang dilarang keras memiliki
BlackBerry dan motor? Padahal BlackBerry dan motor juga bikinan buruh, jika iya dilarang,
maka logika mereka benar-benar ada keinginan untuk mengalienasi komoditas yang diproduksi
oleh buruh dengan pembuatnya sendiri. Semoga saja fungsi motor belum bergeser untuk gaya-
gayaan saja dalam logika mereka, karena dalam logika saya, bukannya kalau mereka punya
motor justru bisa menghemat pengeluaran transport sehari-hari?
kalau dianggap pengganti ongkos, harusnya nggak membebani dong.
Setelah kuliah manajemen keuangan dan skala prioritas di atas, logika saya kembali
dibenturkan sekali lagi dengan statement yang sangat akademis khas anak kuliahan soal ongkos
(cost) dan beban (expense). Kita kembali diterbangkan dalam terminologi-terminologi dunia
antah berantah. Pengganti ongkos gak boleh dianggap sebagai beban? Kita tidak sedang
membahas cost accounting kan? Kalau dalam menghitung Harga Pokok Produksi, memang
ongkos produksi adalah biaya, bukan beban. Tapi kita sedang membicarakan keuangan rumah
tangga, bukan korporasi. Konsumsi, bukan produksi. Semua pengeluaran rumah tangga, biaya
kah, beban kah, kredit kah, tunai kah, pengeluaran tetaplah pengeluaran. Apapun sebutan dan
jenisnya, yang jelas pengeluaran yang satu pasti akan menjadi variabel pengurang bagi
pengeluaran lainnya. Seandainya buruh tidak mencicil motor, justru efek ongkos transportasi
umum yang lebih besar akan mengurangi disposable income, entah logika macam apa lagi yang
mereka pakai kali ini. Sebenarnya tuntutan kenaikan UMR kan memang semata-mata
memperjuangkan kesejahteraan yang layak dan merata, kenapa justru lari kemana-mana? Dan
keberatan-keberatan tentang kenaikan UMR, bukannya bisa dinilai sebagai keberatan atas
meningkatnya kesejahteraan orang lain (buruh)? Bukannya bisa dinilai sebagai ketidaksetujuan
akan pemerataan kesejahteraan? Entah apa yang terlintas dalam benak mereka saat
mengucapkan statement semacam itu.
tapi kan utk memenuhi anak-istri, mana cukup 2 jt? ~> ya tau duit masih kurang, siapa suruh
berkeluarga? tanggungjawabnya mana?
Selain membenturkan logika dengan statement-statement yang sangat akademis khas anak
kuliahan seperti di atas, mereka juga meloncat ke soal tanggungjawab dan keluarga. Selain
buruh dilarang memiliki motor dan BlackBerry, juga dilarang memiliki keluarga? Apa hanya yang
ekonominya mampu saja yang boleh berkeluarga? Bukannya tuntutan kenaikan UMR tersebut
justru untuk memperjuangkan periuk nasi keluarga? Bukannya itu justru wujud komitmen dan
tanggungjawab pada keluarga? Kalau harus menunggu mampu versi mereka, bagaimana
dengan orang yang seumur hidupnya bekerja sebagai buruh? Apa mereka tak boleh
berkeluarga sampai akhir hayatnya? Saya jadi teringat dengan satpam komplek tempat saya
tinggal yang telah berusia lanjut.
kita masih banyak pengangguran, sarjana aja masih ada yang rela gaji 2jt. tingkatin
semuanya..
Sekali lagi mereka mengangkat supply vs demand, statement yang sangat akademis khas anak
kuliahan. Pertama membandingkan dengan supply pengangguran, lalu sarjana. Kalau buruh
harus menunggu tak ada lagi pengangguran di Indonesia untuk bisa sejahtera, mau berapa abad
lagi? Pertanyaan saya justru kenapa para kelas menengah, para buruh kerah putih, para
karyawan/pegawai kantoran yang pasti juga orang-orang terdidik ini tak curiga bahwa sistem
pendidikan dan ekonomi Indonesia memang sengaja didesain untuk menciptakan banyak
pengangguran? Bukannya dengan menciptakan banyak pengangguran maka upah buruh
terpaksa harus rendah? Lagi-lagi supply vs demand bukan? Dan lagi-lagi pengusaha yang
diuntungkan bukan? Praktis buruh yang dirugikan bukan? Toh kalau memang para sarjana rela
diupah dua juta, bukannya itu urusan mereka? Pun apakah kesejahteraan buruh harus
bergantung/menunggu yang sarjana lebih dulu sejahtera? Saya tidak berani menduga bahwa
ada yang gagal dipahami di sini, bahwa perjuangan buruh ini, selain untuk meningkatkan taraf
hidupnya, juga memperjuangkan upah yang adil dengan pekerjaan berat yang mereka lakukan,
yang menjadi timbunan rupiah di rekening para pengusaha, belum lagi bermacam resiko yang
harus ditanggung. Tuntutan kenaikan UMR adalah tuntutan kenaikan pembayaran minimal,
tuntutan mengangkat margin terbawah upah, kalau memang yang sarjana mau menuntut
kenaikan upah, kenapa tidak bergabung? Kemudian saya sedikit paham dengan logika yang
mereka pakai, logika kompetisi, survival of the fittest. Bahwa tidak semua boleh diupah dengan
layak, upah bukanlah sesuatu yang boleh disamaratakan. Harus ada kompetisi untuk itu, dan
yang menang idealnya selalu yang berpendidikan lebih tinggi. Sebuah logika bentukan tradisi
kapitalisme yang mengarah ke eksploitasi. Manusia melawan manusia, manusia mengalahkan
manusia, manusia memakan manusia. Homo homini lupus?
tenaga kerja kita gk banyak yang kreatif. bikin lapangan kerja sendiri gk bisa. maunya semua
jadi buruh. trus minta gaji setinggi langit
Lagi lagi statement yang sangat akademis khas anak kuliahan mempermainkan logika saya.
Seandainya mereka tidak lupa bahwa untuk menjadi kreatif dibutuhkan pengetahuan,
seandainya mereka tidak lupa bahwa akses pengetahuan yang dibutuhkan masih terbatas pada
yang mampu membayar uang sekolah, seandainya mereka tidak lupa bahwa kebanyakan buruh
adalah mereka yang tak mampu merasakan bangku kuliah, seandainya mereka tidak lupa
bahwa menciptakan lapangan kerja sendiri tak semudah mengetikkan jempol di keypad,
seandainya mereka tidak lupa bahwa tak ada yang bercita-cita menjadi buruh, seandainya
mereka tidak lupa bahwa mereka berdemo menuntut kenaikan UMR itu agar anak-anaknya
tetap bisa sekolah dan tidak harus seperti orang tuanya, seandainya mereka tidak lupa bahwa
dua juta rupiah itu jauh di bawah harga sepeda Specialized milik mereka yang setinggi langit itu.
Kalau memang tak bisa ikut serta memberi kontribusi apa-apa, paling tidak tak perlu menjadi
beban perjuangan rekan sesama buruh, cukuplah dengan tahu diri and S.T.F.U.

MACET
Menyambung tulisan yang lalu, lagi-lagi saya merasa perlu menulis tentang macet dan Jakarta.
Waktu itu Jumat pagi, hari pertama bagi saya untuk melapor di tempat kerja yang baru di
daerah Gatot Subroto. Dengan berboncengan sepeda motor bersama teman, saya berangkat
jam sembilan dari Bintaro, sampai kantor jam sebelas karena berkali-kali terjebak macet, dan
akhirnya dimarahi atasan karena telat lapor. Tapi tak jadi soal atasan yang marah. Yang jadi
pengalaman terpenting justru soal macet yang membuat stressed duluan, bahkan sebelum
menginjak lantai kantor dan menyentuh pekerjaan. Betapa perjalanan menuju tempat kerja
telah menjadi intro yang berat. Sepanjang jalan urat saraf selalu tegang, otak terus dipaksa
berpikir celah mana yang bisa kami selipi, sambil terus berhati-hati karena melaju dengan tidak
santai. Yang terjadi waktu itu adalah perjalanan penuh kompetisi antara sepeda motor, mobil
pribadi, dan kendaraan umum, juga kompetisi dengan detik jam dinding di ruang atasan yang
terus berputar. Seketika saya sedikit paham tentang dua hal, pertama adalah kenapa banyak
orang stressed hidup di Jakarta ternyata bukan semata soal beban kerja, dan yang kedua adalah
bahwa berita betapa seriusnya masalah kemacetan di media massa memang bukan perkara
sepele.
Pengalaman dengan macet menghadapkan saya pada kenyataan bahwa ini tak bisa dianggap
hal yang wajar, betapa masyarakat telah dibiarkan sekian lama menjadi tumbal atas
kesombongan Jakarta yang ambisius sebagai kota megapolitan tersibuk di Indonesia.
Bagaimana tidak? sebelum bekerja saja terlebih dulu disuguhi sarapan berupa kerasnya lalu
lintas, yang selain besarnya risiko kecelakaan, juga jadi ajang adu domba sesama masyarakat.
Adu domba? Ya, adu domba! Kebetulan saat itu saya melihat dengan mata kepala sendiri
adegan dua pengendara motor hampir saling bersenggolan di dekat stasiun Palmerah, berlanjut
adu mulut, lalu saling menghentikan kendaraan, dan entah apa lagi yang saya tak tahu karena
tak mungkin berhenti untuk menonton. Di atas motor yang melaju sampai kemudian berhenti
di parkiran kantor, saya terus berpikir. Kesimpulan yang saya dapat adalah: dua orang pengguna
jalan, saling menyalahkan satu sama lain, atas insiden yang terjadi karena serba keterpaksaan,
tanpa tahu siapa yang sebenarnya lebih patut untuk disalahkan. Sama seperti pengendara
mobil yang tanpa mau tahu dan stereotyping, menuduh pengendara motor sering ugal-ugalan.
Hanya karena mobil tak bisa untuk ugal-ugalan di ramainya Jakarta saja, makanya mereka
bebas menyalahkan, padahal andai mereka juga mengendarai motor, kemungkinan akan
berbuat yang sama. Tentu bukan salah satu dari mereka yang salah, karena kedua orang
tersebut sejatinya sama-sama korban, tak ada yang berniat menyenggol kendaraan lain. Dua
orang kolega pengendara motor itu adalah korban ketidakmampuan pemerintah mengatasi
kemacetan. Tentu pemerintah tak layak berdalih, meski tak ada niat menciptakan konflik antar
pengguna jalan, tapi kenyataan telah terjadi pembiaran sekian lama tidak bisa tidak, praktis
bukanlah ketidaksengajaan.
Adu domba terkait macet Jakarta ternyata bukan hanya antar sesama pengguna jalan, tapi juga
antara pengguna jalan dengan penduduk di sekitar jalan. Atika, dalam Perempuan Berbicara
Kretek: Kota Gila (2012) menceritakan keluh kesah Marjuki, seorang supir taksi paruh baya
beretnis Betawi yang lahir dan besar di Jakarta, tentang bagaimana dia dan keluarga dalam 10
tahun harus pindah rumah 4 kali dan 12 kali jika dihitung dari lahir. Marjuki harus berkorban
untuk perluasan jalan agar banyak mobil-mobil yang tak satupun miliknya, bisa lancar melewati
halaman rumahnya. Juga mall yang berdiri di atas bekas rumahnya yang tak satupun ada kios
miliknya. Pertambahan jumlah kendaraan sebanyak 1.172 unit perhari ternyata tak hanya
berdampak pada kemacetan namun punya dampak sosial yang luar biasa. Marjuki tak hanya
kehilangan kampung halaman namun juga kehilangan waktu untuk keluarga serta kehilangan
masa depan. Betapa sulit masyarakat Betawi menggelar acara pernikahan. Lahan kian sempit
karena harus direlakan untuk pusat perbelanjaan, real estate, dan pengembangan jalan,
membuat warga kerepotan mendirikan tenda pesta. Bagi orang yang tak mampu menyewa
gedung, satu-satunya opsi yang mereka punya adalah kembali pada tradisi: mendirikan tenda di
halaman rumah yang sebagian telah menjadi jalan. Tamu-tamu duduk bersisian dengan
pengguna lalu lalang kendaraan, musik dangdut beradu dengan klakson dan raungan gas
pengendara yang kesal karena macet.
Sebenarnya siapa yang harusnya marah? Bukannya kita yang harus ngorbanin pekarangan
demi buat lewat mobil-mobil itu? ujar Marjuki geram.
Selain kekesalan versi Marjuki, saya juga pernah membaca luapan kekesalan seseorang melalui
akun twitter-nya, dia memaki-maki sebuah majelis pengajian karena hobby menutup jalan.
Sekali waktu saya ceritakan ini pada seorang teman, ternyata konteksnya agak berbeda dengan
Marjuki. Jika warga Betawi seperti Marjuki menggunakan sebagian jalan (yang dulu tanah
mereka) untuk acara pernikahan, majelis tersebut justru menutup seluruh jalan, bahkan lebih
jauh: menutup perempatan dari setiap ujung (atau istilah teman saya, menutup keempat
penjuru mata angin) yang menuju tempat pengajian. Arogan memang, toh tetap pemerintah
tak bisa lepas dari tuduhan pembiaran, warga sama warga yang dibiarkan saling berebut satu
sama lain untuk menggunakan jalan, entah acara majelis tersebut menutup jalan dengan atau
tanpa ijin pemerintah.
Kalau mau diurai satu-persatu, penyebab macet di Jakarta ini apa sih? Apa masih kurang banyak
ruas jalan di Jakarta? Jelas tidak! Jakarta sudah terlalu banyak jalan. Apa kebijakan shift nomor
ganjil-genap akan berhasil? Mustahil! Itu over-simplifikasi, bukan solusi jangka panjang tapi
cuma tambal sulam, nasibnya akan sama seperti dagelan Three In One era Foke.
Menurut analisa saya yang (kata seorang teman) sotoy, kemacetan disebabkan karena
kolaborasi pemerintah, industri otomotif, perbankan, dan konsumerisme masyarakat yang
tinggi akan kepemilikan kendaraan pribadi. Pemerintah punya dua dosa besar dalam andilnya
menciptakan kemacetan. Dosa pertama adalah sama sekali tak ada upaya untuk
meningkatkan transportasi umum yang nyaman, kalaupun ada yang nyaman, jumlahnya
terbatas dan harga tak terjangkau untuk semua orang. Selain kenyamanan, yang tak dimiliki
oleh transportasi umum di Jakarta adalah jaminan ketepatan waktu dan belakangan,
keamanan. Dari buruknya kualitas dan kurangnya kuantitas itu, transportasi umum sama sekali
tak bisa diandalkan. Anehnya, ada wacana penghapusan kereta ekonomi yang baru-baru ini
ramai dibincangkan. Yang terlintas di benak saya adalah, mau jadi apa lagi Jakarta nanti jika
salah satu transportasi umum paling ramai justru dihapus? Tak semua orang rela mengeluarkan
Rp16.000,- perhari hanya untuk membayar Kereta Commuter PP. Dengan enambelas ribu
rupiah tiap hari, bukannya lebih hemat mengendarai motor sendiri yang tak sampai sepuluhribu
rupiah bensin perhari? Itu artinya jumlah motor akan makin berlipat ganda. Dan ini baru soal
kekhawatiran tentang macet, belum lagi bicara soal kemiskinan baru yang bisa timbul kalau
kereta ekonomi jadi dihapus. Selain perkara transportasi umum, dosa pemerintah berikutnya
adalah pajak terkait otomotif yang dipungut terlalu rendah, sementara keran regulasi dibuka
lebar-lebar dengan dalih mendorong industri otomotif di Indonesia, menjadikan Jakarta sebagai
pasar yang sangat menggairahkan.
[2]

Pajak yang rendah, regulasi longgar, carut-marutnya transportasi umum, serta kebutuhan
masyarakat akan kenyamanan dan ketepatan waktu, tumpukan permasalahan yang saling
silang sengkarut ini lantas dijawab oleh industri otomotif dengan sangat bernafsu. Industri
melempar produk-produk generik ke pasar, baik motor maupun mobil, bahkan beberapa
pabrikan besar akhir-akhir ini saling berlomba menjual mobil harga seratus jutaan. Lantas di
mana posisi perbankan? Tentu saja soal kredit. Bank dan perusahaan pembiayaan tak mau
ketinggalan acara bagi-bagi kue, kredit dikucurkan gila-gilaan untuk memfasilitasi keinginan
masyarakat tersebut. Kendaraan yang memang sudah murah, dipermudah lagi dengan sistem
cicilan yang memanjakan masyarakat, menjadikan punya kendaraan sendiri terdengar paling
masuk akal.
Seolah terkesan ada pihak yang ingin memelihara kemacetan, karena macet adalah pasar yang
bagus, adalah sumber uang yang tak boleh dibubarkan. Orang bukan lagi bertanya tentang
kenapa bisa macet atau bagaimana menghentikannya, tapi lebih kepada bagaimana
mengakali macet dan dengan sendirinya menerima macet sebagai sesuatu yang wajar.
Masyarakat (seolah dikondisikan secara sengaja) harus punya kendaraan sendiri, tak ada
pilihan lain dan tak bisa tidak, menjadi pembenaran bagi fetishisme yang ditumbuhkan melalui
iklan di media. Commodity fetishism. Perkara punya kendaraan sendiri yang mulanya
berangkat dari kebutuhan, sekarang jadi prestise dan bagian gaya hidup. Beli, beli, beli! Semua
serempak membeli, serempak tumpah di jalan, serempak saling memacetkan diri. Dan menjadi
korban tanpa disadari. Yang awalnya hendak mengelabuhi macet, justru dikelabuhi oleh jerat
konsumerisme, menjadi sapi perah industri otomotif. Bukannya terbebas malah semakin
terkepung oleh macet yang sejatinya adalah kendaraan pribadi masing-masing.
Bagi saya, sejak dulu sampai sekarang, Jakarta adalah kota yang paling membosankan, tak
menarik, dan jauh dari manusiawi. Satu-satunya yang saya kagumi hanyalah stamina orang-
orangnya, baik penduduk Jakarta, maupun yang hanya bekerja di Jakarta. Banyak orang dari
daerah yang kerja di Jakarta, justru memilih tinggal di luar Jakarta. Kota-kota satelit seperti
Depok, Tangerang, Bekasi, bahkan Bogor menjadi pilihan favorit karena on-cost yang lebih
hemat. Hal ini tak hanya berlaku hanya bagi buruh kerah biru saja, ternyata buruh kerah
putihpun sama. Buruh kerah putih, atau lebih populer disebut kelas menengah, juga terpaksa
tinggal di luar Jakarta demi alasan ekonomis. Biaya tinggal di Jakarta terlalu mahal bagi gaji para
pekerja, kerah putih sekalipun, terlebih yang kerah biru. Resikonya adalah harus menjadi
korban bulan-bulanan macet setiap hari. Jika Marx menjuluki tempat kerja para buruh pada
masanya sebagai Dantes Inferno versi sekuler, yang terjadi di Jakarta justru para buruh sudah
mengalami neraka sejak mereka keluar rumah.
[3]
Masyarakat selalu adalah korban, seperti dua
pengendara motor di Palmerah juga korban, seperti Marjuki supir taksi juga korban.
Pertanyaannya: mau sampai kapan dikorbankan? Apa kota lain juga ingin meniru Jakarta?

KOBOI-KOBOI BERKULIT COKELAT
Bayangkan ada Koboi datang dan berkata Hey orang Indonesia, hisaplah ini enak skali! .
Orang Indonesianya menghisap lalu berkata wah benar enak sekali, anda suka juga?. Ooh
saya tidak suka, karena tidak baik untuk kesehatan saya.. jawab si koboi sambil berlalu dengan
kudanya.
Kenapa harus koboi?
Beberapa hari lalu seorang teman membagikan sebuah link yang ternyata menuju sebuah
artikel tulisan Pandji Pragiwaksono yang berjudul Jawab si koboi sambil berlalu dengan
kudanya, sebuah tulisan yang menyajikan data-data statistik tentang rokok yang sebagian
diambil dari YLKI. Sebelum melanjutkan membaca tulisan saya ini, akan lebih baik bila membaca
tulisan Pandji lebih dulu di sini. Adapun kutipan di atas adalah paragraf terakhir dari tulisan
tersebut yang entah diniatkan sebagai provokasi halus atau sekedar anekdot pamungkas yang
lumayan satir sebagai penutup yang manis untuk melengkapi opininya_kalau tidak boleh
disebut sebagai esei semi-ilmiah. Yang menarik bagi saya adalah ketika Pandji menggunakan
kata koboi, tentunya ini bukan tanpa maksud, jadi saya ingin membahas kata koboi ini dulu
sebelum membahas data-data yang ditawarkan Pandji dalam artikelnya tersebut.
Koboi adalah sebutan yang diberikan kepada gembala di peternakan yang berada di Amerika
Utara. Secara tradisional mereka menggunakan kuda dan sering melakukan berbagai pekerjaan
di peternakan tersebut. Koboi Amerika pada akhir abad ke-19 menjadi figur yang
melegenda.
[1]
Kata koboi juga sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang
sembrono atau mengabaikan risiko potensial, tidak bertanggungjawab atau melakukan
pekerjaan berbahaya dengan tidak berhati-hati.
[2]
Sebagai contoh, Majalah TIME mempunyai
artikel sampul yang merujuk kebijakan luar negeri Presiden George W. Bush sebagai Diplomasi
Koboi.
[3]
Tapi menurut saya, koboi yang dimaksudkan Pandji bukan itu, melainkan suatu
metafor untuk perusahaan-perusahaan rokok (yang hanya sebagian saja yang berasal) dari luar
Indonesia. Kata koboi ini menurut saya bersayap. Tendensius. Pesan apa sebenarnya yang
ingin ditampilkan oleh Pandji dengan pemakaian kata koboi tersebut? Apakah Pandji ingin
menyampaikan bahwa rokok adalah sesuatu yang sangat tidak Indonesia? Atau mungkin lebih
tegas lagi, bahwa rokok sangat bertentangan dengan budaya asli Indonesia, kearifan lokal
Indonesia, nasionalisme bangsa, atau apalah itu namanya?
Rokok, secara umum kita mengenal adanya rokok kretek dan rokok non-kretek. Rokok kretek
adalah rokok dengan campuran rempah-rempah yang terdiri dari cengkeh dan saus lainnya
untuk memberi cita rasa yang kaya pada rokok. Kelebihan rokok kretek itulah yang menjadi ciri
khas pembeda dengan rokok non-kretek. Orang sering salah kaprah mengartikan bahwa kretek
adalah rokok tanpa filter, sedangkan rokok berfilter adalah non-kretek. Yang benar adalah,
rokok kretek terdiri dari kretek dengan filter dan kretek tanpa filter. Sedangkan rokok non-
kretek dewasa ini, sejauh yang saya temui di pasaran Indonesia, semuanya telah menggunakan
filter. Kenapa saya menyampaikan tentang tetek-bengek kretek dan non-kretek? Selain untuk
meluruskan kesalahkaprahan, juga untuk mengingatkan bahwa kretek adalah produk asli
budaya nusantara. Ya, nusantara, karena kretek sudah lebih dulu ada sebelum negara yang
bernama Indonesia ini didirikan. Saya ragu kalau Pandji tidak tahu tentang hal-hal tersebut.
Sebenarnya juga terlalu lancang, tapi harus saya akui bahwa artikel Pandji tersebut benar-benar
membuat orang tergelitik untuk mempertanyakan apakah Pandji lupa bahwa kretek adalah
produk asli budaya nusantara, sampai-sampai harus menggunakan kata koboi dalam
artikelnya?
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
Setelah membaca tulisan Pandji tersebut, saya iseng share link artikel tersebut pada beberapa
teman, selain untuk mendengar komentar mereka. Salah seorang teman yang juga aktivis
pembela kretek menyebut bahwa validitas data YLKI yang dipakai Pandji dalam tulisannya
ternyata pernah mendapat bantahan keras dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI)
Temanggung. Tapi saya tidak akan membahas ketidakvalidan data YLKI ataupun perselisihan
antara YLKI VS APTI di sini.
Terlepas dari polemik tentang data YLKI, saya ingin menyoroti tentang sikap YLKI, berarti juga
sikap Pandji, dalam melihat industri rokok. Mungkin perlu saya sampaikan bahwa tulisan saya
ini adalah tulisan dari sudut pandang seorang konsumen. Saya bukan pemilik pabrik rokok,
bukan buruh yang kerja di industri rokok, bukan aktivis pembela rokok, bukan anggota LSM
rokok, bukan orang bayaran perusahaan rokok, bukan pedagang rokok, bukan juga petani
tembakau atau cengkeh. Posisi saya di sini adalah murni sebagai 100% konsumen rokok. Dan
sebagai konsumen, sangat pantas rasanya kalau saya menanyakan sikap dan komitmen YLKI
dalam konteks ini.
Pertanyaan-pertanyaan saya sebagai konsumen kepada YLKI adalah sebagai berikut, di
manakah posisi YLKI dalam kasus ini? Konsumen rokok manakah yang mereka bela hak dan
tanggung jawabnya? Karena sesuai yang tertulis di site resminya, tujuan berdirinya YLKI adalah
untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya
sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya. Alih-alih meningkatkan
kesadaran kritis konsumen (rokok) tentang hak dan tanggung jawabnya, kesan yang terlihat
oleh saya justru data-data yang mendiskreditkan industri rokok belaka sebagai produsen. Di
mana letak upaya meningkatkan kesadaran kritis konsumen (rokok) akan tanggung jawab itu?
Di mana letak upaya meningkatkan kesadaran kritis konsumen (rokok) akan hak itu? Tidak
ada kan? Apakah salah kalau saya menyimpulkan bahwa dengan data-data tersebut, justru ada
upaya YLKI untuk mematikan rokok, yang berarti juga memberangus hak konsumen untuk
menikmati rokok? Logika macam apa yang dipakai YLKI untuk memandang konsumen rokok?
Bukannya justru YLKI membela hak konsumen untuk merokok?
Statistics, a pack of beautiful lies
Data-data YLKI di tulisan Pandji itu menyebutkan bahwa sumbangan terhadap lapangan kerja
pada tahun 2007, industri rokok hanya menduduki peringkat ke-48, sedangkan pertanian
tembakau menduduki peringkat ke-30 diantara 66 sektor. Secara nasional, jumlah tenaga
kerja industri tembakau dan petani cengkeh adalah kurang dari dua persen dari jumlah
pekerja di semua sektor. Apa yang bisa kita baca dari data tersebut? Dengan gegabah, orang
pasti menjawab betapa tidak terlalu signifikan andil industri rokok pada perekonomian
Indonesia. Tapi bukan itu. Kalau kita cermati lebih jauh, ada semacam over-simplifikasi atau
penyepelean yang dilakukan oleh YLKI, bagaimana tidak? YLKI (dan Pandji) menyebutkan
industri rokok menduduki peringkat 48, pertanian tembakau peringkat 30, jumlah tenaga kerja
keduanya ditambah dengan petani cengkeh kurang dari dua persen, dan semuanya ditampilkan
dengan kata hanya. Bagaimana bila yang hanya dua persen itu ditampilkan secara jumlah
per-kepala saja? Apakah masih pantas memberi embel-embel hanya? Dan penyepelean itu
semakin diperparah dengan diambilnya jumlah dari sektor hulu saja, kalau memang mau fair,
kenapa tidak jumlah tenaga kerja dari hulu sampai ke hilir? Lantas iseng-iseng saya coba
mencari data alternatif, ternyata ada yang menyebut bahwa industri kretek menghidupi 30,5
juta jiwa.
[4]
Seandainya kita ingat dengan jumlah pengangguran di Indonesia saat ini, apakah
yang 30,5 juta jiwa tenaga kerja yang diserap industri rokok ini masih layak ditampilkan dengan
kata hanya?
Sedangkan dari upah yang diterima, pekerja industri tembakau menduduki peringkat ke-37
dengan rata-rata upah Rp 662.000 perbulan. Upah buruh tersebut sama sekali tidak menjamin
mobilitas vertikal ekonomi para buruh, karena hanya cukup untuk biaya makan. Seharusnya
terdapat studi lebih lanjut untuk melihat berapa belanja iklan perusahaan dibandingkan dengan
biaya untuk upah buruh. Komparasi ini akan menjadi penting guna melihat bagaimana industri
rokok membelanjakan pendapatannya.
Kutipan di atas juga masih dari tulisan Pandji, ada yang salah di sana, komparasi antara rata-
rata upah buruh dengan belanja iklan perusahaan? Apakah YLKI (dan Pandji) pernah juga
sebegitu isengnya mencari komparasi semacam itu pada industri lain? Apakah hasilnya
berbeda? Bagi yang pernah belajar ekonomi atau akuntansi, upah buruh masuk ke dalam cost
sedangkan belanja iklan masuk ke dalam expense. Adalah sangat wajar dan hampir selalu,
dalam sistem ekonomi kapitalis, korporasi menekan cost dan expense serendah mungkin untuk
memaksimalkan profit, termasuk menekan upah buruh serendah mungkin (dalam hal ini adalah
UMR). Dan negara mengijinkan itu. Bukankah begitu rendahnya upah buruh tidak bisa terlepas
dari UMR? Bukankah UMR adalah kebijakan pemerintah? Lantas siapa yang salah bila upah
buruh industri rokok sedemikian rendah? Saya rasa komparasi tersebut sangat tidak relevan.
Sementara petani tembakau pendapatannya lebih rendah lagi, yaitu Rp 81.397 per bulan. Dari
upah yang sangat rendah tersebut dapat diketahui bahwa petani tembakau dari jaman Belanda
hingga sekarang relatif stagnan status ekonominya, selalu dalam kemiskinan struktural.
Bicara petani, kita harus bisa bedakan antara petani pemilik tanah pertanian atau petani yang
cuma buruh tani, ini yang tidak dapat dijelaskan oleh angka statistik tersebut. Sekali lagi,
penyepelean. Apakah Rp 81.397 perbulan itu rata-rata penghasilan semua jenis petani secara
hantam kromo? Atau cuma petani pemilik tanah? Atau petani yang buruh tani? Kalau itu adalah
penghasilan semua jenis petani atau cuma petani pemilik tanah, kenapa mereka tidak banting
stir ke usaha lain yang lebih menjanjikan? Kalau itu hanya penghasilan petani yang buruh tani,
apakah ini hanya terjadi kepada petani tembakau saja? Apakah petani yang menanam selain
tembakau berpenghasilan lebih dari Rp 81.397 perbulan? Apakah memang cuma rokok semata-
mata yang jadi biang kerok? Bagaimana dengan sistem ekonomi yang tidak banyak berpihak
kepada petani yang buruh tani? Dengan begitu banyaknya ketidakjelasan data_kalau tidak
boleh disebut dangkal, apakah tidak terlalu gegabah mengatakan petani tembakau dari jaman
Belanda hingga sekarang relatif stagnan status ekonominya dan selalu dalam kemiskinan
struktural? Bagaimana dengan petani yang bukan tembakau?
Selain itu, nilai kompetitif tembakau dengan produk pertanian lainnya juga dipertanyakan,
karena sekarang ini hasil pertanian produk pangan seperti beras, jagung dan kedelai, sawit, kopi
dan sebagainya sedang tinggi-tingginya di pasar dunia.
Penyepelean lagi-lagi terjadi untuk kesekian kali, membandingkan nilai kompetitif antara
tembakau dengan beras, jagung, kedelai, sawit, kopi, dan sebagainya? Saya tidak berani
mengatakan kalau penyepelean orang-orang YLKI atau Pandji (?) karena kekurangtahuan
akan dunia pertanian. Setiap tanaman pertanian memiliki karakteristik yang berbeda-beda,
begitupun dengan syarat hidupnya. Temanggung misalnya, dengan kondisi tanah, iklim, dan
ketinggiannya sangat cocok untuk tembakau, apa jadinya kalau tembakau diganti dengan
sawit? Saya belum pernah mendengar ada sawit yang bisa hidup di Temanggung. Kalaupun
diganti tanaman lain, apakah tanaman itu bisa menghasilkan lebih baik dari tembakau bila
ditanam di Temanggung? Betapa penyepelean bisa menjadi sangat konyol bukan? Tentang
ini, saya jadi ingat dosen mata kuliah statistika saya dulu. Pernah suatu hari, dengan bahasa
Inggris yang sangat terbatas, beliau mengakhiri kuliah dengan sebuah kalimat, Statistics is no
more than a pack of beautiful lies.
Koboi dan sebatang rokok
Hari masih terasa panas di Amerika sore itu meski matahari sudah hampir tenggelam. Sesekali
dia mengelap keringat di ujung hidungnya yang mancung, sesekali juga menggaruk kepala yang
sebenarnya tak gatal, sambil terus menatap nanar pada tumpukan dagangan di gudang yang
semakin sulit dijual. Koboi jaman sekarang bukan lagi koboi yang mengejar sapi atau saling baku
tembak, koboi jaman sekarang adalah koboi yang gila berdagang. Pasar dagangannya pun
bukan sebatas Amerika, tapi dunia. Sayang, akhir-akhir ini dagangannya kurang laku karena ada
saingan berat, orang menyebutnya kretek. Setelah lama berpikir, si koboi tua mendapat ide.
Dia akan merekrut orang-orang kulit coklat dari Indonesia, negeri tempat kretek diproduksi,
meski si koboi harus mengeluarkan biaya besar untuk itu. Orang-orang kulit coklat itu kembali
ke Indonesia. Dengan topi koboi, kemeja kotak-kotak, celana jins belel, dan sepatu bergerigi,
tapi tanpa kuda, koboi-koboi baru berkulit coklat itu berteriak-teriak kepada orang-orang
sebangsanya, bahwa mereka akan mati bila terus merokok, rokok tak akan laku di Indonesia,
kretek pun mati. Tak apalah bila daganganku juga ikut tak laku, paling tidak cuma di Indonesia,
di tingkat dunia aku tetap jadi raja, koboi tua itu bergumam sambil menutup pintu gudang,
meludah sekali, lalu sebuah senyum aneh menghiasi wajahnya yang keriput. Matahari
tenggelam, Amerika telah sepenuhnya malam saat si koboi berlalu dengan kudanya.