Anda di halaman 1dari 10

ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

Hak dan Kewajiban Pasien




Disusun oleh:
KELOMPOK 1
Gadis Wulandari 25010111120041
Muflikhatun U 25010111120067
Riska Auliawati Q 25010111120057
Zulinar Firdaus 25010111130113
Khairun Nisa 25010111130128
M.Abdurrahman S 25010111140261
Ajeng Retno 25010111140264
Kurnia Wahyu U 25010111140279
Nikmah Putri 25010111140280
Risnawati Valentina 25010111140315

BAGIAN ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
I. Pendahuluan
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia karena tanpa
kesehatan yang baik, maka setiap manusia akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya
sehari-hari. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Bila salah satu dari keadaan sehat yang disebutkan tidak terpenuhi seseorang dikatakan
sakit.
Pasien adalah orang dengan kebutuhan-kebutuhan yang sangat jauh berbeda dari orang
sehat. Kebutuhan-kebutuhannya pada saat itu bukan saja sangat menonjol tetapi mungkin
sudah dalam tingkatan ekstrim. Tidak saja harus makan agar penyakitnya cepat sembuh
tetapi harus disuapin. Tidak saja harus diberi obat tetapi harus disertai perhatian ekstra.
Bagi pasien kebutuhan yang paling menonjol bukanlah yang berkaitan dengan harga diri
atau untuk diakui kehebatannya tetapi adalah kebutuhan belongingness and social needs.
Merasa dicintai, didengarkan, tidak dianggap sebagai orang yang menyusahkan saja dan
tidak pula diperlakukan sebagai manusia yang tidak berguna (Tobing, 2008).
Pasien mempunyai dua sisi seperti mata koin ada hak dan kewajiban yang harus
dipenuhi agar semakin cepatnya seseorang menjadi sehat. Oleh karena itu, pada makalah
ini akan dibahas mengenai hak dan kewajiban dari seorang pasien yang berdasar pada UU
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32
UU 44/2009), UU no. 29 Tahun 2004 : UU tentang Praktik Kedokteran dan lain-lain.

II . Hak Pasien
Menurut Declaration of Lisbon (1981): The Rights of the Patient disebutkan
beberapa hak pasien, diantaranya hak memilih dokter, hak dirawat dokter yang bebas,
hak menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi, hak atas kerahasiaan,
hak mati secara bermartabat, hak atas dukungan moral atau spiritual.
Menurut H.j.j. Leenen, hak pasien yang bersifat umum dapat dirinci sebagai berikut:
1. Hak atas perawatan dan pengurusan perawatan;
2. Hak menolak cara perawatan tertentu;
3. Hak untuk memilih tenaga kesehatan dan rumah sakit;
4. Hak atas informasi;
5. Hak menolak cara perawatan tanpa ijin;
6. Hak atas rasa aman dan tidak diganggu (privacy);
7. Hak atas pembatasan terhadap pengaturan kebebasan perawatan ;
8. Hak untuk mengakhiri perjanjian perawatan.

Selain hak-hak pasien yang bersifat umum tersebut ada juga hak-hak pasien psikiatris,
hak pasien psikiatrisini dibagi menjadi dua, yaitu hak pasien psikiatris yang dirumah
sakitkan secara sukarela dan yang dipaksakan. Hak-hak pasien psikiatris yang dirumah
sakitkan secara sukarela adalah sebagai berikut:
1. Hak untuk mengadakan komunikasi secara bebas;
2. Hak atas perlindungan pasien lain yang membahayakan;
3. Hak atas perlindungan terhadap paksaan;
4. Hak untuk mendapatkan upah atas pekerjaan yang dilakukannya;
5. Hak memiliki barang-barang yang diperolehnya dirumah sakit karena bekerja.

Bagi pasien yang dirumahsakitkan secara terpaksa (dipaksa) mempunyai hak-hak
sebagai berikut:
1. Hak untuk mendapatkan penjelasan tentang hak dan kewajiban hukum;
2. Hak mendapatkan perawatan ahli lain (di luar rumah sakit tempat ia dirawat).

Sedangkan menurut keputusan hukum kesehatan, hak pasien dirinci sebagai berikut:
1. Hak atas informasi;
2. Hak memberikan persetujuan;
3. Hak memilih dokter;
4. Hak memilih sarana kesehatan (RS);
5. Hak atas rahasia kedokteran;
6. Hak menolak pengobatan/perawatan;
7. Hak menolak suatu tindakan medis tertentu;
8. Hak untuk menghentikan pengobatan;
9. Hak atas second opinion (pendapat kedua);
10. Hak melihat rekam medis.

Hak butir a dan b tersebut dinamakan informed Consent. Dari hak-hak pasien
tersebut dimuka, ada dua hak yang sangat penting, sebagai dasar atau tumpuan hukum
kedokteran, yaitu hak menentukan nasib sendiri dan hak atas informasi.
Hak pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan termasuk perawatan juga
tercantum pada UU Kesehatan No 23 Tahun 1992 yaitu:
1. Pasal 14 mengungkapkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatan
optimal.
2. Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas informasi, rahasia kedokteran,
dan hak opini kedua.
3. Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan ganti rugi karena
kesalahan dan kelalaian petugas kesehatan.

Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 4-8 disebutkan
setiap orang berhak atas kesehatan, akses atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan,
lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yg seimbang dan bertanggungjawab, dan
informasi tentang data kesehatan dirinya. Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu
diantaranya meliputi:
1. Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak sadar,
penyakit menular berat, gangguan jiwa berat).
2. Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs, kepentingan ybs,
kepentingan masyarakat).
3. Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa
atau cegah cacat).


Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada Pasal 52
juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:
1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud
dalam pasal 45 ayat 3, yaitu
a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. Alternatif tindakan lain dan resikonya;
d. Risiko dan komplikasi yang mukin terjadi; dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.
3. Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis.
4. Menolak tindakan medis.
5. Mendapatkan isi rekam medis.

Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU 44/2009)
menyebutkan bahwa setiap pasien mempunyai hak sebagai berikut:
1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.
4. Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional.
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian
fisik dan materi.
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang
berlaku di rumah sakit.
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second
opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah
sakit.
9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya.
10. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
11. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak
mengganggu pasien lainnya.
14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah
Sakit.
15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan
yang dianutnya.
17. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.
18. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan
melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Secara rinci, hak pasien adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan pelayanan kesehatan optimal / sebaik-baiknya sesuai dengan standar
profesi kedokteran.
2. Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakit dan tindakan medis yang akan
dilakukan dokter / suster.
3. Hak memilih dokter dan rumah sakit yang akan merawat sang pasien.
4. Hak atas rahasia kedokteran / data penyakit, status, diagnosis dll.
5. Hak untuk memberi persetujuan / menolak atas tindakan medis yang akan dilakukan
pada pasien.
6. Hak untuk menghentikan pengobatan.
7. Hak untuk mencari pendapat kedua / pendapat dari dokter lain / Rumah Sakit lain.
8. Hak atas isi rekaman medis / data medis.
9. Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan kritis.
10. Hak untuk memeriksa dan menerima penjelasan tentang biaya yang dikenakan /
dokumen pembayaran / bon / bill.
11. Hak untuk mendapatkan ganti rugi kalau terjadi kelalaian dan tindakan yang tidak
mengikuti standar operasi profesi kesehatan.

III. Kewajiban Pasien
Kewajiban adalah sesuatu yang harus diperbuat atau yang harus dilakukan oleh
seseorang atau suatu badan hukum. Di bidang pelayanan kesehatan di rumah sakit ada 3
(tiga) pelaku utama yang berperan, yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban.
Ketiga pelaku utama tersebut adalah pasien, dokter dan rumah sakit. Pengaturan hak dan
kewajiban tersebut, telah ditentukan dalam berbagai peraturan perundang-undangan antara
lain :
1. UU no. 44 Tahun 2009 : UU tentang Rumah Sakit pasal 31 dan 32
a. Setiap pasien mempunyai kewajiban terhadap Rumah Sakit atas pelayanan yang
diterimanya.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pasien diatur dengan Peraturan Menteri.

2. UU no. 29 Tahun 2004 : UU tentang Praktik Kedokteran pasal 50 dan 51
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban :
a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan;
d. Memberikan imbalan atas pelayanan yang diterima.

3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. YM.02.04.3.5.2504 Tahun
1997 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit
a. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib
rumah skait
b. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan perawat dalam
pengobatannya.
c. Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang
penyakit yang diderita kepada dokter yang merawat.
d. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas
jasa pelayanan rumah sakit/dokter
e. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.
4. UU Kesehatan no 23 tahun 1992
a. Memberi keterangan yang jujur tentang penyakit dan perjalanan penyakit kepada
petugas kesehatan.
b. Mematuhi nasihat dokter dan perawat
c. Harus ikut menjaga kesehatan dirinya.
d. Memenuhi imbalan jasa pelayanan.


DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-9551, VOL. II, NO. 2, OKTOBER 2008, Hal 89-106. Dari skripsi
Yani1, Sri Sugiarsi2, Rohmadi2 dengan judul : Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang
Hak Dan Kewajiban Pasien Atas Informasi Medis Pasien Rawat Inap Kelas Iii Di Rumah
Sakit Pku Muhammadiyah Karanganyar.
Surat edaran DirJen Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban
Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004
Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI
Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. YM.02.04.3.5.2504 Tahun 1997 tentang
Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit
UU Kesehatan no 23 tahun 1992
UU no. 29 Tahun 2004 : UU tentang Praktik Kedokteran pasal 50 dan 51
UU no. 44 Tahun 2009 : UU tentang Rumah Sakit pasal 31 dan 32

UU perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999
Hal ini mengingat bahwa hubungan antara perawat dan pasien kontraktual, adanya jasa
asuhan keperawatan yang disepakati bersama, dan juga mengingat ada kecenderunagan
konsumerasi pelayanan kesehatan yang memandang pasien atau klien sebagai konsumen
pelayanan kesehatan. Salah satu hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang nyaman, aman,
dan selamat.

Hak-hak pasien yang paling menonjol dalam hubungannya dengan pelayanan kesehatan, yaitu
(1) rekam medis, (2) persertujuan tindakan medis, (3) rahasia medis. Ketiga hak tersebut dengan
tiga doktrin kesehatan ( Poernomo, 2000).