Anda di halaman 1dari 40

ifikasi dan bahan-bahan eksternal

Kanker prostat
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalamsistem
reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar
kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya,
terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapa menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air
kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya.
Jumlah kanker prostat sangat bervariasi di dunia. Namun jarang terjadi di Asia Timur dan Selatan; sering
terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.
[1]
Menurut American Cancer Society, kanker prostat paling jarang
di pria Asia dan paling sering terjadi di orang hitam, dan orang Eropa di tengahnya.
[2]


[sunting]Referensi
1. ^ IARC Worldwide Cancer Incidence StatisticsProstate. JNCI Cancer Spectrum. Oxford
University Press. Retrieved on 2007-04-05 through the Internet Archive
2. ^ Overview: Prostate CancerWhat Causes Prostate Cancer? American Cancer Society (2006-
05-02). Retrieved on 4007-04-05
[sunting]Pranala luar
Prostate Cancer Research Foundation of Canada
Malecare Prostate Cancer Support
Prostate Cancer Foundation
National Institute on Aging Information Center
National Prostate Cancer Coalition (NPCC)
Procure: Prostate cancer. The healing begins with awareness.
Prostate Cancer Treatment Information


Prostat adalah kelenjar eksokrin pada sistem reproduksi binatang menyusui jantan. Fungsi utamanya
adalah untuk mengeluarkan dan menyimpan sejenis cairan yang menjadi dua pertiga bagian dari air mani.
Prostat berbeda-beda dari satu spesies ke spesies lainnya dalam hal anatomi, kimia dan fisiologi.
Pembesaran prostat adalah gejala umum yang diderita kaum lelaki di atas usia 50 tahun. Pembesaran
terjadi di bagian tengah dari kelenjar prostat yang mengelilingisaluran kencing (uretra). Pembesaran
kelenjar prostat yang berkelanjutan dapat mengarah ke tahap yang lebih serius sampai ke kanker prostat.

Prostat
MENGENAL LEBIH JAUH GANGGUAN PROSTAT

Gangguan prostat merupakan salah satu penyakit yang ditakuti di kalangan pria usia lanjut. Betapa tidak?
Kelenjar prostat sering menimbulkan masalah dalam kehidupan kaum pria. Berdasarkan data, tidak
kurang dari 70% pria usia lanjut mengalami kanker prostat. Biasanya kanker prostat mulai mengintai pria
umur 50 tahun, dan sepuluh tahun kemudian sering mengganas.

MENGENAL PROSTAT
Prostat adalah suatu kelenjar pada pria yang terletak di antara tulang kemaluan dan poros usus. Akibat
rangsangan hormon testosteron yang diproduksi testis, prostat menghasilkan cairan semen. Prostat
mengelilingi saluran kemih bagian atas, tempat mengalirnya air seni dari kandung kemih ke luar.
Ketika seorang pria memasuki pubertas, ukuran prostatnya sebesar buah kenari. Ukuran ini adalah normal
dan tidak menekan saluran kemih. Pria menjelang usia 50 tahun, sebagian besar mengalami pembesaran
prostat yang menyebabkan saluran kemih tertekan sehingga pengeluaran air seni menjadi sulit dan lambat.
Hambatan ini membuat kandung kemih harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan air seni,
mengakibatkan otot dinding kandung kemih menebal dan ukuran kandung kemih membesar. Bila keadaan
ini tidak segera diatasi, pengeluaran air seni tidak tuntas dan sisa air seni yang tertinggal dapt
mengakibatkan infeksi kandung kemih yang bisa menjalar ke ginjal sehingga kerja ginjal terganggu.

AKIBAT PEMBESARAN PROSTAT.
Pembesaran prostat mengakibatkan seringnya buang air kecil dengan gejala pancaran air seni melemah
dan tidak tuntas. Rasa ingin buang air kecil sering muncul. Jika dibiarkan pembesaran prostat dapat
menjepit saluran air seni yang semakin lama bertambah buruk sehingga anda tidak mampu lagi
mengeluarkan air seni.

ANEKA MASALAH PROSTAT
Hipertrofi.
Pembesaran kelenjar prostat disebut hipertrofi..Pembesaran ini merupakan keluhan prostat yang banyak
ditemukan, disebabkan oleh pertumbuhan, jaringan prostat ke dalam uretra (saluran air seni ) sehingga
menyempitkan rongga uretra. Bila pertumbuhan jaringan ini bertambah besar, uretra menjadi semakin
terjepit, aliran senipun terhambat.
Prostatitis
Peredangan prostat akibat infeksi. Peradangan ini sering menyertai hipertrofi prostat jinak. Infeksi prostat
juga mengakibatkan pembengkakan jaringan prostat sehingga menghambat aliran air seni. Pada
prostatitis, air kencing sering bernanah, terasa panas saat buang air kecil dan ejakulasi.
Kanker
Kanker prostat biasanya dimulai dari bagian permukaan kelenjar prostat. Kanker prostat bisa teraba pada
saat pemeriksaan. Jaringan prostat normal akan terasa lunak, sedangkan tumor atau kanker ganas akan
terasa lebih keras. Harus diwaspadai bahwa kanker prostat seringkali tidak menimbulkan sumbatan pada
aliran air seni.

PEMERIKSAAN PROSTAT
Banyak pemeriksaan fisik atau laboratorium yang harus dilakukan untuk mengetahui gambaran lengkap
kondisi prostat anda. Pemeriksaan ini meliputi : riwayat medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan lain yang dapat menunjang hasil pemeriksaan.

RIWAYAT MEDIS
Biasanya dokter akan bertanya kepada anda keluhan-keluhan yang dihadapi, penyakit lain yang sedang
anda alami, riwayat penyakit dalam keluarga, alergi terhadap obat tertentu dan pengobatan apa yang
pernah anda jalani.
Pemeriksaan fisik.
Dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur yaitu perabaan terhadap prostat melalui lubang dubur.
Perabaan ini dapat mendeteksi adanya pembesaran atau kelainan yang terjadi pada prostat. Menurut
Rainy, pemeriksaan colok dubur ini merupakan pemeriksaan yang mudah dan murah dalam mendeteksi
kanker prostat dengan ketepatan sampai 21-53%.
Pemeriksaan laboratorium.
Untuk mengetahui gangguan prostat banyak pemeriksaan laboratorium yang tersedia, di antaranya Tes
PSA ( Prostate Specific Antigen ), tes darah dan urinalisis ( pemeriksaan air seni ).

TES PSA
Tes PSA digunakan untuk mendeteksi kadar protein spesifik dalam darah. Tingginya kadar protein
tersebut dapat menunjukkan kemungkinan kanker prostat. Perkumpulan kanker di Amerika Serikat ( the
American Cancer Society ) menganjurkan agar setiap pria yang berusia 50 tahun ke atas menjalani tes
PSA.

TES DARAH
Tes darah juga bisa mengetahui penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh terbentuknya kumpulan air
seni yang tertahan akibat pembesaran prostat.

URINALISIS
Pemeriksaan air seni penting untuk mengetahui tanda-tanda gangguan prostat. Kelainan yang ditemukan
pada air seni dapat menimbulkan adanya infeksi di uretra atau kandungan air kemih.
Berdasarkan hasil yang ditemukan dari pemeriksaan di atas, dokter menganjurkan untuk menjalankan
pemeriksaan seperti di bawah ini untuk memastikan diagnosa.

IVP
( Intra Venous Pyelogram ) adalah pemeriksaan terhadap saluran kemih dengan sinar-X, untuk
mendeteksi adanya gangguan pada sistem saluran kemih seperti batu ginjal atau tumor kandungan kemih.

SISTOSKOPI adalah pemeriksaan pada kandungan kemih dan prostat dengan menggunakan alat yang
dinamakan sistoskop, untuk menditeksi penyebab sumbatan pada kandung kemih.

ULTRASOUND ( USG ) adalah pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara untuk memperoleh
gambaran tiga dimensi dari organ yang di periksa. Efektif untuk mengetahui dan mengukur besarnya
prostat maupun tumornya.

MRI ( Magnetik Resonance Imaging ) dan CT ( Computed Tomography )
Merupakan suatu metode pemeriksaan yang akurat untuk memperoleh gambaran jaringan prostat secara
jelas.

PERENCANAAN TERAPI
Setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil pemeriksaan, dokter akan memberikan terapi yang sesuai.
Ketika prostat dalam taraf infeksi dan merenggang, biasanya dokter meresepkan obat yang harus di
konsumsi sedikitnya selama seminggu.selain itu juga dokter akan menganjurkan istirahat total ( bed rest )
dan banyak minum. Namun jika terdapat hipertrofi prostat jinak, pengobatan yang diberikan di sesuaikan
kondisi dan gejala yang anda alami.

PERLUKAH OPERASI?
Jika anda mengalami pembesaran prostat, sangat sulit buang air seni terjadi pendarahan, fungsi ginjal
menurun, atau infeksi berulang di kandung kemih, anda mungkin merupakan calon pasien yang perlu
menjalani operasi prostat alias prostatektomi.

APA ITU PROSTATEKTOMI ?
Prostatektomi adalah pembedahan untuk mengangkat jaringan tumor pada prostat. Sebagian besar operasi
ini berhasil menghilangkan sumbatan yang memperbaiki aliran air seni. Berdasarkan penelitian, operasi
ini juga tidak menggangu kemampuan seksual anda.

Operasi prostat ada 2 macam :
TUR ( Trans Urethmal Resection ). Sebuah alat yang dinamakan resektoskop dimasukkan melalui
saluran kencing batang penis. Melalui ini memungkinkan dokter untuk melihat daerah prostat dan
sekitarnya, dan memotong jaringan tumor yang menyumbat saluran kemih. Setelah itu dilakukan
pembilasan dengan air dan jaringan tumor dikeluarkan melalui resektoskop.
Prostatektomi terbuka. Operasi ini dilakukan dengan cara menyayat bagian perut. Operasi semacam ini
bisa mengangkat jaringan tumor dan batu kandung kemih sekaligus. Dokter akan mengangkat
jaringan tumor melalui kandung kemih (suprapubik), melalui dinding kelenjar prostat ( retropubik ),
atau melalui daerah perineum, yaitu daerah di antara buah zakar dan dubur.

Setelah operasi selesai, kateter akan dipasang melalui batang zakar. Keteter ini berfungsi untuk menjaga
agar aliran air seni tetap lancar. Biasanya kateter ini dipasang selama 2-4 hari (setelah operasi TUR) atau
1 minggu ( setelah operasi prostatektomi terbuka).

MASA PEMULIHAN
Penyembuhan setelah operasi memerlukan waktu 2-6 minggu. Selama masa penyembuhan, dianjurkan
banyak minum cairan untuk menguras isi kandung kemih. Bulan pertama setelah operasi TUR mungkin
anda akan mengalami pendarahan akibat terkelupasnya jaringan bekas luka operasi di dalam kandung
kemih. Dengan bed rest dan banyak minum, biasanya pendarahan akan cepat berhenti. Apabila setelah 6
minggu masih banyak pendarahan segeralah ke dokter.

BIO ENERGY POWER TERHADAP PROSTAT.
Pembesaran Prostat maupun hipertrofi, protatitis dan kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh karena
gangguan metabolisme tubuh serta mengganasnya bakteri dalam tubuh. Bio Energy Power bekerja
dengan memperbaiki metabolisme tubuh dan melipat gandakan kualitas antibodi dalam membuang
bakteri yang mengganas. sehingga operasi dapat dihindarkan. seandainya operasi masih harus tetap
dilakukan maka latihan Bio Energy Power akan lebih meningkatkan keberhasilan operasi tersebut.


Pemeriksaan Untuk Mendeteksi Kelainan / Pembesaran Prostat Jinak
Men's Health Tue, 06 Jan 2004 09:34:00 WIB
Untuk mendeteksi adanya kelainan/pembesaran prostat dilakukan beberapa prosedur pemeriksaan.
Pemeriksaan klinis penderita pembesaran prostat jinak harus disusun secara teliti dan biasanya dilakukan
dengan urutan sebagai berikut :

Anamnesis

Keluhan utama dan tambahan yang biasanya terdiri dari tanda-tanda iritatif dan obstruktif. Gejala iritatif
berupa sering kencing (frequency), tergesa-gesa ingin kencing (urgency), kencing malam hari (nocturia),
kencing sulit ditahan (urge inkontinen). Sedangkan gejala obstruktif berupa pancara yang lemah, terakhir
kencing tidak puas, kencing harus menunggu lama (hesistancy), mengedan (straining), kencing terputus-
putus (intermittency), dan overflow. Gejala-gejala tersebut biasanya disusun dalam bentuk skor simptom
yang dapat menggunakan skor Madsen Iversen atau dengan International Prostate Scoring System (IPSS).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik secara umum dan patut dicari apakah terdapat kelainan atau kondisi yang dapat menjadi
kontra indikasi apabila dilakukan terapi pembedahan.

Status urologi yang perlu diperhatikan ialah apabila ada pembesaran ginjal yang dapat diraba atau nyeri
ketok daerah ginjal yang menunjukkan adanya obstruksi, apakah vesika urin teraba penuh dan penting
diperiksa apakah ada kelainan pada genitalia eksterna seperti kelainan uretra, orifisium uretra, fistula,
pada uretra atau perineum. Apakah ada hernia inguinalis atau skrotalis yang sering ditemukan sebagai
komplikasi mengedan pada penderita pembesaran prostat jinak. Pemeriksaan fisik yang terpenting ialah
pemeriksaan colok dubur atau yang dikenal dengan Rectal Toucher (RT) atau Digital Rectal Examination
(DRE). Pada pemeriksaan colok dubur ini dinilai pembesaran atau penonjolan prostat, apakah batas atas
prostat dapat dicapai dengan jari, jika masih dapat diraba diperkirakan besar jaringan prostat kurang dari
60 gram. Juga dinilai konsistensi prostat, apakah lunak, kenyal, adakah nodul atau bagian yang keras.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang terpenting ialah darah tepi, serum kreatinin, Prostate Specific Antigen
(PSA) dan elektrolit. Di Indonesia di mana prevalensi karsinoma prostat rendah, maka untuk mencegah
biopsi prostat yang tidak perlu maka cut off level (ambang) PSA ialah 8 ng/ml dan daerah kelabu ialah
bila PSA diantara 8 ng/ml sampai 30 ng/ml dan indikasi biopsi prostat pada penderita dengan PSA antara
8 ng/ml sampai 30 ng/ml ialah bila PSAD (PSA Density) = 0,20. Sedangkan bila PSA > 30 ng/ml
merupakan indikasi biopsi prostat.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang sebaiknya dilakukan, ialah mengukur pancaran urin maksimal (Maximal
Flow Rate, Q max) dengan alat flowmeter, pengukuran sisa kencing yang tertinggal di dalam vesika
urinaria dengan kateter atau dengan USG trans-abdominal (tidak invasif). Dengan USG trans-abdominal
juga dapat digunakan untuk mendeteksi bagian prostat yang menonjol ke buli-buli yang dapat dipakai
untuk meramalkan derajat berat obstruksi, dan mendeteksi apabila ada batu di dalam vesika.

Selain mengukur Q max dan sisa kencing dengan menggunakan Trans Rectal Ultra Sonography (TRUS)
dapat pula diukur volume prostat dan dapat mendeteksi kemungkinan adanya keganasan. Jika dicurigai
ganas, dapat langsung dilakukan biopsi prostat dengan jarum yang dituntun dengan TRUS. Selain itu
dengan TRUS dapat juga dilihat adanya bendungan vesika seminalis.
Sumber: Klinikpria.com

Benigna Prostate Hyperplasia
Disusun Oleh
Muhammad Akbar

1. Definisi BPH
Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) disebut juga Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah
hiperplasia kelenjar periuretral prostat yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan
menjadi simpai bedah.
3


2. Anatomi Prostat
Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang
terletak di sebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika)
dan berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang
dewasa kurang lebih 20 gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm
dengan tebal 2,5 cm.
5

Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus :
1. lobus medius
2. lobus lateralis (2 lobus)
3. lobus anterior
4. lobus posterior
5,6

Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus posterior akan menjadi satu dan
disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tak tampak karena terlalu kecil
dan lobus lain tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini
disebut kelenjar prostat.
6

Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain adalah: zona perifer,
zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior, dan zona periuretral. Sebagian besar
hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional yang letaknya proksimal dari sfincter eksternus di
kedua sisi dari verumontanum dan di zona periuretral. Kedua zona tersebut hanya merupakan 2% dari
seluruh volume prostat. Sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.
7,8

Prostat mempunyai kurang lebih 20 duktus yang bermuara di kanan dari verumontanum dibagian
posterior dari uretra pars prostatika. Di sebelah depan didapatkan ligamentum pubo prostatika, di sebelah
bawah ligamentum triangulare inferior dan di sebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers.
Fascia denonvilliers terdiri dari 2 lembar, lembar depan melekat erat dengan prostat dan vesika
seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara longgar dengan fascia pelvis dan memisahkan
prostat dengan rektum. Antara fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan jaringan
peri prostat yang berisi pleksus prostatovesikal.
6

Pada potongan melintang kelenjar prostat terdiri dari :
1. Kapsul anatomis
Sebagai jaringan ikat yang mengandung otot polos yang membungkus kelenjar prostat.
2. Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler
3. Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian:
1. Bagian luar disebut glandula principalis atau kelenjar prostat sebenarnya yang menghasilkan
bahan baku sekret.
2. Bagian tengah disebut kelenjar submukosa, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatous zone
3. Di sekitar uretra disebut periurethral gland atau glandula mukosa yang merupakan bagian
terkecil. Bagian ini serinng membesar atau mengalami hipertrofi pada usia lanjut.
Pada BPH, kapsul pada prostat terdiri dari 3 lapis :
1. kapsul anatomis
2. kapsul chirurgicum, ini terjadi akibat terjepitnya kelenjar prostat yang sebenarnya (outer zone)
sehingga terbentuk kapsul
3. kapsul yang terbentuk dari jaringan fibromuskuler antara bagian dalam (inner zone) dan bagian
luar (outer zone) dari kelenjar prostat.
BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan
kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada bagian posterior daripada lobus medius (lobus
posterior) yang merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan
lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikit mengandung jaringan kelenjar.
5,6

Secara histologis, prostat terdiri atas kelenjar-kelenjar yang dilapisi epitel thoraks selapis dan di
bagian basal terdapat juga sel-sel kuboid, sehingga keseluruhan epitel tampak menyerupai epitel berlapis.
Vaskularisasi
Vaskularisasi kelenjar prostat yanng utama berasal dari a. vesikalis inferior (cabang dari a. iliaca
interna), a. hemoroidalis media (cabang dari a. mesenterium inferior), dan a. pudenda interna (cabang dari
a. iliaca interna). Cabang-cabang dari arteri tersebut masuk lewat basis prostat di Vesico Prostatic
Junction. Penyebaran arteri di dalam prostat dibagi menjadi 2 kelompok , yaitu:
1. Kelompok arteri urethra, menembus kapsul di postero lateral darivesico prostatic junction dan memberi
perdarahan pada leher buli-buli dan kelompok kelenjar periurethral.
2. Kelompok arteri kapsule, menembus sebelah lateral dan memberi beberapa cabang yang
memvaskularisasi kelenjar bagian perifer (kelompok kelenjar paraurethral).
9

Aliran Limfe
Aliran limfe dari kelenjar prostat membentuk plexus di peri prostat yang kemudian bersatu untuk
membentuk beberapa pembuluh utama, yang menuju ke kelenjar limfe iliaca interna , iliaca eksterna,
obturatoria dan sakral.
9

Persarafan
Sekresi dan motor yang mensarafi prostat berasal dari plexus simpatikus dari Hipogastricus dan medula
sakral III-IV dari plexus sakralis.

3. Fisiologi Prostat
Prostat adalah kelenjar sex sekunder pada laki-laki yang menghasilkan cairan dan plasma seminalis,
dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi.
Kelenjar prostat dibawah pengaruh Androgen Bodiesdan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.

4. Etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat,
tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
7

Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah:
1. Teori Hormonal
Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon
testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase,
dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul
dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian
estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan
konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor
pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Pada keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon
androgen testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan
terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang
progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan sangat
merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional histologis, prostat
terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer
yang tidak bereaksi terhadap estrogen.
2. Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan)
Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat
empat peptic growth factoryaitu: basic transforming growth factor, transforming growth factor 1,
transforming growth factor 2, dan epidermal growth factor.
3. Teori peningkatan lama hidup sel-sel prostat karena berkuramgnya sel yang mati
4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)
Seperti pada organ lain, prostat dalam hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada
dalam keadaan keseimbangan steady state, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati,
keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang dapat
mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Pada keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat
bertambah sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar periuretral prostat menjadi
berlebihan.
5. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal
(10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding
globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang
bisa masuk ke dalam target cell yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam
sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductase menjadi 5
dehidrotestosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor
complex. Kemudian hormone receptor complex ini mengalami transformasi reseptor, menjadi
nuclear receptor yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan
menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein menyebabkan
terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.
5,6,8,10


5. Patofisiologi BPH
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan
menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang
terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut
fase kompensasi.
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih
sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala
prostatismus.
Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi
dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal
yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter.
Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau
terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter,
hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.
7


Hiperplasi prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesikal


Buli-buli Ginjal dan Ureter
o Hipertrofi otot detrusor - Refluks vesiko-ureter
o Trabekulasi - Hidroureter
o Selula - Hidronefrosis
o Divertikel buli-buli - Pionefrosis Pilonefritis
- Gagal ginjal
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen
mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran
kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urine
(obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya,
yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan menghasilkan
kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi
syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik.
6


6. Gambaran Klinis BPH
Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar
saluran kemih.
1. Gejala pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala
obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena didesak oleh prostat yang
membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga
kontraksi terputus-putus.

Gejalanya ialah :
1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)
2. Pancaran miksi yang lemah (weak stream)
3. Miksi terputus (Intermittency)
4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor,
yaitu :
1. Volume kelenjar periuretral
2. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Kekuatan kontraksi otot detrusor
7,10,11

Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun
volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul
prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka
gejala obstruksi belum dirasakan.
8

Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna pada saat
miksi atau disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan
rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh.
Gejalanya ialah :
1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2. Nokturia
3. Miksi sulit ditahan (Urgency)
4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat
gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing <>
Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml.
8

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, WHO
menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor Internasional Gejala
Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan
dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0
sampai dengan 5, sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7.
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu: - Ringan : skor 0-7
- Sedang : skor 8-19
- Berat : skor 20-35
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk mengeluarkan
urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh ke
dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut.
Faktor pencetus
Kompensasi Dekompensasi
(LUTS) Retensi urin
Inkontinensia paradoksa
International Prostatic Symptom Score
Pertanyaan Jawaban dan skor
Keluhan pada bulan
terakhir
Tidak
sekali
<20% <50% 50% >50% Hampir selalu
a. Adakah anda merasa
buli-buli tidak kosong
0 1 2 3 4 5
setelah berkemih
b. Berapa kali anda
berkemih lagi dalam
waktu 2 menit
0 1 2 3 4 5
c. Berapa kali terjadi arus
urin berhenti sewaktu
berkemih
0 1 2 3 4 5
d. Berapa kali anda tidak
dapat menahan untuk
berkemih
0 1 2 3 4 5
e. Beraapa kali terjadi
arus lemah sewaktu
memulai kencing
0 1 2 3 4 5
f. Berapa keli terjadi
bangun tidur anda
kesulitan memulai untuk
berkemih
0 1 2 3 4 5
g. Berapa kali anda
bangun untuk berkemih di
malam hari
0 1 2 3 4 5
Jumlah nilai :
0 = baik sekali 3 = kurang
1 = baik 4 = buruk
2 = kurang baik 5 = buruk sekali

Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahuluioleh beberapa faktor pencetus, antara
lain:
o Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing
terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum
(alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan
o Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau
mengalami infeksi prostat akut
o Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau
yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan antikolinergik atau
alfa adrenergik.
7

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara
lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis)., atau demam yang
merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.
3. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan
peningkatan tekanan intraabdominal.
7


7. Diagnosis BPH
a. Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek
bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan tentu
saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan :
1. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
2. Adakah asimetris
3. Adakah nodul pada prostate
4. Apakah batas atas dapat diraba
5. Sulcus medianus prostate
6. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi prostat
kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan
nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin
sulit untuk diraba. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul
dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba krepitasi.
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-
kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang dan
nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah
inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula
diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan
miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma
di daerah meatus.
Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba masa
kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan supra simfisis.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi.
1. Darah : - Ureum dan Kreatinin
Elektrolit
Blood urea nitrogen
Prostate Specific Antigen (PSA)
Gula darah
2. Urin : - Kultur urin + sensitifitas test
Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
Sedimen
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran
kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan
sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih
bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit
diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada vesica urinaria.
d. Pemeriksaan pencitraan
1. Foto polos abdomen (BNO)
BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan
kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi urin, yang merupakan
tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya hidronefrosis, divertikel
kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat.
2. Pielografi Intravena (IVP)
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:
1. kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis
2. memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat
(pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang
berbentuk seperti mata kail atauhooked fish
3. penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau
sakulasi vesica urinaria
4. foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin

3. Sistogram retrograd
Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram retrograd
dapat pula memberi gambaran indentasi.
4. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS)
Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran prostat
maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan volume vesica
urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam vesica
urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel.
5. Pemeriksaan Sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan
mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan tumor di dalam vesica
urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu
radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan mengenai basar prostat dengan
mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra.
6. MRI atau CT jarang dilakukan
Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam macam potongan.
e. Pemeriksaan Lain
1. Uroflowmetri
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh : - daya kontraksi
otot detrusor
tekanan intravesica
resistensi uretra
Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8 ml/detik
dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah
pancaran urin yang dihasilkan.
2. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat
membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang
melemah. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran
dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka sekaligus tekanan
intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.
3. Pemeriksaan Volume Residu Urin
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana
dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal atau
ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan
membuat foto post voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya
kosong, sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Sisa urin
lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada
penderita prostat hipertrofi.
3,6,8,10,11


8 Diagnosis Banding
1. Kelemahan detrusor kandung kemih
1. kelainan medula spinalis
2. neuropatia diabetes mellitus
3. pasca bedah radikal di pelvis
4. farmakologik
2. Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh :
1. kelainan neurologik
2. neuropati perifer
3. diabetes mellitus
4. alkoholisme
5. farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)

3. Obstruksi fungsional :
1. dis-sinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan relaksasi
sfingter
2. ketidakstabilan detrusor
4. Kekakuan leher kandung kemih :
Fibrosis
5. Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh :
1. hiperplasia prostat jinak atau ganas
2. kelainan yang menyumbatkan uretra
3. uretralitiasis
4. uretritis akut atau kronik
e. striktur uretra
6. Prostatitis akut atau kronis
3,11


9. Kriteria Pembesaran Prostat
Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya adalah :
1. Rektal grading
Berdasarkan penonjolan prostat ke dalam rektum :
derajat 1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum
derajat 2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum
derajat 3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum
derajat 4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum
2. Berdasarkan jumlah residual urine
derajat 1 : <>
derajat 2 : 50-100 ml
derajat 3 : >100 ml
derajat 4 : retensi urin total
3. Intra vesikal grading
derajat 1 : prostat menonjol pada bladder inlet
derajat 2 : prostat menonjol diantara bladder inlet dengan muara ureter
derajat 3 : prostat menonjol sampai muara ureter
derajat 4 : prostat menonjol melewati muara ureter
4. Berdasarkan pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi : - derajat 1 : kissing
1 cm
derajat 2 : kissing 2 cm
derajat 3 : kissing 3 cm
derajat 4 : kissing >3 cm
6


10. Komplikasi
Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan
komplikasi sebagai berikut :
1. Inkontinensia Paradoks
2. Batu Kandung Kemih
3. Hematuria
4. Sistitis
5. Pielonefritis
6. Retensi Urin Akut Atau Kronik
7. Refluks Vesiko-Ureter
8. Hidroureter
9. Hidronefrosis
10. Gagal Ginjal
11


11. Penatalaksanaan
Hiperplasi prostat yang telah memberikan keluhan klinik biasanya akan menyebabkan penderita
datang kepada dokter. Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan
pada colok dubur dan sisa volume urin, yaitu:
- Derajat satu, apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur ditemukan penonjolan prostat,
batas atas mudah diraba dan sisa urin kurang dari 50 ml.
- Derajat dua, apabila ditemukan tanda dan gejala sama seperti pada derajat satu, prostat lebih menonjol,
batas atas masih dapat teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
- Derajat tiga, seperti derajat dua, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml
- Derajat empat, apabila sudah terjadi retensi urin total.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi
yang disebut WHO PSS (WHOProstate Symptom Score). Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas
delapan pertanyaan mengenai miksi. Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15.
Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Terapi bedah dianjurkan bila
WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi.
3,11

Pembagian derajat beratnya hiperplasia prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara
penanganan.
Derajat satu biasanya belum memerlukan tindakan operatif, melainkan dapat diberikan
pengobatan secara konservatif.
Derajat dua sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan yang sampai
sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans uretral resection (TUR). Kadang-kadang
derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa
dicoba dengan pengobatan konservatif.
Derajat tiga, TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman biasanya
pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. Apabila diperkirakan prostat sudah
cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi
terbuka.
Derajat empat tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan penderita dari
retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik, kemudian terapi definitif dapat
dengan TURP atau operasi terbuka.
3,11

Terapi sedini mungkin sangat dianjurkan untuk mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup
dan menghindari komplikasi akibat obstruksi yang berkepanjangan. Tindakan bedah masih merupakan
terapi utama untuk hiperplasia prostat (lebih dari 90% kasus). Meskipun demikian pada dekade terakhir
dikembangkan pula beberapa terapi non-bedah yang mempunyai keunggulan kurang invasif dibandingkan
dengan terapi bedah. Mengingat gejala klinik hiperplasia prostat disebabkan oleh 3 faktor yaitu
pembesaran kelenjar periuretral, menurunnya elastisitas leher vesika, dan berkurangnya kekuatan
detrusor, maka pengobatan gejala klinik ditujukan untuk :
1. Menghilangkan atau mengurangi volume prostat
2. Mengurangi tonus leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Melebarkan uretra pars prostatika, menambah kekuatan detrusor
7,11

Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah menghilangkan obstruksi pada leher vesica urinaria.
Hal ini dapat dicapai dengan cara medikamentosa, pembedahan, atau tindakan endourologi yang kurang
invasif.
Pilihan Terapi pada Hiperplasi Prostat Benigna
7

Observasi Medikamentosa Operasi
Invasif
Minimal
Watchfull
waiting
Penghambat
adrenergik
Prostatektomi terbuka
TUMT
TUBD

Penghambat
reduktase
Fitoterapi
Hormonal
Endourologi
1. TUR P
2. TUIP
3. TULP (laser)
Strent uretra
dengan
prostacath
TUNA

Terapi Konservatif Non Operatif
1. Observasi (Watchful waiting)
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Nasihat yang diberikan adalah mengurangi
minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obatan dekongestal
(parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan minuman alkohol agar tidak
sering miksi. Setiap 3 bulan lakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan
colok dubur.
5

2. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah untuk:
1. mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan blocker
(penghambat alfa adrenergik)
2. menurunkan volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon
testosteron/dehidrotestosteron (DHT)
Obat Penghambat adrenergik
Dasar pengobatan ini adalah mengusahakan agar tonus otot polos di dalam prostat dan leher
vesica berkurang dengan menghambat rangsangan alpha adrenergik. Seperti diketahui di dalam otot
polos prostat dan leher vesica banyak terdapat reseptor alpha adrenergik. Obat-obatan yang sering
digunakan prazosin, terazosin, doksazosin, dan alfuzosin. Obat penghambat alpha adrenergik yang
lebih selektif terhadap otot polos prostat yaitu
1a
(tamsulosin), sehingga efek sistemik

yang tak
diinginkan dari pemakai obat ini dapat dikurangi. Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis
tamzulosin 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi
pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat-obatan golongan ini memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan
mengurangi keluhan. Obat-obat ini juga memberi penyulit hipotensi, pusing, mual, lemas, dan
meskipun sangat jarang bisa terjadi ejakulasi retrograd, biasanya pasien mulai merasakan
berkurangnya keluhan dalam waktu 1-2 minggu setelah pemakaian obat.
Obat Penghambat Enzim 5 Alpha Reduktase
Obat yang dipakai adalah finasterid (proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat
menghambat pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil.
Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan alpha blocker dan manfaatnya hanya jelas
pada prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido dan
ginekomastia.
3,4,12

Fitoterapi
Merupakan terapi alternatif yang berasal dari tumbuhan. Fitoterapi yang digunakan untuk pengobatan
BPH adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin Seeds. Keduanya, terutama Serenoa
repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya pengendalian prostatisme BPH dalam konteks
watchfull waiting strategy.
Saw Palmetto menunjukkan perbaikan klinis dalam hal:
frekuensi nokturia berkurang
aliran kencing bertambah lancar
volume residu di kandung kencing berkurang
gejala kurang enak dalam mekanisme urinaria berkurang.
Mekanisme kerja obat diduga kuat:
menghambat aktivitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen
bersifat antiinflamasi dan anti oedema dengan cara menghambat aktivitas enzim cyclooxygenase
dan 5 lipoxygenase.
4,5

3. Terapi Operatif
Tindakan operasi ditujukan pada hiperplasi prostat yang sudah menimbulkan penyulit tertentu, antara
lain: retensi urin, batu saluran kemih, hematuri, infeksi saluran kemih, kelainan pada saluran kemih
bagian atas, atau keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan setelah menjalani pengobatan
medikamentosa. Tindakan operasi yang dilakukan adalah operasi terbuka atau operasi endourologi
transuretra.
1. Prostatektomi terbuka
a.1. Retropubic infravesica (Terence Millin)
Keuntungan :
Tidak ada indikasi absolut, baik untuk adenoma yang besar pada subservikal
Mortaliti rate rendah
Langsung melihat fossa prostat
Dapat untuk memperbaiki segala jenis obstruksi leher buli
Perdarahan lebih mudah dirawat
Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika
Kerugian :
Dapat memotong pleksus santorini
Mudah berdarah
Dapat terjadi osteitis pubis
Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal
Tidak dapat dipakai kalau diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam vesika
Komplikasi : perdarahan, infeksi, osteitis pubis, trombosis
a.2. Suprapubic Transvesica/TVP (Freeyer)
Keuntungan :
Baik untuk kelenjar besar
Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat
Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : batu buli, batu ureter
distal, divertikel, uretrokel, adanya sistostomi, retropubik sulit karena kelainan os pubis,
kerusakan sphingter eksterna minimal.
Kerugian :
- Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka pada dinding vesica sembuh
Sulit pada orang gemuk
Sulit untuk kontrol perdarahan
Merusak mukosa kulit
Mortality rate 1 -5 %
Komplikasi :
Striktura post operasi (uretra anterior 2 5 %, bladder neckstenosis 4%)
Inkontinensia (<1%)
Perdarahan
Epididimo orchitis
Recurent (10 20%)
Carcinoma
Ejakulasi retrograde
Impotensi
Fimosis
Deep venous trombosis
a.3. Transperineal
Keuntungan :
Dapat langssung pada fossa prostat
Pembuluh darah tampak lebih jelas
Mudah untuk pinggul sempit
Langsung biopsi untuk karsinoma
Kerugian :
Impotensi
Inkontinensia
Bisa terkena rektum
Perdarahan hebat
Merusak diagframa urogenital
3,6,7,8,1011

b. Prostatektomi Endourologi
b.1.Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP)
Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra. Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri
dari jaringan kelenjar sentralis. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. Metode ini
cukup aman, efektif dan berhasil guna, bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada sebagaian
kecil dapat mengalami impotensi. Hasil terbaik diperoleh pasien yang sungguh membutuhkan
tindakan bedah. Untuk keperluan tersebut, evaluasi urodinamik sangat berguna untuk
membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien non-obstruksi. Evaluasi ini berperan
selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan TUR.
Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh
dunia. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan cairan irigan
(pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah.
Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik, yang dimaksudkan agar tidak
terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup
murah adalah H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat
masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi.
Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air
atau dikenal dengan sindroma TUR P. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai
gelisah, kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi.
Jika tidak segera diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam
keadaan koma dan meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0,99%.
Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TUR P dipakai cairan non ionik yang lain
tetapi harganya lebih mahal daripada aquades, antara lain adalah cairan glisin, membatasi
jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam, dan memasang sistostomi suprapubik untuk
mengurangi tekanan air pada buli-buli selama reseksi prostat.
Keuntungan :
Luka incisi tidak ada
Lama perawatan lebih pendek
Morbiditas dan mortalitas rendah
Prostat fibrous mudah diangkat
Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol
Kerugian :
Teknik sulit
Resiko merusak uretra
Intoksikasi cairan
Trauma sphingter eksterna dan trigonum
Tidak dianjurkan untuk BPH yang besar
Alat mahal
Ketrampilan khusus
Komplikasi:
- Selama operasi: perdarahan, sindrom TURP, dan perforasi
- Pasca bedah dini: perdarahan, infeksi lokal atau sistemik
- Pasca bedah lanjut: inkontinensia, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd, dan striktura uretra.

b.2.Trans Urethral Incision of Prostate (TUIP)
Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif, tetapi ukuran prostatnya
mendekati normal.Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang
umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut atau incisi leher buli-buli atau
bladder neck incision (BNI) pada jam 5 dan 7. Terapi ini juga dilakukan secara endoskopik
yaitu dengan menyayat memakai alat seperti yangg dipakai pada TUR P tetapi memakai alat
pemotong yang menyerupai alat penggaruk, sayatan dimulai dari dekat muara ureter sampai
dekat ke verumontanum dan harus cukup dalam sampai tampak kapsul prostat.
Kelebihan dari metode ini adalah lebih cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian
ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR.
b.3.Trans Urethral Laser of the Prostate (Laser prostatectomy)
Oleh karena cara operatif (operasi terbuka atau TUR P) untuk mengangkat prostat yang
membesar merupakan operasi yang berdarah, sedang pengobatan dengan TUMT dan TURF
belum dapat memberikan hasil yang sebaik dengan operasi maka dicoba cara operasi yang
dapat dilakukan hampir tanpa perdarahan.
Waktu yang diperlukan untuk melaser prostat biasanya sekitar 2-4 menit untuk masing-
masing lobus prostat (lobus lateralis kanan, kiri dan medius). Pada waktu ablasi akan
ditemukan pop corn effect sehingga tampak melalui sistoskop terjadi ablasi pada permukaan
prostat, sehingga uretra pars prostatika akan segera menjadi lebih lebar, yang kemudian
masih akan diikuti efek ablasi ikutan yang akan menyebabkan laser nekrosis lebih dalam
setelah 4-24 minggu sehingga hasil akhir nanti akan terjadi rongga didalam prostat
menyerupai rongga yang terjadi sehabis TUR.
Keuntungan bedah laser ialah :
1. Tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan
darah dan tidak memerlukan transfusi
2. Teknik lebih sederhana
3. Waktu operasi lebih cepat
4. Lama tinggal di rumah sakit lebih singkat
5. Tidak memerlukan terapi antikoagulan
6. Resiko impotensi tidak ada
7. Resiko ejakulasi retrograd minimal
Kerugian :
Penggunaan laser ini masih memerlukan anestesi (regional).
6,8,11


3. Invasif Minimal
1. Trans Urethral Microwave Thermotherapy (TUMT)
Cara memanaskan prostat sampai 44,5C 47C ini mulai diperkenalkan dalam tiga tahun
terakhir ini. Dikatakan dengan memanaskan kelenjar periuretral yang membesar ini dengan
gelombang mikro (microwave) yaitu dengan gelombang ultarasonik atau gelombang radio
kapasitif akan terjadi vakuolisasi dan nekrosis jaringan prostat, selain itu juga akan
menurunkan tonus otot polos dan kapsul prostat sehingga tekanan uretra menurun sehingga
obstruksi berkurang. lanjut mengenai cara kerja dasar klinikal, efektifitasnya serta side efek
yang mungkin timbul.
Cara kerja TUMT ialah antene yang berada pada kateter dapat memancarkan microwave
kedalam jaringan prostat. Oleh karena temperatur pada antene akan tinggi maka perlu
dilengkapi dengan surface costing agar tidak merusak mucosa ureter. Dengan proses
pendindingan ini memang mucosa tidak rusak tetapi penetrasi juga berkurang.
Cara TURF (trans Uretral Radio Capacitive Frequency) memancarkan gelombang radio
frequency yang panjang gelombangnya lebih besar daripada tebalnya prostat juga arah
dari gelombang radio frequency dapat diarahkan oleh elektrode yang ditempel diluar (pada
pangkal paha) sehingga efek panasnya dapat menetrasi sampai lapisan yang dalam.
Keuntungan lain oleh karena kateter yang ada alat pemanasnya mempunyai lumen sehingga
pemanasan bisa lebih lama, dan selama pemanasan urine tetap dapat mengalir keluar.
2. Trans Urethral Ballon Dilatation (TUBD)
Dilatasi uretra pars prostatika dengan balon ini mula-mula dikerjakan dengan jalan
melakukan commisurotomi prostat pada jam 12.00 dengan jalan melalui operasi terbuka
(transvesikal).
Prostat di tekan menjadi dehidrasi sehingga lumen uretra melebar. Mekanismenya :
1. Kapsul prostat diregangkan
2. Tonus otot polos prostat dihilangkan dengan penekanan tersebut
3. Reseptor alpha adrenergic pada leher vesika dan uretra pars prostatika dirusak

3. Trans Urethral Needle Ablation (TUNA)
Yaitu dengan menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk menghasilkan ablasi
termal pada prostat. Cara ini mempunyai prospek yang baik guna mencapai tujuan untuk
menghasilkan prosedur dengan perdarahan minimal, tidak invasif dan mekanisme ejakulasi
dapat dipertahankan.
4. Stent Urethra
Pada hakekatnya cara ini sama dengan memasang kateter uretra, hanya saja kateter tersebut
dipasang pada uretra pars prostatika. Bentuk stent ada yang spiral dibuat dari logam bercampur
emas yang dipasang diujung kateter (Prostacath). Stents ini digunakan sebagai protesis
indwelling permanen yang ditempatkan dengan bantuan endoskopi atau bimbingan pencitraan.
Untuk memasangnya, panjang uretra pars prostatika diukur dengan USG dan kemudian dipilih
alat yang panjangnya sesuai, lalu alat tersebut dimasukkan dengan kateter pendorong dan bila
letak sudah benar di uretra pars prostatika maka spiral tersebut dapat dilepas dari kateter
pendorong. Pemasangan stent ini merupakan cara mengatasi obstruksi infravesikal yang juga
kurang invasif, yang merupakan alternatif sementara apabila kondisi penderita belum
memungkinkan untuk mendapatkan terapi yang lebih invasif.
2,7,8,11




DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2, Jakarta : EGC, 1994.
2. Rahardja K, Tan Hoan Tjay. Obat - Obat Penting; Khasiat, Penggunaan, dan Efek Efek Sampingnya
edisi V, Jakarta : Gramedia, 2002.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997.
4. Majalah Illmu Bedah Indonesia: ROPANASURI Vol XXV, No. 1, Januari-Maret 1997; 37
5. Anonim. Kumpilan Kuliah Ilmu Bedah Khusus, Jakarta : Aksara Medisina, 1997.
6. Priyanto J.E. Benigna Prostat Hiperplasi, Semarang : Sub Bagian Bedah Urologi FK UNDIP.
7. Purnomo B.P. Buku Kuliah Dasar Dasar Urologi, Jakarta : CV.Sagung Seto, 2000.
8. Rahardjo D. Pembesaran Prostat Jinak; Beberapa Perkembangan Cara Pengobatan, Jakarta : Kuliah
Staf Subbagian Urologi Bagian Bedah FK UI R.S. Dr. Cipto Mangunkusumo, 1993.
9. Cockett A.T.K, Koshiba K : Manual of Urologic Surgery, New York, Springer Verlag, 5, 1979, 125-4
10. Reksoprodjo S. Prostat Hipertrofi, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah cetakan pertama, Jakarta : Binarupa
Aksara, 1995.
11. Tenggara T. Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Hipertrofi Prostat, Majalah Kedokteran Indonesia
volume: 48, Jakarta : IDI, 1998.
12. Mansjoer, A., dkk, Kapita Selekta Indonesia, Penerbit Media Asculapius, FK UI 2000; 320-3

Lapkas Benigna Prostat Hiperplasia Bedah Unsrat
Laporan Kasus
www.whitetigermtc76.co.cc
Benigna Prostat Hiperplasia



Pembimbing :
Dr. Ainun Aschorijanto, SpU


Oleh:
Jimmy Koan (9601061)











BAGIAN BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO
2005
Lembar Pengesahan


Telah dibacakan dan disetujui laporan kasus dengan judul Benigna Prostat Hiperplasia pada Desember
2005.






Menyetujui,



Dr. Ainun Aschorijanto, SpU










PENDAHULUAN
Benigna prostat hiperplasia (BPH) adalah suatu lesi benigna yang timbul didalam kelenjar periuretral.
Penyakit ini sering juga dikenal sebagai hipertrofi prostat, meskipun sebenarnya yang terjadi adalah
hperplasia kelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai
bedah.
Insiden dari BPH terutama menyerang pria yang berusia diatas 50 tahun. Pada pria berusia dibawah 50
tahun sangat jarang dilaporkan. BPH merupakan penyakit tersering kedua di klinik urologi Indonesia
setelah batu saluran kemih. .1,2,3,4,5
Angka kejadian yang pasti untuk BPH di Indonesia belum pernah diteliti, tetapi sebagai gambaran
prevalensi rumah sakit di RSCM ditemukan 423 kasus BPH selama tiga tahun (September 1994
Agustus 1997) dan di RS Waras 617 kasus dalam periode yang sama. Menurut angka angka di Amerika
pada umur 60 tahun ditemukan prevalensi histologik lebih dari 50 % dan pada umur 85 tahun prevalensi
menjadi 90 %, setengahnya dari penderita-penderita tersebut bermanifestasi klinik BPH. Dengan
bertambahnya umur harapan hidup di Indonesia, maka dapat diperkirakan bahwa angka prevalensi di
Indonesia juga akan selalu meningkat.1

Etiologi
Etiologi BPH masih belum dapat diketahui dengan pasti, namun terdapat faktor resiko yang dominan
untuk berkembangannya BPH ialah bertambahnya umur pada pria dan adanya hormon androgen.1,4,6
Ada beberapa teori yang ditegakkan untuk BPH ini seperti teori tumor jinak, teori rasial dan faktor sosial,
teori infeksi dan zat-zat yang belum diketahui, teori yang berhubungan dengan aktifitas hubungan seks
dan teori ketidakseimbangan hormonal. Pendapat yang terakhir ini seringkali dipakai yaitu terjadi
ketidakseimbangan antara androgen - estrogen, dihidrotestosteron, ketidakseimbangan hormon estrogen
testosteron, teori stem sel, interaksi struktural epitel.2,3






Anatomi dan Fisiologi Prostat
Kelenjar prostat adalah suatu kelenjar fibromuskular yang melingkar bladder neck dan bagian proksimal
uretra. Pada orang dewasa beratnya kira-kira 20 gram. Secara anatomi, prostat mempunyai bentuk seperti
kerucut terbalik dan secara embriologis prostat terdiri dari 5 lobus yatiu lobus media, lobus anterior, lobus
posterior dan lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius, anterior dan posterior akan
berkembang menjadi satu dan disebut lobus medius saja. Tonjolan biasanya terdapat pada lobus lateral
dan medius.
Prostat sebagai kelenjar tentunya mempunyai fungsi eksokrin. Prostat juga memproduksi cairan ejakulat.
Dari penelitian, sel-sel epitel kelenjar prostat dapat membentuk enzim fosfatase, transamianse,
prostaglandin, spermin, dan seng.

Patofisiologi
Karena letaknya yang berada dibawah kandung kemih dan melingkar uretra pars prostatika, pembesaran
kelenjar prostat ini dapat mengganggu aliran urin dari buli-buli, yang selanjutnya dapat menyebabkan
perubahan struktur dan perubahan fungsi sistem saluran kemih yang ada diatasnya. Pada buli-buli,
hambatan aliran urin ini dapat menyebabkan hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, sampai terbentuknya
divertikel buli-buli, sedangkan pada ureter dan ginjal dapat menimbulkan hidroureter, refluks vesiko-
ureter, hidronefrosis, dan bahkan gagal ginjal.7
Biasanya gejala-gejala BPH dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) dibedakan menjadi
gejala iritatif dan obstruktif. Gejala iritatif disebabkan hipersensitivitas otot detrusor berarti bertambahnya
frekuensi miksi, nokturi, miksi sulit ditahan, urgensi dan disuri. Sedangkan gejala obstruksi terjadi karena
detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi
terputus-putus, yaitu pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, miksi harus menunggu lama
(hesitansi), harus mengedan (straining), miksi terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi
memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan inkotinen karena overflow.1,2,4,5,8






Diagnosis
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas pemeriksaan awal (anamnesis, pemeriksaan fisik) dan
pemeriksaan tambahan atau penunjang.1
Anamnesis meliputi keluhan yang dirasakan dan berapa lama keluhan itu telah mengganggu. Selain itu
harus dilengkapi dengan riwayat kesehatan umumnya seperti : riwayat pembedahan, riwayat penyakit
saraf, penyakit metabolik seperti diabetes melitus, riwayat infeksi saluran kemih, hematuri, pemakaian
obat-obat terutama parasimpatolitik.
Gejala obstruktif dan iritatif biasanya disusun dalam bentuk skor simptom. Terdapat beberapa jenis
klasifikasi yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis dan menentukan tingkat beratnya penyakit,
diantaranya adalah skor internasional gejala-gejala prostate WHO ( International Prostate Symptom
Score, IIPS) dan skor Madsen Iversen yang di Indonesia menurut pendapat penulis lebih mudah
menggunakan scoring menurut Madsen Iversen, oleh karena sistem scoring yang lain seperti International
Prostate Scoring System yang agak sulit diterapkan pada penderita di Indonesia yang pada umumnya
berumur tua dan sulit untuk dapat mengisi jawaban-jawaban yang sifatnya self assessment. 1,4

Tabel 1. Skor Madsen-Iversen dalam bahasa Indonesia
Pertanyaan 0 1 2 3 4
Pancaran normal Berubah lemah menetes
Mengedan pada saat berkemih Tidak Ya
Harus menunggu saat akan kencing Tidak Ya
Buang air kecil terputus-putus Tidak Ya
Kencing tidak lampias Tidak tahu Berubah-ubah Tidak lampias 1 kali retensi > 1 kali retensi
Inkontinensia Ya
Kencing sulit ditunda Tidak ada Ringan Sedang Berat
Kencing malam hari 0-1 2 3-4 >4
Kencing siang hari >3 jam sekali Setiap 2-3 jam sekali Setiap 1-2 jam sekali < 1 jam sekali
Dikutip dari Rahardjo D. Prostat, Kelainan-kelainam Jinak, Diagnosa dan penanganannya, Jakarta :
Bagian Urologi FKUI, 1999.

Pemeriksaan fisik yang terpenting ialah pemeriksaan colok dubur atau yang dikenal dengan Rectal
Toucher (RT) atau Digital Rectal Examination (DRE) yaitu untuk menilai tonus sfingter ani, refleks bulbo
cavernosus, pembesaran atau penonjolan prostat, konsistensi prostat yang pada pembesaran prostat jinak
kenyal seperti perabaan bakso, apakah ada nodul atau bagian yang keras yang kalau ada dapat merupakan
tanda keganasan prostat dan apakah batas atas prostat dapat dicapai dengan jari, yang kalau masih dapat
diraba secara empiris besar jaringan prostat kurang dari 60 gram, dan apakah ada nyeri tekan yang dapat
merupakan tanda prostatitis. Pada orang normal prostat tidak menonjol ke rektum dan pembesaran ke
kanan dan ke kiri tidak lebih dari 1 cm.1,3,5
Pemeriksaan tambahan untuk menunjang diagnosis adalah urinalisis, pemeriksaan fungsi ginjal,
pemeriksaan Prostate Specific Antigen (PSA) dan elektrolit. Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu
uroflowmetri, residual urine, TRUS, USG, BNO, dan IVP.1,2,4,5

Diagnosis Banding
Keluhan LUTS selain oleh BPH dapat ditemukan pula pada striktur uretra, kontraktur leher vesika, batu
buli-buli kecil, karsinoma prostat atau kelemahan detrusor misalnya pada penderita-penderita asma kronik
yang menggunakan obat-obat parasimpatolitik. Sedangkan bila hanya gejala-gejala iritatif yang
menyolok, lebih sering ditemukan pada penderita instabilitas detrusor, karsinoma insitu vesika, infeksi
saluran kemih, prostatitis, batu ureter distal atau batu vesika kecil.1

Terapi
Tujuan terapi Pembesaran Prostat Jinak adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Biasanya, pasien
datang berobat ke dokter bila penyakit ini telah memberikan keluhan klinik. Derajat berat gejala klinik
dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur (RT) dan sisa volume urin.2








Tabel 2. Derajat berat-ringan BPH berdasarkan gambaran klinik
Derajat Pemeriksaan RT Sisa volume urin
I Penonjolan prostat, batas atas mudah diraba < 50 ml
II Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai 50 100 ml
III Batas atas prostat tidak dapat diraba > 100 ml
IV Retensi urin total
Dikutip dari Sjamsuhidjat R, De Jong W. Saluran Kemih dan Alat Kelamin laki. Dalam : Buku Ajar ilmu
Bedah. Edisi revisi :EGC, 1997.

Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi
objektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari :
1. Observasi (watchfull waiting)
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan (skor Madsen Iversen kurang dari atau sama
dengan 9 dan berdasarkan gambaran kliniknya, termasuk BPH dengan derajat I). Nasehat yang diberikan
ialah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturi, menghindari obat-obat
dekongestan (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol agar
tidak terlalu sering miksi. Setiap tiga bulan lakukan kontrol keluhan (system skor), sisa kencing dan
pemeriksaan colok dubur.
2. Terapi medikamentosa
Diperuntukkan bagi pasien dengan skor Madsen Iversen 9-14 dan BPH derajat I serta derajat II yang
menolak terapi bedah. Pada terapi medikamentosa ini, dapat dipilih obat-obat sebagai berikut :
Penghambat adrenergik alfa
Penghambat enzim 5 alfa reduktase
Fitoterapi
Evaluasi tiap 3 bulan
3. Terapi bedah
Indikasi absolut untuk terapi bedah yaitu retensi urin berulang, hematuri, tanda penurunan fungsi ginjal,
ISK berulang, tanda-tanda obstruksi berat dan ada batu saluran kemih, atau jika skor Madsen Iversen
15, atau jika sudah termasuk BPH derajat II, III, atau IV. Intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi
Transurethral Resection of the Prostate (TURP), Transurethral Insision of the Prostate (TUIP), open
prostatectomy dan prostatektomi dengan laser. 4

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama : Tn. LS
Umur : 78 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Kristen Advent
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Petani
Alamat : Pusian, Dumoga Timur, Kotamubagu
Tanggal MRS : 26 September 2005

ANAMNESA
Keluhan Utama : Sukar buang air kecil
Riwayat penyakit sekarang :
Sukar buang air kecil dialami penderita sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Kalau buang air
kecil, penderita harus menunggu sehingga kadang-kadang penderita harus mengedan, pancaran air
kencing biasanya kecil, lemah dan biasanya terputus-putus. Jika buang air kecil, alat kelaminnya terasa
nyeri. Rasa tidak terpuaskan (+) saat buang air kecil. Kalau siang hari, penderita buang air kecil 5 kali
setiap 2-3 jam sedangkan pada malam hari, penderita biasanya buang air kecil sebanyak 2 kali. Penderita
merasa ingin BAK tapi tidak bisa sehingga penderita datang berobat ke rumah sakit dan di pasang kateter.
Riwayat kencing berpasir (-)
Riwayat kencing nanah (-)
Riwayat kencing darah (-)
Mual (-), muntah (-), penurunan nafsu makan (-), penurunan berat badan (-), riwayat panas (-), BAB biasa








Skor Madsen Iversen
Pertanyaan 0 1 2 3 4
Pancaran Lemah
Mengedan pada saat berkemih Ya
Harus menunggu saat akan kencing Ya
Buang air kecil terputus-putus Ya
Kencing tidak lampias Tidak lampias
Inkotinensia Tdk pernah
Kencing sulit ditunda Ringan
Kencing malam hari 2
Kencing siang hari Setiap 2-3 jam sekali
TOTAL SKOR : 16

Riwayat Penyakit Dahulu
Anak-anak : (-)
Dewasa : penyakit jantung, penyakit paru, penyakit hati, penyakit ginjal,
penyakit darah tinggi, penyakit kencing manis disangkal penderita.
Operasi : (-)
Cedera : (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Hanya penderita yang sakit seperti ini
Riwayat Keadaan Sosial
Menikah 1 kali dengan 3 orang anak
Kebiasaan Penderita
- Merokok (-) berhenti 3 tahun yang lalu
- Alkohol (-)
- Minum air putih 1 hari 1,5 liter






PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : cukup, kesadaran : GCS E4V5M6
Tanda vital : T :130/80 mmHg, N: 82 x/m, R: 20 x/m, SR: 37,0 C
Kepala : Inspeksi : konjuntiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat
isokor kiri = kanan, refleks cahaya +/+ normal
Palpasi : nyeri tekan (-)
Leher : Inspeksi : trakea letak ditengah
Palpasi : pembesaran kelenjar getah bening (-)
Trakea : Inspeksi : gerakan pernapasan simetris kiri = kanan
Auskultasi : suara pernapasan bronkovesikuler kiri = kanan
Palpasi : stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor kiri = kanan
Abdomen : Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : lemas, nyeri tekan (-), defans muskuler (-)
Perkusi : timpani, pekak hepar (+)
Status urologis : CVA : nyeri ketok -/-, bulging -/-, ballottement -/-
Supra pubik : bulging (-), nyeri tekan (-)
Genitalia : OUE : terpasang kateter, pasase urine (+), warna urine :
kuning jernih
Pemeriksaan rectal :
RT : tonus sfingter ani cekat, ampula kosong, mukosa licin,nyeri tekan (-), prostat kesan membesar
dengan batas masih dapat dicapai, melebar ke samping 2 cm, linea mediana tidak teraba, konsistensi
kenyal, nodul (-)
ST : feses (-), darah (-), lendir (-)
Ekstremitas : Superior : tidak ada kelainan
Inferior : tidak ada kelainan
Status neurologis : refleks fisiologis (+) normal, refleks patologis (-)
Laboratorium Masuk :
Hb : 13 mg %
Leukosit : 14.800 mg/dL
Trombosit : 180.000 mg/dL
RESUME MASUK
Seorang laki laki, 78 tahun, masuk RS. Prof. Dr. R. D. Kandou pada tanggal 26 September 2005 dengan
keluhan utama sukar buang air kecil sejak 1 bulan SMRS. Nokturia 2 kali. Disuria (+), Bladder empt
(+), voiding (+), intermittency (+), hesistensi (+), diuria 5 kali setiap 2-3 jam, inkotinensia (-). Riwayat
kencing berpasir (-), RPD (-), minum air putih 1 hari 1,5 liter. Madsen Iversen skor : 16
PF : Tanda vital : T : 130/80 mmHg, N :82 x/m, R: 20 x/m, SR: 37C
Status urologis : CVA : nyeri ketok -/-, bulging -/-, ballottement -/-
Suprapubik : bulging (-), nyeri ketok (-)
Genitalia : OUE : terpasang kateter, pasase urine (+), warna urine
kuning jernih

Pemeriksaan Rectal
RT : tonus sfingter ani cekat, ampula kosong, mukosa licin, nyeri tekan (-), prostate kesan membesar
dengan batas atas masih dapat dicapai, melebar ke samping 2 cm, linea mediana tidak teraba,
konsisitensi kenyal, nodul (-)
ST : feses (-), darah (-), lendir (-)

Diagnosis
Diagnosis Kerja : Post Retensi Urin
Diagnosis Primer : BPH
Diagnosis Sekunder : (-)
Diagnosis Komplikasi : (-)

Tindakan
USG prostat-buli
Cek Hb, leukosit, trombosit, ureum, creatinin, CT, BT, GDS, Urinalisis
EKG
Pro TUR Prostat


Laboratorium Masuk :
Hb : 13 mg %
Leukosit : 14.800 mg/dL
Trombosit : 180.000 mg/dL

FOLLOW UP
30/09-05
S : Nyeri BAK (+)
O : GCS E4V5M6
T: 120/80 mmHg, N: 80 x/m, R: 20 x/m, SR: 36,9C
Status Urologis : CVA : nyeri ketok -/-, bulging -/-, ballottement -/-
Suprapubik : bulging (-), nyeri tekan (-)
Genitalia : OUE : terpasang kateter, pasase urine (+), warna
urine : kuning jernih
Hasil USG Prostat buli :
- Buli agak mengecil, dinding melebar, ireguler, batu (-)
- Prostat : ukuran 4,3 cm x 3,6 cm x 4,3 cm; lobulated, parenkim baik, nodul (-), kristal (-), kalsifikasi (-)
Kesimpulan : menyokong BPH
A : Post Katerisasi ec. Retensi Urine ec.Benigna Prostat Hiperplasia
P : pro TUR Prostat

1/10-05
S : -
O : GCS E4V5M6
T: 120/80 mmHg, N: 80 x/m, R: 20 x/m, SR: 37C
Status Urologis : CVA : nyeri ketok -/-, bulging -/-, ballottement -/-
Suprapubik : bulging (-), nyeri tekan (-)
Genitalia : OUE : terpasang kateter, pasase urine (+), warna
urine : kuning jernih




Hasil pemeriksaan laboratorium :
Kimia klinik
Ureum : 42 mg/dL SGOT : 25
Kreatinin : 0,9 mg/Dl SGPT : 20
GDS : 83 mg/dL
Hemostasis
Waktu perdarahan : 2'30
Waktu pembekuan : 8'20
Urinalisis
Protein : -
Reduksi : -
Epitel : 2-3/LPK
Leukosit : 1-2/LPB
Eritrosit : 1-2/LPB

EKG : kesan : dalam batas normal
A : Post Katerisasi ec. Retensi Urine ec.Benigna Prostat Hiperplasia
P : pro TUR Prostat

LAPORAN OPERASI
Hari/tanggal : Selasa, 4 Oktober 2005
Indikasi operasi : Retensi urin
Jenis operasi : Transurethral Resection of The Prostate (TURP)
Jam operasi mulai : 09.00 WITA
Jam operasi selesai : 10.45 WITa
Lama operasi : 45 menit

Jalannya operasi
Pasien dalam posisi litotomi dan di anastesi dengan spinal
Lapangan operasi didesinfeksi dengan iodium povidon dan dipersempit dengan doek steril
Introduksi dengan obturator
Dilakukan Cytoskopi dengan optic 30 sheath 25 F dan didapatkan muara urethra dextra dan sinistra
normal
Trabekulasi sedang
Dilakukan TURP, specimen 30 gram PA
Pasang 3 cabang kateter 22 F/ 40 cc
Dilakukan spooling dengan NaCl 0,9 % sesuai keadaan urin
Traksi kateter
Operasi selesai

Diagnosis post operasi : Benigna Prostat Hiperplasia
Instruksi post operasi :
IV line RL : Dextrose 5 % 2 : 1 32 gtt/m
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV Skin test
Intermixin inj 3 x 1 amp IV
Tramadol inj 3 x 1 amp IV
Ranitidin inj 3 x 1 amp IV
Observasi tanda vital
Pemeriksaan darah rutin
Spooling kateter dengan NaCl 0,9 %, jangan sampai tersumbat

Tanggal 5/10-05
Hasil PA : Kesimpulan : Benigna Prostat Hiperplasia

FOLLOW UP POST OPERASI
5/10-05
S : nyeri BAK
O : KU : Baik Kesadaran :GCS E4V5M6
T: 110/80 mmHg, N: 88x/m, R: 22x/m, Sb: 36,8C
Kateter : pasase (+), warna urine : kuning jernih
A : Post TURP hari I
P :
IV line RL : Dextrose 5 % 2 : 1 32 gtt/m
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV
Intermixin inj 3 x 1 amp IV
Tramadol inj 3 x 1 amp IV
Ranitidin inj 3 x 1 amp IV
6/10-05
S : nyeri
O : KU : Baik Kesadaran :GCS E4V5M6
T: 110/70 mmHg, N: 88x/m, R: 20x/m, Sb: 36,7C
Kateter : pasase (+), warna urin : kuning jernih
A : Post TURP hari II
P : IV line RL : Dextrose 5 % 2 : 1 32 gtt/m
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV
Intermixin inj 3 x 1 amp IV
Tramadol inj 3 x 1 amp IV
Aff spool

10/10-05
S : nyeri berkurang
O : KU : Baik Kesadaran :GCS E4V5M6
T: 120/80 mmHg, N: 80x/m, R: 20x/m, Sb: 36,7C
Kateter : pasase (+), warna urin : kuning jernih
A : Post TURP hari VI
P : - Aff infus
- obat oral
Siprofloksasin 2 x 500 mg tablet
Asam mefenamat 3 x 500 mg tablet
Ditramex 3 x 500 mg tablet

11/10-05
S : -
O : KU : Baik Kesadaran :GCS E4V5M6
T: 120/80 mmHg, N: 80x/m, R: 20x/m, Sb: 36,2 C
Kateter : pasase (+), warna urin : kuning jernih
A : Siprofloksasin 2 x 500 mg tablet
Asam mefenamat 3 x 500 mg tablet
Ditramex 3 x 500 mg tablet
Aff kateter
Besok boleh pulang
DISKUSI

Diagnosis pada penderita ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Pada anamnesis didapatkan usia penderita 56 tahun dimana berdasarkan kepustakaan merupakan usia
dimana 25 % BPH sudah dapat menunjukkan gejala.
Gejala BPH terbagi atas gejala obstruksi dan gejala iritasi. Pada penderita ini di dapatkan kedua gejala
tersebut. Gejala obstruksi pada penderita ini adalah kencing sedikit-sedikit, merasa tidak puas setelah
kencing, mengedan jika kencing dan harus menunggu saat akan kencing. Keadaan ini menyebabkan
pembesaran prostate lobus median dan lobus lateral yang biasanya simetris, yang akan membuat
penekanan pada uretra yang dikelilingi otot polos sehingga akan timbul gejala-gejala obstruksi aliran air
seni yang melewati uretra.
Gejala iritatif pada pasien ini adalah frekuensi kencing pada malam hari 3 4 kali. Hal ini terjadi karena
dua alasan ; yang pertama karena pengosongan buli-buli yang tidak sempurna setiap kali berkemih akan
menyebabkan interval setiap kali berkemih semakin pendek sehingga semakin sering. Yang kedua adalah
pembesaran prostat akan menyebabkan buli-buli merangsang respon kencing.
Pemeriksaan colok dubur merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BPH disamping pemeriksaan
fisik pada regio supra pubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli. Dari pemeriksaan
colok dubur ini dapat dinilai adanya pembesaran dan konsistensi prostat, adanya nodul atau bagian yang
keras yang merupakan salah satu tanda keganasan prostat, apakah batas atas prostat dapat dicapai dengan
jari, yang kalau masih dapat diraba secara empiris besar jaringan prostat kurang dari 60 gram, dan apakah
ada nyeri tekan yang dapat merupakan tanda prostatitis. Pemeriksaan colok dubur pada pasien ini
ditemukan kesan prostat yang membesar dengan konsistensi kenyal dan batas atas prostat yang masih
dapat dicapai dengan jari, tidak teraba nodul dan tidak teraba ada nyeri tekan. Di regio supra pubik tidak
teraba buli-buli yang distensi karena sudah di pasang kateter.
Pemeriksaan USG prostat bertujuan untuk menilai volume prostat, mendeteksi kemungkinan keganasan,
dan juga mendeteksi adanya kista. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan USG dan hasilnya terdapat
pembesaran prostat.
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Terapi yang ditawarkan
pada pasien tergantung derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi objektif kesehatan pasien
tergantung derajat keluhan oleh penyakitnya. Terapi pembedahan diindikasikan pada BPH yang telah
menimbulkan komplikasi seperti retensi urin, tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan non
bedah. Pada pasien ini dilakukan TURP karena berdasarkan berat-ringannya BPH, pasien ini termasuk
derajat II. Kepustakaan menyebutkan bahwa derajat II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan.
Biasanya yang dianjurkan adalah reseksi endoskopi melalui uretra (Transurethral Resection of The
Prostate = TURP). Mortalitas TURP sekitar 1 % dan morbiditas sekitar 8 %.
Etiologi pada pasien ini diperkirakan oleh karena usia, dimana terjadi ketidakseimbangan hormon
testosteron dan hormon esterogen, karena produksi testosteron yang menurun dan terjadi konversi
testosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose.
Prognosis pada pasien ini baik karena keadaan pasien post operasi baik dan tidak terjadi komplikasi akut
pasca operasi seperti perdarahan.

















DAFTAR PUSTAKA

1. Rahardjo Dj. Prostat: Kelainan-kelainan Jinak, Diagnosis dan Penanganan. Jakarta: Asian Medical,
1999
2. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Laki. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi revisi. Jakarta:EGC, 1997
3. Urologi. Dalam: Kumpulan Kuliah ilmu Bedah Khusus. Jakarta: Aksara Medicina, 1987
4. Mansjoer A, Suprohaita, Wardani W. Pembesaran Prostat Jinak. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:
Media Aesculapius, 2000
5. Narayan P. Neoplasm of the Prostate Gland. Dalam: Tanagho E, McAninh J. Smiths. General urology
14th ed. USA: Appleton Lange, 1995
6. Sabiston C. D. Sistem urogenitalis. Dalam: Ronardy H. D. Buku Ajar Bedah. Bagian 2. Jakarta: EGC
7. Purnomo B. Patogenesis dan Patofisiologi BPH. Dalam: Basics Sciences on Urology, 2002
8. Jones D. BPH and Lower Urinary Tract Disfunction. Dalam: Weiss R, dkk. Comprehensive Urology.
London: Mosby, 2001