Anda di halaman 1dari 9

Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II

Kolom Berpacking page 1






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses distilasi adalah proses pemisahan antara cair-cair yang
berdasarkan titik didih. Namun pada saat pemisahan perlu diketahui faktor-
faktor apa saja dan perhitungan apa saja untuk mengetahui kondisi material
dan sifat-sifat bahan yang diujikan. Dimana proses distilasi bermacan jenis
dan memiliki fungsi masing-masing dari tiap jenis berdasar keefektifan
maupun perlakuan yang diberikan.
Penggunaan distilasi packed column berbeda dengan tray packed.
Kalau tray packed digunakan dalam skala industri, sedangkan packed
column digunakan dalam skala laboratorium. Hal ini didasarkan efisiennya
penggunaan packed column untuk beberapa faktor, seperti bentuknya yang
sangat praktis dan ekonomis sehingga tidak memakan tempat yang luas dan
penggunaannya yang mudah. Distilasi kolom berpacking juga memiliki
keuntungan seperti pressure drop yang dihasilkan sangat kecil dan hasil
distilasinya memiliki tingkat kemurnian yang tinggi.
Dalam percobaan kali ini akan melakukan percobaan destiliasi kolom
berpacking. Yang dimana adalah salah satu jenis pemisahan cair-cair dari
proses destilasi.

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UPN VETERAN JAWA TIMUR
DRAFT
Praktikum : OPERASI TEKNIK KIMIA 2
Percobaan : KOLOM BERPACKING
Tanggal : 14 APRIL 2014
Pembimbing : IR. ISNI UTAMI, MT.
Nama : ATIKA NANDINI
NPM/ Semester : 1131010008/VI
Romb./Group : I/ XVI
NPM/ Teman Praktek :1131010021 / SETA ADHI G. G.
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 2

1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan
untuk mendesain sebuah kolom berpacking berdasarkan penentuan HETP.

1.3 Manfaat Praktikum
1. Praktikan dapat menentukan nilai X
W
, X
F
dan X
D
sehingga kita bisa
menentukan banyaknya plate.
2. Praktikan dapat menghitung banyaknya HETP.









Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Secara Umum
Distilasi adalah suatu proses yang bertujuan memisahkan suatu
campuran liquida yang micible dan volatile menjadi komponennya
masing-masing berdasarkan perbedaan titik didih.
Macam-macam distilasi berdasarkan penambahan komponen
ketiga. Banyak campuran biner yang sangat sulit didistilasi secara biasa,
karena relative volatilitinya mendekati 1 atau karena titik didihnya
berdekatan. Campuran ini dapat didistilasi dengan jalan menambahkan
komponen ketiga sehingga selanjutnya salah satu komponen campuran biner
asal dapat dipisahkan, yaitu :
a. Distilasi Azetropic
Misalnya : campuran asam cuka air (titik didih asam cuka 188
o
C)
dipisahkan dengan entrainer butyl acetat dimana akan terbentuk
campuran heteroazetropic baru dengan titik didih 98,2
o
C.
Pemilihan entrainer :
- Dapat membentuk campuran azetrop baru baru dan titik didih
campuran azetrop baru harus lebih rendah agar dapat diuapkan
menjadi produksi atas.
- Murah dan mudah didapat.
- Stabil dan tidak bereaksi dengan larutan yang dipisahkan.
- Tidak korosit dan toxic
- Viskositasnya rendah
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 4

- Panas penguapan dan titik bekunya rendah.

b. Distilasi Ekstraktif
Dalam distilasi ini ditambahkan komponen ketiga yang disebut
solvent. Dengan adanya solvent diharapkan terjadi perubahan relative
volatilitinya dari komponen asalnya. Misalnya : pemisahan toluene dari
campurannya dengan isooktane dengan mempergunakan phenol sebagai
produk atas dan residu adalah campuran phenol-toluene yang dipisahkan
pada kolom kedua.

2.2 Secara Khusus
METODE DISTILASI BINER
Ada 2 metode yang sering dipergunakan dalam industri, metode yang
pertama, berdasarkan pada pembentukan uap dan kemudian uap ini dipisahkan
langsung dengan liquidanya dan dikondensi tanpa memberi kesempatan adanya
kontak antara distilat dengan uap yang baru terbentuk. Yang termasuk dengan
metode ini adalah :
1. Equilibrium (flash) distilation
2. Differential (simple) distilation
Metode yang kedua berdasarkan pada pembentukan uap dan
kemudian uap ini dikondensasi, setelah itu sebagian dari distilat dikembalikan
hingga terjadi kontak antara distilat tersebut dengan uap yang baru terbentuk.
Yang termasuk dalam metode ini adalah fractination (rectification). Kedua
metode diatas dapat dilakukan secara batch atau kontinue dan keduanya pula
dapat dilakukan dengan steam distillation.
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 5

EQUILIBRIUM (FLASH) DISTILLATION
Cara ini biasanya dijalankan secara kontinue. Feed dipompa dengan
pompa kedalam heater b, kemudian melalui valve c komponen liquida dan uap
masuk ke separator d, disini dengan waktu yang cukup terjadi kontak antara
uap dan liquida uap meninggalkan separator untuk dikondensasi melalui e,
liquida melalui g.
DIFFERENTIAL (SIMPLE) DISTILLATION
Cara ini biasanya dijalankan secara batch dalam sebuah bejana distilasi.
Uap yang terbentuk segera diembunkan dan distilat yang terjadi dipisahkan
dari liquida yang tertinggal dalam bejana (residu). Karena uap akan lebih
banyak mengandung komponen yang lebih voletile, maka kadar residu makin
lama makin kecil. Dalam waktu singkat terjadi kesetimbangan antara uap dan
liquida, tetapi secara keseluruhan tistilat total tidak berkesinambungan dengan
residu akhir.
Selanjutnya untuk menentukan jumlah plate ideal (plate teoritis)
dapat dilakukan dengan beberapa metode.:
1. Metode Mc. Cabe Thiele
Metode ini cukup baik bila digunakan panas pelarutan dan
kehilangan panas tidak terlalu panas. Disamping itu metode ini tidak
memerlukan data entalpi yang terperinci. Penentuan jumlah plate
berdasarkan garis operasi dan kurva kesetimbangan sistem.
2. Metode Ponchon Savarit
Metode ini memerlukan data entalpi yang lebih terperinci. Penentuan
jumlah plate berdasarkan pada tie line pada enthalpy concentration
chart dan kurva kesetimbangan.
3. Metode Lewis Sorel
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 6

Metode ini banyak dipergunakan untuk sistem multikomponen dan
sebagai dasar perhitungan plate dengan komputer. Penentuan plate
ideal berdasarkan pada perhitungan analisis dan kurva
kesetimbangan.
Beberapa hal yang mempengaruhi perhitungan distilasi adalah :
a. Temperatur / boil up rate.
b. Fraksi mol feed, distilat dan residu.
c. Tinggi packing
d. Jumlah plate ideal / teoritis
KOLOM BERPACKING
Kolom berpacking adalah kolom (shell) yang didalamnya berisi
packing yang berfungsi sebagai tempat terjadinya kontak antara liquida
dengan uap atau gas.
Beberapa contoh packing :
a. Rasching ring.
b. Berl sadle ring
c. Infalox sadle ring
d. Roll ring
e. Lessing ring
f. Cross portition ring

Syarat-syarat pemilihan packing :
1. Packing harus memiliki sifat pembasahan yang baik
2. Packing harus tahan terhadap korosi, reaksi kimia, panas dan
sebagainya.
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 7

3. Memiliki rongga volume (void-void) yang besar, agar pressure drop
yang terjadi tidak besar.
4. Dipilih harga packing yang rendah.
5. Dapat memberikan luas permukaan yang terbasahkan yang besar
atau satuan volume diruang yang bersih packing.

Pressure drop yang terjadi dalam packing tower tergantung dari :
a. Tinggi packing.
b. Jenis packing
c. Porosity packing
d. Density packing
e. Jumlah plate yang diperlukan
f. Panas yang dibutuhkan
g. Besarnya diameter kolom
h. Panas yang dibuang kondensor
i. Jarak antara dua plate yang berurutan
j. Tipe plate


Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 8

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Bahan Yang Digunakan
1. Etanol
2. Aquadest
3. 2. Alat Yang Digunakan











Gambar 3.1. Susunan alat
Draft Paraktikum Operasi Teknik Kimia II
Kolom Berpacking page 9

Keterangan :1 = Kondensor
2 = Termometer atas
3 = Termometer bawah
4 = Reflux
5 = Kolom berpacking
6 = Tapping
7 = Labu laher tiga
8 = Kompor listrik
9 = Beaker glass
10 = Erlemeyer

3. 3. Prosedur
1. Isi labu dengan larutan metanol 30% feed, kemudian panaskan
hingga terjadi boil up rate yang minimal dan terbentuk distilat,
selanjutnya biarkan beberapa menit
2. Catat preasure drop dan ambil sample dari atas dan bawah sekitar
15 cc. Setelah dingin ambil 5 cc sample dan tentukan
konsentrasinya.
3. Ulangi percobaan dengan variasi konsentrasi metanol.
4. Tabelkan hasil percobaan dan tentukan HETP.