Anda di halaman 1dari 4

Teori Dasar

Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare yang
disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai lebih dari
500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam keadaan normal bisa
menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam keadaan
normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90% (Alfan,
2010).
Diare merupakan buang air besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk cairan atau setengah
cairan (setengah padat), dengan kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya, normalnya
100 200 ml per tinja. Buang air besar encer tersebut dapat atau tanpa disertai lendir dan darah
(Muscthler, 1991).
Beberapa faktor penyebab diare :
Faktor infeksi : karena adanya infeksi pada saluran pencernaan maupun diluar alat
pencernaan
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare
yang utama pada anak meliputi infeksi enternal sebagai berikut :
1. Infeksi bakteri : vibrio, E. Coli, Salmonella, Stigella, Campilobacter, Yersinia,
Aeromonas dan sebagainya.
2. Infeksi Virus : Entrovirus (Virus Echo, Coxsackie, Poliomielitis)
3. Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides)
b. Infeksi parental adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut
(OMA), tonsilitis / tonsilofaringis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya
Faktor Malabsorsi : malabsorsi karbohidrat disakarida
Faktor makanan: Makanan yang basi, makanan yang mengandung beracun atau karena
alergi terhadap makanan tertentu.
Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (stress) faktor ini cenderung terjadi pada orang-orang
dewasa dan jarang terjadi pada anak dan balita (Muhtaram, 2013).
Gejala klinik diare pada umumnya adalah:
1. Fase prodromal (Sindrom Pradiare), antara lain: perut terasa penuh, mual,muntah, keringat
dingin, pusing.
2. Fase diare, antara lain: diare dengan segala akibatnya berlanjut yaitu dehidrasi, asidosis, syok,
mules, kejang, dengan atau tanpa panas, pusing.
3. Fase penyembuhan, antara lain: diare makin jarang, mules berkurang, penderita merasa
lemas atau lesu (Tjay, 2007).
Diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik usus,hingga pelintasan chymus sangat
dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Diare
viral dan diare akibat enterotoksin pada hakikatnya sembuh dengan sendirinya sesudah lebih
kurang 5 hari setelah sel-sel epitel mukosa yang rusak diganti oleh sel-sel baru. Hanya pada
infeksi oleh bakteri invasif perlu diberikan suatu obat kemoterapeutik yang bersifat
mempenetrasi baik ke dalam jaringan, seperti amoksisilin dan tetrasiklin, sulfa usus dan
furazolidon (Tjay, 2007).
Secara normal makanan yang terdapat di dalam lambung dicerna menjadi bubur
(chymus), kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim.
Setelah terjadi resorpsi, sisa chymus tersebut yang terdiri dari 90% air dan sisa-sisa makanan
yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang biasanya selalu
berada di colon mencerna lagi sisa-sisa (serat-serat) tersebut, sehingga sebagian besar dari sisa-
sisa tersebut dapat diserap pula selama perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresorpsi
kembali sehingga akhirnya isi usus menjadi lebih padat (Karzung, 2002).
Obat paling sering diberikan dengan cara oral. Walaupun beberapa obat yang digunakan
secara oral dimaksudkan larut dalam mulut, sebagian besar obat yang digunakan secara oral
adalah ditelan. Dibandingkan dengan cara-cara lainnya, cara oral dianggap paling alami, tidak
sulit, menyenangkan dan aman dalam hal pemberian obat. Hal-hal yang tidak menguntungkan
pada pemberian secara oral termasuk respon obat yang lambat (bila dibandingkan dengan obat-
obat yang diberika secara parenteral) kemungkinan absorpsi obat yang tidak teratur, yang
tergantung pada faktor-faktor seperti perbaikan yang mendasar, jumlah atau jenis makanan
dalam saluran cerna, dan perusakan beberapa obat olehreaksi dari lambung atau oleh enzim-
enzim dari saluran cerna (Ansel, 2005).
Loperamid merupakan derivat difenoksilat dengan khasiat obstipasi yang dua sampai tiga
kali lebih kuat tetapi tanpa khasiat terhadap susunan saraf pusat sehingga tidak menimbulkan
ketergantungan. Zat ini mampu menormalkankeseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa,
yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal
kembali (Ansel,2005).
Loperamid tidak diserap dengan baik melalui pemberian oral dan penetrasinya ke dalam
otak tidak baik, sifat-sifat ini menunjang selektifitas kerjanya. Kadar puncak dalam plasma
dicapai dalam waktu 4 jam sesudah minumobat. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh
penghambatan motilitas salurancerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik
(Ansel,2005).
Loperamid memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler
dan longitudinalis usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek
konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid denganreseptor tersebut. Waktu paruh 7-14 jam
(Ansel,2005).
Cara kerja obat : Loperamid merupakan antispasmodik, dimana mekanisme kerjanya
yang pasti belum dapat dijelaskan. Secara in vitro pada binatang, loperamide menghambat
motilitas atau perilstaltik usus dengan mempengaruhi langsung otot sirkular dan longitudinal
dinding usus. Secara in vitro dan padahewan percobaan, loperamide memperlambat motilitas
saluran cerna dan mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus besar. Pada
manusia,Loperamide memperpanjang waktu transit isi saluran cerna. Loperamid menurunkan
volume feses, meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan menghentikan kehilangan
cairan dan elektrolit(Ansel,2005).

DAFTAR PUSTAKA

Alfan. 2010. Obat Antidiare. Available online at http://panmedical.com/2010/04/09/0bat-anti-
diare/ [accessed on April 6, 2013].
Ansel, Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. Jakarta: University
of Indonesia Press.
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik 2 Edisi VIII. Jakarta : Penerbit Salemba
Medika.
Muhtaram, Al. 2013. Penyebab Diare. Available online at http://www.metris-
community.com/penyebabdiare/ [accessed on April 6, 2013].
Muscthler, E. 1991. Dinamika Obat terjemahan M. B. Widianto dan A. S. Ranti. Bandung:
ITB.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja.2007.Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-
Efek Sampingnya. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.