Anda di halaman 1dari 63

IMBALAN KERJA

DAN
AKUNTANSI DANA PENSIUN

Disusun untuk memenuhi nilai mata kuliah Pelaporan dan Akuntansi Keuangan
Dosen Pengampu:
Yulianti, SE, MSi, Akt








DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4 :
1. SUCI FIKRIANI
2. ANNASTASIA RESPATI WP.
3. MEGI MINARTI
4. FITRI WULANSARI
5. FRANSISKA DIAN PERMATASARI K.

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

1. IMBALAN KERJA - PSAK 24 (REVISI 2010)

PENGERTIAN IMBALAN KERJA
Imbalan kerja meliputi imbalan yang diberikan kepada pekerja atau tanggungannya
dan dapat diselesaikan dengan pembayaran (atau dengan penyediaan barang atau jasa),
baik secara langsung kepada pekerja, suami/istri mereka, anak-anak atau tanggungan
lainnya, atau kepada pihak lain, seperti perusahaan asuransi.
Pekerja dapat memberikan jasanya kepada entitas secara penuh waktu, paruh waktu,
permanen, atau sistem kontrak. Yang dimaksud dengan pekerja adalah seluruh pekerja, termasuk
direktur dan anggota manajemen lainnya.
PSAK 24 (Revisi 2010) bertujuan mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja.
Pernyataan ini mengharuskan entitas untuk mengakui:
a. liabilitas jika pekerja telah memberikan jasanya dan berhak memperoleh imbalan kerja yang
akan dibayarkan di masa depan; dan
b. beban jika entitas menikmati manfaat ekonomis yang dihasilkan dari jasa yang diberikan oleh
pekerja yang berhak memperoleh imbalan kerja.

RUANG LINGKUP
PSAK 24 diterapkan untuk seluruh imbalan kerja, termasuk yang diberikan:
a. melalui program formal atau perjanjian formal lainnya antara entitas dan pekerja, serikat
pekerja, atau perwakilan pekerja;
b. melalui peraturan perundang-undangan atau peraturan industri di mana entitas diwajibkan
untuk ikut serta pada program nasional, industri, atau program multipemberi kerja lainnya;
atau
c. oleh kebiasaan yang menimbulkan kewajiban konstruktif. Kebiasaan akan menimbulkan
kewajiban konstruktif jika entitas tidak memiliki alternatif realistis selain membayar imbalan
kerja. Contoh kewajiban konstruktif adalah dimana perubahan kebiasaan entitas akan
menyebabkan rusaknya hubungan dengan karyawan yang tidak dapat diterima.

Imbalan kerja mencakup:
a) Imbalan kerja jangka pendek
b) Imbalan pascakerja
c) Imbalan kerja jangka panjang lainnya
d) Pesangon pemutusan kontrak kerja (PKK).

SELURUH IMBALAN KERJA JANGKA PENDEK
Imbalan kerja jangka pendek mencakup hal-hal seperti:
a. upah, gaji, dan iuran jaminan sosial;
b. cuti-berimbalan jangka pendek (seperti cuti tahunan dan cuti sakit) di mana ketidakhadiran
diperkirakan terjadi dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja
memberikan jasanya;
c. utang bagi laba dan utang bonus dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode saat pekerja
memberikan jasanya; dan
d. imbalan non-moneter (seperti imbalan kesehatan, rumah, mobil dan barang atau jasa yang
diberikan secara cuma-cuma atau melalui subsidi) untuk pekerja.
Akuntansi untuk imbalan kerja jangka pendek biasanya cukup jelas karena tidak ada
asumsi aktuarial yang diwajibkan untuk mengukur kewajiban atau biaya dan tidak ada
kemungkinan terjadinya keuntungan atau kerugian aktuarial. Selain itu, kewajiban imbalan kerja
jangka pendek dihitung dengan dasar yang tidak didiskontokan (undiscounted basis).
Pengakuan dan Pengukuran
1. Imbalan Kerja Jangka Pendek
Ketika pekerja telah memberikan jasanya kepada entitas dalam suatu periode akuntansi,
entitas harus mengakui jumlah tak-terdiskonto (undiscounted amount) atas imbalan kerja
jangka pendek yang diperkirakan untuk dibayar sebagai imbalan atas jasa tersebut:
a) sebagai liabilitas (biaya akrual), setelah dikurangi jumlah yang telah dibayar. Apabila
jumlah yang telah dibayar melebihi jumlah tak-terdiskonto dari imbalan tersebut, entitas
harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset (beban dibayar di muka) sejauh
pembayaran tersebut akan menimbulkan, misalnya, pengurangan pembayaran di masa
depan atau pengembalian kas; dan
b) sebagai beban, kecuali Pernyataan lain mewajibkan atau membolehkan imbalan tersebut
termasuk dalam biaya perolehan aset (dapat dilihat pada misalnya, PSAK 14 (revisi 2007):
Persediaan, dan PSAK 16 (revisi 2007): Aset Tetap).

Imbalan kerja jangka pendek diakui pada periode terjadinya. Dalam pencatatannya, juga
tidak perlu menyertakan asumsi aktuarial dan jangan mengurangi biaya ini dengan
perhitungan nilai sekarang.
Imbalan kerja jangka pendek dicatat sebagai biaya yang masih harus dibayar,
setelah dikurangi jumlah yang telah dibayar. Jika jumlah yang dibayarkan melebihi biaya
manfaat yang tidak didiskontokan, maka kelebihannya dicatat sebagai aset dibayar di muka
dimana aset ini akan mengurangi jumlah pembayaran masa depan atau untuk menghasilkan
pengembalian kas.

2. Cuti Berimbalan Jangka Pendek
Entitas mengakui prakiraan biaya imbalan kerja jangka pendek dalam bentuk cuti
berimbalan sebagai berikut:
a) cuti berimbalan yang boleh diakumulasi, adalah pada saat pekerja memberikan jasa yang
menambah hak cuti berimbalan di masa depan; dan
b) cuti berimbalan yang tidak boleh diakumulasi, adalah pada saat cuti tersebut terjadi.
Entitas mungkin memberikan kompensasi atas cuti yang disebabkan, antara lain, karena
liburan, sakit, dan cacat sementara (short-term disability), melahirkan atau suami
mendampingi istri melahirkan, panggilan pengadilan dan militer. Hak cuti berimbalan
tersebut dibagi dalam dua kategori yaitu cuti yang boleh diakumulasi dan cuti yang tidak
boleh diakumulasi.
a) Cuti berimbalan yang boleh diakumulasi
Cuti berimbalan yang boleh diakumulasi adalah cuti yang dapat digunakan pada
periode masa depan apabila hak cuti periode berjalan tidak digunakan seluruhnya. Cuti
berimbalan yang boleh diakumulasi dapat bersifat vesting (dengan kata lain, pekerja berhak
memperoleh pembayaran untuk hak yang tidak digunakan ketika hubungan kerja putus)
atau nonvesting (pekerja tidak berhak menerima pembayaran untuk hak yang tidak
digunakan ketika hubungan kerja putus).
Kewajiban timbul ketika pekerja memberikan jasa yang menambah hak mereka
terhadap cuti berimbalan. Kewajiban tersebut diakui, bahkan jika cuti berimbalan tersebut
bersifat non-vesting, walaupun kemungkinan putus hubungan kerja sebelum penggunaan
hak non-vesting mempengaruhi pengukuran kewajiban tersebut.
Entitas mengukur prakiraan biaya cuti berimbalan yang boleh diakumulasi sebagai
tambahan yang diperkirakan akan dibayar oleh entitas akibat hak yang belum digunakan
dan telah terakumulasi pada akhir periode pelaporan.
Metode yang ditentukan tersebut mengukur kewajiban sebesar tambahan pembayaran
yang diperkirakan timbul semata-mata karena imbalan berakumulasi. Dalam banyak kasus,
apabila besarnya kewajiban atas cuti berimbalan yang belum digunakan tidak material,
maka entitas tidak perlu melakukan perhitungan yang rinci untuk menaksir kewajiban
tersebut. Sebagai contoh, kewajiban cuti sakit menjadi material hanya jika terdapat
kesepakatan formal atau informal bahwa cuti sakit yang tidak digunakan dapat dialihkan
menjadi cuti liburan berhak bayar.
Contoh Ilustrasi
Suatu entitas mempunyai 100 karyawan, masing-masing mempunyai hak cuti sakit
berhak bayar sebanyak 5 (lima) hari setiap tahun. Cuti sakit yang belum digunakan hanya
dapat digunakan pada 1 (satu) tahun berikutnya. Penggunaan cuti sakit pertama kali
diperhitungkan dari hak cuti tahun berjalan dan sisanya dari tahun sebelumnya (basis
LIFO).
Pada 31 Desember 20X1, rata-rata hak cuti belum digunakan 2 hari per pekerja.
Berdasarkan pengalaman, entitas memperkirakan 92 pekerja mengambil cuti sakit berhak
bayar tidak lebih dari 5 hari pada tahun 20X2 dan 8 pekerja lain mengambil rata-rata 6,5
hari.
Entitas memperkirakan akan membayar imbalan tambahan untuk 12 hari cuti sakit
berhak bayar sebagai akumulasi hak yang belum digunakan pada 31 Desember 20X1
(sebanyak 8 pekerja masing-masing berhak rata-rata 1,5 hari). Oleh karena itu, entitas
mengakui liabilitas sebesar 12 hari cuti sakit berhak bayar.
b) Cuti berimbalan yang tidak boleh diakumulasi
Cuti berimbalan yang tidak boleh diakumulasi tidak dapat digunakan pada periode
mendatang: imbalan tersebut kadaluarsa bila hak cuti periode berjalan tidak digunakan
sepenuhnya dan tidak memberikan hak bagi pekerja untuk menerima pembayaran atas hak
yang tidak digunakan apabila hubungan kerja putus. Ini lazim terjadi untuk cuti sakit
berhak bayar (sepanjang hak yang belum digunakan tidak menambah hak pada masa
depan), cuti melahirkan atau cuti suami yang mendampingi istri melahirkan, cuti panggilan
pengadilan atau militer. Entitas tidak mengakui liabilitas atau beban sampai waktu
terjadinya cuti, karena jasa pekerja tidak menambah jumlah imbalan.
Pencatatan cuti berimbalan jangka pendek:
Akui biaya yang diharapkan dari cuti berimbalan jangka pendek pada saat
pekerja memberikan pelayanan yang meningkatkan hak cuti mereka pada masa
depan. Sebaliknya, jangan mengakui liabilitas atau beban untuk cuti berimbalan
yang tidak boleh diakumulasi sampai dengan cuti terjadi.
3. Program Bagi Laba dan Bonus
Entitas mengakui prakiran biaya atas pembayaran bagi laba dan bonus jika, dan hanya
jika:
a. entitas mempunyai kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif atas pembayaran beban
tersebut sebagai akibat dari peristiwa masa lalu; dan
b. kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal. Kewajiban kini timbul jika, dan hanya
jika, entitas tidak mempunyai alternatif realistis lainnya kecuali melakukan pembayaran.
Dalam beberapa program bagi laba, pekerja menerima bagian laba hanya apabila
mereka tetap bekerja pada entitas yang bersangkutan selama periode tertentu. Program
semacam ini menimbulkan kewajiban konstruktif ketika pekerja memberikan jasa yang dapat
menambah jumlah pembayaran yang akan diterima, apabila mereka tetap bekerja sampai
akhir periode tertentu. Pengukuran kewajiban konstruktif ini mencerminkan kemungkinan
adanya pekerja yang keluar tanpa menerima pembayaran bagi laba.
Contoh Ilustrasi
Suatu program bagi laba mensyaratkan entitas membayar proporsi tertentu dari laba
bersihnya untuk tahun yang bersangkutan kepada para pekerja yang memberikan jasanya
sepanjang tahun. Apabila tidak ada pekerja yang keluar selama tahun tersebut, total
pembayaran bagi laba tahun tersebut berjumlah 3% dari laba neto. Entitas tersebut
memperkirakan bahwa tingkat perputaran karyawan akan menurunkan pembayaran hingga
2,5% dari laba neto.
Entitas tersebut mengakui liabilitas dan beban sebesar 2,5% dari laba neto.
Entitas mungkin tidak mempunyai kewajiban hukum untuk membayar bonus. Walaupun
demikian, dalam beberapa kasus, entitas memiliki kebiasaan memberikan bonus. Dalam kasus
ini, entitas mempunyai kewajiban konstruktif karena tidak mempunyai alternatif realistis lain
kecuali membayar bonus. Pengukuran kewajiban konstruktif tersebut mencerminkan
kemungkinan adanya pekerja yang berhenti tanpa menerima bonus.
Entitas dapat mengestimasi secara andal jumlah kewajiban hukum atau kewajiban
konstruktif dalam program bagi laba atau bonus jika, dan hanya jika:
a. bentuk formal program tersebut memuat suatu rumus untuk menentukan jumlah imbalan;
b. entitas menentukan jumlah yang harus dibayar sebelum laporan keuangan diselesaikan;
atau
c. praktik masa lalu memberikan bukti jelas mengenai jumlah kewajiban konstruktif entitas.
Kewajiban yang timbul dalam program bagi laba dan bonus merupakan akibat dari jasa
pekerja dan bukan transaksi dengan pemilik entitas. Oleh karena itu, entitas mengakui bagi
laba dan bonus ini sebagai beban tahun berjalan dan bukan sebagai distribusi laba bersih.
Jika bagi laba dan pembayaran bonus tidak jatuh tempo seluruhnya dalam jangka waktu
12 bulan setelah akhir periode saat pekerja memberikan jasanya, maka bagi laba dan
pembayaran bonus tersebut merupakan imbalan kerja jangka panjang lainnya.
Pencatatan Program Bagi Laba dan Bonus
Pengakuan biaya yang diharapkan dari pembayaran pembagian laba atau pembayaran
bonus hanya ketika entitas memiliki kewajiban hukum untuk melakukan pembayaran
tersebut berdasarkan peristiwa masa lalu dan jika memungkinkan untuk memperkirakan
kewajiban secara andal.
Untuk memiliki estimasi yang andal, harus ada suatu rencana formal yang
mengandung formula tunjangan, jumlah yang dibayar harus ditentukan sebelum laporan
keuangan disetujui untuk diterbitkan atau praktik masa lalu perusahaan harus secara jelas
menunjukkan jumlah liabilitas tersebut.

IMBALAN PASCAKERJA: PERBEDAAN ANTARA PROGRAM IURAN PASTI DAN
PROGRAM IMBALAN PASTI
Imbalan pascakerja merupakan imbalan kerja (selain pesangon PKK) yang terutang
setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya. Imbalan pascakerja meliputi:
a. Tunjangan purnakarya seperti pensiun; dan
b. Imbalan pascakerja lain, seperti asuransi jiwa pascakerja dan tunjangan kesehatan
pascakerja.
Ketentuan ini diterapkan oleh entitas untuk semua jenis program, baik dengan atau
tanpa pendirian sebuah entitas terpisah untuk menerima iuran dan membayar imbalan
tersebut.
Program imbalan pascakerja dapat diklasifikasikan sebagai program iuran pasti atau
program imbalan pasti, bergantung pada substansi ekonomis dari setiap program tersebut.
1. Program iuran pasti adalah:
Program imbalan pascakerja dimana entitas membayar iuran tetap kepada entitas
terpisah (entitas pengelola dana) dan tidak memiliki kewajiban hukum atau kewajiban
konstruktif untuk membayar iuran lebih lanjut jika entitas pengelola dana tersebut tidak
memiliki aset yang cukup untuk membayar seluruh imbalan kerja terkait dengan jasa yang
diberikan oleh pekerja pada periode berjalan dan periode sebelumnya.
Dalam program iuran pasti:
a. Kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif entitas terbatas pada jumlah yang
disepakati sebagai iuran pada entitas (dana) terpisah. Jadi, jumlah imbalan pascakerja
yang diterima pekerja ditentukan berdasarkan jumlah iuran yang dibayarkan entitas (dan
mungkin juga oleh pekerja) kepada program imbalan pascakerja atau perusahaan
asuransi, ditambah dengan hasil investasi iuran tersebut; dan
b. Akibatnya, risiko aktuarial (yaitu imbalan yang diterima lebih kecil dari yang
diperkirakan) dan risiko investasi (yaitu aset yang diinvestasikan tidak cukup untuk
memenuhi imbalan yang diperkirakan) ditanggung pekerja.
Contoh kasus ketika kewajiban entitas tidak terbatas pada jumlah dana yang telah
disepakati sebagai iuran kepada entitas (dana) terpisah, adalah jika entitas mempunyai
kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif melalui:
(a) Rumus program imbalan yang tidak dihubungkan sematamata pada jumlah iuran;
(b) Jaminan, baik secara langsung atau tidak langsung melalui suatu program, atas hasil
tertentu dari iuran; atau
(c) Praktik kebiasaan yang menimbulkan kewajiban konstruktif. Misalnya, kewajiban
konstruktif dapat timbul jika entitas mempunyai kebiasaan menambah imbalan untuk
mantan pekerja dalam rangka menutup kesenjangan akibat infl asi meskipun tidak ada
kewajiban hukum untuk melakukannya.

2. Program imbalan pasti adalah:
Program imbalan pascakerja yang bukan merupakan program iuran pasti.
Dalam program imbalan pasti:
a. Kewajiban entitas adalah menyediakan imbalan yang dijanjikan kepada pekerja maupun
mantan pekerja; dan
b. Risiko aktuarial (imbalan akan menyebabkan biaya yang lebih besar dari yang
diperkirakan) dan risiko investasi menjadi tanggungan entitas. Jika berdasarkan
pengalaman, risiko aktuarial atau investasi lebih buruk daripada yang diperkirakan,
maka kewajiban entitas akan meningkat.

4. Program Jaminan Sosial
Program jaminan sosial dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan dan
berlaku untuk seluruh entitas dan dilaksanakan oleh badan penyelenggara yang tidak
dikendalikan atau dipengaruhi oleh entitas pelapor. Beberapa program yang dibentuk oleh
entitas menyediakan imbalan wajib yang menggantikan imbalan yang dicakup program
jaminan sosial di samping imbalan tambahan sukarela lainnya. Program seperti itu bukan
program jaminan sosial.
Jaminan sosial dicirikan sebagai imbalan pasti atau iuran pasti berdasarkan kewajiban
entitas dalam program. Beberapa program jaminan sosial dibiayai secara dasar pay as- you-
go: iuran ditetapkan pada tingkat yang diharapkan cukup untuk membayar imbalan yang jatuh
tempo pada periode yang sama; imbalan di masa depan yang diperoleh selama periode saat ini
akan dibayarkan pada iuran masa depan. Namun demikian, pada sebagian besar jaminan
sosial, entitas tidak mempunyai kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif untuk
membayar imbalan masa depan: satu-satunya kewajiban adalah untuk membayar iuran ketika
jatuh tempo dan jika entitas tidak lagi mempekerjakan karyawan pada jaminan sosial, entitas
tidak berkewajiban untuk membayar imbalan yang dihasilkan oleh karyawannya di tahun-
tahun sebelumnya. Untuk alasan ini, program jaminan sosial merupakan program iuran pasti.

5. Imbalan yang Dijamin
Entitas mungkin membayar premi asuransi untuk mendanai program imbalan
pascakerja. Entitas memperlakukan program tersebut sebagai program iuran pasti, kecuali
entitas akan memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif (baik langsung maupun
tidak langsung) untuk:
(a) membayar imbalan kerja secara langsung pada saat jatuh tempo; atau
(b) membayar tambahan imbalan jika pihak asuransi tidak membayar semua imbalan kerja
masa depan yang timbul dari jasa pekerja periode berjalan dan periode sebelumnya.
Jika entitas memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif seperti itu, entitas
memperlakukan program tersebut sebagai program imbalan pasti.
Imbalan yang dijamin oleh kontrak asuransi tidak harus memiliki hubungan langsung
atau otomatis dengan kewajiban entitas atas imbalan kerja. Program imbalan pascakerja yang
melibatkan kontrak asuransi terikat pada perbedaan yang sama antara konsep akuntansi dan
pendanaan seperti pada program pendanaan lainnya.
Ketika entitas mendanai kewajiban imbalan pascakerja dengan membeli polis asuransi
di mana entitas (baik langsung maupun tidak langsung melalui program, melalui mekanisme
penetapan premi masa depan atau melalui hubungan istimewa dengan pihak asuransi) tetap
memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif, maka pembayaran premi bukan
jumlah untuk suatu perjanjian iuran pasti. Oleh karena itu, entitas:
(a) mencatat polis asuransi yang memenuhi syarat sebagai aset program; dan
Aset program (plan assets) terdiri atas:
a. aset yang dimiliki oleh dana imbalan kerja jangka panjang; dan
b. polis asuransi yang memenuhi syarat.
(b) mengakui polis asuransi lainnya sebagai hak penggantian (jika polis memenuhi kriteria
paragraf 114).
Paragraf 114 PSAK 24 (Revisi 2010)
- Jika, dan hanya jika, terdapat kepastian bahwa pihak lain akan mengganti sebagian
atau seluruh pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban imbalan pasti,
maka entitas mengakui bagiannya dalam penggantian tersebut sebagai aset yang
terpisah.
- Entitas menilai asetnya sebesar nilai wajarnya. Entitas memperlakukan aset tersebut
seperti memperlakukan aset program.
- Dalam laporan laba rugi komprehensif, beban yang berkaitan dengan program
imbalan pasti dapat disajikan secara neto setelah dikurangkan dengan jumlah yang
diakui dalam penggantian.
Ketika polis asuransi atas nama peserta program tertentu atau kelompok peserta
program tertentu dan entitas tidak memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif
untuk menutup kerugian dari kontrak tersebut, maka entitas tidak berkewajiban untuk
membayar imbalan kepada pekerja dan pihak asuransi bertanggung jawab penuh untuk
membayar imbalan tersebut. Pembayaran premi tetap berdasarkan kontrak seperti ini, secara
substansi, merupakan penyelesaian kewajiban imbalan kerja, dan bukan pengeluaran untuk
memenuhi kewajiban tersebut. Konsekuensinya, entitas tidak lagi memiliki aset atau liabilitas.
Oleh karena itu, entitas memperlakukan iuran tersebut sebagai pembayaran program iuran
pasti.


IMBALAN PASCA KERJA : PROGRAM IURAN PASTI
Akuntansi program iuran pasti adalah cukup jelas karena kewajiban entitas pelapor untuk
setiap periode ditentukan oleh jumlah yang harus dibayarkan pada periode tersebut. Sehingga,
tidak diperlukan asumsi aktuarial untuk mengukur kewajiban atau beban dan tidak ada
kemungkinan keuntungan atau kerugian aktuarial. Bahkan, kewajiban-kewajiban tersebut diukur
tanpa didiskonto, kecuali jika kewajiban tersebut tidak jatuh tempo seluruhnya dalam 12 bulan
setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan jasanya.

Pengakuan dan Pengukuran
Ketika pekerja telah memberikan jasa kepada entitas selama suatu periode, maka entitas
harus mengakui iuran terutang untuk program iuran pasti atas jasa pekerja:
(a) sebagai liabilitas (beban terakru), setelah dikurangi dengan iuran yang telah dibayar. Jika
iuran tersebut melebihi iuran terutang untuk jasa sebelum akhir periode pelaporan, maka
entitas mengakui kelebihan tersebut sebagai aset (beban dibayar di muka) sepanjang
kelebihan tersebut akan mengurangi pembayaran iuran di masa depan atau dikembalikan;
dan
(b) sebagai beban, kecuali jika PSAK lain mensyaratkan atau mengijinkan iuran tersebut
termasuk dalam biaya perolehan aset (sebagai contoh, lihat PSAK 14: Persediaan dan PSAK
16: Aset Tetap).
Dalam program iuran pasti, jika iuran tidak jatuh tempo seluruhnya dalam jangka waktu 12
bulan setelah akhir periode saat pekerja memberikan jasanya, maka iuran tersebut didiskonto
dengan menggunakan tingkat diskonto yang diatur dalam paragraf 83.
Paragraf 83 PSAK 24 (Revisi 2010)
- Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskontokan kewajiban imbalan pascakerja
(baik yang didanai maupun tidak) ditentukan dengan mengacu pada bunga obligasi
berkualitas tinggi di pasar aktif pada akhir periode pelaporan.
- Bila tidak ada pasar aktif (deep market) bagi obligasi tersebut, maka digunakan tingkat
bunga obligasi pemerintah pada pasar yang aktif.
- Mata uang dan periode yang dipersyaratkan dalam obligasi tersebut di atas harus sesuai
dengan mata uang dan estimasi periode kewajiban imbalan pascakerja.

Pengungkapan
Entitas mengungkapkan jumlah yang diakui sebagai beban untuk program iuran pasti.
Seperti yang disyaratkan oleh PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Berelasi suatu entitas
mengungkapkan informasi tentang iuran untuk program iuran pasti atas anggota manajemen
kunci.

IMBALAN PASCA KERJA: PROGRAM IMBALAN PASTI
Akuntansi untuk program imbalan pasti sangat kompleks karena disyaratkan adanya asumsi
aktuarial untuk mengukur kewajiban dan beban dan menimbulkan kemungkinan adanya
keuntungan dan kerugian aktuarial. Selain itu, kewajiban diukur dengan menggunakan dasar
diskonto karena kemungkinan kewajiban tersebut baru terselesaikan beberapa tahun setelah
pekerja memberikan jasanya.

Pengakuan dan Pengukuran
Program imbalan pasti mungkin saja tidak didanai, atau mungkin seluruhnya atau sebagian
didanai oleh iuran entitas dan pekerja, ke dalam suatu entitas (dana) yang terpisah secara hukum
dari entitas pelapor dan dari pihak yang menerima imbalan kerja. Pada saat jatuh tempo,
pembayaran atas imbalan yang didanai tidak hanya bergantung kepada posisi keuangan dan
kinerja investasi dana namun juga pada kemampuan entitas (dan kemauan) untuk menutupi
kekurangan-kekurangan pada aset entitas (dana) yang terpisah tersebut. Jadi, entitas, pada
hakikatnya menanggung risiko investasi dan aktuarial yang terkait dengan program. Sebagai
akibatnya, biaya yang diakui untuk program imbalan pasti tidak harus sebesar iuran untuk suatu
periode. Akuntansi oleh entitas untuk program imbalan pasti meliputi tahap-tahap berikut:
1. menggunakan teknik aktuarial untuk membuat estimasi andal dari jumlah imbalan yang
menjadi hak pekerja sebagai pengganti jasa mereka pada periode kini dan periode-periode
lalu. Hal ini mewajibkan entitas untuk menentukan besarnya imbalan yang diberikan pada
periode kini dan periode-periode lalu dan membuat estimasi (asumsi aktuarial) tentang
variabel demografi (seperti tingkat perputaran pekerja dan tingkat mortalitas) dan variabel-
variabel keuangan (seperti tingkat kenaikan gaji dan biaya kesehatan) yang akan
memengaruhi biaya atas imbalan tersebut;
2. mendiskontokan imbalan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit dalam
menentukan nilai kini dari kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini;
3. menentukan nilai wajar aset program;
4. menentukan total keuntungan dan kerugian aktuarial dan selanjutnya menentukan jumlah
yang harus diakui;
5. menentukan besarnya biaya jasa lalu ketika suatu program diterapkan pertama kali atau
diubah; dan
6. menentukan keuntungan dan kerugian ketika suatuprogram diciutkan (kurtailmen) atau
diselesaikan. Jika entitas mempunyai lebih dari satu program imbalan pasti, entitas harus
menerapkan prosedur-prosedur ini secara terpisah untuk setiap program yang signifikan.

Akuntansi untuk Kewajiban Konstruktif
Entitas menghitung tidak hanya kewajiban hukum berdasarkan ketentuan formal program
imbalan pasti, tetapi juga kewajiban konstruktif yang timbul dari praktik kebiasaan entitas.
Kebiasaan akan menimbulkan kewajiban konstruktif jika entitas tidak memiliki pilihan realistis
lain kecuali membayar imbalan kerja. Contoh kewajiban konstruktif adalah ketika perubahan
dalam kebiasaan entitas menyebabkan memburuknya hubungan kerja antara entitas dan para
pekerjanya. Ketentuan formal dari program imbalan pasti mungkin mengijinkan entitas untuk
menghentikan kewajibannya atas program. Namun demikian, akan sangat sulit bagi entitas untuk
membatalkannya jika ingin mempertahankan para pekerjanya. Bahkan, dengan ada atau tidak
adanya program formal imbalan pasti, akuntansi imbalan pascakerja mengasumsikan entitas
yang saat ini menjanjikan suatu imbalan pascakerja akan selalu melakukan hal yang sama
sepanjang sisa masa pekerja.

Laporan Posisi Keuangan
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti merupakan jumlah neto dari:
1. nilai kini kewajiban imbalan pasti pada akhir periode pelaporan;
2. ditambah keuntungan aktuarial (dikurang kerugian aktuarial) yang tidak diakui;
3. dikurang biaya jasa lalu yang belum diakui;
4. dikurang nilai wajar aset program pada tanggal neraca (jika ada) yang akan digunakan untuk
penyelesaian kewajiban secara langsung.
Nilai kini kewajiban imbalan pasti adalah kewajiban kotor, sebelum dikurangi nilai wajar
aset program. Entitas menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan nilai wajar aset
program dengan keteraturan yang memadai (sufficient regularity) sehingga jumlah yang diakui
dalam laporan keuangan tidak berbeda secara material dari jumlah yang akan ditentukan pada
akhir periode pelaporan.
Jumlah yang ditentukan berdasarkan jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan mungkin
negatif (aset). Entitas harus mngukur aset tersebut pada nilai yang lebih rendah antara:
1. jumlah berdasarkan jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan; dan
2. jumlah dari:
a) akumulasi kerugian aktuarial neto dan biaya jasa lalu yang belum diakui dan
b) nilai kini dari manfaat ekonomis yang tersedia dalam bentuk pengembalian dana dari
program atau pengurangan iuran masa depan. Nilai kini dari manfaat ekonomis
ditentukan dengan menggunakan tingkat diskonto.
Penerapan tersebut tidak boleh menghasilkan keuntungan yang diakui semata-mata sebagai
hasil dari kerugian aktuarial atau biaya jasa lalu pada periode kini atau sebagai kerugian yang
diakui semata-mata sebagai keuntungan aktuarial pada periode kini. Entitas selanjutnya harus
segera mengakui untuk jumlah yang timbul ketika aset imbalan pasti:
1. kerugian aktuarial neto periode berjalan dan biaya jasa lalu periode berjalan untuk jumlah
yang melebihi nilai kini beberapa pengurangan dalam nilai kini dari manfaat ekonomis. Jika
tidak ada perubahan atau peningkatan pada nilai kini dari manfaat ekonomis, keseluruhan
kerugian aktuarial bersih dari periode kini dan biaya jasa lalu dari periode kini harus diakui
segera.
2. keuntungan aktuarial bersih periode berjalan setelah dikurangi biaya jasa lalu periode
berjalan sepanjang jumlah tersebut melebihi kenaikan dari nilai kini dari manfaat ekonomis.
Jika tidak ada perubahan atau peningkatan dalam nilai kini dari manfaat ekonomis, maka
keseluruhan keuntungan aktuarial bersih periode berjalan setelah dikurangi biaya jasa lalu
periode berjalan harus segera diakui.
Aset dapat timbul ketika program imbalan pasti mengalami surplus atau dalam hal tertentu
saat diakuinya keuntungan aktuarial. Entitas mengakuinya sebagai aset karena hal-hal berikut:
1. entitas mengendalikan sumber daya, yang mempunyai kemampuan menggunakan surplus
untuk menghasilkan manfaat di masa depan;
2. pengendalian tersebut merupakan hasil peristiwa masa lalu (iuran yang dibayarkan oleh
entitas dan jasa yang diberikan oleh pekerja); dan
3. manfaat ekonomis di masa depan yang akan diperoleh entitas dalam bentuk pengurangan
iuran atau pengembalian kas masa depan, baik langsung maupun tidak langsung kepada
entitas melalui program lain yang mengalami defisit.

Laporan Laba Rugi
Entitas mengakui jumlah neto berikut sebagai beban atau penghasilan, kecuali jika ada
pernyataan lain yang mensyaratkan atau mengijinkan imbalan tersebut termasuk dalam biaya
perolehan aset:
1. biaya jasa kini
2. biaya bunga
3. hasil yang diharapkan dari aset program dan dari hak penggantian
4. keuntungan dan kerugian aktuarial, seperti disyaratkan sesuai dengan kebijakan akuntansi
entitas
5. biaya jasa lalu
6. dampak kurtailmen atau penyelesaian program

Pengakuan Dan Pengukuran: Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti Dan Biaya Jasa Kini
Biaya program imbalan pasti bisa dipengaruhi oleh banyak variabel, seperti gaji terakhir,
tingkat perputaran pekerja, dan tingkat mortalitas, tren biaya kesehatan, dan untuk program yang
didanai, hasil investasi dari aset program. Biaya program imbalan pasti, berubah-ubah
bergantung pada variabel di atas dan berlangsung untuk waktu jangka panjang. Dalam rangka
mengukur nilai kini dari kewajiban imbalan pascakerja dan biaya jasa kini yang terkait, entitas
perlu untuk:
1. menerapkan metode penilaian aktuarial
2. mengaitkan imbalan pada periode jasa dan
3. membuat asumsi-asumsi aktuarial.

Metode Penilaian Aktuarial
Entitas menggunakan metode Projected Unit Credit untuk menentukan nilai kini kewajiban
imbalan pasti, biaya jasa kini yang terkait dan biaya jasa lalu (jika dapat diterapkan). Metode
Projected Unit Credit (sering kali disebut sebagai metode imbalan yang diakru yang
diperhitungkan secara pro rata sesuai jasa atau sebagai metode imbalan dibagi tahun jasa)
menganggap setiap periode jasa akan menghasilkan satu unit tambahan imbalan dan mengukur
setiap unit secara terpisah untuk menghasilkan kewajiban final. Entitas mendiskontokan semua
kewajiban imbalan pascakerja, walaupun sebagian kewajiban jatuh tempo dalam jangka waktu
12 (dua belas bulan) bulan setelah periode pelaporan.

Pengaitan Imbalan dengan Periode Jasa
Dalam menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini yang terkait dan
biaya jasa lalu (jika dapat diterapkan) entitas mengalokasikan imbalan sepanjang periode jasa
dengan menggunakan formula imbalan yang dimiliki program. Namun, jika jasa pekerja di
tahun-tahun akhir meningkat secara material dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,
maka entitas mengalokasikan imbalan tersebut dengan dasar metode garis lurus, sejak:
1. saat jasa pekerja pertama kali menghasilkan imbalan dalam program (baik imbalan tersebut
bergantung pada jasa selanjutnya atau tidak); sampai dengan
2. saat jasa pekerja selanjutnya tidak menghasilkan imbalan yang material dalam program,
selain dari kenaikan gaji berikutnya.
Metode Projected Unit Credit mensyaratkan suatu entitas untuk mengalokasikan imbalan
periode berjalan (untuk menentukan biaya jasa kini) dan periode berjalan dan periodeperiode lalu
(untuk menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti). Entitas mengalokasikan imbalan ke
periode-periode selama ada kewajiban untuk memberikan imbalan pascakerja. Kewajiban
tersebut muncul ketika pekerja memberikan jasa dengan imbalan pascakerja yang akan dibayar
oleh entitas pada periode pelaporan di masa depan. Dengan teknik aktuarial entitas dapat
mengukur kewajiban imbalan pasti dengan tingkat keandalan yang memadai sehingga liabilitas
dapat diakui.
Dalam program imbalan pasti jasa pekerja akan menimbulkan kewajiban, walaupun imbalan
itu bergantung pada status bekerjanya di masa depan (dengan kata lain tidak vested). Jasa pekerja
sebelum tanggal vesting menimbulkan kewajiban konstruktif karena, pada setiap akhir periode
pelaporan yang berurutan, jumlah jasa di masa depan yang harus diberikan pekerja sebelum
pekerja berhak atas imbalan tersebut menjadi berkurang. Dalam mengukur kewajiban imbalan
pasti, entitas memperhitungkan kemungkinan bahwa beberapa pekerja tidak akan memenuhi
ketentuan vesting. Sama halnya, walaupun imbalan pascakerja tertentu, sebagai contoh jaminan
kesehatan pascakerja, terutang hanya jika peristiwa tertentu terjadi pada saat pekerja tidak lagi
bekerja, namun kewajiban muncul pada saat pekerja memberikan jasa yang menimbulkan hak
atas imbalan jika peristiwa tertentu tersebut terjadi. Kemungkinan bahwa peristiwa tertentu akan
terjadi berpengaruh terhadap pengukuran kewajiban, namun tidak menentukan apakah kewajiban
tersebut ada.
Kewajiban meningkat sampai dengan tanggal saat jasa pekerja selanjutnya tidak
menimbulkan tambahan imbalan yang material. Oleh karena itu, semua imbalan dialokasikan ke
periode-periode yang berakhir pada atau sebelum tanggal tersebut. Imbalan dialokasikan ke
setiap periode akuntansi dengan menggunakan rumus program imbalan pasti. Tetapi, jika jasa
pekerja di tahun-tahun belakangan menghasilkan imbalan yang secara material lebih tinggi
dibandingkan tahun-tahun yang lebih awal, entitas mengalokasikan imbalan tersebut berdasarkan
metode garis lurus sampai dengan tanggal saat jasa pekerja selanjutnya tidak menimbulkan
tambahan imbalan yang material. Hal ini dikarenakan jasa pekerja selama seluruh periode pada
akhirnya akan memberikan imbalan yang lebih tinggi.
Ketika jumlah imbalan adalah proporsi konstan dari gaji terakhir untuk setiap tahun jasa,
kenaikan gaji di masa depan akan mempengaruhi jumlah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
suatu kewajiban yang timbul atas jasa sebelum akhir periode pelaporan, tetapi tidak menciptakan
kewajiban tambahan. Oleh karena itu:
1. peningkatan gaji tidak meningkatkan imbalan lebih lanjut, meskipun jumlah imbalan
bergantung pada gaji akhir; dan
2. jumlah imbalan yang dialokasikan untuk setiap periode adalah proporsi konstan dari gaji
yang dikaitkan dengan imbalan.

Asumsi Aktuarial
Asumsi aktuarial tidak boleh bias dan cocok satu dengan yang lain (mutually compatible).
Asumsi aktuarial adalah estimasi terbaik entitas mengenai variabel yang akan menentukan total
biaya dari penyediaan imbalan pascakerja. Asumsi aktuarial terdiri atas:
1. asumsi demografis mengenai karakteristik masa depan dari pekerja dan mantan pekerja (dan
tanggungan mereka) yang berhak atas imbalan. Asumsi demografi berhubungan dengan
masalah seperti:
1) mortalitas, selama dan sesudah masa bekerja;
2) tingkat perputaran pekerja, cacat, dan pensiun dini;
3) proporsi dari peserta program dengan tanggungannya yang akan berhak atas imbalan;
dan
4) tingkat klaim program kesehatan; dan
2. asumsi keuangan, berhubungan dengan hal-hal seperti berikut:
1) tingkat diskonto;
2) ingkat gaji dan imbalan masa depan;
3) jaminan kesehatan, biaya kesehatan masa depan, termasuk (jika material) biaya
administrasi klaim dan pembayaran imbalan; dan
4) tingkat hasil yang diharapkan atas aset program.
Agar tidak bias asumsi aktuarial harus dilakukan secara hati-hati namun tidak terlalu
konservatif. Asumsi aktuarial adalah sesuai satu sama lain (mutually compatible) jika
menggambarkan hubungan ekonomi antara berbagai faktor seperti tingkat inflasi, tingkat
kenaikan gaji, tingkat hasil pengelolaan aset program dan tingkat diskonto. Sebagai contoh,
seluruh asumsi yang berhubungan dengan tingkat inflasi (seperti asumsi mengenai tingkat bunga,
gaji, dan peningkatan imbalan) dalam suatu periode di masa depan mengasumsikan tingkat infl
asi yang sama pada periode tersebut.
Entitas menentukan tingkat diskonto dan asumsi keuangan lainnya dalam jumlah nominal,
kecuali estimasi dalam kondisi nyata (infl asi yang disesuaikan) lebih andal, contohnya, dalam
perekonomian hiperinflasi, atau ketika imbalan dihubungkan dengan indeks dan terdapat pasar
yang aktif (deep market) untuk obligasi yang dihubungkan dengan indeks pada mata uang dan
jangka waktu yang sama. Asumsi keuangan didasarkan pada ekspektasi pasar, pada akhir periode
pelaporan, selama periode penyelesaian kewajiban.

Asumsi Aktuarial: Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskontokan kewajiban imbalan pascakerja
(baik yang didanai maupun tidak) ditentukan dengan mengacu pada bunga obligasi berkualitas
tinggi di pasar aktif pada akhir periode pelaporan. Bila tidak ada pasar aktif (deep market) bagi
obligasi tersebut, maka digunakan tingkat bunga obligasi pemerintah pada pasar yang aktif. Mata
uang dan periode yang dipersyaratkan dalam obligasi tersebut di atas harus sesuai dengan mata
uang dan estimasi periode kewajiban imbalan pascakerja.
Salah satu asumsi aktuarial yang memiliki pengaruh material adalah tingkat diskonto.
Tingkat diskonto mencerminkan nilai waktu dari uang (time value of money) tetapi tidak
mencerminkan risiko aktuarial atau investasi. Lebih jauh lagi, tingkat diskonto tidak
mencerminkan risiko kredit entitas yang ditanggung oleh kreditor entitas, ataupun mencerminkan
risiko bahwa pengalaman di masa depan mungkin berbeda dengan asumsi aktuarial.
Tingkat diskonto mencerminkan estimasi jadwal pembayaran imbalan. Dalam praktiknya,
entitas sering kali menerapkan tingkat diskonto rata-rata tertimbang tunggal (single weighted
average discount rate) yang mencerminkan perkiraan jadwal dan jumlah pembayaran imbalan
dan mata uang yang digunakan dalam membayar imbalan.
Dalam beberapa kasus, tidak ada pasar yang aktif (deep market) bagi obligasi yang
maturitasnya cukup panjang untuk dicocokkan dengan estimasi jatuh tempo atau maturitas
seluruh pembayaran imbalan. Dalam hal demikian, entitas menggunakan tingkat diskonto pasar
kini untuk mendiskontokan pembayaran yang jangka waktunya lebih pendek, dan
memprakirakan tingkat diskonto untuk maturitas yang lebih panjang dengan mengekstrapolasi
tingkat diskonto pasar kini sepanjang kurva hasil (yield curve). Total nilai kini kewajiban
imbalan pasti kemungkinan tidak akan banyak dipengaruhi oleh tingkat diskonto yang diterapkan
pada bagian imbalan yang terutang setelah maturitas akhir obligasi entitas atau pemerintah yang
tersedia.
Biaya bunga dihitung dengan mengalikan tingkat diskonto yang ditentukan pada awal
periode dengan nilai kini kewajiban imbalan pasti selama periode tersebut, dengan
mempertimbangkan seluruh perubahan material dari kewajiban. Nilai kini kewajiban akan
berbeda dengan liabilitas yang diakui pada laporan posisi keuangan, karena liabilitas diakui
setelah dikurangi dengan nilai wajar aset program dan karena adanya keuntungan dan kerugian
aktuarial, serta biaya jasa lalu, yang tidak segera diakui.

Asumsi Aktuarial: Gaji, Imbalan, dan Biaya Kesehatan
Kewajiban imbalan pascakerja diukur dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. estimasi kenaikan gaji di masa depan;
2. imbalan yang ditentukan dalam program (atau yang timbul dari kewajiban konstruktif yang
jumlahnya melebihi ketentuan dalam program tersebut) pada akhir periode pelaporan; dan
3. prakiraan perubahan tingkat imbalan yang ditentukan pemerintah untuk masa depan yang
mempengaruhi imbalan terutang berdasarkan program imbalan pasti, jika dan hanya jika:
1) perubahan itu diberlakukan sebelum akhir periode pelaporan; atau
2) pengalaman masa lalu atau bukti lain yang andal mengindikasikan bahwa tingkat
imbalan yang ditentukan pemerintah akan berubah dan dapat diprediksi. Sebagai contoh
sejalan dengan perubahan tingkat harga umum atau tingkat gaji di masa depan.
Dalam menentukan prakiraan kenaikan gaji di masa depan perlu diperhitungkan faktor
inflasi, senioritas, promosi, dan faktor relevan lain seperti hukum penawaran dan permintaan
pada pasar tenaga kerja. Jika ketentuan formal program (atau kewajiban konstruktif yang
menimbulkan kewajiban yang melebihi ketentuan tersebut) mewajibkan entitas untuk mengubah
imbalan pada periode-periode di masa depan, pengukuran kewajiban harus disesuaikan dengan
perubahan tersebut. Keadaan ini terjadi pada saat, sebagai contoh:
1. entitas memiliki sejarah dalam meningkatkan imbalan, sebagai contoh untuk mengatasi
dampak inflasi, dan tidak ada indikasi bahwa praktik ini akan berubah di masa depan; atau
2. keuntungan aktuarial telah diakui dalam laporan keuangan dan entitas diwajibkan, baik oleh
ketentuan formal program (atau kewajiban konstruktif yang menimbulkan kewajiban yang
melebihi ketentuan tersebut) atau perundang-undangan, untuk menggunakan keuntungan
tersebut sebagai imbalan bagi para peserta program).
Asumsi-asumsi aktuarial belum mencerminkan perubahan imbalan di masa depan yang tidak
digariskan dalam ketentuan formal program (atau kewajiban konstruktif) pada akhir periode
pelaporan. Perubahan ini akan menimbulkan:
1. biaya jasa lalu, apabila perubahan tersebut mengubah imbalan untuk jasa sebelum terjadinya
perubahan; dan
2. biaya jasa kini untuk periode-periode setelah perubahan, apabila perubahan tersebut
mengubah imbalan untuk jasa setelah terjadinya perubahan.
Beberapa imbalan pascakerja dihubungkan dengan variabel-variabel seperti tingkat imbalan
pensiun atau perawatan kesehatan yang ditentukan pemerintah. Pengukuran imbalan tersebut
mencerminkan prakiraan perubahan variabel-variabel tersebut berdasarkan pengalaman dan bukti
andal lainnya.
Dalam menentukan asumsi biaya kesehatan harus dipertimbangkan estimasi perubahan
biaya jasa kesehatan di masa depan, baik yang diakibatkan oleh inf asi maupun karena adanya
perubahan-perubahan dalam biaya kesehatan. Pengukuran imbalan kesehatan pascakerja
dibutuhkan asumsi mengenai tingkat dan frekuensi klaim di masa depan dan biaya untuk
memenuhi klaim tersebut. Entitas mengestimasi biaya kesehatan di masa depan atas dasar data
historis entitas tersebut, jika perlu dengan memperhatikan data historis dari entitas lain, entitas
asuransi, penyedia layanan kesehatan atau sumber-sumber lain. Dalam membuat estimasi biaya
kesehatan di masa depan perlu dipertimbangkan dampak kemajuan teknologi, perubahan pola
penggunaan atau pemberian layanan kesehatan dan perubahan status kesehatan para peserta
program.
Tingkat dan frekuensi klaim sangat bergantung pada usia, status kesehatan, dan jenis
kelamin pekerja (dan tanggungan mereka) dan dapat juga bergantung pada faktorfaktor lain
seperti lokasi geografis. Oleh karena itu, apabila bauran demografis dari populasi berbeda
dengan bauran populasi yang digunakan sebagai dasar untuk data historis, maka data historis
perlu disesuaikan. Data historis juga disesuaikan apabila terdapat bukti yang andal bahwa tren
historis tersebut tidak akan berlanjut.
Beberapa program perawatan kesehatan pascakerja mewajibkan pekerja untuk memberikan
kontribusi bagi biaya kesehatan yang dijamin oleh program tersebut. Dalam mengestimasi biaya
kesehatan di masa depan kontribusi tersebut turut diperhitungkan, berdasarkan ketentuan
program pada akhir periode pelaporan (atau berdasarkan kewajiban konstruktif yang melebihi
ketentuan tersebut). Perubahan pada kontribusi pekerja menimbulkan biaya jasa lalu, atau kalau
ada, kurtailmen. Biaya untuk memenuhi klaim dapat dikurangi dengan imbalan dari penyedia
layanan kesehatan.

Keuntungan dan Kerugian Aktuarial
Dalam mengukur liabilitas imbalan, entitas mengakui sebagian keuntungan dan kerugian
aktuarialnya sebagai penghasilan atau beban apabila akumulasi keuntungan dan kerugian
aktuarial neto yang belum diakui pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi jumlah
yang lebih besar di antara kedua jumlah berikut ini:
1. 10% dari nilai kini imbalan pasti pada tanggal tersebut (sebelum dikurangi aset program);
dan
2. 10% dari nilai wajar aset program pada tanggal tersebut. Batas ini harus dihitung dan
diterapkan secara terpisah untuk masing-masing program imbalan pasti.
Bagian dari keuntungan dan kerugian aktuarial yang diakui untuk masing-masing program
imbalan pasti adalah kelebihan yang ditetapkan, dibagi dengan rata-rata sisa masa kerja yang
diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Namun, entitas dapat menggunakan
metode sistematis lainnya yang menghasilkan pengakuan keuntungan dan kerugian actuarial
yang lebih cepat, dengan syarat entitas menggunakan dasar yang sama bagi keuntungan dan
kerugian dan menerapkan dasar tersebut secara konsisten dari periode ke periode. Entitas dapat
menerapkan metode sistematis tersebut pada keuntungan dan kerugian aktuarial walaupun jika
keuntungan dan kerugian tersebut berada dalam batas-batas tertentu.
Jika entitas mengadopsi kebijakan untuk mengakui keuntungan dan kerugian aktuarial pada
periode di mana keuntungan dan kerugian aktuarial terjadi, hal tersebut diakui dalam pendapatan
komprehensif lain, untuk:
1. seluruh program imbalan pasti; dan
2. seluruh keuntungan dan kerugian aktuarial.
Keuntungan dan kerugian aktuarial diakui dalam pendapatan komprehensif lain akan
disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif. Entitas yang mengakui keuntungan dan
kerugian aktuarial juga harus mengakui setiap penyesuaian yang timbul dari batasan dalam
pendapatan komprehensif lain. Keuntungan dan kerugian aktuarial dan penyesuaian yang timbul
dari batasan yang telah diakui dalam pendapatan komprehensif lain akan diakui segera dalam
saldo laba. Keuntungan dan kerugian aktuaria tidak harus direklasifikasi ke laba rugi pada
periode berikutnya. Keuntungan dan kerugian aktuarial dapat timbul dari kenaikan atau
penurunan nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aset program. Penyebab
keuntungan dan kerugian aktuarial mencakup, sebagai contoh:
1. faktor-faktor berikut ternyata lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan prakiraan semula:
perputaran pekerja, pensiun dini atau tingkat kematian atau kenaikan gaji, imbalan (jika
ketentuan formal atau konstruktif dari suatu program mengatur kenaikan imbalan akibat
inflasi) atau biaya kesehatan;
2. dampak perubahan estimasi tingkat perputaran pekerja, pensiun dini, kematian atau kenaikan
gaji, imbalan (jika ketentuan formal atau konstruktif dari suatu program mengatur kenaikan
imbalan akibat infl asi) atau biaya kesehatan di masa depan;
3. dampak perubahan tingkat diskonto; dan
4. perbedaan antara hasil aktual aset program dan prakiraan hasil aset program.

Biaya Jasa Lalu
Biaya jasa lalu terjadi ketika entitas memperkenalkan program imbalan pasti atau mengubah
imbalan terutang pada program imbalan pasti yang ada. Perubahan tersebut merupakan imbalan
bagi jasa pekerja selama periode sampai dengan imbalan tersebut menjadi hak pekerja atau
vested. Oleh karena itu, biaya jasa lalu diakui selama periode tersebut, dengan mengabaikan
fakta bahwa biaya tersebut terkait dengan jasa pekerja pada periode-periode sebelumnya. Biaya
jasa lalu dihitung sebagai perubahan utang yang terjadi karena amandemen. Biaya jasa lalu
negatif timbul ketika entitas mengubah imbalan terkait jasa lalu agar nilai kini kewajiban
imbalan pasti berkurang. Biaya jasa lalu tidak mencakup:
1. dampak perbedaan antara kenaikan gaji aktual dan yang diasumsikan sebelumnya pada
kewajiban untuk membayar imbalan untuk jasa pada tahun-tahun sebelumnya (tidak ada
biaya jasa lalu karena asumsi-asumsi aktuarial telah memperhitungkan proyeksi gaji);
2. estimasi yang berlebih atau kurang atas peningkatan pensiun yang diberikan berdasarkan
kebijakan entitas ketika entitas memiliki kewajiban konstruktif untuk memberikan kenaikan
tersebut (tidak ada biaya jasa lalu karena asumsi aktuarial telah memperhitungkan
peningkatan tersebut);
3. estimasi perbaikan imbalan yang timbul dari keuntungan aktuarial yang telah diakui dalam
laporan keuangan jika entitas diwajibkan baik oleh ketentuan formal program (atau
kewajiban konstruktif yang melebihi ketentuan tersebut) atau perundang-undangan, untuk
mempergunakan surplus atau kelebihan program tersebut sebagai imbalan bagi para peserta
program, walaupun kenaikan imbalan belum diberikan secara formal (kenaikan yang terjadi
pada kewajiban merupakan kerugian aktuarial dan bukan biaya jasa lalu, lihat paragraf);
4. kenaikan imbalan yang menjadi hak atau vested ketika pekerja melengkapi persyaratan
vesting, dengan asumsi tidak ada imbalan baru maupun peningkatan imbalan (tidak ada
biaya jasa lalu karena estimasi biaya imbalan telah diakui sebagai biaya jasa kini ketika jasa
tersebut diberikan); dan
5. dampak dari amandemen program yang mengurangi imbalan untuk jasa di masa depan
(kurtailmen).
Entitas membuat jadwal amortisasi untuk biaya jasa lalu ketika imbalan mulai diperkenalkan
atau ketika imbalan tersebut diubah. Tidak praktis jika dibuat catatan terperinci yang diperlukan
untuk mengidentifi kasi dan melaksanakan perubahan selanjutnya pada jadwal amortisasi
tersebut. Lebih jauh lagi, dampaknya hanya akan menjadi material apabila terjadi kurtailmen
atau penyelesaian. Oleh karena itu, entitas mengubah jadwal amortisasi untuk biaya jasa lalu
hanya jika terdapat kurtailmen dan penyelesaian.
Apabila entitas mengurangi imbalan terutang pada program imbalan pasti yang ada, maka
pengurangan pada kewajiban imbalan pasti yang terjadi diakui sebagai biaya jasa lalu (negatif)
sepanjang periode rata-rata sampai bagian yang dikurangi dari imbalan tersebut vested. Ketika
entitas mengurangi imbalan terutang tertentu pada program imbalan pasti dan, pada saat yang
sama, meningkatkan imbalan terutang lainnya pada program untuk pekerja yang sama, entitas
memperlakukan perubahan tersebut sebagai suatu perubahan neto tunggal.



PENGAKUAN DAN PENGUKURAN: ASET PROGRAM
Nilai Wajar Aset Program
Nilai wajar aset program merupakan salah satu unsur yang dikurangkan dari nilai kini
kewajiban imbalan pasti dalam rangka menentukan jumlah yang diakui dalam laporan posisi
keuangan sebagai kewajiban imbalan pasti. Apabila harga pasar tidak tersedia, nilai wajar aset
program harus diestimasi; sebagai contoh, dengan mendiskontokan prakiraan arus kas di masa
depan dengan menggunakan tingkat diskonto yang mencerminkan baik risiko yang berkaitan
dengan aset program maupun tanggal jatuh tempo atau prakiraan tanggal pelepasan aset tersebut
(atau, jika aset tersebut tidak memiliki tanggal jatuh tempo, prakiraan periode sampai
penyelesaian kewajiban yang bersangkutan).
Aset program tidak mencakup iuran yang masih harus dibayar oleh entitas pelapor kepada
entitas (dana) terpisah, dan instrumen keuangan yang diterbitkan oleh entitas yang tidak dapat
dialihkan dan dikuasai oleh entitas (dana) terpisah. Aset program dikurangi dengan dana
liabilitas yang tidak berkaitan dengan imbalan kerja, contohnya, hutang dagang dan hutang
lainnya dan liabilitas yang berasal dari instrumen keuangan.
Apabila aset program mencakup polis asuransi yang memenuhi syarat yang sesuai jumlah
dan jadwalnya dengan beberapa atau seluruh imbalan terutang berdasarkan program tersebut,
nilai wajar polis asuransi tersebut diukur dalam jumlah yang sama dengan kewajiban yang
terkait.

Penggantian
Jika, terdapat kepastian bahwa pihak lain akan mengganti sebagian atau seluruh
pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban imbalan pasti, maka entitas mengakui
bagiannya dalam penggantian tersebut sebagai aset yang terpisah. Entitas menilai asetnya sebesar
nilai wajarnya. Entitas memperlakukan aset tersebut seperti memperlakukan aset program.
Dalam laporan laba rugi komprehensif, beban yang berkaitan dengan program imbalan pasti
dapat disajikan secara neto setelah dikurangkan dengan jumlah yang diakui dalam penggantian.
Kadang-kadang entitas membuat perjanjian dengan pihak lain, seperti asuransi, untuk
membayarkan sebagian atau seluruh pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban
imbalan pasti. Polis asuransi yang memenuhi syarat, merupakan aset program. Entitas
melaporkan polis asuransi tersebut dengan cara yang sama seperti aset program lainnya.
Jika polis asuransi bukan merupakan polis asuransi yang memenuhi syarat, maka polis
asuransi tersebut bukan aset program. Entitas mengakui haknya atas penggantian berdasar polis
asuransi sebagai aset yang terpisah, dan bukan sebagai pengurang dalam menetapkan liabilitas
imbalan pasti, entitas memperlakukan aset tersebut dengan cara yang sama seperti aset program.
Khususnya, liabilitas imbalan pasti seperti yang dinyatakan bertambah (berkurang) apabila
akumulasi bersih keuntungan (kerugian) aktuarial dalam kewajiban imbalan pasti dan dalam hak
penggantian tetap tidak diakui mengharuskan entitas untuk mengungkapkan secara singkat
hubungan antara hak penggantian dan kewajiban yang terkait.
Jika hak penggantian timbul akibat polis asuransi yang jumlah dan waktunya sesuai dengan
sebagian atau seluruh imbalan terutang dari program imbalan pasti, maka nilai wajar hak
penggantian dianggap sebagai nilai kini kewajiban yang terkait.

Hasil Aset Program
Hasil aset program yang diharapkan adalah satu salah satu komponen beban yang diakui di
laporan laba rugi. Perbedaan antara hasil aset program yang diharapkan dan realisasinya
merupakan keuntungan atau kerugian aktuarial; keuntungan atau kerugian tersebut termasuk di
dalam keuntungan dan kerugian aktuarial atas kewajiban imbalan pasti dalam menentukan
jumlah neto yang dibandingkan dengan batas koridor 10%. Pada awal periode diestimasikan
hasil aset program yang diharapkan untuk periode yang berkaitan dengan kewajiban, berdasarkan
ekspektasi pasar. Hasil aset program yang diharapkan mencerminkan perubahan dalam nilai
wajar aset program yang dimiliki selama periode tersebut sebagai hasil dari iuran aktual yang
disetorkan ke dana dan imbalan aktual yang dibayarkan oleh dana tersebut.
Dalam menentukan hasil aset program yang diharapkan dan direalisasi, entitas
mengurangkan prakiraan biaya administrasi, selain dari biaya yang diperhitungkan dalam asumsi
aktuarial yang digunakan untuk mengukur kewajiban.

Kombinasi Bisnis
Dalam kombinasi bisnis, entitas mengakui aset dan liabilitas dari imbalan pasca kerja
sebesar nilai kini kewajiban dikurangi dengan nilai wajar aset program. Walaupun pihak yang
diakuisisi belum mengakuinya, nilai kini kewajiban mencakup semua hal berikut pada tanggal
akuisisi:
(a) keuntungan dan kerugian aktuarial yang muncul sebelum tanggal pembelian (baik berada
dalam koridor 10% ataupun tidak);
(b) biaya jasa lalu yang timbul dari perubahan imbalan, atau pendirian program, sebelum
tanggal akuisisi; dan
(c) jumlah sesuai ketentuan transisi, tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi.

Kurtailmen dan Penyelesaian (Curtailments and Settlements)
Curtailments adalah tindakan atau proses untuk mengurangi operasi perusahaan dalam
rangka untuk membawa stabilitas ke perusahaan. Pengurangan biasanya terjadi ketika
perusahaan telah mengalami pertumbuhan berkelanjutan yang tidak dapat mengelola secara
efektif. Taktik dari kurtailmen termasuk spin-off subsidiaries, merumahkan staf, dan umumnya
memfokuskan operasi perusahaan pada produk-produk terbaik yang ia mampu menciptakan
efektif. Pengurangan ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan
keuntungan.
Entitas mengakui keuntungan atau kerugian atas kurtailmen atau penyelesaian suatu
program imbalan pasti ketika kurtailmen atau penyelesaian tersebut terjadi. Keuntungan atau
kerugian atas kurtailmen atau penyelesaian terdiri atas:
(a) perubahan yang terjadi dalam nilai kini kewajiban imbalan pasti;
(b) perubahan yang terjadi dalam nilai wajar aset program;
(c) keuntungan dan kerugian aktuarial dan biaya jasa lalu yang belum diakui sebelumnya,
Sebelum menentukan dampak kurtailmen atau penyelesaian, entitas mengukur kembali
kewajiban (dan aset program yang terkait, jika ada) dengan mengunakan asumsi aktuarial yang
berlaku saat ini (termasuk tingkat bunga dan harga pasar yang berlaku).
Kurtailmen terjadi apabila entitas memenuhi salah satu dari dua kondisi berikut:
(a) menunjukkan komitmennya untuk mengurangi secara signifi kan jumlah pekerja yang
ditanggung oleh program; atau
(b) mengubah ketentuan dalam program imbalan pasti yang menyebabkan bagian yang material
dari jasa masa depan pekerja tidak lagi memberikan imbalan atau memberikan imbalan yang
lebih rendah.
Kurtailmen bisa juga terjadi karena suatu peristiwa yang berdiri sendiri (isolated event),
seperti penutupan pabrik, penghentian suatu operasi atau penghapusan atau penundaan suatu
program, atau pengurangan dimana peningkatan gaji masa depan dikaitkan dengan utang
imbalan untuk jasa lalu. Kurtailmen sering kali terkait dengan restrukturisasi. Oleh karena itu,
entitas memperhitungkan kurtailmen pada saat yang sama dengan restrukturisasi yang terkait.
Jika perubahan program mengurangi imbalan, maka hanya dampak pengurangan untuk jasa
masa depan saja yang merupakan suatu kurtailmen. Dampak dari setiap pengurangan untuk jasa
lalu adalah biaya jasa lalu negatif.
Penyelesaian program terjadi ketika entitas melakukan transaksi yang menghapuskan semua
kewajiban hukum atau konstruktif atas sebagian atau seluruh imbalan dalam program imbalan
pasti, sebagai contoh, ketika entitas membayarkan uang secara lumpsum kepada, atau atas nama
peserta program sebagai pengganti atas hak peserta untuk menerima imbalan pascakerja yang
telah ditentukan.
Dalam kasus tertentu entitas melakukan penjaminan polis asuransi untuk mendanai sebagian
atau seluruh dari imbalan pascakerja yang terkait dengan masa kerja saat ini dan masa lalu.
Penjaminan hak imbalan pascakerja melalui polis asuransi bukanlah suatu penyelesaian bila
entitas masih memiliki kewajiban hukum atau konstruktif untuk membayar iuran selanjutnya
apabila entitas asuransi tidak membayar imbalan kerja yang tercantum dalam polis asuransi.
Penyelesaian terjadi bersamaan dengan kurtailmen jika suatu program dihentikan yang
menyebabkan kewajiban terselesaikan dan program tersebut menjadi ada. Namun demikian,
penghentian program tersebut bukanlah kurtailmen atau penyelesaian apabila program itu
digantikan dengan program baru yang menawarkan imbalan yang secara substansi sama.
Jika suatu kurtailmen berlaku hanya untuk sejumlah pekerja yang ditanggung oleh suatu
program, atau jika hanya sebagian dari kewajiban yang diselesaikan, keuntungan atau kerugian
meliputi bagian yang proporsional dari:
(i) biaya jasa lalu yang belum diakui;
(ii) keuntungan (kerugian) aktuarial;
Sebagai contoh, mungkin lebih tepat untuk menentukan keuntungan dari kurtailmen atau
penyelesaian suatu program yang sama, diawali dengan mengeliminasi biaya jasa lalu yang
belum diakui dan terkait dengan program tersebut.



PENYAJIAN
Saling Hapus
Entitas melakukan saling hapus antara aset yang berkaitan dengan suatu program dan
liabilitas yang berhubungan dengan program lain jika, dan hanya jika, entitas:
(a) mempunyai hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk menggunakan surplus pada
suatu program untuk menyelesaikan kewajiban program lain; dan
(b) bermaksud untuk:
(i) menyelesaikan kewajiban dengan dasar neto (net basis); atau
(ii) merealisasi surplus pada satu program dan menyelesaikan kewajiban program yang lain
secara simultan.
Kriteria saling hapus serupa dengan yang ditetapkan untuk instrumen keuangan dalam
PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan.


Perbedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar/Kewajiban Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Sejumlah entitas membedakan aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan
jangka panjang. Pernyataan ini tidak menentukan apakah entitas harus membedakan aset lancar
dan tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan jangka panjang yang berasal dari imbalan
pascakerja.

Komponen Keuangan dari Biaya Imbalan Pascakerja
Pernyataan ini tidak menentukan apakah entitas harus menyajikan biaya jasa kini, biaya
bunga dan hasil aset program yang diharapkan sebagai komponen dari satu item atas penghasilan
atau beban dalam laporan laba rugi komprehensif.

Pengungkapan
Suatu entitas harus mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan
keuangan untuk mengevaluasi sifat program imbalan pasti dan dampak keuangan atas perubahan
program selama periode tersebut.
Entitas harus mengungkapkan informasi berikut mengenai program imbalan pasti:
(a) kebijakan akuntansi entitas dalam mengakui keuntungan dan kerugian aktuarial.
(b) gambaran umum mengenai jenis program.
(c) rekonsiliasi saldo awal dan akhir dari nilai kini kewajiban imbalan pasti yang disajikan
secara terpisah, pengaruh periode berjalan dapat diatribusikan kedalam:
(i) biaya jasa kini;
(ii) biaya bunga;
(iii) iuran oleh peserta program;
(iv) keuntungan dan kerugian aktuarial;
(v) kurs mata uang asing berubah pada program yang diukur dengan mata uang yang
berbeda dengan mata uang penyajian;
(vi) imbalan yang dibayarkan;
(vii) biaya jasa lalu;
(viii) kombinasi bisnis;
(ix) kurtailmen; dan
(x) penyelesaian;
(d) analisis kewajiban imbalan pasti terhadap jumlah yang dihasilkan dari program yang
seluruhnya tidak didanai dan jumlah yang dihasilkan dari program yang seluruhnya atau
sebagian didanai.
(e) rekonsiliasi saldo awal dan akhir dari nilai wajar aset program serta saldo awal dan akhir hak
penggantian yang diakui sebagai aset sesuai dengan paragraf 114 ditunjukkan secara
terpisah, jika dapat diterapkan, dampak selama periode terkait pada setiap:
(i) hasil yang diharapkan dari aset program;
(ii) keuntungan dan kerugian aktuarial;
(iii) kurs mata uang asing berubah pada program yang diukur dengan mata uang yang
berbeda dengan mata uang penyajian;
(iv) iuran oleh pekerja;
(v) iuran oleh peserta program;
(vi) imbalan aktual;
(vii) kombinasi bisnis; dan
(viii) penyelesaian.
(f) rekonsiliasi nilai kini kewajiban imbalan pasti pada (c) dan nilai wajar aset program pada (e)
atas aset dan liabilitas yang diakui dalam laporan posisi keuangan, setidaknya
mengungkapkan:
(i) keuntungan dan kerugian aktuarial neto yang tidak diakui dalam laporan posisi
keuangan;
(ii) biaya jasa lalu yang tidak diakui dalam laporan posisi keuangan;
(iii) setiap jumlah yang tidak diakui sebagai aset ;
(iv) nilai wajar pada akhir tanggal neraca dari hak penggantian yang diakui sebagai aset;
dan
(v) jumlah lainnya yang tidak diakui dalam laporan posisi keuangan.
(g) total beban yang diakui di laporan laba rugi untuk setiap hal-hal berikut:
(i) biaya jasa kini;
(ii) biaya bunga;
(iii) hasil yang diharapkan atas aset program;
(iv) hasil yang diharapkan dari setiap hak penggantian yang diakui sebagai aset;
(v) keuntungan dan kerugian aktuarial;
(vi) biaya jasa lalu;
(vii) dampak dari kurtailmen atau penyelesaian; dan
(viii) dampak dari batasan dalam
(h) jumlah total yang diakui dalam pendapatan komprehensif lain:
(i) keuntungan dan kerugian aktuarial;
(ii) dampak dari batasan;
(i) untuk entitas yang mengakui keuntungan dan kerugian dalam laporan pendapatan
komprehensif lain sesuai, jumlah kumulatif dari keuntungan dan kerugian aktuarial yang
diakui pada pendapatan komprehensif lain.
(j) untuk setiap kategori utama dari aset program, yang mencakup, namun tidak terbatas pada,
instrumen ekuitas, instrumen utang, property, dan seluruh aset lain, persentase atau jumlah
setiap kategori utama merupakan nilai wajar total aset program.
(k) jumlah yang mencakup nilai wajar aset program untuk:
(i) setiap kategori instrumen keuangan milik entitas; dan
(iii) setiap properti atau aset lain yang digunakan oleh entitas.
(l) penjelasan atas basis yang digunakan untuk menentukan tingkat pengembalian aset yang
diharapkan secara keseluruhan, termasuk dampak kategori utama dari aset program.
(m) pengembalian aktual dari aset program, sebaik pengembalian aktual setiap hak penggantian
yang diakui sebagai aset.
(n) prinsip asumsi aktuarial yang digunakan sampai pada akhir periode pelaporan, termasuk,
jika dapat diterapkan:
(i) tingkat diskon;
(ii) tingkat pengembalian yang diharapkan atas setiap aset program untuk periode yang
disajikan dalam laporan keuangan;
(iv) tingkat pengembalian yang diharapkan untuk periode yang disajikan dalam laporan
keuangan pada setiap hak penggantian yang diakui sebagai aset sesuai;
(v) tingkat kenaikan gaji yang diharapkan (dan perubahan dalam indeks atau variabel
tertentu lainnya dalam masa program formal atau konstruktif sebagai dasar untuk
kenaikan imbalan masa depan);
(vi) tingkat tren biaya kesehatan; dan
(vii) bahan lain yang digunakan dalam asumsi aktuarial Entitas mengungkapkan setiap
asumsi aktuaria dalam jangka waktu absolut (sebagai contoh, persentase absolut) dan
tidak hanya sebagai marjin antara persentase dan variabel lainnya.
(o) dampak kenaikan satu angka persentase dan dampak penurunan satu angka persentase dalam
tingkat tren biaya kesehatan yang diasumsikan pada:
(i) biaya jasa kini agregat dan komponen biaya bunga dari biaya kesehatan pascakerja
periodik neto; dan
(ii) akumulasi kewajiban imbalan pascakerja untuk biaya kesehatan. Untuk tujuan
pengungkapan ini, seluruh asumsi lainnya akan tetap konstan. Untuk mengoperasikan
program dalam lingkungan infl asi yang tinggi, harus mengungkapkan dampak
persentase kenaikan atau penurunan tingkat tren biaya kesehatan yang diasumsikan
dari makna yang serupa dengan satu angka persentase dalam lingkungan infl asi yang
rendah.
(p) jumlah periode tahunan saat ini dan periode empat tahun sebelumnya dari:
(i) nilai kini kewajiban imbalan pasti, nilai wajar aset program dan surplus atau defi sit
pada program
(iii) pengalaman penyesuaian yang timbul pada:
(a) liabilitas program dinyatakan sebagai (1) jumlah atau (2) persentase dari aset
program pada akhir periode pelaporan dan
(b) aset program dinyatakan sebagai (1) jumlah atau (2) persentase dari aset program
pada akhir periode pelaporan.
(q) estimasi terbaik pekerja, selama dapat ditentukan secara andal, iuran uang diharapkan akan
dibayar dalam program selama periode tahunan dimulai setelah periode pelaporan.
Entitas mewajibkan pengungkapan gambaran umum jenis program. Deskripsi tersebut,
misalnya, membedakan program pensiun dan program kesehatan pascakerja. Penjelasan program
harus mencakup kebiasaan yang menimbulkan kewajiban konstruktif termasuk dalam
pengukuran kewajiban imbalan pasti. Penjelasan lebih jauh tidak disyaratkan.
Jika entitas memiliki lebih dari satu program imbalan pasti, pengungkapan dapat dilakukan
secara total, dipisahkan untuk setiap program, atau pengelompokan yang sedemikian rupa
sehingga berguna. Pembedaan berdasarkan kelompok mungkin berguna dengan kriteria sebagai
berikut:
(a) lokasi geografis program, sebagai contoh program dalam negeri dan luar negeri; atau
(b) program dibedakan berdasarkan perbedaan risiko yang material, misalnya, dengan
membedakan antara program pensiun dan program kesehatan pascakerja. Jika entitas
menyajikan secara total untuk suatu kelompok program, maka pengungkapan tersebut
disajikan dalam bentuk rata-rata tertimbang atau dalam interval yang relatif kecil.
Pengungkapan tambahan mengenai program imbalan pasti multi pemberi kerja yang
diperlakukan seolah-olah program tersebut adalah program iuran pasti. Sebagaimana yang
diwajibkan oleh PSAK 7 (revisi 2009): Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan
Istimewa, entitas mengungkapkan informasi mengenai:
a. transaksi pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan program imbalan
pascakerja; dan.
b. Imbalan pascakerja untuk personil manajemen kunci
Sebagaimana yang diwajibkan oleh PSAK 57 (revisi 2009): Provisi, Liabilitas Kontinjensi,
dan Aset Kontinjensi, entitas mengungkapkan informasi mengenai kontinjensi yang timbul dari
kewajiban imbalan pascakerja.

IMBALAN KERJA JANGKA PANJANG LAINNYA
Imbalan kerja jangka panjang lainnya mencakup, antara lain:
(a) cuti-berimbalan jangka panjang;
(b) imbalan hari raya atau imbalan jasa jangka panjang lainnya (jubilee or other long-service
benefits)
(c) imbalan cacat permanen;
(d) utang bagi laba dan bonus yang dibayar 12 bulan atau lebih setelah akhir periode pelaporan
saat pekerja memberikan jasanya; dan
(e) kompensasi ditangguhkan yang dibayar 12 bulan atau lebih sesudah akhir dari periode
pelaporan saat jasa diberikan
Pengukuran imbalan kerja jangka panjang lainnya biasanya tidak bergantung pada tingkat
ketidakpastian tertentu, sama seperti pada pengukuran imbalan pascakerja. Selain itu, penerapan
awal atau perubahan imbalan kerja jangka panjang lainnya jarang menimbulkan jumlah yang
material pada biaya jasa lalu. Oleh karena itu, Pernyataan ini mengatur metode akuntansi yang
disederhanakan untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya. Metode ini berbeda dengan metode
akuntansi untuk imbalan pascakerja dalam hal:
(a) keuntungan dan kerugian aktuarial langsung diakui dan tidak ada koridor yang dipakai; dan
(b) seluruh biaya jasa lalu langsung diakui.

Pengakuan dan Pengukuran
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah
total nilai neto dari jumlah berikut ini:
(a) nilai kini kewajiban imbalan pasti pada akhir periode pelaporan;
(b) dikurangi dengan nilai wajar dari aset program pada akhir periode pelaporan (jika ada)
selain kewajiban yang harus dilunasi secara langsung. Dalam mengukur liabilitas, entitas
harus menerapkan program imbalan pasti. Entitas harus menerapkan aset terpisah dalam
pengakuan dan pengukuran hak penggantian.
Untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya, entitas harus mengakui total nilai neto dari
jumlah berikut ini sebagai beban atau pendapatan, kecuali jika terdapat Pernyataan lainnya yang
mewajibkan atau membolehkan jumlah tersebut termasuk dalam biaya perolehan aset:
(a) biaya jasa kini;
(b) biaya bunga;
(c) hasil yang diharapkan dari setiap aset program dan setiap hak penggantian yang diakui
sebagai aset;
(d) keuntungan atau kerugian aktuarial, yang seluruhnya harus langsung diakui;
(e) biaya jasa lalu, yang seluruhnya harus langsung diakui; dan
(f) dampak dari kurtailmen atau penyelesaian.
Salah satu bentuk dari imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah imbalan cacat permanen.
Apabila besar imbalan bergantung pada masa kerja, maka kewajiban timbul ketika jasa telah
diberikan. Pengukuran kewajiban tersebut mencerminkan kemungkinan pembayaran yang akan
dilakukan dan jangka waktu terjadinya pembayaran. Apabila besarnya imbalan sama bagi setiap
pekerja cacat tanpa memerhatikan masa kerja, maka biaya yang diperkirakan atas imbalan
tersebut diakui ketika terjadi kejadian yang menyebabkan cacat permanen.

Pengungkapan
Walaupun Pernyataan ini tidak mewajibkan pengungkapan rinci imbalan kerja jangka
panjang lainnya, Pernyataan lainnya dapat saja mewajibkan pengungkapan, sebagai contoh
ketika beban yang dihasilkan dari imbalan tersebut sangat besar jumlahnya, maka pengungkapan
diperlukan sesuai dengan PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan. Ketika
disyaratkan oleh PSAK 7 (revisi 2010): Pengungkapan Pihak-pihak Yang Mempunyai Hubungan
Istimewa, entitas mengungkapkan informasi mengenai imbalan kerja jangka panjang lainnya
bagi anggota manajemen kunci.

PESANGON PEMUTUSAN KONTRAK KERJA (PKK)
Pernyataan ini membahas pesangon PKK secara terpisah dari imbalan kerja lainnya karena
kejadian yang menimbulkan kewajiban ini adalah pemutusan hubungan kerja dan bukan jasa
yang diberikan pekerja.

Pengakuan
Entitas harus mengakui pesangon PKK sebagai liabilitas dan beban jika, dan hanya jika,
entitas berkomitmen untuk:
(a) memberhentikan seorang atau sekelompok pekerja sebelum tanggal pensiun normal; atau
(b) menyediakan pesangon PKK bagi pekerja yang me nerimapenawaran mengundurkan diri
secara sukarela.
Entitas berkomitmen melakukan PKK jika, dan hanya jika entitas memiliki rencana formal
terinci untuk melakukan PKK, dan secara realistis kecil kemungkinan untuk dibatalkan. Rencana
formal terinci tersebut minimum meliputi:
(a) lokasi, fungsi, dan prakiraan jumlah pekerja yang akan dihentikan;
(b) pesangon PKK untuk setiap kelompok kerja atau fungsi; dan
(c) waktu pelaksanan rencana formal tersebut. Implementasi rencana formal PKK harus dimulai
sedini mungkin dan jangka waktu untuk menyelesaikan implementasi rencana formal harus
sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan diubahnya rencana tersebut secara material.
Entitas dapat berkewajiban membayar kepada pekerja yang di PKK, sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, kontrak atau kesepakatan lainnya dengan para pekerja atau perwakilannya
atau oleh kewajiban konstruktif berdasarkan praktik usaha, kebiasaan atau keinginan atas
perlakuan adil. Pesangon PKK biasanya berupa pembayaran lumpsum, tetapi kadang kala
mencakup pula:
(a) kenaikan pensiun atau imbalan pascakerja lainnya, secara langsung atau tidak langsung
melalui program imbalan kerja; dan
(b) gaji sampai akhir periode yang ditentukan walaupun pekerja tidak lagi memberikan jasa
yang menghasilkan manfaat ekonomis kepada entitas.
Sejumlah imbalan kerja adalah terutang tanpa memperhatikan alasan mengapa pekerja
tersebut berhenti. Pembayaran imbalan ini sifatnya pasti (bergantung pada vesting atau syarat
minimum jasa) tetapi waktu pembayarannya tidak pasti. Imbalan tersebut dikategorikan sebagai
imbalan pascakerja, dan bukan sebagai pesangon PKK dan entitas harus memperhitungkannya
sebagai imbalan pascakerja. Sejumlah entitas memberikan imbalan yang lebih rendah untuk
pengunduran diri secara sukarela (pada hakikatnya, ini adalah imbalan pascakerja) daripada
pengunduran diri bukan sukarela. Tambahan imbalan ini adalah pesangon PKK.
Pesangon PKK tidak memberikan manfaat ekonomis kepada entitas di masa depan dan
langsung diakui sebagai beban. Jika entitas mengakui pesangon PKK, maka entitas harus
memperhitungkan dampaknya terhadap kurtailmen imbalan pascakerja atau imbalan kerja
lainnya

Pengukuran
Jika pesangon PKK jatuh tempo lebih dari 12 bulan setelah periode pelaporan, maka
besarnya pesangon PKK harus didiskontokan dengan menggunakan tingkat diskonto. Dalam hal
entitas menawarkan pekerja untuk melakukan pengunduran diri secara sukarela, maka pesangon
PKK harus diukur berdasarkan jumlah pekerja yang diperkirakan menerima tawaran tersebut.

Pengungkapan
Jika terdapat ketidakpastian mengenai jumlah pekerja yang bersedia menerima tawaran
pesangon PKK, maka terdapat suatu liabilitas kontinjensi. Seperti diatur dalam PSAK 57 (revisi
2009): Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi, entitas mengungkapkan informasi
mengenai liabilitas kontinjensi tersebut, kecuali jika kemungkinan kecil terjadi arus keluar pada
saat penyelesaian.
Seperti diatur dalam PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan, entitas
mengungkapkan karakteristik dan jumlah beban jika material. Pesangon PKK dapat
menimbulkan beban yang memerlukan pengungkapan agar sesuai dengan persyaratan ini.
Seperti diatur dalam PSAK 7 (revisi 2010): Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai
Hubungan Istimewa entitas mengungkapkan informasi tentang pesangon PKK untuk anggota
manajemen kunci.

Ketentuan Transisi
Apabila entitas memilih menggunakan alternatif pengakuan keuntungan dan kerugian
aktuarial, maka entitas mengakui saldo keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui
pada awal penerapan Pernyataan ini akibat dari pendekatan koridor pada pendapatan
komprehensif lain.

CONTOH KASUS 1

Seorang karyawan yang telah bekerja selama 6 tahun di sebuah perusahaan manufaktur
mengeluhkan gajinya yang dipotong sebesar 30% dengan sepihak dan tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu oleh manajemen perusahaan dan tidak ada kejelasan mengenai pemotongan itu.
Apabila karyawan tersebut ingin melakukan resign dari tempatnya bekerja, pertanyaannya, : 1.
Apakah karyawan tersebut berhak meminta uang yang dipotong sebesar 30% itu, karena itu
adalah hak karyawan tersebut? 2. Apakah karyawan tersebut berhak meminta pesangon sesuai
peraturan dari Disnaker sesuai masa kerja? 3. Apabila perusahaan menolak memberikan ke dua
item di atas apa yang harus karyawan tersebut lakukan?

PEMBAHASAN

1. Pekerja memiliki hak untuk menerima upah dari Pengusaha atas suatu pekerjaannya,
sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 30 UU No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (selanjutnya akan disebut UU Naker), yang menyatakan:

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang
sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang
ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau
peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan
keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan

Secara hukum, apabila pekerja tidak bekerja, maka upah tidak dibayar (lihat Pasal 93
ayat [1] UU Naker). Sedangkan, pemotongan upah mengenai denda atas pelanggaran yang
dilakukan pekerja dapat dilakukan apabila hal tersebut diatur secara tegas dalam suatu
perjanjian tertulis atau perjanjian perusahaan (lihat Pasal 20 ayat [1] PP No. 8 Tahun 1981
tentang Perlindungan Upah, yang selanjutnya akan disebut PP No. 8 Tahun 1981).
Pemotongan upah pekerja karena suatu pembayaran terhadap negara atas iuran
keanggotaan/peserta untuk suatu dana yang menyelenggarakan jaminan sosial dan
ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan, maka secara hukum pemotongan tersebut
merupakan kewajiban dari pekerja (lihat Pasal 22 ayat [2] PP No. 8 Tahun 1981).
Perusahaan dapat meminta pekerja mengganti rugi dengan melakukan pemotongan
upah, apabila terdapat kerusakan barang atau kerugian lain yang dimiliki atau asset
perusahaan maupun pihak ketiga yang dikarenakan kesengajaan atau kelalaian pekerja,
sebagaimana diatur dalamPasal 23 ayat (1) PP No. 8 Tahun 1981 yang menyatakan:

(1) Ganti rugi dapat dimintakan oleh pengusaha dari buruh, bila terjadi kerusakan
barang atau kerugian lainnya baik milik pengusaha maupun milik pihak ketiga oleh
buruh karena kesengajaan atau kelalaian

Selanjutnya, besarnya pemotongan upah atas kerugian yang diderita oleh perusahaan
yang disebabkan karena kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja tidak boleh
melebihi 50% dari besarnya upah pekerja, (lihat Pasal 23 ayat [2] Jo. Pasal 24 ayat [1] Jo.
ayat [2] PP No. 8 Tahun 1981).
Dengan demikian, apabila pemotongan upah yang dilakukan oleh perusahaan
tersebut bukan karena kewajiban yang ditentukan oleh negara berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangandan bukan juga karena karyawan tersebut selaku pekerja
melakukan kesalahan atau pelanggaran yang diatur dalam perjanjian kerja atau peraturan
perusahaan, maka pemotongan upah sebesar 30% seperti yang karyawan tersebut alami
secara hukum merupakan perbuatan yang bertentangan dengan hukum ketenagakerjaan.
Terhadap permasalahan karyawan tersebut, maka patut diduga telah terjadi
perselisihan hak antara karyawan tersebut selaku pekerja dengan Perusahaan selaku
Pengusaha, karena tidak terpenuhinya hak akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau
penafsiran terhadap ketentuan perundang-undangan, perjanjian kerja atau peraturan
perusahaan (lihat Pasal 1 angka 2 UU No. 2 Tahun 2004 tentang penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial, yang selanjutnya akan disebut UUPPHI).
Mengenai permasalahan tersebut, karyawan tersebut dapat mengadukan atau
mencatatkan Perselisihan Hak mengenai pemotongan upah yang dilakukan perusahaan
sebesar 30% tersebut ke Disnakertrans Provinsi/Kota setempat dengan tujuan membatalkan
pemotongan upah (lihat Pasal 22 ayat [4] PP No. 8 Tahun 1981) yang dilakukan perusahaan
dan meminta agar perusahaan mengembalikan upah yang telah dipotong tersebut.

2. Dapat kami jelaskan bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 162 UU Naker, bagi pihak
pekerja yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri, hanya akan mendapatkan hak berupa
Uang Penggantian Hak.
Hal ini akan berbeda konsekuensinya apabila pihak pekerja yang di-PHK oleh
perusahaan, karena di dalam hal terjadinya PHK oleh perusahaan maka pihak perusahaan
wajib untuk membayarkan uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang
penggantian hak kepada pekerja (lihat Pasal 156 ayat [1] UU Naker).
Mengenai hak normatif karyawan tersebut apabila terjadi PHK dengan masa kerja 6
tahun dapat Saudara lihat dalam ketentuan Pasal 156 ayat (2) huruf g, ayat (3) dan ayat (4)
UU Naker.
Dalam Pasal 156 ayat (2) huruf g UU Naker dinyatakan bahwa untuk masa kerja 6
(enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 (tujuh) tahun, akan memperoleh pesangon
sebanyak 7 (tahun) bulan upah;
Kemudian, pada Pasal 156 ayat (3) huruf b UU Naker, untuk masa kerja 6 (enam)
tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 (sembilan) tahun, akan memperoleh uang penghargaan
masa kerja sebanyak 3 (tiga) bulan upah;
Selain dari uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja, terdapat juga komponen
uang penggantian hak menurut Pasal 156 ayat (4) UU Naker berupa:
a. cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur;
b. biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat di mana
pekerja/buruh diterima bekerja;
c. penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan ditetapkan 15% (lima belas
perseratus) dari uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja bagi yang
memenuhi syarat;
d. hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau
perjanjian kerja bersama.

3. Pada praktiknya, perselisihan hak antara pekerja dengan pengusaha seringkali berujung pada
perselisihan PHK. Apabila karyawan tersebut berniat mengadukan atau mencatatkan
persellisihan hak ke Disnakertrans baiknya dibarengi pula dengan pencatatan Perselisihan
Pemutusan Hubungan Kerja pada Disnakertrans setempat di mana Anda bekerja.
Selanjutnya, Mediator Disnakertrans setempat akan mengeluarkan Anjuran atas perselisihan
tersebut, yang apabila salah satu pihak atau kedua belah pihaknya tidak sependapat atau
tidak menjalankan anjuran dengan sukarela, maka salah satu atau kedua belah pihak dapat
mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial.
Apabila terdapat perselisihan hak yang dibarengi dengan perselisihan PHK, maka
Pengadilan Hubungan Industrial wajib memutuskan perkara perselisihan hak terlebih
dahulu, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 86 UUPPHI, yang menyatakan :

Dalam hal perselisihan hak dan/atau perselisihan kepentingan diikuti
dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja, maka Pengadilan Hubungan
Industrial wajib memutus terlebih dahulu perkara perselisihan hak dan/atau
perselisihan kepentingan
Dasar hukum:
1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
2) Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 tentang penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial.
3) Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah.
CONTOH KASUS 2
Buruh Tuding PT Musim Mas Tekan Pekerja Wanita
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) menuding PT Musim Mas melakukan
penekanan kepada pekerja perempuan selama enam bulan terakhir. Perusahaan perkebunan sawit
itu tidak menghargai derajat dan kodrat perempuan, termasuk soal kewajiban perusahaan
memberikan cuti haid kepada pekerja wanita. PT Musim Mas tetap melakukan penekanan
terhadap karyawan yang masih berstatus Buruh Harian Lepas (BHL) itu. Sistem kerja yang tidak
mempertimbangkan kemampuan buruh perempuan lainnya yakni, aktivitas melansir pupuk dari
gudang ke mobil pengangkut. Selanjutnya, setiba di lapangan pekerja wanita kembali
mengangkat pupuk tersebut dari kendaraan operasional hingga ke titik-titik penempatan pupuk.
Padahal, dalam beberapa peraturan terkait ketenagakerjaan dilarang mempekerjakan karyawan
perempuan yang sedang datang bulan. Apalagi untuk item pekerjaan berat seperti mengangkat
dan melansir puput berkarung-karung.
Analisis Berdasarkan Pengertian Hukum Ketenagakerjaan
Berdasarkan Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 Jo.Pasal 1 angka 2 Undang Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa Tenaga Kerja adalah setiap orang yang
mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi
kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Dalam kasus di atas, pekerja wanita yang bekerja
di PT Musim Mas memenuhi unsur-unsur definisi sebagai tenaga kerja, meskipun menurut PT
Musim Mas mereka berstatus sebagai Buruh Harian Lepas (BHL). Sehari-hari, para pekerja
wanita ini melakukan aktivitas melansir pupuk dari gudang ke mobil pengangkut. Selanjutnya,
setiba di lapangan pekerja wanita kembali mengangkat pupuk tersebut dari kendaraan
operasional hingga ke titik-titik penempatan pupuk.
Analisis Berdasarkan Sifat Privat dan Publik dari Hukum Ketenagakerjaan
Pasal-pasal yang mengatur mengenai pekerja wanita dalam Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 antara lain Pasal 76, Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83, Pasal 84 dan Pasal 93. Jika dilihat
dengan detailnya pengaturan mengenai pekerja wanita, maka hal ini berarti Negara telah turut
serta melindungi hak-hak pekerja wanita dan hukum yang mengaturnya bersifat publik. Sifat
publik juga ditunjukkan oleh UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dengan tidak
memberikan kewenangan kepada pengusaha atau perusahaan untuk membuat perjanjian kerja
yang memuat ketentuan larangan menikah maupun larangan hamil selama masa kontrak kerja
atau selama masa tertentu dalam perjanjian kerja. Ketentuan ini tedapat pada Pasal 153 ayat 1
huruf e UU No.13 Tahun 2003 yang berbunyi : Pengusaha dilarang melakukan pemutusan
hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh perempuan hamil, melahirkan, gugur kandungan,
atau menyusui bayinya. Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan karena pekerja hamil adalah
batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja yang bersangkutan
sesuai Pasal 153 ayat 2 UU No.13 Tahun 2003.

Aturan Mengenai Pekerja Wanita dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan
Pasal 76
(1) Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang
dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00
(2) Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut
keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya
apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
(3) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai
dengan pukul 07.00 wajib :
a. memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
(4) Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang
berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00.
Pasal 81
(1) Pekerja/buruh perempuan dalam masa haid, merasa sakit dan melapor pada
pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari 1 dan 2 pada waktu haid.
Pasal 82
(1) Pekerja/buruh perempuan berhak atas istirahat selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5
bulan sesudah melahirkan anak menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
(2) Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh
istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan
Pasal 83
Pekerja/buruh untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan sel
Pasal 84
Setiap pekerja/buruh perempuan yang menggunakan hak waktu istirahat sesuai pasal, 79, 80 dan
82 berhak mendapatkan upah penuh.
Pasal 93
(2) Pengusaha wajib membayar upah apabila:
b. Pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga
tidak dapat melakukan pekerjaan;
Pelanggaran Terhadap Hak-Hak Pekerja Wanita dalam Kasus PT Musim Mas
1. Pekerja wanita yang merasakan sakit pada saat haid hanya diberikan kesempatan untuk
beristirahat di poliklinik ataupun ruangan khusus pelayanan kesehatan perusahaan saja.
Ada pula pekerja wanita yang dipaksa untuk memperlihatkan darah haid sebagai bukti
untuk mendapatkan cuti haid. Sebagian lagi pengusaha tidak keberatan pekerja wanita
cuti haid tetapi tidak membayar upah selama tidak bekerja.
2. Pekerja wanita tidak diijinkan cuti hamil selama 1,5 bulan sebelum melahirkan tetapi
diberikan ijin cuti melahirkan selama 3 bulan. Padahal cuti hamil diberikan untuk
menjaga agar wanita hamil tidak membahayakan diri dan kandungannya selama bekerja.
Ada juga sebagian pengusaha yang mengijinkan pekerja wanita cuti hamil dan
melahirkan tetapi tidak membayar upah selama tidak bekerja. Bahkan banyak terdengar
bahwa pengusaha melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada pekerja wanita
yang hamil ataupun melahirkan.

2 AKUNTANSI DAN PELAPORAN PROGRAM MANFAAT PURNAKARYA
( PSAK.18 REVISI 2010 )

Secara umum perbedaan antara ED PSAK 18 (revisi 2010): Akuntansi dan Pelaporan
Program Manfaat Purnakarya dengan PSAK 18 (1994): Akuntansi Dana Pensiun adalah sebagai
berikut:
Perihal PSAK 18 2010 PSAK 18 1994
Ruang lingkup Program manfaat purnakarya Entitas Dana Pensiun
Nilai kini aktuaria atas
manfaat purnakarya terjanji.
Penggunaan pendekatan
tingkat
gaji kini atau tingkat gaji
proyeksi dalam menghitung
nilai kini dari pembayaran
yang diharapkan oleh
program
manfaat punakarya.
Tidak diatur
Laporan keuangan
Program iuran pasti
Laporan keuangan program
iuran pasti mencakup:
a) laporan aset neto tersedia
untuk manfaat purnakarya;
dan
b) penjelasan mengenai
kebijakan pendanaan.
Laporan keuangan program
dana pensiun, baik program
pensiun iuran pasti dan
program pensiun manfaat
pasti terdiri dari:
a) laporan aset bersih;
b) laporan perubahan aset
bersih;
c) neraca;
d) perhitungan hasil usaha;
e) laporan arus kas;
f) catatan atas laporan
keuangan.
Program manfaat pasti Laporan keuangan program
manfaat pasti mencakup,
salah
satu dari:
a) Laporan yang menyajikan:
(i) Aset neto tersedia untuk
manfaat purnakarya;
(ii) Nilai kini aktuaria atas
manfaat purnakarya
terjanji;
(iii) Surplus atau defisit;
atau
b) Laporan aset neto tersedia
untuk manfaat purnakarya,
termasuk salah satu dari:
(i) Catatan yang
mengungkapkan nilai
kini aktuaria
atas manfaat
purnakarya terjanji;atau
(ii) Referensi nilai kini
aktuaria atas manfaat
purnakarya terjanji
menyertai laporan
aktuaris.
Penilaian investasi Penilaian investasi pada
program manfaat purnakarya
menggunakan nilai wajar.
Investasi diukur pada nilai
wajar dengan rincian sebagai
berikut:
Uang tunai, rekening
giro, & deposito nilai
nominal.
Sertifi kat deposito,
Surat Berharga BI, Surat
Berharga Pasar Uang,
surat pengakuan utang
lebih dari 1 tahun nilai
tunai.
Surat berharga yang
diperjualbelikan nilai
pasar.
Penyertaan saham = nilai
appraisal.
Investasi pada tanah
& bangunan = nilai
appraisal.

Program manfaat purnakarya adalah perjanjian untuk setiap entitas yang menyediakan
manfaat purnakarya untuk karyawan pada saat atau setelah berhenti bekerja (baik dalam bentuk
iuran bulanan atau lumpsum) ketika manfaat semacam itu, atau iuran selanjutnya untuk
karyawan, dapat ditentukan atau diestimasi sebelum purnakarya berdasarkan ketentuan-
ketentuan yang terdapat dalam dokumen atau praktik-praktik entitas.
Program manfaat purnakarya kadang dikenal dalam berbagai istilah, seperti: program
pensiun, tunjangan hari tua, program purnabakti, dan program purnakarya. Pernyataan ini
menganggap program manfaat purnakarya sebagai suatu entitas pelapor yang terpisah dari
pemberi kerja yang juga merupakan peserta dalam program purnakarya. Program manfaat
purnakarya biasanya dideskripsikan baik sebagai program iuran pasti atau program manfaat
pasti, yang masing-masing memiliki karakteristik khusus. Adakalanya program manfaat
purnakarya mempunyai kedua karakteristik tersebut. Program campuran (hybrid plans)
semacam itu diperlakukan sebagai program manfaat pasti.

PROGRAM IURAN PASTI
Program iuran pasti adalah program manfaat purnakarya dimana jumlah yang dibayarkan
sebagai manfaat purnakarya ditetapkan berdasarkan iuran ke suatu dana bersama pendapatan
investasi selanjutnya. Laporan keuangan program iuran pasti berisi laporan aset neto tersedia
untuk manfaat purnakarya dan penjelasan mengenai kebijakan pendanaan. Dalam program iuran
pasti, jumlah manfaat masa depan yang diterima oleh peserta ditentukan dari jumlah iuran yang
dibayarkan pemberi kerja, peserta atau keduanya dan efisiensi kegiatan operasional serta
pendapatan investasi atas dana purnakarya tersebut. Bantuan aktuaris biasanya tidak diperlukan,
namun kadang-kadang digunakan untuk mengestimasi manfaat purnakarya yang akan diterima
peserta berdasarkan iuran saat ini dan variasi tingkat iuran di masa depan serta pendapatan
investasi.
Tujuan pelaporan program iuran pasti adalah memberikan informasi secara periodik
mengenai penyelenggaraan program purnakarya dan kinerja investasinya. Tujuan tersebut
lazimnya dapat dipenuhi dengan menyusun laporan, antara lain terdiri atas:
(a) penjelasan atas kegiatan signifikan program manfaat purnakarya selama suatu periode
pelaporan dan dampak setiap perubahan yang terkait dengan program tersebut, keanggotaan,
syarat dan kondisi;
(b) pelaporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi
keuangan program purnakarya pada akhir periode pelaporan; dan
(c) penjelasan atas kebijakan investasi.
Kelebihan:
Beban biaya stabil dan mudah diperkirakan
Nilai hak peserta setiap saat mudah ditetapkan
Resiko investasi dan mortalitas ditanggung oleh peserta
Kekurangan:
Besar manfaat pensiun tidak mudah ditentukan
Lebih sulit memperkirakan besar penghargaan untuk masa kerja lampau

PROGRAM MANFAAT PASTI
Program manfaat pasti adalah program manfaat purnakarya dimana jumlah yang
dibayarkan sebagai manfaat purnakarya ditentukan dengan mengacu pada formula yang biasanya
didasarkan pada penghasilan karyawan dan/atau masa kerja. Laporan keuangan program manfaat
pasti terdiri atas:
(a) laporan yang menyajikan:
(i) aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya;
(ii) nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji yang membedakan antara manfaat
telah menjadi hak (vested benefits) dan manfaat belum menjadi hak (non-vested
benefits); dan
(iii) surplus atau defisit; atau
(b) laporan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya termasuk salah satu dari:
(i) catatan yang mengungkapkan nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji, yang
membedakan antara manfaat telah menjadi hak dan manfaat belum menjadi hak; atau
(ii) referensi atas informasi aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya disertakan dalam
laporan aktuaris.
Jika penilaian aktuaria belum disajikan pada tanggal pelaporan keuangan, penilaian
terakhir digunakan sebagai dasar penyusunan dan tanggal penilaian diungkapkan.
Tujuan pelaporan program manfaat purnakarya adalah memberikan informasi secara
periodik tentang sumber daya keuangan dan kegiatan dari program manfaat purnakarya yang
berguna untuk menilai hubungan antara akumulasi sumber daya dan manfaat program selama
jangka waktu. Tujuan ini lazimnya dapat dicapai dengan menyusun laporan keuangan yang
antara lain terdiri atas:
(a) penjelasan mengenai kegiatan penting selama suatu periode pelaporan dan dampak setiap
perubahan terkait dengan program manfaat purnakarya, keanggotaan, syarat dan kondisi;
(b) pelaporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi
keuangan program manfaat purnakarya pada akhir periode pelaporan
(c) informasi aktuaria sebagai salah satu bagian dari laporan atau sebagai laporan terpisah; dan
(d) penjelasan tentang kebijakan investasi.
Kelebihan:
Besar manfaat pensiun mudah dihitung
Lebih memberikan kepastian kepada peserta
Lebih mudah memberikan penghargaan untuk masa kerja lalu
Kekurangan:
Beban pensiun mudah berfluktuasi
Nilai hak peserta sebelum pensiun tidak mudah ditentukan

NILAI KINI AKTUARIA ATAS MANFAAT PURNAKARYA TERJANJI
Nilai kini dari pembayaran yang diharapkan oleh program manfaat purnakarya yang
dapat dihitung dan dilaporkan dengan menggunakan tingkat gaji kini atau tingkat gaji proyeksi
sampai dengan masa purnakarya peserta.
1. Alasan yang diberikan untuk menerapkan pendekatan gaji kini antara lain:
(a) nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji, merupakan penjumlahan dari seluruh
gaji saat ini dapat diatribusikan ke setiap peserta dalam program manfaat purnakarya,
dapat dihitung lebih obyektif daripada tingkat gaji proyeksi karena melibatkan lebih
sedikit asumsi;
(b) peningkatan manfaat yang dapat diatribusikan ke dalam kenaikan gaji menjadi kewajiban
program manfaat purnakarya pada saat kenaikan gaji; dan
(c) jumlah nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji menggunakan tingkat gaji kini
yang secara umum lebih terkait erat dengan jumlah terutang pada peristiwa penghentian
atau pemutusan program purnakarya.
2. Alasan yang diberikan untuk menerapkan pendekatan proyeksi gaji adalah sebagai berikut:
(a) informasi keuangan seharusnya disajikan atas dasar kelangsungan usaha, terlepas dari
asumsi-asumsi dan estimasi yang harus dibuat;
(b) pada akhir pembayaran program manfaat purnakarya, manfaat ditentukan dengan
mengacu pada gaji saat atau mendekati tanggal purnakarya; oleh karena itu gaji, tingkat
iuran dan tingkat pengembalian harus diproyeksikan; dan
(c) kesalahan untuk tidak memasukkan proyeksi gaji (sementara sebagian besar pendanaan
didasari oleh proyeksi gaji) hal ini dapat mengakibatkan pelaporan pendanaan tampak
berlebih tapi nyatanya tidak atau pendanaan terlihat cukup memadai tapi nyatanya
kurang.
Nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji yang berdasarkan gaji kini,
diungkapkan dalam laporan keuangan program manfaat purnakarya untuk menunjukkan
kewajiban manfaat yang diterima pada tanggal pelaporan keuangan. Nilai kini aktuaria atas
manfaat purnakarya terjanji berdasarkan proyeksi gaji diungkapkan untuk menunjukkan
besarnya kewajiban potensial dengan dasar kelangsungan usaha sebagai dasar umum untuk
pendanaan.

PENILAIAN AKTUARIS
Jika penilaian aktuaris belum disajikan pada tanggal pelaporan keuangan, penilaian
terakhir digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan yang bersangkutan dan tanggal
penilaian tersebut diungkapkan.

ISI LAPORAN KEUANGAN
Pada program manfaat pasti, informasi disajikan dalam salah satu format berikut, yang
mencerminkan perbedaan praktek pengungkapan dan penyajian informasi aktuaris:
(a) Suatu laporan dimasukkan dalam laporan keuangan yang memperlihatkan aset neto tersedia
untuk manfaat purnakarya, nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji, dan hasil
surplus atau defi sit. Laporan keuangan program manfaat purnakarya juga berisi laporan
perubahan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya dan perubahan nilai kini aktuaria
atas manfaat purnakarya terjanji. Laporan keuangan dapat disertai laporan aktuaris terpisah
yang mendukung nilai kini aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji;
(b) Laporan keuangan termasuk laporan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya dan
laporan perubahan asset tersedia untuk manfaat purnakarya. Nilai kini aktuaria atas manfaat
purnakarya terjanji diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan
dapat juga disertai laporan aktuaris yang mendukung nilai kini aktuaria atas manfaat
purnakarya terjanji; dan
(c) laporan keuangan termasuk laporan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya dan laporan
perubahan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya dengan menggunakan nilai kini
aktuaria atas manfaat purnakarya terjanji yang terdapat dalam laporan aktuaris terpisah. Pada
setiap bentuk laporan wali amanat yang bersifat laporan manajemen atau direksi dan laporan
investasi dapat dilampirkan dalam laporan keuangan.

PROGRAM PURNAKARYA
Penilaian Aset Program Purnakarya
Investasi program manfaat purnakarya harus diakui pada nilai wajar. Pada kasus surat
berharga yang diperdagangkan, maka nilai wajar adalah nilai pasar. Pada investasi program
purnakarya yang dimiliki seandainya estimasi nilai wajar tidak mungkin, maka pengungkapan
harus dibuat berisi alasan mengapa nilai wajar tidak dapat digunakan.

PENGUNGKAPAN
Laporan keuangan program manfaat purnakarya yang berupa manfaat pasti atau iuran
pasti, berisi informasi berikut ini:
(a) laporan perubahan aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya;
(b) ringkasan dari kebijakan akuntansi yang signifikan; dan
(c) penjelasan mengenai program purnakarya dan pengaruh setiap perubahan program
purnakarya selama periode tersebut.

AKUNTANSI DANA PENSIUN
Dua masalah yang muncul dalam akuntansi untuk program pensiun adalah :
1. Berapa jumlah kewajiban pemberi kerja dan berapa jumlah kewajiban pensiun yang harus
dilaporkan dalam laporan keuangan.
2. Berapa beban / biaya pensiun untuk periode tertentu.
Kewajiban pensiun (pension obligation) pemberi kerja adalah kewajiban kompensasi yang
ditangguhkan kepada para karyawannya atas jasa-jasa mereka menurut persyaratan dalam
program pensiun.
Jenis jenis ukuran kewajiban pensiun :
1. Berdasarkan pada tunjangan yang dijamin sepenuhnya kepada para karyawan. Tunjangan
terjamin (vested benefit) adalah tunjangan yang berhak diterima karyawan sekalipun
karyawan tersebut tidak memberikan jasa tambahan dalam program.Sebagian besar
program pensiun mensyaratkan seorang karyawan harus memiliki masa kerja minimum
sebelum mencapai status tunjangan terjamin. Ukuran ini disebut Kewajiban tunjangan
terjamin (vested benefit obligation)
2. Berdasarkan perhitungan jumlah kompensasi yang ditangguhkan pada seluruh tahun
masa kerja yang dijalani karyawan setelah mengikuti program baik yang terjamin
maupun yang tidak terjamin dengan menggunakan tingkat gaji yang berlaku sekarang.
Ukuran kewajiban ini disebut Akumulasi kewajiban tunjangan
3. Berdasarkan perhitungan jumlah kompensasi yang ditangguhkan atas masa kerja terjamin
maupun tidak terjamin dengan menggunakan gaji masa depan. Ukuran kewajiban ini
disebut Proyeksi kewajiban tunjangan.
Dari ketiga ukuran di atas, pada umumnya profesi akuntan menggunakan proyeksi
kewajiban tunjangan, yaitu nilai sekarang tunjangan yang terjamin dan yang tidak terjamin
diakrualkan sampai dengan tanggal sekarang berdasarkan tingkat gaji masa depan karyawan.
Akan tetapi dimungkinkan juga untuk menggunakan akumulasi kewajiban tunjangan dalam
situasi-situasi tertentu.
Pendekatan dalam akuntansi untuk program pensiun :
1. Pendekatan non kapitalisasi. Terjadinya nonkapitalisasi karena neraca melaporkan aktiva
atau kewajiban untuk perjanjian program pensiun hanya jika jumlah yang benar-benar
didanai selama suatu tahun oleh pemberi kerja berbeda dengan jumlah yang dilaporkan
oleh pemberi kerja sebagai beban pensiun tahun berjalan. Hal ini juga sering disebut
sebagai pembiayaan di luar neraca (off balance sheet financing)
2. Pendekatan kapitalisasi. Pendekatan ini mengukur dan melaporkan aktiva dan kewajiban
pensiun perusahaan ke dalam laporan keuangan. Kapitalisasi lebih mementingkan
substansi ekonomi dari perjanjian program pensiun daripada bentuk hukumnya.
Komponen beban pensiun :
1. Biaya Jasa merupakan beban yang disebabkan oleh kenaikan hutang tunjangan pensiun
(proyeksi kewajiban tunjangan) kepada karyawan atas jasa yang mereka berikan selama
tahun berjalan. Aktuaris menghitung biaya jasa (service cost) sebagai nilai sekarang
tunjangan baru yang dioeroleh karyawan selama tahun berjalan.
2. Bunga atas kewajiban merupakan beban bunga akrual tiap tahun atas proyeksi kewajiban
tunjangan terjadi tepat seperti pada beban bunga atas setiap hutang yang didiskontokan
3. Pengembalian Aktual atas Aktiva Program merupakan kenaikan dana pensiun yang
berasal dari bunga, deviden, serta perubahan yang telah direalisasi dan yang belum
direalisasi dalam nilai pasar wajar aktiva program. Pengembalian aktual dihitung dengan
menyesuaikan perubahan aktiva program untuk menentukan pengaruh kontribusi selama
tahun berjalan dan tunjangan yang dibayarkan selama tahun itu. (Jika pengembalian
aktual bernilai positif selama periode berjalan, maka jumlah itu dikurangkan dalam
perhitungan beban pensiun. Tetapi jika bernilai negatif, maka jumlah tersebut
ditambahkan dalam perhitungan beban pensiun)
4. Amortisasi Biaya Jasa Sebelumnya yang belum diakui yaitu penghargaan yang diberikan
kepada para karyawan perusahaan atas tahun-tahun masa kerja yang telah dijalani
sebelum tanggal inisiasi/dimulainya program pensiun tunjangan pasti. Biaya jasa
sebelumnya (PSC Prior Service Cost) ini harus diamortisasi karena tunjangan yang
berlaku surut (retroaktif) tidak boleh diakui sebagai beban pensiun seluruhnya pada tahun
amandemen (tahun dimulainya program pensiun tersebut), tetapi harus diakui selama
periode masa kerja karyawan yang diperkirakan akan menerima tunjangan menurut
program. Metode amortisasi yang biasa dipakai adalah metode jumlah tahun masa kerja,
tetapi diperbolehkan juga metode alternatif yaitu dengan metode garis lurus sepajang sisa
masa kerja rata-rata para karyawan.
5. Keuntungan atau kerugian, keuntungan aktiva terjadi apabila pengembalian aktual lebih
besar daripada pengembalian yang diperkirakan, dan kerugian aktiva terjadi apabila
pengembalian actual lebih rendah daripada yang diperkirakan.
Secara prinsip terdapat perbedaan antara Program Pensiun Manfaat pasti dan Program Pensiun
Iuran Pasti. Perbedaan tersebut adalah:
1. Program Pensiun Manfaat Pasti (Defined Benefit)
a. Manfaat Pensiun ditentukan lebih dahulu, baru kemudian diperhitungkan besar iurannya.
b. Mengenal Past Service Liabilities (PSL)
c. Ada perhitungan aktuaria.
2. Program Pensiun Iuran Pasti (Defined Contribution)
a. Iuran ditentukan lebih dahulu baru dihitung manfaatnya.
b. Pada saat pensiun atau diakhir program, dana yang terkumpul akan dibelikan anuitas
seumur hidup ke Perusahaan Asuransi Jiwa.
CONTOH KASUS DANA PENSIUN
Kasus Akuntansi Dana Pensiun PPMP
Pada 1 Januari 2002 PT Sportif, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi
perlengkapan olahraga, mendirikan sebuah dana pensiun dengan nama Dana Pensiun PT Sportif
yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti. Berikut hasil perhitungan aktuaris per
tanggal pendirian:
Kekayaan untuk pendanaan Rp 0,-
Kewajiban aktuaria Rp 1.200.000.000,-
Kewajiban aktuaria 31/12/03 Rp 1.500.000.000,- (Nilai proyeksi)
Iuran Normal Pemberi Kerja Rp 120.000.000,- per tahun
Iuran Normal Peserta Rp 80.000.000,- per tahun
Iuran Tambahan Rp 120.000.000,- per tahun
Transaksi yang terjadi selama tahun 2002 adalah sebagai berikut :

Iuran normal diterima adalah sebesar Rp 200 jt, masing-masing Rp 120 jt dari pemberi kerja dan
sisanya berasal dari pesertaa

Jumlah iuran tambahan yang dibayar oleh pemberi kerja adalah sebesar Rp 100.000.000,-

Pada tanggal 30 Juni, pengurus membeli aktiva operasional berupa komputer seharga Rp
10.000.000,- dan peralatan kantor lainnya Rp 5.000.000,-. Oleh kebijakan manajemen kedua
jenis aset tersebut disusutkan selama 5 tahun tanpa nilai sisa dengan metode garis lurus.

Untuk meningkatkan nilai aset Dana Pensiun, pengurus pada tanggal 1 Juli melakukan
penanaman investasi sebagai berikut:
Deposito berjangka waktu satu tahun (ARO Nominal) dalam mata uang dollar USA
senilai $10.000,-. dengan tingkat bunga sebesar 4% per tahun. Kurs pada saat
penempatan adalah US $ 1 = Rp 9.300,-
Saham PT A (tercatat di bursa efek) dengan harga Rp 20.000.000,-
Obligasi PT B senilai Rp 20.000.000,- dengan tingkat kupon 8% per tahun dengan biaya
perolehan sebesar Rp 18.000.000,-. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 1 Juli
2008. Dana Pensiun berniat untuk memegangnya sampai jatuh tempo.
Obligasi PT X senilai Rp 10.000.000,- dengan tingkat kupon 9% per tahun dengan biaya
perolehan sebesar Rp 8.000.000,-. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 1 Juli
2006. Dana Pensiun berniat untuk segera menjual obligasi tersebut apabila harga
pasarnya telah menguntungkan
Melakukan penempatan langsung pada PT Gurita yang baru didirikan pada tanggal 1
Januari 2001 dengan biaya Rp 50.000.000,- dengan jumlah kepemilikan 20%. Nilai
wajar aset perusahaan pada tanggal tersebut adalah Rp 200.000.000,-. Goodwill
diamortisasi selama 5 tahun.
Pada akhir tahun 2002, PT Gurita mengumumkan laba bersih sebesar Rp 60.000.000,-
dan membagikan deviden sebesar Rp 30.000.000,-
Selain di PT Gurita, Dana Pensiun juga melakukan penempatan langsung pada PT Global
senilai Rp 40.000.000,-. Nilai kepemilikan yang diperoleh adalah 15%
Pada akhir tahun, Dana Pensiun menerima deviden dari PT Global sebesar Rp
5.000.000,-
Pada tanggal 25 Agustus Dana pensiun membeli sebidang tanah seharga Rp 40.000.000,-.
Dana pensiun baru membayar sebesar Rp 30.000.000,- atas investasi tersebut
Beban operasional (Gaji Pengurus & Dewan Pengawas) selama tahun 2002 adalah
sebesar Rp 3.000.000,-
Atas penempatan langsung di PT Gurita, pengurus menggunakan pencatatan metode
ekuitas karena dianggap lebih murah dan dianggap akan memberikan nilai yang lebih
wajar sehubungan dengan kegiatan usaha PT Gurita selaku supplier dengan turn over
persediaan yang cukup tinggi. Sedangkan di PT Global digunakan nilai appraisal
Kurs US $ pada pada tanggal neraca adalah US $ 1 = Rp 9.500,-
Bunga obligasi dibayarkan satu tahun sekali setiap tanggal 1 Januari
Berikut daftar nilai wajar investasi per 31 Desember 2002
Saham PT A Rp 18.000.000,-
Penempatan langsung PT Global Rp 35.000.000,-
Obligasi PT B Rp 19.000.000,-
Obligasi PT X Rp 11.000.000,-
Tanah Rp 45.000.000,-

Buatlah jurnal terkait dengan transaksi-transaksi di atas
Dana Pensiun PT Sportif
Jurnal Umum tahun 2002
Uraian Debet Kredit
SKA 1.200.000.000,-
Kewajiban
Aktuaria
1.200.000.000,-
Piutang Iuran Normal
PK
120.000.000,-
Piutang Iuran Peserta 80.000.000,-
Piutang Iuran
Tambahan
120.000.000,-
Iuran Normal
PK
120.000.000,-
Iuran Normal
Peserta
80.000.000,-
Iuran Tambahan 120.000.000,-
Kas & Bank 300.000.000,-
Piutang Iuran
Normal PK
120.000.000,-
Piutang Iuran
Peserta
80.000.000,-
Piutang Iuran
Tambahan
100.000.000,-
Komputer 10.000.000,-
Peralatan Kantor 5.000.000,-
Kas 15.000.000,-
Deposito berjangka 93.000.000,-
Saham - PT A 20.000.000,-
Obligasi - PT B 18.000.000,-
Obligasi - PT X 8.000.000,-
Penempatan Langsung -
PT Gurita
50.000.000,-
Penempatan Langsung -
PT Global
40.000.000,-
Kas 229.000.000,-
Tanah 40.000.000,-
Kas 30.000.000,-
Utang Investasi 10.000.000,-
Beban Operasional-
pengurus
3.000.000,-
Kas 3.000.000,-
Beban Penyusutan -
Komputer
1.000.000,-
Beban Penyusutan - 500.000,-
Perltn. Kntr
Akumulasi
Penyusutan
1.500.000,-
Kas 1.900.000,-
Pendapatan
Bunga-Deposito
1.900.000,-
(6/12 x 4% x $10.000,-x Rp 9.500,-= 1.900.000,-)
Piutang Bunga 1.250.000,-
Pendapatan
Bunga-Obligasi
1.250.000,-
Obligasi B : 8% x 20 jt
x 6/12 = 800.000,-

Obligasi X : 9% x Rp
10jt x 6/12= Rp
450.000,-

Kas 5.000.000,-
Pendapatan
Deviden
5.000.000,-

SPI-Deposito
a)
2.000.000,-
SPI-Obligasi B
b)
200.000,-
SPI-Obligasi X
c)
3.000.000,-
SPI-Penempatan PT Gurita
d)
10.000.000,-
SPI-Tanah
e)
5.000.000,-
SKA 20. 200.000,-
a) Rp (9.500 9.300) x 10.000,-=2.000.000,-
b) {(Rp 20 jt 18 jt) : 5 x 6/12 = 200.000,-
c) 11jt - 8jt = 3 jt
d) Goodwill = 50jt 20%x200jt = 10 jt
Bagian laba : 20% x 60jt = 12jt
-/- amortisasi goodwill : 10jt/5 = 2 jt
Bagian laba bersih (SPI) = 10 jt
e) Rp 45 jt 40 jt = 5 jt
SKA 6.0000.000,-
SPI-Penempatan PT Gurita 6.000.000,-
SPI-Penempatan PT Gurita 6.0000.000,-
Pendapatan Dividen 6.000.000,-
Deviden 20% x 30jt = 6jt
SKA 7.000.000,-
SPI-Saham A
a)
2.000.000,-
SPI- Penemp. PT Global
b)
5.000.000,-
a) 20jt- 18jt = 2jt
b) 40jt 35jt = 5jt
Pendapatan bunga-Deposito 1.900.000,-
Pendapatan bunga-Obligasi 1.250.000,-
Pendapatan deviden 11.000.000,-
Beban Operasional-Pengurus 3.000.000,-
Beban Penyusutan 1.500.000,-
SHU 9.650.000,-
SHU 9.650.000,-
SKA 9.650.000,-
Iuran Normal-PK 120.000.000,-
Iuran Normal-Peserta 80.000.000,-
Iuran Tambahan 120.000.000,-
SKA 320.000.000,-
SKA 300.000.000,-
Kewajiban Aktuaria 300.000.000,-
Kasus Akuntansi Dana Pensiun PPIP
Pada 1 Januari 2002 PT Sportif, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi
perlengkapan olahraga, mendirikan sebuah dana pensiun dengan nama Dana Pensiun PT Sportif
yang menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti. Berdasarkan Peraturan Dana Pensiun
ditetapkan sebagai berikut:
Iuran Normal Pemberi Kerja : 8% PhDP
Iuran Normal Peserta : 2% PhDP
Transaksi yang terjadi selama tahun 2002 adalah sebagai berikut :
Iuran normal diterima adalah sebesar Rp 90 jt, masing-masing Rp 70 jt dari pemberi kerja
dan sisanya berasal dari peserta.
Pada tanggal 30 Juni, pengurus membeli aktiva operasional berupa komputer seharga Rp
8.000.000,- dan peralatan kantor lainnya Rp 4.000.000,-. Oleh kebijakan manajemen
kedua jenis aset tersebut disusutkan selama 5 tahun tanpa nilai sisa dengan metode garis
lurus.
Untuk meningkatkan nilai aset Dana Pensiun, pengurus pada tanggal 1 Juli melakukan
penanaman investasi sebagai berikut:
Deposito berjangka waktu satu tahun (ARO Nominal) senilai US$ 4.000,-.
dengan tingkat bunga sebesar 8% per tahun. Kurs pada saat penempatan
adalah US$ 1 = Rp 9.000,-
Saham PT A (tercatat di bursa efek) dengan harga Rp 10.000.000,-
Obligasi PT B senilai Rp 20.000.000,- dengan tingkat kupon 8% per tahun
dengan biaya perolehan sebesar Rp 18.000.000,-. Obligasi tersebut jatuh
tempo pada tanggal 1 Juli 2008. Dana Pensiun berniat untuk memegangnya
sampai jatuh tempo
Obligasi PT X senilai Rp 10.000.000,- dengan tingkat kupon 9% per tahun
dengan biaya perolehan sebesar Rp 8.000.000,-. Obligasi tersebut jatuh tempo
pada tanggal 1 Juli 2006. Dana Pensiun berniat untuk segera menjual obligasi
tersebut apabila harga pasarnya telah menguntungkan
Melakukan penempatan langsung pada PT Gurita yang baru didirikan
pada tanggal 1 Januari 2003 dengan biaya Rp 20.000.000,- dengan jumlah
kepemilikan 20%. Nilai wajar aset perusahaan pada tanggal tersebut adalah
Rp 80.000.000,-. Goodwill diamortisasi selama 5 tahun
Pada akhir tahun 2002, PT Gurita mengumumkan laba bersih sebesar Rp
30.000.000,- dan membagikan deviden sebesar Rp 10.000.000,-
Selain di PT Gurita, Dana Pensiun juga melakukan penempatan langsung
pada PT Global senilai Rp 20.000.000,-. Nilai kepemilikan yang diperoleh
adalah 15%
Pada akhir tahun, Dana Pensiun menerima deviden dari PT Global sebesar
Rp 2.000.000,-
Pada tanggal 25 Agustus Dana pensiun membeli sebidang tanah seharga Rp 20.000.000,-.
Dana pensiun baru membayar sebesar Rp 12.000.000,- atas investasi tersebut
Beban operasional (Gaji Pengurus & Dewan Pengawas) selama tahun 2002 adalah
sebesar Rp 2.000.000,-
Atas penempatan langsung di PT Gurita, pengurus menggunakan pencatatan metode
ekuitas karena dianggap lebih mudah dan murah. Sedangkan di PT Global digunakan
nilai appraisal
Jumlah PhDP tahun 2002 adalah sebesar Rp 1.000.000.000,-
Kurs US $ pada pada tanggal neraca adalah US $ 1 = Rp 9.500,-
Bunga obligasi dibayarkan satu tahun sekali setiap tanggal 1 Januari
Berikut daftar nilai wajar investasi per 31 Desember 2002:
Saham PT A Rp 9.000.000,-
Penempatan langsung PT Global Rp 18.000.000,-
Obligasi PT B Rp 21.000.000,-
Obligasi PT X Rp 11.000.000,-
Tanah Rp 21.000.000,-






Dana Pensiun PT Sportif
Jurnal Umum tahun 2002
Uraian Debet Kredit
Piutang Iuran Normal PK 80.000.000,-
Piutang Iuran Peserta 20.000.000,-
Iuran Normal PK 80.000.000,-
Iuran Normal Peserta 20.000.000,-
Kas & Bank 90.000.000,-
Piutang Iuran Normal PK 70.000.000,-
Piutang Iuran Peserta 20.000.000,-
Komputer 8.000.000,-
Peralatan Kantor 4.000.000,-
Kas 12.000.000,-
Deposito berjangka 36.000.000,-
Saham - PT A 10.000.000,-
Obligasi - PT B 18.000.000,-
Obligasi - PT X 8.000.000,-
Penempatan Langsung - PT Gurita 20.000.000,-
Penempatan Langsung - PT Global 20.000.000,-
Kas 112.000.000,-
Tanah 20.000.000,-
Kas 12.000.000,-
Utang Investasi 8.000.000,-
Beban Operasional-pengurus 2.000.000,-
Kas 2.000.000,-
Beban Penyusutan - Komputer 800.000,-
Beban Penyusutan - Perltn. Kntr 400.000,-
Akumulasi Penyusutan 1.200.000,-
Kas 15.200.000,-
Pendapatan Bunga-Deposito 15.200.000,-
(6/12 x 8% x $4.000,-x Rp 9.500,-= 1.900.000,-)
Piutang Bunga 1.250.000,-
Pendapatan Bunga-Obligasi 1.250.000,-
Obligasi B : 8% x 20 jt x 6/12 = 800.000,-
Obligasi X : 9% x Rp 10jt x 6/12= Rp
450.000,-

Kas 4.000.000,-
Pendapatan Deviden 4.000.000,-
Deviden 20% x 10jt = 2jt
Pend. Belum Terealisasi 4.000.000,-
SPI-Penempatan PT Gurita 4.000.000,-
SPI-Deposito
a)
2.000.000,-
SPI-Obligasi B
b)
200.000,-
SPI-Obligasi X
c)
3.000.000,-
SPI-Penempatan PT Gurita
d)
5.200.000,-
SPI-Tanah
e)
1.000.000,-
Pend. Belum Terealisasi 11. 400.000,-
a) Rp (9.500 9.000) x 4.000,-=2.000.000,-
b) {(Rp 20 jt 18 jt) : 5 x 6/12 = 200.000,-
c) 11jt - 8jt = 3 jt
d) Goodwill = 20jt 20%x80jt = 4 jt
Bagian laba : 20% x 30jt = 6jt
-/- amortisasi goodwill : 4jt/5 = 0.8
jt

Bagian laba bersih (SPI) = 5,2
jt

e) Rp 21 jt 20 jt = 1 jt
Pend. Belum Terealisasi 3.000.000,-
SPI-Saham A
a)
1.000.000,-
SPI- Penemp. PT Global
b)
2.000.000,-
a) 10jt- 9jt = 1jt
b) 20jt 18jt = 2jt
Pendapatan bunga-Deposito 15.200.000,-
Pendapatan bunga-Obligasi 1.250.000,-
Pendapatan deviden 2.000.000,-
BebanOperasional-Pengurus 2.000.000,-
Beban Penyusutan 1.200.000,-
SHU 15.250.000,-
SHU 15.250.000,-
Kewajiban MP 15.250.000,-
Iuran Normal-PK 80.000.000,-
Iuran Normal-Peserta 20.000.000,-
Kewajiban MP 100.000.000,-

KASUS BAKRIE LIFE DAN INOVASI PRODUK ASURANSI HIBRIDA
Kasus Bakrie Life bermula dari penjualan produk asuransi unit-link Diamond Investa
yang merupakan produk hibrida antara asuransi jiwa dengan investasi pasar modal (umumnya
reksadana). Banyak nasabah yang tergiur dengan tawaran ini karena produk Diamond Investa
menawarkan imbal hasil 1,5 persen di atas bunga deposito per tahun plus manfaat proteksi
asuransi jiwa. Sayang pemasaran produk asuransi unit-link ini kemudian bermasalah karena PT
Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) diduga gagal membayar imbal hasil beserta pokok dana
nasabah dengan nilai total mendekati Rp 400 miliar. Hal tersebut ditengarai disebabkan adanya
penyelewengan penempatan portofolio yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Bakrie Life
dianggap melampaui batas dalam berinvestasi karena terlalu banyak menempatkan portofolio
reksadana pada saham-saham perusahaan grup Bakrie, sehingga ketika harga saham perusahaan
grup Bakrie berjatuhan akibat krisis global 2008 maka nilai portofolio Bakrie Life pun ikut
terhempas. (Harian Sinar Harapan, 17 September 2009).
KETIADAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DANA NASABAH ASURANSI
Kasus Bakrie Life lebih sulit diselesaikan karena hingga kini belum ada perlindungan
hukum terhadap dana nasabah asuransi. Nasabah asuransi sebagai pihak konsumen selama ini
hanya dilindungi oleh UU Perlindungan Konsumen (UU 8/ 1999). Namun demikian, UU
Perlindungan Konsumen tidak mengatur mekanisme penjaminan dan pengembalian dana
nasabah jika terjadi kasus perusahaan asuransi bermasalah. Di samping itu, UU Perlindungan
Konsumen lebih banyak berfokus pada pengaturan dan perlindungan hak-hak konsumen dan
terlaksananya kewajiban produsen secara umum. Padahal, yang lebih dibutuhkan oleh nasabah
asuransi adalah kepastian pengembalian dana mereka jika terjadi kasus kegagalan usaha yang
menimpa perusahaan asuransi.
Kasus Bakrie Life mirip dengan praktek pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit
(BMPK) di perbankan. Bedanya, pelanggaran BMPK diatur jelas dalam UU Perbankan (UU 7/
1992 juncto UU 10/ 1998), sedangkan pelanggaran sejenis belum diatur dalam UU 2/ 1992
tentang Usaha Perasuransian. Banyaknya bank yang melanggar BMPK menjadi salah satu
pemicu krisis ekonomi dan perbankan 1997/1998. Kasus Bakrie Life jika tidak diselesaikan
dengan baik kemungkinan besar akan berdampak negatif terhadap citra industri asuransi di mata
masyarakat. Masyarakat sebagai calon nasabah asuransi akan khawatir membeli produk asuransi,
khususnya asuransi unit-link. Padahal, industri jasa asuransi sebagaimana industri jasa keuangan
lainnya, sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat, karena industri jasa ini hidup dari
usaha penghimpunan dan penyaluran dana-dana milik masyarakat.
KELEMAHAN DAN PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN OLEH BAPEPAM -LK
Mencuatnya kasus gagal bayar nasabah Bakrie Life, menurut Kepala Biro Perasuransian
Bapepam-LK, disebabkan oleh gabungan berbagai faktor seperti ketidakcermatan manajemen,
kemungkinan terjadinya praktek pelanggaran usaha, kondisi ekonomi, dan penanganan saat krisis
yang tidak tepat. Jika Bapepam-LK memang mengetahui penyebab kasus Bakrie Life, maka
timbul pertanyaan mengapa Bapepam-LK selaku regulator dan pengawas tidak berhasil
mencegah munculnya kasus Bakrie Life. Bahkan, ketika kasus Bakrie Life benar-benar muncul
ke permukaan, Bapepam-LK terkesan hanya mau menyerahkan penyelesaian kasus tersebut
kepada Bakrie Life dan para nasabahnya. Para nasabah diminta menyelesaikan permasalahan
sesuai polis, dan bila menemukan indikasi tindak pidana para nasabah disarankan melapor ke
Kepolisian.
Kasus Bakrie Life, dan juga kasus Antaboga Sekuritas, adalah contoh betapa lemahnya
aspek pengawasan dan penindakan yang seharusnya dilakukan Bapepam-LK. Sebagai otoritas
pasar modal dan lembaga keuangan non-bank, Bapepam-LK berfungsi sebagai regulator dan
pengawas yang diberi wewenang khusus untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan.
Berdasarkan fakta yuridis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penanganan kasus
Bakrie Life, Bapepam-LK terbukti belum bekerja secara maksimal karena tidak melaksanakan
penyidikan dengan benar. Jika tugas penyidikan tersebut dilakukan dengan benar dan berhasil
menemukan indikasi pelanggaran pidana, maka Bapepam-LK seharusnya wajib meneruskan
kasus tersebut ke Kepolisian dan bukannya malah menyerahkan tugas tersebut kepada para
nasabah Bakrie Life.

KELEMAHAN ATURAN HUKUM DAN PENTINGNYA REFORMASI HUKUM
ASURANSI
Kasus Bakrie Life juga memunculkan fakta adanya kelemahan dalam aturan hukum di bidang
asuransi. Hal ini disebabkan UU 2/ 1992 tentang Usaha Perasuransian yang dibentuk pada masa
Orde Baru belum pernah direvisi hingga saat ini, padahal UU Bank Indonesia dan UU Perbankan
telah direvisi beberapa kali mengikuti perkembangan sosial-ekonomi-politik yang begitu cepat di
era Reformasi.Kelemahan aturan dalam UU 2/ 1992 meliputi 4 (empat) hal sebagai berikut :
UU 2/ 1992 belum mencantumkan secara jelas peran Bapepam-LK sebagai otoritas
regulator dan pengawas perusahaan asuransi di bawah kendali Menteri Keuangan.
UU 2/ 1992 belum mengatur tentang pemasaran produk-produk asuransi hibrida.
UU 2/ 1992 belum mengatur pembentukan lembaga penjamin dana nasabah asuransi.
UU 2/ 1992 belum mengatur peran lembaga penjamin dana nasabah asuransi dalam
upaya penyelamatan maupun kepailitan/ likuidasi perusahaan asuransi.