Anda di halaman 1dari 2

Jogja Again

Bukan pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini dan bukan pertama juga aku merasa
seperti ini. Aku tidak sedang sedih, galau ataupun sendiri. Namun, entah mengapa aku ingin sekali
menyusuri kota ini sendiri dengan hal yang sederhana. Dengan mereka disekitarku, tingkah, obrolan,
raut wajah dan bangunan tua yang berdiri diam di pinggir jalan ini. Yah, memang kota gudeg ini tidak
hanya membuat inspirasi satu dua orang. Bahkan aku, tidak hanya menulis satu dua kali tentang
kota tersebut. Entah, aku merasa ingin menggali lebih dalam tidak hanya kenampakan luar tapi aku
ingin menilik jauh makna di setiap puingnya.
Sore itu pukul 16.30 aku telah menyusuri jalan malioboro dan terhenti di nol km. Aku
merasa ingin mengamati terus menerus bangunan tua yang ada di depanku itu. Aku juga melihat
ibu-ibu berjualan sate banyak sekali dipinggir trotoar memegangi kipas dari bambu sambil berteriak
memanggil pelanggan. Tapi, tak jarang aku melihat kebanyakan dari mereka di lalui saja oleh orang-
orang. Ku alihkan lagi pandangan ku pada sekelompok mahasiswa yang sedang orasi ditengah-
tengah perempatan km 0. Menunggangi mobil pickup, membawa spanduk entah bertuliskan apa dan
speaker tidak terlepas dari aksi seperti itu.
Kebanyakan dari mereka berkulit hitam dan berambut keriting. Aku juga tak tahu isi dari
yang mereka katakan dan gembar-gemborkan. Jika itu hanya aksi tanpa keberlanjutan nyata maka
sia-sia. Tapi terserah juga itu kan pilihan, pikirku. Setiap orang boleh memilih, negara ini negara
bebas berpendapat tapi jangan jadikan pendapat kitalah yang selalu benar.
Hari tak terasa sudah agak gelap dan akhirnya adzan magrib terdengar juga dari arah
selatan, masjid agung. Aku berpindah lagi untuk mencari tempat sholat. Akhirnya, basement sebuah
mall aku putuskan menjadi tempat sholatku. Aku selalu heran, mall di atas selalu lebar dan tingkat
tapi mengapa untuk sholat kaum wanita saja sudah seperti di kamar mandi. Entah, ini selalu menjadi
persepsiku tentang mall. Tapi walaupun begitu, lumayan masih ada tempat untuk shola walaupun
kecil. Ada lagi mall yang aku masuki tidak ada tempat sholatnya. Apakah dunia ini sudah tak butuh
Tuhan?
Setelah sholat, aku ingin sebentar saja kembali ketempat tadi. Lampu-lampu sudah
menyala berwarna orange. Menambah hangat area ini. Semua ini persis mengingatkanku, ketika aku
merasa sangat sedih dan tidak ingin kehilangan. Maka aku datang ke tempat ini, aku masih ingat
ketika dia mencoba menghiburku dengan menghiraukan percakapan sebelumnya yang sempat
menyedihkan bagi siapa saja yang dengar. Pertama itu dia menggandeng tanganku dan berjalan di
trotoar walaupun malam sudah di atas jam 20.00 .
Ah..sudahlah bukan saatnya melankolis seperti ini, batinku. Aku percaya itu dan apapun itu
aku akan bertahan. Dan pada hari itu semua emosiku sudah aku tumpahkan di tempat yang selalu
aku rindukan. Tak mengerti saat aku sedih ataupun senang aku ingin menceritakannya di tempat itu
walaupun penuh keramaian. Mungkin ini yang menjadikan aku selalu merindukan jogja sejak
pertama kali aku tinggal di sini dan aku menemukan kenyamanan lainnya selain tempat ini di kota ini.
Mungkin kamu, yang telah membuat rasa tak percaya karena kaget sejak awal bertemu.