Anda di halaman 1dari 6

UJI POTENSI ANTIMIKROBIAL MENGGUNAKAN

METODE DILUSI
A. Tujuan
Mampu melakukan penentuan MIC dan MBC suatu antimikrobia menggunakan teknik dilusi
dan mikrodilusi.

B. Dasar Teori
Konsentrasi hambat minimun 9 minimum inhibitori konsentrasi , MIC ) suatu obat
antimikroba adalah konsentrasi terendah obat tersebut yang masih mampu mengahambat
pertumbuhan organisme ( yang tampak baik dengan mata atau instrumen). Pengetahuan
tentang MIC suatu antimikroba, proto pemberian, dan kadar antimikroba yang dapat dicapai
secara klinis ditempat infeksi memungkinkan kita mengklasifikasi organisme sebagai rentan (
S ) , intermediat (I), atau resisten ( R) terhadap antimikroba yang diperiksa
(1)
.
MIC suatu obat antimikroba yang dapat ditentukna dengan penggunaan serangkaian
tabung reaksi, yang masing-masing mengandung medium pertumbuhan ditambah
antimikroba dengan konsentrasi meningkat bertahap. Selain itu, MIC dapat ditentukan
dengan menggunakan prinsip yang sama dalam format miniatur ( misal, sumur pada baki
mikroliter, atau ruang-ruang kecil disebuah kartu plastik jernih)
(1)
.
Menggunakan 1 seri tabung reaksi yang diisi media cair dan jumlah zat tertentu sel
mikroba yang di uji. Kemudian masing masing atbung di isi dengan bahan yang telah di
encerkan secara serial. Selanjutnya seri tabung di inkubasi pada suhu 37 C selama 18-24 jam
dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi yang rendah bahan pada tabung
yang ditunjukan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih ( tidak ada pertumbuhan
mikroba) adalah KHM dari bahan uji. Konsentrasi terendah pada obat pada biakan padat yang
ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari bahan
terhadap bakteri uji
(2)
.
Resistensi bakteri adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupansel bakteri oleh
antimikrobia. Secara umum resistensi di bagi dalam 3 kelompok:
A. Resistensi genetic
Terjadi mutasi spontan pada gen bakteri sehingga terjadi perubahanpada bakteri yang
semula sensitive terhadap suatu antimikrobia menjadi resisten. Bakteri dapat berubah menjadi
resisten akibatmemperoleh suatu elemen pembawa factor resisten. Cara transformasifactor
resisten bakteri terjadi dengan jalan bekteri menginporlasi factorresisten langsung dari media
sekitarnya (lingkungan).
B. Resisten non genetic
Bakteri dalam keadaan istirahat, biasanya tidak dipengaruhi oleh antimikrobia bakteri.
Bakteri ini dikenal sebagai persistem. Bila berubah menjadi aktif kembali, bakteri kembali
bersifat sensitiveterhadap antimikroba semula
C. Resistensi silang
Resistensi silang adalah keadaan resisten terhadap antimikrobayang juga
memperlihatkan sifat resisten terhadap antimikroba yanglain. Pada resisten silang, sifat
resistensi ditentukan oleh suatu lokusgenetic. Resistensi silang biasanya terjadi antara
antimikrobia denganstruktur yang hamper sama, misalnya antara beberapa derivatetetrasiklin.
Mekanisme resisten kuman terhadap antimikroba ada 5 yaitu :
1. Perubahan tempat kerja obat pada mikroba.
2. Mikroba menurunkan permeabilitasnya sehingga obat sulitmasuk ke dalam sel.
3. Mikroba membentuk jalan pintas untuk menghindari tahapyang dihambat oleh mikroba.
4. Meninggkatkan produk enzim yang dihambat oleh antimikroba.
5. Inaktivasi oleh mikroba

Terbentuknya resistensi dapa dikurangi dengan cara:
1. Mencegah pemakaian antibiotic tanpa pembedaan kasus-kasusyang tidak membutuhkan
antibiotik.
2. Menghentikan penggunaan antibiotic pada infeksi biasa atausebagai obat luar.
3. Mengguanakan antibiotic yang tepat dengan dosis agar infeksicepat sembuh
4. Menggunakan kombinasi antibiotic yang telah terbuktikeefektifannya.
5. Menggunakan antibiotic yang lain bila ada tanda-tanda bahwasuatu organisme akan menjadi
resisten terhadap antibiotic yang digunakan semula.
Penyebab mikroorganisme resisten terhadap antibiotic adalah
1. Pemakaian antibiotic yang tidak tepat.
2. Pengobatan yang tidak tuntas antau penghentian antibiotic sebelumbakteri benar-benar mati.
3. Pemakaian dosis obat antibiotic dibawah dosis terapi.
4. Bakteri bersifat resisten karena mutasi
(3)
.
DILUSI PADAT ATAU CAIR
Pada prinsipnya antibiotik diencerkan hingga beberapa konsentrasi.Pada delusi cair, masing-
masing konsentrasi obat ditambah suspensikuman dalam media. Sedangkan pada delusi pada tiap
konsentrasi obat dicampur dengan media agar, lalu ditambah kuman
(4)
. (Lay, 1994)
Metode yang dapat dijadikan alternatif untuk menentukan konsentrasi hambat tumbuh
minimum ekstrak tanaman adalah metode dilusi yang mencakup makrodilusi dan mikrodilusi.
Metode mikrodilusi sedang dikembangkan karena memiliki sensitivitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan teknik difusi agar. Sensitivitas mikrodilusi mencapai 30 kali lebih
sensitif. Teknik mikrodilusi dapat digunakan untuk beberapa sampel yang berbeda dengan
jumlah sampel yang sedikit. Hal ini sangat berguna jika jumlah senyawa antibakteri yang
didapatkan sedikit dan terbatas. Teknik mikrodilusi juga dapat membedakan antara efek
bakteriostatik dan bakterisidal serta dapat menentukan nilai konsentrasi hambat tumbuh
minimum (KHTM)
(5)
.
Mikrodilusi tidak membutuhkan waktu yang lama karena pengujian dilakukan dalam
waktu satu kali pada satu microplate dengan jumlah sumur yang banyak. Metode mikrodilusi
ini dapat digunakan untuk berbagai macam mikroorganisme, murah, dan menghasilkan hasil
dapat diulang. Mikrodilusi menggunakan sampel yang diencerkan secara berseri. Volume
kultur bakteri yang dimasukkan ke dalam sumur seragam. Ukuran inokulum yang biasa
digunakan yaitu 106 sampai 108 CFU/mL
(6).


C. Alat dan Bahan
Alat :
- Gelas beker 100 ml, 250 ml
- Pipet tetes
- Spiritus
- Tabung reaksi
Bahan :
- Media Cair
- Bakteri
- Aquades

D. Cara Kerja
Yang sesuai dengan praktikum

Telah disediakan tabung yang berisi antibiotik + media 400 g/ml, diambil 4 ml dimasukan
pada tabung A ( pengenceran 400 g/ml tidak ada media) dan tabung B tabung E sudah
diberi media 2 ml.

Dari tabung A dilakukan pengenceran.

Diambil 2 ml dari tabung A ke tabung B. Begitu seterusnya sampai tabung E.
Ditabung E diambil 2 ml lalu dibuang.

Selanjutnya disiapkan dan diambil 2 tabung untuk kontrol. Tabung kontrol (+) diberi media
dan bakteri 100 l. Sedangkan tabung kontrol (-) diberi media saja.
Cara kerja yang dimodul Teknik Mikrodilusi sama dengan percobaan yang dilakukan.
Cara kerja sesuai Modul :
a. Teknik dilusi cair
Hari Pertama
Disiapkan 7 buah tabung reaksi ( 2 tabung untuk kontrol dan 5 tabung untuk perlakuan )

Dilakukan pengenceran larutan streptomisin/penisilin dengan menggunakan media TSB/NB
sebagai pengencer.

Dibuat seri pengenceran 400 g / ml, 200 g / ml, 100 g/ ml, 50 g/ ml, dan 25 g/ ml
dengan volume akhir dalam tabung 2 ml.

Di inkulasikan setiap tabung (kecuali kontrol 1) dengan menggunakan 0,1 ml biakan E.coli
(24 jam , 108 CFU/ml) diinkubasi selama 24 jam.
Hari kedua
Diamati tabung yang menunjukan pertumbuhan yang dikocok. Apabila tabung keruh (+)
menunjukan pertumbuhan dan apabila tabung jernih (-) tidak terjadi pertumbuhan

Dilaporkan dihasil dalam bentuk tabel

Dipindahkan satu mata ose biakan dari tabung jernih kedalam media TSB dan media TSA
yang baru. Dinkubasi pada suhu 37 derajat C selama 24 jam

Hari Ketiga
Diamati tabung ynag menunjukan pertumbuhan dengan di kocok. Apabila tabung keruh (+)
menunjukan pertumbuhan dan tabung jernih (-) tidak ada pertumbuhan .

Dilaporkan hasilnya dalam bentuk tabel .

Ditentukan konsentrasi bahan kimia yang bersifat bakteriostatik atau bakterisidal.

b. Teknik Mikrodilusi

Disiapkan mikroplate steril.

Sebanyak 50 l media ditambahkan dengan 50 l sampel pada konsentrasi tertentu pada
lubang mikroplate.

Dibuat juga kontrol positif (media+bakteri) dan kontrol negatif (media)

Dilakukan pengenceran bertingkat sebanyak 6 tingkat.

Pada masing-masing lubang diteteskan sebanyak 5 l suspensi bakteri .
Diinkubasi selama jam pada suhu C

Dibaca intensitas warna terjadi menggunakan ELISA pada 550 nm.

Rumus = x 100 %
E. Data dan Hasil Perhitungan
Data Tabel

Perhitungan Prosentase kematian sel bakteri
Dilusi Cair Mikrodilusi
Kadar sampel Hasil Kadar sampel Hasil
400 g/ml - 400 g/ml 0,212
200 g/ml - 200 g/ml 0,160
100 g/ml - 100 g/ml 0,142
50 g/ml + 50 g/ml 0,222
25 g/ml + 25 g/ml 0,243
Kontrol (+) + Kontrol (+) 0,099
Kontrol (-) - Kontrol (-) 0,134
Rumus = x 100 %

Prosentase kematian sel bakteri perlakuan A =

x 100 %
= 322.85 %
Prosentase kematian sel bakteri perlakuan B = x 100 %
= 174.28%
Prosentase kematian sel bakteri perlakuan C = x 100 %
= 122.85 %
Prosentase kematian sel bakteri perlakuan D =

x 100 %
= 351.43 %
Prosentase kematian sel bakteri perlakuan E =

x 100 %
= 411.43 %
Keterangan:
Perlakuan A = Pengenceran 400 g/ml
Perlakuan B = Pengenceran 200 g/ml
Perlakuan C = Pengenceran 100 g/ml
Perlakuan D = Pengenceran 50 g/ml
Perlakuan E = Pengenceran 25 g/ml

Hasil Foto Pengamatan

Anda mungkin juga menyukai