Anda di halaman 1dari 10

0

AKIDAH 3

RUH DAN JIWA




DISUSUN OLEH:
Varyzcha Hafiza

DOSEN PEMBIMBING:
H. Aminuddin, Lc


SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH
AL MANAR
2014

1

RUH DAN JIWA

Al Quran telah membahas tentang hakikat asal-usul manusia, yang diawali dari proses kejadian
manusia yaitu dari segumpal darah (QS. AlAlaq: 1-5) dan setelah melewati beberapa tahapan
serta sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (QS. Shaad: 71-
72). Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa hakekat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni,
gumpalan tanah (materi/badan) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan
lainnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat disebut manusia.
Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.
Kata untuk ruh
Kata (rih) yang berarti angin
Kata (rawh) yang berarti rahmat.
Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah
dan rahmat. Jika kata rohani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari
dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat
*
Digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan
jin. Dalam Al Quran ruh juga digunakan bukan tidak terpaku pada satu arti, di dalamnya
penyebutan ruh bermacam-macam. Diantaranya ruh di sebut sebagai sesuatu:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra': 85)
Jawaban singkat dalam Al Quran atas pertanyaan itu menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi
"rahasia" yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Selanjutnya al-Qur'an juga banyak menggunakan kata ruh untuk menyebut hal lain, seperti:
1. Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS. Al-Syu'ara' 193, al-Baqarah 87, al-Ma'arij 4, al-
Naba' 38 dan al-Qadr 4.
2. Rahmad Allah kepada kaum mukminin dalam QS. al-Mujadalah 22
3. Kitab suci Al Quran dalam QS. Al-Shura 52.

Tentang bagaimana hubungan ruh itu sendiri dengan nafs (jiwa), para ulama berbeda pendapat
mengenainya. Ibnu Manzur mengutip pendapat Abu Bakar al-Anbari yang menyatakan bahwa
2

bagi orang Arab, ruh dan nafs merupakan dua nama untuk satu hal yang sama, yang satu
dipandang mu'anath dan lainnya mudhakkar.

Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)
Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan
awal, karena dengannya spesies menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata.
Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh sendiri merupakan
prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh dengan
satu perilaku dari berbagai perilaku dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu
berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.
Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi 3 bagian yang masing-masing bagian saling
mengikuti, yaitu:
1. Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah
dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan.
2. Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan. Ia
mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat
mekanistik dari satu sisi, serta menangkap berbagai parsialitas dan bergerak karena
keinginan.
3. Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada manusia. Jiwa ini melaksanakan
fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal
bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai
perilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia
mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal.

Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)
Sebagaimana Ibnu Sina, al-Ghazali membagi jiwa menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup
dari segi makan, minum, tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang
hidup dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
3

3. Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda yang hidup dari segi
melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang
bersifat umum.
Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs
al-natiqah/jiwa manusia). Ia sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh,
sedangkan setelah masuk ke dalam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-'aql), yaitu
daya praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang
abstrak.
Ruh menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama yaitu di sebut ruh hewani, yakni jauhar
yang halus yang terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan,
gerak, dan penglihatan yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya
yang menerangi sebuah ruangan. Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia
mengetahui segala hakekat yang ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa hubungan ruh dengan
jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini al-Ghazali mengemukakan
hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu tidak begitu jelas. Lagi pula ajaran
Islam tidak membagi manusia dalam kenyataan hidupnya pada aspek jasad, akal atau ruh, tetapi
ia merupakan suatu kerangka yang saling membutuhkan dan mengikat, itulah yang dinamakan
manusia.

Ibnu Taimiyah ( 661-728 H/1263-1328 M)
Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa nafs tidak tersusun dari substansi-substansi yang terpisah,
bukan pula dari materi dan forma. Selain itu, nafs bukan bersifat fisik dan bukan pula esensi
yang merupakan sifat yang bergantung pada yang lain. Sesungguhnya nafs berdiri sendiri dan
tetap ada setelah berpisah dari badan ketika kematian datang.
Ia menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang
mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya
(badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada
saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit
disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh
karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut
ruh.
4

Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H/1292-1350 M)
Ibn Qayyim al-Jauziyah Menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs
(jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani 'alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang
mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jism ini
menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di
dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang
melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan
bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan
keinginan.
Ibn Qayyim menjelaskan pendapat banyak orang bahwa manusia memiliki tiga jiwa, yaitu nafs
mutmainnah, nafs lawwamah dan nafs amarah. Ada orang yang dikalahkan oleh nafs
mutmainnah, dan ada yang dikalahkan oleh nafs ammarah.
Mereka berargumen dengan firman Allah:
Wahai jiwa yang tenang (nafs mutmainnah) ...
(QS. Al-Fajr: 27).
Aku sungguh-sungguh bersumpah dengan hari kiamat dan aku benar-benar bersumpah dengan
jiwa lawwamah
(QS. al-Qiyamah: 1-2)
Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)
Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan
dinamakan dengan sifat yang mendominasinya. Ada jiwa yang disebut mutmainnah (jiwa yang
tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, ber-mahabbah, ber-inabah, ber-tawakal, serta
keridhaannya dan kedamaiannya kepada Allah. Ada jiwa yang bernama nafs lawwamah, karena
tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain selalu ragu-
ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafs
lawwamah dinamakan demikian karena orangnya sering mencela. Sedangkan nafs
ammarah adalah nafsu yang menyuruh kepada keburukan. Jadi, jiwa manusia merupakan satu
jiwa yang terdiri dari ammarah, lawwamah dan mutmainnah yang menjadi tujuan kesempurnaan
dan kebaikan manusia.

5

Ruh setelah Mati
Di antara informasi yang telah sampai kepada kita dari Rasulullah SAW dengan ruh ini, di
antaranya adalah:
1. Ruh orang beriman seperti burung terbang berwarna kehijauan, tinggal di dalam sesuatu yang
mirip kubah cahaya yang terbuat dari bahan seperti emas di bawah Arasyi. Nabi SAW
bersabda tentang para syuhada yang gugur dalam perang Uhud:
Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka
mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil
(lampu) dari emas di bawah naungan Arasyi. (Hadis Shahih riwayat Ahmad, Abu Daud dan
Hakim)
2. Orang yang telah meninggal dunia mengetahui orang yang menziarahi kuburnya. Nabi SAW
bersabda:
Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di
dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan
menjawab salamnya itu. (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab
Al-Istidzkar dan At-Tamhid).
3. Orang yang telah meninggal dunia saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan
yang lainnya.
Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita
telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rasulullah SAW? Rasulullah
menjawab, Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon,
sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing. (HR.
Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).
4. Orang yang telah meninggal dunia merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan
merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:
Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk
mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan
kuburan itu. (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubr).
5. Orang yang telah meninggal dunia mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih
hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari
kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Nabi SAW bersabda:
6

Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang
telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira,
namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: Ya Allah, janganlah engkau matikan
mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah
kepada kami. (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Ruh di Alam Barzakh
Ketika membahas ruh setelah mati, maka kita terpaku pada satu alam setelah alam hidup yaitu
alam Barzakh. Ada banyak hal yang akan kita temui seputar alam Barzakh, mulai dari apa itu
alam Barzakh, bagaimana keadaan ruh di alam Barzakh, di mana ruh antara sesudah mati dan
sebelum hari kiamat. Ibnu Qayyim dalam bukunya dan beberapa ulama lain menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertama, tentang alam Barzakh. Di dalam buku Ar-Rh f Dirst al-Mutakallimn wa al-
Falsifah dijelaskan bahwa al-Barzakh adalah fase alam setelah kehidupan ini, dan ia yang
memisahkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dan disinilah ruh akan diminta
pertanggungjawabannya.
Kedua, tentang ruh di alam Barzakh. Ibnu Hazam berpendapat bahwa ruh akan menerima azab
kubur dan masalah-masalahnya di alam Barzakh. Senada dengan Ibnu Hazam, DR. Mohammad
Sayed Ahmad al-Musayyar yang sepakat dengan pendapat Ibnu Hazam berpendapat bahwa alam
Barzakh adalah tempat ditanyanya ruh dan tempat balasan dan itu hanya ruh saja.
Ketiga, di mana ruh setelah mati dan sebelum hari kiamat? Menurut Ibnu Qayyim, arwah
bertempat sesuai derajatnya, adakalanya di alam Barzakh, ada yang di Ala Illiyyin yaitu arwah
para Nabi, ada yang berada di sekitar surga pergi kemana ia suka yaitu ruh sebagian syuhada, ada
arwah yang ditahan di pintu surga, ada arwah yang ditahan di kuburnya, ada juga arwah yang
ditahan dibumi dan sebagainya.

Azab Kubur
Rasulullah SAW bersabda,Sesungguhnya, jika seorang hamba telah diletakkan di dalam
kuburnya dan ditinggalkan oleh para sahabatnya, dia akan mendengar suara alas kaki mereka dan
didatangi oleh dua malaikat. Malaikat itu kemudian mendudukkannya dan berkata, Apa yang
kau katakan tentang orang ini (Muhammad shallallahu alaih wa sallam)? Jika ia seorang yang
7

beriman, ia akan menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba dan utusan Allah. Lalu
dikatakan kepadanya, Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh Allah telah menggantikannya
dengan satu tempat di surga.
Maka ia pun melihat keduanya. Adapun jika ia seorang munafik dan kafir, maka akan ditanyakan
kepadanya, Apa yang engkau katakan tentang orang ini? Ia menjawab, Aku tidak tahu. Aku
hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang. Maka akan dikatakan kepadanya, Engkau
tidak pernah mau tahu dan tidak membaca. Lantas dipukullah dia dengan pemukul dari besi.
Satu pukulan membuatnya berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh yang ada didekatnya
selain manusia dan jin.(HR. al-Bukhari 1338)
Dalam riwayat yang lain, setelah menyebutkan tentang keluar dan naiknya ruh orang yang
beriman ke langit, beliau bersabda,Maka dikembalikanlah ruh itu ke dalam jasadnya, lalu
datanglah dua malaikat mendudukkannya kemudian bertanya, Siapa Rabbmu?(HR. Ahmad
4/287, Abu Dawud 5/75 no. 4753 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/37-38)
Dua hadits ini menunjukkan bahwa nikmat dan azab kubur dikenakan pada ruh dan jasad.
Kemudian ada juga sebagian keterangan yang menunjukkan bahwa nikmat dan siksa kubur
kadang terjadi pada ruh saja. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini ialah sabda Nabi
shallallahu alaih wa sallam, Ketika saudara-saudara kalian terbunuh pada perang Uhud, Allah
menjadikan ruh-ruh mereka di perut burung-burung hijau, yang mendatangi sungai-sungai surga,
makan buah-buahannya, dan berlindung di kendil-kendil dari emas yang ada di bawah naungan
Arsy. (HR. Ahmad 1/266, al-Hakim dalam al-Mustadrak 2/88)


Dari penjelasan beberapa dalil yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat
kita ambil, di antaranya adalah pendapat Ibnul Qaim Aj-Jauziyyah yang mengatakan:
Hadis tentang mayit mengetahui dan menjawab salam orang yang menziarahinya tidak berarti
bahwa ruh ada di dalam liang kubur di dalam tanah. Bukan seperti itu, melainkan bahwa ruh
punya keterkaitan khusus dengan jasadnya. Di mana jika ada yang mengucapkan salam
untuknya, dia akan menjawabnya. Ruh berada di suatu alam yang bernama alam Barzakh di
suatu tempat yang bernama Ar-Rafqul `Al. Alam ini tidak sama dengan dunia kita, bahkan
jauh berbeda. Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui lika-liku dan detail-detailnya.
Terlepas dari pro dan kontra berbagai pendapat mengenai ruh dan hal-hal yang terkait
8

dengannya, satu hal yang pasti, bahwa kebenaran tentang hakekat dari ruh itu sendiri tetap
menjadi rahasia Allah semata dan Ia hanya membukakan sedikit celah pintu bagi manusia untuk
mencoba membuka dan menyingkapnya secara utuh.























Referensi
Al-Muthairi, Abdul M. Buku Pintar Hari Akhir. 2012. Jakarta: Zaman.
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-
bin/content.cgi/artikel/eksistensi_ruh.single?seemore=y
http://sunnah.or.id/buletin-assunnah/nikmat-dan-azab-kubur.html
9